IBX5A47BA52847EF DakwahPost: fatwa
Hukum Gambar dan Lukisan makhluk bernyawa

Hukum Gambar dan Lukisan makhluk bernyawa

Pertanyaan:

Bismillah, afwan tadz ana mau tanya bagaimana hukumnya menyimpan gambar foto di profil W.A, sementara kita tdk menghendaki foto tsb, krn mayoritas foto profil orang" awam bergambar makluk hidup ( foto mereka sendiri) Jazaakumullohu khoiron.

Jawaban :

Komite Fatwa Kerajaan Saudi Lajnah da'imah :

لا يجوز التصوير لا بالآلة الفوتوغرافية ولا بغيرها من غير ضرورة؛ لعموم النهي عن التصوير والوعيد الشديد عليه، ولا يجوز الاحتفاظ بالصور التي لا ضرورة لبقائها؛ لأمر النبي - صلى الله عليه وسلم - بطمسها وإتلافها، وقوله - صلى الله عليه وسلم -: «لا تدخل الملائكة بيتا فيه كلب ولا صورة (¬1) » متفق عليه. وإنما يجوز التصوير والاحتفاظ ببعض الصور في حالة الضرورة، كالصور التي في حفائظ النفوس وجوازات السفر والبطاقات الشخصية ورخص القيادة.

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
Tidak boleh mengambil foto baik dengan kamera atau alat lain tanpa ada keperluan darurat, karena larangan tentang menggambar bersifat umum dan ancamannya berat. Dan tidak boleh menyimpan foto-foto yang pengabadianya tidak mendesak. 

karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk menghapus dan melenyapkannya. Sabda Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- Malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang terdapat anjing dan gambar Muttafaqun `Alaih.

Tetapi boleh mengambil dan menyimpan beberapa foto dalam kondisi darurat, seperti foto-foto pada kartu identitas diri, paspor, kartu tanda pengenal, dan Surat izin mengemudi.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.


Syeikh Zaid Al madkhaliy menjawab ketika ditanya hukum gambar yg tersimpan di HP :

الجواب: "...قضية التصوير ظاهر الأدلة من السنٌة أن جميع التصوير بالوسائل المختلفة سواءً الحادثة في هذا الزمن أو غيره أنه حرام و لا يستثنى منه إلا ما دعت إليه الحاجة أو الضرورة فما كان بدون حاجة و لا تلجأ إليه ضرورة
فاالأصل التحريم و هو من الكبائر ...
" Permasalahan gambar adalah harom nampak dalil-dalil sunnah tentang pengharomanya baik dg menggunakan peralatan yg bermacam- macam dijaman modern ini atau selainya adalah harom. tidaklah memakainya kecuali karena ada hajat dan darurat. Maka tidaklah menggunakanya melainkan ada hajat dan tidaklah memakainya melainkan kondisi darurat. Maka hukum Asal gambar adalah harom serta termsuk dosa- dosa besar...". Fatwa Syeikh Zaid Almadkhaliy.

Disiasati jika banyak orang awam jangan dilihat gambar profilenya atau jika komunikasi urusan duniawi mengajaknya menggunakan sms atau bell langsung .pent. Wallohu A'lam bishowab.

Ditulis oleh Al Ustadz Abu Amina Al Jawiy حفظه اللّه
Akhukum Fillah Dipondok Annashihah Cepu.

Https://telegram.me/Annashihah_cepu
Baca selengkapnya »
Fatwa Ulama tentang Gerakan Jihad Usamah bin Laden

Fatwa Ulama tentang Gerakan Jihad Usamah bin Laden

Bisa dikatakan sangat jarang di kalangan kaum muslimin yang akrab dengan media informasi yang tidak pernah mendengar nama Usamah bin Laden. Walau ia telah dikenal semenjak perang Afghanistan, namun namanya baru benar-benar mendunia semenjak runtuhnya Gedung WTC di Amerika Serikat, September 2001. Di antara kaum muslimin ada yang menyanjungnya, namun tidak sedikit pula mencelanya.

Menyanjungnya, karena segala aksinya menjadi simbol jihad dan perlawanan terhadap kaum kuffar. Mencelanya, karena apa yang dilakukannya justru menimbulkan kemudlaratan yang sangat besar bagi kaum muslimin. Pemikirannya bertentangan dengan ’aqidah dan manhaj Ahlus-Sunnah.

Pada kesempatan kali ini, saya akan mencoba menuliskan kembali apa yang telah difatwakan oleh ulama Ahlus-Sunnah tentang Usamah bin Laden. Mereka adalah Asy-Syaikh ’Abdul-’Aziz bin ’Abdillah bin Baaz, Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iyrahimahumallah, dan Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmiy hafidhahullah.

Fatwa Asy-Syaikh ’Abdul-’Aziz bin ’Abdillah bin Baaz rahimahullah :

أما ما يقوم به الآن محمد المسعري وسعد الفقيه وأشباههما من ناشري الدعوات الفاسدة الضالة فهذا بلا شك شر عظيم ، وهم دعاة شر عظيم ، وفساد كبير ، والواجب الحذر من نشراتهم ، والقضاء عليها ، وإتلافها ، وعدم التعاون معهم في أي شيء يدعو إلى الفساد والشر والباطل والفتن ؛ لأن الله أمر بالتعاون على البر والتقوى لا بالتعاون على الفساد والشر ، ونشر الكذب ، ونشر الدعوات الباطلة التي تسبب الفرقة واختلال الأمن إلى غير ذلك .

هذه النشرات التي تصدر من الفقيه ، أو من المسعري أو من غيرهما من دعاة الباطل ودعاة الشر والفرقة يجب القضاء عليها وإتلافها وعدم الالتفات إليها ، ويجب نصيحتهم وإرشادهم للحق ، وتحذيرهم من هذا الباطل ، ولا يجوز لأحد أن يتعاون معهم في هذا الشر ، ويجب أن ينصحوا ، وأن يعودوا إلى رشدهم ، وأن يدَعوا هذا الباطل ويتركوه .

ونصيحتي للمسعري والفقيه وابن لادن وجميع من يسلك سبيلهم أن يدَعوا هذا الطريق الوخيم ، وأن يتقوا الله ويحذروا نقمته وغضبه ، وأن يعودوا إلى رشدهم ، وأن يتوبوا إلى الله مما سلف منهم ، والله سبحانه وعد عباده التائبين بقبول توبتهم ، والإحسان إليهم ، كما قال سبحانه : { قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ * وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لا تُنْصَرُونَ} وقال سبحانه : {وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ } والآيات في هذا المعنى كثيرة
”Adapun yang dilakukan saat ini oleh Muhammad Al-Mis’ariy, Sa’d Al-Faqiih, dan yang semisal dengan keduanya dari kalangan penyebar seruan-seruan yang rusak lagi sesat, maka tidak diragukan lagi bahwa hal itu merupakan kejelekan yang sangat besar. Mereka semua adalah para penyeru kejelekan dan kerusakan yang besar. Dan wajib (bagi kaum muslimin) untuk waspada dari apa-apa yang telah mereka sebarkan, memusnahkannya, dan tidak bekerjasama dengan mereka dalam bentuk apapun yang mengajak pada kerusakan, kejelekan, kebathilan, dan fitnah. 

Hal itu disebabkan karena Allah (hanya) memerintahkan kita untuk bekerjasama dalam hal kebaikan dan ketaqwaan; tidak untuk bekerjasama dalam hal kerusakan, kejelekan, penyebaran kedustaan, dan penyebaran seruan-seruan bathil yang menyebabkan perpecahan dan kekacauan keamanan dan yang lainnya.

Fatwa Ulama tentang Gerakan Jihad Usamah bin Laden

Selebaran-selebaran yang berasal dari (Sa’d) Al-Faqiih, (Muhammad) Al-Mis’ary, atau yang lainnya dari kalangan penyeru kebathilan, kejelekan, dan perpecahan; wajib untuk segera dimusnahkan dan tidak memberikan perhatian kepadanya. Wajib (bagi kita) untuk memberikan nasihat dan pengajaran kepada mereka terhadap kebenaran, serta memperingatkan mereka atas kebathilan ini. Tidak diperbolehkan bagi seorangpun untuk bekerjasama dengan mereka di atas kejelekan ini. Wajib bagi mereka kembali kepada petunjuk (kebenaran) dan meninggalkan kebathilan mereka itu semua.

Dan nasihatku kepada Al-Mis’ary, Al-Faqiih, (Usamah) bin Laden, dan semua kalangan yang mengikuti jejak langkah mereka untuk meninggalkan cara-cara yang jelek itu. Hendaknya mereka bertaqwa kepada Allah, waspada akan kemurkaan-Nya, kembali kepada kebenaran, dan bertaubat kepada Allah dari apa-apa yang telah mereka perbuat sebelumnya. Allah subhaanahu wa ta’ala telah berjanji kepada hamba-Nya yang bertaubat untuk menerima taubatnya dan berbuat baik kepada mereka , sebagaimana firman-Nya : 

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi) [QS. Az-Zumar : 53-54]. 

Dan juga firman-Nya yang lain : ”Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” [QS. An-Nuur : 31]. Dan ayat-ayat yang semakna dengan ini adalah banyak”.

[selesai – Majalah Al-Buhuuts Al-Islamiyyah nomor 50 halaman 7-17].

Dalam lain kesempatan Asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah juga pernah berkata :

أن أسامة بن لادن من المفسدين في الأرض، ويتحرى طرق الشر الفاسدة وخرج عن طاعة ولي الأمر.
”Bahwasannya Usamah bin Laden termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi, dimana ia telah memilih jalan-jalan kejelekan lagi rusak dan telah keluar dari ketaatan terhadap waliyyul-amri”.

[selesai – surat kabar Al-Muslimuun dan Asy-Syarqul-Ausath tanggal 9 Jumadil-Ula 1417 H].

Fatwa As-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iy rahimahullah.

أبرأ إلى الله من بن لادن فهوشؤم وبلاء على الأمة وأعمــاله شر
”Aku berlepas diri kepada Allah dari Ibnu Laden. Ia adalah kejahatan dan bencana bagi umat, dan perbuatan-perbuatan (yang telah dilakukannya) termasuk perbuatan yang buruk”

[selesai – surat kabar Ar-Ra’yul-’Aam Al-Kuwaitiyyah tanggal 19-12-1998 nomor 11503].

Dalam pertemuan yang sama disebutkan :

السائل : الملاحظ أن المسلمين يتعرضون للمضايقات في الدول الغربية بمجرد حدوث انفجار في أي مكان في العالم ؟

أجاب الشيخ مقبل : أعلم ذلك ، وقد اتصل بي بعض الأخوة من بريطانيا يشكون التضييق عليهم ، ويسألون عما إذا كان يجوز لهم إعلان البراءة من أسامة بن لادن ، فقلنا لهم تبرأنا منه ومن أعماله منذ زمن بعيد ، والواقع يشهد أن المسلمين في دول الغرب مضيق عليهم بسبب الحركات التي تغذيها حركة الإخوان المفلسين أو غيرهم ، والله المستعان .

السائل : ألم تقدم نصيحة إلى أسامة بن لادن ؟

أجاب الشيخ : لقد أرسلت نصائح لكن الله أعلم إن كانت وصلت أم لا ، وقد جاءنا منهم أخوة يعرضون مساعدتهم لنا وإعانتهم حتى ندعو إلى الله ، وبعد ذلك فوجئنا بهم يرسلون مالا ويطلبون منا توزيعه على رؤساء القبائل لشراء مدافع ورشاشات ، ولكنني رفضت عرضهم ، وطلبت منهم ألا يأتوا إلى منزلي ثانية ، وأوضحت لهم أن عملنا هو دعوي فقط ولن نسمح لطلبتنا بغير ذلك
Penanya : Kita dapati bahwasannya kaum muslimin mendapatkan banyak tekanan di negara barat akibat adanya satu peledakan di tempat manapun muka bumi ini ?

Asy-Syaikh Muqbil menjawab : ”Aku telah mengetahui hal itu. Dan sungguh aku telah dihubungi oleh beberapa ikhwan yang tinggal di Inggris yang mengeluhkan banyaknya tekanan yang menimpa mereka. Dan mereka bertanya apakah diperbolehkan bagi mereka untuk mengumumkan sikap bara’ah (berlepas diri) dari apa yang diperbuat Usamah bin Laden. 

Maka kami pun menjawab bahwa kami berlepas diri darinya dan apa yang telah ia perbuat jauh sebelum adanya peristiwa-peristiwa ini. Realitas telah menyaksikan bahwasannya kaum muslimin yang tinggal di negara barat mengalami banyak tekanan dengan sebab pergerakan-pergerakan yang diperankan oleh harakah Al-Ikhwanul-Muslimun (IM) dan yang selain mereka. Wallaahul-Musta’an.

Penanya : Apakah tidak sebaiknya Anda memberikan nasihat kepada Usamah bin Ladin ?

Asy-Syaikh Muqbil kembali menjawab : ”Aku telah memberikan beberapa nasihat tentang hal itu. Akan tetapi – wallahu a’lam – apakah nasihat itu sampai kepadanya atau tidak. Dan sungguh telah datang kepada kami beberapa orang dari mereka menawarkan bantuan kepada kami untuk berdakwah. Namun setelah itu kami dikejutkan dengan sikap mereka yang mengirimkan sejumlah uang dan meminta kepada kami untuk membagi-bagikan kepada para pemimpin kabilah/suku untuk pembelian tank-tank dan senjata-senjata. 

Aku menolak tawaran mereka dan aku meminta mereka agar tidak lagi datang menginjak rumahku. Aku jelaskan kepada mereka bahwasannya aktivitas kami hanyalah aktifitas dakwah saja. Kami tidak akan pernah mengijinkan kepada murid-murid kami untuk beraktifitas selain aktifitas dakwah”.

[selesai - surat kabar Ar-Ra’yul-’Aam Al-Kuwaitiyyah tanggal 19-12-1998 nomor 11503].

Asy-Syaikh Muqbil juga pernah berkata dalam kitabnya Tuhfatul-Mujiib hasil transkrip sebuah ceramah beliau tertanggal 18 Shaffar 1428 dengan judul : ”Dibalik Peristiwa Peledakan-Peledakan di Bumi Haramain” :

وكذلك إسناد الأمور إلى الجهال، فقد روى البخاري ومسلم في "صحيحيهما" عن عبدالله بن عمرو رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم : (( إنّ الله لا يقبض العلم انتزاعًا ينتزعه من العباد، ولكن يقبض العلم بقبض العلماء، حتّى إذا لم يبق عالمًا اتّخذ النّاس رءوسًا جهّالاً، فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلّوا وأضلّوا )).

كما يقال: العالم الفلاني ما يعرف عن الواقع شيئًا، أو عالم جامد، تنفير، كما تقول مجلة "السنة" التي ينبغي أن تسمى بمجلة "البدعة"، فقد ظهرت عداوتها لأهل السنة من قضية الخليج.

وأقول: إن الناس منذ تركوا الرجوع إلى العلماء تخبطوا يقول الله عز وجل: {وإذا جاءهم أمر من الأمن أو الخوف أذاعوا به ولو ردّوه إلى الرّسول وإلى أولي الأمر منهم لعلمه الّذين يستنبطونه منهم }، وأولي الأمر هم العلماء والأمراء والعقلاء الصالحون.

وقارون عند أن خرج على قومه في زينته قال أهل الدنيا: {يا ليت لنا مثل ما أوتي قارون إنّه لذو حظّ عظيم * وقال الّذين أوتوا العلم ويلكم ثواب الله خير لمن آمن وعمل صالحًا ولا يلقّاها إلاّ الصّابرون }.

والعلماء يضعون الأشياء مواضعها: {وتلك الأمثال نضربها للنّاس وما يعقلها إلاّ العالمون }، {إنّ في ذلك لآيات للعالمين }، {إنّما يخشى الله من عباده العلماء }، {يرفع الله الّذين آمنوا منكم والّذين أوتوا العلم درجات }. فهل يرفع الله أهل العلم أم أصحاب الثورات والانقلابات وقد جاء في "صحيح البخاري" عن أبي هريرة رضي الله عنه أنّ النّبيّ سئل: متى السّاعة؟ فقال: (( إذا وسّد الأمر إلى غير أهله فانتظر السّاعة)) رئيس حزب وهو جاهل.

ومن الأمثلة على هذه الفتن الفتنة التي كادت تدبر لليمن من قبل أسامة بن لادن إذا قيل له: نريد مبلغ عشرين ألف ريال سعودي نبني بها مسجدًا في بلد كذا . فيقول: ليس عندنا إمكانيات، سنعطي إن شاء الله بقدر إمكانياتنا. وإذا قيل له: نريد مدفعًا ورشاشًا وغيرهما. فيقول: خذ هذه مائة ألف (أو أكثر) وإن شاء الله سيأتي الباقي )) أهـ .
“….Begitu juga adanya penyandaran perkara-perkara umat kepada orang-orang jahil. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari ’Abdullah bin ’Umar radliyallaahu ’anhaa : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam :”Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dengan sekali cabutan dari manusia. Akan tetapi Allah akan mencabut ilmu dengan mewafatkan ulama, hingga apabila tidak tersisa lagi seorang yang ’alim, maka manusia akan menyerahkan berbagai urusannya kepada orang-orang bodoh. Maka mereka (orang-orang bodoh tersebut) ditanya dan mereka pun berfatwa tanpa landasan ilmu. Sesatlah ia dan menyesatkan orang lain”.

Seperti yang dikatakan (oleh pengikut hawa nafsu) bahwa orang alim (ulama) ini dia tidaklah mengetahui realitas umat barang sedikitpun, atau dijuluki sebagai seorang ’alim yang jumud. Hal itu mereka lakukan dalam rangka menjatuhkan kredibilitas dan menjauhkannya dari umat, sebagaimana hal itu pernah termuat dalam Majalah As-Sunnah [1] – semestinya majalah tersebut diberi nama Al-Bid’ah – yang telah nampak jelas permusuhannya kepada Ahlus-Sunnah sejak pecahnya Perang Teluk.

Dan aku katakan : Sesungguhnya kaum muslimin ketika mereka mulai meninggalkan sikap ruju’ kepada ulama’, akhirnya mereka tersesat. Allah ’azza wa jalla telah berfirman : ”Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau pun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri).” [QS. An-Nisaa’ : 83]. Dan yang dimaksud dengan ulil-amri di sini adalah ulama, umara’, dan’uqalaa’ (orang-orang yang berakal/pandai) yang shalih.

Begitu pula peristiwa yang terjadi pada masa Qarun, ketika dia keluar di hadapan kaumnya dengan menampilkan segala kekayaannya, maka orang-orang yang cinta dunia menyatakan : ”Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar". Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: "Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar" [QS. Al-Qashshash : 79-80].

Sementara para ulama meletakkan perkara sesuai pada tempatnya masing-masing. Allah ’azza wa jalla berfirman : 

”Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” [QS. Al-Ankabuut : 41]. 

”Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui” [QS. Ar-Ruum : 22]. 

”Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” [QS. Faathir : 28].

”Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” [QS. Al-Mujaadilah : 11]. 

Siapakah gerangan yang diangkat oleh Allah, para ulama ataukah para pelaku geralan revolusi dan kudeta ? Telah disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dari shahabat Abu Hurairah radliyallaahu ’anhu, bahwasannya Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam pernah ditanya : ”Kapankah terjadinya hari Kiamat ?”. Maka beliau menjawab : ”Jika setiap urusan telah diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kedatangan hari kiamat tersebut !”.Kebanyakan para pemimpin hizb (partai/kelompok) itu adalah orang yang bodoh.

Dan permisalan dari fitnah ini adalah adalah fitnah yang hampir menguasai Yaman yang dihembuskan oleh Usamah bin Laden, yang apabila datang seseorang mengatakan kepadanya : ”Kami membutuhkan dana sebesar 20 ribu real Saudi untuk membangun sebuah masjid di tempat tertentu”; maka ia (Usamah) akan menjawab : ”Kami tidak memiliki kemampuan untuk menyediakan dana tersebut. InsyaAllah kami akan memberikan sebatas kemampuan kami”. Namun apabila dikatakan kepadanya : ”Kami membutuhkan tank-tank, senjata-senjata, dan yang lainnya”; maka dia akan menjawab :”Silakan ambil dana ini senilai 100 ribu real Saudi (atau lebih) dan InsyaAllah akan menyusul tambahan berikutnya”.

[selesai].

Fatwa Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi hafidhahullah :

Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi pernah ditanya : ”Semoga Allah memberikan kebaikan kepada Anda, telah sah dari Nabi ’alaihish-shalatu was-salaam bahwasannya beliau pernah bersabda : ”Allah melaknat orang-orang yang melindungi para pelaku bid’ah”. Apakah hadits ini dapat diterapkan pada negara Thaliban ? Khususnya ketika mereka melindungi Khawarij dan menyiapkan untuk mereka sebuah markas ketentaraan yang dikenal dengan Markaz Al-Faruq yang dipimpin oleh Usamah bin Laden, dan di dalamnya terdapat 4 devisi pasukan : Devisi Mu’tam, Devisi Syahrani, Devisi Hajiri, dan Devisi Sa’id. Keempat devisi tersebut adalah pihak yang melakukan peledakan di daerah ’Ulayya, serta mengkafirkan pemerintah dan ulama negeri ini (Saudi) ?

Maka Asy-Syaikh menjawab :

لا شك أن هؤلاء يعتبروا محدثين،و هؤلاء الذين آووهم داخلون في هذا الوعيد الذي قاله النبي صلى الله عليه وسلم و اللعنة التي لعنها من فعل ذلك، (( لعن الله من آوى محدثاً )) فلو أن واحداً قتل بغير حق و أنت أويته و قلت لأصحاب الدم ما لكم عليه سبيل و منعتهم ، ألست تعتبر مؤوياً للمحدثين ! )) أهـ.
”Tidak diragukan lagi bahwasannya mereka termasuk muhditsiin. Dan mereka yang telah melindungi kelompok tersebut tentunya masuk dalam ancaman sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam. Dan laknat juga ditimpakan kepada orang yang melindungi mereka : ”Allah melaknat orang yang melindungi pelaku bid’ah”. Apabila ada seorang yang terbunuh tanpa haq, dan engkau kemudian melindunginya dengan mengatakan kepada keluarga korban : ”Kalian tidak berhak untuk berbuat apa-apa terhadap pembunuh ini. Bukankah dengan tindakan ini engkau termasuk golonganmuhditsiin (pelaku bid’ah) ?”

[selesai].

[1]
Majalah milik Muhammad bin Surur bin Zainal Abidin, tokoh ahlul-bid’ah yang mukim di Inggris – Abul-Jauzaa’.

Baca selengkapnya »
FATWA RINGKAS TERKAIT DENGAN HARI JUM'AT  ( Bagian - 1)

FATWA RINGKAS TERKAIT DENGAN HARI JUM'AT ( Bagian - 1)

Al-Allamah Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz-rahimahullah-

1. Hukum Mandi pada hari jum'at [1].

”الغسل يوم الجمعة سنة مؤكدة؛ لما ورد في ذلك من الأحاديث الصحيحة عن النبي صلى الله عليه وسلم“.
"Mandi pada hari jum'at adalah sunnah muakkadah, sebagaimana telah disebutkan pada beberapa hadits shohih dari Nabi sallalahu alaihi wasallam"[2].

2. Jumlah makmum dalam sholat jum'at

”فقد اختلف أهل العلم في العدد الذي ...... به الجمعة على أقوال، وأرجحها وأصوبها أن الثلاثة كافية وأنهم تقام بهم الجمعة، وتلزم بهم الجمعة إذا كانوا مستوطنين أحراراً“.
"Para ulama berbeda pendapat tentang jumlah makmum dalam pelaksanaan sholat jum'at dengan banyak pendapat, dan pendapat yang paling kuat serta lebih mendekati kebenaran adalah (minimal-pent) jumlahnya 3 orang sudah mencukupi, yang mana ketiga orang tersebut bisa mengerjakan sholat jum'at, wajib atas mereka, dari kalangan penduduk setempat atau bukan musafir dan statusnya merdeka (bukan budak-pent)."[3].

FATWA RINGKAS TERKAIT DENGAN HARI JUM'AT

3. Hukum Orang Yang Hanya Sholat Jum'at Saja, Dan Tidak Mengerjakan Sholat Wajib Lainnya.

”هذا الذي لا يصلي إلا الجمعة أو رمضان كافر، لأن الرسول - عليه الصلاة والسلام -: (بين الرجل وبين الشرك والكفر ترك الصلاة). وهذا يعم الصلوات التي بين الجمعة والجمعة ، والصلوات التي بين رمضان ورمضان، فلابد من الحفاظ عليها ، ولابد من أدائها في جميع السنة، ولهذا قال عليه الصلاة والسلام: (العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر)“.
"Orang ini yang tidak sholat kecuali hanya sholat jum'at, atau hanya sholat dibulan ramadhan saja, maka ia telah kafir, karena Rasulullah sallalahu alaihi wasallam bersabda (artinya) :

"Pemisah antara seorang laki-laki dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan sholat."[HR. Muslim no 117].

Kalimat "sholat" pada hadits tersebut, umum, mencakup semua sholat (wajib) antara juma'at yang satu hingga jum'at berikutnya, dan juga semua sholat (wajib) antara ramadhan ini hingga ramadhan berikutnya, maka wajib untuk memelihara semua sholat wajib tersebut, mengerjakannya sepanjang tahun, karena Nabi sallalahu alaihi wasallam bersabda (artinya) :

" Perjanjian yang ada di antara kita dan mereka (orang-orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya berarti kafir."[HR. At-Tirmidzy no.2545, Ibnu Majah no.1069, An-Nasa'i no.459].[4].


4. Hukum Qobliah Jum'at

”الجمعة ليس لها سنة راتبة قبلها, يصلي ما يسر الله له ثنتين أو أربع أو أكثر من ذلك؛ لقول النبي -صلى الله عليه وسلم-: (من اغتسل يوم الجمعة ثم أتى المسجد فصلى ما قدر له ثم أنصت إذا خرج الإمام) ولم يقدر له شيء قال: (صلى ما قدر له)“.
"Tidak ada sholat sunnat qobliah rawatib untuk sholat jum'at, namun boleh mengerjakan sholat sunnat sesuai kemampuan, baik jumlahnya dua atau empat rakaat, ataupun lebih dari itu, hal ini berdasarkan sabda Nabi sallalahu alaihi wasallam (artinya) :

"Barangsiapa yang mandi kemudian mendatangi masjid pada hari Jum'at, lalu ia shalat (sunnat) sesuai kemampuannya dan diam (mendengarkan khutbah) dari khatib...[HR. Muslim no 1418]

hal itu menunjukkan Nabi tidak membebaninya dengan sesuatu, tetapi hanya dianjurkan sholat sunnat sesuai kemampuannya."[5].
_____________
Referensi :
[1] Disyariatkan mandi pada hari jum'at bagi yang terkena kewajiban jum'at, yakni bagi lelaki yang telah berakal, baligh, muqim (bukan musafir) dan merdeka (bukan budak)-Allohu a'lam-
[2] [http://www.binbaz.org.sa/fatawa/2300]
[3] [http://www.binbaz.org.sa/noor/7600]
[4] [http://www.binbaz.org.sa/noor/9388]
[5] [http://www.binbaz.org.sa/noor/6529]

Alih Bahasa : Hilal Abu Naufal
https://t.me/MuliaDenganSunnah
➖ Channel http://bit.ly/1IRISAP
Baca selengkapnya »
Apakah orang yang tidak memakai peci dilarang menjadi imam ?

Apakah orang yang tidak memakai peci dilarang menjadi imam ?

Jawaban

Syeikh Bin Baz rahimahullah mengatakan sholat tanpa menggunakan penutup kepala seperti peci, imamah dan sejenisnya tidak masalah karna kepala bukan termasuk aurat dan tidak wajib menutup kepala ketika sholat. Baik orang yang sholat itu menjadi imam atau sholat sendirian atau menjadi makmum.

Namun jika dia menggunakan penutup kepala sebagaimana umumnya orang maka itu lebih baik. Terlebih lagi jika dia menjadi imam. Wallahu a’lam bisshowab.


sumber: https://www.binbaz.org.sa/noor/7293
Baca selengkapnya »
Bolehkah Membuang Sampah Sembarangan ?

Bolehkah Membuang Sampah Sembarangan ?

Soal:

Apakah diharamkan membuang sampah-sampah ringan di jalan? Maksud saya, jika salah seorang dari kita minum jus di jalan, apakah boleh membuang botol kosongnya di jalan? Atau selain minuman, misalnya biskuit atau es krim.

Jawab:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أما بعد
Seorang muslim dituntut oleh syariat untuk bersungguh-sungguh menjaga kebersihan jalan. Hendaknya tidak membuang sampah-sampah kecuali pada tempat untuk membuang sampah. Karena syariat Islam itu mengajak umat untuk berlaku bersih. Dalam hadits dikatakan:

الإيمان بضع وسبعون شعبة، فأعلاها قول لا إله إلا الله، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق
“Iman itu 70 dan sekian cabang, yang paling tinggi adalah kalimat Laa Ilaaha Illallah, yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan” (Muttafaqun ‘alaih)

Bolehkah Membuang Sampah Sembarangan

Namun saya tidak mengetahui faktor yang menghasilkan hukum haram dari perbuatan yang anda sebutkan, yaitu membuang sampah di jalan, selama itu tidak menimbulkan bahaya. Semisal membuang sampah gelas atau semisalnya. Yang dikhawatirkan menimbulkan bahaya untuk orang lain. Jika kasusnya demikian, maka terdapat sisi larangannya yaitu membuat gangguan bagi orang lain. Dalil atas hal ini adalah keumuman sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

لا ضرر ولا ضرار
“Janganlah memulai memberikan bahaya pada orang lain, jangan pula membalas memberi bahaya” (HR. Malik secara mursal).

Wallahu a’am

Fatwa Syaikh Abdullah Al Faqih (IslamWeb.Net)
artikel: muslim.or.id
Baca selengkapnya »
Komite Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad Anjurkan Gunakan Hak Pilih

Komite Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad Anjurkan Gunakan Hak Pilih

Komite Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad mengeluarkan rilis hukum berpartisipasi dalam pemilihan kepada daerah (pilkada) dan anjuran menggunakan hak pilih.

Ketua Majlis Fatwa DPP Perhimpunan Al-Irsyad, Ustadz Dr Firanda Andirja Lc MA, menjelaskan, pada dasarnya sistem demokrasi bukan berasal dari Islam dan kemudharatannya lebih besar daripada manfaatnya.

“Di dalamnya terdapat banyak hal-hal yang menyelisihi syariat, baik pada fondasinya maupun bangunannya,” ujarnya dalam keterangan tertulis Majlis Fatwa bersama Nafe Zaenuddin (Sekretaris) dan Nizar Saad Jabal (Anggota) diterima hidayatullah.com Jakarta, Jumat (16/02/2018).

Komite Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad

Adapun berpartisipasi menggunakan hak pilih dalam pemilihan, maka hal ini, jelas Firanda, dianjurkan oleh banyak ulama ahlussunnah.

“Di antaranya; Syaikh Abdullah Bin Baz, Syaikh Muhammad Nasiruddin Al Albani, Syaikh Muhammad Bin Sholih Al Utsaimin, Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad, Syaikh Al Luhaidan, Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh Mufti Kerajaan Saudi Arabia, Syaikh Nashir Asy Syatsri, Syaikh Ali Hasan Al Halabi, Syaikh Masyhur Hasan Salman, Syaikh Muhammad Musa Alu Nashr, Syaikh Ibrahim Ar Ruhaily, Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al Jazairi, Al Lajnah Ad Daimah, dan lain-lain,” sebutnya.

Firanda menjelaskan, menggunakan hak pilih berdasarkan kaidah ارْتِكَابُ أَخَفِّ الضَّرَرَيْن, tidak termasuk mendukung sistem demokrasi.

“Menggunakan hak pilih berdasarkan kaidah ارْتِكَابُ أَخَفِّ الضَّرَرَيْن tidak berarti bertanggung jawab terhadap hukum-hukum atau peraturan-peraturan yang timbul di kemudian hari,” tambahnya.

Menggunakan hak pilih berdasarkan kaidah ارْتِكَابُ أَخَفِّ الضَّرَرَيْن, bahkan dinilai termasuk usaha untuk menempuh manhaj yang benar, karena mengikuti fatwa para ulama.

“Sebagai logika; Nabi shallallahu’alaihi wa sallam membiarkan seorang badui yang kencing di masjid, meskipun hal itu termasuk kemudharatan karena menajiskan masjid, bahkan Nabi mencegah para Sahabat yang hendak melarang Arab badui tersebut -meneruskan- kencingnya, karena justru akan menimbulkan kemudharatan yang lebih besar.

Jika ia tetap dilarang kencing -padahal sudah terlanjur mengeluarkan air kencingnya-, maka bisa jadi air kencingnya akan semakin berhamburan atau menyebar di masjid.

Pada peristiwa ini, tidak boleh dikatakan bahwa Nabi mendukung kencing di masjid (penajisan masjid) dan tidak boleh pula dikatakan bahwa Nabi bertanggung jawab terhadap akan ternajisinya masjid yang merupakan dampak kencing di masjid,” jelasnya memaparkan.

Firanda mengatakan, menggunakan hak pilih berdasarkan kaidah ارْتِكَابُ أَخَفِّ الضَّرَرَيْن hanya dimaksudkan untuk dan dalam rangka mengurangi keburukan-keburukan yang akan terjadi disebabkan sistem demokrasi.

“Dengan syarat kuatnya prasangka pemilih bahwa seseorang yang dipilih adalah orang yang paling memberikan maslahat yang dapat menolong manusia untuk kembali kepada Allah,” imbuhnya.

Bagi kaum Muslimin untuk mengikuti fatwa para ulama, karena mereka lebih matang keilmuannya, dan lebih mengetahui maslahat umum.

Firanda mengatakna, anjuran menggunakan hak pilih bukan berarti anjuran untuk terlibat langsung dalam kancah perpolitikan.

Majlis Fatwa DPP Perhimpunan Al-Irsyad pun menganjurkan kepada kaum Muslimin, baik yang menggunakan hak pilih atau yang tidak menggunakannya, agar selalu bersatu dan menjaga ukhuwah Islamiyah.

“Serta menjauhi perdebatan yang hanya melemahkan kaum Muslimin,” umbuhnya menganjurkan.

Kaum Muslimin pun diajak untuk selalu kembali dan mendakwahkan tauhid, bertawakal kepada Allah serta bertakwa kepada-Nya, apapun yang terjadi dan siapapun pemimpinnya.

“Karena takwa kepada Allah-lah yang akan memberikan solusi,” pungkasnya menasihati.*

Rep: SKR
Editor: Muhammad Abdus Syakur
artikel: hidayatullah.com
Baca selengkapnya »
Fatwa MUI Sumbar Larangan Ikut Memeriahkan Perayaan Hari Valentine

Fatwa MUI Sumbar Larangan Ikut Memeriahkan Perayaan Hari Valentine

MAKLUMAT MUI SUMBAR
Nomor: 001/ MUI-SB/II/2018

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Assalamualaikum wa rahmatullahi wa bakatatuh.

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لا نبي بعده
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا ُأَغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ نَّاصِرِ الْحَقَّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيمِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيمِ.
Bersama ini kami sampaikan kepada seluruh umat Islam, terutama di Sumatera Barat bahwa;
Perayaan hari valentine (valentine day) adalah tradisi yang berasal peristiwa sejarah dan keyakinan agama tertentu di luar Islam bahkan bahkan menjadi ritual ibadah di tengah-tengah mereka.
Perayaan hari valentine (valentine day) merupakan hari mengumbar nafsu syahwat yang berdampak kepada terjadinya pergaulan bebas, perzinaan dan kemaksiatan lainnya di tengah masyarakat khususnya di kalangan muda-mudi.

Memperhatikan berbagai fakta di atas maka Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Barat menyatakan bahwa: terlibat dalam kegiatan hari valentine dalam bentuk apapun apalagi sampai merayakannya, bagi umat Islam adalah haram karena ikut memasyarakatkan kemaksiatan, mensyiarkan kekufuran, melibatkan diri dalam ritual/ibadah agama lain dan menyerupai kaum kafir dalam hal yang terlarang untuk menyerupai mereka. Keseluruhan prilaku tersebut telah dilarang oleh Allah swt dan Rasul-Nya dalam al-Quran dan Sunnah.

Akhirnya kami menghimbau umat Islam, mari kita senantiasa berpegang teguh dengan ajaran agama kita (Islam) dan menjauhkan diri dari pengaruh ajaran agama lain agar selamat dunia dan akhirat. Amin.

Demikianlah Maklumat ini disampaikan, semoga dapat dipahami dan diamalkan.

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Padang, 27 Jumadil Ula 1439 H / 13 Februari 2018 M

Komisi Fatwa MUI  Provinsi Sumatera Barat

dto.

Ketua : Dr. H. Zulkarnaini, M.Ag
dto

Sekretaris: Dr. Zainal Azwar, M.Ag
Mengetahui Majelis Ulama Provinsi Sumbar

dto.
Ketua Umum: Buya Gusrizal Gazahar, Lc, M.Ag

dto
Sekretaris Umum: Buya Zulfan, S.Hi, M.H

Silahkan Share Maklumatnya :

Fatwa MUI Sumbar
Fatwa MUI Sumbar

sumber: muisumbar.or.id
Baca selengkapnya »
FATWA MUI KOTA JAKARTA UTARA TENTANG KAJIAN MANHAJ SALAF

FATWA MUI KOTA JAKARTA UTARA TENTANG KAJIAN MANHAJ SALAF

MANHAJ SALAF

Pandangan MUI Jakarta Utara
Tentang Salaf / Salafi

Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Administrasi Jakarta Utara mengeluarkan keputusan tentang Salaf/ Salafi. Keputusan itu dikeluarkan secara resmi dan ditandatangani oleh Ketua Umum QOIMUDDIEN THAMSY dan Sekretaris UmumDrs. ARIF MUZAKKIR MANNAN, HI. Keputusan dengan judul Pandangan Majelis Ulama Indonesia Kota Administrasi Jakarta Utara Tentang SALAF/SALAFI itu dikeluarkan di Jakarta12 Rabi’ul Akhir 1430 Hl 08 April 2009.
Salinan teks selengkapnya sebagai berikut:
Salinan
MAJELIS ULAMA INDONESIA
Kotamadya Jakarta Utara
Jl. Yos Sudarso No. 27-29 Telp. (021) 4357422, 4301124 Ext. 5375,
Fax. 4357422 Jakarta
—————————————————————————————————–
Pandangan Majelis Ulama Indonesia
Kota Administrasi Jakarta Utara
Tentang
SALAF/SALAFI
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Administrasi Jakarta Utara,
MENIMBANG : a. bahwa pada akhir-akhir ini berkembang kajian-kajian salaf di beberapa daerah yang banyak masyarakat belum memahami makna salaf itu;
b. bahwa terjadi kesalah pahaman dalam memahami salaf;
c. bahwa muncul vonis sesat kepada keberadaan kajian-kajian salaf;
d. bahwa oleh karena itu, MUI Kota Administrasi Jakarta Utara perlu memberikan penjelasan tentang salaf/salafi, agar masyarakat tidak mudah terprovokasi.
MENGINGAT :
Firman Allah subhanahu wa ta’ala :
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS. Al-Hujuraat : 6)
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. (QS. Al-Ahzaab [33] : 36)
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS. An-Nisaa [4] : 59)
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”. (QS. Al-An’am [6] : 116)
“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu”. (QS. Al-Mu’minuun [23] : 71)
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS. At-Taubah [9] : 100)
Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « كُلُّ أُمَّتِى يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ ، إِلاَّ مَنْ أَبَى » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ « مَنْ أَطَاعَنِى دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ عَصَانِى فَقَدْ أَبَى »
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seluruh ummatku masuk surga kecuali yang enggan.” Para sahabat bertanya: wahai Rasulullah siapakah yang enggan?. Beliau menjawab: “Siapa yang ta’at kepadaku masuk surga dan yang ma’shiyat kepadaku maka ia enggan (masuk surga).” (H.R. Al-Bukhari)
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( تركت فيكم شيئين لن تضلوا بعدهم ( ما تمسكتم بهما ) كتاب الله وسنتي ولن يتفرقا حتى يردا على الحوض ) . أخرجه مالك مرسلا والحاكم مسندا وصححه
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku tinggalkan pada kalian dua hal kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang dengan keduanya, (yaitu) Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnahku. Keduanya tidak akan berpisah sehingga masuk ke telaga (Al-Kautsar). (H.R. Malik secara mursal dan Al-Hakim dengan sanad yang bersambung dan ia mensahihkannya)
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مِينَاءَ حَدَّثَنَا أَوْ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ جَاءَتْ مَلاَئِكَةٌ إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَهْوَ نَائِمٌ فَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّهُ نَائِمٌ . وَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّ الْعَيْنَ نَائِمَةٌ وَالْقَلْبَ يَقْظَانُ . فَقَالُوا إِنَّ لِصَاحِبِكُمْ هَذَا مَثَلاً فَاضْرِبُوا لَهُ مَثَلاً . فَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّهُ نَائِمٌ . وَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّ الْعَيْنَ نَائِمَةٌ وَالْقَلْبَ يَقْظَانُ . فَقَالُوا مَثَلُهُ كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى دَارًا ، وَجَعَلَ فِيهَا مَأْدُبَةً وَبَعَثَ دَاعِيًا ، فَمَنْ أَجَابَ الدَّاعِىَ دَخَلَ الدَّارَ وَأَكَلَ مِنَ الْمَأْدُبَةِ ، وَمَنْ لَمْ يُجِبِ الدَّاعِىَ لَمْ يَدْخُلِ الدَّارَ وَلَمْ يَأْكُلْ مِنَ الْمَأْدُبَةِ . فَقَالُوا أَوِّلُوهَا لَهُ يَفْقَهْهَا فَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّهُ نَائِمٌ . وَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّ الْعَيْنَ نَائِمَةٌ وَالْقَلْبَ يَقْظَانُ . فَقَالُوا فَالدَّارُ الْجَنَّةُ ، وَالدَّاعِى مُحَمَّدٌ – صلى الله عليه وسلم – فَمَنْ أَطَاعَ مُحَمَّدًا – صلى الله عليه وسلم – فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ، وَمَنْ عَصَى مُحَمَّدًا – صلى الله عليه وسلم – فَقَدْ عَصَى اللَّهَ ، وَمُحَمَّدٌ – صلى الله عليه وسلم – فَرْقٌ بَيْنَ النَّاسِ .
Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, berkata: (suatu ketika) datang para malaikat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala beliau tidur. Sebagian mereka berkata ia sedang tidur, sebagian lain menjawab, matanya tertidur tetapi hatinya terjaga. Mereka berkata: sesungguhnya teman kalian ini (Nabi Muhammad-penj) memiliki perumpamaan, maka jadikanlah untuknya perumpamaan. Sebagian mereka berkata ia sedang tidur, sebagian lain menjawab, matanya tertidur tetapi hatinya terjaga. Mereka berkata, perumpamaannya seperti orang yang membangun rumah, menyediakan hidangan dan mengundang orang untuk datang. Siapa orang yang menjawab undangan, maka ia akan masuk rumah dan menyantap hidangan. Yang tidak menjawab undangan maka tidak masuk ke dalam rumah dan tidak menyantap hidangan. Mereka berkata, jelaskan ma’na perumpamaan itu kepadanya agar ia memahaminya. Sebagian mereka berkata ia sedang tidur, sebagian lain menjawab, matanya tertidur tetapi hatinya terjaga. Mereka berkata rumah adalah (perumpamaan) surga, orang yang mengundang adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka siapa orang yang ta’at kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia ta’at kepada Allah. Siapa orang yang menentang Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia telah menentang Allah. Muhammad adalah pembela diantara manusia (antara yang ta’at dan yang menentang). (H.R. Al-Bukhari)
MEMPERHATIKAN :
Keterangan dan penjelasan dari beberapa da’i salafi yang telah dikonfirmasi oleh pihak MUI Kota Administrasi Jakarta Utara.
Dengan bertawakkal kepada Allah subhanahu wa ta’ala,

MEMUTUSKAN
MENETAPKAN : PANDANGAN MUI KOTA ADMINISTRASI JAKARTA UTARA TENTANG SALAFI
Pertama : Penjelasan tentang apa itu SALAF/SALAFI
1. Salaf/salafi tidak termasuk ke dalam 10 kriteria sesat yang telah ditetapkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), sehingga Salaf/salafi bukanlah merupakan sekte atau aliran sesat sebagaimana yang berkembang belakangan ini.
2. Salaf/salafi adalah nama yang diambilkan dari kata salaf yang secara bahasa berarti orang-orang terdahulu, dalam istilah adalah orang-orang terdahulu yang mendahului kaum muslimin dalam Iman, Islam dst. mereka adalah para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka.
3. Penamaan salafi ini bukanlah penamaan yang baru saja muncul, namun telah sejak dahulu ada.
4. Dakwah salaf adalah ajakan untuk memurnikan agama Islam dengan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan menggunakan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum.
Kedua : Nasehat dan Tausiyah kepada masyarakat
1. Hendaknya masyarakat tidak mudah melontarkan kata sesat kepada suatu dakwah tanpa diklarifikasi terlebih dahulu.
2. Hendaknya masyarakat tidak terprovokasi dengan pernyataan-pernyataan yang tidak bertanggung jawab.
3. Kepada para da’i, ustadz, tokoh agama serta tokoh masyarakat hendaknya dapat menenangkan serta memberikan penjelasan yang obyektif tentang masalah ini kepada masyarakat.
4. Hendaknya masyarakat tidak bertindak anarkis dan main hakim sendiri, sebagaimana terjadi di beberapa daerah di Indonesia.
Ditetapkan di : Jakarta
Pada tanggal : 12 Rabi’ul Akhir 1430 H.
08 April 2009
DEWAN PIMPINAN
MAJELIS ULAMA INDONESIA
KOTA ADMINISTRASI JAKARTA UTARA
Ketua Umum,
Sekretaris Umum,
Ttd
QOIMUDDIEN THAMSY
cap
ttd
Drs. ARIF MUZAKKIR MANNAN, HI
(Disalin tanpa logo, cap dan tandatangan. Redaksi nahimunkar.com)
Baca selengkapnya »
Syeikh Bin Baz Ditanya: berdosakah melaksanakan tubektomi (mengikat rahim)

Syeikh Bin Baz Ditanya: berdosakah melaksanakan tubektomi (mengikat rahim)

Pertanyaan.

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : “Ada seorang wanita berusia kurang lebih 29 tahun, telah memiliki 10 orang anak. Ketika ia telah melahirkan anak terakhir ia harus melakukan operasi dan ia meminta ijin kepada suaminya sebelum operasi untuk melaksanakan tubektomi (mengikat rahim) supaya tidak bisa melahirkan lagi, dan disamping itu juga disebabkan masalah kesehatan, yaitu jika ia memakai pil-pil pencegah kehamilan akan berpengaruh terhadap kesehatannya. Dan suaminya telah mengijinkan untuk melakukan operasi tersebut. maka apakah si istri dan suami mendapatkan dosa karena hal itu ?”

berdosakah melaksanakan tubektomi

Jawaban.

Tidak mengapa ia melakukan operasi/pembedahan jika para dokter (terpercaya) menyatakan bahwa jika melahirkan lagi bisa membahayakannya, setelah mendapatkan ijin dari suaminya.

[Fatawa Mar’ah Muslimah Juz 2 hal. 978, Maktabah Aadh-Waus Salaf, cet ke 2. 1416H]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun V/2001. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
Baca selengkapnya »
Syeikh Utsaimin Ditanya: Kapan Wanita Dibolehkan Memakai Pil Pencegah Hamil

Syeikh Utsaimin Ditanya: Kapan Wanita Dibolehkan Memakai Pil Pencegah Hamil

Pertanyaan.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Kapan seorang wanita diperbolehkan memakai pil-pil pencegah kehamilan, dan kapan hal itu diharamkan ? Adakah nash yang tegas atau pendapat di dalam fiqih dalam masalah KB? Dan bolehkah seorang muslim melakukan azal kerika berjima tanpa sebab?”

Jawaban.

Seyogyanya bagi kaum msulimin untuk memperbanyak keturunan sebanyak mungkin, karena hal itu adalah perkara yang diarahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya.

تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ اْلاُمَمَ
“Nikahilah wanita yang penyayang dan banyak anak karena aku akan berlomba dalam banyak jumlahnya umat” [Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud 1/320, Nasa’i 2/71, Ibnu Hibban no. 1229, Hakim 2/162, Baihaqi 781, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 3/61-62]

Dan karena banyaknya umat menyebabkan (cepat bertambahnya) banyaknya umat, dan banyaknya umat merupakan salah satu sebab kemuliaan umat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika menyebutkan nikmat-Nya kepada Bani Israil.

وَجَعَلْنَاكُمْ أَكْثَرَ نَفِيرًا
“Dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar” [Al-Isra’/17 : 6]

وَاذْكُرُوا إِذْ كُنتُمْ قَلِيلاً فَكَثَّرَكُمْ
“Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu” [Al-A’raf /7: 86]

Dan tidak ada seorangpun mengingkari bahwa banyaknya umat merupakan sebab kemuliaan dan kekuatan suatu umat, tidak sebagaimana anggapan orang-orang yang memiliki prasangka yang jelek, (yang mereka) menganggap bahwa banyaknya umat merupakan sebab kemiskinan dan kelaparan. Jika suatu umat jumlahnya banyak dan mereka bersandar dan beriman dengan janji Allah dan firman-Nya.

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
“Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya” [Hud/11 : 6]

Maka Allah pasti akan mempermudah umat tersebut dan mencukupi umat tersebut dengan karunia-Nya.

Pil Pencegah Hamil

Berdasarkan penjelasan ini, jelaslah jawaban pertanyaan di atas, maka tidak sepantasnya bagi seorang wanita untuk mengkonsumsi pil-pil pencegah kehamilan kecuali dengan dua syarat.

1. Adanya keperluan seperti ; Wanita tersebut memiliki penyakit yang menghalanginya untuk hamil setiap tahun, atau, wanita tersebut bertubuh kurus kering, atau adanya penghalang-penghalang lain yang membahayakannya jika dia hamil tiap tahun.

2. Adanya ijin dari suami. Karena suami memiliki hak atas istri dalam masalah anak dan keturunan. Disamping itu juga harus bermusyawarah dengan dokter terpercaya di dalam masalah mengkonsumsi pil-pil ini, apakah mmakaiannya membahayakan atau tidak.

Jika dua syarat di atas dipenuhi maka tidak mengapa mengkonsumsi pil-pil ini, akan tetapi hal ini tidak boleh dilakukan terus menerus, dengan cara mengkonsumsi pil pencegah kehamilan selamanya misalnya, karena hal ini berarti memutus keturunan.

Adapun point kedua dari pertanyaan di atas maka jawabannya adalah sebagai berikut : Pembatasan keturunan adalah perkara yang tidak mungkin ada dalam kenyataan karena masalah hamil dan tidak, seluruhnya di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jika seseorang membatasi jumlah anak dengan jumlah tertentu, maka mungkin saja seluruhnya mati dalam jangka waktu satu tahun, sehingga orang tersebut tidak lagi memiliki anak dan keturunan. Masalah pembatas keturunan adalah perkara yang tidak terdapat dalam syari’at Islam, namun pencegahan kehamilan secara tegas dihukumi sebagaimana keterangan di atas.

Adapun pertanyaan ketiga yang berkaitan dengan ‘azal ketika berjima’ tanpa adanya sebab, maka pendapat para ahli ilmu yang benar adalah tidak mengapa karena hadits dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu.

كُنَّا نَعْزِلُ وَالْقُرْآنُ يَنْزِلُ
“Kami melakukan ‘azal sedangkan Al-Qur’an masih turun (yakni dimasa nabi Shallallahu ‘alihi wa sallam)” [Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud 1/320 ; Nasa’i 2/71, Ibnu Hibban no. 1229, Hakim 2/162, Baihaqi 781, Abu nu’aim dalam Al-hilyah 3/61-62]

Seandainya perbuatan itu haram pasti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarangnya. Akan tetapi para ahli ilmu mengatakan bahwa tidak boleh ber’azal terhadap wanita merdeka (bukan budak) kecuali dengan ijinya, yakni seorang suami tidak boleh ber’azal terhadap istri, karena sang istri memiliki hak dalam masalah keturunan. Dan ber’azal tanpa ijin istri mengurangi rasa nikmat seorang wanita, karena kenikmatan seorang wanita tidaklah sempurna kecuali sesudah tumpahnya air mani suami.

Berdasarkan keterangan ini maka ‘azal tanpa ijin berarti menghilangkan kesempurnaan rasa nikmat yang dirasakan seorang istri, dan juga menghilangkan adanya kemungkinan untuk mendapatkan keturunan. Karena ini kami menysaratkan adanya ijin dari sang istri”.

[Fatawa Syaikh ibnu Utsaimin Juj 2 hal. 764 dinukil dari Fatawa Li’umumil Ummah]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun V/2001. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
Baca selengkapnya »
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Baz ditanya : Apa hukum KB ?

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Baz ditanya : Apa hukum KB ?

Jawaban.

Ini adalah permasalahan yang muncul sekarang, dan banyak pertanyaan muncul berkaitan dengan hal ini. Permasalahan ini telah dipelajari oleh Haiah Kibaril Ulama (Lembaga di Saudi Arabia yang beranggotakan para ulama) di dalam sebuah pertemuan yang telah lewat dan telah ditetapkan keputusan yang ringkasnya adalah tidak boleh mengkonsumsi pil-pil untuk mencegah kehamilan.

Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyariatkan untuk hamba-Nya sebab-sebab untuk mendapatkan keuturunan dan memperbanyak jumlah umat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

تَزَوَّجُوا الْوَلُودَ الْوَدُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ اْلاُمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. وفي رواية: الاَنْبِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Nikahilah wanita yang banyak anak lagi penyayang, karena sesungguhnya aku berlomba-lomba dalam banyak umat dengan umat-umat yang lain di hari kiamat dalam riwayat yang lain : dengan para nabi di hari kiamat)”. [Hadits Shahih diriwayatkan oleh Abu Daud 1/320, Nasa’i 2/71, Ibnu Hibban no. 1229, Hakim 2/162 (lihat takhrijnya dalam Al-Insyirah hal.29 Adazbuz Zifaf hal 60) ; Baihaqi 781, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 3/61-62]

Apa hukum KB

Karena umat itu membutuhkan jumlah yang banyak, sehingga mereka beribadah kepada Allah, berjihad di jalan-Nya, melindungi kaum muslimin -dengan ijin Allah-, dan Allah akan menjaga mereka dan tipu daya musuh-musuh mereka.

Maka wajib untuk meninggalkan perkara ini (membatasi kelahiran), tidak membolehkannya dan tidak menggunakannya kecuali darurat. Jika dalam keadaan darurat maka tidak mengapa, seperti :

1. Sang istri tertimpa penyakit di dalam rahimnya, atau anggota badan yang lain, sehingga berbahaya jika hamil, maka tidak mengapa (menggunakan pil-pil tersebut) untuk keperluan ini.

2. Demikian juga, jika sudah memiliki anak banyak, sedangkan isteri keberatan jika hamil lagi, maka tidak terlarang mengkonsumsi pil-pil tersebut dalam waktu tertentu, seperti setahun atau dua tahun dalam masa menyusui, sehingga ia merasa ringan untuk kembali hamil, sehingga ia bisa mendidik dengan selayaknya.

Adapun jika penggunaannya dengan maksud berkonsentrasi dalam berkarier atau supaya hidup senang atau hal-hal lain yang serupa dengan itu, sebagaimana yang dilakukan kebanyakan wanita zaman sekarang, maka hal itu tidak boleh”.

[Fatawa Mar’ah, dikumpulkan oleh Muhammad Al-Musnad, Darul Wathan, cetakan pertama 1412H]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun V/2001. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
Baca selengkapnya »
Riba dalam transaksi Go-Food dan Solusinya - Ustadz Erwandi, MA

Riba dalam transaksi Go-Food dan Solusinya - Ustadz Erwandi, MA

(Pembahasan tentang Fatwa Terbaru Dr. Erwandi Tarmizi pada layanan Go-Food)

Bismillah,

Akhirnya kegalauan saya mengenai sistem “Jual Beli Online Makanan” selama ini terjawab kemarin sore (Sabtu, 4 Rabi’ul Akhir 1439H/23 Desember 2017) saat berkunjung ke guru kami Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, MA. hafizhahullahu ta’ala.

Dalam masalah muamalah pada dasarnya semua halal dan boleh di lakukan, sampe ada dalil yang melarangnya dan menjadikan perkara muamalah itu haram kita lakukan.

Seperti yang kita ketahui bersama, Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, MA telah memberikan fatwanya mengenai kehalalan Go-Food yang tertuang dalam buku Harta Halal Muamalat Kontemporer di Halaman 280 (cetakan 16) dengan Syarat Go-Jek tidak mengambil keuntungan apapun dari akad peminjaman uang yang dilakukan nasabah dalam akad titip beli makanan online tersebut.

Go-Food sejak awal memang hangat di bicarakan karena terjadi pembahasan yang sempat menuai kontroversi dalam pembahasan sistem bisnisnya.
Riba dalam transaksi Go-Food

Secara singkat sistem bisnis Go-Food adalah akad titip jual makanan secara online. Dimana kita dapat dengan mudah membeli makanan di manapun tanpa kita harus keluar rumah atau kediaman kita. Go-Food menyediakan jasa membelikan makanan yang kita inginkan tersebut dengan cara menghutangi konsumen atau memberikan talangan dana melalui driver Go-Jek untuk membeli makanan yang konsumen pesan tersebut lalu makanan tersebut diantarkan kepada konsumen.

Dalam buku Harta Halal Muamalat Kontemporer karya Dr. Erwandi Tarmizi tersebut telah di bahas bahwa titik kritis keharaman transaksi Go-Food ini adalah terletak pada adanya akad Qardh (hutang) antara konsumen dengan pihak Go-Food (driver Gojek). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang penggabungan akad hutang dengan jual beli seperti yang tertuang dalam hadist :

لاَ يَحِلُّ سَلَفٌ وَبَيْعٌ
“Tidak halal menggabungkan salaf (pinjaman/hutang) dengan jual beli.” (HR. Abu Daud. Menurut Al-Bani derajat hadist ini Hasan shahih)

Namun karena diawal Go-Jek tidak mengambil keuntungan apapun dari akad hutang dengan konsumennya, yang artinya uang yang di bayarkan pihak Go-Jek (driver Go-Jek) untuk membeli makanan yang merupakan uang talangan tersebut adalah memang senilai dan sesuai dengan daftar harga makanan yang tertera di nota atau bon resmi pihak resto atau warung penjual makanan yang konsumen inginkan.

Dan tidak ada kesepakatan terselubung antara pihak merchant atau restoran dengan pihak Go-Jek yang memberikan untung kepada Go-Jek. Go-Jek hanya mengambil untung dari jasa penghantaran makanan yang di pesan tersebut tanpa ada tambahan apapun dari akad hutang nya. Larangan mengambil keuntungan dari akad hutang merupakan kaidah fikih yang di sepakati oleh jumhur ulama :

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبًا
Artinya: “Setiap akad hutang (pinjaman) yang memberikan keuntungan bagi pemberi pinjaman adalah riba”.

Dalam setiap pembelajaran di Sekolah Muamalah Indonesia pembahasan Go-Food ini sering sekali menjadi permasalahan yang kontroversi dan selalu menjadi topik pembahasan, hal ini karena banyaknya pihak yang ragu ragu atas kehalalan transaksi dalam perkara muamalah ini. Hampir di setiap angkatan di berbagai cabang Sekolah Muamalah Indonesia ada peserta yang menanyakan hukum dari layanan Go-Food ini.

Secara prinsip akad menggabungkan hutang dengan jual beli (termasuk ijarah) adalah terlarang. Namun karena ada kepastian bahwa Go-Jek tidak mengambil manfaat dari akad hutang piutang dengan nasabah dan pertimbangan kemaslahatan yang besar dengan jasa Go-Food ini, seperti menghindari macet di kota besar dan merupakan hajat hidup orang banyak, maka Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, MA memfatwakan Halal dan memperbolehkan kita menggunakan jasa Go-Food. (Tercantum dalam buku HHMK halaman 278, cetakan ke 16).

Seiring berjalanan nya waktu ternyata sistem Titip Beli Makanan Online ini telah berubah sistem bisnis dan ketentuan transaksinya.

Berdasarkan syarat dan ketentuan dalam kerjasama Go-Jek dengan Merchant/Penyedia Kuliner dalam layanan Go-Food, Ternyata terdapat pernyataan bahwa Go-Jek hanya membayar 80 atau 85 % dari harga yang di rilis oleh Merchant atau restoran dan menagihkan 100% harga kepada Nasabah yang memesan. Nota atau bon yang di print adalah harga yang 100% sehingga konsumen atau nasabah akan membayar uang sesuai dengan tagihan yang tertera di bon atau nota tersebut. Data ini kami peroleh dari Resto yang akan menjadi partner Go-Jek dalam layanan Go-Food.

Setelah dipelajari lebih lanjut, Dalam hal ini jelas Go-Jek mengambil Manfaat dari akad hutang konsumen kepada Go-Jek melalui layanan Go-Food dengan mengambil fee yang di tagihkan kepada konsumen Go-Food yang ditagihkan melalui nota atau bon yang di terbitkan Merchant atau Restoran. Pada saat harga misal Nasi Goreng di Restoran A adalah Rp. 20.000,- maka Go-Jek dalam layanan Go-Food nya hanya membayar 85% dari harga Rp.20.000,- tersebut. Go-Jek hanya membayar Rp. 17.000,- kepada merchant atau restoran tersebut sedang Rp. 3.000 ,- mereka anggap sebagai fee atas jasa memesankan makanan dan menalangi dahulu uang untuk membayar makanan dalam layanan Go-Food ini. 

Jika memang benar dan memang telah menjadi kesepakatan di awal antara pihak Go-Jek dan pihak merchant atau restoran tentang adanya perbedaan harga yang di bayarkan dari uang yang di bayarkan konsumen ke Gojek (Go-Food) dengan yang di bayarkan Go-Jek (Go-Food) kepada merchant atau restoran, maka jelaslah bahwa Go-Jek mengambil manfaat (untung) dari akad Qardh (hutang) dan hal ini berarti akad titip beli makanan online dalam Go-Food ini mengandung Riba. Dan ini merupakan bukti nyata dampak buruknya penggabungan antara akad hutang dengan jual beli oleh karenanya bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarangnya dalam hadist tersebut diatas.

Tambahan info :

Berikut adalah Cuplikan Fatwa terbaru Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, MA tentang Go-Food yang mengandung Riba:



Solusi Titip Beli

Penulis mengajak Go-Jek sebagai perusaahan yang saat ini di butuhkan oleh orang banyak untuk menghilangkan akad riba dalam layanan Go-Food ini.

Bagaimana caranya? Tentulah sangat mudah, berikut adalah, berikut adalah beberapa solusi yang dapat di lakukan oleh Go-Jek dalam layanan Go-Food nya.

1. Jika ada konsumen ingin membeli makanan atau barang di sebuah restoran atau merchant maka Go-Jek bukan menyambungkan dengan Driver Go-Jek yang dekat dengan Restoran atau Merchant yang di tuju namun menyambungkan dengan yang dekat dengan lokasi pemesan layanan Go-Food sebagai mana biasanya orang akan naik ojek online maka yang akan datang adalah yang dekat dengan pemesan. Setelah itu driver Go-Jek akan mendatangi pemesan untuk meminta uang kepada konsumen Go-Food yang akan di gunakan untuk membeli makanan atau barang tersebut. Karena sudah jelas perkiraan harga yang tercantum dalam aplikasi Go-Food tersebut.

‌Dengan Driver Go-Jek mengambil uang terlebih dahulu dari konsumen Go-Food lalu baru membelikan maka tidak ada akad hutang disini. Akadnya menjadi Wakalah bil Ujrah (perwakilan/kurir dengan mendapatkan fee) sehingga jika Go-Food membelikan makanan Go-Food bisa mendeklarasikan bahwa dia mengambil fee atas akad perwakilan atau jasa kurir ini. Misal Harga Nasi Goreng Rp. 20.000,- maka Go-Food bisa men- Charge fee atau upah dari akad Wakalah ini misalnya sebesar 5% dari total harga pembelanjaan, dan pendapatan ini jelas halal bagi Go-Food.

2. Karena Go-Jek dalam layanan Go-Food Ini akan mengambil terlebih dahulu uang di konsumen ke rumah atau kediaman konsumen maka Gojek juga bisa membebankan biaya pembelian tadi sebanyak 2x tarif jalan yaitu biaya jalan ke lokasi restoran dan biaya dari lokasi restoran kembali ke rumah atau kediaman pemesan.

S‌emisal biaya dari rumah konsumen ke restoran tempat pemesanan makanan tersebut adalah Rp.10.000,- maka biaya pemesanan makanan GoFood ini adalah Harga pokok Makanan yang di beli dengan di tambah biaya atau ongkos penghantaran sebesar Rp.20.000,-.

Sebagai seorang muslim kami sangat peduli dalam perkara layanan Go-Food ini. Karena layanan ini telah menjadi hajat hidup orang banyak yang dalam hal ini adalah muslim sebagian besar pengguna nya.

Sangat di sayangkan apabila konsumen yang menggunakan layanan Go-Food ini adalah seorang muslim maka dia akan terkena dosa riba, karena termasuk pemberi (penyetor) riba yang melakukan akad yang mengandung riba. Hal ini sebagaimana yang telah di sabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba.” Kata beliau, “Semuanya sama dalam dosa.” (HR. Muslim no. 2995).

Semoga Allah Subhanallahu wata’ala selalu menjaga kita dari dosa riba yang menghancurkan kita.

Aamiin yaa Rabb.


Ditulis oleh : Dian Ranggajaya, M.E.Sy (Founder Sekolah Muamalah Indonesia)
Baca selengkapnya »
Sisa Peninggalan Rasulullah Adakah seperti Imamanya

Sisa Peninggalan Rasulullah Adakah seperti Imamanya

APAKAH TERSISA SEDIKIT DARI PENINGGALAN-PENINGGALAN RASULLULLAH -shallallahu alaihi wasallam- BERUPA RAMBUTNYA, SARUNGNYA ATAU IMAMAHNYA?

Fatwa Al-Alamah Syaikh Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan hafizhohullah

✅Pertanyaan :

Apakah ada tersisa sedikit dari peninggalan-peninggalan Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- berupa rambutnya dan sarungnya pada waktu sekarang ini?

Dan apakah benar pada akhir zaman seseorang lelaki akan keluar membawa sarung Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- dan manusia akan berkumpul padanya ?
Sisa Peninggalan Rasulullah Adakah seperti Imamanya

🔊Jawab :

Ini termasuk khurafat, ini perkara khurafat yang tidak benar, dan janganlah menoleh padanya. Tidak ada tersisa dari peninggalan-peninggalan Ar-Rasul -shallallahu alaihi wasallam- sedikitpun, tidak dari pakaian-pakaiannya dan tidak juga dari rambut-rambutnya -Alaihis sholatu wasallam- , akan tetapi ini adalah khurafat-khurafat yang disebarkan sebagian orang-orang khurafat, yang mereka menginginkan untuk memakan dan mengambil harta-harta manusia dengan cara batil dengan segala sesuatu ini, Na'am.

Yang telah ditinggalkan untuk kita oleh Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- adalah Al-Kitab Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Maka wajib bagi kita untuk berpegang teguh dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah, inilah perkara yang Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam telah meninggalkannya untuk kita,

Beliau bersabda : "Sesungguhnya aku meninggalkan pada kalian, jika kalian berpegang teguh dengannya, kalian tidak akan sesat sepeninggalanku, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Inilah yang Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- telah meninggalkannya untuk kita. Dan Beliau tidak berkata , : Telah kutinggalkan untuk kalian berupa rambutku atau sesuatu dari pakaianku.

Akan tetapi ini adalah dari ucapan orang-orang khurafat, na'am.

هل بقي شيء من آثار رسول الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ من شعره وردائه وعمامته؟
فتوى العلامة الشيخ/ صالح بن فوزان الفوزان - حفظه الله تعالى -

الــــسُـــــــؤال :

هل بقي شيء من آثار رسول الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ من شعره وردائه في هذا الوقت؟
وهل صحيح في آخر الزمان يخرج رجل ويحمل رداء رسول الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ويجتمع عليه الناس؟
الجـواب :
هذا من الخرافات ، هذا من الخرافات التي لا تصدق ، ولا يلتفت إليها
لم يبق من آثار الرسول الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شيء :
لا من ملابسه ولا من شعوره عليه الصلاة والسلام
وإنما هذه خرافات يروجها بعض الخرافيين ، الذين يريدون أن يتأكلوا ويأخذوا أموال الناس بالباطل بهذه الأشياء ، نعم
الذي تركه لنا رسول الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هو الكتاب والسنة
فعلينا أن نتمسك بالكتاب والسنة
هذا هو الذي تركه لنا رسول الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

قال : "إني تارك فيكم ما إن تمسكتم به لن تضلوا بعدي كتاب الله وسنتي"
هذا هو الذي تركه لنا رسول الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
لم يقل تركت لكم شيء من شعري أو شيء من ملابسي
هذا إنما هو من كلام الخرافيين ، نعم
📚Sumber : http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=134897
♻ Join Channel Telegram : 🌐 https://bit.do/Tgmasri
Baca selengkapnya »
-->