Saudaraku terutama pemuda, hadirilah kajian

Ustadz Hasan bin Hartono Ahmad Al Jaizy menulis
Pagi tadi setelah Shubuh, kami mengkaji kitab "Manhaj Ahlus Sunnah dalam Tazkiyatun Nufus" karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhahullah wa athaalallaahu umrahu fi tha'atih. Itu adalah pertemuan kedua kajian kitab tersebut di Masjid Nurul Islam Pondok Kopi. Hadirin dari kalangan umum, terutama sekian orang tua sekitar.

Selepas kajian, beberapa orang tua mendekati kami. Lalu tanya jawab. Ada satu orang tua yang kisaran 60-70 tahun usianya mengabarkan:

"Kami mengenal Sunnah melalui Ustadz Yazid. Dahulu beliau mengajar di masjid ini. Dahulu sekali. Tapi saat itu keadaan tidak kondusif. Demi keamanan, akhirnya vacum kajian beliau."

Saya bertanya, "Kapan itu?"

Beliau menjawab, "Tahun 1989. Sekitar 4 tahun beliau mengajar di sini."
kajian islam di masjid annabawi

Masya Allah. Tabaarakallah.

Ini dengan penekanan: dakwah ketika itu, tidak 'semudah' sekarang. Selain kondisi masyarakat yang dahulu masih sangat tradisional, kondisi pemerintahan saat itu juga berbeda dengan sekarang. Hal ini disebutkan oleh orang tua tersebut.

Beliau berpesan bahwa dai-dai sekarang mumpung ada kesempatan, sebarkanlah terus dakwah Sunnah sampai Sunnah dikenal orang banyak. Dahulu sangat sulit dan kini Allah permudah.

Pesan kami juga di status ini: saudaraku terutama pemuda, hadirilah kajian-kajian dan jangan mengandalkan live streaming jika sempat hadir!

Suatu kala, kami mengajar suatu kitab di daerah Tebet secara rutin. Di sesi tanya jawab, kami sempatkan bertanya ke seorang tua mengenai materi kajian. Tapi beliau 'melongo' (maaf agak kasar) saja. Saya ulangi tetap bingung. Maka jemaah mengabarkan bahwa beliau kurang baik pendengarannya. Lalu saya beralih bertanya ke orang tua lainnya. Hal serupa berlaku kembali. Kurang baik pendengaran.

Selepas shalat Isya, orang tua pertama itu, mendekati kami. Beliau kemudian berkata, "Saya minta maaf. Tadi saya memang tidak dengar. Saya memang sudah tidak begitu bisa mendengar jelas kecuali teriakan dari dekat."

Kami bertanya, "Lalu bagaimana bapak bisa di majelis (sementara tidak dengar)?"

Beliau menjawab, "Saya cuma suka di majelis ilmu. Saya mau cari berkah sama pahalanya. Siapa tahu saya wafat di majelis ilmu."

Sehingga, saya kadang ketika mengajak beberapa pemuda yang 'sudah kenal ngaji' tapi banyak alasan untuk tidak hadir, saya merasa mendung.

Apa saya harus menyediakan jodoh untuk para bujang yang pemalas hingga mereka mau hadir di majelis ilmu?

Apa saya harus membayar mereka agar kebutuhan rumah tangga terpenuhi hingga mau ikutan ngaji?

Sekiranya saya bisa, maka saya ingin berikan itu, sampai mereka mau ngaji.

Betul. Ada dan saya kenal sesiapa yang hanya mau mengaji jika pematerinya datang dari jauh, atau Tabligh Akbar, atau kajian ramai.
Seandainya saya memiliki banyak kelebihan harta yang membuat kawan-kawan tak perlu banyak berpikir soal kecukupan hidup lalu bisa fokus ngaji ilmu, maka saya ingin sekali melakukan. Tapi tak mampu. Maka biarlah Allah yang membuka hati mereka dan mengubah mindset mereka.
Apa menunggu ada pembubaran kajian, pengeroyokan terhadap ustadz, baru beberapa rekan ini sadar bahwa sudah terlalu banyak kebaikan luput disebabkan kemalasan, atau rasa malu, atau kesombongan.

Maka, rajinlah, jangan malu dan jangan sombong akan ilmu.
dibutuhkan donasi perpanjang sewa domain, salurkan ke 3343-01-023572-53-6 (rek bri simpedes) atas nama Atri Yuanda. konfirmasi via whatsapp ke 085362377198. semoga menjadi amal jariah

1 orang mendapat hidayah lebih baik dari pada dunia dan isinya, yuk share
kunjungan anda kembali = penyemangat untuk update artikel selalu

Saudaraku terutama pemuda, hadirilah kajian

-->