Fungsi Bintang dan keutamaan Sahabat Rasulullah Radhiallahu Anhu

[58]- Al-Qur’an Dan Bintang

Allah ­-Ta’aalaa- berfirman:

فَلا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ * وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ * إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ
“Lalu Aku bersumpah dengan tempat-tempat beredarnya bintang-bintang. Dan sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang besar sekiranya kamu mengetahui. Dan (ini) sesungguhnya Al-Qur’an yang sangat mulia.” (QS. Al-Waaqi’ah: 75-77)

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah -rahimahullaah- berkata:

“Kesesuaian antara penyebutan bintang-bintang dalam sumpah dengan Al-Qur’an -yang Allah bersumpah untuknya-; bisa dilihat dari beberapa segi:

(1)- Allah menjadikan bintang-bintang sebagai penunjuk arah di kegelapan darat dan lautan [QS. An-Nahl: 16], dan ayat-ayat Al-Qur’an adalah sebagai petunjuk di kegelapan kebodohan dan kesesatan. Maka bintang-bintang adalah petunjuk di kegelapan yang tampak, sedangkan ayat-ayat Al-Qur’an adalah petunjuk di kegelapan maknawi; maka (Allah) gabungkan antara dua petunjuk tersebut.

(2)- Bintang merupakan hiasan yang tampak bagi alam [QS. Al-Mulk: 5], dan diturunkannya Al-Qur’an merupakan hiasan batin.

(3)- Bintang-bintang adalah sebagai pelempar setan [QS. Al-Mulk: 5], sedangkan ayat-ayat Al-Qur’an juga sebagai pelempar setan dari golongan manusia dan jin.”

[“At-Tibyaan Fii Aymaanil Qur’aan” (hlm. 322-333- cet. Daar ‘Aalam al-Fawaa-id)]
Fungsi Bintang

Para Shahabat Dan Bintang

Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ، فَإِذَا ذَهَبَتِ النُّجُوْمُ أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ، وَأَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِي، فَإِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِيْ مَا يُوعَدُوْنَ، وَأَصْحَابِيْ أَمَنَةٌ لِأُمَّتِيْ، فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِيْ أَتَى أُمَّتِيْ مَا يُوعَدُوْنَ
“Bintang-bintang itu sebagai penjaga langit, apabila bintang-bintang itu hilang; maka datanglah apa yang dijanjikan atas langit itu (terbelah dan lenyap-pent). Dan aku adalah penjaga bagi para Shahabat-ku, apabila aku telah pergi (wafat); maka akan datang kepada Shahabat-ku apa yang dijanjikan kepada mereka (fitnah dan peperangan-pent). Dan para Shahabat-ku adalah penjaga bagi umatku, apabila para Shahabat-ku pergi (wafat); maka akan datang apa yang dijanjikan kepada umatku (munculnya Bid’ah, dan lainnya-pent).”

[HR. Muslim (no. 2531)]

Para Shahabat -radhiyallaahu ‘anhum- ibarat bintang di langit:

(1) Mereka menjadi petunjuk dalam kegelapan Syubhat dan Syahwat.
(2) Mereka adalah hiasan bagi umat ini.
(3) Dan mereka adalah penghancur ta’wil yang dilakukan oleh orang-orang yang bodoh, pemalsuan orang-orang yang batil, dan penyelewengan terhadap (makna) Kitabullah yang dilakukan orang-orang yang ghuluw (berlebih-lebihan).

[Lihat: “Limaadzaa Ikhtartu al-Manhaj as-Salafi” (hlm. 94)]

[60]- Para Shahabat Dan Al-Qur’an

“Maka kewajiban manusia adalah: memahami makna firman Allah sebagaimana di fahami oleh para Shahabat -radhiyallaahu ‘anhum-.

Mereka (para shahabat Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-) bila membaca kurang lebih sepuluh ayat, tidak akan mereka lewati (ayat-ayat) tersebut sebelum memahami dan mewujudkan hal-hal yang ditunjukkan oleh (ayat-ayat) tersebut; berupa keimanan, ilmu dan amal, kemudian menempatkan (hal-hal) tersebut pada keadaan-keadaan yang (nyata) terjadi.

Maka mereka meyakini berita-berita yang terdapat di dalam (ayat-ayat) tersebut, tunduk terhadap perintah-perintah dan larangan-larangannya, serta memasukkan segala kejadian yang mereka saksikan dan realita-realita yang terjadi pada mereka dan selain mereka; (mereka masukkan semuanya itu) kedalam (ayat-ayat) tersebut. 

Kemudian mereka mengintrospeksi diri-diri mereka: Apakah mereka telah melaksanakannya ataukah belum? Bagaimana cara untuk tetap istiqomah di dalam perkara-perkara yang bermanfaat dan memperbaiki yang masih kurang? Dan bagaimana caranya agar terbebas dari hal-hal yang berbahaya?

Sehingga mereka mengambil petunjuk dari ilmu-ilmu Al-Qur’an, mereka berakhlak dengan akhlak-akhlak dan adab-adabnya. Mereka mengetahui bahwa Al-Qur’an adalah firman (Allah) Yang Mengetahui yang ghaib dan nyata, yang (firman ini) di arahkan kepada mereka, dan mereka di tuntut untuk memahami maknanya dan mengamalkan konksekuensinya.

Maka barangsiapa yang menempuh jalan yang mereka (para Shahabat) tempuh ini, dan semangat serta bersungguh-sungguh dalam mentadabburi firman Allah; niscaya akan terbuka baginya pintu terbesar dalam ilmu tafsir, menjadi kuat ilmunya, dan bertambah pengetahuannya...

khususnya jika dia kuat dalam ilmu bahasa arab dan punya perhatian terhadap perjalanan hidup Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- serta keadaan beliau bersama para shahabat beliau dan bersama musuh-musuh beliau. Karena (ilmu) tersebut sangat membantu dalam (mencapai) tujuan ini (yakni: memahami Al-Qur’an-pent).”

[“Al-Qawaa-‘idul Hisaan” (hlm. 17-18) karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di -rahimahullaah-]
ditulis oleh: Ahmad Hendrix
Powered by Blogger.