Hukum Ucapan Selamat Natal Bagi Ummat Islam | Syeikh Al-Fauzan

Tinjauan Ilmiyyah Islamiyyah Untuk Ucapan Selamat Natal Bagi Ummat Islam

Oleh : Fadhilatusy Syaikh Shālih Al-Fauzān -Hafidhzahullāh-

الحمد لله، والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وبعد:

Banyak perbincangan yang muncul seputar hukum memberi ucapan selamat dari seorang Muslim kepada non-Muslim untuk hari-hari Raya keagamaan mereka.

Dan saya lihat, wajib untuk menjelaskan kebenaran sebatas yang saya ketahui dalam masalah ini.

Saya katakan :

Tidak boleh memberi ucapan selamat kepada non-Muslim untuk hari-hari besar mereka, sebab dalam perbuatan tersebut terdapat larangan-larangan yang besar diantaranya :

Pertama :
Perbuatan itu adalah salah satu bentuk loyalitas/berkasih-sayang dengan mereka, dan kita telah dilarang darinya berdasarkan dalil dari ayat-ayat Al Qur'an dan hadits-hadits yang banyak sekali, diantaranya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah berloyalitas dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani; sebahagian mereka berliyalitas dengan sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu berloyalutas dengan mereka maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim" QS. Al Maidah: 15


Hukum Ucapan Selamat Natal

Dan, diantara bentuk berloyalitas kepada mereka adalah dengan memberi ucapan selamat kepada mereka, karena sebenarnya itu artinya engkau mengabarkan akan rasa kasih dan cinta kepada mereka dan kepada agama mereka.

Dan Allāh Subhānahu wa Taâlā telah berfirman :

لا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ
"Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka". QS. Al Mujādilah: 23.

Apabila kita telah dilarang dari mencintai karib kerabat dekat yang memusuhi Allāh dan Rasul-Nya, maka bagaimana lagi dengan orang-orang selain mereka?

Kedua : Dalam perbuatan ini (memberi ucapan selamat; penj.) di dalamnya terdapat keridha'an (persetujuan/senang/lapang dada; penj.) terhadap hari-hari Raya mereka, dan juga pengakuan terhadapnya dan semakin membesarkannya.

Dan cukuplah salah satu saja dari semua itu sebagai alasan untuk haramnya perbuatan tersebut, lalu bagaimana jika berkumpul ada semua alasan tersebut dari perbuatan memberi selamat pada mereka?!.

Dan jawaban syubhat bagi mereka yang membolehkannya :

1- Adapun, bagi yang mengatakan; seorang muslim terpaksa untuk memberi ucapan selamat kepada mereka, karena ia tinggal di tengah-tengah mereka, atau ia belajar dengan mereka.

Kita jawab :

Pertama: Tidak boleh seorang Muslim tinggal di tempat yang lebih terlihat/ mendominasi orang-orang kafir di sana, kecuali memang karena ada suatu keperluan yang sifatnya mubah, dan selesainya keperluan selesai pula tinggal di sana, dengan tetap berpegang teguh terhadap agamanya.

Kedua: Mereka itu sebenarnya tidaklah memaksanya dan tidaklah pula menekannya untuk hal itu sehingga bisa dikatakan ia darurat dan dalam rangka keterpaksaan, seorang Muslim itu hendaknya senantiasa memuliakan agamanya dan tidak bertoleransi dengan berbasa-basi dalam hal ini, justru yang layak ia ucapkan :

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
"Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku". QS. Al Kafirun: 6.

2- Adapun bagi yang mengatakan; sebagaimana mereka memberi ucapan selamat kepada kita pada hari-hari raya kita, demikian juga kita memberi ucapan selamat untuk hari-hari besar mereka, sehingga ini dalam rangka membalas kebaikan.

Kita jawab :

Hari-hari raya kita itu merupakan haq/ kebenaran, adapun hari raya mereka justru merupakan perkara yang diada-adakan penuh kebathilan, maka tidak boleh kita mengakuinya dan memberi ucapan selamat untuknya.

3- Adapun, jika berdalil dengan firman Allāh :

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ
"Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu". QS. Al Mumtanah: 6.

Sebagai dalil yang dijadikan alasan pembolehan untuk memberi ucapan selamat kepada mereka pada hari-hari raya mereka.

Maka kita jawab :

Pendalilan dengan ayat ini bukan pada tempatnya.

Karena ayat tersebut menjelaskan agar kita berbuat baik kepada mereka pada perkara-perkara yang mubah, adapun memberi ucapan selamat kepada mereka itu bukan perkara yang mubah, sehingga tetaplah kita tidak dibolehkan melakukannya.

4- Adapun, bagi yang mengatakan; hal ini dalam rangka berdakwah kepada Allāh

Kita jawab :

Berdakwah kepada Allāh tidaklah dilakukam dengan cara yang kita dilarang darinya, dengan berloyalitas kepada mereka, namun dilakukan dengan perkara yang disyari'atkan Allāh.

وصلى الله وسلم على نبينا محمد وآله وصحبه.
-Selesai-

Sumber : http://www.alfawzan.af.org.sa/node/13680

Diterjemah oleh : Akhukum, Hudzaifah bin Muhammad
Silsilah Durus Linnisa'

حكم تهنئة الكفار بأعيادهم ومناسباتهم الدينية
كتبه: صالح بن فوزان الفوزان
الحمد لله، والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وبعد:
فقد كثر الكلام حول حكم تهنئة المسلم للكفار بأعيادهم الدينية، وأرى من الواجب بيان الحق الذي يظهر لي في ذلك فأقول:
لا تجوز تهنئة الكفار بأعيادهم لما في ذلك من المحاذير الكثيرة ومنها:

أولًا: أن هذا فيه نوع موالاة لهم وقد نهينا عن موالاتهم في أدلة كثيرة من الكتاب والسنة منها قوله تعالى: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ)، [سورة المائدة: 15]، ومن الموالاة لهم تهنئتهم؛ لأنها تنبئ عن محبتهم ومحبة دينهم؛ لأن الذي لا تحبه لا تهنيه، وقد قال تعالى: (لا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ)[سورة المجادلة: 23]، فإذا نهينا عن محبة الأقارب المحادين لله ورسوله فكيف بغيرهم.

ثانيًا: أن هذا فيه رضى بأعيادهم وإقرار لهم عليها وتشجيع لهم، وكل واحد من هذه الأمور كافٍ في تحريم تهنئتهم فكيف إذا اجتمعت في تهنئتهم.

والجواب عن شبه المجيزين
1- وأما من يقول إن المسلم يضطر إلى تهنئتهم إذا كان مقيمًا بينهم أو يتعلم منهم فنقول:
أولًا: لا تجوز إقامة المسلم بين أظهر الكفار إلا لحاجة مباحة وتنتهي الإقامة بينهم بانتهاء الحاجة مع تمسكه بدينه.

ثانيًا: هم لا يجبرونه على ذلك ولا يكرهونه حتى يقال إن هذا من باب الضرورة ودفع الإكراه والمسلم يعتز بدينه ولا يجامل فيه بل يقول: (لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ)[سورة الكافرون:6].

2- وأما من يقول كما أنهم يهنئوننا بأعيادنا فنحن نهنئهم بأعيادهم من باب رد الجميل. فنقول إن أعيادنا حق وأعيادهم لا سيما البدعية باطلة فلا نقرهم عليها ولا نهنئهم بها.

3- وأما الاستدلال بقوله تعالى: (لا يَنْهَاكُمْ اللَّهُ عَنْ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ) [سورة الممتحنة:8]، على جواز تهنئتهم بأعيادهم فنقول هذا استدلال في غير محله؛ لأن الآية تعني بر هؤلاء والإحسان إليهم في الأمور المباحة، وتهنئتهم بأعيادهم ليست مباحة فلا نبرهم بها.

4- وأما قول: إن هذا من باب الدعوة إلى الله، فنقول: الدعوة إلى الله لا تكون فيما نهينا عنه من موالاتهم بل تكون بما شرعه الله.

وصلى الله وسلم على نبينا محمد وآله وصحبه 
______________________________
support channel youtube DAKWAHPOST dengan klik subcribe dibawah ini, syukon sobat
______________________________
Info Penting:
yuk share artikel dakwahpost.com, jika ada kesalahan atau saran membangun, koment aja di kotak komentar yang tersedia di bawah teman-teman. syukron atas perhatiannya

No comments: