IBX5A47BA52847EF DakwahPost: inspirasi
Siti Ainun Kholifah, Sang Mantan Misionaris

Siti Ainun Kholifah, Sang Mantan Misionaris

Doktrin tentang agama Islam yang dikatakan agama para budak, justru semakin menguatkan rasa penasaran akan pemahaman keagamaan Islam yang sebenarnya bagi Siti Ainun Kholifah, perempuan muallaf kelahiran Surabaya 1979. Meski, setelah mengucapkan syahadat dan sudah menjadi seorang muslimah beberapa pekan pada waktu itu, ia sendiri belum bisa mengatakan bahwa pribadinya sudah menjadi muslimah. Baru setelah menunaikan shalat dan saat sujud terakhir, ia melihat cahaya putih dan merasakan ada kedamaian luar biasa yang tak terwakili oleh perkataan apapun. Itulah nikmat iman, katanya.

Bagaimana kisah perjalanan mendapatkan hidayah dan apa yang perlu diperbaiki umat Islam saat ini menurut muallaf ini? Berikut petikan wawancara Abdul Kholiq Jurnalis KLIKMU.CO dengan Siti Ainun Kholifah sang mantan misionaris, pada akhir April lalu di Pondok Pesantren Darut Taqwa II Ngoro, Mojokerto, Jawa Timur.

Faktor apa yang melatarbelakangi sehingga anda memutuskan hijrah soal pandangan hidup dan agama?

Awalnya tidak tertarik sama sekali dengan Islam karena banyak kejadian terlihat di media adanya tindakan anarkis dari forum Islam dengan dalil menenggakkan kebenaran. Juga seringnya pemicu pertikaian hingga terjadinya korban, misalnya, aksi teroris yang kebanyakan pelakunya dan ajarannya mereka adalah atas nama Islam.



Selain itu, selama belajar di Sekolah Teologi, menarik saya untuk menggali lebih dalam karena dulu agama Islam yang saya tahu adalah agama para budak (karena dilahirkan dari budak Sarah yang bernama Hajar yang kemudian lahirlah Ismail berikut keturunannya. Pendek kata, bahwa Alquran hanyalah kitab hasil kopi atau rangkaian ulang dari Alkitab. Terlebih, Nabinya atau pembawa risalah itu buta huruf sehingga diragukan keabsahan penulisnya. Hal ini membuat saya semakin ingin mengetahui tentang kebenarannya.

Adakah faktor lain yang bisa diceritakan?

Saya kira karena Hidayah. Alhamdulillah, ketenangan saya peroleh setelah saya memutuskan untuk hijrah. Pertama kali, saya mengucapkan syahadat di sebuah rumah keluarga muslim yang sangat sederhana dan disaksikan beberapa warga setempat di Bogor. Setelah mengucapkan syahadat, saya belum bisa mengatakan bahwa diri saya sudah muslim, hingga beberapa pekan.

Setelah Anda memutuskan muslimah, pasti dong ada gejolak dalam hati. Bagaimana itu?

Seperti tadi, saya belum bisa mengatakan diri saya seorang muslimah. Baru ketika dalam perjalanan menuju Jakarta dari Bogor saya mampir ke rumah teman untuk shalat Dhuhur dan pada sujud terakhir saya melihat cahaya putih dan merasakan ada kedamaian yang luar biasa tak terwakili oleh perkataan apapun. Dan setelah menyelesaikan shalat, saya menyadari bahwa itulah nikmat yang Allah berikan kepada saya. Sehingga di dalam Islam ada kedamaian dan keindahan. Hal inilah yang makin membuat saya yakin mengakui bahwa saya seorang muslimah (muallaf).

Bisa diceritakan singkat profil diri Anda?

Saya lahir dari keluarga Kristen dari pasangan Eko Riyanto dan Sugiarti Endah W. di desa Kristen Sidorejo, Pare, Kabupaten Kediri. Saya anak ke-6 dari 8 bersaudara, dengan nama Kristin sebelum menyandang nama baru, Siti Ainun Kholifah.

Anda melihat Islam seperti apa?

Saat ini, saya berdiri dengan agama Islam mengatakan bahwa ajaran Islam itu jauh lebih sempurna daripada agama lainnya. Dan hal ini jelas tertulis dalam QS Ali Imran: 19. Dan jika semua orang dapat mengimplementasikan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari, insya-Allah tidak ada konotasi negatif, kecuali konotasi negatif itu diciptakan pihak lain untuk menghacurkan dan memfitnah umat Islam.

Yang perlu diperbaiki dalam diri umat Islam, menurut Anda seperti apa?

Kurangnya ukhuwah Islamiyah dalam Islam, terlebih kepedulian untuk muslim dalam bidang ekonomi, dan tingkat pendidikanyang masih rendah. Hal ini miris karena justru menjadi perhatian khusus bagi misionaris untuk membawa mereka pada misi Kristenisasi dengan embel-embel memberikan bantuan dalam bentuk apapun secara gratis. Perlu struktural yang kuat dalam membangun benteng keimanan, baik untuk diri dan organisasi. Saya menilai, penguatan iman Islam perlu dilakukan pendekatan dalam seluruh aspek kehidupan. Dakwah bukan sebatas tugas ulama, tetapi juga semua orang Islam hal ini akan lebih mudah dan saling menguatkan.

Sekarang Anda benar-benar menemukan ketenangan batiniyah?

Mulanya hanya sebatas menjadi beragama Islam sesuai KTP, tetapi ketika saya memutuskan untuk menjalani hidup sebagai seorang muslimah (muallaf) dan melandasi setiap hal yang saya lakukan untuk ibadah dan mencari keridhaan Allah swt., alhamdulillah saya lebih tenang. Mungkin hal ini perlu diterapkan untuk semua orang, jika hidup kita hanya ibadah (pemahaman ibadah secara menyeluruh) kepada Allah subhanahu wa ta'ala.

source klikmu.co
Baca selengkapnya »
Kisah Menakjubkan Kezuhudan Sahabat Umair Bin Sa'ad Radhiallahu Anhu

Kisah Menakjubkan Kezuhudan Sahabat Umair Bin Sa'ad Radhiallahu Anhu

Di dalam sebuah riwayat disampaikan bahwa Umar radhiallahu anhu adalah sosok sahabat yang tidak pernah condong kepada siapapun.

Ia juga tidak pernah berbasa-basi dengan siapapun dalam hal yang berkaitan dengan agama Allah subhanahu wa ta'ala. Pada suatu hari dia hendak memilih seorang pemimpin untuk menjadi seorang pemimpin dikota Himsh. Dia menentukan beberapa persyaratan dari para calon pemimpin.

Persyaratan yang disebutkan Umar radhiallahu anhu itu tidak pernah didengar, kecuali dialam mimpi.
Menurut Umar, pemimpin harus orang yang zuhud,wara',jujur dan bisa menjaga rahasia,gemar berpuasa,gemar shalat malam dan senantiasa menghindar dari kekuasaan serta tidak pernah mengharapkannya.

Umar pernah berkata, "Aku menginginkan seorang laki-laki ditengah-tengah suatu kaum yang bukan pemimpin mereka, namun dia tampak seperti pemimpin mereka. Apabila laki-laki itu diangkat sebagai pemimpin, dia tidak tampak seperti pemimpin, dia tidak tampak seperti peimpin, tetapi justru seperti rakyat biasa.

Kezuhudan Sahabat Umair Bin Sa'ad Radhiallahu Anhu

Doa menginginkan seorang pemimpin yang tidak pernah tampil lebih mewah daripada rakyatnya, baik dalam hal pakaian,makanannya, maupun tempat tingggalnya, senantiasa mengerjakan shalat bersama rakyatnya,membagi-bagikan rezeki kepada mereka dengan benar,mengeluarkan keputusan dengan adil dan tidak menutup pintu tatkala rakyatnya membutuhkannya."

Pada saat itu, sosok yang terlintas dibenak Umar radhiallahu anhu, adalah UMAIR bin SA'AD. Diapun memilihnya sebagaimana sebelumnya,dia memilihnya sebagaimana dia telah memilih Said bin Amir.

Tujuan Umar memilih Umair adalah agar orang-orang dapat menjadikannya sebagai teladan dalam bersikap zuhud,wara',adil dan memiliki jiwa ksatria.

Umar bin Khaththab radhiallahu anhu pun memangigil Umair bin Sa'ad yang sedang berada di medan perang di negeri Syam.

Ketika sampai dikediaman Umar, Umair langsung disodori surat pengangkatan untuk menjadi gubernur daerah Himsh. Umair berusaha mencari alasan untuk menolak pengangkatan itu. Akan tetapi, Umar memaksanya. Hinggan akhirnya, dengan terpaksa, Umair pun memenuhi permintaan tersebut. Ia sebelumnya menolak karena memiliki keinginan untuk menghabiskan sisa usianya dimedan perang gar Allah Ta'ala menganugerahkan kepadanya mati syahid di jalan-Nya.

Setelah surat pengangkatan itu disetujui, Umair bertolak menuju kota Himsh untuk memulai tugasnya, Ketika memasuki kota himsh, dia langsung mengajak seluruh penduduk Himsh,untuk melaksanakan shalat berjama'ah. Setelah melaksanakan shalat, Umair berkhotbah didepan mereka.
Dalam khotbah yang dimulai dengan memanjatkan puji syukur kepada Allah ta'ala dan bershalawat kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, dia berkata,"Ketahuilah, sesungguhnya islam mempunyai tembok yang sangat kokoh, dan pintunya yang sangat kuat. Tembok islam adalah KEADILAN, sedangkan pintunya adalah KEBENARAN.

Jika tembok itu dirobohkan dan pintu itu dihancurkan, maka islam akan hancur. Islam akan tetap kokoh bila para pemimpin bertindak TEGAS.

KETEGASAN itu bukan dengan membunuh menggunakan pedang atau cambukan cemeti,melainkan dengan mengeluarkan keputusan yang benar dan adil." (Ath thabaqaat(IV/227)

Dengan kalimat yang sangat jelas itu, Umair memulai perjuangannya dikota Himsh. Setelah satu tahun Umair menghabiskan waktunya di Himsh, Umar merasa perlu mengetahui kinerja Umair. Hal itu karena tidak ada beita tentang Umair yang sampai kepadanya. Umar mengirim surat kepada Umair. Dalam surat itu, Umar menulis,"Apabila suratku ini sampai ketanganmu, datanglah kemari dengan membawa harta yang telah kamu kumpulkan dari sedekah dan zakat."

Setelah membaca surat itu, Umair bergegas menyiapkan tas ransel,tempat makanan,kantong kulit dan tongkatnya. Setelah semua persiapan beres, Umair berangkat dengan berjalan kaki. Butuh beberapa hari perjalanan ditengah padang pasir untuk sampai kota madinah.

Dengan wajah yang pucat pasi, tubuh penuh debu,dan rambut kumal, Umair menghadap sang khalifah, Umar bin Khaththab Radiyallahu anhu dan mengucapkan salam, "Assalamu'alaikum, wahai Amirul Mukminin!" Umarpun membalas salamnya lalu bertanya,"Mengapa kondisimu seperti ini?" Umair menjawab,"Bukankah aku sehat-sehat saja? Aku datang kemari dengan dunial. Umar mengira dia membawa harta seperti tercantum didalam surat yang dikirimkannya kepadanya.

"Kamu datang kemari dengan berjalan kaki?" Tanya Umar. "Iya." jawab Umair, "Apakah tidak ada seorangpun yang mau memberimu kendaraan?" tanya Umar lagi "Tidak ada. Aku juga tidak mau meminta kepada mereka." jawab Umair. "Orang-orang muslim disana tidak beradab." kata Umar. Umair menasehati Umar dengan berkata,'Wahai Umar, sesungguhnya Allah melarangmu berkata ghibah."

Umar bertanya lagi,"Apa yang kamu bawa kemari?" Umair menjawab, "Harta yang mudah dikumpulkan ,baik zakat maupun sedekah,sudah saya bagikan seluruhnya sesuai ajaran islam. Kalau saja masih tersisa niscaya aku akan membawanya kemari." Umar lalu memanggil seorang pegawainya dan berkata kepadanya,"Perbaruilah surat perjanjian dengan Umair!" Umairpun berkomentar,"Tidak perlu. Aku tidak mau lagi bekerja denganmu, juga dengan siapapun."

Setelah percakapan berakhir, Umair meminta izin, untuk menemui keluarganya dipinggiran kota madinah. Umarpun mengizinkannya.

Tidak beberapa lama setelah itu,Umar ingin menguji kejujuran Umair agar hatinya menjadi tenang setelah memilihnya sebagai pemimpin. Umar ingin tahu sejauhmana Umair menjaga amanah. Umar memanggil seorang laki-laki bernama Harits dan memberinya uang sebesar seratus dinar, lalu berkata,"Pergilah kamu kerumah Umair, seperti seorang tamu baginya. Jika kamu melihat tanda-tanda kekayaan, maka kembalilah kemari. Namun, jika kamu melihatnya sedabng paceklik, maka berikan uang seratus dinar ini kepadanya."

Harits pun pergi, ketika sampai dirumah Umair,harits mendapatinya sedang duduk sambil mengawasi bajunya yang dijemur dibalik tembok. Tahu bahwa ada seseorang yang datang kearahnya, Umair berkata,"Silahkan mampir kemari!"Harits pun mendatangi Umair untuk memenuhi panggilannya, "Engkau dari mana?" tanya Umair. "Dari Madinah." jawab harits.

Umair kemudian menanyakan kabar Umar,"Bagaimana kabar Amirul Mukminin saat engkau meninggalkan madinah?" Harits menjawab,"Dia baik-baik saja" Umair bertanya lagi,"Bagaimana kabar kaum mukminin disana?" Harits menjawab,"Alhamdulillah, mereka baik-baik saja." Umair melanjutkan,"Aku mendengar bahwa beberapa hari yang lalu Umar menegakkan hudud(hukuman), benarkah demikian?" HArits menjelaskan,"Benar dia telah mencambuk anaknya sendiri yang telah berzina." Umair kemudian berdoa,"Ya Allah,bantulah Umar karena yang aku tahu dai adalah sosok yang sangat mencintai-Mu."

Harits pun pulang kemadinah untuk menemui Umar, Umar bertanya kepadanya,bagaimana kondisi keluarga Umair yang telah kamu lihat?" HAritspun menjawab,"Aku melihat keluarganya dalam kondisi memprihatinkan." Umar bertanya lagi,"Lantas apa yang dia lakukan terhadap uang dinar itu?" Harits menjawab,"kurang tahu."

Umar menulis surat untuk Umair dalam surat itu, Umar menulis,"Jika suratku ini sudah sampai ditanganmu, maka janganlah kamu lepaskan hingga kamu menghadapku." Umairpun bergegas menghadap Umar.

Umar bertanya kepada Umair, "Apa yang kamu perbuat terhadap uang dinar itu?" Umair menjawab," Bukankan hakku untuk menggunakan uang itu?" Kenapa engkau bertanya?" Umar mendesak, "Demi Allah, beritahukan kepadaku, apa yang kamu perbuat terhadap uang itu?" Umair menjawab,"Uang itu aku gunakan untuk diriku pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna." Umar lalu berkata," Mudah-mudahan Allah merahmatimu."

Umar kemudian menyuruh seseorang untuk memberikan satu karung makanan dan dua baju. Namun Umair berkata,"Aku tidak butuh makanan. Dirumahku ada dua sha' gandum. Aku rasa itu sudah cukup karena gandum itu adalah rezeki Allah kepadaku." Umairpun meninggalkan makanan tersebut. Setelah itu, dia berkata lagi,"Adapun dua baju ini aku bawa saja karena istri si fulan tidak memiliki baju." Umair pun kembali kepada keluarganya dengan membawa dua baju tadi."(Shifatush shafwah(I/297-298)

Umar berkat, "Aku berharap kelak akan muncul lagi Umair bin Sa'ad radhiallahu anhu yang lain." Umair menjalani kehidupannya dengan sikap zuhud,wara' dan tidak pernah mengharap kekuasaan serta kehormatan. Bahkan dia tidak pernah tergiur dengan dunia dan segala perhiasannya. Dia hanya ingin bertemu dengan nabinya Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Dia khawatir dunia akan menghalanginya dalam usahanya untuk mewujudkan keinginannya itu.

Tak lama setelah bertemu dengan Umar, Umair dipanggil oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Ketika berita meninggalnya Umair sampai ditelinga Umar,Umar sangat sedih. Dia berdoa kepada Allah untuk memberikan rahmat kepada Umair.

Umar radhiallahu anhu turut menghadiri pemakaman Umair di Baqi'. Sesampainya disana, Umar berkata kepada sahabatnya,"Sekarang aku harap setiap orang diantara kalian mengungkapkan keinginannya." Seseorang laki-laki berkata,"Wahai Amirul Mukminin aku ingin memiliki banyak harta,yang akan aku infakkan di jalan Allah. " Orang yang lain berkata,"Aku ingin menjadi orang kuat sehingga aku bisa mengambilkan air zam-zam untuk para jama'ah haji." Namun, Umar justru berkata,"Aku ingin memiliki banyak sahabat yang berjiwa ksatria seperti Umair Bin Sa'ad sehingga aku bisa meminta tolong kepada mereka untuk menyelesaikan semuat urusan umat islam."(Shifatush shafwah I/298)

Abdurrahman bin Umair bin Sa'ad berkata,"Ibnu Umar berkata kepadaku,'tidak ada seorang laki-laki pun dari sahabat rasulullah shalallahu alaihi wasallam yang lebih baik daripada ayahmu."

Ibnu Sirin radhiallahu anhu meriwayatkan,bahwa Umar adalah orang yang paling takjub dengan sosok Umair bin Sa'ad hingga dia memberinya julukan 'Sosok yang unik'

Mufadhdhal al Ghalabi radhiallahu anhu berkata,"Para penyandang gelar zuhud dari kaum anshar ada tiga orang yaitu
~ Abu Darda radhiallahu anhu
~ Syaddad bin Aus radhiallahu anhu
~ Umair bin Sa'ad radhiallahu anhu.

(Zuhduts Tsamaaniyah minat Tabi'in(38)

di kutip dari buku "TERAPI PENYAKIT WAHN (CINTA DUNIA)"
Baca selengkapnya »
Akhi, MAUKAH ENGKAU MENIKAH DENGANKU ?

Akhi, MAUKAH ENGKAU MENIKAH DENGANKU ?

Dulu ana datang ke suami ana, justru ana yang menawarkan diri ke suami. ”Akhi maukah menikah dengan ana?”, tawarku padanya

Waktu itu dia masih kuliah smester 8, dan dia cuma bengong seribu bahasa, serasa melayang di atas awan, seolah waktu terhenti

Beberapa saat setelah setengah kesadarannya kembali dan setengahnya lagi entah kemana, dia berucap

Afwan ukhti, anti pengen mahar apa dari ana?” ucapnya

Cukup antum bersedia menikah denganku saja itu sudah lebih dari cukup” jawabku

Eh dianya langsung lemes kayak pingsan! Besoknya datang nazhar, terus khitbah

Lalu untuk ngumpulin uang buat nikah, dia jual sepeda dan jual komputernya untuk mahar dan biaya nikah

Akhi, MAUKAH ENGKAU MENIKAH DENGANKU ?

Di awal pernikahan dia gak punya pendapatan apa-apa. Kita usaha bareng dan ana gak pernah nanya seberapa pendapatnya ataupun dia kerja apa

Selama ana nikah dengannya ana belum pernah minta uang. Hingga kinipun kalo gak dikasih ya diam. Saat beras habis ana gak masak

Saat dia nanya, “Koq gak masak beras, Dek

Habis Mas”, jawabku

Koq gak minta uang?”, lanjutnya

Ana gak jawab, takut suami gak punya kalo ana minta. Jadi ana takut menyinggung perasaan dia

Kalo kita menghormati suami, maka suami akan menyayangi kita lebih dari rasa sayang kita ke dia

Bahkan usaha sekarang sudah maju pesat Alhamdulillah Ibarat kata uang 50jt sudah hal biasa

Lalu suatu hari ana tawarkan dia nikah lagi namun dia gak mau. Katanya ana itu tidak ada duanya, hehehe, ngalem dewek Walaupun ortunya dulu gak ridho dengan ana, karena Salafi tapi sekarang sudah baikan

Rezeki bisa dicari bersama. Bagi ana usaha yang dicari bersama suami susah-payah bersama, setelah sukses maka banyak kenangan manis yang tak terlupa

Itulah kiranya yang ana rasakan darinya, setelah 12 tahun menikah dan Insya Allah dikaruniai anak 7 semoga semakin menambah keberkahan dalam rumah tangga ana

Dan bukan hal yang hina bagi ana kalo ada seorang akhawat datang menawarkan diri ke ikhwan. Ana dulu hanya melihat dari bacaan Al-Qur’annya yang bagus dan dia sangat menjaga Sholatnya juga mengenal sunnah dengan baik itu aja gak lebih

Jazakumullahu khairan

copas dari kronologi ustadz Fuad Romadhon Ritonga
Baca selengkapnya »
Terima Kasih Istriku, Engkau Menjaga Kehormatanku

Terima Kasih Istriku, Engkau Menjaga Kehormatanku

Ada sebuah kisah, ketika seorang suami menangis kepada sahabatnya.

Sahabatnya itu pun bertanya, "Kenapa kau menangis tersedu-sedu seperti ini?"

Sang suami menjawab, "Istriku sedang sakit demam"

Sahabatnya bertanya lagi, "Sebegitu cintanyakah kau? Sehingga istri sakit demam saja sampai menangis sangat dlm seperti ini?

Sang suami menjawab, "Kau tahu siapa istriku?".

Lalu sang suami menceritakan pada sahabatnya, Aku ini miskin, tidak punya pekerjaan tetap & setiap hari keluargaku hanya makan dengan kacang, itu pun jika aku pulang.

Jika aku tak pulang karena belum mendapat apa "untuk dimakan paling istriku hanya minum air atau berpuasa.

Terima Kasih Istriku, Engkau Menjaga Kehormatanku

Suatu hari keluarga mertuaku mengundang kami untuk berkunjung ke rumahnya, kebetulan istriku berasal dari keluarga kaya.

Saat aku duduk berkumpul bersama mertuaku & keluarga yang lain di meja makan dengan hidangan yang mewah, aku tidak menemukan istriku. Lalu aku bertanya kepada ibu mertuaku,

"Dimanakah dia ibu?". Ibu mertuaku menjawab, "Istrimu sedang di dapur, dia mencari kacang... Katanya dia sudah bosan dengan hidangan lauk & daging, sehingga dia sangat ingin makan kacang"

Ketika mendengar itu ayah mertuaku langsung memelukku sambil berkata,... "Terima kasih menantuku kau telah mencukupi nafkah anakku dngn baik, sampai "dia bosan makan daging & malah ingin mencoba makan kacang."

Saat itu dadaku tersesak, menahan tangis.

Lalu saat pulang ke rumah kami aku tak bisa lagi menahan tangis, sambil ku peluk erat istriku ...

"Betapa engkau sangat menjaga kehormatanku di hadapan orang lain wahai istriku walau pun itu orang tuamu sendiri, sedangkan aku tahu setiap hari kau hidup kekurangan disini, bahkan sampai tdk makan sama sekali."

Istriku hanya menjawab, "Aku berkewajiban menjaga kehormatanmu, Karena istri adalah pakaian suami & suami adalah pakaian istri. Karena itu istri adalah kehormatan suaminya, begitu juga pun sebaliknya suami adalah kehormatan bagi isterinya".

Allahu Akbar

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita para suami menjaga kemuliaan istri kita demikian juga dengan istri sudahkah menjaga kehormatan sang suami?

SEMOGA BERMANFAAT

catatan admin
-repost from whatsapp group dgn sedikit editan
-kebenaran kisah ini tidak diketahui, tapi ada pelajaran berharga pada kisah ini yg perlu diambil dan diamalkan
Baca selengkapnya »
KISAH BAHAYA MENiLAi sebeLum MEMBACA

KISAH BAHAYA MENiLAi sebeLum MEMBACA

Ada seorang Arab Badui menemui khalifah al-Mu’tashim, lalu ia diangkat menjadi orang dekat dan orang kepercayaannya. Ia kemudian dengan leluasa dapat menemui isterinya tanpa perlu minta izin dulu.

Sang khalifah memiliki seorang menteri yang memiliki sifat dengki. Melihat kepercayaan yang sedemikian besar diberikan sang khalifah kepada orang Arab Badui itu, ia cemburu dan dengki terhadapnya. Di dalam hatinya ia berkata, “Kalau aku tidak membunuh si badui ini, kelak ia bisa mengambil hati sang Amirul Mukminin dan menyingkirkanku.”

Kemudian ia merancang sebuah tipu muslihat dengan cara bermanis-manis terlebih dahulu terhadap orang Badui tadi. Ia berhasil membujuk orang Badui itu dan mengajaknya mampir ke rumahnya. Di sana, ia memasakkan makanan untuknya dengan memasukkan bawang merah sebanyak-banyaknya. 

KISAH BAHAYA MENiLAi sebeLum MEMBACA

Ketika orang Badui selesai makan, ia berkata, “Hati-hati, jangan mendekat ke Amirul Mukminin sebab bila mencium bau bawang merah itu darimu, pasti ia sangat terusik. Amirul Mukminin sangat pasti membenci aromanya.”

Setelah tak berapa lama, si pendengki ini menghadap Amirul Mukminin lalu berduaan saja dengannya. Ia berkata kepada Amirul Mukminin, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya orang Badui itu memperbincangkanmu kepada orang-orang bahwa tuan berbau mulut dan ia merasa hampir mati karena aroma mulut tuan.”

Tatkala si orang Badui menemui Amirul Mukminin pada suatu hari, ia menutupi mulutnya dengan lengan bajunya karena khawatir aroma bawang merah yang ia makan tercium oleh beliau. Namun tatkala sang Amirul Mukminin melihatnya menutupi mulutnya dengan lengan bajunya, berkatalah ia di dalam hati, “Sungguh, apa yang dikatakan sang menteri mengenai si orang Badui ini memang benar.”

Kemudian Amirul Mukminin menulis sebuah surat berisi pesan kepada salah seorang pegawainya, bunyinya: “Bila pesan ini sampai kepadamu, maka penggallah leher si pembawanya.!”

Lalu, Amirul Mukminin memanggil si orang Badui untuk menghadap dan menyerahkan kepadanya sebuah surat seraya berkata, “Bawalah surat ini kepada si fulan, setelah itu berikan aku jawabannya.”

Si orang Badui yang begitu lugu dan polos menyanggupi apa yang dipesankan Amirul Mukminin. Ia mengambil surat itu dan berlalu dari sisi Amirul Mukminin. Ketika berada di pintu gerbang, sang menteri yang selalu mendengki itu menemuinya seraya berkata, “Hendak ke mana engkau.?”

“Aku akan membawa pesan Amirul Mukminin ini kepada pegawainya, si fulan,” jawab si orang Badui.

Di dalam hati, si menteri ini berkata, “Pasti dari tugas yang diemban si orang Badui ini, ia akan memperoleh harta yang banyak.” Maka, berkatalah ia kepadanya,

“Wahai Badui, bagaimana pendapatmu bila ada orang yang mau meringankanmu dari tugas yang tentu akan melelahkanmu sepanjang perjalanan nanti bahkan ia malah memberimu upah 2000 dinar.?”

“Kamu seorang pembesar dan juga sang pemutus perkara. Apa pun pendapatmu, lakukanlah!” kata si orang Badui

“Berikan surat itu kepadaku!” kata sang menteri .

Si orang Badui pun menyerahkannya kepadanya, lalu sang menteri memberinya upah sebesar 2000 dinar. Surat itu ia bawa ke tempat yang dituju.

Sesampainya di sana, pegawai yang ditunjuk Amirul Mukminin pun membacanya, lalu setelah memahami isinya, ia memerintahkan agar memenggal leher sang menteri.

Setelah beberapa hari, sang khalifah baru teringat masalah si orang Badui. Karena itu, ia bertanya tentang keberadaan sang menteri. Lalu ada yang memberitahukan kepadanya bahwa sudah beberapa hari ini ia tidak muncul dan justru si orang Badui masih ada di kota.

Mendengar informasi itu, sang khalifah tertegun, lalu memerintahkan agar si orang Badui itu dibawa menghadap. Ketika si orang Badui hadir, ia menanyakan tentang kondisinya, maka ia pun menceritakan kisahnya dengan sang menteri dan kesepakatan yang dibuat bersamanya sekali pun ia tidak tahu menahu apa urusannya. Dan, ternyata apa yang dilakukannya terhadap dirinya itu, tidak lain hanyalah siasat licik sang menteri dan kedengkiannya terhadapnya.

Lalu si orang Badui ini memberitahukan kepada khalifah perihal undangan sang menteri kepadanya untuk makan-makan di rumahnya, termasuk menyantap banyak bawang merah dan apa saja yang terjadi di sana. Ia berkata, “Wahai Amirul Mukminin, Allah telah membunuh dengki, alangkah adilnya Dia! Ia (dengki) memulainya dengan si pemilik (tuan)-nya lalu membunuhnya.”

Setelah peristiwa itu, si orang Badui dibebastugaskan dari tugas terdahulu dan diangkat menjadi menteri. Yah, sang menteri telah beristirahat bersama kedengkiannya.!! (Nihaayah azh-Zhaalimiin)

semoga bermanfaaat
Baca selengkapnya »
Setiap kita adalah pengemban nama baik Islam

Setiap kita adalah pengemban nama baik Islam

SEORANG imam masjid di London biasa naik bus untuk bepergian. Kadang-kadang ia membayar ongkosnya langsung pada sopir bus (bukan kondektur).

Suatu kali ia membayar ongkos bus, lalu segera duduk setelah menerima kembalian dari sopir.

Setelah dia hitung, ternyata uang kembalian dari sopir ada kelebihan 20 sen. Ada niatan sang imam untuk mengembalikan sisa kembaliannya itu karena memang bukan haknya. Namun terlintas pula dalam benaknya untuk tidak mengembalikannya, toh hanya uang receh yang tak begitu bernilai.

Umumnya orang juga tak ambil pusing dalam hal begini. Lagi pula, berapa sen pula yang didapat sang sopir karena sisa pembayaran penumpang yang tidak dikembalikan oleh kebanyakan sopir karena hanya receh, artinya sopir tidak rugi kalau ia tidak mengembalikan receh 20 sen itu.

Setiap kita adalah pengemban nama baik Islam

Bus berhenti di halte pemberhentian sang imam. Tiba-tiba sang imam berhenti sejenak sebelum keluar dari bus, sembari menyerahkan uang 20 sen kepada sopir dan berkata, “Ini uang Anda, kembalian Anda ada kelebihan 20 sen yang bukan hak saya.”

Sang sopir mengambilnya dengan tersenyum dan berkata, “Bukankah Anda imam baru di kota ini? Saya sudah lama berpikir untuk mendatangi masjid Anda demi mengenal lebih jauh tentang Islam, maka sengaja saya menguji Anda dengan kelebihan uang kembalian tersebut. Saya ingin tahu sikap Anda.”

Saat sang imam turun dari bus, kedua lututnya terasa lemas dan hampir jatuh ke tanah, hingga ia berpegangan pada tiang yang dekat dengannya dan bersandar.

Pandangannya menatap ke langit dan berkata, “Ya Allah, hampir saja saya menjual Islam hanya dengan 20 sen saja.” (al-Brithani wa amaanatul Imam, Ahmad Khalid al-Utaiby).

Maka berdakwah tak hanya dengan dalil, tapi juga dengan akhlak, agar jangan sampai orang-orang menjauh dari Islam karena perilaku kita yang justru tak sejalan dengan apa yang Islam gariskan.

Setiap kita adalah sohibul Islam (pengemban nama baik Islam). Jangan dikira ketika kita berbuat buruk hanya nama kita yg buruk tapi juga nama Islam yg kita beragama dengannya. Di dada setiap kita ada nama baik Islam yg dibawa kemana-mana.

Isyhadu bi ana muslimun! (Saksikanlah bahwa saya muslim!)

repost from whatsapp group
Baca selengkapnya »
Lihatlah bagaimana tawadhu’nya syaikh Abdurrazzaq hafizahullah

Lihatlah bagaimana tawadhu’nya syaikh Abdurrazzaq hafizahullah

Kami kutip kisah kedatangan Asy-Syaikh Abdurrazzaq dari buku "Dari Madinah ke Radio Rodja" oleh Ustadz Firanda

Tatkala syaikh datang ke Radio Rodja untuk yang ketiga kalinya, beliau bersafar bersama putra beliau yang bernama Yahya. Sebelum bersafar ke Indonesia beliau berkata kepadaku, “Firanda, untuk safar kali ini saya punya dua persyaratan yang harus dipenuhi. Jika dua persyaratan ini tidak dipenuhi maka saya tidak akan jadi bersafar. Dan saya serius dalam perkataan saya ini!”

Aku berkata, “Apa persyaratan tersebut syaikh?”

Beliau berkata, “Pertama, tiket pesawat saya harus ekonomi, dan saya tidak mau tiket kelas eksekutif!”

syaikh Abdurrazzaq

Tentunya panitia sangat berharap agar Syaikh bisa naik pesawat dengan kelas eksekutif mengingat syaikh akan bersafar dengan putranya Yahya yang masih berumur kurang dari sepuluh tahun. Setelah itu jadwal Syaikh yang begitu padatnya, karena setiba di Jakarta maka ba’da maghrib syaikh langsung akan mengisi pengajian di salah satu masjid di Jakarta. Akan tetapi apa boleh buat, ternyata syaikh justru tidak mau naik pesawat berkelas eksekutif, bahkan menjadikan tiket ekonomi sebagai persyaratan safar beliau.

Akhirnya dengan berat hati aku berkata, “Baik Syaikh, akan tetapi aku harap untuk pesawat domestik Indonesia dari Jakarta Ke Jogja, ke Pekanbaru, dan balik ke Jakarta menggunakan tiket kelas bisnis/eksekutif, mengingat pesawat Indonesia sempit-sempit...”

Syaik berkata, “Tetap harus kelas ekonomi, meskipun pesawat domestik Indonesia...”

Aku menimpali, “Tapi kursinya sempit ya Syaikh...!”

Beliau berkata, “Tidak mengapa sempit, paling kita harus bersabar hanya dua hingga tiga jam saja, toh kita bersafar bukan untuk bersenang-senang, akan tetapi untuk dakwah.”

Beliau berkata lagi, “Adapun persyaratan yang kedua adalah aku tidak mau jika hotel yang disediakan adalah hotel yang mewah..., yang aku inginkan adalah hotel yang sederhana akan tetapi bersih...”

Aku berkata, “Syaikh mengenai hotel jangan khawatir, hotel yang ada di Jakarta adalah milik salah seorang teman, sehingga gratis...”

Aku pun segera menghubungi panitia Jogja agar menyiapkan hotel yang sederhana sebagaimana hotel yang pernah aku tempati, karena ini merupakan persyaratan dari Syaikh. Dan aku juga mewanti-wanti seluruh panitia baik panitia Jogja, Jakarta, maupun Pekanbaru agar membelikan tiket pesawat ekonomi untuk syaikh.

Sungguh aku terperanjat mendengar dua persyaratan dari syaikh Abdurrazzaq yang merupakan Syaikh kaliber dunia yang ternyata menunjukkan begitu tawadhu’nya beliau. Ini tentunya merupakan pukulan telak bagi da’i-da’i nasional yang terkadang terlalu ribet jika diundang untuk mengisi pengajian. Persyaratan setumpuk dipasang, terkadang dengan kurang memperhatikan kondisi panitia pengajian yang mungkin serba kekurangan, sementara masyarakat begitu rindu untuk mendengar untaian nasehat da’i-da’i nasional tersebut.

Terkadang sebagian da’i tersebut berdalih dengan perkataan, “Pemilik ilmu harus dihormati dan dihargai!”

Slogan ini memang sangat benar akan tetapi apakah sang da’i yang langsung menyampaikan slogan ini? Tidakkah sang da’i belajar untuk rendah hati dan tawadhu’?

Saya rasa para ikhwan/panitia jika mereka memiliki kelebihan harta maka mereka tidak akan tanggung-tanggung dalam melayani sang da’i. Akan tetapi bagaimanapun juga sang da’i hendaknya tidak membiasakan untuk dilayani dengan pelayanan berlebihan apalagi meminta untuk dilayani secara berlebihan. Akhirnya jika sang da’i terbiasa dengan pelayanan yang sempurna/perfect, sehingga ketika dilayani kurang maka iapun akan merasa kurang atau tidak dihargai.

Akhirnya ikhwan-ikhwan yang miskin yangt ada di pelosok-pelosok daerah nusantara akhirnya keder dan minder jika ingin mengundang da’i tersebut.

Lihatlah bagaimana tawadhu’nya syaikh, ia harus bersafar jauh meninggalkan Madinah. Padahal manusia dari segala penjuru dunia berdatangan ke kota Madinah untuk menimba ilmu dari beliau....akan tetapi beliau tetap mau bersafar jauh ke berbagai penjuru dunia dalam rangka untuk berdakwah .
Baca selengkapnya »
Mengenal Sosok Hajar, Istri Bapak Tauhid (Nabi Ibrahim)

Mengenal Sosok Hajar, Istri Bapak Tauhid (Nabi Ibrahim)

Di waktu yang sama ini saya mengingatkan kaum nisaa’, kaum ummahat dengan sosok Hajar radhiyallahu ‘anha.

Sosok wanita penyabar, sosok wanita pendidik, sosok wanita yang taat kepada suami, sosok istri yang mendukung misi dakwah. Sabar menerima apa yang diberikan oleh suami, tidak banyak menuntut, tidak banyak permintaan.

Demikian Hajar sebagai sosok istri yang penuh ibadah kepada Allah. Menghiasai hari-harinya dengan dzikir kepada Allah. Tidak tertipu oleh wanita-wanita lain yang bisa hidup nyaman, yang bisa hidup dengan serba ada. Tapi taat mengikuti ajakan suami. Kemana kita akan pergi ? Ke sebuah lembah وَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ , sebuah lembah yang kering yang tidak ada tanaman dan tetumbuhan di sana.

Mengenal Sosok Hajar, Istri Bapak Tauhid (Nabi Ibrahim)

Berangkatlah Hajar menemani suami. Sesampainya di sana Hajar pun berusaha membantu suami dengan apa yang dia mampu. Tidak banyak mengeluh, tidak banyak menuntut, tidak mengganggu iman suami. Tidak menjadikan iman suami lemah. Tidak menjadikan semangat suami menjadi dhoif (lemah).

Hajar radhiyallahu ‘anha sosok wanita yang pendidik bagi putranya.

Ketika suami mendidik putranya di atas tauhid, di atas syariat, tunduk kepada Allah dan aturan Allah, sang istri memberi semangat kepada putra, memberi semangat iman, bukan malah istri yang menggadoli anaknya, memberikan angan-angan panjang tentang dunia:

“kemana hendak pergi?”

“akan jadi apa kamu?”

“akan makan apa kamu?”.

● Hajar seorang wanita dan istri pendidik yang bisa diberi amanat oleh suami.

Suami pergi berangkat berdakwah dalam waktu yang tidak sedikit. Hajar sebagai istri mengemban amanah, amanah mendidik, demikian.

Para istri, jadilah kalian istri-istri yang taat kepada Allah, taat kepada suami dalam perkara yang ma’ruf, taat kepada suami dalam syariat Allah.

Para istri jadilah kalian orang-orang yang banyak beristighfar kepada Allah, merenungi dosa.

Para istri, bercakaplah dengan suami, berbincanglah dengan suami dengan penuh kesopanan dan kesantunan, jangan anda menyombongkan diri.

Sungguh nabi kita telah mengabarkan kepada kalian dan kita semuanya tentang wanita,

نَاقِصَاتُ عَقلٍ وَدِينٍ 

Aku tidak melihat hamba Allah yang lebih kurang daya berpikirnya untuk mencerna, untuk menimbang yang baik dan yang buruk, mana yang lebih baik dan mana yang lebih buruk untuk segera ditinggalkan نَاقِصَاتُ عَقلٍ وَدِينٍ, dan lemah imannya dibandingkan kalian wahai wanita, sadarlah..!!

Dan Nabi kita mengabarkan:
فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ 

Aku melihat kalian wahai wanita adalah sebagai mayoritas penghuni neraka, kecuali orang-orang yang beriman diantara kalian, yang bertakwa diantara kalian, yang beribadah kepada Allah, menyadari tentang kondisinya, tawadhu’, rendah hati karena Allah, menghormati suami, mendidik anak-anak.

Transkrip Audio Al-Ustadz Luqman bin muhammad Ba’abduh hafizhahullah
Sumber || luqmanbaabduh.com
Baca selengkapnya »
BENAR-BENAR MEMANFAATKAN WAKTU UNTUK ILMU

BENAR-BENAR MEMANFAATKAN WAKTU UNTUK ILMU

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ النَّبِي...ُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang”. [HR Bukhori, no. 5933].

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda, "Manfaatkanlah lima hal, sebelum kedatangan lima hal yang lainnya : Masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu, dan masa hidupmu sebelum kematianmu." (HR. al-Hakim 4/306)


BENAR-BENAR MEMANFAATKAN WAKTU UNTUK ILMU

Al-Mu'afa bin Zakariyya rahimahullah meriwayatkan dari sebagian para murid al-Imam Abu Ja'far ath-Thabari rahimahullah, yang saat itu berada di sisi Abu Ja'far ath-Thabari sesaat sebelum wafatnya. Ketika itu disebutkan (diperbincangkan/dibahasa) di hadapan beliau permasalahan do'a dari Ja'far bin Muhammad.

al-Imam Abu Ja'far (yang saat itu sedang dalam kondisi detik-detik menjelang kematiannya, pen) meminta diambilkan tinta dan kertas, supaya beliau bisa menulisnya (faidah ilmu tersebut).

Maka yang lainnya keheranan seraya mengatakan, "Apakah juga dalam kondisi seperti ini (yakni engkau masih mau menulis, pen)?

al-Imam Abu Ja'far ath-Thabari menjawab, "Semestinya seseorang tidak meninggalkan kesempatan untuk mengambil ilmu, sampai waktu kematiannya."

[ lihat Tarikh Dimasyq 52/199 ]
Baca selengkapnya »
DALAM DEKAPAN TAKDIR (Surat Balasan Dari Penjara Damaskus)

DALAM DEKAPAN TAKDIR (Surat Balasan Dari Penjara Damaskus)

Kata orang bijak: "Bila kita mengetahui besarnya pahala pada setiap musibah, maka kita tidak akan pernah berharap agar musibah itu pergi dari kehidupan kita."

Mungkin itulah yang membuat orang-orang besar teguh dalam menghadapi ujian.
Berbagai fitnahan, tuduhan keji, makar, penyiksaan dan kezhaliman yang dilakukan oleh musuh-musuh mereka, justru disambut laksana kereta kencana yang akan membawa mereka meraih pahala dan kedekatan di sisi Allah.

Tahukah anda..?

Tiga bulan menjelang ajal, semua peralatan tulis-menulis dibersihkan dari ruang tahanan Ibnu Taimiyah. Tak ada yang tersisa meski secarik kertas sekalipun. Walau demikian beliau tetap dibolehkan menerima surat yang datang dari murid-muridnya. Untuk membalas surat-surat tersebut, Ibnu Taimiyah mencuci kertas surat yang masuk, menunggunya hingga kering lalu menulis surat balasan dengan arang diatas kertas yang sama.

Surat Balasan Dari Penjara Damaskus

Dalam kondisi sulit, terdzolimi, ditambah sepi dalam kegelapan penjara Damaskus, tak tampak keluh kesah dari raut wajah beliau. Baginya di dalam dan diluar sel tahanan sama saja.

Dalam salah satu surat balasan yang ditulisnya kurang lebih 45 hari sebelum wafat ia berkata,

“Adapun aku Alhamdulillah senantiasa berada dalam nikmat dan karunia yang semakin hari semakin bertambah.

Allah selalu memperbaharui nikmat-Nya, dari satu nikmat ke nikmat yang lain.

Keluarnya buku-buku (dari ruang tahanan) merupakan nikmat yang paling besar.
Sejak lama aku berharap agar buku-buku tersebut dikeluarkan, agar kalian bisa membacanya.

Akan tetapi mereka enggan mengeluarkan Al-Ikhna’iyyah -bantahan terhadap Ikhna’i As Shufi-.
Adapun kertas-kertas yang di dalamnya ada balasan dari kalian sudah dicuci.

Keadaanku baik-baik saja.
Kedua mataku juga dalam keadaan baik, lebih baik dari sebelumnya.
Aku berada dalam nikmat yang sangat berlimpah dan tak terhitung banyaknya.

Alhamdulillah… segala puji bagi-Nya, pujian yang banyak, baik dan penuh berkah.

Segala yang ditetapkan Allah di dalamnya terdapat kebaikan dan hikmah.

إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
“Sesungguhnya Rabb-ku Maha Lembut, terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana.” – (QS.12:100)

Seseorang tidak ditimpa keburukan melaikan karena dosanya.

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. As-Syura : 30)

Seorang hamba wajib bersyukur kepada Allah, memuji-Nya setiap saat, dan dalam kondisi apapun, juga hendaknya ia selalu beristigfar atas dosa-dosanya.

Syukur dapat membuat karunia bertambah, sementara istigfar dapat menolak murka-Nya.
Dan tidaklah Allah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melaikan pasti baik baginya.
Bila ia diberi karunia lalu bersyukur, maka itu baik baginya, dan bila ditimpa musibah, lalu ia bersabar itu juga baik baginya”

-Sekian-

(Al Uquud : 382-383)

Imam Ibnul Abdil Hadi mengatakan, “Saat buku-buku Ibnu Taimiyah dikeluarkan dari ruang tahanan, Ibnu Taimiyah menyibukkan diri dengan Ibadah, membaca Al-Qur’an, dzikir dan tahajjud hingga beliau wafat.

Di dalam penjara Damaskus beliau mengkhatamkan Al Qur’an sebanyak 80-81 kali. Pada khataman yang ke 81 beliau hanya bisa membaca hingga firman Allah:

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ. فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa.” (QS: Al-Qamar: 54-55)

(Al Uquud: 384)

Rahimullah…

Catatan:

Begitulah kehidupan orang-orang yang telah merasakan manisnya surga dunia sebelum surga akhirat.

Syaikhul Islam pernah mengatakan: “Di dunia ini ada surga, barangsiapa ketika di dunia tidak bisa memasukinya, maka dia tidak akan memasuki surga akhirat. Surga dunia itu adalah berdzikir kepada Allah, taat kepada-Nya, mencintai-Nya, selalu berusaha dekat dengan- Nya serta merindukan-Nya”.

Penghuni surga dunia adalah mereka yang hatinya terpaut kepada Allah. Engkau boleh memenjarakan raga mereka, tapi tidak dengan hati mereka. Karena mereka menjalani hidup dengan hati bukan dengan raga semata.

IBNU TAIMIYAH DI MATA MUSUHNYA

Kata orang bijak “Pengakuan musuh adalah penghargaan terbesar dan kejujuran paling tinggi”

Ibnu Az-Zamalkani adalah orang yang paling kuat permusuhannya terhadap Ibnu Taimiyah. Meskipun demikian, kebencian itu tidak menghalanginya untuk berkata jujur tentang orang yang paling dibencinya tersebut. Az-Zamalkani mengatakan,

“Apabila Ibnu Taimiyah ditanya tentang permasalahan pada satu bidang ilmu, maka orang yang melihat dan mendengarkan jawabannya akan menyangka kalau Ibnu Taimiyah tidak menguasai kecuali bidang itu saja, dan yang menyaksikan akan berkesimpulan bahwa tidak ada yang menguasai dengan baik bidang tersebut kecuali dia.

Apabila para ahli fiqih dari berbagai madzhab duduk bersamanya, semuanya mendapatkan faidah darinya menurut madzhab mereka masing-masing, dimana faida-faidah tersebut belum mereka ketahui sebelumnya. Tidak pernah dia mendebat seseorang dan kalah dalam perdebatan itu. Tidaklah ia berbicara dalam ilmu syar’i atau ilmu lainnya melainkan pasti ia mengungguli siapa saja dibidang ilmu tersebut”

Ibnu Makhluf Al Qadhi mengatakan, ”Aku tidak pernah melihat orang seperti Ibnu Taimiyah. Kami menyakitinya dan berbuat makar untuknya. Namun ketika dia mampu membalas perbuatan kami, dia justru memaafkan kami dan berhujjah demi membela kami “.

(Muqaddimah Fatawa Al Kubro: 46)

Semoga Allah merahmati Ibnu Taimiyah dan seluruh ulama kaum muslimin.
Dan semoga kita bisa memetik hikmah dan tauladan dari setiap kisah hidup mereka.
____________
Madinah Al-Munawwarah
✍ACT El-Gharantaly
Baca selengkapnya »
Lihat, Bagaimana Cara Para Salaf Menyembunyikan Amal sholeh mereka

Lihat, Bagaimana Cara Para Salaf Menyembunyikan Amal sholeh mereka

“Duhai parahnya pilek ini,” ucap Ayub Sikhtiyani tersedu. Murid-muridnya yang hadir menjadi saksi bagaimana cara guru mereka Ayub menutupi isak tangisnya di tengah majelis saat itu. Ia tak kuasa menahan tangis saat membacakan hadits Nabishallallahu’alaihiwasallam, untuk menyembunyikannya ia tarik kain surban menutupi matanya kemudian terucaplah kata-kata tadi.

Diceritakan pula bahwa Ayub biasa mengerjakan sholat malam sampai subuh. Hingga ketika subuh menjelang ia mengangkat suara seolah-olah baru terbangun dari tidur.

Kisah lain datang dari Daud bin Abi Hind. Selama 40 tahun ia berpuasa namun tak seorangpun dari anggota keluarganya yang tahu. Bagaimana cara ia mensiasatinya ? Begini, Daud memiliki sebuah kedai tempat dimana ia berdagang. Sarapan pagi yang telah disiapkan sang istri, ia bawa ke kedainya lalu disedekahkan. Begitupula saat waktu makan siang, ia pulang mengambil bekal makanannya kemudian kembali pergi ia sedekahkan. Sehingga anggota keluarganya menyangka ia memilih makan di tempat dagangnya. Lalu baru ketika malam hari, ia bersantap bersama keluarga sembari berbuka. Dan itu berlangsung selama 40 tahun.

Menyembunyikan Amal sholeh

Ada lagi Manshur bin al-Mu’tamir yang beribadah 40 tahun mengisi siang dengan shiyam dan malam dengan qiyam. Kegigihan beribadahnya membuat ibu Manshur merasa perlu bertanya kepadanya, “kamu habis membunuh orang, nak ?” “Aku lebih tau kondisiku wahai Ibunda,” jawabnya. Yang menjadi saksi dari judul tulisan ini adalah kebiasaan Manshur memakai celak di pagi hari. Itu ia lakukan demi menutupi bekas tangis di matanya setelah sepanjang malam bermunajat.

Sangat banyak kisah-kisah terabadikan dalam adabiyyat dan tarojum orang-orang saleh terdahulu.

Ada dari mereka yang selalu menutup wajahnya ketika berjihad. Ada juga yang menyembunyikan mushafnya ketika sedang membaca kalamullah. Ada pula yang rela memburu waktu tersunyi untuk berderma. Banyak cara yang mereka lakukan untuk menyembunyikan ketaatan. Mereka taat namun enggan dipandang taat. Kebaikan yang mereka laksanakan tidak lantas membuat mereka besar diri, menganggap diri sudah baik, apalagi demi agar manusia menganggap mereka baik. Mereka cukupkan diri dengan ridha Allah, mereka dahulukan penilaian Allah jauh di atas penilaian manusia.

Abdullah Khuraibi berpesan, “Mereka (orang-orang terdahulu) menganjurkan tiap orang agar memiliki amalan rahasia antara dirinya dan Allah, yang bahkan tidak diketahui istri dan anak-anaknya.”

Pada asalnya amalan terbaik adalah yang dikerjakan dengan sembunyi-sembunyi, karena dengan itu keikhlasan menjadi lebih mudah digapai. Orang-orang terbaik umat ini mengusahakan semua cara agar amalan baik mereka terpelihara dari niat mencari pandangan dan pujian manusia. Tidak butuh dokumentasi dan publikasi sana-sini, karena yakin bahwa tidak seremeh amal pun yang luput dari penglihatan Allah, satu-satunya Dzat yang hanya untukNya amal kebaikan mereka persembahkan. Hanya keridhaan Pencipta yang mereka kejar. 

Wahai indahnya ibadah para mukhlisin dan mukhlasin itu. Kebaikan yang dilakukan tak ubah keburukan yang harus disimpan rapat-rapat. Sebab mereka tau, satu titik riya’ mampu melumat habis pahala amalan yang telah dikerjakan, hingga menjadi debu yang tak berarti.

Catatan:
Mari menjadi agen rahasia dalam beribadah, seperti dia yang diam-diam mendoakan kamu. Dia, iya dia. Bergerilya dia di dalam doa. Dengan tulus dan rahasia. Hanya kepada Pemilik hati ia titipkan segenap rasa dan pinta. Mendoakan orang lain memang begitu rumusnya, semakin rahasia semakin bertenaga dan semakin diumbar semakin hambar. Dan ingat itu doa bukan pelet.
______________
Madinah Al-Munawwarah
Penulis: Ustaz. Arif Rinanda
Murajaah: ACT El-Gharantaly
Baca selengkapnya »
kisah kesederhanaan mohammad hatta

kisah kesederhanaan mohammad hatta

1. Kembalikan dana taktis wapres

Hatta pernah menyuruh asistennya mengembalikan dana taktis wakil presiden sebesar Rp 25 ribu. Padahal jika tidak dikembalikan pun tidak apa".

2. Sulit bayar tagihan listrik

Hatta mendapat uang pensiun sebesar Rp 3 ribu. Jumlah itu terbilang kecil. Hatta pun terengah-engah membayar tagihan listrik rumahnya. Hatta juga menolak semua jabatan komisaris baik dari perusahaan nasional maupun perusahaan asing. Dia merasa tidak bisa bertanggung jawab pada rakyat jika mengambil jabatan itu. Menurut Hatta, apa kata rakyat nanti kalau dia menerima jabatan sebagai komisaris. Bung Hatta juga menolak jabatan di Bank Dunia.


3. Tak mampu beli sepatu Bally

Kisah ini didapat dari sekretaris pribadi Bung Hatta. Suatu ketika Bung Hatta berjalan di pertokoan di luar negeri. Dia mengidam-idamkan sepatu Bally yg terpampang di etalase. Begitu mengidamkannya, guntingan iklan sepatu Bally itu dia simpan di dompetnya. Dia berharap suatu waktu bisa membelinya. 

Apa daya, sampai meninggal Bung Hatta belum bisa membeli sepatu Bally itu. Guntingan iklan masih tersimpan di dompetnya. Andai saja Bung Hatta mau menggunakan kekuasaannya, tentu dia akan mudah mendapatkan sepatu Bally yang diidam-idamkan itu.

4. Istri menabung demi mesin jahit

Jika dihitung pernikahan Hatta dan Rachmi berlangsung 35 tahun. Pada suatu ketika, Rachmi tak mampu membeli mesin jahit idamannya. Hatta pun hanya bisa menyuruh Rachmi bersabar & menabung lagi.

5. Menabung untuk naik haji

Waktu itu Bung Karno menawarkan agar menggunakan pesawat terbang yg biayanya ditanggung negara. Tapi Hatta menolaknya, karena ia ingin pergi haji sebagai rakyat biasa, bukan sebagai wakil presiden. Akhirnya dia menunaikan haji dari hasil honorarium penerbitan beberapa bukunya.

6. Ingin dimakamkan di makam biasa

Bung Hatta yg dikenal sebagai Gandi dari Indonesia itu dikenal sangat ingin menyelami kehidupan sebagai rakyat Indonesia. Ketika meninggal dunia pun Hatta tidak mau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Dia hanya ingin dimakamkan di taman makam biasa

Sumber : jadiberita.com
Baca selengkapnya »
Andy Octavian Latief Calon Doktor Termuda Indonesia Ikuti Jejak Ustadz Firanda

Andy Octavian Latief Calon Doktor Termuda Indonesia Ikuti Jejak Ustadz Firanda

JAKARTA (gemaislam) - Andy Octavian Latief, calon doktor Fisika asal pamekasan, Madura akan merampungkan studi jenjang S3 di Maryland University Amerika Serikat pada tahun depan. Pemuda berusia 24 tahun ini akan menjadi doktor termuda asal Indonesia.

Menjelang kelulusannya, pria lulusan SMAN 1 Pamekasan 2006 ini banyak mendapatkan tawaran menjadi dosen di universitas ternama di Asia, Australia, Eropa dan Amerika, bahkan di kampusnya sendiri saat ini (Maryland University) juga telah menawarkan kontrak kerja padanya, tapi semuanya ia tolak.

Pemuda cerdas asli Madura yang pernah meraih medali emas pada Olimpiade fisika Internasional kini aktif belajar bahasa Arab dan ilmu Syar’i di negeri patung Liberty. Bukan menimba ilmu agama kepada para Orientalis Kafir, tetapi kepada para da’i beraqidah lurus dan murid para ulama terkemuka.

Menurut informasi yang didapat gemaislam.com, dinegeri Paman Sam itu, jika sore hari, Andy Octavian belajar bahasa Arab di Tooba University, sempat juga belajar Hadits, Aqidah dan Tajwid kepada ulama Amerika lulusan Arab Saudi seperti Syaikh Taha Adesun, Syaikh Ali Roach dan Syaikh Abu Salman.

Ingin Belajar ke Universitas Islam Madinah

Akhi Andy, demikian pria ini biasa disebut oleh kawan-kawan sepengajiannya, memiliki semangat membara dalam menuntut ilmu Syar’i, terlebih lagi setelah hidayah menyapanya, mengenal manhaj Salaf dan memperdalamnya di negeri muslim minoritas, Amerika Serikat. Rencananya setelah mendapat gelar doktor, dia akan hijrah ke kota nabi untuk menuntut ilmu syar’i di Universitas Islam Madinah.

Kabar yang beredar baru-baru ini dia akan mengajar dan menjadi dosen di Universitas Islam Madinah. Ini adalah sesuatu yang mustahil, mengingat spesialis pria berkacamata itu adalah bidang fisika, sedangkan di universitas tersebut tidak ada jurusan untuk non ilmu syar’i.



Kawan-kawan dekatnya mengabarkan bahwa Andy tahun depan, setelah lulus S3, akan pergi ke kota Madinah untuk belajar pada fakultas Hadits di Universitas Islam Madinah.

Pada liburan beberapa bulan yang lalu, tepatnya bulan Juni, Andy diminta untuk mengisi kajian di hadapan mahasiswa UGM (Universitas Gadjah Mada) Yogyakarta, tepatnya di masjid Al Ashri Pogung dengan tema "Kehidupan Muslim di Amerika Serikat."

Jika jadi ke belajar ke kota nabi, Andy adalah salah satu diantara mereka yang ‘banting stir’ dari ilmu umum ke ilmu syar’i. ia pun terinspirasi oleh beberapa asatidzah yang dahulunya menekuni ilmu umum kemudian mendalami ilmu Syar’i di universitas Islam Madinah, seperti ustadz Abdullah Roy (mahasiswa S3 Aqidah, dulu dari SMA umum), ustadz Firanda Andirja (mahasiswa S3 Aqidah, dulu kuliah di UGM), ustadz Fauzan Abdullah (Mahasiswa S2 Fiqih, lulusan S1 teknik elektro UGM). (bms)

source: kaskus.co.id
Baca selengkapnya »
Kesabaran Syaikh Ibnu Utsaimin Ketika Sakit Hingga Wafat

Kesabaran Syaikh Ibnu Utsaimin Ketika Sakit Hingga Wafat

Penyakit yang melanda syaikh Ibnu Utsaimin

Dahulu, syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahullah- pernah berkata kepada syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid -hafidzahullah-:

“Ketika aku merasakan sakit pada tubuhku, aku mengira bahwa itu adalah sakit basur (wasir). Dan dulu, aku pernah melakukan operasi untuk penyakit ini sehingga aku kira bahwa penyakit ini adalah penyakit yang sama. Ketika rasa sakit semakin bertambah, aku kembali ke Rumah Sakit dan aku juga ingin memeriksa mataku karena aku merasakan perih pada mataku. Maka para dokter melakukan analisa dan pengecekan, kemudian mereka mengabariku bahwa aku terkena kanker.”

Dan syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahullah- menamai kanker dengan ‘Al-Maradhul Khatir (Penyakit berbahaya)’ dan tidak mau menamainya dengan ‘Al-Maradhul Khabits (Penyakit yang buruk)’. Dan sudah diketahui, bahwa orang-orang arab menamai kanker dengan Al-Maradhul Khabits. Syaikh Ibnu Utsaimin berkata ketika enggan menamai kanker dengan Al-Maradhul Khabits karena:

ليس في أفعال الله خبيثا
“Tidak ada yang buruk pada perbuatan-perbuatan Allah”.

Dan pemberian penyakit dan penyembuhannya hanyalah kuasa Allah dan perbuatanNya saja.

Syaikh Al-Munajjid bertanya kepada syaikh Ibnu Utsaimin mengenai penyakit itu setelah beberapa saat, maka Syaikh Ibnu Utsaimin menjawab:

يأتي ويذهب إلا في موضع المرض الأصلي الذي انتشر منه فإنه مستمر
“Rasa sakitnya datang dan pergi kecuali rasa sakit yang ada di bagian asal penyakit tersebut. Maka rasa sakitnya terus terasa di bagian itu”

Walau beliau sakit kanker, namun mengajar dan memberi fatwa selalu beliau lakoni.

Kesabaran syaikh Ibnu Utsaimin menahan penyakit kanker

Sebagian murid syaikh Ibnu Utsaimin memerhatikan ketika beliau mengajar, kerap kali beliau mengangkat suara seperti orang yang dicambuk, namun beliau tetap menampakkan bahwa dirinya baik-baik saja.

Dan syaikh Ibnu Utsaimin sangat enggan untuk diberi obat penenang, karena obat itu menjadikan beliau tidur akhirnya tidak dapat shalat malam dan mengajar.

Dan syaikh Ibnu Utsaimin memiliki angan-angan sebagaimana yang diceritakan oleh sebagian masyaikh, bahwa beliau berkata:

أريد أن أموت قريبا من الكعبة وأنا أنشر العلم
“Aku ingin wafat dekat dengan ka’bah dalam keadaan mengajar ilmu”

Syaikh Ibnu Utsaimin berkeyakinan bahwa menyebarkan ilmu termasuk amalan terbesar untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Maka dari itu, pada tanggal 29 ramadhan ketika beliau di Mekkah, keletihan terus bertambah pada diri syaikh Ibnu Utsaimin. Maka dokter memutuskan agar syaikh Ibnu Utsaimin dibawa ke Jeddah untuk perawatan intensif. Namun keadaan beliau membaik ketika di waktu ashar. Dan syaikh Ibnu Utsaimin pun akhirnya meminta agar beliau dikembalikan ke Mekkah walaupun para dokter melarangnya. Syaikh Ibnu Utsaimin pun berkata:

لا تحرمونا هذا الأجر فهذه آخر ليلة من رمضان
“Jangan cegah aku untuk mendapatkan pahala ini. Karena sekarang adalah malam terakhir bulan ramadhan”.



Dan benar, syaikh Ibnu Utsaimin pun kembali ke Mekkah dengan pengawasan para dokter. Beliaupun masuk ke dalam ruangan khusus. Dan beliaupun minta air wudhu kemudian beliau shalat dan meminta izin agar bisa mengajar. Beliaupun akhirnya mengajar di malam terakhir bulan ramadhan.

Detik-detik wafatnya beliau

Ketika beliau terbangun dari koma, beliau langsung membaca Al-Quran dan dzikir. Dan akhir ayat yang beliau baca adalah:

إِذْ يُغَشِّيكُمُ النُّعَاسَ أَمَنَةً مِنْهُ
“Ingatlah, ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman dariNya” (QS. Al-Anfal: 11)

Ruh beliau pun dicabut pada jam setengan dua siang. Beliau wafat pada tanggal 15 syawwal 1421 H. Dan beliau dikuburkan di Mekkah dekat dengan guru beliau ‘syaikh bin Baaz’ -rahimahumallah-.

Karamah beliau

Orang-orang yang mencuci jenazah beliau melihat keindahan rupa beliau, dan mudahnya beliau dicuci dan dibersihkan, sampai mereka mengira bahwa syaikh Ibnu Utsaimin sudah dicuci sebelum dibawa ke tempat pengurusan jenazah.

Semoga Allah merahmati seluruh masyaikh kita dan guru-guru kita.

رحم الله الشيخ ابن عثيمين وأسكنه في الفردوس الأعلى
“Semoga Allah merahmati syaikh Ibn Utsaimin dan menempatkan beliau di surga Firdaus tertinggi”

Semoga kisah ini menjadi cambuk bagi kita untuk terus bersemangat dalam belajar, mengajar, dan beribadah kepada Allah.

Semoga Allah merahmatimu ya syeikh Utsaimin.

Sumber:
Fath Dzii Al-Jalaal Wa Al-Ikram Li Ibn Utsaimiin 1/36
Repost from fb akh Hamzah Khoiri Abdullah
Baca selengkapnya »
ROOBI'AH BINTI ISMA'IL, Kapankah Ada Wanita seperti ini lagi

ROOBI'AH BINTI ISMA'IL, Kapankah Ada Wanita seperti ini lagi

Ibnu 'Asaakir rahimahullah dalam kitabnya Taarikh Dimasyq menyebutkan biografi seorang wanita yang sholehah yang sangat rajin beribadah yang bernama ROOBI'AH BINTI ISMA'IL. Wanita ini seorang janda yang kaya raya. Ia telah memberanikan diri untuk menawarkan dirinya untuk dinikahi kepada seorang lelaki yang sholeh yang bernama Ahmad bin Abil Hawaari. Maka Ahmad bin Abil Hawaari berkata :

لَيْسَ لِي هِمَّةٌ فِي النِّسَاءِ لِشُغْلِي بِحَالِي
"Aku tidak punya hasrat kepada para wanita karena kesibukanku dengan dirikau (yaitu ibadahku)"
Ternyata sang wanita Robi'ah binti Isma'il juga berkata

إني لأشغل بحالي منك وما لي شهوة ولكني ورثت مالا جزيلا من زوجي فأردت أن أنفقه على إخوانك وأعرف بك الصالحين فتكون لي طريقا إلى الله
"Sungguh aku juga bahkan lebih sibuk beribadah dari dirimu, serta aku tidak berhasrat, akan tetapi aku telah mewarisi harta yang banyak dari suamiku. Aku ingin untuk menginfakan hartaku pada saudara-saudaramu, dan dengan dirimu aku mengenal orang-orang yang sholeh, sehingga hal ini menjadi jalanku menuju Allah"

ROOBI'AH BINTI ISMA'IL

Ahmad bin Abil Hawaari berkata, "Aku minta izin dahulu kepada guruku"

Lalu Ahmad pun menyampaikan hal ini kepada Abu Sulaiman gurunya, dan sang guru selalu melarang murid-muridnya untuk menikah dan berkata, "Tidak seorangpun dari sahabat kami yang menikah kecuali akan berubah". Namun tatkala sang guru mendengar tentang tuturan sang wanita maka ia berkata :

تَزَوَّجْ بِهَا فَإِنَّهَا وَلِيَّةُ للهِ
"Nikahilah wanita tersebut, sesungguhnya ia adalah seorang wanita wali Allah"

Lalu akhirnya Ahmad bin Abil Hawaaripun menikahi sang wanita Roobi'ah binti Isma'il, lalu Ahmad berkata,

وتزوجت عليها ثلاث نسوة فكانت تطعمني الطيبات وتطيبني وتقول اِذْهَبْ بِنَشَاطِكَ وَقُوَّتِكَ إِلَى أَزْوَاجِكَ
"Setelah itu akupun menikahi lagi tiga orang wanita setelahnya. Dan ia senantiasa memberi makanan yang baik kepadaku, dan memakaikan minyak wangi kepadaku seraya berkata, "Pergilah engkau dengan semangat dan kekuatanmu ke istri-istrimu" (Tariikh Dimasyq, Karya Ibnu 'Asaakir jilid 69 hal 115-116)

Kapankah ada wanita yang seperti ini lagi…? Memberi nafkah kepada suaminya…bahkan menghiasi suaminya untuk mendorong suaminya berangkat ke madu-madunya yang lain??!!

Namun juga para wanita juga akan berkata, "Kapankah ada seorang lelaki yang seperti Ahmad Abul Hawaari lagi? yang sangat rajin beribadah…?, sehingga para wanita tidak ragu untuk menawarkan dirinya??"

Ditulis oleh Ustadz DR Firanda Andirja MA حفظه الله

catatan admin
ROOBI'AH BINTI ISMA'IL  wanita sholehah yang zuhud terhada dunia namun dia bukanlah sufi dari kalangan wanita
Baca selengkapnya »
Syaikh Al’Allaamah Abu ‘Ali Husain Al-Muayyid tinggalkan aqidah batil syiah

Syaikh Al’Allaamah Abu ‘Ali Husain Al-Muayyid tinggalkan aqidah batil syiah

Penganut Syiah di Timur Tengah, digemparkan oleh Wesal TV Arab Saudi yang menyajikan acara “panas”.

Pasalnya, tamu dalam acara tersebut adalah salah seorang mantan ‘ulama’ Syiah, ‘ulama’ hadits, fiqh dan ushul agama Syiah sekaligus sebagai marja’ (ulama rujukan) dalam komunitas syiah. Ia kini berwajah sebagai seorang ulama Islam yang sangat handal. Semalam ia muncul untuk pertama kalinya secara resmi sebagai seorang ulama Islam, setelah sebelumnya ia kerap muncul sebagai ‘ulama’ Syiah yang berserban hitam ala Syiah.

Biasanya jika sudah menjadi marja’, uang jutaan dolar dari hasil “khumus” akan memenuhi rekening banknya di Swiss, Jerman, Prancis atau Negara Eropa lainnya. Sebab semua uang khumus-nya kaum Syiah, penempatannya diatur oleh seorang marja’ sekehendaknya.

Dengan segala kekayaan dan tingginya derajat ‘keulamaan’ ini, ternyata mantan marja’ Syiah ini, yakni Syaikh Al’Allaamah Abu ‘Ali Husain Al-Muayyid, meninggalkan pangkat tersebut dan lebih memilih untuk menyelamatkan keyakinannya. Baginya pangkat, harta dan kedudukan tinggi tidak berarti jika akidah dan keyakinannya tidak memiliki dasar dan pondasi yang benar dan absah. Itulah sebabnya, ia “melarikan diri” dari semua harta dan pangkat dunia demi meraih cahaya iman dalam bingkai Islam (ahlus-sunnah wal jamaah).

Tak tanggung-tanggung, ia rela meninggalkan semua kerabatnya. Orangtuanya yang merupakan salah satu pemuka Syiah dari keturunan marga Al-Kaadzhimiyah (marga tinggi Syiah) ia tinggalkan, demikian juga semua anak dan istrinya, sebab mereka semua tidak menyetujui kepindahannya ke dalam Islam yang sesungguhnya.

Ibunya adalah anak salah satu marja’ Syiah; Ayatullah Sayid Hasan Shadar. Sedangkan istrinya adalah saudari dari dai Syiah populer, Ammaar Al-Hakim.

Ketika istrinya mengetahui ia telah masuk Islam, ia meminta cerai dan berkata kepadanya, “Saya tidak akan pernah rela hidup menjadi istri seorang suami yang mendoakan keridhaan terhadap Aisyah (istri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam).”

Mendengar itu, iapun menjawab, “Demikian juga aku, tidak mungkin bisa hidup dengan seorang istri yang selalu saja mencaci maki ibundaku, Aisyah radhiyallaahu’anha.”

Karena khawatir ditangkap atau dibunuh oleh otoritas rezim Irak dan Iran yang Syiah, ‘Ali Husain pun melarikan diri ke Yordania, lalu pindah ke Lebanon, dan sekarang tinggal di Jeddah, Arab Saudi. Ia mendapatkan suaka dan keamanan di Arab Saudi, dan sekarang menjadi salah satu ulama yang ditugaskan di Rabithah Al-’Aalam Al-Islamiy di Jeddah.



Rabu (18/3) malam, di Wesal TV ‘Ali Husain mengisahkan perjalanan hidupnya, dari kecil, sewaktu menuntut ilmu di Hawzah Nejf dan Qum, hingga menjadi ‘ulama’ rujukan (marja’) Syiah di Iran dan Irak secara khusus, dan di dunia secara umum.

Salah satu alasan yang membuat Husain Al Muayyid meninggalkan Syiah karena, “Peperangan Syiah bukanlah peperangan melawan Abu Bakar dan Umar akan tetapi peperangan melawan Allah dan Rasul-Nya,” ucapnya kepada Wesal TV.

Seorang marja’ Syiah, ulama besar rujukan para Syiah, Husain Al Muayyid, telah bertaubat dan meninggalkan ajaran kufur Syiah, lalu ditanya pada sebuah tayangan di channel Wesal TV.

“Keuntungan apa yang engkau dapatkan setelah meninggalkan ajaran Syiah?” Pertanyaan ini dijawab Husain Al Muayyid:

أدركت أن معركة الشيعي ليست مع أبي بكر و عمر بل هي مع الله و رسوله. و أنا لا أستطيع أن أدخل في معركة مع الله و رسوله. و لذالك من الأمور التي ربحتها أنني خرجت من هذه المعركة و هي معركة خاسرة لا شك في ذالك. لأنك إذا أمنت بهذه العقيدة سيجرك إيمانك إلى أن الله سبحانه و تعالى 

قد قصر في بيان هذه العقيدة و إقامة الحجة عليها و أن الرسول ليس فقط أنه قصر و إنما الصورة التي تعطيها العقيدة الشيعية إذا آمنت بها أن الرسول قائد ضعيف بحيث لا يستطيع من موقعه القيادي هذا أن يثبت العقيدة التي يأمره الله تعالى. هذا المعنى أن المعركة أصبحت معركة مع الله و الرسول. و أنا لا أستعد أن أدخل في المعركة مع الله و رسوله
“Saya dapatkan bahwasanya peperangan Syiah bukanlah peperangan melawan Abu Bakar dan Umar, akan tetapi peperangan melawan Allah dan RasulNya. Dan aku tidak mampu untuk memasuki sebuah peperangan dalam rangka melawan Allah dan Rasul-Nya. Karenanya, di antara perkara-perkara keuntungan yang aku dapatkan ketika meninggalkan ajaran Syiah adalah bahwasanya aku dapat keluar dari peperangan ini. Peperangan ini adalah peperangan yang begitu merugikan, tidak ada keraguan lagi dalam masalah itu. 

Karena jika kamu berkeyakinan dengan akidah Syiah, maka keyakinanmu akan menyeretmu dalam sebuah keyakinan bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala telah lalai dalam menjelaskan akidah ini dan lalai pula dalam menegakkan hujjah atasnya dan bahwasanya Rasul bukan hanya lalai akan tetapi—sebuah gambaran yang diberikan oleh akidah syiah jika engkau mengimani akidahnya—bahwasanya Rasul adalah pemimpin yang lemah sebagaimana Rasul tidak bisa menetapkan akidah yang Allah perintahkan ini. Maka itu artinya adalah bahwa peperangan ini menjadi peperangan melawan Allah dan Rasul-Nya. Dan aku tidak mampu untuk memasuki peperangan melawan Allah dan RasulNya.”



Ketahuilah, kata Al Muayyid, tidak ada agama yang paling kejam melainkan agama Syiah Rafidhah, Ja’fariyyah, Imamiyyah, Itsna Asyariyyah, Ismailiyyah, Nushairiyah, Bahaiyyah. Mereka tega menyayat anak mereka sendiri dengan pisau. Dan tentu mereka akan lebih tega lagi untuk menyayat anak-anak Muslim.

Jangan sekali-kali Anda menunda untuk menyebarkan kesesatan dan kekufuran Syiah, sebelum datangnya penyesalan jika Indonesia mengalami sebuah kejadian sebagaimana yang dialami oleh Suriah. Maka, bebaskanlah indonesia dari agama syiah karena dia adalah agama kufur.

Ajarkan keluarga Anda akan kesesatan Syiah, jika Anda tidak ingin keluarga akan mengalami musibah sebagaimana musibah di Suriah.

Syaikh Muhammad Al Arifi berpesan dalam khutbahnya:

إن السكاكين التي تذيح أطفال سوريا فإنها في طريق إلى رقاب أطفالنا و أطفالكم. إن لم ننصرهم, فإن الصفويين يرون ذبحنا و ذبح أطفالنا و تقطيعات أجسادنا يرون قربة في دينهم يكسبون بها ثوابا
“Sesungguhnya pisau-pisau yang menyembelih anak-anak Suriah, sungguh dia sedang dalam perjalan menuju leher anak-anak kita dan anak-anak kalian. Jika kita tidak menolong mereka, sesungguhnya orang-orang Shofawiyyah (negara Syiah Iran) akan memilih untuk menyembelih kita dan anak-anak kita dan akan memutilasi tubuh-tubuh kita. Mereka berpendapat, itulah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dalam ajaran agama mereka. Mereka mengharapkan pahala dengan semua itu.”

Semoga info ini bermanfaat.
Baca selengkapnya »
APAKAH NABI KITA HIDUP KAYA ATAU MISKIN?

APAKAH NABI KITA HIDUP KAYA ATAU MISKIN?

Periode kehidupan Nabi pernah diwarnai kecukupan bahkan kelebihan, namun juga pernah mengalami masa-masa kekurangan, dan kemiskinan. Saat kecil hingga meninggal, nuansa warna itu bercorak dalam kehidupan beliau.

Saat diasuh kakeknya, Abdul Muththolib, kehidupan beliau relatif berkecukupan. Abdul Muththolib dikenal kaya raya.

Saat diasuh Abu Tholib, sang paman, beliau hidup dalam kemiskinan. Karena secara finansial Abu Tholib memang kekurangan.

APAKAH NABI KITA HIDUP KAYA ATAU MISKIN?

Khodijah radhiyallahu anha, istri Nabi yang pertama, adalah seorang wanita kaya raya dan mulia. Banyak membantu Nabi dengan hartanya.

Namun, tidak sedikit periode kehidupan Nabi setelahnya yang diwarnai dengan kekurangan secara finansial, miskin. Tapi itu terjadi karena Nabi memilih demikian.

Jika Nabi mau, bisa saja Allah memperjalankan gunung-gunung emas dan perak bersama beliau:

وَاللهِ يَا عَائِشَةَ ! لَوْ شِئْتُ لَأَجْرَى اللهُ مَعِي جِبَالَ الذَّهَبِ وَ الْفِضَّةِ
Demi Allah wahai Aisyah, kalau aku mau, Allah bisa memperjalankan bersamaku gunung-gunung emas dan perak (H.R Ibnu Sa’ad dalam Thobaqot – Silsilah asShahihah)

Seandainya Nabi memiliki emas sebanyak atau sebesar gunung Uhud, beliau akan membagi-bagikannya sebagai infaq di jalan Allah. Hingga setelah berlalu hari yang ke-3, yang tersisa hanyalah dinar yang dipersiapkan untuk membayar hutang.

مَا يَسُرُّنِى أَنَّ لِى أُحُدًا ذَهَبًا تَأْتِى عَلَىَّ ثَالِثَةٌ وَعِنْدِى مِنْهُ دِينَارٌ إِلاَّ دِينَارٌ أُرْصِدُهُ لِدَيْنٍ عَلَىَّ
Tidaklah membuatku senang, jika aku memiliki emas sebesar Uhud, kemudian datang hari yang ketiga, sedangkan aku masih memiliki dinar (uang emas). Kecuali dinar itu aku persiapkan untuk membayar hutangku (H.R Muslim)

Tapi memang kehidupan Nabi bersama para istri beliau di Madinah, banyak diwarnai kekurangan secara finansial.

Pernah selama tidak kurang 2 bulan berturut-turut tidak ada makanan yang bisa dipanggang, dimasak, atau direbus di atas tungku api. Hanya makan kurma dan minum air saja. Silakan disimak kisah ibunda kaum beriman, Aisyah radhiyallahu anha:

وَاللَّهِ يَا ابْنَ أُخْتِي إِنْ كُنَّا لَنَنْظُرُ إِلَى الْهِلَالِ ثُمَّ الْهِلَالِ ثُمَّ الْهِلَالِ ثَلَاثَةَ أَهِلَّةٍ فِي شَهْرَيْنِ وَمَا أُوقِدَ فِي أَبْيَاتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَارٌ قَالَ قُلْتُ يَا خَالَةُ فَمَا كَانَ يُعَيِّشُكُمْ قَالَتْ الْأَسْوَدَانِ التَّمْرُ وَالْمَاءُ
Demi Allah wahai putra saudariku, kami pernah melihat hilal kemudian hilal kemudian hilal. Tiga hilal dalam 2 bulan. Tidak ada sesuatu (bahan makanan) yang dimasak (di atas api) di rumah-rumah Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. Aku (Urwah) berkata: Wahai bibi, dengan apa kalian hidup? Aisyah mengatakan: al-Aswadaan: kurma dan air (H.R al-Bukhari dan Muslim)

Nabi pernah masuk di pagi hari ke rumah Aisyah dan bertanya: Apakah ada makanan? Aisyah menjawab: Tidak ada. Nabi menyatakan: Kalau begitu, aku berpuasa (H.R Muslim)

Rumah yang ditinggali Aisyah demikian sempit. Hanya satu kamar yang cukup untuk tidur berdua. Saat Nabi sholat malam, Aisyah masih tidur di depan beliau, tidak memungkinkan untuk Nabi bersujud karena terhalang kaki Aisyah. Maka Nabi pun menyentuh kaki Aisyah memberi isyarat agar ditarik, sehingga Nabi bisa meletakkan dahi beliau. Rumah beliau juga gelap tanpa penerangan.

Aisyah radhiyallahu anha berkata:

...وَرِجْلَايَ فِي قِبْلَتِهِ فَإِذَا سَجَدَ غَمَزَنِي فَقَبَضْتُ رِجْلَيَّ وَإِذَا قَامَ بَسَطْتُهُمَا قَالَتْ وَالْبُيُوتُ يَوْمَئِذٍ لَيْسَ فِيهَا مَصَابِيحُ
...dan kedua kakiku berada di kiblat beliau. Jika beliau akan sujud, beliau menyentuh aku sehingga aku tarik kakiku. Jika beliau berdiri, aku menjulurkan kedua kaki lagi. Pada waktu itu rumah-rumah (istri Nabi) tidak memiliki lampu (H.R Muslim)

Nabi shollallahu alaihi wasallam meninggal dunia dalam keadaan baju perang beliau tergadaikan pada seorang Yahudi, untuk mendapatkan 30 sho’ gandum sebagai makanan sehari-hari.

تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَدِرْعُهُ مَرْهُونَةٌ عِنْدَ يَهُودِيٍّ بِثَلَاثِينَ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ
Rasulullah shollallahu alaihi wasallam meninggal dunia dalam keadaan baju besi beliau tergadaikan pada seorang Yahudi dengan imbalan 30 sho’ gandum (H.R al-Bukhari).

Nabi kita adalah teladan dalam berbagai keadaan. Saat beliau berkecukupan, kehidupannya adalah teladan. Saat beliau kekurangan, beliau juga uswah. Saat senang atau sedih. Dalam seluruh sendi kehidupan.

Kekayaan bukanlah tercela, jika digunakan di jalan Allah. Kemiskinan bukanlah hina, jika dijalani dengan kesabaran dan iffah.

Sahabat Nabi ada juga yang kaya, namun lebih banyak lagi yang miskin. Mereka semua adalah teladan pula dalam kebaikan.

Para Ulama berbeda pendapat tentang manakah yang lebih utama antara orang kaya yang bersyukur atau orang miskin yang bersabar. Namun kesimpulan pendapat yang rajih – insyaAllah- yang terbaik adalah orang yang berbuat secara benar sesuai keadaan dia saat itu. Jika ia ditakdirkan kaya, ia bersyukur. Jika ia ditakdirkan miskin, ia bersabar.

Mungkin saat ini kita kaya, bukan berarti sisa kehidupan kita akan terus demikian. Mungkin juga saat ini kita kekurangan, bukan berarti episode hidup tersebut akan berlanjut demikian tanpa henti.

Bersikaplah dalam bimbingan Sunnah Nabi. Jika miskin, jangan iri dengki pada yang kaya. Turut bersyukur saudara kita berkelimpahan. Kita senang sebagaimana saudara kita merasakan kesenangan itu. Jika kaya, jangan pelit berbagi dengan sesama. Jangan merasa lebih tinggi dan mulia di sisi Allah dibandingkan yang miskin.

Yang kaya jangan merasa bangga dengan memiliki keutamaan melebihi yang lain pada hari kiamat. Kalaupun kita ditakdirkan meninggal dalam keadaan kaya, ingatlah, bisa jadi seandainya pun kita diberi rahmat Allah ke dalam Surga-Nya, proses menuju ke dalamnya tidaklah dalam waktu yang singkat. Orang-orang miskin yang beriman akan lebih dahulu masuk jauh sebelum kita. Karena orang kaya masih sibuk mempertanggungjawabkan dari mana hartanya didapat, ke mana disalurkan.

يَدْخُلُ الْفُقَرَاءُ الْجَنَّةَ قَبْلَ الْأَغْنِيَاءِ بِخَمْسِ مِائَةِ عَامٍ نِصْفِ يَوْمٍ
Orang-orang fakir masuk ke Surga sebelum orang-orang kaya sejauh 500 tahun, (yaitu) setengah hari (di akhirat, pent) (H.R at-Tirmidzi)

قُمْتُ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَكَانَ عَامَّةَ مَنْ دَخَلَهَا الْمَسَاكِينُ وَأَصْحَابُ الْجَدِّ مَحْبُوسُونَ 
Aku berdiri di dekat pintu Surga, mayoritas orang yang memasuki Surga adalah orang-orang miskin, sedangkan orang-orang kaya tertahan (untuk hisab) (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Usamah)

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan pertolongan, taufiq, dan kemudahan pada segenap kebaikan dalam sisa kehidupan kita...

(Abu Utsman Kharisman)
turut publikasi : Salafy Cirebon
Baca selengkapnya »
Kisah Penuh Hikmah: Anak Badui Ini Ajarkan Arti Kebahagiaan

Kisah Penuh Hikmah: Anak Badui Ini Ajarkan Arti Kebahagiaan

Ada seorang ulama yang menawarkan suatu perlombaan kepada anak-anak dari salah satu suku badui Afrika. Ia meletakkan sekeranjang buah-buahan lezat di bawah pohon, lalu berkata kepada anak-anak tersebut:

“Siapa yang pertama kali mencapai pohon ini akan mendapatkan keranjang yang penuh buah ini!”

Lalu begitu ia memberi isyarat dimulainya lomba, ia kaget bukan kepalang... ternyata semua anak-anak bergandengan tangan dan berjalan sama-sama hingga sampai ke pohon, lalu mereka berbagi buah-buahan yang lezat tadi...!!

Saat ditanya mengapa mereka berbuat demikian, padahal masing-masing punya kesempatan untuk menguasai sekeranjang buah tadi sendirian ?!!

Anak Badui Ini Ajarkan Arti Kebahagiaan

Mereka menjawab dengan keheranan: Ubuntu ! Mana mungkin salah seorang dari kami bahagia sedangkan yang lain menderita ?! Ubuntu menurut tradisi Suku Xhosa artinya, “Aku jadi karena kami jadi”

Inilah suku badui yang paham betul rahasia kebahagiaan, yang telah tersingkir dari orang-orang yang menganggap diri mereka diatas yang lain... inilah rahasia yang tak lagi dijumpai dalam hampir seluruh bangsa sombong yang menganggap dirinya ‘berperadaban maju’...!!

Kebahagiaan adalah rahasia yang hanya dikenal oleh jiwa-jiwa toleran nan tawadhu’... yang selalu mengatakan ‘kami!’ dan bukan ‘saya!’

Gunakan akalmu saat bersama ulama. Gunakan ilmumu saat bersama penguasa. Gunakan adabmu saat bersama teman. Gunakan kelembutanmu saat bersama keluarga. Gunakan kesabaranmu saat bersama orang bodoh. Bersamalah dengan Allah dalam dzikirmu, dan berasamalah dengan dirimu saat menasehati !

Segala sesuatu akan berkurang saat kau bagikan untuk orang lain. Kecuali kebahagiaan. Ia justru bertambah saat kau bagikan ke orang lain...

Sumber: fawaid syaikh Walid Saifunnasr
Baca selengkapnya »
CONTOH PARA SALAF DALAM MENYEMBUNYIKAN AMALAN MEREKA :

CONTOH PARA SALAF DALAM MENYEMBUNYIKAN AMALAN MEREKA :

📌Pertama: Menyembunyikan amalan shalat sunnah

Ar Robi bin Khutsaim –murid ‘Abdullah bin Mas’ud- tidak pernah mengerjakan shalat sunnah di masjid kaumnya kecuali hanya sekali saja.[3]

📌Kedua: Menyembunyikan amalan shalat malam

Ayub As Sikhtiyaniy memiliki kebiasaan bangun setiap malam. Ia pun selalu berusaha menyembunyikan amalannya. Jika waktu shubuh telah tiba, ia pura-pura mengeraskan suaranya seakan-akan ia baru bangun ketika itu. [4]

📌Ketiga: Bersedekah secara sembunyi-sembunyi.

Di antara golongan yang mendapatkan naungan Allah di hari kiamat nanti adalah,

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ
“Seseorang yang bersedekah kemudian ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.”[5] Permisalan sedekah dengan tangan kanan dan kiri adalah ungkapan hiperbolis dalam hal menyembunyikan amalan. Keduanya dipakai sebagai permisalan karena kedekatan dan kebersamaan kedua tangan tersebut.[6]

 MENYEMBUNYIKAN AMALAN

Contoh yang mempraktekan hadits di atas adalah ‘Ali bin Al Husain bin ‘Ali. Beliau biasa memikul karung berisi roti setiap malam hari. Beliau pun membagi roti-roti tersebut ke rumah-rumah secara sembunyi-sembunyi. Beliau mengatakan,

إِنَّ صَدَقَةَ السِّرِّ تُطْفِىءُ غَضَبَ الرَّبِّ عَزَّ وَ جَلَّ
“Sesungguhnya sedekah secara sembunyi-sembunyi akan meredam kemarahan Rabb ‘azza wa jalla.” Penduduk Madinah tidak mengetahui siapa yang biasa memberi mereka makan. Tatkala ‘Ali bin Al Husain meninggal dunia, mereka sudah tidak lagi mendapatkan kiriman makanan setiap malamnya. Di punggung Ali bin Al Husain terlihat bekas hitam karena seringnya memikul karung yang dibagikan kepada orang miskin Madinah di malam hari. Subhanallah, kita mungkin sudah tidak pernah melihat makhluk semacam ini di muka bumi ini lagi.[7]

📌Keempat: Menyembunyikan amalan puasa sunnah.

Dalam rangka menyembunyikan amalan puasa sunnah, sebagian salaf senang berhias agar tidak nampak lemas atau lesu karena puasa. Mereka menganjurkan untuk menyisir rambut dan memakai minyak di rambut atau kulit di kala itu. Ibnu ‘Abbas mengatakan,

إِذَا كَانَ صَوْمُ أَحَدِكُمْ فَلْيُصْبِحْ دَهِينًا مُتَرَجِّلاً
“Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka hendaklah ia memakai minyak-minyakan dan menyisir rambutnya.”[8]

Daud bin Abi Hindi berpuasa selama 40 tahun dan tidak ada satupun orang, termasuk keluarganya yang mengetahuinya. Ia adalah seorang penjual sutera di pasar. Di pagi hari, ia keluar ke pasar sambil membawa sarapan pagi. Dan di tengah jalan menuju pasar, ia pun menyedekahkannya. Kemudian ia pun kembali ke rumahnya pada sore hari, sekaligus berbuka dan makan malam bersama keluarganya.[9] Jadi orang-orang di pasar mengira bahwa ia telah sarapan di rumahnya. Sedangkan orang-orang yang berada di rumah mengira bahwa ia menunaikan sarapan di pasar. Masya Allah, luar biasa trik beliau dalam menyembunyikan amalan.

Begitu pula para ulama seringkali membatalkan puasa sunnahnya karena khawatir orang-orang mengetahui kalau ia puasa. Jika Ibrohim bin Ad-ham diajak makan (padahal ia sedang puasa), ia pun ikut makan dan ia tidak mengatakan, “Maaf, saya sedang puasa”.[10] Itulah para ulama, begitu semangatnya mereka dalam menyembunyikan amalan puasanya.

📌Kelima: Menyembunyikan bacaan Al Qur’an dan dzikir

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْجَاهِرُ بِالْقُرْآنِ كَالْجَاهِرِ بِالصَّدَقَةِ وَالْمُسِرُّ بِالْقُرْآنِ كَالْمُسِرِّ بِالصَّدَقَةِ
“Orang yang mengeraskan bacaan Al Qur’an sama halnya dengan orang yang terang-terangan dalam bersedekah. Orang yang melirihkan bacaan Al Qur’an sama halnya dengan orang yang sembunyi-sembunyi dalam bersedekah.”[11]

Setelah menyebutkan hadits di atas, At Tirmidzi mengatakan, “Hadits ini bermakna bahwa melirihkan bacaan Qur’an itu lebih utama daripada mengeraskannya karena sedekah secara sembunyi-sembunyi lebih utama dari sedekah yang terang-terangan sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama. Mereka memaknakan demikian agar supaya setiap orang terhindar dari ujub. Seseorang yang menyembunyikan amalan tentu saja lebih mudah terhindar dari ujub daripada orang yang terang-terangan dalam beramal.”

Yang dipraktekan oleh para ulama, mereka sampai-sampai menutupi mushafnya agar orang tidak tahu kalau mereka membaca Qur’an. Ar Robi’ bin Khutsaim selalu melakukan amalan dengan sembunyi-sembunyi. Jika ada orang yang akan menemuinya, lalu beliau sedang membaca mushaf Qur’an, ia pun akan menutupi Qur’annya dengan bajunya.[12] Begitu pula halnya dengan Ibrohim An Nakho’i. Jika ia sedang membaca Qur’an, lalu ada yang masuk menemuinya, ia pun segera menyembunyikan Qur’annya.[13] Mereka melakukan ini semua agar amalan sholihnya tidak terlihat oleh orang lain.

📌Keenam: Menyembunyikan tangisan

Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Tangisan itu ada sepuluh bagian. Sembilan bagian biasanya untuk selain Allah (tidak ikhlas) dan satu bagian saja yang biasa untuk Allah. Jika ada satu tangisan saja dilakukan dalam sekali setahun (ikhlas) karena Allah, maka itu pun masih banyak.”[14]

Dalam rangka menyembunyikan tangisnya, seorang ulama sampai pura-pura mengatakan bahwa dirinya sedang pilek karena takut terjerumus dalam riya’. Itulah yang dicontohkan oleh Ayub As Sikhtiyaniy. Ia pura-pura mengusap wajahnya, lalu ia katakan, “Aku mungkin sedang pilek berat.” Tetapi sebenarnya ia tidak pilek, namun ia hanya ingin menyembunyikan tangisannya.[15]

Sampai-sampai salaf pun ada yang pura-pura tersenyum ketika ingin mengeluarkan tangisannya. Tatkala Abu As Sa-ib ingin menangis ketika mendengar bacaan Al Qur’an atau hadits, ia pun pura-pura menyembunyikan tangisannya (di hadapan orang lain) dengan sambil tersenyum.[16]

Mu’awiyah bin Qurroh mengatakan, “Tangisan dalam hati lebih baik daripada tangisan air mata.”[17]

📌Ketujuh: Menyembunyikan do’a

‘Uqbah bin ‘Abdul Ghofir mengatakan, “Do’a yang dilakukan sembunyi-sembunyi lebih utama 70 kali dari do’a secara terang-terangan. Jika seseorang melakukan amalan kebaikan secara terang-terangan dan melakukannya secara sembunyi-sembunyi semisal itu pula, maka Allah pun akan mengatakan pada malaikat-Nya, “Ini baru benar-benar hamba-Ku.”[18]

footnote
[3] Az Zuhud, Imam Ahmad, 5/60, Mawqi’ Jami’ Al Hadits.
[4] Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim Al Ash-bahaniy, 3/8, Darul Kutub Al ‘Arobiy, Beirut.
[5] HR. Bukhari no. 1423 dan Muslim no.1031,dari Abu Hurairah.
[6] Syarh Muslim, 3/481.
[7] Lihat Hilyatul Auliya’, 3/135-136.
[8] Disebutkan oleh Al Bukhari dalam kitab Shahihnya tanpa sanad (secara mu’allaq).
[9] Lihat Shifatus Shofwah, Ibnul Jauziy, 3/300, Darul Ma’rifah, Beirut, cetakan kedua, 1399 H.
[10] Lihat Ta’thirul Anfas,hal. 246
[11] HR. Abu Daud no. 1333 dan At Tirmidzi no. 2919, dari ‘Uqbah bin ‘Amir Al Juhaniy. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[12] Lihat Hilyatul Awliya’, 2/107, Darul Kutub ‘Arobiy, cetakan keempat, 1405 H.
[13] Lihat Ta’thirul Anfas, hal. 246.
[14] Hilyatul Awliya’, 7/11.
[15] Lihat Ta’thirul Anfas, hal. 248.
[16] Lihat Ta’thirul Anfas, hal. 251.
[17] Lihat Ta’thirul Anfas, hal. 252.
[18] Lihat Ta’thirul Anfas, hal. 253.


Sumber : rumaysho.com
Baca selengkapnya »
Antara Guru Dan Murid Nya

Antara Guru Dan Murid Nya

Di tahun 1998 saya pernah melihat ustadz Firanda belajar ta'shili kitab Muyasar, mulakhos dan Qoulul Mufid secara privat (minta waktu khusus) kepada Ustadz Afifi.

Dan di tahun 2012 saat liburan mahasiswa madinah, saya melihat ustadz Afifi belajar privat beberapa kutaib dan mabahisul aqidah kepada ustadz Firanda.

Antara Guru Dan Murid Nya

Begitulah guru dan murid saling memberi faidah dan menjaga adab-adab diantara mereka. Dalam tholabul ilmi, murid bisa jadi guru dan guru pun bisa jadi murid. Saat jadi guru tetap tawadhu dan saat jadi murid tetap ihtirom.

Tidak gengsi belajar kepada yang lebih muda dan yang lebih muda pun tidak sombong karena merasa lebih alim.

Pesan moral lainnya: jgn baca gajet sambil tidur, krg sehat. Tks

#AH_Jogja
(Ust Hanif Muslim)
Baca selengkapnya »
-->