Jawaban untuk Menghilangkan Keraguan terhadap Manhaj Salaf

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Salah seorang saudara kami waffaqahullah meminta kami untuk menanggapi sebuah tulisan demi menghilangkan keraguan dalam hatinya terhadap manhaj Salaf, yaitu sebuah tulisan dari saudara kami waffaqahullah berikut ini:

Kritik Untuk Saudara-Saudaraku Sesama Salafy

Kita sering mendengar sebuah hadits yang sangat terkenal bahwa umat Islam terpecah menjadi 73 golongan, semuanya masuk neraka hanya satu golongan yang masuk surga.

Salafy mempunyai keyakinan bahwa satu golongan yang masuk surga itu hanya Salafy saja sedangkan yang lainnya masuk neraka.

Tanggapan:

Pertama: Apabila yang dimaksud adalah Salafy secara hakiki, yaitu pengikut generasi Salaf, generasi Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabatnya maka itu adalah keyakinan yang benar, sebagaimana sudah jelas dalam hadits yang mulia ini.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِى عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِى النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِى
“Dan akan berpecah umatku menjadi 73 kelompok, semuanya di neraka kecuali satu, yaitu yang mengikuti aku dan para sahabatku.” [HR. At-Tirmidzi dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu’anhuma, Shohihul Jami: 9474]

Kedua: Apabila yang dimaksud adalah kelompok atau komunitas tertentu yang mengaku Salafy dan memastikan diri mereka satu-satunya yang masuk surga, tidak kelompok atau komunitas salafy yang lainnya, maka sudah jelas batil. Sebab Salafy bukanlah kelompok, salafy adalah manhaj dalam beragama. Walaupun keterangan dalam tulisan di atas tidak detail, namun kami menyangka inilah yang beliau maksudkan, waffaqahullah.
Manhaj Salaf

Beliau waffaqahullah berkata:

Menurut keyakinan Salafy golongan seperti; Asy’ari, Maturidi, NU, Muhammadiyah, Haba’ib, Al-Irsyad, Persis, Jama’ah Tabligh, Ikhwanul Muslimin adalah termasuk 72 golongan yang masuk neraka.

Tanggapan:

Ulama menjelaskan bahwa 72 golongan yang masuk neraka adalah golongan-golongan ahlul bid’ah, yaitu golongan-golongan yang menyelisihi manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam permasalahan prinsip agama.

Al-Imam Asy-Syathibi rahimahullah berkata,

أَنَّهُ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: «كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً» وَحَتَّمَ ذَلِكَ. وَقَدْ تَقَدَّمَ أَنَّهُ لَا يُعَدُّ مِنَ الْفِرَقِ إِلَّا الْمُخَالِفَ فِي أَمْرٍ كُلِّيٍّ وَقَاعِدَةٍ عَامَّةٍ
“Bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Semuanya di neraka kecuali satu.” Beliau memastikan hal tersebut. Dan telah berlalu bahwa tidaklah seseorang digolongkan kepada kelompok-kelompok itu kecuali orang yang menyelisihi dalam perkara yang menyeluruh dan kaidah umum (prinsip-prinsip dasar agama).” [Al-I’tishom, 2/764]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

و”الْبِدْعَةُ” الَّتِي يُعَدُّ بِهَا الرَّجُلُ مِنْ أَهْلِ الْأَهْوَاءِ مَا اشْتَهَرَ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ بِالسُّنَّةِ مُخَالَفَتُهَا لِلْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ؛ كَبِدْعَةِ الْخَوَارِجِ وَالرَّوَافِضِ وَالْقَدَرِيَّةِ وَالْمُرْجِئَةِ فَإِنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الْمُبَارَكِ وَيُوسُفَ بْنَ أَسْبَاطٍ وَغَيْرَهُمَا قَالُوا: أُصُولُ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً هِيَ أَرْبَعٌ: الْخَوَارِجُ وَالرَّوَافِضُ وَالْقَدَرِيَّةُ وَالْمُرْجِئَةُ
“Bid’ah yang menggolongkan seseorang kepada ahlul ahwa (ahlul bid’ah) adalah bid’ah yang telah masyhur di kalangan ulama Sunnah akan penyelisihannya terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah, seperti bid’ah Khawarij, Rafidhah (Syi’ah), Qodariyyah dan Murjiah, karena sungguh Abdullah bin Al-Mubarok, Yusuf bin Asbath dan selain keduanya berkata: Akar 72 golongan ada empat; Khawarij, Rafidhah (Syi’ah), Qodariyyah dan Murjiah.” [Majmu’ Al-Fatawa, 35/414]

Maka silakan menilai sendiri berdasarkan ilmu apakah golongan-golongan di atas memiliki bid’ah dalam perkara prinsip agama? Apabila kita tidak mampu menilainya maka serahkan kepada ulama. Berikut ini penilaian ulama yang kami ketahui terhadap golongan-golongan di atas.

1. Asy’ariyyah dan Maturidiyyah

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

فالأشاعرة مثلا والماتريدية لا يعدون من أهل السنة والجماعة في هذا الباب، لأنهم مخالفون لما كان عليه النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه في إجراء صفات الله سبحانه وتعالى على حقيقتها، ولهذا يخطئ من يقول: إن أهل السنة والجماعة ثلاثة: سلفيون، وأشعريون، وماتريديون، فهذا خطأ، نقول: كيف يمكن الجميع أهل سنة وهم مختلفون؟! فماذا بعد الحق إلا الضلال؟! وكيف يكونون أهل سنة وكل واحد يرد على الآخر؟! هذا لا يمكن، إلا إذا أمكن الجمع بين الضدين، فنعم، وإلاّ، فلا شك أن أحدهم وحده هو صاحب السنة، فمن هو؟ ‍ الأشعرية، أم الماتريدية، أم السلفية؟ ‍‍ نقول: من وافق السنة، فهو صاحب السنة ومن خالف السنة، فليس صاحب سنة، فنحن نقول: السلف هم أهل السنة والجماعة، ولا يصدق الوصف على غيرهم أبداً والكلمات تعتبر معانيها لننظر كيف نسمى من خالف السنة أهل سنة؟ ‍ لا يمكن وكيف يمكن أن نقول عن ثلاث طوائف مختلفة: إنهم مجتمعون؟ فأين الاجتماع؟ ‍‍ فأهل السنة والجماعة هم السلف معتقداً، حتى المتأخر إلى يوم القيامة إذا كان على طريقة النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه، فإنه سلفي.
“Asy’ariyyah dan Maturidiyah sebagai permisalan (yang menyelisihi Ahlus Sunnah), mereka tidaklah dianggap sebagai Ahlus Sunnah dalam bab ini (Asma’ wash Shifat), karena mereka menyelisihi Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan sahabat dalam menetapkan sifat-sifat Allah subhanahu wa ta’ala sesuai hakikatnya.

Oleh karena itu telah salah orang yang mengatakan: Sesungguhnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah ada tiga golongan: Salafy, Asy’ari dan Maturidi. Ini salah.

Kami katakan: Bagaimana mungkin semua adalah Ahlus Sunnah padahal mereka berbeda?! Bukankah tidak ada setelah kebenaran kecuali kesesatan?! Dan bagaimana mungkin mereka semua Ahlus Sunnah padalah satu dengan yang lainnya saling membantah (yang dianggap sesat)?!

Ini tidak mungkin, kecuali apabila dua hal yang bertentangan dapat disatukan (padahal itu tidak mungkin). Na’am,jika tidak, maka tidak diragukan lagi bahwa hanyalah salah satu dari mereka itulah yang Ahlus Sunnah, siapa dia? Apakah Asy’ariyyah, Maturidiyah atau Salafiyah?

Kita katakan: Siapa yang sesuai sunnah maka dialah Ahlus Sunnah, siapa yang menyelisihi sunnah maka dia bukan Ahlus Sunnah. Maka kita katakan: Salaf, merekalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dan tidak akan benar pensifatan Ahlus Sunnah terhadap selain mereka selama-lamanya, karena kata-kata itu yang menjadi patokan adalah makna-maknanya, agar kita dapat melihat bagaimana bisa kita menamakan yang menyelisihi sunnah sebagai Ahlus Sunnah?

Itu tidak mungkin, maka bagaimana mungkin kita mengatakan terhadap tiga kelompok yang berbeda bahwa mereka semua sama (Ahlus Sunnah)? Di mana persamaannya?

Maka Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang sebenarnya adalah yang mengikuti Salaf dalam aqidah, walau orang terakhirnya sampai hari kiamat, apabila dia mengikuti jalan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat beliau, maka dia adalah SALAFY.” [Syarhul ‘Aqidah Al-Wasithiyyah, 1/54]

Andai ada seorang ulama Ahlus Sunnah yang menganggap Asy’ariyyah dan Maturidiyah sebagai Ahlus Sunnah maka itu bukanlah alasan untuk mencerca saudara kita yang mengikuti ulama yang memasukkan Asy’ariyyah dan Maturidiyah ke dalam 72 golongan yang sesat, bukan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Dan sependek yang kami ketahui adalah ulama Ahlus Sunnah yang memasukkan Asy’ariyyah dan Maturidiyyah ke dalam golongan yang selamat (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) tidak SECARA MUTLAQ. Melainkan dengan TAQYID. Seperti ketika menyebut selain Syi’ah dan Mu’tazilah (semisal JIL di negeri ini), atau hanya dalam bab-bab tertentu saja. Jadi bukan Ahlus Sunnah secara hakiki.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

فَلَفْظُ ” أَهْلِ السُّنَّةِ ” يُرَادُ بِهِ مَنْ أَثْبَتَ خِلَافَةَ الْخُلَفَاءِ الثَّلَاثَةِ، فَيَدْخُلُ فِي ذَلِكَ جَمِيعُ الطَّوَائِفِ إِلَّا الرَّافِضَةَ، وَقَدْ يُرَادُ بِهِ أَهْلُ الْحَدِيثِ وَالسُّنَّةِ الْمَحْضَةِ، فَلَا يَدْخُلُ فِيهِ إِلَّا مَنْ يُثْبِتُ الصِّفَاتِ لِلَّهِ تَعَالَى وَيَقُولُ: إِنَّ الْقُرْآنَ غَيْرُ مَخْلُوقٍ، وَإِنَّ اللَّهَ يُرَى فِي الْآخِرَةِ، وَيُثْبِتُ الْقَدْرَ، وَغَيْرَ ذَلِكَ مِنَ الْأُصُولِ الْمَعْرُوفَةِ عِنْدَ أَهْلِ الْحَدِيثِ وَالسُّنَّةِ.
“Lafaz Ahlus Sunnah bisa jadi yang dimaksudkan dengannya adalah orang yang menetapkan kekhilafahan khalifah yang tiga (Abu Bakr, Umar dan Utsman radhiyallahu’anhum), maka masuk ke dalamnya seluruh kelompok kecuali Syi’ah Rafidhah. Dan bisa jadi yang dimaksud dengan lafaz Ahlus Sunnah adalah Ahlul Hadits was Sunnah yang murni (yang sebenarnya), maka tidak masuk kepadanya kecuali orang yang menetapkan (mengimani) sifat-sifat Allah ta’ala dan berpendapat: Sesungguhnya Al-Qur’an bukan makhluk, Allah dapat dilihat di akhirat, mengimani takdir dan selain itu yang termasuk prinsip-prinsip Ahlul Hadits was Sunnah yang sudah ma’ruf.” [Minhajus Sunnah, 2/221]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata,

وإن كان في كلامهم من الأدلة الصحيحة وموافقة السنة مالا يوجد في كلام عامة الطوائف فإنهم أقرب طوائف أهل الكلام إلى السنة والجماعة والحديث وهم يعدون من أهل السنة والجماعة عند النظر إلى مثل المعتزلة والرافضة ونحوهم بل هم أهل السنة والجماعة في البلاد التي يكون أهل البدع فيها المعتزلة والرافضة ونحوهم
“Meski dalam ucapan mereka (Asy’ariyyah) terdapat dalil-dalil shahih dan sesuai sunnah yang tidak terdapat dalam ucapan semua kelompok lainnya, sehingga mereka adalah kelompok AHLUL KALAM yang paling dekat kepada As-Sunnah wal Jama’ah wal Hadits. Dan mereka digolongkan kepada Ahlus Sunnah wal Jama’ah apabila dibandingkan dengan *(kelompok yang lebih sesat) seperti Mu’tazilah, Syi’ah Rafidhah dan yang semisalnya, bahkan mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah di negeri-negeri yang padanya (didominasi) *ahli bid’ah dari kalangan Mu’tazilah, Syi’ah dan yang semisalnya.” [Bayaanu Talbisil Jahmiyah, 3/538]

2. Ikhwanul Muslimin dan Jama’at Tabligh

Tentang Ikhwanul Muslimin dan Jama’at Tabligh silakan lihat fatwa-fatwa ulama Sunnah di sini:

3. NU, Muhammadiyah, Haba’ib, Al-Irsyad, Persis

Adapun NU, Muhammadiyah, Haba’ib, Al-Irsyad, Persis maka perlu dipelajari lebih detail dan ditanyakan kepada para ulama. Lebih selamat kita bersikap dengan mengikuti bimbingan ulama.

Hanya saja perlu dipahami bahwa memasukkan kelompok-kelompok yang menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jama’ah ke dalam 72 golongan sesat yang masuk neraka sebagaimana dalam hadits iftiroq, bukanlah memastikan person-person golongan tersebut sebagai penghuni neraka, karena telah dimaklumi perbedaan antara hukum muthlaq dan ta’yin.

Beliau waffaqahullah berkata:

Apalah artinya kita berpura-pura baik dan dakwah lemah lembut serta akrab dengan tokoh-tokoh xx dan yang lainnya sementara kita berkeyakinan bahwa kelompok tersebut termasuk 72 golongan yang masuk neraka, bukankah ini adalah “taqiyah” mirip ajaran syi’ah, yaitu berpura-pura karena masih minoritas dan takut..?!

Tanggapan:

Berlemah lembut terhadap orang yang sesat demi untuk mendakwahinya atau agar kita tidak terjerumus dalam perbuatan yang keji terhadapnya atau demi kemaslahatan dunia dan agama bukanlah taqiyyah, tapi memang tuntutan syari’at yang diistilahkan para ulama dengan mudaaraah. Apabila kita bersikap keras dan kasar kepadanya tentu dia akan lari dari dakwah yang mulia ini.

Allah ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap kasar lagi berhati keras, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” [Ali Imron: 159]

Dari Urwah rahimahullah, dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha,

أَنَّ رَجُلًا اسْتَأْذَنَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا رَآهُ قَالَ: «بِئْسَ أَخُو العَشِيرَةِ، وَبِئْسَ ابْنُ العَشِيرَةِ» فَلَمَّا جَلَسَ تَطَلَّقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَجْهِهِ وَانْبَسَطَ إِلَيْهِ، فَلَمَّا انْطَلَقَ الرَّجُلُ قَالَتْ لَهُ عَائِشَةُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، حِينَ رَأَيْتَ الرَّجُلَ قُلْتَ لَهُ كَذَا وَكَذَا، ثُمَّ تَطَلَّقْتَ فِي وَجْهِهِ وَانْبَسَطْتَ إِلَيْهِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا عَائِشَةُ، مَتَى عَهِدْتِنِي فَحَّاشًا، إِنَّ شَرَّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ القِيَامَةِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ شَرِّهِ»
“Bahwa seseorang meminta izin kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, maka tatkala beliau melihatnya, beliau bersabda: “Dia adalah sejelek-jeleknya saudara dalam keluarga, dan dia adalah sejelek-jeleknya anak dalam keluarga”. Tatkala orang itu duduk, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menyambutnya dengan wajah berseri dan ramah kepadanya, maka ketika orang itu pergi Aisyah berkata kepada beliau:

Wahai Rasulullah ketika engkau melihat orang itu engkau berkata tentangnya ini dan itu, tetapi mengapa engkau menyambutnya dengan wajah berseri dan ramah kepadanya? Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: Wahai Aisyah kapankah engkau melihatku melakukan perbuatan yang keji, sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan oleh manusia karena menghindari kejelekannya.”

[HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,

وَإِنَّمَا أَلَانَ لَهُ الْقَوْلَ تَأَلُّفًا لَهُ وَلِأَمْثَالِهِ عَلَى الْإِسْلَامِ وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ مُدَارَاةُ مَنْ يُتَّقَى فُحْشُهُ وَجَوَازُ غِيبَةِ الْفَاسِقِ الْمُعْلِنِ فِسْقَهُ وَمَنْ يَحْتَاجُ النَّاسُ إِلَى التَّحْذِيرِ مِنْهُ
“Hanyalah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melembutkan ucapan kepadanya demi membuatnya dan yang semisal dengannya mau masuk Islam. Dan dalam hadits ini ada anjuran untuk melakukan mudaaraah terhadap orang yang dikhawatirkan kekejiannya, dan bolehnya mengghibahi orang fasik yang terang-terangan melakukan kefasikannya dan orang yang manusia perlu ditahdzir darinya.” [Syarhu Muslim, 16/144]

Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

وَقَالَ الْقُرْطُبِيُّ فِي الْحَدِيثِ جَوَازُ غِيبَةِ الْمُعْلِنِ بِالْفِسْقِ أَوِ الْفُحْشِ وَنَحْوِ ذَلِكَ مِنَ الْجَوْرِ فِي الْحُكْمِ وَالدُّعَاءِ إِلَى الْبِدْعَةِ مَعَ جَوَازِ مُدَارَاتِهِمُ اتِّقَاءَ شَرِّهِمْ مَا لَمْ يُؤَدِّ ذَلِكَ إِلَى الْمُدَاهَنَةِ فِي دِينِ اللَّهِ تَعَالَى
“Dan Al-Qurthubi berkata: Dalam hadits ini terdapat penjelasan bolehnya mengghibahi orang yang terang-terangan berbuat kefasikan, kekejian dan yang semisalnya seperti kezaliman dalam hukum dan mengajak kepada perbuatan bid’ah, juga penjelasan bolehnya melakukan mudaaraah kepada mereka demi menghindari kejelekan mereka, selama itu tidak mengantarkan kepada sikap mudaahanah dalam agama Allah ta’ala.” [Fathul Baari, 10/454]

Apa yang Dimaksud dengan Mudaaraah dan Mudaahanah Serta Apa Perbedaannya?

Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

ثُمَّ قَالَ تَبَعًا لعياض وَالْفرق بَين المدارة وَالْمُدَاهَنَةِ أَنَّ الْمُدَارَاةَ بَذْلُ الدُّنْيَا لِصَلَاحِ الدُّنْيَا أَوِ الدِّينِ أَوْ هُمَا مَعًا وَهِيَ مُبَاحَةٌ وَرُبَّمَا اسْتُحِبَّتْ وَالْمُدَاهَنَةُ تَرْكُ الدِّينِ لِصَلَاحِ الدُّنْيَا
“Kemudian beliau (Al-Qurthubi rahimahullah) berkata dengan mengikuti ucapan ‘Iyadh: Perbedaan antara mudaaraah dan mudaahanah adalah, bahwa mudaaraah itu mengorbankan dunia untuk kebaikan dunia atau agama atau kedua-keduanya sekaligus dan hukumnya boleh, bahkan bisa jadi dianjurkan. Adapun mudaahanah adalah meninggalkan agama untuk kemaslahatan dunia.” [Fathul Baari, 10/454]

Maka boleh kita berlaku baik bahkan memberikan hadiah kepada orang yang sesat demi menghindari kejelekannya terhadap kita dalam kemaslahatan dunia atau agama. Inilah yang dimaksud mudaaraah dan bukan taqiyyah.

Adapun taqiyyah itu lebih mirip mudaahanah, seperti ikut-ikutan melakukan amalan bid’ah padahal tahu bahwa itu salah, demi kemaslahatan dunia, demi agar tidak diganggu fisiknya atau hartanya. Orang-orang Syi’ah rela mengikuti amalan-amalan Ahlus Sunnah walau menurutnya salah, agar kesesatannya tidak diketahui sehingga diri dan hartanya aman.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
www.facebook.com/sofyanruray.info

Tidak ada komentar: