IBX5A47BA52847EF DakwahPost: fiqh
TATA CARA SHOLAT ORANG YANG SAKIT

TATA CARA SHOLAT ORANG YANG SAKIT

Berkata Fadhilatus Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Bagaimana shalatnya orang yang sakit ?

1. Wajib bagi orang yang sakit mengerjakan shalat fardhu dengan berdiri walaupun membungkuk, bersandar kepada dinding, atau menggunakan tongkat.

2. Jika tidak mampu berdiri maka shalat dengan cara duduk, dan yang afdhal adalah duduk bersila pada tempat berdiri dan ruku'.

3. Jika tidak mampu shalat dengan duduk maka shalat dengan cara berbaring menghadap kiblat, (berbaring) di atas bagian tubuhnya yang kanan.
▪️ Jika tidak memungkinkan menghadap kiblat maka boleh shalat ke arah mana dia menghadap, dan shalatnya sah tidak perlu mengulangi.

4. Jika tidak mampu shalat miring di atas bagian tubuhnya yang kanan maka dia shalat berbaring dengan kedua kakinya menghadap kiblat, dan yang afdhal menaikkan kepalanya sedikit agar menghadap kiblat.

TATA CARA SHOLAT ORANG YANG SAKIT

▪️ Jika tidak mampu menghadapkan kedua kakinya ke arah kiblat maka shalat ke arah mana saja dan tidak perlu mengulangi.

5. Wajib atas orang yang sakit untuk ruku' dan sujud dalam shalatnya. 

▪️ Jika tidak mampu, hendaknya dengan menundukkan kepala ketika ruku' dan sujud, dan jadikan (posisi kepala) lebih rendah ketika sujud.

▪️ Jika dia mampu ruku' tapi tidak mampu sujud, hendaknya dia ruku' dan menundukkan kepalanya ketika sujud. Dan Jika dia mampu sujud tapi tidak mampu ruku', hendaknya dia sujud dan menundukkan kepalanya ketika ruku'.

6. Jika tidak mampu menundukkan kepala ketika ruku' dan sujud, hendaknya ia berisyarat dengan matanya ketika sujud, yaitu Ia memejamkan sedikit ketika ruku' dan memejamkan keseluruhan ketika sujud.

❗Adapun berisyarat dengan jari sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang yang sakit tidaklah benar. Dan aku tidak mengetahui ada dasarnya pada perbuatan tersebut dari al-Quran, as-Sunnah, dan ucapan-ucapan ahlul ilmi.

7. Jika tidak mampu menundukkan kepala atau berisyarat dengan mata maka shalat dengan hatinya. Bertakbir dan membaca, meniatkan ruku', sujud, berdiri, dan duduk dengan hatinya "Setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

8. Wajib bagi orang yang sakit melaksanakan shalat pada waktunya, dan (wajib) melakukan apa yang dia mampui dari perkara-perkara yang wajib pada sholat tersebut.

▪️ Jika dia kesulitan melaksanakan masing-masing shalat pada waktunya maka *boleh menjama' antara zhuhur dan ashar, dan antara maghrib dan isya'*, baik jama' taqdim yaitu mengerjakan shalat ashar pada waktu zhuhur dan shalat isya' pada waktu maghrib, atau jama' ta'khir yaitu mengerjakan shalat zhuhur pada waktu ashar dan shalat maghrib pada waktu isya', disesukaian yang mudah baginya.

▪️ Adapun shalat fajar maka jangan kamu menjama'nya dengan shalat sebelumnya atau shalat setelahnya.

9. Apabila orang yang sakit itu sedang safar karena berobat di luar daerahnya, maka *ia mengqashar shalat-shalat yang empat raka'at*, yaitu shalat zhuhur, ashar, dan isya' masing-masingnya dua raka'at hingga dia kembali ke daerahnya. Sama saja safarnya panjang atau sebentar.

Wallahul muwaffiq.

Ditulis oleh al-faqir ilallah: Muhammad ash-Shalih al-'Utsaimin
Majmu' Fatawa wa Rosail Ibni 'Utsaimin 15/230
Baca selengkapnya »
Keutamaan Hubungan Intim (Jima') Di Malam Jum'at

Keutamaan Hubungan Intim (Jima') Di Malam Jum'at

Dari Aus bin Aus Radliallahu'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam bersabda,

مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَغَسَّلَ ، وَبَكَّرَ وَابْتَكَرَ ، وَدَنَا وَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ ، كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا أَجْرُ سَنَةٍ صِيَامُهَا وَقِيَامُهَا
“Barangsiapa yang mandi pada hari Jum’at dan memandikan istri (menyebabkan istri mandi karena menyetubuhinya), lalu ia pergi di awal waktu atau ia pergi dan mendapati khutbah pertama, lalu ia mendekat pada imam, mendengar khutbah serta diam, maka setiap langkah kakinya terhitung seperti puasa dan shalat setahun.” [HR. Tirmidzi no. 496. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih].

Ada ulama yang menafsirkan maksud hadits penyebutan mandi adalah "ghosal" bermakna mencuci kepala, sedangkan "ightasal" berarti mencuci anggota badan lainnya. Demikian disebutkan didalam Kitab Tuhfatul Ahwadzi 3:3.

Keutamaan Hubungan Intim (Jima') Di Malam Jum'at

Ada tafsiran lain mengenai makna mandi dalam hadits di atas sebagaimana kata Ibnul Qayyim di dalam Kitab Zaadul Ma’ad,

قال الإمام أحمد: (غَسَّل) أي: جامع أهله، وكذا فسَّره وكيع
Imam Ahmad berkata, makna “ghossala” adalah; menyetubuhi istri. Demikian pula yg ditafsirkan oleh Waki’.

Dan tafsiran di atas disebutkan pula di dalam Tuhfatul Ahwadzi 3:3. Dan sudah tentu hubungan intim menjadikan seseorang wajib untuk mandi junub.

Namun kalau kita lihat tekstual hadits di atas, yang dimaksud hubungan intim di sini adalah pada pagi hari pada hari Jum’at, bukan pada malam harinya. Sebagaimana hal ini dipahami oleh para ulama dan mereka (para ulama) tidak memahaminya pada malam Jum’at.

وقال السيوطي في تنوير الحوالك: « ويؤيده حديث: أيعجز أحدكم أن يجامع أهله في كل يوم جمعة، فإن له أجرين اثنين: أجر غسله، وأجر غسل امرأته. أخرجه البيهقي في شعب الإيمان من حديث أبي هريرة. »
Imam As Suyuthi dalam Tanwirul Hawalik, menguatkan hadits tersebut dan berkata:

˝Apakah kalian lemas (karena) menyetubuhi istri kalian pada setiap Jum’at (artinya bukan di malam hari, -pen).

Karena menyetubuhi saat itu mendapat dua pahala:
(1) pahala mandi Jum’at,
(2) pahala menyebabkan istri mandi (karena disetubuhi).˝

Hadits yang dimaksud dikeluarkan oleh Imam Al-Baihaqi dalam Kitab Syu’abul Iman dari hadits Abu Hurairah. Dan tentunya sah-sah saja jika mandi Jum’at digabungkan dengan mandi junub.

⭐Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan,

“Jika seseorang meniatkan mandi junub dan mandi Jum’at sekaligus, maka maksud tersebut dibolehkan.” [Silahkan periksa Al Majmu’, 1: 326]

Intinya,
  • bersetubuh pada malam Jum'at adalah pemahaman keliru yang tersebar di masyarakat.
  • Yang tepat dan yang dianjurkan, adalah hubungan intim pada pagi hari ketika mau berangkat Jumatan, dan bukan di malam hari.
  • Tentang anjurannya pun masih diperselisihkan oleh para ulama karena tafsiran yang berbeda dari mereka.


Semoga kita selalu mendapatkan taufiq dari Allah Ta'ala agar senantiasa kokoh di atas Sunnah. Dan Semoga bermanfaat. Wallaahu a'lam.

✍ Pesan ini disebarluaskan oleh BB Da'wah Ahlussunnah

Edisi: مجموعة الأخوة السلفية ✧[-✪MUS✪-]✧
Dikutip dari channel @ukhuwahsalaf
Baca selengkapnya »
wajib tahu, Inilah 5 Amalan Ketika Mendengar Azan

wajib tahu, Inilah 5 Amalan Ketika Mendengar Azan

Lima amalan tersebut telah disebutkan oleh Ibnul Qayyim sebagai berikut:

(1) mengucapkan seperti apa yang diucapkan oleh muadzin.

(2) bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Allahumma sholli ‘ala Muhammad atau membaca shalawat ibrahimiyyah seperti yang dibaca saat tasyahud.

(3) minta pada Allah untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wasilah dan keutamaan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Jabir bin ‘Abdillah: Allahumma robba hadzihid da’watit taammah wash sholatil qoo-imah, aati Muhammadanil wasilata wal fadhilah, wab’atshu maqoomam mahmuuda alladzi wa ‘adtah …

(4) membaca: Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, radhitu billahi robbaa wa bi muhammadin rosulaa wa bil islami diinaa, sebagaimana disebutkan dalam hadits Sa’ad bin Abi Waqqash.

(5) memanjatkan doa sesuai yang diinginkan. (Lihat Jalaa-ul Afham hal. 329-331)

Dalil untuk amalan nomor satu sampai dengan tiga disebutkan dalam hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِىَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِى الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِىَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ
“Jika kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh muadzin. Kemudian bershalawatlah untukku. Karena siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat padanya (memberi ampunan padanya) sebanyak sepuluh kali. Kemudian mintalah wasilah pada Allah untukku. Karena wasilah itu adalah tempat di surga yang hanya diperuntukkan bagi hamba Allah, aku berharap akulah yang mendapatkannya. Siapa yang meminta untukku wasilah seperti itu, dialah yang berhak mendapatkan syafa’atku.” (HR. Muslim no. 384).




Adapun meminta wasilah pada Allah untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan dalam hadits dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِى وَعَدْتَهُ ، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa mengucapkan setelah mendengar adzan ‘allahumma robba hadzihid da’watit taammah wash sholatil qoo-imah, aati Muhammadanil wasilata wal fadhilah, wab’atshu maqoomam mahmuuda alladzi wa ‘adtah’ [Ya Allah, Rabb pemilik dakwah yang sempurna ini (dakwah tauhid), shalat yang ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad wasilah (kedudukan yang tinggi), dan fadilah (kedudukan lain yang mulia). Dan bangkitkanlah beliau sehingga bisa menempati maqom (kedudukan) terpuji yang telah Engkau janjikan padanya], maka dia akan mendapatkan syafa’atku kelak.” (HR.Bukhari no. 614 )

Ada juga amalan sesudah mendengarkan azan jika diamalkan akan mendapatkan ampunan dari dosa. Dari Sa’ad bin Abi Waqqash, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا. غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ
“Siapa yang mengucapkan setelah mendengar azan: Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, radhitu billahi robbaa wa bi muhammadin rosulaa wa bil islami diinaa (artinya: aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, tidak ada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, aku ridha sebagai Rabbku, Muhammad sebagai Rasul dan Islam sebagai agamaku), maka dosanya akan diampuni.” (HR. Muslim no. 386)

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bahwa seseorang pernah berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya muadzin selalu mengungguli kami dalam pahala amalan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قُلْ كَمَا يَقُولُونَ فَإِذَا انْتَهَيْتَ فَسَلْ تُعْطَهْ
“Ucapkanlah sebagaimana disebutkan oleh muadzin. Lalu jika sudah selesai kumandang azan, berdoalah, maka akan diijabahi (dikabulkan).” (HR. Abu Daud no. 524 dan Ahmad 2: 172. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan). 

Artinya, doa sesudah azan termasuk di antara doa yang diijabahi.

Setelah menyebutkan lima amalan di atas, Ibnul Qayyim berkata, “Inilah lima amalan yang bisa diamalkan sehari semalam. Ingatlah yang bisa terus menjaganya hanyalah as saabiquun, yaitu yang semangat dalam kebaikan.” (Jalaa-ul Afham, hal. 333).

Mari kita amalkan walaupun sederhana, yang penting rutin dan istiqamah. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Referensi: Jalaa-ul Afham fii Fadhli Ash Shalah was Salaam ‘ala Muhammad Khoiril Anam, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar Ibni Katsir, cetakan kedua, tahun 1432 H.


Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal
Sumber : rumaysho.com
Baca selengkapnya »
Ringkasan kajian "Sifat sholat nabi" Oleh ustadz Muhammad Elvi Syam L.c., M.A.

Ringkasan kajian "Sifat sholat nabi" Oleh ustadz Muhammad Elvi Syam L.c., M.A.

1. Waktu shalat.

Waktu isya mulai dari habisnya cahaya merah di ufuk barat dari matahari hingga (1) setengah waktu malam (2)1/3 waktu malam. (Setengah malam hingga 11.45, 1/3 malam hingga 10.00)

Waktu subuh dimulai dari masuknya fajr shodiq (gatis putih memanjang di ufuk timur, dan waktu subuh di Indonesia dinilai terlalu cepat 20 menit dari fajr shodiq, sehingga untuk kehati hatian untuk memberi jarak lebih antara adzan dengan iqamah antara 25-30menit) akhir waktu subuh adalah terbitnya matahari.

Waktu shalat lainnya tidak terlalu ada penekanan.

2. Jika tidak kuasa shalat berdiri, maka tidak mengapa shalat duduk. Jika tidak kuasa duduk, maka dengan berbaring. Jika tidak kuasa berbaring, maka dengan isyarat.

Jika tidak mampu sholat berdiri sepenuhnya, maka dianjurkan untuk menggabungkan antara sholat berdiri dengan duduk jika masih mampu (jika orang tua sakit tua yang tidak memungkinkan berdiri lama, maka tidak mengapa membaca fatihah, ayat qur'an, ruqu', dan i'tidal dengan duduk, lalu sujud, iftirosy, dan tasyahud seperti biasa, atau pun sebaliknya). Dan juga dapat sholat hanya dengan berdiri sepenuhnya jika memiliki penyakit yang menyulitkan ruqu/sujud, maka dapat sholat berdiri dan kemudian ruqu'/sujud dengan duduk.

Sifat sholat nabi

Jika melaksanakan sholat dengan duduk, maka bedakan antara ruqu' dan sujud adalah dengan lebih merendahkan ketika sujud. Tidak perlu menambahkan sesuatu seperti bantal, meja, atau apapun itu sebagai alas sujud lalu sujud diatasnya.

Sholat dengan duduk dapat dilakukan untuk shalat wajib/sunnah.

3. Jika sholat di dalam kendaraan. 

maka jika dapat dimulai dengan tetap mengarah kiblat, tetapi jika tidak, terdapat rukshoh dari rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam dapat sholat mengikuti arah kendaraan sesuai dengan duduk kita.

4. Bersuci dari hadas besar dan kecil. 

Jika bisa mendapatkan air, maka hadas kecil dibersihkan dengan wudhu, dan hadas besar dengan mandi. Jika tidak, hadas kecil dan besar dapat dibersihkan dengan sho'id (bagian paling atas permukaan bumi) yang bersih.

Jika pakaian terkena najis dan kita tahu terkena najis sebelum shalat tetapi tetapdigunakan untuk shalat, maka shalatnya batal. Jika diketahui terkena najis setelah shalat, maka Inshaa Allah shalatnya tetap sah.

5. Shalat dengan menggunakan penutup kaki (sepatu/sandal/kauskaki) tetap sah.


6. Niat shalat tidak di jaharkan. Niat diperlukan sebagai pembeda antara ibadah yang dilakukan, dan cukup dengan niatkan shalat (fardhu/sunnah) (zuhur/ashar dll / qabliyah, dhuha, tahajud, dll). Tidak perlu membaca imam makmum karena jika berdiri dibelakang iman sudah pasti makmum. Tidak ada bacaan khusus niat, kerena letak niat yang utama adalah dihati.

7. Ketika shalat sunnah maupun wajib sendirian 

(ketika terpaksa sholat wajib sendiri bagi laki laki) maka disunnahkan meletakkan sutroh didepan posisi sholat kita, dengan jarak 3 depa(150-160cm), lalu posisisujud kepala kita kira kira setengah depa(25-30cm) dari sutroh tersebut. Jika ada yang akan melewati kita ketika shalat dan kita tahu, maka halangilah dengan menjulurkan sebelah tangan kedepan. 

Jika yang lewat itu hewan ataupun wanita (ketika haji, maka ini mungkin terjadi) maka dekatkanlan badan kita dengan sutroh dan maju kedepan.

8. Merapatkan dan meluruskan shaf, adalah WAJIB. Merapatkan shaf adalah dengan merapatkan bahu (bukan hanya ujung ujung siku) serta merapatkan mata kaki maupun tumit (bukan hanya ujung jari/ujung telapak kaki) hal seperti ini lebih utama.

9.Takbir

Merapatkan jari jari tangan, mengangkatkya setinggi bahu ataupun setinggi telingga, dan hidari hanya mengangkat tangan setinggi ketiak atau dibawahnya. Telapak tangan dihadapkan kedepan mengarah ke kiblat, tidak mengarah ke hal yang lain. Setelahnya letakkan tangan kiri dibawah, dengan tangan kanan diatasnya. Posisi tangan kanan dapat di atas punggung tangan kiri, di pergelangan tangan, maupun dilengan.

Tangan kanan dapat hanya diletakkan, atau menggemnggam tangan kiri. Tidak dianjurkan menggabungkan posisi mengenggam dan 3 jari hanya diletakkan diatas tangan kiri. Tangan kiri dan kakan diatas dada baik (diatas s*su maupun di ulu hati) dan tidak diatas (s*su) maupun di pinggang.

10. Iftitah

Ada 12 riwayat bacaan iftitah. Dan si sunnahkan tidak menggabungkan bacaan dari 12 riwayat yang bwrbeda tsb. Bacaan ifititah yang masyur "Allahuakhbar kabirrow hanya hingga wa ashillaa." sedangkan "wajjahtu wajhiya hingga ana minal muslimiin adalah berasal dari riwayat lainnya serta tidak lengkat hingga akhir doa tersebut. Sehingga jika membaca ifititah ini cukup "Allahu akbar kabiiroo wal-hamdu lillaahi katsiiro wa subhaanallaa hibukrotaw wa ashiilaa."

11. Bacaan fatihah/ummul kitab (surah al-fatihah) wajib, dengan bacaan bismillah di syir kan. Makmum tetap wajib membaca fatihah dengan syir dalam sholat yang bacaan fatihah nya syir (sholat zuhur dan ashar, rakaat 3 maghrib, rakaan 3 dan 4 isya). 

Dalam sholat yang bacaan fatihah nya jahr, Makmum (1) tidak membaca fatihah namun menyimak dengan teliti bacaan fatihah imam (2) makmum membaca fatihah setelah imam mengucapkan aamiin, baik imam memberi jarak antara aamiin dengan bacaan surah qur'an, maupun membaca fatihah bersamaan dengan imam membaca surah qur'an. 

Tidak dianjurkan makmum membaca fatihah ketika imam sedang membaca fatihah, baik ketika imam sedang membaca, maupun disela sela bacaan imam antar ayatnya.

Kajian akan dilanjutkan kembali minggu depan, 4 Februari 2018. Penulis meminta maaf dan bertaubat pada Allah Azza wa Jalla jika terdapat kesalahan penulis dalam meringkas kajian tersebut baik kesalahan dalam memahami pemaparan ustadz Muhammad Elvi Syam, maupun kesalahan penulis dalam penulisan ringkasan ini. Tidak lupa penulis mohon koreksinya atas kesalahan yang ada, agar dapat di perbaiki.

Padang. 26 Januari 2018 di Gedung Serba Guna Semen Padang, Indarung
oleh Hafry al minangkabawy.
Baca selengkapnya »
Pembatal Wudhu:

Pembatal Wudhu:

Pembatal Wudhu

1. Sesuatu yang keluar dari kemaluan depan atau belakang, berupa kotoran atau angin. 

2. Tidur nyenyak 

3. Hilangnya akal karena mabuk atau sakit 

4. Menyentuh kemaluan tanpa penghalang dengan diiringi syahwat 

5. Makan daging unta 

[Lihat Kitab: Al-Wajiz Fi Fiqhi As-Sunnah Wa Al-Kitabi Al-‘Aziz, hlm. 36-37]
Baca selengkapnya »
Wajib Tahu, Inilah Tata cara wudhu berdasarkan hadist shohih

Wajib Tahu, Inilah Tata cara wudhu berdasarkan hadist shohih



1. Membaca ‘Bismillah’. (HR. Abu Dawud no. 101, Lihat Shahih Jami’u ash-Shaghir, no. 744)

2. Membasuh kedua telapak tangan 3X. (HR. Bukhori no. 159 dan Muslim no. 226) 

3. Berkumur-kumur (madmadhoh) dan memasukkan air ke dalam hidung (istinsyaq) dengan satu cidukan tangan kanan. Kemudian air tersebut dikeluarkan (istintsar) 3X. (HR. Bukhori no. 159 dan Muslim no. 226 dan 235) 

4. Membasuh seluruh wajah 3X dan menyela-nyela jenggot (jika ada). (HR. Bukhori no. 159 dan Muslim no. 226) Batas wajah adalah dari tumbuhnya rambut di kening sampai dagu dan jenggot, dan kedua pipi hingga pinggir telinga. 

5. Membasuh tangan kanan hingga siku 3X, kemudian tangan kiri hingga siku 3X, sambil menyela-nyela jari-jemari. (HR. Bukhori no. 159 dan Muslim no. 226) 

6. Mengusap kepala dan mengusap telinga 1X. (HR. Bukhori no. 159 dan Muslim no. 226) 

7. Membasuh kaki kanan hingga mata kaki 3X, kemudian kaki kiri hingga mata kaki 3X, sambil menyela-nyela jari-jemari. (HR. Bukhori no. 159 dan Muslim no. 226) 

8. Setelah itu disunnahkan membaca do’a sebagai berikut: 

عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ( مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ أَوْ فَيُسْبِغُ الْوَضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ : أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، إِلا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ (رواه مسلم (234)
“Tidaklah salah seorang dari kalian berwudhu dan ia menyempurnakan wudhunya kemudian membaca, “Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, tiada sekutu bagiNya, dan Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah” melainkan akan dibukakan baginya pintu-pintu surga yang jumlahnya delapan, dan dia bisa masuk dari pintu mana saja ia mau”. (HR. Muslim no. 234 dan Abu Dawud no. 169)

( اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ التَّوَّابِينَ ، وَاجْعَلْنِي مِنْ الْمُتَطَهِّرِينَ ) زاد الترمذي (55) 
di riwayat imam tirmidzi no. 55 terdapat tambahan

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ التَّوَّابِينَ ، وَاجْعَلْنِي مِنْ الْمُتَطَهِّرِينَ
Baca selengkapnya »
MEMBAGI KERUGIAN DALAM MUDHARABAH

MEMBAGI KERUGIAN DALAM MUDHARABAH

Mudharabah adalah salah satu bentuk syarikah dalam jual beli. Islam telah menghalalkan sistem muamalah ini. Dan Islam telah melegalkan seluruh bentuk syarikah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata :

أَنَا ثَالِثُ الشَّرِيكَيْنِ مَا لَمْ يَخُنْ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ فَإِذَا خَانَهُ خَرَجْتُ مِنْ بَيْنِهِمَا
Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang berkongsi, selama salah seorang dari mereka tidak mengkhianati yang lainnya. Jika ia berkhianat, maka Aku-pun meninggalkan mereka berdua. [HR Abu Dawud].
عن السّائِبِ بن يزيدَ المخْزُومِيِّ رضيَ الهُ, عَنْهُ أَنّهُ كَانَ شريكَ النّبيِّ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم قَبْلَ الْبِعْثَةِ فَجَاءَ يَوْمَ الْفَتْح فَقَالَ: “مَرْحبَاً بأَخِي وَشريكي”
Diriwayatkan dari as Saaib bin Yazid al Makhzumi[2] Radhiyallahu anhu, bahwa ia adalah mitra kerja Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum diutus menjadi nabi. Ia mendatangi beliau pada hari penaklukan kota Makkah, lantas beliau bersabda: “Selamat datang saudaraku dan mitra kerjaku”.[3]
عَنْ عَبْدِ الهِ بْنِ مَسْعودٍ رضيَ الهُa تَعَالَى عَنْهُ قالَ: “اشتركْتُ أَنا وَعمّارٌ وَسَعْدٌ فيما نُصِيبُ يَوْمَ بَدْرٍ
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata : “Aku mengadakan kerja sama dengan ‘Ammaar dan Sa’ad dalam mengelola harta yang kami peroleh dari perang Badar”.[4]
MEMBAGI KERUGIAN DALAM MUDHARABAH

SYARIKAH ADA DUA JENIS

Pertama : Syarikah Amlaak

Yaitu penguasaan harta secara kolektif, berupa bangunan, barang bergerak atau barang berharga. Yaitu pensyarikahan dua orang atau lebih yang dimiliki melalui transaksi jual beli, hadiah, warisan atau yang lainnya. Dalam bentuk syarikah seperti ini kedua belah pihak tidak berhak mengusik bagian rekan kongsinya, ia tidak boleh menggunakannya tanpa seijin rekannya.

Kedua : Syarikah Uquud

Yaitu perkongsian dalam transaksi, misalnya, dalam transaksi jual beli atau lainnya. Bentuk syarikah seperti inilah yang hendak kami ulas dalam tulisan kali ini. Dalam syarikah seperti ini, pihak-pihak yang berkongsi berhak menggunakan barang syarikah dengan kuasa masing-masing. Dalam hal ini, seseorang bertindak sebagai pemilik barang, jika yang digunakan adalah miliknya. Dan sebagai wakil, jika barang yang dipergunakan adalah milik rekannya.

Syarikah Uquud ini, oleh para ahli fiqih dibagi menjadi lima bagian :

1. Syariqah Inaan

Yaitu dua orang atau lebih yang bersyarikah dengan harta masing-masing untuk dikelola oleh mereka sendiri, dan keuntungan dibagi di antara mereka, atau salah seorang sebagai pengelola dan mendapat bagian lebih banyak dari keuntungan, daripada rekannya.

2. Syarikah Mudharabah

Yaitu, seseorang sebagai pemodal menyerahkan sejumlah modal kepada pihak pengelola untuk diperdagangkan, dan dia berhak mendapat bagian tertentu dari keuntungan.

3. Syarikah Wujuuh

Yaitu dua orang atau lebih yang bersyarikah terhadap keuntungan dari barang dagangan yang mereka beli bersama tanpa modal. Pendapatan keuntungan dibagi atas dasar kesepakatan di antara mereka.

4. Syarikah Abdaan

Yaitu dua orang atau lebih yang bersyarikah pada harta halal hasil usaha mereka masing-masing. Atau bersyarikah pada harta yang mereka terima dari jasa tenaga atau keahlian mereka.

5. Syarikah Mufaawadhah

Yaitu masing-masing pihak menyerahakn kuasa penuh atas setiap transaksi materi maupun fisik, dalam bentuk jual beli dan dalam seluruh urusan mereka tanpa menggabungkan ke dalamnya keuntungan atau hutang-piutang yang bersifat pribadi. [5]

Dalam melakukan bentuk kerjasama ini, masing-masing harus menjaga sifat amanah. Apalagi terjadi kecurangan dan penipuan dari salah satu pihak, maka bentuk kerja sama ini batal dengan sendirinya. [6]

Pembahasan masalah syarikah ini sangat panjang. Namun dalam kesempatan kali ini, kita memfokuskan pembicaraan pada salah satu bentuk syarikah, yaitu syarikah mudharabah. Lebih khusus lagi, yakni berkaitan dengan masalah kerugian yang terjadi dalam syarikah mudharabah ini.

Masalah : Pihak pemodal menyerahkan uangnya kepada pihak pengelola, lalu terjadi kerugian dalam usaha tersebut sehingga menghabiskan uang milik pemodal. Maka siapakah yang menanggung kerugian tersebut? Apakah pihak pemodal atau pengelola atau keduanya?

Jawab : Ini adalah bentuk syarikah yang disebut mudharabah. Sebagian orang, yakni penduduk Hijaz menyebutnya qiraadh. Orang-orang umum menyebutnya dhimaar. Yaitu seseorang menyerahkan hartanya untuk dikelola oleh orang lain. Satu pihak disebut pemodal, dan pihak lain disebut pengelola

Kerugian dalam syarikah seperti ini disebut wadhii’ah. Kerugian ini mutlak menjadi tanggung jawab pemodal (pemilik harta), sama sekali bukan menjadi tanggungan pihak pengelola. Dengan catatan, pihak pengelola tidak melakukan kelalaian dan kesalahan prosedur dalam menjalankan usaha yang telah disepakati syarat-syaratnya. Kerugian pihak pengelola adalah dari sisi tenaga dan waktu yang telah dikeluarkannya tanpa mendapat keuntungan.

Pihak pemodal berhak mendapat keuntungan dari harta atau modal yang dikeluarkannya, dan pihak pengelola mendapat keuntungan dari tenaga dan waktu yang dikeluarkannya. Maka kerugian ditanggung pihak pemodal atau pemilik harta. Adapun pihak pengelola, ia mendapat kerugian dari jasa dan tenaga yang telah dikeluarkannya.

Ini adalah perkara yang telah disepakati oleh para ulama, seperti yang telah ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatawa (XXX/82).

Ibnu Qudamah al-Maqdisi dalam kitab al-Mughni (V/183) mengatakan, “Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini”.

Pada bagian lain (V/148), al-Maqdisi mengatakan, kerugian dalam syarikah mudharabah ditanggung secara khusus oleh pihak pemodal, bukan tanggungan pihak pengelola. Karena wadii’ah, hakikatnya adalah kekurangan pada modal. Dan ini, secara khusus menjadi urusan pemilik modal, bukan tanggungan pihak pengelola. Kekurangan tersebut adalah kekurangan pada hartanya, bukan harta orang lain. Kedua belah pihak bersyarikah dalam keuntungan yang diperoleh.

Seperti dalam kerja sama musaaqat dan muzaara’ah, dalam kerja sama ini, tuan tanah atau pemilik pohon bersyarikah dengan pihak pengelola atau pekerja dalam keuntungan yang dihasilkan dari kebun dan buah. Namun, jika terjadi kerusakan pada pohon atau jatuh musibah atas tanah tersebut, misalnya tenggelam atau musibah lainnya, maka pihak pengelola atau pekerja tidak menanggung kerugian sekalipun.

Masalah : Akan tetapi bagaimana hukumnya bila pihak pengelola dan pihak pemodal telah membuat syarat dan kesepakatan, bahwa kerugian yang diderita dibagi dua atau sepertiga ditanggung pihak pengelola, dan selebihnya pihak pemodal?

Jawab : Syarat dan kesepakatan seperti ini bertentangan dengan Kitabullah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengatakan.
مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَشْتَرِطُونَ شُرُوطًا لَيْسَتْ فِي كِتَابِ الهِr مَنِ اشْتَرَطَ شَرْطًا لَيْسَ فِي كِتَابِ الهِe فَلَيْسَ لَهُ وَإِنِ اشْتَرَطَ مِائَةَ شَرْطٍ
“Mengapa sejumlah orang mengajukan syarat-syarat yang tidak ada dalam Kitabullah? Barangsiapa mengajukan syarat yang tidak ada dalam Kitabullah, maka tidak diterima, meskipun ia mengajukan seratus syarat”. [7]

Ibnu Qudamah al-Maqdisi menegaskan batalnya syarat-syarat ini, tanpa ada perselisihan di kalangan ulama. [8] Ibnu Qudamah berkata, “Intinya, apabila disyaratkan atas pihak pengelola tanggung jawab terhadap kerugian atau mendapat bagian tanggungan dari wadhii’ah (kerugian), maka syarat itu bathil. Kami mengetahui adanya perselisihan dalam masalah ini.

Barangkali para pemodal akan mengatakan : “Kalian para ulama telah membuka pintu seluas-luasnya bagi para pengelola untuk mempermainkan uang kami. Apabila kami menuntutnya, mereka mengatakan, ‘Kami mengalami kerugian”.

Kalau pengelola tadi adalah orang yang lemah iman; lemah imannya kepada hari akhirat dan berani menjual agamanya dengan materi dunia, maka orang seperti inilah yang berani mempermainkan harta kaum muslimin, lalu mereka bersumpah telah mengalami kerugian. Kelonggaran ini bukanlah disebabkan fatwa dan pendapat ahli ilmu. Kewajiban atas pemilik harta adalah, mencari orang yang amanah agamanya dan ahli dalam pekerjaannya. 

Jika tidak menemukan orang seperti ini, maka hendaklah ia menahan hartanya. Adapun ia serahkan hartanya kepada orang yang tidak amanah dan tidak bisa mengelola lalu berkata, Ahli Ilmu telah membuka pintu bagi pengelola untuk mempermainkan harta kami, maka alasan seperti ini, sama sekali tidak bisa diterima.

Masalah : bolehkah pihak pengelola menanggung kerugian atas kerelaan darinya, tanpa paksaan?

Jawaban : Apabila pihak pengelola turut menanggung kerugan atas kerelaan darinya dan tanpa tekanan dari pihak manapun, maka hal itu dibolehkan, bahkan itu termasuk akhlak yang terpuji. Wallahu ‘alam

Masalah : Bagaimana bila pada jual beli pertama mereka mendapat keuntungan, lalu pada jual beli kedua mereka mendapat kerugian, apakah keuntungan pada jual beli pertama dibagi dahulu, lalu kerugian pada jual beli kedua menjadi tanggungan pihak pengelola? Ataukah keuntungan itu dipakai untuk menutupi kerugian, lalu sisanya dibagi kemudian?

Jawab : Dalam kasus seperti ini, keuntungan harus digunakan lebih dulu untuk menutupi kerugian. Jika keuntungan tersebut masih tersisa setelah modal ditutupi, maka baru kemudian dibagi kepada pihak pengelola dan pihak pemodal menurut kesepakatan mereka. Demikian yang dijelaskan oleh para ulama.

Ibnu Qudamah dalam kitab al-Mughni (V/169) mengatakan :”Masalah, pihak pengelola tidak berhak mengambil keuntungan hingga ia menyerahkan modal kepada pihak pemodal. Apabila dalam usaha terjadi kerugian dan keuntungan, maka kerugian ditutupi dengan keuntungan. Baik kerugian dan keuntungan itu diperoleh dalam satu transaksi, ataupun kerugian terjadi pada transaksi pertama, lalu keuntungan dihasilkan pada transaksi berikutnya. Karena keuntungan itu hakikatnya adalah, sesuatu yang lebih dari modal dasar. Dan apabila tidak lebih, maka belum dihitung sebagai keuntungan. Kami tidak mengetahui adanya perselisihan pendapat di kalangan dalam masalah ini”.

Demikian pula yang dikatakan oleh Ibnul Mundzir dalam kitab al-Ijma (halaman 112 nomor 534). Beliau rahimahullah berkata :”Para ulama sepakat, bahwa pembagian keuntungn (itu) dibolehkan, apabila pihak pemodal telah mengambil modalnya”.

Hanya saja Ibnu Hazm menyebutkan dalam kitab Maraatibul Ijma, halaman 93, baha para ulama berselisih pendapat dalam masalah ini. Namun kesimpulanya, pendapat yang kuat adalah yang telah kita jelaskan diatas.

Apabila keuntungan telah dihitung dan dibagikan, dan masing-masing pihak telah mengambil bagian dari keuntungan, lalau setelah itu terjadi kerugian, maka dalam kasus ini, pihak pengelola tidak berhak memaksa pihak pemodal untuk menutupi kerugian dan keuntungan yang telah dibagikan, sudah menjadi, hak masing-masing. Wallahu ‘alam

Masalah : Bagaimana bila pihak pengelola melanggar syarat atau melakukan kesalahan prosedur dalam usaha sehingga menyebabkan kerugian?

Jawab : Kerugian tersebut menjadi tanggungan pihak pengelola yang telah melanggar persyaratan yang telah disepakati, atau melakukan kelalaian, atau kesalahan prosedur. Sejumlah ahli ilmu telah menyebutkan kesepakatan ulama dalam masalah ini, di antaranya adalah Ibnu Hazm dalam kitab Maraatibul Ijma (hal. 93), dan Ibnul Mundzir dalam Al-Ijma (hal.112 nomor 535). Namun Ibnu Abi Syaibah menukil dalam Mushannaf-nya (IV/402-403) dari Az-Zuhri rahimahullah, bahwa beliau menyelisihi ijma’ ini. Demikian pula atsar dari Thawus dan Al-Hasan.

Ibnu Qudamah mengatakan dalam Al-Mughni (VII/162) : “Apabila pihak pengelola melakukan pelanggaran prosedur, atau melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukannya, atau membeli sesuatu yang dilarang untuk dibeli, maka ia bertanggung jawab terhadap harta tersebut. Demikianlah menurut pendapat mayoritas ahli ilmu”.

Namun pendapat yang kuat adalah, pihak pengelola bertanggung jawab atas kerugian tersebut, jika ia melanggar syarat. Karena seorang mukmin wajib memenuhi syarat-syarat yang telah mereka sepakati. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
الْمُسْلِمُونَ عِنْدَ شُرُوطِهِمْ إِلاَّ شَرْطًا أَحَلَّ حَرَامًا أَوْ حَرَّمَ حَلاَلاً
“Kaum muslimin harus menepati syarat-syarat yang telah mereka sepakati, kecuali syarat yang mehalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal”,

Masalah : Namun, bagaimana jika pihak pengelola melanggar syarat, akan tetapi ia mendapat keuntungan?

Jawab : Sebagian ahli ilmu berpendapat bahwa keuntungan merupakan hak pemilik modal. Karena harta itu merupakan hartanya. Sebagian ahli ilmu lainnya berpendapat, bahwa keuntungan menjadi hak pengelola. Karena dialah yang bertanggung jawab apabila terjadi kerugian. Ada pula ulama yang berpendapat, bahwa keuntungan itu menjadi harta sedekah, diberikan kepada fakir miskin. Ada yang berpendapat, keuntungan diserahkan kepada pemodal. Adapun si pengelola berhak memperoleh uang jasa yang setimpal. Ada pula yang berpendapat, keuntungan tersebut dibagi menurut kesepakatan merka berdua.

Pendapat inilah yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah sebagaimana tersebut di dalam Majmu Fatawa (XXX/86-87). Wallahu a’lam

Masalah : Bolehkah pihak pengelola mencampur modal tersebut dengan hartanya? Bagaimana bila itu terjadi ?

Jawab : Ibnu Qudamah di dalam kitab Al-Mughni (VII/158) menjelaskan, pihak pengelola tidak boleh mencampur modal mudharabah dengan hartanya. Jika ia melakukan itu, lalu ia tidak bisa memilah mana hartanya dan mana modal mudharabah, maka ia menanggung kerugian yang mungkin terjadi karenanya. Karena ia yang diberi amanah, (dan) modal tersebut ibarat wadhi’ah (barang titipan)”.

Masalah : Bagaimana bila masih bersisa dari harta mudharabah, bolehkah pihak pengelola mengambilnya?

Jawab : Apabila pihak pengelola mendapati di tangannya masih tersisa harta mudharabah, maka ia tidak boleh mengambilnya, kecuali dengan izin pihak pemodal.

Ibnu Qudamah mejelaskan dalam kitab Al-Mughni (VII/171). Intinya, apabila terlihat keuntungan pada harta mudharabah, maka pihak pengelola tidak boleh mengambilnya tanpa seizin pihak pemodal. Kami tidak mengetahui adanya perselisihan di kalangan ulama dalam masalah ini. Pihak pengelola tidak berhak mengambilnya karena tiga alasan.

Pertama : Keuntungan digunakan untuk menutupi modal dasar, masih terbuka kemungkinan keuntungan tersebut dipakai untuk menutupi kerugian. Sehingga belum bisa disebut sebagai keuntungan.

Kedua : Pemilik modal –dalam hal ini- mitra bisnisnya, dia tidak boleh memotong haknya sebelum pembagian.

Ketiga : Kepemilikan atas keuntungan itu belum tetap, karena bisa saja keuntungan tersebut diambil kembali untuk menutupi kerugian. Namun, apabila pemilik modal mengizinkannya maka ia boleh mengambilnya.karena harta tersebut merupakan hak mereka berdua, dan tidak akan keluar dari hak keduanya.

Maraji

1. Minhajus Salikin, SyaikhAbdurrahmanbin Nashir As-Sa’di
2. Al-Mughni, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi
3. Taudhihul Ahkam, Al-Bassam
4. Bulughul Maram, Ibnu Hajar Al-Asqalani
5. Silsilah Al-Fatawa ASy-Syar’iyyah, Abul Hasan Al-Ma’ribi
6. Mausu’ah Manaahi Syar’iyyah, Syakh Salim bin Id Al-Hilali

Oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsari

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun X/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183]
___
Footnote

[1]. HR Abu Dawud (3383), ad Daraquthni (303), al Hakim (V/52) dan dishahihkan oleh beliau, al Baihaqi (VI/78) dan disetujui oleh al Mundziri dalam at Targhib (III/31). Al Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam at Talkhis (III/49): “Ibnul Qaththan melemahkan hadits tersebut, karena adanya perawi majhul, yaitu Sa’id bin Hayyan, yaitu ayah Abu Hayyan. Adapun ad Daraquthni mendhaifkannya karena irsal (salah satu bentuk keterputusan di akhir sanad)”. Oleh sebab itu, dalam Irwaul Ghalil (1468), al Albani mendhaifkannya karena dua cacat di atas.

[2]. Ibnul Jauzi berkata dalam kitabnya, at Talqih: “Ia bernama Shafiyu bin ‘Aidz al Makhzumi. Demikian yang disebutkan oleh ash Shuwary ‘Aidz”. Syaikh kami, Ibnu an Nashir berkata: “Yang benar adalah ‘Aabid (dengan huruf ba’ dan dzal muhmalah)”. Ibnu Abdil Barr berkata: “Ia termasuk orang yang dijinakkan harinya dan menjadi baik keislamannya. Ia hidup hingga masa pemerintahan Mu’awiyah”.

[3]. Hadits riwayat Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah.

[4]. Hadits riwayat an Nasaa-i dan lainnya.

[5]. Lihat Taudhihul Ahkam, al Bassam (IV/127).

[6]. Lihat kitab Manhajus Salikin, kitab jual beli.

[7]. Hadits riwayat al Bukhari (2735) dan Muslim (1504).

[8]. Lihat kitab al Mughni (V/183).

Sumber: https://almanhaj.or.id/2075-membagi-kerugian-dalam-mudharabah.html
Baca selengkapnya »
Hal-Hal Yang Harus Diketahui SHALĀT QASHAR BAGI MUSAFIR

Hal-Hal Yang Harus Diketahui SHALĀT QASHAR BAGI MUSAFIR

سم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله و بعد
Sahabat bimbingan Islam yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, kita memasuki pembahasan tentang sholat seorang Musafir.

قال المصنف رحمه الله:
Penulis - rahimahullah - berkata:

(( و يجوز للمسافر قصر الصلاة الرباعية بخمس شرائط))
"Bagi seorang musafir (yaitu orang yang bepergian) diperbolehkan untuk mengqashar sholat yang empat rakaat (yaitu menjadikan sholat yang empat rokaat menjadi 2 rokaat) dengan ketentuan memenuhi 5 syarat:"

Hukum Qashar

Hukumnya adalah sunnah menurut mayoritas para ulama termasuk ulama syafi’iyyah.

Ini adalah rukhsoh atau keringanan dalam syariat yang Allāh berikan bagi orang – orang yang melakukan safar/perjalanan jauh.

Safar secara umum menimbulkan matsaqqah kondisi yang berat, apakah capai atau kelelahan ataupun kesulitan, oleh karena itu dalam kaedah fikih disebutkan

المشقة تجلب التيسير
Kesulitan menghasilkan kemudahan
Maksudnya syariat memberikan keringanan dan kemudahan dalam perkara-perkara yang menimbulkan masyaqqoh atau kesulitan.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ
"Dan Allāh tidak menjadikan kesulitan bagi kalian dalam agama ini." (QS Al Hajj: 78)
SHALĀT QASHAR BAGI MUSAFIR

Dalil tentang bolehnya qashar dalam safar diantaranya firman Allah ta’ala:

{ وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَقْصُرُواْ مِنَ الصَّلاَةِ }
Apabila kalian bepergian dimuka bumi, maka tidak mengapa bagi kalian untuk mengqashar sholat. (QS Annisā': 101)

Adapun sholat maghrib maka tidak diqashar dan tetap dilakukan 3 rakaat, berdasarkan hadits ibnu 'Umar, begitu pula sholat subuh, dan ini adalah ijmak.

Bolehnya Qashar dalam safar apabila memenuhi 5 syarat yang disebutkan dalam matan abi syuja’

Syarat Yang Pertama

((أن يكون سفره في غير معصية،))
1. Safar yang dilakukan bukan safar maksiat.

Karena rukhsoh atau keringanan tidaklah diberikan pada pelaku maksiat. Oleh karena itu, bolehnya qashar meliputi safar yang wajib, seperti safar untuk menunaikan haji Islam, atau melunasi hutang.

Begitu pula safar yang sunnah, seperti haji sunnah, umroh, silaturahmi dan lain-lain. Juga termasuk safar yang mubah seperti safar untuk perdagangan yang mubah.

Adapun safar untuk tujuan maksiat atau mendatangi tempat maksiat atau dengan tujuan yang haram dan semisalnya, atau disebutkan dalam madzhab Syafi'i, safar yang tidak ada tujuannya, maka tidak diberi rukhsoh (keringanan) untuk menqashar sholat.

Bagaimana dengan orang yang menyengaja safar demi mendapatkan rukhsoh atau keringanan, seperti bolehnya berbuka puasa dan perkara-perkara yang rukhsoh lainnya dalam safar ?

Hukumnya orang tersebut tidak mendapatkan rukhsoh, hal,ini ditegaskan oleh fuqoha Syafi’iyyah, Hanabilah, dan merupakan pendapat imam ibnul Qayyim dan syaikh Utsaimin.

Syarat Yang Kedua

((وأن تكون مسافته ستة عشر فرسخا بلا إياب ))
2. Jarak tempuh perjalanan mencapai minimal 16 farsakh, tanpa dihitung jarak perjalanan pulang.

Dari ibnu abbas beliau berkata:

((يا أهلَ مَكَّةَ، لا تَقْصُروا في أقلَّ مِن أربعةِ بُرُد ، وذلِك مِن مَكَّةَ إلى الطَّائفِ وعُسْفَانَ))
Wahai para penduduk Mekkah, janganlah kalian menqashar sholat apabila kurang dari 4 burud, dan itu jarak dari mekkah ke Thaif dan 'Usfan.

Dikeluarkan imam Syafi'i dalam al Umm nya dan mensahihkan dari ibnu Abbas, ibnu Taymiyah dalam Majmu’ Fatawa dan ibnu Hajar dalam Talhis alHabir.

4 Burud = 16 farsakh = 48 mil = 88 km

Mengenai jarak tempuh yang diperbolehkan qashar, ada 2 pendapat yang paling terkemuka.

Pendapat pertama:

Jaraknya tertentu yaitu 88 km atau 16 farsakh, ini adalah pendapat Syafi'iyyah serta jumhur mayoritas ulama.

Pendapat kedua:

Yang menjadi patokan adalah kembali kepada urf atau kebiasaan masyarakat, bukan kepada jarak. Apabila dalam urf sudah dikatakan termasuk safar, apakah jaraknya lebih pendek atau lebih panjang dari 88 Km, maka termasuk safar. Apabila menurut urt tidak dikatakan safar maka tidak termasuk safar.

Ini adalah pendapat madzhab dzhohiriyah, sebagian Hanabilah, imam ibnu Qudamah, ibnu Taymiyyah, ibnul Qoyyim, asy Syaukani, asy Syinqithy, ibn 'Utsaimin dan al Albani, dengan dalil-dalil yang mereka kemukakan.

Pada intinya adalah tidak ada dalil tentang penentuan jarak dan semua dalil tentang safar mutlak, tidak menyebutkan jaraknya.

Syarat Yang Ketiga

((وأن يكون مؤديا للصلاة الرباعية.))
3. Telah menunaikan sholat yang empat rakaat.

Maksudnya adalah seseorang yang tertinggal sholat yang 4 rakaat dalam kondisi mukim, apabila safar, maka kewajiban orang tersebut tetaplah 4 rakaat dan tidak menjadi 2 rakaat walaupun dia safar. Karena beban 4 rakaat adalah beban pada saat dia mukim.

Dan apabila seseorang tertinggal sholat yang 4 rakaat dalam safarnya, apabila dilakukan dalam keadaan safar maka menjadi 2 rakaat, namun apabila dilakukan setelah selesai safar dan sudah sampai atau dalam keadaan mukim, maka kembali menjadi 4 rakaat.

Syarat Yang Keempat

((وأن ينوي القصر مع الإحرام.))
4. Meniatkan qashar tatkala takbiratul ihram.

Karena asal dari sholat adalah menyempurnakan menjadi 4 rakaat, maka apabila tidak berniat untuk qashar, maka wajib untuk menyempurnakan menjadi 4 rakaat kembali kepada asal.

Syarat Yang Kelima

((وأن لا يأتم بمقيم.))
5. Tidak bermakmum dengan imam yang mukim.

Apabila seorang musafir bermakmum bermakmum dengan imam yang mukim, baik sebagian rakaat ataupun seluruhnya, maka seorang yang musafir wajib untuk menyempurnakan sholatnya sebagaimana Imam yang mukim.

Demikian yang dapat disampaikan, semoga bermanfa'at.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
〰〰〰〰〰〰〰
🌍 BimbinganIslam.com
👤 Ustadz Fauzan S.T., M.A.
📗 Matan Abū Syujā' | Kitāb Shalāt
🔊 Kajian 55 | Shalāt Qashar Bagi Musafir

Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
Baca selengkapnya »
Bila Asyuro Jatuh Pada Hari Jum’at Atau Sabtu

Bila Asyuro Jatuh Pada Hari Jum’at Atau Sabtu

Perlu diketahui bahwa ada hadits-hadits yang berisi larangan menyendirikan puasa Jum’at dan larangan puasa Sabtu kecuali puasa yang wajib. Apakah larangan ini tetap berlaku ketika hari Asyuro jatuh pada hari Jum’at atau Sabtu?!

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Adapun bagi orang yang tidak menyengaja untuk puasa karena hari Jum’at atau Sabtu, seperti orang yang puasa sehari sebelum dan sesudahnya atau kebiasaannya adalah puasa sehari dan berbuka sehari, maka boleh baginya puasa Jum’at walaupun sebelum dan sesudahnya tidak puasa.
Asyuro

Atau dia ingin puasa Arafah atau Asyura' yang jatuh pada hari Jum’at, maka tidaklah dilarang, karena larangan itu hanya bagi orang yang sengaja ingin mengkhususkan (hari Jum’at dan Sabtu tanpa sebab, Pen.).” (Kitabush Shiyam min Syarhil Umdah 2/652. Lihat pembahasan masalah ini secara luas dalam Zadul Ma’ad 2/79, Tahdzibus Sunan 3/297 krya Ibnul Qoyyim)

Intinya, maksud hadits-hadits larangan tersebut adalah jika seseorang mengkhususkan. Adapun jika tidak maka tidak mengapa insya Allah. Inilah pendapat yang kuat dalam masalah ini untuk menggabungkan beberapa hadits sebagaimana dikuatkan oleh mayoritas ulama kita.

Menarik sekali ucapan sebagian peneliti masalah ini tatkala mengatakan,

“Dahulu saya mengikuti Syaikh kami al-Albani dalam pendapatnya yang melarang puasa Sabtu secara mutlak, sampai-sampai saya tidak puasa Asyura' dalam beberapa tahun karena saya meyakininya sebagai pendapat yang benar.

Namun, setelah penelitian terhadap pendapat para ulama dalam masalah ini, nyatalah bagi saya tanpa keraguan bahwa puasa hari Sabtu tanpa mengkhususkan dan maksud pengagungan adalah disyari’atkan.” (Al-Qaulul Qawim fi Istihbab Shiyam Yaumi Sabti hlm. 7–8 oleh Abu Umar Usamah ibn Athaya. Lihat pula kitab Hukmu Shaumi Yaumi Sabti fi Ghairil Faridhah oleh asy-Syaikh Sa’ad ibn Abdillah alu Humaid).

Kami tegaskan hal ini agar semua mengetahui bahwa kami tidaklah fanatik dan taklid kepada siapa pun termasuk kepada asy-Syaikh al-Albani, karena kami berputar bersama dalil dengan tetap menghormati mereka dan orang-orang yang mengikuti pendapat mereka, karena kita semua adalah bersaudara.

Abu Ubaidah As Sidawi
Channel Telegram @yusufassidawi
📲 JOIN : http://bit.ly/LenteraDakwah
Baca selengkapnya »
3 Ketentuan dalam Melaksanakan Puasa-puasa Sunnah

3 Ketentuan dalam Melaksanakan Puasa-puasa Sunnah

Dalam melaksanakan puasa-puasa sunnah ada beberapa ketentuan yang sedikit berbeda dengan pelaksanaan puasa wajib di bulan Ramadhan. Diantaranya sebagai berikut:

1. Boleh berniat untuk berpuasa sunnah setelah terbit fajar selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.

Dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa, ia berkata,

دَخَلَ عَلَىَّ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ « هَلْ عِنْدَكُمْ شَىْءٌ ». فَقُلْنَا لاَ. قَالَ « فَإِنِّى إِذًا صَائِمٌ ». ثُمَّ أَتَانَا يَوْمًا آخَرَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أُهْدِىَ لَنَا حَيْسٌ. فَقَالَ « أَرِينِيهِ فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِمًا ». فَأَكَلَ.
Artinya: “Telah mendatangi ku Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam di suatu hari, lalu Beliau bertanya: Apakah kalian mempunyai sesuatu (makanan atau minuman)? Maka kami menjawab: Tidak ada, lalu Beliau berkata: Jika begitu maka aku berpuasa. Kemudian beliau mendatangi kami pada hari lainnya, lalu kami berkata: Wahai Rasulullaah kami di beri hadiah berupa Hais (makanan dari kura, samin dan keju). Maka Beliau berkata: Berilah kepada ku hais itu, sungguh aku berpuasa tadi pagi." (HR. Muslim nomor 1154).
Melaksanakan Puasa

2. Boleh melanjutkan atau membatalkan puasa sunnah. Dalilnya hadits dari 'Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa yang telah kami tulis diatas.

3. Istri tidak boleh berpuasa sunnah kecuali dengan izin suaminya.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَصُومُ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
Artinya: “Janganlah seorang wanita (istri) berpuasa sementara suaminya ada kecuali dengan izin suaminya” (HR. Bukhari nomor 5192 dan Muslim nomor 1026)

Puasa yang dimaksud diatas adalah puasa sunnah, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Imam An-Nawawi rahimahullaah.

Demikianlah sedikit penjelasan seputar puasa-puasa sunnah di dalam Islam, semoga kita dimudahkan oleh Allah subhaanahu wa ta'aala untuk mengamalkan puasa-puasa sunnah.
Baca selengkapnya »
Syarat Sah Menyembelih

Syarat Sah Menyembelih

1.Ahliyatul Mudzakkiy atau terpenuhinya kriteria menyembelih pada jagal yaitu berakal walau pun usianya Mumayyiz (dewasa), dan dia muslim.

2. Alat menyembelih yaitu semua alat yang tajam namun bukan gigi dan kuku.

3. Memotong saluran nafas (Al-Hulqum), saluran makanan (Al-Mari') dan Al-Wajdain.

Letak bagian sembelihan adalah bagian antara pangkal leher dan dada ternak atau disebut dengan Al-Lubbah. dan Ulama bersepakat tidak boleh menyembelih selain ini.

4. Membaca Bismillah , ini dilakukan ketika tangan telah mulai bergerak menyembelih.

[Diringkas dari Abhast Hai'ah kibarul Ulama 2/ 610-611]
sapi lagi makan

Tapi kalau setiap kali kurban diserahkan ke panitia, kapan bisa menyembelih dan mengamalkan Sunnah !?

Allahu Akbar, Allahu Akbar , Allahu Akbar Walillahil Hamd...
Baca selengkapnya »
Sholat Jum’ah Bertepatan Dengan Hari ‘Ied

Sholat Jum’ah Bertepatan Dengan Hari ‘Ied

ASY-SYAIKH AL-ALBANI ROHIMAHULLOH BERKATA:

ظَاهِرُ حَدِيْثِ زَيْدِ بْنِ أَرْقَم عِنْدَ أَحْمَدَ وَأَبِي دَاوُدَ وَالنَّسَائِي وَابْنِ مَاجَه بِلَفْظٍ : «أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ صَلَّى العِيْد ثُمَّ رَخَّصَ فِي الجُمُعَةِ فَقَالَ :
Dzohir hadits Zaid bin Arqom riwayat Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Majah dengan lafadz: bahwasanya Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam melaksanakan sholat ‘Ied kemudian diberikan keringanan pada hari jum’at seraya beliau berkata:

 مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ». يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الجُمُعَةَ تَصِيْرُ بَعْدَ صَلاَةِ العِيدِ رُخْصَةٌ لِكُلِّ النِّاسِ فَإِنْ تَرَكَهَا النَّاسُ جَمِيْعًا فَقَد عَمِلُوا بِالرُّخْصَةِ وَإِن فَعَلَهَا بَعْضُهُمْ فَقَدْ استَحَقَّ الأَجْرَ وَلَيْسَتْ بِوَاجِبَةٍ عَلَيهِ مِنْ غَيْرِ فَرْقٍ بَينَ الإِمَامِ وَغَيْرِهِ.
 “barang siapa yang ingin sholat, maka sholatlah.” Maka ini menunjukkan bahwasanya sholat jum’at setelah sholat ‘ied menjadi rukhshoh (keringanan) bagi setiap manusia, kalaupun manusia meninggalkan semuanya, maka sungguh mereka telah mengamalkan rukhshoh (keringanan), dan kalaupun mereka mengerjakannya (sholat jum’at), maka ia telah pantas mendapatkan pahala dan bukanlah suatu kewajiban baginya tanpa ada perbedaan antara Imam maupun selainnya.” [Al-Ajwibah An-Nâfi’ah]

catatan
- keringanan ini membolehkan bagi mereka yg hendak sholat jumat atau zhuhur saja, bukan menggugurkan keduanya
Sholat Jum’ah Bertepatan Dengan Hari ‘Ied

Baca selengkapnya »
Qurban harus setiap tahun atau sekali seumur hidup?

Qurban harus setiap tahun atau sekali seumur hidup?

📜 Di desa kami, ketika kami ajak untuk berqurban, maka biasa yang ia ucapkan, “Saya sudah pernah berqurban.” Ada pula yang berkata, “Saya sudah berqurban tahun lalu.”

✅ Yang perlu diketahui bahwa para ulama memberikan syarat dalam berqurban adalah muslim, mampu (berkecukupan), sudah baligh (dewasa) dan berakal.

✅ Walaupun memang tidak diwajibkan untuk berqurban, namun baiknya setiap tahun tetap berqurban apalagi mampu, kaya atau berkecukupan. Hukum berqurban yang tepat memang sunnah (dianjurkan) menurut kebanyakan ulama.
Qurban harus setiap tahun atau sekali seumur hidup?

🔹 Imam Nawawi dalam Al Minhaj (3: 325) berkata, “Qurban itu tidak wajib kecuali bagi yang mewajibkan dirinya untuk berqurban (contoh: nadzar).”

🔹 Dalam Al Majmu’ (8: 216), Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Menurut madzhab Syafi’i dan madzhab mayoritas ulama, hukum qurban adalah sunnah muakkad bagi yang mudah (punya kelapangan rezeki) untuk melakukannya dan itu tidak wajib.”

🔹 Di kitab lainnya, Imam Nawawi mengatakan, “Para ulama berselisih pendapat mengenai wajibnya qurban bagi orang yang memiliki kelapangan rezeki. Menurut mayoritas ulama, hukum berqurban adalah sunnah. Jika seseorang meninggalkannya tanpa udzur (tidak berdosa), ia tidaklah berdosa dan tidak ada qadha’ (tidak perlu mengganti).” (Syarh Shahih Muslim, 13: 110)

❗ Artinya, apa yang dikatakan Imam Nawawi bahwa siapa yang punya kemampuan (kelapangan rezeki) setiap tahun untuk berqurban tetaplah berqurban.

💝 Nasehat untuk Berqurban

❗ Jangan sampai enggan berqurban karena takut harta berkurang.
❗ Jangan sampai enggan berqurban karena khawatir akan kurang modal usaha.
❗ Jangan sampai enggan berqurban karena khawatir tidak bisa hidupi lagi keluarga.

✅ Justru dengan berqurban harta semakin berkah, usaha semakin dimudahkan, segala kesulitan terangkat, lebih-lebih kesukaran di akhirat.

✅ Juga terbukti, berqurban dan bersedekah tidak pernah menjadikan orang itu miskin.

⁉ Atau ada yang pernah lihat ada orang yang jatuh bangkrut dan miskin gara2 ikut qurban?

❗ Justru yang pelit dengan hartanya yang biasa merugi dan jatuh pailit.

🖌 Noted: Tetap dasari semuanya ikhlas meraih ridha Allah.

🔹 Ingatlah yang Allah janjikan,

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39).

🔹 Ingatlah yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
“Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim no. 2558)

💌 Hanya Allah yang memberi taufik.

✍ Akhukum fillah: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
artikel: rumaysho.com
Baca selengkapnya »
Pedoman Panitia Penyembelihan Hewan Qurban

Pedoman Panitia Penyembelihan Hewan Qurban

Pertanyaan :

Assalamu 'alaikum wr. wb.

Mohon maaf ustadz, saya kebetulan dipilih menjadi ketua panitia penyembelihan hewan qurban di kantor. Dalam beberapa rapat, di tengah teman-teman panitia seringkali muncul perbedaan pendapat yang terkait dengan beberapa hal, baik yang boleh dan tidak boleh.

Akhirnya kami sepakat untuk mengumpulkan bahan-bahan yang kami perselisihkan dan kami tanyakan kepada ustadz yang kami sepakati sebagai narasumber. Berikut adalah beberapa pertanyaan yang terkumpul, mohon dijawab.

Adakah Kepanitaan Penyembelihan Hewan Qurban di Masa Rasulullah SAW?Apakah Kedudukan Panitia Bisa Disamakan Dengan Amil ZakatBolehkah Panitia Diberi Honor Atau Upah?Kalau Boleh Diberi Upah, Dari Masa Sumber Uangnya?Sumber Keuangan Panitia Yang DiharamkanMengapa Panitia Diharamkan Menjual Daging Hewan Qurban dan Bagian Tubuhnya?Apakah Panitia Termasuk Pemilik Hewan Qurban?

Sebelumnya kami ucapkan terima kasih jazakallahu khairan katsira.

Wassalam

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Pertanyaan-pertanyaan di atas memang cukup penting menarik untuk dibahas. Dan harus diakui bahwa seringkali pertanyaan di atas diperdebatkan, khususnya oleh para panitia penyembelihan hewan qurban.
Pedoman Panitia Penyembelihan Hewan Qurban

Dan kalau diperhatikan, memang dii tengah masyarakat luas seringkali kita temukan pamahaman yang kurang tepat sehingga perlu untuk diluruskan.

1. Adakah Kepanitiaan Penyembelihan Hewan Qurban di Masa Rasulullah Shallallahu alahi wasallam?

Kalau kita merujuk ke masa Rasulullah Shallallahu alahi wasallam, sebenarnya kita tidak akan menemukan wujud kepanitiaan qurban seperti yang kita kenal di masa kita sekarang ini. Dan di masa itu jelas tidak akan kita temukan spanduk-spanduk qurban yang bertebaran di pojok-pojok jalanan seperti yang kita lihat sekarang.

Maka kedudukan kepanitiaan ini pada dasarnya tidak punya landasan masyru'iyah khusus. Baik Al-Quran maupun Sunnah, keduanya sama-sama tidak menyebut-nyebut landasaran masyru'iyah kepanitiaan ini.

Lantas kalau begitu, apakah kepanitiaan ini menjadi haram atau bid'ah?

Tentu jawabnya tidak juga. Tidak mentang-mentang di masa Nabi Shallallahu alahi wasallam sesuatu itu belum ada wujudnya, lantas kita bisa seenaknya menjatuhkan vonis bid'ah. Kalau memang begitu logikanya, maka keberadaan takmir masjid pun bid'ah juga. Bukankah di masa Nabi Shallallahu alahi wasallam tidak kita temukan lembaga yang namanya takmir masjid atau Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) ?

Jadi meski tidak ada rujukan resmi, namun keberadaan panitia penyembelihan hewan qurban ini jelas-jelas sangat diperlukan, karena sifatnya membantu orang-orang agar dapat melaksanakan penyembelihan hewan qurban.

2. Kedudukan Panitia Sangat Berbeda Dengan Amil Zakat

Salah satu kesalahan fatal yang terlanjur beredar secara liar di tengah masyarakat adalah menyamakan status dan kedudukan serta fungsi panitia penyembelihan hewan qurban dengan kedudukan amil zakat. Dan tugas kita adalah meluruskan kekeliruan pemahaman ini.

Jelas sekali bahwa panitia qurban itu tidak sama dengan amil zakat. Kita menemukan banyak point perbedaan antara keduanya, sebagiannya adalah :

a. Amil Zakat Sudah Ada di Masa Nabi

Di masa Nabi Shallallahu alahi wasallam, justru kepanitiaan zakat sudah ada dan memang diangkat secara resmi oleh Rasulullah Shallallahu alahi wasallam sendiri. Bahkan jenisnya bukan sekedar kepanitiaan yang bersifat insidentil, melainkan bisa dikatakan sebuah instutusi atau lembaga resmi negara.

Sementara kita tidak menemukan dalil baik dalam Quran atau Sunnah yang memerintahkan secara langsung pembentukan panitia. Walaupun hukumnya boleh, tetapi kita tidak menemukan dasar masyru'iyahnya di masa lalu.

Karena itu, dalam kebanyakan kitab fiqih, kita nyaris tidak pernah menemukan bab yang secara khusus membahas tentang tugas dan wewenang panitia penyembelihan hewan qurban.

b. Amil Zakat Berhak Memungut

Rasulullah Shallallahu alahi wasallam secara resmi mengangkat dan menugaskan para petugas resmi negara sebagai pemungut zakat. Mereka diberi kewenangan untuk menarik harta zakat dari para wajib zakat. Pihak-pihak yang membangkang dan menolak bayar zakat bisa dihukum dan hartanya boleh dirampas oleh petugas zakat resmi negara.

Sementara, panitia penyembelihan hewan qurban tidak bisa memungut atau memaksa orang untuk berqurban. Sebab secara hukum, kepanitiaan tidak punya dasar konstitusi yang jelas. Oleh karena itu tentu juga tidak punya kekuatan hukum untuk memaksa.

Lagian, menyembelih hewan qurban itu hukumnya bukan kewajiban, tetapi sunnah. Kecuali mazhab Al-Hanafiyah yang mewajibkan, seluruh ulama (jumhur) sepakat bahwa hukumnya bukan wajib tetapi sunnah dengan segala variannya.

c. Amil Zakat Diberi Hak Untuk mengutip Secara Syariah

Dan yang paling membedakan antara amil zakat dengan panitia penyembelihan hewan qurban adalah dalam masalah hak-hak yang dibenarkan. Dalam hukum syariah, para petugas zakat memang secara resmi dan sah telah diberikan hak untuk mendapatkan fee, upah atau gaji tetap, yang sumbernya diambil dari harta zakat yang terkumpul.

Al-Quran secara resmi menyebutkan dan menjamin bahwa para petugas zakat ini termasuk salah satu dari delapan asnaf. Dan para ulama menyebutkan, hak yang boleh menjadi jatah buat amil zakat adalah 1/8 bagian dari total harta zakat. Dan angka 1/8 bagian ini cukup besar, karena setara dengan 12,5 persen. Bila harta zakat yang terkumpul 8 milyar, maka jatah buat amil 1 milyar.

Namun sangat jauh berbeda hak-hak amil zakat dengan panitia qurban. Di dalam Al-Quran tidak pernah disebutkan masalah kepanitiaan penyembelihan hewan qurban. Dan tentunya juga tidak ada 'jatah' khusus yang menjadi hak para anggota panitia.

Namun ada riwayat bahwa Rasulullah Shallallahu alahi wasallam pernah meminta tolong kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahuanhu dan beberapa shahabat untuk membantu menyembelihkan hewan qurban. Kalau hal ini mau dianggap sebagai dasar dari kepanitiaan, silahkan saja.

Namun harus dicatat bahwa sebagai 'panitia', ternyata Ali bin Abi Thalib dan para shahabat yang lain tidak pernah diberi 'jatah' atau uang jasa atas pekerjaannya menjadi panitia. Yang ada justru sebalinya, mereka malah nombok karena harus merogoh isi kantung sendiri guna membayar para jagal.

أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا وَأَنْ لاَ أُعْطِىَ الْجَزَّارَ مِنْهَا قَالَ : نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا
Rasulullah Shallallahu alahi wasallam memerintahkanku untuk mengurusi unta-unta qurban beliau. Aku mensedekahkan daging, kulit, dan jilalnya (kulit yang ditaruh pada punggung unta untuk melindungi dari dingin). Aku tidak memberi sesuatu pun dari hasil sembelihan qurban kepada tukang jagal. Beliau bersabda, “Kami akan memberi upah kepada tukang jagal dari uang kami sendiri”. (HR. Muslim)

Justru panitia qurban diharamkan mengutip, memotong atau mengambil 'fee', kalau sumbernya berasal dari tubuh hewan yang telah dijadikan sembelihan qurban.

3. Bolehkah Panitia Diberi Honor Atau Upah?

Sejak awal harus ditegaskan, kenapa seseorang merasa ingin menjadi bagian dari panitia penyembelihan hewan qurban? Dan kenapa kepanitiaan itu harus dibentuk? Apa yang menjadi dasar motivasinya? Apakah semata-mata ikhlas ingin membantu tanpa mengharapkan pamrih, ataukah memang mengharapkan dapat bagian?

Kedua motivasi itu pada dasarnya sah-sah saja. Orang yang jadi panitia dan sama sekali tidak mengharapkan upah atau bagian apapun, tentu akan mendapatkan pahala di sisi Allah SWT. Karena walau pun dia tidak menjalankan ibadah penyembelihan hewan qurban, namun karena ikut membantu pihak yang menyembelih, tentu akan kebagian pahalanya juga, meski nilainya tentu tidak sebesar pemilik hewan.

Dan mereka yang jadi panitia dengan berharap agar dapat upah, pada dasarnya tidak bisa disalahkan juga. Sebab dia tentu sudah mengeluarkan banyak tenaga, pikiran, dan waktu, demi suksesnya kegiatan. Kalau untuk semua hal yang dilakukan itu dia berharap dapat upah, tentu kita tidak bisa menafikan.

Sebab para muadzdzin, para imam shalat lima waktu di masjid dan juga para guru mengaji, semua berhak mendapatkan upah dan gaji, walaupun apa yang mereka lakukan itu pada hakikatnya adalah ibadah. Namun kalau mereka mendapatkan imbalan atas jasa dan waktunya, syariat Islam tidak melarangnya. Bahkan jasa mengajarkan Al-Quran bisa dijadikan sebagai mahar atau maskawin.

4. Kalau Boleh Diberi Upah, Dari Masa Sumber Uangnya?

Upah buat panitia itu boleh, wajar dan manusiawi. Tetapi yang harus dicatat adalah dari masa sumber uangnya?

Jawabnya bahwa sumber uang buat upah itu boleh dari mana saja asalkan halal dan asalkan tidak diambil dari daging atau bagian tubuh hewan qurban. Sebab kalau sumbernya dari hewan, maka hukumnya haram.

5. Sumber Keuangan Panitia Yang Diharamkan

Kesalahan paling fatal yang selama ini dilakukan oleh banyak kepanitiaan adalah bahwa upah dan honornya diambilkan dari daging atau bagian tubuh hewan itu. Ada dua macam cara keliru yang terlanjur dilakukan.

a. Melebihkan Jatah Buat Panitia

Panitia diberi jatah khusus yang lebih banyak dari pada jatah buat orang-orang. Misalnya, jatah buat masyarakat satu kantung 0,5 Kg, sedangkan jatah buat panitia sebanyak 2 Kg atau empat kali lipat jatah masyarakat umum. Maka kelebihan jatah yang 1,5 Kg itu pada hakikatnya adalah upah.

Dan jatah buat panitia 2 Kg daging ini kalau dijadikan sebagai akad sejak awal, tentu hukumnya menjadi haram.

b. Menjual Bagian Tubuh dan Uangnya Dibagikan Untuk Panitia

Cara kedua adalah dengan cara menjual kepala, kaki dan kulit hewan kepada pihak lain. Biasanya para jagal dan makelarnya memang datang untuk membelinya. Lalu semua itu dijual dan uangnya dibagi-bagi sebagai upah panitia. Alasannya, dari pada kepala, kulit dan kaki itu dibuang, mending dijual dan uangnya buat honor dan upah panitia.

Cara ini pun pada dasarnya sama, yaitu menjual daging dan bagian tubuh hewan qurban, padahal pemiliknya sudah mempersembahkannya kepada Allah. Dan tentu saja hukumnya menjadi haram dari dua sisi. Pertama, haram karena menjual apa yang sudah jadi milik Allah. Kedua, haram karena menjual barang yang bukan miliknya.

6. Mengapa Diharamkan Menjual?

Lalu mengapa diharamkan buat panitia atau jagal mendapat upah dari daging atau bagian tubuh hewan?

Jawabnya adalah karena pada hakikatnya hewan yang telah diqurbankan itu sudah bukan lagi milik siapa pun, tetapi sudah menjadi milik Allah Shallallahu alahi wasallam. Orang yang berqurban, ketika dia menyembelih sudah berikrar dan mempersembahkan hewan itu kepada Allah Shallallahu alahi wasallam. Maka status daging dan seluruh bagian tubuh lainnya sudah bukan lagi miliknya, tetapi menjadi milik Allah. Dan kalau sudah menjadi milik Allah, tidak boleh lagi diperjual-belikan atau dijadikan upah pembayaran.

Sebagai perbandingan, hewan qurban ini mirip dengan sebidang tanah yang diwakafkan dan bersertifikat. Dengan status wakaf itu, maka tanah itu sudah bukan lagi milik orang yang berwakaf, tetapi sudah menjadi milik Allah. Maka haram hukumnya menjual tanah wakaf. Baik pemilik tanah aslinya sebagai orang yang berwakaf (waqif), ataupun pengelola tanah wakaf (nadzir), keduanya sama-sama diharamkan memperjual-belikan tanah wakaf.

Demikian juga dengan panitia penyembelihan hewan qurban, mereka diharamkan menjual daging dan bagian-bagian tubuh hewan qurban, dan juga haram mengambil uangnya sebagai upah atau jasa.

Dalam hal ini para ulama sepakat bahwa panitia jelas-jelas diharamkan menerima honor yang diambilkan dari bagian tubuh hewan. Kalau pun panitia harus diberi honor dan uang lelah, sumbernya tidak boleh dari bagian tubuh hewan yang sudah disembelih. Sumber dananya bisa diambilkan dari pemilik hewan di luar harga hewan, atau dari keuntungan panitia berjualan hewan, atau dari uang kas panitia lainnya.

Kalau panitia tidak boleh menerima upah yang sumbernya dari hewan qurban, apakah dengan demikian maka panitia diharamkan ikut makan daging yang telah disembelih?

Jawabnya tidak haram. Panitia tentu saja dibolehkan ikut makan dan menikmati daging hewan. Syaratnya, apa yang dimakan oleh para panitia itu bukan sebagai upah atau honor. Jadi panitia boleh ikut makan, selama judulnya bukan upah atau honor.

Kalau orang lain yang tidak ikut kerja boleh makan, masak panitia malah tidak boleh ikut makan? Bahkan orang kafir sekalipun dibolehkan ikut menikmati daging hewan qurban, masak panita yang justru beragama Islam malah haram memakannya?

Tentu tidak demikian cara kita memahaminya. Yang benar adalah bahwa siapa saja, termasuk yang jadi panitia, boleh ikut makan daging hewan qurban. Tidak peduli, apakah dia muslim atau bukan, panitia atau bukan, semua orang boleh ikut menikmati dagingnya.

Yang tidak boleh adalah menjadikan daging atau bagian tubuh hewan itu sebagai honor, alat pembayaran, upah, atau fee atas jasa-jasa penyembelihan dan sejenisnya.

Lalu apakah panitia tidak boleh menerima sekedar uang lelah atau honor?

Jawabnya panitia justru harus diberi uang lelah dan honor. Sebab panitia itu memang sudah menghabiskan waktu dan tenaga, maka wajar kalau mereka diberi upah secara profesional.

7. Panitia Bukan Pemilik Hewan Qurban

Kadang ada saja orang yang bikin-bikin alasan yang tidak benar. Misalnya, hewan-hewan itu sudah jadi 'milik' panitia, dan pemilik aslinya, yaitu orang yang berqurban, sejak awal sudah menyerahkan hewan-hewan itu kepada panitia. Maka status hewan-hewan itu sudah menjadi hak milik panitia. Dan sebagai pemilik yang sah, panitia dianggap berhak untuk menjualnya.

Tentu saja logika ini sangat keliru dan ngawur. Tidak benar kalau dibilang bahwa panitia adalah pemilik hewan qurban. Sebab pemilik yang asli tidak pernah menyerahkan hewan itu sebagai hadiah atau pemberian cuma-cuma. Pemiliknya menyerahkan hewan kepada panita sebagai 'amanat' alias titipan. Dan sebagai pihak yang diberikan titipan, tentu tidak tiba-tiba menjadi pemilik.

Ibaratnya, kita memarkir kendaraan di tempat parkir valet. Meski kita serahkan kunci mobil kepada petugasnya, namun tidak berarti kita memberinya hadiah mobil. Petugas itu cuma diberi amanah untuk memarkirkan mobil kita di tempatnya. Itu saja dan tidak lebih. Petugas valet parking itu tidak pernah tiba-tiba berubah menjadi pemilik mobil titipan. Oleh karena itu dia tidak boleh menjual mobil itu kepada pihak lain, dan juga tidak boleh mempreteli onderdil seenaknya.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA
Baca selengkapnya »
Batasan Bermesraan Dengan Istri yang Sedang Haid

Batasan Bermesraan Dengan Istri yang Sedang Haid

Fikih Hubungan Intim

Para ulama sepakat bahwa menyetubuhi istri ketika haid atau nifas adalah haram.

Adapun mengenai hukum bermesraan dengan wanita yang haid, maka di sini ada dua keadaan:

Jika bermesraannya pada bagian di atas pusar dan atau di bawah lutut, maka para ulama sepakat akan bolehnya hal tersebut. Ini berdasarkan ayat:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُواْ النِّسَاء فِي الْمَحِيضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىَ يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللّهُ
“Mereka bertanya kepadamu tentang (darah) haid. Katakanlah, “Dia itu adalah suatu kotoran (najis)”. Oleh sebab itu hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanita di tempat haidnya (kemaluan). Dan janganlah kalian mendekati mereka, sebelum mereka suci (dari haid). Apabila mereka telah bersuci (mandi bersih), maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah: 222)
Bermesraan Dengan Istri

dimana Allah hanya menyuruh untuk menjauhi kemaluan. Dan juga berdasarkan hadits Aisyah di atas, dimana Nabi -alaihishshalatu wassalam- memerintahkan untuk menutupi bagian kemaluan istrinya dengan sarung.

Jika bermesraan pada bagian antara lutut dan pusar, maka di sini ada beberapa pendapat. Namun pendapat yang paling tepat adalah pendapat Aisyah, Ummu Salamah, Ummu Athiyah, Asy-Sya’bi, Mujahid, Atha’, Ikrimah, Ats-Tsauri, Ishaq, Al-Auzai, Daud, dan merupakan mazhab Al-Malikiah, Asy-Syafi’iyah, dan pendapat Imam Ahmad, serta yang dikuatkan oleh Imam Ibnul Mundzi:

Mereka menyatakan:

Bolehnya melakukan apa saja dengan wanita haid kecuali jima’ (bertemunya dua yang dikhitan). Karenanya dibolehkan bermesraan dengan wanita haid pada bagian antara lutut dan pusar dengan syarat kedua kemaluan tidak bertemu. Di antara dalilnya adalah ayat di atas, dimana yang disuruh jauhi hanyalah kemaluan. 

Juga berdasarkan hadits Aisyah; dimana Nabi -alaihishshalatu wassalam- memerintahkan untuk hanya menutupi bagian kemaluan. Dan yang lebih tegas dari itu adalah hadits Anas bin Malik dimana Nabi -alaihishshalatu wassalam- bersabda:

اصْنَعُوا كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا النِّكَاحَ
“Perbuatlah segala sesuatu kecuali nikah,” (HR. Muslim no. 455) yakni: Jima’.

Catatan:

Walaupun hal ini dibolehkan, akan tetapi bagi yang mengkhawatirkan dirinya bisa terjatuh melakukan jima’, maka hendaknya dia tidak bermesraan dengan istrinya di masa haid. Ini berdasarkan isyarat dari ucapan Aisyah -radhiallahu anha-,“Hanya saja, siapakah di antara kalian yang mampu menahan hasratnya sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menahan.”

Terima kasih, semoga bermanfaat.

Sumber disarikan dari : Antara Haid dan Lelaki
artikel republish from whatsapp group dakwah
Baca selengkapnya »
BILA HARI IED (Idul Fitri dan Idul Adha) JATUH PADA HARI JUMAT

BILA HARI IED (Idul Fitri dan Idul Adha) JATUH PADA HARI JUMAT

Bagaimana bila hari ied (Idul Fitri dan Idul Adha) jatuh atau bertepatan dengan hari Jumat? Apakah shalat jumatnya bisa gugur?

Untuk masalah ini para ulama memiliki dua pendapat.

Pendapat Pertama:

Orang yang melaksanakan shalat ‘ied tetap wajib melaksanakan shalat Jum’at.

Inilah pendapat kebanyakan pakar fikih. Akan tetapi ulama Syafi’iyah menggugurkan kewajiban ini bagi orang yang nomaden (al bawadiy). Dalil dari pendapat ini adalah:

Pertama: Keumuman firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ
“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (QS. Al Jumu’ah: 9)

Kedua: Dalil yang menunjukkan wajibnya shalat Jum’at. Di antara sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ
“Barangsiapa meninggalkan tiga shalat Jum’at, maka Allah akan mengunci pintu hatinya.” (HR. Abu Daud no. 1052, dari Abul Ja’di Adh Dhomri. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Ancaman keras seperti ini menunjukkan bahwa shalat Jum’at itu wajib.
HARI IED

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِى جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوِ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِىٌّ أَوْ مَرِيضٌ
“Shalat Jum’at merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim dengan berjama’ah kecuali empat golongan: (1) budak, (2) wanita, (3) anak kecil, dan (4) orang yang sakit.” (HR. Abu Daud no. 1067, dari Thariq bin Syihab. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Ketiga: Karena shalat Jum’at dan shalat ‘ied adalah dua shalat yang sama-sama wajib (sebagian ulama berpendapat bahwa shalat ‘ied itu wajib), maka shalat Jum’at dan shalat ‘ied tidak bisa menggugurkan satu dan lainnya sebagaimana shalat Zhuhur dan shalat ‘Ied.

Keempat: Keringanan meninggalkan shalat Jum’at bagi yang telah melaksanakan shalat ‘ied adalah khusus untuk ahlul bawadiy (orang yang nomaden seperti suku Badui). Dalilnya adalah,

قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ ثُمَّ شَهِدْتُ مَعَ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ فَكَانَ ذَلِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، فَصَلَّى قَبْلَ الْخُطْبَةِ ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ هَذَا يَوْمٌ قَدِ اجْتَمَعَ لَكُمْ فِيهِ عِيدَانِ ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْتَظِرَ الْجُمُعَةَ مِنْ أَهْلِ الْعَوَالِى فَلْيَنْتَظِرْ ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ فَقَدْ أَذِنْتُ لَهُ
“Abu ‘Ubaid berkata bahwa beliau pernah bersama ‘Utsman bin ‘Affan dan hari tersebut adalah hari Jum’at. Kemudian beliau shalat ‘ied sebelum khutbah. Lalu beliau berkhutbah dan berkata, “Wahai sekalian manusia. Sesungguhnya ini adalah hari di mana terkumpul dua hari raya (dua hari ‘ied). Siapa saja dari yang nomaden (tidak menetap) ingin menunggu shalat Jum’at, maka silakan. Namun siapa saja yang ingin pulang, maka silakan dan telah kuizinkan.” (HR. Bukhari no. 5572)

Pendapat Kedua:

Bagi orang yang telah menghadiri shalat ‘ied boleh tidak menghadiri shalat Jum’at. Namun imam masjid dianjurkan untuk tetap melaksanakan shalat Jum’at agar orang-orang yang punya keinginan menunaikan shalat Jum’at bisa hadir, begitu pula orang yang tidak shalat ‘ied bisa turut hadir.

Pendapat ini dipilih oleh mayoritas ulama Hambali. Dan pendapat ini terdapat riwayat dari ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Az Zubair. Dalil dari pendapat ini adalah:

Pertama: Diriwayatkan dari Iyas bin Abi Romlah Asy Syamiy, ia berkata, “Aku pernah menemani Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan ia bertanya pada Zaid bin Arqom,

أَشَهِدْتَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عِيدَيْنِ اجْتَمَعَا فِى يَوْمٍ قَالَ نَعَمْ. قَالَ فَكَيْفَ صَنَعَ قَالَ صَلَّى الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِى الْجُمُعَةِ فَقَالَ « مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّىَ فَلْيُصَلِّ ».
“Apakah engkau pernah menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dengan dua ‘ied (hari Idul Fitri atau Idul Adha bertemu dengan hari Jum’at) dalam satu hari?” “Iya”, jawab Zaid. Kemudian Mu’awiyah bertanya lagi, “Apa yang beliau lakukan ketika itu?” “Beliau melaksanakan shalat ‘ied dan memberi keringanan untuk meninggalkan shalat Jum’at”, jawab Zaid lagi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mau shalat Jum’at, maka silakan.” (HR. Abu Daud no. 1070, An-Nasai no. 1592, dan Ibnu Majah no. 1310. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Asy Syaukani dalam As-Sailul Jaror (1: 304) mengatakan bahwa hadits ini memiliki syahid (riwayat penguat). Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ (4: 492) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid (antara shahih dan hasan, pen.). ‘Abdul Haq Asy Syubaili dalam Al Ahkam Ash Shugro (321) mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. ‘Ali Al Madini dalam Al Istidzkar (2/373) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid (antara shahih dan hasan, pen). Syaikh Al Albani dalam Al Ajwibah An Nafi’ah (49) mengatakan bahwa hadits ini shahih. (Dinukil dari http://dorar.net)
Intinya, hadits di atas bisa digunakan sebagai hujjah atau dalil.

Kedua: Dari seorang tabi’in bernama ‘Atha’ bin Abi Rabbah, ia berkata,

صَلَّى بِنَا ابْنُ الزُّبَيْرِ فِى يَوْمِ عِيدٍ فِى يَوْمِ جُمُعَةٍ أَوَّلَ النَّهَارِ ثُمَّ رُحْنَا إِلَى الْجُمُعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْنَا فَصَلَّيْنَا وُحْدَانًا وَكَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ بِالطَّائِفِ فَلَمَّا قَدِمَ ذَكَرْنَا ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ أَصَابَ السُّنَّةَ.
“Ibnu Az-Zubair ketika hari ‘ied yang jatuh pada hari Jum’at pernah shalat ‘ied bersama kami di awal siang. Kemudian ketika tiba waktu shalat Jum’at Ibnu Az-Zubair tidak keluar, beliau hanya shalat sendirian. Tatkala itu Ibnu ‘Abbas berada di Thaif. Ketika Ibnu ‘Abbas tiba, kami pun menceritakan kelakuan Ibnu Az Zubair pada Ibnu ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas pun mengatakan, “Ia adalah orang yang menjalankan ajaran Nabi (ashobas sunnah).” (HR. Abu Daud no. 1071. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih). 

Jika sahabat mengatakan ashobas sunnah (menjalankan sunnah), itu berarti statusnya marfu’ yaitu menjadi perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Diceritakan pula bahwa ‘Umar bin Al-Khattab melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Ibnu Az-Zubair. Begitu pula Ibnu ‘Umar tidak menyalahkan perbuatan Ibnu Az-Zubair. Begitu pula ‘Ali bin Abi Tholib pernah mengatakan bahwa siapa yang telah menunaikan shalat ‘ied maka ia boleh tidak menunaikan shalat Jum’at. Dan tidak diketahui ada pendapat sahabat lain yang menyelisihi pendapat mereka-mereka ini. (Lihat Shahih Fiqh As-Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1: 596, Al-Maktabah At-Taufiqiyah)

Kesimpulan

– Boleh bagi orang yang telah mengerjakan shalat ‘ied untuk tidak menghadiri shalat Jum’at sebagaimana berbagai riwayat pendukung dari para sahabat dan tidak diketahui ada sahabat lain yang menyelisihi pendapat ini.

– Pendapat kedua yang menyatakan boleh bagi orang yang telah mengerjakan shalat ‘ied tidak menghadiri shalat Jum’at, ini bisa dihukumi marfu’ (perkataan Nabi) karena dikatakan “ashobas sunnah (ia telah mengikuti ajaran Nabi)”. Perkataan semacam ini dihukumi marfu’ (sama dengan perkataan Nabi), sehingga pendapat kedua dinilai lebih tepat.

– Mengatakan bahwa riwayat yang menjelaskan pemberian keringanan tidak shalat jum’at adalah khusus untuk orang yang nomaden seperti orang badui (yang tidak dihukumi wajib shalat Jum’at), maka ini adalah terlalu memaksa-maksakan dalil. Lantas apa faedahnya ‘Utsman mengatakan, “Namun siapa saja yang ingin pulang, maka silakan dan telah kuizinkan”? Begitu pula Ibnu Az Zubair bukanlah orang yang nomaden, namun ia mengambil keringanan tidak shalat Jum’at, termasuk pula ‘Umar bin Khottob yang melakukan hal yang sama.

– Dianjurkan bagi imam masjid agar tetap mendirikan shalat Jum’at supaya orang yang ingin menghadiri shalat Jum’at atau yang tidak shalat ‘ied bisa menghadirinya. Dalil dari hal ini adalah anjuran untuk membaca surat Al A’laa dan Al Ghosiyah jika hari ‘ied bertemu dengan hari Jum’at pada shalat ‘ied dan shalat Jum’at. 

Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقْرَأُ فِى الْعِيدَيْنِ وَفِى الْجُمُعَةِ بِ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَ (هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ) قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِى يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِى الصَّلاَتَيْنِ.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca dalam dua ‘ied dan dalam shalat Jum’at “sabbihisma robbikal a’la” dan “hal ataka haditsul ghosiyah”.” An-Nu’man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari ‘ied bertepatan dengan hari Jum’at, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat. (HR. Muslim no. 878)

Hadits ini juga menunjukkan dianjurkannya membaca surat Al-A’laa dan Al-Ghasiyah ketika hari ‘ied bertetapan dengan hari Jum’at dan dibaca di masing-masing shalat (shalat ‘ied dan shalat Jum’at).

– Siapa saja yang tidak menghadiri shalat Jum’at dan telah menghadiri shalat ‘ied, maka wajib baginya untuk mengerjakan shalat Zhuhur sebagaimana dijelaskan pada hadits yang sifatnya umum. Hadits tersebut menjelaskan bahwa bagi yang tidak menghadiri shalat Jum’at, maka sebagai gantinya, ia menunaikan shalat Zhuhur (4 raka’at). (Lihat Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah li Al-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta’, 8: 182-183, pertanyaan kelima dari Fatwa no. 2358, Mawqi’ Al-Ifta’)
Semoga apa yang kami sajikan ini bermanfaat bagi kaum muslimin. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
—————

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com
Baca selengkapnya »
🍁Satu Kambing Bisa untuk Satu Keluarga🍁

🍁Satu Kambing Bisa untuk Satu Keluarga🍁

🍃🍃🍃
Sahabat Muslim dan muslimah, ketahuilah bahwa satu ekor kambing sudah cukup untuk kurban satu keluarga, dan pahalanya bisa mencakup seluruh anggota keluarga sekalipun jumlah mereka banyak, mencakup baik masih hidup dan yang sudah meninggal.

🍂🍂🍂
Hal ini sebagaimana hadits dari Abu Ayyub radliallahu 'anhu,

كَانَ الرَّجُلُ يُضَحِّي بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ فَيَأْكُلُونَ وَيُطْعِمُونَ
"Pada masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, seseorang biasa berqurban dengan seekor kambing (diniatkan) untuk dirinya dan satu keluarganya. Lalu mereka memakan qurban tersebut dan memberikan makan untuk yang lainnya." (HR. Tirmidzi no. 1505, shahih)
Satu Kambing

🌴🌴🌴
Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam Zaadul Ma'ad berkata, "Di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, satu kambing sah untuk qurban satu orang beserta keluarganya walau jumlah mereka banyak."

🌾🌾🌾
"Jika anggota keluarga banyak dan berada dalam satu rumah, maka boleh saja berqurban dengan satu qurban. Akan tetapi jika bisa berqurban lebih dari satu, itu lebih afdhol." (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, 11: 408).

🌵🌵🌵
Jadi sahabat tidak perlu mengkhususkan kurban untuk salah satu anggota keluarganya tertentu. Misalnya, kurban tahun ini untuk bapaknya, tahun depan untuk ibunya, tahun berikutnya untuk anak pertama, dan seterusnya. Sungguh ini merupakan karunia dan kemurahan Allah yang sangat luas sehingga tidak perlu dibatasi dengan satu orang tertentu.
Baca selengkapnya »
-->