Paham Pendiri Syiah Merasuki "Dai Sunnah"

Syaikh Abdussalam Barjas rahimahullahu berkata: Mencela pemimpin kaum muslimin dibawah kedok amar ma’ruf nahi mungkar merupakan Bid’ah Sabaiyyah yang dipelopori oleh Abdullah bin Saba’ untuk memecah belah barisan kaum muslimin dan untuk menyalakan api fitnah diantara mereka. Dan hasil dari bid’ah tersebut adalah terbunuhnya khalifah kaum muslimin Utsman Bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi berkata: Mulailah kalian untuk mencela pemimpin kalian dan tampakkan amar ma’ruf nahi mungkar serta pengaruhilah massa dan serulah mereka kepada hal ini. [1]

Beliau juga berkata: Mencela pemimpin kaum muslimin dan menyibukkan diri dengan caci maki terhadap mereka serta menyebarkan aib mereka merupakan suatu kesalahan besar dan kejahatan yang buruk yang telah dilarang oleh syariat dan dicela pelakunya. [2]

Paham Pendiri Syiah Merasuki "Dai Sunnah"

Sungguh sangat memprihatinkan jika ada yang masih mengaku ahlussunnah mengikuti doktrin/ajaran Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi yang merupakan pelopor pendiri kelompok Syiah Rafidhah dan sekte Sabaiyyah dari sekte-sekte Khawarij. Oknum itu mengatakan “Kapan lalu saya lihat ada foto dua calon dan diberi tulisan mereka berdua sedang panen pahala….saya katakan: panen pahala dari mana? panen dosa mungkin iya….NB: ingat, saya komentari posisi mereka sebagai calon…bukan sebagai pemimpin.”.

Orang yang masih punya mata hati dan mata kepala serta akal sehat tetap akan mengatakan ini bentuk celaan kepada pemimpin kaum muslimin yang ada saat ini di negeri ini. NB diatas tidak bisa merubah hakikat dan fakta yang ada bahwa beliau masih berstatus sebagai kepala negara dan pemimpin kaum muslimin yang masih tetap harus dihormati dan dilarang untuk dicaci maki apalagi dikatakan panen dosa. Na’udzu billahi min dzalika.

Pernah suatu hari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu hadir di pidato nya seorang pemimpin kaum muslimin yang memakai baju transparan. Kemudian ada seorang yang dijuluki Abu Bilal mengatakan: Lihatlah kepada pemimpin kita ini dia memakai pakaian orang-orang fasik. Maka Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu berkata: Diam kamu. Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa yang menghinakan pemimpin kaum muslimin di atas muka bumi ini maka Allah akan menghinakannya”. (HSR. Tirmidzi)

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: Para senior sahabat Nabi telah melarang kami, mereka berkata: Jangan kalian mencela pemimpin kalian, jangan berbuat curang kepada mereka dan jangan membenci mereka. Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah karena perkara itu sudah dekat. (HR. Ibnu Abi Ashim di As-Sunnah 2/488)

Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata: Sesungguhnya awal kemunafikan seorang hamba adalah celaannya kepada pemimpin kaum muslimin. (HR. Baihaqi di Syu’abul Iman 7/48).

Syaikh Abdussalam Barjas rahimahullah berkata: Barangsiapa yang mengira bahwa mencela dan memperolok pemimpin kaum muslimin itu bagian dari agama Allah dan termasuk mengingkari kemungkaran dan yang semisalnya maka dia telah tersesat dan berkata tentang agama Allah tanpa ilmu dan berfatwa tentang syariat tanpa haq. Bahkan dia telah menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah serta ucapan para salaf.

Wajib bagi yang mengetahui nash-nash yang terang benderang diatas untuk melarang orang-orang yang mencela pemimpin kaum muslimin sebagai bentuk hisbah dan nasehat untuk kaum muslimin.

Inilah yang dilakukan oleh para ulama yaitu menjaga lisan (& tulisan) mereka dari mencela pemimpin kaum muslimin serta menyuruh manusia untuk juga menjaga lisan mereka dari mencaci maki pemimpin mereka. Hal ini karena ilmu mereka yang mengantarkan kepada perbuatan tersebut. [3] ------------------------------
[1] Mu’amalah Al-Hukkam Fi Dhaui Al-Kitab wa As-Sunnah hal. 163-164.
[2] Idem hal.145.
[3] Mu’amalah Al-Hukkam hal. 159-160.

sumber fanpage ustadz Abdurrahman Thoyyib, Lc.
Disclaimer:
jika Terdapat kesalahan dari sisi penulisan, ukuran font, link rusak, sumber referensi dll harap konfirmasi via whatsapp ke 0895629036221 untuk diperbaiki.

Paham Pendiri Syiah Merasuki "Dai Sunnah"