Membangun Sikap “Sami'na Wa Atha'na”

Telah menjadi watak dan karakter kita sebagai manusia, bahwa tidak semua hukum dan perintah Allah bisa kita terima dan sesuai dengan selera kita. Namun, bukan berarti ketika hukum tersebut tidak sesuai dengan selera, kemudian kita boleh menolaknya.

Allah ﷻ berfirman,

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Bisa jadi, kalian membenci sesuatu sementara itu baik bagi kalian, dan bisa jadi, kalian mencintai sesuatu sementara itu buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sementara kalian tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Oleh Karena itu, yang dijadikan tolak ukur baik dan buruk dalam kehidupan manusia bukanlah kecenderungan dan selera hati manusia.

Membangun Sikap “Sami'na Wa Atha'na”

Sebagai mukmin kita sangat sadar bahwa aturan dan ketetapan Allah diturunkan bukan untuk menyusahkan kita atau membuat repot kehidupan kita. Sejatinya akan sesuai dengan semangat melestarikan kehidupan itu sebaik mungkin.

Allah ﷻ tegaskan melalui firman-Nya,
طه . مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى. إِلَّا تَذْكِرَةً لِمَنْ يَخْشَى . تَنْزِيلًا مِمَّنْ خَلَقَ الْأَرْضَ وَالسَّمَاوَاتِ الْعُلَى
"Thaahaa. Kami tidak menurunkan Alquran ini kepadamu agar kamu menjadi susah. Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yang diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi." (QS. Thaha: 1-4)

Mari kita lihat contoh sahabat mulia, Dalam riwayat Ahmad bahwa terkait dengan pelarangan khamar, Allah menurunkan tiga tahapan peringatan.

Pada tahap awal, Allah jelaskan bahwa khamar memiliki dampak negatif dan dampak positif.
Tahap kedua, Allah melarang para sahabat untuk shalat dalam keadaan mabuk. Adapun pada tahap ketiga, Allah melarang khamar secara keseluruhan, dengan turunnya firman Allah di surat Al-Maidah ayat 90.

Satu sikap yang sangat mengherankan, ketika turun ayat pelarangan khamar, para sahabat secara serentak menumpahkan khamar-khamar yang mereka simpan di gudang. Sampai-sampai, jalanan kota Madinah becek dengan khamar, saking banyaknya khamar yang dibuang. Padahal, sebelumnya, khamar Madinah yang berbahan baku air kurma ini telah menjadi komoditas perdagangan masyarakat Madinah. Di saat yang sama, mereka menyatakan,

انتهينا ربنا
“Kami tidak akan melakukannya lagi, ya Allah….”. (HR. Ahmad; dinilai hasan oleh Syu’aib al-Arnauth)

Tidak bisa kita bayangkan, andaikan peristiwa itu terjadi pada masyarakat kita saat ini. Bisa jadi, akan banyak pihak yang menolaknya dan berusaha menghalalkannya dengan berbagai cara.
Akan tetapi, para sahabat tidak berlaku demikian. Merekalah teladan dalam bersikap terhadap hukum Allah. "Sami'na wa Atha'na" (Kami Dengar dan Kami Taat).

Semoga bermanfaat.
إِنْ شَاءَ اللّٰهُ

#UstAmmiNurBait @konsultasisyariah
Disclaimer:
jika Terdapat kesalahan dari sisi penulisan, ukuran font, link rusak, sumber referensi dll harap konfirmasi via whatsapp ke 0895629036221 untuk diperbaiki.

No comments: