IBX5A47BA52847EF KEUTAMAAN MENYANTUNI ANAK YATIM

KEUTAMAAN MENYANTUNI ANAK YATIM

أنا وكافل اليتيم فى الجنة هكذا وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئا (رواه البخاري ، كتاب الطلاق ، باب اللعان )
Dari Sahl bin Sa’ad r.a berkata: “Rasulullah shallallahu alahi wa salam bersabda: “Saya dan orang yang memelihara anak yatim itu dalam surga seperti ini.” Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya serta merenggangkan keduanya.”. [HR al-Bukhari no. 4998 dan 5659]

KEUTAMAAN MENYANTUNI ANAK YATIM

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan dan pahala orang yang meyantuni anak yatim, sehingga imam Bukhari mencantumkan hadits ini dalam bab: keutamaan orang yang mengasuh anak yatim. “Menanggung anak yatim” adalah mengurusi dan memperhatikan semua keperluan hidupnya, seperti nafkah (makan dan minum), pakaian, mengasuh dan mendidiknya dengan pendidikan Islam yang benar

Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:

1.
orang yang menyantuni anak yatim di dunia akan menempati kedudukan yang tinggi di surga dekat dengan kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

2. Yang dimaksud dengan anak yatim adalah seorang anak yang ditinggal oleh ayahnya dan atau ibunya sebelum anak itu mencapai usia dewasa. Ditinggal ayah atau ditinggal ibu nya dalam Islam dikenal dengan yatim. Tetapi di Indonesia ada pembedaan yang bila ditinggal ibunya disebut yatim. Pada dasarnya menurut prinsip Islam, baik ditinggal ibu, maupun di tinggal ayah, namanya tetap yatim.

3. Keutamaan dalam hadits ini belaku bagi orang yang meyantuni anak yatim dari harta orang itu sendiri atau harta anak yatim tersebut jika orang itu benar-benar yang mendapat kepercayaan untuk itu

4. Demikian pula, keutamaan ini berlaku bagi orang yang meyantuni anak yatim yang punya hubungan keluarga dengannya atau anak yatim yang sama sekali tidak punya hubungan keluarga dengannya.

Betapa agungnya ajaran Islam, ajaran yang universal ini menempatkan anak yatim dalam posisi yang sangat tinggi, Islam mengajarkan untuk menyayangi mereka dan melarang melakukan tindakan-tindakan yang dapat menyinggung perasaan mereka. Banyak sekali ayat-ayat Al-qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu alahi wa salam yang menerangkan tentang hal ini. Dalam surat Al-Ma’un misalnya, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

أرأيت الذي يكذب بالدين ، فذلك الذي يدع اليتيم ، ولا يحض على طعام المسكين
"Tahukah kamu orang yang mendustakan Agama, itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan kepada orang miskin" {QS. Al-ma’un : 1-3}

Orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan kepada fakir miskin, dicap sebagai pendusta Agama yang ancamannya berupa api neraka.

Dalam ayat lain, Allah juga berfirman :

فأما اليتيم فلا تقهر ، وأما السا ئـل فلا تنهر
“Maka terhadap anak yatim maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap pengemis janganlah menghardik”. QS. Ad-Dhuha : 9 – 10
♻ Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini, semoga bermanfaat. Jazakumullahu khoiron
Disclaimer: jika ada kesalahan dari sisi penulisan, ukuran font, link rusak, sumber referensi dll harap konfirmasi via whatsapp ke 0895629036221 untuk diperbaiki