IBX5A47BA52847EF DakwahPost: adab
Rubrik Rumah Tangga : Sunnah-Sunnah Bergaul Dengan Istri

Rubrik Rumah Tangga : Sunnah-Sunnah Bergaul Dengan Istri

1. Memberikan senyuman manis dihadapan istri.

Rasulullah bersabda:

تبسمك في وجه أخيك لك صدقة
"Senyummu dihadapan saudaramu bernilai shodaqoh untukmu." Hadits riwayat Tirmidzi.

ini dengan saudaramu, lalu bagaimana pahalanya jika dengan istrimu sendiri?

2. Menyuapi istri.

Rasulullah bersabda:

ﺇِﻧَّﻚَ ﻟَﻦْ ﺗُﻨْﻔِﻖَ ﻧَﻔَﻘَﺔً ﺗَﺒْﺘَﻐِﻲ ﺑِﻬَﺎ ﻭَﺟْﻪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻟَّﺎ ﺃُﺟِﺮْﺕَ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺣَﺘَّﻰ ﻣَﺎ ﺗَﺠْﻌَﻞُ ﻓِﻲ ﻓِﻲ ﺍﻣْﺮَﺃَﺗِﻚَ
"Sesungguhnya tidaklah engkau berinfak sesuatupun dengan berharap wajah Allah (ikhlash) kecuali engkau akan diberi ganjaran, bahkan sampai makanan yang engkau suapkan ke mulut istrimu" [HR Al-Bukhari no 56 dan Muslim no 1628]

3. Bersikap romantis, dengan meminum bekas minuman istri yang ada liurnya.

Dari 'Aisyah -رضي الله عنه- :

ﻛُﻨْﺖُ ﺃَﺷْﺮَﺏُ ﻭَﺃَﻧَﺎ ﺣَﺎﺋِﺾٌ ، ﺛُﻢَّ ﺃُﻧَﺎﻭِﻟُﻪُ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﻴَﻀَﻊُ ﻓَﺎﻩُ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﻮْﺿِﻊِ ﻓِﻲَّ ، ﻓَﻴَﺸْﺮَﺏُ ، ﻭَﺃَﺗَﻌَﺮَّﻕُ ﺍﻟْﻌَﺮْﻕَ ﻭَﺃَﻧَﺎ ﺣَﺎﺋِﺾٌ ، ﺛُﻢَّ ﺃُﻧَﺎﻭِﻟُﻪُ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﻴَﻀَﻊُ ﻓَﺎﻩُ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﻮْﺿِﻊِ ﻓِﻲَّ
"Aisyah berkata: 'Ketika saya haid, saya pernah minum, lalu sisa minuman saya berikan kepada Rasulullah. Rasul kemudian meletakkan bibirnya persis di tempat bibir saya menempel, kemudian beliau minum. Saya juga pernah menggigit daging ketika saya sedang haidh, kemudian saya berikan sisanya kepada Rasulullah, dan beliau meletakkan bibirnya persis di mana bibir saya menempel" (HR. Muslim).

Sunnah-Sunnah Bergaul Dengan Istri

4. Bersandar di pangkuan istri

ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﺘَّﻜِﺊُ ﻓِﻲ ﺣَﺠْﺮِﻱ ﻭَﺃَﻧَﺎ ﺣَﺎﺋِﺾٌ ﺛُﻢَّ ﻳَﻘْﺮَﺃُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ
"Bahwasanya Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ bersandar di pangkuanku dan aku dalam keadaan haid, lantas beliau membaca Al Qur`an." [HR Al Bukhari (297) dan Muslim (301)]

5. Mandi bersama dari satu bejana.

Dalam hadits-hadits yang diriwayatkan oleh 'Aisyah, Ummu Salamah, Maimunah, dan Ibnu Umar -رضي الله عنهم- :

"Dahulu Nabi mandi bersama istrinya dari satu bejana, hingga suatu ketika Rasul bersabda:

أبقي لي
"sisakan (air) untukku."

Dan istri beliau juga berkata: "sisakan air juga untukku ya Rasul." [hadits Muttafaqun 'alaih]

6. 'Bermain-main(ملاعبة)' dengan istri, dan Menggoda Istri

Rasulullah berkata kepada Jabir:

ﻫَﻼَ ﺑِﻜْﺮًﺍ ﺗَﻼَ ﻋِﺒُﻬَﺎ ﻭَ ﺗُﻼَﻋِﺒُﻚَ
Mengapa bukan (yang masih) perawan, (hingga) engkau bisa bermain-main dengannya, dan ia pun bisa bermain-main denganmu?"

ﻋَﻦْ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔُ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻪَ ﻗَﺎﻟَﺖْ : " ﺃَﻧَّﻬَﺎ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻣَﻊَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓِﻲْ ﺳَﻔَﺮٍ ﻭَﻫِﻲَ ﺟَﺎﺭِﻳَﺔٌ , ﻓَﻘَﺎﻝَ ِ ﻷَﺻْﺤَﺎﺑِﻪِ : " ﺗَﻘَﺪَّﻣُﻮْﺍ " ﻓَﺘَﻘَﺪَّﻣُﻮْﺍ ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ ﻟَﻬَﺎ : " ﺗَﻌَﺎﻟَﻲْ ﺃُﺳَﺎﺑِﻘْﻚِ "
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu’anha ia berkata : “Bahwasanya dia pernah bersama Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam dalam sebuah perjalanan, sedangkan ketika itu Aisyah adalah seorang gadis (belum gemuk). Lalu Nabi berkata kepada para sahabatnya : “Majulah kalian.” Maka para sahabat bergegas maju. Kemudian Nabi berkata kepada Aisyah : “Kesinilah, ayo lomba lari.”

7. Membantunya dalam Urusan-urusan Rumah Tangga

ﻣﺎَ ﻳَﺼْﻨَﻊُ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻓِﻲْ ﺑَﻴْﺘِﻪِ ، ﻳَﺨْﺼِﻒُ ﺍﻟﻨَّﻌْﻞَ ﻭَﻳَﺮْﻗَﻊُ ﺍﻟﺜَّﻮْﺏَ ﻭَﻳُﺨِﻴْﻂُ
“Beliau mengerjakan apa yang biasa dikerjakan salah seorang kalian di rumahnya. Beliau menambal sandalnya, menambal bajunya, dan menjahitnya.”

Masya Allah,, contoh dari seorang Nabi yang mulia.

8. Membersihkan Mulut Untuk Sang Istri

Berkata 'Aisyah -رضي الله عنها-

كان رسول الله إذا دخل بيته بدأ بالسواك
"Dahulu Nabi jika hendak masuk rumah beliau, beliau mendahulukan bersiwak." [Riwayat Muslim]

Termasuk juga disini adalah memakai minyak wangi dan berhias untuk istri.

Berkata Ibnu Abbas:

إني أحب أن أتزين لها كما أحب أن تتزين لي
"Sesungguhnya aku suka untuk aku berhias untuk istriku, sebagaimana aku suka dia berhias untukku."

WA Berbagi Faedah [WBF] | Diarsipkan oleh www.atsar.id
Baca selengkapnya »
Perhatikan Adab dan Akhlakmu Wahai Penuntut Ilmu

Perhatikan Adab dan Akhlakmu Wahai Penuntut Ilmu

Sebuah nasihat yang sangat bagus bagi kaum muslimin khususnya bagi para penuntut ilmu agama. Ilmu agama yang mulia ini hendaknya selalu digandengkan dengan akhlak yang mulia. Terlebih para da‘i yang akan menyeru kepada kebaikan dan menjadi sorotan oleh masyarakat akan kegiatan keseharian dan muamalahnya. Nasehat tersebut dari seorang ulama yaitu syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, beliau berkata,

طالب العلم : إذا لم يتحل بالأخلاق الفاضلة فإن طلبه للعلم لا فائدة فيه
“Seorang penuntut ilmu, jika tidak menghiasi diri dengan akhlak yang mulia, maka tidak ada faidah menuntut ilmunya.”[1]

Memang demikian contoh dari para ulama sejak dahulu, mereka sangat memperhatikan adab dan akhlak. Jangan sampai justru dakwah rusak karena pelaku dakwah itu sendiri yang kurang adab dan akhlaknya. Ulama dahulu benar-benar mempelajari adab dan akhlak bahkan melebihi perhatian terhadap ilmu.

Abdullah bin Mubarak rahimahullahberkata,

طلبت الأدب ثلاثين سنة وطلبت العلم عشرين سنة كانوا يطلبون الأدب ثم العلم
“Saya mempelajari adab selama tiga puluh tahun dan saya mempelajari ilmu (agama) selama dua puluh tahun, dan ada-lah mereka (para ulama salaf) memulai pelajaran mereka dengan mempelajari adab terlebih dahulu kemudian baru ilmu”.[2]

Perhatikan Adab dan Akhlakmu Wahai Penuntut Ilmu

Hendaknya kaum muslimin terutama para penuntut ilmu dan dai sangat memperhatikan hal ini. Jika setiap orang atau sebuah organisasi, kita permisalkan. Mereka punya target dan tujuan tertentu, maka tujuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus adalah untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak manusia. Kita berupaya untuk mewujudkan hal ini.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلاَقِ
“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” [3]

Berhiaslah dengan Akhlak Mulia

Beliau memerintahkan kita agar bergaul dan bermuamalah dengan manusia berhiaskan akhlak yang mulia.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bergaulah dengan manusia dengan akhlak mulia.”[4]

Beliau adalah suri teladan bagi kaum muslimin dan beliaupun sudah mencontohkan kepada kita akhlak beliau yang sangat mulia dalam berbagai kisah sirah beliau. Allah memuji akhlak beliau dalam Al-Quran.

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur” (Al-Qalam: 4).

Demikian juga pujian dari istri beliau, perlu diketahui bahwa komentar dan testimoni istri pada suami adalah salah satu bentuk perwujudan akhlak sebenarnya seseorang. ‘A`isyah berkata mengenai akhlak Nabi Shallallahu ‘alaih wa sallam,

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
“Akhlak beliau adalah Al-Quran.”[5]

Seperti Apa Akhlak Mulia Itu?

Definisinya akhlak mulia cukup sederhanya, sebagaimana ulama menerangkan,

بَذْلُ النَّدَى وَكَفُّ الْأَذَى وَاحْتِمَالُ الْأَذَى
Akhlak mulia adalah

[1] berbuat baik kepada orang lain
[2] menghindari sesuatu yang menyakitinya
[3] dan menahan diri ketika disakiti”[6]

Mari kita wujudkan akhlak yang mulia, mempelajari bagaimana akhlak mulia dan dalam Islam dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Balasan akhlak mulia sangat besar yaitu masuk surga dan merupakan sebab terbanyak orang masuk surga

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ اَلْجَنَّةَ تَقْوى اَللَّهِ وَحُسْنُ اَلْخُلُقِ
“Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia.”[7]

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen
Artikel Muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] Syarhul Hilyah Fii Thalabul Ilmi, hal. 7
[2] Ghayatun-Nihayah fi Thobaqotil Qurro I/446, cetakan pertama, Maktabah Ibnu Taimiyyah, Maktabah Syamilah
[3] H.R. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh beliau, adz-Dzahabi dan al-Albani
[4] HR. At-Tirmidzi beliau menilai hasan shahih
[5] HR. Muslim no. 746, Abu Dawud no. 1342 dan Ahmad 6/54
[6] Madarijus Salikin II/318-319
[7] HR At-Tirmidzi, Ibnu Maajah dan Al-Haakim dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani
Baca selengkapnya »
FAIDAH KAJIAN ADAB DAN AKHLAK PENUNTUT ILMU

FAIDAH KAJIAN ADAB DAN AKHLAK PENUNTUT ILMU

MUQODDIMAH

[1] adab merupakan bagian yang penting bagi seorang muslim:

• Berkata imam Ibnu Qoyyim:

وأدب المرء : عنوان سعادته وفلاحه وقلة أدبه : عنوان شقاوته وبواره .
فما استجلب خير الدنيا والآخرة بمثل الأدب ولا استجلب حرمانها بمثل قلة الأدب
“Dan adab seseorang adalah tanda kebahagiaan dan kesuksesannya, dan sedikitnya adab adalah tanda celaka dan binasanya dia. Dan tidaklah seseorang menarik kebaikan dunia dan akherat semisal dengan adab, dan tidaklah seseorang dari dihalangk dari kebaikan dunia dan akherat yang semisal dengan sedikit akhlaknya.[madarijus salikin]

• adab adalah:

اجتماع خصال الخير في العبد
“ berkumpulnya Perangai kebaikan dalam seorang hamba”

• Tidak ada sesuatu apapun yang lebih berat timbangan amalnya dibandingkan akhlak

مَا مِنْ شَيْءٍ يُوضَعُ فِي الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ رواه الترمذي
"tidak ada suatu apapun yang diletakkan di dalam timbangan lebih berat dibandingkan akhlak yang baik"

• Diutusnya nabi untuk menyempurnakan akhlak.

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ
"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik" HR. Ahmad dan Bukhori dalam adabul mufrod

• Para salaf dahulu, menganjurkan agar mempelajari adab terdabulu sebelum yang lainnya.

Berkata Imam abdullah bin Mubarok:”aku mempelajari adab selama 30 tahun kemudian aku menuntut ilmu selama 20 tahun, mereka memelajari adab sebelum belajar ilmu"

FAIDAH KAJIAN ADAB DAN AKHLAK PENUNTUT ILMU

Beliau juga berkata:”adab itu 2/3 ilmu"

[2] islam mengatur adab dalam pergaulan, yang menunjukkan sempurnanya islam dari seluruh sisi dan aspek.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا )
"Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu. " [Surat Al-Ma'idah 3]

islam mengajarkan segala sesuatu sampai tatacara buang hajat sebagaimana kisah salman yang ditanya orang musyrik.

قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ كُلَّ شَيْءٍ، حَتَّى الْخِرَاءَةَ
Sungguh nabimu telah mengajarkan segala sesuatu sampai tata cara buang hajat"

Apabila tatacara buang hajat di ajarkan, lalu bagaimana tentang aqidah, tauhid, ibadah, pasti sudah diajarkan semua oleh rosulullah.

مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلا وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ .
Tidaklah Tersisa sedikit pun yang mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka kecuali sudah dijelaskan kepada kalian" HR. Thobroni.

[3] ADAB DALAM BELAJAR

1) ikhlash
2) baik dalam mendengarkan
3) diam

(وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ)
"Dan apabila dibacakan al-qur'an maka Dengarkanlah dan Diamlah semoga kalian dirahmati Allah" [Surat Al-A'raf 204]

4) mencatat

قيدوا العلم بالكتاب
Ikatlah ilmu dengan catatan

Maka yang perlu dibawa ketika menuntut ilmu

-buku yang dibahas.
-mushaf Al-Qur'an.
-buku catatan.

5) memahami apa yang disampaikan.

Karena:

العلم الفهم
Ilmu adalah pemahaman

Orang yang tidak diberikan pemahaman, khawatir dia adalah orang yang tidak akan dikehendaki kebaikan dari Allah.

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan maka Allah akan Faqih kan dalam agama"

6) mengamalkannya

Apabila tidak di amalkan maka ilmu tersebut bukanlah ilmu yang bermanfaat, dan kita akan ditanya di akherat.

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أربع : عن عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ.
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat nanti sampai ditanya tentang empat perkara: (1) tentang umurnya untuk apa dia gunakan, (2) tentang ilmunya, sejauh mana dia amalkan ilmunya tersebut, (3) tentang hartanya, dari mana harta tersebut didapatkan dan untuk apa harta tersebut dibelanjakan, dan (4) tentang tubuhnya, untuk apa dia gunakan.” (HR. At-Tirmidzi)

7)mendakwahkannya.

-Dimulai dari diri sendiri

ابدأ بنفسك
"Mulailah dari dirimu"

-menjaga dari diri dan.keluarga dari api neraka.

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ َ)
Wahai orang-orang beriman jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan..." [Surat At-Tahrim 6]

-Ada banyak manusia yang saking sibuknya justru lupa mendakwahi istrinya, anaknya, saudaranya, padahal dia adalah imam di keluarganya.

Lihatlah doa:

(وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا)
Dan orang-orang mengatakan wahai Rabb, anugrahkan kepada kami istri istri dan anak keturunan yang menyejukkan hati kami dan jadikanlah kami Imam bagi orang yang bertaqwa" [Surat Al-Furqan 74]

Sebelum menjadi imam bagi orang yang bertakwa, maka harus terlebih dahulu menjadi orang yang bertakwa. Dan kepemimpinan kita dalam keluarga akan ditanya oleh Allah.

إن الله سائل كل راع عما استرعاه, حفظ أم ضيع؟ حتى يُسأل الرجل عن أهل بيته
Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada setiap pemimpin apa yang dipimpinnya apakah dia menjaganya atau menyia-nyiakannya sampai seorang lelaki akan ditanya tentang keluarganya" HR. An nasai

Bersambung....

Ahad, 11 Februari 2018
Fadhilatul Ustadz Yazid Bin Abdul Qadir Jawas

ditulis oleh Dika wahyudi Lc.
Baca selengkapnya »
Harus Tahu, Inilah Adab-Adab Bagi Orang Sakit Dan Yang Menjenguknya

Harus Tahu, Inilah Adab-Adab Bagi Orang Sakit Dan Yang Menjenguknya

Adab-Adab Bagi Orang Sakit

1. Selayaknya bagi yang terkena musibah baik yang terkena itu dirinya, anaknya atau selainnya untuk mengganti ucapan mengaduh pada saat sakit dengan berdzikir, istighfar dan ta’abbud (beribadah) kepada Allah, karena sesungguhnya generasi Salaf -semoga Allah memberikan rahmat kepada mereka- tidak suka mengeluh kepada manusia, karena meskipun mengeluh itu membuat sedikit nyaman, namun mencerminkan kelemahan dan ketidakberdayaan sedangkan bila mampu bersabar dalam menghadapi kondisi sakit tersebut, maka hal itu menunjukkan pada kekuatan pengharapan pada Allah dan kemuliaan.

2. Bagi orang yang sakit boleh untuk mengadu kepada dokter atau orang yang dapat dipercaya tentang sakit dan derita yang dialaminya, selama itu bukan karena kesal maupun keluh kesah.

3. Hendaknya meletakkan tangannya pada bagian yang sakit kemudian mengucapkan do’a dari hadits (yang shahih) seperti:

بِسْمِ اللهِ.
“Dengan menyebut Nama Allah (tiga kali).”

Kemudian mengucapkan sebanyak tujuh kali:

أَعُوْذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ.
“Aku berlindung kepada Allah dan kepada kekuasaan-Nya dari keburukan apa yang aku temui dan aku hindari.” [HR. Muslim no. 2022 (67)]
Adab-Adab Bagi Orang Sakit

4. Berusaha untuk meminta kehalalan atas barang-barang yang masih menjadi tanggungannya, barang yang menjadi hutangnya atau yang pernah dirampas dari pemiliknya, menuliskan wasiat dengan menjelaskan apa-apa yang merupakan miliknya, hak-hak manusia yang harus dipenuhinya, juga wajib baginya untuk mewasiatkan harta-harta yang bukan merupakan bagian dari warisannya, tanpa merugikan hak-hak warisnya.[1]

5. Tidak boleh menggantungkan jampi-jampi, jimat-jimat, dan semua yang mengandung kesyirikan.[2]

Namun disyari’atkan baginya untuk mengobati sakitnya dengan ruqyah dan do’a-do’a yang disyari’atkan (do’a dari al-Qur-an dan as-Sunnah).[3]

6. Hendaknya bersegera untuk bertaubat secara sungguh-sungguh dengan memenuhi syarat-syaratnya[4] dan senantiasa memperbanyak amalan shalih.

7. Bagi orang yang sakit hendaknya berhusnuzhzhan (berprasangka baik) kepada Allah dan berusaha mendekatkan diri kepada-Nya dengan menggabungkan antara takut dan pengharapan, serta disertai amalan yang ikhlas. Hal ini berda-sarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لاَ يَمُوْتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَ بِاللهِ.
“Janganlah seorang di antara (menginginkan) kematian kecuali dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah.” [HR. Muslim no. 2877, Abu Dawud no. 3113]

Adab-Adab Bagi Orang Yang Menjenguk Orang Sakit:

1. Hendaknya dalam mengunjungi orang yang sakit diiringi dengan niat yang ikhlas dan tujuan yang baik. Seperti misalnya yang dikunjunginya adalah seorang ulama atau teman yang shalih, atau engkau mengunjunginya dalam rangka untuk beramar ma’ruf atau mencegah kemunkaran yang dilakukan dengan lemah lembut atau dengan tujuan memenuhi hajatnya atau untuk melunasi hutangnya, atau untuk meluruskan agamanya atau untuk mengetahui tentang keadaannya. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ عَادَ مَرِيْضاً أَوْ زَارَ أَخاً لَهُ فِي اللهِ أَيْ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ نَادَاهُ مُنَادٍ بِأَنْ طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ وَتَبَوَّأْتَ مِنَ الْجَنَّةِ مَنْزِلاً.
“Barangsiapa mengunjungi orang yang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah atau di jalan Allah, akan ada yang menyeru kepadanya, ‘Engkau telah berlaku mulia dan mulia pula langkahmu (dalam mengunjunginya), serta akan kau tempati rumah di Surga.” [HR. At-Tirmidzi no. 2008, Ibnu Majah no. 1433, hasan. Lihat Misykaatul Mashaabih no. 5015 oleh Imam al-Albani]

2. Hendaknya memperhatikan situasi dan kondisi yang sesuai ketika hendak menjenguk. Janganlah memberatkan orang yang dijenguk dan pilihlah waktu yang tepat. Jika orang yang sakit dirawat di rumah hendaknya meminta izin terlebih dahulu sebelum menjenguknya, mengetuk pintu rumahnya dengan pelan, menundukkan pandangannya, menyebutkan perihal dirinya, dan tidak berlama-lama karena bisa jadi itu dapat membuatnya lelah.

3. Hendaknya orang yang menjenguk mendo’akan orang yang sakit dengan kesembuhan dan kesehatan. Hal ini berdasarkan hadits berikut ini:

إِذَا دَخَلَ عَلَى مَنْ يَعُوْدُ قَالَ: لاَ بَأْسَ طَهُوْرٌ إِنْ شَاءَ اللهُ.
“Apabila beliau mengunjungi orang yang sakit, beliau berkata, ‘laa ba’-sa thahuurun insyaa Allaah (tidak mengapa semoga sakitmu ini membuat dosamu bersih, insya Allah).’” [HR. Al-Bukhari no. 5656]

4. Mengusap bagian yang sakit dengan tangan kanan dan mengucapkan:

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِيْ لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَماً.
“Ya Allah, Rabb pemelihara manusia, hilangkanlah penyakit ini dan sembuhkanlah, Engkau-lah Yang Mahamenyembuhkan, tidak ada kesembuhan melainkan hanya kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan sedikitpun penyakit.” [HR. Al-Bukhari no. 5743 dan Muslim no. 2191 (46). Dan lafazh seperti ini berdasarkan riwayat Muslim]

5. Hendaknya menundukkan pandangan (tidak menatap dengan tajam), sedikit bertanya, menunjukkan belas kasih kepada yang sakit, menasehatinya untuk senantiasa bersabar terhadap penderitaan sakitnya karena hal itu mengandung pahala yang besar dan mengingatkan agar tidak berkeluh kesah karena hal tersebut hanya akan menimbulkan dosa dan menghilangkan pahala.

6. Apabila melihat orang yang tertimpa cobaan musibah dan penyakit hendaklah berdo’a dengan suara yang pelan untuk keselamatan dirinya, do’a tersebut adalah:

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ عَافَانِيْ مِمَّا ابْتَلاَكَ بِهِ وَفَضَّلَنِيْ عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً.
“Segala puji bagi Allah Yang menyelamatkan aku dari musibah yang Allah timpakan kepadamu. Dan Allah telah memberikan kemuliaan kepadaku melebihi orang banyak.” [HR. At-Tirmidzi no. 3431 dan Ibnu Majah no. 3892. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 602]

Oleh Syaikh ‘Abdul Hamid bin ‘Abdirrahman as-Suhaibani

[Disalin dari kitab Aadaab Islaamiyyah, Penulis ‘Abdul Hamid bin ‘Abdirrahman as-Suhaibani, Judul dalam Bahasa Indonesia Adab Harian Muslim Teladan, Penerjemah Zaki Rahmawan, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir Bogor, Cetakan Kedua Shafar 1427H – Maret 2006M]
___
Footnote

[1]. Hal ini berdasarkan hadits:

مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ ِلأَحَدٍ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُوْنَ دِيْنَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِمَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئاَتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ
“Barangsiapa mengambil secara zhalim milik saudaranya berupa kehormatan barang atau sesuatu, maka mintalah kehalalan darinya sekarang sebelum tiba hari dimana tidak bermanfaat lagi Dinar dan Dirham (hari Kiamat). Jika dia mempunyai amal shalih, maka amal shalihnya akan diambil sesuai kezhalimannya dan jika tidak ada amal shalihnya, diambil dari dosa-dosa orang yang dizhalimi itu lalu dibebankan padanya.” [HR. Al-Bukhari no. 2449, 6534]

Dan hadits

مَا حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَيءٌ يُوْصِيْ فِيْهِ يَبِيْتُ لَيْلَتَيْنِ إِلاَّ وَوَصِيَّتُهُ مَكْتُوْبَةٌ عِنْدَهُ.
“Tiada hak bagi seorang muslim yang memiliki sesuatu yang di dalamnya (harus) diwasiatkan, lantas ia bermalam sampai dua malam melainkan wasiat itu harus (sudah) ditulis olehnya.” [HR. Bukhari no. 2738, Muslim no. 1627, Abu Dawud no. 2862, Ibnu Majah no, 2702. Lihat Irwaa-ul Ghaliil no. 1652]-penj.

[2]. Sebagaimana hadits:

مَنْ عَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ.
“Barangsiapa yang menggantungkan jimat, maka ia telah melakukan kesyirikan.” [HR. Ahmad IV/156, al-Hakim IV/417. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 492]-penj.

[3]. Kata ruqyah, artinya adalah do’a perlindungan yang biasa dipakai sebagai jampi bagi orang sakit. Ruqyah dibolehkan dalam syari’at Islam berdasarkan hadits ‘Auf bin Malik di dalam Shahih Muslim, beliau Radhiyallahu anhu berkata: “Di masa Jahiliyyah kami biasa melakukan ruqyah, lalu kami berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Bagaimana pendapatmu, wahai Rasulullah?’ Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Lakukanlah ruqyah yang biasa kalian lakukan selama tidak mengandung syirik.’” [HR. Muslim no. 2200]

Ada beberapa syarat yang harus terpenuhi dalam ruqyah yang dibolehkan:

Pertama, hendaklah ruqyah dilakukan dengan Kalamullah (al-Qur-an) atau Nama-Nya atau Sifat-Nya. atau do’a-do’a shahih yang diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada penyakit tersebut.

Kedua, hendaklah ia dilakukan dengan bahasa Arab.

Ketiga, hendaklah ia diucapkan dengan makna yang jelas dan dapat difahami.

Keempat, tidak boleh ada sesuatu yang haram dalam kandungan ruqyah itu. Misalnya, memohon pertolongan kepada selain Allah, berdo’a kepada selain Allah, menggunakan nama jin atau Raja-Raja jin dan semacamnya.

Kelima, tidak bergantung kepada ruqyah dan tidak menganggapnya sebagai penyembuh.

Keenam, kita harus yakin bahwa ruqyah tidak berpengaruh dengan kekuatan sendiri, tetapi hanya dengan izin Allah. [Lihat Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan Do’a dan Wirid: Mengobati Guna-Guna dan Sihir Menurut al-Qur-an dan as-Sunnah, keduanya karya al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas]-penj

[4]. Syarat-syarat taubat adalah sebagaimana yang dinukil dari perkataan Imam an-Nawawi dalam kitabnya, Riyaadhush Shalihin bab at-Taubat hal. 33 (cet. Muassasah ar-Risalah th. 1418):

1. أَنْ يُقْلِعَ عَنِ الْمَعْصِيَةِ (Harus benar-benar melepaskan diri dari kemaksiatan).

2. أَنْ يَنْدَمَ عَلىَ فِعْلِهَا (Menyesali segala perbuatan dosa yang telah dilakukannya).

3. أَنْ يَعْزِمَ اَنْ لاَ يَعُوْدَ إِلَيْهاَ أَبَداً (Berkeinginan keras untuk tidak mengulangi perbuatan itu untuk selamanya).

Sumber: https://almanhaj.or.id/4011-adab-adab-bagi-orang-sakit-dan-yang-menjenguknya.html
Baca selengkapnya »
BERNAFAS 3X TEGUKAN SAAT MINUM

BERNAFAS 3X TEGUKAN SAAT MINUM

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menganjurkan kita Bernafas 3x pada saat minum.

كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يتنفَّسُ في الشرابِ ثلاثًا ، ويقول : ( إنه أَروى وأبرأُ وأَمرأُ )
“biasanya Rasulullah Shallallahu ’alaihi Wa sallam bernafas tiga kali ketika minum. Dan Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya dengan begini haus lebih hilang, lebih lepas dan lebih enak‘” (HR. Al Bukhari 5631, Muslim 2028, dan ini adalah lafadz Muslim).
BERNAFAS 3X TEGUKAN SAAT MINUM

Jadi caranya: meneguk air, lalu berhenti dan keluarkan nafas di luar gelas, lalu teguk lagi, lalu berhenti dan keluarkan nafas di luar gelas, lalu teguk lagi, lalu berhenti dan keluarkan nafas di luar gelas, selesai.

Pahami, Amalkan dan Sebarkan, Insyaallah akan menjadi ladang pahala buat kita.

Dari ‘Amr bin ‘Auf bin Zaid al-Muzani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِى فَعَمِلَ بِهَا النَّاسُ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا
“Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun“ HR Ibnu Majah (no. 209)

Ya Allah, wafatkanlah kami di atas agama Islam dan di atas sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

#pecinta sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
Baca selengkapnya »
Adab dalam menuntut ilmu sebab yang menolong seseorang meraih ilmu

Adab dalam menuntut ilmu sebab yang menolong seseorang meraih ilmu

Abu Zakariya An Anbari rahimahullah mengatakan:

علم بلا أدب كنار بلا حطب، و أدب بلا علم كروح بلا جسد
"Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar, dan adab tanpa ilmu seperti jasad tanpa ruh" (Adabul Imla' wal Istimla' [2], dinukil dari Min Washaya Al Ulama liThalabatil Ilmi [10]).
Adab dalam menuntut ilmu

Yusuf bin Al Husain rahimahullah mengatakan:

بالأدب تفهم العلم
"Dengan adab, engkau akan memahami ilmu" (Iqtidhaul Ilmi Al 'Amal [31], dinukil dari Min Washaya Al Ulama liThalabatil Ilmi [17]).

Sehingga belajar adab sangat penting bagi orang yang mau menuntut ilmu syar'i. Oleh karena itulah Imam Malik rahimahullah mengatakan:

تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم
"Belajarlah adab sebelum belajar ilmu" (Hilyatul Auliya [6/330], dinukil dari Min Washaya Al Ulama liThalabatil Ilmi [17])

@fawaid_kangaswad
Baca selengkapnya »
Adab Menguap dikala kantuk menyerang

Adab Menguap dikala kantuk menyerang

Dari Abu Hurairah radhiyyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعُطَاسَ وَيَكْرَهُ التَّثَاؤُبَ فَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَحَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يُشَمِّتَهُ وَأَمَّا التَّثَاؤُبُ فَإِنَّمَا هُوَ مِنْ الشَّيْطَانِ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ فَإِذَا قَالَ" هَا" ضَحِكَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ
“Sesungguhnya Allah menyukai perbuatan bersin dan membenci menguap. Karenanya apabila salah seorang dari kalian bersin kemudian dia memuji Allah (Alhamdulillah), maka kewajiban atas setiap muslim yang mendengarnya untuk mentasymitnya (yarhamukallah)

Adapun menguap, maka tidaklah datang kecuali dari setan. Maka hendaklah dia menahan menguap semampunya. Jika dia sampai mengucapkan ‘haaah’, maka setan akan metertawakannya”

[HR. Al-Bukhari: 6223, Muslim: 2994]
Adab Menguap dikala kantuk menyerang

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyyallahu anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا تَثَاوَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيُمْسِكْ بِيَدِهِ عَلَى فِيهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ
“Bila salah seorang dari kalian menguap maka hendaklah dia menahan mulutnya dengan tangannya karena sesungguhnya setan akan masuk..”

[HR. Muslim: 2995]

✓Peringatan:

Tatkala menguap, beberapa orang mengucapkan kalimat istighfar (Astaghfirullah) atau ta’awudz (A’udzu billahi minasy syaithanirrajim)

Hal ini merupakan salah satu bentuk dzikir yang tidak ada tuntunannya dan menyelisihi apa yang dituntunkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketika menguap, hendaknya kita menahannya dengan sekuat tenaga, boleh jadi menahan mulut agar tidak terbuka yaitu dengan mengatupkan gigi pada bibir atau menutup mulut dengan tangan, kain, atau benda semisalnya [Kitabul Adab: 322-323, Syaikh Fuad bin Abdul ‘Azis Asy Syalhub]

Sahabat Ilmu
•┈┈•••✦✿✦•••┈┈•
Repost by :@kajianislamtegardiatassunnah
Baca selengkapnya »
Saudaraku, JANGAN MENJELEK-JELEKKAN MAKANAN

Saudaraku, JANGAN MENJELEK-JELEKKAN MAKANAN

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata,

مَا عَابَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – طَعَامًا قَطُّ ، إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ ، وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ
“Tidaklah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela suatu makanan sedikit pun. Seandainya beliau menyukainya, beliau menyantapnya. Jika tidak menyukainya, beliau meninggalkannya (tidak memakannya).” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 5409 dan Muslim no. 2064).

Lihatlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan cara bagaimana menghadapi makanan yang tidak kita sukai, yaitu dengan ditinggalkan. (Bahjatun Nazhirin, 2: 51).

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Inilah adab yang baik kepada Allah Ta’ala. Karena jika seseorang menjelek-jelekkan makanan yang tidak disukai, maka seolah-olah dengan ucapan jeleknya itu, ia telah menolak rizki Allah.” (Syarh Al Bukhari, 18: 93)
JANGAN MENJELEK-JELEKKAN MAKANAN

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Makanan dan minuman yang dinikmati ketika disodori pada kita, hendaklah kita tahu bahwa itu adalah nikmat yang Allah beri. Nikmat tersebut bisa datang karena kemudahan dari Allah. Kita mesti mensyukurinya dan tidak boleh menjelek-jelekkannya. Jika memang kita suka, makanlah. Jika tidak, maka tidak perlu makan dan jangan berkata yang bernada menjelek-jelekkan makanan tersebut.” (Syarh Riyadhus Sholihin, 4: 199)

Namun tidak mengapa jika memberi kritikan pada yang masak, misalnya dengan berkata, “Hari ini masakanmu terlalu banyak garam, terlalu pedas atau semacam itu.” Yang disebutkan ini bukan maksud menjelakkan makanan, namun hanyalah masukan biar dapat diperbaiki. (Lihat idem, 4: 200).

PELAJARAN DARI HADITS ABU HURAIRAH DI ATAS MEMUAT BEBERAPA KANDUNGAN, DIANTARANYA SEBAGAI BERIKUT :

1. Setiap makanan yang mubah itu tidak pernah Nabi cela. Sedangkan makanan yang haram tentu Nabi mencela dan melarang untuk menyantapnya.

2. Hadits di atas menunjukkan betapa luhurnya akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah seorang yang memperhatikan perasaan orang yang memasak makanan. Oleh karena itu, Nabi tidaklah mencela pekerjaan yang sudah mereka lakukan, tidak menyakiti perasaan dan tidak melakukan hal-hal yang menyedihkan mereka.

3. Hadits di atas juga menunjukkan sopan santun. Boleh jadi suatu makanan tidak disukai oleh seseorang akan tetapi disukai oleh orang lain.

4. Segala sesuatu yang diizinkan oleh syariat tidaklah mengandung cacat. Oleh karena itu tidak boleh dicela.

5. Hadits di atas merupakan pelajaran yang diberikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyikapi makanan yang tidak disukai, yaitu dengan meninggalkan tanpa mencelanya. (Lihat Bahjatun Nazhirin Jilid III hal 55)
Baca selengkapnya »
APA YANG DILAKUKAN JIKA BERMIMPI BURUK

APA YANG DILAKUKAN JIKA BERMIMPI BURUK


.یَنْفُثُ عَنْ یَسَارِهِ (ثلاثا). ̈ یَسْتَعِیْذُ بِااللهِ مِنَ الشَّیْطَانِ وَمِنْ شَرِّ مَا رَأَى (ثلاث مرات). ̈ لاَ یُحَدِّثْ بِھَا أَحَداً . ̈ یَتَحَوَّلُ عَنْ جَنْبِھِ الَّذِي كَانَ عَلَیْھِ ̈ یَقُوْمُ یُصَلِّي إِنْ أَرَادَ ذَلِكَ.
Lakukan hal-hal berikut: 

1. Meniup (seperti meludah) tiga kali ke arah kiri
2. Berlindung kepada Allah dari setan dan dari keburukan apa yang dia mimpikan. · 
3. Tidak menceritakannya kepada siapapun. 
4. Merubah posisinya dari yang semula. (dilarang telungkup)
5. Bangun dan shalat, jika dia menghendaki .

Lihat Shahih Muslim: 4/1772-1773.
Baca selengkapnya »
Akhi Muslim muslimah, TUTUP LAH MAKANAN DAN MINUMAN MU

Akhi Muslim muslimah, TUTUP LAH MAKANAN DAN MINUMAN MU

Shahih Fiqih: TIBA-2 SAKIT TANPA SEBAB

🔴 Saudaraku pernahkah engkau temui berita ttg keracunan masal? Pdhl malam hari makanan baru dimasak segar dan bersih dgn porsi besar untuk dihidangkan pada acara pagi harinya..

🔴 Pernahkah pula engkau mendengar seorang yg sehat dan bugar yg sangat jarang sekali sakit, tiba-2 mendadak sakit parah? Dan itu diketahui tatkala setelah cek lab medis, bahkan terkadang ada yg tdk terdeteksi secara medis..
makanan ditutup

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah sampaikan suatu hadits pada kita..

فَإِنَّ فِي السَّنَةِ لَيْلَة يَنـْزِلُ فِيْهَا وَبَاءٌ لاَ يَمُرُّ بِإِناَءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ غِطَاءٌ أَوْ سِقَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ وِكَاءٌ إِلاَّ نَزَلَ فَيْهِ مِنْ ذَلِكَ الْوَبَاءِ .
“Sesungguhnya dlm 1 tahun terdapat 1 malam yg turun pada malam itu wabah penyakit. Tidaklah wabah itu melewati bejana yg tdk ditutup atau wadah air yg tidak diikat, melainkan wabah itu akan turun padanya." (HR. Bukhari, 3/1195, 3106)

🔴 Bisa jadi itulah diantara sebabnya yaitu lupa/enggan menutup gelas minuman ataupun makanan kita di suatu malam (dimana bertepatan dgn turunnya wabah) tsb.. Oleh karenanya Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda :

وَأَوْكُوا الْأَسْقِيَةَ وَخَمِّرُوا الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ
“Tutuplah pintu-2 serta tutuplah bejana serta wadah-2 makan dan minum kalian." (HR. Bukhori 5624)

وَأَوْكُوا الْأَسْقِيَةَ وَخَمِّرُوا الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ وَلَوْ أَنْ تَعْرُضُوا عَلَيْهِ بِعُودٍ
“Tutuplah bejana serta tempat makan dan minum, walaupun hanya engkau taruh sepotong kayu di atasnya." (HR. Ahmad 14597)

👤 Imam An-Nawawi rahimahullah berkata : "Perintah Nabi Shallallahu alaihi wasallam untuk menutup bejana ini bertujuan untuk memperoleh keselamatan dari gangguan setan. Allah Ta'ala menjadikan hal itu sebagai sebab terhindarnya seorang hamba dari gangguannya, krn setan tdk bisa membuka bejana, jika sebab yg disebutkan tadi (dgn menyebut nama Allah) dilakukan." (Syarah Shahih Muslim, 13/185)

Tutuplah makan dan minummu.. jika tak engkau jumpai satu tutup pun untuk menutup, maka tutuplah dengan ranting/pen/pensil dan sebutlah nama Allah saat menutupnya..

Semoga Allah menjaga kita dalam kebaikan dan kesehatan..

Insyaa Allah....bermanfaat
Baca selengkapnya »
AWAS.....7 HAL SEPELE INI BIKIN MUDAH DIGANGGU SYETAN

AWAS.....7 HAL SEPELE INI BIKIN MUDAH DIGANGGU SYETAN

kita kerap menyepelekan suatu yang sementara itu telah diwanti - wanti oleh Rasulullah bagaikan perbuatan syetan ataupun dapat menimbulkan syetan gampang mengusik diri kita.

Syetan itu dipaparkan Allah dalam Al Quran bagaikan musuh yang nyata untuk manusia. Mereka jelas - jelas mengusik dan juga dapat menyesatkan kita.

Bila saudara merasa amat gampang marah, malas ibadah, mudah letih, coba deh hentikan melaksanakan perihal yang dapat mempermudah syetan mengusik diri kita ataupun terlebih lagi masuk ke dalam badan kita. Ajarkan pula keluarga dan juga sahabat terdekat menimpa bahaya ini.

sedih sendirian
Berikut ini 7 di antaranya :

1. Menguap Lebar Tanpa Menutup Mulut

......فَإِنَّمَا هُوَ مِنْ الشَّيْطَانِ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ
"Menguap merupakan dari setan, hingga bila salah seseorang di antara kamu menguap, hendaklah dia menahannya sedapat mungkin. ” (HR. Muslim)

إِذَا تَثَاوَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيُمْسِكْ بِيَدِهِ عَلَى فِيهِ ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ
" Apabila salah seseorang di antara kamu menguap hingga hendaklah menutup mulut dengan tangannya karna syeitan hendak masuk (ke dalam mulut yang terbuka). ” (HR. Muslim nomor. 2995 (57) dan juga abu dawud nomor. 5026)

2. Makan dan juga Minum tanpa Mengucap Basmallah

"Begitu, setan menghalalkan santapan yang tidak disebutkan nama allah padanya. " (HR. Abu Daud)

3. Makan dan juga Minum dengan Tangan Kiri

إذا أكل أحدكم فليأكل بيمينه، وإذا شرب فليشرب بيمينه، فإن الشيطان يأكل بشماله ويشرب بشماله
"Bila seorang dari kamu makan hingga makanlah dengan tangan kanannya dan juga bila minum hingga minumlah dengan tangan kanannya. karna setan makan dan juga minum dengan tangan kirinya” (HR.. Muslim nomor. 2020)

4. Mengenakan seluruh suatu dari penggalan kiri tubuh

كانَ رَسُولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ في تَنَعُّلِهِ، وَتَرَجُّلِهِ، وَطُهُورِهِ، وَفي شَأْنِهِ كُلِّهِ
“Nabi shallallahu’alaihi wasallam menyesuaikan diri mendahulukan yang kanan dalam mengenakan sandal, menyisir, bersuci dan juga dalam tiap urusannya” (HR. Bukhari 168).

5. Tidak Mengibas Tempat Tidur saat sebelum menggunakannya

"Apabila salah seseorang dari kamu bakal barbaring di tempat tidurnya hendaklah dia kibas - kibas tempat tidurnya itu dengan sarungnya. karna ia tidak ketahui apa yang terjalin pada tempat tidurnya sehabis dia tinggalkan sebelumnya. " (HR. Bukhari Muslim)

hadits yang lain bagaikan ekstra: " untuk orang yang bangun dari tempat tidurnya setelah itu berulang lagi, hingga diajarkan buat mengibasinya berulang. " (sebagaimana hadits riwayat tirmidzi. 3410, dishahihkan dalam kalim thoyyib: 3410)

" tidak terdapat satu kasur juga yg tergelar di dalam sesuatu rumah yg tidak ditiduri oleh manusia, kecuali setan hendak tidur di atas kasur itu…” (akamul marjan fi ahkamil jaan perihal. 150)

6. Masuk kamar mandi tidak membaca basmallah ataupun doa


كان إذا أراد أن يدخل الخلاء قال : اللهم إني أعوذ بك من الخبث والخبائث
rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kala merambah jamban, dia ucapkan: Allahumma inni a’udzu bika minal khubutsi wal khobaits (ya allah, saya berlindung kepada - mu dari setan pria dan juga setan wanita) (HR. Bukhari Muslim)

" Masuklah ke dalam jamban (toilet/wc) dengan mendahulukan kaki kiri, ke luar dengan mendahulukan kaki kanan. " (H.R. Tirmidzi)

7. Buang Kotoran Sembarangan

baik kotoran hajat (buang air kecil, buang air besar) , maupun berbentuk darah kotor sisa pembalut, sisa berbekam dllsb.

«اتَّقُوا اللاعِنَيْنِ» قالوا: وَمَا اللاعِنَانِ؟ قَالَ: «الَّذِي يَتَخَلَّى في طَرِيقِ النَّاسِ أَوْ في ظِلِّهِمْ»
" takutlah (jauhilah) 2 perbuatan terkutuk! ”

para sahabat nabi bertanya, “apakah kedua perbuatan itu wahai rasulullah? ”

jawab dia, “orang yang buang air besar di jalur tempat orang banyak melintas ataupun di tempat mereka berteduh (serupa di dasar tumbuhan). ” (H.R. Muslim).

" Jangan buang air di lubang fauna, di jalur tempat dilalui orang, di tempat berteduh, di sumber air, di tempat pemandian, di dasar tumbuhan yang lagi berbuah, ataupun di air yang mengalir ke arah orang-orang yang lagi mandi ataupun cuci. ” (H.R. Muslim, Tirmidzi)

Mudah - mudahan kita tetap berwaspada dan juga tidak menyepelekan permasalahaan ini

Semoga Bermanfaat.

republish from whatsapp group dan edit ulang oleh admin
Baca selengkapnya »
Adab ketika hendak keluar dari group whatsap, line, telegram dll

Adab ketika hendak keluar dari group whatsap, line, telegram dll

⛔❗LEFT GROUP❗⛔

Mau keluar dari grup......
Sebentar ya, sabar......
Perhatikan dulu adabnya, Agar kemulian dunia akherat tetap kita dapatkan.

Dari Ibnu 'Umar, ia berkata : Telah bersabda Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam:

إِذَا زَارَ أَحَدُكُمْ فَلا يَقُومُ حَتَّى يَسْتَأْذِنَهُ "
“Apabila salah seorang di antara kalian berziarah (mengunjungi seseorang), janganlah ia berdiri hingga meminta izin (kepada tuan rumah) terlebih dahulu” [📚Diriwayatkan oleh Abusy-Syaikh dalam Thabaqaatul-Muhadditsiin bi-Ashbahaan no. 356; sanadnya shahih].
whatsapp aplikasi

Dari Abu Mijlaz, ia berkata:

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ عِمْرَانَ، عَنْ أَبِي مِجْلَزٍ، قَالَ: " إِذَا جَلَسَ إِلَيْكَ رَجُلٌ مُتَعَمِّدًا فَلا تَقُمْ حَتَّى تَسْتَأْذِنَهُ ".
“Apabila seseorang sengaja bermajelis denganmu, janganlah engkau berdiri hingga engkau meminta izin kepadanya terlebih dahulu” [📚Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 8/418 (13/169) no. 26180; sanadnya shahih].

Dari Muusaa bin Naafi', ia berkata:

قَعَدْتُ إِلَى سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ، قَالَ: " أَتَأْذَنُونَ؟ إِنَّكُمْ جَلَسْتُمْ إِلَيَّ "
Aku pernah duduk bersama Sa’iid bin Jubair. Ketika hendak berdiri, ia berkata : “Apakah engkau mengizinkan (aku berdiri) ?. Sesungguhnya engkau telah bermajelis denganku” [📚Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 8/418 (13/170) no. 26184; sanadnya shahih].

▶Minta izin atau berpamitan meninggalkan majelis adalah salah satu adab Islam yang perlu untuk diperhatikan, baik bermajelis dua orang atau lebih dari itu.

▶Bermajelis di era sekarang bukan hanya dalam bentuk berkumpulnya badan secara fisik, namun juga berkumpul secara non-fisik dalam grup-grup media sosial seperti Whatsapp, line, telegram atau yang lainnya.

▶Terkait dengan hal ini, ketika akan keluar (left) group pun hendaknya kita berpamitan, izin, atau memberi tahu kepada admin dan/atau anggota grup yang lain. Dengan melakukan hal itu, su'udhdhan atau perasaan tidak enak dari anggota majelis (grup Line,Whatsapp, telegram dll) dapat dihindari, dan orang yang meninggalkan grup itu meninggalkan kesan yang baik bagi anggota grup lainnya.

✍(Sumber : Fb Dr. Raehanul Bahraen)```

Dari paparan diatas...ana mohon idzIn keluar (left)..
Dengan kapasitas hp yg terbatas...
Tolong dihalalkan apabila ana ada salah kata-kata selama disini

Syukron.. 😊
Baca selengkapnya »
ADAB-ADAB DI HARI ‘IEDUL ADHA

ADAB-ADAB DI HARI ‘IEDUL ADHA

➡1. Mandi sebelum berangkat.

➡2. Memperbanyak takbir.

Beberapa Ketentuan dalam Bertakbir :

Takbir hari raya Idul Adha ada dua bentuk, yaitu muthlaq dan muqoyyad, adapun takbir Idul Fitri hanya muthlaq saja.

🔘 Muthlaq artinya umum tanpa terkait waktu, hendaklah memperbanyak takbir kapan dan di mana saja, kecuali di tempat-tempat yang terlarang melafazkan dzikir, yaitu di WC dan yang semisalnya. Takbir muthlaq Idul Adha dimulai sejak awal Dzulhijjah sampai akhir hari Tasyriq, adapun Idul Fitri dimulai sejak terbenam matahari di akhir Ramadhan sampai selesai khutbah Idul Fitri.

🔘 Muqoyyad artinya terkait dengan sholat lima waktu, yaitu bertakbir setiap selesai sholat lima waktu, dimulai sejak ba’da Shubuh hari Arafah sampai ba’da Ashar di akhir hari Tasyriq. Adapun takbir Idul Fitri tidak disyari’atkan takbir muqoyyad setiap selesai sholat lima waktu.

🔘 Disunnahkan mengeraskan takbir bagi laki-laki dan dipelankan bagi wanita, dan disunnahkan bertakbir di perjalanan ketika menuj sholat ‘Ied.
ADAB-ADAB DI HARI ‘IEDUL ADHA

➡3. Disunnahkan mandi Sebelum Berangkat Shalat.

➡4. Memakai pakaian terbaik dan minyak wangi. Untuk wanita dilarang memakai wewangian dan hanya boleh dipakai untuk suaminya.

➡5. Menyantap Makanan Sebelum Berangkat shalat Idul Fitri. Adapun pada hari raya Idul Adha disunnahkan adalah tidak makan sebelum kembali dari shalat Ied .

Sunnah tidak makan sebelum shalat Idul Adha hanya berlaku untuk orang yang berkurban, adapun jika seseorang tidak memiliki kurban (tidak berkurban), maka tidak masalah jika ia makan terlebih dahulu sebelum shalat ‘ied. ( Lihat Al Mughni, 2: 228)

➡6. Pergi menuju lapangan tempat pelaksanaan shalat Ied. Lebih utama melaksanakan sholat Ied di tanah lapang ketimbang di masjid. Karena Rasulullah tidak pernah melaksnakan sholat Ied di dalam masjid kecuali saat hujan. Dibolehkan untuk melakukannya di masjid bila tidak menemukan tanah lapang.

➡7. Bagi kaum wanita untuk keluar menuju sholat dan khutbah Ied dengan tanpa tabarruj (menampakan kecantikan) dan tampa mengenakan wewangian.

➡ 8. Dianjurkan juga bagi anak-anak untuk ikut keluar menuju tempat sholat dan khutbah ‘Ied.

➡9. Melaksanakan Sholat Ied

➡10. Mendengarkan khutbah

➡11. Mengambil Jalan Lain Ketika Berangkat dan pulang. Diantara hikmahnya adalah untuk menampakkan syiar Islam di hari raya.

➡12. Dianjurkan berjalan kaki sampai ke tempat shalat dan tidak memakai kendaraan kecuali jika ada hajat.

➡13. Tidak disunnahkan sholat sunnah apa pun sebelum dan sesudah sholat ‘Ied, kecuali apabila sholat ‘Ied dilaksanakan di masjid maka disunnahkan sholat tahiyyatul masjid apabila sholat ‘Ied belum dimulai.

➡14. Bagi yang tertinggal shalat ‘Id bersama jama’ah, maka hendaknya dia mengqadha’ (mengganti)nya, dengan tata cara yang sama sebanyak dua rakaat.

➡15. Mengucapkan selamat hari raya :

“taqabbalallahu minna wa minka” / "taqabbalallahu minna wa minkum".

➡16. Menjawab ucapan selamat hari raya , dengan ucapan yang sama :

“taqabbalallahu minna wa minka” / "taqabbalallahu minna wa minkum".

➡17. Bersenang-senang dan bergembira dengan mengadakan pesta atau permainan yang halal/mubah di hari raya dan diizinkan bagi anak kecil perempuan yang belum baligh untuk menyanyi dengan menggunakan satu-satunya alat musik yang dibolehkan dalam syari’at, yaitu rebana.

➡18. Hindari ikhtilat (bercampur baur) atau berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram. Karena hal tersebut termasuk hal yang diharamkan secara syar'i berdasarkan sabdanya:

لَأَنْ يُطْعَنُ فِيْ رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لاَ تَحِلُّ لَهُ
“Andaikata kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya”.

( HR. Ar-Ruyany dalam Musnadnya no.1282, Ath-Thobrany 20/no. 486-487 dan Al-Baihaqy dalam Syu’abul Iman no. 4544 dan dishohihkan oleh syeikh Al-Albany dalam Ash-Shohihah no. 226 )
Demikian semoga bermanfaat.

📝 Oleh : Abu Syamil Humaidy ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ

📮 MUTIARA NASEHAT MUSLIMAH
https://t.me/MuliaDenganSunnah
Website : https://asysyamil.com
Baca selengkapnya »
ADAB-ADAB DALAM MENYEMBELIH HEWAN

ADAB-ADAB DALAM MENYEMBELIH HEWAN

Agama islam merupakan agama yang memerintahkan pada segala kebaikan,baik kebaikan tersebut didapatkan secara langsung atau tidak, Allah berfirman;

إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى
"Bahwa Allah memerintahkan keadilan dan perbuatan baik,serta memerintahkan untuk memberi pada keluarga sebagai bentuk silaturahim" Q.s An Nahl:90

Berkata As~Sa'di

فلم يبق عدل ولا إحسان ولا صلة إلا أمر به في هذه الآية الكريمة
"Tidak ada keadilan,kebaikan,dan silaturahim kecuali Allah perintahkan dalam ayat yang mulia diatas" lihat Aq-Qowaidul Wal-Usulul Jami`ah 20

Rasulullah shollallahu `alaihi wasallama bersabda;

إن الله كتب الإحسان على كل شيء فإذا قتلتم فأحسنوا القتلة، وإذا ذبحتم فأحسنوا الذبحة، وليحد أحدكم شفرته، وليرح ذبيحته
"Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat baik pada segala sesuatu maka jika kalian membunuh maka bunuhlah dengan cara yang baik begitu pula kalau kalian sembelih maka lakukanlah dengan baik dan hendaknya menajamkan alat sembelihannya serta menenangkan hewan tersebut dengan tidak menyakitinya saat disembelih" diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Syadad bin Aus

Dan rasa kasih sayang kita saat mau menyembelih hewan merupakan sebab Allah akan menyayangi kita, sebagaimana hadits Qurrah bin Iyas Al-Muzani bahwa seseorang berkata;

يا رسول الله إني لأذبح الشاة فأرحمها أو قال: إني لأرحم الشاة أن أذبحها. قال: والشاة إن رحمتها رحمك الله) مرتين.
"Wahai Rasulullah sesungguhnya saat saat mau menyembelih kambing saya kasihan dan sedih untuk menyembelihnya,maka Rasulullah shollallahu `alaihi wasallama bersabda; "

(والشاة إن رحمتها رحمك الله) مرتين.
"(Jika engkau menyayangi dan mencintai kambing maka Allah akan menyayangimu) beliau shollallahu `alaihi wasallama ucapkan dua kali" diriwayatkan Bukhari dalam Adabul Mufrad(373) dan dishahihkan Albani

Adapun adab-adab yang perlu diperhatikan saat menyembelih adalah;

(1) Memperlakukan hewan sesembelihan dengan baik, tidak disakiti saat mau disembeli seperti kalau ayam dicabut bulu lehernya terlebih dahulu, dan semisalnya, Rasulullah shollallahu `alaihi wasallama bersabda;

إن الله كتب الإحسان على كل شيء
"Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat baik pada segala sesuatu "diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Syadad bin Aus

(2) Boleh menyembelih dengan segala sesuatu yang tajam kecuali tulang dan kuku, sebagaimana hadits Ka`ab bin Malik:

أن امرأة ذبحت شاة بحجر، «فسئل النبي صلى الله عليه وسلم عن ذلك فأمر بأكلها
"Bahwa seorang wanita menyembelih sapi dengan batu yang tajam maka ditanyakan pada Rasulullah shollallahu `alaihi wasallama lalu beliau Rasulullah shollallahu `alaihi wasallama membolehkan untuk dimakan " diriwayatkan Imam Bukhori(5602)

ADAB-ADAB DALAM MENYEMBELIH HEWAN

Juga dalam hadits Rafi`bin Khadij bahwa Rasulullah shollallahu `alaihi wasallama bersabda:

ما أنهر الدم، وذكر اسم الله، فكل، ليس السن، والظفر، أما السن فعظم، وأما الظفر فمدى الحبشة
"Makanlah setiap yang disembelih dengan sesuatu yang mengalirkan darah dengan keras dan disebut nama Allah saat menyembelihnya maka makanlah karena itu halal tapi tidak boleh disembelih dengan gigi karena termasuk tulang,begitu pula tidak boleh disembelih dengan kuku kerena termasuk alat sembelihan kaum Habasyah(termasuk kaum kafir dan kita telah dilarang menyerupai mereka)" diriwayatkan Imam Bukhori(5543) dan Muslim(1968)

(3) Menyasah alat sembelihan sampai tajam,sebagaimana hadits Aisyah bahwa Rasulullah shollallahu `alaihi wasallama bersabda;

يا عائشة، هلمي المدية"، ثم قال: "اشحذيها بحجر
"Wahai Aisyah,ambilkan pisau dan asah/pertajam terlebih dahulu dengan batu(atau semisalnya)" diriwayatkan Imam Muslim(1967)

Juga Rasulullah shollallahu `alaihi wasallama bersabda;

وإذا ذبحتم فأحسنوا الذبحة، وليحد أحدكم شفرته، وليرح ذبيحته
"Kalau kalian sembelih maka lakukanlah dengan baik dan hendaknya menajamkan alat sembelihannya serta menenangkan hewan tersebut dengan tidak menyakitinya saat disembelih"diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Syadad bin Aus

(4) Penyembelih harus orang berakal baik laki-laki ataupun perempuan, karena yang tidak berakal tidak bisa meniatkan sesembelihan tersebut,Rasulullah shollallahu `alaihi wasallama bersabda:

إنما الأعمال بالنيات
"Sesungguhnya amalan teranggap kalau diniatkan"diriwayatkan Imam Bukhoriy dan Muslim

(5) Tidak memperlihatkan serta mempertajam alat sesembelihan dalam keadaan hewan tersebut melihatnya, sebagaimana hadits Ibnu Umar bahwa Rasulullah shollallahu `alaihi wasallama:

أمر بحد الشفار، وأن توارى عن البهائم، إذا ذبح أحدكم؛ فليجهز
"Memerintahkan untuk mempertajam alat sesembelihan dan menyembunyikannya dari penglihatan hewan yang disembelih tersebut dan beliau shollallahu `alaihi wasallama berkata :jika diantara kalian menyembelih maka hendaknya dipotong dengan cepat "

diriwayatkan Imam Ahmad dan dishahihkan Albani dan Ahmad Syakir

Dan Rasulullah shollallahu `alaihi wasallama bersabda saat melihat seseorang yang mengasah alat sesembelihannya dalam hewan tersebut melihatnya;

أتريد أن تميتها موتات؟ ! هلا حددت شفرتك قبل أن تضجعها
"apakah anda ingin mematiakannya berkali-kali(karena hewan ketakutan saat mau disembelih) kenapa engkau tidak mengasah pisaunya sebelum membaringkan hewannya" diriwayatkan Tabrani dan dishahihkan sanadnya Albani

(6) Tidak menyembelih disekitar hewan-hewan lain, berkata Lajnah Abdul Aziz bin Abdullah Alu Syaikh dan salah satu anggotanya Syaikh Fauzan

أن توارى الذبيحة وقت الذبح عن البهائم؛ لئلا تتعذب البهائم بذلك
"Dan diantara adab menyembelih adalah menyembunyikan hewan sesembelihan dari hewan yang belum disembelih agar mereka tidak tersiksa(saat melihat temannya disembelih)" lihat Fatawa Lajnah Daimah 22/363

(7) Mengucapkan BISMILLAH saat mau menyembelihnya,dan kalau yang disembelih adalah hewan kurban maka ditambahkan misalnya sesembelihannya Khalid maka dikatakan;

BISMILLAH ALLAHUMA TAQOBBAL MIN KHALID WAAHLIHI

kalau tidak bisa maka mungkin dengan bahasa Indonesia atau bahasa daerah, seraya berkata;

BISMILLAH YA ALLAH TERIMALAH HEWAN KURBAN INI DARI KHALID DAN KELUARGANYA

Dan hal tersebut sebagaimana hadits Aisyah bahwa Rasulullah shollallahu `alaihi wasallama bersabda saat mau menyembelih kurbannya;

"باسم الله، اللهم تقبل من محمد، وآل محمد، ومن أمة محمد، ثم ضحى به"
"BISMILLAH ALLAHUMMA TAQOBBAL MIN MUHAMMAD WAALI MUHAMMAD WAMIN UMMATI MUHAMMAD" diriwayatkan Imam Muslim(1967)

Dan disyaritkan ditambahkan ALLOHU AKBAR, sehingga saat dia menyembelih mengatakan;

BISMILLAH ALLOHU AKBAR

sebagaimana riwayat Muslim(1966) bahwa Rasulullah shollallahu `alaihi wasallama saat menyembelih mengucapkan;

BISMILLAH ALLOHU AKBAR

Yang menunjukkan disyariatkan BISMILLAH

saat menybelih adalah hadits Rafi`bin Khadij bahwa Rasulullah shollallahu `alaihi wasallama bersabda:

ما أنهر الدم، وذكر اسم الله، فكل، ليس السن، والظفر، أما السن فعظم، وأما الظفر فمدى الحبشة
"Makanlah setiap yang disembelih dengan sesuatu yang mengalirkan darah dengan keras dan disebut nama Allah saat menyembelihnya(memgucapkan BISMILLAH) maka makanlah karena itu halal tapi tidak boleh disembelih dengan gigi karena termasuk tulang,begitu pula tidak boleh disembelih dengan kuku kerena termasuk alat sembelihan kaum Habasyah(termasuk kaum kafir dan kita telah dilarang menyerupai mereka)" diriwayatkan Imam Bukhori(5543) dan Muslim(1968)

(8) Dipotong/disembelih dengan cepat, sebagaimana hadits Ibnu Umar bahwa Rasulullah shollallahu `alaihi wasallama:

أمر بحد الشفار، وأن توارى عن البهائم، إذا ذبح أحدكم؛ فليجهز
"Memerintahkan untuk mempertajam alat sesembelihan dan menyembunyikannya dari penglihatan hewan yang disembelih tersebut dan beliau shollallahu `alaihi wasallama berkata :jika diantara kalian memyembelih maka hendaknya dipotong dengan cepat " diriwayatkan Imam Ahmad dan dishahihkan Albani dan Ahmad Syakir

(9) Kalau dalam perut induk ada janin maka tidak perlu disembelih karena sudah mengikuti hukum sesembelihan induknya,sebagaiaman,Rasulullah shollallahu `alaihi wasallama bersabda:

ذكاة الجنين ذكاة أمه
"Sembelihan janin mengambil hukum sesembelihan induknya (artinya kalau induknya sudah disembelih maka janinnya sudah halal dimakan)." diriwayatkan Imam Ahmad dan selainnya dan dishohihkan Albaniy dari sahabat Jabir

(10) Tidak menguliti/memotong hewan sesembelihan kecuali sudah benar-benar telah mati, berkata Lajnah Abdul Aziz bin Abdullah Alu Syaikh dan salah satu anggotanya Syaikh Fauzan

تأخ‍ير كسر عنقه وسلخه حتى يبرد
"Dan diantara adab menyembelih adalah tidak memotong lehernya serta mengulitinya kecuali sudah benar-benar telah mati" lihat Fatawa Lajnah Daimah 22/364

Catatan:

Boleh memotong kecil-kecil tulang hewan kurban saat mau dimasak, berkata Dewan Fatwa Kerajaan Saudi;

ويجوز أن يكسروا عظامها
"Boleh juga mereka mematahkan/memotong tulangnya". lihat Majmu' Fatawa Lajnah Ad Daimah 11/403
Baca selengkapnya »
Beberapa adab Menyembelih yang perlu diperhatikan :

Beberapa adab Menyembelih yang perlu diperhatikan :

▶ Hendaknya yang menyembelih adalah shohibul kurban sendiri, jika dia mampu. Jika tidak maka bisa diwakilkan orang lain, dan shohibul kurban disyariatkan untuk ikut menyaksikan.

▶ Gunakan pisau yang setajam mungkin. Semakin tajam, semakin baik. Ini berdasarkan hadits dari Syaddad bin Aus radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَ قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْح وَ ليُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ
“Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan dalam segala hal. Jika kalian membunuh maka bunuhlah dengan ihsan, jika kalian menyembelih, sembelihlah dengan ihsan. Hendaknya kalian mempertajam pisaunya dan menyenangkan sembelihannya.” (HR. Muslim).

▶ Tidak mengasah pisau dihadapan hewan yang akan disembelih. Karena ini akan menyebabkan dia ketakutan sebelum disembelih. Berdasarkan hadits dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma,

أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحَدِّ الشِّفَارِ ، وَأَنْ تُوَارَى عَنِ الْبَهَائِمِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengasah pisau, tanpa memperlihatkannya kepada hewan.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah ).

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati seseorang yang meletakkan kakinya di leher kambing, kemudian dia menajamkan pisaunya, sementar binatang itu melihatnya.

Lalu beliau bersabda (artinya): “Mengapa engkau tidak menajamkannya sebelum ini ?! Apakah engkau ingin mematikannya sebanyak dua kali?!.”

(HR. Ath-Thabrani dengan sanad sahih).

▶ Menghadapkan hewan ke arah kiblat.

Disebutkan dalam Mausu’ah Fiqhiyah :

Hewan yang hendak disembelih dihadapkan ke kiblat pada posisi tempat organ yang akan disembelih (lehernya) bukan wajahnya. Karena itulah arah untuk mendekatkan diri kepada Allah. (Mausu’ah Fiqhiyah Kuwaitiyah, 21:196).

Dengan demikian, cara yang tepat untuk menghadapkan hewan ke arah kiblat ketika menyembelih adalah dengan memposisikan kepala di Selatan, kaki di Barat, dan leher menghadap ke Barat.

▶ Membaringkan hewan di atas lambung sebelah kiri.

Imam An-Nawawi mengatakan,

Terdapat beberapa hadits tentang membaringkan hewan (tidak disembelih dengan berdiri, pen.) dan kaum muslimin juga sepakat dengan hal ini. Para ulama sepakat, bahwa cara membaringkan hewan yang benar adalah ke arah kiri. Karena ini akan memudahkan penyembelih untuk memotong hewan dengan tangan kanan dan memegangi leher dengan tangan kiri. (Mausu’ah Fiqhiyah Kuwaitiyah, 21:197).

Penjelasan yang sama juga disampaikan Syekh Ibnu Utsaimin. Beliau mengatakan, “Hewan yang hendak disembelih dibaringkan ke sebelah kiri, sehingga memudahkan bagi orang yang menyembelih. Karena penyembelih akan memotong hewan dengan tangan kanan, sehingga hewannya dibaringkan di lambung sebelah kiri. (Syarhul Mumthi’, 7:442).

▶ Menginjakkan kaki di leher hewan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

ضحى رسول الله صلّى الله عليه وسلّم بكبشين أملحين، فرأيته واضعاً قدمه على صفاحهما يسمي ويكبر
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan dua ekor domba. Aku lihat beliau meletakkan kaki beliau di leher hewan tersebut, kemudian membaca basmalah …. (HR. Bukhari dan Muslim).



▶ Bacaan ketika hendak menyembelih.

Beberapa saat sebelum menyembelih, harus membaca basmalah. Ini hukumnya wajib, menurut pendapat yang kuat. Allah berfirman,

وَ لاَ تَأْكُلُواْ مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ الله عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ..
Janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. (QS. Al-An’am: 121).

▶ Dianjurkan untuk membaca takbir (Allahu akbar) setelah membaca basmalah

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyembelih dua ekor domba bertanduk,…beliau sembelih dengan tangannya

Dan baca basmalah serta bertakbir….

(HR. Al Bukhari dan Muslim).

▶ Pada saat menyembelih dianjurkan menyebut nama orang yang jadi tujuan dikurbankannya herwan tersebut.

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma, bahwa suatu ketika didatangkan seekor domba. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih dengan tangan beliau. Ketika menyembelih beliau mengucapkan, ‘bismillah wallaahu akbar, ini kurban atas namaku dan atas nama orang yang tidak berkurban dari umatku.’ (HR. Abu Daud, At-Turmudzi dan disahihkan Al-Albani).

Setelah membaca bismillah Allahu akbar, dibolehkan juga apabila disertai dengan bacaan berikut :

hadza minka wa laka.” (HR. Abu Dawud, no. 2795) Atau

hadza minka wa laka ’anni atau ’an fulan (disebutkan nama shohibul kurban).

Jika yang menyembelih bukan shohibul kurban atau

Berdoa agar Allah menerima kurbannya dengan doa, ”Allahumma taqabbal minni atau min fulan (disebutkan nama shohibul kurban).” [1]

📝 Catatan :

Bacaan takbir dan menyebut nama sohibul kurban hukumnya sunnah, tidak wajib. Sehingga kurban tetap sah meskipun ketika menyembelih tidak membaca takbir dan menyebut nama sohibul kurban.

▶ Disembelih dengan cepat untuk meringankan apa yang dialami hewan kurban.

Sebagaimana hadits dari Syaddad bin Aus di atas.

▶ Pastikan bahwa bagian tenggorokan, kerongkongan, dua urat leher (kanan-kiri) telah pasti terpotong.

Syekh Abdul Aziz bin Baz menyebutkan bahwa penyembelihan yang sesuai syariat itu ada tiga keadaan

(dinukil dari Salatul Idain karya Syekh Sa’id Al-Qohthoni) :

Terputusnya tenggorokan, kerongkongan, dan dua urat leher. Ini adalah keadaan yang terbaik. Jika terputus empat hal ini maka sembelihannya halal menurut semua ulama.Terputusnya tenggorokan, kerongkongan, dan salah satu urat leher. 

Sembelihannya benar, halal, dan boleh dimakan, meskipun keadaan ini derajatnya di bawah kondisi yang pertama.Terputusnya tenggorokan dan kerongkongan saja, tanpa dua urat leher. Status sembelihannya sah dan halal, menurut sebagian ulama, dan merupakan pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini.

Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ما أنهر الدم وذكر اسم الله عليه فكل، ليس السن والظفر
“Selama mengalirkan darah dan telah disebut nama Allah maka makanlah. Asal tidak menggunakan gigi dan kuku.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

▶ Sebagian ulama menganjurkan agar membiarkan kaki kanan bergerak, sehingga hewan lebih cepat meregang nyawa.

Imam An-Nawawi mengatakan, “Dianjurkan untuk membaringkan sapi dan kambing ke arah kiri. Demikian keterangan dari Al-Baghawi dan ulama Madzhab Syafi’i. Mereka mengatakan, “Kaki kanannya dibiarkan… (Al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 8:408)

▶ Tidak boleh mematahkan leher sebelum hewan benar-benar mati.

Para ulama menegaskan, perbuatan semacam ini hukumnya dibenci. Karena akan semakin menambah rasa sakit hewan kurban. Demikian pula menguliti binatang, memasukkannya ke dalam air panas dan semacamnya. Semua ini tidak boleh dilakukan kecuali setelah dipastikan hewan itu benar-benar telah mati.

📌 Dinyatakan dalam Fatawa Syabakah Islamiyah, “Para ulama menegaskan makruhnya memutus kepala ketika menyembelih dengan sengaja. Khalil bin Ishaq dalam Mukhtashar-nya untuk Fiqih Maliki, ketika menyebutkan hal-hal yang dimakruhkan pada saat menyembelih, beliau mengatakan,

وتعمد إبانة رأس
“Diantara yang makruh adalah secara sengaja memutus kepala” (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 93893).

Pendapat yang kuat bahwa hewan yang putus kepalanya ketika disembelih hukumnya halal.

Imam Al-Mawardi –salah satu ulama Madzhab Syafi’i– mengatakan, “Diriwayatkan dari Imran bin Husain radhiallahu ‘anhu, bahwa beliau ditanya tentang menyembelih burung sampai putus lehernya? Sahabat Imran menjawab, ‘boleh dimakan.”

Imam Syafi’i mengatakan,

فإذا ذبحها فقطع رأسها فهي ذكية
“Jika ada orang menyembelih, kemudian memutus kepalanya maka statusnya sembelihannya yang sah” (Al-Hawi Al-Kabir, 15:224).

Allahu a’lam.
🔗🔗🔗🔗🔗🔗🔗🔗

[1] Tata Cara Kurban Tuntunan Nabi, Hal-92
artikel: konsultasisyariah.com

✒ Editor : Admin MDS
♻ Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini , semoga bermanfaat. Jazakumullahu khoiron.
Baca selengkapnya »
Sikap menghadapi orang marah dihadapan kita atau telah menfitnah dibelakang kita

Sikap menghadapi orang marah dihadapan kita atau telah menfitnah dibelakang kita

Demikianlah, setiap manusia akan menghadapi ujian dan cobaan selama hidup di dunia ini…

Lalu apa yang akan kita lakukan ?

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْ‌ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡ‌ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ۬ رَّحِيمٌ
“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada, apakah kamu tidak ingin diampuni Allah ? (QS. An-Nuur [24]: 22)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لا تغضب ولك الجنة
“Janganlah marah dan bagimu Surga” (HR. Ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Ausath no.2374, hadits dari Abu Darda’, lihat Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir no.7374 dan Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no.2749).

Seorang muslim bukan hanya baik dalam masalah aqidah, ibadah dan manhaj saja, tapi ia juga baik dalam masalah akhlak, sekali lagi ia juga harus baik dalam masalah akhlak. DAN INI YANG PALING BANYAK DITINGGALKAN.
mengaji di mesjid

Bacalah potret kaum salaf dibawah ini yang harus kita jadikan teladan :

Saat ditanya tanggapannya tentang orang yang menjelek-jelekkan dirinya, Fudhail bin ‘Iyadh رحمه الله berkata : “Demi Allah, aku benar-benar marah kepada yang menyuruhnya (yakni Iblis)”. Lalu dia berkata : “Ya Allah jika ia jujur, ampunilah aku, dan jika ia berdusta ampunilah ia”

Salman al-Farisi رضي الله عنه pernah dicaci maki oleh seseorang, lalu dia menjawab : “Jikalau timbangan amalku ringan, berarti aku lebih buruk dari apa yang kau katakan. Dan jikalau timbangan amalku berat, berarti apa yang kau katakan itu tidak berbahaya bagiku”

Ahnaf bin Qois رحمه الله pernah dicaci maki oleh seseorang, tetapi Ahnaf tetap diam saja. Orang itu mengulangi lagi makiannya, tetapi Ahnaf tetap diam saja. Lalu orang itu berkata : “Sialan ! Tiada yang menghalanginya untuk menjawab makianku selain kehinaanku di matanya”

Ibnu Abbas رضي الله عنه pernah dicaci maki oleh seseorang. Setelah selesai Ibnu Abbas berkata : “Wahai Ikrimah ! Apakah orang ini membutuhkan sesuatu yang bisa kau penuhi ?” Orang itu langsung menundukkan kepalanya dan malu”

Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه pernah dicaci-maki oleh seseorang. Kemudian Ali memberikan baju yang dia kenakan bergaris-garis kepada orang itu. Dan dia juga menyuruh seseorang memberikan uang 1000 dirham kepada orang itu” (lihat Sholahul Ummah fii ‘Uluwwil Himmah V/253-272 oleh Sayyid al-Afani).

Suatu malam Hasan al-Bashri رحمه الله memanjatkan doa seraya berkata :

“Ya Allah, ampunilah siapapun yang pernah menzhalimiku”, begitu banyak beliau mengulang-ulang doa itu hingga terdengar oleh seorang pria dan ia bertanya : “Wahai Abu Sa’id, malam ini sungguh aku mendengarmu mendoakan kebaikan (memohonkan ampunan kepada Allah) bagi siapapun yang telah menzhalimimu sehingga aku (sempat) berharap termasuk yang pernah berbuat zhalim kepadamu. Apa yang sesungguhnya mendorong engkau melakukan hal tersebut ?”.

Al-Hasan menjawab : “(Yang mendorongku tidak lain adalah) firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

فَمَنۡ عَفَا وَأَصۡلَحَ فَأَجۡرُهُ ۥ عَلَى ٱللَّهِ‌ۚ
“Barangsiapa memaafkan dan berbuat kebajikan, maka Allah akan melimpahkan pahala baginya” [QS. Asy-Syuura [26]: 40]. 

(lihat Syarah Shahih al-Bukhari oleh Ibnu Baththal VI/575)

Suatu hari sebongkah batu yang dilemparkan seseorang tanpa sengaja menimpa ar-Rabi’ bin Haitsam رحمه الله . Lemparan tersebut membuat kepala beliau mengalami luka yang cukup serius. Sambil mengusap darah dari wajahnya dia berdoa : “Ya Allah maafkanlah dia. Dia tidak sengaja melempariku dengan batu” (Shifatush Shafwah II/654)

Saudaraku, sudahkah akhlak kita seperti mereka…?

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ مَا شَاءَ
“Barangsiapa yang menahan kemarahannya padahal dia mampu untuk melampiaskannya, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan memanggilnya pada hari Kiamat di hadapan seluruh makhluk, lalu Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari mana yang ia sukai” (HR. Abu Dawud no. 4777, at-Tirmidzi no. 2021 dan Ibnu Majah no. 4286, hadits dari Mu’adz bin Anas al-Juhani)

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Follow Channel Telegram
@kajianislamtegardiatassunnah
Baca selengkapnya »
Petunjuk Nabi Dalam Shalat ‘Ied

Petunjuk Nabi Dalam Shalat ‘Ied

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat ‘ied di tanah lapang. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menunaikan shalatnya di masjid kecuali sekali saja, yaitu karena hujan. …
 
1. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat ‘ied di tanah lapang. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menunaikan shalatnya di masjid kecuali sekali saja, yaitu karena hujan.

2. Pada saat hari Raya ‘Idul Fitri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenakan pakaian terbaik (terindah).
Petunjuk Nabi Dalam Shalat ‘Ied

3. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa makan kurma -dengan jumlah ganjil- sebelum pergi melaksanakan shalat ‘ied. Tetapi pada ‘Idul Adha beliau tidak makan terlebih dahulu sampai beliau pulang, setelah itu baru beliau memakan sebagian daging binatang sembelihannya.

4. Dianjurkan untuk mandi sebelum pada hari ‘ied sebelum ke tanah lapang, sebagaimana hal ini dilakukan oleh Ibnu Umar yang dikenal semangat mengikuti sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

5. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berjalan (menuju tanah lapang) sambil berjalan kaki. Beliau biasa membawa sebuah tombak kecil. Jika sampai di tanah lapang, beliau menancapkan tombak tersebut dan shalat menghadapnya (sebagai sutroh atau pembatas ketika shalat).

6. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengakhirkan shalat ‘Idul Fitri (agar kaum muslimin memiliki kesempatan untuk membagikan zakat fitrinya) dan mempercepat pelaksanaan shalat ‘Idul Adha (supaya kaum muslimin bisa segera menyembelih binatang kurbannya).

7. Ibnu ‘Umar yang dikenal sangat meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah keluar menuju lapangan kecuali setelah matahari terbit, lalu beliau bertakbir dari rumahnya hingga ke tanah lapang.

8. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sampai di tanah lapang langsung menunaikan shalat tanpa ada adzan dan iqomah. Tidak ada juga ucapan, ‘Ash Sholatul Jami’ah‘. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga sahabatnya tidak menunaikan shalat sebelum (qobliyah) dan sesudah (ba’diyah) shalat ‘ied.

9. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat ‘ied dua raka’at terlebih dahulu kemudian berkhutbah. Pada rakaat pertama beliau bertakbir 7 kali berturut-turut setelah Takbiratul Ihram, dan berhenti sebentar di antara tiap takbir. Tidak disebutkan bacaan dzikir tertentu yang dibaca saat itu. Hanya saja ada riwayat dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa bacaan ketika itu adalah berisi pujian dan sanjungan kepada Allah ta’ala serta bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan diriwayatkan pula bahwa Ibnu Umar (yang dikenal semangat dalam mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)mengangkat kedua tangannya pada setiap takbir.

10. Setelah bertakbir, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat Al-Fatihah dan surat “Qaf” pada raka’at pertama serta surat “Al-Qamar” pada raka’at kedua. Kadang-kadang beliau membaca surat “Al-A’la” pada raka’at pertama dan “Al-Ghasyiyah” pada raka’at kedua. Kemudian beliau bertakbir lalu ruku’ dilanjutkan takbir 5 kali pada raka’at kedua lalu membaca Al-Fatihah dan surat lainnya.

11. Setelah menunaikan shalat, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap ke arah jamaah, sedang mereka tetap duduk di shaf masing-masing. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan khutbah yang berisi wejangan, anjuran dan larangan.

12. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di tanah dan tidak ada mimbar ketika beliau berkhutbah.

13. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memulai khutbahnya dengan ‘Alhamdulillah…‘ dan tidak terdapat dalam satu hadits pun yang menyebutkan beliau memulai khutbah ‘ied dengan bacaan takbir. Hanya saja dalam khutbahnya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak bacaan takbir.

14. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi keringanan kepada jamaah untuk tidak mendengar khutbah.

15. Diperbolehkan bagi kaum muslimin, jika ‘ied bertepatan dengan hari Jum’at untuk mencukupkan diri dengan shalat ‘ied saja dan tidak menghadiri shalat Jum’at.

16. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu melalui jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang (dari shalat) ‘ied.

Pembahasan ini disarikan dari kitab Zadul Ma’ad, Ibnul Qayyim al-Jauziyyah

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar
Artikel www.muslimah.or.id
Baca selengkapnya »
Tuntunan Nabi Saat Hari Raya

Tuntunan Nabi Saat Hari Raya

Perayaan ‘Iedul Fitri maupun ‘Iedul Adha merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Allāh. Dan ibadah tidak terlepas dari dua hal, yang semestinya harus ada, yaitu:

(1) Ikhlas ditujukan hanya untuk Allāh semata, dan

(2) Sesuai dengan tuntunan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Ada beberapa hal yang dituntunkan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam terkait dengan pelaksanaan hari raya, di antaranya:

(1) Mandi Sebelum ‘Ied.

Disunnahkan bersuci dengan mandi untuk hari raya karena hari itu adalah tempat berkumpulnya manusia untuk shalāt.

Namun, apabila hanya berwudhu saja, itu pun sah. (Ahkamul Iedain, Dr. Abdullah At Thayyar – edisi Indonesia).
Tuntunan Nabi Saat Hari Raya

Dari Nafi’, bahwasanya Ibnu Umar mandi pada saat ‘Iedul fitri sebelum pergi ke tanah lapang untuk shalāt (HR. Malik, sanadnya shahih).

Berkata pula Imam Sa’id bin Al Musayyib:

“Hal-hal yang disunnahkan saat Iedul Fitri (di antaranya) ada tiga: Berjalan menuju tanah lapang, makan sebelum shalāt ‘Ied, dan mandi.” (Diriwayatkan oleh Al Firyabi dengan sanad shahih, Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan).

(2) Makan di Hari Raya.

Disunnahkan makan saat ‘Iedul Fitri sebelum melaksanakan shalāt dan tidak makan saat ‘Iedul Adha sampai kembali dari shalāt dan makan dari daging sembelihan kurbannya.

Hal ini berdasarkan hadits dari Buraidah, bahwa beliau berkata:

"Rasūlullāh dahulu tidak keluar (berangkat) pada saat Iedul Fitri sampai beliau makan dan pada Iedul Adha tidak makan sampai beliau kembali, lalu beliau makan dari sembelihan kurbannya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, sanadnya hasan).

Imam Al Muhallab menjelaskan bahwa hikmah makan sebelum shalāt saat ‘Iedul Fitri adalah agar tidak ada sangkaan bahwa masih ada kewajiban puasa sampai dilaksanakannya shalāt ‘Iedul Fitri.

Seakan-akan Rasūlullāh mencegah persangkaan ini. (Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan).

(3) Memperindah (berhias) Diri pada Hari Raya.

Dalam suatu hadits, dijelaskan bahwa Umar pernah menawarkan jubah sutra kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam agar dipakai untuk berhias dengan baju tersebut di hari raya dan untuk menemui utusan. (HR. Bukhori dan Muslim).

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak mengingkari apa yang ada dalam persepsi Umar, yaitu bahwa saat hari raya dianjurkan berhias dengan pakaian terbaik, hal ini menunjukkan tentang sunnahnya hal tersebut. (Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan).

Perlu diingat, anjuran berhias saat hari raya ini tidak menjadikan seseorang melanggar yang diharamkan oleh Allāh, di antaranya larangan memakai pakaian sutra bagi laki-laki, emas bagi laki-laki, dan minyak wangi bagi kaum wanita.

(4) Berbeda Jalan antara Pergi ke Tanah Lapang dan Pulang darinya.

Disunnahkan mengambil jalan yang berbeda tatkala berangkat dan pulang, berdasarkan hadits dari Jabir, beliau berkata:

“Rasūlullāh membedakan jalan (saat berangkat dan pulang) saat iedul fitri.” (HR. Al Bukhāri).

Hikmahnya sangat banyak sekali di antaranya, agar dapat memberi salam pada orang yang ditemui di jalan, dapat membantu memenuhi kebutuhan orang yang ditemui di jalan, dan agar syiar-syiar Islam tampak di masyarakat. (Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan).

Disunnahkan pula bertakbir saat berjalan menuju tanah lapang, karena sesungguhnya Nabi apabila berangkat saat Iedul Fitri, beliau bertakbir hingga ke tanah lapang, dan sampai dilaksanakan shalāt, jika telah selesai shalāt, beliau berhenti bertakbir. (HR. Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shahih).

Diperbolehkan saling mengucapkan selamat tatkala ‘Iedul Fitri dengan:

“Taqabbalallahu minnaa wa minkum."
(Semoga Allāh menerima amal kita dan amal kalian.)

Atau dengan:

"A’aadahulahu ‘alainaa wa ‘alaika bil khairat war rahmah."
(Semoga Allāh membalasnya bagi kita dan kalian dengan kebaikan dan rahmat.)

Sebagaimana diriwayatkan dari beberapa sahabat. (Ahkamul Iedain, Dr. Abdullah At Thayyar – edisi Indonesia).

artikel muslim.or.id
Baca selengkapnya »
-->