IBX5A47BA52847EF DakwahPost: aqidah
Benarkah Turunnya Al-Qur'an 17 Romadhon?

Benarkah Turunnya Al-Qur'an 17 Romadhon?

Allah berfirman:

شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان فمن شهد منكم الشهر فليصمه
“Bulan Romadhon adalah bulan yang diturunkan padanya Al-Qur’an sebagai petunjuk kepada sekalian manusia dan sebagai keterangan dari petunjuk dan furqon (pembeda). Maka barangsiapa dari kalian menyaksikan bulan tersebut, maka hendaklah ia berpuasa.” (Al-Baqoroh: 185)

Dari Watsilah bin Al-Asqo’, bahwa Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أنزلت صحف إبراهيم أول ليلة من رمضان ، و أنزلت التوراة لست مضين من رمضان ،و أنزل الإنجيل لثلاث عشرة ليلة خلت من رمضان ، و أنزل الزبور لثمان عشرة خلت من رمضان ، و أنزل القرآن لأربع و عشرين خلت من رمضان
“Shuhuf Ibrohim diturunkan pada malam pertama bulan Romadhon. Taurot diturunkan pada enam hari pertama bulan Romadhon. Injil diturunkan pada malam ke tigabelas bulan Romadhon. Zabur diturunkan pada hari ke delapanbelas bulan Romadhon, dan Al-Qur’an diturunkan pada hari ke duapuluh empat dari bulan Romadhon.” 

(HR. Ahmad 4/107, An-Nu’ali dalam haditsnya 131/2, ‘Abdul Ghoni Al-Maqdisi dalam “Fadho’il Romadhon” 53/1, Ibnu ‘Asakir 2/167/1 dari ‘Imron Al-Qotthon dari Qotadah dari Abul Malih dari Watsilah secara marfu’ - "Silsilah Ash-Shohihah” 4/104)

Benarkah Turunnya Al-Qur'an 17 Romadhon

Al-Hafidzh Ibnu Katsir Al-Qurosyi Asy-Syafi’i menjelaskan, "Shuhuf Taurot, Zabur dan Injil diturunkan secara langsung sekaligus kepada para Nabi. Sedangkan Al-Qur’an Allah turunkan sekaligus ke Baitul ‘Izzah (langit dunia) pada bulan Ramadhon bertepatan dengan Lailatul Qodr. Allah berfirman:

"Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur’an pada malam (Lailatul) Qodr.”

Allah juga berfirman:

“Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur’an pada malam yang penuh berkah.”
Kemudian Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Rosul-Nya shollallahu ‘alaihi wasallam secara berangsur dari langit dunia sesuai dengan peristiwa yang dialami oleh beliau shollallahu ’alaihi wasallam selama 23 tahun lamanya." (Tafsir Ibnu Katsir)

Adapun wahyu yang pertama kali turun adalag surat Al-'Alaq ayat pertama sampai kelima yang jatuh pada hari Senin. Sebagaimana sabda Nabi shollallahu 'alaihi wasallam, “Pada hari ini (Senin) aku dilahirkan dan pada hari ini pula wahyu turun kepadaku.” (HR. Muslim 1162)

Sedangkan hari Senin di bulan Romadhon pada tahun itu berada di antara tanggal 7, 14, 21, 28. Syaikh Shofiyyurohman Al-Mubarokfuri dalam "Ar-Rohiqul Makhtum" menguatkan wahyu pertama turun jatuh pada tanggal 21 Romadhon, ini yang lebih sesuai dalil dan bertepatan dengan Lailatul Qodr.

Maka Al-Qur'an turun dari Lauhul Mahfudzh ke langit dunia dengan sekaligus tanggal 24 Romadhon. Kemudian turun wahyu pertama kepada Nabi shollallahu 'alaihi wasallam pada tanggal 21 Romadhon. Jadi sebetulnya Al-Qur'an tidak diturunkan pada tanggal 17 Romadhon seperti yang diyakini sebagian orang dalam peringatan "Nuzulul Qur'an", wa billahit tawfiq.

Al-Ustâdz Fikri Abul Hasan
Artikel manhajul-haq
Baca selengkapnya »
Kapan Terjadinya Lailatul Qodr ?

Kapan Terjadinya Lailatul Qodr ?

Termasuk keistimewaan bulan Romadhon atas seluruh bulan yaitu adanya malam kemuliaan atau yang disebut dengan "Lailatul Qodr". Malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Malam dimana para malaikat Allah dan malaikat Jibril turun ke bumi.

Malam yang penuh berkah ini berlangsung di antara sepuluh malam terakhir bulan Romadhon, khususnya di malam-malam ganjil. Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda:

فيه ليلة خير من ألف شهر من حرم خيرها فقد حرم
"Di bulan Romadhon itu ada suatu malam yang keutamaannya lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang diharomkan dari kebaikan pada malam itu, maka sungguh dia telah dijauhkan dari kebaikan." (HR. 'Abdurrozzaq 4/175, Ahmad 2/385, An-Nasa'i 4/129)

Kapan Terjadinya Lailatul Qodr

Beliau juga bersabda, "Carilah Lailatul Qodr di sepuluh malam terakhir dari bulan Romadhon.” (HR. Al-Bukhori 2020 dan Muslim 1169)

Lailatul Qodr tidak terjadi hanya dalam satu waktu, akan tetapi berpindah-pindah dari tahun ke tahun sebagaimana yang diriwayatkan oleh para Shohabat Nabi rodhiyallahu 'anhum:


1. Abu Sa’id Al-Khudri meriwayatkan, Lailatul Qodr terjadi pada malam ke 21 Romadhon (Shohih Al-Bukhori 1877 dan Muslim 1995) yaitu ditandai dengan langit terang tidak berawan dan kemudian turun hujan pada malam harinya menjelang shubuh.

2. Abdullah bin Unais meriwayatkan, Lailatul Qodr terjadi pada malam ke 23 Romadhon yang juga ditandai dengan turun hujan pada malam harinya menjelang shubuh (Shohih Muslim 1997)

3. Ibnu ‘Abbas meriwayatkan, Lailatul Qodr terjadi pada malam ke 24 Romadhon (Musnad At-Thoyalisi 2167 - Fat-hul Bari 4/262)

4. Ubay bin Ka’ab meriwayatkan, Lailatul Qodr terjadi pada malam ke 27 Romadhon dan ditandai keesokan harinya dengan matahari yang terbit dengan sinar yang tidak memancar kuat (Shohih Muslim 1999)

5. Abu Huroiroh meriwayatkan, Lailatul Qodr terjadi pada malam 27 atau 29 Romadhon. (Musnad At-Thoyalisi 2545)

Adapun pendapat sebagian kalangan bahwa malam yang agung itu sudah diangkat oleh Allah maka ini pendapat yang batil. Abdullah bin Yahnus berkata, aku tanyakan kepada Abu Huroiroh:

زعموا أن ليلة القدر رُفعت! قال: كذب من قال ذلك
“Ada orang menyangka bahwa Lailatul Qodr sudah diangkat (tidak akan terjadi lagi)?” Maka Abu Huroiroh menyangkal, “Telah dusta orang yang mengatakannya.” (Riwayat ‘Abdurrozzaq 4/252)

Al-Imam Al-Mutawalli Asy-Syafi’i menghikayatkan bahwa omongan seperti itu (Lailatul Qodr tidak akan terjadi lagi) berasal dari kalangan Syiah Rofidhoh. (At-Tatimmah)

Lailatul Qodr akan senantiasa berlangsung setiap tahun di antara sepuluh malam terakhir bulan Romadhon. Terjadinya malam yang agung itu ditandai dengan ciri-cirinya yang nampak di malam hari dan di keesokan harinya. Maka persiapkan diri dengan amalan ketaatan, sholat, membaca Qur'an, berdzikir, berdoa dan beristighfar.

Hanya orang-orang yang diberi tawfiq oleh Allah yang akan meraih keutamaannya dan diampuni dosa-dosanya. Alloohumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni.

Al-Ustâdz Fikri Abul Hasan
Artikel manhajul-haq
Baca selengkapnya »
Lailatul Qadar Terjadi pada malam jumat bertepatan dengan malam ganjil

Lailatul Qadar Terjadi pada malam jumat bertepatan dengan malam ganjil

Tidak benar ada keterangan dari Ibnu Taimiyah bahwa beliau mengatakan, ‘Jika malam jumat bertepatan dengan malam ganjil maka kemungkinan besar lailatul qadar.’

Semalam ada broadcast message yang berbunyi

Berkata syeikhul islam ibn taimiyyah: Apabila bertepatannya antara malam jumat dg salah satu malam ganjil disepuluh terakhir ramadhan maka kemungkinan lailatur qadar.

Malam ini malam jumat dan bertepatan mlm 27 ramadhan…ini baru terjadi setelah 53 tahun baru terulang.

jumat + waktu mustajab diakhir jumat + doa menjelang berbuka puasa + lailatul qadar 27 ramadhan = masya Allah jgn sia2kan kesempatan ini.

‏يقول شيخ الاسلام ابن تيمية : اذا وافقت ليلة الجمعة احدى ليالي الوتر من العشر الأواخر فهي أحرى ان تكون ليلة القدر غداً ليلة ٢٧ وليلة جمعة ‏لاوال مره ٥٣ سنه الجمعه + اخر ساعه استجابه + دعوة الفطور + ليلة ٢٧ رمضان = لا تضيع هذا اليوم
benarkah ini dari ibnu taimiyah ustadz?

via Tanya Ustadz for Android

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pertama, syaikhul islam mengingkari sikap seseorang yang mengistimewakan malam jumat untuk ibadah dari pada malam-malam lainnya. Sebagaimana keterangan yang dicantumkan dalam Fatawa al-Mishriyah (1/78).

Dalil yang menunjukkan larangan mengkhususkan malam jumat untuk ibadah adalah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِى وَلاَ تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الأَيَّامِ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ فِى صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ
“Janganlah mengkhususkan malam Jum’at dengan shalat tertentu dan janganlah mengkhususkan hari Jum’at dengan berpuasa kecuali jika berpapasan dengan puasa yang mesti dikerjakan ketika itu.” (HR. Muslim no. 1144).

Lailatul Qadar

Kedua, beberapa ulama mengingkari adanya keterangan tersebut dari Syaikhul Islam. Tidak benar bahwa Syaikhul Islam pernah memberi pernyataan di atas.

Syaikh Sulaiman al-Majid – seorang Hakim di Riyadh dan anggota Majlis Syuro Arab Saudi – pernah ditanya,

”Apakah benar jika salah satu malam ganjil di sepuluh hari terakhir ramadhan bertepatan dengan hari jumat maka besar kemungkinan itu lailatul qadar.”

Jawaban berliau,

لا نعلم في الشريعة دليلاً على أنه إذا وافقت ليلة الجمعة ليلة وتر فإنها تكون ليلة القدر، وعليه: فلا يُجزم بذلك ولا يُعتقد صحته، والمشروع هو الاجتهاد في ليالي العشر كلها؛ فإن من فعل ذلك فقد أدرك ليلة القدر بيقين، والله أعلم
Kami tidak menjumpai adanya satupun dalil dalam syariat yang menyebutkan bahwa apabila malam jumat bertepatan dengan salah satu malam ganjil, maka itu lailatul qadar. Oleh karena itu, tidak boleh dipastikan dan diyakini kebenarannya. Yang dianjurkan adalah bersungguh-sungguh di sepuluh malam terakhir semuanya. Orang yang melakukan hal ini, bisa dipastikan dia akan mendapatkan lailatul qadar.

Dalam fatwa yang lain, beliau juga menegasakan,

لم يصح عن ابن تيمية أنه قال: إذا وافقت ليلة الجمعة ليلة وتر فأحرى أن تكون ليلة القدر
Tidak benar ada keterangan dari Ibnu Taimiyah bahwa beliau mengatakan, ‘Jika malam jumat bertepatan dengan malam ganjil maka kemungkinan besar lailatul qadar.’

Sumber: http://www.feqhweb.com/vb/t19393.html

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
Baca selengkapnya »
Meluruskan Tebakan Malam Lailatul Qadar

Meluruskan Tebakan Malam Lailatul Qadar

Menurut kebanyakan para ulama peneliti meragukan kebenaran penyandaran ucapan tersebut kepada Ibnu Taimiyah, bahkan yang masyhur pendapat itu digulirkan oleh Ibnu Rajab yang mengutip dari Ibnu Hubairah bahwa bila malam ganjil bertepatan dengan malam Jumat maka harapan terjadinya lailatul qadar amat terbuka pada malam tersebut dibanding yang lainnya.

" لطائف المعارف لابن رجب " (ص/203) .
Syaikh Sulaiman al-Majid – seorang Hakim di Riyadh dan anggota Majlis Syuro Arab Saudi – pernah ditanya,

”Apakah benar jika salah satu malam ganjil di sepuluh hari terakhir ramadhan bertepatan dengan hari jumat maka besar kemungkinan itu lailatul qadar.”

Jawaban beliau,

لا نعلم في الشريعة دليلاً على أنه إذا وافقت ليلة الجمعة ليلة وتر فإنها تكون ليلة القدر، وعليه: فلا يُجزم بذلك ولا يُعتقد صحته، والمشروع هو الاجتهاد في ليالي العشر كلها؛ فإن من فعل ذلك فقد أدرك ليلة القدر بيقين، والله أعلم
Kami tidak menjumpai adanya satupun dalil dalam syariat yang menyebutkan bahwa apabila malam jumat bertepatan dengan salah satu malam ganjil, maka itu lailatul qadar. Oleh karena itu, tidak boleh dipastikan dan diyakini kebenarannya. Yang dianjurkan adalah bersungguh-sungguh di sepuluh malam terakhir semuanya. Orang yang melakukan hal ini, bisa dipastikan dia akan mendapatkan lailatul qadar.

Meluruskan Tebakan Malam Lailatul Qadar

Dalam fatwa yang lain, beliau juga menegasakan,

لم يصح عن ابن تيمية أنه قال: إذا وافقت ليلة الجمعة ليلة وتر فأحرى أن تكون ليلة القدر
Tidak benar ada keterangan dari Ibnu Taimiyah bahwa beliau mengatakan, ‘Jika malam jumat bertepatan dengan malam ganjil maka kemungkinan besar lailatul qadar.’

وقال الحافظ ابن حجر رحمه الله : " لَيْلَةُ الْقَدْرِ مُنْحَصِرَةٌ فِي رَمَضَان ، ثُمَّ فِي الْعَشْر الْأَخِيرِ مِنْهُ ، ثُمَّ فِي أَوْتَارِهِ ، لَا فِي لَيْلَةٍ مِنْهُ بِعَيْنِهَا , وَهَذَا هُوَ الَّذِي يَدُلُّ عَلَيْهِ مَجْمُوع الْأَخْبَار الْوَارِدَة فِيهَا " انتهى من " فتح الباري " (4/260).
Imam Ibnu Hajar berkata, Lailatul Qadar hanya terjadi pada bulan Ramadhan kemudian lebih berpotensi terjadi pada sepuluh terakhir dan lebih berpeluang besar terjadi pada malam-malam ganjil namun tidak bisa dipastikan malam yang mana, berdasarkan berbagai hadits-hadits yang terkait dengannya.

وقال النووي رحمه الله : " حَدِيث أُبَيّ بْن كَعْب أَنَّهُ كَانَ يَحْلِف أَنَّهَا لَيْلَة سَبْع وَعِشْرِينَ , وَهَذَا أَحَد الْمَذَاهِب فِيهَا , وَأَكْثَر الْعُلَمَاء عَلَى أَنَّهَا لَيْلَة مُبْهَمَة مِنْ الْعَشْر الْأَوَاخِر مِنْ رَمَضَان , وَأَرْجَاهَا أَوْتَارُهَا , وَأَرْجَاهَا لَيْلَة سَبْع وَعِشْرِينَ وَثَلَاث وَعِشْرِينَ وَإِحْدَى وَعِشْرِينَ , وَأَكْثَرهمْ أَنَّهَا لَيْلَة مُعَيَّنَة لَا تَنْتَقِل ، وَقَالَ الْمُحَقِّقُونَ : إِنَّهَا تَنْتَقِل فَتَكُون فِي سَنَة : لَيْلَة سَبْع وَعِشْرِينَ , وَفِي سَنَة : لَيْلَة ثَلَاث , وَسَنَة : لَيْلَة إِحْدَى , وَلَيْلَة أُخْرَى وَهَذَا أَظْهَر ، وَفِيهِ جَمْع بَيْن الْأَحَادِيث الْمُخْتَلِفَة فِيهَا " .

انتهى من " شرح صحيح مسلم للنووي " (6/43).
Imam Nawawi berkata, Hadits Ubay bin Ka'ab, di mana beliau bersumpah bahwa lailatul qadar terjadi pada malam kedua puluh tujuh merupakan pendapat beliau murni, namun kebanyakan ulama berpendapat malam lailatul qadar disamarkan pada malam-malam sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan, sementara berpeluang tinggi terjadi pada malam-malam ganjil dan paling tinggi peluang terjadiya pada malam kedua puluh tujuh, kedua puluh tiga atau kedua puluh satu. Sebagian ulama berpendapat bahwa lailatul qadar pada malam tertentu tidak berpindah-pindah, namun kebanyakan ulama peneliti menegaskan bahwa malam lailatul qadar berpindah-pindah, sehingga pada setiap tahunnya mungkin terjadi pada malam kedua puluh tujuh, malam kedua puluh tiga atau malam yang lainnya.

Zainal Abidin Syamsuddin.
Baca selengkapnya »
KAPAN TERJADINYA LAILATUL QODAR ❓

KAPAN TERJADINYA LAILATUL QODAR ❓

ASY-SYAIKH MUHAMMAD IBNU SHOLIH AL-'UTSAIMIN رحمه الله

السؤال ٣٩❓
اعتاد بعض المسلمين وصف ليلة سبع وعشرين من رمضان بأنها ليلة القدر. فهل لهذا التحديد أصل؟ وهل عليه دليل؟
الجواب٣٩

نعم لهذا التحديد أصل، وهو أن ليلة سبع وعشرين أرجى ما تكون ليلة للقدر كما جاء ذلك في صحيح مسلم من حديث أُبي بن كعب رضي الله عنه. ولكن القول الراجح من أقوال أهل العلم التي بلغت فوق أربعين قولاً أن ليلة القدر في العشر الأواخر ولا سيما في السبع الأواخر منها، فقد تكون ليلة سبع وعشرين، وقد تكون ليلة خمس وعشرين، وقد تكون ليلةسبع وعشرين، وقد تكون ليلة ثلاث وعشرين، وقد تكون ليلة تسع وعشرين، وقد تكون ليلة الثامن والعشرين، وقد تكون ليلة السادس والعشرين، وقد تكون ليلة الرابع والعشرين.

ولذلك ينبغي للإنسان أن يجتهد في كل الليالي حتى لا يحرم من فضلها وأجرها؛ فقد قال اللّٰه تعالى؛
[[إنآ أنزلنه في ليلةٍ مّبرَكَةٍ إنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْن]]َ سورة الدخان :٣
وقال عز وجل : [[إنّآ أنزلنه في ليلةِ القَدْرِ (١) ومآ أدرىٰك ما ليلة القدر (٢) ليلةُ القَدرِ خيرٌ مّن ألف شهر (٣) تَنَزّلُ الملئكة والرّوح فيها بإذْنِ ربّهم مّن كُلّ أَمْرٍ (٤) سلمٌ هي حتّى مَطْلَعِ الفَجْرِ (٥)]] سورة القدر .
ASY-SYAIKH DITANYA

Kebiasaan kaum muslimin menyifatkan malam ke 27 dari bulan Romadhon adalah Lailatul Qodar. Apakah pembatasan seperti ini ada asalnya, dan adakah dalilnya?

KAPAN TERJADINYA LAILATUL QODAR

ASY-SYAIKH MENJAWAB

Ya, pembatasan (penentuan) seperti ini memiliki asal (dalil) yaitu bahwa malam 27 bulan Romadhon adalah yang paling diharapkan terjadinya Lailatul Qodar. Sebagaimana di dalam Shohih Muslim dari hadits Ubay bin Ka'ab rodhiyallohu 'anhu. Akan tetapi, yang kuat dari pendapat para ulama yang mencapai lebih dari 40 pendapat, bahwa malam Lailatul Qodar itu di 10 malam terakhir di bulan Romadhon. Terlebih di 7 hari terakhir. Terkadang terjadi di malam ke 27, atau bisa jadi di malam 25, atau di malam 23, 29, bahkan mungkin saja pada malam 28, 26, atau 24.

Oleh sebab itu, selayaknya bagi seseorang untuk bersungguh-sungguh di setiap malam agar tidak terhalang meraih keutamaan dan pahalanya. Alloh Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman :

إنآ أنزلنه في ليلةٍ مّبرَكَةٍ إنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْن
Sesungguhnya kamilah yang menurunkannya (Al-Qur'an) pada suatu malam yang diberkahi (Lailatul Qodar) dan sesungguhnya kamilah yang memberikan peringatan. (Ad-Dukhon: 3)

Alloh 'Azza wa Jalla berfirman:

إنّآ أنزلنه في ليلةِ القَدْرِ (١) ومآ أدرىٰك ما ليلة القدر (٢) ليلةُ القَدرِ خيرٌ مّن ألف شهر (٣) تَنَزّلُ الملئكة والرّوح فيها بإذْنِ ربّهم مّن كُلّ أَمْرٍ (٤) سلمٌ هي حتّى مَطْلَعِ الفَجْرِ (٥)
"Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan (Lailatul Qodar). Dan tahukah kamu apakah malam Lailatul Qodar itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari 1000 bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan malaikat jibril dengan izin Robb-Nya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan hingga terbit fajar". (Al-Qadar : 1 - 5 ).

Sumber: ثمانية وأربعون سؤاﻻ في الصيام

Alih Bahasa: Miqdad al-Ghifary hafizhahullaah.
Editor : Admin AsySyamil.com
Baca selengkapnya »
Tni Polri dimata Pengikut Berpemahaman Khawarij

Tni Polri dimata Pengikut Berpemahaman Khawarij

Teroris menyerang TNI POLRI karena dianggap sebagai Anshorut Thogut, artinya antek-antek pemerintah yang kafir karena tidak berhukum dengan syari'at Islam secara menyeluruh.

Mereka berdalil dengan firman Allah ta'ala,

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” [Al-Maidah: 44]

Mereka memahami bahwa kekafiran yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah kekafiran besar, sehingga siapa saja pelakunya walau dia seorang muslim telah menjadi kafir atau murtad dari Islam. Padahal mereka telah terjebak dalam pemahaman Khawarij dan menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Al-Mufassir As-Sam’ani rahimahullah berkata,

واعلم أن الخوارج يستدلون بهذه الآية ، ويقولون : من لم يحكم بما أنزل الله فهو كافر ، وأهل السنة قالوا : لا يكفر بترك الحكم
“Ketahuilah, sesungguhnya Khawarij berdalil dengan ayat ini (dalam pengkafiran). Mereka berkata: Siapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka dia kafir. Adapun Ahlus Sunnah berkata: Tidak kafir dengan sekedar tidak berhukum (dengan hukum Allah).” [Tafsir As-Sam’ani, 2/42]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah memperingatkan akan kemunculan Khawarij dan sifat-sifat mereka,

قَوْمٌ يَقْرَؤُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنَ الرَّمِيَّةِ يَقْتُلُونَ أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الأَوْثَانِ لَئِنْ أَنَا أَدْرَكْتُهُمْ لأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ
“Mereka adalah satu kaum yang membaca Al-Qur’an namun tidak malampaui kerongkongan mereka (tidak memahami Al-Qur’an dengan baik), mereka keluar dari agama bagaikan anak panah yang menembus buruannya, mereka membunuh kaum muslimin dan membiarkan penyembah berhala. Andaikan aku bertemu mereka, maka akan kuperangi mereka seperti terhadap kaum ‘Aad.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu]

Maka inilah keyakinan Khawarij terhadap para penguasa muslim hari ini, mereka mengkafirkan para penguasa karena tidak berhukum dengan syari’at Islam secara menyeluruh dengan dalil firman Allah ta’ala dalam surat Al-Maidah ayat 44.

Mereka tidak memahami bahwa sebab turunnya ayat ini (Surat Al-Maidah: 44) berkaitan dengan orang-orang yang memang kafir dari kalangan Yahudi dan kaum musyrikin, sehingga untuk menerapkan ayat ini kepada kaum muslimin tidak sama dengan orang-orang kafir.

Sahabat yang Mulia Al-Barro bin 'Azib radhiyallaahu'anhu berkata,

الآية في المشركين
“Ayat ini tentang kaum musyrikin." [Tafsir As-Sam’ani, 2/42]

Sehingga apabila ayat ini dihadapkan kepada kaum muslimin maka status kekafirannya berkurang, yaitu menjadi kufur kecil, tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari Islam.

Sahabat yang Mulia Ibnu Abbas radhiyallaahu'anhuma berkata,

الآية في المسلمين، وأراد به كفر دون كفر
"Ayat ini tentang kaum muslimin juga, namun yang dimaksudkan dengan kekufuran adalah kufur kecil.” [Tafsir As-Sam’ani, 2/42]

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Albani rahimahullah berkata,

“Maka tidak boleh membawa ayat ini atas sebagian penguasa muslim dan para hakimnya yang berhukum dengan selain hukum Allah ta’ala dengan berbagai bentuk undang-undang buatan manusia.

Aku katakan, tidak boleh mengkafirkan dan mengeluarkan mereka dari agama dengan sebab perbuatan itu, apabila mereka masih beriman kepada Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam.

Meski mereka telah berbuat jahat karena berhukum tidak dengan hukum Allah ta’ala tetap saja tidak boleh mengkafirkan mereka.

Karena walaupun mereka sama dengan Yahudi dalam permasalahan ini, namun mereka berbeda dengan Yahudi dalam permasalahan yang lain, yaitu iman dan pembenaran mereka terhadap ajaran yang Allah ta’ala turunkan, berbeda dengan orang Yahudi yang menentangnya.” [Ta’liq Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah terhadap hadits no. 2552]

PEMAHAMAN GENERASI TERBAIK TERHADAP AL-MAIDAH: 44

1) Sahabat yang Mulia, Turjumanul Qur’an, Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma berkata,

“Bukan kekafiran (besar) sebagaimana pendapat mereka, sesungguhnya itu bukan kekafiran yang mengeluarkan dari agama, tapi kekafiran kecil (kufrun duna kufrin).” [Riwayat Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (2/313), beliau menyatakan shahih dan disepakati oleh Adz-Dzahabi, juga dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah, pada ta’liq beliau terhadap hadits no. 2552]

2) Sahabat yang Mulia Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma juga berkata,

“Barangsiapa yang mengingkari hukum Allah maka dia kafir, adapun yang masih mengakuinya namun tidak berhukum dengannya maka dia zalim lagi fasik.” [Riwayat Ath-Thobari dalam Jami’ul Bayan (12063), dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah, pada ta’liq beliau terhadap hadits no. 2552]

3) Tabi’in yang mulia ‘Atho bin Abi Rabah rahimahullah berkata,

“Maksudnya adalah kekafiran di bawah kekafiran (yakni kekafiran kecil), kefasikan di bawah kefasikan dan kezaliman di bawah kezaliman.” [Riwayat Ath-Thobari dalam Jami’ul Bayan (12047-12051), dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah, pada ta’liq beliau terhadap hadits no. 2552]

4) Tabi’in yang mulia Thawus bin Kaysan rahimahullah berkata,

“Bukan kekafiran (besar) yang mengeluarkan dari agama.” [Riwayat Ath-Thobari dalam Jami’ul Bayan (12052), dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah, pada ta’liq beliau terhadap hadits no. 2552]

5) Tabi’ut Tabi’in yang mulia, Abdullah bin Thawus rahimahumallah berkata,

“Tidaklah seperti orang yang kafir kepada Allah Ta’ala, Malaikat-Nya, Kitab-Nya dan Rasul-Nya.” [Riwayat Ath-Thobari dalam Jami’ul Bayan (12055), dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam tahqiq beliau terhadap Kitab Al-Iman karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 256]

Inilah sesungguhnya manhaj generasi terbaik yang kita diperintahkan untuk mengikuti mereka dalam beragama, siapa yang menyimpang dari pemahaman ini maka dia telah keluar dari jalan satu golongan yang selamat dan masuk kepada 72 golongan yang sesat.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

إن أمتي ستفترق على اثنتين وسبعين كلها في النار إلا واحدة وهي الجماعة
“Sesungguhnya ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu, yaitu al-jama’ah.” [HR. Ibnu Abi ‘Ashim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Zhilalul Jannah: 64]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

و تفترق أمتي على ثلاث و سبعين ملة كلهم في النار إلا ملة واحدة ما أنا عليه و أصحابي
“Dan akan berpecah ummatku menjadi 73 millah, semuanya di neraka kecuali satu, yaitu yang mengikuti aku dan para sahabatku.” [HR. Tirmidzi dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu’anhuma, Shohihul Jami’: 9474 dan Al-Misykah: 171 pada tahqiq kedua]

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

فأخبر النبي أن الفرقة الناجية هي التي تكون على ما كان عليه هو وأصحابه فمتبعهم إذا يكون من الفرقة الناجية لأنه على ما هم عليه ومخالفهم من الاثنتين والسبعين التي في النار
“Maka Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mengabarkan bahwa golongan yang selamat (al-firqotun najiyah) adalah yang mengikuti beliau dan sahabat-sahabatnya. Jadi, orang yang mengikuti mereka menjadi bagian dari al-firqotun najiyah karena dia berada di atas jalan mereka, sedangkan yang menyelisihi maka dia termasuk ke dalam 72 golongan yang di neraka.” [Dzammut Ta’wil, hal. 29 no. 53]

Inilah akar penyimpangan Khawarij (dan seluruh kelompok menyimpang), yaitu karena mereka berusaha memahami Al-Qur’an dengan pemahaman sendiri, tidak mengikuti pemahaman sahabat nabi Muhammad shallallaahu'alaihi wa sallam, pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Oleh karena itu Sahabat yang Mulia Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu’anhuma ketika berdialog dengan Khawarij, pertama kali yang beliau ingatkan kepada mereka adalah,

أتيتكم من عند أصحاب النبي صلى الله عليه و سلم المهاجرين والأنصار ومن عند بن عم النبي صلى الله عليه و سلم وصهره وعليهم نزل القرآن فهم أعلم بتأويله منكم وليس فيكم منهم أحد
“Aku adalah utusan sahabat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, Muhajirin, Anshor, dan sepupu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan juga menantu beliau (yaitu Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, Khalifah ketika itu), aku datang kepada kalian untuk menyampaikan pendapat mereka, karena kepada merekalah Al-Qur’an diturunkan, maka mereka lebih mengetahui akan tafsirnya daripada kalian, sedang tidak ada seorang pun dari kalangan sahabat yang bersama kalian.” [Diriwayatkan An-Nasai, Al-Baihaqi, Al-Hakim dan yang lainnya]

Simak Video:

Baca selengkapnya »
sekte sufi “al-Brailliyah” Ajarkan Pengikutnya wudhu tanpa air

sekte sufi “al-Brailliyah” Ajarkan Pengikutnya wudhu tanpa air




Video dua pria sedang berwudhu di halaman Masjidil Haram yang tengah viral di media sosial, telah menjadi perbincangan banyak orang.

Karena hebohnya, sebuah stasisun televisi “Shofa” sempat membahas rekaman video amatir tersebut.

Dalam salah satu acaranya, yang menghadirkan Dr. Ali Al-Zahrani, seorang pakar Akidah dan Madzahib di Universitas King Su’ud Riyadh. Dia menjelaskan bahwa dua orang yang tengah berwudhu di video tersebut, sedang mengamalkan keyakinan sebuah sekte sufi yang dikenal dengan nama “al-Brailliyah.”

Sekte ini berkembang di India dan didirikan oleh seorang yang bernama Abdul Musthofa pada masa penjajahan Inggris. Dia mengaku kepada pengikutnya sebagai orang bermadzhab Imam Abu Hanifah dalam masalah fikih. Fakta ini berdasarkan sebuah tesis yang pernah ditulis mahasiswa pasca sarjana di Universitas Islam Imam Muhammad bin Su’ud di Riyadh.

Dr Ali al-Zahraniy memastikan bahwa pendiri sekte ini juga dikenal sebagai pendakwah kepada kesyirikan dalam beberapa ajarannya. Pendirinya Abdul Musthafa diketahui seorang yang hilang ingatannya, hafalannya yang rusak dan lisannya yang tajam, yang menyebabkan banyak pengikutnya tidak setuju dengannya.

Dalam tayangan di stasiun televisi “Shofa” tersebut juga ditampilkan beberapa komentar pengikutnya di akun twitter yang meyakini bahwa apa yang dilihat di Makkah al-Mukarramah adalah suci, termasuk udaranya, sehingga dapat digunakan sebagai air untuk berwudhu. eremnews

source saudinesia.com
Baca selengkapnya »
MELURUSKAN SOFYAN TSAURI (Mantan Napi Teroris)

MELURUSKAN SOFYAN TSAURI (Mantan Napi Teroris)

Tolong bantu share se luas luasnya ikhwan/i fillah

Di acara ILC tvone hari selasa, 15 Mei 2018 kemarin Sofyan Tsauri seorang mantan napi teroris membuat pengakuan bahwa selama 13 tahun ia menjadi polisi kemudian banting setir bergelut dalam dunia terorisme, dikarenakan ajaran #Takfiri yang ia baca dari kitab karya Imam Muhammad bin Abdul Wahhab yang berjudul "ad-Durar as-Saniyyah". Dan poin inilah yang ingin saya coba luruskan melalui tulisan ini agar tidak menjad fitnah yang lebih besar karena acara ILC disiarkan secara nasional.

Sekilas mengenai Imam Muhammad bin Abdul Wahhab, beliau adalah seorang ulama Saudi yang bersama Muhammad bin Saud menyatukan suku-suku di Arab Saudi menjadi satu buah dinasti bernama Emirat Diriyah melalui dakwah Tauhidnya, yang kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya Kingdom of Saudi Arabia (KSA).

Yang menjadi ciri dari Kitab Tauhid Imam Muhammad bin Abdul Wahhab yaitu pengajaran Aqidah yang hanya mengacu pada Al Quran dan Hadits berdasarkan pemahaman dari 3 generasi Islam pertama (orang-orang terdahulu = shalafush shalih), yaitu para Sahabat, Tabi'in dan Tabi'ut Tabi'in. Dan umat yang mengikuti manhaj Salaf ini disebut Salafy.
Karena itulah umat muslim Saudi atau mereka yang mengikuti ajaran Imam Muhammad bin Abdul Wahhab ini dikenal dengan nama kelompok Salafy.

Di masa perjuangannya Imam Muhammad bin Abdul Wahhab mendapatkan banyak fitnah dari musuh-musuh dakwah sang Imam, kitab-kitabnya banyak dipalsukan yang tentu saja isinya bertentangan dengan kitab aslinya. Bahkan kitab-kitab palsu tersebut dipelajari di universitas-universitas Barat. Tentu saja agar pandangan-pandangannya tidak tersebar luas termasuk untuk melemahkan kekuatan kerajaan Saudi Arabia (motif politik).

Fitnah-fitnah seputar Imam Muhammad bin Abdul Wahhab hingga hari ini bahkan belumlah hilang, meskipun semasa hidup sang Imam sudah banyak membuat bantahan, termasuk dari para muridnya dan ulama salaf setelahnya melalui berbagai kitab yang mereka tulis.

Salah satu fitnah yang menimpa sang Imam yaitu seperti yang diungkap oleh Sofyan Tsauri bahwa Kitab "ad-Durar as-Saniyah" adalah kitab wajib para teroris dengan ajaran Takfiri-nya.

Sampai dengan hari ini, Salafy atau sebagian orang menyebutnya dengan Wahaby selalu dikait-kaitkan dengan ideologi yang dianut oleh para pelaku terorisme karena anggapan bahwa Imam Muhammad bin Abdul Wahhab mengajarkan paham Takfiri tsb, yang kemudian dampaknya Salafy/Wahaby banyak dituduh sesat oleh pengikut mazhab-mazhab yang lain. Padahal tentu saja itu tidak benar dan bantahan atas fitnah tersebut sudah banyak ditulis di berbagai kitab.

***

Saya akan menukil bantahan atas fitnah-fitnah terhadap Imam Muhammad bin Abdul Wahhab dengan mengambil sumber dari:

Kitab Tashhihul Mafahimil Khoti’ati
Karya: Syaikh DR. Shalih bin Abdul Aziz As-Sindy
(Dosen Aqidah Universitas Islam Madinah)

Diterjemahkan oleh: Nur Kholis Kurdian, Lc.
(Dosen Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafii, Jember, Jawa Timur)
Dikoreksi ulang oleh: Abdullah Zaen, Lc. & Muhammad Yasir, Lc.



>>> Poin Pertama: Tentang Pengkafiran

Di antara tuduhan terbesar yang tersebar adalah: bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab beserta pengikutnya mengkafirkan kaum muslimin, dan meyakini bahwa nikah dengan mereka hukumnya tidak sah, kecuali jika menikah dengan orang yang sepaham dengannya atau orang yang hijrah kepadanya.

Beliau telah membantah tuduhan ini di berbagai bukunya, antara lain ucapannya, “Tuduhan bahwa aku telah mengkafirkan kaum muslimin adalah dusta besar yang diada-adakan orang yang memusuhiku; untuk menghalang-halangi orang dari agama ini. Maka aku katakan, “Maha suci Engkau (wahai Rabbku), ini adalah kedustaan yang besar.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah, I/100).

“Bermacam-macam tuduhan telah dilontarkan kepada kami, fitnah pun makin menjadi-jadi, mereka mengerahkan pasukan berkuda dan pasukan berjalan kaki dari kalangan iblis untuk menyerang kami. Dan di antara kebohongan yang mereka sebarkan, adalah tuduhan bahwa aku mengkafirkan seluruh kaum muslimin kecuali pengikutku, dan nikah dengan mereka hukumnya tidak sah. Untuk menukil tuduhan tersebut saja orang yang berakal merasa malu, apalagi untuk mempercayainya. Bagaimana mungkin orang yang berakal memiliki keyakinan seperti itu? Apakah mungkin seorang muslim meyakini keyakinan demikian?. Aku berlepas diri dari tuduhan itu. Tuduhan itu tidaklah dilontarkan melainkan dari orang yang tidak waras dan linglung. Semoga Allah ta’ala memerangi orang-orang yang bermaksud jelek.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah, I/80).

“Yang aku kafirkan adalah orang yang telah mengerti ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia menghinanya, menghalangi manusia darinya, serta memusuhi penganutnya. Inilah yang aku kafirkan, dan alhamdulillah kebanyakan umat ini tidaklah demikian keadaannya.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah, I/73).
.
>>> Poin Kedua: Tentang Pemikiran Khawarij

Sebagaian orang menuduh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berpemikiran Khawarij, yaitu mengkafirkan orang yang berbuat maksiat.

Beliau menjawab, “Aku tidak akan mengatakan tentang seorang pun dari kaum muslimin bahwa dia pasti masuk surga atau neraka, kecuali orang yang telah dipersaksikan demikian oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku berharap semoga orang yang baik masuk surga, dan aku mengkhawatirkan orang yang berbuat jelek akan masuk neraka. Aku tidak mengkafirkan seorang pun dari kaum muslimin, serta mengeluarkannya dari agama ini, hanya karena dia terjerumus ke suatu perbuatan dosa.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah, I/32).
.
>>> Poin Ketiga: Tentang Menyifati Allah Ta’ala Dengan Sifat Tubuh, Seperti Tubuhnya Makhluk

Di antara isu-isu yang tersebar di publik, bahwasanya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab mensifati Allah ta’ala dengan sifat tubuh, yakni menyamakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk-Nya.

Beliau telah menjelaskan keyakinannya dalam masalah ini, dan kenyataannya beliau amat jauh dari keyakinan batil di atas. Beliau berkata, “Termasuk bagian dari keimanan kepada Allah ta’ala adalah: mengimani sifat-sifat-Nya yang telah disebutkan dalam Kitab dan Sunnah, tanpa mengotori keimanan tersebut dengan tahrif (merubah lafaz maupun makna) dan ta’thil (pengingkaran secara total maupun parsial). Aku meyakini bahwa tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah subhanahu wa ta’ala, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Aku tidak mengingkari sifat-sifat Allah yang disebutkan di dalam al-Qur’an maupun Sunnah. Aku juga tidak menyelewengkan makna sifat-sifat tersebut, atau berupaya untuk mereka-reka keadaan serta bentuk yang hakiki dari sifat-sifat itu. Aku tidak menyerupakan sifat-sifat Allah ta’ala dengan sifat-sifat makhluk-Nya; karena tidak ada yang serupa dengan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya dan Dia tidak dianalogikan dengan para makhluk-Nya.

Sesungguhnya Allah ta’ala Maha Mengetahui Dzat-Nya serta makhluk-Nya juga Maha benar firman-Nya. Allah telah berlepas diri dari keyakinan-keyakinan golongan takyif (yang berupaya untuk mereka-reka keadaan serta bentuk yang hakiki dari sifat-sifat Allah), maupun golongan tamtsil (yang menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk-Nya). Juga Allah telah berlepas diri dari keyakinan-keyakinan golongan tahrif (yang merubah lafazh maupun makna sifat-sifat-Nya) maupun golongan ta’thil (yang mengingkari sifat-sifat-Nya secara total maupun parsial). Allah ta’ala berfirman,

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ. وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (الصافات:180-182)
“Maha suci Rabb-mu yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Rabb sekalian alam”. (QS.Ash-Shafat: 180-182).” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah, I/29).

“Sebagaimana telah maklum bahwa ta’thil (pengingkaran sifat-sifat Allah secara total maupun parsial) adalah lawan dari tajsim (menyifati Allah ta’ala dengan sifat jasmani seperti jasmani makhluk). Dua keyakinan ini saling bermusuhan. Dan keyakinan yang benar adalah sikap yang tengah di antara keduanya (yaitu: meyakini sifat-sifat Allah tanpa menyerupakannya dengan sifat-sifat makhluk-Nya).” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah, III/11).
.
>>> Poin Keempat: Keyakinan Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab Tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Di antara tuduhan besar yang dilontarkan ‘musuh-musuh’ dakwah Syaikh kepada beliau dalam masalah ini adalah:

1. Beliau dituduh tidak meyakini bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup Para Nabi dan Rasul.

Demikianlah tuduhan yang tersebar, padahal semua kitab karangan beliau telah membuktikan dustanya tuduhan ini. Di antara perkataan beliau yang membantah tuduhan tersebut:

“Aku beriman bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup Para Nabi dan Rasul. Keimanan seseorang tidak dianggap sah hingga dia beriman dengan kenabian dan kerasulannya.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/32).

“Orang yang paling bahagia, paling besar kenikmatannya dan paling tinggi derajatnya adalah orang yang paling setia mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengamalkan ajaran beliau.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: II/21).

2. Beliau dituduh tidak memenuhi hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta tidak memosisikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana mestinya.

Untuk menjelaskan hakikat tuduhan ini, kami akan kutip perkataan Syaikh yang menjelaskan keyakinan beliau tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau berkata, “Ketika Allah ta’ala berkehendak untuk menampakkan Tauhid dan menyempurnakan agama-Nya di atas muka bumi, serta meninggikan kalimat Allah dan merendahkan kalimat orang-orang kafir; maka Allah ta’ala mengutus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup para rasul dan kekasih Rabb alam semesta. Beliau senantiasa dikenal setiap masa, bahkan disebutkan pula dalam kitab Taurat Nabi Musa ‘alaihis salam dan kitab Injil Nabi Isa ‘alaihis salam. Hingga Allah ta’ala memunculkan mutiara tersebut di antara kabilah Bani Kinanah dan Bani Zahrah. Allah mengutus beliau di masa-masa terputusnya (pengiriman) rasul-rasul, lalu menunjukinya jalan yang lurus.

Sebelum beliau diutus menjadi Rasul, telah tampak pada dirinya tanda-tanda kenabian yang tidak bisa ditiru oleh siapapun yang hidup di zamannya. Allah ta’ala menumbuhkan beliau dengan sebaik-baiknya hingga menjadi orang yang paling mulia akhlaknya, paling tinggi budi pekertinya, paling tangguh kesabarannya, paling baik dengan para tetangganya, serta paling jujur tutur katanya, sehingga kaumnya menjulukinya sebagai al-amin (yang dipercaya); karena di dalam pribadinya terdapat perilaku yang baik dan sifat-sifat yang terpuji.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: II/90-91).

“Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pemimpin para pemberi syafaat, dan pemberi syafaat agung (di padang mahsyar), Nabi Adam ‘alaihis salam dan keturunannya kelak berada di bawah benderanya.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/86).

“Rasul pertama adalah Nabi Nuh ‘alaihis salam, dan rasul yang terakhir dan yang paling utama adalah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/143).

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan risalah kepada umatnya dengan sempurna dan menjelaskannya dengan sebaik-baiknya. Beliau adalah penasihat terbaik bagi para hamba Allah, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Beliau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, berjihad dengan sebenar-benarnya di jalan Allah ta’ala, serta beribadah kepada Allah ta’ala hingga ajalnya tiba.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: II/21).

Syaikh menjelaskan bahwa sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Salah seorang dari kalian tidak dianggap beriman hingga aku lebih dia cintai daripada orang tua dan anak-anaknya serta seluruh manusia”, menunjukkan akan wajibnya mengedepankan kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas kecintaan kepada diri sendiri, keluarga dan harta bendanya. (Kitab at-Tauhid: hal. 108).

3. Beliau dituduh mengingkari syafa’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syaikh menjawab tuduhan ini dengan berkata, “Mereka menuduh kami mengingkari syafa'at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Subhanallah! ini adalah kedustaan yang besar. Bahkan kami menjadikan Allah ta’ala sebagai saksi, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang diberi izin Allah ta’ala untuk memberikan syafa'at dan pemilik syafa'at agung (di padang mahsyar). Kami memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah agar mengizinkan beliau untuk memberikan syafa'atnya kepada kita, dan semoga Allah ta’ala mengumpulkan kita bersamanya kelak.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/63-64).

“Yang mengingkari adanya syafa'at adalah ahlul bid’ah dan orang yang sesat. Akan tetapi syafa’at tersebut tidak akan bisa diraih kecuali setelah kita mendapatkan izin serta ridha dari Allah ta’ala. Sebagaimana firman-Nya,

وَلا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى
“Dan mereka tiada memberi syafa'at melainkan kepada orang yang diridhai Allah.” (QS. Al-Anbiya’: 28)

Allah ta’ala juga berfirman.

مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ
“Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa seizin dari-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 255)

(Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/31).

Kemudian beliau menjelaskan sebab timbulnya tuduhan dusta tersebut, “Tatkala kusebutkan kepada mereka apa yang difirmankan Allah ta’ala, apa yang disabdakan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta apa yang dijelaskan para ulama dari berbagai mazhab, tentang perintah untuk memurnikan ibadah untuk Allah ta’ala semata serta larangan untuk menyerupai kaum Yahudi dan Nasrani yang menjadikan pendeta-pendeta dan rahib-rahib sebagai tuhan selain Allah ta’ala, mereka pun berkata, “Kamu telah melecehkan para nabi, orang-orang shalih dan para wali.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: II/50).

>>> Poin Kelima: Tentang Ahlul Bait (Keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Di antara tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepada Syaikh: mereka mengatakan bahwa beliau membenci ahlul bait serta tidak memenuhi hak-hak mereka sebagaimana mestinya.

Jawabannya: tuduhan tersebut tidak sesuai dengan fakta; karena kenyataannya beliau mengakui kedudukan mereka dan mencintai serta menghormati mereka, bahkan beliau mengingkari orang yang benci terhadap mereka, beliau berkata, “Allah ta’ala telah mewajibkan kepada umat ini untuk memenuhi hak-hak keluarga Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk mengabaikan hak-hak mereka, dengan prasangka bahwa hal itu adalah bagian dari tauhid. Keyakinan seperti itu termasuk dalam sikap ghuluw (berlebih-lebihan). Yang kami ingkari adalah model pemuliaan ahlul bait dengan cara meyakini bahwa dalam diri mereka terdapat sifat-sifat ketuhanan, juga aku mengingkari orang-orang yang menghormati oknum-oknum yang mendakwakan hal tersebut.” (Kitab Muallafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab: V/284).

Siapapun yang membaca biografi beliau, niscaya dia akan mengetahui kebenaran apa yang diucapkannya. Cukuplah sebagai bukti akan kebenaran ucapan beliau; tatkala beliau menamai enam dari tujuh orang putra-putranya dengan nama-nama ahlul bait. Mereka adalah: Ali, Abdullah, Husain, Hasan, Ibrahim dan Fatimah. Ini merupakan salah satu bukti yang jelas tentang besarnya kecintaan beliau terhadap ahlul bait.

>>> Poin Keenam: Tentang Karamah Para Wali

Sebagian orang menyebarkan isu bahwa beliau mengingkari adanya karamah para wali.

Perkataan beliau di berbagai pembahasan dalam kitab-kitabnya membuktikan dustanya tuduhan ini. Di antara ucapan beliau, “Aku meyakini keberadaan karamah para wali.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/32).

Sungguh mengherankan, bagaimana mungkin beliau dituduh demikian, padahal beliau adalah orang yang menyifati golongan yang mengingkari karamah para wali dengan sebutan ahlul bid’ah dan golongan sesat?! Beliau berkata, “Dan tiada yang mengingkari karamah para wali melainkan ahlul bid’ah dan golongan yang sesat.” (Kitab Muallafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab: I/169).

>>> Poin Ketujuh: Tentang Menyelisihi Pendapat Para Ulama

Sebagian orang mengatakan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam dakwahnya telah menyelisihi para ulama, tidak menghiraukan perkataan mereka, tidak pula merujuk kepada kitab-kitab mereka. Bahkan beliau dituduh telah menciptakan ajaran baru dan membawa pemahaman madzhab yang kelima.

Sebaik-baik bantahan atas tuduhan ini adalah pengakuan beliau sendiri, “Aku adalah orang yang bertaqlid kepada Kitab dan Sunnah, serta para salafus salih. Aku juga bergantung dengan perkataan para imam madzhab yang empat; Imam Abu Hanifah al-Nu’man bin Tsabit, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal. Semoga Allah merahmati mereka semua.” (Kitab Muallafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab: V/97).

“Seandainya kalian mendapatkan fatwaku menyelisihi ijma’ para ulama, maka tunjukkan padaku.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/53)

“Jika kalian mengira bahwa para ulama telah menyelisihi apa yang aku ajarkan, sesungguhnya di hadapan kalian ada kitab-kitab mereka, (bacalah dengan seksama dan bandingkan dengan apa yang kuajarkan).” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: II/58).

“Aku selalu membandingkan perkataan orang yang bermadzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i maupun Hambali dengan perkataan ulama yang mu’tamad (terpercaya) dalam madzhab tersebut.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/82).

“Walhasil yang aku ingkari adalah pengkultusan terhadap selain Allah ta’ala. Maka jika ajaranku bersumber dari pendapatku sendiri, atau dari buku yang tidak tepercaya, atau semata-mata dari hasil taqlidku kepada para ulama mazhabku (mazhab Hambali); maka buanglah jauh-jauh ajaranku. Namun jika ajaranku bersumber dari Kitab dan Sunnah serta Ijma’ para ulama dari berbagai mazhab; maka tidak layak bagi orang yang beriman terhadap Allah ta’ala dan hari akhir, untuk menolaknya; hanya gara-gara kebanyakan orang di zamannya, atau di negerinya menyelisihi ajaran tersebut.” (Kitab ad-Durar as-Saniyah: I/76).

Penutup

Di penghujung tulisan ini, kami (penulis kitab) akan mempersembahkan nasihat yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab:

Nasehat pertama:
adalah untuk orang-orang yang memusuhi dakwah ini dan para pengikutnya, yang senantiasa berusaha untuk menghalanginya, serta melontarkan berbagai macam tuduhan batil kepadanya.

Beliau berkata, “Aku ingatkan orang-orang yang menyelisihiku: Seluruh manusia berkewajiban untuk mengikuti apa yang telah diwasiatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Bukankah kitab-kitab agama ada pada kalian? Bacalah! Janganlah kalian mengambil sedikitpun dari perkataanku! Namun jika kalian mendapatkan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam kitab-kitab tersebut, maka amalkanlah! Meskipun kebanyakan manusia tidak mengamalkannya…

Jangan kalian menaatiku! Namun taatilah perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang telah disebutkan di dalam kitab-kitab kalian…

Ketahuilah bahwa tidak ada yang bisa menyelamatkan kalian melainkan hanya berpegang teguh kepada tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hidup di dunia ini hanyalah sementara. Tidak pantas bagi orang yang berakal untuk melupakan surga dan neraka.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/89-90).

“Aku mengajak orang-orang yang menyelisihiku untuk berpegang dengan empat perkara: Kitabullah, Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ijma’ para ulama. Jika kalian tetap keras kepala, maka aku mengajak kalian untuk mubahalah (masing-masing pihak di antara orang-orang yang berbeda pendapat berdoa kepada Allah ta’ala dengan sungguh-sungguh, agar Allah ta’ala menjatuhkan laknat kepada pihak yang salah).” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/55).

Nasehat kedua:
adalah bagi orang yang sedang merasa bingung, tidak mengerti mana yang benar dan mana yang salah dalam perkara ini.

Syaikh berkata, “Mohonlah (petunjuk) dengan sungguh-sungguh kepada Allah ta’ala, dengan merendahkan diri kepada-Nya, terutama pada waktu-waktu yang mustajab; di antaranya pada waktu sepertiga malam yang terakhir, di akhir shalat, dan antara azan dengan iqamat.

Bacalah doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, terutama yang tertera dalam hadits shahih. Seperti doa yang senantiasa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam baca,

اللهم رب جبرائيل وميكائيل وإسرافيل, فاطر السماوات والأرض, عالم الغيب والشهادة, أنت تحكم بين عبادك فيما كانوا فيه يختلفون, اهدني لما اختلف فيه من الحق بإذنك, إنك تهدي من تشاء إلى صراط مستقيم.
“Wahai Rabb Jibril, Mikail dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Engkaulah yang memutuskan perselisihan di antara hamba-hamba-Mu. Dengan izin-Mu, tunjukkanlah kepadaku kebenaran yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Engkaulah yang menunjuki orang yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus.”

Hendaknya engkau sering memanjatkan doa tersebut, kehadirat Dzat yang mengabulkan doa orang yang sedang tertimpa kesusahan. Dialah Yang menunjukkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam kepada kebenaran, meskipun menyelisihi seluruh manusia pada zamannya. Ucapkan pula, “Wahai Dzat yang mengajari Nabi Ibrahim, ajarilah aku.”

Dan jika kamu merasa berat (ketika akan mengamalkan kebenaran) gara-gara menyelisihi masyarakatmu, maka renungkanlah firman Allah ta’ala,

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ. إِنَّهُمْ لَنْ يُغْنُوا عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئاً وَإِنَّ الظَّالِمِينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ (الجاثـية: 18-19).
“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sama sekali tidak akan dapat melindungimu dari (siksaan) Allah. Dan sesungguhnya orang-orang dzalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Jatsiyah: 18-19).

Juga firman Allah ta’ala,

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ (الأنعام:116)
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An’am: 116)

Renungkanlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Islam pertama kali datang dianggap asing, dan (di akhir zaman) akan kembali dianggap asing.”

Juga sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Allah ta’ala tidak mencabut ilmu dari muka bumi ini dengan begitu saja, akan tetapi mencabutnya dengan meninggalnya para ulama. Jika tiada lagi ulama di muka bumi, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemuka agama; sehingga mereka sendiri sesat dan menyesatkan.”

Begitu pula sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ikutilah sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasidin sesudahku (Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khathab, Utsman bin ‘Affan dan Ali bin Abi Thalib).”

Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan jauhilah hal-hal baru dalam agama (bid’ah), karena semua bid’ah dalam agama adalah sesat.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/42-43).

“Dan jika telah jelas bagimu bahwa inilah kebenaran, yang tidak ada keraguan lagi di dalamnya, maka wajib bagimu untuk menyampaikan kebenaran itu kepada umat manusia dan mengajarkannya kepada kaum muslimin dan muslimat.

Semoga Allah ta’ala merahmati orang yang menunaikan kewajibannya, bertaubat kepada-Nya, dan mengakui kesalahannya. Ketahuilah bahwa orang yang bertaubat dari suatu kesalahan, bagaikan orang yang tidak memiliki dosa.

Semoga Allah ta’ala menunjukkan kepada kami, kalian dan seluruh saudara-saudara kita jalan yang dicintai dan diridhai-Nya. Wassala” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: II/43).

***
ditulis oleh Heni Nuraini
Baca selengkapnya »
Hukum Memajang Foto Tokoh Spiritual !!!

Hukum Memajang Foto Tokoh Spiritual !!!

Sebagian orang ada yang memajang foto tokoh spiritual/agama (Kyai,Tengku, Ustadz) dengan tujuan sekedar dipajang/dikenang, ada tujuan lainnya untuk ngalap berkah, bahkan untuk pesugihan (cepat kaya). Bahkan bukan hanya tokoh spiritual, tokoh ghaib pun dipajang spt foto Nyi Roro Kidul..bkn nyi Roro utara loh yaa..hhh.

Bismillah...

Semakin keras larangan memajang foto jika yang dipasang adl foto tokoh spiritual atau agama. Karena sebab peribadahan kepada orang shalih adalah bermula dari gambar. Gambar yang dipajang tersebu akhirnya diagungkan & terjadi lah kesyirikan di masa silam.

Hukum Memajang Foto Tokoh Spiritual !!!

Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa Ummu Habibah dan Ummu Salamah menceritakan tentang gereja yg mereka lihat di negeri Habasyah. Di dalamnya terdapat gambar-gambar. Mereka menceritakan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau bersabda,

إِنَّ أُولَئِكَ إِذَا كَانَ فِيهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا ، وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ ، فَأُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Sesungguhnya mrk itu apabila di antara mereka terdapat orang yang shalih yang meninggal dunia, maka mrk pun memba ngun di atas kuburnya masjid (tempat ibadah) dan mrk memasang di dalamnya gambar2 untuk mengenang orang2 shalih tsb. Mrk itu adl makhluk yg paling buruk di sisi Allah pd hr kiamat kelak” (HR. Bukhari no. 427 & Muslim no. 528).

Begitu pula kita dapat mengambil pelajaran dari firman Allah Ta’ala,

وَقَالُوا لا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلا سُوَاعًا وَلا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا
“Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr” (QS. Nuh: 23).

Disebutkan dalam Shahih Al Bukhari,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – صَارَتِ الأَوْثَانُ الَّتِى كَانَتْ فِى قَوْمِ نُوحٍ فِى الْعَرَبِ بَعْدُ ، أَمَّا وُدٌّ كَانَتْ لِكَلْبٍ بِدَوْمَةِ الْجَنْدَلِ ، وَأَمَّا سُوَاعٌ كَانَتْ لِهُذَيْلٍ ، وَأَمَّا يَغُوثُ فَكَانَتْ لِمُرَادٍ ثُمَّ لِبَنِى غُطَيْفٍ بِالْجُرُفِ عِنْدَ سَبَا ، وَأَمَّا يَعُوقُ فَكَانَتْ لِهَمْدَانَ ، وَأَمَّا نَسْرٌ فَكَانَتْ لِحِمْيَرَ ، لآلِ ذِى الْكَلاَعِ . أَسْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِينَ مِنْ قَوْمِ نُوحٍ ، فَلَمَّا هَلَكُوا أَوْحَى الشَّيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ أَنِ انْصِبُوا إِلَى مَجَالِسِهِمُ الَّتِى كَانُوا يَجْلِسُونَ أَنْصَابًا ، وَسَمُّوهَا بِأَسْمَائِهِمْ فَفَعَلُوا فَلَمْ تُعْبَدْ حَتَّى إِذَا هَلَكَ أُولَئِكَ وَتَنَسَّخَ الْعِلْمُ عُبِدَتْ
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Patung-patung yang ada di kaum Nuh menjadi sesembahan orang Arab setelah itu. (Patung) Wadd menjadi sesembahan bagi Bani Kalb di Dumatul-Jandal, (patung) Suwaa’ bg Bani Hud zail, (patung) Yaghuuts bg Bani Murad & Bani Ghuthaif di Al-Jauf sblh Saba’, Ya’uuq bg Bani Hamdaan & Nasr bg Bani Himyar & kemudian bg keluarga Dzul-Kalaa’.

Mereka adalah nama orang-orang shalih dari kaum Nuh. Ktk mereka meninggal, maka syaithan membisikkan kpd kaum mrk (yaitu kaum Nuh) agar meletakkan patung-patung mereka dalam majelis-majelis dimana kaum Nuh biasa menga dakan pertemuan, sekaligus memberi nama patung-patung tersebut dengan nama2 mrk. Mk mrk pun melakukannya. Patung tsb tdklah disem bah pd waktu itu. Akhirnya stlh generasi pertama mrk meninggal & ilmu tlh dilupa kan, mk patung2 tsb akhirnya disembah”

(Diriwayatkan oleh Bukhari no. 4920).

Jadi intinya..

Bermula dari membuat gambar/patung, lalu dipajang, lantas beralih pada pengagungan & menyembahnya. perbuatan seperti itu adalah jalan menuju kesyirikan sehingga dilarang.

Hanya Allah yg memberi taufik & hidayah. Moga Allah senantiasa membimbing kita pada akidah yang benar.

Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc
Artikel Rumaysho.Com
Baca selengkapnya »
TINGGALKAN AJARAN SUFI

TINGGALKAN AJARAN SUFI

Jauhi pemahaman Sufi, berhenti membuat-buat ibadah baru yang tidak pernah dicontohkan nabi, jangan suka mengamalkan ibadah-ibadah warisan nenek moyang yang tidak jelas asal usulnya!

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan sahabat adalah tauladan dan patokan kita dalam menjalankan suatu ibadah. Kerjakan apa yang mereka pernah ajarkan dan lakukan, tinggalkan jika mereka tidak lakukan, karena hukum asal ibadah adalah HARAM! Sampai ada dalil yang memerintahkan!

padahal Allah berfirman : .

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا
“Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.” (Al-Ahzab: 21)

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." ( Ali-Imran: 31 )

Usaha Ulama Nusantara Membrantas Ajaran Sufi

Sesungguhnya kebenaran dan kebathilan akan terus berselisih hingga datangnya ketetapan Allah ‘Azza wa Jalla. Dan antara kedua-duanya memiliki pembela masing-masing. Akan tetapi akibat yang baik akan dimiliki yang haq dan pembelanya. Sekiranya kebathilan itu nampak di suatu zaman maka harus dilenyapkan dan dibantah. Dan demikianlah seterusnya hingga pada akhirnya yang haq lah yang akan unggul dan menang.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman yang terjemahannya, “Dan katakanlah, ‘Kebenaran telah datang dan yang bathil telah lenyap.’ Sungguh, yang bathil itu pasti akan lenyap.” (QS Al-Isra’: 81)

Di awal-awal Islam mengibarkan panjinya di Nusantara, ajaran sufi sangatlah nampak dan jelas eksistensinya. Terlebih pada abad ke-6 dan ke-7. Hal ini sebagaimana pernyataan Prof. Dr. Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya, Menemukan Sejarah (hal. 160), “Tarekat mulai berkembang dan mempunyai pengaruh besar pada abad ke-6 dan ke-7 di Indonesia.”

Di antara tokoh-tokohnya pun sampai dapat menempati kedudukan tinggi di kerajaan, yaitu sebagai penasehat sultan atau raja, atau minimal sebagai panutan masyarakat. Sebut saja misalnya Hamzah Al-Fanshuri, Syamsuddin As-Sumatrani (w. 1039), Muhammad Yusuf Tajul Khalwati Al-Makassari (1037-1111), Abdush Shamad bin Abdurrahman Al-Falimbani (1116-1203), Muhammad Nafis bin Idris Al-Banjari (1148-… ), dan lainnya. Bahkan di antaranya pula ada yang meracik tarekat baru, seperti Ahmad bin ‘Abdul Ghaffar As-Sambasi (1217-1289) pendiri tarekat Naqsyabandiyyah wa Qadiriyyah yang kemudian diageni oleh ‘Abdul Karim Al-Bantani.

Para tokoh sufi ini sudah banyak memberikan ajaran-ajaran yang mengerikan di tengah kaum muslimin saat itu. Ajaran yang paling ekstrim ialah ajaran hulul dan wihdatul wujud atau dalam bahasa Jawa dikenal dengan “manunggaling kawulo Gusti”. Syaikh Muhammad Nuruddin Ar-Raniri, seorang syaikhul islam di kerajaan, meriwayatkan dalam kitabnya, Fath Al-Mubin sebagaimana dalam Jaringan Ulama hal. 219, tentang faham wihdatul wujud di masa Sultan Iskandar Tsani yang merupakan warisan daripada Hamzah Al-Fanshuri dan Syamsuddin As-Sumatrani, “…dan lagi kata mereka itu, al-‘alam huwa Allah, huwa al-‘alam, bahwa alam itu Allah dan Allah itu alam.”

Dalam kitabnya berjudul Tanbih Ath-Thullab fi Ma’rifah Mulk Al-Wahhab, Syamsuddin menyatakan sebagai berikut, “I’tiqad tentang makna laa ilaaha illallaah adalah tiada wujud hanya Allah, yaitu tidak ada wujud pada hakikatnya melainkan hanya Wujud AllahTa’ala, menafikan (meniadakan) sekutu daripada Wujud Allah, mengitsbatkan keesaan Wujud-Nya, dengan tiada wujud haqiqi bagi lain-Nya. Maka wujud semua makhluk itu zhil (bayangan bagi Allah) lagi majazi. Yang majazi pada hakikatnya tiada ada pada sisi Allah.”

Dalam perjalannanya, ajaran sufi mulai mendapat tanggapan, kritikan, dan bantahan dari para ulama setempat. Ar-Raniri, misalnya, ia sangat menentang dan tidak setuju terhadap ajaran hulul dan wihdatul wujud meski dirinya juga masih berkesufi-sufian. Bahkan ia memvonis kafir lagi murtad bagi siapa pun yang tidak mau melepaskan diri dari ajaran itu karena sedemikian bahayanya. Selain vonis kafir, kedudukannya sebagai syaikhul islam di kerajaan dimanfaatkannya dengan dukungan Sultan Iskandar Tsani untuk menjatuhkan hukum mati bagi pemilik keyakinan kafir ini dan membakar seluruh buku yang mendukungnya, di antaranya adalah buku-buku Hamzah Al-Fanshuri.

TINGGALKAN AJARAN SUFI

Dalam Fath Al-Mubin, Ar-Raniri menceritakan, “…dan lagi kata mereka itu, al-‘alam huwa Allah, huwa al-‘alam, bahwa alam itu Allah dan Allah itu alam. Setelah sudah demikian itu, maka disuruh raja akan mereka itu membawa tobat daripada itikad yang kufur itu. Maka dengan beberapa kali disuruh raja jua akan mereka itu membawa tobat, maka sekali-kali tiada ia mau tobat, hingga berperanglah mereka itu dengan penyuruh raja. Maka disuruh oleh raja bunuh akan mereka, dan disuruhnya himpunkan segala kitab karangan guru mereka di tengah medan masjid yang bernama Bayt Al-Rahman. Maka disuruh oleh raja tunukan segala kitab itu.”

Penulis Jaringan Ulama (hal. 219) meriwayatkan, “Lebih jauh lagi, dia (Ar-Raniri) menantang para pendukung doktrin Wujudiyah memperdebatkan masalah ini. Ar-Raniri menyatakan, perdebatan itu diselenggarakan di istana Kasultanan di hadapan Sultan atau Sultanah. Dalam beberapa kasus, perdebatan-perdebatan sangat sengit dan berlangsung selama beberapa hari.”

Daripada itu, Syaikh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al-Banjari (1122-1227) pun turut andil dalam memberantas ajaranwihdatul wujud (kisahnya dapat ‘dinikmati’ dalam buku Beberapa Aspek tentang Islam di Indonesia Abad Ke19 hlm. 95-96). Ceritanya persis dengan cerita Al-Hallaj dan Syaikh Siti Jenar di Jawa. Sebagian sejarawan menilai kisah-kisah semacam ini hanya semacam dongeng sebagaimana penilaian Buya Hamka dan sebagian yang lain meyakini benar adanya. 

Perbedaan-perbedaan di kalagan sejarawan semacam ini kiranya dapat dimaklumi. Betapa tidak, penulisan sejarah di negeri ini memang mengalami telat waktu. Penduduk negerinya sangat jarang yang berminat mendokumentasikan sejarahnya sendiri sehingga tidak ada jaminan kevalidan sebuah episode sejarah. Justru yang banyak menulis sejarah negeri ini adalah sarjana-sarjana Barat yang kafir dengan kemungkinan besar banyak diselewengkan sesuai misi mereka. Oleh karena itu, salah satu faktor jayanya penjajah Barat di bumi pertiwi adalah berkat sejarah bohong yang mereka palsukan. Hal ini disebutkan oleh Prof. Ahmad Mansur Suryanegara dalam Api Sejarah 1.

Maka kiranya penduduk negeri ini perlu berterimakasih kepada Syaikh Muhammad Nuruddin bin Hasanji Ar-Raniri yang telah meluangkan waktu dan tenaganya untuk menulis beberapa episode sejarah negeri ini dalam karya fonumentalnya yang terkenal itu, yaituBustan As-Salathin fi Dzikr Al-Awwalin wa Al-Akhirin. Sayangnya buku sejarah yang berharga ini belum mendapatkan perhatian yang cukup dari negeri ini. Pasalnya buku itu sampai sekarang masih dalam bentuk manuskrip yang berceceran di negeri-negeri Barat. Hanya beberapa bagian saja yang sudah ditranslit ke bahasa Melayu dan Inggris, itu pun yang melakukannya bukan orang kita. Manuskrip lengkap untuk kitab ini konon ditemukan pada seorang kolektor naskah kuno di Aceh, namun ia belum mau mempublikasikannya ke khalayak meski sangat dibutuhkan karena buku ini ditulis langsung dari saksi sejarah.

Demikian juga dengan Tuanku Imam Bonjol yang menyempatkan diri untuk menulis sejarahnya dengan penjajah kafir dalam sebuah catatan-catatan hariannya.

Kembali ke pokok permasalahan. Terlepas apakah kisah hukum mati yang dijatuhkan Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari kepada penganut faham wihdatul wujud bernama Haji Abdul Hamid, yang jelas ini dapat dijadikan sebagai bukti adanya keruskan faham ini dan pertentangan yang cukup kuat dari kaum muslimin di negeri ini sejak masa silam.

Seakan tidak mau absen, Syaikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar Al-Bantani (1230-1314) yang digelari Sayyid Ulama Al-Hijaz oleh penduduk Taimur (Al-A’lam VI/318 karya Az-Zarkali) dan Syaikh ‘Utsman bin Yahya (…-1333), mufti Batavia, ikut serta memberantas ajaran sufi yang sedang marak di Syarq Aqsha (Timur Jauh/Indonesia). Keduanya bersepakat untuk memadamkan ajaran sufi yang tengah marak di Nusantara.

Dalam buku Beberapa Aspek disebutkan (hlm. 121) disebutkan, “Ketika seorang Arab dari Batavia di Indonesia –negeri di mana tarekat tersebar secara sangat luas-, yaitu Sayid Usman bin Yahya, mengirim suatu brosur yang polemis dan tajam terhadap ‘sistem yang durhaka’ ini supaya Syekh Nawawi menyetujui isinya, memang ulama Banten ini tidak mau menolak untuk menyokong posisi Sayid ini dengan beberapa kata yang manis.”

Brosur bantahan Sayyid ‘Utsman bin Yahya tersebut bertajuk An-Nashihat ‘ala Niqat. Di antara kata pengantar terhadap buku ini, Al-Bantani berkata, “Adapun orang-orang yang mengambil tarekat, jikalau adalah perkataan dan perbuatan mereka itu mufakat pada syara’ Nabi Muhammad sebagaimana ahli-ahli tarekat yang benar, maka maqbul; dan jika tada begitu maka tentulah seperti yang terjadi banyak di dalam anak-anak murid Syekh Ismail Minangkabau.”

Selanjutnya beliau berkata mengomentari tata cara dzikir mereka yang aneh dan adanya faktor duniawi dari pimpinan tarekat (baca: mursyid), “Maka bahwasannya mereka itu bercela akan zikr Allah dengan (…) dan mereka itu bercela-cela akan orang yang tiada masuk di dalam tarekat. Merka itu hingga, bahwasanya mereka itu menegah akan ikut bersembahyang padanya dan bercampur makan padanya dan mereka benci padanya istimewa pada bahwasanya Syekh Ismail itu hanyasanya mengambil ia akan tarekat itu : asalnya karena kumpul harta buat bayar segala hutangnya. Maka ia di dalam asal itu mau jual agama dengan dunia adanya…”

Syekh Isma’il yang disebut Muhammad Nawawi di atas adalah Isma’il bin ‘Abdullah Al-Minkabawi Al-Jawi Al-Khalidi An-Naqsyabandi. Dia adalah seorang tokoh tarekat Naqsyabandiyyah Khalidiyyah yang berpengaruh di Minangkabau dan sekitarnya. Dia sendiri memiliki sebuah karangan tentang tarekat silsilah Naqsyabandiyyah bertajuk Qashidah Nazhm fi Silsilah Ath-Thariqah An-Naqsyabandiyyah. (Lihat Faidh Al-Malik Al-Wahhab I/203-204, Al-Mukhtashar min Nasyr An-Nur wa Az-Zuhar hlm. 131-132, danA’lam Al-Makkiyyin II/931)

Terakhir dalam artikel ringkas ini adalah bantahan dan tahdziran dari Syaikh Ahmad bin ‘Abdul Lathif Al-Khathib Al-Minangkabawi (dalam teks Arab tertulis: Al-Minkabawi), seorang imam, khathib, dan pengajar di Masjidil Haram asal Minangkabau. Barangkali dari sekian ulama yang mentahdzir dan ‘menelanjangi’ ajaran sufi secara keseluruhan dengan tegas adalah Ahmad Al-Khathib. Beliau ini terkenal dengan sikap kerasnya dalam memerangi penyakit TBC (thatayyur, bid’ah, dan churafat), termasuk dalam hal ini adalah praktek ajaran sufi yang menjamur di negerinya.

Polemiknya dengan ulama-ulama sufi di negerinya sangat terkenal. Terlebih polemiknya dengan Muhammad Sa’ad Munqa (1277-1339), Khathib ‘Ali (w. 1353), Sulaiman Ar-Rasuli (w. 1390), dan konco-konconya yang biasa disebut dengan “kaum tuo” yang sedemikian gigih mempertahankan “jobnya” itu.

Awal mula perseturuan dan polemik antara “kaum mudo” yang menolak keras tarekat dengan “kaum tuo” adalah sebuah jawaban Ahmad bin ‘Abdul Lathif Al-Khathib Al-Minkabawi Asy-Syafi’i (1276-1334) terhadap pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan tarekat yang dikirimkan ke Makkah pada 1324 H/1906 M oleh muridnya sendiri, ‘Abdullah Ahmad.

Bunyi pertanyaan-pertanyaan itu adalah sebagai berikut:

“Tharikat Naqsyabandiyah Khalidiyah adakah baginya asal pada syara’ atau tiada? Dan adakah salislnya pada Rasulullah SAW atau tiada? Dan adakah bagi meninggalkan makan daging asal dari syara’ atau tiada? Dan adakah suluk 40 hari dan 20 hari dan 10 hari baginya asal daripada syara’ atau tiada? Dan rabithah adakah asal pada syari’at atau tiada? Hendaklah dijawab soal itu dengan maujud pada syara’. Jika maujud padanya hendaklah dinyatakan dalilnya pada kami. Dan jika tiada maujud padanya maka hendaklah nyatakan pula kepada kami. Karena telah hasil di negeri kami permasalahan besar pada masalah ini.”

Selanjutnya pertanyaan-pertanyaan tentang tarekat ini dijawab Ahmad Al-Khathib dengan ditulisnya kitab Izhhar Zughal Al-Kadzibin fi Tasyabbuhihim bi Ash-Shadiqin (Menjelaskan Kekacauan-Kekacauan Pendusta yang Menyerupai Orang Jujur). Kitab ini dicetak pertama kali pada tahun 1324 dan pada tahun 1326 sudah mengalami cetak ulang. Selain itu, kitab ini juga sudah ditranslit ke dalam huruf latin oleh A. Arief pada 1961 dan kembali dicetak pada 1979. Hal ini menunjukkan betapa permasalahan ini bukan maslah sepele dan perhatian kaum muslimin dalam memberantas kebid’ahan dan menegakkan kebenaran.

Dalam kitabnya ini Ahmad Al-Khathib mebantah dan membatalkan semua amalan tarekat seperti wasilah, rabithah, kaifiyat-kaifiyat, dan wirid-wiridnya dengan argumen Al-Quran dan Sunnah. Tentang kitab ini, penulis Beberapa Aspek (hlm. 143) menulis, “…dalam karangannya, Ahmad Khatib memberikan beberapa alasan yang cukup kuat dan rasional untuk menentang tarekatt ini. Menurut muqaddimahnya, Ahmad Khatib mengambil bahan untuk begian pertama dari kitab Al Ba’its ila Inkar al-Bid’ah wa’l Hawadits, karangan Imam Syihabuddin bin Muhammad bin Abdul Rahman bin Ismail bin Ibrahim yang namanya termasyhur denagn Abu Syamah.”

Rupa-rupanya jawaban Ahmad Al-Khathib ini membuat geram dan marah seluruh ulama tarekat se-Minangkabau. Maka berduyun-duyunlah para ulama itu membantah Ahmad Al-Khathib. Maka muncullah bantahan dari Muhammad Sa’ad Munqa berjudul Irgham ‘Unuf Al-Muta’annitin. Dengan menggunakan kata-kata yang cukup kasar membuat Ahmad Al-Khathib merasa tertantang sehingga mendorongnya untuk mengarang bantahan berikutnya bertajuk Al-Ayat Al-Bayyinat fi Raf’i Al-Khurafat. Bantahan kedua ini kembali mendapatkan tanggapan dari Sa’ad Munqa dengan ditulisnya kitab Tanbih Al-‘Awwam ‘ala Taghrirat Ba’dh Al-Anam. Kemudian muncul pula bantahan dari Ahmad Al-Khathib sebuah kitab berjudul As-Saif Al-Battar fi Mahq Kalimat Ba’dh Al-Aghrar.

Dalam pada itu, nampaknya salah satu murid Syaikh Ahmad Al-Khathib, ‘Abdul Karim Amrullah, tidak mau ketinggalan dalam menumpas kebathilan yang sudah menjamur di negerinya. Maka beliau mengambil bagian dalam polemik ini dengan mengarang buku bertajuk Qath’ Riqab Al-Mulhidin buat menyanggah Sa’ad Mungka dan tarekat Naqsyabandiyyah.

Perlu diketahui bahwa di waktu itu mayoritas ulama Minangkabau berpegang pada tarekat sufi. Dalam bukunya, Ayahku (hlm. 76), Hamka mengatakan, “Rupanya ulama-ulama Minang setelah gagal Pemberontakan telah banyak yang lebih condong pada tharikat, terutama Tharikat Naqsyabandiyah Khalidiyah.” Perkataan Hamka ini mengomentari cerita Tuanku Syaikh ‘Abbas, “Padahal memasuki tharikat itu adalah pakaian hampir seluruh Ulama Minangkabau pada masa itu.” Hanya segelintir ulama saja yang terlepas dari tarekat, di antaranya selain Ahmad Al-Khathib dan ‘Abdul Karim Amrullah adalah Syaikh ‘Abdul Qadir bin Shabir Al-Mandili (w. 1302) yang juga pengajar di Masjidil Haram dan ‘Abdullah Ahmad.

Walhasil, bantahan-bantahan Syaikh Ahmad Al-Khathib terhadap terekat-tarekat sufi diwujudkan dengan menulis buku-buku rudud (bantahan) dan juga melalui murid-muridnya yang setelah sekian lama belajar kepadanya di Makkah dan kembali ke Tanah Air yang kebanyakan dari mereka memainkan peran dalam memurnikan agama Islam di bumi Melayu. Sebab, banyak memang dari ulama-ulama negeri ini yang mengamati sepak terjang kaum muslimin dalam mengamalkan Islam sudah tidak lagi sesuai dengan apa yang dibawa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan diteruskan para Shahabatnya radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Setidaknya yang menilai seperti ini adalah dua ulama kenamaan, yaitu Muhammad Nawawi Al-Bantani dan Ahmad bin ‘Abdul Lathif Al-Khathib Al-Minkabawi rahimahumallah. Maka perseturuan antara yang haq dan yang bathil akan terus berlanjut hingga nampaklah yang haq itu.

Dengan demikian selesailah artikel ringkas ini dengan berbagai kekurangannya karena memang minimnya refrensi yang ada pada penulis. Sekiranya ada di antara pembaca sekalian yang mengetahui refrensi-refrensi lebih banyak lagi, penulis sangat berharap untuk diberi tahu agar penelitian ini tidak berhenti sampai di sini saja. Allahua’lam.


Referensi:

Ayahku Riwayat Hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera, karya ‘Abdul Malik bin ‘Abdul Karim Amrullah (HAMKA), terbitan Umminda 1982

Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad Ke-19, karya Karel A. Steenbrink, terbitan Bulan Bintang 1984

Cahaya dan Perajut Persatuan Waliullah Ahmad Khathib Al-Minangkabawy, karya Dandang A. Dahlan, terbitan Adi Cita 2007

Faidh Al-Malik Al-Wahhab Al-Muta’ali bi Anba’ Awail Al-Qarn Ats-Tsalits ‘Asyar wa At-Tawali, karya Abu Al-Faidh ‘Abdussattar bin ‘Abdul Wahhab Ash-Shiddiqi Al-Hindi Al-Makki, dirasah & tahqiq ‘Abdul Malik Dahaisy, terbitan Maktabah Al-Asadi 1430

Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII Akar Pembaharuan Islam Indonesia, karya Azyumardi Azra, terbitan Prenada Media Group 2004

Menemukan Sejarah Wacana Pergerakan Islam di Indonesia, karya Ahmad Mansur Suryanegara, terbitan Mizan

Sejarah Peradaban Islam Indonesia, karya Musyrifah Sunanto, terbitan Rajawali Press 2005

Siyar wa Tarajim Ba’dh ‘Ulamaina fi Al-Qarn Ar-Rabi’ ‘Asyar li Al-Hijrah, karya ‘Umar ‘Abdul Jabbar, terbitan Tihamah 1403 H

Thabaqatus Syafi’iyah Ulama Syafi’i dan Kitab-Kitabnya dari Abad ke Abad, karya Siradjuddin ‘Abbas, terbitan Pustaka Tarbiyah Baru 2011

Dan lain-lain.

https://www.facebook.com/KoalisiUmatIslam/videos/833057806883407/
Baca selengkapnya »
Karakteristik Ahlus Sunnah Wal Jama'ah

Karakteristik Ahlus Sunnah Wal Jama'ah

Di antara karakteristik Ahlus Sunnah wal jama'ah adalah :

1. Menempuh jalan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan menelusuri jejaknya secara lahir dan bathin. Beda halnya dengan kaum munafiqin yang hanya secara lahiriyah saja mengikutinya, sementara batinnya tidak. Jejak Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam itu adalah sunnahnya, yaitu segala sesuatu yang diriwayatkan dan dinukil dari beliau berupa ucapan, perbuatan atau taqrir (persetujuan). Jadi, bukan jejak lahiriyahnya seperti tempat di mana beliau duduk, tidur dan lainnya, karena menelusuri hal-hal seperti itu dapat menyebabkan perbuatan syirik, sebagaimana telah terjadi pada umat-umat sebelumnya.

2. Menelusuri jalan para as-sabiqun al-awwalun dari para sahabat Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam dan kaum Anshar, karena Allah Subhanahu waTa’ala telah memberikan keunggulan kepada mereka berupa ilmu dan pemahaman (yang mendalam terhadap masalah agama). Mereka telah menyaksikan turunnya wahyu dan mendengar tafsirnya (penjelasannya langsung dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ) serta belajar langsung kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tanpa perantara. Maka mereka lebih dekat kepada kebenaran dan lebih berhak diikuti setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. 

Karakteristik Ahlus Sunnah Wal Jama'ah

Jadi, mengikuti mereka menempati urutan kedua sesudah mengikuti Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu aqwal (ucapan-ucapan para sahabat adalah hujjah (dalil) yang wajib diikuti bila tidak ada nash dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam , karena cara mereka beragama lebih selamat, lebih mengetahui dan lebih bijak. Tidak sebagaimana dikatakan oleh sebagian kaum mutaakhkhirin yang mengatakan, "Sesungguhnya cara kaum salaf itu aslam (lebih selamat) sedangkan cara kaum khalaf itu lebih mengetahui lagi lebih bijak. Lalu dengan itu mereka mengikuti jalan khalaf dan meninggalkan jalan salaf."

3. Di antara karakteristik Ahlus Sunnah wal jama'ah ialah berpegang teguh kepada wasiat (pesan) Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam di mana beliau bersabda,
عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اْلمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِيْ تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.
"Hendaklah kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah para Khulafa'ur Rasyidin sepeninggalku, berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah dengan gigi geraham kalian sekuat-kuatnya, dan awas, hindarilah perkara-perkara baru (yang diada-adakan), karena setiap bid'ah (hal baru) itu adalah sesat." ( HR. Imam Ahmad, Abu Daud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah. At-Tirmidzi berkata, "Hasan Shahih.")

Ahlus Sunnah itu selalu mengikuti thariqah (jalan) para khulafa'ur Rasyidin secara khusus sesudah mereka mengikuti jalan as-Sabiqun al-Awwalun (Generasi awal) dari kaum Muhajirin dan Anshar secara umum. Karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah mewasiatkan wasiat khusus agar mematuhi sunnah Khulafa'ur Rasyidin sebagaimana di dalam hadits di atas. Pada hadits tersebut Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menggandengkan Sunnah Khulafa'ur Rasyidin dengan Sunnahnya, maka hal itu menunjukkan bahwa apa yang disunnahkan oleh para Khulafa'ur Rasyidin atau salah seorang dari mereka tidak boleh diabaikan.

Sumber : Kitab Tauhid jld 3
Penulis : Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al - Fauzan
Penerbit : Darul Haq jakarta
Baca selengkapnya »
Menjelaskan Kebenaran Dan Membantah Kebathilan

Menjelaskan Kebenaran Dan Membantah Kebathilan

Menjelaskan Kebenaran Dan Membantah Kebathilan

Berkata asy-Syaikh 'Ubaid bin 'Abdillah al-Jaabiriy حفظه اللّه:

أن أهل السنة يبينون الحق بما يقررونه من العقائد والقواعد والأصول المستندة على الكتاب والسنة وعلى فهم السلف الصالح، ويردُّون ما خالف ذلك بالدليل فلا يكتفون ببيان الحق فقط، لا، لابد من ردِّ ما يخالف الحق، حتى يكون الدين صافيًا خالصًا له عزّوجلّ
"Bahwa ahlussunnah selalu menjelaskan kebenaran dengan apa yang ditetapkan dari aqidah-aqidah dan kaidah-kaidah, ushul (prinsip-prinsip agama) yang berdasarkan kepada al-Qur'an dan Sunnah mengikuti pemahaman salafush shalih, dan AHLUSSUNNAH MEMBANTAH APA-APA YANG MENYELISIHI DALIL (HUJJAH) DAN AHLUSSUNNAH TIDAK MENCUKUPKAN MENJELASKAN KEBENARAN SAJA, TIDAK DEMIKIAN, akan tetapi harus membantah siapa saja yang menyelisihi kebenaran, sampai agama ini bersih, murni hanya bagi Allah 'Azza wajalla (tidak dikotori pemahaman yang menyimpang)."
Baca selengkapnya »
Ahlus Sunnah Wajib Taat Kepada Pemimpin

Ahlus Sunnah Wajib Taat Kepada Pemimpin

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
الحمد لله والصلاة و السلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An Nisa’ [4] : 59)

Terdapat perbedaan penafsiran mengenai makna ulil amri.

1. Abu Hurairah radhiyallahu’anhu sebagaima diriwayatkan oleh Ibnu Jarir ath-Thabari dengan sanad sahih, beliau berkata, “Mereka -yaitu ulil amri- adalah para pemimpin/pemerintah.” Penafsiran serupa juga diriwayatkan dari Maimun bin Mihran dan yang lainnya.

2. Jabir bin Abdullah berkata bahwa mereka itu adalah para ulama dan pemilik kebaikan. Mujahid, Atha’, al-Hasan, dan Abul Aliyah mengatakan bahwa yang dimaksud adalah para ulama. Mujahid juga mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah para sahabat.

==> Pendapat yang dikuatkan oleh Imam asy-Syafi’i adalah pendapat pertama, yaitu maksud ulil amri adalah para pemimpin/pemerintah (lihat Fath al-Bari [8/106])

Oleh sebab itu an-Nawawi rahimahullah membuat judul bab untuk hadits Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma mengenai tafsir ayat ini dengan judul ‘Kewajiban taat kepada pemerintah selama bukan dalam kemaksiatan dan diharamkannya hal itu dalam perbuatan maksiat’. Kemudian beliau menukilkan ijma’/konsensus para ulama tentang wajibnya hal itu (lihat Syarh Muslim [6/467]).

Adapun pendapat yang dikuatkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah bahwa kandungan ayat ini mencakup kedua kelompok tersebut; yaitu ulama maupun umara/pemerintah. Dikarenakan kedua penafsiran ini sama-sama terbukti sahih dari para sahabat (lihat adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [2/235 dan 238]

AI-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah juga menukil ijma’. Dari Ibnu Batthal rahimahullah, ia berkata:

“Para fuqaha telah sepakat wajibnya taat kepada pemerintah (muslim) yang berkuasa, berjihad bersamanya, dan bahwa ketaatan kepadanya lebih baik daripada nnemberontak.” (Fathul Bari, 13/7)

Taat kepada pemimpin yang tidak berhukum kepada Qur'an dan Sunnah.

Fatwa Faqihul ‘Ashr Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam Majmu' Fatawa :

Pertanyaan:

Fadhilatusy Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya tentang hukum menaati pemerintah yang tidak berhukum dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulillah shallallaahu ‘alaihi wa sallam?

Jawab:

“Pemerintah yang tidak berhukum dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah tetap wajib ditaati dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta tidak wajib memerangi mereka dikarenakan hal itu, bahkan tidak boleh diperangi kecuali kalau ia telah menjadi kafir, maka ketika itu wajib untuk menjatuhkannya dan tidak ada ketaatan baginya.

Dari Abu Najih, Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasehat kepada kami dengan satu nasehat yang menggetarkan hati dan menjadikan air mata berlinang”. Kami (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan adalah nasihat dari orang yang akan berpisah, maka berilah kami wasiat.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا
“Saya memberi wasiat kepada kalian agar tetap

==> bertaqwa kepada Allah ‘azza wa jalla,
==> tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintah kalian seorang hamba sahaya (budak) Habasya”.

(HR. Abu Daud dan At Tirmidzi, Hadits Hasan Shahih)

Wajibnya menaati pemerintah muslim selama bukan dalam rangka maksiat.

Hal ini sebagaimana telah ditegaskan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau ﷺ bersabda,

"Wajib atasmu untuk

==> mendengar dan taat, dalam kondisi
==> susah maupun mudah, dalam keadaan
==> semangat ataupun dalam keadaan tidak menyenangkan, atau
==> bahkan ketika mereka itu lebih mengutamakan kepentingan diri mereka di atas kepentinganmu.”

Ahlus Sunnah Wajib Taat Kepada Pemimpin

(HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [6/469])

Hadits dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Wajib atas setiap individu muslim untuk selalu mendengar dan patuh dalam apa yang dia sukai ataupun yang tidak disukainya,

==> kecuali apabila dia diperintahkan untuk melakukan maksiat.

Maka apabila dia diperintahkan untuk melakukan maksiat maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh patuh.”

(HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [6/470]).

Hadits dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak ada ketaatan dalam rangka bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam perkara ma’ruf.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [6/471])

Kewajiban untuk mendengar dan taat kepada pemerintah muslim ini juga dibatasi selama tidak tampak dari mereka kekufuran yang nyata. Apabila mereka melakukan kekufuran yang nyata maka wajib untuk mengingkarinya dan menyampaikan kebenaran kepada mereka.

==> Adapun memberontak atau memeranginya -sezalim atau sefasik apapun mereka- maka tidak boleh selama dia masih muslim/tidak kafir (lihat Syarh Muslim [6/472-473], Fath al-Bari [13/11]).

Dalilnya adalah hadits Ubadah bin Shamit radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

==> “Kecuali apabila kalian melihat kekafiran yang nyata dan kalian memiliki bukti kuat dari sisi Allah atas kesalahannya itu.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [6/473]).

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “… kecuali apabila kaum muslimin telah melihat kekafiran yang nyata yang mereka memiliki bukti kuat dari sisi Allah tentangnya, maka tidak mengapa melakukan pemberontakan kepada penguasa ini untuk menyingkirkannya dengan syarat

==> apabila mereka mempunyai kemampuan yang memadai.
==> Adapun apabila mereka tidak memiliki kemampuan itu maka janganlah mereka memberontak.
==> Atau apabila terjadi pemberontakan maka -diduga kuat- akan timbul kerusakan yang lebih dominan, maka mereka tidak boleh memberontak demi memelihara kemaslahatan masyarakat luas.

==> Hal ini berdasarkan kaidah syari’at yang telah disepakati menyatakan bahwa; ‘tidak boleh menghilangkan keburukan dengan sesuatu yang -menimbulkan akibat- lebih buruk dari keburukan semula, akan tetapi wajib menolak keburukan itu dengan sesuatu yang benar-benar bisa menyingkirkannya atau -minimal- meringankannya.’…”

(al-Ma’lum Min Wajib al-’Alaqah baina al-Hakim wa al-Mahkum, hal. 9-10)

📝 Menasehati Penguasa

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang ingin menasehati penguasa maka

==> janganlah dia menampak hal itu secara terang-terangan/di muka umum,

==> akan tetapi hendaknya dia memegang tangannya seraya menyendiri bersamanya -lalu menasehatinya secara sembunyi-.

==> Apabila dia menerima nasehatnya maka itulah -yang diharapkan-,

==> dan apabila dia tidak mau maka sesungguhnya dia telah menunaikan kewajiban dirinya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Abi ‘Ashim dengan sanad sahih)

✅ Bersabar terhadap Penguasa Muslim yang Zalim

“Nanti setelah aku akan ada

==> seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu, pen) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal, pen).

Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang

==> hatinya adalah hati setan, namun

==> jasadnya adalah jasad manusia. “

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?”

Beliau bersabda,

==> ”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu,

==> walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu.

==> Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.”

(HR. Muslim no. 1847. Lihat penjelasan hadits ini dalam Muroqotul Mafatih Syarh Misykah Al Mashobih, 15/343, Maktabah Syamilah)
Dari Ummu Salamah radhiyallahu’anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Akan muncul para penguasa yang kalian mengenali mereka namun kalian mengingkari -kekeliruan mereka-.

==> Barangsiapa yang mengetahuinya maka harus berlepas diri(dengan hatinya) dari kemungkaran itu.

==> Dan barangsiapa yang mengingkarinya (minimal dengan hatinya, pent) maka dia akan selamat.

==> Akan tetapi yang berdosa adalah orang yang meridhainya dan tetap menuruti kekeliruannya.”

Mereka -para sahabat- bertanya, ==> “Apakah tidak sebaiknya kami memerangi mereka?”. Maka beliau menjawab,

==> “Jangan, selama mereka masih menjalankan sholat.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [6/485]).

إِنَّهَا سَتَكُوْنُ بَعْدِيْ أَثَرَةٌ وَأُمُوْرٌ تُنْكِرُوْنَهَا. قَالُوا: يَا رَسُوْلَ اللهِ فَمَا تَاْمُرُنَا؟ قَالَ: تُؤَدُّوْنَ الْحَقَّ الَّذِيْ عَلَيْكُمْ وَتَسْأَلُوْنَ اللهَ الَّذِيْ لَكُمْ
“Sesungguhnya akan terjadi setelahku para

==> pemimpin yang mementingkan diri mereka (tidak memberikan hak kepada orang yang berhak) dan

==> perkara-perkara yang kalian ingkari.”

Mereka mengatakan, “Wahai Rasullullah, apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Beliau menjawab,

==> “Berikan hak mereka yang menjadi kewajiban kalian dan

==> mintalah kepada Allah hak kalian.”

(Sahih, HR. al-Bukhari dan Muslim)

“Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika pemimpin kami adalah pemimpin yang meminta kepada kami hak mereka dan tidak memberikan kepada kami hak kami?”…

Beliau menjawab,

==> “Dengar dan taati, sesungguhnya kewajiban mereka apa yang dibebankan kepada mereka dan

==> kewajiban kalian apa yang dibebankan kepada kalian.” (Sahih, HR. Muslim)

“Sejelek-jelek pemimpin kalian adalah

==> yang kalian membencinya dan membenci kalian,

==> yang kalian melaknatinya dan melaknati kalian.”

Dikatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita melawannya dengan pedang?”

Beliau mengatakan,

==> “Jangan, selama ia mendirikan shalat (di antara) kalian dan

==> jika kalian melihat pada pemimpin kalian sesuatu yang kalian benci maka

==> bencilah amalnya dan

==> jangan kalian cabut tangan kalian dari ketaatan.”

(Sahih, HR. Muslim)

Itulah penjelasan Rasulullah shallalahu 'alaihi wa sallam yang terbukti kebenarannya. Dengan ilmu yang Rasulullah shallalahu 'alaihi wa sallam miliki itu, beliau tetap memerintahkan untuk sabar, taat, menunaikan hak, dan sebagainya, sebagaimana disebutkan pada hadits-hadits di atas. Itulah jalan terbaik dan tidak ada yang lebih baik selain itu.

Menyikapi penguasa yang zalim jangan hanya didasari oleh emosi atau alasan ghirah (kecemburuan) keagamaan tanpa mengikuti ajaran Nabi shallalahu 'alaihi wa sallam . Karena bagaimanapun, kita tidak lebih cemburu dan tidak lebih panas ketika melihat maksiat dibanding Nabi shallalahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu :

"Sabar terhadap kezaliman penguasa adalah salah satu prinsip dari prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah." (Majmu’ Fatawa, 28/179, dinukil dari Fiqih Siyasah Syar’iyyah, hlm. 163)

👍 Pemimpin adalah gambaran yang dipimpinnya.

Dahulu juga dikatakan, ‘Apa yang kamu ingkari pada masamu adalah karena dirusak oleh amalmu’.”

Abdul Malik bin Marwan juga mengatakan, “Berbuat adillah kalian, wahai rakyat! Kalian menginginkan kami untuk berjalan seperti Abu Bakr dan ‘Umar, padahal kalian tidak berbuat demikian terhadap kami dan pada diri kalian.” (Sirajul Muluk, hlm. 100—101, dinukil dari Fiqih Siyasah Syar’iyyah, hlm. 165—166)

‼ PENTING ⬇

Inilah hakikat yang perlu diketahui dan selalu diingat, bahwa munculnya penguasa buruk/jahat adalah karena amal kita yang buruk/jahat juga, seperti perbuatan maksiat, bid’ah, khurafat, dan perbuatan syirik kepada Allah Azza wa Jalla. Camkan ini wahai para tokoh pergerakan!

Sikap kalian dengan memberontak, mencaci-maki, merendahkan, atau bahkan mengafirkan para penguasa justru membuat penguasa semakin bengis. Bukan hanya kepada kalian, namun juga kepada orang-orang yang tidak berdosa. Inilah akibat dari amalan bid’ah yang bertentangan dengan prinsip Ahlus Sunnah.

Jangan kalian sangka bahwa dengan perbuatan itu kalian sedang berjihad dan menegakkan Islam. Namun sebaliknya, kalian sungguh sedang menggerogoti Sunnah Nabi shallalahu 'alaihi wa sallam untuk meruntuhkan salah satu penyangga ajaran Islam.

Sikap yang benar untuk menyudahi kezaliman penguasa adalah dengan memperbaiki amal kita baik dari sisi akidah, metode dakwah, ibadah, maupun akhlak serta mengikuti ajaran Rasulullah shallalahu 'alaihi wa sallam dalam menghadapi penguasa.

Al-Hasan al-Bashri rahimahullahu mengatakan, “Ketahuilah—semoga Allah Azza wa Jalla memberimu ‘afiyah (keselamatan)—bahwa kezaliman para raja merupakan azab dari Allah Azza wa Jalla. Dan azab Allah Azza wa Jalla itu tidak dihadapi dengan pedang, akan tetapi dihindari dengan doa, taubat, kembali kepada Allah Azza wa Jalla , serta mencabut segala dosa. Sungguh azab Allah Azza wa Jalla jika dihadapi dengan pedang maka ia lebih bisa memotong.” (asy-Syari’ah karya al-Imam al-Ajurri t, hlm. 38, dinukil dari Fiqih Siyasah Syar’iyyah, hlm. 166—167).

Allahu a'lam

Sumber : Ust Yazid Jawaz, Ust Firanda, Ust Badrusalam, Ust Abdurrahman Thayyib, Ust Abduh Tuasikal, dan rangkuman lainnya.

Abu Aurel Reza
Baca selengkapnya »
-->