IBX5A47BA52847EF DakwahPost: hukum
SMS Maaf-maafan Menjelang Ramadan

SMS Maaf-maafan Menjelang Ramadan

Assalamu ‘alaikum. Benarkah isi sms maaf-maafan yang marak tersebar akhir-akhir ini? Isinya:

Ketika Rasullullah sedang berkhutbah pada Shalat Jum’at (dalam bulan Sya’ban), beliau mengatakan Amin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasullullah mengatakan Amin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan Amin. Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasullullah berkata Amin sampai tiga kali. Ketika selesai shalat Jum’at, para sahabat bertanya kepada Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan: “ketika aku sedang berkhutbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasullullah Amin-kan do’a ku ini,” jawab Rasullullah.

Do’a Malaikat Jibril adalah: “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:

1) Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);
2) Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri;
3) Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.

Jawaban:
Wa’alaikumussalam warahmatullah.

Hampir semua orang yang menuliskan hadis ini tidak ada yang menyebutkan periwayat hadisnya. Setelah dicari, hadis ini pun tidak ada di kitab-kitab hadis. Setelah berusaha mencari-cari lagi, saya menemukan ada orang yang menuliskan hadis ini kemudian menyebutkan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, 3:192 dan Ahmad, 2:246, 254. Ternyata, pada kitab Shahih Ibnu Khuzaimah, 3:192, juga pada kitab Musnad Imam Ahmad, 2:246 dan 2:254 ditemukan hadis berikut:

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم رقي المنبر فقال : آمين آمين آمين فقيل له يارسول الله ما كنت تصنع هذا ؟ ! فقال : قال لي جبريل : أرغم الله أنف عبد أو بعد دخل رمضان فلم يغفر له فقلت : آمين ثم قال : رغم أنف عبد أو بعد أدرك و الديه أو أحدهما لم يدخله الجنة فقلت : آمين ثم قال : رغم أنف عبد أو بعد ذكرت عنده فلم يصل عليك فقلت : آمين قال الأعظمي : إسناده جيد
“Dari Abu Hurairah; Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam naik mimbar lalu bersabda, ‘Amin … amin … amin.’ Para sahabat bertanya, ‘Kenapa engkau berkata demikian, wahai Rasulullah?’ Kemudian, beliau bersabda, ‘Baru saja Jibril berkata kepadaku, ‘Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadan tanpa mendapatkan ampunan,’ maka kukatakan, ‘Amin.’ Kemudian, Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang mengetahui kedua orang tuanya masih hidup, namun itu tidak membuatnya masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada mereka berdua),’ maka aku berkata, ‘Amin.’ Kemudian, Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang tidak bersalawat ketika disebut namamu,’ maka kukatakan, ‘Amin.”” (Al-A’zhami berkata, “Sanad hadis ini jayyid.”)

SMS Maaf-maafan Menjelang Ramadan

Hadis ini dinilai sahih oleh Al-Mundziri dalam At-Targhib wa At-Tarhib, 2:114, 2:406, 2:407, dan 3:295; juga oleh Adz-Dzahabi dalam Al-Madzhab, 4:1682. Dinilai hasan oleh Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid, 8:142; juga oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Al-Qaulul Badi‘, no. 212; juga oleh Al-Albani di Shahih At-Targhib, no. 1679.

Dari sini, jelaslah bahwa kedua hadis di atas adalah dua hadis yang berbeda. Entah siapa orang iseng yang membuat hadis pertama. Atau mungkin, bisa jadi pembuat hadis tersebut mendengar hadis kedua, lalu menyebarkannya kepada orang banyak dengan ingatannya yang rusak, sehingga makna hadis pun berubah.

Bisa jadi juga, pembuat hadis ini berinovasi membuat tradisi bermaaf-maafan sebelum Ramadan, lalu sengaja menyelewengkan hadis kedua ini untuk mengesahkan tradisi tersebut. Yang jelas, hadis yang tersebat luas itu tidak ada asal-usulnya. Kita pun tidak tahu siapa yang mengatakan hal itu. Sebenarnya, itu bukan hadis dan tidak perlu kita hiraukan, apalagi diamalkan.

Meminta maaf itu disyariatkan dalam Islam. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

من كانت له مظلمة لأخيه من عرضه أو شيء فليتحلله منه اليوم قبل أن لا يكون دينار ولا درهم إن كان له عمل صالح أخذ منه بقدر مظلمته وإن لم تكن له حسنات أخذ من سيئات صاحبه فحمل عليه
“Orang yang pernah menzalimi saudaranya dalam hal apa pun, maka hari ini ia wajib meminta agar perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari saat tidak ada ada dinar dan dirham, karena jika orang tersebut memiliki amal saleh, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezalimannya. Namun, jika ia tidak memiliki amal saleh maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zalimi.” (H.r. Bukhari, no. 2449)

Kata “اليوم” (hari ini) menunjukkan bahwa meminta maaf itu dapat dilakukan kapan saja, dan yang paling baik adalah meminta maaf dengan segera karena kita tidak tahu kapan ajal menjemput.

Dari hadis ini jelaslah bahwa Islam mengajarkan untuk meminta maaf, jika kita berbuat kesalahan kepada orang lain. Adapun meminta maaf tanpa sebab dan dilakukan kepada semua orang yang ditemui maka itu tidak pernah diajarkan oleh Islam.

Jika ada yang berkata, “Manusia ‘kan tempat salah dan dosa. Mungkin saja kita berbuat salah kepada semua orang tanpa disadari.”

Yang dikatakan itu memang benar, namun apakah serta-merta kita meminta maaf kepada semua orang yang kita temui? Mengapa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabat tidak pernah berbuat demikian? Padahal, mereka adalah orang-orang yang paling khawatir akan dosa. Selain itu, kesalahan yang tidak disengaja atau tidak disadari itu tidak dihitung sebagai dosa di sisi Allah ta’ala. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam,

إن الله تجاوز لي عن أمتي الخطأ والنسيان وما استكرهوا عليه
“Sesungguhnya, Allah telah memaafkan umatku yang berbuat salah karena tidak sengaja, karena lupa, atau karena dipaksa.” (H.r. Ibnu Majah, no. 1675; Al-Baihaqi, 7:356; Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla, 4:4; dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah)

Dengan demikian, orang yang “meminta maaf tanpa sebab” kepada semua orang bisa terjerumus pada sikap ghuluw (berlebihan) dalam beragama. Begitu pula, mengkhususkan suatu waktu untuk meminta maaf dan dikerjakan secara rutin setiap tahun tidak dibenarkan dalam Islam dan bukan ajaran Islam.

Hal lain yang menjadi sisi negatif tradisi semacam ini adalah menunda permintaan maaf terhadap kesalahan yang dilakukan kepada orang lain hingga bulan Ramadan tiba. Beberapa orang, ketika melakukan kesalahan kepada orang lain, tidak langsung minta maaf dan sengaja ditunda sampai momen Ramadan tiba, meskipun harus menunggu selama 11 bulan.

Meski demikian, bagi orang yang memiliki kesalahan bertepatan dengan Sya’ban atau Ramadan, tidak ada larangan memanfaatkan waktu menjelang Ramadan untuk meminta maaf pada bulan ini, kepada orang yang pernah dizaliminya tersebut. Asalkan, ini tidak dijadikan kebiasaan, sehingga menjadi ritual rutin yang dilakukan setiap tahun dan dilakukan tanpa sebab.

Wallahu a’lam.

Diambil dari situs kangaswad.wordpress.com, dengan beberapa penambahan oleh Ustadz Ammi Nur Baits.
Baca selengkapnya »
Antara Azan dan Iqomah, Waktu Mustajab Berdoa?

Antara Azan dan Iqomah, Waktu Mustajab Berdoa?

Bismillah, walhamdulillah was sholaatu was salam ‘ala Rasulillah, waba’du.

Ada hadis shahih yang menjelaskan bahwa saat-saat antara azan dan iqomah adalah waktu mustajab untuk berdoa.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الدُّعَاءَ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ فَادْعُوا
“Sungguh berdo’a antara adzan dan iqomah tidak tertolak, maka pergunakanlah untuk berdo’a.” (HR. Ahmad).

Memilih waktu yang tepat dalam berdoa, adalah diantara penyebab terkabulnya doa. Salah satu waktu tersebut adalah, antara azan dan iqomah; yakni *sesudah azan, sampai sebelum iqomat.

(Lihat keterangan ini di : https://www.binbaz.org.sa/noor/9485)

Mengingat antara azan dan iqomah adalah waktu yang sangat terbatas, maka prioritaskanlah ibadah yang dianjurkan oleh dalil untuk dilakukan pada saat itu, seperti saat- saat antara azan dan iqomah, syariat menganjurkan berdoa dan sholat sunah rawatib. Bila waktu mencukupi, maka bisa dipergunakan untuk melakukan ibadah lain, seperti membaca Alquran dan yang lainnya.

Inilah kaidah penting dalam beribadah, mendahulukan amalan ibadah yang terbatas waktunya daripada ibadah yang leluasa waktunya.

Antara Azan dan Iqomah

Dengan mengetahui kaidah ini, insyaallah seorang akan proposional dalam beribadah kepada Allah.

Syaikh Sulaiman bin Muhammad An-Najran menjelaskan dalam buku beliau “Al-Mufadholah Fil ‘Ibadaat’’,

أداء العبادات في وقتها المحدد مع حصول الكراهة بل مع الوقوع في المحظور أفضل وأولى من أدائها خارج وقتها مع انعدام الكراهة أو المحظور, لأن الوقت أهم الشروط في العبادات
Menunaikan ibadah pada waktunya yang sudah ditentukan, meski bersamaan dengan itu harus menerjang yang makruh atau bahkan yang terlarang, adalah lebih afdhol dan lebih utama daripada menunaikannya di luar waktunya, meski tanpa terterjang tindakan yang makruh atau terlarang. Karena waktu adalah syarat terpenting dalam ibadah. (Al-Mufadholah Fil ‘Ibadaat, hal. 989)

Terlebih bila tak harus menerjang yang makruh atau terlarang saat mengerjakan ibadah pada waktu yang ditentukan syariat, tentu lebih afdhol.

Untuk Siapa Waktu Mustajab ini?

Kesempatan mendapatkan waktu mustajab berdoa, saat antara azan dan iqomat ini berlaku untuk orang yang menunggu iqomat di masjid atau untuk umum?

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah nomor 127856 dijelaskan,

والأصل عدم تقييد ذلك بمن كان داخل المسجد، فالحديث أخبر أن هذا الوقت من أوقات الإجابة فمن جمع شروط الدعاء المستجاب ودعا في هذا الوقت ترجى له الإجابة ـ سواء أكان داخل المسجد أم لا ـ وكذلك يستجاب للمرأة في بيتها إذا دعت في هذا الوقت
Pada dasarnya hadis (Anas bin Malik) di atas tidak menunjukkan keutamaan ini hanya berlaku untuk yang berada di masjid saja. Hadis di atas mengabarkan bahwa inilah diantara waktu mustajab. Siapa yang terpenuhi syarat-syarat terijabahi doa, lalu dia berdoa pada waktu tersebut, maka diharapkan doanya terkabul. Baik dia sedang berada di masjid atau di luar masjid. Demikian doanya para wanita yang sholat di rumah juga terijabahi, bila ia berdoa pada waktu tersebut.

Imam Syaukani menerangkan dalam “Nailul Author”,

الحديث يدل على قبول مطلق الدعاء بين الأذان والإقامة وهو مقيد بما لم يكن فيه إثم أو قطيعة رحم، كما في الأحاديث الصحيحة
Hadis tersebut menunjukkan terkabulnya doa secara umum yang dipanjatkan pada waktu itu (yakni antara azan dan iqomat). Asal doa tidak mengandung unsur dosa atau memutus silaturahim, sebagaimana dijelaskan dalam hadis-hadis shahih. (Nailul Author, hal. 264, terbitan : Baitul Afkar Ad-dauliyah).

Meskipun demikian, orang-orang yang bersegera ke masjid kemudian menunggu iqomat, doanya lebih berpotensi terkabul, daripada yang berdoa di luar masjid. Hal ini mengingat faktor-faktor terijabahi doa berikut :

1. faktor tempat.

Doa yang dipanjatkan di tempat yang mulia seperti masjid, akan lebih terijabahi.

2. faktor waktu.

Doa yang dipanjatkan di waktu mustajab seperti antara azan dan iqomat atau yang lainnya, akan lebih berpeluang terkabul daripada yang tidak.

3. kondisi orang yang berdoa.

Seperti berdoa saat sedang puasa, saat safar atau saat terdesak.

4. sifat doa.

Seperti doa yang disertai asma-ul husna, doa-doa dari Al Quran / Hadis, atau doa yang tidak mengandung dosa.

Orang yang berdoa saat antara azan dan iqomat, sementara dia duduk di dalam masjid menunggu dikumandangkan iqomat, setidaknya padanya terkumpul dua faktor terkabulnya doa, yaitu faktor tempat dan waktu. Sehingga doanya akan lebih berpeluang terkabul.

Sebagai penutup, perlu kita ingat bahwa sebagian ulama menegaskan, kaum laki yang tidak sholat berjamaah di masjid tanpa uzur, tidak mendapatkan kesempatan mustajab ini.

Wallahua’lam bis showab.

Ditulis oleh Ustadz Ahmad Anshori, Lc (Pengasuh PP. Hamalatul Quran DIY)
Baca selengkapnya »
Bolehkah Berpuasa Pada Hari Kelahiran Nabi Shallallahu alahi wa salam ?

Bolehkah Berpuasa Pada Hari Kelahiran Nabi Shallallahu alahi wa salam ?

Pertanyaan

Apakah boleh berpuasa pada hari kelahiran nabi shallallahu alahi wa salam, Berdasarkan hadist-hadist shohih yang di riwayatkan oleh imam muslim, an-nasa’i dan abu daud. Ketika rasulullah shallallahu alahi wa salam ditanya tentang puasa pada hari senin.

Beliau berkata “itu adalah hari kelahiranku”, dan berdasarkan hadist ini, apakah boleh seseorang berpuasa pada hari kelahirannya untuk meneladani nabi shallallahi alahi wa salam?

Jawaban

Pertama, Imam muslim meriwayatkan dari abu qotadah al-anshori radhiallahu anhu, sesungguhnya rasulullah shallallahu alahi wa salam ditanya tentang puasa pada hari senin, beliau bersabda

فِيهِ وُلِدْتُ وَفِيهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ 
Pada hari itu aku di lahirkan dan pada hari itu diturunkan kepadaku (alquran)

Berpuasa Pada Hari Kelahiran Nabi

Rasulullah shallallahu alahi wa salam juga bersabda di dalam hadist yg lainnya, hadist yang dinyatakan shohih oleh syeikh albani yang artinya “amal perbuatan dilaporkan pada setiap hari senin, aku senang ketika amalku dilaporkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala sedangkan aku dalam keadaan berpuasa".

Maka jelaslah, berdasarkan hadist-hadist shohih yang telah kita bacakan tadi bahwa nabi shallallahu alahi wa salam sebagaimana beliau berpuasa pada hari senin karena dirinya bersyukur atas nikmat kelahirannya pada hari tersebut.

Beliau juga berpuasa pada hari itu karna meyakini keutamaannya karna Allah telah menurunkan wahyu kepadanya pada hari tersebut maka barangsiapa yang berpuasa pada hari senin sebagaimana rasulullah shallallahu alahi wa salam berpuasa dengan harapan mendapatkan ampunan allah dan bersyukur atas nikmat allah yang diturunkan kepada hambanya pada hari tersebut diantaranya adalah dengan dilahirkan nabiNya.

maka itu adalah perkara yg baik dan sesuai dengan riwayat shahih dari sunnah nabi shallallahu alahi wa salam akan tetapi hal yang tidak diperbolehkan adalah dengan tidak mengkhususkan pada pekan-pekan tertentu atau bulan bulan tertentu dengan mengkhususkan hari hari tersebut untuk melaksanakan berpuasa.

Wallahu a’alam
Baca selengkapnya »
Hukum Barang Servis yang Tidak Diambil Akan Dijual?

Hukum Barang Servis yang Tidak Diambil Akan Dijual?

Tukang servis membuat aturan, barang yang tidak diambil lebih dari 1 bulan akan dijual, dan hasilnya akan diinfakkan. Apakah ini dibolehkan?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada beberapa pengantar untuk memahami itu,

Pertama, Ada 2 jenis penjual jasa yang dibahas dalam kajian fiqh muamalah,

[1] Ajir khas – orang yang menjual jasanya kepada orang lain untuk satu tugas tertentu, dan tidak bisa ‘disambi’ (merangkap pekerjaan) dengan yang lain selama masa kerjanya. Misalnya, sopir pribadi atau tukang pijit atau tukang yang memperbaiki rumah. Ketika dia sedang menangani tugas tertentu, dia tidak bisa menerima tugas klien lainnya.

[2] Ajir ‘aam – orang yang menjual jasanya kepada orang lain secara terbuka, sehingga bisa mengerjakan tugas lebih dari satu klien. Misalnya, tukang jahit yang bisa menerima banyak orderan, atau tukang servis hp, laptop, dst.. perbedaan ajir khas dengan ajir am, ajir am bisa melayani banyak konsumen dalam satu waktu.

Kedua Posisi seseorang ketika memegang harta orang lain ada 2:

[1] Amin (orang yang mendapat amanah).

Seorang yang memegang harta orang lain di posisi sebagai amin, dia tidak menanggung resiko apapun terhadap harta atau barang yang dia bawa jika terjadi kerusakan. Kecuali kerusakan yang ditimbulkan karena kesalahannya atau keteledorannya.

Misalnya: orang yang dititipi. Dalam akad wadiah, orang yang dititipi merupakan amin bagi orang yang menitipkan.

[2] Dhamin (orang yang menanggung resiko). Yaitu pemegang harta orang lain, dan dia harus menanggung semua resiko terhadap harta itu, apapun yang terjadi. Misalnya: orang yang berutang atau orang yang meminjam barang orang lain.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا ضَمَانَ عَلَى مُؤْتَمَنٍ
“Orang yang mendapatkan amanah tidak menanggung resiko.” (HR. ad-Daruquthni 2961 dan dihasankan al-Albani)

Ketiga Tukang Servis itu Amin atau Dhamin?

Ulama sepakat bahwa ajir khas statusnya amin. Sehingga dia tidak menanggung resiko normal terhadap barang yang dia tangani.

Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan,

واتفقوا كذلك على أن الأجير الخاص أمين، فلا ضمان عليه فيما تلف في يده من مال، أو ما تلف بعمله إلا بالتعدي، أو التفريط؛ لأنه نائب المالك في صرف منافعه إلى ما أمر به، فلم يضمن كالوكيل
Ulama sepakat bahwa ajir khas adalah amin (orang yang mendapat amanah). Dan dia tidak menanggung resiko terhadap kerusakan harta orang lain di tangannya. Atau kerusakan diakibatkan kerjanya, kecuali jika berlebihan atau teledor. Karena posisi dia sebagai wakil dari pemilik untuk memanfaatkan barang itu, sesuai yang dia perintahkan. Sehingga dia tidak menanggung resiko, sebagaimana wakil.

Barang Servis yang Tidak Diambil Akan Dijual

Sementara ajir am, seperti tukang servis, termasuk dhamin ataukah amin?

Ulama berbeda pendapat dalam hal ini.

Pendapat yang lebih mendekati adalah ajir ‘am termasuk amin. Ini merupakan pendapat Abu Hanifah, pendapat Imam as-Syafii menurut riwayat yang lebih kuat, dan pendapat Imam Ahmad dalam salah satu riwayat.

(al-Hidayah fi Syarh al-Bidayah, 3/242 – al-Bayan fi Madzhab as-Syafii, 7/385, dan al-Kafi fi Fiqh Ahmad, 2/184)

Karena itu, ketika ada resiko terhadap barang di luar keteledorannya, dia tidak turut menanggungnya.

Keempat ketika konsumen menyerahkan barang kepada tukang servis, maka status barang itu adalah barang titipan, yang wajib diberi penjagaan normal oleh tukang servis. Dia berhak memperlakukan benda itu, sesuai kebutuhan normal sebagai tukang servis, misalnya membongkar, mengganti onderdil, meng-uji coba, dst.

Ketika barang sudah selesai, statusnya masih menjadi barang titipan (wadiah), sehingga menjadi barang amanah hingga dikembalikan ke pemiliknya.

Allah berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (QS. an-Nisa: 58)

Kelima hukum asal menerima wadiah adalah mubah

Dalam arti, ketika si A dititipi orang lain, si A berhak untuk menolaknya.

Karena orang boleh menolak ketika diberi amanah, dengan pertimbangan apapun yang melatar-belakanginya.

Dalam al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhab as-Syifii dinyatakan,

يتناول الوديعة الأحكام الخمسة … الإباحة: بمعنى ان للوديع ان يقبل الإيداع وله ان لا يقبل، ويستوى الحال بالنسبة اليه، وذلك في حال انه لا يثق بأمانته في المستقبل، او كان عاجزا عن حفظ الوديعة
Wadiah memiliki 5 hukum… diantaranya mubah, dalam arti orang yang dititpi berhak menerima titipan dan juga berhak tidak menerimanya. Dan status hukumnya sama bagi dia. Bisa jadi penolakan itu dilakukan karena dia tidak merasa yakin bisa menjaga amanah itu ke depan, atau tidak mampu untuk menjaga barang titipan itu. (al-Fiqh al-Manhaji, 7/87)

Karena itu, boleh saja tukang servis menolak amanah itu, ketika tidak memungkinkan untuk menjaga terus barang itu. Sehingga dia boleh membatasi masa tinggal barang itu di tempatnya, misal 1 bulan.

Artinya, selama rentang 1 bulan, tukang servis bersedia menjadikan barang itu sebagai wadiah yang diamanahkan kepadanya. Selebihnya, tidak menerima amanah itu.

Keenam jika tidak menerima titipan, lalu dikemanakan barang itu?

Pada prinsipnya ketika seseorang tidak menerima untuk dititipi barang, sementara pemilik memaksa untuk tetap menitipkannya, maka dia sudah tidak lagi berkewajiban untuk menjaganya. Sehingga dia berhak menaruh barang itu di luar kawasannya atau di gudang, dst. Selanjutnya semua kerusakan barang itu, dia tidak menanggung resiko.

Namun tidak boleh dijual. Karena pemiliknya tetap ada. Sehingga jika hendak dijual harus izin ke pemilik.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
Baca selengkapnya »
HUKUM MENONTON ACARA "KARMA"

HUKUM MENONTON ACARA "KARMA"

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللَّهُ
“Katakanlah: Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” [An-Naml: 65]

Ilmu tentang masa depan termasuk perkara ghaib, dan ilmu tentang perkara ghaib adalah kekhususan bagi Allah ta’ala, barangsiapa yang mengaku-ngaku punya ilmu ghaib atau meyakini ada selain Allah yang mengetahui ilmu ghaib maka ia telah menyekutukan Allah ta’ala, yang menyebabkan ia murtad, keluar dari Islam.

Al-Imam Ibnu Katsir Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

“Allah ta’ala berfirman seraya memerintahkan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam untuk mengajarkan kepada seluruh makhluk, bahwasannya tidak ada satu pun penduduk langit dan bumi yang mengetahui perkara ghaib. Dan firman Allah ta’ala, “(Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib) kecuali Allah” adalah sebuah pengecualian yang terputus, yaitu bermakna: Tidak ada satu pun yang mengetahui perkara ghaib kecuali Allah ‘azza wa jalla, sesungguhnya Dia esa dalam perkara ilmu tentang yang ghaib, tidak ada sekutu bagi-Nya, sebagaimana firman-Nya,

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.” (Al-An’am: 59)


Dan juga firman-Nya,

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنزلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34) Dan ayat-ayat tentang ini masih banyak.” [Tafsir Ibnu Katsir, 6/207]

Oleh karena itu mendatangi dukun hukumnya haram, terlebih jika bertanya dan mempercayai ucapannya. Dalam hadits Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami radhiyallahu’anhu: “Aku berkata, wahai Rasulullah,

وَإِنَّ مِنَّا رِجَالًا يَأْتُونَ الْكُهَّانَ، قَالَ: فَلَا تَأْتِهِمْ
“Dan sesungguhnya diantara kami ada orang-orang yang mendatangi para dukun, maka beliau bersabda: Jangan mendatangi mereka (para dukun).” [HR. Muslim]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ، لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
“Barangsiapa mendatangi paranormal, lalu bertanya tetang sesuatu, maka tidak diterima sholatnya selama 40 malam.” [HR. Muslim dari Hafshoh radhiyallahu’anha]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا، فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّد
“Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal, lalu ia mempercayai ucapan dukun atau peramal tersebut maka ia telah kafir terhadap (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad -shallallahu’alaihi wa sallam-.” [HR. Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan Al-Bazzar dari Jabir radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 3387]

Demikian pula mempercayai peramalan, perbintangan dan lain-lain yang mengandung klaim ilmu ghaib adalah kesyirikan kepada Allah ta’ala.

Ustadz sofyanruray
Baca selengkapnya »
Peringatan Isra’ Mi’raj setiap bulan rajab, Benarkah ?

Peringatan Isra’ Mi’raj setiap bulan rajab, Benarkah ?

Pertanyaan:

Assalamu alaikum. Sebentar lagi ada peringatan Isra Mi’raj. Ada yg mengatakan bahwa Isra’ Mi’raj tidak terjadi di bulan Rajab, apakah ini benar? Lantas, bagaimana hukum peringatan Isra Mi’raj?
Trims..

Tri Jogja (triXXXX@XXXXX.com)_

Jawaban:

Wa alaikumus salam wa rahmatullah.

Tanggal 27 Rajab menjadi satu agenda penting bagi kaum muslimin. Mereka meyakini bahwa pada tanggal itu terjadi peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Padahal para ulama berselisih pendapat tentang tanggal terjadinya Isra’dan Mi’raj. Disebutkan oleh Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri, ada sekitar 6 pendapat ulama, terkait dengan penentuan waktu kejadian Isra’ dan Mi’raj.

⚜ Pertama, Isra’ dan Mi’raj terjadi di tahun pertama ketika beliau diangkat sebagai Nabi. Ini adalah pendapat At-Thabari.

⚜ Kedua, Isra’ dan Mi’raj terjadi lima tahun setelah beliau diutus sebagai Nabi. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Imam An-Nawawi dan Al-Qurthubi.

⚜ Ketiga, Isra’ Mi’raj terjadi di malam 27 Rajab, tahun 10 setelah kenabian (sepuluh tahun setelah beliau diutus menjadi Nabi). Ini pendapat Al-Manshurfuri.

⚜ Keempat, peristiwa Isra’ terjadi 16 bulan sebelum beliau hijrah ke Madinah, tepatnya di bulan Ramadhan tahun 12 setelah kenabian.

⚜ Kelima, peristiwa ini terjadi setahun dua bulan sebelum hijrah, atau tepatnya di bulan Muharram tahun 13 setelah kenabian.

⚜ Keenam, Isra’ Mi’raj terjadi satu tahun sebelum beliau hijrah ke Madinah, tepatnya di bulan Rabi’ul Awal tahun 13 setelah kenabian.

Dari enam pendapat di atas, 3 pendapat pertama tertolak dan bertentangan dengan realita sejarah lainnya. (Lihat Ar-Rahiqum Makhtum, hal. 85)

Peringatan Isra’ Mi’raj

Bagaimana analisisnya?

Sebelumnya kami tegaskan –barangkali ada sebagian kaum muslimin yang belum paham–, urutan bulan hijriyah: …Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, dst.

Kemudian, sebagaimana yang kita ketahui, sekembalinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Isra’ Mi’raj, beliau membawa syariah shalat lima waktu. Sementara para ahli sejarah menegaskan bahwa Khadijah meninggal di bulan Ramadhan tahun kesepuluh setelah kenabian. Ini sebagaimana yang ditegaskan Ibnul Jauzi (Talqih Fuhum Ahlil Atsar, hal. 7). Padahal sampai Khadijah meninggal belum ada kewajiban shalat lima waktu.

Jika dua peristiwa ini, yaitu Isra’ Mi’raj dan wafatnya Khadijah terjadi dalam tahun yang sama, tahun sepuluh setelah kenabian, tentunya di bulan kematian Khadijah radhiallahu ‘anha, kewajiban shalat sudah ada. Karena urutan bulan Rajab jatuh sebelum ramadhan.

Adapun tiga pendapat terakhir, Al-Mubarakfuri memberi komentar, _“Untuk tiga pendapat sisanya, saya belum mendapatkan keterangan yang menguatkan salah satu pendapat tersebut. Hanya saja, konteks surat Al-Isra’ menunjukkan bahwa peristiwa ini terjadi di waktu-waktu terakhir di Mekah.”_

Ulama Sepakat Peringatan Isra’ Mi’raj adalah Bid’ah

Para ulama sepakat bahwa peringatan Isra’ Mi’raj adalah acara bid’ah. Ibnul Qayim menukil keterangan Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, yang mengatakan, “Tidak diketahui dari seorang-pun kaum muslimin, yang menjadikan malam Isra’ Mi’raj lebih utama dibandingkan malam yang lainnya. Lebih-lebih menganggap bahwa malam Isra’ lebih mullia dibandingkan lailatul qadar. Tidak seorangpun sahabat, maupun tabi’in yang mengkhususkan malam Isra’ dengan kegiatan tertentu, dan mereka juga tidak memperingati malam ini. Karena itu, tidak diketahui secara pasti, kapan tanggal kejadian Isra’ Mi’raj.” (Zadul Ma’ad, 1/58 /59).

Ibnu Nuhas mengatakan, _“Memperingati malam Isra’ Mi’raj adalah bid’ah yang besar dalam urusan agama. Termasuk perkara baru yang dibuat-buat teman-teman setan.” (Tanbihul Ghafilin, hal. 379 – 380. Dinukil dari Al Bida’ Al Hauliyah, hal. 138)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)
Baca selengkapnya »
Hukum pindah posisi sholat sunnah setelah sholat Fardhu

Hukum pindah posisi sholat sunnah setelah sholat Fardhu

السؤال: ما حكم تغيير المكان بعد قضاء الفريضة وذلك لأداء السنة؟ 
Pertanyaan: apa hukum berpindah tempat setelah menunaikan sholat fardhu bertujuan menunaikan sholat sunnah rawatib

الإجابة: ذكر الفقهاء رحمهم الله أنه يسن للإنسان أن يفصل النافلة عن الفريضة، إما بكلام، أو بانتقال من موضعه، لحديث معاوية قال: 
Jawaban: para fuqoha rahimahumullah mengatakan bahwasanya disunnahkan seseorang memisahkan sholat sunnah rawatib dengan solat fardhu baik dengan cara berbicara atau berpindah dari tempat duduknya, berdasarkan hadist riwayat muawiyah, dia berkata

"أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن لا نصل صلاة بصلاة، حتى نخرج أو نتكلم". وعلى هذا فالأفضل أن تفصل بين الفرض والسنة، لكن هناك شيء أفضل منه، وهو أن تجعل السنة في البيت؛ لأن أداء السنة في البيت أفضل من أدائها في المسجد، حتى المسجد الحرام، قال النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم: "أفضل صـلاة المـرء في بيته إلا المكتوبة" 
Rasulullah shallallahu alahi wa salam memerintahkan kami untuk tidak menyambung satu sholat dengan sholat lainnya hingga kami berpindah atau berbicara. Oleh karnanya diutamakan memisah antara sholat fardhu dan sholat sunnah rawatib, akan tetapi lebih utama lagi dia melaksanakan sholat sunnah di rumahnya karna melaksanakan sholat sunnah di rumah lebih utama dari pada dilaksanakan di masjid bahkan mesjidil haram sekalipun.

sholat sunnah

Rasulullah shallalahu alahi wa salam bersabda: “sholat sunnah yang dilakukan lebih utama di rumahnya kecuali sholat fardhu”

يقول ذلك عليه الصلاة والسلام وهو في المدينة، وهو في مسجدٍ الصلاة فيه خير من ألف صلاة فيما سواه إلا المسجد الحرام. وكان هو نفسه يصلي النافلة في البيت. وبعض الناس يظن أن النافلة في المسجد الحرام، أو النبوي أفضل، وليس كذلك، نعم لو فُرض أنه رجل ذو عمل يخشى إن خرج من المسجد أن ينسى الراتبة، فهنا نقول: صل في المسجد أفضل، وكذلك لو كان في بيته فيه صبيان كثيرون فيخشى من التشويش، فتكون الصلاة في المسجد أفضل. 
Rasulullah shallallahu alahi wa salam juga bersabda ketika beliau di madinah tepatnya di masjid yang terdapat keutamaan sholat 1000 kali dibandingkan sholat dimasjid lain kecuali mesjidil haram (makkah)

Yang dimaksud mesjid annabawi

Ketika itu beliau melakukan sholat sunnah di rumahnya dan sebagian orang mengira sholat sunnah di haramain (masjid nabawi dan masjidil haram) lebih utama. Akan tetapi itu tidaklah benar.

Benar kalau keadaan memaksa apalagi dia punya pekerjaan yg dia cemaskan jika keluar dari masjid akan lupa gajinya maka disini kami katakan: sholatlah di masjid itu lebih afdhol. Begitu juga jika di rumahnya ada banyak anak kecil lalu dia cemas di ganggu mereka maka sholat sunnah rawatib di masjid lebih utama.

والصلاة في البيت أفضل إلا المكتوبة؛ لأن الصلاة في البيت أبعد عن الرياء، إذ أنك في بيتك لا يطلع عليك إلا أهلك، وقد لا يرونك وأنت تصلي، أما في المسجد فالكل مطلع عليك، ولأن فيها تعويداً لأهل البيت على الصلاة، ولذلك إذا كنت تصلي وكان عندك صبي له سنتان أو ثلاث سنوات تجده يصلي معك، مع أنك لم تأمره بالصلاة، ففي صلاة النافلة في البيت فوائد عظيمة. 
Dan sholat di rumah lebih utama kecuali sholat fardhu karna sholat di rumah lebih jauh (lebih aman) dari penyakit riya. Sholatnya anda di rumah tidaklah yg mengetahui kecuali keluarga anda dan kadang kala mereka tidak melihatmu sedang sholat. Adapun di masjid, setiap orang bisa melihat anda. oleh karnanya diperintahkan sholat sunnah di rumah untuk membiasakan keluarga melaksanakan sholat.

Begitu juga jika anda sholat dirumah dan anda ternyata punya anak kecil berusia 2 atau 3 tahun, anda dapati dia sholat bersama anda padahal anda tidak memerintahkan dia sholat. Oleh karna itu sholat sunnah di rumah memiliki manfaat2 yg sangat banyak.

وفيها أيضاً أنك لا ترتكب ما نهى عنه رسول الله صلى الله عليه وسلم بقوله: "لا تجعلوا بيوتكم مقابر". يعني لا تجعلوها كالقبور لا تصلون فيها، فهذه ثلاث فوائد: الأولى: أنها أبعد عن الرياء. الثانية: تعويد أهل البيت على الصلاة. الثالثة: عدم الوقوع فيما نهى عنه الرسول صلى الله عليه وسلم. 

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ مجموع فتاوى و رسائل الشيخ محمد صالح العثيمين المجلد الرابع عشر - باب صلاة التطوع. 
Begitu juga anda tidak termasuk apa yang Rasulullah shallallahu alahi wa salam larang di hadistnya “janganlah kalian jadikan rumah kalian kuburan”

Maksudnya janganlah jadikan rumah seperti kuburan yang tidak ditegakkan sholat di dalamnya. Dari uraian diatas terdapat 3 faidah

1. Bahwanya potensi riya semakin jauh (kecil)
2. Membiasakan keluarga melaksanakan sholat
3. Tidak termasuk kepada perbuatan yg dilarang nabi shallallahu alahi wa salam

Majmu fatawa wa rosail syeikh muhammad sholeh al-utsaimin, jilid ke 14, bab sholat sunnah

Diterjemahkan oleh Atri Yuanda El-pariamany
Baca selengkapnya »
Bolehkah Bertawasul Kepada Orang Yang Telah Wafat ?

Bolehkah Bertawasul Kepada Orang Yang Telah Wafat ?

Sering kita jumpai perkataan orang yang bertawasul kepada wali atau sunan yang sudah meninggal. Padahal ini termasuk perbuatan syirik, karena ia menjadikan perantara selain Allah Ta'ala orang yang tidak memiliki manfaat dan tidak mampu menolak madhorot, siapapun mereka apakah nabi Atau wali, mereka makhluk Allah yang tidak memiliki hak kerububiyahan.

Bahkan lebih dari itu, mereka tidak malu berdoa minta kepada wali yang telah wafat. Seperti perkataan mereka, "Ya Syeikh Andal Qadir Jaelani aghitsni!... wahai Syeikh Abdul Qadir Jaelani tolonglah aku...!

Padahal orang yang mati tidak bisa mengabulkan doa mereka, mereka tidak mampu mendengar...

Allah Ta'ala berfirman,

اِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتٰى وَلَا تُسْمِعُ الصُّمَّ الدُّعَآءَ اِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِيْنَ
"Sungguh, engkau tidak dapat menjadikan orang yang mati dapat mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang yang tuli dapat mendengar seruan, apabila mereka telah berpaling ke belakang." [QS. An-Naml: Ayat 80]

Allah Ta'ala juga berfirman,

{إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ}
"Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu." (QS. Fathir: 14)

Sembahan-sembahan selain Allah itu tidak dapat mendengar suara seruan kalian, karena sembahan-sembahan itu adalah benda mati tidak bernyawa.

{وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ}
"dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu." (QS. Fathir: 14)


Bolehkah Bertawasul Kepada Orang Yang Telah Wafat ?

Yakni mereka tidak akan mampu mengabulkan sesuatu dari apa yang diminta oleh mereka (para penyembahnya).

{وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ}
"dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu." (QS. Fathir: 14)

Maksudnya, berlepas diri dari apa yang dilakukan oleh kalian.

Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

{وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ}
"Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka. Dan apabila mereka dikumpulkan (pada hari kiamat), niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka." (QS. Al-Ahqaf: 5-6)

(lihat Tafsir Ibnu Katsir).

Maka adanya wisata religi ke makam wali, ini adalah perkara yang tidak disyareatkan, bahkan akan menjurus kepada kesyirikan.

Saya tidak mengharamkan ziarah kubur, namun ziarah kubur yang benar adalah mendoakan mayit dan untuk mengingat kematian. Bukan malah minta atau berdoa kepada orang yang mati. Wallahu a'lam

Ustadz Agus Santoso, Lc., M.P.I
Group BIS & BMS - Dakwah Untuk Umat 
https://t.me/bimbingansyariah
Baca selengkapnya »
Mengetahui Penghasilan Ayah Bersumber Dari Yang Haram

Mengetahui Penghasilan Ayah Bersumber Dari Yang Haram

Pertanyaan:

Wahai Fadhilatusy Syaikh, ada seseorang yang mengetahui bahwa sumber penghasilan ayahnya adalah dari yang haram. Apakah boleh baginya memakan makanan (dari) ayahnya? Jika ia tidak memakan makanan (dari) ayahnya, apakah hal itu termasuk sikap durhaka (pada orangtua)?

Jawaban Syaikh Ibn Utsaimin rahimahullah:

Seseorang yang mengetahui bahwa harta ayahnya haram, jika secara dzatnya haram, misalkan ia mengetahui bahwa ayahnya mencuri harta ini dari seseorang, maka ia tidak boleh memakannya. Jika engkau mengetahui bahwa ayahmu mencuri seekor kambing kemudian menyembelihnya, janganlah memakan (daging kambing tersebut). Jangan didatangi undangannya.

Adapun jika keharaman itu berasal dari penghasilannya, seperti jika dia (bermuamalah) riba, menipu, atau yang semisal itu, maka makanlah. Dosanya untuk dia (ayahmu). Dalilnya adalah bahwasanya Nabi shollallahu alaihi wasallam memakan harta dari Yahudi padahal mereka sudah dikenal luas suka mengambil riba dan memakan (harta) yang haram.
Bersumber Dari Yang Haram

Seorang wanita Yahudi menghadiahkan seekor kambing di Khaibar, yang telah diberi racun untuk membuat beliau meninggal, akan tetapi Allah menjaga beliau dari hal itu, hingga waktu yang ditentukan.

Ada seorang Yahudi yang mengundang beliau untuk makan roti gandum dan lemak cair yg sudah berubah baunya, Nabi mendatangi undangan dan makan. Beliau juga membeli makanan dari orang Yahudi untuk keluarga beliau, dan dimakan oleh beliau dan keluarganya.

Maka hendaknya dia makan (makanan dari ayahnya itu), sedangkan dosanya untuk ayahnya

(Liqoo' al-Baab al-Maftuuh (13/188))

Teks Asli

السؤال : رجلٌ علم أن مصدر أموال أبيه من الحرام، فهل يأكل من طعام أبيه؟ وإذا لم يأكل من طعام أبيه فهل يكون ذلك من العقوق ؟

فأجاب رحمه الله : "الرجل الذي علم أن مال أبيه من الحرام إن كان حراماً بعينه، بمعنى: أنه يعلم أن أباه سرق هذا المال من شخص فلا يجوز أن يأكله، لو علمت أن أباك سرق هذه الشاة وذبحها فلا تأكل، ولا تُجِبْ دعوته ، أما إذا كان الحرام من كسبه يعني: أنه هو يرابي أو يعامل بالغش أو ما يشابه ذلك ، فكل ، والإثم عليه هو .

، ودليل هذا: أن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم أكل من مال اليهود وهم معروفون بأخذ الربا وأكل السحت، أهدت إليه يهودية شاةً في خيبر مسمومة ليموت ، ولكن الله عصمه من ذلك إلى أجلٍ مسمى . ودعاه يهودي إلى خبز شعير وإهالة سنخة (أي : دهن متغير الرائحة) فأجابه وأكل ، واشترى من يهودي طعاماً لأهله وأكله هو وأهله ، فليأكل والإثم على والده " "لقاء الباب المفتوح" (188/13) .
Penerjemah: Abu Utsman Kharisman
source: walis-net.
Baca selengkapnya »
Bolehkah minum dan makan berdiri ?

Bolehkah minum dan makan berdiri ?

Banyak pendapat dalam hal ini, namun kita akan sebutkan dalil larangan dan pembolehan kemudian membawakan pandangan Ulama klasik dan kontemporer termasuk Ulama Indonesia.

Dr. Saa'd bin Abdullah Al Hamid dalam tulisannya "Mulakhas kitab hukmis syurbi qaiman" membawakan enam hadist larangan dan sebelas hadist pembolehan, kemudian sembilan dalil dari sahabat yang minum berdiri.

Kita akan sebutkan beberapa dalil saja yang dianggap atau lebih sering dijadikan landasan hukum oleh Ulama.

Dalil larangan

Pertama, Dari Anas bahwa Rasulullah melarang minum sambil berdiri (Hr. Muslim)

Kedua, dari Abu Sai'd Al Khudri, Nabi melarang minum sambil berdiri (Hr. Muslim)

Ketiga, dari Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda "janganlah kalian minum berdiri, jika lupa maka muntahkanlah" (Hr. Muslim)

Hadist membolehkan

Pertama, Ibn Abbas berkata "Aku memberi Nabi minum air zam-zam dan Beliaupun meminumnya dengan berdiri" (Hr. Bukhari dan Muslim)

Kedua, Ali bin Abi Thalib berkata "Aku melihat Nabi minum berdiri dan duduk" (Hr. Ahmad)

Ketiga, Ibn Umar menyatakan "di zaman Nabi kami pernah makan sambil berjalan dan minum sambil berdiri" (Hr. Ibn Majah dan Ahmad)

Dalam menyikapi hadist-hadist ini para ulama terbagi menjadi dua kelompok, pertama menggunakan metode tarjih dan marjuh, kedua menggabungkan semua dalil.

Kelompok tarjih terbagi menjadi dua pandangan

Pertama, hadist membolehkan dinasakh (dihapus) dengan hadist larangan, karna hukum asal minum boleh, ketika dalil larangan datang maka hukum awal dihapus, sehingga minum berdiri haram, ini pendapat Ibn Hazm (Al Muhalla/ Vll : 519-520)

Kedua, hadist larangan dinasakh dengan hadist pembolehan, karna para khulafa' raayidin dan sebgin sahabat membolehkan, kemudian perbuatan Nabi minum berdiri terjadi diakhir-akhir masa hidupnya, diantara yang berpendapat seperti ini Imam Qurtubi (Al Mufham / 5 : 285), sebagian ulama menganggap lemah hadist larangan seperti Ibn Abdil Bar, Qadhi Iyadh (Al Ikmal / 6 : 491) dan masyhur dalam mazhab Imam Ahmad (Al Furu' / 5 : 302)

Bolehkah minum dan makan berdiri ?

Kelompok yang menggabungan semua dalil

Pertama, larangan bukan haram tapi karna minum berdiri membayakan, ini pendapat At Tahawi dan As Sya'bi (Syarhul Maani al atsar / 4 : 274 -276)

Kedua, minum berdiri dilarang kecuali pada air zam-zam dan bekas air wudhu, sedangkan selain keduanya makruh. Ini pendapat sebagian Hanafiyah (Hasyiyah ibn A'bidin / 1 : 129-30)

Ketiga, boleh minum berdiri jika dibutuhkan, pendapat ini adalah pandangan Ibn Taimiyah (Al Fatawa /32 : 209-211) dan Ibn Al Qayyim (Zadul Maa'd / 4 : 229)

Keempat, boleh minum berdiri, namun duduk lebih baik. Ini pandangan mayoritas ulama seperti At Thabari (Umdatul Qari / 21 : 193), An Nawawi (Syarhu Muslim / 13 : 195) dan Ibn Hajar Al A'sqalani (Fathul Bari / 10 : 83) dan ulama lainnya.

Syaikh Saad dalam "mulakhas hukmis syurbi qaiman" menyatakan pendapat paling kuat adalah pendapat jumhur, karna perbuatan Nabi menunjukkan kebolehan minum berdiri, dan larangan adalah makhruh tanzih.

Sekarang kita lihat pandangan Ulama Kontemporerer dengan membawakan inti dari pendapat mereka.

Syaikh Wahid Abdussalam Bali "minum berdiri makruh kecuali jika dibutuhkan"

Syaikh Abdurrazaq Al Badar "sebagaimana yang dikatakan Ibn al qayyim bahwa kebiasaan Nabi minum dengan duduk, Beliau minum berdiri saat dibutuhkan saja"

Syaikh Al Bani "boleh minum berdiri akan tetapi hal itu menyelisihi yang lebih baik"

Syaikh Ibn Utsaimin "minum dengan duduk lebih baik, bahkan makruh minum berdiri kecuali jika dibutuhkan"

U. Firanda "boleh makan dan minum sambil berdiri tapi sunnahnya adalah duduk"

U. Badrussalam "Larangan minum berdiri makruh dan minum berdiri boleh jika diperlukan"

Dr. Rozaimi Ramle "makan dan minum kalau tidak ada keperluan berdiri maka harus duduk"

U. Khalid Basalamah "Nabi minum berdiri saat tidak memungkinkan untuk duduk" pada kesempatan lain Beliau berkata "dibolehkan seseorang minum berdiri waktu darurat"

M. Abduh Tuasikal, "boleh, tapi untuk kehati-hatian kita tetap makan dan minum dengan duduk karna larangan minum berdiri cukup keras"

U. Ahmad Syahrin Thoriq "yang rajih adalah pendapat jumhur, yaitu boleh minum berdiri namun duduk lebih baik"

U. Abdul Somad, "boleh minum berdiri jika dibutuhkan"

Buya Yahya "kalau kita minum berdiri, ingat kita melanggar larangan Nabi walaupun bukan larangan haram"

Dari semua pandangan diatas dapat disimpulkan :

1. Yang mengharamkan minum berdiri hanya Ibn Hazm.

2. Yang membolehkan dan duduk lebih baik adalah mayoritas ulama dan diikuti oleh Ustadz Firanda dan Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, U. Ahmad Syahrin Thoriq.

3. Yang mengatakan boleh minum berdiri jika dibutuhkan atau saat darurat adalah Ibn Taimiyah, Ibn Al Qayyim dan kebanyakan ulama kontemporer yang disebutkan diatas.

Penulis lebih condong kepada pendapat Ibn Taimiyah dan Ibn Al qayyim yaitu boleh minum dan makan berdiri jika dibutuhkan atau darurat

Ibn Al Qayyim dan yang lain menjelaskan alasan mereka :

Pertama, Nabi berdiri saat minum Zam-Zam karna tidak ada tempat duduk yang aman untuk Beliau, orang-orang yang hadir waktu itu ingin melihat Beliau, sehingga jika minum duduk bisa saja kerumunan orang yang berdesak-desakan membahayakannya.

Kedua, Ucapan Ibn Umar dikatakan Ulama terjadi saat perang, jadi meraka makan dan minum sambil berdiri atau berjalan.

Ketiga, Hadist larangan diriwayatkan oleh Anas yang menjadi pembantu Nabi selama 10 tahun, tentunya Anas mengetahui bagaimana kehidupan Nabi.

Keempat, Hadist Abu Hurairah larangannya cukup keras, yaitu "jangan minum berdiri, siapa yang lupa maka muntahkanlah"

Kelima, Dalil larangan adalah hadist ucapan yang jelas sedangkan pembolehan adalah hadist perbuatan, hadist ucapan lebih kuat dari perbuatan.

Walaupun larangan minum berdiri bukan pengharaman, akan tetapi makhruh.
______
(Rail / al munir : ...)
Baca selengkapnya »
Hukum Gambar dan Lukisan makhluk bernyawa

Hukum Gambar dan Lukisan makhluk bernyawa

Pertanyaan:

Bismillah, afwan tadz ana mau tanya bagaimana hukumnya menyimpan gambar foto di profil W.A, sementara kita tdk menghendaki foto tsb, krn mayoritas foto profil orang" awam bergambar makluk hidup ( foto mereka sendiri) Jazaakumullohu khoiron.

Jawaban :

Komite Fatwa Kerajaan Saudi Lajnah da'imah :

لا يجوز التصوير لا بالآلة الفوتوغرافية ولا بغيرها من غير ضرورة؛ لعموم النهي عن التصوير والوعيد الشديد عليه، ولا يجوز الاحتفاظ بالصور التي لا ضرورة لبقائها؛ لأمر النبي - صلى الله عليه وسلم - بطمسها وإتلافها، وقوله - صلى الله عليه وسلم -: «لا تدخل الملائكة بيتا فيه كلب ولا صورة (¬1) » متفق عليه. وإنما يجوز التصوير والاحتفاظ ببعض الصور في حالة الضرورة، كالصور التي في حفائظ النفوس وجوازات السفر والبطاقات الشخصية ورخص القيادة.

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
Tidak boleh mengambil foto baik dengan kamera atau alat lain tanpa ada keperluan darurat, karena larangan tentang menggambar bersifat umum dan ancamannya berat. Dan tidak boleh menyimpan foto-foto yang pengabadianya tidak mendesak. 

karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk menghapus dan melenyapkannya. Sabda Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- Malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang terdapat anjing dan gambar Muttafaqun `Alaih.

Tetapi boleh mengambil dan menyimpan beberapa foto dalam kondisi darurat, seperti foto-foto pada kartu identitas diri, paspor, kartu tanda pengenal, dan Surat izin mengemudi.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.


Syeikh Zaid Al madkhaliy menjawab ketika ditanya hukum gambar yg tersimpan di HP :

الجواب: "...قضية التصوير ظاهر الأدلة من السنٌة أن جميع التصوير بالوسائل المختلفة سواءً الحادثة في هذا الزمن أو غيره أنه حرام و لا يستثنى منه إلا ما دعت إليه الحاجة أو الضرورة فما كان بدون حاجة و لا تلجأ إليه ضرورة
فاالأصل التحريم و هو من الكبائر ...
" Permasalahan gambar adalah harom nampak dalil-dalil sunnah tentang pengharomanya baik dg menggunakan peralatan yg bermacam- macam dijaman modern ini atau selainya adalah harom. tidaklah memakainya kecuali karena ada hajat dan darurat. Maka tidaklah menggunakanya melainkan ada hajat dan tidaklah memakainya melainkan kondisi darurat. Maka hukum Asal gambar adalah harom serta termsuk dosa- dosa besar...". Fatwa Syeikh Zaid Almadkhaliy.

Disiasati jika banyak orang awam jangan dilihat gambar profilenya atau jika komunikasi urusan duniawi mengajaknya menggunakan sms atau bell langsung .pent. Wallohu A'lam bishowab.

Ditulis oleh Al Ustadz Abu Amina Al Jawiy حفظه اللّه
Akhukum Fillah Dipondok Annashihah Cepu.

Https://telegram.me/Annashihah_cepu
Baca selengkapnya »
Mengulang Shalat dari Awal Setelah Melakukan Sujud Sahwi

Mengulang Shalat dari Awal Setelah Melakukan Sujud Sahwi

Pertanyaan Dari: H.A. Saputra, Bantul, Yogyakarta
(disidangkan pada hari Jum’at, 22 Safar 1434 H / 4 Januari 2013)

Pertanyaan:

Beberapa hari yang lalu salah satu da’i terkenal yang sering berceramah di TV menjadi imam salat Jum’at di masjid Balai Kota Jogja. Pada rakaat kedua ia lupa tidak sujud kedua. Sudah diingatkan makmum tapi tidak dengar dan tidak sujud sahwi. Selesai salat, ia langsung sambutan.

 Ketika sedang sambutan, dibisiki oleh seorang jamaah bahwa tadi salatnya kurang, kemudian langsung melakukan sujud sahwi secara berjamaah. Tapi setelah itu ia mengumumkan kepada para jama’ah bahwa salat Jum’at diulang dari pertama.

Pertanyaannya, pernahkah Rasulullah shallallahu alahi wa salam melakukan demikian?

Jawaban:

Terima kasih atas kepercayaaan yang bapak berikan kepada kami untuk menjawab pertanyaan yang bapak ajukan di atas.

Sebelumnya akan kami jelaskan terlebih dahulu makna “sahwi”. Secara bahasa kata “sahwi”, “nisyan” dan “ghaflah” adalah lafal-lafal yang bermakna sama, yaitu lupa terhadap sesuatu atau lalainya hati dari suatu perkara (Ibnu Manzhur, Lisan al-‘Arab, vol. 14, hal. 406). Dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu disebutkan perbedaan antara kata “nisyan” dan “sahwi”, bahwa orang yang mengalami “nisyan” (kelupaan), jika kamu ingatkan maka dia akan teringat, berbeda dengan orang yang mengalami “sahwi” (Wahbah al-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, vol. 2, hal. 264).

Mengulang Shalat dari Awal Setelah Melakukan Sujud Sahwi

Dalam kitab-kitab hadis yang kami telusuri, ada beberapa riwayat yang menceritakan tentang sujud sahwi. Berikut ini akan kami paparkan riwayat-riwayat tersebut,

إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِى صَلاَتِهِ فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلاَثًا أَمْ أَرْبَعًا فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًا شَفَعْنَ لَهُ صَلاَتَهُ وَإِنْ كَانَ صَلَّى إِتْمَامًا لِأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ. [رواه مسلم]
Artinya: “Apabila salah seorang dari kalian ragu dalam salatnya, dan tidak mengetahui berapa rakaat dia salat, tiga ataukah empat rakaat, maka buanglah keraguan dan ambillah yang yakin. Kemudian sujudlah dua kali sebelum salam. Jika ternyata dia salat lima rakaat, maka sujudnya telah menggenapkan salatnya. Lalu jika ternyata salatnya memang empat rakaat, maka sujudnya itu adalah sebagai penghinaan bagi setan.” [HR. Muslim no. 571]
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى الظُّهْرَ خَمْسًا فَقِيلَ لَهُ أَزِيدَ فِي الصَّلَاةِ فَقَالَ وَمَا ذَاكَ قَالَ صَلَّيْتَ خَمْسًا فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ بَعْدَ مَا سَلَّمَ. [رواه البخاري]
Artinya: “Bahwasanya Rasulullah shallallahu alahi wa salam pernah salat zuhur lima rakaat, lalu beliau ditanya: Apakah ada tambahan rakaat salat? Beliau menjawab: (memang) apa yang terjadi? (Abdullah) berkata: Engkau mengerjakannya lima rakaat. Kemudian Rasulullah sujud dua kali setelah salam.” [HR. al-Bukhari no. 1226]
إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ مِنْ اثْنَتَيْنِ مِنْ الظُّهْرِ لَمْ يَجْلِسْ بَيْنَهُمَا فَلَمَّا قَضَى صَلَاتَهُ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ بَعْدَ ذَلِكَ. [رواه البخاري]
Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alahi wa salam (pernah langsung) berdiri pada rakaat kedua salat zuhur dan tidak duduk di antara keduanya. Tatkala selesai salat, ia sujud dua rakaat kemudian salam setelah itu.” [HR. al-Bukhari no. 1225]
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ صَلَّى بِنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَ أَوْ الْعَصْرَ فَسَلَّمَ فَقَالَ لَهُ ذُو الْيَدَيْنِ الصَّلَاةُ يَا رَسُولَ اللهِ أَنَقَصَتْ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَابِهِ أَحَقٌّ مَا يَقُولُ قَالُوا نَعَمْ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ أُخْرَيَيْنِ ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ قَالَ سَعْدٌ وَرَأَيْتُ عُرْوَةَ بْنَ الزُّبَيْرِ صَلَّى مِنْ الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ فَسَلَّمَ وَتَكَلَّمَ ثُمَّ صَلَّى مَا بَقِيَ وَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ وَقَالَ هَكَذَا فَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. [رواه البخاري]
Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah shallallahu alahi wa salam (pernah) mengimami kami salat zuhur atau asar, lalu beliau salam. Kemudian Dzulyadain bertanya kepada beliau: Wahai Rasulullah, apakah salat dikurangi (rakaatnya)? Beliau kemudian bertanya kepada para sahabat: Benarkah yang dikatakannya? Para sahabat menjawab: Benar. Lalu beliau menyempurnakan dua rakaat yang tertinggal, kemudian sujud dua kali. Sa’ad berkata: Aku melihat ‘Urwah bin Zubair salat magrib dua rakaat lalu salam, kemudian ia langsung bercakap-cakap, setelah itu ia menyempurnakan (rakaat yang kurang) dan sujud dua kali. Abu Hurairah berkata: Begitulah yang dikerjakan Nabi shallallahu alahi wa salam.” [HR. al-Bukhari no. 1227]

Dari hadis-hadis di atas dapat kita ketahui bahwa sujud sahwi bisa dilakukan sebelum salam dan juga setelah salam. Muhammadiyah, berdasarkan hadis-hadis tersebut mendefinisikan sekaligus menyimpulkan sebab-sebab dilakukannya sujud sahwi, yaitu:

  • Karena lupa duduk tahiyat awal
  • Karena ragu-ragu jumlah rakaat yang dikerjakan
  • Karena rakaat yang dikerjakan kurang
  • Karena rakaat yang dikerjakan kelebihan.

Sementara mengenai pertanyaan bapak – sepanjang penelusuran kami – tentang pernahkah Rasulullah shallallahu alahi wa salam mengulang kembali salatnya dari awal padahal sudah sujud sahwi, ternyata belum kami ketemukan. Hadis terakhir yang kami cantumkan di atas (HR. al-Bukhari no. 1227) 

tidak mengindikasikan bahwa Rasulullah shallallahu alahi wa salam mengulang salatnya dari awal, akan tetapi beliau hanya menyempurnakan salatnya yang kurang tersebut (karena jumlah rakaatnya kurang). 

Oleh karenanya jika hal yang seperti bapak jumpai tersebut terulang kembali, tidak perlu kita mengulang salat kita dari awal. Namun demikian, jika ada orang yang merasa kurang ‘mantap’ karena kelupaannya tidak melakukan sujud (seperti da’i yang mengulangi salat Jum’at tersebut), dipersilahkan untuk mengerjakan sujud sahwi dan tidak perlu sampai mengulang salatnya dari awal. 

Sedangkan untuk bacaan apa yang dibaca pada sujud sahwi, kami juga belum menemukan bacaan khusus yang dibaca atau diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alahi wa salam. Oleh karenanya, menurut hemat kami bacaan yang dapat dibaca adalah bacaan umum ketika sujud, yaitu:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي
Artinya: “Maha suci engkau ya Allah, wahai Tuhan kami dan dengan memujimu ya Allah, ampunilah aku”,

atau bacaan sujud lain yang telah terhimpun dalam buku Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah (lihat selengkapnya dalam HPT, Kitab Shalat, hal. 109-110).

Wallahu a’lam bish–shawab.

www.tarjih.or.id
Baca selengkapnya »
ASURANSI HAKIKAT DAN PEMBAGIANNYA

ASURANSI HAKIKAT DAN PEMBAGIANNYA

Definisi Asuransi:

Asuransi atau dlm bahasa fiqihnya dikenal dengan التأمين (at-ta’min) ialah sebuah akad atau aturan yang memberikan konsekuensi pada salah satu pihak, yaitu pihak penjamin (المُؤَمِّنُ) kepada pihak lain, yaitu pihak yang meminta jaminan (المُسْتَأْمَنُ) untuk menunaikan suatu kesepakatan ketika terpenuhinya persyaratan atau jatuh tempo dalam bentuk penggantian tunai yang telah ditentukan. [Al-Mu’jamul wasith, point: أَمِنَ]

Pembagiannya ada 2 dan tidak ada yg lain:
(1) Asuransi Sosial atau diistilahkan dengan ta’min ta’awuni atau ta’min tabaduli (تأمين تعاوني أو تأمين تبادلي).

Definisinya: berkumpulnya beberapa orang yang memiliki kepentingan yang serupa utk melakukan kerjasama tertentu, dimana setiap dari mereka mengeluarkan sejumlah harta untuk penggantian atau pembiayaan yang apabila tdk mencukupi maka diminta dari setiap anggota utk turut serta menutupi kekurangan sesuai dengan kekurangan atas pembiayaan atau penggantian tsb.

Sehingga setiap anggota menjadi penjamin dan orang yang mendapatkan jaminan, dimana tujuan dari perkumpulan tersebut ialah ta’awun (saling bantu) atas penanggulangan sebuah musibah yang terkadang terjadi pada sebagian anggota dan untuk memperingan kerugian-kerugian yang dialami sebagian anggota dan tidak ada tujuan dibalik itu upaya utk mendapatkan penghasilan atau keuntungan materi.


(2) Asuransi niaga (konvensional) (تأمين تجاري)
Definisinya: sebuah akad yang memberikan konsekuensi dari penjamin (mu’ammin) sesuai ketetapan yang diberikan kepada pihak yang dijamin (mu’ammin lahu) atau kepada yang akan memanfaatkannya (seperti ahli waris dll) yang telah dipersyaratkan oleh pihak asuransi sejumlah harta atau bentuk penggantian harta apapun ketika terjadinya kecelakaan atau terjadinya bencana yang telah dijelaskan dalam akad.

Sehinga dengan ini klaim hanya akan diwujudkan manakala ada tidaknya kecelakaan atau musibah.
Hukum Asuransi: 

Dalam hal ini Haiah kibar ulama sebagaimana tertera dalam ketetapannya 5/10 (juz. 4 hal. 304) ketetapan nomer (55) dan (51) serta Lajnah Daimah KSA dalam sekira 30 seri fatwa telah merinci bahwa asuransi terbagi menjadi 2, yaitu: asuransi yang diharamkan dan asuransi yang dibolehkan.
Disebutkan pada awal fatwa dalam fatwa nomer (5918): “asuransi dengan berbagai macamnya adalah haram dan terlarang; karena padanya mengandung ketidak pastian (jahalah) serta tipuan (ghoror) -yang keduanya tdk dapat dimaafkan- dan adanya unsur judi (muqomaroh), dan memakan harta dengan kebatilan, dan riba, dan semua ini telah disebutkan nash-nash nya atas keharamannya,
Alloh Ta’ala berfirman:

(وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ) [سورة البقرة : 188]
” Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil.” [Qs. Al-Baqarah: 188]

dan Alloh Ta’ala berfirman:

(إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ) [سورة المائدة : 91]
” Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” [Qs. Al-Maaìdah: 91]
Dan nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam:
«نهى عن بيع الغرر» [صحيح مسلم]
“Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam telah melarang dari jual-beli penipuan”.
Dan demikian halnya tidak boleh bekerja di perusahaan-perusahaan asuransi; karena pada yang demikian ada bentuk membantu mereka di atas perbuatan dosa.
وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء.
عضو…. عضو… نائب الرئيس… الرئيس
عبد الله بن قعود… عبد الله بن غديان… عبد الرزاق عفيفي… عبد العزيز بن عبد الله بن باز.
Dan diakhir pembahasan pada fatwa nomer (19406) Lajnah Daimah mengeluarkan bayan yang berisi sbb:

بيان من اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء حول التأمين التجاري والتأمين التعاوني.
“Penjelasan dari Dewan Riset Ilmiyah dan Fatwa seputar asuransi konvensional dan asuransi sosial”.

Segala puji bagi Alloh Robb alam semesta, sholawat dan salam terlimpahkan bagi nabi kita Muhammad, dan bagi keluarga serta para sahabatnya.. selanjutnya: bahwasanya telah berlalu terbit dari Haiah Kibar Ulama (Dewan Ulama Besar KSA) ketetapan akan haramnya asuransi konvensional dengan berbagai macamnya; karena di dalamnya mengandung madhorot dan keharaman yang besar, dan memakan harta orang lain dengan kebatilan, dan itu merupakan perkara-perkara yang menjadikan syari’at yang suci mengharamkannya, dan melarang dengan larangan yang keras. 

Sebagaimana telah terbit ketetapan dari Haiah Kibar Ulama akan pembolehan asuransi sosial, yaitu yang terbentuk dari pengumpulan (harta) muhsinin, dengan tujuan untuk membantu orang yang membutuhkan dan orang yang tertimpa bencana, dan tidak ada sesuatupun yang kembali (yakni keuntungan, pent) dari asuransi tersebut bagi para anggota, tidak harta modal, dan tidak pula keuntungan, dan tidak pula segala bentuk pengembalian bunga; karena tujuan dari anggota ialah (mengharap) pahala Alloh سبحانه وتعالى, dengan membantu orang yang membutuhkan, dan tidak ada tujuan pengembalian duniawi, dan yang demikian masuk ke dalam firman Alloh Ta’ala:

(وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ) [سورة المائدة : 2]
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan “. [Qs. Al-Maaìdah: 2]

Dan di dalam sabda nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam (disebutkan):
«والله في عون العبد ما كان العبد في عون أخيه».
“Alloh akan senantiasa menolong setiap hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya”.

Dan yang demikian adalah jelas tidak ada masalah padanya, akan tetapi tampak di masa belakangan dari sebagian Yayasan dan perusahaan upaya pengkaburan kepada orang-orang, dan membolak-balikkan kenyataan, dimana mereka menamakan asuransi konvensional yang diharamkan dengan nama asuransi sosial (atau syari’ah, pent), dan mereka menisbatkan ucapan tersebut kepada Haiah Kibar Ulama; dengan tujuan mengelabui orang-orang, dan legitimasi bagi perusahaan mereka, sedangkan Haiah Kibar Ulama berlepas diri dari praktek yang demikian dengan sebenarnya berlepas diri; karena ketetapannya jelas di dalam membedakan antara asuransi konvensional dengan asuransi sosial, dan perubahan nama tidaklah merubah hakikatnya; dan demi memberikan pencerahan bagi manusia dan menyingkap pengkaburan, serta meruntuhkan kedustaan dan penipuan, maka diterbitkannya penjelasan ini.

صلى الله وسلم على نبينا محمد، وآله وصحبه أجمعين. 
المفتي العام للمملكة العربية السعودية ورئيس هيئة كبار العلماء ورئيس اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء عيد العزيز بن عبد الله بن باز
[Fatawa Lajnah Daimah (1) juz. 15 hal. 268-269, via maktabah syamilah]

Demikian keterangan soal asuransi, sehingga berkaitan dengan adanya BPJS, maka tinggal dilihat apakah prakteknya masuk kepada perkara yg dihalalkan atau diharamkan, karena adanya informasi yang kurang lengkap tentang masalah tersebut. Wallohu a’lam.

Abu Abduh Muhammad Sholehuddin
Baca selengkapnya »
Bolehkah Mengundang Pawang Hujan agar Acara lancar ?

Bolehkah Mengundang Pawang Hujan agar Acara lancar ?

Bagaimana hukum mengundang pawang hujan agar hujan tidak turun karena adanya acara atau kegiatan yang akan dilangsungkan? Mohon penjelasannya Ustadz.

Jawab: Air hujan yang turun dari langit sesungguhnya rahmat dan karunia dari Allah subhanahu wa ta'ala. Hal ini telah Allah ingatkan dalam firman-Nya:

ونزلنا من السماء ماء مباركا فأنبتنا به جنات وحب الحصيد
"Dan Kami turunkan dari langit air yang diberkahi lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam." (Qof: 9)

Mengundang Pawang Hujan

Turunnya hujan juga membuka kesempatan bagi kita untuk mendulang amal sholih seperti berdoa kepada Allah saat melihat hujan turun dengan kalimat:
اللهم صيبا نافعا 
"Alloohumma shoyyiban naafi'a" (Ya Allah curahkanlah hujan yang bermanfaat). (HR. Al-Bukhori 1032)

Bahkan Nabi shollallahu 'alaihi wasallam menyingkap pakaiannya saat awal-awal turunnya hujan sehingga air hujan mengenai tubuh beliau (HR. Muslim 1494)

Hal itu beliau lakukan guna mengharap berkah dari Allah melalui air hujan yang baru saja Allah turunkan.

Saat hujan turun juga dianjurkan banyak-banyak berdoa karena pada waktu itu termasuk waktu maqbulnya doa. Nabi shollallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Carilah mustajabnya doa pada tiga waktu yaitu saat berhadapannya dua pasukan perang, saat menjelang iqomat sholat, saat turunnya hujan." (Shohihul Jami' 1026)

Maka orang yang menyesalkan turunnya hujan adalah orang yang tidak bersyukur kepada nikmat Allah. Perbuatan seperti itu termasuk kufur nikmat (dosa besar) yang bisa menjadi sebab dicabutnya nikmat-nikmat Allah yang lain. Padahal boleh jadi kegiatannya itu diberkahi Allah lantaran turunnya hujan.

Adapun mengundang pawang hujan hukumnya sama seperti mengundang dukun (paranormal). Perbuatan ini juga termasuk dosa besar yang dapat menjerumuskan orang kepada kekufuran (keluar dari Islam). Nabi shollallahu 'alaihi wasallam bersabda:

من أتى كاهنا فصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على محمد
"Barangsiapa mendatangi dukun lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad (Al-Qur'an)." (HR. At-Tirmidzi 135 dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam "Irwa'ul Gholil" 6817)

Al-Qur'an telah menegaskan bahwa tidak ada yang mengetahui perkara ghoib kecuali Allah. Sedangkan turunnya hujan termasuk perkara yang ghoib. Maka mempercayai orang berkemampuan mengendalikan hujan berarti dia telah mengakui adanya pihak yang Mahatahu perkara ghoib selain Allah. Ini adalah keyakinan syirik dan bila pelakunya mati namun belum sempat bertaubat kepada Allah maka tempatnya di neraka kekal selama-lamanya. Allah berfirman:

إنه من يشرك بالله فقد حرم الله عليه الجنة ومأواه النار وما للظالمين من أنصار
“Barangsiapa yang berbuat syirik, maka sungguh Allah haromkan atasnya untuk masuk surga, dan tempatnya di neraka. Dan tidak ada bagi orang yang zalim seorang penolongpun.” (Al-Ma’idah: 72)

Lalu bagaimana bila ternyata hujan benar-benar tidak turun? Jangan Anda terpedaya karena yang demikian itu adalah ujian dari Allah. Sesungguhnya syaithon hendak mempermainkan manusia agar mau menghambakan dirinya kepada selain Allah.

Nabi shollallahu 'alaihi wasallam telah mengabarkan, bahwa syaithon dari kalangan jin mencuri dengar berita langit lalu dia sampaikan satu berita itu kepada pengabdinya dari kalangan dukun yang dicampur dengan seratus berita dusta. Oleh sebab itu terkadang ada berita dari para dukun yang tidak meleset terjadi, akan tetapi semua itu adalah ujian dari Allah.
__
ustadz Fikri Abul Hasan
Baca selengkapnya »
PUASA SUNAT LALU JIMA’ (hubungan suami-istri)

PUASA SUNAT LALU JIMA’ (hubungan suami-istri)

Pertanyaan.

Saya sering melakukan puasa sunnah pada hari Senin dan Kamis. Suatu hari, pada saat saya sedang puasa sunat, istri mengajak melakukan hubungan suami istri. Yang kami tanyakan, apakah hukum perbuatan kami ini ? Apakah yang kami lakukan ini termasuk dosa besar ? Jazâkumullâh khairan
081XXXXXXX2

Jawaban.
Barangsiapa yang telah berniat melakukan puasa sunnah, maka sebaiknya ia menyempurnakan puasanya. Tetapi, ia juga boleh membatalkan puasa sunnah. Sebab dalam masalah puasa sunnah, pelaku bisa mengatur dirinya. Berdasarkan dalil di bawah ini:

‘Aisyah berkata : Rasulullah bertanya kepadaku : “Apakah kamu memiliki sesuatu (makanan) ? Aku menjawab : “Tidak ada apa-apa”. Beliau bersabda : “Kalau begitu aku akan melanjutkan puasaku”, lalu beliau keluar. Kemudian kami diberi hadiah, atau seseorang berziarah kepadaku (dengan membawa hadiah).

Tatkala Rasulullah pulang, aku berkata : “Wahai Rasulullah, kami diberi hadiah atau ada seseorang yang berziarah kepadaku, dan aku telah menyisakan buatmu”. Kemudian beliau bertanya : “Apa itu?” Aku berkata : “Haisun (sejenis makanan dari kurma, minyak samin dan tepung)” Beliau berkata: “Bawalah kemari”, lalu aku menghidangkannya. Kemudian Beliau memakannya dan berkata : “Sungguh aku tadi telah berniat untuk puasa.

[HR Muslim]

PUASA SUNAT LALU JIMA’

Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Bagi Imam Syâfi’i rahimahullah dan para ‘Ulama yang sependapat dengannya, dalam riwayat yang kedua terdapat dalil yang jelas, bahwa puasa nâfilah (sunat) boleh dibatalkan, dan makan di tengah-tengaatal puasanya karena ia adalah nâfilah. Puasa nâfilah ada pada pilihan manusia, baik waktu memulai atau diteruskan atau tidak. Ini adalah merupakan pendapat kebanyakan para Sahabat, Imam Ahmad, Ishâk dan yang lainnya. Hanya saja, mereka sepakat bahwa menyempurnakan puasa sunat adalah disunnahkan. [Syarah shahîh muslim, 4/291]

Pendapat ini pun diperkuat oleh hadits Abu Juhaifah : Tentang kisah Salmân dan Abu Darda Radhiyallahu anhuma : Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan Salmân dan Abu Darda Radhiyallahu anhuma . Maka Salmân Radhiyallahu anhu membuat makanan buat Abu Darda Radhiyallahu anhu, kemudian ia berkata kepada Abu Darda Radhiyallahu anhu : “Makanlah” ! ia berkata: “Aku sedang puasa” 

Salmân Radhiyallahu anhu berkata: “Aku tidak akan makan sehingga kamu makan” lalu Abu Darda Radhiyallahu anhu makan. Salmân Radhiyallahu anhu berkata kepada Abu Darda Radhiyallahu anhu : “Sesungguhnya bagi rabb-Mu memiliki hak atasmu dan jiwamu memiliki hak atasmu, juga keluargamu mimiliki atasmu ada hak. Maka, berikan setiap hak kepada memiliki hak.” Lalu Abu Darda Radhiyallahu anhu datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau berkata kepadanya: “Benar ucapan Salmân. 

[HR Bukhâri, no. 1967]

Dalam hadits ini disebutkan bahwa Abu Darda Radhiyallahu anhu berbuka setelah ia meniatkan puasa dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkannya untuk mengqadha puasanya.

Demikian juga dikuatkan oleh Hadits :

عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إِلَى طَعَامٍ فَلْيُجِبْ فَإِنْ شَاءَ طَعِمَ وَإِنْ شَاءَ تَرَكَ
Jâbir bin ‘Abdillâh berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu diundang kepada suatu makanan (perjamuan), maka penuhilah undangannya. Apabila hendak memakannya maka makanlah, dan apabila tidak ingin maka tinggalkanlah. [HR Muslim ,at-Timidzi, Ibnu Mâjah, Ahmad, al-Baihaqi]

Juga hadits:

عَنْ أُمِّ هَانِئٍ وَهِيَ جَدَّتُهُ : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا يَوْمَ الْفَتْحِ فَأُتِيَ بِإِناَءٍ فَشَرِبَ ثُمَّ ناَوَلَنِيْ فَقُلْتُ إِنِّيْ صَائِمَةٌ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَطَوِّعُ أَمِيْرٌ نَفْسَهُ فَإِنْ شِئْتِ فَصُوْمِيْ وَإِنْ شِئْتِ فَأَفْطِرِيْ
Dari Umi Hâni: Bahwa Rasulullah masuk kepadanya pada hari pembebasan Mekah, lalu didatangkan kepadanya air, lalu beliau meminumnya, kemudian Nabi memberikan kepadaku. Maka aku berkata: “Aku sedang puasa. Maka Nabi bersabda: “Orang yang puasa sunnah, maka ia adalah amir atas dirinya. Jika kamu mau puasa maka puasalah, dan apabila ingin buka maka bukalah. [HR al-Hâkim, al-Baihaqi, an-Nasâi dan Ahmad. Hadit ini dishahîhkan oleh Syaikh al-Albâni]

Maka tidak berdosa apabila seorang sedang puasa sunnah, membatalkan puasanya karena istrinya mengajak jima` atau sebaliknya, berdasarkan dalil-dalil di atas.

Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06-07/Tahun XIII/Ramadhan – Syawal 1430/2009M.
Baca selengkapnya »
Bekerja sebagai Sopir ojek online Halalkah ?

Bekerja sebagai Sopir ojek online Halalkah ?

Pertanyaan: 

Apakah menjadi supir ojek online dan taksi online itu haram ataukah halal?

Jawaban:

yang pertama, saya belum tau bagaimana sistemnya untuk daftar jadi ojeknya mereka. Anggap tidak ada perkara yang haram, yang jadi masalah adalah kalau sudah online seperti ini, terkadang kamu tidak tahu siapa pelanggannya. Misal ada pelanggan di tempat ini, kamu ke sana, dapat. Ternyata cewek (perempuan). Boleh antum membonceng perempuan? Jawabannya tidak boleh.

ojek online

Apalagi antum pegang mobil taksi, ada yang masuk ke antum di mall Metro lalu ke sana ternyata rombongan cewek, perempuan kabeh di taksi antum ini, hukumnya apa ikhwan? Itu ga boleh, itu berkhalwat. Jadi ketika masuk ke sana tidak ada sesuatu yang haram, maka antum harus selektif hanya menerima pelanggan yang pria atau suami istri. 

Bisa kaya gitu? Ketika mengangkat pesanan tanya dengan siapa?.. Oh dengan pak Fulan, berangkaaat. Dengan siapa?...Oh dengan bu Fulan, maaf tidak bisa melayani. Mungkin ga? 

Ya mungkin, ada chatingannya kok. Antum harus selektif, hanya menerima pelanggan yang putra, itu kalo antum pake motor. Kalau pake mobil hanya menerima pelanggan yang putra atau pasangan suami istri. Itu resikonya barakallahu fiikum.

Angel ustadz bolak balik wedok, bolak balik wedok. Wedok kabeh. Ya wis jangan mencari sesuatu yang membikin resah dan gelisah iman dan takwa kamu. Apalagi meresahkan yang satu itu....Wallahul Musta'an

Oleh: Al-Ustadz Muhammad Afifuddin as-Sidawy hafizhahullah
Baca selengkapnya »
Membaca Al Fatihah dan Amin pada shalat jamaah

Membaca Al Fatihah dan Amin pada shalat jamaah

Membaca amin

Mayoritas ulama berpandangan hukumnya sunnah, lalu kapan makmum membacanya?

Dalam hadist disebutkan "apabila imam membaca amin, maka bacalah amin" (Hr. Bukhari dan Muslim)

Imam Malik berpendapat, imam tidak perlu membaca amin secara jelas sedangkan makmum baca kuat. Karna Allah berfirman "berdoalah kepada Rabb kalian dengan tunduk dan pelan" (Al a'raf : 55)

Namun pandangan Imam Malik ini tidak tepat, karna kalau alasannya ayat tersebut maka makmumpun mesti baca pelan. Kita memilih pendapat berdasarkan hadist diatas, yaitu imam harus membaca amin secara jahr, karna makmum mengikuti imam, bagaimana makmum mengikutinya kalau ia membaca pelan.

Membaca Al Fatihah dan Amin pada shalat jamaah

Hukum membaca Al Fatihah

Bagi Imam membaca Al Fatihah ulama sepakat hukumnya wajib karna bagian dari rukun sholat berjamaah, sedangkan bagi makmum terdapat tiga pendapat :

1. Wajib, ini adalah pendapat Imam Syafi dan Imam Bukhari, berdasarkan sabda Nabi "tidak ada shalat bagi yang tidak membaca Al fatihah" (Hr. Bukhari dan Muslim)

2. Tidak wajib membacanya, ini adalah pandangan mazhab Hanafi. Karna ada dalil "siapa yang shalat dibelakang imam, maka bacaan imam adalah bacaannya" (Hr. Ahmad dan Ibn Majah) tapi hadis ini dhaif.

3. Pandangan ketiga dibedakan antara shalat jahriyah dan sirriyah.

Untuk shalat jahriyah tidak wajib karna Allah berfirman "jika ayat Al Quran dibaca maka dengarkanlah dan diam" (Al A'raf : 204) ulama berkata : ayat ini khusus untuk orang yang shalat, berdasarkan hadist yang diriwayatkan Imam Muslim "jika Imam takbir maka bertakbirlah dan jika imam membaca hendaklah kalian diam"

Dan untuk shalat sirriyah makmum wajib baca.

Pendapat penulis (Syaikh Abdul Aziz At tharifi) pendapat ketiga lebih tepat yaitu makmum membaca Al fatihah pada shalat sirriyah dan tidak membaca pada shalat jahriyah.

Sedangkan pensyarah (Dr. Rozaimi) memilih pendapat wajib membaca Al Fatihah bagi makmum untuk shalat sirriyah ataupun jahriyah.
___________________
Tambahan dari kami :

Syaikh Ibn Taimiyah berpendapat : jika Imam membaca keras maka makmum cukup mendengarkan (Majmu' Fatawa/ 23 : 265)

Sedangkan Syaikh Shalih Al Fauzan menyatakan untuk kehati-hatian, makmum tetap membaca Al fatihah walaupun pada shalat jahriyah. (Mulakhash al fiqh/ 1: 128)

Syaikh Al Utsaimin berkata disyariatkan bagi makmum membaca Al Fatihah walaupun Imam sedang membaca Al fatihah dengan pengeras suara. Namun jika makmum terlambat dan mendapati imam sedang rukuk, maka pada keadaan ini gugur baginya kewajiban membaca Al fatihah (Majmu' fatawa / 13 : 128)

Syaikh Al bani dalam bukunya "sifat shalat Nabi" sepakat dengan pendapat ke tiga.

Kami lebih memilih pendapat pertama yaitu wajib membaca Al fatihah baik sirriyah maupun jahriyah, karna Al fatihah adalah rukun shalat dan tidak sah shalat tanpa membacanya.

Pelajaran

Dari perbedaan pendapat ulama diatas maka kita pahami bahwa umat Islam boleh bertoleransi dalam pembahasan khilafiyah mu'tabarah walaupun dalam perkara besar, mereka tidak mencela satu sama lain. Shalat adalah ibadah paling penting bagi seorang muslim, coba bayangkan jika makmum tidak membaca Al fatihah pada shalat jahriyah bagi orang yang mengambil pendapat wajibnya membaca Al Fatihah, apakah shalatny sah? Jelas tidak sah. Tapi, ia mesti berlapang dada terhadap orang yang mengambil pendapat yang cukup mendengarkan imam saja.

Oleh Dr. Rozaimi Ramle dalam Daurah "Sifat Shalat Nabi" karya Syaikh Abdul Aziz At Tharifi.

Ditulis oleh Rail / al munir
Baca selengkapnya »
Artis Bercadar dipersidangan, Apakah Melecehkan Islam ?

Artis Bercadar dipersidangan, Apakah Melecehkan Islam ?

Mohon tanggapan mengenai kasus artis yang banyak bercadar di persidangan. Apakah itu melecehkan islam?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Bagian dari tabiat manusia yang lemah, ketika dia kepepet, dia akan mencari perlindungan.

Termasuk diantaranya mereka berlindung kepada aturan Allah, dengan mengikrarkan syahadat laa ilaaha illallah, ngaku mukmin, untuk mendapatkan jaminan kesejahteraan dari umat islam.

Artis Bercadar dipersidangan

Seperti yang dilakukan komplotan munafik Madinah.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آَمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ . يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
"Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,” Padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman .Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar." (QS. al-Baqarah: 8 – 9)

Termasuk juga yang dialami Usamah radhiyallahu ‘anhu. Beliau pernah diutus oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tugas jihad. Suatu ketika beliau menyerang huruqat, kampung bani Juhainah, hingga beliau dan satu orang anshar berhasil mengejar seorang laki-laki. Ketika kami hendak menyerangnya, lelaki ini mengucap laa ilaaha illallaah. Orang anshar tadi menarik pedangnya dan tidak jadi nyerang, sementara Usamah tetap menyerangnya hingga terbunuh.

Setelah sampai Madinah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatahui hal ini, dan beliau menanyakan,

يَا أُسَامَةُ أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ
Wahai Usamah, apakah kamu telah membunuh seseorang padahal telah mengikrarkan laa ilaaha illallah?

Usamah hanya bisa menjawab,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا كَانَ مُتَعَوِّذًا
Ya Rasulullah, dia hanya ingin melindungi dirinya. (HR. Bukhari 6872 & Muslim 288)

Dalam riwayat lain, Usamah mengatakan,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنَ السِّلاَحِ
“Ya Rasulullah, dia ucapkan itu hanya karena takut senjata.” (HR. Muslim 287)

Namun alasan ini tidak diterima oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan beliau tetap memarahi Usamah.

Mereka Berlindung dengan Islam

Sebagaimana orang munafik berlindung dengan islam untuk mendapatkan pengakuan sebagai orang beriman, orang musyrik berlindung dengan syahadat laa ilaaha illallaah untuk mendapatkan pengakuan islam, terkadang tukang maksiat juga berlindung dengan islam untuk mendapatkan pengakuan kesalehan.

Para artis pezina itu, tiba-tiba memakai busana muslimah atau baju muslim, agar dinilai sebagai orang soleh. Agar mereka dianggap baik, wanita solihah. Setidaknya bisa meringankan tuntutan hukum yang akan mereka terima.

Mereka malu jika harus mengenakan pakaian aurat. Karena mereka sadar, itu pakaian orang bejat.

Tidak ada yang memaksa mereka untuk memilih busana muslimah. Tapi naluri mereka mengarahkan agar memilih busana muslimah. Ini membuktikan bahwa secara naluri manusia itu menganggap islam paling benar.

Mengapa Tidak Busana Biarawati atau Pastur?

Terlepas dari apa agama mereka, kita tidak pernah melihat ada artis yang ketika disidang dia langsung memakai pakaian suster atau biarawati atau yang lelaki memakai pakaian pastur. Tapi yang mereka pilih adalah jilbab atau bahka cadar.

Karena nama pastur atau biarawati bukan melambangkan ikon orang soleh dan solihah. Jika anda mendengar kiyai berzina, anda akan dengan spontan menghina dan melecehkannya. Karena tidak pantas, ikon kesalehan semacam ini diberikan kepada tukang maksiat.

Tapi ketika kita mendengar, pastur main serong dengan biarawati, orang berkomentar, lumrah. Itukan cara mereka menyalurkan syahwat biologisnya.

Kita Berharap Semoga Mereka Bertaubat

Semoga hijab syar’i yang mereka kenakan bukan untuk sembunyi dari hukum saja, tapi betul-betul karena dia ingin bertaubat. Mereka awali dengan memakai hijab untuk lebih mendekat ke islam. Sehingga, kita tidak menyebut ini sebagai mengejek islam.

Allahu a’lam.

✒ Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits Lc

Sumber: konsultasisyariah.com
Baca selengkapnya »
Hukum mengkhianati amanah dan kaffaratnya

Hukum mengkhianati amanah dan kaffaratnya

بسم الله الرحمن الرحيم 
Assyaikh Muhammad Ibnu Shalih al'ustaimin Rahimahullah.

Pertanyaan: Apa hukum bagi orang yang mengkhianati amanah dari ucapan atau perbuatan, apa kaffarahnya ❓

Jawaban: 

⚠Mengkhianati amanah adalah termasuk dari tanda-tanda kemunafikan, karena sesungguhnya Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
“Tanda munafik ada tiga: apabila berbicara, dia berdusta; apabila berjanji, dia menyelisihi janji; dan apabila dipercaya, dia berkhianat.” (HR. al-Bukhari no. 6095)

❌Tidak halal bagi seorangpun untuk mengkhianati amanah, sama saja apakah amanah tersebut berbentuk ucapan atau perbuatan, dikarenakan jika hal itu dia lakukan, maka padanya terdapat tanda dari tanda-tanda kemunafikan, terkadang yang demikian ini berjalan terus, sampai mengantarkan kepada nifak Akbar (kekufuran) , wal'iyadzubillah.

Hukum mengkhianati amanah dan kaffaratnya

Apabila seseorang menyampaikan kepadamu dengan suatu pembicaraan seraya mengatakan: ini adalah amanah, haram bagimu untuk kamu sebarkan kepada seorangpun, jika kamu lakukan maka sungguh, kamu telah mengkhianati amanah,

✋Namun kalau seandainya kamu tidak sengaja melakukannya, kamu mengkhianati amanah, maka wajib atasmu, untuk minta kehalalan orang yang telah mengamanahkan kepadamu, dikarenakan kamu telah menzaliminya, dengan mengkhianatinya, semoga Allah memberinya hidayah, kemudian merelakannya (memaafkanmu)

Dan yang semestinya bagi orang yang saudaranya datang kepadanya minta uzur kepadanya, hendaklah dia memberi 'udzur dan memaafkan, sehingga dia mendapatkan jaminan pahala dari Allah 'azza wa jalla sebagaimana dalam firman-Nya:

فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ…
Barangsiapa yang memaafkan dan menghasilkan perbaikan, maka pahalanya di sisi Allah ….(Q.S asy-Syuura:40.

Dan tidak diragukan, bahwasanya amanah itu berbeda-beda didalam pengaruhnya, terkadang menyebarkan rahasia didalam amanah adalah perkara yang besar, akan menyebabkan kerusakan yang besar , terkadang sedang-sedang dan terkadang ringan.

Sumber: http://binothaimeen.net/content/Download/12869

Alih bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman Ibnu 'umar غفر الله له.

Website: Salafycurup.com
Baca selengkapnya »
-->