IBX5A47BA52847EF DakwahPost: kaedah
MAKSUD TUJUAN SYARI'AT Itu Ada 3 Adalah

MAKSUD TUJUAN SYARI'AT Itu Ada 3 Adalah

1. Menolak Mafsadat
2. Mendatangkan Maslahat
3. Berjalan di atas jalan yang baik dan kebiasaan yang bagus.

Adapun yang pertama yaitu MENOLAK MAFSADAT ini berhubungan dengan 6 perkara;

1. Agama

Sebagaimana Allah berfirman [QS Al-Baqarah : 193]

‎وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ ۖ
“Perangilah mereka sampai tidak lagi ada fitnah dan agama menjadi milik Allah Subhanahu wa Ta’ala“

2. Jiwa

Sebagaimana Allah berfirman [QS Al-Baqarah : 179]

‎وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ
“Bagi kalian dalam qishaash itu terdapat kehidupan, hai orang-orang yang memiliki pikiran“

3. Akal

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan arak karena untuk mencegah akal.

4. Nasab

Allah mengharamkan zina karena untuk menjaga di nasab

5. Kehormatan

Allah berfirman [QS Al-Hujurat : 12]

‎وَلاَ يَغْتِبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا
“Janganlah sebagian kalian mengghibahi yang lainnya Karena ini berhubungan dengan kehormatan.”

‎6. الـمـال (Harta)

Allah berfirman [QS An-Nisaa : 29]

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta kalian dengan kebatilan diantara kalian“

Jadi inilah 6 perkara yang berhubungan dengan maksud yang pertama yaitu DAFUL MAFAASID (mencegah mafsadat).

TUJUAN SYARI'AT

Maksud yang ke dua yaitu JALBUL MASHAALIH (mendatangkan maslahat)

Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyari’atkan semua segala sesuatu yang sifatnya maslahatnya besar untuk kehidupan manusia.

Allah berfirman “contohnya” [QS Al-Jumu’ah : 10]

‎فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ
“Apabila telah selesai sholat, bertebarlah di muka bumi dan carilah karunia Allah berupa rezeki“

Karena itu adalah merupakan maslahat untuk mereka.

Allah juga berfirman [QS An-Nisa’ : 29]

‎إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ
“Kecuali apabila itu adalah perdagangan yang kalian saling ridho padanya“

Yaitu kemaslahatan karena perdagangan adalah merupakan maslahat.

Demikian pula semua maslahat di perintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan semua mafsadat dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maksud yang ke tiga yaitu:

Akhlak yang baik dan adat kebiasaan yang bagus, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menganjurkan kita untuk berakhlak yang baik.

Allah berfirman [QS Al-Qalam : 4]

‎وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Sesungguhnya engkau wahai Muhammad diatas akhlak yang baik“

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun juga dalam hadits yang banyak menganjurkan kita kepada akhlak karimah yang baik, kebiasaan-kebiasaan yang baik dalam kehidupan kita.

Nah inilah daripada TUJUAN DI SYARI’ATKANNYA SYARI’AT ISLAM, sungguh sangat mulia sekali.

Dimana tidak ada agama yang lebih mulia dari agama Islam yang tujuannya yang tiada lain adalah untuk memelihara kehidupan manusia, memberikan kepada mereka maslahat-maslahatnya dan menolak dari mereka hal-hal yang bisa merusaknya.

Maka Islam menganjurkan kita untuk senantiasa berakhlak yang baik terhadap tetangga, terhadap saudara, terhadap penguasa, terhadap ulama, apalagi kepada orangtua. Terlebih juga akhlak kita kepada Allah Rabbul ‘Izzati wal Jalalah.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
Baca selengkapnya »
Dahulukan Tauhid dalam mendakwahi manusia

Dahulukan Tauhid dalam mendakwahi manusia

Mereka memulai dakwah mereka, dengan yang dimulai oleh Allah dan Rasul-Nya.

Mereka mendahulukan apa yang di dahulukan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Maka dengan cara seperti ini sangat memungkinkan untuk menghasilkan maslahat dan menjauhi mafsadah.

Maksud beliau adalah dalam berdakwah kita hendaknya melihat mana yang lebih di dahulukan yaitu masalah TAUHIDULLAH JALLA WA ‘ALA.

Ambil sebuah contoh misalnya nasihat Luqman kepada anaknya.

Allah Ta’ala berfirman [QS. Luqman : 13]

‎وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, dimana Luqman menasehatinya. Ia berkata, ‘Hai anakku jangan kamu sekutukan Allah. Sesungguhnya kesyirikan itu adalah kedholiman yang agung.”

Maka para Rasulpun demikian, mereka memulai dakwah dari TAUHIDULLAH JALLA WA ‘ALA.

Dahulukan Tauhid dalam mendakwahi manusia

Tidak ada Rasul yang memulai dakwahnya dari ekonomi misalnya, atau dari politik misalnya……Tidak ada. Semua Rasul berdakwah di mulai dari tauhid, menjauhkan agar manusia menjauhkan kesyirikan.

Allah berfirman: [QS Al-Anbiyaa:25]

‎وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
“Tidaklah kami utus seorang Rasulpun, kecuali kami wahyukan kepadanya , bahwa tidak ada ILLAH yang berhak di sembah kecuali Aku. Maka sembahlah Aku.”

Maka di dalam berdakwah, ketika TIDAK memulai dari sisi tauhid, tapi lebih misalnya mendahulukan masalah-masalah yang lain.
Ini adalah ciri dakwah yang tidak sesuai dengan manhaj para nabi.

Dan dakwah seperti ini tidak akan berdiri di atas azas yang kokoh. KARENA PONDASI SESEORANG ADALAH TAUHID. Pondasi amal tauhid seseorang tidak akan beramal, kecuali apabila aqidah telah kuat di hati, menghujam di dada. Tapi ketika aqidah itu masih lemah, maka dia tidak akan membuahkan amal.

Adanya orang-orang yang masih suka berbuat maksiat itu akibat dari pada lemahnya keimanan, lemahnya aqidah.

Maka dari itulah, ketika pondasinya telah di kuatkan, إِنْ شَاءَ اللّهُ untuk membuat diam dan yang lainnya itu lebih kokoh lagi… bi-iznillah.

Oleh karena itulah ya Akhowat Islam , semua yang mereka memulai dakwahnya dari TAUHIDULLAH, pasti Allah akan bela, Alllah akan tolong mereka.
Bahkan buah dan hasilnya akan lebih berkah.

Maka lihatlah bagaimana dakwahnya Syaikhul Islam Taimiyah, dakwahnya Syaikh Muhamammad bin Abdul Wahab dan juga para ulama-ulama yang mereka memulai dakwahnya dari TAUHIDULLAH JALLA WA ‘ALA. Maka sangat berkah sekali dan hasilnya pun juga memberikan berbagai macam kebaikan-kebaikan.

Ya inilah ya Akhul Islam, kaidah yang ke 6 yang harus kita perhatikan di dalam masalah berdakwah yaitu memulai yang paling penting, kemudian setelahnya yang penting-penting.
Jangan sampai kita memulai yang tidak terlalu penting, lalu kita tinggalkan yang lebih penting dari itu.

Demikian pula kita dalam menuntut ilmupun juga demikian.
Kita mulai menuntut ilmu dari perkara yang paling penting terlebih dahulu.
Yaitu untuk masalah tauhid, masalah iman dan segala sesuatu yang menyempurnakan keimanan.

Wallahu a’lam

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Baca selengkapnya »
Jangan Remehkan Masalah-Masalah Agama Sekecil apapun juga

Jangan Remehkan Masalah-Masalah Agama Sekecil apapun juga

Bahwa mereka mengagungkan seluruh perkara-perkara agama.

Maka mereka menyerukan kepada apa yang di seru oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai kemampuan.

Manhaj salaf tidak pernah meremehkan perkara masalah apapun dari urusan agama.
Adapun orang yang tidak mengikuti salaf, mereka meremehkan sebagian perkara agama dengan alasan furu’ (cabang) katanya.

Sehingga mereka menganggap bahwa masalah furu’ itu tidak perlu di besar-besarkan.

Sehingga dengan seperti itu mereka tidak menghormati masalah-masalah yang sifatnya furu’.
Masalah-masalah yang mereka anggap sepele, seperti masalah jenggot, masalah isbal dan yang lainnya.


Sedangkan PENGIKUT MANHAJ SALAF TIDAK PERNAH MEREMEHKAN MASALAH-MASALAH AGAMA SEKECIL APAPUN JUGA.

Allah Ta’ala berfirman [QS Al-Baqarah : 208] :

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah di dalam Islam seluruhnya.”

Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya, jilid 1 halaman 335:

“Allah memerintahkan hamba-hambanya yang beriman yang membenarkan Rasulnya, agar mereka berpegang kepada seluruh tali-tali Islam dan syari’at-syari’atnya. Dan mengamalkan seluruh perintah-perintahNya. Dan meninggalkan semia larangan-laranganNya. Selama mereka punya kemampuan.”
Jangan Remehkan Masalah-Masalah Agama Sekecil apapun juga

Allah juga berfirman [QS Al-Hajj : 32]

‎ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
“Siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka itu adalah termasuk ketaqwa’an hati.

Disini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa orang yang mengagungkan syiar-syiar Allah, itu adalah menunjukkan ketaqwaan hati. Sedangkan seluruh agama, seluruh yang Allah perintahkan dalam Alqur’an dan di perintahkan oleh Rasul, sekecil apapun itu adalah syiar Allah yang harus kita agungkan.

Allah juga berfirman [QS An-Nur : 15]

‎إِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ
“Ingatlah ketika kalian mengambilnya dengan lisan-lisan kalian dan kalian mengucapkan dengan mulut-mulut kalian, apa-apa yang tidak ada padanya ilmunya dan kalian menganggap itu hina atau remeh. Padahal itu di sisi Allah besar.”

Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang meremehkan perintah-perintah Allah, syariat Allah yang mereka anggap remeh, maka ini termasuk perkara kemunafikan.

Dan berapa banyak yaa ahowat Islam, perkara-perkara yang di anggap remeh, tapi ternyata…سُبْحَانَ اللّهِ … itu tonggak kebaikkan kaum muslimin.

Contoh misalnya masalah yang berhubungan dengan takjil atau mempercepat/mempergegas berbuka puasa. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Senantiasa umatku diatas kebaikan, selama mereka bergegas berbuka puasa.”

Ini dia masalah meluruskan shaff, ternyata jika kita tidak lakukan itu menyebabkan itu hati kita bercerai berai.

Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan Hadits An-Nu’man bin Basyir raddliyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‎ عِبَادَ اللهِ لَتُسَوُنَّ صُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ وُجُوْهِكُمْ
“hai hamba-hamba Allah luruskan shaff-shaff dan kalian atau Allah akan jadikan hati kalian bercerai berai.“

Nah ini Ikhwatul Islam, JADI KITA DI DALAM MENDIDIK ADALAH DIDIKLAH MEREKA DALAM MENGAGUNGKAN SYARIAT-SYARIAT ALLAH SEKECIL APAPUN.

Selama itu adalah perintah Allah dan perintah Rasulnya. Kita mengagungkan Ia.
Jangan menganggap meremeh masalah yang dianggap katanya furu’ (bercabang)

Wallahu a’lam

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Baca selengkapnya »
Kaedah Fiqh: Hukum Asal Segala Sesuatu Adalah Tetap

Kaedah Fiqh: Hukum Asal Segala Sesuatu Adalah Tetap

اْلأَصْلُ بَقَاءُ مَا كَانَ عَلَى مَا كَانَ, وَالْيَقِيْنُ لاَ يَزُوْلُ بِالشَّكِّ
"Hukum Asal Segala Sesuatu Adalah Tetap Dalam Keadaannya Semula, Dan Keyakinan Tidak Bisa Hilang Karena Keraguan"

Makna kaidah diatas adalah:

“Bahwa suatu perkara yang diyakini telah terjadi tidak bisa dihilangkan kecuali dengan dalil yang pasti dan meyakinkan.

Dengan kata lain, tidak bisa dihilangkan hanya dengan sebuah keraguan.

Demikian pula sebaliknya, suatu perkara yang diyakini belum terjadi maka tidak bisa dihukumi telah terjadi kecuali dengan dalil yang meyakinkan pula.” 


( Al-Qowaid Al-Fiqhiyyah Al-Kubro oleh DR. Shalih bin Ghanim As-Sadlan hal.101).

Hukum Asal Segala Sesuatu Adalah Tetap

Sehingga dapat dikatakan bahwa segala sesuatu yang kita ragukan keberadaannya, maka hal tersebut asalnya tidak ada.

Dan segala sesuatu yang kita ragukan jumlahnya maka asalnya kita kembalikan pada bilangan yang terkecil.

Dalil kaidah.

diantaranya adalah Hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam :

Artinya: “ Apabila salah seorang dari kalian merasakan sesuatu dalam perutnya, kemudian dia kesulitan untuk memastikan apakah telah keluar sesuatu (kentut) atau belum, maka janganlah dia keluar dari masjid (membatalkan salatnya) hingga dia mendengar suara atau mencium bau .”
(HR. Muslim: 362).

Oleh karena itu, seseorang yang yakin terhadap suatu perkara tertentu, maka asalnya perkara yang diyakini tersebut tetap dalam keadaannya semula.

Dan perkara yang diyakini tersebut tidaklah bisa dihilangkan hanya sekedar karena keragu-raguan.

Contoh penerapan kaedah ini.

1. Apabila seseorang telah yakin bahwa sebuah pakaian terkena najis, akan tetapi dia tidak tahu dibagian mana dari pakaian tersebut yang terkena najis maka dia harus mencuci pakaian itu seluruhnya.

2. Apabila ada seseorang yang yakin bahwa dia telah berwudu, kemudian dia ragu apakah telah batal wudunya atau belum, maka dia tidak perlu berwudu lagi.

3. Dan begitu pula sebaliknya, apabila seseorang yakin bahwa wudunya telah batal, akan tetapi dia ragu apakah dia telah berwudu lagi atau belum, maka wajib baginya untuk berwudu lagi.

4. Barang siapa yang ragu dalam salatnya apakah dia telah salat tiga rakaat atau empat rakaat misalnya, maka dia harus mengikuti yang yakin, yaitu yang paling sedikit rakaatnya, yang mana dalam permasalah ini adalah tiga rakaat.

5.Barang siapa yang telah sah nikahnya, kemudian dia ragu apakah telah mentalak istrinya atau belum, maka pernikahannya tetap sah.

6.Apabila seorang istri ditinggal suaminya berpergian dalam jangka waktu yang lama, maka dia tetap dihukumi sebagai istri laki-laki tersebut dan tidak boleh baginya untuk menikah lagi. Karena yang yakin adalah bahwa sang suami pergi dalan keadaan hidup, maka tidak boleh menghukuminya telah meninggal kecuali dengan berita yang meyakinkan.

7.Apabila seseorang yakin bahwa dirinya pernah berhutang, kemudian dia ragu apakah dia telah membayar hutang itu atau belum, maka wajib baginya untuk membayar hutang tersebut kecuali jika pihak yang menghutangi menyatakan bahwa dia telah membayar hutangnya.

8.Seseorang yang ragu-ragu terhadap air yang ada dalam suatu wadah, apakah air tersebut masih suci ataukah tidak, maka ia mengembalikan pada hukum asalnya, yaitu hukum asal air adalah suci (tidak najis), sampai muncul keyakinan bahwa air tersebut memang telah berubah menjadi tidak suci lagi karena terkena najis.

Jika seseorang terkena air dari suatu saluran air, atau menginjak suatu benda basah, padahal ia tidak mengetahui apakah benda tersebut suci ataukah tidak, maka asalnya benda tersebut adalah suci (tidak najis).

Wallahu musta'an.

Sumber Artikel almanhaj dan cinta sunnah.

artikel republish from whatsapp group
Baca selengkapnya »
Butuhnya Umat Islam terhadap Pemahaman salafus sholih

Butuhnya Umat Islam terhadap Pemahaman salafus sholih

Bahwa mereka memahami Al-Qur'an dan Sunnah tidak berdiri sendiri, tapi mereka memahaminya dengan pemahaman para Salafus Shalih, bukan dengan pemahaman ro'yu-ro'yu sendiri .... tidak.

Ini merupakan kaidah yang sangat penting sekali Akhowat islam a'azzaniyallah waiyakum, di dalam masalah kaidah Tarbiyah dan Ishlah.

Kenapa..?

Karena kita semua yakin bahwa generasi yang paling tau tentang Al Qur'an dan Hadits adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Tidak ada generasi yang langsung di puji oleh Allah kecuali generasi para sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Alqur'an telah memuji para sahabat.

Allah Ta'ala berfiman [QS At Taubah : 100]

‎. وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
"Dan orang-orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan. Maka Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala."

Butuhnya Umat Islam terhadap Pemahaman salafus sholih

Maka dari itu Allah menyatakan keridhaan kepada kaum Muhajirin dan Anshor.

Dan Allah menyatakan ke ridhaan kepada orang-orang yang mengikuti Muhajirin dan Anshor.

Maka Allah mengatakan, Allah ridha kepada nereka, berarti ridha kepada apa?

Kepada aqidah mereka, ibadah mereka, tata cara pemahaman mereka, manhaj mereka, dalam tata cara beragama mereka, Allah ridha

Dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :
‎خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي
"Sebaik-baiknya manusia generasiku"

Sebaik dalam masalah apa..?

Dalam seluruh perkara-perkara agama, pemahaman terhadap alqur'an dan hadits terutama..

Maka tentu yang paling paham tentang Alqur'an dan Hadits adalah para sahabat Rasulillah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Abdullah bin Mas'ud berkata:

‎من كانَ منكم مُتأسياً فليتأسَّ بأصحابِ رسول ِاللهِ صلى اللهُ عليهِ وسلمَ,
"Siapa yang mengambil sunnah, ambillah sunnahnya para sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam."

Mereka adalah yang paling baik hatinya, yang paling dalam ilmunya, yang paling ringan bebannya. Dan mereka kaum yang paling lurus petunjuknya.

Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika mengabarkan akan munculnya zaman fitnah.

Apa kata para sahabat.?

"Apa yang harus kami lakukan hai Rasulullah, menghadapi zaman fitnah itu ?"

Apa kata Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:

‎تَرْجِعُوْا إِلَى أَمْرِكُمُ الأَوَّلِ
"Kamu kembalilah kepada urusan kamu yang pertama."

Urusan yang pertama, siapa..? Kalau bukan sahabat Rasulillah Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka dari itu setiap orang yang memahami Alqur'an dan Hadits dengan pemahaman sendiri tanpa merujuk pemahaman para Salafus Shalih, Sahabat, Tabi'in dan Tabi'ut Tabi'in pastilah ia akan tersesat jalan.....pasti itu!!

Karena para ulamapun telah menyatakan untuk rujuk kepada pemahaman para sahabat terutama Imam Syafi'i rahimahullah yang luar biasa sekali dalam membela pemahaman sahabat Rasulillah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Lihat saja contohnya orang khawarij.

Orang khawarij tidak mau merujuk pemahaman para sahabat dalam memahami Al Qur'an dan Hadits.

Padahal Rasulullah mensifati orang khawarij itu apa?

‎يَقْرَءُوْنَ الْقُرآنْ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيْهُمْ
“…Mereka hafal Al-Qur’an, tapi tidak sampai kerongkongan mereka."

Artinya pemahaman mereka dangkal.

Mereka mengucapkan ucapan perkataan, sebaik-baiknya manusia yaitu membawakan hadits-hadits Rasul, tapi mereka tersesat.

Mereka melesesat dari agama, kata Rasulullah. Kenapa..?

Jawabnya satu, karena mereka tidak mau mengikuti pemahaman para sahabat.

Makanya Abdullah bin Umar berkata:

"Khawarij itu seburuk-buruk mahluk di sisi Allah."

Mereka membawakan ayat-ayat tentang orang-orang kafirin tapi kemudian di jadikan orang-orang yang beriman.

Nah ini adalah akibat tidak mengikuti pemahaman para sahabat, salafus shalih.

Wallahu a'lam

Ustadz Abu Yahya Barusalam Lc, حفظه الله تعالى
Baca selengkapnya »
Janji Allah kepada Orang yang Beriman dan Beramal Sholeh

Janji Allah kepada Orang yang Beriman dan Beramal Sholeh

Bahwa mereka meyakini, bahwa kekokohan di muka bumi itu pemberian dari Allah semata.
Allah berikan kepada siapa yang melaksanakan kewajiban yang Allah wajibkan kepadanya berupa ilmu yang bermanfaat dan beramal sholeh

Sebagaimana firman Allah [QS An-Nur : 55]

‎وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ
Allah berjanji, Allah mengatakan ini janji Allah kepada orang-orang yang beriman dan beramal sholeh.

“Apa janji-Nya ?“

‎لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ
Allah akan berikan kepada mereka khilafah di muka bumi, sebagaimana Allah memberikan khilafah kepada orang-orang sebelum mereka.

Allah akan kokohkan tuk mereka agama mereka yang Allah ridhai untuk mereka.
Dan Allah akan gantikan setelah rasa takut dengan rasa aman .

Janji Allah kepada Orang yang Beriman dan Beramal Sholeh

“Kapan itu terjadi ?“
Yaitu ketika mereka hanya beribadah kepada-Ku saja dan tidak mempersekutukan Aku sedikitpun juga.

Lihat di sini Allah Subhanahu Wa Ta’ala berjanji dan ini merupakan janji Allah.
“Kapan janji Allah terbukti ? Dan untuk siapa ? “
Untuk orang yang beriman dan beramal sholeh.

“Apa janjinya ?” Yaitu KHILAFAH.
“Apa syaratnya ?” Yaitu:
1. mereka hanya beribadah kepada Allah dan menjauhkan kesyirikan.
2. Mereka beriman dan beramal sholeh

Ini syarat yang harus di penuhi.

Adapun kemudian berkoar-koar menegakkan khilafah, bukanlah itu manhaj para nabi. Kenapa ?
Karena bukanlah tujuan dakwah para nabi untuk menegakkan Khilafah. Tapi tujuan dakwah para nabi adalah AGAR MANUSIA men-TAUHID-kan ALLAH SAJA.

Maka dari itulah manhaj salaf berkeyakinan bahwa khilafah itu adalah pemberian dari Allah, murni.

Ketika kita beriman, beramal sholeh, berilmu, beramal dan hanya mentauhidkan Allah dan menjauhkan kesyirikan maka Allah akan berikan kepada kita apa yang Allah janjikan tersebut.

Dalam ayat tersebut Allah memberikan syarat agar kita di berikan kekokohan di muka bumi dan keamanan itu adalah mentauhidkan Allah dan sesuai dengan syaria’at Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Allah juga berfirman [QS Al-Hajj :41]

‎الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ
“Yaitu orang-orang yang apabila kami kokohkan di muka bumi, mereka menegakkan sholat, membayar zakat, ber-amar ma’ruf nahi mungkar, itu orang-orang seperti itu.”

Ketika mereka di kokohkan di muka bumi, mereka menegakkan sholat, membayar zakat.
“Kenapa ?“
Karena sebelumnya mereka memang sudah menegakkan sholat dan membayar zakat.
Sehingga dengan mereka senantiasa menegakkan syari’at Allah pada diri-diri mereka, Allah pun tegakkan syari’at di negri-negri mereka.

Jadi ini adalah merupakan janji dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Maka Khilafah tidak mungkin di berikan kepada kaum muslimin, kecuali dengan mengikuti manhaj Khulafa Ar-Rasyidin yang pertama, manhaj Nabawiyah, sebagaimana di sebutkan dalam hadits An Nu’man bin Basyir:

“Nanti akan ada kenabian kemudian setelah itu Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah kemudian kerajaan yang menggigit, kemudian setelah itu kerajaan yang diktaktor, kemudian kembali kepada Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah."

Jadi akhowat islam bahwa Khilafah adalah murni janji dari Allah.
Kalau kita ingin mendapatkan janji itu maka laksanakan syariat-syariatnya, yaitu BERIMAN, BERAMAL SHOLEH.

Dan tidak mungkin beriman dan bermal sholeh kecuali dengan :
ilmu yang bermanfaat dari Alqur’an hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam 
mengikuti manhaj salafusholeh
Terutama itu mentauhidkan Allah dan menjauhkan kesyirikan.

Maka dari itulah dakwah salafiyah, sangat menitik beratkan kepada TAUHID.
Karena itu merupakan azas atau pokok segala amal.

Wallahu a’lam

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Baca selengkapnya »
Kaidah: tidak boleh Alqur’an berdiri sendiri tanpa Sunnah

Kaidah: tidak boleh Alqur’an berdiri sendiri tanpa Sunnah

Ahlus Sunnah wal Jama’ah berkeyakinan bahwa tidak boleh Alqur’an berdiri sendiri tanpa Sunnah karena Alqur’an harus di jelaskan dengan Sunnah. Dan Alqur’an tidak mungkin berdiri tanpa Sunnah. Karena Sunnahlah yang menjelaskan Alqur’an

Allah berfirman; “Hai orang-orang yang beriman taati Allah dan ta’ati Rasul dan Ulil Amri di antara kalian.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadits yang di riwayatkan Imam Ahmad, Abu Dawud, at-Tarmidzi mengabarkan akan adanya orang yang akan menolak Sunnah.

Beliau berkata: “Ketahuilah sesungguhnya aku di berikan oleh Allah Alqur’an dan yang semisal bersamanya itu Sunnah.”

tidak boleh Alqur’an berdiri sendiri tanpa Sunnah

Ketahuilah hampir nanti ada orang yang kenyang duduk di atas dipannya dan berkata cukup Alqur’an saja. Yang kalian dapatkan dalam Alqur’an halalkan dan yang kalian dapatkan dalam Alqur’an haramkan.

Jadi Rasulullah mengabarkan disini bahwa nanti ada suatu kaum yang mengatakan cukup Alqur’an saja tidak perlu sunnah dan سُبْحَانَ اللّهِ … benar yang Rasulullah kabarkan dan itu muncul di zaman sebagaimana kita lihat di zaman inipun juga banyak sekali.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadits Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu

‎فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَ فًا كَثِيْرً
“Sesungguhnya orang yang hidup di antara kamu nanti akan melihat perpecahan yang banyak“

‎فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اْلمَهْدِيِّيْنَ
“Hendaklah kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidu yang tertunjuki“

‎عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
Dan kami peganglah, gigitlah ia dengan gigi geraham dan jauhi oleh kamu perkara-perkara yang di ada-adakan, karena setiap bid’ah itu sesat [HR Abu Dawud dan Tarmidzi]

Dan Tarmidzi berkata: Hadits ini hasan shahih.

Maka ini Hadits menunjukkan. Bahwa wajib kita berpegang kepada sunnah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Oleh karena itu sebagian Ulama berkata, bahwa Sunnahlah yang menjelaskan Alqur’an . Tidak kebalikan.

Sekarang kalau ada orang berkata kita tidak butuh Sunnah cukup Alqur’an , lalu apakah ada dalam Alqur’an penjelasan-penjelasan rinci tentang tata cara sholat, di mulai dari Takbiratul Ihram sampai salam.

Penjelasan sholat-sholat sunnah dan yang lainnya, sama sekali tidak ada. Tentang jumlah raka’atnya juga tidak ada.

Maka orang yang tidak percaya kepada Sunnah dan hanya mengandalkan Alqur’an pasti mau tidak mau dia akan buat sendiri tata cara sholat yang tidak pernah dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Demikian pula di Alqur’an tidak ada disebutkan tentang tata cara zakat secara terperinci, haji secara terperinci.

Puasa dan banyak lagi hukum-hukum yang lainnya.
Makanya Sunnah menjelaskan Alqur’an.
Karena Sunnah itu menjelaskan Alqur’an

Allah berfirman {An-Nahl: 44}

‎ۗ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan sesungguhnya kami telah menurunkan kepada engkau Az-Zikr (Alqur’an) agar kamu hai Muhammad menjelaskan kepada manusia apa yang di turunkan kepada mereka tersebut.“

Artinya : Sunnah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam itu menjelaskan Alqur’an.

Maka wajib kita memahami Alqur’an dengan pemahaman Rasulillah Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Demikian pula pemahaman para sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Wallahu a’lam

Ustadz Abu Yahya Barusalam Lc, حفظه الله تعالى
Baca selengkapnya »
Kaedah: Larangan Keras Memberontak Kepada Pemimpin Zalim

Kaedah: Larangan Keras Memberontak Kepada Pemimpin Zalim

Mereka memandang tidak boleh atau haram hukumnya memberontak kepada pemimpin yang zalim dan fasik selama dia masih muslim dan sholat.

Bahkan mereka mencela orang yang memberontak itu…kenapa ?

Karena berdasarkan hadits yang sangat banyak dan ijmaa’ Ulama Ahlussunnah dalam hal ini.

Adapun hadits Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Siapa yang mengingkari keburukan mereka ia telah berlepas diri dan siapa yang membenci atau tidak suka keburukan tersebut, ia telah selamat, tapi yang celaka itu orang yang ridho dan mengikuti keburukan mereka.

Lalu mereka berkata, “Bolehkah kami melawan mereka dengan pedang ?” Kata para sahabat.

Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh, selama mereka menegakkan untuk kalian sholat.“

(HR Imam Muslim di Nomer 4906)

Larangan Keras Memberontak Kepada Pemimpin Zalim

Disini tegas bahwa kewajiban kita, kalau pemimpin tersebut melakukan keburukan, kita tidak suka keburukan itu. Tapi TIDAK BOLEH kita melawan mereka dengan pedang atau memberontak.


Karena Rasulullah mengatakan: “Tidak boleh selama mereka menegakkan pada kalian sholat.”

Demikian pula dari hadits Hudzaifah bin Al Yaman yang diriwayatkan Imam Muslim, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

‎يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى
“Akan ada setelahku pemimpin-pemimpin yang tidak mengambil petunjukku dan tidak mau mengambil sunnahku.”

Berarti ini pemimmpin berhukum dengan hukum selain Allah.

Dan akan ada pada mereka orang-orang yang hati mereka hatinya hati setan dalam tubuh manusia.

Lalu kata Hudzaifah, “Bagaimana aku lakukan, jika aku dapatkan pemimpim-pemimpin seperti itu, hai Rasulullah ?“

Kata Rasulullah: “TETAP KAMU DENGAR dan TA'AT, maksudnya DALAM PERKARA YANG MA'RUF. Walaupun ia memukul penggungmu dan mengambil hartamu, tetap dengar dan ta’at.“

(HR Muslim di nomer hadits 4891)

Disini Rasulullah tegas, walaupun dia menzolimi kamu, tetap kamu harus sabar menghadapinya….سُبْحَانَ اللّهِ …ini sesuatu yang luar biasa berat tentunya.

Berkata Syaikhul Islam Taimiyah:

“Orang-orang yang ahli bid’ah yang menyangka bahwa mereka di atas kebenaran seperti orang-orang khawarij. Yang mereka menegakkan permusuhan dan peperangan terhadap jama’ah kaum muslimin, maksudnya pemimpin kaum muslimin. Maka merekapun berbuat bid’ah dan mengkafirkan orang yang tidak sejalan dengan mereka.“

Maka bahaya orang-orang khawarij itu lebih besar daripada bahaya pemimpin-pemimpin yang zalim.

Orang-orang yang berbuat zalim itu sebetulnya tahu bahwa itu adalah haram.

Maksudnya para pemimpin yang zalim itu terkadang mereka tahu bahwa mereka telah berbuat keharaman.

Itu lebih mending daripada orang-orang khawarij yang mengatasnamakan agama, mengkafirkan, memberontak, akhirnya terkucurlah darah kaum muslimin.

Maka dari itu Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam jauh-jauh hari sudah memperingatkan tentang bahaya khawarij itu.

Dimana Rasulullah mengatakan:

الْخَوَارِجُ كِلابُ النَّارِ
“Khawarij itu anjingnya api neraka“ (Diriwayatkan oleh Imam Al-Ajurri)

Demikian pula Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam mengatakan dalam riwayat Muslim, kata Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam:

شر قتلى قتلوا تحت أديم السماء
“Seburuk-buruknya orang yang terbunuh adalah orang khawarij dan sebaik-baiknya orang yang di bunuh adalah yang di bunuh oleh orang khawarij.”

Wallahu a’lam🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Baca selengkapnya »
kaidah: Imam yang Berhak di Bai'at harus punya 2 syarat ini

kaidah: Imam yang Berhak di Bai'at harus punya 2 syarat ini

Bahwasanya mereka meyakini bai’at syar’iyyah itu tidak boleh KECUALI kepada seorang imam yang muslim yang di bai’at oleh AHLUL HALI WAL’ AQDI.

Adapun kaum muslimin mengikuti mereka. Dan yang di maksud dengan AHLUL HALI WAL’ AQDI yaitu sebuah badan yang berisi para ulama yang ditunjuk oleh imam sebelumnya.

Mereka diangkat oleh imam sebelumnya untuk mengangkat imam setelahnya.

Dan penting kita pahami dulu tentang bai’at menurut ahlussunnah waljamama’ah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah dalam kitab Minhajus Sunnah Jilid 1 halaman 527, berkata:

“Maksud yang di inginkan dari kepemimpinan (Imamah) itu hanyalah bisa terhasilkan dengan kekuasaan (Sulthan) dan Qudroh (kemampuan). Apabila ia di bai’at dengan sebuah bai’at yang terhasilkan dengannya Al qudroh yaitu kemampuan untuk menjalankan siyasah syar’iyyah dan kekuasaan, jadilah ia seorang imam.”

Imam yang Berhak di Bai'at

artinya: Bahwa yang berhak di bai’at itu adalah mereka yang mempunyai 2 syarat ini:

Yang PERTAMA adalah Alqudroh (KEMAMPUAN).

Kemampuan apa?

Yaitu untuk menegakkan siyasah syar’iyyah.

Yang KE-DUA : Sulthan (KEKUASAAN).

Ini menunjukkan bahwa bai’at itu hanya kepada mereka.

Adapun seperti di Indonesia, sebagian kelompok-kelompok membai’at kelompoknya, imam kelompoknya, tidak terpenuhi syarat tersebut.

Mereka tidak punya Qudroh tidak pula mempunyai kekuasaan apa-apa.

Kata Syaikhul Islam…. kita lanjutkan…

…”Oleh karena itu para ulama Salaf terdahulu berkata:

Siapa yang memiliki Qudroh (kemampuan) dan Sulthan (kekuasaan) yang ia bisa melakukan maksud tujuan kepemimpinan. maka ia dianggap sebagai Ulil Amri yang Allah perintahkan untuk mena’ati mereka selama tidak memerintahkan kepada maksiat.”

Jadi hakikat Imam atau pemimpin Ulil Amri itu adalah kerajaan dan kekuasaan.

Maksud kerajaan di sini artinya dia pemilik negara/pemegang negara.

Dan kerajaan itu, tidak menjadi raja kecuali dengan hanya sebatas kesepakatan 1 orang atau 2 orang atau 4 orang.

Kecuali kalau kesepakatan 2,3 atau 4 ini di sepakati oleh seluruhnya selain mereka.

Sehingga dengan seperti itupun dia menjadi seorang raja yang berkuasa di suatu negara.

Demikian pula setiap perintah yang membutuhkan kepada bantuan tidak akan terhasilkan kecuali dengan yang menghasilkan sesuatu yang bisa membantu dia.

Maksud beliau bahwa artinya :

👉🏼 KEKUASAAN dan QUDROH inilah syarat seseorang itu boleh di bai’at.

Adapun kalau dia tidak punya kekuasaan dan tidak punya kemampuan, maka ini jelas bai’at-bai’at yang bathil seperti yang kita lihat di zaman sekarang ini yang merupakan bai’at-bai’at yang tidak sesuai dengan syari’at.

Wallahu a’lam🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Baca selengkapnya »
Kaedah:  Fanatik Sebab Terbesar perpecahaan umat

Kaedah: Fanatik Sebab Terbesar perpecahaan umat

Bahwa Ahlus Su’nnah wal Jama’ah waljama’ah mempunyai keyakinan, sebab yang paling besar terjadinya perpecahan itu FANATIKNYA sebagian kaum muslimin kepada kelompok atau jama’ah tertentu atau individu tertentu selain Rasulullah dan para sahabatnya, ini adalah merupakan sebab terbesar TERJADINYA PERPECAHAN.

Seseorang fanatik kepada kelompoknya atau Ustadznya atau organisasainya dan yang lainnya, bukan kepada kebenaran.

Allah Ta’ala berfirman [QS Al-An’am: 159]

‎إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ ۚ
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi kelompok-kelompok kamu tidak termasuk mereka sedikitpun juga“

Berkata Ibnu Katsir :

“Ayat ini umum, buat orang yang memecah belah agama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyelisihiNya.”

Allah juga berfirman [QS Ar-Rum: 31-32]

‎وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ ‎مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ
“Janganlah kalian seperti orang-orang musyrikin. Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka, dan mereka berkelompok-kelompok. Setiap kelompok merasa gembira , berbangga dengan apa yang ada pada mereka.”

Fanatik Sebab Terbesar perpecahaan umat

Kata Ibnu Katsir:

“Umat Islam berpecah belah sesama mereka, menjadi berkelompok-kelompok. Semuanya sesat kecuali satu, yaitu Ahlus Su’nnah wal Jama’ah.

Yang berpegang kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. Dan juga berpegang kepada apa yang di pegang oleh generasi pertama dari kalangan sahabat dan Tabi’in dan para Ulama kaum Muslimin.”

Maka di sini Allah juga menyebutkan tentang sebab perpecahan itu.

Allah berfirman: [QS Ar-Rum: 32]

‎ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
“Setiap kelompok bergembira atau berbangga dengan apa yang ada pada mereka.”

Ketika setiap orang itu lebih membanggakan kelompoknya atau yayasannya atau organisasinya atau ustadznya… pasti pecah.

Seperti yang kita lihat di zaman sekarang, ketika seseorang sedang ngefans kepada seorang ustadz, maka membabi buta dia mengikuti ustadz tersebut.

Ketika ada ustadz lain yang mengkritik, bisa jadi yang mengkritiknya itu benar, maka di sikapi dengan sinis, seakan-akan ustadznya itu tidak boleh salah. Seakan-akan orang yang mengkritiknya itu sesat ataupun yang lainnya.

Kalau mengkritiknya itu tanpa bukti, tanpa hujjah atau sebatas tuduhan, kita wajib membela ustadz kita.

Tapi kalau ternyata kritikannya di atas kebenaran, maka kata Syaikhul Islam:

“siapa yang membela ustadznya padahal dia dalam keadaan diatas kesalahan dan di atas kebathilan yang jelas, maka dia telah berhukum dengan hukum jahiliyah.”

Maka dari itu ya akhwat islam, saudaraku…. kita mengikuti kajian sunnah itu bukan untuk berfanatik kepada ustadz-ustadz tertentu atau kelompok tertentu atau kepada yayasan tertentu….Tidak.

FANATIK kita HANYA KEPADA ALLAH dan RASUL-NYA.

Pernah dikatakan kepada Ibnu Abbas:

“Kamu ikut Ali atau ikut Utsman ?”

Kata Ibnu Abbas: “Aku mengikuti Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam.“

Itulah ya akhwat Islam, fanatik kita hanya kepada Allah dan RasulNya.

Wallahu a’lam

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Baca selengkapnya »
Standar Istiqomah yang benar dalam syariat islam

Standar Istiqomah yang benar dalam syariat islam

Wajib kiranya bagi seorang hamba agar ia tidak bersandar kepada amalannya meski sebaik dan selurus apapun istiqomahnya.

Ia tidak boleh tertipu dengan ibadahnya, tertipu dengan banyaknya berdzikir kepada Allâh atau amalan-amalan ketaatan lainnya.

Berkenaan dengan makna di atas, Ibnul Qoyyim Rahimahullâhu berkata : “Yang dituntut dari seorang hamba dalam istiqomah-nya adalah hendaknya ia berlaku lurus (sadâd). Apabila ia tidak mampu mengerjakannya, maka hendaknya ia mendekati (muqôrobah); jika lebih rendah lagi dari muqôrobah maka ia telah jatuh kepada tafrîth (mengentengkan) dan idhô’ah (menyia-nyiakan), sebagaimana disebutkan di dalam Shahîhain dari ‘Aisyah Radhiyallâhu ‘anhâ dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda :

سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا فَإِنَّهُ لَا يُدْخِلُ أَحَدًا الْجَنَّةَ عَمَلُهُ
“ Berlaku luruslah, mendekatlah dan berikan berita gembira. Karena sesungguhnya tidaklah seseorang masuk ke dalam surga karena semata-mata amalannya.”

Para sahabat bertanya :

وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ
“ Tidak pulakah anda wahai Rasulullah?”

Rasulullâh ﷺ menjawab :

وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِمَغْفِرَةٍ وَرَحْمَةٍ
“ Begitu pula denganku, kecuali apabila Allâh meliputiku dengan ampunan dan kasih sayang-Nya.”

“Maka terkumpullah di dalam hadits ini seluruh tingkatan agama. Nabi memerintahkan untuk istiqomah, yaitu berlaku lurus dan benar di dalam niat, ucapan dan perbuatan.

waktu sholat masuk

Nabi ﷺ mengabarkan di dalam hadits Tsaubân, yaitu: “Istiqomahlah dan janganlah memperhitungkan.

Ketahuilah bahwa sebaik-baik amalan kalian adalah sholat.” Bahwa mereka ini sejatinya tidaklah sanggup (melakukan istiqomah), karena itulah mereka berpindah ke muqôrobah yaitu mendekati istiqomah sebatas kemampuannya.

Layaknya orang yang melempar ke suatu target yang apabila tidak bisa mengenainya maka setidaknya mendekati (target).

Meski demikian Nabi ﷺ tetap mengabarkan kepada mereka bahwa istiqomah dan muqôrobah itu sejatinya tidak dapat menyelamatkannya di hari kiamat.

Karena itu janganlah ada seseorang yang bersandar kepada amalannya semata dan merasa bangga dengannya.

Jangan pula ia memandang bahwa keberhasilannya adalah lantaran amalannya ini saja.

Namun keberhasilannya adalah lantaran rahmat dari Allâh, maaf dan karunia-Nya.

[ bersambung Insyaa Allah ]

-----------------------------------
Dicuplik dari Ebooks berjudul : " 10 PRINSIP MERAIH ISTIQOMAH " karya Prof Dr Abdurrazzaq al-Badr.

Dialihbahasakan oleh Abu Salma Muhammad.
Baca selengkapnya »
Bolehkah Mendirikan Organisasi atau yayasan ?

Bolehkah Mendirikan Organisasi atau yayasan ?

Organisasi ialah kumpulan beberapa orang yang mempunyai tugas masing-masing dengan tujuan yang sama dan disusun secara berstruktur.

Persatuan adalah gabungan dari beberapa bagian yang sudah bersatu dalam suatu lembaga.

Himpunan adalah organisasi atau perkumpulan yang bersatu dalam satu wadah karena satu idiologi [Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer : 1063]


Bolehkah Mendirikan Organisasi atau yayasan ?

Yayasan ialah badan hukum yang tidak beranggota, ditangani oleh pengurus, didirikan dengan tujuan mengupayakan layanan dan bantuan sosial seperti sekolah, rumah sakit dan sebagainya. [Halaman : 1727]

Partai politik adalah kumpulan orang yang mempunyai asas, haluan, pandangan, serta tujuan yang sama di bidang politik. [Halaman ; 1099]

Dari keterangan di atas diketahui bahwa organisasi atau kelompok yang didirikan untuk urusan duniawi menurut asal hukumnya adalah halal, kecuali bila organisasi tersebut membawa mafsadah atau kerusakan pribadi, umat atau agama Islam, maka hukumnya haram, sebagaimana kaidah usul yang mengatakan al-ashlu fil-asyya’-al-ibahah (asal segala sesuatu hukumnya mubah).

“Dia-lah Alloh yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu” [Al-Baqoroh : 29]

Sumber: almanhaj.or.id
Baca selengkapnya »
Manhaj, Makhluq Apakah Itu?

Manhaj, Makhluq Apakah Itu?

Barang kali anda sering dengar kata tersebut diucapkan oleh orang disekitar anda.

Namun pernahkah anda bertanya makhluq apakah manhaj itu?

MANHAJ adalah metode, jadi metode berpikir, metode berdalil, metode bersikap, metode beramal, metode berbeda pendapat, metode beribadah, dan lain sebagainya.

Namun sayangnya, saat ini terjadi eksploitasi tanpa batas terhadap kata manhaj. Dianggap manhaj itu adalah sikap yang selalu lantang ketika berbicara, keras ketika berpendapat, lempeng dalam bersikap, dahulu sebagian orang memberikan pendekatan ceroboh terhadap arti kata manhaj dengan slogan " Salafy tanpa basa basi".

Slogan ini sempat booming, walaupun sejatinya jauh dari dalil apalagi kebenaran. Kesantunan, basa basi, dan lemah lembut selama tidak keluar dari batasan syariat, kenapa tidak?
Manhaj, Makhluq Apakah Itu?

Sebaliknya sikap lugas tanpa kenal basa basi, bisa saja tercela, karena bisa jadi itu semua hanyalah kedok bagi kemalasan berpikir belaka..

Padahal manhaj dalam berbagai hal di atas atau lainnya sering kali bersifat luwes, namun tetap pada batasan yang benar, dan banyak ulama' menekankan bahwa manhaj yang benar adalah yang moderat, ndak kaku dan juga ndak lepas kontrol.

Yang sering disayangkan, banyak orang jerit jerit : manhaj, manhaj, manhaj, namun sejatinya itu hanyalah kedok dari kegagalan paham atau kegagalan dalam menempatkan diri dihadapan tuntutan perubahan kondisi dan perkembangan fakta, atau upaya untuk memaksakan pemahaman dan kemauan sendiri kepada orang lain.

Ahlul bid'ah, bahkan orang kafir sekalipun tidak semuanya dimusuhi, atau dijauhi. Ada dari mereka yang lebih bijak bila dirangkul, dan ada pula yang sepatutnya dijauhi.

Namun siapakah yang berhak menentukan sikap yang tepat?

Jawabnya : masing masing ulama' menentukan sikapnya selaras dengan kapasitas keilmuannya masing-masing. Dengan demikian bisa jadi antara satu ahli ilmu dengan yang lain berbeda sikap dan analisa.

Analisa Anda, dan kesimpulan guru anda, bukanlah dalil yang harus saya ikuti, sebagaimana sebaliknya juga demikian, analisa saya bukan dalil yang harus anda amini, apalagi oleh guru anda.

Jadi ndak perlu sewot kalau saya ndak ngikuti anda atau guru anda, sebagaimana saya juga tidak boleh baper kalau anda tidak ngikuti saya, jadi santai aja lagi.
___

Oleh: Ust. Dr. Muhammad Arifin Badri, MA. حفظه الله تعالى
republish by admin from whatsapp group dakwah
Baca selengkapnya »
Syaikh Sulaiman ar-Ruhaili: 18 kaidah dalam menghadapi fitnah

Syaikh Sulaiman ar-Ruhaili: 18 kaidah dalam menghadapi fitnah

١) لا تتبع العاطفة وقيدها بالشرع
1) Jangan mengikuti perasaan akan tetapi ikatlah perasaanmu dengan Syariat

٢) إياك والعجلة والزم الأناة
2) Jangan tergesa, akan tetapi harus hati2 dan pelan

٣) إياك والجهل واحرص على العلم الشرعي
3) Tinggalkan kebodohan dan semangatlah dalam belajar Ilmu syar'i

٤) عند الاختلاف : إياك والصغار والزم الكبار
4) Ketika terjadi perselisihan, hati-hati dari sikap anak muda, bersamalah orang tua (yang berilmu)

٥) إياك والأمور الحادثة والزم السنة
5) Jauhilah perkara baru dalam agama, dan konsistenlah dengan Sunnah (ajaran Rasulullah)
18 kaidah dalam menghadapi fitnah

٦) إياك أن تقترب من الفتنة وابتعد عنها
6) Jangan mendekati fitnah, tapi menjauhlah darinya

٧) منع الفتنة أسهل من رفعها
7) Mencegah fitnah sebelum terjadi lebih mudah dari pada menghilangkannya (artinya cegahlah fitnah sebelum terjadinya)

٨) احذر الهوى عندما تأخذ بالفتوى وخذ بما أضاءه الدليل
8) Jauhilah hawa nafsu dalam mengambil fatwa, peganglah yang sesuai dengan dalil

٩) إن كنت عاميا : فلا تأخذ بالتشهي وقلد الأعلم
9) Jika Anda orang awam, janganlah mengambil fatwa sesuai selera, ikutilah orang yang paling berilmu

١٠) إياك والتقلب واثبت على الدين بنور القرآن والسنة
10) Jauhilah siap berubah-berubah, tetaplah di atas agama berdasarkan cahaya Al-Quran dan as-Sunnah

١١) لا تنازع النصوص بما تريد واجعل ما تريد على وفق النصوص
11) Jangan melawan nash (dalil) dengan seleramu, akan tetapi jadikan seleramu sesuai (mengikutinya nash/dalil)

١٢) احذر الفرقة والزم الجماعة
12) Jauhilah perpecahan dan jalinlah persatuan

١٣) إياك والظلم والشر والعذاب والزم العدل والخير والرحمة
13) Jauhilah tindak kedzaliman, kejelekan dan adzab. Peganglah sikap adil, kebaikan dan kasih sayang

١٤) لا تتطلب الفتن واستعذ بالله من شرها
14) Jangan mencari fitnah, akan tetapi Mintalah perlindungan kepada Allah dari kejahatannya

١٥) لا تغتر بزخرفة الفتن وانظر إلى حقيقتها ببصيرة المؤمن
15) Jangan tertipu dengan fi tnah (walaupun tampak indah), tapi lihat lah hakikatnya dengan pandangan keimanan

١٦) احذر الغلو والزم الاعتدال
16) Jangan ghuluw (ekstrim / berlebih-lebihan), namun peganglah jalan pertengahan atau adil

١٧) احذر العقوق وأد الحقوق
17) Jauhilah dari siap menelantarkan, tunaikanlah Hak-hak (dalam Islam)

١٨) احذر قصر النظر واعرف الحق بأصله وأثره
18) Janganlah berpandangan pendek, kenalilah kebenaran pada dzatnya dan pikirkanlah dampaknya.

✏ Diringkas dan dialihbahasakan oleh Ustadz Abdul Rahman Hadi, Lc (Dosen STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya)

Oleh Syaikh Prof. Dr. Sulaiman ar-Ruhaili حفظه الله
Admin Radio Rodja | Rodja TV
Baca selengkapnya »
Prinsip-prinsip Dakwah Salafiyyah

Prinsip-prinsip Dakwah Salafiyyah

1. Kembali kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih.

2. Berdakwah kepada Tauhid dan mengikhlaskan amal semata-mata karena Allah.

3. Dakwah Ahlus Sunnah, Salafiyyun mengajak umat Islam untuk beribadah kepada Allah dengan benar.

4. Memperingatkan kaum muslimin dari bahaya syirik dan berbagai bentuknya.

5. Berdakwah kepada Ittiba’ (Mengikuti Sunnah Rasulullah) dan memerangi Taqlid Buta.
tauhid

6. Memerangi bid’ah dan beragam pemikiran dari luar Islam yang masuk ke dalamnya.

7. Menuntut ilmu Syar’i.

8. Tashfiyyah dan Tarbiyyah.

9. Akhlak dan Tazkiyyatun Nufus.

10. Memperingatkan kaum muslimin dari bahaya hadits-hadits lemah, palsu dan mungkar.

11. Memerangi hizbiyyah dan fanatik golongan.

12. Berusaha mewujudkan kehidupan Islami dan menegakkan hukum Allah di muka bumi.

(Dikutip dari buku Mulia dengan Manhaj Salaf, Ustadz Yazid Jawas hafizhahullah )
Baca selengkapnya »
Apa Hukum asal Ibadah dalam Agama Islam ? yang belum tau baca dulu

Apa Hukum asal Ibadah dalam Agama Islam ? yang belum tau baca dulu

Hukum Asal Ibadah, Haram Sampai Ada Dalil

Sebagian kalangan mengemukakan alasan ketika suatu ibadah yang tidak ada dalilnya disanggah dengan celotehan, “Kan asalnya boleh kita beribadah, kenapa dilarang?” Sebenarnya orang yang mengemukakan semacam ini tidak paham akan kaedah yang digariskan oleh para ulama bahwa hukum asal suatu amalan ibadah adalah haram sampai adanya dalil.

Berbeda dengan perkara duniawi (seperti HP, FB, internet), maka hukum asalnya itu boleh sampai ada dalil yang mengharamkan. Jadi, kedua kaedah ini tidak boleh dicampuradukkan. Sehingga bagi yang membuat suatu amalan tanpa tuntunan, bisa kita tanyakan, “Mana dalil yang memerintahkan?”

Ada kaedah fikih yang cukup ma’ruf di kalangan para ulama,

الأصل في العبادات التحريم
“Hukum asal ibadah adalah haram (sampai adanya dalil).”

Guru kami, Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri –semoga Allah menjaga dan memberkahi umur beliau- berkata, 

“(Dengan kaedah di atas) tidak boleh seseorang beribadah kepada Allah dengan suatu ibadah kecuali jika ada dalil dari syari’at yang menunjukkan ibadah tersebut diperintahkan. Sehingga tidak boleh bagi kita membuat-buat suatu ibadah baru dengan maksud beribadah pada Allah dengannya. Bisa jadi ibadah yang direka-reka itu murni baru atau sudah ada tetapi dibuatlah tata cara yang baru yang tidak dituntunkan dalam Islam, atau bisa jadi ibadah tersebut dikhususkan pada waktu dan tempat tertentu. Ini semua tidak dituntunkan dan diharamkan.” 

(Syarh Al Manzhumah As Sa’diyah fil Qowa’idil Fiqhiyyah, hal. 90).

Dalil Kaedah

Dalil yang menerangkan kaedah di atas adalah dalil-dalil yang menerangkan tercelanya perbuatan bid’ah. Bid’ah adalah amalan yang tidak dituntunkan dalam Islam, yang tidak ada pendukung dalil. Dan bid’ah yang tercela adalah dalam perkara agama, bukan dalam urusan dunia.
sufi joget

Di antara dalil kaedah adalah firman Allah Ta’ala,

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ
“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syuraa: 21).

Juga didukung dengan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718). Dalam riwayat lain disebutkan,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718).

Begitu pula dalam hadits Al ‘Irbadh bin Sariyah disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Hati-hatilah dengan perkara baru dalam agama. Karena setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607, Tirmidzi no. 2676, An Nasa-i no. 46. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa kita baru bisa melaksanakan suatu ibadah jika ada dalilnya, serta tidak boleh kita merekayasa suatu ibadah tanpa ada perintah dari Allah dan Rasul-Nya.

Perkataan Ulama

Ulama Syafi’i berkata mengenai kaedah yang kita kaji saat ini,

اَلْأَصْلَ فِي اَلْعِبَادَةِ اَلتَّوَقُّف
“Hukum asal ibadah adalah tawaqquf (diam sampai datang dalil).” 

Perkataan di atas disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (5: 43). Ibnu Hajar adalah di antara ulama besar Syafi’i yang jadi rujukan. Perkataan Ibnu Hajar tersebut menunjukkan bahwa jika tidak ada dalil, maka suatu amalan tidak boleh dilakukan. Itu artinya asal ibadah adalah haram sampai ada dalil yang memerintahkan. Di tempat lain, Ibnu Hajar rahimahullah juga berkata,

أَنَّ التَّقْرِير فِي الْعِبَادَة إِنَّمَا يُؤْخَذ عَنْ تَوْقِيف
“Penetapan ibadah diambil dari tawqif (adanya dalil)” (Fathul Bari, 2: 80).

Ibnu Daqiq Al ‘Ied, salah seorang ulama besar Syafi’i juga berkata,

لِأَنَّ الْغَالِبَ عَلَى الْعِبَادَاتِ التَّعَبُّدُ ، وَمَأْخَذُهَا التَّوْقِيفُ
“Umumnya ibadah adalah ta’abbud (beribadah pada Allah). Dan patokannya adalah dengan melihat dalil”. Kaedah ini disebutkan oleh beliau dalam kitab Ihkamul Ahkam Syarh ‘Umdatil Ahkam.

Dalam buku ulama Syafi’iyah lainnya, yaitu kitab Ghoyatul Bayan Syarh Zubd Ibnu Ruslan disebutkan,

الأصل في العبادات التوقيف
“Hukum asal ibadah adalah tawqif (menunggu sampai adanya dalil).”

Ibnu Muflih berkata dalam Al Adabu Asy Syar’iyah,

أَنَّ الْأَعْمَالَ الدِّينِيَّةَ لَا يَجُوزُ أَنْ يُتَّخَذَ شَيْءٌ سَبَبًا إلَّا أَنْ تَكُونَ مَشْرُوعَةً فَإِنَّ الْعِبَادَاتِ مَبْنَاهَا عَلَى التَّوْقِيفِ
“Sesungguhnya amal diniyah (amal ibadah) tidak boleh dijadikan sebagai sebab kecuali jika telah disyari’atkan karena standar ibadah boleh dilakukan sampai ada dalil.”

Imam Ahmad dan para fuqoha ahli hadits -Imam Syafi’i termasuk di dalamnya- berkata,

إنَّ الْأَصْلَ فِي الْعِبَادَاتِ التَّوْقِيفُ
“Hukum asal ibadah adalah tauqif (menunggu sampai adanya dalil)” (Dinukil dari Majmu’ Al Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 29: 17)

Ibnu Taimiyah lebih memperjelas kaedah untuk membedakan ibadah dan non-ibadah. Beliau rahimahullah berkata,

إنَّ الْأَصْلَ فِي الْعِبَادَاتِ التَّوْقِيفُ فَلَا يُشْرَعُ مِنْهَا إلَّا مَا شَرَعَهُ اللَّهُ تَعَالَى . وَإِلَّا دَخَلْنَا فِي مَعْنَى قَوْلِهِ : { أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ } . 
“Hukum asal ibadah adalah tawqifiyah (dilaksanakan jika ada dalil). Ibadah tidaklah diperintahkan sampai ada perintah dari Allah. Jika tidak, maka termasuk dalam firman Allah (yang artinya), “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy Syura: 21).

وَالْعَادَاتُ الْأَصْلُ فِيهَا الْعَفْوُ فَلَا يَحْظُرُ مِنْهَا إلَّا مَا حَرَّمَهُ وَإِلَّا دَخَلْنَا فِي مَعْنَى قَوْلِهِ 
Sedangkan perkara adat (non-ibadah), hukum asalnya adalah dimaafkan, maka tidaklah ada larangan untuk dilakukan sampai datang dalil larangan. Jika tidak, maka termasuk dalam firman Allah (yang artinya), 

: { قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلَالًا } وَلِهَذَا ذَمَّ اللَّهُ الْمُشْرِكِينَ الَّذِينَ شَرَعُوا مِنْ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ وَحَرَّمُوا مَا لَمْ يُحَرِّمْهُ
“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal” (QS. Yunus: 59). Oleh karena itu, Allah mencela orang-orang musyrik yang membuat syari’at yang tidak diizinkan oleh Allah dan mengharamkan yang tidak diharamkan. (Majmu’ Al Fatawa, 29: 17).

Contoh Penerapan Kaedah

– Beribadah dengan tepuk tangan dan musik dalam rangka taqorrub pada Allah seperti yang dilakukan kalangan sufi.

– Perayaan tahun baru Islam dan Maulid Nabi.

– Shalat tasbih karena didukung oleh hadits dho’if[1].

Demikian contoh-contoh yang disampaikan oleh guru kami, Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri hafizhohullah dalam Syarh Al Manzhumah As Sa’diyah, hal. 91.

Tambahan Bid’ah dalam Ibadah

Kadang amalan tanpa tuntunan (alias: bid’ah) adalah hanya sekedar tambahan dari ibadah yang asli. Apakah tambahan ini membatalkan amalan yang asli?

Di sini ada dua rincian:

1- Jika tambahan tersebut bersambung (muttashilah) dengan ibadah yang asli, ketika ini, ibadah asli ikut rusak.

Contoh: Jika seseorang melakukan shalat Zhuhur lima raka’at (dengan sengaja), maka keseluruhan shalatnya batal. Dalam kondisi ini, tambahan raka’at tadi bersambung dengan raka’at yang asli (yaitu empat raka’at).

2- Jika tambahan tersembut terpisah (munfashilah). Maka ketika itu, ibadah asli tidak rusak (batal).

Contoh: Jika seseorang berwudhu’ dan mengusap anggota wudhunya (dengan sengaja) sebanyak empat kali-empat kali. Kali keempat di situ dihukumi bid’ah namun tidak merusak usapan tiga kali sebelumnya. Alasannya, karena usapan pertama sampai ketiga dituntunkan sedangkan keempat itu tambahan (tidak ada asalnya), sehingga dianggap terpisah.

Lihat keterangan akan hal ini dalam Syarh Al Manzhumah As Sa’diyah fil Qowa’idil Fiqhiyyah, hal. 92 oleh guru kami, Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri hafizhohullah.

Tidak Tepat!


Tidak tepat dan terasa aneh jika dalam masalah ibadah, ada yang berujar, “Kan tidak ada dalil yang melarang? Gitu saja kok repot …”. Maka cukup kami sanggah bahwa hadits ‘Aisyah sudah sebagai dalil yang melarang untuk membuat ibadah tanpa tuntunan,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718). 

Hadits ini sudah jelas menunjukkan bahwa kita harus berhenti sampai ada dalil, baru kita boleh melaksanakan suatu ibadah. Jika ada yang membuat suatu ibadah tanpa dalil, maka kita bisa larang dengan hadits ini dan itu sudah cukup tanpa mesti menunggu dalil khusus. Karena perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu jaami’ul kalim, maksudnya adalah singkat namun syarat makna. Jadi dengan kalimat pendek saja sudah bisa menolak berbagai amalan tanpa tuntunan, tanpa mesti dirinci satu per satu.

Murid Imam Nawawi, Ibnu ‘Atthor rahimahullah menjelaskan mengenai hadits di atas, “Para ulama menganggap perbuatan bid’ah yang tidak pernah diajarkan dalam Islam yang direkayasa oleh orang yang tidak berilmu, di mana amalan tersebut adalah sesuatu yang tidak ada landasan (alias: tidak berdalil), maka sudah sepantasnya hal ini diingkari. Pelaku bid’ah cukup disanggah dengan hadits yang shahih dan tegas ini karena perbuatan bid’ah itu mencacati ibadah.” (Lihat Syarh Al Arba’in An Nawawiyah atau dikenal pula dengan ‘Mukhtashor An Nawawi’, hal. 72)

Sehingga bagi yang melakukan amalan tanpa tuntunan, malah kita tanya, “Mana dalil yang memerintahkan untuk melakukan ibadah tersebut?” Jangan dibalik tanya, “Mana dalil yang mengharamkan?” Jika ia bertanya seperti pertanyaan kedua, ini jelas tidak paham kaedah yang digariskan oleh Al Qur’an dan As Sunnah, juga tidak paham perkataan ulama.

Kaedah yang kita kaji saat ini menunjukkan bagaimana Islam betul-betul menjaga syari’at, tidak dirusak oleh kejahilan dan kebid’ahan.

Hanya Allah yang memberikan petunjuk ke jalan penuh hidayah.


Suatu ketika, Sa’id Ibnul Musayyib rahimahullah melihat seseorang yang shalat lebih dari 2 raka’at setelah terbitnya fajar. Orang tersebut memperbanyak ruku’ dan sujud. Kemudian beliau melarang orang tersebut meneruskan sholatnya. Orang tersebut pun berkata, “Hai Abu Muhammad (panggilan Sa’id Ibnul Musayyib-pen)! Apakah Allah akan menyiksa aku karena sholatku?” Beliau menjawab, “Tidak, akan tetapi Allah akan menyiksamu karena kamu menyelisihi sunnah!”

Muhammad Abduh Tuasikal, MSc
Baca selengkapnya »
🔖Apa Makna “Amma Ba’du” “أَمَّا بَعْدُ”..?

🔖Apa Makna “Amma Ba’du” “أَمَّا بَعْدُ”..?

Kata “أَمَّا بَعْدُ” sering kita dengarkan setiap kali seseorang menyampaikan pengantar khotbah.

Bisa juga diungkapkan dengan: “وَبَعْدُ” .

Keduanya bermakna sama, yaitu: “adapun selanjutnya”.

Kalimat ini disebut “فَصْلُ الخِطَابِ” (kalimat pemisah).

📓Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu bahwa beliau mengatakan, “Orang yang pertama kali mengucapkan ‘amma ba’du’ adalah Nabi Daud ‘alaihis salam, dan itu adalah fashlul khitab.”

(Al-Awail Ibni Abi Ashim, no. 188; Al-Awail Ath-Thabrani, no. 40)
amma ba'du

Allah Ta'la berfirman :

وَشَدَدْنَا مُلْكَهُ وَآتَيْنَاهُ الْحِكْمَةَ وَفَصْلَ الْخِطَاب
“Kami kuatkan kerajaannya serta Kami berikan ilmu dan fashlul khitab.” (Q.s. Shad: 20)

- Kalimat ini digunakan untuk memisahkan mukadimah dengan isi dan tema khotbah.

Ini merupakan bagian dari perhatian seseorang terhadap ceramah yang disampaikan.

Demikian keterangan oleh Syekh Muhammad Bin Shaleh Al-'Utsaimin dalam kitab Asy-Syarhul Mumti’, 1:7, dan kitab Alkalimat Assadidah Syarh Albidayah Fil Aqidah oleh Syekh Khalid Mahmud Aljuhani -hafizhahumallaah-
Baca selengkapnya »
Ide asas kerja MLM adalah sebagai berikut :

Ide asas kerja MLM adalah sebagai berikut :

A menyerahkan uang sebanyak $100 kepada sebuah perusahaan dengan harapan mendapatkan bonus yang jauh lebih besar dari nominal uang yang dibayar ke perusahaan tersebut. Agar A mendapat bonus, dia harus mencari dua orang yang mau menyerahkan uang S100 kepada sebuah perusahaan itu untuk menutupi uang A $100 dan agar dapat bonus serta sisanya merupakan laba bagi perusahaan pengelola. 

Kemudian B dan C yang telah membayar masing-masing S100 ke perusahaan melalui perantara A agar uangnya kembali dan mendapat bonus masing-masing harus mencari dua orang yang mau menyerahkan uang $100. 
diagram mlm

Maka jumlah orang pada level ini empat orang, begitulah seterusnya hingga skema piramida ini membesar, di mana jumlah peserta di tingkat bawah lebih banyak daripada jumlah tingkat atas.

Yang pasti, semakin lama berjalan maka semakin susah untuk merekrut orang baru yang mau menyerahkan uangnya kepada perusahaan pengelola dan pada suatu saat sampai pada kondisi stagnan, tidak bergerak. Maka dapat dipastikan orang-orang yang berada pada tingkat akhir mengalami kerugian dan jumlah anggota pada tingkat ini adalah peserta terbanyak.

Ini adalah sebuah penipuan, yaitu : memberikan keuntungan untuk sedikit orang dan merugikan orang banyak. Dalam hitungan matematika persentase anggota yang mengalami kerugian mencapai 94% sedangkan anggota level atas yang meraih keuntungan hanyalah 6% saja. Ini sangat jelas merupakan penipuan.

Oleh karena itu, pemerintah Amerika telah melarang praktik Pyramid Scheme. Namun agar sistem ini dapat diakui oleh pemerintah maka pihak pengelola memasukkan produk sebagai kedok. Dan namanya diubah menjadi Multi Level Marketing (MLM), Dircet Selling dan lain-lain[369].

buku harta haram Muamalat Kontemporer
Baca selengkapnya »
Islam di bangun atas dasar dalil bukan akal.

Islam di bangun atas dasar dalil bukan akal.

Allah سبحانه و تعالىٰ berfirman :


أَمۡ لَهُمۡ شُرَڪَـٰٓؤُاْ شَرَعُواْ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمۡ يَأۡذَنۢ بِهِ ٱللَّهُ‌ۚ 
"Apakah mereka mempunyai sesembahan selain Allah yang menetapkan (mensyari'atkan) aturan agama bagi mereka yang tidak diizinkan (diridhai) Allah?" (QS. Asy-Syuuraa [42] : 21)

Apabila didapati ada nash (baca : dalil) yang seakan-akan bertentangan dengan akal -padahal hakikatnya tidak- maka sudah sepatutnya bagi seorang mukmin untuk mendahulukan wahyu dari akal, sebab wahyu (baca : dalil) sifatnya ma'shum (terjaga) adapun akal tidak, ia sifatnya terbatas dan berubah-ubah.

Allah ﷻ berfirman :
إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ وَإِنَّا لَهُ ۥ لَحَـٰفِظُونَ
"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur-an, dan pasti Kami pula yang memeliharanya." (QS. Al-Hijr [15] : 9)
mesjid syeikh zayed

Imam Muhammad bin 'Ibrahim al-Wazir رحمه الله تعالىٰ berkata, "Konsekuensi dari ayat ini adalah bahwa syari'at Rasulullah ﷺ tetap terpelihara dan Sunnahnya tetap dijaga oleh Allah سبحانه و تعالىٰ." (Ar-Raudhul Baasim fidz Dzabbi'an Sunnati Abil Qasim shallallaahu 'alaihi wa sallam, I/64)

Imam Asy-Syafi'iy رحمه الله تعالىٰ berkata, "Sesungguhnya akal memiliki batas; ia berhenti pada batasan tersebut, sebagaimana pandangan juga memiliki batasan yang pandangan berakhir padanya." (Aadaab Asy-Syafi'iy wa Manaaqibuhu, hal. 30)

Maka ambillah pelajaran berharga dari perkataan 'Ali bin Abi Thalib رضي الله تعالىٰ عنه tentang tercelanya mendahulukan akal dari wahyu (baca : dalil) di dalam beragama.

'Ali bin Abi Thalib رضي الله تعالىٰ عنه berkata, "Seandainya agama ini (Islam) asasnya adalah akal (logika), maka tentu bagian bawah khuf (sepatu) lebih pantas untuk diusap daripada (bagian) atasnya. Sungguh, aku pernah melihat Rasulullah ﷺ mengusap bagian atas khufnya (sepatunya). " (Shahiih, Diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 162, Shahiih Sunan Abu Dawud, no. 162)

Perkataan Khulafa'ur Rasyid 'Ali bin Abi Thalib رضي الله تعالىٰ عنه ini meruntuhkan pendapat dan argumentasi para pemuja akal yang mendahulukan serta menuhankan akal di atas dalil al-Qur-an maupun As-Sunnah sebab memang secara akal (logika) mengusap khuf (sepatu) bagian bawah itu lebih utama karena ia yang kotor bukan khuf (sepatu) bagian atas, namun Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk mengusap khuf (sepatu) bagian atas yang ternyata ini termasuk sunnah Nabiyallaah Muhammad ﷺ.

Imam Ash-Shan'ani رحمه الله تعالىٰ berkata, "Tentu saja secara akal (logika) yang lebih pantas diusap adalah bagian bawah khuf (sepatu) daripada bagian atasnya karena bagian bawahlah yang langsung bersentuhan dengan tanah. Namun kenyataan yang dipraktekkan Rasulullah ﷺ tidaklah demikian." (Subulus Salam Syarh Bulughul Maram, I/239)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin رحمه الله تعالىٰ berkata,

"Agama (dibangun) bukan dengan akal (logika). Agama (Islam) bukan didasari pertama kali dengan logika. Bahkan sebenarnya dalil (hujjah) yang kuat dibangun di atas otak yang baik (benar). Jika tidak, maka perlu dipahami bahwa dalil shahih sama sekali tidak bertentangan dengan logika yang baik (benar). Karena dalam al-Qur-an pun disebutkan :

Allah عز وجل berfirman :

أَفَلَا تَعۡقِلُونَ
"Tidakkah kalian mau menggunakan akal kalian?" (QS. Al-Baqarah [2] : 44)

Sesungguhnya yang menyelisihi tuntunan syari'at, itulah yang menyelisihi akal (logika) yang sehat. Karena itu 'Ali bin Abi Thalib رضي الله تعالىٰ عنه mengatakan,

'Seandainya agama ini (Islam) asasnya adalah akal (logika), maka tentu bagian bawah khuf (sepatu) lebih pantas untuk diusap daripada (bagian) atasnya.'

Namun agama (Islam) tidak dibangun di atas akal (logika-logikaan). Oleh karenanya, siapa saja yang membangun agamanya di atas logika piciknya pasti akan membuat kerusakan daripada mendatangkan kebaikan. Mereka belum mengetahui bahwa akhirnya hanya kerusakan yang timbul."

(Fat-hul Dzil Jalali wal Ikram, I/370)

Semoga Allah تبارك و‏تعالىٰ memberikan hidayah dan taufiq.

Faidah kajian pagi ini bersama Ustadzuna Abu Fat-hi Yazid bin 'Abdul Qadir Jawas حفظه الله تعالىٰ, Syarh 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah di Radio Rodja 756 Am dan Rodja TV.

Abu 'Aisyah Aziz Arief_
Baca selengkapnya »
Zakat Fitrah Menurut 4 Mazhab dan Fatwa MUI

Zakat Fitrah Menurut 4 Mazhab dan Fatwa MUI

Hadist shahih tentang zakat fitrah: Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu alahi wasallam, dari Ibnu Umar, Rasulullah bersabda:

 فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - زَكَاةَ الْفِطْرِ, صَاعًا مِنْ تَمْرٍ, أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ: عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ, وَالذَّكَرِ, وَالْأُنْثَى, وَالصَّغِيرِ, وَالْكَبِيرِ, مِنَ الْمُسْلِمِينَ, وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mewajibkan zakat fitrah sebanyak satu sha' kurma atau satu sha' gandum, atas budak dan orang merdeka, laki-laki dan perempuan, anak kecil dan orang besar dari kalangan orang Islam. Dan beliau memerintahkan agar ditunaikan sebelum orang-orang pergi menunaikan shalat " (HR. Bukhari dan Muslim)

Pengertian tentang zakat fitrah menurut hadist diatas adalah ketentuan wajib bagi setiap muslim untuk membayar zakat; tidak memandang jenis kelamin dan usia. Perhitungan-nya, besar zakat fitrah yang dibayarkan adalah 1 sha' makanan pokok.
Zakat Fitrah

Satu sha' menurut mazhab MALIKI setara dengan empat mud dimana satu mud sama dengan sebanyak isi telapak tangan sedang jika mengisi keduanya lalu membentangkannya (Subulus Salam, hal. 111) atau sama dengan 675 Gram. Jadi satu Sha 'sama dengan 2700 Gram (2,7 kg) (Wahbah al-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Beirut, Dar al-Fikr, tt, Juz II, hal. 910).

Begitu juga menurut mazhab SYAFI'I, satu sha' sama dengan 693 1/3 dirham ((Al-Syarqawi, Op cit, Juz I, hal. 371. Lihat juga Al-Husaini, Kifayat al-Akhyar, Dar al-Fikr, Juz I, hal. 295; Wahbah Al-Zuhaili, Tafsir al-Munir, Dar al-Fikr, Juz II, hal. 141), setara dengan 4 mud (Lisaanul Arab 3/400) atau 2751 gram (2,75 kg) (Wahbah Al-Zuhaili, Al-Fiq al Islami Wa Adilatuhu, Dar al-Fikr, Juz II hal, 911). Takaran/ukuran ini sependapat dengan kalangan mazhab HAMBALI bahwa satu sha' sama dengan 2751 gram (2,75 kg).

Imam HANAFI berpendapat berbeda, satu sha' menurut madzhab ini adalah 8 rithl ukuran Irak. Satu rithl Irak sama dengan 130 dirham atau sama dengan 3800 gram (3,8 kg) (Al-Fiqh al-Islami wa adillatuhu karya Wahbah Zuhailli Juz II, hal. 909).

Aku Bahkan, madzhab Hanafi memperbolehkan membayar zakat fitrah dengan harga atau uang yang senilai dengan bahan makanan pokok dibayarkan, sedangkan madzhab Syafi'i, Maliki, dan Hambali tidak boleh. Ke-3 Imam tersebut hanya mewajibkan menunaikan zakat fitrah dengan makanan pokok seperti kurma dan gandum atau bahan pokok yang biasa dikonsumsi sehari-hari oleh penduduk suatu negeri contoh-nya beras untuk di Indonesia.

Sementara, MAJELIS ULAMA INDONESIA -MUI menganjurkan agar umat Muslim yang niat membayar zakat fitrah yang penyalurannya dapat melalui amil pada rumah zakat agar menggenapkan hitungannya menjadi 3 kg orang (Lajnah Daimah, no. fatwa-fatwa: 12572). Jadi, perhitungan-nya berubah dari 2,5 kg pada perhitungan selama ini. Harapannya, dengan cara penggenapan besaran zakat fitrah ini agar dapat menjadi jalan tengah atas perdebatan dan polemik yang selama ini berkembang berkaitan dengan jumlah besaran zakat fitrah. aku

Menurut pendapat kami, sebagian besar orang Islam di Indonesia mengaku bahwa dirinya ber-mazhab Syafi'i dan tentunya harus mengikuti ketentuan dari mazhab tersebut bukan?

Adapun perbedaan pendapat tentang takaran atau perhitungan besaran zakat fitrah termasuk boleh-nya menggantinya dengan uang atau mengakalinya dengan membayar uang kemudian amil yang membelikannya beras, menunjukkan bahwa tidak semua ulama di Indonesia ber-mazhab Syafi'i.

Oleh karena itu, demi kepentingan umat, kembalikanlah masalah ini kepada Al-Qur'an Allah dan Al-Hadist Muhammad sebagai ulil amri diantara kita, sebagaimana ayat di bawah ini:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
“Hai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil Amr di antara kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya” (QS. An-Nisa [4]: 59).
Baca selengkapnya »
-->