IBX5A47BA52847EF DakwahPost: inspirasi
KISAH BAHAYA MENiLAi sebeLum MEMBACA

KISAH BAHAYA MENiLAi sebeLum MEMBACA

Ada seorang Arab Badui menemui khalifah al-Mu’tashim, lalu ia diangkat menjadi orang dekat dan orang kepercayaannya. Ia kemudian dengan leluasa dapat menemui isterinya tanpa perlu minta izin dulu.

Sang khalifah memiliki seorang menteri yang memiliki sifat dengki. Melihat kepercayaan yang sedemikian besar diberikan sang khalifah kepada orang Arab Badui itu, ia cemburu dan dengki terhadapnya. Di dalam hatinya ia berkata, “Kalau aku tidak membunuh si badui ini, kelak ia bisa mengambil hati sang Amirul Mukminin dan menyingkirkanku.”

Kemudian ia merancang sebuah tipu muslihat dengan cara bermanis-manis terlebih dahulu terhadap orang Badui tadi. Ia berhasil membujuk orang Badui itu dan mengajaknya mampir ke rumahnya. Di sana, ia memasakkan makanan untuknya dengan memasukkan bawang merah sebanyak-banyaknya. 

KISAH BAHAYA MENiLAi sebeLum MEMBACA

Ketika orang Badui selesai makan, ia berkata, “Hati-hati, jangan mendekat ke Amirul Mukminin sebab bila mencium bau bawang merah itu darimu, pasti ia sangat terusik. Amirul Mukminin sangat pasti membenci aromanya.”

Setelah tak berapa lama, si pendengki ini menghadap Amirul Mukminin lalu berduaan saja dengannya. Ia berkata kepada Amirul Mukminin, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya orang Badui itu memperbincangkanmu kepada orang-orang bahwa tuan berbau mulut dan ia merasa hampir mati karena aroma mulut tuan.”

Tatkala si orang Badui menemui Amirul Mukminin pada suatu hari, ia menutupi mulutnya dengan lengan bajunya karena khawatir aroma bawang merah yang ia makan tercium oleh beliau. Namun tatkala sang Amirul Mukminin melihatnya menutupi mulutnya dengan lengan bajunya, berkatalah ia di dalam hati, “Sungguh, apa yang dikatakan sang menteri mengenai si orang Badui ini memang benar.”

Kemudian Amirul Mukminin menulis sebuah surat berisi pesan kepada salah seorang pegawainya, bunyinya: “Bila pesan ini sampai kepadamu, maka penggallah leher si pembawanya.!”

Lalu, Amirul Mukminin memanggil si orang Badui untuk menghadap dan menyerahkan kepadanya sebuah surat seraya berkata, “Bawalah surat ini kepada si fulan, setelah itu berikan aku jawabannya.”

Si orang Badui yang begitu lugu dan polos menyanggupi apa yang dipesankan Amirul Mukminin. Ia mengambil surat itu dan berlalu dari sisi Amirul Mukminin. Ketika berada di pintu gerbang, sang menteri yang selalu mendengki itu menemuinya seraya berkata, “Hendak ke mana engkau.?”

“Aku akan membawa pesan Amirul Mukminin ini kepada pegawainya, si fulan,” jawab si orang Badui.

Di dalam hati, si menteri ini berkata, “Pasti dari tugas yang diemban si orang Badui ini, ia akan memperoleh harta yang banyak.” Maka, berkatalah ia kepadanya,

“Wahai Badui, bagaimana pendapatmu bila ada orang yang mau meringankanmu dari tugas yang tentu akan melelahkanmu sepanjang perjalanan nanti bahkan ia malah memberimu upah 2000 dinar.?”

“Kamu seorang pembesar dan juga sang pemutus perkara. Apa pun pendapatmu, lakukanlah!” kata si orang Badui

“Berikan surat itu kepadaku!” kata sang menteri .

Si orang Badui pun menyerahkannya kepadanya, lalu sang menteri memberinya upah sebesar 2000 dinar. Surat itu ia bawa ke tempat yang dituju.

Sesampainya di sana, pegawai yang ditunjuk Amirul Mukminin pun membacanya, lalu setelah memahami isinya, ia memerintahkan agar memenggal leher sang menteri.

Setelah beberapa hari, sang khalifah baru teringat masalah si orang Badui. Karena itu, ia bertanya tentang keberadaan sang menteri. Lalu ada yang memberitahukan kepadanya bahwa sudah beberapa hari ini ia tidak muncul dan justru si orang Badui masih ada di kota.

Mendengar informasi itu, sang khalifah tertegun, lalu memerintahkan agar si orang Badui itu dibawa menghadap. Ketika si orang Badui hadir, ia menanyakan tentang kondisinya, maka ia pun menceritakan kisahnya dengan sang menteri dan kesepakatan yang dibuat bersamanya sekali pun ia tidak tahu menahu apa urusannya. Dan, ternyata apa yang dilakukannya terhadap dirinya itu, tidak lain hanyalah siasat licik sang menteri dan kedengkiannya terhadapnya.

Lalu si orang Badui ini memberitahukan kepada khalifah perihal undangan sang menteri kepadanya untuk makan-makan di rumahnya, termasuk menyantap banyak bawang merah dan apa saja yang terjadi di sana. Ia berkata, “Wahai Amirul Mukminin, Allah telah membunuh dengki, alangkah adilnya Dia! Ia (dengki) memulainya dengan si pemilik (tuan)-nya lalu membunuhnya.”

Setelah peristiwa itu, si orang Badui dibebastugaskan dari tugas terdahulu dan diangkat menjadi menteri. Yah, sang menteri telah beristirahat bersama kedengkiannya.!! (Nihaayah azh-Zhaalimiin)

semoga bermanfaaat
Baca selengkapnya »
Setiap kita adalah pengemban nama baik Islam

Setiap kita adalah pengemban nama baik Islam

SEORANG imam masjid di London biasa naik bus untuk bepergian. Kadang-kadang ia membayar ongkosnya langsung pada sopir bus (bukan kondektur).

Suatu kali ia membayar ongkos bus, lalu segera duduk setelah menerima kembalian dari sopir.

Setelah dia hitung, ternyata uang kembalian dari sopir ada kelebihan 20 sen. Ada niatan sang imam untuk mengembalikan sisa kembaliannya itu karena memang bukan haknya. Namun terlintas pula dalam benaknya untuk tidak mengembalikannya, toh hanya uang receh yang tak begitu bernilai.

Umumnya orang juga tak ambil pusing dalam hal begini. Lagi pula, berapa sen pula yang didapat sang sopir karena sisa pembayaran penumpang yang tidak dikembalikan oleh kebanyakan sopir karena hanya receh, artinya sopir tidak rugi kalau ia tidak mengembalikan receh 20 sen itu.

Setiap kita adalah pengemban nama baik Islam

Bus berhenti di halte pemberhentian sang imam. Tiba-tiba sang imam berhenti sejenak sebelum keluar dari bus, sembari menyerahkan uang 20 sen kepada sopir dan berkata, “Ini uang Anda, kembalian Anda ada kelebihan 20 sen yang bukan hak saya.”

Sang sopir mengambilnya dengan tersenyum dan berkata, “Bukankah Anda imam baru di kota ini? Saya sudah lama berpikir untuk mendatangi masjid Anda demi mengenal lebih jauh tentang Islam, maka sengaja saya menguji Anda dengan kelebihan uang kembalian tersebut. Saya ingin tahu sikap Anda.”

Saat sang imam turun dari bus, kedua lututnya terasa lemas dan hampir jatuh ke tanah, hingga ia berpegangan pada tiang yang dekat dengannya dan bersandar.

Pandangannya menatap ke langit dan berkata, “Ya Allah, hampir saja saya menjual Islam hanya dengan 20 sen saja.” (al-Brithani wa amaanatul Imam, Ahmad Khalid al-Utaiby).

Maka berdakwah tak hanya dengan dalil, tapi juga dengan akhlak, agar jangan sampai orang-orang menjauh dari Islam karena perilaku kita yang justru tak sejalan dengan apa yang Islam gariskan.

Setiap kita adalah sohibul Islam (pengemban nama baik Islam). Jangan dikira ketika kita berbuat buruk hanya nama kita yg buruk tapi juga nama Islam yg kita beragama dengannya. Di dada setiap kita ada nama baik Islam yg dibawa kemana-mana.

Isyhadu bi ana muslimun! (Saksikanlah bahwa saya muslim!)

repost from whatsapp group
Baca selengkapnya »
Lihatlah bagaimana tawadhu’nya syaikh Abdurrazzaq hafizahullah

Lihatlah bagaimana tawadhu’nya syaikh Abdurrazzaq hafizahullah

Kami kutip kisah kedatangan Asy-Syaikh Abdurrazzaq dari buku "Dari Madinah ke Radio Rodja" oleh Ustadz Firanda

Tatkala syaikh datang ke Radio Rodja untuk yang ketiga kalinya, beliau bersafar bersama putra beliau yang bernama Yahya. Sebelum bersafar ke Indonesia beliau berkata kepadaku, “Firanda, untuk safar kali ini saya punya dua persyaratan yang harus dipenuhi. Jika dua persyaratan ini tidak dipenuhi maka saya tidak akan jadi bersafar. Dan saya serius dalam perkataan saya ini!”

Aku berkata, “Apa persyaratan tersebut syaikh?”

Beliau berkata, “Pertama, tiket pesawat saya harus ekonomi, dan saya tidak mau tiket kelas eksekutif!”

syaikh Abdurrazzaq

Tentunya panitia sangat berharap agar Syaikh bisa naik pesawat dengan kelas eksekutif mengingat syaikh akan bersafar dengan putranya Yahya yang masih berumur kurang dari sepuluh tahun. Setelah itu jadwal Syaikh yang begitu padatnya, karena setiba di Jakarta maka ba’da maghrib syaikh langsung akan mengisi pengajian di salah satu masjid di Jakarta. Akan tetapi apa boleh buat, ternyata syaikh justru tidak mau naik pesawat berkelas eksekutif, bahkan menjadikan tiket ekonomi sebagai persyaratan safar beliau.

Akhirnya dengan berat hati aku berkata, “Baik Syaikh, akan tetapi aku harap untuk pesawat domestik Indonesia dari Jakarta Ke Jogja, ke Pekanbaru, dan balik ke Jakarta menggunakan tiket kelas bisnis/eksekutif, mengingat pesawat Indonesia sempit-sempit...”

Syaik berkata, “Tetap harus kelas ekonomi, meskipun pesawat domestik Indonesia...”

Aku menimpali, “Tapi kursinya sempit ya Syaikh...!”

Beliau berkata, “Tidak mengapa sempit, paling kita harus bersabar hanya dua hingga tiga jam saja, toh kita bersafar bukan untuk bersenang-senang, akan tetapi untuk dakwah.”

Beliau berkata lagi, “Adapun persyaratan yang kedua adalah aku tidak mau jika hotel yang disediakan adalah hotel yang mewah..., yang aku inginkan adalah hotel yang sederhana akan tetapi bersih...”

Aku berkata, “Syaikh mengenai hotel jangan khawatir, hotel yang ada di Jakarta adalah milik salah seorang teman, sehingga gratis...”

Aku pun segera menghubungi panitia Jogja agar menyiapkan hotel yang sederhana sebagaimana hotel yang pernah aku tempati, karena ini merupakan persyaratan dari Syaikh. Dan aku juga mewanti-wanti seluruh panitia baik panitia Jogja, Jakarta, maupun Pekanbaru agar membelikan tiket pesawat ekonomi untuk syaikh.

Sungguh aku terperanjat mendengar dua persyaratan dari syaikh Abdurrazzaq yang merupakan Syaikh kaliber dunia yang ternyata menunjukkan begitu tawadhu’nya beliau. Ini tentunya merupakan pukulan telak bagi da’i-da’i nasional yang terkadang terlalu ribet jika diundang untuk mengisi pengajian. Persyaratan setumpuk dipasang, terkadang dengan kurang memperhatikan kondisi panitia pengajian yang mungkin serba kekurangan, sementara masyarakat begitu rindu untuk mendengar untaian nasehat da’i-da’i nasional tersebut.

Terkadang sebagian da’i tersebut berdalih dengan perkataan, “Pemilik ilmu harus dihormati dan dihargai!”

Slogan ini memang sangat benar akan tetapi apakah sang da’i yang langsung menyampaikan slogan ini? Tidakkah sang da’i belajar untuk rendah hati dan tawadhu’?

Saya rasa para ikhwan/panitia jika mereka memiliki kelebihan harta maka mereka tidak akan tanggung-tanggung dalam melayani sang da’i. Akan tetapi bagaimanapun juga sang da’i hendaknya tidak membiasakan untuk dilayani dengan pelayanan berlebihan apalagi meminta untuk dilayani secara berlebihan. Akhirnya jika sang da’i terbiasa dengan pelayanan yang sempurna/perfect, sehingga ketika dilayani kurang maka iapun akan merasa kurang atau tidak dihargai.

Akhirnya ikhwan-ikhwan yang miskin yangt ada di pelosok-pelosok daerah nusantara akhirnya keder dan minder jika ingin mengundang da’i tersebut.

Lihatlah bagaimana tawadhu’nya syaikh, ia harus bersafar jauh meninggalkan Madinah. Padahal manusia dari segala penjuru dunia berdatangan ke kota Madinah untuk menimba ilmu dari beliau....akan tetapi beliau tetap mau bersafar jauh ke berbagai penjuru dunia dalam rangka untuk berdakwah .
Baca selengkapnya »
Mengenal Sosok Hajar, Istri Bapak Tauhid (Nabi Ibrahim)

Mengenal Sosok Hajar, Istri Bapak Tauhid (Nabi Ibrahim)

Di waktu yang sama ini saya mengingatkan kaum nisaa’, kaum ummahat dengan sosok Hajar radhiyallahu ‘anha.

Sosok wanita penyabar, sosok wanita pendidik, sosok wanita yang taat kepada suami, sosok istri yang mendukung misi dakwah. Sabar menerima apa yang diberikan oleh suami, tidak banyak menuntut, tidak banyak permintaan.

Demikian Hajar sebagai sosok istri yang penuh ibadah kepada Allah. Menghiasai hari-harinya dengan dzikir kepada Allah. Tidak tertipu oleh wanita-wanita lain yang bisa hidup nyaman, yang bisa hidup dengan serba ada. Tapi taat mengikuti ajakan suami. Kemana kita akan pergi ? Ke sebuah lembah وَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ , sebuah lembah yang kering yang tidak ada tanaman dan tetumbuhan di sana.

Mengenal Sosok Hajar, Istri Bapak Tauhid (Nabi Ibrahim)

Berangkatlah Hajar menemani suami. Sesampainya di sana Hajar pun berusaha membantu suami dengan apa yang dia mampu. Tidak banyak mengeluh, tidak banyak menuntut, tidak mengganggu iman suami. Tidak menjadikan iman suami lemah. Tidak menjadikan semangat suami menjadi dhoif (lemah).

Hajar radhiyallahu ‘anha sosok wanita yang pendidik bagi putranya.

Ketika suami mendidik putranya di atas tauhid, di atas syariat, tunduk kepada Allah dan aturan Allah, sang istri memberi semangat kepada putra, memberi semangat iman, bukan malah istri yang menggadoli anaknya, memberikan angan-angan panjang tentang dunia:

“kemana hendak pergi?”

“akan jadi apa kamu?”

“akan makan apa kamu?”.

● Hajar seorang wanita dan istri pendidik yang bisa diberi amanat oleh suami.

Suami pergi berangkat berdakwah dalam waktu yang tidak sedikit. Hajar sebagai istri mengemban amanah, amanah mendidik, demikian.

Para istri, jadilah kalian istri-istri yang taat kepada Allah, taat kepada suami dalam perkara yang ma’ruf, taat kepada suami dalam syariat Allah.

Para istri jadilah kalian orang-orang yang banyak beristighfar kepada Allah, merenungi dosa.

Para istri, bercakaplah dengan suami, berbincanglah dengan suami dengan penuh kesopanan dan kesantunan, jangan anda menyombongkan diri.

Sungguh nabi kita telah mengabarkan kepada kalian dan kita semuanya tentang wanita,

نَاقِصَاتُ عَقلٍ وَدِينٍ 

Aku tidak melihat hamba Allah yang lebih kurang daya berpikirnya untuk mencerna, untuk menimbang yang baik dan yang buruk, mana yang lebih baik dan mana yang lebih buruk untuk segera ditinggalkan نَاقِصَاتُ عَقلٍ وَدِينٍ, dan lemah imannya dibandingkan kalian wahai wanita, sadarlah..!!

Dan Nabi kita mengabarkan:
فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ 

Aku melihat kalian wahai wanita adalah sebagai mayoritas penghuni neraka, kecuali orang-orang yang beriman diantara kalian, yang bertakwa diantara kalian, yang beribadah kepada Allah, menyadari tentang kondisinya, tawadhu’, rendah hati karena Allah, menghormati suami, mendidik anak-anak.

Transkrip Audio Al-Ustadz Luqman bin muhammad Ba’abduh hafizhahullah
Sumber || luqmanbaabduh.com
Baca selengkapnya »
BENAR-BENAR MEMANFAATKAN WAKTU UNTUK ILMU

BENAR-BENAR MEMANFAATKAN WAKTU UNTUK ILMU

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ النَّبِي...ُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang”. [HR Bukhori, no. 5933].

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda, "Manfaatkanlah lima hal, sebelum kedatangan lima hal yang lainnya : Masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu, dan masa hidupmu sebelum kematianmu." (HR. al-Hakim 4/306)


BENAR-BENAR MEMANFAATKAN WAKTU UNTUK ILMU

Al-Mu'afa bin Zakariyya rahimahullah meriwayatkan dari sebagian para murid al-Imam Abu Ja'far ath-Thabari rahimahullah, yang saat itu berada di sisi Abu Ja'far ath-Thabari sesaat sebelum wafatnya. Ketika itu disebutkan (diperbincangkan/dibahasa) di hadapan beliau permasalahan do'a dari Ja'far bin Muhammad.

al-Imam Abu Ja'far (yang saat itu sedang dalam kondisi detik-detik menjelang kematiannya, pen) meminta diambilkan tinta dan kertas, supaya beliau bisa menulisnya (faidah ilmu tersebut).

Maka yang lainnya keheranan seraya mengatakan, "Apakah juga dalam kondisi seperti ini (yakni engkau masih mau menulis, pen)?

al-Imam Abu Ja'far ath-Thabari menjawab, "Semestinya seseorang tidak meninggalkan kesempatan untuk mengambil ilmu, sampai waktu kematiannya."

[ lihat Tarikh Dimasyq 52/199 ]
Baca selengkapnya »
DALAM DEKAPAN TAKDIR (Surat Balasan Dari Penjara Damaskus)

DALAM DEKAPAN TAKDIR (Surat Balasan Dari Penjara Damaskus)

Kata orang bijak: "Bila kita mengetahui besarnya pahala pada setiap musibah, maka kita tidak akan pernah berharap agar musibah itu pergi dari kehidupan kita."

Mungkin itulah yang membuat orang-orang besar teguh dalam menghadapi ujian.
Berbagai fitnahan, tuduhan keji, makar, penyiksaan dan kezhaliman yang dilakukan oleh musuh-musuh mereka, justru disambut laksana kereta kencana yang akan membawa mereka meraih pahala dan kedekatan di sisi Allah.

Tahukah anda..?

Tiga bulan menjelang ajal, semua peralatan tulis-menulis dibersihkan dari ruang tahanan Ibnu Taimiyah. Tak ada yang tersisa meski secarik kertas sekalipun. Walau demikian beliau tetap dibolehkan menerima surat yang datang dari murid-muridnya. Untuk membalas surat-surat tersebut, Ibnu Taimiyah mencuci kertas surat yang masuk, menunggunya hingga kering lalu menulis surat balasan dengan arang diatas kertas yang sama.

Surat Balasan Dari Penjara Damaskus

Dalam kondisi sulit, terdzolimi, ditambah sepi dalam kegelapan penjara Damaskus, tak tampak keluh kesah dari raut wajah beliau. Baginya di dalam dan diluar sel tahanan sama saja.

Dalam salah satu surat balasan yang ditulisnya kurang lebih 45 hari sebelum wafat ia berkata,

“Adapun aku Alhamdulillah senantiasa berada dalam nikmat dan karunia yang semakin hari semakin bertambah.

Allah selalu memperbaharui nikmat-Nya, dari satu nikmat ke nikmat yang lain.

Keluarnya buku-buku (dari ruang tahanan) merupakan nikmat yang paling besar.
Sejak lama aku berharap agar buku-buku tersebut dikeluarkan, agar kalian bisa membacanya.

Akan tetapi mereka enggan mengeluarkan Al-Ikhna’iyyah -bantahan terhadap Ikhna’i As Shufi-.
Adapun kertas-kertas yang di dalamnya ada balasan dari kalian sudah dicuci.

Keadaanku baik-baik saja.
Kedua mataku juga dalam keadaan baik, lebih baik dari sebelumnya.
Aku berada dalam nikmat yang sangat berlimpah dan tak terhitung banyaknya.

Alhamdulillah… segala puji bagi-Nya, pujian yang banyak, baik dan penuh berkah.

Segala yang ditetapkan Allah di dalamnya terdapat kebaikan dan hikmah.

إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
“Sesungguhnya Rabb-ku Maha Lembut, terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana.” – (QS.12:100)

Seseorang tidak ditimpa keburukan melaikan karena dosanya.

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. As-Syura : 30)

Seorang hamba wajib bersyukur kepada Allah, memuji-Nya setiap saat, dan dalam kondisi apapun, juga hendaknya ia selalu beristigfar atas dosa-dosanya.

Syukur dapat membuat karunia bertambah, sementara istigfar dapat menolak murka-Nya.
Dan tidaklah Allah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melaikan pasti baik baginya.
Bila ia diberi karunia lalu bersyukur, maka itu baik baginya, dan bila ditimpa musibah, lalu ia bersabar itu juga baik baginya”

-Sekian-

(Al Uquud : 382-383)

Imam Ibnul Abdil Hadi mengatakan, “Saat buku-buku Ibnu Taimiyah dikeluarkan dari ruang tahanan, Ibnu Taimiyah menyibukkan diri dengan Ibadah, membaca Al-Qur’an, dzikir dan tahajjud hingga beliau wafat.

Di dalam penjara Damaskus beliau mengkhatamkan Al Qur’an sebanyak 80-81 kali. Pada khataman yang ke 81 beliau hanya bisa membaca hingga firman Allah:

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ. فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa.” (QS: Al-Qamar: 54-55)

(Al Uquud: 384)

Rahimullah…

Catatan:

Begitulah kehidupan orang-orang yang telah merasakan manisnya surga dunia sebelum surga akhirat.

Syaikhul Islam pernah mengatakan: “Di dunia ini ada surga, barangsiapa ketika di dunia tidak bisa memasukinya, maka dia tidak akan memasuki surga akhirat. Surga dunia itu adalah berdzikir kepada Allah, taat kepada-Nya, mencintai-Nya, selalu berusaha dekat dengan- Nya serta merindukan-Nya”.

Penghuni surga dunia adalah mereka yang hatinya terpaut kepada Allah. Engkau boleh memenjarakan raga mereka, tapi tidak dengan hati mereka. Karena mereka menjalani hidup dengan hati bukan dengan raga semata.

IBNU TAIMIYAH DI MATA MUSUHNYA

Kata orang bijak “Pengakuan musuh adalah penghargaan terbesar dan kejujuran paling tinggi”

Ibnu Az-Zamalkani adalah orang yang paling kuat permusuhannya terhadap Ibnu Taimiyah. Meskipun demikian, kebencian itu tidak menghalanginya untuk berkata jujur tentang orang yang paling dibencinya tersebut. Az-Zamalkani mengatakan,

“Apabila Ibnu Taimiyah ditanya tentang permasalahan pada satu bidang ilmu, maka orang yang melihat dan mendengarkan jawabannya akan menyangka kalau Ibnu Taimiyah tidak menguasai kecuali bidang itu saja, dan yang menyaksikan akan berkesimpulan bahwa tidak ada yang menguasai dengan baik bidang tersebut kecuali dia.

Apabila para ahli fiqih dari berbagai madzhab duduk bersamanya, semuanya mendapatkan faidah darinya menurut madzhab mereka masing-masing, dimana faida-faidah tersebut belum mereka ketahui sebelumnya. Tidak pernah dia mendebat seseorang dan kalah dalam perdebatan itu. Tidaklah ia berbicara dalam ilmu syar’i atau ilmu lainnya melainkan pasti ia mengungguli siapa saja dibidang ilmu tersebut”

Ibnu Makhluf Al Qadhi mengatakan, ”Aku tidak pernah melihat orang seperti Ibnu Taimiyah. Kami menyakitinya dan berbuat makar untuknya. Namun ketika dia mampu membalas perbuatan kami, dia justru memaafkan kami dan berhujjah demi membela kami “.

(Muqaddimah Fatawa Al Kubro: 46)

Semoga Allah merahmati Ibnu Taimiyah dan seluruh ulama kaum muslimin.
Dan semoga kita bisa memetik hikmah dan tauladan dari setiap kisah hidup mereka.
____________
Madinah Al-Munawwarah
✍ACT El-Gharantaly
Baca selengkapnya »
Lihat, Bagaimana Cara Para Salaf Menyembunyikan Amal sholeh mereka

Lihat, Bagaimana Cara Para Salaf Menyembunyikan Amal sholeh mereka

“Duhai parahnya pilek ini,” ucap Ayub Sikhtiyani tersedu. Murid-muridnya yang hadir menjadi saksi bagaimana cara guru mereka Ayub menutupi isak tangisnya di tengah majelis saat itu. Ia tak kuasa menahan tangis saat membacakan hadits Nabishallallahu’alaihiwasallam, untuk menyembunyikannya ia tarik kain surban menutupi matanya kemudian terucaplah kata-kata tadi.

Diceritakan pula bahwa Ayub biasa mengerjakan sholat malam sampai subuh. Hingga ketika subuh menjelang ia mengangkat suara seolah-olah baru terbangun dari tidur.

Kisah lain datang dari Daud bin Abi Hind. Selama 40 tahun ia berpuasa namun tak seorangpun dari anggota keluarganya yang tahu. Bagaimana cara ia mensiasatinya ? Begini, Daud memiliki sebuah kedai tempat dimana ia berdagang. Sarapan pagi yang telah disiapkan sang istri, ia bawa ke kedainya lalu disedekahkan. Begitupula saat waktu makan siang, ia pulang mengambil bekal makanannya kemudian kembali pergi ia sedekahkan. Sehingga anggota keluarganya menyangka ia memilih makan di tempat dagangnya. Lalu baru ketika malam hari, ia bersantap bersama keluarga sembari berbuka. Dan itu berlangsung selama 40 tahun.

Menyembunyikan Amal sholeh

Ada lagi Manshur bin al-Mu’tamir yang beribadah 40 tahun mengisi siang dengan shiyam dan malam dengan qiyam. Kegigihan beribadahnya membuat ibu Manshur merasa perlu bertanya kepadanya, “kamu habis membunuh orang, nak ?” “Aku lebih tau kondisiku wahai Ibunda,” jawabnya. Yang menjadi saksi dari judul tulisan ini adalah kebiasaan Manshur memakai celak di pagi hari. Itu ia lakukan demi menutupi bekas tangis di matanya setelah sepanjang malam bermunajat.

Sangat banyak kisah-kisah terabadikan dalam adabiyyat dan tarojum orang-orang saleh terdahulu.

Ada dari mereka yang selalu menutup wajahnya ketika berjihad. Ada juga yang menyembunyikan mushafnya ketika sedang membaca kalamullah. Ada pula yang rela memburu waktu tersunyi untuk berderma. Banyak cara yang mereka lakukan untuk menyembunyikan ketaatan. Mereka taat namun enggan dipandang taat. Kebaikan yang mereka laksanakan tidak lantas membuat mereka besar diri, menganggap diri sudah baik, apalagi demi agar manusia menganggap mereka baik. Mereka cukupkan diri dengan ridha Allah, mereka dahulukan penilaian Allah jauh di atas penilaian manusia.

Abdullah Khuraibi berpesan, “Mereka (orang-orang terdahulu) menganjurkan tiap orang agar memiliki amalan rahasia antara dirinya dan Allah, yang bahkan tidak diketahui istri dan anak-anaknya.”

Pada asalnya amalan terbaik adalah yang dikerjakan dengan sembunyi-sembunyi, karena dengan itu keikhlasan menjadi lebih mudah digapai. Orang-orang terbaik umat ini mengusahakan semua cara agar amalan baik mereka terpelihara dari niat mencari pandangan dan pujian manusia. Tidak butuh dokumentasi dan publikasi sana-sini, karena yakin bahwa tidak seremeh amal pun yang luput dari penglihatan Allah, satu-satunya Dzat yang hanya untukNya amal kebaikan mereka persembahkan. Hanya keridhaan Pencipta yang mereka kejar. 

Wahai indahnya ibadah para mukhlisin dan mukhlasin itu. Kebaikan yang dilakukan tak ubah keburukan yang harus disimpan rapat-rapat. Sebab mereka tau, satu titik riya’ mampu melumat habis pahala amalan yang telah dikerjakan, hingga menjadi debu yang tak berarti.

Catatan:
Mari menjadi agen rahasia dalam beribadah, seperti dia yang diam-diam mendoakan kamu. Dia, iya dia. Bergerilya dia di dalam doa. Dengan tulus dan rahasia. Hanya kepada Pemilik hati ia titipkan segenap rasa dan pinta. Mendoakan orang lain memang begitu rumusnya, semakin rahasia semakin bertenaga dan semakin diumbar semakin hambar. Dan ingat itu doa bukan pelet.
______________
Madinah Al-Munawwarah
Penulis: Ustaz. Arif Rinanda
Murajaah: ACT El-Gharantaly
Baca selengkapnya »
kisah kesederhanaan mohammad hatta

kisah kesederhanaan mohammad hatta

1. Kembalikan dana taktis wapres

Hatta pernah menyuruh asistennya mengembalikan dana taktis wakil presiden sebesar Rp 25 ribu. Padahal jika tidak dikembalikan pun tidak apa".

2. Sulit bayar tagihan listrik

Hatta mendapat uang pensiun sebesar Rp 3 ribu. Jumlah itu terbilang kecil. Hatta pun terengah-engah membayar tagihan listrik rumahnya. Hatta juga menolak semua jabatan komisaris baik dari perusahaan nasional maupun perusahaan asing. Dia merasa tidak bisa bertanggung jawab pada rakyat jika mengambil jabatan itu. Menurut Hatta, apa kata rakyat nanti kalau dia menerima jabatan sebagai komisaris. Bung Hatta juga menolak jabatan di Bank Dunia.


3. Tak mampu beli sepatu Bally

Kisah ini didapat dari sekretaris pribadi Bung Hatta. Suatu ketika Bung Hatta berjalan di pertokoan di luar negeri. Dia mengidam-idamkan sepatu Bally yg terpampang di etalase. Begitu mengidamkannya, guntingan iklan sepatu Bally itu dia simpan di dompetnya. Dia berharap suatu waktu bisa membelinya. 

Apa daya, sampai meninggal Bung Hatta belum bisa membeli sepatu Bally itu. Guntingan iklan masih tersimpan di dompetnya. Andai saja Bung Hatta mau menggunakan kekuasaannya, tentu dia akan mudah mendapatkan sepatu Bally yang diidam-idamkan itu.

4. Istri menabung demi mesin jahit

Jika dihitung pernikahan Hatta dan Rachmi berlangsung 35 tahun. Pada suatu ketika, Rachmi tak mampu membeli mesin jahit idamannya. Hatta pun hanya bisa menyuruh Rachmi bersabar & menabung lagi.

5. Menabung untuk naik haji

Waktu itu Bung Karno menawarkan agar menggunakan pesawat terbang yg biayanya ditanggung negara. Tapi Hatta menolaknya, karena ia ingin pergi haji sebagai rakyat biasa, bukan sebagai wakil presiden. Akhirnya dia menunaikan haji dari hasil honorarium penerbitan beberapa bukunya.

6. Ingin dimakamkan di makam biasa

Bung Hatta yg dikenal sebagai Gandi dari Indonesia itu dikenal sangat ingin menyelami kehidupan sebagai rakyat Indonesia. Ketika meninggal dunia pun Hatta tidak mau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Dia hanya ingin dimakamkan di taman makam biasa

Sumber : jadiberita.com
Baca selengkapnya »
Andy Octavian Latief Calon Doktor Termuda Indonesia Ikuti Jejak Ustadz Firanda

Andy Octavian Latief Calon Doktor Termuda Indonesia Ikuti Jejak Ustadz Firanda

JAKARTA (gemaislam) - Andy Octavian Latief, calon doktor Fisika asal pamekasan, Madura akan merampungkan studi jenjang S3 di Maryland University Amerika Serikat pada tahun depan. Pemuda berusia 24 tahun ini akan menjadi doktor termuda asal Indonesia.

Menjelang kelulusannya, pria lulusan SMAN 1 Pamekasan 2006 ini banyak mendapatkan tawaran menjadi dosen di universitas ternama di Asia, Australia, Eropa dan Amerika, bahkan di kampusnya sendiri saat ini (Maryland University) juga telah menawarkan kontrak kerja padanya, tapi semuanya ia tolak.

Pemuda cerdas asli Madura yang pernah meraih medali emas pada Olimpiade fisika Internasional kini aktif belajar bahasa Arab dan ilmu Syar’i di negeri patung Liberty. Bukan menimba ilmu agama kepada para Orientalis Kafir, tetapi kepada para da’i beraqidah lurus dan murid para ulama terkemuka.

Menurut informasi yang didapat gemaislam.com, dinegeri Paman Sam itu, jika sore hari, Andy Octavian belajar bahasa Arab di Tooba University, sempat juga belajar Hadits, Aqidah dan Tajwid kepada ulama Amerika lulusan Arab Saudi seperti Syaikh Taha Adesun, Syaikh Ali Roach dan Syaikh Abu Salman.

Ingin Belajar ke Universitas Islam Madinah

Akhi Andy, demikian pria ini biasa disebut oleh kawan-kawan sepengajiannya, memiliki semangat membara dalam menuntut ilmu Syar’i, terlebih lagi setelah hidayah menyapanya, mengenal manhaj Salaf dan memperdalamnya di negeri muslim minoritas, Amerika Serikat. Rencananya setelah mendapat gelar doktor, dia akan hijrah ke kota nabi untuk menuntut ilmu syar’i di Universitas Islam Madinah.

Kabar yang beredar baru-baru ini dia akan mengajar dan menjadi dosen di Universitas Islam Madinah. Ini adalah sesuatu yang mustahil, mengingat spesialis pria berkacamata itu adalah bidang fisika, sedangkan di universitas tersebut tidak ada jurusan untuk non ilmu syar’i.



Kawan-kawan dekatnya mengabarkan bahwa Andy tahun depan, setelah lulus S3, akan pergi ke kota Madinah untuk belajar pada fakultas Hadits di Universitas Islam Madinah.

Pada liburan beberapa bulan yang lalu, tepatnya bulan Juni, Andy diminta untuk mengisi kajian di hadapan mahasiswa UGM (Universitas Gadjah Mada) Yogyakarta, tepatnya di masjid Al Ashri Pogung dengan tema "Kehidupan Muslim di Amerika Serikat."

Jika jadi ke belajar ke kota nabi, Andy adalah salah satu diantara mereka yang ‘banting stir’ dari ilmu umum ke ilmu syar’i. ia pun terinspirasi oleh beberapa asatidzah yang dahulunya menekuni ilmu umum kemudian mendalami ilmu Syar’i di universitas Islam Madinah, seperti ustadz Abdullah Roy (mahasiswa S3 Aqidah, dulu dari SMA umum), ustadz Firanda Andirja (mahasiswa S3 Aqidah, dulu kuliah di UGM), ustadz Fauzan Abdullah (Mahasiswa S2 Fiqih, lulusan S1 teknik elektro UGM). (bms)

source: kaskus.co.id
Baca selengkapnya »
Kesabaran Syaikh Ibnu Utsaimin Ketika Sakit Hingga Wafat

Kesabaran Syaikh Ibnu Utsaimin Ketika Sakit Hingga Wafat

Penyakit yang melanda syaikh Ibnu Utsaimin

Dahulu, syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahullah- pernah berkata kepada syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid -hafidzahullah-:

“Ketika aku merasakan sakit pada tubuhku, aku mengira bahwa itu adalah sakit basur (wasir). Dan dulu, aku pernah melakukan operasi untuk penyakit ini sehingga aku kira bahwa penyakit ini adalah penyakit yang sama. Ketika rasa sakit semakin bertambah, aku kembali ke Rumah Sakit dan aku juga ingin memeriksa mataku karena aku merasakan perih pada mataku. Maka para dokter melakukan analisa dan pengecekan, kemudian mereka mengabariku bahwa aku terkena kanker.”

Dan syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahullah- menamai kanker dengan ‘Al-Maradhul Khatir (Penyakit berbahaya)’ dan tidak mau menamainya dengan ‘Al-Maradhul Khabits (Penyakit yang buruk)’. Dan sudah diketahui, bahwa orang-orang arab menamai kanker dengan Al-Maradhul Khabits. Syaikh Ibnu Utsaimin berkata ketika enggan menamai kanker dengan Al-Maradhul Khabits karena:

ليس في أفعال الله خبيثا
“Tidak ada yang buruk pada perbuatan-perbuatan Allah”.

Dan pemberian penyakit dan penyembuhannya hanyalah kuasa Allah dan perbuatanNya saja.

Syaikh Al-Munajjid bertanya kepada syaikh Ibnu Utsaimin mengenai penyakit itu setelah beberapa saat, maka Syaikh Ibnu Utsaimin menjawab:

يأتي ويذهب إلا في موضع المرض الأصلي الذي انتشر منه فإنه مستمر
“Rasa sakitnya datang dan pergi kecuali rasa sakit yang ada di bagian asal penyakit tersebut. Maka rasa sakitnya terus terasa di bagian itu”

Walau beliau sakit kanker, namun mengajar dan memberi fatwa selalu beliau lakoni.

Kesabaran syaikh Ibnu Utsaimin menahan penyakit kanker

Sebagian murid syaikh Ibnu Utsaimin memerhatikan ketika beliau mengajar, kerap kali beliau mengangkat suara seperti orang yang dicambuk, namun beliau tetap menampakkan bahwa dirinya baik-baik saja.

Dan syaikh Ibnu Utsaimin sangat enggan untuk diberi obat penenang, karena obat itu menjadikan beliau tidur akhirnya tidak dapat shalat malam dan mengajar.

Dan syaikh Ibnu Utsaimin memiliki angan-angan sebagaimana yang diceritakan oleh sebagian masyaikh, bahwa beliau berkata:

أريد أن أموت قريبا من الكعبة وأنا أنشر العلم
“Aku ingin wafat dekat dengan ka’bah dalam keadaan mengajar ilmu”

Syaikh Ibnu Utsaimin berkeyakinan bahwa menyebarkan ilmu termasuk amalan terbesar untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Maka dari itu, pada tanggal 29 ramadhan ketika beliau di Mekkah, keletihan terus bertambah pada diri syaikh Ibnu Utsaimin. Maka dokter memutuskan agar syaikh Ibnu Utsaimin dibawa ke Jeddah untuk perawatan intensif. Namun keadaan beliau membaik ketika di waktu ashar. Dan syaikh Ibnu Utsaimin pun akhirnya meminta agar beliau dikembalikan ke Mekkah walaupun para dokter melarangnya. Syaikh Ibnu Utsaimin pun berkata:

لا تحرمونا هذا الأجر فهذه آخر ليلة من رمضان
“Jangan cegah aku untuk mendapatkan pahala ini. Karena sekarang adalah malam terakhir bulan ramadhan”.



Dan benar, syaikh Ibnu Utsaimin pun kembali ke Mekkah dengan pengawasan para dokter. Beliaupun masuk ke dalam ruangan khusus. Dan beliaupun minta air wudhu kemudian beliau shalat dan meminta izin agar bisa mengajar. Beliaupun akhirnya mengajar di malam terakhir bulan ramadhan.

Detik-detik wafatnya beliau

Ketika beliau terbangun dari koma, beliau langsung membaca Al-Quran dan dzikir. Dan akhir ayat yang beliau baca adalah:

إِذْ يُغَشِّيكُمُ النُّعَاسَ أَمَنَةً مِنْهُ
“Ingatlah, ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman dariNya” (QS. Al-Anfal: 11)

Ruh beliau pun dicabut pada jam setengan dua siang. Beliau wafat pada tanggal 15 syawwal 1421 H. Dan beliau dikuburkan di Mekkah dekat dengan guru beliau ‘syaikh bin Baaz’ -rahimahumallah-.

Karamah beliau

Orang-orang yang mencuci jenazah beliau melihat keindahan rupa beliau, dan mudahnya beliau dicuci dan dibersihkan, sampai mereka mengira bahwa syaikh Ibnu Utsaimin sudah dicuci sebelum dibawa ke tempat pengurusan jenazah.

Semoga Allah merahmati seluruh masyaikh kita dan guru-guru kita.

رحم الله الشيخ ابن عثيمين وأسكنه في الفردوس الأعلى
“Semoga Allah merahmati syaikh Ibn Utsaimin dan menempatkan beliau di surga Firdaus tertinggi”

Semoga kisah ini menjadi cambuk bagi kita untuk terus bersemangat dalam belajar, mengajar, dan beribadah kepada Allah.

Semoga Allah merahmatimu ya syeikh Utsaimin.

Sumber:
Fath Dzii Al-Jalaal Wa Al-Ikram Li Ibn Utsaimiin 1/36
Repost from fb akh Hamzah Khoiri Abdullah
Baca selengkapnya »
ROOBI'AH BINTI ISMA'IL, Kapankah Ada Wanita seperti ini lagi

ROOBI'AH BINTI ISMA'IL, Kapankah Ada Wanita seperti ini lagi

Ibnu 'Asaakir rahimahullah dalam kitabnya Taarikh Dimasyq menyebutkan biografi seorang wanita yang sholehah yang sangat rajin beribadah yang bernama ROOBI'AH BINTI ISMA'IL. Wanita ini seorang janda yang kaya raya. Ia telah memberanikan diri untuk menawarkan dirinya untuk dinikahi kepada seorang lelaki yang sholeh yang bernama Ahmad bin Abil Hawaari. Maka Ahmad bin Abil Hawaari berkata :

لَيْسَ لِي هِمَّةٌ فِي النِّسَاءِ لِشُغْلِي بِحَالِي
"Aku tidak punya hasrat kepada para wanita karena kesibukanku dengan dirikau (yaitu ibadahku)"
Ternyata sang wanita Robi'ah binti Isma'il juga berkata

إني لأشغل بحالي منك وما لي شهوة ولكني ورثت مالا جزيلا من زوجي فأردت أن أنفقه على إخوانك وأعرف بك الصالحين فتكون لي طريقا إلى الله
"Sungguh aku juga bahkan lebih sibuk beribadah dari dirimu, serta aku tidak berhasrat, akan tetapi aku telah mewarisi harta yang banyak dari suamiku. Aku ingin untuk menginfakan hartaku pada saudara-saudaramu, dan dengan dirimu aku mengenal orang-orang yang sholeh, sehingga hal ini menjadi jalanku menuju Allah"

ROOBI'AH BINTI ISMA'IL

Ahmad bin Abil Hawaari berkata, "Aku minta izin dahulu kepada guruku"

Lalu Ahmad pun menyampaikan hal ini kepada Abu Sulaiman gurunya, dan sang guru selalu melarang murid-muridnya untuk menikah dan berkata, "Tidak seorangpun dari sahabat kami yang menikah kecuali akan berubah". Namun tatkala sang guru mendengar tentang tuturan sang wanita maka ia berkata :

تَزَوَّجْ بِهَا فَإِنَّهَا وَلِيَّةُ للهِ
"Nikahilah wanita tersebut, sesungguhnya ia adalah seorang wanita wali Allah"

Lalu akhirnya Ahmad bin Abil Hawaaripun menikahi sang wanita Roobi'ah binti Isma'il, lalu Ahmad berkata,

وتزوجت عليها ثلاث نسوة فكانت تطعمني الطيبات وتطيبني وتقول اِذْهَبْ بِنَشَاطِكَ وَقُوَّتِكَ إِلَى أَزْوَاجِكَ
"Setelah itu akupun menikahi lagi tiga orang wanita setelahnya. Dan ia senantiasa memberi makanan yang baik kepadaku, dan memakaikan minyak wangi kepadaku seraya berkata, "Pergilah engkau dengan semangat dan kekuatanmu ke istri-istrimu" (Tariikh Dimasyq, Karya Ibnu 'Asaakir jilid 69 hal 115-116)

Kapankah ada wanita yang seperti ini lagi…? Memberi nafkah kepada suaminya…bahkan menghiasi suaminya untuk mendorong suaminya berangkat ke madu-madunya yang lain??!!

Namun juga para wanita juga akan berkata, "Kapankah ada seorang lelaki yang seperti Ahmad Abul Hawaari lagi? yang sangat rajin beribadah…?, sehingga para wanita tidak ragu untuk menawarkan dirinya??"

Ditulis oleh Ustadz DR Firanda Andirja MA حفظه الله

catatan admin
ROOBI'AH BINTI ISMA'IL  wanita sholehah yang zuhud terhada dunia namun dia bukanlah sufi dari kalangan wanita
Baca selengkapnya »
Syaikh Al’Allaamah Abu ‘Ali Husain Al-Muayyid tinggalkan aqidah batil syiah

Syaikh Al’Allaamah Abu ‘Ali Husain Al-Muayyid tinggalkan aqidah batil syiah

Penganut Syiah di Timur Tengah, digemparkan oleh Wesal TV Arab Saudi yang menyajikan acara “panas”.

Pasalnya, tamu dalam acara tersebut adalah salah seorang mantan ‘ulama’ Syiah, ‘ulama’ hadits, fiqh dan ushul agama Syiah sekaligus sebagai marja’ (ulama rujukan) dalam komunitas syiah. Ia kini berwajah sebagai seorang ulama Islam yang sangat handal. Semalam ia muncul untuk pertama kalinya secara resmi sebagai seorang ulama Islam, setelah sebelumnya ia kerap muncul sebagai ‘ulama’ Syiah yang berserban hitam ala Syiah.

Biasanya jika sudah menjadi marja’, uang jutaan dolar dari hasil “khumus” akan memenuhi rekening banknya di Swiss, Jerman, Prancis atau Negara Eropa lainnya. Sebab semua uang khumus-nya kaum Syiah, penempatannya diatur oleh seorang marja’ sekehendaknya.

Dengan segala kekayaan dan tingginya derajat ‘keulamaan’ ini, ternyata mantan marja’ Syiah ini, yakni Syaikh Al’Allaamah Abu ‘Ali Husain Al-Muayyid, meninggalkan pangkat tersebut dan lebih memilih untuk menyelamatkan keyakinannya. Baginya pangkat, harta dan kedudukan tinggi tidak berarti jika akidah dan keyakinannya tidak memiliki dasar dan pondasi yang benar dan absah. Itulah sebabnya, ia “melarikan diri” dari semua harta dan pangkat dunia demi meraih cahaya iman dalam bingkai Islam (ahlus-sunnah wal jamaah).

Tak tanggung-tanggung, ia rela meninggalkan semua kerabatnya. Orangtuanya yang merupakan salah satu pemuka Syiah dari keturunan marga Al-Kaadzhimiyah (marga tinggi Syiah) ia tinggalkan, demikian juga semua anak dan istrinya, sebab mereka semua tidak menyetujui kepindahannya ke dalam Islam yang sesungguhnya.

Ibunya adalah anak salah satu marja’ Syiah; Ayatullah Sayid Hasan Shadar. Sedangkan istrinya adalah saudari dari dai Syiah populer, Ammaar Al-Hakim.

Ketika istrinya mengetahui ia telah masuk Islam, ia meminta cerai dan berkata kepadanya, “Saya tidak akan pernah rela hidup menjadi istri seorang suami yang mendoakan keridhaan terhadap Aisyah (istri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam).”

Mendengar itu, iapun menjawab, “Demikian juga aku, tidak mungkin bisa hidup dengan seorang istri yang selalu saja mencaci maki ibundaku, Aisyah radhiyallaahu’anha.”

Karena khawatir ditangkap atau dibunuh oleh otoritas rezim Irak dan Iran yang Syiah, ‘Ali Husain pun melarikan diri ke Yordania, lalu pindah ke Lebanon, dan sekarang tinggal di Jeddah, Arab Saudi. Ia mendapatkan suaka dan keamanan di Arab Saudi, dan sekarang menjadi salah satu ulama yang ditugaskan di Rabithah Al-’Aalam Al-Islamiy di Jeddah.



Rabu (18/3) malam, di Wesal TV ‘Ali Husain mengisahkan perjalanan hidupnya, dari kecil, sewaktu menuntut ilmu di Hawzah Nejf dan Qum, hingga menjadi ‘ulama’ rujukan (marja’) Syiah di Iran dan Irak secara khusus, dan di dunia secara umum.

Salah satu alasan yang membuat Husain Al Muayyid meninggalkan Syiah karena, “Peperangan Syiah bukanlah peperangan melawan Abu Bakar dan Umar akan tetapi peperangan melawan Allah dan Rasul-Nya,” ucapnya kepada Wesal TV.

Seorang marja’ Syiah, ulama besar rujukan para Syiah, Husain Al Muayyid, telah bertaubat dan meninggalkan ajaran kufur Syiah, lalu ditanya pada sebuah tayangan di channel Wesal TV.

“Keuntungan apa yang engkau dapatkan setelah meninggalkan ajaran Syiah?” Pertanyaan ini dijawab Husain Al Muayyid:

أدركت أن معركة الشيعي ليست مع أبي بكر و عمر بل هي مع الله و رسوله. و أنا لا أستطيع أن أدخل في معركة مع الله و رسوله. و لذالك من الأمور التي ربحتها أنني خرجت من هذه المعركة و هي معركة خاسرة لا شك في ذالك. لأنك إذا أمنت بهذه العقيدة سيجرك إيمانك إلى أن الله سبحانه و تعالى 

قد قصر في بيان هذه العقيدة و إقامة الحجة عليها و أن الرسول ليس فقط أنه قصر و إنما الصورة التي تعطيها العقيدة الشيعية إذا آمنت بها أن الرسول قائد ضعيف بحيث لا يستطيع من موقعه القيادي هذا أن يثبت العقيدة التي يأمره الله تعالى. هذا المعنى أن المعركة أصبحت معركة مع الله و الرسول. و أنا لا أستعد أن أدخل في المعركة مع الله و رسوله
“Saya dapatkan bahwasanya peperangan Syiah bukanlah peperangan melawan Abu Bakar dan Umar, akan tetapi peperangan melawan Allah dan RasulNya. Dan aku tidak mampu untuk memasuki sebuah peperangan dalam rangka melawan Allah dan Rasul-Nya. Karenanya, di antara perkara-perkara keuntungan yang aku dapatkan ketika meninggalkan ajaran Syiah adalah bahwasanya aku dapat keluar dari peperangan ini. Peperangan ini adalah peperangan yang begitu merugikan, tidak ada keraguan lagi dalam masalah itu. 

Karena jika kamu berkeyakinan dengan akidah Syiah, maka keyakinanmu akan menyeretmu dalam sebuah keyakinan bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala telah lalai dalam menjelaskan akidah ini dan lalai pula dalam menegakkan hujjah atasnya dan bahwasanya Rasul bukan hanya lalai akan tetapi—sebuah gambaran yang diberikan oleh akidah syiah jika engkau mengimani akidahnya—bahwasanya Rasul adalah pemimpin yang lemah sebagaimana Rasul tidak bisa menetapkan akidah yang Allah perintahkan ini. Maka itu artinya adalah bahwa peperangan ini menjadi peperangan melawan Allah dan Rasul-Nya. Dan aku tidak mampu untuk memasuki peperangan melawan Allah dan RasulNya.”



Ketahuilah, kata Al Muayyid, tidak ada agama yang paling kejam melainkan agama Syiah Rafidhah, Ja’fariyyah, Imamiyyah, Itsna Asyariyyah, Ismailiyyah, Nushairiyah, Bahaiyyah. Mereka tega menyayat anak mereka sendiri dengan pisau. Dan tentu mereka akan lebih tega lagi untuk menyayat anak-anak Muslim.

Jangan sekali-kali Anda menunda untuk menyebarkan kesesatan dan kekufuran Syiah, sebelum datangnya penyesalan jika Indonesia mengalami sebuah kejadian sebagaimana yang dialami oleh Suriah. Maka, bebaskanlah indonesia dari agama syiah karena dia adalah agama kufur.

Ajarkan keluarga Anda akan kesesatan Syiah, jika Anda tidak ingin keluarga akan mengalami musibah sebagaimana musibah di Suriah.

Syaikh Muhammad Al Arifi berpesan dalam khutbahnya:

إن السكاكين التي تذيح أطفال سوريا فإنها في طريق إلى رقاب أطفالنا و أطفالكم. إن لم ننصرهم, فإن الصفويين يرون ذبحنا و ذبح أطفالنا و تقطيعات أجسادنا يرون قربة في دينهم يكسبون بها ثوابا
“Sesungguhnya pisau-pisau yang menyembelih anak-anak Suriah, sungguh dia sedang dalam perjalan menuju leher anak-anak kita dan anak-anak kalian. Jika kita tidak menolong mereka, sesungguhnya orang-orang Shofawiyyah (negara Syiah Iran) akan memilih untuk menyembelih kita dan anak-anak kita dan akan memutilasi tubuh-tubuh kita. Mereka berpendapat, itulah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dalam ajaran agama mereka. Mereka mengharapkan pahala dengan semua itu.”

Semoga info ini bermanfaat.
Baca selengkapnya »
APAKAH NABI KITA HIDUP KAYA ATAU MISKIN?

APAKAH NABI KITA HIDUP KAYA ATAU MISKIN?

Periode kehidupan Nabi pernah diwarnai kecukupan bahkan kelebihan, namun juga pernah mengalami masa-masa kekurangan, dan kemiskinan. Saat kecil hingga meninggal, nuansa warna itu bercorak dalam kehidupan beliau.

Saat diasuh kakeknya, Abdul Muththolib, kehidupan beliau relatif berkecukupan. Abdul Muththolib dikenal kaya raya.

Saat diasuh Abu Tholib, sang paman, beliau hidup dalam kemiskinan. Karena secara finansial Abu Tholib memang kekurangan.

APAKAH NABI KITA HIDUP KAYA ATAU MISKIN?

Khodijah radhiyallahu anha, istri Nabi yang pertama, adalah seorang wanita kaya raya dan mulia. Banyak membantu Nabi dengan hartanya.

Namun, tidak sedikit periode kehidupan Nabi setelahnya yang diwarnai dengan kekurangan secara finansial, miskin. Tapi itu terjadi karena Nabi memilih demikian.

Jika Nabi mau, bisa saja Allah memperjalankan gunung-gunung emas dan perak bersama beliau:

وَاللهِ يَا عَائِشَةَ ! لَوْ شِئْتُ لَأَجْرَى اللهُ مَعِي جِبَالَ الذَّهَبِ وَ الْفِضَّةِ
Demi Allah wahai Aisyah, kalau aku mau, Allah bisa memperjalankan bersamaku gunung-gunung emas dan perak (H.R Ibnu Sa’ad dalam Thobaqot – Silsilah asShahihah)

Seandainya Nabi memiliki emas sebanyak atau sebesar gunung Uhud, beliau akan membagi-bagikannya sebagai infaq di jalan Allah. Hingga setelah berlalu hari yang ke-3, yang tersisa hanyalah dinar yang dipersiapkan untuk membayar hutang.

مَا يَسُرُّنِى أَنَّ لِى أُحُدًا ذَهَبًا تَأْتِى عَلَىَّ ثَالِثَةٌ وَعِنْدِى مِنْهُ دِينَارٌ إِلاَّ دِينَارٌ أُرْصِدُهُ لِدَيْنٍ عَلَىَّ
Tidaklah membuatku senang, jika aku memiliki emas sebesar Uhud, kemudian datang hari yang ketiga, sedangkan aku masih memiliki dinar (uang emas). Kecuali dinar itu aku persiapkan untuk membayar hutangku (H.R Muslim)

Tapi memang kehidupan Nabi bersama para istri beliau di Madinah, banyak diwarnai kekurangan secara finansial.

Pernah selama tidak kurang 2 bulan berturut-turut tidak ada makanan yang bisa dipanggang, dimasak, atau direbus di atas tungku api. Hanya makan kurma dan minum air saja. Silakan disimak kisah ibunda kaum beriman, Aisyah radhiyallahu anha:

وَاللَّهِ يَا ابْنَ أُخْتِي إِنْ كُنَّا لَنَنْظُرُ إِلَى الْهِلَالِ ثُمَّ الْهِلَالِ ثُمَّ الْهِلَالِ ثَلَاثَةَ أَهِلَّةٍ فِي شَهْرَيْنِ وَمَا أُوقِدَ فِي أَبْيَاتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَارٌ قَالَ قُلْتُ يَا خَالَةُ فَمَا كَانَ يُعَيِّشُكُمْ قَالَتْ الْأَسْوَدَانِ التَّمْرُ وَالْمَاءُ
Demi Allah wahai putra saudariku, kami pernah melihat hilal kemudian hilal kemudian hilal. Tiga hilal dalam 2 bulan. Tidak ada sesuatu (bahan makanan) yang dimasak (di atas api) di rumah-rumah Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. Aku (Urwah) berkata: Wahai bibi, dengan apa kalian hidup? Aisyah mengatakan: al-Aswadaan: kurma dan air (H.R al-Bukhari dan Muslim)

Nabi pernah masuk di pagi hari ke rumah Aisyah dan bertanya: Apakah ada makanan? Aisyah menjawab: Tidak ada. Nabi menyatakan: Kalau begitu, aku berpuasa (H.R Muslim)

Rumah yang ditinggali Aisyah demikian sempit. Hanya satu kamar yang cukup untuk tidur berdua. Saat Nabi sholat malam, Aisyah masih tidur di depan beliau, tidak memungkinkan untuk Nabi bersujud karena terhalang kaki Aisyah. Maka Nabi pun menyentuh kaki Aisyah memberi isyarat agar ditarik, sehingga Nabi bisa meletakkan dahi beliau. Rumah beliau juga gelap tanpa penerangan.

Aisyah radhiyallahu anha berkata:

...وَرِجْلَايَ فِي قِبْلَتِهِ فَإِذَا سَجَدَ غَمَزَنِي فَقَبَضْتُ رِجْلَيَّ وَإِذَا قَامَ بَسَطْتُهُمَا قَالَتْ وَالْبُيُوتُ يَوْمَئِذٍ لَيْسَ فِيهَا مَصَابِيحُ
...dan kedua kakiku berada di kiblat beliau. Jika beliau akan sujud, beliau menyentuh aku sehingga aku tarik kakiku. Jika beliau berdiri, aku menjulurkan kedua kaki lagi. Pada waktu itu rumah-rumah (istri Nabi) tidak memiliki lampu (H.R Muslim)

Nabi shollallahu alaihi wasallam meninggal dunia dalam keadaan baju perang beliau tergadaikan pada seorang Yahudi, untuk mendapatkan 30 sho’ gandum sebagai makanan sehari-hari.

تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَدِرْعُهُ مَرْهُونَةٌ عِنْدَ يَهُودِيٍّ بِثَلَاثِينَ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ
Rasulullah shollallahu alaihi wasallam meninggal dunia dalam keadaan baju besi beliau tergadaikan pada seorang Yahudi dengan imbalan 30 sho’ gandum (H.R al-Bukhari).

Nabi kita adalah teladan dalam berbagai keadaan. Saat beliau berkecukupan, kehidupannya adalah teladan. Saat beliau kekurangan, beliau juga uswah. Saat senang atau sedih. Dalam seluruh sendi kehidupan.

Kekayaan bukanlah tercela, jika digunakan di jalan Allah. Kemiskinan bukanlah hina, jika dijalani dengan kesabaran dan iffah.

Sahabat Nabi ada juga yang kaya, namun lebih banyak lagi yang miskin. Mereka semua adalah teladan pula dalam kebaikan.

Para Ulama berbeda pendapat tentang manakah yang lebih utama antara orang kaya yang bersyukur atau orang miskin yang bersabar. Namun kesimpulan pendapat yang rajih – insyaAllah- yang terbaik adalah orang yang berbuat secara benar sesuai keadaan dia saat itu. Jika ia ditakdirkan kaya, ia bersyukur. Jika ia ditakdirkan miskin, ia bersabar.

Mungkin saat ini kita kaya, bukan berarti sisa kehidupan kita akan terus demikian. Mungkin juga saat ini kita kekurangan, bukan berarti episode hidup tersebut akan berlanjut demikian tanpa henti.

Bersikaplah dalam bimbingan Sunnah Nabi. Jika miskin, jangan iri dengki pada yang kaya. Turut bersyukur saudara kita berkelimpahan. Kita senang sebagaimana saudara kita merasakan kesenangan itu. Jika kaya, jangan pelit berbagi dengan sesama. Jangan merasa lebih tinggi dan mulia di sisi Allah dibandingkan yang miskin.

Yang kaya jangan merasa bangga dengan memiliki keutamaan melebihi yang lain pada hari kiamat. Kalaupun kita ditakdirkan meninggal dalam keadaan kaya, ingatlah, bisa jadi seandainya pun kita diberi rahmat Allah ke dalam Surga-Nya, proses menuju ke dalamnya tidaklah dalam waktu yang singkat. Orang-orang miskin yang beriman akan lebih dahulu masuk jauh sebelum kita. Karena orang kaya masih sibuk mempertanggungjawabkan dari mana hartanya didapat, ke mana disalurkan.

يَدْخُلُ الْفُقَرَاءُ الْجَنَّةَ قَبْلَ الْأَغْنِيَاءِ بِخَمْسِ مِائَةِ عَامٍ نِصْفِ يَوْمٍ
Orang-orang fakir masuk ke Surga sebelum orang-orang kaya sejauh 500 tahun, (yaitu) setengah hari (di akhirat, pent) (H.R at-Tirmidzi)

قُمْتُ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَكَانَ عَامَّةَ مَنْ دَخَلَهَا الْمَسَاكِينُ وَأَصْحَابُ الْجَدِّ مَحْبُوسُونَ 
Aku berdiri di dekat pintu Surga, mayoritas orang yang memasuki Surga adalah orang-orang miskin, sedangkan orang-orang kaya tertahan (untuk hisab) (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Usamah)

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan pertolongan, taufiq, dan kemudahan pada segenap kebaikan dalam sisa kehidupan kita...

(Abu Utsman Kharisman)
turut publikasi : Salafy Cirebon
Baca selengkapnya »
Kisah Penuh Hikmah: Anak Badui Ini Ajarkan Arti Kebahagiaan

Kisah Penuh Hikmah: Anak Badui Ini Ajarkan Arti Kebahagiaan

Ada seorang ulama yang menawarkan suatu perlombaan kepada anak-anak dari salah satu suku badui Afrika. Ia meletakkan sekeranjang buah-buahan lezat di bawah pohon, lalu berkata kepada anak-anak tersebut:

“Siapa yang pertama kali mencapai pohon ini akan mendapatkan keranjang yang penuh buah ini!”

Lalu begitu ia memberi isyarat dimulainya lomba, ia kaget bukan kepalang... ternyata semua anak-anak bergandengan tangan dan berjalan sama-sama hingga sampai ke pohon, lalu mereka berbagi buah-buahan yang lezat tadi...!!

Saat ditanya mengapa mereka berbuat demikian, padahal masing-masing punya kesempatan untuk menguasai sekeranjang buah tadi sendirian ?!!

Anak Badui Ini Ajarkan Arti Kebahagiaan

Mereka menjawab dengan keheranan: Ubuntu ! Mana mungkin salah seorang dari kami bahagia sedangkan yang lain menderita ?! Ubuntu menurut tradisi Suku Xhosa artinya, “Aku jadi karena kami jadi”

Inilah suku badui yang paham betul rahasia kebahagiaan, yang telah tersingkir dari orang-orang yang menganggap diri mereka diatas yang lain... inilah rahasia yang tak lagi dijumpai dalam hampir seluruh bangsa sombong yang menganggap dirinya ‘berperadaban maju’...!!

Kebahagiaan adalah rahasia yang hanya dikenal oleh jiwa-jiwa toleran nan tawadhu’... yang selalu mengatakan ‘kami!’ dan bukan ‘saya!’

Gunakan akalmu saat bersama ulama. Gunakan ilmumu saat bersama penguasa. Gunakan adabmu saat bersama teman. Gunakan kelembutanmu saat bersama keluarga. Gunakan kesabaranmu saat bersama orang bodoh. Bersamalah dengan Allah dalam dzikirmu, dan berasamalah dengan dirimu saat menasehati !

Segala sesuatu akan berkurang saat kau bagikan untuk orang lain. Kecuali kebahagiaan. Ia justru bertambah saat kau bagikan ke orang lain...

Sumber: fawaid syaikh Walid Saifunnasr
Baca selengkapnya »
CONTOH PARA SALAF DALAM MENYEMBUNYIKAN AMALAN MEREKA :

CONTOH PARA SALAF DALAM MENYEMBUNYIKAN AMALAN MEREKA :

📌Pertama: Menyembunyikan amalan shalat sunnah

Ar Robi bin Khutsaim –murid ‘Abdullah bin Mas’ud- tidak pernah mengerjakan shalat sunnah di masjid kaumnya kecuali hanya sekali saja.[3]

📌Kedua: Menyembunyikan amalan shalat malam

Ayub As Sikhtiyaniy memiliki kebiasaan bangun setiap malam. Ia pun selalu berusaha menyembunyikan amalannya. Jika waktu shubuh telah tiba, ia pura-pura mengeraskan suaranya seakan-akan ia baru bangun ketika itu. [4]

📌Ketiga: Bersedekah secara sembunyi-sembunyi.

Di antara golongan yang mendapatkan naungan Allah di hari kiamat nanti adalah,

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ
“Seseorang yang bersedekah kemudian ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.”[5] Permisalan sedekah dengan tangan kanan dan kiri adalah ungkapan hiperbolis dalam hal menyembunyikan amalan. Keduanya dipakai sebagai permisalan karena kedekatan dan kebersamaan kedua tangan tersebut.[6]

 MENYEMBUNYIKAN AMALAN

Contoh yang mempraktekan hadits di atas adalah ‘Ali bin Al Husain bin ‘Ali. Beliau biasa memikul karung berisi roti setiap malam hari. Beliau pun membagi roti-roti tersebut ke rumah-rumah secara sembunyi-sembunyi. Beliau mengatakan,

إِنَّ صَدَقَةَ السِّرِّ تُطْفِىءُ غَضَبَ الرَّبِّ عَزَّ وَ جَلَّ
“Sesungguhnya sedekah secara sembunyi-sembunyi akan meredam kemarahan Rabb ‘azza wa jalla.” Penduduk Madinah tidak mengetahui siapa yang biasa memberi mereka makan. Tatkala ‘Ali bin Al Husain meninggal dunia, mereka sudah tidak lagi mendapatkan kiriman makanan setiap malamnya. Di punggung Ali bin Al Husain terlihat bekas hitam karena seringnya memikul karung yang dibagikan kepada orang miskin Madinah di malam hari. Subhanallah, kita mungkin sudah tidak pernah melihat makhluk semacam ini di muka bumi ini lagi.[7]

📌Keempat: Menyembunyikan amalan puasa sunnah.

Dalam rangka menyembunyikan amalan puasa sunnah, sebagian salaf senang berhias agar tidak nampak lemas atau lesu karena puasa. Mereka menganjurkan untuk menyisir rambut dan memakai minyak di rambut atau kulit di kala itu. Ibnu ‘Abbas mengatakan,

إِذَا كَانَ صَوْمُ أَحَدِكُمْ فَلْيُصْبِحْ دَهِينًا مُتَرَجِّلاً
“Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka hendaklah ia memakai minyak-minyakan dan menyisir rambutnya.”[8]

Daud bin Abi Hindi berpuasa selama 40 tahun dan tidak ada satupun orang, termasuk keluarganya yang mengetahuinya. Ia adalah seorang penjual sutera di pasar. Di pagi hari, ia keluar ke pasar sambil membawa sarapan pagi. Dan di tengah jalan menuju pasar, ia pun menyedekahkannya. Kemudian ia pun kembali ke rumahnya pada sore hari, sekaligus berbuka dan makan malam bersama keluarganya.[9] Jadi orang-orang di pasar mengira bahwa ia telah sarapan di rumahnya. Sedangkan orang-orang yang berada di rumah mengira bahwa ia menunaikan sarapan di pasar. Masya Allah, luar biasa trik beliau dalam menyembunyikan amalan.

Begitu pula para ulama seringkali membatalkan puasa sunnahnya karena khawatir orang-orang mengetahui kalau ia puasa. Jika Ibrohim bin Ad-ham diajak makan (padahal ia sedang puasa), ia pun ikut makan dan ia tidak mengatakan, “Maaf, saya sedang puasa”.[10] Itulah para ulama, begitu semangatnya mereka dalam menyembunyikan amalan puasanya.

📌Kelima: Menyembunyikan bacaan Al Qur’an dan dzikir

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْجَاهِرُ بِالْقُرْآنِ كَالْجَاهِرِ بِالصَّدَقَةِ وَالْمُسِرُّ بِالْقُرْآنِ كَالْمُسِرِّ بِالصَّدَقَةِ
“Orang yang mengeraskan bacaan Al Qur’an sama halnya dengan orang yang terang-terangan dalam bersedekah. Orang yang melirihkan bacaan Al Qur’an sama halnya dengan orang yang sembunyi-sembunyi dalam bersedekah.”[11]

Setelah menyebutkan hadits di atas, At Tirmidzi mengatakan, “Hadits ini bermakna bahwa melirihkan bacaan Qur’an itu lebih utama daripada mengeraskannya karena sedekah secara sembunyi-sembunyi lebih utama dari sedekah yang terang-terangan sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama. Mereka memaknakan demikian agar supaya setiap orang terhindar dari ujub. Seseorang yang menyembunyikan amalan tentu saja lebih mudah terhindar dari ujub daripada orang yang terang-terangan dalam beramal.”

Yang dipraktekan oleh para ulama, mereka sampai-sampai menutupi mushafnya agar orang tidak tahu kalau mereka membaca Qur’an. Ar Robi’ bin Khutsaim selalu melakukan amalan dengan sembunyi-sembunyi. Jika ada orang yang akan menemuinya, lalu beliau sedang membaca mushaf Qur’an, ia pun akan menutupi Qur’annya dengan bajunya.[12] Begitu pula halnya dengan Ibrohim An Nakho’i. Jika ia sedang membaca Qur’an, lalu ada yang masuk menemuinya, ia pun segera menyembunyikan Qur’annya.[13] Mereka melakukan ini semua agar amalan sholihnya tidak terlihat oleh orang lain.

📌Keenam: Menyembunyikan tangisan

Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Tangisan itu ada sepuluh bagian. Sembilan bagian biasanya untuk selain Allah (tidak ikhlas) dan satu bagian saja yang biasa untuk Allah. Jika ada satu tangisan saja dilakukan dalam sekali setahun (ikhlas) karena Allah, maka itu pun masih banyak.”[14]

Dalam rangka menyembunyikan tangisnya, seorang ulama sampai pura-pura mengatakan bahwa dirinya sedang pilek karena takut terjerumus dalam riya’. Itulah yang dicontohkan oleh Ayub As Sikhtiyaniy. Ia pura-pura mengusap wajahnya, lalu ia katakan, “Aku mungkin sedang pilek berat.” Tetapi sebenarnya ia tidak pilek, namun ia hanya ingin menyembunyikan tangisannya.[15]

Sampai-sampai salaf pun ada yang pura-pura tersenyum ketika ingin mengeluarkan tangisannya. Tatkala Abu As Sa-ib ingin menangis ketika mendengar bacaan Al Qur’an atau hadits, ia pun pura-pura menyembunyikan tangisannya (di hadapan orang lain) dengan sambil tersenyum.[16]

Mu’awiyah bin Qurroh mengatakan, “Tangisan dalam hati lebih baik daripada tangisan air mata.”[17]

📌Ketujuh: Menyembunyikan do’a

‘Uqbah bin ‘Abdul Ghofir mengatakan, “Do’a yang dilakukan sembunyi-sembunyi lebih utama 70 kali dari do’a secara terang-terangan. Jika seseorang melakukan amalan kebaikan secara terang-terangan dan melakukannya secara sembunyi-sembunyi semisal itu pula, maka Allah pun akan mengatakan pada malaikat-Nya, “Ini baru benar-benar hamba-Ku.”[18]

footnote
[3] Az Zuhud, Imam Ahmad, 5/60, Mawqi’ Jami’ Al Hadits.
[4] Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim Al Ash-bahaniy, 3/8, Darul Kutub Al ‘Arobiy, Beirut.
[5] HR. Bukhari no. 1423 dan Muslim no.1031,dari Abu Hurairah.
[6] Syarh Muslim, 3/481.
[7] Lihat Hilyatul Auliya’, 3/135-136.
[8] Disebutkan oleh Al Bukhari dalam kitab Shahihnya tanpa sanad (secara mu’allaq).
[9] Lihat Shifatus Shofwah, Ibnul Jauziy, 3/300, Darul Ma’rifah, Beirut, cetakan kedua, 1399 H.
[10] Lihat Ta’thirul Anfas,hal. 246
[11] HR. Abu Daud no. 1333 dan At Tirmidzi no. 2919, dari ‘Uqbah bin ‘Amir Al Juhaniy. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[12] Lihat Hilyatul Awliya’, 2/107, Darul Kutub ‘Arobiy, cetakan keempat, 1405 H.
[13] Lihat Ta’thirul Anfas, hal. 246.
[14] Hilyatul Awliya’, 7/11.
[15] Lihat Ta’thirul Anfas, hal. 248.
[16] Lihat Ta’thirul Anfas, hal. 251.
[17] Lihat Ta’thirul Anfas, hal. 252.
[18] Lihat Ta’thirul Anfas, hal. 253.


Sumber : rumaysho.com
Baca selengkapnya »
Antara Guru Dan Murid Nya

Antara Guru Dan Murid Nya

Di tahun 1998 saya pernah melihat ustadz Firanda belajar ta'shili kitab Muyasar, mulakhos dan Qoulul Mufid secara privat (minta waktu khusus) kepada Ustadz Afifi.

Dan di tahun 2012 saat liburan mahasiswa madinah, saya melihat ustadz Afifi belajar privat beberapa kutaib dan mabahisul aqidah kepada ustadz Firanda.

Antara Guru Dan Murid Nya

Begitulah guru dan murid saling memberi faidah dan menjaga adab-adab diantara mereka. Dalam tholabul ilmi, murid bisa jadi guru dan guru pun bisa jadi murid. Saat jadi guru tetap tawadhu dan saat jadi murid tetap ihtirom.

Tidak gengsi belajar kepada yang lebih muda dan yang lebih muda pun tidak sombong karena merasa lebih alim.

Pesan moral lainnya: jgn baca gajet sambil tidur, krg sehat. Tks

#AH_Jogja
(Ust Hanif Muslim)
Baca selengkapnya »
Menginspirasi, Pengusaha tionghua muslim ini buka warung khusus dhuafa dan fakir miskin

Menginspirasi, Pengusaha tionghua muslim ini buka warung khusus dhuafa dan fakir miskin

Warung Murah .... Bahagiakan Dhuafa, Warung Tionghoa Muslim di Jakarta Jual Makanan Rp 3 Ribu.

Banyak cara untuk berbagi. Bukan hanya langsung memberikan uang atau barang, menjual makanan enak dengan harga super murah pun bisa disebut demikian.

Di Jalan Yos Sudarso Kav 28 Jakarta, di sebelah kiri, tepatnya di samping gerbang utama gedung bertingkat PT Citra Marga Nusa Pala, berdiri sebuah rumah makan murah meriah dengan lauk mewah. Bagaimana tidak, hanya dengan membayar Rp 3 ribu, pembeli bisa menikmati menu nasi dengan aneka lauk pauk yang sangat menggugah selera.

 warung khusus dhuafa dan fakir miskin

Tak hanya menjamu pengunjung dengan aneka ragam menu, pemilik warung juga memanjakan siapa pun yang datang dengan suasana yang nyaman dan asri, mirip seperti di pedesaan.

Warung istimewa ini bernama Podjok Halal, berdiri di bawah tenda biru berdampingan dengan pohon kelapa yang menjulur tinggi ke atas. Suasana semakin asri dengan adanya tanaman-tanaman yang melingkari bangku pengunjung.

Warung ini merupakan milik seorang pengusaha Tionghoa muslim bernama Jusuf Hamka. Dia membuka tempat makan murah ini dengan satu tujuan, mengurangi beban kaum dhuafa dan orang-orang berpenghasilan rendah. Jusuf berharap, mereka yang datang bisa makan enak tapi bisa berhemat.

“Misal penghasilan Rp 20 ribu. Dulu biaya makan Rp 10 ribu. Jadi orang itu bawa pulang Rp 10 ribu. Kalau dia makan Rp 3 ribu, bisa bawa pulang Rp 17 ribu kan. Itu menurut saya cukup membantu,” ujar Jusuf menguraikan maksud dibuatnya warung Podjok Halal.

Ide warung makan Podjok Halal ini memodifikasi sistem berbagi pada saat bulan Ramadan. Saat itu, dia memberikan makanan berbuka 1.000 porsi secara gratis kepada pengguna jalan. Setiap Senin hingga Jumat, selama tujuh tahun berturut-turut.

“Saat bulan puasa kami bagikan 1.000 porsi. Tapi kami siapkan 200 takjil. Jadi jika ada yang tidak kebagian, kami kasih takjil sama air,” ungkap dia.

Dari sini Jusuf lalu berpikir. Setiap hari Tuhan memberikan rezeki berlimpah, masa berbuat kebaikan mesti menunggu bulan Ramadan. Dari situlah, Jusuf kemudian mendirikan warung makan murah ini. Ide Jusuf ini pun ternyata disambut banyak pengusaha, yang juga ingin menyalurkan bantuan.

“Teman-teman kami (pengusaha) yang nyumbang. Saya melihat, kok gak ada salahnya kami membuat satu warung makan yang dijual dengan harga Rp 3 ribu,” ucap Jusuf.

Warung makan Podjok Halal ternyata tak mengharuskan pembeli untuk selalu membayar. Bagi pengunjung yang ingin makan namun tidak memiliki uang, pemilik warung akan memberikan secara cuma-cuma alias gratis. Intinya, ingin beramal sambil mendidik.

“Harga Rp 3 ribu bukan patokan bahwa itu harga mati. Saya bilang kalau nggak mampu bener kasihlah gratis. Misal, ada 10 orang datang. Dia cuma punya uang Rp 3 ribu. Ambil uangnya, sisanya kasih gratis,” tutur dia.

Warung ini dibuka 6 Februari 2018 lalu. Karena masih baru, belum banyak masyarakat tak mampu yang mengetahuinya.

“Kemarin kami sediakan 100 porsi, hanya 10 porsi saja yang laku. Sisanya 90 porsi kami bungkus dan bagikan secara gratis kepada orang-orang pinggir jalan,” tutur Jusuf.

Jusuf pun meminta agar masyarakat dan media menginformasikan keberadaan warung khusus kaum dhuafa dan fakir miskin ini. Sehingga peminatnya semakin bertambah.

Jusuf berharap, setiap hari ratusan bahkan ribuan pelanggan bisa hilir mudik mampir ke warung makannya.

“Tolong sampaikan kepada teman-teman supaya mengerti (ada warung murah). Siapa tahu ada supir Gojek, supir ojek pangkalan, penyapu jalanan, pemulung, pengamen mau makan di sini, silahkan. Tidak punya uang, tidak apa-apa. Tetap kami layani. Kami nawaitu (niatkan), Insya Allah berkah,” ucap Jusuf.

Untuk menyebarkan kebaikan melalui warung murah meriah ini, Jusuf berencana akan membuka lima cabang di Jakarta. Targetnya minimal seribu porsi. Sekarang ini, sedang menyusun bentuk kerja sama. Apakah dengan ormas Islam atau mengumpulkan sejumlah pengusaha,” papar Jusuf.

Saat ini, warung Podjok Halal menggunakan sistem katering. Tapi nanti setelah berjalan, sistemnya akan diubah dengan membeli makanan di warung setempat. Sudah ada tiga warung yang mengajukan.

“Saya sudah bicara dengan pengusaha. Dia bilang ya udah lo buktiin dulu, Nanti gua ikut buat depan kantor gua,” ucap dia.

Jusuf berharap programnya menjadi pola percontohan ke seluruh Indonesia. Semoga dengan begini, pemerintah dapat menirunya. Dia yakin, jika ini berhasil, Presiden akan menginstruksikan membentuk warung murah di setiap departemen.

“Saya pikir kalau kami tidak memulai, hanya memberikan konsep kurang efektif. You never try you never know,” Jusuf menadaskan.

source news.liputan6.com
Baca selengkapnya »
Dicap Murid Bodoh, tak disangka dia berhasil. ini rahasianya

Dicap Murid Bodoh, tak disangka dia berhasil. ini rahasianya

kisah ini tidak diketahui kebenarannya oleh admin, namun sisi positifnya terdapat pesan berharga untuk memotivasi para pendidik agar berusaha memaksimalkan potensi anak didik dan memotivasi peserta didik agar optimis dan yakin bisa.
MURID BODOH

Seorang guru bahasa Arab pengganti memasuki ruangan kelas di sebuah Madrasah Ibtidaiyah.
Ia menggantikan guru pelajaran itu sampai akhir semester

Ia memulai pembelajaran di kelas itu.

Ketika ia bertanya pd seorg murid laki2 yg duduk di bangku depan, ia bingung karena tiba2 suasana kelas menjd riuh, murid2 lain tertawa tanpa sebab.

Dicap Murid Bodoh

Karena sudah kenyang dengan pengalaman mengajar, ia faham betul, pastilah ada sesuatu yg ditertawakan oleh anak2 di kelas itu pada diri anak laki2 yg ditanya olehnya tadi.

Setelah diselidiki ternyata anak laki2 itu dikenal sebagai murid yg paling bodoh di kelas itu.
Teman2nya bgtu meremehkan nya sehingga sering meng-olok2 dan mentertawakannya.

Suatu hari seusai pelajaran ia memanggil murid yg dianggap bodoh itu stlh seluruh teman2nya pulang.

Ia berkata sambil memberikan secarik kertas:

“Hafalkan bait2 syair yg ada di kertas ini. Harus hafal betul. Dan ingat jangan engkau beritahukan kepada teman2mu, siapapun!”

Murid itu mengangguk patuh.

Seminggu kemudian, guru menyampaikan pelajaran baru di kelas itu, ia menulis syair di papan tulis, menerangkannya dan membacakannya ber-ulang2,.

Setelah itu ia berkata;

“Nah sekarang siapa yg hafal bait2 syair ini?”

tanyanya sambil perlahan ia menghapus tulisan syair itu di papan tulis.

Tak seorang murid pun mengangkat tangan kecuali, murid yg dikenal bodoh oleh teman2nya itu.

Perlahan sambil malu2 ia berdiri dan menghafalkan bait2 syair itu.

Hafalannya lancar sekali.

Teman2nya yg biasa meng-olok2 dan mentertawakan, semua terkejut dan terdiam.

Guru itu memujinya & menyuruh teman2nya untuk bertepuk tangan menghormatinya

Demikianlah berulang kali guru bahasa arab ini memberikan kertas hafalan2 kepd si murid bodoh itu.

Tertawaan dan cemoohan teman2nya kini berubah menjadi kekaguman padanya.

Hal ini mendorong perubahan besar pd jiwa si murid itu.
Ia mulai percaya diri & meyakini bahwa dia tdk lah bodoh.
Ia merasa mampu untk bersaing dgn teman2 sekelasnya.

Perubahan ini mendorongnya untk semangat dan ber-sungguh2 belajar di semua mata pelajaran.

Ketika ujian akhir tiba, murid ini berhasil lulus untuk tiap mata pelajaran dengan nilai yg sangat memuaskan.
***

Si murid bodoh itu kini menjadi kandidat DOKTOR di sebuah universitas ternama di kotanya..!

(Kisah ini dia tulis di sebuah koran sebagai pujian dan ungkapan terima kasih kepada gurunya itu.

Ia pun mendoakan agar gurunya itu beroleh pahala dr ALLAH & kebaikan krn jasa2nya)
***

Saudaraku...
Manusia yg berteman dgn kita ada dua jenis.
Yg satu jenis manusia yg membuka jalan kebaikan menutup jalan keburukan
Manusia jenis ini akan selalu memberi kita harapan, optimisme, menolong & melapangkan.

Yang kedua, jenis manusia yang membuka jalan keburukan menutup jalan kebaikan.
Manusia jenis ini akan selalu memutus harapan & cita2 dr kita.

Ia slalu menebar duri & kerikil di jalan yg akan kita lalui, berupa pesimisme, putus asa, curiga, buruk sangka & berbagai hal yg memadamkan semangat kita berkarya.

Ingatlah saudaraku...
Keindahan sikap, tutur & prilaku, adalah mahkota jiwa.

Pendidikan bukanlah sekadar proses mengisi wadah yg kosong,
Tapi pendidikan adlh proses menyalakan api pikiran.

Ilmu tanpa budi adalah kerapuhan jiwa. Itulah sebabnya pendidikan berkarakter menjadi kebutuhan mendasar.

Kecerdasan & karakter adalah terminal sejati pendidikan, menuju pemuliaan kehidupan.

Always semangat pagi all, Do'a sukses dan berkah buat kita semua.. Aamiiin
Baca selengkapnya »
Nusaibah Binti Ka’ab Wanita yang Kematiannya Disambut Para Malaikat

Nusaibah Binti Ka’ab Wanita yang Kematiannya Disambut Para Malaikat

catatan adminkisah ini tidak diketahui kebenarannya, karna ada kesamaan nama namun beda kisah. seperti yang dijelaskan pada artikel berbahasa arab islamstory.com  dan republika.co.id berbahasa indonesia. bagi yang tahu kebenaran kisah, harap kontak admin untuk dicantumkan di artikel ini benar tidaknya kisah dibawah ini

Ini lah kisah wanita tangguh perempuan yang pemberani demi agama nya 👇🏻👇🏻👇🏻👇🏻👇🏻💪💪💪💪💪

Kisah ini mungkin telah sering kita dengar. Namun, sekedar mengingatkan kembali tentang perjuangan wanita mulia ini, semoga dapat mengembalikan ghirah kita untuk juga bisa menteladani beliau, wanita yang ‘berhati baja’.

Nusaibah Binti Ka’ab radhiyallahu anha, namanya tercatat dalam tinta emas penuh kemuliaan. Bahkan kematiannya mengundang ribuan malaikat untuk menyambutnya.

Hari itu Nusaibah sedang berada di dapur. Suaminya, Said sedang beristirahat di bilik tempat tidur. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh bagaikan gunung-gunung batu yang runtuh. Nusaibah menerka, itu pasti tentara musuh. Memang, beberapa hari ini ketegangan memuncak di kawasan Gunung Uhud. Dengan bergegas, Nusaibah meninggalkan apa yang sedang dilakukannya dan masuk ke bilik. Suaminya yang sedang tertidur dengan halus dan lembut dikejutkannya.

“Suamiku tersayang”, Nusaibah berkata, “Aku mendengar pekik suara menuju ke Uhud. Mungkin orang-orang kafir telah menyerang.”

Said yang masih belum sadar sepenuhnya, tersentak. Dia menyesal mengapa bukan dia yang mendengar suara itu. Malah isterinya. Dia segera bangun dan mengenakan pakaian perangnya. Sewaktu dia menyiapkan kuda, Nusaibah menghampiri. Dia menyodorkan sebilah pedang kepada Said.

“Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang.”

Said memandang wajah isterinya. Setelah mendengar perkataannya itu, tak pernah ada keraguan padanya untuk pergi ke medan perang. Dengan sigap dinaikinya kuda itu, lalu terdengarlah derap suara langkah kuda menuju ke utara. Said langsung terjun ke tengah medan pertempuran yang sedang berkecamuk. Di satu sudut yang lain, Rasulullah melihatnya dan tersenyum kepadanya. Senyum yang tulus itu semakin mengobarkan keberanian Said.

Nusaibah Binti Ka’ab

Di rumah, Nusaibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru berusia 15 tahun dan Saad yang dua tahun lebih muda, memperhatikan ibunya dengan pandangan cemas. Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang penunggang kuda yang nampaknya sangat gugup.

“Ibu, salam dari Rasulullah,” berkata si penunggang kuda, “Suami Ibu, Said baru sahaja gugur di medan perang.

Beliau syahid…”

Nusaibah tertunduk sebentar,

“Inna lillah…..” gumamnya,

“Suamiku telah menang perang. Terima kasih, ya Allah.”

Setelah pemberi kabar itu meninggalkan tempat, Nusaibah memanggil Amar. Ia tersenyum kepadanya di tengah tangis yang tertahan,

“Amar, kaulihat Ibu menangis?.. Ini bukan air mata sedih mendengar ayahmu telah Syahid. Aku sedih karena tidak memiliki apa-apa lagi untuk diberikan pagi para pejuang Nabi. Maukah engkau melihat ibumu bahagia?”

Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar.

“Ambillah kuda di kandang dan bawalah tombak. Bertempurlah bersama Nabi hingga kaum kafir terhapus.”

Mata Amar bersinar-sinar. “Terima kasih, Ibu. Inilah yang aku tunggu sejak dari tadi. Aku ragu, seandainya Ibu tidak memberi peluang kepadaku untuk membela agama Allah.”

Putera Nusaibah yang berbadan kurus itu pun terus menderapkan kudanya mengikut jejak sang ayah. Tidak terlihat ketakutan sedikitpun dalam wajahnya. Di hadapan Rasulullah, ia memperkenalkan diri.

“Ya Rasulullah, aku Amar bin Said. Aku datang untuk menggantikan ayahku yang telah gugur.”

Rasul dengan terharu memeluk anak muda itu. “Engkau adalah pemuda Islam yang sejati, Amar. Allah memberkatimu….”

Hari itu pertempuran berlalu cepat. Pertumpahan darah berlangsung hingga petang. Pagi-pagi seorang utusan pasukan Islam berangkat dari perkemahan di medan tempur, mereka menuju ke rumah Nusaibah.

Setibanya di sana, wanita yang tabah itu sedang termangu-mangu menunggu berita, “Ada kabar apakah gerangan?..” serunya gemetar ketika sang utusan belum lagi membuka suaranya, “Apakah anakku gugur?..”

Utusan itu menunduk sedih, “Betul….”

“Inna lillah….” Nusaibah bergumam kecil. Ia menangis.

“Kau berduka, ya Ummu Amar?..”

Nusaibah menggeleng kecil. “Tidak, aku gembira. Hanya aku sedih, siapa lagi yang akan kuberangkatkan?.. Saad masih kanak-kanak.”

Mendengar itu, Saad yang sedang berada tepat di samping ibunya, menyela, “Ibu, jangan remehkan aku. Jika engkau izinkan, akan aku tunjukkan bahwa Saad adalah putera seorang ayah yang gagah berani.”

Nusaibah terperanjat. Ia memandang puteranya. “Kau tidak takut, nak?..”

Saad yang sudah meloncat ke atas kudanya menggeleng, yakin. Sebuah senyum terhias di wajahnya. Ketika Nusaibah dengan besar hati melambaikan tangannya, Saad hilang bersama utusan tentara itu.

Di arena pertempuran, Saad betul-betul menunjukkan kemampuannya. Pemuda berusia 13 tahun itu telah banyak menghempaskan nyawa orang kafir. Hingga akhirnya tibalah saat itu, yakni ketika sebilah anak panah menancap di dadanya. Saad tersungkur mencium bumi dan menyerukan, “Allahu Akbar!..”

Kembali Rasulullah memberangkatkan utusan ke rumah Nusaibah.

Mendengar berita kematian itu, Nusaibah meremang bulu tengkuknya. “Hai utusan,” ujarnya, “Kau saksikan sendiri aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Hanya masih tersisa diriku yang tua ini. Untuk itu izinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang.”

Sang utusan mengerutkan keningnya. “Tapi engkau wanita, ya Ibu….”

Nusaibah tersinggung, “Engkau meremehkan aku karena aku wanita?.. Apakah wanita tidak ingin pula masuk ke Syurga melalui jihad?..”

Nusaibah tidak menunggu jawaban dari utusan tersebut. Ia bergegas menghadap Rasulullah dengan mengendarai kuda yang ada.

Tiba di sana, Rasulullah mendengarkan semua perkataan Nusaibah. Setelah itu, Rasulullah pun berkata dengan senyum.

“Nusaibah yang dimuliakan Allah. Belum masanya wanita mengangkat senjata. Untuk sementara engkau kumpulkan saja obat-obatan dan rawatlah tentara yang luka-luka. Pahalanya sama dengan yang bertempur.”

Mendengar penjelasan Nabi demikian, Nusaibah pun segera menenteng obat-obatan dan berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur.

Dirawatnya mereka yang mengalami luka-luka dengan cermat. Pada suatu saat, ketika ia sedang menunduk dan memberi minum seorang prajurit muda yang luka-luka, tiba-tiba rambutnya terkena percikan darah. Nusaibah lalu memandang. Ternyata kepala seorang tentara Islam tergolek, tewas terbabat oleh senjata orang kafir.

Timbul kemarahan Nusaibah menyaksikan kekejaman ini.

Apalagi ketika dilihatnya Rasulullah terjatuh dari kudanya akibat keningnya terserempet anak panah musuh. Nusaibah tidak dapat menahan diri lagi, menyaksikan hal itu.

Ia bangkit dengan gagah berani. Diambilnya pedang prajurit yang tewas itu.

Dinaiki kudanya.

Lantas bagaikan singa betina, ia mengamuk.

Musuh banyak yang terbirit-birit menghindarinya. Puluhan jiwa orang kafir pun tumbang.

Hingga pada suatu waktu ada seorang kafir yang mengendap dari arah belakang, dan langsung menebas putus lengan kirinya. Nusaibah pun terjatuh, terinjak-injak oleh kuda. Peperangan terus berjalan. Medan pertempuran makin menjauh, sehingga tubuh Nusaibah teronggok sendirian.
Tiba-tiba Ibnu Mas’ud menunggang kudanya, mengawasi kalau-kalau ada orang yang bisa ditolongnya. Sahabat itu, begitu melihat ada tubuh yang bergerak-gerak dengan susah payah, dia segera mendekatinya. Dipercikannya air ke muka tubuh itu.

Akhirnya Ibnu Mas’ud mengenalinya, “Isteri Said-kah engkau?..”

Nusaibah samar-sama memperhatikan penolongnya. Lalu bertanya, “Bagaimana dengan Rasulullah?.. Selamatkah baginda?..”

“Baginda Rasulullah tidak kurang suatu apapun…”

“Engkau Ibnu Mas’ud, bukan?.. Pinjamkan kuda dan senjatamu kepadaku….”

“Engkau masih terluka parah, Nusaibah….”

“Engkau mau menghalangi aku untuk membela Rasulullah?..”

Terpaksa Ibnu Mas’ud menyerahkan kuda dan senjatanya. Dengan susah payah, Nusaibah menaiki kuda itu, lalu menderapkannya menuju ke medan pertempuran. Banyak musuh yang dijungkirbalikkannya. Namun karena tangannya sudah buntung, akhirnya tak urung juga lehernya terbabat putus oleh sabetan pedang musuh.

Gugurlah wanita perkasa itu ke atas pasir. Darahnya membasahi tanah yang dicintainya.

Tiba-tiba langit berubah mendung, hitam kelabu. Padahal tadinya langit tampak cerah dan terang benderang. Pertempuran terhenti sejenak.

Rasul kemudian berkata kepada para sahabatnya,

“Kalian lihat langit tiba-tiba menghitam bukan?.. Itu adalah bayangan para malaikat yang beribu-ribu jumlahnya. Mereka berduyun-duyun menyambut kedatangan arwah Nusaibah, wanita yang perkasa.”

Subhanallah..

Allahu Akbar..

Allahu Akbar..

Allahu Akbar..

Tanpa pejuang sejati seperti dia, mustahil agama Islam bisa sampai dengan damai kepada kita yang hidup di jaman sekarang.

Semoga Allah ‘Azza Wa Jalla menempatkan mereka, dan kita semua di Syurga-Nya disamping Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Aamiin..

Apa yang telah kita perbuat untuk menegakkan Dienullah Islam ?

Kisah penuh inspiratif ini seharusnya dapat menggugah jiwa juang kita, agar tidak cengeng melepas anak -anak yang sedang berjuang.

KALAU INGIN ANAK KITA MENJADI KUAT, MAKA KITA HARUS MENJADI IBU YG KUAT TERLEBIH DAHULU
Baca selengkapnya »
Kisah Inspiratif : Buah dari hasil didikan orang Tua yang benar

Kisah Inspiratif : Buah dari hasil didikan orang Tua yang benar

30 tahun yg lalu, seorg istri pengusaha di Washington tak sengaja kehilangan tasnya di dalam Rumah Sakit di malam musim dingin.

Sang pengusaha tampak sangat gelisah, lalu berusaha mencarinya pada malam itu juga. Karena di dalam tasnya tidak hanya berisi 100.000 ribu Dolar AS (sekitar Rp.1.3 miliar), tapi juga ada informasi pasar yg sangat rahasia.

Ketika Anderson, si pengusaha tersebut, tiba di Rumah Sakit, dia melihat seorg bocah perempuan kurus sedang berjongkok.

Bocah itu tampak menggigil di sudut koridor Rumah Sakit yg sunyi sambil mendekap sebuah tas.

Si pengusaha langsung mengenali itu adalah tas isterinya yg jatuh.

Ternyata bocah bernama Seada ini, ke Rumah Sakit menemani ibunya yg sakit keras.

Ibu & anak yg miskin ini, telah menjual semua barang2 yg bisa dijual.

Uang yg terkumpul juga hanya cukup utk biaya pengobatan semalam.

Apabila tidak ada uang, maka besok akan didepak dari Rumah Sakit.

Malam itu, Seada yg tak berdaya mondar-mandir di koridor Rumah Sakit.
sambil mendekap sebuah tas
Dia menatap ke atas & memohon kepadaNya, bertemu dg seseorang yg baik hati untuk menyelamatkan ibunya.

Tiba2, tas yg terselip di bawah ketiak seorang wanita yg turun ter-buru2 dari loteng, jatuh tanpa disadarinya ketika melewati koridor rumah sakit.

Mungkin ia merasa masih ada sesuatu di bawah ketiaknya, sampai2 tidak sadar tasnya jatuh.

Saat itu hanya ada Seada sendiri di koridor.

Dia berjalan mengambil tas itu, kemudian bergegas berlari ke pintu.

Sayangnya wanita itu telah naik ke sebuah mobil & berlalu dari hadapannya.

Seada kembali ke kamar pasien tempat ibunya dirawat.

Ketika dia membuka tas itu, ibu & anak ini pun tercengang melihat tumpukan uang tunai di dalamnya.

Detik itu juga, terlintas dalam benak mereka kalau uang itu mungkin bisa digunakan untuk menyembuhkan sakit ibunya.

Namun, ibu Seada menyuruh putrinya mengembalikan tas itu ke koridor, menunggu pemiliknya datang mengambilnya.

Orang yg kehilangan uang itu pasti sangat cemas.

“Seyogianya yg harus kita lakukan dalam hidup ini adalah membantu org lain, kita juga seyogianya ikut cemas dg apa yg dicemaskan org lain & hal yg paling tidak patut kita lakukan adalah serakah dg harta yg tak jelas asal usulnya,” kata ibu Seada.

Anderson pun mendapatkan kembali tasnya. Dia terharu dg perilaku bocah itu.

Anderson berupaya membantu perawatan ibu bocah itu.

Sayangnya meskipun Anderson sudah berusaha semaksimal mungkin, ibu Seada tak terselamatkan.

Dia meninggalkan anak perempuannya menjadi sebatang kara di dunia.

Anderson kemudian mengadopsi Seada, merawat & menyekolahkannya.

Setelah mendapatkan tasnya, Anderson bukan saja mendapatkan kembali 100.000 Dollar AS miliknya, tapi yg terpenting adalah informasi pasar yg hilang itu akhirnya didapatkan kembali.

Itu membuat bisnis pengusaha itu seketika melonjak & menjadi milyuner.

Seada yg telah diadopsi oleh Anderson sejak ibunya meninggal ketika itu, telah menamatkan kuliahnya & membantu bisnis sang milyuner.

Meski Anderson belum memberikan tugas sebenarnya, namun dalam praktik jangka panjangnya, kecerdasan & pengalaman Anderson telah mempengaruhi Seada secara tidak langsung.
Hal itu menjadikan Seada sebagai sosok org yg matang.

Saat memasuki usia senjanya, Anderson selalu meminta pendapat Seada mengenai pandangannya.

Detik2 menjelang masa kritisnya, Anderson meninggalkan sebuah surat wasiat yg mengejutkan. Begini bunyi surat itu.

"Sy sudah kaya sebelum mengenal ibu Seada. Namun, ketika sy berdiri di depan ibu & anak yg miskin & sedang sakit yg tidak tergoda dg setumpuk uang yg dipungutnya itu, apalagi saat itu mereka sedang membutuhkan uang, sy merasa mereka bahkan jauh lebih kaya dari sy, karena mereka memegang teguh prinsip hidup yg mulia. Itu adalah prinsip yg sangat minim dimiliki pengusaha"

"Harta yg sy dapatkan semuanya ini hampir berasal dari berbagai trik & intrik.

Adalah mereka yg membuat sy sadar bahwa modal hidup terbesar dalam hidup seseorang adalah perilaku"

"Sy mengadopsi Seada bukan untuk balas budi, juga bukan karena simpati.

Tapi sy mengundang sesosok tauladan. Dg adanya dia di sisi sy, sy bisa mengingat hal mana yg pantas atau tidak dilakukan dalam bisnis. Inilah alasan pokok sy belakangan yg membuat usaha sy terus berkembang makmur & sy menjadi milyuner"
"Setelah kematian sy, seluruh harta & aset sy wariskan pada Seada sebagai penerusnya. Ini bukan hadiah, tapi demi agar usaha sy bisa lebih gemilang, sy yakin putra sy yg pintar bisa mengerti dg pertimbangan matang sy selaku ayahnya".

Ketika putra Anderson pulang dari luar negeri, dia membaca dg seksama surat wasiat ayahnya.

Dia segera tanpa ragu sedikit pun menandatangani persetujuan tentang surat warisan terkait harta termaksud.

“Saya setuju Seada mewarisi seluruh aset ayah saya. Saya hanya meminta Seada menjadi isteri saya,” katanya.

Melihat putra Anderson menandatangani surat persetujuan warisan tersebut, Seada merenung sejenak, lalu membubuhkan tandatangan.

“Saya terima seluruh harta maupun aset dari Anderson – Termasuk putranya.”

Sekarang, apakah anda telah menyadari dg dalil sederhana di atas?

Jika anda bersikap dingin pada org lain, maka org lain juga akan bersikap seperti itu.
Jika anda sering mengkritik org lain, anda juga akan mendapatkan banyak kritik.
Jika anda selalu memasang muka cemberut, org lain juga akan membalasnya seperti itu.

Semua yg anda berikan, akan kembali kepada anda.

Selama anda selalu bersikap baik, anda telah menang, singkatnya seperti yg dikatakan penyair, “Apabila anda membenci atau berperilaku buruk/jahat pada org lain, maka dg sendirinya anda juga akan mendapatkan balasan yg sama bahkan mungkin lebih dari itu.”

Sama seperti pribahasa yg berbunyi, “Apa yg kamu tanam itulah yg kamu tuai.”

Segala sesuatu yg anda lakukan pada org lain itulah yg anda lakukan pada diri anda sendiri.

Jadi jika anda ingin mendapatkan sesuatu, maka anda harus membiarkan org lain mendapatkannya dulu.

Jika anda ingin berteman dg seorg teman yg tulus, anda harus bersikap/berteman tulus dulu padanya.
Jika anda ingin bahagia, maka bawalah sukacita pada org lain.

Hal terbaik yg bisa kita lakukan untuk diri sendiri adalah berbuat lebih banyak sesuatu yg baik untuk org lain.

Sering kali, saat kita membantu org lain, tidak berarti kita akan kehilangan.

Tetapi justru karena anda telah membantu org lain, sehingga dg demikian akan mendapatkan persahabatan & teman.

Membantu org lain sama dg memberi sebuah jalan pada kita sendiri.

Dalam hidup itu seharusnya kurangi egois, lebih peduli pada org lain, maka dunia kita akan penuh dg cahaya & pesona.

Hal yg perlu kita lakukan adalah:

1. Berterima kasih pada org yg memberi anda kesempatan.
2. Berterima kasih pada org yg memberimu kearifan.
3. Berterima kasih pada org2 yg menemanimu sepanjang jalan.

Ada beberapa hal yg bisa kita pahami seumur hidup & beberapa hal yg perlu seumur hidup kita untuk memahaminya.

Selalu & teruslah berbuat baik, sekecil apa pun itu, pasti akan semakin dekat dg kebahagiaan.

Selama niat kita baik & selalu melakukan hal2 yg baik, bekerja dg tekun & tidak berulah, pasti akan ada balasan yg positif, percayalah!

Semoga bermanfaat & dapat mengambil hikmahnya.🙏
=======================================

artikel republish from whatsapp group
kebenaran kisah tidak diketahui admin dakwahpost.com
Baca selengkapnya »
-->