IBX5A47BA52847EF Diam Dan Fokus Ketika Pelajaran Disampaikan

Diam Dan Fokus Ketika Pelajaran Disampaikan

● Seorang penuntut ilmu harus bisa membedakan mana majelis ilmu dan mana yang bukan dan ia tidak akan bisa melakukannya kecuali dengan memperhatikan ilmu yang disampaikan.

● Jika seorang thalib tidak memperhatikan ilmu yang disampaikan maka ia akan kehilangan faidah ilmu yang disampaikan gurunya.

● Diam di dalam majelis, mendengarkan ayat ayat al quran dan hadits hadits Nabi merupakan kewajiban dan akan mendatangkan rahmat dan keberkahan dari Allah. 

Allah berfirman:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. [Surat Al-Araf 204]

● Barangsiapa yang menginginkan kesempurnaan iman dalam dirinya, hendaklah ia berbicara baik atau diam. Dan mencari ilmu termasuk bentuk ibadah yang akan mengguatkan imannya. 

Diam Dan Fokus Ketika Pelajaran Disampaikan

Rasulullah ﷺ bersabda:
ِمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia berkata dengan baik atau diam. (HR. Bukhari dan Muslim)

● Seorang penuntut ilmu akan sukses jika dia diam dalam hal hal yang tidak bermanfaat. 

Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ صَمَتَ نَجَا
Barangsiapa diam, ia selamat. (HR. Ahmad dan dishahihkan syaikh Al Albani)

● adh Dhahhak bin Muzahim (wafat th. 102 H) mengatakan: "Pintu pertama dari ilmu adalah diam, keduanya adalah mendengarkan, ketiganya adalah mengamalkan, dan keempatnya adalah menyebarkan dan mengajarkannya." (Lihat: al Jami' li Akhlaqir Rawi wa Adaabis Sami' 1/194)

● Muhammad bin Abdul Wahhab al Kufi (wafat th. 212 H) mengatakan: "Diam itu mengumpulkan 2 perkara bagi seseorang: selamat dalam agama dan pemahaman yang benar dari pelakunya." (Lihat: Kitabus Shamt wa Adaabul Lisaan hlm. 69, no. 55)

● Imam Nawawi berkata: "Seorang murid tidak boleh mengangkat suara tanpa keperluan, tidak boleh tertawa, tidak boleh banyak berbicara tanpa kebutuhan, tanpa adanya keperluan yang sangat, bahkan ia harus menghadapkan wajahnya ke arah gurunya." (Lihat: Muqaddimah Majmu' hlm. 143)

● Seorang hendaklah memperbanyak menangis dan diam, dari pada tertawa dan banyak berbicara. 

Allah berfirman:
فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلًا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan. [Surat At-Tawba 82]

Oleh: Aris Saifuddin Ar Rifqany
♻ Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini, semoga bermanfaat. Jazakumullahu khoiron
broadcast whatsapp 1hari 1ilmu
Disclaimer: jika ada kesalahan dari sisi penulisan, ukuran font, link rusak, sumber referensi dll harap konfirmasi via whatsapp ke 0895629036221 untuk diperbaiki