tazkiyatun nufus: Sesaat Menjelang Kematian

Kematian merupakan musibah yang tidak terelakkan. Sakitnya kematian tidak ada seorangpun yang dapat melukiskannya karena kedahsyatannya.

Nyawa manusia tercabut dari struktur jaringan urat, daging dan saraf. Seluruh rasa sakit yang sangat parah maka masih lebih ringan dari sakitnya kematian.

Dari Aisyah –radhiyallahu anha- berkata :

"رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ بِالمَوْتِ، وَعِنْدَهُ قَدَحٌ فِيهِ مَاءٌ، وَهُوَ يُدْخِلُ يَدَهُ فِي القَدَحِ، ثُمَّ يَمْسَحُ وَجْهَهُ بِالمَاءِ، ثُمَّ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى غَمَرَاتِ المَوْتِ أَوْ سَكَرَاتِ المَوْتِ" رواه الترمذى
”Aku melihat Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- ketika maut menjelang, sedangkan di dekatnya ada sebuah mangkuk berisikan air, kemudian ia memasukkan tangannya ke dalam mangkuk itu, lalu mengusap wajahnya dengan air sambil berdo’a:

”Ya Allah, tolonglah aku saat menghadapi sakaratul maut.”

[HR. Tirmizi]

Dalam sebagian riwayat :

إِنَّ لِلْمَوْتِ لَسَكَرَاتٍ
"Sesungguhnya pada kematian itu ada rasa sakitnya"

Salah seorang lelaki berkata kepada ayahnya yang sedang sakaratul-maut, “Terangkanlah kepadaku sakitnya sakaratul untuk menjadi pelajaran”. Jawabnya, “Wahai anakku, sakitnya bagaikan duri berbengkok yang digelandang di usus (dalam perut), dan bagaikan aku bernafas di lobang jarum”.
Sesaat Menjelang Kematian

Dikatakan kepada orang lain yang akan meninggal, "Bagaimana engkau mendapati dirimu?", Ia barkata, "Seakan-akan pisau-pisau digeret kesana kemari di dalam tubuhku"

Seorang lainnya yang sedang menghadapi sakaratul maut ditanya, “Bagaimana dengan sakitnya kematian”. Jawabnya, “Seakan-akan ada api membara di dalam perutku”.

 Barangsiapa yang selalu mengingat kematian, akan lembut hatinya, menjadi baik amal dan perilakunya, serta akan terhalangi dan tidak berani melakukan maksiat, tidak melalaikan kewajiban, tidak lagi terpesona oleh gemerlapnya dunia,  justru rindu berjumpa Tuhan-nya dan kangen surga yang penuh kenikmatan.

Dan siapa yang lupa akan kematian, keras hatinya, dan condong kepada dunia, dan buruk amalannya, serta panjang angan-angannya, maka mengingat kematian adalah nasehat yang paling mengena untuk menegurnya.

Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ الْمَوْتَ
"Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan, yaitu kematian" (HR At-Tirmidzi dan An-Nasaai dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

Dan makna hadits penghancur kelezatan yaitu pemutus kelezatan dan yang menjadikannya sirna.

Dari Ubay bin Ka'ab radhiallahu 'anhu, beliau berkata :

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ قَامَ فَقَالَ :ياَ أَيُّهَا النَّاسُ!، اُذْكُرُوا اللهَ، جَاءَتِ الرَّاجِفَةُ، تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ، جَاءَ الْمَوْتُ بِمَا فِيْهِ
"Jika telah lewat sepertiga malam maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berdiri dan berkata, "Wahai manusia sekalian, berdzikirlah kepada Allah, telah datang (yaitu telah dekat) tiupan sangkakala yang pertama, lalu diikuti dengan tiupan sangkakala yang kedua, telah datang kematian dengan apa yang menyertainya" (HR At-Tirmidzi dan ia berkata, "Hadits hasan").

Dan dari Abu Ad-Darda' ia berkata :

كَفَى بِالْمَوْتِ وَاعِظًا وَالدَّهْرِ مُفَرِّقًا، الْيَوْمَ فِي الدُّوْرِ غَدًا فِي الْقُبُوْرِ
"Cukuplah kematian menjadi pemberi nasehat (peringatan), dan masa sebagai pemisah. Hari ini di rumah-rumah, besok di kuburan" (Diriwayatkan oleh Ibnu 'Assakir)
Dan seluruh kebahagian dan seluruh keberuntungan dan seluruh kemenangan adalah pada persiapan menyambut datangnya kematian.

Kematian adalah pintu pertama menuju surga atau pintu pertama menuju neraka.

Diambil sebagian dari Khutbah Jum'at Masjid Nabawi,

artikel republish by admin from whatsapp group
Powered by Blogger.