SEDEKAH TERBAIK

عَنْ حَكِيْمِ بْنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :اَلْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُوْلُ، وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ
Dari Hakîm bin Hizâm Radhiyallahu anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sebaik-sebaik sedekah adalah dikeluarkan dari orang yang tidak membutuhkannya. Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya maka Allâh akan menjaganya dan barangsiapa merasa cukup maka Allâh akan memberikan kecukupan kepadanya.” HR Bukhâri 1427 dan Muslim no.1053

Kandungan hadits

1. Orang yang memberi lebih baik daripada orang yang menerima, karena pemberi berada di atas penerima, maka kiasan tangan di atas itu lebih tinggi derajatnya.
Namun ini bukan berarti bahwa orang yang diberi tidak boleh menerima pemberian orang lain. Silahkan diterima, namun jangan pernah mengharapkan karena mengurangi keikhlasan bahkan bisa menuai kecewa.

خُذْهُ، وَمَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا الْمَالِ وَأنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلاَ سَائِلٍ، فَخُذْهُ، وَمَا لَا، فَلاَ تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ
Ambillah pemberian ini! Harta yang datang kepadamu, sementara engkau tidak mengharapkan kedatangannya dan tidak juga memintanya, maka ambillah. Dan apa-apa yang tidak (diberikan kepadamu), maka jangan memperturutkan hawa nafsumu untuk memperolehnya (jangan berharap). Bukhâri (no. 1473) dan Muslim (no. 1045 (110))

2. Memberikan sesuatu, hendaknya memulai dan memprioritaskan orang yang menjadi tanggungannya, yakni yang wajib ia nafkahi. 

Menafkahi keluarga lebih utama daripada bersedekah kepada orang miskin, karena menafkahi keluarga merupakan sedekah, menguatkan hubungan kekeluargaan, dan menjaga kesucian diri, maka itulah yang lebih utama. Mulailah dari dirimu! Lalu orang yang menjadi tanggunganmu. Lalu karib kerabat mu. Penuhi kebutuhan diri dan keluarga itu lebih utama daripada berinfak untuk selainnya, sebagaimana dalam hadits, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اِبْدَأْ بِنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا، فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ فَلِأَهْلِكَ
Mulailah dari dirimu, bersedekahlah untuknya, jika ada sisa, maka untuk keluargamu. HR. Muslim (no. 997)

SEDEKAH TERBAIK

3. Orang yang minta-minta, dilarang dalam syari’at bila seseorang tidak sangat membutuhkan, karena meminta-minta dalam syari’at Islam terlarang keras sekali, kecuali sangat terpaksa. Ada beberapa hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melarang untuk meminta-minta, di antaranya sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ، حَتَّىٰ يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِيْ وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ
Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain sehingga ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan tidak ada sepotong daging pun di wajahnya (wajah tengkorak saja). Bukhâri (no. 1474) dan Muslim (no. 1040 (103)

4. Meminta-minta kepada manusia tanpa ada kebutuhan itu hukumnya haram. Tidak halal bagi seseorang meminta sesuatu kepada manusia kecuali ketika darurat. 

Mengemis bukan solusi untuk mengais nafkah. Ingat manusia adalah makhluk mulia, jangan menurunkan harkat-martabat dengan mengemis kepada pihak lain, ntah dikasih, apalagi bila ditolak. Model mengemis di era modern cukup variatif, dari yang manual di perempatan, membawa lembaran sumbangan bestempel, hingga minta pelicin, minta kompensasi, minta jatah, minta saham, minta kresek (bukan amplop lagi)... Dsb.

5. Ancaman siksa pedih diperuntukkan bagi orang yang meminta-minta kepada orang lain untuk memperkaya diri, bukan karena kebutuhan. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ
Barangsiapa meminta-minta (kepada orang lain) tanpa adanya kebutuhan, maka seolah-olah ia memakan bara api.’ HR. Ahmad (IV/165), Ibnu Khuzaimah (no. 2446), dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabîr (IV/15, no. 3506-3508).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا ، فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا ، فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ
Barangsiapa meminta harta kepada orang lain untuk memperkaya diri, maka sungguh, ia hanyalah meminta bara api, maka silakan ia meminta sedikit atau banyak. HR. Muslim (no. 1041), Ahmad (II/231), dan Ibnu Majah (no. 1838)

6. Meminta karena adanya kebutuhan yang sangat mendesak, maka boleh karena terpaksa. Dan bagi yang longgar dan punya kemampuan maka sisihkan dan alokasikan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ
Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardiknya.” [Adh-Dhuhâ/93:10]
Disclaimer:
jika Terdapat kesalahan dari sisi penulisan, ukuran font, link rusak, sumber referensi dll harap konfirmasi via whatsapp ke 0895629036221 untuk diperbaiki.

SEDEKAH TERBAIK