Pengertian Jual-Beli Kredit | DR. Erwandi Tarimizi, MA

Jual-beli kredit adalah :

Transaksi jual-beli, dimana barang diterima pada waktu transaksi dengan pembayaran tidak tunai dengan harga yang lebih mahal daripada harga tunai serta pembeli melunasi kewajibannya dengan cara angsuran tertentu dalam jangka waktu tertentu.

HUKUM JUAL-BELI KREDIT

Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba, berdasarkan firmannya “Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba” (Al-baqarah : 275), “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu tang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya” (Al-baqarah : 282).

BEDA RIBA DENGAN JUAL-BELI KREDIT

Akad pinjam-meminjam adalah qardh yang diharamkan membayarnya dengan nominal yang lebih besar.

Akad jual-beli kredit adalah jual-beli yang dibolehkan mengambil keuntungan dari jual beli dan hukumnya halal.

Bunga kredit berasal dari pembiayaan keuangan, yakni : uang ditukar uang Laba penjualan.

kredit berasal dari pembiayaan barang, yakni : barang ditukar dengan uang.

Dalam akad riba tidak ada perputaran harta, hanya uang melahirkan uang.

Dalam penjualan kredit terjadi perputaran harta, dari uang menjadi barang kemudian kembali lagi menjadi uang. Hal ini membuat roda ekonomi berputar dan harta tidak dimonopoli oleh sekelompok kecil orang para pemilik modal

Kredit (riba) merupakan sebab utama terjadinya problem ekonomi yang meresahkan masyarakat dewasa ini dalam bentuk inflasi, karena pertambahan jumlah uang beredar tidak diikuti dengan pertambahan barang dan jasa

Berbeda dengan jual-beli kredit, dimana jumlah uang yang dikucurkan diiringi dengan pertambahan barang dan jasa secara riil.

Pengertian Jual-Beli Kredit

****************

Sebagian ulama kontemporer mengharamkan jual-beli kredit yang harganya lebih mahal dari harga tunai, pendapat ini dipopulerkan oleh Syekh Al-Albani rahimullah.

Diantara dalil yang menjadi pegangan pendapat ini adalah, hadits Nabi sallallahu ‘alaihi wassallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu “Rasulullah sallallahu ‘alaihi wassalam melarang dua jual-beli dalam satu jual-beli” (H.R Tirmizi).

Diantara penafsiran bentuk dua jual-beli dalam satu jual-beli, yaitu : penjual berkata “saya jual barang ini kredit dengan harga sekian dan tunai dengan harga sekian”. Maka jual-beli kredit termasuk dalam larangan ini karena harganya dua : kredit sekian & tunai sekian

Tanggapan : Dalil ini tidak kuat, karena bertentangan dengan dalil-dalil dari Al-qur’an dan Sunnah yang telah dijelaskan bahwa boleh menjual barang secara kredit dengan harga yang lebih mahal.

SYARAT SAH JUAL-BELI KREDIT

Akad ini tidak dimaksudakan untuk melegalkan riba. Maka tidak boleh jual-beli ‘inah. Juga tidak boleh dalam akad jual-beli kredit dipisahkan Antara harga tunai dan margin yang diikat dengan waktu dan bunga, karena iji meyerupai riba.

Barang terlebih dahulu dimiliki penjual sebelum akad jual-beli kredit dilangsungkan. Maka tidak boleh pihak jasa kredit melangsungkan akad jual-beli kredit motor dengan konsumennya, kemudian setelah ia melakukan akad jual-beli, memesan motor dan membelinya kesalahsatu pusat penjualan motor, lalu menyerahkannya kepada pembeli.

Pihak penjual kredit tidak boleh menjual barang yang telah dibeli tapi belum diterima dan belum berada ditangannya kepada konsumen. Maka tidak boleh pihak jasa kredit melangsungkan akad jual-beli kredit motor dengan konsumennya sebelum barang yang telah dibelinya dari dealer motor diterimanya.

Barang yang dijual bukan merupakan emas, perak, atau mata uang. Maka tidak boleh menjual emas dengan cara kredit, karena ini termasuk Riba bai’

Barang yang dijual secara kredit harus diterima pembeli tunai pada saat akad berlangsung. Maka tidak boleh transaksi jual-beli dilakukan hari ini dan barang diterima pada keesokan harinya. Karena ini termasuk jual beli hutang dengan hutang yang diharamkan.

Pada saat transaksi dibuat harga harus satu dan jelas serta besarnya angsuran dan jangka waktunya juga harus jelas.
Akad jual beli harus tegas. Maka ridak boleh akad dibuat dengan cara beli sewa (Leasing).

Tidak boleh memb uat persyaratan kewajiban membayar denda, atau harga barang menjadi bertambah, jika pembeli terlambat membayar angsuran. Karena ini adalah bentuk riba yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah dimasa Nabi sallallahu ‘alaihi wassalam.

SOLUSI ISLAM UNTUK KREDIT MACET

Solusi islami untuk kredit macet, sebelumnya berupa pencegahan seorang muslim untuk tidak berutang sebagaimana telah dijelaskan pada pembukaan jual-beli kredit.

Dan bila ia ingin membeli secara kredit ia wajib memperkirakan bahwa dirinya mampu melunasi hutang tersebut dengan cara memberikan barang jaminan seperti yang dilakukan oleh Nabi sallallahu ‘alaihi wassalam,
“Penundaan pelunasan hutang oleh orang yang mampu merupakan kezholiman, dibolehkan menjatuhkan hukuman (penjara) kepadanya dan dibolehkan mencemarkan nama baiknya (seperti dimasukkan dalam daftar hitam perbankan)”. (H.R Bukhori)

Sebagai tindakan pencegahan, pihak pemberi kredit dianjurkan untuk meminta barang jaminan atau orang jaminan. Bila hutang terlambat dilunasi ia bisa menjual barang jaminan atau menagih hutang kepada pihak penjamin untuk melunasinya.

SOLUSI KREDIT YANG MENGUNDANG KONTROVERSI

Ta’widh (ganti rugi terhadap biaya-biaya yang dikeluarkan oleh kreditur akibat keterlambatan pembayaran kewajiban yang telah jatuh tempo)

Late Charge (Denda keterlambatan pembayaran yang akan diakui seluruhnya sebagai dana social)

“Hai Orang-Orang Yang Beriman, Bertaqwalah Kepada Allah Dan Tinggalkann Sisa Riba (Yang Belum Dipungut) Jika Kamu Orang-Orang Yang Beriman”. (AL-BAQARAH : 278)

repost from whatsapp group
Info Penting:
dengan klik share, anda telah membantu admin terus semangat update artikel dan jika Terdapat kesalahan dari sisi penulisan, ukuran font, link rusak, sumber referensi dll harap konfirmasi via whatsapp ke 0895629036221 untuk diperbaiki.

No comments: