IBX5A47BA52847EF DakwahPost: khotbah jumat
โ€œMasjidil Aqsha merupakan isu sentral umat islam"

“Masjidil Aqsha merupakan isu sentral umat islam"

Khotbah Pertama :

Dalam lubuk hati setiap muslim, tetap menyala-nyala isu terbesar, yaitu persoalan Masjidil Aqsha yang merupakan kiblat pertama dan masjid suci ketiga serta tempat tujuan perjalanan isra’ pemimpin utama umat manusia dan jin.

Itulah isu terpenting yang selalu hadir, tidak pernah menghilang dari benak setiap individu dan komunitas muslim, betapapun besarnya tantangan, dan betapapun terpuruknya kondisi kaum muslimin.

Yerusalem dengan tanahnya yang di atasnya berdiri Masjidil Aqsha adalah persoalan akidah bagi kaum muslimin dan ikatan sejarah yang mendalam dan tidak terlupakan. Bagaimanapun keadaannya tidak akan terhapus dari memori pemikiran Islam, mengingat kedudukannya sebagai simbul jati diri umat Islam yang merupakan salah satu prinsip dasar dan tempat suci umat Islam.

Bagaimana tidak demikian, sedangkan kitab suci Al-Qur'an selalu mengingatkan kita pagi dan petang :

"Maha suci Allah yang memperjalankan hambaNya pada satu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang Kami berkati sekelilingnya untuk Kami perlihatkan kepadanya sebagian ayat-ayat Kami. Sesungguhnya Dia (Allah) Maha mendengar dan Maha melihat". Qs. Al-Isra’:1
“Masjidil Aqsha merupakan isu sentral umat islam"

Masjidil Aqsha adalah salah satu dari tiga masjid yang hanya kepadanya dibolehkan perjalanan jarak jauh dilakukan dalam rangka beribadah kepada Allah dan mengharapkan tambahan anugerahNya sebagaimana yang dijelaskan dalam beberapa hadis Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.

Tanah Yerusalem identik dengan tanah Mahsyar tempat berhimpunnya seluruh manusia. Maimunah –budak perempuan Nabi bercerita : Aku berkata, Ya Rasulallah, jelaskanlah kepadaku tentang Baitul Maqdis ! Beliau lalu menjelaskan : "itulah tanah mahsyar tempat berhimpunnya umat manusia". HR. Ibnu Majah dengan sanad shahih.

Baitul Maqdis mempunyai kedudukan sangat agung dan keistimewaan tinggi dalam Islam.

Abu Dzar –radhiyallahu anhu- berkata : Kami bertukar pikiran ketika kami sedang berada di dekat Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam- : Manakah yang lebih utama; Masjid Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- ataukah Masjid Baitul-Maqdis ? Beliau menjawab : " Sekali shalat di masjidku ini lebih baik dari pada empat kali shalat di dalamnya (Masjid Baitul-Maqdis), sungguh dia adalah sebaik-baik tempat shalat. HR. Al-Hakim, yang dinilainya shahih dan disetujui Adzahabi.

Diantara keutamaan Masjidil Aqsha dalam Islam ialah bahwa ia merupakan tempat tujuan isra' Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- dan dari padanya beliau naik ke langit.

Anas –radhiyallahu anhu- menceritakan bahwa nabi –shallallahu alaihi wasallam- bersabda:

"Seekor buraq didatangkan kepadaku, yaitu hewan tunggangan warna putih tinggi, lebih tinggi dari keledai dan lebih pendek dari bagal. Ia menjangkaukan telapak kakinya sebatas maksimal pandangan matanya". Kata beliau : "Lalu aku menunggangnya hingga sampai ke Baitul Maqdis". Kata beliau : "Lalu aku mengikatnya pada lingkaran tempat para nabi mengikatkan tunggangan mereka".

Kata beliau: "Lalu aku memasuki masjid untuk shalat dua rak'at, kemudian aku keluar. Maka datanglah Jibril –alaihissalam- dengan sebuah wadah berisi khamar dan wadah lainnya berisi susu, maka aku memilih susu. Jibril lalu berkata : "Engkau telah memilih fitrah. Setelah itu ia naik bersamaku ke langit". HR. Muslim.

Di antara keutamaan kota Yerusalem dan Masjidil Aqsha ialah seperti yang dijelaskan dalam hadis Abdullah bin Amar bin al-Ash, bahwa nabi –shallallahu alaihi wasallam- bersabda:

"Ketika selesai membangun Baitul Maqdis, Sulaiman bin Dawud memohon kepada Allah tiga hal: Keputusan hukum yang sesuai dengan hukum Allah, kerajaan yang tidak akan dimiliki oleh seorang pun sesudahnya, dan agar tidak seorang pun datang ke masjid ini untuk shalat kecuali bersih dari dosa seperti ketika lahir dari perut ibunya". Nabi lalu bersabda : Dua permohonan (Sulaiman alaihissalam) yang pertama sudah terkabulkan, sedangkan permohonan yang ketiga aku berharap terkabulkan pula". HR. Nasa'i dan Ibnu Majah yang dinilai shahih oleh Albani.

Saudara-saudara sesama muslim!

Nilai-nilai luhur dan istimewa yang melekat pada kota Yerusalem dan Masjidil Aqsha dalam pandangan Islam, telah dijelaskan secara terpisah oleh para ulama sejak beberapa abad yang lalu dalam karya tulis mereka secara susul menyusul. Sejumlah ulama Islam menulis secara terpisah tentang keutamaannya : antara lain

Bahauddin Ibnu Asakir dalam karyanya : "al-Jami' al-Mustaqsha fi fadhailil masjidil aqsha", Aminuddin Ibnu Hibatullah as-Syafi'i dalam karyanya : "Kitabul Unsi fi fadhailil-qudsi", Burhanuddin al-Fazari dalam karyanya :"Ba'itsun nufus ila ziyaratil-qudsi almahrus", Syihabuddin Ahmad bin Muhammad al-Maqdisi dalam karyanya : "Mutsirul-Gharam ila ziyaratil-qudsi wa as-Syam", al-Husen al-Husaeni dalam karyanya, : "al-Raudh al-Mughras fi Fadhailil Baitil-Muqaddas", Ibnul-Jauzi dalam karyanya, : "Fadhailul-Quds" dan As-Suyuthi dalam karyanya, : "Ittihaful Akhsha bi Fadhailil-Masjidil Aqsha".

Dari sinilah seluruh kaum muslimin bersepakat tidak akan mengakui langkah apapun yang dapat mengganggu isu kota Yerusalem dan Masjidil Aqsha, mengingat statusnya sebagai tempat suci yang tidak boleh digannggu dalam kondisi apapun.

Tindakan seperti yang terjadi itu hanyalah membuat umat Islam semakin teguh pendirian dan bersikukuh dalam menuntut hak-hak mereka yang sah sesuai prinsip-prinsip dasar yang ada untuk menegakkan kebenaran, mencegah kesemena-menaan dan membela mereka yang teraniaya sebagaimana yang diamanatkan dalam ketentuan hukum syariat dan undang-undang hukum internasional.

Dunia sekarang menganggap langkah-langkah yang diambil saat ini sebagai suatu pelanggaran terhadap resolusi yang telah menjadi konsensus masyarakat internasional yang menyatakan bahwa Yerusalem adalah ibu kota Islam dan salah satu kota suci umat Islam.

Pembelaan persoalan umat tidak cukup dengan orasi pidato berapi-api dengan kata-kata yang memikat hati. Tidak efektif wahai saudara-saudara seagama suatu kutukan dan kemarahan. Tidak pula teriakan kecaman dan pengerahan unjuk rasa. Sudah cukup sering hal itu dilakukan oleh kaum muslimin. Acap kali mereka berdemonstrasi secara susul menyusul. Namun demikian hal itu hanya sebatas reaksi yang tidak mampu merubah tindakan kesemena-menaan atau menghilangkan bahaya. Tidak pula mampu mencegah senjata agresor atau ambisi jahat penjajah. Tetapi harus dengan kembali total kepada Allah dengan doa yang tulus sepenuh hati kepada Tuhan yang Maha perkasa.

Umat Islam hanyalah bisa menang berkat pertolongan Allah lahir dan batin, hanyalah karena perkenanNya dan bantuanNya. Maka ketika umat ini berpegang teguh pada agama Allah, menjunjung tinggi perintahNya dan ketentuan hukumNua, bergerak karena dorongan agama yang menjadi pijakan persoalan Masjidil Aqsha, ketika itulah baru terwujud penyelesaian yang sukses dan solusi yang efektif. Allah berfirman :

"Jika kalian menolong agama Allah, pastilah Allah menolong kalian dan memantapkan derap langkah kalian".

Kaum muslimin !

Ketika hati umat ini terkendalikan oleh Al-Qur'an dan Sunnah, didukung dengan bukti-bukti nyata di lapangan dalam berbagai aspek kehidupan, maka ketika itulah kaum muslimin tidak terjatuh dalam keterpurukan dan tidak akan tertimpa kenistaan dan kehinaan. Firman Allah.

"Janganlah merasa rendah diri dan janganlah bersedih hati, sedangkan kalian adalah lebih unggul, jika memang kalian orang-orang yang beriman".

Sudah satnya bagi kaum muslimin terutama saudara-saudara kita di Palestina yang sedang bergolak menghadapi tantangan yang mengancam keamanan warga mereka agar menjalin persaudaraan yang dilandasi ketulusan dan ketakwaan. Hendaklah mereka berdamai atas dasar agama dan visi akhirat. Hendaklah mereka meninggalkan perbedaan dan perpecahan. Hendaklah mereka keluar dari permusuhan untuk beralih ke medan persaudaraan dan persatuan, dari api perseteruan menuju cahaya ketulusan, dari sikap pertentangan dan percekcokan menuju sikap toleransi dan kerukunan.

Hendaklah mereka mengesampingkan kepartaian dan fanatisme golongan untuk segera masuk dalam semangat persaudaraan islam dan kasih sayang keimanan. Firman Allah :

"Taatlah kepada Allah dan rasulNya. Janganlah kalian saling bercekcok sehingga kalian menjadi gentar dan kehilangan kewibawaan. Bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar".

Ketika kaum muslimin dalam realita kehidupan telah mempraktekkan misi Islam secara penuh tanpa pengurangan, lalu mereka menerapkan hukum Islam secara menyeluruh dan mengamalkannya lahir batin sehingga mereka hidup dalam Islam dan untuk Islam, maka upaya mereka tidak akan mengalami kegagalan, segenting apapun persoalan yang mereka hadapi, tidak akan gelap jalan dan akses yang mereka lalui ke depan, sebesar apapun bencana yang menimpa mereka, selagi mereka berada pada jalur Islam dan menerapkan ketentuan hukumnya serta mengikuti dan berpegang teguh pada sunah nabi –shallallahu alaihi wa sallam-. Firman Allah :

“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman”. Qs. Alhaj:38

Jika tidak demikian, maka selagi umat ini terhempas oleh kobaran api syahwat dan kemewahan hidup yang melalaikan serta terombang-ambing ombak kesenangan nafsu yang menyimpang dan kerancuan arah yang tendensius, maka akan bertubi-tubi bencana kesombongan, gelombang bencana dan banjir petaka dengan segala ragamnya yang datang menerpa mereka. Firman Allah:

“Apapun musibah yang menimpa kalian, hanyalah disebabkan oleh perbuatan tangan-tangan kalian. Namun Allah memaafkan banyak dari kalian”. Qs. As-Syura :30

Allah berfirman tentang perang Uhud.

“Mengapa ketika kalian ditimpa musibah, yang sebelumnya kalian telah menimpakan kekalahan dua kali lipat, kalian berkata: "Darimanakah datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) diri kalian sendiri". Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. Qs. Ali Imran :165

Kaum muslimin sekalian:

Umat Islam harus meyakini seyakin-yakinnya bahwa tidak ada yang dapat mengentaskannya dari keadaan krisis yang mencekiknya, tidak ada yang mampu menyelamatkannya dari kondisi terpuruknya kecuali kehidupan Islam yang benar-benar dilandasi akidah tauhid murni dan pengamalan terhadap petunjuk Al-Qur’an dan sunah secara benar sesuai pemahaman ulama salaf.

Itulah pondasi yang kokoh dan dasar yang teguh untuk mencapai kejayaan, kedaulatan, kemenangan dan superioritas. Firman Allah :

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. Qs.Al-An’am:82

Itulah janji yang pasti dan pemberitaan yang benar.

“Dan sudah pasti Kami menolong orang-orang yang beriman”. Qs. Ar-Rum:

“Kekuatan itu hanyalah milik Allah, milik Rasul-Nya dan milik orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahui”.Qs.Al-Munafiqun:1

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman”. Qs.Almukminun:1

Kaum muslimin sekalian:

Adalah suatu kewajiban bagi seluruh kaum muslimin sesuai tanggung jawab mereka untuk membela isu sentral ini, yaitu persoalan Masjidil Aqsha, Yerusalem dan negara Palestina, bertolak dari Islam murni, dengan kesatuan yang efektif, pergerakan yang profesional agar membuahkan hasil yang positif dan mencapai sasaran yang didambakan.

“Katakanlah, bekerjalah, maka Allah akan melihat hasil kerja kalian bersama rasulNya dan orang-orang yang beriman”.

Maka perlu ada ketajaman mata hati dan kearifan prima sehingga umat ini mampu menghadapi tantangan dengan segala ragamnya dalam koridor saling bahu membahu, kerja sama dan tolong menolong; bukan saling bertengkar dan saling menyalahkan yang justru membuat diri mereka terperangkap. Dengan cara demikian, umat ini mampu menangkal arogansi kaum perampas hak dan mampu meraih kemenangan secara meyakinkan.

Perlu melihat persoalan umat ini secara cermat untuk melepaskan mereka dari lingkaran emosional menuju arena pemikiran yang mantap dan tindakan nyata yang berimbang dalam suatu sistem penyatuan berbagai upaya yang tulus dengan koordinasi yang akurat terhadap berbagai prinsip yang mendasar, bertitik tolak dari rambu-rambu agama Islam yang bijak dan karakteristik hukum syariat yang diamanatkan oleh pemimpin para nabi dan rasul untuk mengantar dunia seluruhnya ke pantai kearifan, keamanan, kebahagiaan, kerukunan dan kedamaian.

Perlu penyederhanaan upaya yang dapat dilakukan umat ini untuk menghadapi tantangan, yaitu dengan bahasa komunikasi yang membungkam lawan, dan dialog yang mampu mengekangnya, jauh dari bahasa pertentangan, jauh dari simbul-simbul kebangsaan, fanatisme golongan, dan agenda-agenda regional. Semua itu hanya membuat umat ini memetik keburukan dan penderitaan belaka.

“kemudian mereka menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka”. Qs. Almukminun : 53

Kita harus merespon seruan Allah :

“Sesungguhnya agama tauhid ini adalah agama kalian; agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku”. Qs.Al-Anbiya: 92

Khotbah Kedua

Negeri dua tanah suci; pemerintah dan rakyatnya, setiap waktu dan kesempatan mempunyai sikap yang terhormat dan tindakan yang cemerlang terhadap setiap isu keislaman dan Arab, lebih-lebih isu Palestina.
Sikap pemerintah negeri ini terhadap persoalan Palestina tetap tegas, tidak tergoyahkan. Sikap itu telah digariskan dalam dasar-dasar dan skala prioritas menyangkut upaya-upaya dalam menangani berbagai kemungkinan yang akan terjadi, terutama terkait persoalan ekonomi dan politik.

Dalam era pemerintahan Pelayan dua kota suci Raja Salman, dunia telah menyaksikan adanya perhatian khusus dari beliau terhadap perjalanan negeri ini sebagai persoalan Islam sebelum persoalan bangsa Arab.

Negeri ini melihat adanya tanggung jawab yang harus dipertanggung jawabkan di hadapan Tuhan. Karena itu logis mendapat kehormatan mengembannya dengan pertimbangan misi keislamannya dan kedudukannya yang mendunia.

Oleh sebab itu, tidak ada tempat untuk pelelangan paksa bagi pihak yang menafikan jasa-jasa baik negeri ini, dan bagi setiap orang yang mengingkari, orang yang centang perenang dan orang yang membuat keraguan dari kalangan bangsa sendiri terhadap upaya-upaya negeri ini.

Hendaklah mereka takut kepada Allah dan menyadari bahwa penggalangan kekuatan gila-gilaan yang merongrong negeri dua kota suci ini sesungguhnya adalah merongrong ibu kota Islam sebagai pembawa bendera pertahanan Islam.

Handaklah mereka tahu bahwa dengan penggalangan kekuatan itu, mereka menipu diri dan memperdayakan bangsa mereka sendiri.

“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri tanpa mereka sadari”. Qs. Al-Baqarah: 9

Hendaklah mereka sadar bahwa perjalanan pembangunan negeri ini bertumpu pada Islam; tidak merasa gede rasa oleh pujian pihak yang memuji atau kecil hati oleh pengingkaran dan reduksi pihak yang mendengki dan mencari kesempatan.

Sesungguhnya Allah Maha mengetahui maksud yang terpendam.

=== Doa Penutup ===

Khotbah Jumat, Masjid Nabawi, 27 Rabiul Awal 1439 H
Khotib : Syekh Dr.Husen Alu As-Syekh hafidzahullah
Baca selengkapnya »
Khutbah Jumat: ๐Ÿ’ชAl Aqsha Memanggil ๐Ÿ’ช

Khutbah Jumat: ๐Ÿ’ชAl Aqsha Memanggil ๐Ÿ’ช

‎ุฅِู†َّ ุงู„ْุญَู…ْุฏَ ู„ِู„َّู‡ِ، ู†َุญْู…َุฏُู‡ُ، ูˆَู†َุณْุชَุนِูŠู†ُู‡ُ، ูˆَู†َุณْุชَุบْูِุฑُู‡ُ، ูˆَู†َุนُูˆุฐُ ุจِุงู„ู„َّู‡ِ ู…ِู†ْ ุดُุฑُูˆุฑِ ุฃَู†ْูُุณِู†َุง، ูˆَุณَูŠِّุฆَุงุชِ ุฃَุนْู…َุงู„ِู†َุง
‎ู…َู†ْ ูŠَู‡ْุฏِู‡ِ ุงู„ู„َّู‡ُ ูَู„ุงَ ู…ُุถِู„َّ ู„َู‡ُ، ูˆَู…َู†ْ ูŠُุถْู„ِู„ْ ูَู„ุงَ ู‡َุงุฏِูŠَ ู„َู‡ُ، ูˆَุฃَุดْู‡َุฏُ ุฃَู†ْ ู„ุงَ ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„ุงَّ ุงู„ู„َّู‡ُ ูˆَุญْุฏَู‡ُ ู„ุงَ ุดَุฑِูŠْูƒَ ู„َู‡ُ، ูˆَุฃَุดْู‡َุฏُ ุฃَู†َّ ู…ُุญَู…َّุฏًุง ุนَุจْุฏُู‡ُ ูˆَุฑَุณُูˆู„ُู‡ُ
‎ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ุงุชَّู‚ُูˆุง ุงู„ู„َّู‡َ ุญَู‚َّ ุชُู‚َุงุชِู‡ِ ูˆَู„ุงَ ุชَู…ُูˆุชُู†َّ ุฅِู„ุงَّ ูˆَุฃَู†ْุชُู…ْ ู…ُุณْู„ِู…ُูˆู†َ
‎ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„ู†َّุงุณُ ุงุชَّู‚ُูˆุง ุฑَุจَّูƒُู…ُ ุงู„َّุฐِูŠ ุฎَู„َู‚َูƒُู…ْ ู…ِู†ْ ู†َูْุณٍ ูˆَุงุญِุฏَุฉٍ ูˆَุฎَู„َู‚َ ู…ِู†ْู‡َุง ุฒَูˆْุฌَู‡َุง ูˆَุจَุซَّ ู…ِู†ْู‡ُู…َุง ุฑِุฌَุงู„ุงً ูƒَุซِูŠุฑًุง ูˆَู†ِุณَุงุกً ูˆَุงุชَّู‚ُูˆุง ุงู„ู„َّู‡َ ุงู„َّุฐِูŠ ุชَุณَุงุกَู„ُูˆู†َ ุจِู‡ِ ูˆَุงู„ุฃَุฑْุญَุงู…َ ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ูƒَุงู†َ ุนَู„َูŠْูƒُู…ْ ุฑَู‚ِูŠุจًุง
‎ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ุงุชَّู‚ُูˆุง ุงู„ู„َّู‡َ ูˆَู‚ُูˆู„ُูˆุง ู‚َูˆْู„ุงً ุณَุฏِูŠุฏًุง ูŠُุตْู„ِุญْ ู„َูƒُู…ْ ุฃَุนْู…َุงู„َูƒُู…ْ ูˆَูŠَุบْูِุฑْ ู„َูƒُู…ْ ุฐُู†ُูˆุจَูƒُู…ْ ูˆَู…َู†ْ ูŠُุทِุนِ ุงู„ู„َّู‡َ ูˆَุฑَุณُูˆู„َู‡ُ ูَู‚َุฏْ ูَุงุฒَ ูَูˆْุฒًุง ุนَุธِูŠู…ًุง
‎ุฃَู…َّุง ุจَุนْุฏُ : ูَุฅِู†َّ ุฎَูŠْุฑَ ุงู„ْุญَุฏِูŠุซِ ูƒِุชَุงุจُ ุงู„ู„َّู‡ِ, ูˆَุฎَูŠْุฑَ ุงู„ْู‡َุฏْูŠِ ู‡َุฏْูŠُ ู…ُุญَู…َّุฏٍ، ูˆَุดَุฑَّ ุงู„ุฃُู…ُูˆุฑِ ู…ُุญْุฏَุซَุงุชُู‡َุง، ูˆَูƒُู„َّ ู…ُุญْุฏَุซَุฉٍ ุจِุฏْุนَุฉٌ، ูˆَูƒُู„َّ ุจِุฏْุนَุฉٍ ุถَู„ุงَู„َุฉٌ، ูˆَูƒُู„ُّ ุถَู„ุงَู„َุฉٍ ูِูŠ ุงู„ู†َّุงุฑِ

Kaum muslimin A'azzakumullah

Tahukah kita apa dan dimana kota Al Quds Yerussalem , yang dengan ponggahnya Amerika hendak pindahkan kedutaannya ke kota itu yang menegaskan pencaplokan dan penjajahan Zionis Israel atas Palestina dan tanah suci ke tiga kaum muslimin.

Al Quds Yerusalem bukanlah sekedar kota administratif , yang kebetulan terletak di jantung Palestina .,

Namun Al Quds Yerusalem adalah sejarah

Namun Al Quds Yerusalem adalah izzah dan harga diri

Namun Al Quds Yerusalem adalah pertanda eksistensi

Namun Al Quds Yerusalem adalah Masjidil Aqsha , tempat Isra' nya Nabi kita yang mulia Baginda Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wasallam , Allah Tabaraka wata'ala berfirman :

ุณُุจْุญَุงู†َ ุงู„َّุฐِูŠ ุฃَุณْุฑَู‰ٰ ุจِุนَุจْุฏِู‡ِ ู„َูŠْู„ًุง ู…ِّู†َ ุงู„ْู…َุณْุฌِุฏِ ุงู„ْุญَุฑَุงู… ุฅِู„َู‰ ุงู„ْู…َุณْุฌِุฏِ ุงู„ْุฃَู‚ْุตَู‰ ุงู„َّุฐِูŠ ุจَุงุฑَูƒْู†َุง ุญَูˆْู„َู‡ُ ู„ِู†ُุฑِูŠَู‡ُ ู…ِู†ْ ุขูŠَุงุชِู†َุง ۚ ุฅِู†َّู‡ُ ู‡ُูˆَ ุงู„ุณَّู…ِูŠุนُ ุงู„ْุจุตูŠุฑ
  “Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kekuasaan) kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (al-Isra’ : 1)
Al Aqsha Memanggil

Sejak tahun 16 Hijriah saat Amirul Mu'minin Khalifah Umar bin Al Khattab - radhiyallahu anhu membebaskan kota Al Quds Yerusalem dan kota itu berada di pangkuan  kaum muslimin , maka ia menjadi barometer kejayaan atau keterpurukan umat Islam

Kapan Al Quds berada dalam genggaman kekuasaan kaum muslimin , maka itu tanda kejayaan umat ini , dan kapan ia berada dalam kekuasaan kuffar maka itu tanda keterpurukan umat ini . Demikian senantiasa dalam putaran roda sejarah .

Tahukah kita bahwa Al Quds termasuk Masjidil Aqsha di dalamnya pernah dikuasai kaum salibis selama hampir 90 tahun , yaitu dari tahun 492 - 583 H / 1099 – 1187  M

Selama itu sebagian  dari Masjidil Aqsha mereka jadikan kandang kuda , sebagian catatan sejarah mengatakan mereka jadikan kandang babi .

Izzah dan kemulian kembali diraih kaum muslimin setelah perjuangan panjang Nuruddin Az Zangki
Yang dituntaskan Shalahuddin Al Ayyubi - rahimahumullah  dengan merebut kembali Al Aqsha .

Kaum Muslimin Rahimakumullah...

Setelah beratus tahun pembebasan itu ternyata pada tahun 1948 M muncul kaum Zionis Yahudi yang berlindung dibawah bendera penjajah Israel dengan dukungan penuh negara Amerika , Inggris dan negara- negara Barat
Berdirilah negara Zionis ini , menjajah tanah suci Al Quds dengan segala kekejaman yg tidak bisa dibayangkan oleh nurani manusia ..

Allahul Musta'an

Sungguh kenyataan sejarah yg menyakitkan , namun kondisi justru membangkitkan perlawanan yang heroik dari anak- anak Palestina dan putera - putera Al Aqsha hingga menjadi momok yang sangat menakutkan bagi penjajah Zionis ini.

Hari ini mereka demikian ponggah dengan angkuh hendak menjadikan Al Quds sebagai Ibukota negara lacur Zionis Israel .

Sesungguhnya mereka sedang menggali kuburannya sendiri

Lihatlah biiznillah peristiwa ini Akan menjadi titik balik sejarah , yang akan membangkitkan para "shalahuddin" yang akan datang semua penjuru dunia

ุฃู‚ูˆู„ ู‚ูˆู„ูŠ ู‡ุฐุง ูˆ ุฃุณุชุบูุฑ ุงู„ู„ู‡ ู„ูŠ ูˆ ู„ุณุขุฆุฑ ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ุฅู†ู‡ ู‡ูˆ ุงู„ุบููˆุฑ ุงู„ุฑุญูŠู…

Khutbah Kedua

ุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ุฑุจ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู† ูˆ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆ ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ู‰ ุฃุดุฑู ุงู„ู…ุฑุณู„ูŠู† ูˆ ุนู„ู‰ ุขู„ู‡ ูˆ ุตุญุจู‡ ุฃุฌู…ุนูŠู† ، ุฃู…ุง ุจุนุฏ
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah ,,, jika menengok sejarah saat para Sahabat Rasulullah memimpin penaklukan negeri Syam termasuk Palestina hingga berakhirnindah dengan penaklukan Al Quds dengan penuh damai dan aman .

Kita mungkin bertanya , mengapa hari ini ,,, kemenangan  itu seakan "terlambat"??

Jawabannya , mungkin ini adalah ujian dari Allah kepada kaum
Muslimin ... atau mungkin ada yg kurang dalam keislaman kita hingga pertolongan dan kemenanfan belum tiba ...

Saat shaluhuddin memeriksa pasukan dan mendapati mereka tekun tilawah Al Quran dan shalat malam , maka keyakinan akan membuncah pada hatinya ...

Ya,,, kemenangan hanya dapat diraih dengan pertolongan Allah , dan pertolongan Allah akan turun saat kita teguh menjalankan agamanya

‎ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ุฅِู† ุชَู†ุตُุฑُูˆุง ุงู„ู„َّู‡َ ูŠَู†ุตُุฑْูƒُู…ْ ูˆَูŠُุซَุจِّุชْ ุฃَู‚ْุฏَุงู…َูƒُู…ْ
Artinya : “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad : 7)

‎ูˆَู„َูŠَู†ุตُุฑَู†َّ ุงู„ู„َّู‡ُ ู…َู† ูŠَู†ุตُุฑُู‡ُ ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ู„َู‚َูˆِูŠٌّ ุนَุฒِูŠุฒٌ
Artinya : “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa,” (QS. Al Hajj : 40)

‎ูˆَู„ِูŠَุนْู„َู…َ ุงู„ู„َّู‡ُ ู…َู† ูŠَู†ุตُุฑُู‡ُ ูˆَุฑُุณُู„َู‡ُ ุจِุงู„ْุบَูŠْุจِ ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ู‚َูˆِูŠٌّ ุนَุฒِูŠุฒٌ
Artinya : “dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya. Padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al Hadid : 25)

Ayat yang terakhir ini mengisyaratkan bahwa pertolongan Allah menagih perjuangan dan pengorbanan kita dengan tenaga , keringat dan darah

Allahu Akbar

Akhirnya marilah dihari yang mulia ini kita sisihkan hati kita untuk al Aqsha , untuk Al Quds dengan doa kepada pemiliknya yang sejati Allahu Rabbul Izzati untuk menjaganya dan mengembalikannya seutuhnya kepada kaum muslimin, ummat terpilih yg mewarisi tanah suci.

Oleh ; Muhammad Ikhwan Jalil
Baca selengkapnya »
KEWAJIBAN KITA MEMBELA MUSLIM ROHINGNYA

KEWAJIBAN KITA MEMBELA MUSLIM ROHINGNYA

Khuthbah I

Amma badu:

Maasyiral muslimin, bertakwalah kepada Allah (, sebab takwa kepada-Nya adalah cara terbaik untuk menolak balak dan mengangkat kehinaan.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ู…َุนَ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุงุชَّู‚َูˆْุง ูˆَุงู„َّุฐِูŠู†َ ู‡ُู…ْ ู…ُุญْุณِู†ُูˆู†َ
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan mereka yang berbuat ihsan.” (QS. Al-Nahl: 128)

Ma’asyiral muslimin, Di zaman yang penuh ujian dan cobaan ini kita perlu mengingatkan tentang hakikat ajaran Islam yang sangat mendasar, yaitu wajibnya saling menolong diantara kaum muslimin, dan wajibnya membela saudara muslim yang terzhalimi dan tertindas.
MUSLIM ROHINGNYA

Apabila kita memiliki kemampuan untuk membela maka kita wajib membela dengan cara yang kita mampu.

Allah ( berfirman:

ูˆَุฅِู†ِ ุงุณْุชَู†ْุตَุฑُูˆูƒُู…ْ ูِูŠ ุงู„ุฏِّูŠู†ِ ูَุนَู„َูŠْูƒُู…ُ ุงู„ู†َّุตْุฑُ ุฅِู„َّุง ุนَู„َู‰ ู‚َูˆْู…ٍ ุจَูŠْู†َูƒُู…ْ ูˆَุจَูŠْู†َู‡ُู…ْ ู…ِูŠุซَุงู‚ٌ ูˆَุงู„ู„َّู‡ُ ุจِู…َุง ุชَุนْู…َู„ُูˆู†َ ุจَุตِูŠุฑٌ
“Dan jika mereka meminta tolong kepadamu dalam agama maka kamu wajib menolong, kecuali atas kaum yang terdapat perjanjian antara kamu dan mereka. Sedangkan Allah melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Anfal: 72)

Jika kita tidak saling menolong, maka Allah ( menjadikan kita lemah dan hina dan kekufuran dan orang kafir merajalela.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

ูˆَุงู„َّุฐِูŠู†َ ูƒَูَุฑُูˆุง ุจَุนْุถُู‡ُู…ْ ุฃَูˆْู„ِูŠَุงุกُ ุจَุนْุถٍ ุฅِู„َّุง ุชَูْุนَู„ُูˆู‡ُ ุชَูƒُู†ْ ูِุชْู†َุฉٌ ูِูŠ ุงู„ْุฃَุฑْุถِ ูˆَูَุณَุงุฏٌ ูƒَุจِูŠุฑٌ
“Dan orang kafir itu sebagian mereka menolong sebagian yang lain, maka jika kalian tidak melakukannya (saling menolong dalam agama) maka aka nada fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar. (QS. Al-Anfal: 73)

Sebagian ahli ilmu menyebut bahwa fitnah disini adalah fitnah perang, pembunuhan terhadap muslim, pengusiran, dan penangkapan. Sedangkan kerusaan yang besar adalah munculnya syirik dan keburukan di permukaan.

Maasyiral muslimin ramihaullah.

Orang muslim selalu berbagi rasa dengan saudaranya, sedih karena sedihnya, senang karena senangnya. Orang muslim tidak membiarkan saudaranya, tidak menelantarkannya, tidak menyerahkannya kepada musuh. Tetapi wajib peduli, memperhatikan nasibnya, membelanya dan menolongnya.

Nabi shallallahu alahi wa sallam bersabda:

ู…َุง ู…ِู†ِ ุงู…ْุฑِุฆٍ ูŠَุฎْุฐُู„ُ ู…ُุณْู„ِู…ًุง ูِูŠ ู…َูˆْุทِู†ٍ ูŠُู†ْุชَู‚َุตُ ูِูŠู‡ِ ู…ِู†ْ ุนِุฑْุถِู‡ِ ูˆَูŠُู†ْุชَู‡َูƒُ ูِูŠู‡ِ ู…ِู†ْ ุญُุฑْู…َุชِู‡ِ ุฅِู„َّุง ุฎَุฐَู„َู‡ُ ุงู„ู„َّู‡ُ ูِูŠ ู…َูˆْุทِู†ٍ ูŠُุญِุจُّ ูِูŠู‡ِ ู†ُุตْุฑَุชَู‡ُ، ูˆَู…َุง ู…ِู†ِ ุงู…ْุฑِุฆٍ ูŠَู†ْุตُุฑُ ู…ُุณْู„ِู…ًุง ูِูŠ ู…َูˆْุทِู†ٍ ูŠُู†ْุชَู‚َุตُ ูِูŠู‡ِ ู…ِู†ْ ุนِุฑْุถِู‡ِ ูˆَูŠُู†ْุชَู‡َูƒُ ูِูŠู‡ِ ู…ِู†ْ ุญُุฑْู…َุชِู‡ِ ุฅِู„َّุง ู†َุตَุฑَู‡ُ ุงู„ู„َّู‡ُ ูِูŠ ู…َูˆْุทِู†ٍ ูŠُุญِุจُّ ูِูŠู‡ِ ู†ُุตْุฑَุชَู‡ُ
“Tidak ada seorang yang membiarkan seorang muslim di tempat dia dihinakan kehormatannya, dan dilanggar kemuliaannya (hak-haknya), melainkan Allah pasti menghinakannya di tempat yang dia ingin mendapatkan pertolongan. Dan tidak ada seorang yang menolong seorang muslim di tempat dia dihinakan kehormatannya dan dilanggar kemuliaannya (hak-haknya) melainkan Allah pasti menolongnya di tempat yang dia ingin ditolong di dalamnya. (HR. Abu Daud, Thabrani dalam al-Ausath, dihasankan sanadnya oleh Haitsami)

Rasulullah shallallahu alahi wa sallam bersabda:

ุงู„ู…ُุณْู„ِู…ُ ุฃَุฎُูˆ ุงู„ู…ُุณْู„ِู…ِ، ู„َุง ูŠَุฎُูˆู†ُู‡ُ ูˆَู„َุง ูŠَูƒْุฐِุจُู‡ُ ูˆَู„َุง ูŠَุฎْุฐُู„ُู‡ُ
Orang muslim itu saudara muslim lainnya, tidak mengkhianatinya, tidak mendustainya dan tidak menghinakannya.” (HR Turmudzi)

ุงู„ْู…ُุณْู„ِู…ُูˆู†َ ุชَุชَูƒَุงูَุฃُ ุฏِู…َุงุคُู‡ُู…ْ. ูŠَุณْุนَู‰ ุจِุฐِู…َّุชِู‡ِู…ْ ุฃَุฏْู†َุงู‡ُู…ْ، ูˆَูŠُุฌِูŠุฑُ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ْ ุฃَู‚ْุตَุงู‡ُู…ْ، ูˆَู‡ُู…ْ ูŠَุฏٌ ุนَู„َู‰ ู…َู†ْ ุณِูˆَุงู‡ُู…ْ
“Orang muslim itu nilai darahnya sama (dalam qishah dan diyat), yang paling rendah bisa berjalan membawa tanggungan mereka, dan yang paling jauh melindungi (memberikan jiwar/perlindungan) atas mereka. Mereka adalah satu tangan atas selain mereka. (HR. Abu Daud, shahih)

Maasyiral muslimin.

Kita bangsa Indonesia sekarang ini (Akhir Agustus dan awal September 2017) dikagetkan dengan adanya genosida terbaru terhadap umat Islam etnis Rohingya di Arakan Utara. Kondisi sangat mengenaskan dan memilukan. Betapa tidak, genosida bulan Oktober-Nopember belum bisa mengatasinya, kini disusul oleh genosida baru, yang katanya memasuki tahap akhir. 

Genosida adalah the deliberate and systematic destruction of a racial, political, or cultural group (penghancuran yang disengaja dan sistematis dari kelompok ras, politik, atau budaya). Bangsa Rohingya yang 100 % muslim, penduduk asli Arakan telah lama mengalami proses genosida oleh militer Burma/Myanmar dan Ekstrimis Budha.

Tahun 1942 M (75 tahun lalu), Pembantaian besar-besaran teradap umat Islam. 100.000 muslim dibantai, dan ratusan ribu hijrah.

Tahun 1962 M kudeta militer dan berdirilah pemerintah Budha Sosialis (Komunis). Umat Islam diusir dari pekerjaannya yang ada di ketentaraan dan dari jabatan yang lain .

Ini babak kekejaman sampai sekarang.

Tahun 1978 M, pengusiran besar besaran terhadap umat Islam. Hampir 500.000 muslim diusir dari kampungnya, 40.000 diantaranya meninggal.

Tahun 1982 M, ditetapkan Undang-undang kewarganegaraan baru, yaitu mencabut kewarganegaraan bangsa Muslim Rohingya, sehingga menjadi bangsa asing di negerinya sendiri, tanpa KTP, tanpa Paspor, tanpa hak apapun, lebih buruk dari budak.

1988, pengusiran 150.000 muslim disebabkan pembangunan desa percontohan untuk Budha, untuk mengubah demografi.

1989 Burma diganti jadi Myanmar, Rangon jadi Yangon, setelah 1988 membantai 3000 demonstran anti Junta militer

Tahun 1991 M, pengusiran besar besaran yang kedua (500.000 muslim) karena UU1982, akibat pembatalan hasil pemilu yang memenangkan oposisi sebab muslim memberikan suara kepada partai nasional demokrasi (NLD)

1994 perlakuan keji kepada para ulama dan umat islam secara umum oleh NASAKA (Polisi perbatasan).

Tahun 2010 M, Myanmar menjadi pemerintah sipil, hanya secara formalitas, juga pemilu hanya formalitas, karena itu ditolak oleh PBB.

Tahun 2012 M, pembantaian para da'i dan pembantaian-pembantaian susulan (20.000 muslim), pembakaran dan pengusiran. Di Kota Sittwe saja ada 140.000 muslim hidup tidak layak dalam penjara besar yang disebut kamp-kamp pengungusiran, setelah rumah, tanah dan tokonya dibakar dan diambil alih oleh pemerintah dan kaum Budha.

Tahun 2013, “GERAKAN 969 BUDDHISME” pimpinan Ashin Wirathu (pemimpin 2.500 biksu di biara Mandalay), yang didukung oleh militer mengubah masjid bersejarah di Akyab yang dibangun tahun 1727 M menjadi pagoda dan kembali melakukan kejahatannya kepada umat Islam, hingga sampailah pengungsi Rohingya di Indonesia tahun 2013.

Tahun 2015 (Mei) gelombang pengungsi Rohingya dan Bangladesh sampai di Aceh, Indonesia. Ini babak baru dan harapan baru bagi bangsa Muslim Rahingya yang dijajah dan ditindas selama 231 tahun (waktu itu).

Jargon kampanye Gerakan 969 Budhisme: “Burma kosong dari umat Islam th 2025, benar-benar akan diwujudkan, khususnya dengan adanya genosida tahun 2016 dan 2017!!

4 Desember 2016 dilaporkan: “Di seluruh wilayah Arakan ada 1873 desa. 25 desa saat itu telah dibakar.

Sejak tahun 1962, sudah 895 desa muslim yang dihancurkan lalu ditempati Budha.

Laporan terakhir dari Markaz Rohingya Internasional: Selama Okt-Nop, 2000 dan 1923 rumah dibakar. 200 muslimah diperkosa, muslim yang Syahid- lebih dari 500 orang, lebih dari 2000 dinyatakan hilang, korban luka 490 muslim.

Sejak Oktober 2016 ada 100.000 muslim terusir melarikan diri, lebih dari 100.000 yang lain yang melarikan diri pada kerusuhan 2012, kini di Bangladesh ada 400.000 pengungsi Rohingya, hampir 100.000 anak-anak muslim Rohingya terancam kelaparan dan kematian.

Kini tragedy 25 Agustus 2017, hampir 100.000 muslim terusir melarikan diri, 25 desa muslim dihanguskan, entah berapa yang wafat dan yang hilang, tidak ada yang bisa mengitung sebab tidak ada wartawan yang boleh masuk.

Maasyiral muslimin rahimahullah.

Ketahuilah bahwa kita sangat-terlambat, sebab tidak ada akses berita tentang saudara kita umat islam Rohingnya, bahkan banyak berita yang menyatakan bahwa berita penyiksaan itu bohong, atau dibalik bahwa itu adalah karena kesalahan umat Islam, sehingga kita pun tidak berbuat-apa-apa, padahal sejatinya penjajahan dan penindasan itu sudah berlangsung lama sejak tahun 1784 M, artinya selama 233 tahun yang lalu, namun kita baru percaya setelah lebih dari dua juta muslim rahingnya hidup diluar negrinya, dan lebih dari 500.000 mati teraniaya rahimahumullah.

Oleh karena itu, pembelaan di tingkat pertama ini adalah memberikan informasi yang benar tentang kezhaliman yang mereka alami.

Berikut ini adalah ringkasan dari tragedi yang dihadapi oleh umat Islam di sana oleh pemerintah militer Burma:


Pertama: penghapusan kewarganegaraan Rohingya Muslim di Arakan berdasarkan undang-undang yang mereka buat tahun 1982 M. Mereka dianggap Bengali yaitu imigran gelap dari Bangladesh.

Maasyiral muslimin,

Ketahuilah bahwa Islam masuk Arakan sejak abad pertama Hijriyyah, zaman sahabat Nabi (, 1400 tahun yang lalu. Islam masuk dibawa oleh para pedagang Arab pimpinan Waqqash bin Malik RA dan sejumlah tokoh Tabiiin.

Kemudian gelombang kedua, Islam dibawa oleh para pedagang Arab Muslim pada abad kedua Hijriyah, tahun 172 H/788 M di masa Khalifah Harun al-Rasyid.

Mereka singgah di Pelabuhan Akyab Ibukota Arakan. Umat Islam terus berkembang di Arakan hingga berdirilah Kerajaan Islam oleh Sultan Sulaiman Syah dan berlanjut hingga 3,5 abad lamanya (1430- 1784 M), dipimpin oleh 48 raja Islam, dan berakhir dengan Raja Sulaim Syah.

Kemudian kerajaan Islam runtuh oleh serbuan umat Budha tahun 1784 M. sejak saat itulah sampai hari ini umat Islam ditindas dan diperlakukan seperti hewan.

Kedua: Mencekal Muslim dari bepergian dan perjalanan baik di dalam negri maupun di luar negeri.

Ketiga: Penangkapan dan penyiksaan Muslim di kamp-kamp penahanan tanpa dosa.

Keempat: Memaksa umat Islam untuk melakukan kerja paksa tanpa upah, seperti pembuatan jalan, penggalian parit di daerah pegunungan di Burma.

Kelima: Pengusiran umat Islam dan penempatan umat Buddha di rumah-rumah mereka.

Keenam: Menyita Wakaf-wakaf umat Muslim dan lahan pertanian mereka.

Ketujuh: Menjarah kekayaan umat Islam, dan mencegah mereka dari mengimpor dan mengekspor atau melakukan kegiatan bisnis.

Kedelapan: Menghalangi umat Islam untuk menjadi pejabat atau pegawai di pemerintahan, dan sebagian kecil dari mereka yang telah mendapatkan kedudukan dalam masa penjajahan Inggris dulu dipaksa untuk mengundurkan diri dari pekerjaan mereka.

Kesembilan: Menghalangi dan merintangi anak-anak Muslim dari menempuh pendidikan di sekolah-sekolah, dan universitas negri.

Kesepuluh: Melarang umat Islam untuk berpartisipasi dalam muktamar dan konferensi Islam International.

Kesebelas: Mulai tahun ini, pemerintah Myanmar mengubah bahasanya, yang tadinya etnis Rohingya disebut kaum minoritas, maka sekarang disebut teroris, sebab berani melawan pembantaian yang dilakukan terhadap mereka.

Keduabelas: banyak umat Islam yang mempercayai bahwa mereka adalah teroris dan militer Myanmar serta ekstrimis Budha yang membantainya adalah benar. Ini tentu musibah di atas musibah.

Oleh karena itu mari kita memperbaiki keadaan ini dengan ilmu dan amal, dengan meluruskan berita yang salah dan dengan panjatan doa, qunut nazilah, dan donasi kemanusiaan serta tekanan-tekanan politis kepada pemerintah Myanmar yang telah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Demikian maasyiral muslimin yang bisa kita sampaikan dalam kesempatan khutbah kali ini.

Semoga apa yang kita sampaikan menggugah hati kita tentang kewajiban kita terhadap saudara kita yang lama kita lupakan dan dihalangi oleh orang-orang yang zhalim untuk berhubungan dengan mereka.
ุฃู‚ูˆู„ ู‚ูˆู„ูŠ ู‡ุฐุง ูˆุงุณุชุบูุฑูˆุง ุฅู†ู‡ ู‡ูˆ ุงู„ุบููˆุฑ ุงู„ุฑุญูŠู…

Khutbah II

(Mukaddimah)

Ma’asyiral muslimin.

Ketahuilah bahwa kezhaliman yang dirasakan oleh umat islam Rohingnya adalah kezhaliman yang ditimpakan kepada kita. Kita semua dizhalimi.

Maka mari bersemangat untuk berdoa bagi kita dan bagi muslim Rohingnya sebab kita semua mazhlum dan doa orang yang mazhlum diijabahi oleh Allah subhanahu wa ta'ala

Nabi shallallahu alahi wa sallam bersabda:

Tiga orang doanya tidak ditolak: orang yang puasa hingga berbuka, imam yang adil dan doa orang yang dizhalimi yang Allah mengangkatnya di atas awan dan dibukakan untuknya pintu-pintu langit. Lalu Allah berkata kepadanya: demi Kemulian-Ku dan keagungan-ku, Aku pasti akan menolongnya walau kemudian. (HR Ahmad.)

Ketahuilah bahwa kezhaliman tidak akan langgeng, pasti sirna dan hancur.
ูˆَุงู„ู„َّู‡ُ ุบَุงู„ِุจٌ ุนَู„َู‰ ุฃَู…ْุฑِู‡ِ ูˆَู„َูƒِู†َّ ุฃَูƒْุซَุฑَ ุงู„ู†َّุงุณِ ู„َุง ูŠَุนْู„َู…ُูˆู†َ
Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya (QS.Yusuf:21)

Mari bershalawat dan berdoa untuk kita dan saudara kita umat Islam khususnya umat Islam Rohingnya:..

Demikian...

Dr. KH. Agus Hasan Bashori, Lc. M.Ag
Baca selengkapnya »
KHUTBAH JUMAT SELAMATKAN AL-AQSHA!

KHUTBAH JUMAT SELAMATKAN AL-AQSHA!

Khutbah Pertama

ุงู„ุณَّู„ุงَู…ُ ุนَู„َูŠْูƒُู…ْ ูˆَุฑَุญْู…َุฉُ ุงู„ู„ู‡ِ ูˆَุจَุฑَูƒَุงุชُู‡ُ
ุงู„ْุญَู…ْุฏُ ู„ู„ู‡ِ ุงู„َّุฐِูŠْ ุญَุจَّุจَ ุฅِู„َูŠْู†َุง ุงْู„ุฅِูŠْู…َุงู†َ ูˆَุฒَูŠَّู†َู‡ُ ูِูŠ ู‚ُู„ُูˆْุจِู†َุง. ูˆَูƒَุฑَّู‡َ ุฅِู„َูŠْู†َุง ุงْู„ูƒُูْุฑَ ูˆَุงْู„ูُุณُูˆْู‚َ ูˆَุงู„ْุนِุตْูŠَุงู†َ. ูˆَุฌَุนَู„َู†َุง ู…ِู†َ ุงู„ุฑَّุงุดِุฏِูŠْู†َ. ูَุถْู„ًุง ู…ِู†ْู‡ُ ูˆَู†ِุนْู…َุฉً، ุณُุจْุญَุงู†َูƒَ ุฑَุจِّูŠ ุณَุจْุญَุงู†َูƒَ، ู„َุง ุนู„َู…َ ู„َู†َุง ุฅِู„ุงَّ ู…َุง ุนَู„َّู…ْุชَู†َุง ุฅِู†َูƒَ ุฃَู†ْุชَ ุงْู„ุนَู„ِูŠْู…ُ ุงู„ْุญَูƒِูŠْู…ُ، ูˆَู„ุงَ ูَู‡ْู…َ ู„َู†َุง ุฅِู„ุงَّ ู…َุง ูَู‡َّู…ْุชَู†َุง ุฅِู†َّูƒَ ุฃَู†ْุชَ ุงู„ْุฌَูˆَّุงุฏُ ุงْู„ูƒَุฑِูŠْู…ُ.

ุฃَุดْู‡َุฏُ ุฃَู†ْ ู„َุง ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„ุงَّ ุงู„ู„ู‡ُ ูˆَุญْุฏَู‡ُ ู„ุงَ ุดَุฑِูŠْูƒَ ู„َู‡ُ، ู„َู‡ُ ุงู„ْู…ُู„ْูƒُ ูˆَุงู„ْู…َู„َูƒُูˆْุชُ، ูˆَู„َู‡ُ ุงู„ْุนِุฒَّุฉُ ูˆَุงู„ْุฌَุจَุฑُูˆْุชُ، ูˆَู‡ُูˆَ ุงْู„ุญَูŠُّ ุงู„َّุฐِูŠْ ู„َุง ูŠَู…ُูˆْุชُ. ูˆَุฃَุดْู‡َุฏُ ุฃَู†َّ ุณَูŠِّุฏَู†َุง ูˆَู†َุจِูŠَّู†َุง ูˆَู…ُุนَู„ِّู…َู†َุง ูˆَู‚َุงุฆِุฏَู†َุง ู…ُุญَู…َّุฏًุง ุนَุจْุฏُ ุงู„ู„ู‡ِ ูˆَุฑَุณُูˆْู„ُู‡ُ. ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَู…َู„َุงุฆِูƒَุชُู‡ُ، ุฅِู†َّ ุงู„ู„ู‡َ ูˆَู…َู„ุงَุฆِูƒَุชَู‡ُ ูŠُุตَู„ُّูˆْู†َ ุนَู„َู‰ ุงู„ู†َّุจِูŠ، ูŠَุงุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„َّุฐِูŠْู†َ ุขู…َู†ُูˆْุง ุตَู„ُّูˆุง ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„ِّู…ُูˆْุง ุชَุณْู„ِูŠْู…ًุง. ูَุฃُุตَู„ِّูŠ ูˆَุฃُุณَู„ِّู…ُ ุนَู„َู‰ ู‡َุฐَุง ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ุงْู„َูƒุฑِูŠْู…ِ، ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِู‡ِ ูˆَุฃْุตْุญَุงุจِู‡ِ ูˆَู…َู†ْ ู†َู‡َุฌَ ู†َู‡ْุญَู‡ُ ูˆَุงุณْุชَู†َّ ุจِุณُู†َّุชِู‡ِ ูˆَุงู‚ْุชَูَู‰ ุฃَุซَุฑَู‡ُ ุฅِู„َู‰ ูŠَูˆْู…ِ ุงู„ุฏِّูŠْู†ِ. ุฃَู…َّุง ุจَุนْุฏُ...

ูَูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„ْู…ُุณْู„ِู…ُูˆْู†َ...! ุฃُูˆْุตِูŠْูƒُู…ْ ูˆَู†َูْุณِูŠ ุจِุชَู‚ْูˆَู‰ ุงู„ู„ู‡ِ ูˆَู‚َุฏْ ูَุงุฒَ ุงْู„ู…ُุชَّู‚ُูˆْู†َ. ูˆَู‚َุฏْ ู‚َุงู„َ ุงู„ู„ู‡ُ ุชَุนَุงู„َู‰ ูِูŠ ู…ُุญْูƒَู…ِ ูƒِุชَุงุจِู‡ِ ุฃَุนُูˆْุฐُ ุจِุงู„ู„ู‡ِ ู…ِู†َ ุงู„ุดَّูŠْุทَุงู†ِ ุงู„ุฑَّุฌِูŠْู…ِ، ุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฑุญู…ู† ุงู„ุฑุญูŠู…، ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงَّู„ุฐِูŠْู†َ ุขู…َู†ูˆْุง ุงุชَّู‚ُูˆุง ุงู„ู„ู‡َ ุญَู‚َّ ุชُู‚َุงุชِู‡ِ ูˆَู„ุงَ ุชَู…ُูˆْุชُู†َّ ุฅِู„ุงَّ ูˆَุงَู†ْุชُู…ْ ู…ُุณْู„ِู…ُูˆْู†َ.

Hadirin Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah…!

Hari ini, kita memenuhi panggilan Allah. Melaksanakan seruan Ikatan Ulama Internasional. Serentak di seluruh dunia untuk bersuara menyelamatkan Masjid Al-Aqsha. Di seluruh masjid-masjid pada shalat Jumat hari ini. Merespon kejahatan kemanusiaan dan penistaan terhadap kesucian umat Islam.

Jumat kemarin, tanggal 14 Juli 2017 Zionis Israel menutup total Masjid Al-Aqsha, Kaum Muslimin dilarang melaksanakan Shalat Jumat dan mengumandangkan adzan. Kejahatan ini adalah pertama dalam sejarah penjajahan Israel selama 50 tahun menguasai Masjid Al-Aqsha, sejak tahun 1967.

Ada orang yang bertanya, “Apa pemicunya, sehingga Masjid Al-Aqsha ditutup oleh Zionis Israel?” Saya tegaskan, tidak ada pemicunya. Penutupan ini merupakan rangkaian besar dari skenario Zionis Israel untuk meruntuhkan Masjid Al-Aqsha secara keseluruhan, yang akan digantikan dengan bangunan yang mereka sebut dengan  “Haikal Sulaiman (Solomon Tample)”.

Skenario ini dimulai dengan mengambil alih Masjid Al-Aqsha tahun 1967, setelah Israel menguasai kota Al-Quds. Hanya dalam 4 hari setelah mereka menguasai Kota Al-Quds, mereka menghancurkan perkampungan Al-Magharibah, tepat berada di sebelah Masjid Al-Aqsha.
SELAMATKAN AL-AQSHA

Setahun berikutnya, tahun 1968, mereka mengambil alih Tembok Buroq, tempat parkir kendaraan Buroq Rasulullah shallallahu alahi wasallam. pada malam Isra’ dan Mi’raj. Setelah mereka menguasai Tembok Buroq ini, mereka mengganti namanya dengan Tembok Ratapan (Hรข’ithu Al-Mabkรข), mereka kemudian merombak Tembok Buroq menjadi tempat peribadatan Yahudi terbesar di Palestina. Mereka berkumpul di tempat ini dengan alasan melaksanakan Ibadah sesuai yang diajarkan nabi-nabi mereka.

Ini adalah bukti kebohongan mereka. Lihat cara beribadah mereka, mengangguk-anggukkan kepala ke arah tembok ratapan. Dari mana mereka cara beribadah seperti itu? Kalau mereka benar-benar keturunan Bani Israel, maka Nabi terakhir yang diutus kepada Bani Israel adalah Nabi Isa a.s. putra Sayyidah Maryam. Nabi Isa a.s. beribadah seperti yang diajarkan ibundanya, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Quran,

ูŠَุง ู…َุฑْูŠَู…ُ ุงู‚ْู†ُุชِู‰ ู„ِุฑَุจِّูƒِ ูˆَุงุณْุฌُุฏِูŠ ูˆَุงุฑْูƒَุนِูŠْ ู…َุนَ ุงู„ุฑَّุงูƒِุนِูŠْู†َ (ุขู„ ุนู…ุฑุงู†: 43)
“Wahai Maryam! Taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’”,
artinya ibadah yang diajarkan Nabi Isa a.s. kepada kaumnya, mirip dengan ibadah kita, ada ruku’ dan ada sujud. Lalu dari mana orang Yahudi yang mengklaim anak cucu Nabi Ya’qub, cara beribadah dengan mengangguk-anggukkan kepala di tembok ratapan. Inilah kedustaan mereka atas nama agama.

Setahun berikutnya, tahun 1969, tepatnya tanggal 21 Agustus, mereka membakar Masjid Al-Aqsha. Sepertiga dari Masjid Al-Aqsha rusak berat, diantaranya mimbar Nuruddin Zenki atau lebih dikenal dengan Mimbar Shalahuddin, pun hancur akibat pembakaran Masjid Kiblat pertama umat Islam ini.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah…!

Tahapan berikutnya, sekenario Zionis Israel untuk menghancurkan Masjid Al-Aqsha adalah, melakukan penggalian terowongan, tepat di bawah Masjid Al-Aqsha. Apa tujuannya? Ada dua tujuan; Pertama, mereka ingin mencari bukti sejarah peninggalan nenek moyang mereka, tetapi mereka tidak menemukan bukti apapun, justeru yang mereka temukan adalah batu pondasi Masjid Al-Aqsha yang merupakan batu tua yang usianya lebih dari 4000 tahun sebelum masehi. Milik penduduk asli Palestina pertama, kaum Kan’aniyun.

Kedua. Mereka menginginkan Masjid Al-Aqsha runtuh. Saat ini Masjid Al-Aqsha seperti bangunan yang berdiri di atas pondasi yang rapuh. Ulama Maqdisiyyun mengatakan, kalau terjadi gempa sederhana di Masjid Al-Aqsha, maka Masjid Suci ini terancam runtuh. Dan inilah skenario Zionis Israel untuk menghancurkan Masjid Suci Umat Islam yang ketiga. Runtuhnya seolah-olah karena faktor alam, karena gempa, tetapi pada hakikatnya sudah direncanakan dengan tahapan yang jelas oleh Zionis Israel.

Tahapan yang ke-empat. Bulan Oktober tahun 2015, Israel memberlakukan UU pembagian Masjid Al-Aqsha. Pembagian ada 2 macam; pembagian berdasarkan waktu dan pembagian berdasarkan tempat. Setiap hari, Masjid Al-Aqsha dikuasai oleh Zionis Israel selama empat jam, dari jam 7-11. Kemudian khusus hari Sabtu diambil alih secara keseluruhan oleh Yahudi, karena hari Sabtu merupakan hari yang dimuliakan Yahudi, sebagaiman kita memuliakan hari Jumat. Dan Zionis Israel terus ingin mencoba menambah waktu menguasai Masjid Al-Aqsha. Dan ini adalah tahapan untuk menguasai Masjid Al-Aqsha secara keseluruhan.

Tahun 2016, Israel memberlakukan UU pelarangan adzan menggunakan pengeras suara di seantero Palestina, termasuk Masjid Al-Aqsha. Tetapi saudara-saudara kita di Palestina, yang menjaga Masjid Al-Aqsha tidak pernah diam. Mereka mewakili seluruh umat Islam di seluruh dunia yang jumlahnya mencapai 1,5 Milyar Muslim, membela, membentengi, dan berjaga di dalam Masjid yang sangat dicintai Rasulullah Shallallahu alahi wasallam. ini. Mereka disebut para Murรขbithรปn dan Murรขbithรขth.

Para Murabithรปn, mereka rela memberikan darah mereka, mereka memberikan cuma-cuma nyawa mereka, mereka persembahkan keluarga yang mereka cintai, demi menjaga masjid pilihan Allah. Satu-satunya di atas muka bumi ini yang dijadikan pertemuan seluruh nabi-nabi pada Malam Isra’ dan Mi’raj, mulai dari Nabi Adam sampai nabi terakhir alaihim ash-shalatu wa as-salam.

Wahai umat Rasulullah…!

Bagaimana kalian mengaku cinta kepada Rasulullah Shallallahu alahi wasallam. sementara kalian tidak mencintai masjid yang dicintai Rasulullah? Rasulullah Shallallahu alahi wasallam. ketika ditanya oleh sahabat Saddad bin Aus r.a., ketika beliau sedang sakaratul Maut,

ุฅِุฐَุง ุงุจْุชُู„ِูŠْู†َ ุจِุงู„ْุจَู‚َุงุกِ ุจِู…َุง ุชَู†ْุตَุญُ ู„َู†َุง ูŠَุง ุฑَุณُูˆْู„َ ุงู„ู„ู‡ِ؟ ู‚َุงู„َ: ุนَู„َูŠْูƒَ ุจِุจَูŠْุชِ ุงู„ْู…َู‚ْุฏِุณِ
“Jika kami telah engkau tinggalkan, apa yang engkau perintahkan kepada kami wahai Rasulullah…?” Rasul Shallallahu alahi wasallam. menjawab: “Pergilah kalian ke Baitul Maqdis.” Kenapa bukan Makkah dan Madinah yang dinasehatkan Rasulullah? Kenapa ke Baitul Maqdis? Inilah bukti Nabi Muhammad Shallallahu alahi wasallam. begitu mencintai Masjid Al-Aqsha.

Rasulullah juga sangat sering menyebut Masjid Al-Aqsha dalam hadisnya, sehingga para sahabat mengira Masjid Al-Aqsha kedudukannya lebih mulia dari Masjidil Haram dan Masjid Nabawai. Akhirnya, sahabat Abu Dzar r.a. bertanya kepada Nabi Muhammad Shallallahu alahi wasallam.,

ุฃَูŠُّู‡ُู…ُุง ุฃَูْุถَู„ُ، ุงู„ุตَّู„ุงَุฉُ ูِูŠ ู…َุณْุฌِุฏِูƒَ ุฃَู…ِ ุงู„ุตَّู„ุงَุฉُ ูِูŠ ุงู„ْู…َุณْุฌِุฏِ ุงْู„ุฃَู‚ْุตَู‰؟ ู‚َุงู„َ: ุงู„ุตَّู„ุงَุฉُ ูِูŠ ู…َุณْุฌِุฏِูŠْ ุฃَูْุถَู„ُ ุจِุฃَุฑْุจَุนٍ ู…ِู†َ ุงู„ุตَّู„ุงَุฉِ ูِูŠ ุงْู„ู…َุณْุฌِุฏِ ุงْู„ุฃَู‚ْุตَู‰. ูˆَู„َู†ِุนْู…َ ุงู„ْู…ُุตَู„ู‰ُ. ูˆู„ูŠُูˆْุดِูƒู†ُ ุฃَู†ْ ู„ุง ูŠَูƒُูˆْู†َ ู„ِุฑَุฌู„ٍ ู…ِุซْู„َ ุดَุทْู†ِ ูَุฑَุณِู‡ ู…ู† ุงู„ุงุฑุถ ุญูŠุซِ ูŠَุฑَู‰ ู…ِู†ْู‡ ุจَูŠْุชَ ุงْู„ู…َู‚ْุฏِุณِ ุฎَูŠْุฑٌ ู„َู‡ُ ู…ِู†َ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ูˆَู…َุง ูِูŠْู‡َุง (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุญุงูƒู…)
“Mana yang lebih utama, shalat di Majid Nabawi atau shalat di Masjid Al-Aqsha?” Rasul Shallallahu alahi wasallam. menjawab, “Shalat di Masjid Nabawi lebih utama empat kali lipat dibanding shalat di Masjid Al-Aqsha. Tetapi Masjid Al-Aqsha adalah sebaik-baik tempat shalat. Seseorang yang memiliki tanah sekitar 2 meter, dari tanah itu dia melihat Baitul Maqdis, itu lebih baik daripada dunia dan seisisnya.” Lihat hadis ini, hanya melihat saja, lebih baik dari dunia dan sisinya, bagaimana dengan shalat di dalamnya? Bagaimana dengan ribath di dalamnya? Bagaimana jika kita membela dan memuliakannya?

Wahai Ummat Nabi Muhammad…!

Bagaimana kalian tidak marah tempat Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu alahi wasallam. dirusak, dibakar, dan diblokir?

Bagaimana mungkin umat Islam yang berjumlah 1,5 Milyar terdiam melihatan kezaliman Zionis Israel yang jelas di depan mata? Menistakan masjid yang keberkahannya disebtukan 6 kali dalam Al-Quran. satu-satunya masjid yang namanya diberi oleh Allah langsung, oleh Rasulullah, dan diberian juga oleh para Ulama; Masjid Al-Aqsha, Baitul Maqdis, dan Al-Baitu Al-Muqaddas.

Terakhir, saya ingin menyampaikan fatwa dari Rasulullah Shallallahu alahi wasallam. tentang Masjid Al-Aqsha. Rasulullah Shallallahu alahi wasallam. diminta fatwa oleh seorang Shahabiyah, Sayyidah Maimunah r.a.


ุนَู†ْ ู…َูŠْู…ُูˆู†َุฉَ ุจِู†ْุชِ ุณَุนْุฏٍ، ู…َูˆْู„َุงุฉِ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ู‚َุงู„َุชْ: ู‚ُู„ْุชُ: ูŠَุง ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ! ุฃَูْุชِู†َุง ูِูŠ ุจَูŠْุชِ ุงู„ْู…َู‚ْุฏِุณِ، ู‚َุงู„َ: ((ุฃَุฑْุถُ ุงู„ْู…َุญْุดَุฑِ، ูˆَุงู„ْู…َู†ْุดَุฑ،ِ ุงุฆْุชُูˆู‡ُ ูَุตَู„ُّูˆุง ูِูŠู‡ِ، ูَุฅِู†َّ ุตَู„َุงุฉً ูِูŠู‡ِ ูƒَุฃَู„ْูِ ุตَู„َุงุฉٍ ูِูŠ ุบَูŠْุฑِู‡ِ))، ู‚ُู„ْุชُ: ุฃَุฑَุฃَูŠْุชَ ุฅِู†ْ ู„َู…ْ ุฃَุณْุชَุทِุนْ ุฃَู†ْ ุฃَุชَุญَู…َّู„َ ุฅِู„َูŠْู‡ِ؟ ู‚َุงู„َ: ((ูَุชُู‡ْุฏِูŠ ู„َู‡ُ ุฒَูŠْุชًุง ูŠُุณْุฑَุฌُ ูِูŠู‡ِ، ูَู…َู†ْ ูَุนَู„َ ุฐَู„ِูƒَ ูَู‡ُูˆَ ูƒَู…َู†ْ ุฃَุชَุงู‡ُ)). ูˆููŠ ุฑูˆุงูŠุฉ ูู‡ูˆ ูƒู…ู† ุตู„ู‰ ููŠู‡.
"Berikan fatwa kepada kami tentang Baitul Maqdis!" Rasulullah menjawab, "Baitul Maqdis adalah negeri padang mahsyar dan negeri kiamat. Datanglah kalian ke Baitul Maqdis dan shalatlah di sana, karena satu kali shalat di Masjid Al-Aqsha sama dengan seribu kali shalat di masjid-masjid selainnya."

Maimunah berkata, "Bagaimana jika aku tidak bisa datang ke sana? Apa yang harus aku lakukan wahai Rasulullah?" Rasul Shallallahu alahi wasallam. Menjawab, "Kirimkan minyak yang digunakan untuk menerangi lampu yang ada di Baitul Maqdis. Siapa yang melalukannya, maka dia seperti orang yang mendatanginya, (dalam riwayat lain), seperti orang yang shalat di dalamnya."

Kita diwajibkan datang ke sana dan shalat di sana. Untuk mendapatkan pahala 1000 kali lipat. Tetapi gara-gara Israel, kita terhalang untuk mendapatkan kemuliaan ini. Tetapi apa fatwa Rasulullah jika kita tidak bisa datang ke sana? Kita diwajibkan mengirimkan minyak. Maksudnya kita disuruh menjaga masjid Al-Aqsha, lampunya tidak boleh redup, lampunya tidak boleh mati.

Dengan kejadian penutupan Masjid Al-Aqsha, maka kewajiban telah datang kepada kita, mengirimkan bantuan untuk menjaga Masjid Al-Aqsha, renovasi, untuk para penjaga Masjid Al-Aqsha. Dan ini membutuhkan kerja yang terus menerus dan berkesinambungan. Wallahu a'lam bish shawab.


ุจุงุฑูƒ ุงู„ู„ู‡ ู„ูŠ ูˆู„ูƒู… ููŠ ุงู„ู‚ุฑุขู† ุงู„ุนุธูŠู… ูˆู†ุนู†ูŠ ูˆุงูŠุงูƒู… ุจู…ุง ููŠู‡ ู…ู† ุงู„ุขูŠุงุช ูˆุงู„ุฐูƒุฑ ุงู„ุญูƒูŠู…، ูˆุชู‚ุจู„ ุงู„ู„ู‡ ู…ู†ุง ูˆู…ู†ูƒู… ุชู„ุงูˆุชู‡ ุฅู†ู‡ ู‡ูˆ ุงู„ุณู…ูŠุน ุงู„ุนู„ูŠู…،

Khutbah Kedua

ุฅู† ุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ู†ุญู…ุฏู‡ ูˆู†ุณุชุนูŠู†ู‡ ูˆู†ุณุชุบูุฑู‡ ูˆู†ุณุชู‡ุฏูŠู‡، ูˆู†ุนูˆุฐ ุจุงู„ู„ู‡ ู…ู† ุดุฑูˆุฑ ุฃู†ูุณู†ุง ูˆู…ู† ุณูŠุฆุงุช ุฃุนู…ุงู„ู†ุง ู…ู† ูŠู‡ุฏู‡ ุงู„ู„ู‡ ูู„ุง ู…ุถู„ ู„ู‡، ูˆู…ู† ูŠุถู„ู„ ูู„ุง ู‡ุงุฏูŠ ู„ู‡،

ุงุดู‡ุฏ ุงู† ู„ุง ุฃู„ู‡ ุฅู„ุง ุงู„ู„ู‡ ูˆุญุฏู‡ ู„ุง ุดุฑูŠูƒ ู„ู‡، ูˆุงุดู‡ุฏ ุงู† ู…ุญู…ุฏุง ุนุจุฏู‡ ูˆุฑุณูˆู„ู‡ ู„ุง ู†ุจูŠ ุจุนุฏู‡.

ุงู„ู„ู‡ู… ุตู„ ุนู„ู‰ ุณูŠุฏู†ุง ู…ุญู…ุฏ، ูˆุนู„ู‰ ุขู„ ุณูŠุฏู†ุง ู…ุญู…ุฏ، ูƒู…ุง ุตู„ูŠุช ุนู„ู‰ ุณูŠุฏู†ุง ุฅุจุฑุงู‡ูŠู… ูˆุนู„ู‰ ุขู„ ุณูŠุฏู†ุง ุฅุจุฑุงู‡ูŠู…، ูˆุจุงุฑูƒ ุนู„ู‰ ุณูŠุฏู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุนู„ู‰ ุขู„ ุณูŠุฏู†ุง ู…ุญู…ุฏ، ูƒู…ุง ุจุงุฑูƒุช ุนู„ู‰ ุณูŠุฏู†ุง ุฅุจุฑุงู‡ูŠู… ูˆุนู„ู‰ ุขู„ ุณูŠุฏู†ุง ุฅุจุฑุงู‡ูŠู…، ููŠ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู† ุฅู†ูƒ ุญู…ูŠุฏ ู…ุฌูŠุฏ.

ู‚ุงู„ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ููŠ ุงู„ู‚ุฑุขู† ุงู„ูƒุฑูŠู… ุงุนูˆุฐ ุจุงู„ู„ู‡ ู…ู† ุงู„ุดูŠุทุงู† ุงู„ุฑุฌูŠู…، ุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฑุญู…ู† ุงู„ุฑุญูŠู…، ูŠุง ุฃูŠู‡ุง ุงู„ุฐูŠู† ุขู…ู†ูˆุง ุงุชู‚ูˆุง ุงู„ู„ู‡ ูˆู„ุชู†ุธุฑ ู†ูุณ ู…ุง ู‚ุฏู…ุช ู„ุบุฏ، ูˆุงุชู‚ูˆุง ุงู„ู„ู‡ ุฅู† ุงู„ู„ู‡ ุฎุจูŠุฑ ุจู…ุง ุชุนู…ู„ูˆู†.

ูˆูŠุง ู…ุนุงุดุฑ ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู†، ุงุฏุนูˆุง ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ูˆุฃู†ุชู… ู…ูˆู‚ู†ูˆู† ุจุงู„ุฅุฌุงุจุฉ، ุงู„ู„ู‡ู… ุงุบูุฑ ู„ู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ูˆุงู„ู…ุณู„ู…ุงุช ูˆุงู„ู…ุคู…ู†ูŠู† ูˆุงู„ู…ุคู…ู†ุงุช، ุงู„ู„ู‡ู… ุฃุนุฒู†ุง ุจุงู„ุฅุณู„ุง ูˆุฃุนุฒ ุงู„ุฅุณู„ุงู… ุจู†ุง، ุงู„ู„ู‡ู… ุงู†ุตุฑ ู…ู† ู†ุตุฑ ุงู„ุฏูŠู† ูˆุงุฎุฐู„ ู…ู† ุฎุฐู„ ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู†. ุงู„ู„ู‡ู… ุงุฑูุน ุนู†ุง ุงู„ุบู„ุงุก ูˆุงู„ูˆุจุงุก ูˆุงู„ุดุฏุงุฆุฏ ูˆุงู„ู…ุญู† ูˆุงู„ูุชู†، ู…ู† ุจู„ุฏู†ุง ู‡ุฐู‡ ุงู†ุฏูˆู†ูŠุณูŠุง ูˆู…ู† ุณุงุฆุฑ ุจู„ุงุฏ ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ุนุงู…ุฉ، ุจุฑุญู…ุชูƒ ูŠุง ุฃุฑุญู… ุงู„ุฑุงุญู…ูŠู†.

ุงู„ู„ู‡ู… ุงู†ุตุฑ ุฅุฎูˆุงู†ู†ุง ุงู„ู…ุณุชุถุนููŠู† ุงู„ู…ุญุงุตุฑูŠู† ููŠ ุบุฒุฉ، ููŠ ูู„ุณุทูŠู†، ุฑุญู…ุงูƒ ุจู‡ู… ูŠุง ุฑุจ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู†. ุงู„ู„ู‡ู… ุนู„ูŠูƒ ุจุงู„ูŠู‡ูˆุฏ ุงู„ู…ุนุชุฏูŠู† ูˆู…ู† ุนุงูˆู†ู‡ู…، ุงู„ู„ู‡ู… ุดุชุช ุดู…ู„ู‡ู… ูˆู…ุฒู‚ ุฌู…ุนู‡ู…، ูˆุฒู„ุฒู„ ุฃู‚ุฏุงู…ู‡ู… ูˆุฃู„ู‚ ููŠ ู‚ู„ูˆุจู‡ู… ุงู„ุฑุนุจ، ุฅู†ูƒ ุนู„ู‰ ูƒู„ ุดูŠุฆ ู‚ุฏูŠุฑ.

ุนุจุงุฏ ุงู„ู„ู‡، ุฅู† ุงู„ู„ู‡ ูŠุฃู…ุฑ ุจุงู„ุนุฏู„ ูˆุงู„ุฅุญุณุงู† ูˆุฅูŠุชุงุก ุฐูŠ ุงู„ู‚ุฑุจู‰ ูˆูŠู†ู‡ู‰ ุนู† ุงู„ูุญุดุงุก ูˆุงู„ู…ู†ูƒุฑ ูˆุงู„ุจุบูŠ ูŠุนุธูƒู… ู„ุนู„ูƒู… ุชุฐูƒุฑูˆู†، ุงุฐูƒุฑูˆุง ุงู„ู„ู‡ ูŠุฐูƒุฑูƒู… ูˆุงุดูƒุฑูˆุง ุนู„ู‰ ู†ุนู…ู‡ ูŠุฒุฏูƒู… ูˆู„ุฐูƒุฑ ุงู„ู„ู‡ ุฃูƒุจุฑ، ูˆุงู„ู„ู‡ ูŠุนู„ู… ู…ุง ุชุตู†ุนูˆู†.

Oleh: Ahmad Musyafa' (Direktur International Aqsa Institute)
Baca selengkapnya »
Contoh kemaksiatan yang masih sering terjadi di bulan Ramadhan.

Contoh kemaksiatan yang masih sering terjadi di bulan Ramadhan.

Khutbah pertama :

ุฅู†َّ ุงู„ْุญَู…ْุฏَ ู„ِู„َّู‡ِ ู†َุญْู…َุฏُู‡ُ ูˆَู†َุณْุชَุนِูŠู†ُู‡ُ ูˆَู†َุณْุชَุบْูِุฑُู‡ ُ ูˆَู†َุนُูˆุฐُ ุจِุงู„ู„ู‡ِ ู…ِู†ْ ุดُุฑُูˆุฑِ ุฃَู†ْูُุณِู†َุง ูˆَ ู…ِู†ْ ุณَูŠِّุฆَุงุชِ ุฃَุนْู…َุงู„ِู†َุง ู…َู†ْ ูŠَู‡ْุฏِ ุงู„ู„َّู‡ُ ูَู„ุงَ ู…ُุถِู„َّ ู„َู‡ُ ูˆَู…َู†ْ ูŠُุถْู„ِู„ْ ูَู„ุงَ ู‡َุงุฏِู‰َ ู„َู‡ُ
ูˆَุฃَุดْู‡َุฏُ ุฃَู†ْ ู„ุงَ ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„ุงَّ ุงู„ู„َّู‡ُ ูˆَุญْุฏَู‡ُ ู„ุงَ ุดَุฑِูŠْูƒَ ู„َู‡ُ
ูˆَุฃَุดْู‡َุฏُ ุฃَู†َّ ู…ُุญَู…َّุฏًุง ุนَุจْุฏُู‡ُ ูˆَุฑَุณُูˆู„ُู‡ُ
ุงู„ู„ّู‡ُู…َّ ุตَู„ِّ ุนَู„َู‰ ู†َุจِูŠِّู†َุง ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِู‡ِ ูˆَู…َู†ْ ุชَุจِุนَู‡ُู…ْ ุจِุฅِุญْุณَุงู†ٍ ุฅِู„َู‰ ูŠَูˆْู…ِ ุงู„ุฏِّูŠْู†ِ
ู‚َุงู„َ ุงู„ู„ู‡ُ ุชَุนَุงู„َู‰ ูِูŠ ูƒِุชَุงุจِู‡ِ ุงู„ูƒَุฑِูŠْู…ِ:
ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ุงุชَّู‚ُูˆุง ุงู„ู„َّู‡َ ุญَู‚َّ ุชُู‚َุงุชِู‡ِ ูˆَู„َุง ุชَู…ُูˆุชُู†َّ ุฅِู„َّุง ูˆَุฃَู†ْุชُู…ْ ู…ُุณْู„ِู…ُูˆู†َ
ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„ู†َّุงุณُ ุงุชَّู‚ُูˆุง ุฑَุจَّูƒُู…ُ ุงู„َّุฐِูŠ ุฎَู„َู‚َูƒُู…ْ ู…ِู†ْ ู†َูْุณٍ ูˆَุงุญِุฏَุฉٍ ูˆَุฎَู„َู‚َ ู…ِู†ْู‡َุง ุฒَูˆْุฌَู‡َุง ูˆَุจَุซَّ ู…ِู†ْู‡ُู…َุง ุฑِุฌَุงู„ًุง ูƒَุซِูŠุฑًุง ูˆَู†ِุณَุงุกً ูˆَุงุชَّู‚ُูˆุง ุงู„ู„َّู‡َ ุงู„َّุฐِูŠ ุชَุณَุงุกَู„ُูˆู†َ ุจِู‡ِ ูˆَุงู„ْุฃَุฑْุญَุงู…َ ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ูƒَุงู†َ ุนَู„َูŠْูƒُู…ْ ุฑَู‚ِูŠุจًุง
ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ุงุชَّู‚ُูˆุง ุงู„ู„َّู‡َ ูˆَู‚ُูˆู„ُูˆุง ู‚َูˆْู„ًุง ุณَุฏِูŠุฏًุง ูŠُุตْู„ِุญْ ู„َูƒُู…ْ ุฃَุนْู…َุงู„َูƒُู…ْ ูˆَูŠَุบْูِุฑْ ู„َูƒُู…ْ ุฐُู†ُูˆุจَูƒُู…ْ ูˆَู…َู†ْ ูŠُุทِุนِ ุงู„ู„َّู‡َ ูˆَุฑَุณُูˆู„َู‡ُ ูَู‚َุฏْ ูَุงุฒَ ูَูˆْุฒًุง ุนَุธِูŠู…ًุง

Jama’ah shalat Jumat yang semoga senantiasa dirahmati dan diberkahi oleh AllahTa’ala,

Segala puji pada Allah, kita memuji-Nya, meminta pertolongan pada-Nya meminta ampunan pada-Nya. Kita berlindung dari kejelekan diri kita dan kejelekan amal kita. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Siapa yang disesatkan oleh Allah, tidak ada yang bisa memberi petunjuk padanya.

Semoga shalawat tercurah pada Nabi kita Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, keluarga dan sahabat-Nya serta yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.

Tidak lupa Khotib mengingatkan kepada kita semua untuk senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita di bulan yang penuh berkah ini agar rangkaian amal ibadah kita semakin bernilai dan berlipat disisi Allah tanpa ada batasnya..
Aamiin..

Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah …

Khutbah kali ini kita akan sedikit berbicara tentang Contoh2  keburukan atau maksiat yang masih berlanjut di bulan Ramadhan

Sebagaimanan sudah diketahui bersama
Di bulan Ramadhan ini kita punya kewajiban yang agung, kewajiban yang dapat  membawa kita kepada ketaqwaan dan kemenangan.Selagi kita bisa menjalannya dengan sebaik mungkin. Ditambah lagi Banyak amalan amalan yang dianjurkan untuk kita lakukan  seperti membaca Al-Qur’an, shalat malam, shalat sunnah hingga sedekah guna untuk meraih sebanyak mungkin pahala disisi Allah..
Karena memang nilai ibadah di bulan puasa akan dilipatkan Allah berlipat ganda.
bulan Ramadhan

Oleh karena itu Ketika bulan Ramadhan tiba, kita bisa melihat kebaikan2 akan semakin banyak dan semangat dilakukan oleh orang dibandingkan dengan bulan2 lainnya dan sebaliknya kejelakan akan semakin berkurang.

hal ini sesuai dengan apa yang disabdakan oleh Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam..dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

ุฅِุฐَุง ุฌَุงุกَ ุฑَู…َุถَุงู†ُ ูُุชِّุญَุชْ ุฃَุจْูˆَุงุจُ ุงู„ْุฌَู†َّุฉِ ูˆَุบُู„ِّู‚َุชْ ุฃَุจْูˆَุงุจُ ุงู„ู†َّุงุฑِ ูˆَุตُูِّุฏَุชِ ุงู„ุดَّูŠَุงุทِูŠู†ُ
“Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.” (HR. Bukhari, no. 1899 dan Muslim, no. 1079).

Dengan dibukanya pintu2 surga dan ditutupnya pintu2  neraka serta dibelenggunya setan2 maka akan semakin bertambah marak dan banyak kebaikan2 yang dilakukan di bulan Ramadhan ini. Sementara maksiat akan lebih terlihat sedikit.

Seperti itu kenyataannya.

Namun meskipun demikian maksiat masih saja terjadi Di bulan Ramadhan, baik itu pencurian,kenakalan, kezoliman hingga dosa terbesar sekalipun masih saja ada. Kenapa demikian? bukankah setan2 sudah dibelenggu..?

Disebutkan oleh Abul ‘Abbas Al-Qurthubi rahimahullah:

๐Ÿ‘ฟ Setan diikat dari orang yang menjalankan puasa yang memperhatikan syarat dan adab saat berpuasa.

Adapun yang tidak menjalankan puasa dengan benar, maka setan tidaklah terbelenggu darinya.

๐Ÿ‘ฟ Bisa juga maksudnya bahwa setan yang diikat adalah umumnya setan dan yang memiliki pasukan sedangkan yang tidak memiliki pasukan tidaklah dibelenggu.

๐Ÿ‘ฟ Ada juga para ulama mengatakan maksudnya adalah setan merasa terikat karena sangking banyaknya orang2 yang melakukan kebaikan sehingga ruang setan untuk menggoda manusia semakin sulit. Tapi bukan berarti syaitan tidak bisa menggoda.

Seandainya pun kita katakan bahwa setan tidak mengganggu orang yang berpuasa, tetap saja maksiat bisa terjadi dengan sebab lain yaitu dorongan hawa nafsu yang selalu mengajak pada kejelekan, atau adat kebiasaan buruk yang selalu ia lakukan sehingga itu semua bisa mendorong dirinya untuk melakukan kemaksiatan.

Oleh karena itulah mengapa maksiat masih tetap saja terjadi , dan dilakukan oleh orang2 tertentu..
Maka tidak heran jika maksiat di bulan Ramadhan masih saja kita temui dan masih terus dilakukan oleh orang yang berpuasa:

Contohnya :

- Mudah meninggalkan shalat, seperti shalat Shubuh karena sehabis sahur langsung tidur.
Makanya kenapa nabi kita menganjurkan kepada kita untuk mengakhirkan makan sahur sekitar rentang waktu disebutkan dalam hadis 50 bacaan ayat alquran selain pada sahur itu ada keberkahan. Salah satu hikmahnya supaya subuh tidak terlewatkan. Berbeda dengan orang2 yang sahur diawal2 waktu sehingga karena habis makan membuat ia kantuk hingga shalat subuh pun jadi terlewatkan.

- Laki-laki yang masih malas shalat terutama shalat berjamaah di masjid. Dengan alasan yang tidak tepat padahal sebenarnya ia mampu untuk melakukanya.

- Perempuan enggan berjilbab bahkan terus-terusan memakai pakaian seksi dan ketat saat puasa. Padahal mengumbar aurat itu dosa besar, menjadikan puasa sia-sia.

Bagi kita diharapkan mengingatkan wanita terdekat kita (istri dan puteri kita) untuk berjilbab dan menutupi aurat, moga Allah memberi hidayah.

- Muda-mudi jalan berdua dengan kekasihnya (pacarnya) hingga menunggu buka puasa tentu ini sebuah kesia-siaan yang bisa membatalkan amal ibadah puasanya apalagi berduaan dengan yang bukan mahramnya tentu merupakan dosa yang besar disisi Allah..

- Membicaran jelek orang lain (ghibah) walau itu nyata ada pada orang lain, hingga suka memfitnah menuduh jelek orang lain tanpa bukti.
Nauzubillah.

- Mementingkan buka puasa bersama dengan teman atau rekan kerja dibandingkan shalat magrib, bahkan shalat sampai tidak dikerkan.

Dari Burairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

ู…َู†ْ ุชَุฑَูƒَ ุตَู„ุงَุฉَ ุงู„ْุนَุตْุฑِ ูَู‚َุฏْ ุญَุจِุทَ ุนَู…َู„ُู‡ُ
“Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya” (HR. Bukhari, no. 594).

Di antara maksud hadits sebagaimana kata Ibnul Qayyim dalam kitabnya Ash-Shalah adalah akan menghapus amalan pada hari tersebut.

Jika demikian, apakah puasa orang yang meninggalkan shalat walau satu saja jadi diterima? Silakan direnungkan.

Dan ingat, para jamaah shalat sekalian, yang namanya maksiat akan menghancurkan pahala orang yang berpuasa walau secara hukum puasa tetap sah selama yang dilakukan bukan pembatal puasa.

Moga kita dimudahkan oleh Allah untuk menjauhi segala macam maksiat di bulan Ramadhan dan waktu seterusnya. Semoga kita dimudahkan oleh Allah menjadi lebih baik selepas Ramadhan, itulah tekad dan harapan kita.

ุฃَู‚ُูˆْู„ُ ู‚َูˆْู„ِูŠ ู‡َุฐَุง َูˆَุงุณْุชَุบْูِุฑُ ุงู„ู„ู‡َ ู„ِูŠ ูˆَู„َูƒُู…ْ ูˆَู„ِุณَุงุฆِุฑِ ุงู„ู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ ุฅِู†َّู‡ُ ู‡ُูˆَ ุงู„ุณَู…ِูŠْุนُ ุงู„ุนَู„ِูŠْู…ُ

Khutbah kedua :

ุงู„ุญَู…ْุฏُ ู„ู„ู‡ِ ุฑَุจِّ ุงู„ุนَุงู„ู…ِูŠْู†َ ูˆَุงู„ุตَّู„ุงَุฉُ ูˆَุงู„ุณَّู„ุงَู…ُ ุนَู„َู‰ ุฃَุดْุฑَุงูِ ุงู„ุฃَู†ْุจِูŠَุงุกِ ูˆَุงู„ู…ุฑْุณَู„ِูŠْู†َ ู†َุจِูŠِّู†َุง ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِู‡ِ ูˆَุตَุญْุจِู‡ِ ุฃَุฌْู…َุนِูŠْู†َ

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah pada nabi termulia dari para nabi dan rasul, yaitu kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya.

Di akhir khutbah ini, kami ingatkan untuk bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapa yang bershalawat pada beliau sekali, akan dibalas sepuluh kali.

Dan Marilah kita berdoa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di Jumat penuh berkah ini.


ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ูˆَู…َู„َุงุฆِูƒَุชَู‡ُ ูŠُุตَู„ُّูˆู†َ ุนَู„َู‰ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ุตَู„ُّูˆุง ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„ِّู…ُูˆุง ุชَุณْู„ِูŠู…ุงً
ุงَู„ู„َّู‡ُู…َّ ุตَู„ِّ ุนَู„َู‰ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูƒَู…َุง ุตَู„َّูŠْุชَ ุนَู„َู‰ ุฅِุจْุฑَุงู‡ِูŠْู…َ ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِ ุฅِุจْุฑَุงู‡ِูŠْู…َ، ุฅِู†َّูƒَ ุญَู…ِูŠْุฏٌ ู…َุฌِูŠْุฏٌ. ูˆَุจَุงุฑِูƒْ ุนَู„َู‰ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูƒَู…َุง ุจَุงุฑَูƒْุชَ ุนَู„َู‰ ุฅِุจْุฑَุงู‡ِูŠْู…َ ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِ ุฅِุจْุฑَุงู‡ِูŠْู…َ، ุฅِู†َّูƒَ ุญَู…ِูŠْุฏٌ ู…َุฌِูŠْุฏٌ
ุงู„ู„ู‡ُู…َّ ุงุบْูِุฑْ ู„ِู„ْู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ ูˆَุงู„ู…ุณْู„ِู…َุงุชِ ูˆَุงู„ู…ุคْู…ِู†ِูŠْู†َ ูˆَุงู„ู…ุคْู…ِู†َุงุชِ ุงู„ุฃَุญْูŠَุงุกِ ู…ِู†ْู‡ُู…ْ ูˆَุงู„ุฃَู…ْูˆَุงุชِ ุฅِู†َّูƒَ ุณَู…ِูŠْุนٌ ู‚َุฑِูŠْุจٌ ู…ُุฌِูŠْุจُ ุงู„ุฏَّุนْูˆَุฉِ
ุฑَุจَّู†َุง ู„َุง ุชُุฒِุบْ ู‚ُู„ُูˆุจَู†َุง ุจَุนْุฏَ ุฅِุฐْ ู‡َุฏَูŠْุชَู†َุง ูˆَู‡َุจْ ู„َู†َุง ู…ِู†ْ ู„َุฏُู†ْูƒَ ุฑَุญْู…َุฉً ุฅِู†َّูƒَ ุฃَู†ْุชَ ุงู„ْูˆَู‡َّุงุจُ
ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุฃَู„ِّูْ ุจَูŠْู†َ ู‚ُู„ُูˆุจِู†َุง، ูˆَุฃَุตْู„ِุญْ ุฐَุงุชَ ุจَูŠْู†ِู†َุง، ูˆَุงู‡ْุฏِู†َุง ุณُุจُู„َ ุงู„ุณَّู„َุงู…ِ، ูˆَู†َุฌِّู†َุง ู…ِู†َ ุงู„ุธُّู„ُู…َุงุชِ ุฅِู„َู‰ ุงู„ู†ُّูˆุฑِ، ูˆَุฌَู†ِّุจْู†َุง ุงู„ْูَูˆَุงุญِุดَ ู…َุง ุธَู‡َุฑَ ู…ِู†ْู‡َุง ูˆَู…َุง ุจَุทَู†َ، ูˆَุจَุงุฑِูƒْ ู„َู†َุง ูِูŠ ุฃَุณْู…َุงุนِู†َุง، ูˆَุฃَุจْุตَุงุฑِู†َุง، ูˆَู‚ُู„ُูˆุจِู†َุง، ูˆَุฃَุฒْูˆَุงุฌِู†َุง، ูˆَุฐُุฑِّูŠَّุงุชِู†َุง، ูˆَุชُุจْ ุนَู„َูŠْู†َุง ุฅِู†َّูƒَ ุฃَู†ْุชَ ุงู„ุชَّูˆَّุงุจُ ุงู„ุฑَّุญِูŠู…ُ، ูˆَุงุฌْุนَู„ْู†َุง ุดَุงูƒِุฑِูŠู†َ ู„ِู†ِุนَู…ِูƒَ ู…ُุซْู†ِูŠู†َ ุจِู‡َุง ุนَู„َูŠْูƒَ، ู‚َุงุจِู„ِูŠู†َ ู„َู‡َุง، ูˆَุฃَุชِู…ِู…ْู‡َุง ุนَู„َูŠْู†َุง
ุฑَุจَّู†َุง ุขุชِู†َุง ูِูŠ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ุญَุณَู†َุฉً ูˆَูِูŠ ุงู„ْุขุฎِุฑَุฉِ ุญَุณَู†َุฉً ูˆَู‚ِู†َุง ุนَุฐَุงุจَ ุงู„ู†َّุงุฑِ
ูˆَุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َู‰ ู†َุจِูŠِّู†َุง ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِู‡ِ ูˆَุตَุญْุจِู‡ِ ูˆ َู…َู†ْ ุชَุจِุนَู‡ُู…ْ ุจِุฅِุญْุณَุงู†ٍ ุฅِู„َู‰ ูŠَูˆْู…ِ ุงู„ุฏّูŠْู†.
ูˆَุขุฎِุฑُ ุฏَุนْูˆَุงู†َุง ุฃَู†ِ ุงู„ْุญَู…ْุฏُ ู„ู„ู‡ ุฑَุจِّ ุงู„ْุนَุงู„َู…ِูŠْู†َ

* Editan dari teks khutbah yang diambil dari rumaysho.com
Baca selengkapnya »
khotbah jumat: nasehat paling mengena mengingat kematian

khotbah jumat: nasehat paling mengena mengingat kematian

Khotbah Pertama:


ุฅِู†َّ ุงู„ْุญَู…ْุฏَ ู„ِู„َّู‡ِ ู†َุญْู…َุฏُู‡ُ ูˆَู†َุณْุชَุนِูŠْู†ُู‡ُ ูˆَู†َุณْุชَุบْูِุฑُู‡ُ ูˆَู†َุชُูˆْุจُ ุฅِู„َูŠْู‡ِ، ูˆَู†َุนُูˆْุฐُ ุจِุงู„ู„ู‡ِ ู…ِู†ْ ุดُุฑُูˆْุฑِ ุฃَู†ْูُุณِู†َุง ูˆَุณَูŠِّุฆَุงุชِ ุฃَุนْู…َุงู„ِู†َุง، ู…َู†ْ ูŠَู‡ْุฏِู‡ِ ุงู„ู„ู‡ُ ูَู„َุง ู…ُุถِู„َّ ู„َู‡ُ ูˆَู…َู†ْ ูŠُุถْู„ِู„ْ ูَู„َุง ู‡َุงุฏِูŠَ ู„َู‡ُ، ูˆَุฃَุดْู‡َุฏُ ุฃَู†ْ ู„َุง ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„َّุง ุงู„ู„ู‡ُ ูˆَุญْุฏَู‡ُ ู„َุง ุดَุฑِูŠْูƒَ ู„َู‡ُ، ูˆَุฃَุดْู‡َุฏُ ุฃَู†َّ ู…ُุญَู…َّุฏุงً ุนَุจْุฏُู‡ُ ูˆَุฑَุณُูˆْู„ُู‡ُ؛ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ูˆَุณَู„َّู…َ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِู‡ِ ูˆَุตَุญْุจِู‡ِ ุฃَุฌْู…َุนِูŠْู†َ.

ุฃَู…َّุง ุจَุนْุฏُ ู…َุนَุงุดِุฑَ ุงู„ู…ُุคْู…ِู†ِูŠْู†َ ุนِุจَุงุฏَ ุงู„ู„ู‡ِ: ุงِุชَّู‚ُูˆْุง ุงู„ู„ู‡َ؛ ูَุฅِู†َّ ู…َู†ِ ุงุชَّู‚َู‰ ุงู„ู„ู‡َ ูˆَู‚َุงู‡ُ ูˆَุฃَุฑْุดَุฏَู‡ُ ุฅِู„َู‰ ุฎَูŠْุฑٍ ุฃُู…ُูˆْุฑٍ ุฏِูŠْู†ِู‡ِ ูˆَุฏُู†ْูŠَุงู‡ُ .
Ibadallah, Bertakwalah kepada Allah Ta’aladengan selalu mencari ridha-Nya dan menjauhi kemaksiatan kepadaNya. Sungguh ketakwaan itu merupakan kebaikan untuk segala urusan hidup kalian, sebagai bekal yang perlu kalian persiapan untuk menghadapi kondisi ke depan yang kalian takuti dan kalian kawatirkan.

Ketakwaan merupakan benteng dari segala perkara yang dapat menghancurkan. Hanya dengan ketakwaan Allah –Subhanahu wa Ta’ala– menjanjikan surga (kepada para hamba-Nya). Para hamba Allah sekalian, masing-masing orang bekerja dalam hidup ini untuk memenuhi kepentingan dirinya, memperbaiki urusannya dan memenuhi hajat hidupnya.
mengingat kematian

Di antara mereka ada yang membangun urusan agamanya sekaligus urusan dunianya. Mereka itulah yang di dunia ini dikaruniai Allah suatu kebaikan dan di akhirat-pun mendapatkan kebaikan, serta dihindarkan dari azab neraka. Namun ada pula di antara mereka orang yang bekerja untuk dunianya saja, sementara jatah akhiratnya disia-siakannya. Orang-orang model inilah yang hidupnya hanya bersenang-senang untuk makan seperti halnya binatang, sementara neraka menjadi tempat tinggal mereka.

Setiap keinginan dan pekerjaan pasti ada jatuh temponya.

Firman Allah :

ูˆَุฃَู†َّ ุฅِู„َู‰ ุฑَุจِّูƒَ ุงู„ْู…ُู†ْุชَู‡َู‰ [ ุงู„ู†ุฌู…/42]
“dan bahwasanya kepada Tuhamulah kesudahan (segala sesuatu)”. Qs An-Najm : 42

Maha suci Allah yang telah menjadikan pada setiap hati manusia kesibukan hati, dan menempatkan pada setiap hatinya sesuatu yang dia pikirkan/inginkan, menciptakan pula untuk setiap orang kemauan dan tekad bulat, yang ia mau dan berkehendak maka ia kerjakan tekad tersebut, dan jika ia mau ia tinggalkan (tidak jadi melakukan tekad tersebut).

Sedangkan kehendak Allah dan kemauan-Nya adalah di atas segala kehendak dan kemauan. Firman Allah :

ูˆَู…َุง ุชَุดَุงุกُูˆู†َ ุฅِู„َّุง ุฃَู†ْ ูŠَุดَุงุกَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุฑَุจُّ ุงู„ْุนَุงู„َู…ِูŠู†َ [ ุงู„ุชูƒูˆูŠุฑ/ 29]
“Dan kalian tidak berkehendak (untuk menempuh suatu jalan) kecuali jika dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” Qs At-Takwir : 29

Maka apapun yang telah dikehendaki Allah pastilah terjadi, dan apapun yang tidak dikehendaki oleh-Nya pasti tidak akan terjadi.

Kematian adalah puncak setiap makhluk di muka bumi. Kematian merupakan penghujung bagi setiap yang bernyawa di dunia ini. Hal itu sudah menjadi ketetapan Allah (untuk semua makhluk) termasuk para malaikat; Jibril, Mikail, Israfil –alaihimussalam- bahkan malaikat pencabut nyawa-pun akan mengalami kematian.

Firman Allah :

ูƒُู„ُّ ู…َู†ْ ุนَู„َูŠْู‡َุง ูَุงู†ٍ ، ูˆَูŠَุจْู‚َู‰ ูˆَุฌْู‡ُ ุฑَุจِّูƒَ ุฐُูˆ ุงู„ْุฌَู„َุงู„ِ ูˆَุงู„ْุฅِูƒْุฑَุงู…ِ [ ุงู„ุฑุญู…ู†/26 – 27]
“Semua yang ada di bumi akan binasa, tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.” Qs Ar-Rahman: 26-27

Kematian adalah garis finish perjalanan kehidupan dunia, dan merupakan garis awal kehidupan alam akhirat. Dengan kematian, maka seluruh rangkaian kenikmatan dunia terputus. Begitu memasuki kematian, seseorang merasakan kenikmatan yang agung atau siksaan yang pedih.

Kematian merupakan ayat (lambang kebesaran Allah) yang menunjukkan kemaha-kuasaanNya dan keperkasaan-Nya terhadap semua makhluk-Nya. Firman Allah :

ูˆَู‡ُูˆَ ุงู„ْู‚َุงู‡ِุฑُ ูَูˆْู‚َ ุนِุจَุงุฏِู‡ِ ูˆَูŠُุฑْุณِู„ُ ุนَู„َูŠْูƒُู…ْ ุญَูَุธَุฉً ุญَุชَّู‰ ุฅِุฐَุง ุฌَุงุกَ ุฃَุญَุฏَูƒُู…ُ ุงู„ْู…َูˆْุชُ ุชَูˆَูَّุชْู‡ُ ุฑُุณُู„ُู†َุง ูˆَู‡ُู…ْ ู„َุง ูŠُูَุฑِّุทُูˆู†َ [ ุงู„ุฃู†ุนุงู…/61]
“Dan Dialah Penguasa mutlak atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepada kalian malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila kematian telah datang kepada salah seorang di antara kalian, malaikat-malaikat Kami mencabut nyawanya, dan mereka tidak lalai melaksanakan tugas.” Qs Al-An’am : 61

Kematian mencerminkan keadilan Allah –Subhanahu wa Ta’ala– tidak pandang bulu dalam menimpakan kematian ini. Firman Allah :

ูƒُู„ُّ ู†َูْุณٍ ุฐَุงุฆِู‚َุฉُ ุงู„ْู…َูˆْุชِ ุซُู…َّ ุฅِู„َูŠْู†َุง ุชُุฑْุฌَุนُูˆู†َ [ ุงู„ุนู†ูƒุจูˆุช/57]
“Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian, kemudian hanya kepada Kami kalian dikembalikan.” Qs Al-Ankabut : 57

Kematian akan memutus segala kelezatan hidup, menghentikan total gerakan badan, menceraikan seseorang dari komunitasnya, menghalanginya dari segala yang (semula menjadi) kebiasaannya, hanya Allah sendiri yang menguasai kematian dan kehidupan. Firman Allah :

ูˆَู‡ُูˆَ ุงู„َّุฐِูŠ ูŠُุญْูŠِูŠ ูˆَูŠُู…ِูŠุชُ ูˆَู„َู‡ُ ุงุฎْุชِู„َุงูُ ุงู„ู„َّูŠْู„ِ ูˆَุงู„ู†َّู‡َุงุฑِ ุฃَูَู„َุง ุชَุนْู‚ِู„ُูˆู†َ [ ุงู„ู…ุคู…ู†ูˆู†/80]
“Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah (yang mengatur) pergantian malam dan siang, tidakkah kalian mengerti?.”Qs Al-Mukminun : 80

Kematian tidak dapat dicegah oleh petugas penjaga pintu, tidak bisa dicegat oleh bodyguard, tidak bisa dihalangi oleh harta benda, anak, dan kawan dan teman. Tidak bisa lolos dari kematian orang kecil dan orang besar, si kaya dan si miskin, orang yang berpangkat atau orang rendahan. Firman Allah :

ุฃَูŠْู†َู…َุง ุชَูƒُูˆู†ُูˆุง ูŠُุฏْุฑِูƒُูƒُู…ُ ุงู„ْู…َูˆْุชُ ูˆَู„َูˆْ ูƒُู†ْุชُู…ْ ูِูŠ ุจُุฑُูˆุฌٍ ู…ُุดَูŠَّุฏَุฉٍ [ ุงู„ู†ุณุงุก / 78]
“Di mana pun kalian berada, kematian akan menjemput kalian, kendatipun kalian di dalam benteng yang kokoh,” Qs An-Nisa’ : 78

Firman Allah :

ู‚ُู„ْ ุฅِู†َّ ุงู„ْู…َูˆْุชَ ุงู„َّุฐِูŠ ุชَูِุฑُّูˆู†َ ู…ِู†ْู‡ُ ูَุฅِู†َّู‡ُ ู…ُู„ุงู‚ِูŠูƒُู…ْ ุซُู…َّ ุชُุฑَุฏُّูˆู†َ ุฅِู„َู‰ ุนَุงู„ِู…ِ ุงู„ْุบَูŠْุจِ ูˆَุงู„ุดَّู‡َุงุฏَุฉِ ูَูŠُู†َุจِّุฆُูƒُู…ْ ุจِู…َุง ูƒُู†ْุชُู…ْ ุชَุนْู…َู„ُูˆู†َ [ ุงู„ุฌู…ุนุฉ / 8]
“Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kalian lari daripadanya, benar-benar akan menemui kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan”. Qs Al-Jum’ah :8

Kematian datang tiba-tiba dalam waktu yang telah ditentukan. Firman Allah :

ูˆَู„َู†ْ ูŠُุคَุฎِّุฑَ ุงู„ู„َّู‡ُ ู†َูْุณًุง ุฅِุฐَุง ุฌَุงุกَ ุฃَุฌَู„ُู‡َุง ูˆَุงู„ู„َّู‡ُ ุฎَุจِูŠุฑٌ ุจِู…َุง ุชَุนْู…َู„ُูˆู†َ [ ุงู„ู…ู†ุงูู‚ูˆู†/11]
“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.” Qs Al-Munafiqun : 11

Kedatangan kematian tanpa meminta izin terlebih dahulu kecuali kepada para nabi –alaihimussalam- mengingat kedudukan mereka yang mulia di sisi Allah –Subhanahu wa Ta’ala-, karena itulah kematian meminta izin kepada setiap para nabi.

Dalam sebuah hadis disebutkan :

” ู…َุง ู…ِู†ْ ู†َุจِูŠّ ุฅู„ّุง ุฎَูŠّุฑَู‡ ุงู„ู„ู‡ُ ุจَูŠْู†َ ุงู„ุฎَู„ูˆْุฏِ ูِู‰ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ุซู…َّ ุงู„ุฌَู†ّุฉِ ุฃูˆ ุงู„ْู…َูˆْุชِ ููŠَุฎْุชَุงุฑُ ุงู„ู…َูˆْุชَ ”
Tidak ada seorang nabi-pun melainkan Allah menyodorkan dua pilahan kepadanya; antara kekal di dunia lalu masuk surga dengan kematian, maka mereka memilih kematian”.
Sudah menjadi kehendak Allah bahwa anak Adam keluar dari kehidupan dunia ini melalui kematian untuk memutus segala keterikatannya dengan urusan dunia sehingga sehelai rambutpun ia tidak lagi merindukan dunia selama ia benar-benar beriman.

Anas –radhiyallahu ‘anhu– berkata, bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

“ู…َุง ุฃَุญَุฏٌ ู„َู‡ُ ุนِู†ْุฏَ ุงู„ู„ู‡ِ ู…َู†ْุฒِู„َุฉٌ ูŠُุญِุจُّ ุฃَู†ْ ูŠَุฑْุฌِุนَ ุฅِู„َู‰ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ูˆَู„َู‡ُ ู…َุง ุนَู„َู‰ ุงู„ْุฃَุฑْุถِ ู…ِู†ْ ุดَูŠْุกٍ ุฅِู„َّุง ุงู„ุดَّู‡ِูŠุฏُ ูŠَุชَู…َู†َّู‰ ุฃَู†ْ ูŠَุฑْุฌِุนَ ุฅِู„َู‰ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ูَูŠُู‚ْุชَู„َ ุนَุดْุฑَ ู…َุฑَّุงุชٍ ู„ِู…َุง ูŠَุฑَู‰ ู…ِู†ْ ุงู„ْูƒَุฑَุงู…َุฉِ ” ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑู‰ ูˆู…ุณู„ู…
“Tidak seorangpun yang telah mendapatkan kedudukan terhormat di sisi Allah, namun demikian dia menginginkan kembali ke dunia meskipun baginya seluruh isi dunia, kecuali orang yang mati syahid. Dia berangan-angan untuk kembali ke dunia kemudian berperang lalu terbunuh hingga sepuluh kali, karena dia melihat keistimewaan mati syahid.” HR. Bukhari dan Muslim.

Kematian merupakan musibah yang tidak terelakkan. Sakitnya kematian tidak ada seorangpun yang dapat melukiskannya karena kedahsyatannya. Nyawa manusia tercabut dari struktur jaringan urat, daging dan saraf. Seluruh rasa sakit yang sangat parah maka masih lebih ringan dari sakitnya kematian.

Dari Aisyah –radhiyallahu anha– berkata :

“ุฑَุฃَูŠْุชُ ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูˆَู‡ُูˆَ ุจِุงู„ู…َูˆْุชِ، ูˆَุนِู†ْุฏَู‡ُ ู‚َุฏَุญٌ ูِูŠู‡ِ ู…َุงุกٌ، ูˆَู‡ُูˆَ ูŠُุฏْุฎِู„ُ ูŠَุฏَู‡ُ ูِูŠ ุงู„ู‚َุฏَุญِ، ุซُู…َّ ูŠَู…ْุณَุญُ ูˆَุฌْู‡َู‡ُ ุจِุงู„ู…َุงุกِ، ุซُู…َّ ูŠَู‚ُูˆู„ُ: «ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุฃَุนِู†ِّูŠ ุนَู„َู‰ ุบَู…َุฑَุงุชِ ุงู„ู…َูˆْุชِ ุฃَูˆْ ุณَูƒَุฑَุงุชِ ุงู„ู…َูˆْุชِ” ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุชุฑู…ุฐู‰
”Aku melihat Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam– ketika maut menjelang, sedangkan di dekatnya ada sebuah mangkuk berisikan air, kemudian ia memasukkan tangannya ke dalam mangkuk itu, lalu mengusap wajahnya dengan air sambil berdo’a: ”Ya Allah, tolonglah aku saat menghadapi sakaratul maut.” HR. Tirmizi

Dalam sebagian riwayat :

ุฅِู†َّ ู„ِู„ْู…َูˆْุชِ ู„َุณَูƒَุฑَุงุชٍ
“Sesungguhnya pada kematian itu ada rasa sakitnya”

Salah seorang lelaki berkata kepada ayahnya yang sedang sakaratul-maut, “Terangkanlah kepadaku sakitnya sakaratul untuk menjadi pelajaran”. Jawabnya, “Wahai anakku, sakitnya bagaikan duri berbengkok yang digelandang di usus (dalam perut), dan bagaikan aku bernafas di lobang jarum”.

Dikatakan kepada orang lain yang akan meninggal, “Bagaimana engkau mendapati dirimu?”, Ia berkata, “Seakan-akan pisau-pisau digeret kesana kemari di dalam tubuhku”
Seorang lainnya yang sedang menghadapi sakaratul maut ditanya, “Bagaimana dengan sakitnya kematian”. Jawabnya, “Seakan-akan ada api membara di dalam perutku”.

Barangsiapa yang selalu mengingat kematian, akan lembut hatinya, menjadi baik amal dan perilakunya, serta akan terhalangi dan tidak berani melakukan maksiat, tidak melalaikan kewajiban, tidak lagi terpesona oleh gemerlapnya dunia, justru rindu berjumpa Tuhan-nya dan kangen surga yang penuh kenikmatan.

Dan siapa yang lupa akan kematian, keras hatinya, dan condong kepada dunia, dan buruk amalannya, serta panjang angan-angannya, maka mengingat kematian adalah nasehat yang paling mengena untuk menegurnya. Dari Abu Hurairahradhiyallahu anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ุฃَูƒْุซِุฑُูˆุง ุฐِูƒْุฑَ ู‡َุงุฐِู…ِ ุงู„ู„َّุฐَّุงุชِ ุงู„ْู…َูˆْุชَ
“Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan, yaitu kematian” (HR At-Tirmidzi dan An-Nasaai dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

Dan makna hadits penghancur kelezatan yaitu pemutus kelezatan dan yang menjadikannya sirna.

Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu anhu, beliau berkata :

ูƒَุงู†َ ุฑَุณُูˆْู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุฅِุฐَุง ุฐَู‡َุจَ ุซُู„ُุซُ ุงู„ู„َّูŠْู„ِ ู‚َุงู…َ ูَู‚َุงู„َ :ูŠุงَ ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„ู†َّุงุณُ!، ุงُุฐْูƒُุฑُูˆุง ุงู„ู„ู‡َ، ุฌَุงุกَุชِ ุงู„ุฑَّุงุฌِูَุฉُ، ุชَุชْุจَุนُู‡َุง ุงู„ุฑَّุงุฏِูَุฉُ، ุฌَุงุกَ ุงู„ْู…َูˆْุชُ ุจِู…َุง ูِูŠْู‡ِ
“Jika telah lewat sepertiga malam maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dan berkata, “Wahai manusia sekalian, berdzikirlah kepada Allah, telah datang (yaitu telah dekat) tiupan sangkakala yang pertama, lalu diikuti dengan tiupan sangkakala yang kedua, telah datang kematian dengan apa yang menyertainya” (HR At-Tirmidzi dan ia berkata, “Hadits hasan”).

Dan dari Abu Ad-Darda ia berkata :

ูƒَูَู‰ ุจِุงู„ْู…َูˆْุชِ ูˆَุงุนِุธًุง ูˆَุงู„ุฏَّู‡ْุฑِ ู…ُูَุฑِّู‚ًุง، ุงู„ْูŠَูˆْู…َ ูِูŠ ุงู„ุฏُّูˆْุฑِ ุบَุฏًุง ูِูŠ ุงู„ْู‚ُุจُูˆْุฑِ
“Cukuplah kematian menjadi pemberi nasehat (peringatan), dan masa sebagai pemisah. Hari ini di rumah-rumah, besok di kuburan” (Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Assakir)

Dan seluruh kebahagian dan seluruh keberuntungan dan seluruh kemenangan adalah pada persiapan menyambut datangnya kematian. Kematian adalah pintu pertama menuju surga atau pintu pertama menuju neraka.

Dan persiapan menyambut datangnya kematian adalah dengan memantapkan tauhid kepada Penguasa alam semesta degngan beribadah kepada Allah dan tidak berbuat kesyirikan sama sekali kepadaNya serta menjauhi seluruh bentuk kesyirikan.

Dari Anas radhiyallahu anhu ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ู‚َุงู„َ ุงู„ู„ู‡ُ ุชَุนَุงู„َู‰ : ูŠَุง ุงุจْู†َ ุขุฏَู…َ ุฅِู†َّูƒَ ู„َูˆْ ุฃَุชَูŠْุชَู†ِูŠ ุจِู‚ُุฑَุงุจِ ุงู„ุฃَุฑْุถِ ุฎَุทَุงูŠَุง ุซُู…َّ ู„َู‚ِูŠْุชَู†ِูŠ ู„ุงَ ุชُุดْุฑِูƒُ ุจِูŠ ุดَูŠْุฆًุง ู„َุฃَุชَูŠْุชُูƒَ ุจِู‚ُุฑَุงุจِู‡َุง ู…َุบْูِุฑَุฉً
“Allah berfirman, “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau mendatangiKu dengan dosa sepenuh bumi kemudian engkau bertemu denganKu dalam kondisi sama sekali tidak berbuat kesyirikan kepadaKu, maka Aku akan akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula” (HR At-Tirmidzi, dan ia berkata : Hadits hasan)

Persiapan datangnya kematian adalah dengan menjaga batasan-batasan Allah dan kewajiban-kewajiban. Allah berfirman :

ูˆَุงู„ْุญَุงูِุธُูˆู†َ ู„ِุญُุฏُูˆุฏِ ุงู„ู„َّู‡ِ ูˆَุจَุดِّุฑِ ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ِูŠู†َ
“Dan mereka yang menjaga batasan-batasan Allah, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman” (QS At-Taubah : 112)

Demikian juga persiapan akan datangnya kematian adalah dengan menjauhi dosa-dosa besar. Allah berfirman :

ุฅِู†ْ ุชَุฌْุชَู†ِุจُูˆุง ูƒَุจَุงุฆِุฑَ ู…َุง ุชُู†ْู‡َูˆْู†َ ุนَู†ْู‡ُ ู†ُูƒَูِّุฑْ ุนَู†ْูƒُู…ْ ุณَูŠِّุฆَุงุชِูƒُู…ْ ูˆَู†ُุฏْุฎِู„ْูƒُู…ْ ู…ُุฏْุฎَู„ًุง ูƒَุฑِูŠู…ًุง
“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar diantara dosa-dosa yang kalian dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kalian ke tempat yang mulia (surga)” (QS An-Nisaa : 31)

Persiapan akan datangnya kematianjuga dengan menunaikan hak-hak orang lain dan tidak melalaikannya atau menunda-nunda penunaiannya. Karena hak Allah bisa jadi Allah memaafkannya selain kesyirikan, adapun hak orang lain maka Allah tidak memaafkannya kecuali dengan mengambilnya dari yang berbuat dzolim lantas diberikan kepada orang yang haknya dizolimi.

Persiapan akan datangnya kematian juga dengan menulis wasiat dan tidak lalai dalam menulisnya.

Persiapan akan datangnya kematian juga dengan bersiap-siap akan kedatangannya kapan saja. Tatkala turun firman AllahTa’ala

ูَู…َู†ْ ูŠُุฑِุฏِ ุงู„ู„َّู‡ُ ุฃَู†ْ ูŠَู‡ْุฏِูŠَู‡ُ ูŠَุดْุฑَุญْ ุตَุฏْุฑَู‡ُ ู„ِู„ْุฅِุณْู„َุงู…ِ
“Barangsiapa yang Allah ingin memberi petunjuk kepadanya maka Allah lapangkan dadanya untuk Islam” (QS Al-An’aam : 125)

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ู†ُูˆْุฑٌ ูŠَู‚ْุฐِูُู‡ُ ุงู„ู„ู‡ُ ูِูŠ ุงู„ْู‚َู„ْุจِ
“Cahaya yang Allah lemparkan ke dalam hati”. Para sahabat bertanya, “Apa hubungannya wahai Rasulullah?” Nabi berkata,

ุงู„ุฅِู†َุงุจَุฉُ ุฅِู„َู‰ ุฏَุงุฑِ ุงู„ْุฎُู„ُูˆْุฏِ ูˆَุงู„ุชَّุฌَุงูِูŠ ุนَู†ْ ุฏَุงุฑِ ุงู„ْุบُุฑُูˆْุฑِ ูˆَุงู„ุงِุณْุชِุนْุฏَุงุฏُ ู„ِู„ْู…َูˆْุชِ ู‚َุจْู„َ ู†ُุฒُูˆْู„ِู‡ِ
“Bersikap selalu kembali menuju negeri yang abadi dan menjauh dari negeri yang menipu serta persiapan terhadap kematian sebelum datangnya”

Dan kebahagiaan adalah seseorang mati dalam kondisi husul khotimah. Dalam hadits :

ุงู„ุฃَุนْู…َุงู„ُ ุจِุงู„ْุฎَูˆَุงุชِูŠْู…ِ
“Amalan tergantung akhirnya”

Dari Mu’adz radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ู…َู†ْ ูƒَุงู†َ ุขุฎِุฑُ ูƒَู„ุงَู…ِู‡ِ ู„ุงَ ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„ุงَّ ุงู„ู„ู‡ُ ุฏَุฎَู„َ ุงู„ْุฌَู†َّุฉَ
“Siapa yang perkataannya terakhir adalah “Laa ilaaha illallahu” maka masuk surga” (HR Abu Dawud dan Al-Hakim dengan sanad yang shahih”

Diantara perkara yang ditekankan untuk dikerjakan adalah mentalqin seseorang yang dalam sakaratul maut dengan cara yang lembut untuk mengucapkan syahadat. Caranya adalah menyebut-nyebut syahadat agar orang tersebut ingat syahadat, dan tidak memaksakannya karena ia sedang berada dalam kondisi yang berat. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ู„َู‚ِّู†ُูˆุง ู…َูˆْุชَุงูƒُู…ْ ู„ุงَ ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„ุงَّ ุงู„ู„ู‡ُ
“Talqinkanlah La ilaha illallah kepada orang-orang yang akan meninggal diantara kalian” (HR Muslim)

Kecelakaan adalah lalai dan lupa akan kematian, serta meninggalkan persiapan akan datangnya kematian, terlebih lagi berani melakukan kemaksiatan dan dosa-dosa. Apalagi meninggalkan bertahuid kepada Allah Ta’ala. Melakukan kejahatan dan kezoliman dengan menumpahkan darah yang haram (untuk ditumpahkan), mengambil harta yang haram, melalaikan hak-hak orang lain, serta tenggelam dalam syahwat, hawa nafsu, dan kelezatan, hingga datanglah kematian. Maka tatkala itu tiada guna penyesalan, dan datangnya ajal tidak akan tertunda. Allah berfirman :

ุญَุชَّู‰ ุฅِุฐَุง ุฌَุงุกَ ุฃَุญَุฏَู‡ُู…ُ ุงู„ْู…َูˆْุชُ ู‚َุงู„َ ุฑَุจِّ ุงุฑْุฌِุนُูˆู†ِ (99) ู„َุนَู„ِّูŠ ุฃَุนْู…َู„ُ ุตَุงู„ِุญًุง ูِูŠู…َุง ุชَุฑَูƒْุชُ ูƒَู„َّุง ุฅِู†َّู‡َุง ูƒَู„ِู…َุฉٌ ู‡ُูˆَ ู‚َุงุฆِู„ُู‡َุง ูˆَู…ِู†ْ ูˆَุฑَุงุฆِู‡ِู…ْ ุจَุฑْุฒَุฎٌ ุฅِู„َู‰ ูŠَูˆْู…ِ ูŠُุจْุนَุซُูˆู†َ
“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan” (QS Al-Mukminun : 99-100)

Dan pada hari kiamat semakin besar penyesalan. Allah berfirman ;

ูˆَุงุชَّุจِุนُูˆุง ุฃَุญْุณَู†َ ู…َุง ุฃُู†ْุฒِู„َ ุฅِู„َูŠْูƒُู…ْ ู…ِู†ْ ุฑَุจِّูƒُู…ْ ู…ِู†ْ ู‚َุจْู„ِ ุฃَู†ْ ูŠَุฃْุชِูŠَูƒُู…ُ ุงู„ْุนَุฐَุงุจُ ุจَุบْุชَุฉً ูˆَุฃَู†ْุชُู…ْ ู„َุง ุชَุดْุนُุฑُูˆู†َ (55) ุฃَู†ْ ุชَู‚ُูˆู„َ ู†َูْุณٌ ูŠَุง ุญَุณْุฑَุชَุง ุนَู„َู‰ ู…َุง ูَุฑَّุทْุชُ ูِูŠ ุฌَู†ْุจِ ุงู„ู„َّู‡ِ ูˆَุฅِู†ْ ูƒُู†ْุชُ ู„َู…ِู†َ ุงู„ุณَّุงุฎِุฑِูŠู†َ (56) ุฃَูˆْ ุชَู‚ُูˆู„َ ู„َูˆْ ุฃَู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ู‡َุฏَุงู†ِูŠ ู„َูƒُู†ْุชُ ู…ِู†َ ุงู„ْู…ُุชَّู‚ِูŠู†َ (57) ุฃَูˆْ ุชَู‚ُูˆู„َ ุญِูŠู†َ ุชَุฑَู‰ ุงู„ْุนَุฐَุงุจَ ู„َูˆْ ุฃَู†َّ ู„ِูŠ ูƒَุฑَّุฉً ูَุฃَูƒُูˆู†َ ู…ِู†َ ุงู„ْู…ُุญْุณِู†ِูŠู†َ (58) ุจَู„َู‰ ู‚َุฏْ ุฌَุงุกَุชْูƒَ ุขูŠَุงุชِูŠ ูَูƒَุฐَّุจْุชَ ุจِู‡َุง ูˆَุงุณْุชَูƒْุจَุฑْุชَ ูˆَูƒُู†ْุชَ ู…ِู†َ ุงู„ْูƒَุงูِุฑِูŠู†َ (59)
Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya. Supaya jangan ada orang yang mengatakan: “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah). Atau supaya jangan ada yang berkata: 

´Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa´. Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab ´Kalau sekiranya aku dapat kemnbali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik´. (Bukan demikian) sebenarya telah datang keterangan-keterangan-Ku kepadamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir” 

(QS Az-Zumar : 55-59)

ู‡َุฏَุงู†َุง ุงู„ู„ู‡ُ ูˆَุฅِูŠَّุงูƒُู…ْ ู„ِุฃَู‚ُุฑِّุจُ ู…ِู†ْ ู‡َุฐَุง ุฑُุดْุฏًุง، ูˆَูˆَูِّู‚ْู†َุง ู„ِูƒُู„ِّ ุฎَูŠْุฑٍ، ูˆَู‡َุฏَุงู†َุง ุณَูˆَุงุกَ ุงู„ุณَุจْูŠْู„ِ. ุฃَู‚ُูˆْู„ُ ู‡َุฐَุง ุงู„ู‚َูˆْู„َ ูˆَุฃَุณْุชَุบْูِุฑُ ุงู„ู„ู‡َ ู„ِูŠ ูˆَู„َูƒُู…ْ ูˆَู„ِุณَุงุฆِุฑِ ุงู„ู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ ู…ِู†ْ ูƒُู„ِّ ุฐَู†ْุจٍ ูَุงุณْุชَุบْูِุฑُูˆْู‡ُ ูŠَุบْูِุฑْ ู„َูƒُู…ْ ุฅِู†َّู‡ُ ู‡ُูˆَ ุงู„ุบَูُูˆْุฑُ ุงู„ุฑَุญِูŠْู…ُ.

Khutbah Kedua:

ุงَู„ْุญَู…ْุฏُ ู„ِู„َّู‡ِ ุนَุธِูŠْู…ِ ุงู„ุฅِุญْุณَุงู†ِ ูˆَุงุณِุนِ ุงู„ูَุถْู„ِ ูˆَุงู„ุฌُูˆْุฏِ ูˆَุงู„ุงِู…ْุชِู†َุงู†ِ، ูˆَุฃَุดْู‡َุฏُ ุฃَู†ْ ู„َุง ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„َّุง ุงู„ู„ู‡ُ ูˆَุญْุฏَู‡ُ ู„َุง ุดَุฑِูŠْูƒَ ู„َู‡ُ، ูˆَุฃَุดْู‡َุฏُ ุฃَู†َّ ุนَุจْุฏُู‡ُ ูˆَุฑَุณُูˆْู„ُู‡ُ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ูˆَุณَู„َّู…َ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِู‡ِ ูˆَุตَุญْุจِู‡ِ ุฃَุฌْู…َุนِูŠْู†َ .

ุฃَู…َّุง ุจَุนْุฏُ ุนِุจَุงุฏَ ุงู„ู„ู‡ِ:

ุงِุชَّู‚ُูˆْุง ุงู„ู„ู‡َ ุชَุนَุงู„َู‰، ูˆَุงุนْู„َู…ُูˆْุง ุฃَู†َّ ุชَู‚ْูˆَู‰ ุงู„ู„ู‡ِ ุฌَู„َّ ูˆَุนَู„َุง ุนَู…َู„ٌ ุจِุทَุงุนَุฉِ ุงู„ู„ู‡ِ ุนَู„َู‰ ู†ُูˆْุฑٍ ู…ِู†َ ุงู„ู„ู‡ِ ุฑَุฌَุงุกَ ุซَูˆَุงุจِ ุงู„ู„ู‡ِ، ูˆَุชَุฑْูƒَ ู…َุนْุตِูŠَุฉِ ุงู„ู„ู‡ِ ุนَู„َู‰ ู†ُูˆْุฑٍ ู…ِู†َ ุงู„ู„ู‡ِ ุฎِูŠْูَุฉَ ุนَุฐَุงุจِ ุงู„ู„ู‡ِ .

Kaum muslimin sekalian, Jagalah sebab-sebab yang mendatangkan husul khotimah. Yaitu dengan menegakan kelima rukun Islam dan menjauhi dosa-dosa dan perbuatan zolim. Diantara sebab tersbesar meraih husnul khotimah tatkala meninggal adalah sesantiasa berdoa memohon husnul khotimah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ุงุฏْุนُูˆู†ِูŠ ุฃَุณْุชَุฌِุจْ ู„َูƒُู…ْ ุฅِู†َّ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ูŠَุณْุชَูƒْุจِุฑُูˆู†َ ุนَู†ْ ุนِุจَุงุฏَุชِูŠ ุณَูŠَุฏْุฎُู„ُูˆู†َ ุฌَู‡َู†َّู…َ ุฏَุงุฎِุฑِูŠู†َ
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS Ghofir : 60)

Maka doa adalah pengumpul seluruh kebaikan. Dari Nu’man bin Basyiir radhiyallahu anhuma ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ุงู„ุฏُّุนَุงุกُ ู‡ُูˆَ ุงู„ْุนِุจَุงุฏَุฉُ
“Doa merupakan ibadah” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi dan beliau berkata : Hadits hasan shahih)

Dan dalam hadits : “Siapa yang memperbanyak mengucapkan :

ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุฃَุญْุณِู†ْ ุนَุงู‚ِุจَุชَู†َุง ูِูŠ ุงู„ْุฃُู…ُูˆุฑِ ูƒُู„ِّู‡َุง , ูˆَุฃَุฌِุฑْู†َุง ู…ِู†ْ ุฎِุฒْูŠِ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ูˆَู…ِู†ْ ุนَุฐَุงุจِ ุงู„ْุขุฎِุฑَุฉِ
“Ya Allah baguskanlah kesudahan kami dalam segara urusan dan lindungilah kami dari kehinaan dunia dan adzab akhirat”

Maka niscaya ia akan meninggal sebelum terkena musibah.

Dan sebab suul khotimah (mati dalam kondisi buruk) adalah melalaikan hak Allah dan hak-hak orang lain, terus menerus menekuni dosa-dosa besar dan maksiat-maksiat, serta meremehkan keagungan Allah, juga bersandar kepada dunia dan melupakan akhirat.

ูˆَุงุนْู„َู…ُูˆْุง ุฃَู†َّ ุฃَุตْุฏَู‚َ ุงู„ุญَุฏِูŠْุซِ ูƒَู„َุงู…ُ ุงู„ู„ู‡ِ ูˆَุฎَูŠْุฑَ ุงู„ู‡ُุฏَู‰ ู‡ُุฏَู‰ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ، ูˆَุดَุฑَّ ุงู„ุฃُู…ُูˆْุฑِ ู…ُุญْุฏَุซَุงุชُู‡َุง ูˆَูƒُู„َّ ู…ُุญْุฏَุซَุฉٍ ุจِุฏْุนَุฉٌ ูˆَูƒُู„َّ ุจِุฏْุนَุฉٌ ุถَู„َุงู„َุฉٍ ูˆَูƒُู„َّ ุถَู„َุงู„َุฉٍ ูِูŠ ุงู„ู†َุงุฑِ، ูˆَุนَู„َูŠْูƒُู…ْ ุจِุงู„ْุฌَู…َุงุนَุฉِ ูَุฅِู†َّ ูŠَุฏَ ุงู„ู„ู‡ِ ุนَู„َู‰ ุงู„ุฌَู…َุงุนَุฉِ .

ูˆَุตَู„ُّูˆْุง ุฑَุญِู…َูƒُู…ُ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َู‰ ุฅِู…َุงู…ِ ุงู„ู…ُุชَّู‚ِูŠْู†َ ูˆَุฎَูŠْุฑِ ุนِุจَุงุฏِ ุงู„ู„ู‡ِ ุฃَุฌْู…َุนِูŠْู†َ ู…ُุญَู…َّุฏِ ุจْู†ِ ุนَุจْุฏِ ุงู„ู„ู‡ِ ูƒَู…َุง ุฃَู…َุฑَูƒُู…ُ ุงู„ู„ู‡ُ ุจِุฐَู„ِูƒَ ูِูŠ ูƒِุชَุงุจِู‡ِ ูَู‚َุงู„َ : ﴿ ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ูˆَู…َู„َุงุฆِูƒَุชَู‡ُ ูŠُุตَู„ُّูˆู†َ ุนَู„َู‰ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ุตَู„ُّูˆุง ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„ِّู…ُูˆุง ุชَุณْู„ِูŠู…ุงً ﴾ [ุงู„ุฃุญุฒุงุจ:ูฅูฆ] ، ูˆَู‚َุงู„َ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ: (( ู…َู†ْ ุตَู„َّู‰ ุนَู„َูŠَّ ุตَู„ุงุฉً ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ุจِู‡َุง ุนَุดْุฑًุง)) .

ุงَู„ู„َّู‡ُู…َّ ุตَู„ِّ ุนَู„َู‰ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูƒَู…َุง ุตَู„َูŠْุชَ ุนَู„َู‰ ุฅِุจْุฑَุงู‡ِูŠْู…َ ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِ ุฅِุจْุฑَุงู‡ِูŠْู…َ ุฅِู†َّูƒَ ุญَู…ِูŠْุฏٌ ู…َุฌِูŠْุฏٌ، ูˆَุจَุงุฑِูƒْ ุนَู„َู‰ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูƒَู…َุง ุจَุงุฑَูƒْุชَ ุนَู„َู‰ ุฅِุจْุฑَุงู‡ِูŠْู…َ ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِ ุฅِุจْุฑَุงู‡ِูŠْู…َ ุฅِู†َّูƒَ ุญَู…ِูŠْุฏٌ ู…َุฌِูŠْุฏٌ، ูˆَุงุฑْุถَ ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุนَู†ِ ุงู„ุฎُู„َูَุงุกِ ุงู„ุฑَุงุดِุฏِูŠْู†َ ุงَู„ْุฃَุฆِู…َّุฉِ ุงู„ู…َู‡ْุฏِูŠِูŠْู†َ ุฃَุจِูŠْ ุจَูƒْุฑٍ ูˆَุนُู…َุฑَ ูˆَุนُุซْู…َุงู†َ ูˆَุนَู„ِูŠٍّ، ูˆَุงุฑْุถَ ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุนَู†ِ ุงู„ุตَّุญَุงุจَุฉِ ุฃَุฌْู…َุนِูŠْู†َ، ูˆَุนَู†ِ ุงู„ุชَّุงุจِุนِูŠْู†َ ูˆَู…َู†ْ ุชَุจِุนَู‡ُู…ْ ุจِุฅِุญْุณَุงู†ٍ ุฅِู„َู‰ ูŠَูˆْู…ِ ุงู„ุฏِّูŠْู†ِ، ูˆَุนَู†َّุง ู…َุนَู‡ُู…ْ ุจِู…َู†ِّูƒَ ูˆَูƒَุฑَู…ِูƒَ ูˆَุฅِุญْุณَุงู†ِูƒَ ูŠَุง ุฃَูƒْุฑَู…َ ุงู„ุฃَูƒْุฑَู…ِูŠْู†َ .

ุงَู„ู„َّู‡ُู…َّ ุฃَุนِุฒَّ ุงู„ุฅِุณْู„َุงู…َ ูˆَุงู„ู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ، ุงَู„ู„َّู‡ُู…َّ ุฃَุนِุฒَّ ุงู„ุฅِุณْู„َุงู…َ ูˆَุงู„ู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ، ุงَู„ู„َّู‡ُู…َّ ุฃَุนِุฒَّ ุงู„ุฅِุณْู„َุงู…َ ูˆَุงู„ู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ، ูˆَุฃَุฐِู„َّ ุงู„ุดِّุฑْูƒَ ูˆَุงู„ู…ُุดْุฑِูƒِูŠْู†َ ูˆَุฏَู…ِّุฑْ ุฃَุนْุฏَุงุกَ ุงู„ุฏِّูŠْู†َ، ูˆَุงุญْู…ِ ุญَูˆْุฒَุฉَ ุงู„ุฏِّูŠْู†َ ูŠَุง ุฑَุจَّ ุงู„ุนَุงู„َู…ِูŠْู†َ. ุงَู„ู„َّู‡ُู…َّ ุขู…ِู†َّุง ูِูŠ ุฃَูˆْุทَุงู†ِู†َุง ูˆَุฃَุตْู„ِุญْ ุฃَุฆِู…َّุชَู†َุง ูˆَูˆُู„َุงุฉَ ุฃُู…ُูˆْุฑِู†َุง ูˆَุงุฌْุนَู„ْ ูˆِู„َุงูŠَุชَู†َุง ูِูŠْู…َู†ْ ุฎَุงูَูƒَ ูˆَุงุชَّู‚َุงูƒَ ูˆَุงุชَّุจَุนَ ุฑِุถَุงูƒَ ูŠَุง ุฑَุจَّ ุงู„ุนَุงู„َู…ِูŠْู†َ. ุงَู„ู„َّู‡ُู…َّ ูˆَูِّู‚ْ ูˆَู„ِูŠَ ุฃَู…ْุฑِู†َุง ู„ِู‡ُุฏَุงูƒَ، ูˆَุงุฌْุนَู„ْ ุนَู…َู„َู‡ُ ูِูŠ ุฑِุถَุงูƒَ، ูˆَุงุฑْุฒُู‚ْู‡ُ ุงู„ุจِุทَุงู†َุฉَ ุงู„ุตَุงู„ِุญَุฉَ ุงู„ู†َุงุตِุญَุฉَ ูŠَุง ุฑَุจَّ ุงู„ุนَุงู„َู…ِูŠْู†َ. ุงَู„ู„َّู‡ُู…َّ ูˆَูِّู‚ْ ุฌَู…ِูŠْุนَ ูˆُู„َุงุฉَ ุฃَู…ْุฑِ ุงู„ู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ ู„ِู„ْุนَู…َู„ِ ุจِูƒَุชَุงุจِูƒَ ูˆَุชَุญْูƒِูŠْู…ِ ุดَุฑْุนِูƒَ ูˆَุงุชِّุจَุงุนِ ุณُู†َّุฉِ ู†َุจِูŠِّูƒَ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ .

ุงَู„ู„َّู‡ُู…َّ ุฃَุตْู„ِุญْ ู„َู†َุง ุฏِูŠْู†َู†َุง ุงَู„َّุฐِูŠْ ู‡ُูˆَ ุนِุตْู…َุฉُ ุฃَู…ْุฑِู†َุง، ูˆَุฃَุตْู„ِุญْ ู„َู†َุง ุฏُู†ْูŠَุงู†َุง ุงَู„َّุชِูŠ ูِูŠْู‡َุง ู…َุนَุงุดُู†َุง، ูˆَุฃَุตْู„ِุญْ ู„َู†َุง ุขุฎِุฑَุชَู†َุง ุงَู„َّุชِูŠ ูِูŠْู‡َุง ู…َุนَุงุฏُู†َุง، ูˆَุงุฌْุนَู„ِ ุงู„ุญَูŠَุงุฉَ ุฒِูŠَุงุฏَุฉً ู„َู†َุง ูِูŠ ูƒُู„ِّ ุฎَูŠْุฑٍ، ูˆَุงู„ู…َูˆْุชَ ุฑَุงุญَุฉً ู„َู†َุง ู…ِู†ْ ูƒُู„ِّ ุดَุฑٍّ. ุงَู„ู„َّู‡ُู…َّ ุงู‡ْุฏِู†َุง ู„ِุฃَุญْุณَู†ِ ุงู„ุฃَุฎْู„َุงู‚ِ ู„َุง ูŠَู‡ْุฏِูŠْู†ุงَ ู„ِุฃَุญْุณَู†ِู‡َุง ุฅِู„َّุง ุฃَู†ْุชَ، ูˆَุงุตْุฑِูْ ุนَู†َّุง ุณَูŠِّุฆَู‡َุง ู„َุง ูŠَุตْุฑِูُ ุนَู†َّุง ุณَูŠِّุฆَู‡ุงَ ุฅِู„َّุง ุฃَู†ْุชَ. ุงَู„ู„َّู‡ُู…َّ ุขุชِ ู†ُูُูˆْุณَู†َุง ุชَู‚ْูˆَุงู‡َุง ุฒَูƒِّู‡َุง ุฃَู†ْุชَ ุฎَูŠْุฑَ ู…َู†ْ ุฒَูƒَّุงู‡َุง ุฃَู†ْุชَ ูˆَู„ِูŠُّู‡َุง ูˆَู…َูˆْู„َุงู‡َุง. ุงَู„ู„َّู‡ُู…َّ ุงุบْูِุฑْ ู„َู†َุง ูˆَู„ِูˆَุงู„ِุฏَูŠْู†َุง ูˆَู„ِู„ْู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ ูˆَุงู„ู…ُุณْู„ِู…َุงุชِ ูˆَุงู„ู…ُุคْู…ِู†ِูŠْู†َ ูˆَุงู„ู…ُุคْู…ِู†َุงุชِ ุงَู„ْุฃَุญْูŠَุงุกِ ู…ِู†ْู‡ُู…ْ ูˆَุงู„ْุฃَู…ْูˆَุงุชِ، ุงَู„ู„َّู‡ُู…َّ ูˆَุงุฑْูَุนْ ุนَู†َّุง ุงู„ุบَู„َุงุกَ ูˆَุงู„ูˆَุจَุงุกَ ูˆَุงู„ู…ِุญَู†َ ูƒُู„َّู‡َุง ูˆَุงู„ุฒَู„َุงุฒِู„َ ูˆَุงู„ูِุชَู†َ ู…َุง ุธَู‡َุฑَ ู…ِู†ْู‡َุง ูˆَู…َุง ุจَุทَู†َ ุนَู†ْ ุจَู„َุฏِู†َุง ู‡َุฐَุง ุฎَุงุตَุฉً ูˆَุนَู†ْ ุณَุงุฆِุฑِ ุจِู„َุงุฏِ ุงู„ู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ ุนَุงู…َุฉً ูŠَุง ุฐَุง ุงู„ุฌَู„َุงู„ِ ูˆَุงู„ุฅِูƒْุฑَุงู…ِ. ุฑَุจَّู†َุง ุฅِู†َّุง ุธَู„َู…ْู†َุง ุฃَู†ْูُุณَู†َุง ูˆَุฅِู†ْ ู„َู…ْ ุชَุบْูِุฑْ ู„َู†َุง ูˆَุชَุฑْุญَู…ْู†َุง ู„َู†َูƒُูˆْู†َู†َّ ู…ِู†َ ุงู„ุฎَุงุณِุฑِูŠْู†َ ุฑَุจَّู†َุง ุขุชِู†َุง ูِูŠ ุงู„ุฏُู†ْูŠَุง ุญَุณَู†َุฉً ูˆَูِูŠ ุงู„ุขุฎِุฑَุฉِ ุญَุณَู†َุฉً ูˆَู‚ِู†َุง ุนَุฐَุงุจَ ุงู„ู†َّุงุฑِ .

ุนِุจَุงุฏَ ุงู„ู„ู‡ِ: ุงُุฐْูƒُุฑُูˆْุง ุงู„ู„ู‡َ ูŠَุฐْูƒُุฑْูƒُู…ْ، ูˆَุงุดْูƒُุฑُูˆْู‡ُ ุนَู„َู‰ ู†ِุนَู…ِู‡ِ ูŠَุฒِุฏْูƒُู…ْ، ูˆَู„َุฐِูƒْุฑُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุฃَูƒْุจَุฑُ ูˆَุงู„ู„َّู‡ُ ูŠَุนْู„َู…ُ ู…َุง ุชَุตْู†َุนُูˆู†َ.

Khotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 22 Rajab 1437 H oleh Syekh Ali Bin Abdurrahman Al-Hudzaifi

Penerjemah : Usman Hatim & Firanda Andirja
Artikel firanda.com
Baca selengkapnya »
-->