IBX5A47BA52847EF DakwahPost: dakwah
Zakat Fithri Anda, Saatnya Dikeluarkan

Zakat Fithri Anda, Saatnya Dikeluarkan

Waktu mengeluarkan zakat fithri ada dua macam: pertama, waktu afdhol (yang utama) yaitu mulai dari terbit fajar pada hari ‘idul fithri hingga sebelum pelaksanaan shalat ‘ied; kedua, waktu yang dibolehkan yaitu satu atau dua atau tiga hari sebelum ‘ied sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Ibnu Umar.

Yang menunjukkan waktu afdhol adalah hadis, dari Ibnu Umar, ia berkata,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى ، وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ
”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri dengan satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum bagi setiap muslim yang merdeka maupun budak, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun dewasa. Zakat tersebut diperintahkan dikeluarkan sebelum orang-orang keluar untuk melaksanakan shalat ‘ied.” [ HR. Bukhari no. 1503 dan Muslim no. 984).

Zakat Fithri Anda, Saatnya Dikeluarkan

Dari Ibnu Ibnu Abbas, ia berkata,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ
”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri sebagai pembersih orang yang berpuasa dari hal yang sia-sia dan rofats (yang dilakukannya) dan sebagai pemberian makan untuk orang-orang miskin “Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.” [HR. Abu Daud no. 1611)

Sedangkan dalil yang menunjukkan waktu dibolehkan mengeluarkannya satu atau dua atau tiga hari sebelum ied adalah

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ – رضى الله عنهما – يُعْطِيهَا الَّذِينَ يَقْبَلُونَهَا ، وَكَانُوا يُعْطُونَ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ
“Dan Ibnu ‘Umar-semoga Allah meridhainya- memberikan zakat fithri kepada orang-orang yang berhak menerimanya dan dia mengeluarkan zakatnya itu sehari atau dua hari sebelum hari Raya ‘Idul Fithri.” [ HR. Bukhari no. 1511)

Dari Nafi’, ia berkata,

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَبْعَثُ بِزَكَاةِ الْفِطْرِ إِلَى الَّذِي تُجْمَعُ عِنْدَهُ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةٍ
“’Abdullah bin ‘Umar memberikan zakat fithri atas apa yang menjadi tanggungannya dua atau tiga hari sebelum hari raya Idul Fithri.” [HR. Malik dalam Muwatho’nya no. 629)

Al-Sofwa Channel www.alsofwa.com

WhatsApp@DakwahAlSofwa +62 81 3336333 82
Baca selengkapnya »
Edisi Ramadhan: AIR MATA PERPISAHAN

Edisi Ramadhan: AIR MATA PERPISAHAN

Saudaraku rahimakumullaah, Ramadhan sudah di ambang perpisahan, tetapi rahmat Allah sangat luas, walau banyak kekurangan ibadah kita di awal dan tengah Ramadhan, masih ada kesempatan tuk penutupan yang lebih baik.

Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا
"Dan hanyalah amalan itu tergantung pada penutupnya." [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Sa'ad As-Sa'idi radhiyallahu'anhu]

Edisi Ramadhan: AIR MATA PERPISAHAN

Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim rahimahullah berkata,

وَالِاعْتِبَارُ بِكَمَالِ النِّهَايَةِ لَا بِنَقْصِ الْبِدَايَةِ
"Yang menjadi ukuran adalah sempurnanya penutupan, bukan kurangnya permulaan." [Al-Fatawa, 15/55]

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata,

عباد الله إن شهر رمضان قد عزم على الرحيل ولم يبق منه إلا القليل فمن منكم أحسن فيه فعليه التمام ومن فرط فليختمه بالحسنى
“Wahai hamba-hamba Allah, sungguh bulan Ramadhan telah bertekad untuk pergi, dan tidak tersisa waktunya kecuali sedikit, Maka siapa yang telah berbuat baik di dalamnya hendaklah ia sempurnakan, dan siapa yang telah menyia-nyiakannya hendaklah ia menutupnya dengan yang lebih baik.” [Lathaaiful Ma’aarif, hal. 216]

RENUNGAN PERPISAHAN

Saudaraku rahimakumullaah, layaknya kekasih yang akan berpisah, perih hati tersiksa, berikanlah yang terbaik tuk melepas kepergiannya, bersama doa dan harapan, semoga meraih ampunan dan rahmat Allah yang Maha Penyayang.

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata,

كيف لا تجرى للمؤمن على فراقه دموع وهو لا يدري هل بقي له في عمره إليه رجوع
“Bagaimana mungkin air mata seorang mukmin tidak menetes tatkala berpisah dengan Ramadhan, Sedang ia tidak tahu apakah masih ada sisa umurnya tuk berjumpa lagi.”

قلوب المتقين إلى هذا الشهر تحِن ومن ألم فراقه تئِن
"Hati orang-orang yang bertakwa mencintai bulan ini, dan bersedih karena pedihnya perpisahan dengannya."

ياشهر رمضان ترفق، دموع المحبين تُدْفَق، قلوبهم من ألم الفراق تشقَّق، عسى وقفة للوداع تطفئ من نار الشوق ما أحرق، عسى ساعة توبة وإقلاع ترفو من الصيام كل ما تخرَّق، عسى منقطع عن ركب المقبولين يلحق، عسى أسير الأوزار يُطلق، عسى من استوجب النار يُعتق، عسى رحمة المولى لها العاصي يوفق
"Duhai bulan Ramadhan janganlah cepat pergi, berderai air mata para pecintamu, terbelah hati mereka karena perihnya perpisahan denganmu, Semoga saat perpisahan ini mampu memadamkan api kerinduan yang membakar, Semoga masa bertaubat dan berhenti berbuat dosa mampu memperbaiki puasa yang tidak sempurna, Semoga yang tertinggal dari kafilah golongan yang diterima amalannya dapat menyusul, Semoga tawanan dosa-dosa menjadi terlepaskan, Semoga orang yang seharusnya masuk neraka menjadi terbebaskan, Dan semoga dengan rahmat Allah sang pendosa mendapat hidayah." [Lathaaiful Ma’aarif, hal. 217, 304, 388]

APA SETELAH RAMADHAN?

Saudaraku rahimakumullaah, jangan pernah engkau lupakan bahwa Rabb kita selama Ramadhan, juga Rabb kita setelah Ramadhan dan selamanya. Maka teruslah beribadah kepada-Nya sampai kita berpisah dengan hidup ini.

Allah 'azza wa jalla berfirman,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan beribadahlah kepada Rabbmu sampai datang kepadamu kematian.” [Al-Hijr: 99]

Para ulama mengingatkan,

فبئس القوم الذين لا يعرفون الله إلا في رمضان
“Sungguh jelek suatu kaum yang tidak mengenal Allah kecuali di bulan Ramadhan.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/140]

Sumber: fb Ustadz sofyanruray
Baca selengkapnya »
Marah adalah nyala api dari neraka

Marah adalah nyala api dari neraka

Seseorang pada saat marah,mempunyai kaitan erat dengan penghuni mutlak kehidupan neraka, yaitu syetan saat ia mengatakan, Saya lebih baik darinya (Adam); Engkau ciptakan saya dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.

Ini sesuai dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam Al-Qur'an;

قَالَ مَا مَنَعَكَ اَلَّا تَسۡجُدَ اِذۡ اَمَرۡتُكَ‌ ؕ قَالَ اَنَا خَيۡرٌ مِّنۡهُ‌ ۚ خَلَقۡتَنِىۡ مِنۡ نَّارٍ وَّخَلَقۡتَهٗ مِنۡ طِيۡنٍ‏ 
"Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". (QS. Al-A'raf [7] : 12).

Tabiat tanah adalah diam dan tenang, sementara tabiat api adalah bergejolak, menyala, bergerak, dan berguncang."

Marah adalah nyala api dari neraka

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa sallam bersabda (yang artinya):

“Sesungguhnya marh itu bara api yang dapat membakar lambung anak adam. Ingatlah bahwa sebaik baik orang adalah orang yang melambatkan (menahan) amarah dan mempercepat keridhaan, dan sejelek-jelek orang adalah orang yang mempercepat amarah dan dan melambatkan ridha” (HR. Ahmad dari Abu Sa’ id al-Khudriy).

Kemarahan yang mempunyai tingkat ekstrim rendah ini ditandai dengan ketidakmampuan seseorang untuk marah, pun disaat yang sebenarnya mengharuskan orang tersebut marah. Seperti saat menghadapi kemungkaran dan musuh-musuh Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

مُحَمّدٌ رَّسُوۡلُ اللّٰهِ‌ ؕ وَالَّذِيۡنَ مَعَهٗۤ اَشِدَّآءُ عَلَى الۡكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيۡنَهُمۡ ‌ تَرٰٮهُمۡ رُكَّعًا سُجَّدًا يَّبۡتَغُوۡنَ فَضۡلًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِضۡوَانًا‌ سِيۡمَاهُمۡ فِىۡ وُجُوۡهِهِمۡ مِّنۡ اَثَرِ السُّجُوۡدِ‌ ؕ ذٰ لِكَ مَثَلُهُمۡ فِى التَّوۡرٰٮةِ ۛ ۖۚ وَمَثَلُهُمۡ فِى الۡاِنۡجِيۡلِ ۛۚ كَزَرۡعٍ اَخۡرَجَ شَطْئَـهٗ فَاٰزَرَهٗ فَاسۡتَغۡلَظَ فَاسۡتَوٰى عَلٰى سُوۡقِهٖ يُعۡجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَـغِيۡظَ بِهِمُ الۡكُفَّارَ‌ ؕ وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنۡهُمۡ مَّغۡفِرَةً وَّاَجۡرًا عَظِيۡمًا‏
"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud .

Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu'min).

Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

[Maksudnya: pada air muka mereka kelihatan keimanan dan kesucian hati mereka.
(QS. Al-Fat'h [48 : 29).
Baca selengkapnya »
Berpisah dengan Bulan Ramadhan

Berpisah dengan Bulan Ramadhan

BERAT RASANYA BERPISAH DENGANMU RAMADHAN. ENGKAU TELAH PERGI MENINGGALKAN KAMI, SEMOGA ALLAH MEMPERTEMUKAN KITA KEMBALI

➡ Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hambali -rahimahullah- berkata :

كيف لا تجرى للمؤمن على فراقه دموع وهو لا يدري هل بقي له في عمره إليه رجوع
قلوب المتقين إلى هذا الشهر تحِن ومن ألم فراقه تئِن
ياشهر رمضان ترفق، دموع المحبين تُدْفَق، قلوبهم من ألم الفراق تشقَّق، عسى وقفة للوداع تطفئ من نار الشوق ما أحرق، عسى ساعة توبة وإقلاع ترفو من الصيام كل ما تخرَّق، عسى منقطع عن ركب المقبولين يلحق، عسى أسير الأوزار يُطلق، عسى من استوجب النار يُعتق، عسى رحمة المولى لها العاصي يوفق

Berpisah dengan Bulan Ramadhan

“ Bagaimana bisa seorang mukmin tidak menetes air mata ketika berpisah dengan Ramadhan, Sedangkan ia tidak tahu apakah masih ada sisa umurnya untuk berjumpa lagi.

Hati orang-orang yang bertakwa mencintai bulan ini, dan bersedih karena pedihnya berpisah dengannya Wahai bulan Ramadhan, Mendekatlah, berderai air mata para pecintamu, terpecah hati mereka karena perihnya berpisah denganmu.

Semoga perpisahan ini mampu memadamkan api kerinduan yang membakar, Semoga masa bertaubat dan berhenti berbuat dosa mampu memperbaiki puasa yang ada bocornya, Semoga yang terputus dari rombongan orang yang diterima amalannya dapat menyusul.

Semoga tawanan dosa-dosa bisa terlepaskan, Semoga orang yang seharusnya masuk neraka bisa terbebaskan. Dan semoga rahmat Allah bagi pelaku maksiat akan menjadi hidayah taufik.”
_______
[ Lathaif Al-Ma’arif hal. 216, 217, 304, 388 ]
Baca selengkapnya »
Hal Hal Yang Harus Ditinggalkan (Selamanya) terutama ketika Puasa

Hal Hal Yang Harus Ditinggalkan (Selamanya) terutama ketika Puasa

1. Perkataan Dusta

Saat berpuasa wajib meninggalkan dusta sebagaimana disebutkan dalam hadits,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
"Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka Allah tidak memerlukan (puasa orang itu yang) meninggalkan makan dan minumnya." [HR. Bukhari no. 1804]

2. Pembicaraan yang Tidak Bermanfaat dan Kata-Kata Kotor

Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الصِّياَمُ مِنَ اْلأَكْلِ وَالشُّرْبِ، إِنَّمَا الصِّياَمُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ
"Puasa itu bukannya berhenti dari makan dan minum saja, tetapi puasa yang sebenarnya adalah menghindari perbuatan tidak berguna dan perkara-perkara cabul." [HR. Ibnu Khuzaimah no. 1996 dan Al-Hakim no. 1570 dengan sanad shahih]

3. Ghibah (Menggunjing/Ngrumpi)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ
"Dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya…" [QS. Al-Hujuraat: 12].

Puasa

Ghibah itu termasuk dosa besar.

Ghibah kata Imam Nawawi adalah "Menyebutkan kejelekan orang lain di saat ia tidak ada saat pembicaraan." [Syarh Shahih Muslim, 16: 129].

4. Namimah (Mengadu Domba)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ﴿١٠﴾هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ
"Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah." [QS. Al-Qalam: 10-11]

Sedang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

“لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ.”
"Tidak akan masuk Surga orang yang suka mengadu domba." [HR. Bukhari dan Muslim]

5. Mengumbar Syahwat

Allah telah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman:

قُل لِّلۡمُؤۡمِنِينَ يَغُضُّواْ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِمۡ وَيَحۡفَظُواْ فُرُوجَهُمۡۚ ذَٰلِكَ أَزۡكَىٰ لَهُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا يَصۡنَعُونَ ٣٠ وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ ٣١
"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya." [QS. An-Nuur: 30-31]

6. Hendaklah orang yang berpuasa juga menghindari kesaksian palsu.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, seperti yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ ِللهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ.
"Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan palsu dan pengamalannya, maka Allah tidak memiliki kepentingan pada tindakannya meninggalkan makanan dan minumannya." [Shahiih al-BukhariHendaklah (III/24)]

7. Hendaknya orang yang berpuasa juga menghindari tipu muslihat dan kecurangan dalam segala bentuk mu’amalah. 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا
"Barangsiapa menipu kami berarti dia bukan dari golongan kami." [HR. Muslim (I/69)].

So... berhentilah melakukan keburukan-keburukan tersebut di atas selamanya. Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

رب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع ورب قائم ليس له من قيامه إلا السهر
"Berapa banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan rasa haus dan lapar dari puasanya." 

[HR. Ibnu Majah no. 1690, Al-Hakim no. 1572, Ahmad 2/373, dan Al-Baihaqi dalam Al-Kubraa no. 8097, ini adalah lafadh Ibnu Majah. Syaikh Al-Albani berkata dalam Shahih Sunan Ibni Majah 2/81 no. 1380: Hasan shahih]

Telegram: t.me/berbagiilmuislam_center
Baca selengkapnya »
Puasa: Pahalanya Berlipat Ganda Dan Menjadi Dekat Dengan Allah

Puasa: Pahalanya Berlipat Ganda Dan Menjadi Dekat Dengan Allah

Bismillaah.

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
“Semua amalan Bani Adam (anak keturunan Nabi Adam 'alaihis salaam alias umat manusia) akan dilipatgandakan, kebaikan dibalas dengan sepuluh kali (10) lipat yang semisal dengannya, sampai tujuh ratus (700) kali lipatnya.

Allah Ta’aala berfirman:

“Kecuali ash-Shiyaam (Puasa), karena Shiyaam itu untuk-Ku, dan Aku lah yang akan membalasnya, dia (bani Adam) mau meninggalkan syahwatnya, dan makanannya, karena Aku.”

Bagi orang yang berpuasa, ada dua macam kegembiraan:

(1) gembira ketika berbuka, dan

(2) gembira ketika dia bertemu Robbnya (Tuhan Pengaturnya).

Sungguh bau mulut orang yang sedang berpuasa di sisi Allah, adalah (laksana) lebih wangi daripada bau Misk.”

HR Muslim 

Maa syaa Allah.

Ayo kita jaga kualitas Shiyaam kita. Tak hanya dengan tak makan, tak minum sementara waktu. Namun juga dengan tak mau menulis, tak mau berkata, tak mau mendengar, tak mau melihat, tak mau berpikir, tak mau bersikap, melakukan apa-apa yang salah dan buruk.

Puasa: Pahalanya Berlipat Ganda Dan Menjadi Dekat Dengan Allah

Tinggalkanlah juga segala nafsu syahwat, nafsu maksiat. Tinggalkan lah segala ujian benda, hal, di dunia material, Dunia yang Fana, yang sementara ini.

Lakukan lah juga "Qiyamu Romadhon" alias "Sholatul Lail" (sholat sunnah malam hari), alias yang kemudian oleh Imam Asy Syafi'i serta Imam Bukhori dan Imam Muslim disebut sebagai "Tarawih", berapapun roka'at yang kita mampu (berikut roka'at Witrnya), baik dengan berjama'ah ataupun dengan sendiri-sendiri. Baik di awal waktu malam atau pun di tengah malam atau pun menjelang Subuh. Baik dengan langsung setelah Sholat Isya', atau pun ditunda setelahnya, bahkan dengan tidur terlebih dahulu, dan bangun di waktu sepertiga malam terakhir menjelang Subuh.

Jangan ingkari yang wajib semisal Sholat 5 waktu. Perbanyaklah pula apapun ragam amal salih, kebaikan, shodaqoh, dsb. Bahkan hanya dengan satu kata kebaikan, kebenaran. Tebarkanlah pula kedamaian, kesenangan yang baik untuk sesama makhluk, keselamatan, kesejahteraan.

Maka berlipat ganda pula pahalanya. Dari Allah Yang Maha Kaya, Yang Maha Berkuasa.

Dan tujulah Allah, utamanya.

In syaa Allah yang berusaha kepadaNya, mencintaiNya, akan mampu merasakan indahnya kebersamaaan Allah. Walaupun di Dunia Fana ini. Dan sekelumit, sepotong kehidupan Surgawi. Kenikmatannya. Dan diijabahnya doa-doa.

Dan sungguh di hadits-hadits lain diterangkan pula, sungguh, jika seseorang sah sudah melakukan ini semua, sungguh membuahkan ampunan dosa untuknya setelah Shiyamu Romadhonnya paripurna (jangan lupa pula tuntaskan, tunaikan Zakat), laksana seorang bayi yang baru dilahirkan sang ibunya, saat Iedul Fitr.

Aamiiin.

Dan ingatlah, ini semua diberikanNya, sementara mulut y, mata kita, telinga kita, wajah kita, tubuh kita, ruh kita, udara, langit, air, gunung, Bumi, Galaksi, dan apapun juga, adalah dariNya, milikNya.

Allah berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَآءَكُمُ الرَّسُوْلُ بِالْحَـقِّ مِنْ رَّبِّكُمْ فَاٰمِنُوْا خَيْرًا لَّـكُمْ ؕ وَاِنْ تَكْفُرُوْا فَاِنَّ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ؕ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًا
Wahai manusia!

Sungguh, telah datang Rosul (Muhammad) kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah (kepada-Nya), itu lebih baik bagimu.

Dan jika kamu (memilih menjadi) kafir, (itu tidak merugikan Allah sedikit pun) karena sesungguhnya adalah milik Allah-lah apa-apa yang ada di langit dan di bumi.

Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.

(QS. An-Nisaa' ayat 170)

Wallohua'lam. Wastaghfirulloh. Maa syaa Allah walhamdulillaah. Allah sungguh Maha Pengampun, Maha Pemurah.

Abu Taqi Mayestino
Baca selengkapnya »
Teruslah Bersemangat Dalam Mencari Lailatul Qadr

Teruslah Bersemangat Dalam Mencari Lailatul Qadr

Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah Ta'ala berkata :

فيا أيها المسلمون: اجتهدوا في هذه الليلة المباركة بالصلاة والدعاء والاستغفار والأعمال الصالحة فإنها فرصة العمر ، والفرص لا تدوم؛ فإن الله سبحانه أخبر أنها خير من ألف شهر ، وألف شهر تزيد على ثمانين عاما ، وهي عمر طويل لو قضاه الإنسان كله في طاعة الله ، فليلة واحدة وهي ليلة القدر خير منه ، وهذا فضل عظيم .
"Wahai segenap kaum muslimin, bersemangatlah kalian di malam-malam yang diberkahi ini (10 hari terakhir ramadhan) untuk menjalankan ibadah shalat, doa, istighfar, dan berbagai amal saleh.

Teruslah Bersemangat Dalam Mencari Lailatul Qadr

Karena ini merupakan kesempatan (emas) di dalam umur kita, dan yang namanya kesempatan tidak selamanya ada. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberitakan bahwa (Lailatul Qadar) lebih baik daripada seribu bulan. Seribu bulan apabila dikalkulasikan maka itu lebih dari delapan puluh tahun, dan itu merupakan masa (tahun) yang sangat panjang.

Seandainya seseorang menghabiskan waktu selama itu untuk ketaatan kepada Allah, maka satu hari ini saja (Lailatul Qadar) akan lebih baik darinya.

Sungguh ini merupakan suatu keutamaan yang sangat besar."

Majalis Syahri Ramadhan, 247
Telegram : shahihfiqih
Baca selengkapnya »
4 PENJAGA HATI DARI KEHANCURAN

4 PENJAGA HATI DARI KEHANCURAN

Saudaraku!

Fitnah diakhir zaman seperti skrng sdh ini sdh semakin berbahaya yg kerap mengancam & memporakporandakan kedamaian hati..

Sampai pada suatu keadaan mencari kenyamanan & ketenangan hati lebih sulit daripada mencari uang..

Semoga apa yg tersaji ini membantu anda semua mendapatkan apa yg selama ini dicari..!

1. Kembali kpd Aqidah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam & para sahabat

Berkata Syekhul Islam,”Secara umum kekokohan& ketenangan hati orang2 yg beraqidah seperti aqidah Rasulullah jauh lebih baik daripada orang2 yg melenceng dari aqidah yg sahih”

4 PENJAGA HATI DARI KEHANCURAN

2.Selalu berjalan bersama dalil

Berkata Syekhul Islam,”Termasuk nikmat terbesar yg Allah berikan kpd hamba-Nya, dimana Dia akan membuat hambaNya tersebut lbh mencintai dalil daripada siapapun & apapun.”

3. Ikhlas & sll memgikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alahi wasallam

Berkata Ibnu Rajab,”Khabar gembira bagi yg sll berjalan bersama ikhlas & ittiba’, krn mereka pasti mengungguli para ahli ibadah.”

4. Menuntut ilmu agama

Berkata seorang penyair,”

Kebodohan adalah penyebab matinya hati..

Sedangkan jasad orang mati hatinya adalah kuburan sebelum ia masuk keliang kubur yg sesunguhnya..

Ya Allah teguhkan hati kami diatas hidayahmu!

BBG AL ILMU
Ust. Djazuli, حفظه الله
Baca selengkapnya »
Bagaimana Memiliki Sifat Qanaah (merasa puas)

Bagaimana Memiliki Sifat Qanaah (merasa puas)

Hadits ini penting dipelajari mengajarkan bagaimana bisa nerima, memilik sifat qana’ah.

➡Hadits #1448

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺍﻧْﻈُﺮُﻭﺍ ﺇِﻟَﻰ ﻣَﻦْ ﻫُﻮَ ﺃَﺳْﻔَﻞَ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻭَﻻَ ﺗَﻨْﻈُﺮُﻭﺍ ﺇِﻟَﻰ ﻣَﻦْ ﻫُﻮَ ﻓَﻮْﻗَﻜُﻢْ ﻓَﻬُﻮَ ﺃَﺟْﺪَﺭُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺗَﺰْﺩَﺭُﻭﺍ ﻧِﻌْﻤَﺔَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ
“ Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Itulah yang lebih pantas. Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu.” (HR. Muslim, no. 2963).

➡Takhrij Hadits

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Kitab “ Az-Zuhud wa Ar-Raqaiq ”, no. 2963 dari jalur Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu .

Kosakata Hadits
Asfala minkum, yang dimaksud adalah di bawahmu dalam urusan dunia, yaitu lebih rendah dalam kedudukan, tempat tinggal, dan dalam hal kendaraan.

Bagaimana Memiliki Sifat Qanaah

Faedah Hadits

1. Jika seseorang mengambil nasihat ini, ia pasti akan menjadi orang yang hidupnya sabar, bersyukur, dan ridha.

2. Dalam masalah dunia, hendaklah melihat pada orang yang berada di bawah kita.

3. Dalam masalah dunia, janganlah pandang orang yang berada di atas kita karena:

(a) kita akan meremehkan nikmat Allah;
(b) kita akan capek terus mengejar dunia;
(c) akan timbul hasad dan tidak suka kepada orang lain.

4. Untuk urusan akhirat, hendaklah melihat kepada orang yang berada di atas kita, biar ada yang menjadi teladan dan kita jadi semangat beramal.

Apa Manfaat Memiliki Sifat Qana’ah?

1- Mendapatkan dunia seluruhnya

➡Dari ’Ubaidillah bin Mihshan Al-Anshary radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

ﻣَﻦْ ﺃَﺻْﺒَﺢَ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﺁﻣِﻨًﺎ ﻓِﻰ ﺳِﺮْﺑِﻪِ ﻣُﻌَﺎﻓًﻰ ﻓِﻰ ﺟَﺴَﺪِﻩِ ﻋِﻨْﺪَﻩُ ﻗُﻮﺕُ ﻳَﻮْﻣِﻪِ ﻓَﻜَﺄَﻧَّﻤَﺎ ﺣِﻴﺰَﺕْ ﻟَﻪُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ
“ Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya .” (HR. Tirmidzi, no. 2346; Ibnu Majah, no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib ).

2- Menjadi orang yang beruntung

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻗَﺪْ ﺃَﻓْﻠَﺢَ ﻣَﻦْ ﺃَﺳْﻠَﻢَ ﻭَﺭُﺯِﻕَ ﻛَﻔَﺎﻓًﺎ ﻭَﻗَﻨَّﻌَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻤَﺎ ﺁﺗَﺎﻩُ
“ Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah mengaruniakannya sifat qana’ah (merasa puas) dengan apa yang diberikan kepadanya. ” (HR. Muslim, no. 1054)

3- Menjauhkan diri dari hasad (iri, cemburu pada nikmat orang lain)

Kenapa harus cemburu pada orang kalau kita sendiri sudah merasa cukup dengan nikmat yang Allah beri?

Merasa tidak suka terhadap nikmat yang ada pada orang lain, sudah disebut hasad oleh Ibnu Taimiyyah, walau tidak menginginkan nikmat tersebut hilang.

➡Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “ Hasad adalah membenci dan tidak suka terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang menjadi sasaran hasad .” ( Majmu’ah Al-Fatawa , 10:111).

artikel repost
Baca selengkapnya »
SEDIH BERPISAH DENGANMU… (Ramadhan)

SEDIH BERPISAH DENGANMU… (Ramadhan)

Ramadhan sebentar lagi meninggalkan kita….

Kita tahu tentang kualitas ibadah kita masing-masing.

Sempurnakah puasa kita….. atau kita robek puasa kita dengan kesia-siaan, kekejian dan kemaksiatan, sedangkan Rasulullah bersabda, Puasa akan menjadi perisai selagi tidak merobeknya.

(H.R Ahmad no: 1690).

Kita juga sadar akan kualitas bacaan al-Qur’an kita dan dzikir kita selama bulan Ramadhan…..

Kita juga paham kesungguhan kita dalam Qiyam taraweh dan shalat berjamaah di masjid bersama rawatibnya.

Kita juga mengetahui betapa kurangnya sedekah dan infaq kita selama bulan ramadhan.

Qiyam Lailatul Qadar, I’tikaf dan hataman al-Qur’an lewat karena acara mudik dan sibuk dengan urusan duniawi.

SEDIH BERPISAH DENGANMU

Logis kah….. malaikat turun ke bumi yang lebih banyak ketimbang jumlah kerikil yang ada di bumi sebagaimana riwayat yang dikeluarkan imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya yang dihasankan oleh Syekh ALBANI ternyata kita tinggalkan masjid tersebut hingga kosong tanpa penghuni yang berarti.

Memang benar, amalan kita selama bulan di ramadhan diterima Allah hanya semata-mata rahmat dan karuniaNya.

Bila bulan Ramadhan yang akan datang masih ada sisa umur hanya uluran tangan sang Kekasih yang Maha Rahman.

Makanya ulama salaf selama enam bulan setelah Ramadhan memohon agar amalnya diterima dan enam bulan berikutnya memohon agar dipertemukan kembali Ramadhan yang akan datang.

Kapan seorang mendapatkan ampunan lagi kalau bulan Ramadhan tak dapat pengampunan…

Kapan lagi seorang diterima amalnya kalau pada saat Lailatul Qadar ditolak…..

Kapan lagi kita menjadi orang shalih kalau pada bulan Ramadhan tidak bisa mengukir kesalihan….

Kapan lagi hati kita sehat, sementara dua penyakit kronis yaitu kejahilan dan kelalaian mengakar kuat dalam dirinya…

Setiap pohon yang tak berbuah pada musim buahnya maka yang paling pantas harus dipotong dan dijadikan kayu bakar….

Barangsiapa yang teledor pada musim tanam maka pada musim panen yang dirasakan hanya penyesalan dan kerugian….

Abdullah bin Masud berkata, Bila di antara kita (di bulan Ramadhan) yang amalnya diterima maka aku ucapkan selamat dan bila amalnya ditolak maka aku sampaikan takziyah kepadanya.

( Lathaiful Na’arif, Ibnu Rajab hal. 295).

AKU MEMOHON AMPUNAN KEPADA ALLAH DARI PUASAKU

SEPANJANG MASA DAN JUGA SHALATKU.

HAMPIR SELURUH PUASA KITA CACAT. DAN HAMPIR SELURUH SHALAT KITA JUGA DEMIKIAN.

AKU BANGUN DI TENGAH MALAM TETAPI TIDURKU LEBIH BAIK DARI BANGUNKU.

Terima kasih wahai Ramadhan dengan setia kau temani ibadahku….puasaku…..hataman al-Quranku…..tarawehku……i’tikafku….dan umrahku.

Para pecintamu pasti menetes air mata saat melepasmu……

Hati mereka galau, pikiran mereka kalut dan perasaan mereka gundah saat menyambut perpisahanmu…

Moga akhir perpisahan bisa mengobati kerinduan…

Moga detik-detik akhir ada penyesalan dan taubat untuk menutupi kekurangan….

Moga masih ada kesempatan untuk membalut luka amal yang mendalam….

Moga Ramadhan bisa menghantarkanku menjadi hamba yang dimerdekakan dari neraka.

Moga para tawanan Iblis bisa dibebaskan oleh TUHAN MAHA PENGAMPUN DAN PENYAYANG.

🌐 Sumber : BBG Al ilmu
✒ Ditulis oleh ust. Zainal Abidin bin Syamsuddin, حفظه الله تعالى .
Baca selengkapnya »
UANG HADIAH HARI RAYA IDUL FITRI

UANG HADIAH HARI RAYA IDUL FITRI

Lajnah Daimah pernah ditanya:

“Di negeri kami terdapat kebiasaan memberi kepada anak saat hari raya baik hari raya Idul Fitri atau pun Idul Adha yang disebut dengan ‘iediyyah, itulah uang dalam nominal kecil yang diberikan kepada anak-anak saat hari raya dengan tujuan membuat mereka gembira. Apakah kebiasaan semacam ini bid’ah ataukah tidak mengapa?”

UANG HADIAH HARI RAYA IDUL FITRI

Jawaban Lajnah Daimah:

Hal tersebut tidaklah mengapa dilakukan bahkan hal tersebut tergolong kebiasaan yang bagus. Membuat gembira orang lain, baik anak kecil ataupun orang dewasa adalah suatu hal yang baik dalam syariat.

Fatwa ini ditandatangani oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Syaikh Abdul Aziz alu Syaikh, Syaikh Shalih al Fauzan dan Syaikh Bakr Abu Zaid (Fatawa Lajnah Daimah, 26:247).

Wallohu a’lam

Wabillahi taufiq

source bimbinganislam.com
Baca selengkapnya »
Nabi tidak pernah shalat tarawih kecuali hanya 3 malam saja ?

Nabi tidak pernah shalat tarawih kecuali hanya 3 malam saja ?

Kenapa paham ngawur ini menjadi laku ya ?. Katanya Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam tidak pernah shalat tarawih kecuali hanya 3 malam saja. Hadits riwayat 'Aaisyah 11 raka'at katanya, bukan dalil shalat tarawih, akan tetapi shalat tahajjud. "Salahnya adalah salah banget", igaunya.

1. Al-Imaam Al-Bukhaariy rahimahullah memasukkan hadits 'Aaisyah itu dalah Shahiih Al-Bukhaariy pada kitab Shalaatut-Taraawiih. Haditsnya no. 2013 yang terletak setelah hadits 'Aaisyah yang menjelaskan tentang perbuatan Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam shalat tarawih berjama'ah dengan para shahabat selama 3 malam.

shalat tarawih

Ini menunjukkan fiqh imam Al-Bukhaariy bahwa 11 raka'at merupakan bagian dari syari'at shalat tarawih di bulan Ramadlaan. Al-Bukhaariy rahimahullah tidak sendirian.

2. Meski Al-Imaam Maalik bin Anas rahimahullah berpendapat shalat taraawih boleh lebih dari 11 raka'at, namun beliau memasukkan atsar ini:

عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ أَنَّهُ قَالَ أَمَرَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ وَتَمِيمًا الدَّارِيَّ أَنْ يَقُومَا لِلنَّاسِ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً قَالَ وَقَدْ كَانَ الْقَارِئُ يَقْرَأُ بِالْمِئِينَ حَتَّى كُنَّا نَعْتَمِدُ عَلَى الْعِصِيِّ مِنْ طُولِ الْقِيَامِ وَمَا كُنَّا نَنْصَرِفُ إِلَّا فِي فُرُوعِ الْفَجْرِ
Dari As-Saaib bin Yaziid, bahwasannya ia berkata : ‘Umar bin Al-Khaththahab pernah memerintahkan Ubay bin Ka'b dan Tamiim Ad-Daariy mengimami orang-orang (shalat taraawih) dengan sebelas rakaat". As-Saaib berkata : "Imam membaca dua ratusan ayat, hingga kami bersandar di atas tongkat karena sangat lamanya berdiri. Dan kami tidak keluar melainkan di ambang fajar"

dalam kitab Al-Muwaththaa' dalam Bab : Maa Jaa-a fii Qiyaamir-Ramadlaan. Tepatnya ada di juz 1 halaman 478 nomor hadits 271 (tahqiq dan takhrij : Saliim bin 'Ied Al-Hilaaliy). Kalau nanti ada yang bilang : "Loh, itu kan qiyaamur-ramadlaan, bukan shalat tarawih ?".

Heloo,... bukankah hadits :

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barangsiapa yang berdiri (menunaikan shalat) di bulan Ramadlan dengan keimanan dan mengharap (pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni" [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy dan Muslim]

sebagai dalil keutamaan melaksanakan shalat tarawih ?. Qiyaamur-Ramadlaan itu ya shalat tarawih.

Dalam Shahiih Muslim disebutkan bab:

بَاب التَّرْغِيبِ فِي قِيَامِ رَمَضَانَ وَهُوَ التَّرَاوِيحُ
"Bab Targhiib dalam Qiyaamir-Ramadlaan, yaitu Taraawiih"

Kesimpulannya apa ?. Sebelas raka'at merupakan syari'at dalam pelaksanaan shalat tarawih di bulan Ramadlaan.

3. Hadits 'Aaisyah tersebut banyak dibawakan dalam kitab-kitab fiqh dalam bab shalat tarawih atau qiyaamur-ramadlaam sebagai bagian dari raka'at shalat tarawih.

4. Tiga malam itu terkait shalat tarawih berjama'ah bersama para shahabat radliyallaahu 'anhum. Bukan berarti setelah itu beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam libur shalat tarawih.

copas from status fb Ustadz EdyAsyek M.Pd.I
Baca selengkapnya »
Tingkatkan Kesungguhan Anda (Moment 10 akhir Ramadhan)

Tingkatkan Kesungguhan Anda (Moment 10 akhir Ramadhan)

Nabi kita Muhammad-shallallahu ‘alaihi wasallam- suri teladan kita, di 10 hari terakhir dari bulan Ramadhan seperti yang dikatakan istrinya tercinta, ‘Aisyah Radhiallahu anha,

كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ
Biasanya Rasulullah bersungguh-sungguh pada sepuluh (malam) terakhir (bulan Ramadhan) tidak seperti kesungguhan beliau di selain malam-malam tersebut (HR. Muslim, no. 2845)

Di antara bentuk kesungguhan beliau, Aisyah Radhiallahu anha mengatakan,

كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ
Bila telah memasuki sepuluh (terakhir dari bulan Ramadhan), biasanya beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, lebih bersungguh-sungguh dan mengencangkan sarungnya (HR. Muslim, no. 2844)

Menghidupkan malamnya, yakni, menghabiskannya dengan bergadang untuk melakukan shalat dan (ketaatan) yang lainnya.

Membangunkan keluarganya, yakni, membangunkan mereka agar mereka melaksanakan shalat di malam tersebut.

Lebih bersungguh-sungguh, yakni, mengerahkan segenap daya upaya untuk beribadah dengan lebih bersungguh-sungguh dari biasanya (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj, 8/71)

Mengencangkan sarungnya, Abdurrahman as-Suyuthi mengatakan, “ada yang mengatakan maksudnya adalah bahwa hal tersebut merupakan ungkapan tentang kesungguhan upaya dalam beribadah lebih dari kebiasaan yang dilakukannya di waktu-waktu lainnya. Makna ungkapan tersebut adalah bergadang untuk beribadah…Ada juga yang berpendapat bahwa hal tersebut merupakan kiasan “menjauhkan diri dari wanita/istri untuk menyibukkan diri dengan berbagai macam bentuk ibadah”. Al-Qurthubi mengatakan, ‘yang ini lebih utama karena telah disebutkan sebelumnya tentang kesungguhan (beliau ) dalam mengerahkan daya dan upaya (untuk beribadah)

(ad-Diibaaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj, 3/264)

Demikianlah suri tauladan kita, maka mari kita tingkatkan kesungguhan kita untuk mengisi hari-hari yang masih tersisa.

Simak video kami dengan tema: Alqur’an Sebagai Peringatan
Pemateri : Ustadz Syu’aib al-Faiz, Lc. Msi.



WhatsApp@DakwahAlSofwa +62 81 3336333 82 (alsofwa.com)
Baca selengkapnya »
Munajat Kami Kepada-Mu

Munajat Kami Kepada-Mu

Ya Allah…

tidak ada satupun yang tersembunyi di mata-Mu,
Engkau Maha Mengetahui siapa kami sebenarnya…

Terlalu banyak dosa yang telah kami kerjakan…
terlalu banyak maksiat yang telah kami lakukan…
terlalu banyak waktu yang telah kami lalaikan…
terlalu banyak nikmat yang tidak kami syukuri…
terlalu banyak orang yang telah kami zhalimi…

Alangkah malunya kami yang banyak dosa…
alangkah hinanya kami yang banyak maksiat…
alangkah kotornya kami yang banyak kesalahan…

Munajat Kami Kepada-Mu

tapi…
Engkau masih memberikan kami kesempatan untuk menengadahkan tangan kepada-Mu…

Engkau masih memberikan kami kesempatan untuk memohon rahmat dan ampunan-Mu…

Engkau masih memberikan kami kesempatan untuk
mengemis dan menangis dihadapan-Mu…

Bersihkanlah dosa-dosa kami…
berilah kesempatan pada sisa umur yang Engkau berikan kepada kami…

jangan Engkau cabut hidayah yang telah Engkau berikan kepada kami…

berilah kesempatan taubat sebelum kami wafat…
dapat rahmat-Mu saat kami wafat…
dapat ampunan-Mu setelah kami wafat…

Kami orang yang malang yang membutuhkan…
yang minta pertolongan dan perlindungan…
yang gemetar dan takut…
yang mengakui dosa-dosa…

Kami meminta kepada-Mu seperti orang miskin…
berdoa sepenuh hati seperti pendosa yang hina…
dengan permohonan orang yang takut lagi buta…

yang air matanya tumpah karena-Mu…
yang tubuhnya merendah kepada-Mu…
yang menghinakan diri kepada-Mu…

Ya Allah…
Apabila telah tiba masa kematian kami
maka wafatkanlah kami
dalam keadaan beriman…
dalam keadaan Islam…
dalam keadaan berdzikir…
dalam kelezatan beribadah…
dalam kerinduan berjumpa dengan-Mu…
dalam keadaan husnul khatimah…

Oh… alangkah bahagianya…
seandainya maut menjemput sedang berurai air mata *merasakan manisnya iman dalam sujud penghambaan* dan rindu akan perjumpaan dengan-Nya…

✍️ Ustadz Najmi Umar Bakkar
Baca selengkapnya »
Larangan Mengejek Saudara yang Sedekahnya Hanya Sedikit

Larangan Mengejek Saudara yang Sedekahnya Hanya Sedikit

عن أبي مسعود عقبة بن عمرو الأنصاري البدري رضي الله عنه قَالَ: لَمَّا نَزَلَتْ آيةُ الصَّدَقَةِ كُنَّا نُحَامِلُ عَلَى ظُهُورِنَا، فَجَاءَ رَجُلٌ فَتَصَدَّقَ بِشَيءٍ كَثيرٍ، فقالوا: مُراءٍ، وَجَاءَ رَجُلٌ آخَرُ فَتَصَدَّقَ بِصَاعٍ، فقالُوا: إنَّ اللهَ لَغَنيٌّ عَنْ صَاعِ هَذَا! فَنَزَلَتْ: {الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لا يَجِدُونَ إِلا جُهْدَهُمْ} [التوبة: 79]. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ. 
Dari Abu Mas'ud bin 'Uqbah bin 'Amr al-Anshari al-Badri r.a., katanya: "Ketika ayat sedekah turun, maka kita semua mengangkat sesuatu di atas punggung-punggung kita -untuk memperolehi upah dari hasil mengangkatnya itu untuk disedekahkan. Kemudian datanglah seseorang lalu bersedekah dengan sesuatu yang banyak benar jumlahnya. 

Orang-orang sama berkata: "Orang itu adalah sengaja berpamir saja - memperlihatkan amalannya kepada sesama manusia dan tidak kerana Allah Ta'ala melakukannya. Ada pula orang lain yang datang kemudian bersedekah dengan barang sesha' - dari kurma. Orang-orang sama berkata: "Sebenarnya Allah pastilah tidak memerlukan makanan sesha'nya orang ini." Selanjutnya turun pulalah ayat - yang artinya:

Larangan Mengejek Saudara yang Sedekahnya Hanya Sedikit

"Orang-orang yang mencela kaum mu'minin yang memberikan sedekah dengan sukarela dan pula mencela orang-orang yang tidak mendapatkan melainkan menurut kadar kekuatan dirinya," (at-Taubah: 79) (Muttafaq 'alaih)

Pelajaran yang terdapat dalam hadits:
1- Sedekah menjadi amalan yang dianjurkan dalam agama Islam. Selain bernilai pahala, perbuatan yang satu ini juga dapat menjadi media untuk membantu sesama. Dalam bersedekah tidak pernah ditetapkan jumlah dan bentuknya kecuali sedekah wajib seperti zakat.

2- Kita dianjurkan bersedekah sesuai dengan kemampuan dan keikhlasan tanpa unsur paksaan. 

3- Dimata manusia banyak sedikitnya suatu sedekah menjadi hal yang diperhatikan. Banyak di antara mereka yang mengejek orang lain karena bersedekah lebih sedikit darinya. 

Hal yang demikian ini sering dijumpai dalam lingkungan tempat tinggal seperti adanya ejekan saudara. Tidak hanya dapat melukai perasaan orang yang diejek, ternyata juga ada hukumnya di dalam ajaran Islam. 

4- Di dalam ajaran Islam, kaum muslimin dilarang untuk mencela atau mengejek saudaranya yang hanya bersedekah sedikit. Karena pada dasarnya, sedekah itu harus dilakukan secara ikhlas dan sesuai rezeki yang dimiliki. Tidak ada halangan bagi seseorang untuk bersedekah meskipun dengan sesuatu yang sangat sederhana. Selama benda yang ingin kita sedekahkan itu masih layak dan patut.

5- Tidak seharusnya kita menjadikan sedikitnya sedekah saudara sebagai bahan pembicaraan untuk mengejeknya. Jangan menghina seseorang yang sudah berbaik sekalipun perbuatan yang mereka lakukan sangat sederhana.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran:

1- Apa yang disebutkan oleh ayat ini pun merupakan sebagian dari sifat orang-orang munafik. Tidak ada seorang pun yang luput dari celaan dan cemoohan mereka dalam semua keadaan, hingga orang-orang yang taat bersedakah pun tidak luput dari cercaan mereka.
الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ 
(Orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekah­kan) selain sekadar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.[ At-Taubah :79]

2- Mengejek orang lain yang sudah berbuat kebaikan juga akan dibalas oleh Allah Azza Wa Jaala dengan azab untuk mereka.
وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِنْ قَبْلِكَ فَحَاقَ بِالَّذِينَ سَخِرُوا مِنْهُمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ
"Sesungguhnya telah pernah beberapa Rasul diejekan sebelum engkau. Maka turunlah balasan (azab) menimpa orang-orang yang mengejekan itu apa yang diejekannya." Al-An'am [6]: 10.
Baca selengkapnya »
Karunia “Dua Macam Petunjuk"

Karunia “Dua Macam Petunjuk"

Allah azza wa jalla berfirman,

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ [البقرة : 185]
Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (Qs. al-Baqarah : 185)

Petunjuk (hidayah) di sini meliputi dua hal : (pertama) petunjuk pengetahuan (hidayatul ilmi) dan (kedua) petunjuk perbuatan (Hidayatul amali).

📜 Barangsiapa mau melaksanakan puasa Ramadhan dan menyempurnakannya, ia telah dikaruniai kedua macam petunjuk tersebut dan bersyukur kepada Allah atas 4 hal : 

(1) kehendak Allah untuk memberikan kemudahan/keringanan kepada kita, 
(2) kehendak-Nya untuk tidak memberatkan kita, 
(3) penyempurnaan bilangan hari puasa, dan 
(4) pengagungan Allah azza wajalla atas petunjuk yang diberikan-Nya kepada kita. Hal itu semua merupakan karunia Allah azza wajalla yang perlu kita syukuri dengan cara melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya (Ibnu Utsaimin)
-----------------

Simak video kami dengan tema: Mendiagnosa Kemunafikan dalam diri
Pemateri : Ustadz Syarif Mahya Lubis, Lc.


Konsultasi Islam & Keluarga (021-7817575)
www.alsofwa.com
Baca selengkapnya »
Semangat Para Salaf Dalam Mencari Lailatul Qadr

Semangat Para Salaf Dalam Mencari Lailatul Qadr

Dimana kita di banding dengan semangat yang tinggi ini !!

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

"Jika seandainya Lailatul Qadar itu harus dicari sepanjang tahun, maka niscaya aku akan menghidupkan seluruh (malam) dalam satu tahun sehingga aku bisa mendapatkan nya. Lalu bagaimana pendapatmu apabila malam Lailatul Qadar terjadi hanya pada 10 hari (terakhir di bulan Ramadhan)."

Semangat Para Salaf Dalam Mencari Lailatul Qadr

أيـن نحـن مـن هـذه الهمـة!

• قال الإمـام ابن القـيم رحـمه الله :-
〘 لـو كانـت ليلـة القـدر بالسنـة ليلـة واحـدة لقمـت السنـة حتى أدركهـا. فمـا بالـك بعشـر ليـال!!!〙بدائـع الفوائد صـ55.
Sumber: Badai' al-fawaid hal 55
Editor : Admin AsySyamil.com
Baca selengkapnya »
Bagaimana Ucapan Idul Fitri Yang  Sesuai Sunnah ?

Bagaimana Ucapan Idul Fitri Yang Sesuai Sunnah ?

Sehubungan dengan akan datangnya Idul Fitri, sering kita dengar tersebar ucapan:

"MOHON MAAF LAHIR & BATHIN ”

Seolah-olah saat Idul Fitri hanya khusus untuk minta maaf.

Sungguh sebuah kekeliruan, karena Idul Fitri bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan.

Memaafkan bisa kapan saja tidak terpaku dihari Idul Fitri...

Demikian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengajarkan kita.

Tidak ada satu ayat Qur'an ataupun suatu Hadits yang menunjukan keharusan mengucapkan “Mohon Maaf Lahir dan Batin” disaat-saat Idul Fitri.

Satu lagi, saat Idul Fitri, yakni mengucapan :

"MINAL 'AIDIN WAL FAIZIN".

Arti dari ucapan tersebut adalah : "Kita kembali dan meraih kemenangan”

KITA MAU KEMBALI KEMANA?
Apa pada ketaatan atau kemaksiatan?
Meraih kemenangan?
Kemenangan apa?

Bagaimana Ucapan Idul Fitri Yang  Sesuai Sunnah

Apakah kita menang melawan bulan Ramadhan sehingga kita bisa kembali berbuat keburukan?

Satu hal lagi yang mestik dipahami, setiap kali ada yang mengucapkan

“ Minal ‘Aidin wal Faizin ”

Lantas diikuti dengan kalimat,

“ Mohon Maaf Lahir dan Batin ”.

Karena mungkin kita mengira artinya adalah kalimat selanjutnya.

Ini sungguh KELIRU luar biasa...

Coba saja sampaikan kalimat itu pada saudara-saudara seiman kita di Pakistan, Turki, Saudi Arabia atau negara-negara lain....

PASTI PADA BINGUNG....

Sebagaimana diterangkan di atas, dari sisi makna kalimat ini keliru sehingga sudah sepantasnya kita HINDARI.

Ucapan yang lebih baik dan dicontohkan langsung oleh para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam , yaitu :

✔ "TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM"
(Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).

Jadi lebih baik, ucapan di SMS /BBM / WA,, kita :

✔ "Selamat Idul Fitri.
Taqobbalallahu minna wa minkum "
Barakallahu Fiikum

Kewajiban kita hanya men-syiar kan selebihnya kembalikan kepada masing-masing.. Karena kita tdk bisa memberi hidayah kpd orang lain hanya Allah lah yg bisa memberi hidayah kepada hamba NYA yg IA kehendaki [⋅}

Semoga bermanfaat...

(Mohon utk di share kembali) copas from whatsapp group
Baca selengkapnya »
Indahnya Qiyamul Lail apalagi di malam Ramadhan

Indahnya Qiyamul Lail apalagi di malam Ramadhan

Diantara ibadah yang menjadi pelengkap shiyam di Ramadhan adalah Qiyamul lail.

Qiyamul lail atau sholat tarawih di Ramadhan merupakan ciri kesempurnaan iman.

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabada,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.
‘Barangsiapa yang mendirikan shalat malam di bulan Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala (dari Allah), niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."(HR Al-Bukhory dan Muslim)

Indahnya Qiyamul Lail...

Mereka yang menjaga Qiyamul lail baik Ramadhan atau selainnya adalah orang-orang yang dipuji oleh Allah.

Allah berfirman,

أَمْ مَنْ هُوَ قَانِتٌ آَنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآَخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. ” (Az Zumar: 9).

Allah berfirman:

تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا
“Lambung-lambung mereka jauh dari pembaringan, karena mereka berdoa kepada Rabb mereka dalam keadaan takut dan berharap kepada-Nya.” (As-Sajadah: 16)

كَانُوا قَلِيلاً مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ. وَبِالأَسْحَارِهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohon ampunan di waktu sahur (menjelang fajar).” (Adz-Dzariyat: 17-18)

Qiyamul lail atau sholat malam merupakan seutama-utama sholat sunnah.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
“Seutama-utama puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram, dan seutama-utama sholat sesudah sholat wajib adalah sholat malam.” (HR. Muslim, 1163)

Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang bangun malam dan membangunkan istrinya kemudian mereka berdua melaksanakan sholat dua rakaat secara bersama, maka mereka berdua akan digolongkan ke dalam lelaki-lelaki dan wanita-wanita yang banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Abu Daud, 1309, Ibnu Majah, 1335 dishohihkan Al-Albani dalam Al-Misykah: 1/390)

Anjuran untuk qiyamul lail sudah Allah perintahkan sejak awal dakwah di Mekkah. Sebagaimana firmannya dalam surat Al-Muzammil,

(1). يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ
Hai orang yang berselimut (Muhammad),

(2). قُمِ الَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا
bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya),

(3). نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا
(yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit,

(4). أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur'an itu dengan perlahan-lahan.

(5). إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا
Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.

(6). إِنَّ نَاشِئَةَ الَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا
Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.

Dan ketika awal hijrah ke Medinah sebagaimana persaksian dari ‘Abdullah bin Salam Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Yang pertama kali aku dengar dari Rasulullah adalah sabda beliau:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلاَمَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا اْلأَرْحَـامَ، وَصَلُّوْا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ، تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلاَمٍ.
“Wahai manusia, tebarkan salam, berilah makan, sambunglah tali silaturahmi dan shalatlah di malam hari saat manusia tertidur, niscaya kalian akan masuk ke dalam Surga dengan selamat.”(. HR At-Tirmidzi, 2485 dishohihkan Al-Albany).

Dari Jabir barkata, “Aku mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sesungguhnya pada malam hari itu benar-benar ada saat yang seorang muslim dapat menepatinya untuk memohon kepada Allah suatu kebaikan dunia dan akhirat, pasti Allah akan memberikannya (mengabulkannya); dan itu setiap malam.” (HR. Muslim)

Waktu Utama untuk Qiyamul lail (Shalat malam).
Waktu utama untuk shalat malam adalah di akhir malam.

Rasulullah bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ
“Rabb kami -Tabaroka wa Ta’ala- akan turun setiap malamnya ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lalu Allah berfirman, “Siapa yang memanjatkan do’a pada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya. Siapa yang memohon kepada-Ku, maka Aku akan memberinya. Siapa yang meminta ampun pada-Ku, Aku akan memberikan ampunan untuknya”.(HR. Bukhari, 1145 dan Muslim, 758)

Diantara keistimewaan qiyamul lail tergambar dalam hadits Nabi ini.

Beliau bersabda,

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِيْنَ قَبْلَكُمْ وَهُوَ قُرْبَةٌ إِلَى رَبِّكُمْ وَمُكَفِّرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَنْهَاةٌ عَنِ الإِثْمِ
“Hendaklah kalian melaksanakan qiyamul lail (shalat malam) karena shalat malam adalah kebiasaan orang sholih sebelum kalian dan membuat kalian lebih dekat pada Allah. Shalat malam dapat menghapuskan kesalahan dan dosa. ” (Al Irwa’, 452 dihasankan Al-Albani)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Cobalah renungkan bagaimana Allah membalas shalat malam yang mereka lakukan secara sembunyi dengan balasan yang Ia sembunyikan bagi mereka, yakni yang tidak diketahui oleh semua jiwa. Juga bagaimana Allah membalas rasa gelisah, takut dan gundah gulana mereka di atas tempat tidur saat bangun untuk melakukan shalat malam dengan kesenangan jiwa di dalam Surga.” [Haadil Arwaah ilaa Bilaadil Afraah, Ibnul Qayyim hal. 278]
Wallahu a'lam

Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc
Baca selengkapnya »
Dua Jihad di Bulan Ramadhan

Dua Jihad di Bulan Ramadhan

Sejarah mencatat bahwa di bulan ini, bulan Ramadhan –di zaman Nabi-shallallallahu ‘alaihi wasallam-pernah terjadi peristiwa bersejarah yaitu Jihad kaum muslimin melawan orang-orang kafir dalam sebuah peperangan yang dikenal dengan “Perang Badar”. Hal ini tidaklah menciderai kesucian bulan ini, karena yang menjadi maksud dari jihad secara fisik itu adalah untuk meninggikan kalimat Allah لَا إِلَهً إِلَّا الله. Itu adalah salah satu bentuk jihad di bulan ini. Ada juga bentuk jihad lainnya di bulan ini, yang mungkin dapat kita lakukan, yaitu “jihad melawan diri” baik di siang harinya maupun di malam harinya.

Dua Jihad di Bulan Ramadhan

Al Hafidz Ibnu Rajab berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya bagi orang yang beriman terdapat dua jihad melawan dirinya sendiri selama bulan Ramadhan : (pertama) Jihad di siang hari dengan berpuasa, (kedua) Jihad di malam hari dengan menegakkan shalat malam.

Barangsiapa yang bisa mengumpulkan kedua jihad tersebut, melaksanakannya dengan benar, senantiasa bersabar dalam menunaikannya, maka layak baginya mendapat balasan yang tidak terbatas” (Lathaaiful Ma’aarif).

🔎 Yang dimaksud jihad di sini adalah bersungguh-sungguh dalam mewujudkan perkara yang Allah cintai. Inilah makna luas jihad secara umum, sehingga termasuk dalam makna ini seluruh perbuatan amal shalih

🔎 (lihat Anwaarul Bayaan fii Duruusi Ramadhan).

WhatsApp@DakwahAlSofwa +62 81 3336333 82
www.alsofwa.com
Baca selengkapnya »
-->