IBX5A47BA52847EF Cadar dalam Pandangan Nahdlatul Ulama

Cadar dalam Pandangan Nahdlatul Ulama

PENDAPAT IMAM SYAFI’I dan SYAFI’IYAH TERKAIT CADAR

Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih. Sangat mudah bagi orang yang memiliki penyakit dalam hatinya untuk mengakses dan melihat tubuh wanita. Tidak ada pembatas ruang dan waktu. Kapanpun dan dimanapun seseorang dengan mudah bisa melihat tubuh wanita. Namun disisi lain banyak muslimah yang semakin tersadarkan akan pentingnya menjaga aurat. Saat ini banyak kita jumpai para wanita muslimah yang mengenakan jilbab syar’i bahkan tidak sedikit diantara mereka sudah siap memakai cadar kemanapun mereka pergi.

Wanita bercadar tidak saja kita jumpai di tempat-tempat kajian, namun juga saat kuliah di kampus, ke pasar, dan berbagai aktivitas lainnya. Namun sangat disayangkan kesadaran mereka yang begitu tinggi untuk menjaga aurat tidak diamini oleh pihak-pihak tertentu. Justru yang ada, mereka dicurigai dan dilarang untuk mengenakan cadar. Berbeda dengan mereka yang mengumbar aurat seolah tidak ada pengawasan dan aturan.

Hukum Cadar Menurut Madzhab Syafi’i

Di Indonesia yang mayoritas bermadzhab Syafi’i mesti mengetahui bagaimana pandangan Imam Syafi’i dan Ulama Syafi’iyah tentang hukum mengenakan cadar. Dengan pengetahuan ini, maka dihrapkan terjalin diantara masyarakat dan para muslimah bercadar untuk saling memahami dan menghargai.

Cadar dalam Pandangan Nahdlatul Ulama

Berikut kami tulis pendapat madzhab Syafi’I dan Fatwa dari Ulama NU tentang Cadar.

Pendapat Imam Syafi’I Rahimahullah berkata :

وَكُلُّ الْمَرْأَةِ عَوْرَةٌ إِلاَّ كَفَّيْهَا وَوَجْهُهَا وَظَهْر قَدَمَيْهَا عَوْرَةٌ
“Dan setiap wanita adalah aurat kecuali telapak tangan dan wajahnya, demikian juga kedua telapak kakinya.” (Al-Umm, 1/110)

Pendapat Ulama Syafi’iyah

وَاخْتَلَفَ الشَّافِعِيَّةُ فِي تَنَقُّبِ الْمَرْأَةِ ، فَرَأْيٌ يُوجِبُ النِّقَابَ عَلَيْهَا ، وَقِيل : هُوَ سُنَّةٌ ، وَقِيل : هُوَ خِلاَفُ الأَوْلَى
“Madzhab Syafi’i berbeda pendapat tentang hukum mengenakan cadar bagi wanita. Pendapat pertama menyatakan bahwa hukum mengenakan cadar bagi wanita adalah wajib. Pendapat kedua menyatakan hukumnya adalah sunnah. Dan pendapat ketiga ada juga menyatakan khilaful awla” (Lihat Al-Mawsu’atul Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, Kuwait-Wizaratul Awqaf was Syu’unul Islamiyyah, juz, XLI, halaman 134).

Imam Nawawi Rahimahullah dalam Kitab Al Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab (3/169) mengatakan,

المَشْهُورُ مِنْ مَذْهَبِنَا أَنَّ عَوْرَةَ الرَجُلِ مَا بَيْنَ سُرّتِهِ وَرُكْبَتِهِ وَكَذَلِكَ الاَمَةُ وَعَوْرَةُ الحُرَّةِ جَمِيْعُ بَدَنِهَا إِلاَّ الوَجْهُ وَالكَفَّيْنِ وَبِهَذَا كُلِهِ قَالَ مَالِك وَطَائِفَةٌ وَهِيَ رِوَايَةُ عَنْ أَحْمَد
“Pendapat yang masyhur di madzhab kami (Syafi’iyah) bahwa aurat pria adalah antara pusar hingga lutut, begitu pula budak wanita. Sedangkan aurat wanita merdeka adalah seluruh badannya kecuali wajah dan telapak tangan. Demikian pula pendapat yang dianut oleh Imam Malik dan sekelompok ulama serta menjadi salah satu pendapat Imam Ahmad.”

Imam Haramain Al-Juwaini Rahimahullah, beliau berkata :

مَعَ اتِّفَاقِ المُسْلِمِينَ عَلَى مَنْعِ النِّسَاءِ مِنَ التَبَرُّجِ وَالسُفُورِ وَتَرْكِ التَنَقُّبِ
“…disertai kesepakatan kaum muslimin untuk melarang para wanita dari melakukan tabarruj dan membuka wajah mereka dan meninggalkan cadar…” (Nihaayatul Mathlab fi Dirooyatil Madzhab, 12/31)

Imam Al-Ghazali Rahimahullah, beliau berkata:

فَإِذَا خَرَجَتْ , فَيَنْبَغِي أَنْ تَغُضُّ بَصَرَهَا عَنِ الرِجَالِ , وَلَسْنَا نَقُولُ : إِنَّ وَجْهَ الرَجُلِ فِي حَقِهَا عَوْرَةٌ , كَوَجْهِ المَرْأَةِ فِي حَقِّهِ, بَلْ هُوَ كَوَجْهِ الصَبِي الأَمْرَدِ فِي حَقِّ الرَجُلِ , فَيَحْرُمُ النَظَرُ عِنْدَ خَوفِ الفِتْنَةِ فَقَطْ , فَإِنْ لَمْ تَكُنْ فِتْنَة فَلَا , ِإذْ لَمْ يَزَلْ الرِجَالُ عَلىَ مَمَرِّ الزَمَانِ مَكْشُوفِيْ الوُجُوهِ , وَالنِّسَاءُ يَخْرُجْنَ مُنْتَقِبَاتِ , وَلَوْ كَانَ وُجُوهُ الرِّجَالِ عَوْرَةٌ فِي حَقِّ النِّسَاءِ لَأَمَرُوا بِالتَّنَقُّبِ أَوْ مَنَعْنَ مِنَ الخُرُوجِ إِلاَّ لِضَرُوْرَةِ
“Jika seorang wanita keluar maka hendaknya ia menundukkan pandangannya dari memandang para lelaki. Kami tidak mengatakan bahwa wajah lelaki adalah aurat bagi wanita –sebagaimana wajah wanita yang merupakan aurat bagi lelaki- akan tetapi ia sebagaimana wajah pemuda amrod (yang tidak berjanggut dan tanpan) bagi para lelaki, maka diharamkan untuk memandang jika dikhawatirkan fitnah, dan jika tidak dikhawatirkan fitnah maka tidak diharamkan. 

Karena para lelaki senantiasa terbuka wajah-wajah mereka sejak zaman-zaman lalu, dan para wanita senantiasa keluar dengan bercadar. Kalau seandainya wajah para lelaki adalah aurat bagi wanita maka tentunya para lelaki akan diperintahkan untuk bercadar atau dilarang untuk keluar kecuali karena darurat” 

(Ihyaa Uluum Ad-Diin, 2/47)

Abdul Hamid asy-Syarwani berkata :

أَنَّ لَهَا ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ عَوْرَةٌ فِي الصَّلَاِة وَهُوَ مَا تَقَدَّمَ، وَعَوْرَةٌ بِالنِّسْبَةِ لِنَظَرِ الْاَجَانِبِ إِلَيْهَا جَمِيعُ بَدَنِهَا حَتَّى الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ
“Bahwa perempuan memiliki tiga aurat. Pertama, aurat dalam shalat dan hal ini telah dijelaskan. Kedua aurat yang terkait dengan pandangan orang lain kepadanya, yaitu seluruh badannya termasuk wajah dan kedua telapak tangannya menurut pendapat yang mu’tamad…” (Hasyiyah asy-Syarwani, Bairut-Dar al-Fikr, juz, II, h. 112)

Syaikh Sulaiman Al Jamal berkata:

غَيْرُ وَجْهٍ وَكَفَّيْنِ : وَهَذِهِ عَوْرَتُهَا فِي الصَّلاَةِ . وَأَمَّا عَوْرَتُهَا عِنْدَ النِّسَاءِ المُسْلِمَاتِ مُطْلَقًا وَعِنْدَ الرِّجَالِ المَحَارِمِ ، فَمَا بَيْنَ السُرَّةِ وَالرُكْبَةِ . وَأَمَّا عِنْدَ الرِّجَالِ الْأَجَانِبِ فَجَمِيْعُ البَدَنِ
“Maksud perkataan An-Nawawi ‘aurat wanita adalah selain wajah dan telapak tangan’, ini adalah aurat di dalam shalat. Adapun aurat wanita muslimah secara mutlak di hadapan lelaki yang masih mahram adalah antara pusar hingga paha. Sedangkan di hadapan lelaki yang bukan mahram adalah seluruh badan” (Hasyiatul Jamal Ala’ Syarh Al Minhaj, 411)

Syaikh Muhammad bin Qaasim Al Ghazzi Rahimahullah, penulis kitab Fathul Qaarib, berkata:

وَجَمِيْعُ بَدَنِ الْمَرْأَةِ الحُرَّةِ عَوْرَةٌ إِلاَّ وَجْهُهَا وَكَفَّيْهَا ، وَهَذِهِ عَوْرَتُهَا فِي الصَّلاَةِ ، أَمَّا خَارِجَ الصَّلاَةِ فَعَوْرَتُهَا جَمِيْعُ بَدَنِهَا
“Seluruh badan wanita selain wajah dan telapak tangan adalah aurat. Ini aurat di dalam shalat. Adapun di luar shalat, aurat wanita adalah seluruh badan” (Fathul Qaarib, 19)

Ibnu Qaasim Al Abadi Rahimahullah berkata:

فَيَجِبُ مَا سَتَرَ مِنَ الُأْنثَى وَلَوْ رَقِيْقَةٌ مَا عَدَا الوَجْهِ وَالكَفَّيْنِ . وَوُجُوبُ سَتْرِهِمَا فِي الحَيَاةِ لَيْسَ لِكَوْنِهِمَا عَوْرَةٌ ، بَلْ لُخُوفِ الفِتْنَةِ غَالِبًا
“Wajib bagi wanita menutup seluruh tubuh selain wajah telapak tangan, walaupun penutupnya tipis. Dan wajib pula menutup wajah dan telapak tangan, bukan karena keduanya adalah aurat, namun karena secara umum keduanya cenderung menimbulkan fitnah” (Hasyiah Ibnu Qaasim ‘Ala Tuhfatul Muhtaaj, 3/115)

Taqiyuddin Al Hushni rahimahullah, penulis Kitab Kifaayatul Akhyaar, berkata:

وَيُكْرَهُ أَنْ يُصَلِّيَ فِيْ ثَوْبٍ فِيْهِ صُوْرَةٌ وَتَمْثِيْلٌ ، وَالْمَرْأَةُ مُتَنَقِّبَةٌ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ فِي مَسْجِدٍ وَهُنَاكَ أَجَانِب لاَ يَحْتَرِزُوْنَ عَنِ النَّظَرِ ، فَإِنْ خِيْفَ مِنَ النَّظَرِ إِلَيْهَا مَا يَجُرُّ إٍلَى الفَسَادِ حَرَمَ عَلَيْهَا رَفْعُ النِقَابِ
“Makruh hukumnya shalat dengan memakai pakaian yang bergambar atau lukisan. Makruh pula wanita memakai niqab (cadar) ketika shalat. Kecuali jika di masjid kondisinya sulit terjaga dari pandangan lelaki asing (ajnabi). Jika wanita khawatir dipandang oleh lelaki ajnabi sehingga menimbulkan kerusakan, haram hukumnya melepaskan niqab (cadar)” (Kifaayatul Akhyaar, 181).

Syaikh Salim bin Sumir al Hadhrami berkata dalam Kitab Safinatun Najah :

فصل: العورات أربع: الرجل مطلقا والأمة في الصلاة ما بين السرة والركبة. وعورة الحرة في الصلاة جميع بدنها ما سوي الوجه والكفين. وعورة الحرة والأمة عند الأجانب جميع البدن. وعند محارمهما والنساء ما بين السرة والركبة.
“Fasal (tentang aurat). Aurat itu ada empat macam: Pertama, aurat laki-laki dalam semua keadaan dan aurat budak perempuan adalah bagian badan antara pusar dan lutut. Kedua, aurat perempuan merdeka (baca:bukan budak) ketika shalat adalah seluruh badannya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya. Ketiga, aurat perempuan merdeka dan budak perempuan yang harus ditutupi ketika bersama dengan laki-laki ajnabi (bukan mahram) adalah seluruh anggota badannya. Keempat, aurat perempuan merdeka dan budak perempuan yang harus ditutupi ketika bersama dengan laki-laki yang berstatus mahram dengannya adalah bagian badan antara pusar dan lutut”

Syaikh Muhammad bin Umar Nawawi dalam Kitab Syarh ‘Uqud al Lajjiin fi Bayan Huquq al Jauzain berkata :

(الفصل الثاني في) بيان (حقوق الزوج) الواجبة (على الزوجة) و هي طاعة الزوج في غير معصية وحسن المعاشرة وتسليم نفسها إليه وملازمة البيت وصيانة نفسها من أن توطيء فراشه غيره و الاحتجاب عن رؤية أجنبي لشيء من بدنها ولو وجهها وكفيها إذ النظر إليهما حرام ولو مع اتفاء الشهوة والفتنة …
“(Fasal kedua itu berisi) penjelasan (mengenai hak-hak suami) yang menjadi kewajiban (istri). Hak-hak tersebut adalah:

1. Mentaati suami selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat
2. Memperlakukan suami dengan baik
3. Menyerahkan dirinya kepada suami (jika suami mengajak untuk berhubungan badan, pent)
4. Betah di rumah
5. Menjaga diri jangan sampai ada laki-laki selain suaminya berada di tempat tidur suaminya
6. Berhijab sehingga tidak ada satupun bagian tubuhnya yang terlihat oleh laki-laki ajnabi termasuk di antaranya adalah wajah dan kedua telapak tangannya karena adalah haram hukumnya seorang laki-laki melihat wajah dan telapak tangannya meski pandangan tersebut tanpa diiringi syahwat dan tidak dikhawatirkan adanya pihak-pihak yang tergoda…”

BIJAK DALAM MASALAH CADAR

Ahkam Al-Fuqaha’ fi Muqarrati Mu’tamarat Nahdhatil Ulama’ berisi kumpulan masalah-masalah Diniyah dalam Muktamar NU ke-1 s/d 15 yang diterbitkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Penerbit CV Toha Putra Semarang. Buku ini disusun dan dikumpulkan oleh Kyai Abu Hamdan Abdul Jalil Hamid Kudus, Katib II PB Syuriah NU dan dikoreksi ulang oleh Abu Razin Ahmad Sahl Mahfuzh Rais Syuriah NU. 

Seluruh fatwa yang ada di buku tersebut sudah dikoreksi oleh tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama antara lain J. M. (Yang Mulia-ed) Rois Aam, KH Abdul Wahab Khasbullah, J.M. KH Bisyri Syamsuri, Ustadz R Muhammad Al-Kariem Surakarta, KH Zubair Umar, Djailani Salatiga, Ustadz Adlan Ali, KH Chalil Jombong, dan (alm) KH Sujuthi Abdul Aziez Rembang.

Pada buku di atas, tepatnya pada juz kedua yang berisi hasil keputusan Muktamar NU ke delapan yang diadakan di Batavia (Jakarta) pada tanggal 12 Muharram 1352 H atau 7 Mei 1933 H pasnya pada halaman 8-9 tercantum fatwa yang merupakan jawaban pertanyaan yang berasal dari Surabaya sebagai berikut:

مَا حُكْمُ خُرُوجِ الْمَرْأَةِ لِأَجْلِ الْمُعَامَلَةِ مَكْشُوفَة الوَجْهِ وَالكَفَّيْنِ وَالرِجْلَيْنِ، هَلْ هُوَ حَرَامٌ أَوْ لاَ؟ وَإِنْ قُلْتُمْ بِالحُرْمَةِ فَهَلْ هُنَاكَ قَوْلٌ بِجَوِازِهِ لِأَنَّهُ مِنَ الضَرُوْرَةِ أَوْ لَا؟ (سورابايا).135
135. Soal: Bagaimana hukumnya keluarnya wanita akan bekerja dengan terbuka muka dan kedua tangannya? Apakah HARAM atau makruh? Kalau dihukumkan HARAM, apakah ada pendapat yang menghalalkan? Karena demikian itu telah menjadi darurat ataukah tidak? (Surabaya).

ج: يُحْرَمُ خُرُوْجُهَا لِذَلِكَ بِتِلْكَ الحَالَةِ عَلَى المُعْتَمَدِ وَالثَانِي يَجُوزُ خُرُوْجُهَا لَأَجْلِ المُعَامَلَةِ مَكْشُوفَة الوَجْهِ وَالكَفَّيْنِ إِلَى الكَوْعَينِ. وَعِنْدَ الحَنَفِيَّةِ يَجُوزُ ذَلِكَ بَلْ مَعَ كَشْفِ الرِجْلَيْنِ إِلىَ الكَوْعَيْنِ إِذَا أَمنتِ الفِتْنَة.
Jawab : Hukumnya wanita keluar yang demikian itu HARAM, menurut pendapat yang mu’tamad, menurut pendapat lain boleh wanita keluar untuk jual beli dengan terbuka muka dan kedua telapak tangannya, dan menurut Mazhab Hanafi, demikian itu boleh bahkan dengan terbuka kakinya (sampai mata kaki-ed) apabila tidak ada fitnah.

KESIMPULAN

Dari pembahasan singkat di atas dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Memakai cadar merupakan perkara yang sudah dikenal sejak zaman Nabi, dan para ulama sepakat bahwa istri-istri Nabi bercadar.

2. Imam Syafi’i tidak menghukumi cadar secara tegas, namun pada beberapa kesempatan beliau menganjurkan seperti saat ihram.

3. Cadar di Madzhab Syafi’i masih diperselisihkan hukumnya.

4. Ulama Syafi’iyah sepakat bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali dua telapak tangan dan wajah.

5. Mayoritas Ulama Syafi’iyah mewajibkan wanita untuk bercadar.

6. Ulama Syafi’iyah membedakan antara aurat wanita saat shalat dan ketika di hadapan laki-laki asing. Dalam shalat wajah dan telapak tangan dibuka, adapun diluar shalat di hadapan laki-laki asing maka wajahnya aurat dan harus ditutup.

7. Sebagian Madzhab Syafi’iyah berpendapat bahwa wajah wanita bukan aurat, tapi tetap hanya boleh dipandang jika ada keperluan syar’i.

8. Para ulama Syafi’iyah sepakat bahwa jika memandang wajah wanita dikhawatirkan terjadi fitnah, seperti memandangnya dengan syahwat, maka hukumnya haram.

9. Pendapat yang benar (baca: mu’tamad) dalam Mazhab Syafi’i –ditimbang oleh kaedah-kaedah mazhab- adalah pendapat yang mengatakan bahwa seluruh badan muslimah itu wajib ditutupi ketika hendak keluar rumah. Pendapat inilah yang dipilih dan difatwakan oleh NU.

10. Sedangkan pendapat yang membolehkan untuk membuka wajah dan kedua telapak tangan bagi muslimah adalah pendapat yang lemah dalam Mazhab Syafi’i.

11. Hasil Bahsul Masa’il NU menyimpulkan bahwa pada asalnya wanita mesti menutup seluruh tubuhnya, kecuali dalam kondisi yang tidak mengundang fitnah.

SARAN

1. Jika terjadi tindakan radikalisme atau perilaku wanita bercadar yang tidak baik, maka jangan disalahkan cadarnya atau agamanya. Karena pada hakikatnya agama islam adalah agama yang cinta damai.

2. Jika ada larangan dari Perguruan Tinggi, lembaga pendidikan, atau instansi lainnya yang melarang wanita muslimah bercadar, maka perlu ditinjau ulang. Karena wanita bercadar bukan saja mereka menjaga kesucian diri mereka namun juga menjaga pandangan laki-laki yang liar.

3. Kepada wanita muslimah yang bercadar hendaknya bukan sekedar wajah yang ditutup dan penampilan yang diperbaiki, lebih dari itu hendaknya adab dan akhlak serta hati pun harus selalu diperbaiki. Sehingga menepis penilaian buruk masyarakat kepada para wanita bercadar.

Demikian tulisan sederhana ini kami buat, semoga bermanfaat. Jika terdapat kekurangan dan kesalahan penulis memohon ampunan kepada Allah dan siap untuk dikoreksi dan diperbaiki. Wallahu A’lam.

Ditulis Oleh: Ustadz Abu Rufaydah حفظه الله
Kontributor Bimbinganislam.com
♻ Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini, semoga bermanfaat. Jazakumullahu khoiron
broadcast whatsapp 1hari 1ilmu
Disclaimer: jika ada kesalahan dari sisi penulisan, ukuran font, link rusak, sumber referensi dll harap konfirmasi via whatsapp ke 0895629036221 untuk diperbaiki