IBX5A47BA52847EF DakwahPost: aqidah
Bolehkah Bertawasul Kepada Orang Yang Telah Wafat ?

Bolehkah Bertawasul Kepada Orang Yang Telah Wafat ?

Sering kita jumpai perkataan orang yang bertawasul kepada wali atau sunan yang sudah meninggal. Padahal ini termasuk perbuatan syirik, karena ia menjadikan perantara selain Allah Ta'ala orang yang tidak memiliki manfaat dan tidak mampu menolak madhorot, siapapun mereka apakah nabi Atau wali, mereka makhluk Allah yang tidak memiliki hak kerububiyahan.

Bahkan lebih dari itu, mereka tidak malu berdoa minta kepada wali yang telah wafat. Seperti perkataan mereka, "Ya Syeikh Andal Qadir Jaelani aghitsni!... wahai Syeikh Abdul Qadir Jaelani tolonglah aku...!

Padahal orang yang mati tidak bisa mengabulkan doa mereka, mereka tidak mampu mendengar...

Allah Ta'ala berfirman,

اِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتٰى وَلَا تُسْمِعُ الصُّمَّ الدُّعَآءَ اِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِيْنَ
"Sungguh, engkau tidak dapat menjadikan orang yang mati dapat mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang yang tuli dapat mendengar seruan, apabila mereka telah berpaling ke belakang." [QS. An-Naml: Ayat 80]

Allah Ta'ala juga berfirman,

{إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ}
"Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu." (QS. Fathir: 14)

Sembahan-sembahan selain Allah itu tidak dapat mendengar suara seruan kalian, karena sembahan-sembahan itu adalah benda mati tidak bernyawa.

{وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ}
"dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu." (QS. Fathir: 14)


Bolehkah Bertawasul Kepada Orang Yang Telah Wafat ?

Yakni mereka tidak akan mampu mengabulkan sesuatu dari apa yang diminta oleh mereka (para penyembahnya).

{وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ}
"dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu." (QS. Fathir: 14)

Maksudnya, berlepas diri dari apa yang dilakukan oleh kalian.

Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

{وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ}
"Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka. Dan apabila mereka dikumpulkan (pada hari kiamat), niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka." (QS. Al-Ahqaf: 5-6)

(lihat Tafsir Ibnu Katsir).

Maka adanya wisata religi ke makam wali, ini adalah perkara yang tidak disyareatkan, bahkan akan menjurus kepada kesyirikan.

Saya tidak mengharamkan ziarah kubur, namun ziarah kubur yang benar adalah mendoakan mayit dan untuk mengingat kematian. Bukan malah minta atau berdoa kepada orang yang mati. Wallahu a'lam

Ustadz Agus Santoso, Lc., M.P.I
Group BIS & BMS - Dakwah Untuk Umat 
https://t.me/bimbingansyariah
Baca selengkapnya »
KEWAJIBAN MENGIKUTI PEMAHAMAN SALAFUSH SHALIH

KEWAJIBAN MENGIKUTI PEMAHAMAN SALAFUSH SHALIH

Allah ﷻ berfirman :

وَالسَّابِقُونَ اْلأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. [At Taubah:100].

Lihatlah, Allah menyediakan surga-surga bagi dua golongan. Pertama, golongan sahabat. Yaitu orang-orang Muhajirin dan Anshar. Mereka adalah Salafush Shalih generasi sahabat. Kedua, orang-orang yang mengikuti golongan pertama dengan baik.

Jika demikian, maka seluruh umat Islam, generasi setelah sahabat wajib mengikuti para sahabat dalam beragama, sehingga meraih janji Allah di atas. Jika orang-orang Islam yang datang setelah para sahabat enggan mengikuti jalan mereka, siapa yang akan mereka ikuti?

Rasulullah ﷺ bersabda :

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
Sebaik-baik manusia adalah generasiku (yaitu generasi sahabat), kemudian orang-orang yang mengiringinya (yaitu generasi tabi’in), kemudian orang-orang yang mengiringinya (yaitu generasi tabi’ut tabi’in). [Hadits mutawatir, riwayat Bukhari dan lainnya].

KEWAJIBAN MENGIKUTI PEMAHAMAN SALAFUSH SHALIH

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Nabi ﷺ memberitakan, sesungguhnya sebaik-baik generasi adalah generasi Beliau secara mutlak. Itu mengharuskan (untuk) mendahulukan mereka dalam seluruh masalah (berkaitan dengan) masalah-masalah kebaikan”. [I’lamul Muwaqqi’in (2/398), Penerbit Darul Hadits, Kairo, Th. 1422 H / 2002M].

Para sahabat adalah manusia terbaik, karena mereka merupakan murid-murid Rasulullah ﷺ . Dibandingkan dengan generasi-generasi sesudahnya, mereka lebih memahami Al Qur’an. Mengapa? Karena mereka menghadiri turunnya Al Qur’an, mengetahui sebab-sebab turunnya. Dan mereka, juga bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang ayat yang sulit mereka fahami.

Al Qur’an juga turun untuk menjawab pertanyaan mereka, memberikan jalan keluar problem yang mereka hadapi, dan mengikuti kehidupan mereka yang umum maupun yang khusus. Mereka juga sebagai orang-orang yang paling mengetahui bahasa Al Qur’an, karena Al Qur’an diturunkan dengan bahasa mereka. Dengan demikian, mengikuti pemahaman mereka merupakan hujjah terhadap generasi setelahnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي
Sesungguhnya Bani Israil telah berpecah-belah menjadi 72 agama. Dan sesungguhnya umatku akan berpecah-belah menjadi 73 agama. Mereka semua di dalam neraka, kecuali satu agama. Mereka bertanya:“Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,“Siapa saja yang mengikutiku dan (mengikuti) sahabatku.” [Tirmidzi, no. 2565; Al Hakim, Ibnu Wadhdhah, dan lainnya; dari Abdullah bin’Amr. Dihasankan oleh Syaikh Salim Al Hilali di dalam Nash-hul Ummah, hlm. 24].

Ketika menjelaskan hubungan hadits ke-3 dengan hadits ke-2 ini, Syaikh Salim Al Hilali berkata,

”Barangsiapa yang memperhatikan dua hadits itu, ia pasti mendapatkan keduanya membicarakan tentang satu masalah. Dan solusinya sama, yaitu jalan keselamatan, kekuatan kehidupan, ketika umat (Islam) menjadi jalan yang berbeda-beda, maka pemahaman yang haq adalah apa yang ada pada Nabi n dan para sahabat beliau Radhiyallahu ‘anhum“. [Limadza, hlm. 76.].

Source: almanhaj.or.id

Silahkan Disebarkan
Baca selengkapnya »
DI SURGA NANTI... BISAKAH SESEORANG MENGENAL KERABATNYA

DI SURGA NANTI... BISAKAH SESEORANG MENGENAL KERABATNYA

Pertanyaan :

Apakah seorang muslim apabila masuk surga dia dapat mengenal kerabat-kerabatnya yang ada di dalam surga

Jawaban :

Iya, dia bisa mengenal kerabat- kerabatnya dan selain mereka dari setiap kebahagiaan kalbu yang datang kepadanya.

Karena Allah Ta'alaa berfirman yang artinya :
"Dan di dalam surga terdapat apa - apa yang diinginkan oleh jiwa dan yang menyenangkan pandangan kalian, dan kalian di dalamnya kekal selamanya"

Bahkan seseorang akan berkumpul bersama dengan anak keturunannya di dalam satu tingkatan surga. Jika anak keturunannya berada pada tingkatan yang lebih rendah darinya.

Sebagaimana Allah berfirman :
"Dan mereka orang - orang yang beriman dan diikuti oleh keturunan mereka dengan keimanan, maka Kami akan pertemukan orang-orang beriman itu dengan anak keturunan mereka."

Sumber:  Silsilah Fataawaa Nuur 'alad Darb. Kaset nomor 195

DI SURGA NANTI

السؤال: هل المسلم إذا دخل الجنة يتعرف على أقاربه الذين في الجنة؟

الجواب: نعم يتعرف على أقاربه وغيرهم من كل ما يأتيه سرور قلبه؛ لقول الله تعالى: ﴿وفيها ما تشتهيه الأنفس وتلذ الأعين وأنتم فيها خالدون﴾ بل إن الإنسان يجتمع بذريته في منزلةٍ واحدة إذا كانت الذرية دون منزلته كما قال تعالى: ﴿والذين آمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم...الآية﴾

المصدر: سلسلة فتاوى نور على الدرب > الشريط رقم [195]

Join Channel telegram: https://t.me/Ittiba_uRasulillah
Baca selengkapnya »
Kebenaran Kenabian Muhammad Shallallahu alahi wa salam

Kebenaran Kenabian Muhammad Shallallahu alahi wa salam

Berita nubuwwahnya Muhammad صلى الله عليه وسلم sudah Allah sampaikan jauh sebelum beliau lahir.

Bahkan didalam kitab Taurat dan Injil sudah memberitakan tentang hal ini.

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ ۖ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَٰذَا سِحْرٌ مُبِينٌ
"Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)". Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata". (As-Saf: 6 )

Para ulama Ahli Kitab dari Yahudi dan Nasrani sudah mengetahui hal ini, bahkan mereka meyakininya dengan pasti. Dan mereka mengenal Muhammad dengan detail sebagaimana firman Allah.

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ 
"Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah kami beri Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui." (Al-Baqarah: 146).

Diantara sebab yang menjadikan Yatsrib (nama kota Madinah sebelum hijrahnya Nabi) banyak komunitas Yahudi yaitu keyakinan mereka tentang tempat persinggahan hijrah Nabi akhir zaman adalah kota yang banyak kebun kurmanya yaitu Yatsrib. Mereka ingin menyambut Nabi akhir zaman, sehingga mereka menjadi ummat yang paling mendapatkan petunjuk. (Siroh An-Nabawiyyah As-Shohihah, DR. Akrom Dhiya' Al-Umary)
Kebenaran Kenabian Muhammad Shallallahu alahi wa salam
Allah memberitahukan hal ini,

" Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah kepada mereka, kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran)" (Fāţir: 42)

Berkata Al-Imam Ibnu Katsir dalam menerangkan surat Al-Baqarah: 146,

"Allah memberitahukan bahwa ulama Ahli Kitab mengenal kebenaran dari apa yang disampaikan oleh Rasulullah kepada mereka, sebagaimana seseorang dari mereka mengenal anaknya sendiri. Orang-orang Arab biasa membuat perumpamaan seperti ini untuk menunjukkan pengertian pengenalan yang sempurna.  

Seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadis, bahwa Rasulullah pernah bersabda kepada seorang lelaki yang bersama anaknya:

"ابْنُكُ هَذَا؟ " قَالَ: نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَشْهَدُ بِهِ. قَالَ: "أَمَا إِنَّهُ لَا يَجْنِي عَلَيْكَ وَلَا تجْنِي عَلَيْهِ"
"Apakah ini adalah anakmu?" Si lelaki menjawab, "Benar, wahai Rasulullah, aku bersaksi bahwa dia adalah anakku." Rasulullah Saw. bersabda, "Ingatlah, sesungguhnya dia tidak samar kepadamu dan kamu tidak samar kepadanya."

Al-Qurtubi mengatakan,

telah diriwayatkan dari Umar bahwa ia pernah bertanya kepada Abdullah ibnu Salam, "Apakah engkau dahulu mengenal Muhammad sebagaimana engkau mengenal anakmu sendiri?"

Abdullah ibnu Salam menjawab,

"Ya, dan bahkan lebih dari itu; malaikat yang dipercaya turun dari langit kepada orang yang dipercaya di bumi seraya membawa keterangan mengenai sifat-sifatnya. Karena itu, aku dapat mengenalnya, tetapi aku tidak mengetahui seperti apa yang diketahui oleh ibunya."

Menurut kami, firman-Nya berikut ini:

{يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ}
Mereka mengenalnya (Muhammad) sebagaimana mereka mengenal anak-anaknya sendiri. (Al-Baqarah: 146)

Dapat diartikan bahwa mereka mengenal Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri di antara anak-anak manusia lainnya. Dengan kata lain, tiada seorang pun yang bimbang dan ragu dalam mengenal anaknya sendiri jika dia melihatnya di antara anak-anak orang lain.

Kemudian Allah memberitahukan bahwa sekalipun mereka mengetahui kenyataan ini dengan pengenalan yang yakin, tetapi mereka benar-benar menyembunyikan kebenaran ini. Dengan kata lain, mereka menyembunyikan apa yang terdapat di dalam kitab-kitab mereka mengenai sifat-sifat Nabi Muhammad dari pengetahuan umum, padahal mereka mengetahuinya, seperti yang disebutkan oleh firman selanjutnya:

وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (Al-Baqarah: 146)

Kemudian Allah mengukuhkan kedudukan Nabi-Nya dan kaum mukmin serta memberitahukan kepada mereka bahwa apa yang dibawa oleh Rasul adalah perkara yang hak, tiada keraguan di dalamnya dan tiada pula kebimbangan. (Tafsir Ibnu Katsir)

Keyakinan akan kebenaran ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah, tetap diyakini oleh orang-orang Yahudi sampai sekarang.

Seperti hadits tentang pohon Ghorqod yang akan membela Yahudi di perang besar akhir zaman. (HR Al-Bukhory, 2926 dan Muslim, 2922)

Sehingga oleh otoritas Yahudi sekarang di Al-Quds, hanya boleh ditanami pohon ghorqod.

Namun sayang kedengkian telah menutupi hati mereka. Dan lebih disayangkan lagi, ada sebagian Ulama Islam yang meragukan kebenaran Islsm lalu mengekor kepada syubhat orintalis Yahudi dan misionaris Kristen.

Allohul musta'an

Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc
Baca selengkapnya »
Kesesatan Aqidah Syiah, inikah faktanya .....?

Kesesatan Aqidah Syiah, inikah faktanya .....?

✏Al Imam Ahmad bin Yunus berkata:

“Sesungguhnya kami tidak mau memakan sembelihan seorang Syi’ah Rafidhah, karena kami menganggap mereka telah murtad (kafir)” [Lihat As Sunnah karya Al Khallal, 1/499].

✏Serupa tapi tak sama. Barangkali ungkapan ini tepat untuk menggambarkan agama Islam dan agama Syi’ah. Secara fisik, memang sulit dibedakan antara penganut Islam dengan Syi’ah. Namun jika ditelusuri -terutama dari sisi akidah- perbedaan di antara keduanya ibarat minyak dan air. Sehingga, tidak mungkin disatukan.

Kesesatan Aqidah Syiah

✏Agama Syi’ah (Rafidhah) sejak awal kemunculannya hingga hari ini, selalu membuat resah umat Islam. Bagaimana tidak? Pencetus pertamanya adalah Abdullah bin Saba’ Al Himyari, seorang Yahudi dari negeri Yaman (Shan’a) yang menampakkan keislaman di masa kekhalifahan ‘Utsman bin Affan. Di awal kemunculannya, ia tampakkan sikap ekstrim dalam memuliakan sahabat Ali bin Abi Thalib, dengan suatu slogan bahwa beliau lah yang berhak menjadi imam (khalifah) dan beliau adalah seorang yang terjaga dari segala dosa (ma’shum). (Lihat Al Kamil Fit Tarikh karya Ibnul Atsir 3/154, Al Bidayah Wan Nihayah karya Ibnu Katsir 7/176, dan Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah 4/435).

✏Dalam perjalanannya, agama Syi’ah merobohkan tonggak-tonggak agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Betapa tidak?! Al Qur’anul Karim, kitab suci umat Islam divonis tidak asli dan telah terjadi perubahan/penyimpangan. Para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dituding sebagai pelacur. Sedangkan para shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia divonis murtad (keluar dari Islam) kecuali beberapa orang saja dari mereka. Wallahul Musta’an.

Al Imam Abu Zur’ah Ar Razi rahimahullah berkata: “Jika engkau melihat orang yang mencela salah satu dari sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketahuilah bahwa ia seorang zindiq (musuh Islam yang berkedok keislaman, pen.).

✏Demikian itu karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi kita adalah benar dan Al Qur’an adalah benar. Sesungguhnya yang menyampaikan Al Qur’an dan As Sunnah kepada umat adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh mereka mencela para saksi kita (para sahabat) dengan tujuan untuk meniadakan Al Qur’an dan As Sunnah. Mereka (Syi’ah Rafidhah) lebih pantas untuk dicela dan mereka adalah zanadiqah.” (Lihat Al Kifayah karya Al Khathib Al Baghdadi, hlm. 49).

>>>>
yang tertarik membLi buku tentang kesesatan syi'ah silakan hubungi admin
Baca selengkapnya »
Gempa Bumi Adalah Peringatan Dari Allah, Bukan Kehendak Alam!!

Gempa Bumi Adalah Peringatan Dari Allah, Bukan Kehendak Alam!!

Gempa Bumi Adalah Peringatan Dari Allah

Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata :

أذن الله سبحانه لها –أي للأرض– في الأحيان بالتنفس، فتحدث فيها الزلازل العظام، فيحدث من ذلك لعباده الخوف والخشية والإنابة والإقلاع عن معاصيه والتضرع إليه والندم، كما قال بعض السلف وقد زلزلت الأرض: إن ربكم يستعتبكم.

"Allah Subhanahu wa Ta'ala mengizinkan untuknya maksudnya bumi kadang-kadang untuk bernafas, lalu muncullah gempa besar padanya, dari situ timbullah rasa takut, taubat, berhenti dari kemaksiatan, merendahkan diri kepada-Nya, dan penyesalan pada diri hamba-hamba-Nya, sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama Salaf ketika terjadi gempa bumi, "Sesungguhnya Rabb kalian menginginkan agar kalian bertaubat."

📚 Miftah Daaris Sa’adah, jilid 2 hlm. 630
Baca selengkapnya »
Apakah Iblis Punya Istri ?

Apakah Iblis Punya Istri ?

Apakah Iblis Punya Istri ? 

Suatu kali ada seorang laki-laki bertanya kepada asy Sya'bi rahimahullah :

Penanya : Apakah iblis punya istri ?

Asy Sya'bi menjawab : iya punya

Penanya : apa dalilnya ?

Asy Sya'bi : firman Allah ta'ala :  {Apakah kalian menjadikan iblis dan keturunannya sebagai pemimpinmu selain Aku} surat al kahfi: 50.

Penanya : siapa nama istrinya ?

Asy Sya'bi : waktu pernikahannya kami gak hadir .

Siyar a'lamin nubala' 4/312.
-------------------------------

Apakah Iblis Punya Istri ?

هــل لإبــلــيـــس زوجــة ؟ 
ســأٓلٓ رٓجُـلٌ الشّـعـبـي مٓـرٓة؛ هٓـلْ لإِبْـلِـيـس زٓوْجـٓة ؟
قـال : نٓـعٓـم
قـال الـرّجـل : ومـا الـدلـيـل ؟
قـال : قـولـه تـعـالـى: { أٓفٓـتٓـتّٓـخِـذُونٓـهُ وٓذُرِّيّٓـتٓـهُ أٓوْلِـيٓـاءٓ مِـنْ دُونِي }
قـال الـرّجـل : ومٓـا إسْـمُـها ؟
فٓـقـال الـشّـعـبـي : ذٓاكٓ عُـرْسٌ مـا حٓـضٓـرْنٓـاه .
[ سير أعلام النبلاء | 312/4 ]
Baca selengkapnya »
Mungkinkah Ruh Saling Berkunjung di alam kubur ?

Mungkinkah Ruh Saling Berkunjung di alam kubur ?

Assalamualaikum pak ustad benarkah para arwah di alam kubur bisa saling berkunjung ? Mohon penjelasannya, trmksh

Dari: Khoirul Shobirin

Jawaban:

Wa alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha beliau mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ صَحِيحٌ يَقُولُ: ” إِنَّهُ لَمْ يُقْبَضْ نَبِيٌّ قَطُّ حَتَّى يَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الجَنَّةِ، ثُمَّ يُحَيَّا أَوْ يُخَيَّرَ
Ketika masih sehat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, ”Bahwa tidaklah seorang nabi diwafatkan, hingga dia melihat tempatnya di surga. Kemudian dia diberi salam perpisahan dan diberi pilihan.”

A’isyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan,

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit dan mendekati ajal, sementara kepala beliau di pangkuan A’isyah, beliau pingsan. Ketika sadar, beliau menengadahkan matanya ke atap rumah, kemudian beliau mengucapkan,

اللَّهُمَّ فِي الرَّفِيقِ الأَعْلَى
”Ya Allah, bersama ar-Rafiq al-A’la”

A’isyah lalu bertanya, “Berarti anda nanti tidak bersama kami?”

Namun ternyata tidak ada jawaban beliau. A’isyah sadar bahwa beliau dalam keadaan seperti yang pernah beliau sampaikan kepada kami ketika beliau masih sehat. (HR. Bukhari 4437 dan Muslim 2444).

Mayoritas ulama menegaskan bahwa yang dimaksud ar-Rafiq al-A’la adalah arwah para nabi dan rasul yang berada di tempat yang sangat tinggi. (Syarh Shahih Muslim an-Nawawi, 15/208).

Hadis ini dijadikan dalil oleh sebagian ulama bahwa arwah yang baik, akan saling ketemu setelah dia berpisah dari jasadnya. Ketika Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam menjelang wafat, beliau diberi pilihan antara tetap tinggal di dunia ataukah bersama ruh para nabi. Kemudian beliau memilih “ar-Rafiq al-A’la”, bersama ruh para nabi yang berada diilliyin, tempat yang sangat tinggi.

Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi menjelaskan,

أن الأرواح قسمان: أرواح معذبة، وأرواح منعمة، فالمعذبة في شغل بما هي فيه من العذاب عن التزاور والتلاقي والأرواح المنعمة المرسلة غير المحبوسة تتلاقى، وتتزاور، وتتذاكر ما كان منها في الدنيا، وما يكون من أهل الدنيا، فتكون كل روح مع رفيقها الذي هو على مثل عملها، فروح نبينا محمد صلى الله عليه وسلم في الرفيق الأعلى
Arwah itu ada dua, arwah yang sedang disiksa dan arwah yang mendapat nikmat. Arwah yang sedang disiksa, dia berada dalam kesibukannya menerima siksa, sehingga tidak bisa saling mengunjungi dan saling bertemu. Sementara ruh yang mendapatkan kenikmatan, dia dilepas, dan tidak ditahan, sehingga bisa saling berjumpa, saling berkunjung, saling menyebutkan keadaannya ketika di dunia, dan keadaan penduduk dunia. Sehingga setiap ruh, bersama rekannya yang memiliki amal semisal dengannya. Ruh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama ar-Rafiq al-A’la.

Kemudian Syaikh ar-Rajihi menyebutkan dalilnya,

والدليل على تزاورها، وتلاقيها قول الله تعالى: {وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا{ وهذه المعية ثابتة في الدنيا، وفي دار البرزخ، وفي دار الجزاء، والمرء مع من أحب في هذه الدور الثلاث
Dalil bahwa mereka saling berkunjung dan saling bertemu adalah firman Allah, yang artinya, “Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa: 69).

Mungkinkah Ruh Saling Berkunjung di alam kubur ?

Kebersamaan ini bersifat hakiki, di dunia, di alam barzakh, dan di akhirat negeri pembalasan. Setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya di tiga tempat ini.

Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi juga mengatakan,

وقد أخبر الله عن الشهداء بأنهم أحياء عند ربهم يرزقون، وأنهم يستبشرون بالذين لم يلحقوا بهم من خلفهم، وأنهم يستبشرون بنعمة من الله وفضل، وهذا يدل على تلاقيهم
Allah juga telah menyampaikan tentang keadaan para syuhada, bahwa mereka hidup, mendapat rizki di sisi Tuhan mereka. Mereka saling menyampaikan kabar gembira dengan keadaan orang-orang yang masih hidup, yang belum menyusul mereka. Mereka juga saling menyampaikan kabar gembira dengan kenikmatan dan karunia dari Allah. Ini semua menunjukkan bahwa mereka saling bertemu. (Syarh Aqidah Thahawiyah, hlm. 299).

Dalil yang ditunjuk Syaikh ar-Rajihi adalah firman Allah di surat Ali Imran,

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ . فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ . يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُؤْمِنِينَ
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka bergembira disebabkan karunia yang Allah berikan kepada mereka, dan mereka saling memberi kabar gembira terhadap orang-orang yang masih tinggal (masih hidup) di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka saling memberi kabar gembira dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imran: 169 – 171).

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)
Baca selengkapnya »
Rajin Sholat tapi Suka Iseng Melihat Kartu Ramalan

Rajin Sholat tapi Suka Iseng Melihat Kartu Ramalan

بسم اللّه الرحمن الر حيم

السلام عليكم ورحمةالله وبركاته
Ustadz, bagaimana hukumnya bila seseorang yang rajin mengerjakan sholat tetapi masih melakukan kesyirikan? Misalnya dengan iseng melihat-lihat ramalan kartu. Mohon penjelasannya, ustadz.

Jazakallahu khairan.

(Penanya Lilis, Sahabat BiAS T05-G-10)

Jawaban

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ
Alhamdulillāh, Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Minimal ada dua kemungkinan buruk baginya :

1. Jika ia mempercayai ramalan kartu itu, maka ia telah melakukan kemusyrikan yang akan menghapuskan seluruh amal kebaikan yang dilakukan.

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan ;

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Al Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad.” (HR. Ahmad : 9532).


Rajin Sholat tapi Suka Iseng Melihat Kartu Ramalan

2. Namun jika sekedar iseng melakukan ramalan dan tidak mempercayainya, maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari.

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan :

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.” (HR. Muslim no. 2230)..

Maksud tidak diterima shalatnya selama 40 hari dijelaskan oleh Imam Nawawi :

وَأَمَّا عَدَم قَبُول صَلاته فَمَعْنَاهُ أَنَّهُ لا ثَوَاب لَهُ فِيهَا وَإِنْ كَانَتْ مُجْزِئَة فِي سُقُوط الْفَرْض عَنْهُ , وَلا يَحْتَاج مَعَهَا إِلَى إِعَادَة
“Adapun maksud tidak diterima shalatnya adalah orang tersebut tidak mendapatkan pahala. Namun shalat yang ia lakukan tetap dianggap dapat menggugurkan kewajiban shalatnya dan ia tidak butuh untuk mengulangi shalatnya.” (Syarah Shahih Muslim : 14/227)

Wallohu A’lam

Dijawab dengan ringkas oleh: Ustadz Abul Aswad Al Bayati حفظه الله
Sumber: bimbinganislam.com

Yuk bagikan kebaikan ini kepada orang lain..
Baca selengkapnya »
Bolehkah Mengundang Pawang Hujan agar Acara lancar ?

Bolehkah Mengundang Pawang Hujan agar Acara lancar ?

Bagaimana hukum mengundang pawang hujan agar hujan tidak turun karena adanya acara atau kegiatan yang akan dilangsungkan? Mohon penjelasannya Ustadz.

Jawab: Air hujan yang turun dari langit sesungguhnya rahmat dan karunia dari Allah subhanahu wa ta'ala. Hal ini telah Allah ingatkan dalam firman-Nya:

ونزلنا من السماء ماء مباركا فأنبتنا به جنات وحب الحصيد
"Dan Kami turunkan dari langit air yang diberkahi lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam." (Qof: 9)

Mengundang Pawang Hujan

Turunnya hujan juga membuka kesempatan bagi kita untuk mendulang amal sholih seperti berdoa kepada Allah saat melihat hujan turun dengan kalimat:
اللهم صيبا نافعا 
"Alloohumma shoyyiban naafi'a" (Ya Allah curahkanlah hujan yang bermanfaat). (HR. Al-Bukhori 1032)

Bahkan Nabi shollallahu 'alaihi wasallam menyingkap pakaiannya saat awal-awal turunnya hujan sehingga air hujan mengenai tubuh beliau (HR. Muslim 1494)

Hal itu beliau lakukan guna mengharap berkah dari Allah melalui air hujan yang baru saja Allah turunkan.

Saat hujan turun juga dianjurkan banyak-banyak berdoa karena pada waktu itu termasuk waktu maqbulnya doa. Nabi shollallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Carilah mustajabnya doa pada tiga waktu yaitu saat berhadapannya dua pasukan perang, saat menjelang iqomat sholat, saat turunnya hujan." (Shohihul Jami' 1026)

Maka orang yang menyesalkan turunnya hujan adalah orang yang tidak bersyukur kepada nikmat Allah. Perbuatan seperti itu termasuk kufur nikmat (dosa besar) yang bisa menjadi sebab dicabutnya nikmat-nikmat Allah yang lain. Padahal boleh jadi kegiatannya itu diberkahi Allah lantaran turunnya hujan.

Adapun mengundang pawang hujan hukumnya sama seperti mengundang dukun (paranormal). Perbuatan ini juga termasuk dosa besar yang dapat menjerumuskan orang kepada kekufuran (keluar dari Islam). Nabi shollallahu 'alaihi wasallam bersabda:

من أتى كاهنا فصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على محمد
"Barangsiapa mendatangi dukun lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad (Al-Qur'an)." (HR. At-Tirmidzi 135 dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam "Irwa'ul Gholil" 6817)

Al-Qur'an telah menegaskan bahwa tidak ada yang mengetahui perkara ghoib kecuali Allah. Sedangkan turunnya hujan termasuk perkara yang ghoib. Maka mempercayai orang berkemampuan mengendalikan hujan berarti dia telah mengakui adanya pihak yang Mahatahu perkara ghoib selain Allah. Ini adalah keyakinan syirik dan bila pelakunya mati namun belum sempat bertaubat kepada Allah maka tempatnya di neraka kekal selama-lamanya. Allah berfirman:

إنه من يشرك بالله فقد حرم الله عليه الجنة ومأواه النار وما للظالمين من أنصار
“Barangsiapa yang berbuat syirik, maka sungguh Allah haromkan atasnya untuk masuk surga, dan tempatnya di neraka. Dan tidak ada bagi orang yang zalim seorang penolongpun.” (Al-Ma’idah: 72)

Lalu bagaimana bila ternyata hujan benar-benar tidak turun? Jangan Anda terpedaya karena yang demikian itu adalah ujian dari Allah. Sesungguhnya syaithon hendak mempermainkan manusia agar mau menghambakan dirinya kepada selain Allah.

Nabi shollallahu 'alaihi wasallam telah mengabarkan, bahwa syaithon dari kalangan jin mencuri dengar berita langit lalu dia sampaikan satu berita itu kepada pengabdinya dari kalangan dukun yang dicampur dengan seratus berita dusta. Oleh sebab itu terkadang ada berita dari para dukun yang tidak meleset terjadi, akan tetapi semua itu adalah ujian dari Allah.
__
ustadz Fikri Abul Hasan
Baca selengkapnya »
Terus waspada, Inilah Ciri-Ciri Dukun dan Penyihir

Terus waspada, Inilah Ciri-Ciri Dukun dan Penyihir

Perdukunan, ramalan nasib, dan sejenisnya telah tegas diharamkan oleh Islam dengan larangan yang keras. Sisi keharamannya terkait dengan banyak hal, di antaranya:

1. Apa yang akan terjadi itu hanya diketahui oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Maka seseorang yang meramal berarti ia telah menyejajarkan dirinya dengan Allah subhanahu wa ta'ala dalam hal ini. Ini merupakan kesyirikan, membuat sekutu (tandingan) bagi Allah subhanahu wa ta'ala. Atau;

2. Meminta bantuan kepada jin atau setan. Ini banyak terkait dengan praktik perdukunan dan sihir semacam santet atau sejenisnya.

Praktik sihir, ramal, dan perdukunan sendiri telah dikenal di masyarakat Arab dengan beberapa istilah. Para dukun dan peramal itu terkadang disebut:

1. Kahin

Al-Baghawi t mengatakan bahwa Al-Kahin adalah seseorang yang mengabarkan sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang. Ada pula yang mengatakan, al-kahin adalah yang mengabarkan apa yang tersembunyi dalam qalbu.

2. ‘Arraf

Al-Baghawi t mengatakan bahwa ia adalah orang yang mengaku-ngaku mengetahui urusan-urusan tertentu melalui cara-cara tertentu, yang darinya ia mengaku mengetahui tempat barang yang dicuri atau hilang.

3. Rammal

Raml dalam bahasa Arab berarti pasir yang lembut. Rammal adalah seorang tukang ramal yang menggaris-garis di pasir untuk meramal sesuatu. Ilmu ini telah dikenal di masyarakat Arab dengan sebutan ilmu raml.

4. Munajjim, ahli ilmu nujum

Nujum artinya bintang-bintang. Akhir-akhir ini populer dengan nama astrologi (ilmu perbintangan) yang dipakai untuk meramal nasib.

5. Sahir, tukang sihir

Ini lebih jahat dari yang sebelumnya, karena dia tidak hanya terkait dengan ramalan bahkan dengan ilmu sihir yang identik dengan kejahatan.

Dan masih ada lagi tentunya istilah lain. Namun hakikatnya semuanya bermuara pada satu titik kesamaan yaitu meramal, mengaku mengetahui perkara ghaib (sesuatu yang belum diketahui) yang akan datang, baik itu terkait dengan nasib seseorang, suatu peristiwa, mujur dan celaka, atau sejenisnya. Perbedaannya hanyalah dalam penggunaan alat yang dipakai untuk meramal. Ada yang memakai kerikil, bintang, atau yang lain. Oleh karenanya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Al-‘Arraf, adalah sebutan bagi kahin, munajjim, dan rammaal, serta yang sejenis dengan mereka, yang berbicara dalam hal mengetahui perkara-perkara semacam itu dengan cara-cara semacam ini.” (dinukil dari Kitabut Tauhid)

dukun untuk mencari mangsa di whatsapp

Dengan demikian, apapun nama dan julukannya, baik disebut dukun, tukang sihir, paranormal, ‘orang pintar’, ‘orang tua’, spiritualis, ahli metafisika, atau bahkan mencatut nama kyai dan gurutta (sebutan untuk tokoh agama di Sulawesi Selatan), atau nama-nama lain, jika dia bicara dalam hal ramal-meramal dengan cara-cara semacam di atas maka itu hukumnya sama: haram dan syirik, menyekutukan Allah subhanahu wa ta'ala.

Demikian pula istilah-istilah ilmu yang mereka gunakan, baik disebut horoskop, zodiak, astrologi, ilmu nujum, ilmu spiritual, metafisika, supranatural, ilmu hitam, ilmu putih, sihir, hipnotis dan ilmu sugesti, feng shui, geomanci, berkedok pengobatan alternatif atau bahkan pengobatan Islami, serta apapun namanya, maka hukumnya juga sama, haram.

Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah mengatakan saat menjelaskan sebuah hadits Nabi shallallahu alahi wa salam:

إِذَا قَضَى اللهُ الْأَمْرَ فِي السَّمَاءِ ضَرَبَتِ الْمَلَائِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا خضَعَانًا لِقَوْلِهِ كَأَنَّهُ سِلْسِلَةٌ عَلَى صَفْوَانٍ فَإِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا: مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟ قَالُوا لِلَّذِي قَالَ: الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ. فَيَسْمَعُهَا مُسْتَرِقُ السَّمْعَ وَمُسْتَرِقُ السَّمْعِ هَكَذَا بَعْضَهُ فَوْقَ بَعْضٍ –وَوَصَفَ سُفْيَانُ بِكَفِّهِ فَحَرَّفَهَا وَبَدَّدَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ- فَيَسْمَعُ الْكَلِمَةَ فَيُلْقِيهَا إِلَى مَنْ تَحْتَهُ ثُمَّ يُلْقِيهَا الْآخَرُ إِلَى مَنْ تَحْتَهُ حَتَّى يُلْقِيهَا عَلَى لِسَانِ السَّاحِرِ أَوِ الْكَاهِنِ فَرُبَّمَا أَدْرَكَ الشِّهَابُ قَبْلَ أَنْ يُلْقِيَهَا وَرُبَّمَا أَلْقَاهَا قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُ فَيَكْذِبُ مَعَهَا مِائَةَ كِذْبَةٍ فَيُقَالُ: أَلَيْسَ قَدْ قَالَ لَنَا يَوْمَ كَذَا وَكَذا كَذَا وَكَذَا؟ فَيُصَدَّقُ بِتِلْكَ الْكَلِمَةِ الَّتِي سُمِعَ مِنَ السَّمَاءِ
Apabila Allah memutuskan sebuah urusan di langit, tertunduklah seluruh malaikat karena takutnya terhadap firman Allah subhanahu wa ta'ala seakan-akan suara rantai tergerus di atas batu. Tatkala tersadar, mereka berkata: “Apa yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?” Mereka menjawab: “Kebenaran, dan dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Lalu berita tersebut dicuri oleh para pencuri pendengaran (setan).

Demikian sebagian mereka di atas sebagian yang lain –Sufyan menggambarkan tumpang tindihnya mereka dengan telapak tangan beliau lalu menjarakkan antara jari jemarinya–. (Pencuri berita) itu mendengar kalimat yang disampaikan, lalu menyampaikannya kepada yang di bawahnya. Yang di bawahnya menyampaikannya kepada yang di bawahnya lagi, sampai dia menyampaikannya ke lisan tukang sihir atau dukun.

Terkadang mereka dijumpai oleh bintang pelempar sebelum dia menyampaikannya, namun terkadang dia bisa menyampaikan berita tersebut sebelum dijumpai oleh bintang tersebut. Dia menyisipkan seratus kedustaan bersama satu berita yang benar itu. Kemudian petuah dukun yang salah dikomentari: “Bukankah dia telah mengatakan demikian pada hari demikian?” Dia dibenarkan dengan kalimat yang didengarnya dari langit itu.”

(HR. Al-Bukhari no. 4522 dari sahabat Abu Hurairah )

Pada (hadits ini) terdapat keterangan tentang batilnya sihir dan perdukunan, bahwa keduanya sumbernya sama yaitu mengambil dari setan. Oleh karena itu, sihir tidak boleh diterima, demikian pula berita tukang sihir. Juga dukun dan berita dukun. Karena sumbernya batil. Disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu alahi wa salam:

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافًا لمَ ْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً
“Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal maka tidak diterima shalatnya 40 hari.”

Dalam hadits yang lain:

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ 
“Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal lalu memercayai apa yang dia katakan maka dia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu alahi wa salam.”

Dalam hadits ini terdapat keterangan batilnya sihir atau dukun, larangan membenarkan tukang sihir atau dukun, atau mendatangi mereka. Akan tetapi di masa ini, para tukang sihir dan dukun muncul dengan julukan tabib atau ahli pengobatan. Mereka membuka tempat-tempat praktik serta mengobati orang-orang dengan sihir dan perdukunan. Namun mereka tidak mengatakan: “Ini sihir, ini perdukunan.” Mereka tampakkan kepada manusia bahwa mereka mengobati dengan cara yang mubah, serta menyebut nama Allah subhanahu wa ta'ala di depan orang-orang.

Bahkan terkadang membaca sebagian ayat Al-Qur’an untuk mengelabui manusia, tapi dengan sembunyi mengatakan kepada orang yang sakit, “Sembelihlah kambing dengan sifat demikian dan demikian, tapi jangan kamu makan (dagingnya), ambillah darahnya”, “Lakukan demikian dan demikian”, atau mengatakan “Sembelihlah ayam jantan atau ayam betina” ia sebutkan sifat-sifatnya dan mewanti-wanti “Tapi jangan menyebut nama Allah subhanahu wa ta'ala”. Atau menanyakan nama ibu atau ayahnya (pasien), mengambil baju atau topinya (si sakit) untuk dia tanyakan kepada setan pembantunya, karena setan juga saling memberi informasi. Setelah itu ia mengatakan: “Yang menyihir kamu itu adalah fulan”, padahal dia juga dusta. Maka wajib bagi muslimin untuk berhati-hati.

(I’anatul Mustafid)

Ciri-ciri Dukun atau Penyihir

Berikut ini beberapa ciri dukun, sehingga dengan mengetahui ciri-ciri tersebut, hendaknya kita berhati-hati bila kita dapati ciri-ciri tersebut ada pada seseorang walaupun dia mengaku hanya sebagai tukang pijat bahkan kyai. Di antara ciri tersebut:

1. Bertanya kepada yang sakit tentang namanya, nama ibunya, atau semacamnya.

2. Meminta bekas-bekas si sakit baik pakaian, sorban, sapu tangan, kaos, celana, atau sejenisnya dari sesuatu yang biasa dipakai si sakit. Atau bisa juga meminta fotonya.

3. Terkadang meminta hewan dengan sifat tertentu untuk disembelih tanpa menyebut nama Allah subhanahu wa ta'ala, atau dalam rangka diambil darahnya untuk kemudian dilumurkan pada tempat yang sakit pada pasiennya, atau untuk dibuang di tempat kosong.

4. Menulis jampi-jampi dan mantra-mantra yang memuat kesyirikan.

5. Membaca mantra atau jampi-jampi yang tidak jelas.

6. Memberikan kepada si sakit kain, kertas, atau sejenisnya, dan bergariskan kotak. Di dalamnya terdapat pula huruf-huruf dan nomor-nomor.

7. Memerintahkan si sakit untuk menjauh dari manusia beberapa saat tertentu di sebuah tempat yang gelap yang tidak dimasuki sinar matahari.

8. Meminta si sakit untuk tidak menyentuh air sebatas waktu tertentu, biasanya selama 40 hari.

9. Memberikan kepada si sakit sesuatu untuk ditanam dalam tanah.

10. Memberikan kepada si sakit sesuatu untuk dibakar dan mengasapi dirinya dengannya.

11. Terkadang mengabarkan kepada si sakit tentang namanya, asal daerahnya, dan problem yang menyebabkan dia datang, padahal belum diberitahu oleh si sakit.

12. Menuliskan untuk si sakit huruf-huruf yang terputus-putus baik di kertas atau mangkok putih, lalu menyuruh si sakit untuk meleburnya dengan air lantas meminumnya.

13. Terkadang menampakkan suatu penghinaan kepada agama misal menyobek tulisan-tulisan ayat Al-Qur’an atau menggunakannya pada sesuatu yang hina.

14. Mayoritas waktunya untuk menyendiri dan menjauh dari orang-orang, karena dia lebih sering bersepi bersama setannya yang membantunya dalam praktik perdukunan. (Kaifa Tatakhallas minas Sihr)

Ini sekadar beberapa ciri dan bukan terbatas pada ini saja. Dengannya, seseorang dapat mengetahui bahwa orang tersebut adalah dukun atau penyihir, apapun nama dan julukannya walaupun terkadang berbalut label-label keagamaan semacam kyai atau ustadz.

Dilarang Mendatangi Dukun

Bila kita telah mendengar tentang seseorang yang memiliki ciri-ciri sebagaimana dijelaskan di atas, janganlah kita mendatanginya. Hal itu sangat dilarang dalam agama Islam. Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan:

Dalam Shahih Muslim disebutkan:

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافًا لمَ ْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً
“Barangsiapa mendatangi dukun maka tidak akan diterima shalatnya selama 40 hari.”

Hukum ini sebagai akibat dari hanya mendatangi dukun saja. Karena (sekadar) mendatanginya sudah merupakan kejahatan dan perbuatan haram, walaupun ia tidak memercayai dukun tersebut. Oleh karenanya, ketika sahabat Mu’awiyah Ibnul Hakam radhiallahu anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu alahi wa salam perihal dukun beliau menjawab: ‘Jangan kamu datangi dia.’ Nabi n melarangnya walaupun sekadar mendatanginya. Jadi hadits ini menunjukkan tentang haramnya mendatangi dukun walaupun tidak memercayainya, walaupun yang datang mengatakan: ‘Kedatangan saya hanya sekadar ingin tahu’. Ini tidak boleh.

“Tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari” dalam sebuah riwayat “40 hari 40 malam.”

Ini menunjukkan beratnya hukuman bagi yang mendatangi dukun, di mana shalatnya tidak diterima di sisi Allah subhanahu wa ta'ala, tidak ada pahalanya di sisi Allah subhanahu wa ta'ala, walaupun ia tidak diperintahkan untuk mengulangi shalatnya, karena secara lahiriah ia telah melakukan shalat. Akan tetapi, antara dia dengan Allah subhanahu wa ta'ala, dia tidak mendapatkan pahala dari shalatnya karena tidak Allah subhanahu wa ta'ala terima.

Ini adalah ancaman keras yang menunjukkan haramnya mendatangi dukun, sekadar mendatangi walaupun tidak memercayai. Adapun bila memercayainya maka hadits-hadits yang akan dijelaskan berikut telah menunjukkan ancaman yang keras, kita berlindung kepada Allah subhanahu wa ta'ala.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu alahi wa salam bahwa beliau n bersabda:

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ 
“Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal lalu memercayai apa yang dia katakan maka dia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu alahi wa salam.”

Dalam hadits ini ada dua masalah:

Masalah pertama: mendatangi dukun.

Masalah kedua: memercayainya pada apa yang ia beritakan dari perdukunannya. Hukumnya ia telah dianggap kafir terhadap apa yang Allah subhanahu wa ta'ala turunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alahi wa salam. Karena tidak akan bersatu antara membenarkan apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu alahi wa salam dengan membenarkan berita dukun yang itu adalah pekerjaan setan. Dua hal yang tidak mungkin bersatu, memercayai Al-Qur’an dan memercayai dukun.

Yang nampak dari hadits itu bahwa ia telah keluar dari Islam.

Dari riwayat dari Al-Imam Ahmad t ada dua pemahaman dalam hal kekafiran semacam ini. Satu riwayat, bahwa maksudnya kekafiran besar yang mengeluarkan dari agama. Riwayat yang lain: kekafiran kecil, di bawah kekafiran tadi.

Ada pendapat ketiga: tawaqquf, yakni kita baca hadits sebagaimana datangnya tanpa menafsirkan serta mengatakan kafir besar atau kecil. Kita katakan seperti kata Rasulullah n dan cukup.

Tapi yang kuat –wallahu a’lam– adalah pendapat yang pertama, bahwa itu adalah kekafiran yang mengeluarkan dari agama. Karena tidak akan bersatu antara iman kepada Al-Qur’an dengan iman kepada perdukunan. Karena Allah subhanahu wa ta'ala telah mengharamkan perdukunan, dan memberitakan bahwa itu adalah perbuatan setan, maka orang yang memercayai dan membenarkan berarti telah kafir dengan kekafiran besar. Inilah yang nampak dari hadits. (I’anatul Mustafid)

Demikian penjelasan beliau tentang mendatangi dukun. Adapun tentang bertanya-tanya atau konsultasi dengan para dukun, telah dijelaskan dalam rubrik Manhaji secara lebih detail.

Ada satu hal yang perlu lebih kita sadari, yaitu kecanggihan teknologi yang ada ternyata digunakan para dukun untuk mencari mangsa. Sehingga tidak mesti seseorang datang ke tempat praktik dukun tersebut, tapi justru dukunnya yang mendatangi seseorang melalui radio, televisi, internet, atau SMS. Dengan itu, bertanya kepada dukun jalannya semakin dipermudah.

Cukup dengan ketik: ”reg spasi ….” selanjutnya mengirimkannya ke nomor tertentu melalui ponsel, seseorang sudah bisa mendapatkan layanan perdukunan. Bahkan, sampai-sampai ada sebuah stasiun televisi yang membuat program khusus untuk menayangkan kompetisi di antara dukun/ tukang sihir.

Subhanallah, cobaan nyata semakin berat. Kaum muslimin mesti menyadari hal ini. Jangan sampai kecanggihan teknologi ini membuat kita semakin jauh dari ajaran agama. Justru seharusnya kita gunakan kemajuan teknologi ini untuk membantu kita agar semakin taat kepada Allah subhanahu wa ta'ala.

Semoga kaum muslimin menerima dan memahaminya dengan baik sehingga menyadari akan bahaya perdukunan, untuk kemudian kaum muslimin pun bersatu dalam memerangi perdukunan.

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.)
artikel: asysyariah.com
Baca selengkapnya »
DAKWAH TAUHID ADALAH DAKWAH PARA RASUL

DAKWAH TAUHID ADALAH DAKWAH PARA RASUL

Allah Ta'ala berfirman:

(وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ ...)
"Dan sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang Rasul (untuk menyerukan): 'Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu'..." (QS. An-Nahl: 36).

Allah Ta'ala juga berfirman:

(وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ)
"Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: 'Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah Aku'" (QS. Al-Anbiyaa': 25).

-MENDAKWAHKAN TAUHID ITU DENGAN DUA CARA (yaitu):

Secara global, dan Secara rinci.

[1]-Dakwah Tauhid secara Global adalah:

-menjelaskan makna Tauhid,
-menjelaskan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'ala hanya Dia-lah yang berhak untuk diibadahi,
-menegakkan dalil-dalil tentang (kewajiban) mentauhidkan Allah,
-bahwasanya Tauhid adalah perkara penting yang paling penting,
-bahwasanya Tauhid adalah dakwah para Nabi dan Rasul,
-bahwasanya Tauhid itu memiliki keutamaan, seperti menghapuskan dosa,
-dan seterusnya tentang penjelasan Tauhid dan keutamaannya SECARA GLOBAL TANPA DIRINCI.

DAKWAH TAUHID

(Dakwah Tauhid secara global seperti ini) banyak para da'i di zaman ini yang mendakwahkannya; karena dakwah secara global, semua orang menyepakatinya, karena makna Tauhid (ketika disampaikan secara global) sesuai dengan penafsiran orang yang mendengarnya, bukan sesuai dengan orang yang menyampaikannya. 

Jika penafsiran (makna Tauhid) diserahkan kepada orang yang mendengar, maka dia akan memungkinkan memiliki beberapa sisi (makna), maka mungkin saja dia akan ditafsirkan sesuai dengan orang yang mendengar.

Maka kaum musyrikin di zaman ini, jika engkau memerintahkan mereka untuk mentauhidkan Allah -secara global- mereka tidak akan membantahmu, karena Tauhid menurut mereka adalah Tauhid Rububiyyah.

Begitu juga orang-orang yang guluw (melampaui batas) dalam menyembah para wali dan orang shalih, jika engkau perintahkan kepada mereka untuk bertauhid -dan engkau tidak merinci permasalahan yang ada pada mereka-; maka mereka tidak akan mengingkarimu.

(Dakwah Tauhid secara global seperi ini) tidak bisa membedakan mana orang yang bertauhid atau mana para da'i yang mengajak kepada Tauhid.

Akan tetapi jika dakwah Tauhid secara global ini hanya sebagai langkah awal kemudian nanti dia akan merinci, maka ini cocok.

Akan tetapi jika seseorang mendakwahkan Tauhid secara global tanpa dirinci; MAKA INI TIDAK TERMASUK MANHAJ KITA, TIDAK PULA MANHAJ IMAM DAKWAH INI, DAN TIDAK PULA MANHAJ PARA IMAM TERDAHULU.

[2]- Dakwah Tauhid Secara Rinci.

Tauhid adalah: mengesakan Allah dalam ibadah (artinya: kita hanya beribadah kepada Allah, tidak kepada yang lain-Nya). Dan tauhid ini adalah perwujudan dari syahadat Laa ilaaha illallah dan Muhammad Rasulullah, yaitu dengan mengesakan Allah dalam amalan-amalan hati dan amalan-amalan anggota badan.

Amalan-amalan anggota badan itu bermacam-macam, diantaranya: mahabbah, raghbah, rahbah, rajaa', khauf, tawakkul, inabah, khusyu', dan yang lainnya.

Barang siapa berdakwah kepada setiap permasalahan dari permasalahan-permasalahan di atas -SECARA RINCI-, maka sungguh dia telah berdakwah kepada permasalahan Tauhid secara rinci.

Dia menjelaskan tentang raghbah, rahbah, tawakkul, mahabbah, dan dia merinci penjelasannya dengan menyebutkan perkataan para ulama. Ini tentang amalan-amalan hati.

Begitu juga dia mendakwahkan Tauhidullah dengan menjelaskan tentang amalan-amalan anggota badan secara rinci, seperti shalat, do'a dan macam-macamnya, begitu juga tentang menyembelih dan yang sepertinya. Maka dia mengambil setiap permasalahan, lalu menjelaskan tentang wajibnya mengesakan Allah dengan ibadah-ibadah ini dengan rinci.

Begitu juga (dia mendakwahkan) tentang (kewajiban mengikuti) Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, dan (kewajiban) menghukumi dan berhukum dengan syari'at beliau, ini adalah satu bagian dari Tauhid.

Maka Ahlut Tauhid, mereka berdakwah kepada semua hal ini. Adapun selain mereka -dari orang-orang yang terdapat syubhat di hatinya, atau dia memiliki jalan atau metode yang lain-; maka mereka mengajak kepada Tauhid secara global.

-Lawan dari Tauhid adalah syirik, dan syirik itu ada yang akbar (besar) dan ada yang ashghar (kecil).

Dakwah Tauhid harus disertai dengan larangan dari berbuat syirik, karena dakwah Tauhid itu adalah dakwah kepada Laa ilaaha illallah, yaitu: kufur kepada thaghut (segala sesuatu yang disembah selain Allah), dan iman kepada Allah.

(Dalam dakwah Tauhid) harus melarang dari berbuat syirik.

Maka Ahlut Tauhid itu: mengajak kepada Tauhid dan melarang dari berbuat syirik secara global dan rinci.

Terkadang engkau dapati pada banyak orang (para da'i) yang berbicara tentang Tauhid: penjelasan tentang jeleknya kesyirikan secara global, bahwasanya syirik adalah sebesar-besar maksiat kepada Allah, dan yang sepertinya dari penjelasan syirik secara global tanpa menyebutkan bentuk-bentuk kesyirikan yang ada.

Maka dakwah yang seperti ini tidak memberikan faedah yang diharapkan.

[Syarhu Kasyfisy Syubuhaat, (hlm. 15-18, dengan sedikit diringkas), karya Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh hafizhahullah].

Dakwah Tauhid secara menyeluruh (global dan rinci) dapat diambil dari "KITAABUT TAUHIID" (karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah): karena di dalamnya terdapat penjelasan tentang Tauhid secara global dan rinci, dan di dalamnya juga terdapat penjelasan tentang lawannya (yaitu syirik) secara global dan rinci.

[Syarhu Kasyfisy Syubuhaat, (hlm. 18) karya Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh hafizhahullah].

Ditulis oleh: Abdul Aziz bin Ahmad.
Baca selengkapnya »
Setiap kita akan Melakukan PERJALANAN MENUJU AKHIRAT

Setiap kita akan Melakukan PERJALANAN MENUJU AKHIRAT

Hari akhirat, hari setelah kematian yang wajib diyakini kebenarannya oleh setiap orang yang beriman kepada Allah ta'ala dan kebenaran agama-Nya. Hari itulah hari pembalasan semua amal perbuatan manusia, hari perhitungan yang sempurna, hari ditampakkannya semua perbuatan yang tersembunyi sewaktu di dunia, hari yang pada waktu itu orang-orang yang melampaui batas akan berkata dengan penuh penyesalan.

يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي
"Duhai, alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini." (Qs. Al Fajr: 24)

Maka seharusnya setiap muslim yang mementingkan keselamatan dirinya benar-benar memberikan perhatian besar dalam mempersiapkan diri dan mengumpulkan bekal untuk menghadapi hari yang kekal abadi ini. Karena pada hakikatnya, hari inilah masa depan dan hari esok manusia yang sesungguhnya, yang kedatangan hari tersebut sangat cepat seiring dengan cepat berlalunya usia manusia. 

PERJALANAN MENUJU AKHIRAT

Allah ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Qs. Al Hasyr: 18)

Dalam menafsirkan ayat di atas Imam Qotadah berkata: "Senantiasa tuhanmu (Allah) mendekatkan (waktu terjadinya) hari kiamat, sampai-sampai Dia menjadikannya seperti besok." (Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam kitab beliau Ighaatsatul Lahfan (hal. 152 - Mawaaridul Amaan). 

Beliau (Abu Qatadah) adalah Qotadah bin Di'aamah As Saduusi Al Bashri (wafat setelah tahun 110 H), imam besar dari kalangan tabi'in yang sangat terpercaya dan kuat dalam meriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. (lihat kitab Taqriibut Tahdziib, hal. 409)

Semoga Allah ta'ala meridhai sahabat yang mulia Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu yang mengingatkan hal ini dalam ucapannya yang terkenal: "Hisab-lah (introspeksilah) dirimu (saat ini) sebelum kamu di-hisab (diperiksa/dihitung amal perbuatanmu pada hari kiamat), dan timbanglah dirimu (saat ini) sebelum (amal perbuatan)mu ditimbang (pada hari kiamat), karena sesungguhnya akan mudah bagimu (menghadapi) hisab besok (hari kiamat) jika kamu (selalu) mengintrospeksi dirimu saat ini, dan hiasilah dirimu (dengan amal shaleh) untuk menghadapi (hari) yang besar (ketika manusia) dihadapkan (kepada Allah ta'ala):

يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ
"Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Allah), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi-Nya)." (Qs. Al Haaqqah: 18). (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab beliau Az Zuhd (hal. 120), dengan sanad yang hasan)

Senada dengan ucapan di atas sahabat yang mulia Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berkata: "Sesungguhnya dunia telah pergi meninggalkan (kita) sedangkan akhirat telah datang di hadapan (kita), dan masing-masing dari keduanya (dunia dan akhirat) memiliki pengagum, maka jadilah kamu orang yang mengagumi/mencintai akhirat dan janganlah kamu menjadi orang yang mengagumi dunia, karena sesungguhnya saat ini (waktunya) beramal dan tidak ada perhitungan, adapun besok (di akhirat) adalah (saat) perhitungan dan tidak ada (waktu lagi untuk) beramal." (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Az Zuhd (hal. 130) dan dinukil oleh Imam Ibnu Rajab Al Hambali dalam kitab beliau Jaami'ul 'uluumi wal hikam (hal. 461)).

Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim Al Buthoni, M.A.
artikel: muslim.or.id

NB: Silakan di-share, semoga bisa menjadi jalan kebaikan. Jazaakumullaahu khayron wa baaroka fiykum.
Baca selengkapnya »
Mengapa Tauhid Itu Penting ?

Mengapa Tauhid Itu Penting ?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (w. 728 H) berkata :

"Siapa pun yang merenungkan setiap kejadian yang ada di alam semesta ini, sungguh ia akan mengetahui bahwa kebaikan apa pun yang ada di alam semesta ini, sebab utamanya adalah karena mereka bertauhid, beribadah kepada Allah, dan menaati rasulNya. 

Mengapa Tauhid Itu Penting ?

Sebaliknya, keburukan apapun yang terjadi di alam semesta ini, kerusakan, musibah, dan kekalahan-kekalahan kaum muslimin, sebab utamanya adalah karena *mereka beribadah kepada selain Allah dan menyelisihi sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Siapa pun yang merenungi setiap kejadian ini dengan sebenar-sebenarnya, sungguh ia pun akan tahu bahwa apapun yang menimpa dirinya sendiri atau menimpa orang lain, sebab utamanya tak lain adalah karena Tauhid. Lā haula wa lā quwwata illā billāh."

Payakumbuh, 26 Jumadal Akhirah 1439 H.
Diterjemahkan oleh Abdurrahman Ad Dify dari kitab Fathul Majîd, halaman 6, cetakan Dâr Ibn al-Atsîr.
Baca selengkapnya »
Harus Tahu, Inilah 10 Pembatal Keislaman seorang Muslim

Harus Tahu, Inilah 10 Pembatal Keislaman seorang Muslim

Banyak orang mengira, setelah mengucapkan dua kalimah Syahadat predikat “Islam” langsung bersandar pada seseorang. Padahal, predikat itu bisa hilang alias batal jika tidak berhati-hati dalam menjaga segala amalan dalam hidupnya.

Di bawah ini ada 10 amalan yang bisa menjadikannya pembatal keislaman seseorang;

1. Syirik dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta'ala

Syirik adalah termasuk dosa besar. Karena dia menyamakan Allah (sebagai khalik) dengan manusia atau benda (sebagai makhluk). Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa orang yang menyekutukan Dia dengan sesuatu, dan mengampuni dosa-dosa lainnya bagi yang Dia kehendaki.” (An-Nisa’: 116)

2. Menjadikan suatu benda (makhluq) sebagai perantara antara dirinya dengan Rabbnya

Orang-orang seperti ini, biasanya selalu menempatkan benda-benda atau makhluk ciptaan Allah sebagai perantara antara dirinya dengan Allah. Misalnya dengan berdo’a atau memohon ampun dan meminta syafaat melalui benda itu. Baik melalui benda mati atau benda hidup. Termasuk manusia atau hewan sekalipun. Meminta kaya dengan keris atau jimat. Meminta diberi panjang umur, cepat mendapat jodoh melalui makam-makan orang yang sudah mati.

Di beberapa kota di Indonesia, bahkan dikenal adat berebut kotoran hewan atau berebut air bekas cucian keris warisan raja-raja agar mendapatkan barakah. Perbuatan seperti ini sama halnya menundukkan benda setara dengan Rabbnya. Sikap seperti ini merupakan salah satu pembatal keislaman.

3. Tidak mengkafirkan orang musyrik dan membenarkan madzab/ajaran mereka.

Sikap Islam sudah jelas, orang musyrik adalah kafir. Sayangnya, perkembangan dunia sekarang ini justru terbalik. Hanya karena ingin sebutan sebagai kaum yang moderat atau entah karena kedekatan hubungan, sebagian kalangan Islam segan menyebut istilah musyrik dan kafir bagi orang yang keluar dari Islam. Sikap seperti ini merupakan salah satu pembatal keislaman.

4. Lebih mengutamakan hukum thoghut daripada hukum Allah dan petunjuk RasulNya

Saydina Umar bin al-Khattab mengatakan, taghut adalah syaitan. Jabir menjelaskan bahwa taghut itu adalah tukang-tukang tenung yang turun padanya syaitan-syaitan. Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauzi, taghut ialah setiap apa yang melampaui batas oleh seseorang hamba di dalam penyembahan, ikut dan taat, pada hukum selain yang diperintahkan dalam kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Siapa yang berhukum kepada taghut mereka kufur dengannya.

Imam Malik berkata, taghut ialah apa yg disembah selain Allah Subhanahu wa ta'ala.

10 Pembatal Keislaman seorang Muslim

5. Tidak menyukai, bahkan membenci sunnah Rasulullah Shallallahu alahi wa salam

Allah berfirman, Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan keridhaanNya; sebab itulah Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka.”

6. Mengejek atau memperolok dinullah (agama Allah), al-Islam, baik menyangkut pahala-Nya atau tentang berbagai ketentuan hukum-Nya

Kasus seperti ini sering terjadi. Entah bagi orang yang tidak mengerti agama atau yang mengenal sekalipun. Belakangan, sifat seperti itu justru terjadi pada orang-orang yang mengenal ilmu agama secara baik. Kebanyakan, orang-orang seperti ini adalah orang yang tidak memilik rasa percaya diri (PD) pada agamanya.

Karena bernafsu agar orang lain menyebutnya pluralisme atau eklusif, terkadang untuk agamanya sendiri mereka main-main dan memperolokkannya. Bahkan kalau perlu menjual agamanya demi kedekatan dengan orang lain yang sudah jelas berbeda agama dan hukum-hukumnya. Perlakuan seperti ini sudah membatalkan keislaman.

Allah berfirman, “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah, “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?” “Tidak usah kamu minta maaf, karena kafir sesudah beriman…” (QS. At-Taubah: 65-66).

7. Mempelajari, terpikat dan mengamalkan ilmu sihir (guna-guna)

Amalan seperti ini adalah amalan yang paling dibenci Allah. Karena itu dengan alasan apapun, jika seorang Muslim melakukannya, yakinlah, amalan itu telah membatalkan keislaman Anda.

8. Membantu dan menolong orang-orang Musyrik untuk memusuhi orang-orang Islam (kaum Muslimin)

Sejak hidup hingga mati, sikap Rasulullah Muhammad cuma satu. “Keras terhadap kaum kafir dan lembut terhadap Muslimin.” Tetapi, sebagaian dari kita (kaum Muslimin) ada yang justru menjadi ‘duri dalam daging’. Mereka hidup dan mengaku sebagai Muslim, tapi amalannya digunakan justru untuk memusuhi saudara-saudaranya seiman.

Banyak kasus tokoh-tokoh Islam –bahkan sebagaian disebut ulama– justru paling suka mengecam dan memojokkan kaum Muslimin dan hidupnya menjadi pembela orang-orang ghoirul Islam. Biasanya, mereka paling peka jika melihat sedikit kesalahan Muslimin dan menjadi pelindung orang ghoirul Islam.

Orang-orang seperti itu, kata Allah, sudah termasuk golongan dari mereka alias keluar dari Islam. “Dan barangsiapa diantara kamu mengambil mereka (Yahudi dan Nasrani) menjadi pemimpin/penolong/teman setia, maka sesungguhnya orang itu termasuk ke dalam golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.” (QS. Al-Maidah: 51)

Menurut Qathlani, ciri-ciri orang yang seperti ini adalah; kaum Muslimin yang suka menyerahkan urusan Islam kepada orang musyrik dan mereka yang suka membela kedzaliman orang musyrik.

Rasulullah bersabda, “Mencaci maki sesama muslim adalah perbuatan yang fasik, dan membunuh orang muslim adalah perbuatan kafir.” (HR. Muslim)

“Barangsiapa yang berkumpul dengan orang-orang musyrik dan tinggal bersama nya maka sesungguhnya ia seperti mereka.” (HR. Abu Daud)

9. Berkeyakinan bahwa sebagian manusia diperbolehkan tidak mengikuti syari’at Muhammad Shallallahu alahi wa salam

Kelompok seperti ini belakangan semakin hari semakin meningkat jumlahnya. Mereka merupakan kelompok orang yang hobi mengutak-atik agama Allah menurut selera akal mereka. Mereka, mendudukkan wahyu di atas kemauan akal mereka. Hujah yang sering mereka kemukakan adalah, “Muhammad adalah manusia biasa, karenanya, dia bisa salah.” Pernyataan itu kemudian mereka belokkan dengan bahasa lain; diperbolehkan tidak mengikuti syari’at Muhammad Shallallahu alahi wa salam Dan mereka merusak sunnah-sunnah Nabi.

“Barangsiapa menghendaki selain Islam sebagai agama, maka tak akan diterima agama itu daripada-Nya, dan ia di akhirat tergolong orang-orang yang merugi.” (Q.S: Ali Imron:85)

10. Berpaling dari Dinullah (agama Allah) atau dari hal-hal yang menjadi syarat utama seorang Muslim

Syarat seorang Muslim sejati adalah melaksanakan ajaran agama Allah sesuai al-Qur’an dan Sunnah nya. Tetapi sebagaian orang –karena kesombongannya—mereka melakukan rekayasa akal dengan cara ‘menyelewengkan’ pesan Allah dalam al-Qur’an dan Sunnah-nya.

Mereka, biasanya bangga akan akalnya. Karenanya, mereka merasa, apa-apa yang sudah jelas diperintahkan oleh al-Qur’an tidak perlu dikerjakan jika tidak cocok dengan akalnya. Kesombongan mereka dihadapan Allah paling utama ketika mereka berusaha merubah al-Qur’an dan Sunnah karena dianggap tidak sesuai dengan akalnya.

Orang-orang seperti ini, biasanya mudah membuat dan merekayasa hukum Allah untuk disesuaikan dengan akalnya. Entah hukum soal menikah, waris, talak, haji dan sebagainya.

“..dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-KU dengan harga sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (Q.S: al-Maidah: 44).

Semoga kita semua mampu menjaga diri kita sendiri sehingga diakhir kehidupan kita tetap sebagai muslim

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْـتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 102)

Sumber: Fath al-Majid dan “Memurnikan Laa Ilaaha Illallah”, Muhammad Said al-Qathlani, Muhammad Bin Abdul Wahab dan Muhammad Qutb.
Baca selengkapnya »
Beramal mengharap surga adalah perintah Allah jalla jallaaluh

Beramal mengharap surga adalah perintah Allah jalla jallaaluh

Perkataan Rabi'ah Al Adawiyah yang keliru

Rabi'ah Al Adawiyah berkata, “Jika aku menyembah-Mu karena takut api neraka-Mu maka bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga-Mu maka haramkanlah aku daripadanya. Tetapi jika aku menyembah-Mu karena kecintaanku kepada-Mu maka berikanlah aku balasan yang besar, berilah aku melihat wajah-Mu yang Maha Besar dan Maha Mulia itu.”

‎الحب الذي لا تقيده رغبة سوى حب الله وحده
‘Cinta yang murni yang bukan hanya terbatas oleh keinginan adalah cinta kepada Allah semata’

Siti Rabiah Al-adawiyah
___

Menyembah Allah karena takut Neraka ==> masukkan aku ke neraka.
Menyembah Allah karena berharap surga ==> haramkan aku surga, masuk neraka.
Menyembah Allah karena cinta ==> masukkan aku ke Surga.

☝Beramal mengharap surga adalah perintah Allah jalla jallaaluh.

Para anbiya & orang2 sholeh disebut dalam Qur'an :

"Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya (SURGA) dan takut akan azab-Nya (NERAKA); Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. (QS Al-Isroo : 57)

Ciri-ciri Ibadurrahman :

Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan Kami, jauhkan azab Jahannam (NERAKA) dari Kami, Sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal". (QS Al-Furqoon : 65)

Do'a Nabi Ibrahim alaihissalam :

"Dan Jadikanlah aku Termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, Dan ampunilah bapakku, karena Sesungguhnya ia adalah Termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan (NERAKA)." (QS Asy-Syu'aroo 85-87)

Nabi Zakaria & Nabi Yahya alaihissalam :

"Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap (SURGA) dan cemas (NERAKA). dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada kami." (QS Al-Anbiyaa : 90)
Perintah Allah ta'ala utk berlomba mendapatkan Surga.

"dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba." (QS Al-Muthoffifin : 26)

Do'a yg diajarkan Allah ta'ala dari Al Qur'an :

"Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka. Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, Maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. 

Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", Maka Kamipun beriman. Ya Tuhan Kami, ampunilah bagi Kami dosa-dosa Kami dan hapuskanlah dari Kami kesalahan-kesalahan Kami, dan wafatkanlah Kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. 

Ya Tuhan Kami, berilah Kami apa yang telah Engkau janjikan kepada Kami (SURGA) dengan perantaraan Rasul-rasul Engkau. dan janganlah Engkau hinakan Kami di hari kiamat (NERAKA). Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji."

(QS Ali 'Imroon : 191-194)

Teramat banyak do'a yg diajarkan oleh Nabi ﷺ agar terhindar / takut NERAKA dan mengharap SURGA.

Hadits dibawah ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, dalam doanya senantiasa berdoa untuk memohon surga dan dilindungi dari neraka.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian memohon kepada Allah, maka mohonlah surga Firdaus, karena ia adalah surga yg terletak paling tengah & paling tinggi” (HR. Bukhari 2790)

Beramal mengharap surga adalah perintah Allah jalla jallaaluh

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada sebagian sahabatnya, “Bagaimana kamu berdo’a (dalam shalatmu)?” Laki-laki tersebut menjawab, “Aku membaca tasyahud dan mengucapkan, “ALLAHUMMA INNI AS-ALUKAL JANNATA WA A’UUDZUBIKA MINANNAAR (Ya Allah, aku memohon kepada Engkau surga dan berlindung kepada Engkau dari api neraka). (Ma’af) kami tidak dapat memahami dengan baik gumam Anda gumam Mu’adz (ketika berdo’a).” (HR. Abu Daud 762)

Nabi ﷺ bersabda, “Barangsiapa memohon surga kepada Allah tiga kali, maka surga akan berkata, ya Allah masukkan dia ke dalam surga. Dan barangsiapa berlindung dari meraka tiga kali maka neraka akan berkata, ya Allah lindungi dia dari neraka.” (HR. Tirmizi & An Nasai)

Do'a zikir yg dibaca setiap pagi & perang :

"Ya Rabbku, aku mohon kepada-Mu kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan hari ini dan kejahatan sesudahnya. Ya Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di Neraka dan siksaan di kubur.” (HR. Muslim 4/2088 no 2723)

"Dan aku memohon keledzatan memandang wajahMu, dan kerinduan untuk bertemu denganMu" (HR An-Nasaai no 1305 dan dishahihkan oleh Al-Albani)

DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :

Dan dibawah cahaya al-kitab dan as-sunnah dan siroh Rasulullah ﷺ serta amalan para sahabatnya ditimbang amalan-amalan kaum muslimin dan perkataan mereka. Maka apa yang ada sandarannya dan dalil maka dihukumi dengan amalan/perkataan yang sah dan benar

⁉PENTING
Dan apa yang menyelisihi al-kitab dan as-sunnah dan tidak ada atsarnya dalam kehidupan para sahabat maka dihukumi dengan fasad (rusak) dan batil.

Dan semua yang keluar dari manhaj ini (Sahabat) maka sungguh telah sesat dan menyesatkan.

DR. Said Aqil Siraj bekata,

⁉PENTING
Termasuk merupakan perkara yang menyusahkan dan menggelisahkan aku adalah apa yang aku dapati dari manhaj-manhaj para sufi ahli filsafat yang mereka telah jauh dari Islam, yaitu tentang pemahaman mereka tentang hubungan alam dengan penciptanya, dengan pemikiran-pemikiran mereka yang sesat berupa hulul dan ittihad dan wihdatul wujud (yiatu hulul/menempatinya Allah ke alam, dan ittihad/menyatunya alam dengan Allah, dan wihdah/kesatuan alam bersama Allah), yang hal itu melalui metode filsafat al-fanaa' dan fanaa al-fanaa, dan seluruhnya merupakan pemikiran-pemikiran yang aneh dan muhdatsah (diada-adakan) serta menyusup di tengah-tengah masyarakat islami.

Dan merupakan perkara yang diketahui bahwasanya kaum muslimin di Indonesia menghadapi problematika-problematika besar baik problematika politik, ekonomi, sosial dan problematika aqidah. Di hadapan mereka musuh-musuh mereka yang menanti-nanti (*keburukan bagi) kaum muslimin berupa gerakan
  • kristenisasi, 
  • sekuler, 
  • bathiniyah, dan 
  • sekte-sekte sesat –Syi'ah, 
  • Ahmadiyah, dan 
  • Bahaaiyah, 
  • lalu Sufiyah.

"Dan sufiyah di Indonesia sungguh telah sukses besar dalam menyebarkan ajaran-ajaran mereka yang sesat -meskipun kebanyakan mereka tidak beriman dengan aqidah hulul dan ittihad serta wihdatul wujud-.

⁉PENTING ⬇⬇⬇
Dan ajaran sufiah ini senantiasa masih termasuk ajaran yang paling berbahaya yang tersebar di negeri Indonesia, hal ini disebabkan kejahilan kaum muslimin di Indonesia terhadap aqidah yang benar.

Semoga Allah ﷻ memberi hidayah kepada mereka dan melindungi kita dari segala subhat.

Demikian dari kami semoga bermanfaat.

‎سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
‎والسلام عليكم و رحمة الله و بركاته 

Abu Aurel Reza

Disampaikan dalam disertasi beliau di S3 Universitas Ummu al-Qura, jurusan Aqidah/Filsafat Islam, tamat 1414 H (1994 M), dengan judul disertasi :

صِلَةُ اللهِ بِالْكَوْنِ فِي التَّصَوُّفِ الْفَلْسَفِي 
(Hubungan antara Allah dan alam menurut perspektif tasawwuf falsafi), dibimbing oleh dosen beliau yang bernama As-Syaikh DR. Mahmuud Ahmad Khofaaji.
Baca selengkapnya »
Syiah, Jelek di Kalangan Jin Dan Manusia

Syiah, Jelek di Kalangan Jin Dan Manusia

simaklah kisah berikut, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Katsir di dalam tafsir beliau tatkala menafsirkan firman Allah :

كُنَّا طَرَائِقَ قِدَدًا
"Kata Jin :"Dan kami terpecah menjadi kelompok - kelompok". (QS. Al-Jin (72) : 11)

Berkata Sulaiman bin Mihran Al-A'masy : "Pada suatu malam, sekelompok jin datang kepada kami, maka aku berkata kepada mereka :"Apa makanan yang paling kalian sukai?".

Para Jin menjawab :"Nasi".

Al-A'masy melanjutkan : "Maka kami pun membawakan nasi untuk mereka, untuk kemudian sekonyong - konyong kami melihat suapan demi suapan terangkat, tanpa terlihat siapa yang memakannya".

Syiah, Jelek di Kalangan Jin Dan Manusia

Kemudian Al-A'masy bertanya : "Apakah diantara kalian ada sekte - sekte sesat pengekor hawa nafsu seperti yang ada di kalangan kami?".

Mereka menjawab :"Ya".

Al-A'masy bertanya : "Apa yang kalian ketahui tentang Rafidhah?"

Mereka menjawab : "Rafidhah adalah sekte yang paling buruk diantara kami".

Ibnu Katsir Rahimahullah berkata : "Saya menunjukan sanad riwayat ini kepada Syaikh kami Al-Hafidh Abu Al-Hajjaj Al-Mizziy, maka beliau berkata : "Sanad ini shahih sampai kepada Al-A'masy".

(sumber referensi Tafsir Ibnu Katsir).

Para ulama menafsirkan, bahwa yang dimaksud kelompok - kelompok itu adalah :

- Islam dan Kafir
- Islam, Yahudi, Nashraniy
- Yang mana kemudian terpecah lagi menjadi : Ahlussunnah Wal Jama'ah, Murjiah, Jahmiyah, Syiah

Dan lihatlah betapa kedudukan Syiah Rafidhah tidak hanya jelek disisi kita umat Islam, namun juga disisi saudara kita dari bangsa Jin, ini sebuah fakta yang ada bahwa sekte sesat semacam Syiah harus dihilangkan dari permukaan bumi, tidaklah mereka hidup kecuali untuk membuat kerusakan.
Baca selengkapnya »
Hati-Hati Memberi Nama Anak seperti kata PERTIWI

Hati-Hati Memberi Nama Anak seperti kata PERTIWI

ARTI "PERTIWI" menurut KBBI adalah : Keyakinan terhadap bumi yang dikuasai dewi penguasa bumi (pertiwi).

Hati-Hati Memberi Nama Anak seperti kata PERTIWI

Penjelasan dari wikipedia.org [ https://id.wikipedia.org/wiki/Pertiwi ]
Pertiwi (Sanskerta: pṛthvī, atau juga pṛthivī) adalah Dewi dalam agama Hindu dan juga "Ibu Bumi" (atau dalam bahasa Indonesia "Ibu Pertiwi").

Sebagai pṛthivī matā "Ibu Pertiwi" merupakan lawan dari dyaus pita "Bapak Angkasa". Dalam Rgveda, Bumi dan Langit seringkali disapa sebagai pasangan, mungkin hal ini menekankan gagasan akan dua paruh yang saling melengkapi satu sama lain.

Pertiwi juga disebut Dhra, Dharti, Dhrthri, yang artinya kurang lebih "yang memegang semuanya". Sebagai Prthvi Devi, ia adalah salah satu dari dua sakti Batara Wisnu. Sakti lainnya adalah Laksmi.

Prthvi adalah bentuk lain Laksmi. Nama lain untuknya adalah Bhumi atau Bhudevi atau Bhuma Devi.

ALLOH subhaanahu wa ta'aala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَهٗ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۗ يُحْيٖ وَيُمِيْتُ ۗ وَمَا لَـكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا نَصِيْرٍ
"Sesungguhnya ALLOH memiliki kekuasaan langit dan Bumi. Dia menghidupkan dan mematikan. Tidak ada pelindung dan penolong bagimu selain ALLOH." (QS. At-Taubah 9: Ayat 116)

Nasalullah assalamah wal afiyah

Semoga ALLOH 'Azza wa Jalla menjauhkan kita dari segala macam kesyirikan dan para pelakunya.

Wallohul-musta'aan
Baca selengkapnya »
Benarkah Ruh ( DAN JASAD ) Rasulullah Hadir Saat Majelis Sholawat ?

Benarkah Ruh ( DAN JASAD ) Rasulullah Hadir Saat Majelis Sholawat ?

Afwan Ustadz, ada titipan pertanyaan dari sahabat BIAS seperti ini:

Mahallul Qiyam, Menghadirkan Ruh Nabi ﷺ Dalam Salam Penghormatan.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إِلَّا رَدّ اللَّهُ عَلَيَّ رُوحِي، حَتَّى أَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ“.
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه Rasulullah ﷺ bersabda: Tidaklah seseorang di antara kalian mengucapkan salam penghormatan kepadaku melainkan Allah mengembalikan ruhku hingga aku menjawab salamnya.

Hadits riwayat Imam Abu Daud dan dinilai sahih oleh Imam an-Nawawi di dalam kitab al-Adzkar.

Rasulullah Hadir Saat Majelis Sholawat

Ibnul Qoyyim al-Jauzi, berkata dalam kitab ar-Ruh :

وقال سلمان الفارسى أرواح المؤمنين في برزخ من الأرض تذهب حيث شاءت
Salman al-Farisi رضي الله عنه berkata : Arwah kaum mu’minin berada di alam barzah dekat dari bumi dan dapat pergi ke mana saja menurut kehendaknya. الروح – (ج 1 / ص 91)

Pada setiap di saat kita membaca Tasyahud dalam shalat, kita selalu mengucapkan:

“ اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِي ّ”ُ
“Assalamualika ayyuhan nabi”, Salam penghormatan kepada engkau wahai Nabi.

Penjelasan :

Pada saat menyebut Nabi dalam shalat kita memakai kata ganti كَ atau kata ganti orang kedua atau dlamir mukhatab, yang berarti kamu atau anda. Kita tidak menyebut nabi dengan dlamir ghaib هُ atau dia, atau beliau, kita menyebut nabi dengan engkau. Ini artinya bahwa pada saat kita mengucapkan salam penghormatan, Allah menghadirkan ruh nabi Muhammad ﷺ untuk menjawab salam penghormatan dari kita.

Begitu juga pada saat Mahallul Qiyam pada peringatan Maulid Nabi saat saat kita berdiri mengucapkan salam penghormatan:

” يَا نَبِي سَلَامْ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلْ سَلَامْ عَلَيْك “َ
Dalam kalimat yang kita baca “Wahai Nabi salam penghormatan kepadamu, Wahai Rasul salam penghormatan kepadamu”. Salam penghormatan kepada nabi inilah yang menghadirkan ruh nabi ﷺ pada saat itu.

Demikianlah mengapa di acara peringatan maulid nabi ada moment berdiri.

والله أعلم….
Mohon penjelasannya mengenai tulisan di atas, Ustadz.

Syukron, Ustadz.

Jazaakallaahu khoiron.

(Fulan, Admin BiAS N06)

Jawaban

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ
Hadits tersebut shahih insya’Allah, namun maknanya diperselisihkan para ulama, dan Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menyebutkan banyak pendapat tentang makna hadits ini dalam kitab Ar Ruh, demikian pula Imam Ibnu Baz dalam fatwa beliau.

Kesimpulan pendapat terkuat adalah makna hadits tersebut dikembalikan sebagaimana adanya. Dan hadits ini tidak sedikitpun memberikan keterangan bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam hadir di dekat orang yang mengucapkan salam kepada beliau.

Bayangkan seandainya ada sejuta orang mengucapkan salam diberbagai lokasi berbeda, dimana beliau kala itu?

Pernyataan Salman Al-Farisi juga tidak memberikan keterangan bahwa ruh keluar dari Barzakh, ia pergi kemana saja sesuka hatinya tapi masih dalam ruang lingkup barzakh.

Dhamir Ka (kamu) tidak menjadi indikasi beliau ada di dekat kita, karena di sana ada riwayat lain shahih dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang memerintahkan mengubah lafadz As-slamualaika ayyuhannabi dirubah menjadi asslamu ‘alannabi warahmatullah. Perubahan ini dilakukan setelah Nabi shalllahu ‘alaihi wafat.

(HR Bukhari 6265, Muslim : 402, dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Irwaul Ghalil : 321).

Terakhir jika kita harus berdiri ketika mengucapkan salam dalam rangka menyambut Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ada dua kejanggalan di sini :

1. Kenapa kita berdiri ketika membaca salam dan salawat ketika tasyahud ?
2. Justru Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dikala beliau hidup, beliau melarang para sahabatnya dari perbuatan tersebut,

عن أنس رضي الله عنه قال : ما كان شخص أحب إليهم رؤية من النبي صلى الله عليه وسلم وكانوا إذا رأوه لم يقوموا إليه لما يعلمون من كراهيته لذلك
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Tidak ada seorang pun yang lebih para shahabat cintai saat melihatnya daripada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Namun jika melihat beliau, mereka tidak pernah berdiri karena mereka mengetahui kebencian beliau atas hal itu”

(HR Bukhari dalam Adabul-Mufrad : 946, Tirmidzi dalam Sunan-nya no. 2754 dan Asy-Syamaail 335, Ibnu Abi Syaibah : 8/586, Ahmad : 3/132, Abu Ya’la : 3784, Thahawi dalam Syarh Musykilil Atsar : 1126 hadis ini shahih).

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

من أحب أن يمثل له الرجال قياما فليتبوأ مقعده من النار
“Barangsiapa yang suka seseorang berdiri untuknya, maka persiapkanlah tempat duduknya di neraka”.

(HR. Abu Dawud : 5229, Tirmidzi : 2753, Ahmad : 4/93, Bukhari dalam Adabul Mufrad : 977, Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbahan : 1/219, dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Silsilah Ahadits As-Shahihah :1/627).

Wallahu a’lam

Dijawab dengan ringkas oleh : Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله
Sumber: https://bimbinganislam.com
Baca selengkapnya »
-->