IBX5A47BA52847EF DakwahPost: biografi
Biografi Sahabat Nabi, Abu Hurairah Radhiallahu anhu

Biografi Sahabat Nabi, Abu Hurairah Radhiallahu anhu

Rawiyatul Islam, Abu Hurairah

๐ŸŒธ Nama, Kuniyah, Nasab dan Nisbahnya:

Beliau adalah Abu Hurairah ‘Abdurrahman bin Shakhr Ad-Dausy Al-Yamany radiyallahu ‘anhu.

Ada banyak pendapat lainnya yang disebutkan para ulama perihal nama beliau dan nama ayahnya. Diantaranya bahwa nama beliau sebelum memeluk agama islam adalah ‘Abdusy Syams yang bermakna penyembah matahari, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengganti namanya menjadi ‘Abdullah. Sedangkan nama ayahnya disebutkan bernama ‘Amir, Namun riwayat yang lebih masyhur dan paling rajih bahwa nama beliau adalah ‘Abdurrahman bin Shakhr sebagaimana disebutkan oleh Al-Hafidz Adz-Dzahabi rahimahullah dalam “Siyar A’lam An-Nubalaa 2/578”.

Biografi Sahabat Nabi, Abu Hurairah Radhiallahu anhu ?

Beliau berasal dari negeri Yaman, suku Daus, olehnya nisbah beliau adalah Al-Yamany Ad-Dausy. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya kepada Abu Hurairah, “Engkau berasal dari mana ?”, beliau menjawab, “Aku berasal dari suku Daus”, maka Rasulullah memberi kabar baik dengan sabdanya, “Aku tak pernah menyangka sebelumnya bahwa akan ada seseorang yang memiliki kebaikan sepertimu dari suku Daus.”

Abu Hurairah pernah berkata kepada para sahabat, “Mengapa kalian memanggilku dengan kuniyah Abu Hurairah ? padahal Rasulullah telah memanggilku dengan sebutan “Abu Hirr”. Para sahabat radiyallahu ‘anhum memang lebih sering memanggil beliau dengan julukan Abu Hurairah, sebab beliau punya kebiasaan bermain dengan beberapa anak kucing peliharaannya selagi ia menggembalakan kambing-kambing milik keluarganya.

๐ŸŒธ Keislamannya:

Beliau telah memeluk agama islam semenjak masih berada di negeri Yaman. Keislaman beliau setelah pulangnya pemimpin suku Daus Thufail bin ‘Amr dari kota Madinah dan menyebarkan islam di negeri Yaman. Pada tahun ketujuh hijriyyah, Abu Hurairah akhirnya melakukan hijrah ke kota Madinah untuk berbakti terhadap agama Allah subhanahu wata’ala.

Ketika beliau datang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat telah berangkat menuju peperangan khaibar. Kota Madinah yang saat itu sedang kosong, diamanahkan kepada sahabat Siba’ bin ‘Urfuthah yang juga menjadi imam sholat rawatib di masjid nabawi. Abu Hurairah tiba tepat ketika sholat subuh didirikan, maka Siba’ membaca surah Maryam pada raka’at pertama, dan surah Al-Muthoffifin pada raka’at kedua. Usai melaksanakan sholat, Abu Hurairah bergumam, “Celakalah ayahku, karena sangat sedikit dari pedagang di kampung melainkan mereka pasti memiliki dua timbangan penakar, satu untuk keuntungan dirinya, dan yang satu dipakai untuk menipu para pembeli.”

๐ŸŒธ Bentuk Fisik, Akhlak, dan Kehidupannya:

Beliau adalah seorang yang berperawakan baik dan lembut, tubuhnya bidang, rambutnya dikepang dua, janggutnya berwarna merah semir. Dilihat dari keadaannya, setiap orang akan tahu bahwa beliau adalah orang yang tidak memiliki harta. Beliau memang hijrah ke kota Madinah dengan membawa bekal seadanya saja sebab ‘azam yang membulatkan tekadnya untuk hijrah adalah menuntut ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Diantara bekal yang beliau bawa adalah seorang budak yang seyogyanya akan beliau jual, namun di tengah perjalanan budak itu melarikan diri darinya.

Rumah beliau adalah masjid nabawi, ia tinggal bersama kurang lebih 70 orang ahlus suffah di dalamnya. Beberapa kali ia menggeliat bak orang gila atau kesurupan diantara mimbar Rasulullah dengan rumah ‘Aisyah atau yang dikenal dengan raudhah saat ini. Sahabat yang melihatnya kadang duduk di atas dadanya hendak membacakan ayat-ayat ruqyah kepadanya, maka Abu Hurairah lekas mendongak dan berkata, “Aku seperti ini karena rasa laparku.”

๐ŸŒธ Guru-gurunya:

Tentu saja guru beliau yang paling mulia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Guru dari seluruh guru, penghulu para Nabi dan Rasul Allah subhanahu wata’ala.

Hidup di masjid nabawi memiliki keutamaan yang sangat besar bagi beliau. Beliau dapat mengikuti majelis-majelis ilmu Rasulullah, mendengarkan arahan dan nasehatnya, serta bertanya kepada Rasulullah. Namun beliau tidak membatasi diri dengan hanya menimba ilmu dari Rasulullah, sebab telah lewat masa perjuangan yang panjang dalam sejarah islam sedang Abu Hurairah tak berada di sana.

Maka selama 4 tahun hidup bersama Rasulullah, Abu Hurairah terus fokus mempelajari Al Quran dan Hadits, serta bertanya kepada para sahabat senior seperti Abu Bakar, Umar, Ubay bin Ka’ab, Usamah bin Zaid, ‘Aisyah, Al-Fadhl bin ‘Abbas, Bashrah bin Abi Bashrah, dan Ka’ab Al-Habr. Hingga beliau mendulang ilmu yang lebih banyak dibandingkan sahabat lainnya bahkan tak seorangpun melebihi ilmu beliau.

๐ŸŒธ Murid-muridnya:

Dengan membawa ilmu yang sangat banyak tersebut maka bukan sebuah hal yang mengherankan apabila beliau menjadi menara ilmu yang dituju oleh para sahabat sendiri dan tabiin yang datang setelah mereka. Berkata Imam Bukhari rahimahullah, “Jumlah murid beliau melebihi 800 orang.”

๐ŸŒธ Menuntut Ilmu dan Khidmat Kepada Hadits:

Abu Hurairah juga digelar sebagai “Rawiyatul Islam” atau perawi agama islam karena beliau meriwayatkan hadits yang sangat banyak dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan terbanyak dari seluruh sahabat dengan jumlah 5.374 hadits. Menjadi tongkat estafet pertama yang menukilkan secara langsung syariat islam dan secara khusus hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para ulama yang datang setelahnya. Tentu saja hal ini adalah khidmat dan kontribusi terbesar yang pernah dilakukan oleh seorang ulama hadits

Para sahabat sendiri merasa keheranan dengan hapalan hadits yang dimiliki oleh Abu Hurairah. Maka beliau menjelaskan, “Bahwa ketika orang-orang Muhajirin sibuk dengan ladang mereka, dan orang-orang Anshar sibuk dengan perniagaan mereka, di awktu yang sama aku justru sibuk dengan hadits Rasulullah, aku hadir dalam majelis beliau di saat mereka tak ada”. Memang semangat beliau dalam menuntut ilmu tidak ada duanya, hingga Rasulullah mempersaksikan hal tersebut ketika Abu Hurairah bertanya kepada beliau tentang orang yang paling berbahagia dengan syafaatnya, maka Rasulullah bersabda:

“Sungguh Aku telah mengira wahai Abu Hurairah bahwa tidak akan ada seorangpun yang mendahuluimu untuk bertanya tentang hal tersebut karena semangatmu dalam mempelajari ilmu hadits. Orang yang paling berbahagia dengan syafaatku kelak pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan kalimat tauhid, tulus ikhlas dari dirinya.” (HR. Bukhari nomor 99)

Abu Hurairah yang miskin dan memfokuskan dirinya pada ilmu dengan menghapal serta murajaah di masjid nabawi juga mendapatkan karunia doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mustajab. Seperti permintaan Abu Hurairah kepada Rasulullah untuk diajarkan ilmu yang diberikan Allah kepadanya, lalu Rasulullah menyobek sedikit kain pakaian Abu Hurairah dan membentangkannya, kemudian Rasulullah menyampaikan sebuah kalimat untuk dihapalkan Abu Hurairah, keesokan harinya Abu Hurairah dapat menghapal semua hadits Rasulullah tanpa kesalahan sedikitpun.

Berdasarkan doa Rasulullah tersebut, maka para ulama menjadikan ajaibnya kekuatan hapalan Abu Hurairah sebagai salah satu bukti kenabian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

๐ŸŒธ Wafatnya:

Di akhir hidupnya setelah mengorbankan begitu banyak pengorbanan dan khidmat terhadap agama islam, Abu Hurairah jatuh sakit dan meninggal pada tahun 57 H di kota Madinah, dan dikuburkan di pekuburan Baqi’.

Oleh ustadz Rahmat badani Lc, MA
Sumber wahdah.or.id
Baca selengkapnya »
Awal Perjalan menuntut ilmu Syeikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i rahimahullah

Awal Perjalan menuntut ilmu Syeikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i rahimahullah

Ulama dari tanah Yaman, Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i rahimahullah

Yaman belum pernah mendapati seorang seperti beliau selama sejak beratus-ratus tahun. Dahulu hanya bekerja sebagai satpam sebuah bangunan di Makkah. Suatu ketika ia diberi hadiah beberapa buku bekas pelajaran sekolah tentang pelajaran tauhid termasuk pula kitab Fathul Majid. Ia pun tersentuh dengan buku-buku itu.

Lantas ia teringat negerinya, ia pun pulang kemudian mengajarkan manusia tentang tauhid serta mengingkari perbuatan syirik penduduk desanya. Sehingga tak ayal lagi, penduduk desa justru memusuhi beliau dan memaksa dia untuk belajar sekte Syi'ah yang memang berkembang di Yaman, agar akidah tauhid yang suci itu dipaksa hilang dari kepalanya. Akan tetapi beliau kembali ke negeri tanah suci itu sambil membawa semangat belajar ke sana.

Setelah sekian lama belajar, beliau lulus dari Jami'ah Islamiyah Madinah (Universitas Islam Madinah) sambil membawa dua Ijazah. pertama ijazah dari kuliah dakwah dan yang kedua ijazah dari kuliah syari'ah yang mana dia kerjakan secara paruh waktu.

Syeikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i rahimahullah

Ia bercerita tentang ijazah syari'ahnya dahulu, "Aku sangat takut jika waktuku hilang sehingga aku berikrar agar berbekal ilmu sebanyak-banyaknya di Madinah."

Dosen pembimbing tesis magister beliau bertutur, "Kalau seandainya peraturan kampus memperbolehkan, pasti aku akan memberi Syaikh Muqbil dua tugas tesis sekaligus, yaitu tesis magister dan doktor karena kegigihan dia dan begitu sabarnya dia dalam belajar."

Sering sekali dia memungut sisa-sisa roti jatuh dan membersihkannya dari benang laba-laba dan memakannya demi bertahan hidup. Bahkan terkadang hanya dapat minum air zam-zam supaya tulang rusuknya bisa tegak menuntut ilmu.

Beliau adalah seseorang yang diberikan Allah kelezatan dengan yang namanya Ilmu agama, beliau berkata, "Allah Maha Tahu bahwa aku merasa seperti seorang raja." Lantaran nikmatnya ilmu yang dia cari.

Seorang muridnya yang menceritakan kisah ini berkata, "Satu kalimat beliau yang sangat membuat kami terkesan adalah ucapannya terhadap para muridnya: 'Tahukah kalian bahwa aku adalah orang yang paling banyak dikaruniai anak, karena kalian semua adalah anak-anakku.'"

Murid-muridnya lebih dari 2000 orang, sedangkan Syaikh sendiri semua anaknya adalah perempuan.

Kejadian Langka Beliau yang Menunjukkan Kejujuran dan Keberanian Beliau
Suatu ketika Presiden Yaman bertanya kepada beliau, "Apakah engkau akan berdoa untukku?"
Syaikh menjawab, "Kadang-kadang."
Maka Presiden berkata, "Maka doakanlah kebaikan untukku."

Ia Mencari Ilmu Bukan Untuk Dunia Termasuk hal yang unik bahwa Ijazah-ijazahnya semuanya hilang, termasuk ijazah magister, sedangkan beliau tak tahu lagi tentangnya. Dahulu beliau berkata, "Ijazah ini pasti akan hilang juga."

Syaikh Ibn Baaz dan Syaikh Al-Albani banyak memuji keutamaan beliau, bahkan Syaikh Al-Faqih ibnu Utsaimin berkata tentangnnya, "Demi Allah! Bahwa Syaikh Muqbil termasuk imam dari para imam-imam agama!"

Beliau juga selalu bermuhasabah akan dirinya, beliau bertutur, "Ketika uban pertamaku mulai tumbuh, lantas kugenggam janggutku dan berkata: 'Hei Muqbil Apa yang telah engkau sumbangkan kepada islam?'"

Pada sabtu malam tepatnya setelah Maghrib tanggal 15/3/1421 H, beliau menyampaikan pelajaran untuk terakhir kalinya yang mana pada pagi Ahad beliau dilarikan ke rumah sakit, kemudian diterbangkan dari Yaman ke Saudi untuk meneruskan pengobatannya.

Ketika sampai di Saudi, dokter meminta agar di pindahkan ke Amerika mengingat perlengkapan medis di sana yang sangat minim ketika itu. Beliau meminta agar dipulangkan dahulu ke Yaman agar mengucapkan salam kepada keluarganya sebelum safarnya yang jauh.

Setelah dilakukan pengobatan di Amerika, maka alhamdulillah beliau sehat dan kembali ke negeri dan keluarganya serta murid-murid tercinta di Yaman. Ketika disambut di Yaman beliau berkata, "Mungkin bisa jadi tahun depan kalian tak bertemu lagi denganku."

Kemudian beberapa saat kemudian, beliau sakit lagi dan di terbangkan Ke Amerika, namun para dokter mengatakan bahwa keadaannya semakin kritis, kemudian setelah itu beliau kembali ke Saudi dan menulis wasiatnya dan wafat 10 hari setelahnya.

Salah seorang yang mendampingi ketika beliau sakit berkisah, "Ketika kami mendampingi Syaikh, maka seakan-akan kami yang sakit dan Syaikh justru yang menyabarkan akan sakit kami itu."

Beliau dishalatkan di Masjidil Haram Makkah dan dikuburkan di pemakaman Al-‘Adl di samping makam dua sahabat sekaligus ulama kibar di zaman ini; Syaikh Ibn Baaz dan Al-Faqih Ibnu Utsaimin -rahimahumullahu jami'an-.

Seorang putra asli pedalaman Yaman, hidup dalam keadaan yatim, pernah sebagai satpam bangunan, namun Allah mengharumkan namanya karena Ilmu.

Beliau meninggalkan 4 putri dan dua Istri. Dilahirkan pada tahun 1352 H dan wafat di tahun 1422 H di umurnya yang ke-70 tahun.

Sebagian perkataan beliau, "Siapa saja yang ingin duduk bersama para pendusta besar, maka hendaknya ia baca koran-koran, apabila sedikit saja roti, gula, dan garam berkurang maka mereka langsung mengkafirkan pemerintah. Namun ketika pemerintah memenuhi keinginan mereka, justru bermuka dua sambil memuji-muji: 'Pemimpin kita adalah khalifah yang mendapat Ilham.'"
Juga perkataannya, "Siapapun yang berusaha menolak sunnah, niscaya dihinakan Allah, dan siapapun yang menjadi musuh terhadap sunnah, janganlah kalian membalasnya, karena Allah pasti yang akan menurunkan azabnya kepada musuh sunnah itu."

Semoga rahmat Allah selalu tercurahkan kepada ruh beliau dan kepada kita semua.

Al-Haram Al-Madani An-Nabawi, 23/1/1436 H
Fauzi Rifaldi, mahasiswa Univ. Islam Madinah (dengan sedikit perbaikan kalimat)

Copas
Baca selengkapnya »
Biografi Al-Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sanusi hafidzhahullah

Biografi Al-Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sanusi hafidzhahullah

Nama dan Nisbatnya

Nama beliau adalah Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi. Kunyah beliau (nama panggilan) adalah Abu Muhammad.

Lahir di Kota Makassar pada tanggal 12 Agustus 1976, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia.

Pengalaman Menuntut Ilmu

Bermula dari tahun 1994, beliau belajar bahasa Arab dan beberapa cabang ilmu syari’at lainnya di pulau Jawa.

Mendekati pertengahan tahun 1995, beliau diberi anugrah oleh Allah sehingga mendapat kesempatan untuk menuntut ilmu ke Ma’had Darul Hadits, Dammaj, Yaman. Dan beliau terus menerus belajar di desa terpencil itu hingga pertengahan tahun 1999. Di Ma’had Darul Hadits beliau hafal Al-Qur’an 30 juz dan mempelajari berbagai bidang ilmu syari’at.

Semenjak kembali dari Yaman pada tahun 1999, beliau banyak sibuk dengan mengajar dan menulis. Dan beliau masih saja sibuk meneliti, membahas dan belajar hingga hari ini.

Kemudian pada tahun 2004, Allah memudahkan untuk menimba ilmu ke Saudi Arabia dan talaqqi dari sejumlah ulama besar yang menjadi rujukan manusia di masa ini. Dan hingga hari ini, Allah masih memudahkan beliau untuk bolak-balik ke Saudi Arabia dengan maksud memperdalam ilmu agama dan mempererat hubungan dengan ulama.


Selama masa tersebut, beliau mengkhatam Al-Qur`an dua kali dari hapalan dengan membaca riwayat Hafsh dari Ashim melalui jalan Asy-Syathibiyyah dan Thoyyibah An-Nasyar, talaqqi dari dua orang guru ahli Qira’at dan beliau mendapat ijazah tertulis dalam hal tersebut. Selain dari itu, beliau lebih memperdalam berbagai cabang ilmu agama kepada ulama-ulama terkemuka dan mengambil sanad-sanad periwayatan buku-buku Salaf.

Para Ulama Guru-guru Beliau

Definisi seorang guru -menurut Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad- adalah siapa yang kita pernah belajar kepada sebuah bab dari buku-buku agama.

Insya Allah apa yang beliau sebutkan adalah ukuran yang pertengahan dalam kelayakan seorang berkata kepada seorang Syaikh beliau adalah Syaikhuna (guru kami). Walaupun sebagian ulama seperti Imam Adz-Dzahaby –bagi siapa yang mencermati buku himpunan guru-guru beliau- kadang menghitung seorang alim sebagai gurunya hanya dengan mengambil satu faedah darinya.

Daftar para ulama yang beliau pernah menimba ilmu kepadanya antara lain:

1. Mujaddid dan Ahli Hadits Negeri Yaman, Al-Imam Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullรขh (Wafat 29 Rabi’ul Akhir 1422 H/21 Juli 2001)

Dari Syaikh Muqbil, beliau menghadiri pelajaran Shohih Al-Bukhari, Shohih Muslim, Mustadrak Al-Hakim, Tafsir Ibnu Katsir, Ash-Shahih Al-Musnad Mimma Laisa Fii Ash-Shahihain, Al-Jami’ Ash-Shahih Mimma Laisa Fii Ash-Shahihain, Al-Jami’ Ash-Shahih Min Dalรข`il An-Nubuwwah, Al-Jami’ Ash-Shahih fii Al-Qadar, Ash-Shahih Al-Musnad Min Asbabin Nuzul, Gharatul Fishal ‘alal Mu’tadin ‘ala Kutubil ‘Ilal, Dzammul Mas`alah dan Ahadits Mu’allah Zhahiruha Ash Shihhah.

2. Mufti Saudi Arabia bagian Selatan, Al-Muhaddits Al-‘Allamah Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya bin Muhammad An-Najmi rahimahullah (Wafat 19 Rajab 1429 H/23 Juli 2008)

Dari Syaikh Ahmad, beliau membaca langsung dari Syaikh kitab Wasiyat Abu ‘Utsman Ash-Shobuny dan beberapa bab dari Maurid Al-Adzbi Al-Zilal. Selain dari itu juga beliau menghadiri pelajaran Qurrah ‘Uyun Al-Muwahhidin, bab Buyu’ dari Bulughul Maram, Shohih Al-Bukhari, Nuzhatun Nazhor dan lain-lainnya. Dan Syaikh Ahmad memberi ijazah kepada beliau meriwayatkan kutub As-Sittah.

3. Al-Faqih An-Nihrir Asy-Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan hafizhahullah (anggota Al-Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al I’lmiyyah wal Ifta’ (Lembaga Tetap Pengkajian Ilmiah dan Fatwa), anggota Hai’ah Kibarul ‘Ulama (Badan Ulama Besar) Saudi Arabia dan anggota Majma’ Al-Fiqh)

Dari Syaikh Al-Fauzan, beliau menghadiri pelajaran Kitabut Tauhid, Al-Furqan, At-Tawassul Wal Wasilah, Tafsir Surah-sarah Al-Mufashshol, Al-Arba’in An-Nawawiyah, Ar-Raudh Al-Murbi’, Akhshor Al-Mukhtashot, Bulughul Maram dan Umdah Al-Ahkam.

4. Hamil Liwa` Al-Jarh wat Ta’dil, Al-‘Allamah Asy Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi ‘Umair Al-Madkhali hafizhahullah

Dari Syaikh Rabi’, beliau menghadiri pelajaran Kitabul Iman dari Shohih Al-Bukhari, Asy-Syari’ah karya Al-Ajurri dan sejumlah pelajaran sore dari tafsir, manhaj, akhlaq, nasehat dan selainnya.

5. Alim negeri Shomithoh, Al-‘Allamah Asy-Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah

Dari Syaikh Zaid, beliau membaca langsung kitab Syarh As-Sunnah karya Imam Al-Muzany. Dan menghadiri ringkasan Ushulul Fiqih karya As-Si’dy, Sunan An-Nasa`iy, Tafsir surah Maryam dari Adhwa` Al-Bayan, Ushul As-Sunnah karya Ibnu Abi Zamanin dan lain-lainnya.

6. Al-Allamah Al-Ushuly As-Syaikh ‘Abdullah bin Abdurrahman Al-Ghudayyan hafizhohullah (anggota Al-Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al I’lmiyyah wal Ifta’ (Lembaga Tetap Pengkajian Ilmiah dan Fatwa) dan anggota Hai’ah Kibarul ‘Ulama (Badan Ulama Besar) Saudi Arabia.)

Dari Syaikh Al-Ghudayyan, beliau menghadiri pelajaran Al-Muwafaqat, Qawa’id Al-Ahkam karya Al-‘Izz bin ‘Abdussalam, Al-Furuq karya Al-Qarafi dan Al-Inshof.

7. Ahli Hadits kota Madinah, Al-‘Allamah Asy-Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamd Al ‘Abbad Al Badr hafizhahullah

Dari Syaikh Al-‘Abbad, beliau menghadiri Kitab Ash-Shiyam hingga Kitab Al-I’tikaf dari Umdah Al-Ahkam dan beberapa halaqah dari Sunan An-Nasa’iy (Musim Haji tahun (1419H/1998M), Sunan At-Tirmidzi dan Sunan Ibnu Majah.

8. Alim kota Madinah, Al-‘Allamah Asy-Syaikh ‘Ubaid bin ‘Abdillah bin Sulaiman Al Jabiri hafizhahullah

Dari Syaikh Ubaid, beliau menghadiri Tartib Syarh As-Sunnah karya Al-Barbahari, Kitab Ash-Shiyam dari Umdah Al-Ahkam, dan beberapa ceramah ilmiyah.

9. Al-Muhaddits Al-Allamah Asy-Syaikh Dr. Abdul Karim bin Abdillah Al-Khudhir.

Dari Syaikh Abdul Karim, beliau menghadiri Syarah Alfiyah Al-‘Iraqy dan Mimiyah fil Adab karya Al-Hafizh Al-Hakamy.

Dan banyak lagi dari masyaikh dan ulama yang agak panjang untuk diuraikan seluruhnya, seperti Mufti Saudi Arabia saat ini, Abdul ‘Aziz Alu Asy-Syaikh, Syaikh Abdul ‘Azizi Ar-Rajihi, Syaikh Sholih As-Suhamy, Syaikh Muhammad bin Hadi, Syaikh ‘Abdullah Al-Bukhari, Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaly, Syaikh Abdurrazzaq Al-‘Abbad Al-Badr dan lain-lainnya.

Selain dari itu, beliau juga menghadiri beberapa majelis Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utasimin pada musim haji tahun 1419H.

Karya Tulis dalam Bentuk Buku

Karya tulis Al Ustadz Dzulqarnain dalam bentuk buku yaitu:

1. Panduan Puasa Ramadhan di Bawah Naungan Al Qur’an dan As Sunnah, diterbitkan pertama kali pada Sya’ban 1421 H/November 2000 oleh Pustaka Al Haura’ Yogyakarta (ukuran 11,5 X 18,5 cm; tebal 72 halaman), kemudian edisi revisi diterbitkan pada Sya’ban 1426/September 2005 oleh Pustaka As Sunnah Makassar (ukuran 12 X 18,5 cm; tebal 104 halaman).

2. Indahnya Sholat Malam; Tuntunan Qiyamul Lail dan Sholat Tarawih, cetakan pertama Sya’ban 1427 H/September 2006, ukuran 12 X 18 cm, tebal 116 halaman, penerbit Pustaka As Sunnah Makassar.

3. Meraih Kemuliaan Melalui Jihad… Bukan Kenistaan, cetakan pertama Sya’ban 1427 H/Agustus 2006, ukuran 16,5 X 24,5 cm, tebal 440 halaman, penerbit Pustaka As Sunnah Makassar.

Karya Tulis dalam Bentuk Artikel Majalah

Karya tulis Al Ustadz Dzulqarnain dalam bentuk artikel di majalah (diurutkan menurut tanggal terbit) antara lain:

1. Mukjizat Terbelahnya Bulan, dimuat di majalah SALAFY edisi XXIV/1418/1998 halaman 32-36. (Pada catatan kaki artikel ini tertulis: “Penulis adalah thalibul ‘ilmi (orang yang sedang menuntut ilmu) asal Ujung Pandang. Kini sedang belajar pada Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i di Ma’had Darul Hadits, Dammaj, Yaman. Tulisan aslinya berbahasa Arab dan dialihbahasakan oleh Azhari Asri”)

2. Jihad Menurut Timbangan Ahlussunnah wal Jama’ah, dimuat di majalah SALAFY edisi 34/1421 H/2000 M halaman 11-14.

3. Ahkamul Jihad, dimuat di majalah SALAFY edisi 34/1421 H/2000 M halaman 15-24.

4. Qunut Nazilah Senjata Orang Beriman, dimuat di majalah SALAFY edisi 34/1421 H/2000 M halaman 39-44.

5. Ahkamul Jihad: Mengangkat Pemimpin dalam Jihad, dimuat di majalah SALAFY edisi 35/1421 H/2000 M halaman 36-42.

6. Hukum Terhadap Intelijen, dimuat di majalah SALAFY edisi 37/1421 H/2000 M halaman 11-14.

7. Posisi Masbuk dan Hukum Sholat di Belakang Ahlul Bid’ah, dimuat di majalah An Nashihah volume 01 Tahun 1/1422 H/2001 M halaman 2-7.

8. Doa Sujud Tilawah dan Sujud Sahwi, dimuat di majalah An Nashihah volume 01 Tahun 1/1422 H/2001 M halaman 7-9.

9. Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Siapakah Mereka?, dimuat di majalah An Nashihah volume 01 Tahun 1/1422 H/2001 M halaman 10-18.

10. Menggerakkan Jari Telunjuk ketika Tasyahud, dimuat di majalah An Nashihah volume 01 Tahun 1/1422 H/2001 M halaman 27-39.

11. Siapakah Mahrammu?, dimuat di majalah An Nashihah volume 01 Tahun 1/1422 H/2001 M halaman 51-56.

12. Tinja dan Kencing, Najiskah?, dimuat di majalah An Nashihah volume 02 Tahun 1/1422 H/2001 M halaman 2-4.

13. Hakikat Dakwah Salafiyah, dimuat di majalah An Nashihah volume 02 Tahun 1/1422 H/2001 M halaman 5-14.

14. Fatwa Para Ulama Besar Menyikapi Terorisme, dimuat di majalah An Nashihah volume 03 Tahun 1/1422 H/2002 M halaman 2-20. (Artikel ini disusun sebagai bantahan ilmiah terhadap Ja’far Umar Thalib selaku Panglima Laskar Jihad saat itu yang mendukung peledakan gedung WTC di Amerika Serikat)

15. Pijakan Seorang Muslim di Tengah Gelombang Fitnah, dimuat di majalah An Nashihah volume 03 Tahun 1/1422 H/2002 M halaman 21-34.

16. Hukum Qunut Subuh, dimuat di majalah An Nashihah volume 03 Tahun 1/1422 H/2002 M halaman 59-64.

17. Haruskah Orang yang Khutbah yang Menjadi Imam?, dimuat di majalah An Nashihah volume 04 Tahun 1/1423 H/2002 M halaman 4-5.

18. Hadits Bithoqoh (Kartu), dimuat di majalah An Nashihah volume 04 Tahun 1/1423 H/2002 M halaman 6-8.

19. Seputar Air Madzi, dimuat di majalah An Nashihah volume 04 Tahun 1/1423 H/2002 M halaman 9.

20. Dokter Praktek, dimuat di majalah An Nashihah volume 04 Tahun 1/1423 H/2002 M halaman 10.

21. Ikhtilath ketika Bekerja, dimuat di majalah An Nashihah volume 04 Tahun 1/1423 H/2002 M halaman 11-12.

22. Hukum Nikah dalam Keadaan Hamil, dimuat di majalah An Nashihah volume 05 Tahun 1/1424 H/2004 M halaman 2-6.

23. Bacaan Dzikir Setelah Sholat, dimuat di majalah An Nashihah volume 05 Tahun 1/1424 H/2004 M halaman 10-12.

24. Seputar Sholat Tarawih, dimuat di majalah An Nashihah volume 05 Tahun 1/1424 H/2004 M halaman 13.

25. Lutut atau Tangankah yang Lebh Dulu Menyentuh Bumi ketika Sujud?, dimuat di majalah An Nashihahvolume 05 Tahun 1/1424 H/2004 M halaman 49-52.

26. Syarah Bulughul Maram min Adillatil Ahkam (Bagian Pertama), dimuat di majalah An Nashihah volume 05 Tahun 1/1424 H/2004 M halaman 53-57.

27. Melihat Allah dalam Mimpi, Mungkinkah?, dimuat di majalah An Nashihah volume 06 Tahun 1/1424 H/2004 M halaman 2-4.

28. Cara Sholat Taubat, dimuat di majalah An Nashihah volume 06 Tahun 1/1424 H/2004 M halaman 5-6.

29. Studi Syar’i tentang Beberapa Muamalat Kekinian, dimuat di majalah An Nashihah volume 06 Tahun 1/1424 H/2004 M halaman 35-48.

30. Hadits-hadits Seputar Keutamaan Surat Yasin, dimuat di majalah An Nashihah volume 06 Tahun 1/1424 H/2004 M halaman 49-59.

31. Syarah Bulughul Maram min Adillatil Ahkam (Bagian Kedua), dimuat di majalah An Nashihah volume 06 Tahun 1/1424 H/2004 M halaman 60-67.

32. Mengambil Manfaat dari Sawah yang Digadaikan, dimuat di majalah An Nashihah volume 07 Tahun 1/1425 H/2004 M halaman 2-3.

33. Beberapa Masalah Berkaitan dengan Sholat Berjama’ah, dimuat di majalah An Nashihah volume 07 Tahun 1/1425 H/2004 M halaman 3-5.

34. Derajat Hadits Jihad Paling Besar adalah Melawan Hawa Nafsu, dimuat di majalah An Nashihah volume 07 Tahun 1/1425 H/2004 M halaman 5.

35. Kiat-kiat Menyambut Bulan Ramadhan yang Sarat Keutamaan, dimuat di majalah An Nashihah volume 07 Tahun 1/1425 H/2004 M halaman 13-18.

36. Panduan Puasa Ramadhan di Bawah Naungan Al Qur’an dan As Sunnah, dimuat di majalah An Nashihah volume 07 Tahun 1/1425 H/2004 M halaman 24-37.

37. Tuntunan Qiyamul Lail dan Sholat Tarawih, dimuat di majalah An Nashihah volume 07 Tahun 1/1425 H/2004 M halaman 38-53.

38. Syarah Bulughul Maram min Adillatil Ahkam (Bagian Ketiga), dimuat di majalah An Nashihah volume 07 Tahun 1/1425 H/2004 M halaman 59-64.

39. Studi Syar’i tentang Beberapa Muamalat Kekinian: Jual Beli dengan Cara Kredit, dimuat di majalah An Nashihah volume 08 Tahun 1/1425 H/2005 M halaman 40-49.

40. Hukum Menjaharkan Basmalah dalam Sholat Jahriyah, dimuat di majalah An Nashihah volume 08 Tahun 1/1425 H/2005 M halaman 50-52.

41. Syarah Bulughul Maram min Adillatil Ahkam (Bagian Keempat), dimuat di majalah An Nashihah volume 08 Tahun 1/1425 H/2005 M halaman 53-57.

42. Studi Syar’i tentang Beberapa Muamalat Kekinian: Beberapa Hukum Berkaitan dengan Undian, dimuat di majalah An Nashihah volume 09 Tahun 1/1426 H/2005 M halaman 39-40.

43. Syarah Bulughul Maram min Adillatil Ahkam (Bagian Kelima), dimuat di majalah An Nashihah volume 09 Tahun 1/1426 H/2005 M halaman 54-59.

44. Terorisme, Bahaya dan Solusinya, dimuat di majalah An Nashihah volume 10 Tahun 1/1427 H/2006 M halaman 17-33.

45. Mengenal Kesyirikan, Bahaya dan Bentuk-bentuknya (Bagian Pertama), dimuat di majalah An Nashihah volume 10 Tahun 1/1427 H/2006 M halaman 34-42.

46. Mengenal Kesyirikan, Bahaya dan Bentuk-bentuknya (Bagian Kedua), dimuat di majalah An Nashihah volume 11 Tahun 1/1427 H/2006 M halaman 33-35.

47. Hadits-hadits Seputar Bulan Sya’ban, dimuat di majalah An Nashihah volume 11 Tahun 1/1427 H/2006 M halaman 46-52.

48. Syarah Bulughul Maram min Adillatil Ahkam (Bagian Keenam), dimuat di majalah An Nashihah volume 11 Tahun 1/1427 H/2006 M halaman 53-58.

49. Hadits Doa di Padang Arafah, dimuat di majalah As Salaam No. IV Tahun II 2006 M/1426 H halaman 37-40.

50. Etika Syar’i bagi Perempuan dalam Menuntut Ilmu, dimuat di majalah An Nashihah volume 12 Tahun 1428 H/2007 M halaman 39-44.

51. Pentingnya Mengenal Al Asma’ Al Husna, dimuat di majalah An Nashihah volume 12 Tahun 1428 H/2007 M halaman 45-50.

52. Anjuran untuk Berdzikir dan Keutamaannya, dimuat di majalah An Nashihah volume 12 Tahun 1428 H/2007 M halaman 57-61.

53. Beberapa Kaidah Mengenal Al Asma’ Al Husna, dimuat di majalah An Nashihah volume 13 Tahun 1429 H/2008 M halaman 33-38.

54. Beberapa Hukum Seputar Ihdad, dimuat di majalah An Nashihah volume 13 Tahun 1429 H/2008 M halaman 55-62.

55. Hukum Multi Level Marketing, dimuat di majalah An Nashihah volume 13 Tahun 1429 H/2008 M halaman 12-14.

56. Tuntunan Praktis dalam Berqurban, dimuat di majalah An Nashihah volume 14 Tahun 1429 H/2008 M halaman 27-34.

57. Beberapa Hadits Berkaitan dengan Sepuluh hari Dzulhijjah dan Hari-hari Tasyriq, dimuat di majalah An Nashihah volume 14 Tahun 1429 H/2008 M halaman 35-44.

58. Agar Anda Terhindari dari Musibah, dimuat di majalah An Nashihah volume 14 Tahun 1429 H/2008 M halaman 45-48.

source: alfirqatunnajiyyah
Baca selengkapnya »
Rahmah El Yunusiyyah Pahlawan Wanita Berkerudung Syar'i yang Terlupakan

Rahmah El Yunusiyyah Pahlawan Wanita Berkerudung Syar'i yang Terlupakan

"Kartini" yang tidak pernah dimunculkan profilnya. Pengaruhnya dalam dunia pendidikan begitu nyata. Bahkan sekaliber Al-Azhar Mesir pun terinpirasi dari tindakan beliau. Dan, point yang tidak kalah penting, pakaian anggun dengan kerudung yang menutup dada itu sudah lama ada sebelum Indonesia merdeka.. Allahu Akbar..

Syaikhah Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyyah (1900-1969) adalah salah satu pahlawan wanita milik bangsa Indonesia, yang dengan hijab syar'i-nya tak membatasi segala aktifitas dan semangat perjuangannya.

Rahmah, begitu ia biasa dipanggil, adalah seorang guru, pejuang pendidikan, pendiri sekolah Islam wanita pertama di Indonesia, aktifis kemanusiaan, anggota parlemen wanita RI, dan pejuang kemerdekaan Republik Indonesia.

Ketika Rahmah bersekolah, dengan bercampurnya murid laki-laki dan perempuan dalam kelas yang sama, menjadikan perempuan tidak bebas dalam mengutarakan pendapat dan menggunakan haknya dalam belajar. Ia mengamati banyak masalah perempuan terutama dalam perspektif fiqih tidak dijelaskan secara rinci oleh guru yang notabene laki-laki, sementara murid perempuan enggan bertanya. Kemudian Rahmah mempelajari fiqih lebih dalam kepada Abdul Karim Amrullah di Surau Jembatan Besi, dan tercatat sebagai murid-perempuan pertama yang ikut belajar fiqih, sebagaimana dicatat oleh Hamka.

Setelah itu, Rahmah mendirikan Madrasah Diniyah Lil Banaat (Perguruan Diniyah Putri) di Padang Panjang sebagai sekolah agama Islam khusus wanita pertama di Indonesia. Ia menginginkan agar perempuan memperoleh pendidikan yang sesuai dengan fitrah mereka dan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tekadnya, "Kalau saya tidak mulai dari sekarang, maka kaum saya akan tetap terbelakang. Saya harus mulai, dan saya yakin akan banyak pengorbanan yang dituntut dari diri saya. Jika lelaki bisa, kenapa perempuan tidak bisa?"

Rahmah meluaskan penguasaannya dalam beberapa ilmu terapan agar dapat diajarkan pada murid-muridnya. Ia belajar bertenun tradisional, juga secara privat mempelajari olahraga dan senam dengan seorang guru asal Belanda. Selain itu, ia mengikuti kursus kebidanan di beberapa rumah sakit dibimbing beberapa bidan dan dokter hingga mendapat izin membuka praktek sendiri.

Berbagai ilmu lainnya seperti ilmu hayat dan ilmu alam ia pelajari sendiri dari buku. Penguasaan Rahmah dalam berbagai ilmu ini yang ia terapkan di Diniyah Putri dan dilimpahkan semua ilmunya itu kepada murid-murid perempuannya.

Pada 1926, Rahmah juga membuka program pemberantasan buta huruf bagi ibu-ibu rumah tangga yang belum sempat mengenyam pendidikan dan dikenal dengan nama Sekolah Menyesal.

Selama pemerintahan kolonial Belanda, Rahmah menghindari aktifitas di jalur politik untuk melindungi kelangsungan sekolah yang dipimpinnya. Ia memilih tidak bekerja sama dengan pemerintah penjajah. Ketika Belanda menawarkan kepada Rahmah agar Diniyah Putri didaftarkan sebagai lembaga pendidikan terdaftar agar dapat menerima subsidi dari pemerintah, Rahmah menolak, mengungkapkan bahwa Diniyah Putri adalah sekolah milik ummat, dibiayai oleh ummat, dan tidak memerlukan perlindungan selain perlindungan Allah. Menurutnya, subsidi dari pemerintah akan mengakibatkan keleluasaan pemerintah dalam memengaruhi pengelolaan Diniyah Putri.

Kiprah Rahmah di jalur pendidikan membuatnya mendapatkan perhatian luas. Ia duduk dalam kepengurusan Serikat Kaum Ibu Sumatera (SKIS). Pada 1935, ia diundang mengikuti Kongres Perempuan Indonesia di Batavia. Dalam kongres, ia memperjuangkan hijab sebagai kewajiban bagi muslimah dalam menutup aurat ke dalam kebudayaan Indonesia.

Pada April 1940, Rahmah menghadiri undangan Kongres Persatuan Ulama Seluruh Aceh. Ia dipandang oleh ulama-ulama Aceh sebagai ulama perempuan terkemuka di Sumatera.

Kedatangan tentara Jepang di Minangkabau pada Maret 1942 membawa berbagai perubahan dalam pemerintahan dan mengurangi kualitas hidup penduduk non-Jepang. Selama pendudukan Jepang, Rahmah ikut dalam berbagai kegiatan Anggota Daerah Ibu (ADI) yang bergerak di bidang sosial. Dalam situasi perang, Rahmah bersama para ADI mengumpulkan bantuan makanan dan pakaian bagi penduduk yang kekurangan.

Ia memotivasi penduduk yang masih bisa makan untuk menyisihkan beras segenggam setiap kali memasak untuk dibagikan bagi penduduk yang kekurangan makanan. Kepada murid-muridnya, ia menginstruksikan bahwa seluruh taplak meja dan kain pintu yang ada pada Diniyah Putri dijadikan pakaian untuk penduduk.

Selain itu, Rahmah bersama para anggota ADI menentang pengerahan perempuan Indonesia sebagai wanita penghibur untuk tentara Jepang. Tuntutan ini dipenuhi oleh pemerintah Jepang dan tempat prostitusi di kota-kota Sumatera Barat berhasil ditutup.


Terimbas oleh Hajjah Rangkayo Rasuna Said yang terjun ke politik lebih dahulu, dan dengan kondisi Indonesia yang semakin terpuruk oleh penjajah Jepang, akhirnya Rahmah terjun ke dunia politik. Ia bergabung dengan Majelis Islam Tinggi Minangkabau yang berkedudukan di Bukittinggi. Ia menjadi Ketua Hahanokai di Padang Panjang untuk membantu perjuangan perwira yang terhimpun dalam Giyugun (semacam tentara PETA).

Seiring memuncaknya ketegangan di Padang Panjang, Rahmah membawa sekitar 100 orang muridnya mengungsi untuk menyelamatkan mereka dari serbuan tentara Jepang. Selama pengungsian, ia menanggung sendiri semua keperluan murid-muridnya. Ketika terjadi kecelakaan kereta api pada 1944 dan 1945 di Padang Panjang, Rahmah menjadikan bangunan sekolah Diniyah Putri sebagai tempat perawatan korban kecelakaan.

Hal ini membuat Diniyah Putri mendapatkan piagam penghargaan dari pemerintah Jepang. Menjelang berakhirnya pendudukan, Jepang membentuk Cuo Sangi In yang diketuai oleh Muhammad Sjafei dan Rahmah duduk sebagai anggota peninjau.

Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Setelah mendapatkan berita tentang proklamasi kemerdekaan langsung dari Ketua Cuo Sangi In, Muhammad Sjafei, Rahmah segera mengibarkan bendera Merah Putih di halaman perguruan Diniyah Putri. Ia tercatat sebagai orang yang pertama kali mengibarkan bendera Merah Putih di Sumatera Barat. Berita bahwa bendera Merah Putih berkibar di sekolahnya menjalar ke seluruh pelosok daerah.

Ketika Komite Nasional Indonesia terbentuk sebagai hasil sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 22 Agustus 1945, Soekarno yang melihat kiprah Rahmah mengangkatnya sebagai salah seorang anggota.

Pada 5 Oktober 1945, Soekarno mengeluarkan dekrit pembentukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Pada 12 Oktober 1945, Rahmah memelopori berdirinya TKR untuk Padang Panjang dan sekitarnya. Ia memanggil dan mengumpulkan bekas anggota Giyugun, mengusahakan logistik dan pembelian beberapa kebutuhan alat senjata dari harta yang dimilikinya. Bersama dengan bekas anggota Hahanokai, Rahmah mengatur dapur umum di kompleks perguran Diniyah Putri untuk kebutuhan TKR. Anggota-anggota TKR ini menjadi tentara inti dari Batalyon Merapi yang dibentuk di Padang Panjang.

Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda kedua, Belanda menangkap sejumlah pemimpin-pemimpin Indonesia di Padang Panjang. Rahmah meninggalkan kota dan bersembunyi di lereng Gunung Singgalang. Namun, ia ditangkap Belanda pada 7 Januari 1949 dan mendekam di tahanan wanita di Padang Panjang. Setelah tujuh hari, ia dibawa ke Padang dan ditahan di sebuah rumah pegawai kepolisian Belanda berkebangsaan Indonesia. Ia melewatkan 3 bulan di Padang sebagai tahanan rumah, sebelum diringankan sebagai tahanan kota selama 5 bulan berikutnya.

Pada Oktober 1949, Rahmah meninggalkan Kota Padang untuk menghadiri undangan Kongres Pendidikan Indonesia di Yogyakarta. Ia baru kembali ke Padang Panjang setelah mengikuti Kongres Muslimin Indonesia di Yogyakarta pada akhir 1949. Rahmah bergabung dengan Partai Islam Masyumi. Dalam pemilu 1955, ia terpilih sebagai anggota Konstituante mewakili Sumatera Tengah. Melalui Konstituante, ia membawa aspirasinya akan pendidikan dan pelajaran agama Islam.

Pada 1956, Imam Besar Al-Azhar, Kairo, Mesir, Abdurrahman Taj, berkunjung ke Indonesia dan atas ajakan Muhammad Natsir, berkunjung untuk melihat keberadaan Diniyah Putri. Imam Besar tersebut mengungkapkan kekagumannya pada Diniyah Putri, sementara Universitas Al-Azhar sendiri saat itu belum memiliki bagian khusus perempuan.

Pada Juni 1957, Rahmah berangkat ke Timur Tengah. Usai menunaikan ibadah haji, ia mengunjungi Mesir memenuhi undangan Imam Besar Al-Azhar. Dalam satu Sidang Senat Luar Biasa, Rahmah mendapat gelar kehormatan “Syaikhah” dari Universitas Al-Azhar, dimana untuk kali pertama Al-Azhar memberikan gelar kehormatan itu pada perempuan.

Hamka mencatat, Diniyah Putri mempengaruhi pimpinan Al-Azhar untuk membuka Kuliyah Qismul Banaat (kampus khusus wanita) di Universitas Al-Azhar. Sejak saat itu Universitas Al-Azhar yang berumur 11 abad membuka kampus khusus wanita, yang diinspirasi dari Diniyah Putri di Indonesia yang baru seumur jagung.

Sebelum kepulangannya ke Indonesia, Rahmah mengunjungi Syria, Lebanon, Jordan, dan Iraq atas undangan para pemimpin negara tersebut.

Sekembalinya dari kunjungan ke berbagai negara di Timur Tengah, Rahmah merasa bahwa Soekarno telah terbawa arus kuat PKI. Ia merasa tidak nyaman berjuang di Jakarta, kemudian memilih kembali pulang ke Padang Panjang. Rahmah melihat bahwa mencurahkan perhatiannya untuk memimpin perguruannya akan lebih bermanfaat daripada duduk di kursi parlemen sebagai anggota DPR yang sudah dikuasai komunis. Ketika terjadi PRRI di Sumatera Tengah akhir 1958, akibat ketidaksetujuan atas sepak terjang Soekarno, Rahmah ikut bergerilya di tengah rimba bersama tokoh-tokoh PRRI dan rakyat yang mendukungnya.

Pada 1964, ia menjalani operasi tumor payudara di RS Pirngadi, Medan. Sejak itu hingga akhir hayatnya, hidupnya didedikasikan kembali sepenuhnya untuk Diniyah Putri.

Tampak pada foto, pahlawan ini mengenakan hijab syar'i dan baju kurung basiba dengan cara yang anggun, elegan dan modern yang menampakkan kecerdasannya dan kemajuannya dalam berpikir.

republish from: islamidia.com
Baca selengkapnya »
Ternyata Raja Salman Hafidz Quran dan Veteran Mujahid Palestina

Ternyata Raja Salman Hafidz Quran dan Veteran Mujahid Palestina

RAJA SALMAN, SEORANG VETERAN MUJAHIDIN PALESTINA YANG MENJADI RAJA DAN HAFIZH QURAN.

Inilah Raja Salman Bin Abdulaziz al Saud, seorag Raja yang Hafizh AlQuran 30 juz yang juga seorang Veteran perang melawan Militan Yahudi pada tahun 1956 Masehi.

Ada sekitar 3 orang anak Raja yang ikut perang ini, diantaranya adalah Raja Abdullah -Rahimahullah-, Raja Salman dan Emir Muhammad.

Saudi juga mengerahkan 20 Pesawat tempur berjenis De Havilland Vampire untuk menghancurkan barak barak yahudi.
Raja Salman Hafidz Quran dan Veteran Mujahid Palestina

bahkan pada tahun 1974 terjadi embargo minyak oleh saudi kepada negara sekutu Yahudi yang menyebabkan kekacauan politik dan ekonomi di eropa.

Bahkan syaikh Al Albani juga ikut serta berjihad di Palestina pada tahun 1948 Masehi. beliau melihat bahwa ketika itu Rakyat palestina banyak yang Wafat karena Kelaparan, kejatuhan mortir maupun Terkena peluru.

Akhirnya beliaupun berfatwa agar lebih baik berhijrah sembari menyusun strategi yang ampuh untuk melawan militan yahudi.

bahkan sebelum fatwa beliau ini, orang orang palestina banyak sekali yang berhijrah ke Jordan atau Saudi.

jadi hal ini tidak aneh dan seakan fatwa syaikh Al Albani melarang berjihad di Palestina padahal Beliau sendiri sampai berjihad di sana membela dengan mempertaruhkan nyawa beliau sendiri.


Nah bagi kita yang tidak pernah berjihad di Palestina atau bahkan justru Ikut nimbrung memfitnah para Veteran Mujahidin Palestina semisal Raja Salman dan Syaikh Al Albani maka hendaknya sadarlah kapasitas diri anda.

memfitnah itu perkara gampang dan kebiasaan para pecundang yang Besar bicara namun sumbangan Nol.

Saudi Sejak saat ini sebagai penyumbang dana paling besar bagi palestina yaitu sekitar 511 juta dollar dalam bentuk sumbangan sukarela bukan pinjaman.

bukalah pikiran anda, jauhi media media sesat dan pakai nalar kita sebelum menelan berita berita miring.
....
Admin Suara madinah
Baca selengkapnya »
Biografi lengkap tentang Syaikh Ahmad Khathib Al-Minangkabawi Rahimahullah

Biografi lengkap tentang Syaikh Ahmad Khathib Al-Minangkabawi Rahimahullah

Syaikh Ahmad Khathib Al-Minangkabawi Rahimahullah Indonesia[1](1860 - 1916) adalah seorang ulama Indonesia asal Minangkabau. Ia lahir di Koto Tuo, Ampek Angkek, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada tanggal 6 Zulhijah 1276 H (1860 M) dan meninggal di Mekkah di tanggal 8 Jumadilawal 1334 H (1916 M).[2] Dia menjabat sebagai kepala imam sekolah ajaran Syafii di Masjid Mekah (Masjidil Haram). Banyak pemimpin reformis Islam Indonesia belajar darinya, termasuk Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah dan Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama.[3]

Meskipun Ahmad Khathib adalah seorang Muslim Sunni ortodoks, dia masih berharap untuk mendamaikan sistem matrilineal di Minangkabau dengan hukum warisan yang ditentukan dalam Al Quran. Melalui murid-muridnya di Minangkabau yang belajar di Mekkah dan juga yang dia ajar di Indonesia, dia mendorong budaya Minangkabau agar dimodifikasi berdasarkan Al-Qur'an dan Sunah.

Putra tertuanya, Abdul Karim, memiliki sebuah toko buku di Mekkah. Putranya Abdul Malik al-Khathib adalah seorang duta besar Asyraf ke Mesir. Putranya, Syaikh Abdul Hamid al-Khathib, adalah duta besar Arab Saudi pertama untuk Republik Islam Pakistan. Dan anak laki-lakinya, Fuad Abdul Hamid al-Khathib, adalah seorang duta besar Arab Saudi, humanitarian, penulis, dan pengusaha. Dalam kapasitasnya sebagai diplomat, dia mewakili tanah airnya di Pakistan, Irak, Amerika Serikat, Republik Federal Nigeria, Republik Turki, Republik Rakyat Bangladesh, Nepal, dan akhirnya sebagai duta besar Saudi untuk Malaysia.
Syaikh Ahmad Khathib Al-Minangkabawi

Riwayat

Nama lengkapnya adalah Ahmad Khatib bin Abdul Latif al-Minangkabawi, lahir di Koto Tuo - Balai Gurah, IV Angkek, Agam, Sumatera Barat, pada hari Senin 6 Dzulhijjah 1276 H (1860 Masehi) dan wafat di Mekkah hari Senin 8 Jumadil Awal 1334 H (1916 M).[2][4]

Awal berada di Mekkah, ia berguru dengan beberapa ulama terkemuka di sana seperti Sayyid Bakri Syatha, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, dan Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makkiy.

Banyak sekali murid Syaikh Khatib yang diajarkan fiqih Syafi'i. Kelak di kemudian hari mereka menjadi ulama-ulama besar di Indonesia, seperti Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul) ayah dari Buya Hamka; Syaikh Muhammad Jamil Jambek, Bukittinggi; Syaikh Sulaiman Ar-Rasuli, Candung, Bukittinggi, Syaikh Muhammad Jamil Jaho Padang Panjang, Syaikh Abbas Qadhi Ladang Lawas Bukittinggi, Syaikh Abbas Abdullah Padang Japang Suliki, Syaikh Khatib Ali Padang, Syaikh Ibrahim Musa Parabek, Syaikh Mustafa Husein, Purba Baru, Mandailing, dan Syaikh Hasan Maksum, Medan. Tak ketinggalan pula K.H. Hasyim Asy'ari dan K.H. Ahmad Dahlan, dua ulama yang masing-masing mendirikan organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, merupakan murid dari Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah.[3]

Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah adalah tiang tengah dari mazhab Syafi'i dalam dunia Islam pada permulaan abad ke XX. Ia juga dikenal sebagai ulama yang sangat peduli terhadap pencerdasan umat. Imam Masjidil Haram ini adalah ilmuan yang menguasai ilmu fiqih, sejarah, aljabar, ilmu falak, ilmu hitung, dan ilmu ukur (geometri).

Nasab

Ia bernama lengkap Al ‘Allamah Asy Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah bin ‘Abdul Lathif bin ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al Khathib Al Minangkabawi Al Jawi Al Makki Asy Syafi’i Al Atsari rahimahullah.

Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah Al Khatib dilahirkan di Koto Tuo, kenagarian Balai Gurah, Kec. Ampek Angkek Candung, Kab. Agam, Prov. Sumatera Barat pada hari Senin 6 Dzul Hijjah 1276 H bertepatan dengan 26 Mei 1860 M. Ibunya bernama Limbak Urai binti Tuanku Nan Rancak. Ayahnya bernama 'Abdul Lathif yang berasal dari Koto Gadang. 

Abdullah, kakek Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah atau buyut menurut riwayat lain, adalah seorang ulama kenamaan. Oleh masyarakat Koto Gadang, Abdullah ditunjuk sebagai imam dan khathib. Sejak itulah gelar Khatib Nagari melekat dibelakang namanya dan berlanjut ke keturunannya di kemudian hari.

Pendidikan

Ketika masih di kampung kelahirannya, Ahmad kecil sempat mengenyam pendidikan formal, yaitu pendidikan dasar dan berlanjut ke Sekolah Raja atau Kweekschool [4] yang tamat tahun 1871 M.

Di samping belajar di pendidikan formal yang dikelola Belanda itu, Ahmad kecil juga mempelajari mabadi’ (dasar-dasar) ilmu agama dari Syaikh ‘Abdul Lathif, sang ayah. Dari sang ayah pula, Ahmad kecil menghafal Al Quran dan berhasil menghafalkan beberapa juz.

Pada tahun 1287 H, Ahmad kecil diajak oleh sang ayah, Abdul Lathif, ke Tanah Suci mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Setelah rangkaian ibadah haji selesai ditunaikan, Abdullah kembali ke Sumatera Barat sementara Ahmad tetap tinggal di mekkah untuk menyelesaikan hafalan Al Qurannya dan menuntut ilmu dari para ulama-ulama Mekkah terutama yang mengajar di Masjidil Haram .

Di antara guru-guru Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah di Mekkah adalah:
  • Sayyid ‘Umar bin Muhammad bin Mahmud Syatha Al Makki Asy Syafi’I (1259-1330 H)
  • Sayyid ‘Utsman bin Muhammad Syatha Al Makki Asy Syafi’i (1263-1295 H)
  • Sayyid Bakri bin Muhammad Zainul ‘Abidin Syatha Ad Dimyathi Al Makki Asy Syafi’i (1266-1310 H) –penulis I’anatuth Thalibin.
Dalam Ensiklopedi Ulama Nusantara dan Cahaya dan Perajut Persatuan mencatat beberapa ulama lain sebagai guru Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah, yaitu:
  • Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan (wafat 1304) –mufti Madzhab Syafi’i di Mekkah-
  • Yahya Al Qalyubi
  • Muhammad Shalih Al Kurdi
Mengenai bagaimana semangat Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah dalam thalabul ‘ilmi, mari sejenak kita dengarkan penuturan seorang ulama yang sezaman dengannya, yaitu Syaikh ‘Umar ‘Abdul Jabbar rahimahullah dalam Siyar wa Tarajim hal. 38-39, “…Ia adalah santri teladan dalam semangat, kesungguhan, dan ketekunan dalam menuntut ilmu serta bermudzakarah malam dan siang dalam pelbagai disiplin ilmu. 

Karena semangat dan ketekunannya dalam muthala’ah dalam ilmu pasti seperti mathematic (ilmu hitung), aljabar, perbandingan, tehnik (handasah), haiat, pembagian waris, ilmu miqat, dan zij, ia dapat menulis buku dalam disiplin ilmu-ilmu itu tanpa mempelajarinya dari guru (baca: otodidak).”

Selain mempelajari ilmu Islam, Ahmad juga gemar mempelajari ilmu-ilmu keduniaan yang mendudkung ilmu diennya seperti ilmu pasti untuk membantu menghitung waris dan juga bahasa Inggris sampai betul-betul kokoh.

Murid
Mengenai murid-murid Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah rahimahullah, Siradjuddin ‘Abbas berkata, “Sebagaimana dikatakan di atas bahwa hampir seluruh ulama Syafi’i yang kemudian mengembangkan ilmu agama di Indonesia, seperti Syaikh Sulaiman Ar Rasuli, Syaikh Muhd. Jamil Jaho, Syaikh ‘Abbas Qadhli, Syaikh Musthafa Purba Baru, Syaikh Hasan Ma’shum Medan Deli dan banyak lagi ulama-ulama Indonesia pada tahun-tahun abad XIV adalah murid dari Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah Khathib Minangkabau ini.”[5]

Ucapan senada juga dinyatakan penulis Ensiklopedi Ulama Nusantara di banyak tempat. Bahkan Dr. Kareel A. Steenbrink membuat satu pasal dalam Beberapa Aspek:Guru untuk Generasi Pertama Kaum Muda. Namun, tidak salah kiranya kita sebutkan di sini beberapa murid-muridnya yang menonjol, baik secara keilmuan maupun dakwah yang mereka lancarkan, di antaranya adalah:
  • Syaikh ‘Abdul Karim bin Amrullah rahimahullah –ayah Ustadz Hamka-. Seorang ulama kharismatik yang memiliki pengaruh kuat di ranah Minang dan Indonesia. Di antara karya tulisnya adalah Al Qaulush Shahih yang membicarakan tentang nabi terakhir dan membantah paham adanya nabi baru setelah Nabi Muhammad terutama pengikut Mirza Ghulam Ahmad Al Qadiyani.
  • Muhammad Darwis alias Ustadz Ahmad Dahlan bin Abu Bakar bin Sulaiman rahimahullah –pendiri Jam’iyyah Muhammadiyyah-.
  • Ustadz Muhammad Hasyim bin Asy’ari Al Jumbangi rahimahullah –salah satu pendiri Jam’iyyah Nahdlatul ‘Ulama-.
  • Ustadz ‘Abdul Halim Majalengka rahimahullah–pendiri Jam’iyyah I’anatul Mubta’allimin yang bekerja sama dengan Jam’iyyah Khairiyyah dan Al-Irsyad
  • Syaikh ‘Abdurrahman Shiddiq bin Muhammad ‘Afif Al Banjari rahimahullah –mufti Kerajaan Indragiri-.
  • Muhammad Thaib ‘Umar
  • Dan lain-lain.
Pernikahan
Di antara kebiasaan Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah di Mekkah adalah menyeringkan diri mengunjungi toko buku milik Muhammad Shalih Al Kurdi yang terletak di dekat Masjidill Haram untuk membeli kitab-kitab yang dibutuhkan atau sekadar membaca buku saja jika belum memiliki uang untuk membeli. Karena seringnya Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah mengunjungi toko buku itu membuat pemilik toko, Shalih Al Kurdi, menaruh simpati kepadanya, terutama setelah mengetahui kerajinan, ketekunan, kepandaian dan penguasaannya terhadap ilmu agama serta keshalihannya.

Ketertarikan Shalih Al Kurdi terhadap Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah dibuktikan dengan dijadikannya Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah sebagai menantu,. Setelah banyak mengetahui tentang perihal dan kepribadian Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah yang mulia itu, Shalih Al Kurdi pun menikahkannya dengan putri pertamanya, yang kata Hamka dalam Tafsir Al Azhar bernama Khadijah. 

Sebenarnya Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah sempat ragu menerima tawaran dari Al Kurdi karena tidak adanya biaya yang mencukupi dan telah mengatakan terus terang, akan tetapi justru tidak sedikit pun mengurangi niat besar dari Al Kurdi untuk menjaqdikannya menantu. Bahkan Al Kurdi berjanji menanggung semua biaya pernikahan termasuk mahar dan kebutuhan hidup keluarga Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah. Masya Allah. Jika karena bukan kepribadian Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah yang mulia dan keilmuannya, mungkin hal semacam ini tidak akan pernah terjadi.

Tentang pengambilan Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah sebagai menantu Shalih Al Kurdi, Syarif ‘Aunur Rafiq bertanya terheran kepada Shalih, “Aku dengar Anda telah menikahkan putrid Anda dengan lelaki Jawi yang tidak pandai berbahasa ‘Arab kecuai setelah belajar di mekkah?” “Akan tetapi ia adalah lelaki shalih dan bertaqwa,” jawab Shalih seketika, “Padahal Rasulullah shallallahu ‘alai wa sallam bersabda, ‘Jika datang kepada kalian seseorang yang agama dan amanahnya telah kalian ridhai, maka nikahkanlah ia.’

Dari pernikahannya dengan Khadijah itu, Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah dikaruniai seorang putra, yaitu ‘Abdul Karim (1300-1357 H).

Ternyata pernikahan Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah dengan Khadijah tidak berlangsung lama karena Khadijah meninggal dunia.

Shalih Al Kurdi, sang mertua, meminta Syaikh Ahmad Khatib untuk menikah kembali dengan putrinya yang lain, yaitu adik kandung Khadijah yang bernama Fathimah. Fathimah adalah seorang seorang wanita teladan dalam keshalihan dan memiliki hafalan Al Quran yang baik. Oleh karena itu tidak heran jika anak-anaknya kelak menjadi orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi di Timur Tengah, yaitu:
  • ‘Abdul Malik. Ketua redaksi koran Al Qiblah dan memiliki kedudukan tinggi di Al Hasyimiyyah (Yordan). Belajar kepada sang sang ayah lalu mempelajari adab dan politik.
  • ‘Abdul Hamid Al Khathib –seorang ulama ahli adab dan penyair kenamaan yang pernah menjadi staf pengajar di Masjid Al Haram dan duta besar Saudi untuk Pakistan. Di antara karya ilmiahnya adalah Tafsir Al Khathib Al Makki 4 jilid, sebuah nazham (sya’ir) berjudul Sirah Sayyid Walad Adam shallallahu ‘alaihi wa sallam, Al Imam Al ‘Adil (sejarah dan biografi untuk Raja ‘Abdul ‘Aziz Alu Su’ud)-
Kesuksesan Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah dalam mendidik anak-anaknya sehingga menjadi tokoh-tokoh berhasil bukanlah omong kosong belaka. Keberhasilan itu berawal dari sistem pendidikan yang mengacu kepada nilai-nilai ajaran Islam yang mulia terutama masalah ‘aqidah. Mari sejenak kita dengar langsung penuturan ‘Abdul Hamid Al Khathib tentang bagaimana Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah menanamkan ‘aqidah pada anak-anaknya, “Ketika kecilku dulu, jika aku meminta sesuatu dari ayahku, ia akan berkata,’Mintalah kepada Allah, pasti Dia akan memberimu (apa yang kamu minta).’ 

Aku pun balik bertanya, ‘Memangnya Allah di mana, yah?’ ‘Dia berada di langit sana,’ jawab ayahku,’Dia dapat melihatmu, sedangkan kamu tidak melihat-Mu.’ Tidak selang berapa lama, ayahku pun mendatangiku dengan membawa apa yang kuminta seraya berkata, ‘Ni, Allah telah mengirim kepadamu apa yang tadi kamu minta .’

Dulu juga jika aku meminta sesuatu kepada Allah dan tidak aku dapatkan, maka aku pun segera mengadu kepada ayahku, ‘Sesungguhnya aku telah meminta ini dan itu kepada Allah, tapi kok Allah tidak memberiku, yah?’ Ayah pun segera menjawab, ‘Ini tidak mungkin terjadi kecuali juka kamu sendiri yang bikin Allah murka. Ya mungkin kamu sudah berlaku sembrono dalam ibadahmu, atau kamu terlambat salat, atau mungkin kamu sudah menggunjing seseorang? Maka bertaubatlah dan minta ampunlah kepada Allah, pasti Dia akan memberikan semua permintaanmu.’ Aku pun segera melakukan wasiat ayahku, maka semua keinginanku pun dapat terwujud.”

Bagaimana pendidikan aqidah yang diberikan Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah kepada anaknya ini. Pendidikan mana lagi yang lebih mulia dari penanaman ‘aqidah yang kuat pada diri seorang anak. Bukankah melukis di batu itu sulit namun hasilnya akan lebih kekal? Demikian juga dengan diri seorang anak. Seorang anak kecil itu bagaikan gelas kaca yang masih kosong. Ia tergantung dengan siapa yang pertama kali mengisinya. 

Pendidikan yang seperti inilah yang akan menanamkan rasa cinta yang tinggi kepada Allah, bersandar hanya kepada kepada-Nya, meminta hanya kepada-Nya semata bahkan hal-hal yang kecil sekalipun. Inilah pendidikan tauhid yang pernah dipraktikkan Rasulullah kepada keponakannya, Ibnu ‘Abbas, yang ketika itu usianya masih kanak-kanak, “Jika kamu meminta pertolongan, mintalah (pertolongan) kepada Allah.”

Potret lain dari pendidikan yang diberikan Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah kepada keluarganya adalah ia selalu menegur dan memperingati bagi siapa saja yang menyia-nyiakan waktunya dengan bermain-main dan berbagai hal yang dapat melalaikan termasuk alat-alat musik dan nyanyian. Semua ini dilakukan Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah karena bentuk rasa sayangnya terhadap keluarganya. Karena melarang tidak selamanya bermakna benci. 

Tidak seperti anggapan sementara sebagian orang dalam mengekspresikan rasa cintanya kepada keluarganya. Mereka kira dengan membiarkan semua gerak-gerik dan tingkah laku keluarganya itulah yang disebut cinta. Padahal boleh jadi perilaku-perilaku itu mengundang murka Allah ‘Azza wa Jalla. Akan tetapi berbeda dengan Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah, ia menyadari bahwa seorang ayah kelak akan dimintai pertanggungjawaban di depan pengadilan Rabbul ‘alamin. 

Maka dengan segenap kemampuannya, Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah menganjurkan kepada semua keluarganya untuk menjauhi semua hal-hal yang tidak bermanfaat dan mencukupkan diri dengan sesuatu yang bermanfaat saja. 

Tidakkah Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri dan keluarga kalian dari neraka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas tanggungannya.” Sampai sabdanya, “Dan laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya, maka ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya.”

Imam Besar Masjidil Haram Mekkah pertama dari orang non Arab

Kealiman Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah dibuktikan dengan dilangkatnya ia menjadi imam dan khathib sekaligus staf pengajar di Masjidil Haram. Jabatan sebagai imam dan khathib bukanlah jabatan yang mudah diperoleh. Jabatan ini hanya diperuntukkan orang-orang yang memiliki keilmuan yang tinggi.

Mengenai sebab pengangkatan Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah Al Khathib menjadi imam dan khathib, ada dua riwayat yang nampaknya saling bertentangan. Riwayat pertama dibawakan oleh ‘Umar ‘Abdul Jabbar dalam kamus tarajimnya, Siyar wa Tarajim (hal. 39). 

‘Umar ‘Abdul Jabbar mencatat bahwa jabatan imam dan khathib itu diperoleh Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah berkat permintaan Shalih Al Kurdi, sang mertua, kepada Syarif ‘Aunur Rafiq agar berkenan mengangkat Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah menjadi imam & khathib. Sedangkan riwayat kedua dibawakan oleh Hamka rahimahullah dalam Ayahku, Riwayat Hidup Dr. ‘Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera yang kemudian dinukil oleh Dr. Akhria Nazwar dan Dadang A. Dahlan. 

Ustadz Hamka menyebutkan cerita ‘Abdul Hamid bin Ahmad Al Khathib, suatu ketika dalam sebuah salat berjama’ah yang diimami langsung Syarif ‘Aunur Rafiq. Di tengah salat, ternyata ada bacaan imam yang salah, mengetahui itu Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah pun, yang ketika itu juga menjadi makmum, dengan beraninya membetulkan bacaan imam. 

Setelah usai salat, Syarif ‘Aunur Rafiq bertanya siapa gerangan yang telah membenarkan bacaannya tadi. Lalu ditunjukkannya Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah yang tak lain adalah menantu sahabat karibnya, Shalih Al Kurdi, yang terkenal dengan keshalihan dan kecerdasannya itu. Akhirnya Syarif ‘Aunur Rafiq mengangkat Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah sebagai imam dan khathib Masjid Al Haram untuk madzhab Syafi’i.

Gagasan-gagasan

Perhatiannya terhadap hukum waris juga sangat tinggi, kepakarannya dalam mawarits (hukum waris) telah membawa pembaharuan adat Minang yang bertentangan dengan Islam. Martin van Bruinessen mengatakan, karena sikap reformis inilah akhirnya al-Minangkabawi semakin terkenal.Salah satu kritik Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah yang cukup keras termaktub di dalam kitabnya Irsyadul Hajara fi Raddhi 'alan Nashara. Di dalam kitab ini, ia menolak doktrin trinitas Kristen yang dipandangnya sebagai konsep Tuhan yang ambigu.

Selain masalah teologi, dia juga pakar dalam ilmu falak. Hingga saat ini, ilmu falak digunakan untuk menentukan awal Ramadhan dan Syawal, perjalanan matahari termasuk perkiraan waktu salat, gerhana bulan dan matahari, serta kedudukan bintang-bintang tsabitahdan sayyarah, galaksi dan lainnya.

Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah juga pakar dalam geometri dan trigonometri yang berfungsi untuk memprediksi dan menentukan arah kiblat, serta berfungsi untuk mengetahui rotasi bumi dan membuat kompas yang berguna saat berlayar. Kajian dalam bidang geometri ini tertuang dalam karyanya yang bertajuk Raudat al-Hussab dan Alam al-Hussab.
Karya

Karya-karya tulis Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu karya-karya yang berbahasa Arab dan karya-karya yang berbahasa Melayu dengan tulisan Arab. Kebanyakan karya-karya itu mengangkat tema-tema kekinian terutama menjelaskan kemurnian Islam dan merobohkan kekeliruan tarekat, bid’ah, takhayul, khurafat, dan adat-adat yang bersebrangan dengan Al Quran & Sunnah.

Karya-karya Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah dalam bahasab ’Arab:
  • Hasyiyah An Nafahat ‘ala Syarhil Waraqat lil Mahalli
  • Al Jawahirun Naqiyyah fil A’malil Jaibiyyah
  • Ad Da’il Masmu’ ‘ala Man Yuwarritsul Ikhwah wa Auladil Akhwan Ma’a Wujudil Ushul wal Furu’
  • Raudhatul Hussab
  • Mu’inul Jaiz fi Tahqiq Ma’nal Jaiz
  • As Suyuf wal Khanajir ‘ala Riqab Man Yad’u lil Kafir
  • Al Qaulul Mufid ‘ala Mathla’is Sa’id
  • An Natijah Al Mardhiyyah fi Tahqiqis Sanah Asy Syamsiyyah wal Qamariyyah
  • Ad Durratul Bahiyyah fi Kaifiyah Zakati Azd Dzurratil Habasyiyyah
  • Fathul Khabir fi Basmalatit Tafsir
  • Al ‘Umad fi Man’il Qashr fi Masafah Jiddah
  • Kasyfur Ran fi Hukmi Wadh’il Yad Ma’a Tathawuliz Zaman
  • Hallul ‘Uqdah fi Tashhihil ‘Umdah
  • Izhhar Zaghalil Kadzibin fi Tasyabbuhihim bish Shadiqin
  • Kasyful ‘Ain fi Istiqlal Kulli Man Qawal Jabhah wal ‘Ain
  • As Saifu Al Battar fi Mahq Kalimati Ba’dhil Aghrar
  • Al Mawa’izh Al Hasanah Liman Yarghab minal ‘Amal Ahsanah
  • Raf’ul Ilbas ‘an Hukmil Anwat Al Muta’amil Biha Bainan Nas
  • Iqna’un Nufus bi Ilhaqil Anwat bi ‘Amalatil Fulus
  • Tanbihul Ghafil bi Suluk Thariqatil Awail fima Yata’allaq bi Thariqah An Naqsyabandiyyah
  • Al Qaulul Mushaddaq bi Ilhaqil Walad bil Muthlaq
  • Tanbihul Anam fir Radd ‘ala Risalah Kaffil ‘Awwam, sebuah kitab bantahan untuk risalah Kafful ‘Awwam fi Khaudh fi Syirkatil Islam karya Ustadz Muhammad Hasyim bin Asy’ari yang melarang kaum muslimin untuk bergabung di Sarekat Islam (SI)
  • Hasyiyah Fathul Jawwad dalam 5 jilid
  • Fatawa Al Khathib ‘ala Ma Warada ‘Alaih minal Asilah
  • Al Qaulul Hashif fi Tarjamah Ahmad Khathib bin ‘Abdil Lathif
Adapun yang berbahasa Melayu adalah:
  • Mu’allimul Hussab fi ‘Ilmil Hisab
  • Ar Riyadh Al Wardiyyah fi Ushulit Tauhid wa Al Fiqh Asy Syafi’i
  • Al Manhajul Masyru’ fil Mawarits
  • Dhaus Siraj Pada Menyatakan Cerita Isra’ dan Mi’raj
  • Shulhul Jama’atain fi Jawaz Ta’addudil Jumu’atain
  • Al Jawahir Al Faridah fil Ajwibah Al Mufidah
  • Fathul Mubin Liman Salaka Thariqil Washilin
  • Al Aqwal Al Wadhihat fi Hukm Man ‘Alaih Qadhaish Shalawat
  • Husnud Difa’ fin Nahy ‘anil Ibtida’
  • Ash Sharim Al Mufri li Wasawis Kulli Kadzib Muftari
  • Maslakur Raghibin fi Thariqah Sayyidil Mursalin
  • Izhhar Zughalil Kadzibin
  • Al Ayat Al Bayyinat fi Raf’il Khurafat
  • Al Jawi fin Nahw
  • Sulamun Nahw
  • Al Khuthathul Mardhiyyah fi Hukm Talaffuzh bin Niyyah
  • Asy Syumus Al Lami’ah fir Rad ‘ala Ahlil Maratib As Sab’ah
  • Sallul Hussam li Qath’i Thuruf Tanbihil Anam
  • Al Bahjah fil A’malil Jaibiyyah
  • Irsyadul Hayara fi Izalah Syubahin Nashara
  • Fatawa Al Khathib dalam versi bahasa Melayu
Wafat

Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi wafat pada tanggal 9 Jumadil Awal tahun 1334 H di Mekkah , Saudi Arabia.

Rujukan
Daftar pustaka
  • ‘Abduljabbar, ‘Umar. 1403 H. Siyar wa Tarajim Ba’dhi ‘Ulamaina fil Qarn Ar Rabi’ ‘Asyar lil Hijrah. KSA: Tihamah
  • Al-Hazimi, Ibrahim bin ‘Abdullah. 1419 H. Mausu’ah A’lamil Qarn Ar Rabi’ ‘Asyar wal Khamis ‘Asyar Al Hijri fil ‘Alam Al ‘Arabi wal Al Islami min 1301-1417. KSA: Dar Asy Syarif lin Nasyr wat Tauzi’
  • Al-Mu’allimi, ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman. 1421 H. A’lamul Makkiyyin min Al Qarn At Tasi’ ilal Qarn Ar Rabi’ ‘Asyar Al Hijri. KSA: Muassasah Al Furqan lit Turats Al Islami
  • Steenbrink, Dr. Karel A. 1984 M. Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad Ke-19. Jakarta: Bulan Bintang
  • Dahlan, Dadang A. 2007. Cahaya dan Perajut Persatuan Waliullah Ahmad Khatib Al Minangkabawy. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa
  • Suprapto, Muhammad Bibit. 2009. Ensiklopedi Ulama Nusantara. Jakarta: Glegar Media Indonesia
  • Amrullah, ‘Abdul Malik bin ‘Abdul Karim. Tafsir Al Azhar. Jakarta: Pustaka Panjimas
  • Ad-Dahlawi, ‘Abdus Sattar bin ‘Abdul Wahhab. 1430 H. Faidhul Malikil Wahhabil Muta’ali bi Anba’ Awailil Qarn Ats Tsalits ‘Asyar wat Tawali. KSA: Maktabah Al Asadi
  • ‘Abbas, Siradjuddin. 2011. Thabaqatus Syafi’iyah, Ulama Syafi’I dan Kitab-Kitabnya dari Abad ke Abad. Jakarta: Pustaka Tarbiyah Baru
sumber: wikipedia.org
Baca selengkapnya »
Biografi singkat Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (orang minang wajib tahu)

Biografi singkat Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (orang minang wajib tahu)

Syaikh Khatib menjadi imam besar di Masjidil Haram sekaligus mufti bermahzab Syafi’i yakni ulama yang memiliki wewenang untuk memberikan fatwa pada umat di akhir abad ke-19. Dia berdarah Koto Gadang, desa yang dikenal memiliki keunikan dan warganya sangat intelek ada zaman kolonialisme. Syaikh Khatib lahir di Sumatera Barat pada 26 Juni 1860. Dia pergi ke Kota Makkah di saat usianya masih sangat muda, 9 tahun

Saat di Makkah, dia berguru dengan beberapa ulama terkemuka. Saking fasihnya, Syaikh Khatib merupakan tiang tengah dalam mahzab Syafi’i ini. Muridnya sungguh banyak. Ratusan ribu orang datang kepadanya saban hari minta diajarkan fiqih Syafi’i. Dua diantara muridnya pasti kamu kenal. Mereka adalah Kyai Haji Hasyim Asy’ari yang mendirikan organisasi Nahdatul Ulama, dan Kyai Haji Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.
Biografi singkat Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi

Selain menguasai ilmu fiqih, Syaikh Khatib juga menguasai sejarah, aljabar, ilmu falak, berhitung, serta geometri. Canggih banget, ya. Syaikh Khatib kecil belajar agama pada sang ayah, Syaikh Abdul Lathif. Sejak kecil beliau sudah khatam dan hafal beberapa juz dalam Alquran.

Syaikh Khatib yang jadi imam besar pertama di Masjidil Haram asal Minangkabau ini akhirnya menghembuskan nafas selama-lamanya pada 13 Maret 1916. Meski demikian namanya masih terngiang terutama di kalangan santri dan penerus mazhab Syafi’i. Kita sebagai bangsa Indonesia turut bangga dengan nama besar beliau. Apalagi beliau masih fasih berbahasa minang meski lama di Makkah.

Kitab- kitab karya Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi:

Karya tulis Syaikh Ahmad Khatib al- Minangkabawi dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu karya yang berbahasa Arab dan berbahasa Melayu dengan tulisan arab. Kebanyakan tema- tema dari buku beliau mengangkat tema- tema kekinian terutama menjelaskan kemurnian islam dan merobohkan kekeliruan tarekat, bid’ah, tahayyul dan kurafat, dan adat-adat yang berseberangan dengan islam.

Yang berbahasa arab antara lain: Khasyiyah al-Nafarat ala Syarhi al-Waraqat li al-Mahalli, al Jawahiru al-Naqiyyah fi al-A’mali al-Jaibiyyah, Raudlat al-Hussab, Ma’ainul Jaiz fi Tahqiq Ma’nal Jaiz, al-Qulu al-Mufid ala Mathlai al-Said, dsb.

Sedangkan yang berbahasa Melayu ialah: Mu’alimu al-Hussab fi ilmi al-Hisab, al-Manhajul Masyru’ fi al-Mawarist, Dhau al-Siraj, al-Jawi fi nahw, Salamu al-Nahw, Izhar Zughlai al-Kadzibin, dsb.

Murid- murid Syaikh al-Khatib:

Mengenai murid- murid Syaikh Ahmad Khatib al- Minangkabawi, Siradjuddin Abbas berkata bahwa sebagaimana dikatakan di atas bahwa hampir ulama Syafi’i yang kemudian mengembangkan ilmu agama di indonesia, seperti Syeikh Sulaiman al-Rasuli, Syeikh Muhdi Jamil Jaho, Syeikh Abbas Qadli, Syaikh Musthofa Purba Baru, Syaikh Hasan Ma’sum Medan Deli dan banyak lagi ulama- ulama Indonesia pada tahun-tahun bar XIV adalah murid dari Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (Thabaqatus Syafiiyah hal: 406).

Ucapan senada juga diungkapkan oleh penulis ensiklopedi ulama nusantara di banyak tempat. Bahkan Dr. Kareel A. Steenbrink membuat satu pasal dalam beberapa aspek: guru untuk generasi pertama kaum muda. Namun demikian, tak salah kiranya jika disebutkan disini beberapa murid yang meonjol, baik secara keilmuan maupun dakwah yang mereka lancarakan, diantaranya adalah:
  • Syaikh al-Karim bin Amrullah rahimahullah, ayah Buya Hamka. Seorang ulama kharismatik yang memiliki pengaruh besar di ranah minang dan indonesia. Diantara karya tulisnya adalah al- Qaulush shalih yang membicarakan tentang nabi terakhir dan membantah paham adanya nabi baru setelah nabi Muhammad terutama pengikut Mirza Ghulam Ahmad Qadiyani.
  • Muhammad Darwis alias KH. Ahmad Dahlan bin Abu Bakar bin Sulaiman rahimahullah- pendiri Jamiyyah Muhammadiyah
  • Muhammad Hasyim Bin asy’ari Tebuireng Jombang rahimahullah- salah satu pendiri Jamiyyah Nahdlatul Ulama
  • Ustadz Abdul Halim Majalengka rahimahullah- pendiri Jamiyyah Ianatul Mutaallimin yang bekerja sama dengan Jamiyyah Khairiyah dan al-Irsyad
  • Syaikh Abdurrahman Shiddiq bin Muhammad Afif al-Banjari rahimahullah- mufti kerajaan Indragiri
  • Muhammad Thaib Umar, dsb.
Keunggulan Syaikh al-Khatib dalam memberikan pelajaran kepada muridnya selalu menghindari sikap taqlid. Salah seorang dari muridnya, yakni H. Abdullah Ahmad, pemimpin kaum pembaru di Minangkabau, pendiri Sumatera Thawalib yang berawal dari pengajian di Masjid Zuama, Jembatan Besi, Padang Panjang, dan kemudian mendirikan pula Persatuan Guru Agama Islam (PGAI), di Jati Padang. Telah mengembangkan ajaran gurunya melalui pendidikan dan pencerahan tradisi ilm dan mendorong pula para muridnya untuk mempergunakan akal yang sesungguhnya adalah karunia Allah Subhanahu wa ta'ala.

Jika kepercayaan hanya tumbuh semata- mata karena penerimaan atas wibawa guru, maka kepercayaan itu tidak ada harganya, dan itulah yang membuka pintu taqlid. Peperangan melawan penjajahan asing tidak semata menggunakan senjata, bedil, kelewang, tetapi pencerdasan anak kemenakan dengan memberikan senjata tradisi ilmu. Murid- muridnya kemudian menjadi penggerak pembaharuan pemikiran islam di minangkabau, seperti syaikh Muhammad Djamil Jambek (1860-1947), Haji Abdul Karim Amrullah (1879- 1945) dan Haji Abdullah Ahmad.

(disarikan dari berbagai sumber)
repost from: ipnu.or.id
Baca selengkapnya »
Mengenal Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir singa pembela sunnah

Mengenal Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir singa pembela sunnah

Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir adalah seorang ulama yang layak digelari singa pembela sunnah dan ia juga merupakan salah satu tokoh yang paling dimusuhi oleh aliran-aliran sesat. Syaikh Ihsan merupakan seorang ahli hadits terpercaya dan ahli fikih yang dalam pemahamannya. Hidupnya diisi dengan khidmat menjaga syariat dari kelompok-kelompok yang menyimpang dan akhir kehidupannya adalah ibadah, menyampaikan ilmu di hadapan umat.

Kesungguhannya dalam belajar begitu berkesan bagi Dr. Muhammad Luqman as-Salafi sehingga ia mengatakan, “Aku benar-benar mengenal mujahid ini (Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir). Ia telah menjual dirinya di jalan Allah lebih dari selama 25 tahun sejak dekat denganku di Universitas Islam Madinah. Selama empat tahun kebersamaan kami di Madinah, aku mengenalnya sebagai seorang yang cerdas melebihi pelajar-pelajar lainnya dalam belajar, membahas, dan diskusi. Dia telah menghafal ribuan hadits Nabi.

Saat keluar kelas, ia selalu membuntuti Syaikh al-Albani. Duduk bersamanya di pelataran kampus, lalu bertanya tentang permasalahan hadits, kaidah-kaidahnya, perawi-perawinya, dan berdiskusi bersama Syaikh al-Albani (tentang masalah-masalah lainnya pen.). Syaikh al-Albani pun sangat gembira mendengar dan menjawab pertanyaan darinya…”

Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir memiliki perhatian yang besar dalam memerangi pemikiran-pemikiran menyimpang (baca: aliran sesat) yang banyak tersebar di negaranya, Pakistan. Karya-karya ilmiahnya dalam membantah pemikiran Syiah Itsna ‘Asyriyah, al-Qadiyaniyah (Ahmadiyah), dan Shufiyah menjadi rujukan yang berharga bagi umat Islam, khususnya dalam membantah pemikiran Syiah, buku-bukunya dikategorikan buku terbaik yang membahas pemikiran Syiah. Bantahannya yang ilmiah dan mendalam terhadap aliran-aliran sesat tersebut membuat para tokoh-tokoh kesesatan cukup kelimpungan dan tidak mampu membalasnya dengan argumentasi ilmiah serupa. Mereka hanya mampu melakukan ancaman dan tekanan terhadap Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir, agar ia berhenti membicarakan kesesatan mereka.

Tidak hanya melalui buku dan karya tulis ilmiah, Syaikh Ihsan terus menyeru umat agar waspada terhadap pemikiran-pemikiran yang menyimpang tersebut melalui seminar-seminar, mimbar, dan pertemuan-pertemuan, di Pakistan, Kuwait, Irak, Arab Saudi, hingga Amerika. Semua itu beliau lakukan demi menjaga kemurnian syariat Islam.

Jihad ilmiah yang dilakukan oleh Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir tentu saja memicu kemarahan para pengekor hawa nafsu yang menyelisihi kebenaran sehingga menjadikan dirinya berada dalam ancaman bahaya. Khomeini, tokoh revolusi Iran, mengadakan sayembara untuk kepala Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir. Khomeini mengatakan, “Siapa yang bisa membawa kepala Ihsan, bagi dia ganjaran $2000.” 2000 dolar tentu saja bukan jumlah yang sedikit, apalagi di tahun 1988, angka senilai itu cukup menggiurkan. Beberapa kali percobaan pembunuhan terhadap dirinya terjadi, Syaikh diberondong dengan peluru, namun ia masih selamat.

Pada tanggal 23 Rajab 1407 H, Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir menghadiri sebuah seminar di Univeristas Ahlul Hadits. Peserta yang hadir sangat banyak, sekitar 2000 orang. Saat malam mulai larut, hampir menunjukkan pukul 11 malam, giliran Syaikh berbicara di hadapan khalayak. Kurang lebih 20 menit menyampaikan ceramahnya, sebuah pot yang terletak di depan podiumnya meledak. Jasad Syaikh Ihsan terpelanting 20 atau 30 m dari tempat berdirinya. Di masa-masa akhir hayatnya ia mengatakan, “Tinggalkan aku, pergilah perhatikan bagaimana keadaan yang lain.” Lalu ada seseorang yang menangis karena melihat Syaikh dalam keadaan sekarat, Syaikh menasihatinya, “Kalau engkau menangis, bagaiman engkau bisa menguatkan orang lain (atas kejadian ini).” Syaikh Ihsan segera dilarikan ke rumah sakit Lahore.

Kabar ini terdengar oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan Raja Fahd bin Abdul Aziz. Pemerintah Arab Saudi segera mengambil tindakan cepat terhadap ulama pemberani ini, ia dirujuk ke rumah sakit militer di Riyadh agar ditangan dengan intesif. Namun sayang upaya itu tidak berhasil, pagi hari di awal bulan Sya’ban 1407 H, ruh Syaikh Ihsan terpisah dari jasadnya, ia pergi menghadap Rabnya Yang Maha Mulia.

Kehidupan Syaikh Ihsan telah ia isi dengan ilmu, amal, dakwah, dan jihad membela kemurnian syariat. Jasadnya diterbangkan ke Kota Madinah, kota yang memberikan banyak kesan dan kenangan untuknya, lalu ia dishalatkan di Masjid Nabawi dan dimakamkan di pemakaman Baqi’.

artikel: kisahmuslim.com

Sebuah kesaksian tentang beliau rahimahullaah :

Baca selengkapnya »
Banyak Belum Tahu, Inilah BIODATA Muhammad shallallahu Alahi Wa Salam

Banyak Belum Tahu, Inilah BIODATA Muhammad shallallahu Alahi Wa Salam

Nama : Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalibs bin Hashim.

Tanggal kelahiran : Subuh hari Isnin, 12 Rabiul awal bersamaan 20 April 571 Masehi (dikenali sebagai Tahun Gajah; karena peristiwa tentara bergajah Abrahah yang menyerang kota Ka'bah)

Tempat lahir : Di rumah Abu Thalib, Makkah Al-Mukarramah.

Nama bapak : Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hashim.

Nama ibu : Aminah binti Wahab bin Abdu Manaf.

Pengasuh pertama : Barakah Al-Habsyiyyah (digelar Ummu Aiman. Hamba perempuan bapak Rasulullah Shallallahu alahi wa salam).

Ibu susu pertama : Thuwaibah (hamba perempuan Abu Lahab).

bu susu kedua : Halimah binti Abu Zuaib As-Sa'diah (lebih dikenali Halimah As-Sa'diah, suaminya bernama Abu Kabsyah).

USIA 5 TAHUN

๐Ÿ’“ Peristiwa pembelahan dada Rasulullah Shallallahu alahi wa salam yang dilakukan oleh dua malaikat untuk mengeluarkan bahagian syaitan yang wujud di dalam hatinya.

USIA 6 TAHUN

๐Ÿ’“ Ibunya Aminah binti Wahab ditimpa sakit dan meninggal dunia di Al-Abwa '

(sebuah kampung yang terletak di antara Makkah dan Madinah, baginda dipelihara oleh Ummu Aiman (hamba perempuan bapak Rasulullah Shallallahu alahi wa salam) dan dibiayai oleh datuknya Abdul Muththalib.

USIA 8 TAHUN

๐Ÿ’“ Datuknya, Abdul Muththalib pula meninggal dunia.

Baginda dipelihara pula oleh bapak saudaranya, Abu Thalib.

USIA 9 TAHUN (Setengah riwayat mengatakan pada usia 12 tahun).

๐Ÿ’“Bersama bapak saudaranya, Abu Thalib bermusafir ke Syam atas urusan perniagaan.

๐Ÿ’“Di kota Busra, negeri Syam, seorang pendeta Nasrani bernama Bahira (Buhaira) telah bertemu ketua-ketua rombongan untuk menceritakan tentang pengutusan seorang nabi di kalangan bangsa Arab yang akan lahir pada masa itu.

USIA 20 TAHUN

๐Ÿ’“Terlibat dalam peperangan Fijar. Ibnu Hisyam di dalam kitab 'Sirah', jilid1, halaman 184-187 menyatakan pada ketika itu usia Muhammad Shallallahu alahi wa salam ialah 14 atau 15 tahun. Baginda menyertai peperangan itu beberapa hari dan berperanan mengumpulkan anak-anak panah sahaja.

๐Ÿ’“Menyaksikan ' perjanjian Al-Fudhul ' ; perjanjian damai untuk memberi pertolongan kepada orang yang didzalimi di Makkah.

USIA 25 TAHUN

๐Ÿ’“Bermusafir kali kedua ke Syam atas urusan perniagaan barangan Khadijah binti Khuwailid Al-Asadiyah.

๐Ÿ’“Perjalanan ke Syam ditemani oleh Maisarah; lelaki suruhan Khadijah.

๐Ÿ’“Baginda Shallallahu alahi wa salam bersama-sama Abu Thalib dan beberapa orang bapak saudaranya yang lain pergi berjumpa Amru bin Asad (bapak saudara Khadijah) untuk meminang Khadijah yang berusia 40 tahun ketika itu.

๐Ÿ’“Mas kawin baginda kepada Khadijah adalah sebanyak 500 dirham.

USIA 35 TAHUN

๐Ÿ’“Banjir besar melanda Makkah dan meruntuhkan dinding Ka'bah.

๐Ÿ’“Pembinaan semula Ka'bah dilakukan oleh pembesar-pembesar dan penduduk Makkah.

๐Ÿ’“Rasulullah Shallallahu alahi wa salam diberi kemuliaan untuk meletakkan 'Hajarul-Aswad' ke tempat asal dan sekaligus meredakan pertelingkahan berhubung perletakan batu tersebut.

USIA 40 TAHUN

๐Ÿ’“Menerima wahyu di gua Hira' sebagai pelantikan menjadi Nabi dan Rasul akhir zaman.

USIA 53 TAHUN

๐Ÿ’“Berhijrah ke Madinah Al-Munawwarah dengan ditemani oleh Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq.

๐Ÿ’“Sampai ke Madinah pada tanggal 12 Rabiulawal / 24 September 622M.

USIA 63 TAHUN

๐Ÿ’“Kewafatan Rasulullah Shallallahu alahi wa salam di Madinah Al-Munawwarah pada hari Isnin, 12 Rabiulawal tahun 11Hijrah / 8 Juni 632 Masehi.

ISTERI-ISTERI RASULULLAH Shallallahu alahi wa salam

๐Ÿ’š Khadijah Binti Khuwailid.
๐Ÿ’š Saudah Binti Zam'ah.
๐Ÿ’š Aisyah Binti Abu Bakar (anak Sayyidina Abu Bakar).
๐Ÿ’š Hafsah binti 'Umar (anak Sayyidina 'Umar bin Al-Khattab).
๐Ÿ’š Ummi Habibah Binti Abu Sufyan.
๐Ÿ’š Hindun Binti Umaiyah (digelar Ummi Salamah).
๐Ÿ’š Zainab Binti Jahsy.
๐Ÿ’š Maimunah Binti Harith.
๐Ÿ’š Safiyah Binti Huyai bin Akhtab.
๐Ÿ’š Zainab Binti Khuzaimah (digelar 'Ummu Al-Masakin', Ibu Orang Miskin).

ANAK-ANAK RASULULLAH Shallallahu alahi wa salam
1.๐Ÿ’œ Qasim
2.๐Ÿ’œ Abdullah
3.๐Ÿ’œ Ibrahim
4.๐Ÿ’œ Zainab
5.๐Ÿ’œ Ruqaiyah
6.๐Ÿ’œ Ummi Kalthum
7.๐Ÿ’œ Fatimah Al-Zahra'

ANAK TIRI RASULULLAH Shallallahu alahi wa salam

๐Ÿ’™ Halah bin Hind bin Habbasy bin Zurarah at-Tamimi (anak kepada Sayyidatina Khadijah bersama Hind bin Habbasy. Ketika nikah dengan Rasulullah, Khadijah adalah seorang janda).

SAUDARA SESUSU RASULULLAH Shallallahu alahi wa salam

IBU SUSUAN/SAUDARA SUSUAN

1. Thuwaibah → Hamzah
2. Abu Salamah → Abdullah bin Abdul Asad

SAUDARA SUSUAN

1. Halimah Al-Saidiyyah → Abu Sufyan bin Harith bin Abdul Muthallib
2. Abdullah bin Harith bin Abdul ' Uzza
3. Syaima ' binti Harith bin Abdul ' Uzza
4. 'Aisyah binti Harith bin abdul ' Uzza

BAPAK DAN IBU SAUDARA RASULULLAH Shallallahu alahi wa salam

( ANAK-ANAK KEPADA ABDUL MUTHTHALIB)

1. Al-Harith
2. Muqawwam
3. Zubair
4. Hamzah
5. Al-Abbas
6. Abu Talib
7. Abu Lahab (nama asalnya Abdul Uzza)
8. Abdul Ka'bah
9. Hijl
10. Dhirar
11. Umaimah
12. Al-Bidha (Ummu Hakim)
13. Atiqah ##
14. Arwa ##
15. Umaimah
16. Barrah
17. Safiyah (ibu kepada Zubair Al-Awwam) *

* masuk Islam.
## Ulama berselisih pendapat tentang Islamnya.

Sabda Rasulullah Shallallahu alahi wa salam:
"Sesiapa yang menghidupkan sunnahku, maka sesungguhnya dia telah mencintai aku Dan sesiapa yang mencintai aku niscaya dia bersama-samaku di dalam syurga" (Riwayat Al-Sajary daripada Anas )

ุงู„ู„ู‡ู… ุตู„ู‰ ูˆุณู„ู… ุนู„ู‰ ุณูŠุฏู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุนู„ู‰ ุขู„ู‡ ูˆุงุตุญุงุจู‡ ูˆุณู„ู…
Nabi Muhammad Shallallahu alahi wa salam - Manusia agung

KENALI NABI MUHAMMAD Shallallahu alahi wa salam SECARA LAHIRIAH


๐Ÿ’“Begitu indahnya sifat fizikal

Baginda, sehinggakan seorang ulama Yahudi yang pada pertama kalinya bertemu muka dengan Baginda lantas melafazkan keislaman dan mengaku akan kebenaran apa yang disampaikan oleh Baginda.

Di antara kata-kata apresiasi para sahabat ialah:

๐Ÿ’ž Aku belum pernah melihat lelaki yang segagah Rasulullah Shallallahu alahi wa salam..
๐Ÿ’ž Aku melihat cahaya dari lidahnya.
๐Ÿ’ž Seandainya kamu melihat Baginda, seolah-olah kamu melihat matahari terbit.
๐Ÿ’ž Rasulullah jauh lebih cantik dari sinaran bulan.
๐Ÿ’ž Rasulullah umpama matahari yang bersinar.
๐Ÿ’ž Aku belum pernah melihat lelaki setampan Rasulullah.
๐Ÿ’ž Apabila Rasulullah berasa gembira, wajahnya bercahaya spt bulan purnama.
๐Ÿ’ž Kali pertama memandangnya sudah pasti akan terpesona.
๐Ÿ’ž Wajahnya tidak bulat tetapi lebih cenderung kepada bulat.
๐Ÿ’ž Wajahnya seperti bulan purnama.
๐Ÿ’ž Dahi baginda luas, raut kening tebal, terpisah di tengahnya.
๐Ÿ’ž Urat darah kelihatan di antara dua kening dan nampak semakin jelas semasa marah.
๐Ÿ’ž Mata baginda hitam dengan bulu mata yang panjang.
๐Ÿ’ž Garis-garis merah di bahagian putih mata, luas kelopaknya, kebiruan asli di bahagian sudut.
๐Ÿ’ž Hidungnya agak mancung, bercahaya penuh misteri, kelihatan luas sekali pertama kali melihatnya.
๐Ÿ’ž Mulut baginda sederhana luas dan cantik.
๐Ÿ’ž Giginya kecil dan bercahaya, indah tersusun, renggang di bahagian depan.
๐Ÿ’ž Apabila berkata-kata, cahaya kelihatan memancar dari giginya.
๐Ÿ’žJanggutnya penuh dan tebal menawan.
๐Ÿ’ž Lehernya kecil dan panjang, terbentuk dengan cantik seperti arca.
๐Ÿ’ž Warna lehernya putih seperti perak, sangat indah.
๐Ÿ’ž Kepalanya besar tapi terlalu elok bentuknya.
๐Ÿ’ž Rambutnya sedikit ikal.
๐Ÿ’ž Rambutnya tebal kdg-kdg menyentuh pangkal telinga dan kdg-kdg mencecah bahu tapi disisir rapi.
๐Ÿ’ž Rambutnya terbelah di tengah.
๐Ÿ’ž Di tubuhnya tidak banyak rambut kecuali satu garisan rambut menganjur dari dada ke pusat.
๐Ÿ’ž Dadanya bidang dan selaras dgn perut. Luas bidang antara kedua bahunya lebih drpd biasa.
๐Ÿ’ž Seimbang antara kedua bahunya.
๐Ÿ’ž Pergelangan tangannya lebar, lebar tapak tangannya, jarinya juga besar dan tersusun dgn cantik.
๐Ÿ’ž Tapak tangannya bagaikan sutera yang lembut.
๐Ÿ’ž Perut betisnya tidak lembut tetapi cantik.
๐Ÿ’ž Kakinya berisi, tapak kakinya terlalu licin sehingga tidak melekat air.
๐Ÿ’ž Terlalu sedikit daging di bahagian tumit kakinya.
๐Ÿ’ž Warna kulitnya tidak putih spt kapur atau coklat tapi campuran coklat dan putih.
๐Ÿ’ž Warna putihnya lebih banyak.
๐Ÿ’ž Warna kulit baginda putih kemerah-merahan.
๐Ÿ’ž Warna kulitnya putih tapi sehat.
๐Ÿ’ž Kulitnya putih lagi bercahaya.
๐Ÿ’ž Binaan badannya sempurna, tulang-temulangnya besar dan kokoh.
๐Ÿ’ž Badannya tidak gemuk.
๐Ÿ’ž Badannya tidak tinggi dan tidak pula rendah, kecil tapi berukuran sederhana lagi gagah.
๐Ÿ’ž Perutnya tidak buncit.
๐Ÿ’ž Badannya cenderung kepada tinggi, semasa berada di kalangan org ramai baginda kelihatan lebih tinggi drpd mereka.

KESIMPULANNYA :

Nabi Muhammad Shallallahu alahi wa salam adalah manusia agung yang ideal dan sebaik-baik contoh sepanjang zaman.

Baginda adalah semulia-mulia insan di dunia.

Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah RasulNya mencintai. wallahu'alam

Semoga bermanfaat

artikel republish
Baca selengkapnya »
Biografi Syaikh Muhammad bin Musa Alu Nashr

Biografi Syaikh Muhammad bin Musa Alu Nashr

Beliau adalah seorang ulama yang memiliki gelar doktor, seorang qaari’ (pakar ilmu qira’at), telah menulis banyak tulisan ilmiah yang bermanfaat. Nama beliau adalah Abu Anas Muhammad bin Musa bin Husain Alu Nashr hafizhahullah. Secara nasab, beliau merupakan keturunan sahabat ‘Auf bin Malik Ats Tsaqafi An Nashri dari kabilah Tsaqif di Tha’if. Beliau lahir di kamp pengungsian Balata di kota Nablus, Palestina, pada tahun 1374H atau 1954 M.

Beliau mengenal Syaikh Al Albani adalah sekitar awal tahun 70-an, melalui kitab-kitab Syaikh Al Albani seperti Sifatu Shalatin Nabi, Tahzhirus Saajid Min Ittikhazul Quburil Masajid, Silsilah Ash Shahihah, Silsilah Adh Dha’ifah, dll
Biografi Syaikh Muhammad bin Musa Alu Nashr

Lalu Syaikh Muhammad bin Musa pernah safar ke Syam. Di sana beliau bertemu Syaikh Al Albani rahimahullah, tepatnya di perpustakaan Azh Zhahiriyyah. Syaikh Musa menanyakan beberapa hal kepada Syaikh Al Albani, seputar syubhat-syubhat yang dilontarkan ahlul bid’ah dari kalangan takfiriyyin. Syaikh Al Albani pun ketika itu memberikan jawaban yang sangat membuat Syaikh Musa puas dan hilang syubhat dari dirinya.

Ketika Syaikh Al Albani pindah ke Yordania, dan menetap di sana, Syaikh Muhammad bin Musa pun ber-mulazamah dengan beliau hingga beliau wafat.

Guru-guru Beliau

1. Al Allamah Asy Syaikh Al Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah
2. Asy Syaikh ‘Abdul Fattah Al Qadhi, Syaikhul Qira’at, rahimahullah
3. Asy Syaikh ‘Athaullah Hanif rahimahullah
4. Asy Syaikh Badi’uddin Ar Rasyidi rahimahullah
5. Asy Syaikh Muhammad Salim Al Muhaisin rahimahullah
6. Asy Syaikh Abdul Fattah Al Murshafi rahimahullah
Dll.

Pujian ulama terhadap beliau

Beliau dipuji oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah. Syaikh Al Albani pun biasanya lebih mengutamakan beliau untuk mengimami shalat, baik di tempatnya maupun ketika safar. Syaikh Al Albani sering berkata tentang beliau ู…ุนู†ุง ุฅู…ุงู…ู†ุง “Imam kita ada di sini”. Syaikh Al Albani pun sering merekomendasikan orang yang ingin belajar ilmu qira’at agar belajar kepada Syaikh Muhammad bin Musa.

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah juga memuji beliau. Ketika Syaikh Ibnu Baaz mendengarkan qira’ah Syaikh Musa di kantornya, Syaikh Ibnu Baaz berkata:

ู‚ุฑุงุกุชูƒ ุทูŠุจุฉ، ูˆู„ูŠุณ ููŠู‡ุง ุชูƒู„ู ูˆู„ุง ุชุนุณู، ูˆุฃุซู†ู‰ ุนู„ูŠู‡ ุฎูŠุฑุงً
“Bacaan Qur’an anda bagus, tidak dibuat-buat dan tidak asal-asalan. Aku sangat memuji bacaan anda”

Syaikh Ibnu Baaz juga pernah memuji beliau karena keterlibatan beliau membimbing jama’ah haji.

Aktifitas beliau
  • Mengajar di beberapa pengajian ilmu Al Qur’an dan tajwid
  • Pengasuh majalah Al Ashalah. Beliau pernah menjadi pimpinan di sana sampai 20 kali. Beliau juga menjadi editor dan penulis di sana.
  • Dewan pengajar di markaz Al Albani di bidang manhaj dan penelitian ilmiah.
  • Peserta di beberapa mu’tamar, pertemuan dan daurah internasional sampai beberapa kali, yang diadakan di Amerika, Inggris, Perancis, dll
  • Bertugas di kementrian agama dan urusan wakaf di Yordania, sebagai imam, khatib, pengajar qira’ah, peneliti cetakan mushaf, dan juri berbagai lomba, pada tahun 1981 – 1987
  • Dosen di Applied Science University Yordania, fakultas sastra. Beliau mengajar pelajaran tajwid, ilmu Al Qur’an dan tafsir sampai tahun 2000.
  • Ditugaskan di Bahrain untuk membimbing Markaz Ad Da’wah Wal Irsyad As Su’udiyyah antara tahun 1987 – 1991.
Tulisan Beliau

Beliau menulis tulisan di berbagai bidang, sebagiannya sudah tercetak, diantaranya:
  • Ithaaful Ilfi Fii Fawaid Alafi Wal Naifi Min Surati Yuusuf. Ditulis bersama Syaikh Salim Al Hilali
  • Ithafus Saami’ bi syarh An Nazhm Al Jaami’
  • Ikhtiyarat Abi Hatim As Sijistani
  • Ikhtiyaraat Al Imam Abi ‘Ubaid Al Qasim bin Salaam Wa Minhajuhu Fil Qira’ah (tercetak)
  • Al Bahts Wal Istiqra Fii Bida’il Qurra’
  • Ad Durrun Natsir Fikhtishari Ibni Katsir
  • Ar Raudhul Baasim Fii Riwayati Syu’bah ‘An ‘Aashim
  • Syarh Risalah Syu’bah Lil Hijrasi Al Qa’Qa’i
  • Fadhailul Qur’an Wa Hamalatuhu Fis Sunnah Al Muthahharah
  • Al Qaulul Mufid Fii Wujuubit Tajwid
  • Al Maz-har Fi Syarh Asy Syathibiyyah Wad Durrah
  • Qatfus Tsamar Al Mustathab Fii Tafsiiril Fatihatil Kitab
  • Syadzul Urfi Fii Ahkamil Waqafi
  • Al Akhta’ Al Waqi’ah Fii Qiraati Suratil Fatihah
  • Al Akhlaq Al Islamiyyah
  • Al Islamiyyah Wa Qadhaya Al’Ashr
  • At Tabdid Lidzhulumat Man Khalafa At Tauhid
  • Shifatus Saaq Lillahi Ta’ala Bainal Itsbaatis Salaf Wa Tahriifil Khalaf
  • Al ‘Aql Wa Manzilatuhu Fil Islam
  • Allamun Yaqtulu Ahadukum Akhahu
  • Al Fawaid Al Marquumah Fir Raddi ‘Alal Hikayah Al Maz’umah
  • Tamamul Kalam Fii Bid’iyyatil Mashahif Ba’das Salam Minas Shalah
  • Dll
Dan masih banyak lagi tulisan beliau yang sudah tercetak. Demikian juga, tulisan yang masih berupa manuskrip pun tidak kalah banyaknya.

Semoga Allah senantiasa menjaga beliau, merahmati beliau serta memberi keberkahan pada ilmu beliau.

Sumber: http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=155727
Baca selengkapnya »
-->