Politik tidak akan memberikan dunianya sampai....

Nasihat dari guru kami, Ust Fadlan Fahmsyah (dosen STAI ALI bin ABI THALIB Surabaya).
Semoga Allah ta'ala selalu melindungi beliau dan asatidz di STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya.
-------------

Ketika berkunjung ke STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA, salah seorang murid syaikh al-Albani yakni syaikh Ali bin Hasan al-Halabi hafizhahullah, beliau menasehati kami di perpustakaan, kalimat ini benar2 Kami hapal:

إن السياسة (الديمقراطية) لا تعطيك من دنياها حتى تعطيها أنت من دينك
"Sesungguhnya politik tidak akan memberikan dunianya kepadamu sampai engkau berikan kepadanya agamamu."

Politik tidak akan memberikan dunianya

Setelah kami berada di medan dakwah, dan kami melihat realita yang terjadi...maka kami rasakan sangat benar sekali apa yang beliau sampaikan.

Kami melihat Kebanyakan yang ingin berlomba dan berkompetisi dalam perkara ini pasti merelakan sebagian agamanya untuk digadaikan.

Jangan jauh-jauh urusan PILEG, PILKADA atau bahkan PILPRES.....lebih kecil dari itu semua adalah pilkades (pemilihan kepala desa), di desa kami di pedalaman lamongan, untuk kegiatan pilkades pasti mayoritas kandidat berhubungan dengan dukun, atau membagi2 uang (risywah) yang dilarang Agama....itu semua dilakukan demi menjadi sang pemenang.

Begitupun juga dalam PILKADA ATAU PILEG, bahkan ada kandidat yang mendatangi tempat-tempat pemujaan yang dianggap keramat demi terpilih sebagai pemenang dalam politik kotor ini...harus pandai membual, menipu dan mengumbar janji palsu demi meraup suara rakyat.....paling tidak money politic atau dalam istilah agamanya suap atau risywah itu pasti lazim terjadi.

Apalagi dalam masalah PILPRES, seandainya tidak ada kerusakan dalam hal ini kecuali saling berebut kekuasaan, itu saja sudah merupakan tanda keburukan

إنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الإمَارَةِ ، وَسَتَكونُ نَدَامَةً يَوْمَ القِيَامَة
“sesungguhnya kalian akan rakus terhadap kekuasaan dan itu akan menjadi penyesalan pada hari kiamat (HR. Bukhari no. 7148)

Lihatlah setiap kandidat dan para calon yang berkompetisi dalam laga ini, begitu mudah mengorbankan idealismenya, agamanya, dan aqidahnya.... sehingga anda dengan mudah menjumpai ucapan dan perilaku mereka yang keluar dari batas aqidah dan agama....dari sujud ke kuburan hingga saling mengucapkan selamat hari raya orang kafir, bahkan ikut nimbrung dihari perayaan non muslim,,,,ini semua udah keluar dari batas aturan agama, aqidah dan walaa wal bara'

Jika ada yg bertanya, sebenarnya yang antum kritik ini apanya? Sistemnya apa calonnya? Yang saya kritik adalah sistem dan setiap orang yang menyeru kepadanya dalam hal ini termasuk para calonnya.

Bagaiman jika sudah terpilih nanti???

sedari dulu kami sudah menjelaskan. Beda ahkam syuru' dan ahkam wuqu.

Hukum sebelum kejadian berbeda dg hukum setelah kejadian

Ahkam syuru' kami mengingkari
namun jika itu sudah menjadi ahkam wuqu' maka kami menerima.

Sudah kami jelaskan pada status sebelumnya.

" Sekali lagi, saya sedang menjelaskan hukum sebuah sistem dan para penyerunya, bukan melihat nama fulan apa allan...tak ada urusan dg ta'yin person yang ada di dalamnya, Penjelasan secara mutlak bukan kepada person.

Apakah berarti antum ngajak golput ustad?

Dalam hal ini saya mengikuti masyayikh kibar.....jika dg memilih itu ada maslahat rajihah untuk membendung mafsadat jaliyyah...maka silakan memilih..namun jika tidak terpenuhi maka jangan memilih.

repost from Ust Fadlan Fahmsyah
______________________________
support channel youtube DAKWAHPOST dengan klik subcribe dibawah ini, syukon sobat
______________________________
Info Penting:
yuk share artikel dakwahpost.com, jika ada kesalahan atau saran membangun, koment aja di kotak komentar yang tersedia di bawah teman-teman. syukron atas perhatiannya

No comments: