IBX5A47BA52847EF DakwahPost: kisah nyata
RIBA YG TELAH MENYENGSARAKAN KAMI (Sebuah Testimoni)

RIBA YG TELAH MENYENGSARAKAN KAMI (Sebuah Testimoni)

Dulu saya nasabah bank konven ... Selang setahun krn ingin kaffah th 2008 saya "hijrah" ke bank syariah ... Waktu itu rasanya jika matipun sy layak masuk syurga, krn sy fikir sdh terbebas dari RIBA

Suntikan dana dr bank syariah tsb menggenjot pertumbuhan usaha kami hingga th 2013, namun sejak 2014 hingga 2016 bertubi masalah besar menghantam usaha kami.

Waktu itu kami merasa goyah keyakinan ... Krn 3% dr omzet sdh kami keluarkan, tapi kok masalah terus mendera.

Kami terus menerus berdoa minta didatangkan org terbaik di muka bumi ini utk memperbaiki kondisi ini... Hingga suatu saat di akhir 2016 kami beserta teman² UKM mengundang Ust Dian Ranggajaya, M.E. Sy utk memberikan pencerahan muamalah.

Ada bbrp point yg buat sy tertampar & ga bisa nyangkal pernyataannya, diantaranya :

a. Riba itu terdiri 73 pintu dosa, dosa teringan spti seorang yg menzinahi ibu kandungnya

b. 1 dirham (Rp70.000) bertransaksi RIBA, setara dg 36x berzinah

c. Alloh melaknat pemakan, pemberi, pencatat & saksi RIBA, semuanya sama dosanya

d. Alloh akan menyuburkan SEDEKAH & menghancurkan RIBA

e. Usaha pelaku RIBA biasanya di awalnya bertumbuh, namun suatu saat pasti akan turun hingga hancur.

Dari bbrp point tsb bikin sy & istri gelisah, memikirkan "musyarokah" yg sdh kami lakukan dg bank syariah... Sy khawatir ini biang kerok dr masalah tsb

RIBA YG TELAH MENYENGSARAKAN KAMI

Lalu secara intensif kami konsultasi khusus dg beliau, apakah "musyarokah" kami terbebas RIBA ... ternyata stlh dikaji akad² nya adalah R I B A !

Astaghfirallah kami shok ... Waktu itu kami benar² sedih, ngeri & kecewa dg bank yg menamakan syariah tapi sudah MENIPU kami selama 8 th !!! ... Mereka menjerumuskan kami ke lubang neraka dg kata² berbau syurga, tapi khakekatnya pembawa ke neraka.

Bln Februari 2017 yg lalu seharusnya kami menandatangani perpanjangan "musyarokah"... Namun kami TOLAK ... Sy bilang pd Pimpinan Cabangnya

"Bila kami teruskan musyarokah ini sama saja dg mengumumkan perang dg Alloh ... Kami lebih takut dg Alloh drpd dg kalian !"

... Tak terasa sy menangis teringat DOSA RIBA yg telah kami perbuat, namun sy lihat mereka biasa² saja ... Astaghfirallah padahal mereka rajin ibadah ... Apakah Alloh sudah menutup imannya ? ... Wallohualam.

Ketika sy minta solusi syar'i yg sesuai Al Quran & Hadist mereka menolak ... Mereka punya cara sendiri yg katanya sdh sesuai DSN ... Astaghfirullah.

Skrg kami tengah dlm proses recovery bank yg mengaku syariah tsb... Mohon doa dari mukminin agar musyarokah ini segera selesai dg cara yg syar'i dan berujung berkah... Aamiin yra.

Semoga testimoni ini menjadi pelajaran bagi mukmin yg berhijrah agar hati² bila musyarokah dg pihak manapun... Pelajari & kaji akad²nya agar kita tak tergelincir DOSA RIBA spti kami.

Testimoni Anwar Bogor

RIKI PERMANA
FOUNDER HIJRAH TANPA RIBA
Baca selengkapnya »
KISAH BAHAYA MENiLAi sebeLum MEMBACA

KISAH BAHAYA MENiLAi sebeLum MEMBACA

Ada seorang Arab Badui menemui khalifah al-Mu’tashim, lalu ia diangkat menjadi orang dekat dan orang kepercayaannya. Ia kemudian dengan leluasa dapat menemui isterinya tanpa perlu minta izin dulu.

Sang khalifah memiliki seorang menteri yang memiliki sifat dengki. Melihat kepercayaan yang sedemikian besar diberikan sang khalifah kepada orang Arab Badui itu, ia cemburu dan dengki terhadapnya. Di dalam hatinya ia berkata, “Kalau aku tidak membunuh si badui ini, kelak ia bisa mengambil hati sang Amirul Mukminin dan menyingkirkanku.”

Kemudian ia merancang sebuah tipu muslihat dengan cara bermanis-manis terlebih dahulu terhadap orang Badui tadi. Ia berhasil membujuk orang Badui itu dan mengajaknya mampir ke rumahnya. Di sana, ia memasakkan makanan untuknya dengan memasukkan bawang merah sebanyak-banyaknya. 

KISAH BAHAYA MENiLAi sebeLum MEMBACA

Ketika orang Badui selesai makan, ia berkata, “Hati-hati, jangan mendekat ke Amirul Mukminin sebab bila mencium bau bawang merah itu darimu, pasti ia sangat terusik. Amirul Mukminin sangat pasti membenci aromanya.”

Setelah tak berapa lama, si pendengki ini menghadap Amirul Mukminin lalu berduaan saja dengannya. Ia berkata kepada Amirul Mukminin, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya orang Badui itu memperbincangkanmu kepada orang-orang bahwa tuan berbau mulut dan ia merasa hampir mati karena aroma mulut tuan.”

Tatkala si orang Badui menemui Amirul Mukminin pada suatu hari, ia menutupi mulutnya dengan lengan bajunya karena khawatir aroma bawang merah yang ia makan tercium oleh beliau. Namun tatkala sang Amirul Mukminin melihatnya menutupi mulutnya dengan lengan bajunya, berkatalah ia di dalam hati, “Sungguh, apa yang dikatakan sang menteri mengenai si orang Badui ini memang benar.”

Kemudian Amirul Mukminin menulis sebuah surat berisi pesan kepada salah seorang pegawainya, bunyinya: “Bila pesan ini sampai kepadamu, maka penggallah leher si pembawanya.!”

Lalu, Amirul Mukminin memanggil si orang Badui untuk menghadap dan menyerahkan kepadanya sebuah surat seraya berkata, “Bawalah surat ini kepada si fulan, setelah itu berikan aku jawabannya.”

Si orang Badui yang begitu lugu dan polos menyanggupi apa yang dipesankan Amirul Mukminin. Ia mengambil surat itu dan berlalu dari sisi Amirul Mukminin. Ketika berada di pintu gerbang, sang menteri yang selalu mendengki itu menemuinya seraya berkata, “Hendak ke mana engkau.?”

“Aku akan membawa pesan Amirul Mukminin ini kepada pegawainya, si fulan,” jawab si orang Badui.

Di dalam hati, si menteri ini berkata, “Pasti dari tugas yang diemban si orang Badui ini, ia akan memperoleh harta yang banyak.” Maka, berkatalah ia kepadanya,

“Wahai Badui, bagaimana pendapatmu bila ada orang yang mau meringankanmu dari tugas yang tentu akan melelahkanmu sepanjang perjalanan nanti bahkan ia malah memberimu upah 2000 dinar.?”

“Kamu seorang pembesar dan juga sang pemutus perkara. Apa pun pendapatmu, lakukanlah!” kata si orang Badui

“Berikan surat itu kepadaku!” kata sang menteri .

Si orang Badui pun menyerahkannya kepadanya, lalu sang menteri memberinya upah sebesar 2000 dinar. Surat itu ia bawa ke tempat yang dituju.

Sesampainya di sana, pegawai yang ditunjuk Amirul Mukminin pun membacanya, lalu setelah memahami isinya, ia memerintahkan agar memenggal leher sang menteri.

Setelah beberapa hari, sang khalifah baru teringat masalah si orang Badui. Karena itu, ia bertanya tentang keberadaan sang menteri. Lalu ada yang memberitahukan kepadanya bahwa sudah beberapa hari ini ia tidak muncul dan justru si orang Badui masih ada di kota.

Mendengar informasi itu, sang khalifah tertegun, lalu memerintahkan agar si orang Badui itu dibawa menghadap. Ketika si orang Badui hadir, ia menanyakan tentang kondisinya, maka ia pun menceritakan kisahnya dengan sang menteri dan kesepakatan yang dibuat bersamanya sekali pun ia tidak tahu menahu apa urusannya. Dan, ternyata apa yang dilakukannya terhadap dirinya itu, tidak lain hanyalah siasat licik sang menteri dan kedengkiannya terhadapnya.

Lalu si orang Badui ini memberitahukan kepada khalifah perihal undangan sang menteri kepadanya untuk makan-makan di rumahnya, termasuk menyantap banyak bawang merah dan apa saja yang terjadi di sana. Ia berkata, “Wahai Amirul Mukminin, Allah telah membunuh dengki, alangkah adilnya Dia! Ia (dengki) memulainya dengan si pemilik (tuan)-nya lalu membunuhnya.”

Setelah peristiwa itu, si orang Badui dibebastugaskan dari tugas terdahulu dan diangkat menjadi menteri. Yah, sang menteri telah beristirahat bersama kedengkiannya.!! (Nihaayah azh-Zhaalimiin)

semoga bermanfaaat
Baca selengkapnya »
MENYELAMI PERKATAAN ORANG TENTANG WAHABI

MENYELAMI PERKATAAN ORANG TENTANG WAHABI

BACA SAMPAI SELESAI BIAR TIDAK GAGAL PAHAM And SHARE KE SEMUA ORANG AGAR TIDAK TERTIPU

Pertama kali saya tahu kajian-kajian salafi (wahabi–red) itu sekitar 2006. Pas kuliah di Jogja. Sebelum itu saya fanatik dengan agama lokal dari kampung halaman di Situbondo. Jadi, pas awal pindah ke Jogja dan tinggal di rumah nenek, saya nggak mau jumatan di mesjid dekat rumah, sebab adzannya 1x, nggak kayak di kampung halaman, adzan 2x, khotibnya pegang tombak, dan sebelum khotbah biasanya ada salah 1 jamaah yang berdiri terus bilang “Yaa ma’syarol muslimin…” dst..

Ketika tahu mesjid dekat rumah nggak seperti itu, saya nggak mau jumatan di situ, memilih jalan jauh ke mesjid kampus UGM, padahal ya sama saja adzannya juga 1x, tapi saya sudah terlanjur “alergi” dengan orang-orang di mesjid deket rumah itu, mereka pakai celana cingkrang, jenggotan. Hih. Ogah, mending ke mesjid kampus UGM yang jamaahnya lebih umum, masih ada yang pake celana jin.

Waktu itu saya tahunya mereka yang cingkrang itu Muhammadiyah… Dan menurut ajaran dari kampung, Muhammadiyah itu nggak tahlilan, sementara kita NU tahlilan. Gitu aja definisinya, tanpa ada niat nyari tahu kok bisa beda? Kan pasti ada alasannya? Lalu yang lebih mendekati kebenaran yg mana? Nggak ada pikiran semacam itu. Pokoknya kalau sudah lahir di keluarga NU ya sudah ikut saja. Apalagi sejak kecil sudah dibangun sentimentalisme kefanatikan seolah Muhammadiyah itu aneh.

Ke-alergian terhadap orang-orang di mesjid dekat rumah itu berlangsung sekitar 2 tahun. Sampe suatu masa, di Jogja lagi rame kasus mahasiswa yang tiba-tiba direkrut oleh semacam gerakan baiat gitu, sehingga tiba-tiba nggak mau ngobrol sama orangtuanya karena orangtua dianggap kafir (naudzubillah).

Pokoknya entah aliran apa namanya, NII apa ya? Wuih itu ngeri. Teman sekelas saya, cewek, ada yang kena gerakan itu. Bahwa Indonesia bukan negara islam, kita harus bikin negara islam, bla bla bla… Saya lalu berhati-hati. Kalau kebetulan ke kampus MIPA selatan, di seberang kampus ada masjid Al Hasanah, di mesjid itu perempuannya pakai cadar hitam-hitam, saya sering bilang, “Itu pasti yang aliran sesat.”

Di periode itu, model ikhwan-akhwat dalam sebuah wadah bernama liqo’ juga mulai menjamur di kampus. Ada seorang sahabat yang keren digandrungi akhwat-akhwat, dia kalo lagi nggak ada jam kuliah nongkrongnya di musholla, ngobrol sama akhwat di balik hijab. Saya iri, kan kepingin juga didekatin cewek-cewek.

Apalagi waktu itu ada akhwat yang cantik sekali, yang membuat saya tahu diri, siapalah saya ini, jenggot tipis aja nggak punya, nggak ada potongan seorang ikhwan…. Namun demi mendapat perhatian, itu jadi semacam titik tolak untuk berniat belajar agama (nggak ikhlas banget niatnya…) Saya segera rajin lihat papan pengumuman yang terpajang di musholla. Lihat ada poster acara apa yang berhubungan dengan agama. Nyari yang gratisan.

Maka, acara agama yang pertama saya datangi itu acaranya Hizbut Tahrir, dalam keadaan saya awam tentang kelompok ini, yang penting kan datang aja biar keren dan kelihatan alim dapat sertifikat. Waktu itu acaranya di Aula Fakultas Pertanian. Jadi bukan mesjid, melainkan kayak seminar, duduk di bangku-bangku kuliah, ada meja-meja melingkar dibikin kelompok, lalu ada layar proyektor, slide, gitu-gitu, endingnya pesertanya dapat CD. Saya gak paham apa yang disampaikan, tiba-tiba disuruh diskusi, ada makan siang, yang penting datang aja biar keren.

Esoknya di kampus, saya tunjukkan CD dan sertifikat ke sahabat saya yang digandrungi akhwat itu, pamer: nih saya juga tahu datang seminar islam… Dia malah kaget, “Lho, kamu datang ke acaranya HTI?” Mendengar pertanyaan itu, saya balik kaget, “Lho kenapa ya emangnya?”

Sejak itu, saya tahu kalau ada banyak kelompok-kelompok kaum muslimin, saya kira cuma Muhammadiyah dan NU. Ternyata ada HTI, ada Ikhwanul Muslimin (IM), NII, LDII, MTA.. Nah yang liqo’ ini ujungnya saya tahu afiliasi mereka ke IM.

Saya mulai mempelajari masing-masing perbedaan antar kelompok, mengenal tokoh-tokoh mereka. Jadi tahu oh ternyata HTI itu tujuannya gini, cirinya gini, IM itu gini, cirinya gini. Saya kadang datang ke obrolannya anak IM, kadang ngobrol dengan anak HTI, pokoknya yang obrolannya agama, ikut nimbrung….


Namun saya mesti berpikir rasional, bahwa pasti ada alasan kenapa kelompok ini begini, kelompok itu begitu, mesti diuji materi, sehingga bisa ketahuan mana yang setidaknya paling bisa saya percaya. Bukan lantas tidak mau repot-repot, ya sudahlah mereka bisa benar, kita bisa benar, yang tahu kebenaran hanya Allah. Wis, lalu jadilah paling toleran, simsalabim, islam nusantara… Nggak gitu, kalo gitu sih nggak perlu ada dakwah saja, nggak perlu diutus Nabi dan Rasul, nggak perlu diturunkan AlQur’an, biar aja setiap manusia percaya dengan keyakinan sendiri-sendiri…

Dalam dunia eksak, selama segala hal yang berbeda bisa dicari pemecahannya, mana yang lebih valid, maka dicari. Bahkan kalo bisa yang berbeda-beda itu diajak bersatu. Sehingga logikanya, bersatu di atas landasan yang kokoh. Bukan sengaja berbeda lalu pura2 bersatu saling toleransi padahal saling sikut. “Kau sangka mereka bersatu padahal hati mereka berpecah belah,” kata ayat dalam Al Qur’an.

Sekarang kan apa-apa ditoleransi, ada kelompok yang penentuan Idul Fitrinya berdasarkan pasang surut air laut, ditoleransi, ada orang ngaku jadi Nabi, ditoleransi, besok ada yang sholat dhuhur 8 rokaat pun pasti ditoleransi. Lha ya udah rusak dakwah ini, tiap mau bilang, “eh ini nggak boleh,” dibales, “kamu merasa bener sendiri, menyesat-nyesatkan orang. Mau memonopoli surga.” Ya sudaaah repot.

Karena itulah pengusung paham buram: saya bisa benar, kamu bisa benar, semua bisa benar, toleran, liberal, itu biasanya datang dari mereka yang kuliah di fakultas non-eksak. Filsafat terutama. Karena sudah dibiasakan berpikir seperti itu. Selama masih bisa ngeles ya ngeles terus. Bermain-main opini saja. Mana yang kelihatan paling keren opininya, paling satir, ya wis, itu yang juara! Nggak urus itu ngawur apa nggak.

Balik ke cerita. Setidaknya satu sisi positif dari hasil bergaul dengan teman-teman HTI dan IM adalah, saya mulai tidak alergi dengan penampilan celana cingkrang dan jenggot. Sebab sebagian teman ada yang begitu. meski saya belum tahu alasannya. Mungkin tren.

Nah, kemudian muncullah sebuah pertanyaan besar: Lalu, kalau orang-orang yang di mesjid dekat rumah, yang cingkrang, jenggotan, itu aliran apa ya?

Mulai deh. Sehabis maghrib biasanya kan ada kajian. Sesekali saya coba duduk di teras mesjid, dengerin yang diomongin si ustadz… Oh, ternyata ustadz itu bicaranya tentang tauhid, syirik, sunnah, bid’ah… Kok kayaknya menarik? Belum pernah nih di kampung ada ceramah kayak gini.

Kemudian lain waktu saya mulai masuk deh ikut kajian itu biarpun nggak ada sertifikat. Sehabis maghrib, malam selasa dan malam sabtu. Asli, saya jatuh cinta. Cara ustadznya menjelaskan, terus banyak hal baru yang saya ketahui dan bikin, “Oh, gitu ya? Oh ternyata gitu?”

Berbeda dengan seminar yang kebanyakan seperti bertele-tele, ustadz di mesjid ini langsung ke poinnya. Dan setelah beberapa kali saya ikuti, ternyata bisa disimpulkan tujuan dakwahnya mereka ini sederhana banget: cuma gimana biar bisa ibadah dengan bener, tahu landasannya, bukan ikut-ikutan. Gimana biar kita terasa hidup dekat dengan Nabi dan para sahabat. Udah. Gitu. Simpel banget. Terlalu simpel malahan.

Nggak ada tujuan bikin negara islam, bikin gerakan rekrut orang, bai’at, kartu anggota, tur ziarah.. Nggak ada. Cuma diajarkan, udah meng-Esa-kan (mentauhidkan) Allah dengan bener belum? ibadah kita selama ini udah sesuai dengan tuntunan Rasulullah belum? Wis, tok, til, itu aja.

Mereka tidak punya penamaan seperti IM atau HTI, sebab konon memang nggak punya nama, cuma berdakwah mengajak pada islam yang murni dan lurus.

Adapun kemudian saya dengar dari orang-orang, bahwa mereka dinamakan wahabi… Ketika saya baca artikel tentang wahabi, itu wuh sadis banget! Konspirasi dengan Inggris, temennya Mamarika, menghancurkan makam Nabi, radikal, ngajarin pegang senjata. Apalagi kalau levelnya sudah utak-atik sejarah, ada buku judulnya Sejarah Berdarah Sekte Wahabi. Kok sangar temen? Padahal realitas yang saya datangi sendiri, nggak ada itu.

Maka terjadi pergolakan besar dalam diri saya. Dimasuki banyak hal-hal yang terasa baru. Wahabi ternyata tidak merayakan maulid, alasannya: soalnya Rasul tidak merayakannya. Simpel banget! Tapi wahabi justru mengajarkan cinta Rasul dengan meneladani beliau. Akhirnya saya tahu, oh, jadi Rasul memerintahkan kain celana di atas mata kaki, pantesan mereka cingkrang.

Saya ragu, apa mau cingkrang juga ya? Duh, nggak keren lagi dong kalau ke kampus. Antara menuruti jiwa muda untuk tampil modis atau menuruti perintah Rasul? Yah kok Rasul nyuruh gini sih? Berat hati. Sebenarnya kalau saya mau menolak, ada jalannya, yaitu embusan dari orang-orang bahwa cingkrang itu ciri teroris, bahwa itu sebetulnya nggak wajib, bahwa jangan terlalu kaku lah dengan dalil, memahami hadits harus dari sudut pandang modern… Pokoknya opini-opini yang sifatnya menolak dengan cara ngalor-ngidul dulu mencari-cari pembenaran. Sementara wahabi itu simpel banget: Ada dalil, sahih, kerjakan. Tidak ada, tidak perlu dikerjakan.

Tapi yang sederhana begini, masyaAllah… Dihujat di mana-mana. Apalagi di kalangan penulis intelektual filsafat satiris posmodern, seperti jadi musuh bersama.

Wahabi dibilang anti-maulid, tidak cinta Rasul. Padahal saya lihat mereka yang paling meneladani perilaku Rasulullah. Selama di kampung saya nggak tahu kalo Rasul memerintahkan kain celana di atas mata kaki.

Wahabi dibilang tidak mau shalawat. Padahal saya lihat mereka cuma mencukupkan shalawat yang diajarkan Rasul, yaitu shalawat yang biasa dibaca di tahiyat akhir dalam sholat, bukan shalawat hasil ide-ide kreatif.

Wahabi dibilang melarang ziarah kubur, padahal mereka cuma melarang minta-minta sama orang mati meskipun itu wali, bukan ziarahnya yang dilarang.

Juga dibilangnya wahabi mau bikin mazhab baru, padahal pas kajian mereka tetap mengutip pendapat Imam Syafi’, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad. Bahkan mereka selalu mengkaji, jika 4 pendapat imam itu berbeda, maka mana yang lebih mendekati sunnah, itu yang diikuti, tanpa merendahkan keilmuan salah satu dari imam mazhab. Jadi nggak asal, kita mazhabnya syafi’i, lalu fanatik, sampai ada yang nggak mau nikah dengan mazhab lain.

Dan semua yang wahabi lakukan, itu karena ada dalil dari Rasulullah. Bukan karena ingin memecah belah atau tampil beda atau merasa benar sendiri yang lain sesat.

Bahkan saya lihat, wahabi itu yang paling banyak mengalah dari keinginannya. Gimana gak ngalah? Perempuannya bercadar, jilbab lebar hitam. Padahal kalo dipikir-pikir, kan enakan islam yang ditawarkan kaum liberal, beragama tapi bebas nggak terikat apa-apa. Nggak mesti jilbaban, dll.

Jadi kalau ingin berislam tapi nggak mau disuruh ini itu, saya sarankan ikut liberal, selalu dikasih solusi untuk ngeles. Anda males pake jilbab, tenang, jadilah liberal, baca Quraish Shihab, ada solusinya, jilbab itu nggak wajib kok, anaknya aja nggak berjilbab. Bahkan Anda akan bisa merasa lebih jumawa dari mereka yang pakai cadar…. Lha perempuan wahabi, udah cadaran, sumuk, kehilangan kesempatan bersolek, eh malah jadi bahan olokan. Kalau bukan karena kecintaan terhadap sunnah, dijamin mereka gak akan sibuk merepotkan diri seperti itu.

Sejak itu saya gak terpengaruh lagi dengan opini orang tentang wahabi, mau dibilang gak cinta Rasul kek, dibilang suka membid’ahkan orang kek, suka mengkafirkan orang, merasa masuk surga sendiri yang lain masuk neraka. Karepmu! Sebab saya tahu, realitasnya tidak seperti itu. Dan memang kalau ikut opini orang, nggak bakal selesai.

Masih ingat kan kisah bapak, anak, dan seekor onta? Ketika anaknya naik onta, sementara bapaknya jalan sambil nuntun tali onta, orang-orang bilang, “Anak durhaka, enak-enakan di atas, Bapaknya disuruh nuntun.” Mendengar itu, anaknya turun, lalu ganti, bapaknya naik onta, anaknya nuntun. Orang bilang, “Bapak gak tahu kasihan, enak-enakan di atas onta, anaknya malah disuruh jalan.” Maka sekarang, anak dan bapak berdua sama-sama naik onta. Orang-orang bilang, “Gak tahu kasian sama binatang, onta kurus gitu kok dinaiki berdua.” Ujung-ujungnya bapak dan anak sama-sama jalan nuntun onta. Eh orang masih bilang, “Mereka berdua itu kok goblok banget, punya onta tapi gak dinaikin malah dituntun aja.”

Gitulah, di mana-mana, opini orang gak bisa dijadikan acuan. Apalagi opini dari ahlul pelintir bahasa, wuh, hebat-hebat, yang insecure lah, sesat sejak dalam pikiran lah, ini lah, itu lah. Berbeda dengan wahabi ketika mengomentari sebuah aliran tertentu, itu bukan pakai opini pelintir bahasa, tapi langsung ke akarnya.

Ketika mengomentari syiah misalnya. Pengusung toleransi semu akan menyeret opini bahwa syiah dan sunni cuma perbedaan mazhab, politis, diseret tentang hak asasi, minoritas, dst.. Kalau wahabi langsung ke kitab induk syiah. Bahwa syiah ini menyimpang karena mengkafirkan mayoritas sahabat, menyebut Abu Bakar & Umar sebagai dua berhala Quraisy, menganggap Aisyah sebagai pelacur, menghalalkan darah nashibi (ahlus sunnah), memiliki Al Qur’an 3x lebih tebal, syahadatnya berbeda, adzannya beda, menghalalkan kawin kontrak, malam kawin pagi cerai… Itu. To the point. Kalau alasan itu diterima, mereka memuji Allah. Tidak diterima, tetap memuji Allah.

Saya pun mulai rajin mengikuti kajian wahabi, bahkan yang jauh-jauh dan ustadznya sampai dari Arab. Semakin banyak perbedaan yang bisa ditangkap secara kasat mata:

Pertama. Di kampung saya, kalau kiyai/ustadz datang, itu kadang tangannya jadi rebutan, dicium-cium sama jamaahnya. Bahkan cara cium tangannya itu bisa dramatis sekali ada teknik-teknik tersendiri. Apalagi kalo yang datang itu level syaikh pondok ini, atau anak keturunan syaikh itu, wuh tambah jadi rebutan.

Berbeda dengan kajian wahabi. Biarpun penceramahnya level ulama paling senior dan sepuh pun, sewaktu ulama itu datang dan jalan ke depan, jamaahnya biasa aja duduk.

Kalau pakai opini orang, kesannya wahabi tidak menghormati ulama. Padahal saya melihat, mereka menghormati ulama ya karena ilmunya, bukan karena fisiknya atau keturunan siapa, jadi tidak lebay rebutan cium tangan, apalagi seolah mengkultuskan rebutan air liur, diyakini mustajab, hiii.

Wahabi itu nggak pernah nyebut-nyebut syaikh siapa jadi doa berjamaah, bikin haul. Nggak pernah. Sebab mereka beneran cuma menghargai ilmu, tidak berlebihan terhadap tokoh… Beda di kampung saya, fatihah ila hadarotin syaikh ini, syaikh itu, diulang-ulang tiap ada selamatan, tapi orang-orang nggak tahu syaikh itu siapa sih? Buku kitabnya apa? Nggak ada. Pokoknya kiyai nyebut syaikh itu tiap selamatan, ya sudah sampe turunannya tetap nyebut syaikh itu. jamaahnya ya amin-amin saja terus makan rawon.

Yang kedua. Yang namanya pengajian, di kampung saya biasanya identik dengan nyanyi-nyanyi, baca Al Fatihah, awal Al Baqoroh, ayat kursi, sholawat apa gitu panjang, baru setelah itu ada ceramah. Kalo di wahabi, ustadznya datang, duduk, langsung membuka materi dg khutbatul hajah, lalu mengajar, ada istirahat, tanya jawab, abis itu selesai, pulang. Nggak ribet.

Yang ketiga. Kalo di kampung saya, segala jenis ibadah wis tinggal nyontoh saja, kalo ngaji maghrib itu kadang ada pelajaran sholat dari kiyai, ya sudah langsung baca aja rame-rame dari usholli sampai salam. Tapi di wahabi itu ilmiah sekali, tidak asal ikut ustadznya, melainkan diajari memahami bahwa setiap gerakan sholat itu dilakukan karena ada contohnya, kita melakukan ibadah karena memang ada riwayatnya dari Rasul. Kalau nggak ada riwayatnya, ya nggak perlu repot-repot dikerjakan. Sehingga ketika sholat, setiap gerakan kita terasa dekat dg Rasulullah sebab tahu ada rantai yang bersambung.

Hal lain juga. Saya jadi tahu, misalnya, Allah mengampuni semua dosa kecuali dosa syirik. Dosa syirik tidak akan diampuni kalau pelakunya mati sebelum sempat bertobat. Sebab dosa syirik itu paling besar, paling bahaya, sehingga kita mesti tahu cabang-cabangnya. Bahwa perdukunan itu syirik, meyakini hari sial itu syirik, minta-minta ke orang mati itu syirik, jimat itu syirik, ada syirik besar dan syirik kecil, harus waspada dan selalu mengoreksi diri sendiri.

Sejak itu, ngeri lah karena ternyata banyak keyakinan saya selama ini tergolong syirik, seperti keyakinan kalo nabrak kucing berarti sial, pergi gak boleh hari jumat, dst…. Kalau di kampung saya, yang dimaksud syirik ya menyembah patung berhala. gitu aja. Mana ada hari ini orang islam sekonyol itu nyembah patung? Kalau dosa syirik cuma sebatas nyembah patung, alangkah mudahnya itu dihindari?

Apalagi pas tahu banyak hal yang selama ini biasa saya lakukan, ternyata bid’ah, tidak diajarkan Rasul. Saya yang sudah telanjur ngefans dengan sholawat nariyah dan hapal di luar kepala sejak ngaji jaman SD, kaget lho jadi sholawat nariyah itu bid’ah? Sempat gak terima. Tapi tumbuhnya kecintaan untuk mengenal, “Jadi, islam yang aslinya sesuai Nabi itu gimana?” Itu membuat saya rela untuk melepas atribut kefanatikan dan segala hal yang sudah diyakini sejak kecil. Seandainya saya sudah anti sejak awal, kan bisa dengan mudah mudah langsung saya cap, “Wo, wahabi itu menyalah-nyalahkan orang, masak sholawatan aja nggak boleh.”

Saya lalu menyadari, faktor penting orang sulit menerima kebenaran, adalah karena kebenaran itu menghantam keras pada apa yang sudah diyakininya selama ini sebagai kebenaran.

Sama di masa jahiliyah dahulu, Sebelum Muhammad diangkat sebagai Nabi, beliau sudah digelari Al Amin (yg bisa dipercaya) oleh kaumnya, sebab memang sangat dipercaya, sampai-sampai jika Muhammad berkata, “Ada pasukan musuh di balik gunung ini.” Maka mereka percaya. Tapi setelah mendapat wahyu, mengajak untuk menyembah Allah saja, yang mana itu menghantam keras pada keyakinan kaum Quraisy saat itu, langsung berubah mereka menjuluki Rasulullah jadi Majnun, tukang sihir…

Maka dari itu, ketika ada yang bilang wahabi merasa benar sendiri, itu aneh. Sebab wahabi itu justru orang yang mau mencari kebenaran meski konsekuensinya berat karena harus meninggalkan kebiasaan masa lalu yang sudah dianggap sebagai kebenaran… Kalau sejak awal merasa sudah yakin paling benar, tentu mereka akan tetap dengan keyakinan agama kakek moyang selama ini, nggak mau diingatkan tentang syirik, bid’ah dan lain sebagainya.

Nah. Pada akhirnya, saya salut terhadap mereka ini, yang ikhlas mengajak masyarakat untuk kembali ke agama yang murni, mengingatkan orang bahaya syirik, bahaya bid’ah, meskipun dihujat banyak orang, dituduh sesat, macem-macem. Terserah orang lain menamai mereka wahabi, atau seburuk apapun, itu cuma nama saja, tidak mengubah hakikat…

Saya juga ingin terus belajar. Semoga kita semua mendapat petunjuk untuk mencari hidayah. Hidayah datang dari Allah. Kita mencari kebenaran bukan untuk menyalah-nyalahkan orang. Selama seseorang ikhlas untuk terus mencari agama Allah yang lurus dan menempuh jalan-jalannya, maka akan disampaikan ke tujuannya.

Sumber Fb Tubagus hajar Hafizhahullah
Baca selengkapnya »
kejujuran sang ayah telah menyelamatkan kedua Anaknya

kejujuran sang ayah telah menyelamatkan kedua Anaknya

Sufyan At-Tsauri menceritakan bahwa ada seorang tua yang sangat terkenal dengan kejujurannya berasal dari suku Asyja’ bernama Rib’iy. Seluruh sukunya mengenalnya sebagai sosok yang tidak pernah berdusta selama hidupnya.

Suatu ketika Gubernur Hajjaj bin Yusuf At-Tsaqafi yang terkenal dengan kekejaman dan kelalimannya mendengar dari seseorang suku Asyja tentang kesohoran Rib’iy yang tidak pernah berdusta, dan melaporkan bahwa kedua puteranya yang diperintahkan untuk pergi perang melarikan diri menghindar dari seruan tersebut bersembunyi di dalam rumahnya, sementara kebiasaan bengis Hajjaj membunuh setiap orang yang tidak mematuhi perintahnya.

kejujuran sang ayah telah menyelamatkan kedua Anaknya

Berkata lelaki yang melaporakan perihal kejujuran Rib’iy kepada Hajjaj: “Wahai Panglima semua kaumnya mengangap Rib’iy tidak akan pernah berdusta, tapi sekarang ku yakin dia akan berdusta padamu, utuslah pasukanmu ke rumahnya untuk menanyakan kedua puteranya yang enggan berperang bersamamu, sesungguhnya keduanya ada di dalam rumahnya dan dia pasti hari ini akan berdusta terhadap para pengawalmu untuk melindungi kedua puteranya”.

Maka Hajjaj segera mengutus pengawalnya ke rumah rib’iy untuk membuktikan kebenaran ucapan orang tersebut. Sesampainya di depan rumah para pengawal Hajjja segera bertanya kepada Rib’iy: Dimana kedua puteramu bersembunyi?, Rib’iy dengan penuh kejujuran menjawab: ”keduanya ada di dalam rumah”.

Dengan kejujuran orang tua tersebut,, Hajjaj terharu dan membebaskan kedua puteranya dari ancaman kematian, dan semakin yakinlah kaum Ribiy- suku Asyja’- bahwa beliau tidak akan pernah berdusta.

Subhanaallah, betapa mahalnya kejujuran dan betapa dahsyatnya buah yang di dapat darinya sekalipun tampak pahit bagaikan buah hanzal. Lihatlah bagaimana kejujuran sang ayah telah menyelamatkan dua pemuda tersebut dari kematian.

artikel: abufairuz.com
Baca selengkapnya »
Untukmu Saudaraku yang belum Menemukan Kebenaran Dalam Islam

Untukmu Saudaraku yang belum Menemukan Kebenaran Dalam Islam

dibawah ini kisah perjalanan seorang bapak mencari manhaj yang lurus. setelah melakukan perjalanan panjang dalam hidupnya, alhamdulillah beliau mendapat hidayah mengikuti jejak salafus sholeh yang mana aqidah dan amal ibadahnya tegak diatas dalil shahih yang jauh dari penyimpangan aqidah dan amaliyah,
------------------------------------------------------

Tanpa bermaksud menggurui, kalau ada yang baik diambil, kalau yang buruk di kubur dalam-dalam dan dibuang dilaut lepas.

Menelusuri keberadaan tentang hadits 73 golongan setelah sekian lama dengan susah payah untuk mendapatkan nya, akhirnya setelah kurang lebih 35 tahun dalam masa pencaharian alhamdullah ditemukan, tentunya dengan pemahaman yang benar mengenai hadits tersebut.

Pada tahun 1966 M umur saya kurang lebih 12 thn, dikala itu ada suatu kegiatan keagamaan di Sumatera barat di namakan DIDIKAN SUBUH untuk bimbingan rohani di pusatkan dalam surau (mushala).

Saya mendengar dari ceramah seorang ustad bahwa dalam hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, umat islam ini akan terpecah menjadi 73 golongan, 1 golongan yg benar.

Karena lama hidup ada yang dibaca, jauh berjalan banyak yang dilihat dan didengar sepengetahuan saya hadits dibawah ini tidak diketahui oleh sebagian orang, kalau diketahuinya di selewengkan maknanya oleh orang-orang tertentu, sehingga pengikutnya beramal sesuai dengan apa yang dia ketahui. Tulisan ini memberitahukan kepada yang belum tahu.

Hadits ini saya dapatkan setelah merujuk kepada pemahaman ahlussunnah waljamaah.

Dari: Mu'awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu 'Anhu (HR. Ahmad, Abu Daud)
Dari: Anas bin Malik Radhiyallahu 'Anhu (HR. Ibnu Majah)

Rasulullahu Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

وَاِنَّ هُذِهِ المِلَّتَ سَتَفتَرِقٌ عَلَی ثَلاَثٍ وَسَبعِنَ ثِنتَانِ وَسَبعُونَ فِي النَّارِوَوَا حِدَ تٌ فِي الجَنَّتِ وَهِيَ الجَمَا عَتُ
Artinya: "Sesungguhnya agama (umat) ini akan terpecah menjadi 73 (kelompok), 72 (diancam masuk kedalam neraka. (HR. Ahmad, Abu Daud). dan 1 yg di dalam surga, dia adalah Al-Jamaah".

Al-Jamaah Artinya adalah yang mengikuti kebenaran walaupun seorang diri.

Mendengar hadits tersebut, saya bimbang betul nggk ya? & semenjak hari itu tertanam dalam hati, sebagaimana anak kecil yg belum baligh, kadang kala dalam pikiran terlintas mengenai hadits itu, hilang timbul silih berganti akan tetapi dg berjalannya waktu, usia semakin bertambah perasaan dalam hati selalu menghantuinya, maka mulailah saya belajar agama dari satu guru ke guru yg lain, dari satu golongan ke golongan yg lain, dalam rangka mencari pemahaman agama islam yg benar, yg sesuai dg tuntunan yg dibawa oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

Diantara nya sy belajar agama islam dipondok pesantren islam timor, dg segala kelebihannya & kekurangannya, ia adalah kelompok Negara Islam Timor di waktu itu masih dibawah jajahan portugis, secara psikologis & historis ada kesamaannya dengan Negara Islam Indonesia.

Guru saya bercerita kronologis berdirinya Negara Islam Timor, sebelum kemerdekaan beliau seperjuangan dengan Bp. Adam Malik, masa itu keinginan kuat untuk mendirikan Negara Islam Indonesia setelah kemerdekaan, keinginan itu gagal sehingga ingin berjuang mendirikan Negara Islam Timor waktu itu masih dibawah jajahan portugis, waktu konferensi Asia Afrika di bandung tahun 1955 beliau sempat bertemu dengan berbagai delegasi untuk mendukung berdirinya Negara Islam Timor.

ُSaya keluar dari pemahaman tersebut karena pemahaman mereka TAKFIRI (mengkafirkan kaum muslimin) saya tidak sependapat dengan mereka.

Pada saat yg sama saya juga belajar diluar pondok pesantren, dengan ust. Abbas Ola alumni kairo-mesir, mengajarkan ilmu tafsir Al-Qur'an dll.

Beliau pindah dari kupang tahun kurang lebih 1980, kemudian mendirikan pondok pesantren Al-Qur'an Al-Hadits di bogor.

Dan diskusi-diskusi dalam berbagai disiplin ilmu dg Prof. DR. Muhammadsyah SH, Rahimahullah dulunya rektor universitas Nusa Cendana Kupang-NTT.

Kemudian saya masuk tarikat/tasauf yg dinisbatkan kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, setelah sy pelajari sirah nabawiyyah (perjalanan hidup Rasul yg Agung Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, dari kelahiran hingga detik-detik terakhir)

Dan pendapat para ulama Ahlussunnah Waljamaah tentang tarikat/sufi berdasarkan dalil-dalil Al-Qur'an & As-Sunnah yang shahih dari zaman ke zaman.

Maka penisbatan tarikat/tasauf kepada beliau merupakan kekeliruan yg besar, karena Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan tiga generasi terbaik umat ini sampai kepada para ulama ahlussunnah dari zaman ke zaman tidak mengenal pemahaman ini, sehingga saya keluar lagi dari pemahaman ini yg dapat mewakili puluhan tarikat/tasauf yg lainnnya.

Kemudian sy masuk tarikat lagi, tarikat ini berdiri sendiri kaifiatnya (tata cara) tidak sama dengan puluhan tarikat sebelumnya, karena tarikat ini jg tidak beramal sesuai dg dalil-dalil Al-qur'an & Al-hadits yg dipahami oleh Salafush Shalih. Maka sy keluar lagi, begitulah seterusnya sampai mendapatkan kebenaran, dan setiap sy keluar dari pemahaman tersebut, sy kembali kepada amalan semula yaitu TIDAK ADA HARI TANPA BACA AL-QUR'AN, dan berdo'a kepada Allah Ta'ala dg tulus, agar diberinya petunjuk kepada pemahaman agama islam yg benar.

Pengalaman masuk salah satu terikat pernah sy sampaikan kepada Bapak Prof. DR. H. Umar Shihab, dalam rangka

وَتَوَاصَوابِالحَقِّ, وَتَوَاصَوابِالصَّبرِ
"Dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehati supaya menetapi kesabaran." (QS. Al-'Ashr : 3)

dalam kapasitasnya sebagai ketua majlis ulama Indonesia pda bulan januari tahun 2006 dikantor MUI pusat lantai dasar masjid istiqlal Jakarta.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala mentakdirkan segala sesuatu diikat dg sebab. Hari demi hari kami lalui seperti biasanya, kadang kala hati ini meronta ingin meninggalkan negeri dan semua yg kami bangun dengan susah payah, untuk mendapatkan kebahagiaan dunia & akhirat, keinginan itu datang silih berganti & pada puncaknya kami memilih untuk pindah ke suatu kota di JABAR, karena pada suatu hari sekitar Bulan januari thn 2003 M, sya bertemu dg sahabat sya Habib Husain Al-hafsi dilokasi SMP Muhammadiyah kupang, beliau adalah salah satu Imam masjid di kupang.

Kemudian kami berdiskusi mengenai perkembangan agama islam dikota kupang & NTT pada umumnya. Diantara pembicaraan kita adalah "pak saya membaca satu hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam satu kitab, bahwa umat islam dilarang tinggal di tengah-tengah orang kafir, & sekarang kitabnya dipinjam oleh bapak makarim, & beliau adalah ketua Majlis Ulama Indonesia NTT, saya bilang nanti kitabnya sy pinjam ya?" Sebelum sy dapat kitab tersebut, sy sudah yakin kebenaran hadits itu walaupun tidak dilarng secara mutlak. Obrolan kami ini pembuka jalan bagi saya untuk mendapatkan hidayah taufiq yang saya cari selama ini.

Qaddarallah, hadits tersebut saya dapatkan disuatu kota, setelah merujuk ke pemahaman ahlussunnah.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

اَنَابَرِيءٌ مِن كُلِّ مُسلِمٍ يُقِيمُ بَينَ المُشرِكِينَ
Artinya: "Aku berlepas diri dari setiap muslim yg mukim (tinggal) ditengah-tengah kaum musyrikin"

(HR. Abu Daud<2645> At-tirmidzi<1604> An-nasaa'i<VIII/36>)

Titik terang mendapatkan pemahaman islam yg benar, setelah saya dan keluarga tiba di suatu kota, dengan hidayah & taufiq-Nya saya merasa dibimbing, sehingga pada suatu hari saya berjalan disuatu tempat bertemu dengan orang-orang aneh, menurut saya saat itu orang-orang berjenggot & memakai celana ngatung (diatas mata kaki) dan istri-istri mereka menutup aurat sesuai syariat islam, saya terus mendekati mereka dengan pengalaman spritual yg dimiliki, yg kini menjadi sahabat saya. 

Ternyata setelah saya pelajari keanehan mereka dibangun diatas dalil-dalil syar'i, merekalah orang-orang yg paling benar manhajnya,.yg pernah sy kenal & paling lurus aqidahnya, ibadahnya, akhlaknya & mu'amalahnya sesuai dg tuntunan yg di bawa oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

Alhamdullah, pada akhirnya tahun 2003 M, umur saya saat itu kira-kira 47 tahun, berarti dari mulai mencari kebenaran sampai menemukan pemahaman agama islam yg benar kurang lebih 35 tahun.

Pengalaman spritual yg sangat sederhana ini saya tulis untuk saudaraku yg sibuk, merupakan pengantar untuk mengenal & memahami manhaj (metode) sikap & cara beragama yg benar. Barang siapa yg ingin mengetahui dimana perbedaannya, Insya Allah jika dibutuhkan akan saya sampaikan berikutnya pada kesempatan lain.

Kepada para guruku & saudara-saudaraku yang pernah seperguruan denganku yang membaca artikel ini, aku akan menceritakan pengalaman spiritual ini dengan sejujurnya demi unta merah, dan aku berdo'a kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala semoga antum diberinya hidayah taufiq, aamiin..

Ketika saya mulai mendalami belajar agama islam, dari satu guru kesatu guru, dari golongan Asy'ariyyah rasanya tidak ada suatu yang berbeda dengan kaum muslimin pada umumnya, saya bergaul dan shalat bersama dengan mereka.

Ketika saya masuk kedalam satu kelompok lagi, ada sesuatu yang berbeda, terutama mengenai shalat dibelakang imam, saya disuruh niat seakan-akan shalat sendiri, tidak mengikuti imam, kemudian saya tanyakan kepadanya, "mengapa shalat tidak boleh mengikuti imam?"

Di jawab "imam itu Thaagut, karena dia mengikuti pemerintah yang tidak berhukum dengan hukum islam, bahkan pada kesempatan yang lain, orang tua saya dikatakan kafir, dan tidak mendo'akan kebaikan kepada pemimpin, ternyata pemahaman mereka adalah khawarij.

Tarekat Naqsyabandiyyah

Ketika saya masuk tarekat naqsyabandiyyah & mengenal silsilahnya, katanya dari Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam Abu Bakar Radhiyallahu 'Anhu, Salman Al-Farisi Radhiyallahu 'Anhu dll sehingga sampai kepada mursyid.

Pertama kali saya dimandikan oleh pak Toto yang mewakili mursyid kira-kira jam 12 malam, kemudian shalat taubat dua rakaat sebelum takbir membaca "Illahi Anta Maksudi Waridhoka Matlubi" yang artinya lebih kurang "ya Allah namamu yang kumaksud & ridhomu yang kuharap & membayangkan wajah guru atau mursyid, setelah itu tidur menghadap kiblat seperti tidur Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam & ditutup dengan kain putih seolah-olah sudah meninggal dunia, sampai waktu adzan shalat subuh dikumandangkan, maka selesai lah proses pembai'attan kemudian saya disuruh mengamalkan dzikir Allah-Allah sebanyak 5000 kali & ditutup dengan Illahi Anta Maksudi Waridhaka Matlubi setiap selesai shalat lima waktu, dzikir ini saya amalkan sampai dengan saya ikut suluk/i'tikaf dalam kelambu ukuran 1m x 1m x 1,5m yang merupakan puncak pengalaman Ubudiyyah untuk mencapai kepada Makrifatullah dengan mengamalkan dzikir Allah-Allah sebanyak 35.000 sehari semalam.

suluk/i'tikaf dalam kelambu

Kira-kira pukul 12.00 malam tasbih saya terlepas dari tangan, antara sadar & tidak, saya bermimpi seolah-olah berada di dasar laut, & diatas sebuah kendaraan, yang melaju begitu cepat, kedua tangan saya memegang erat-erat kedua sisi kendaraan tersebut. Dalam keadaan demikian badan saya gemetar & rasa takut luar biasa, saya melihat keatas atap kendaraan itu, disana ada tulisan Allah & Muhammad, dengan cahaya begitu terang benderang, & keesokan harinya saya pun masih berada dalam kelambu suluk/i'tikaf, saya berdo'a kepada Allah, "ya Allah, tunjuki saya jalan yang lurus, sebagaimana sabda Rasulullah, bahwa umat islam terpecah menjadi 73 golongan, 1 yang benar, apabila yang saya lakukan sekarang benar tetapkan hati saya untuk mengamalkannya, jika tidak benar jauhkan dari saya.

Selesai suluk, saya menceritakan kepada senior saya & dia mengatakan "pak anda sudah mendapatkan apa yang kita cari, jangan diceritakan kepada orang lain hal ini. Saya jawab "saya bukan mencari tulisan & cahaya seperti itu, melainkan saya mencari kebenaran yang sesuai dengan dalil-dalik syari'at" kira-kira sebulan setelah saya pulang kerumah, do'a saya diijabah oleh Allah Ta'ala, & saya tidak mengamalkan lagi apa yang sudah saya pelajari.

Kemudian saya masuk lagi disalah satu firqoh & keluar lagi begitulah terus menerus.

1. Ajaran tarekat Naqsabandiah

👉menyuruh sebelum takbir membayangkan wajah mursyid.

2. Ajaran tarekat Naqsabandiah

👉menyuruh berdo'a melalui channel (Mursyid).

3. Ajaran tarekat Naqsabandiah

👉meminta rahmat kepada Mursyid.

Pada suatu hari saya selesai suluk, Mursyid datang ke tempat suluk, & semua peserta suluk berhamburan keluar & berkumpul di halaman surau.

Sang mursyid berada diatas panggung & mengangkat kedua tangannya lalu mengatakan "pada hari ini saya rahmati kalian, anak-anak saya.

Salah seorang utusan yang mewakili Mursyid di suatu kota sebagai patoto mengatakan kepada saya bahwa semenjak saya masuk tarekat Naqsabandiah, semua kitab-kitab ilmu agama saya bakar.

Dia mengatakan kepada teman seperguruan saya dikala itu yaitu bpk. Abdullah Sya'ban, bahwa saya lebih takut kepada Mursyid dari pada kepada Allah Ta'ala.

Sekitar tahun kurang lebih 1997 seorang ibu berangkat dari suatu kota untuk menunaikan ibadah haji, setelah sampai di Jeddah, tas pakaian ibu itu hilang & dicari kesana kemari tidak ada, dengan spontan dia memanggil Mursyid, Mursyid tolong saya tas pakaian saya hilang, tiba-tiba tas pakaian tersebut sudah ada dihadapannya.

Terekat Naqsabandiah ini dapat mewakili puluhan terekat yang lain kerena kaffiyatnya hampir sama.

Tarekat Mufaridiyah

Kemudian saya masuk lagi ke tarekat Mufaridiyah dengan mengamalkan dzikir Allah-Allah sebanyak-banyaknya dengan suara keras dimulai dengan ayat

فَاذْکُرُونِىٓ أَذْکُرْکُمْ
Artinya: "Karena itu ingatlah kamu kepadaku niscaya aku ingat pula kepadamu. (QS. Al-baqarah : 152)

Cikal bakal tarekat Mufaridiyah yang diambil dari kata Al-Mufarridun (laki-laki & wanita yang berdzikir kepada Allah) (HR. Muslim).

Bermula dari pertapaan seseorang pada tahun 1954 M di hijir ismail Mekkah Saudi Arabia, kata beliau mendengar suara dari langit "Hai hamba Allah, dzikirlah dengan menyebut nama Allah dengan sekeras mungkin". Hal tersebut beliau amalkan di Mekkah. Singkat cerita beliau pernah dipenjara oleh pemerintah Saudi Arabia, karena apa yang beliau amalkan bertentangan dengan Al-Qur'an & Al-Hadits, setelah keluar dari penjara beliau pulang ke indonesia karena beliau memang orang indonesia yang lama di Mekkah dalam rangka menuntut ilmu agama.

Setibanya di indonesia beliau mencari seseorang yang tadinya sebagai guru di jakarta. Dalam pencaharian tersebut dengan menggunakan mata batin seolah-olah orang inilah yang dapat meneruskan amalan ini keseluruh dunia dikemudian hari, Setelah orang pertama meninggal dunia.

Maka benar bahwa seseorang yang dicari itu (orang kedua) lah yang keliling dunia untuk menyampaikan dzikir Allah-Allah.

1. Ajaran Tarekat Mufaridiyah menyuruh berdzikir keras.

2. Ajaran Tarekat Mufaridiyah mengajarkan wanita haid shalat.

3. a). Ajaran Tarekat Mufaridiyah mengatakan Nabi Isa, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, & orang pertama satu wujud.

b). Nabi Muhammad dilahirkan oleh seorang wanita bernama "Aminah" & bapak nya "Abdullah".

c). Dan orang yang pertama dari keturunan yang berbeda.

4. Ajaran Tarekat Mufaridiyah mengatakan bahwa orang yang kedua tersebut dapat bicara langsung dengan Allah.

5. Ajaran Tarekat Mufaridiyah mengatakan bahwa seutama-utama shalat di Masjid An-nur Dili.

6. Ajaran Tarekat Mufaridiyah mengatakan bahwa malam Lailatul Qadar setiap tahun turun di rumah orang kedua tersebut kapan saja (tidak ada malam ganjil/genap).

7. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh di ganti dengan Sabakalmufaridun.

Tarekat Mufaridiyah ini baru ada tahun 1954M, dan tidak ada dalam kitab-kitab para ulama, dan tidak banyak yang mengetahuinya kecuali orang-orang telah masuk & bergabung dengan mereka namun pengikutnya sudah banyak diluar negeri.

Setelah mendapatkan pemahaman islam yang benar, seiring dengan berjalannya waktu & merealisasikannya di masyarakat, akan tetapi minyak & air tidak akan pernah bersatu & berbeda manhaj berpisah jalan, akhirnya ibaratkan fauna yang terbang jauh akan kembali ke habitatny.

Wallahu A'lam Beshawab

Basyir Edi Malin Kayo As-soloki
Baca selengkapnya »
Dahsyatnya Fitnah wanita, Pemuda sholeh ini memilih Murtad

Dahsyatnya Fitnah wanita, Pemuda sholeh ini memilih Murtad

Pelajaran Dari Kisah Yang Diceritakan 'Abdah Bin 'Abdirrohim

قال عبدة بن عبد الرحيم دخلنا بلاد الروم وكان معنا شاب يقطع نهاره بقراءة القرآن والصوم وليلة بالقيام وكان من أعلم الناس بالفرائض والفقة فمررنا بحصن لم نؤمر أن نقف عليه فمال إلى ناحية الحصن ونزل عن فرسه يبول فنظر إلى من ينظر من فوق الحصن فرأى امرأة فاعجبته فقال لها بالرومية كيف السبيل إليك فقالت هين تنصر فنفتح لك الباب وأنا لك ففعل ودخل الحصن فنزل بكل واحد منا من الغم ما لو كان ولده من صلبه ما كان أشد عليه فقضينا غزاتنا فرجعنا فلم نلبث إلا يسيرا حتى خرجنا إلى غزوة أخرى فمررنا بذلك الحصن فإذا هو ينظر مع النصارى فقلنا يا فلان ما فعل قرآنك ما فعل علمك ما فعل صومك وصلاتك فقال أنسيت القرآن كله حتى لا أحفظ منه إلا قوله " ربما يود الذين كفروا لو كانوا مسلمين ذرهم يأكلوا ويتمتعوا ويلههم الأمل فسوف يعلمون
'Abdah bin 'Abdirrohim berkata: Kami memasuki negeri Romawi. Bersama rombongan kami ada seorang pemuda yang selalu melewati siang dalam kehidupannya dengan membaca al Qur-an dan berpuasa. Sedangkan waktu malam ia lewati dengan melakukan qiyaa-mul layl. Pemuda ini termasuk orang yang paling berilmu tentang hukum warisan dan fiqh. Suatu saat kami melewati suatu benteng yang sebenarnya kami tidak diperintah untuk berhenti di sana. 

Pemuda itu kemudian menuju sudut benteng, turun dari kudanya dan kencing. Ia kemudian melihat ke atas ada seorang wanita cantik yang menawan hatinya. Pemuda itu pun berkata kepada wanita itu dalam bahasa Romawi: Bagaimana caranya untuk bisa mendapatkanmu. Wanita itu berkata: Mudah. Jadilah seorang Nashrani. Aku akan bukakan pintu untukmu dan aku menjadi milikmu. Pemuda itu pun melaksanakan perintah wanita tersebut. 

Ia pun masuk ke dalam benteng. Kami pun sangat bersedih dengan kesedihan yang sangat. Jika dibandingkan seandainya itu terjadi pada anak kandung kami sendiri, kesedihan akibat sikap (murtad) pemuda itu akan lebih besar. Kami pun menyelesaikan pertempuran kami kemudian kami pulang. Tidak berapa lama kami pun keluar untuk pertempuran yang lain. Kami melewati benteng itu. Kami melihat pemuda itu sedang melihat keluar bersama kaum Nashoro. 

Kami berkata kepadanya: Wahai fulan, apa yang terjadi dengan bacaan Qur-anmu?! Apa yang terjadi dengan puasa dan sholatmu?! Pemuda itu berkata: Aku telah lupa dengan seluruh ayat al Qur-an kecuali hanya dua ayat, yaitu:

رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ (2) ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ (3)
Orang-orang kafir akan berharap duhai seandainya dulu mereka adalah Muslim. Biarkanlah mereka makan dan bersenang-senang serta dilalaikan oleh angan mereka, sungguh nantinya mereka akan mengetahuinya (QS al Hijr ayat 2-3)

(Tarikh Dimasyq karya Ibnu ‘Asaakir (37/378) dan lafazh sesuai dalam Tarikh Dimasyq, Syu-’abul Iman karya al Bayhaqiy (4/54)), al Muntadzham karya Ibnul Jawziy (5/130))

Pemuda sholeh ini memilih Murtad

Pelajaran yang bisa diambil dari kisah tersebut, di antaranya:

1. Seseorang tidak boleh merasa ujub (bangga diri) dengan banyaknya pencapaian darinya. Selama seseorang masih hidup, tidak aman dari fitnah. Bisa saja seorang tergelincir dan menyimpang sebelum mencapai finish akhir kehidupannya. Pemuda itu adalah seorang yang hafal Qur-an, banyak mengisi waktunya dengan baca Qur-an. Siang hari puasa, malam Qiyamul Layl. Ia ahli fiqh. Ia juga ikut dalam jihad bersama kaum Muslimin. Namun kemudian ia menjadi murtad – wal iyaa-dzu billaah -. Semestinya hanya kepada ALLOH saja lah seseorang berharap husnul khotimah (akhir kehidupan yang baik) dan memohon dijauhkan dari suu-ul khotimah (akhir kehidupan yang buruk).

2. Besarnya fitnah wanita bagi kaum pria. Rosululloh shollalllhu 'alayhi wa sallam bersabda:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنْ النِّسَاءِ
Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah yang lebih membahayakan bagi kaum lelaki dibandingkan (fitnah) wanita (HR. al Bukhori dan Muslim)

Dalam kisah tersebut, fitnah langsung menimbulkan pengaruh dengan sekali pandangan.

3. Hanya ALLOH saja yang bisa memberikan hidayah. Barangsiapa yang ALLOH beri hidayah tidak ada yang bisa menyesatkannya. Barangsiapa yang ALLOH sesatkan, tidak ada yang bisa memberikan hidayah kepadanya.

Catatan: Sebagian referensi menyebutkan bahwa yang murtad itu adalah 'Abdah bin 'Abdirrohim. Itu suatu kesalahan. Yang benar adalah bahwa yang bercerita tentang kisah itu adalah 'Abdah bin 'Abdirrohim, sedangkan yang murtad adalah seorang pemuda yang tidak disebut namanya. 'Abdah bin 'Abdirrohim adalah termasuk guru al Imam an Nasaa-i yg dinilai shoduq oleh sebagian Ulama. Beliau wafat tahun 244 H.

Walloo-hu A’-lam.

(Abu 'Utsman Khorisman)
WA al I'-tishom
Baca selengkapnya »
Lihat, Bagaimana Cara Para Salaf Menyembunyikan Amal sholeh mereka

Lihat, Bagaimana Cara Para Salaf Menyembunyikan Amal sholeh mereka

“Duhai parahnya pilek ini,” ucap Ayub Sikhtiyani tersedu. Murid-muridnya yang hadir menjadi saksi bagaimana cara guru mereka Ayub menutupi isak tangisnya di tengah majelis saat itu. Ia tak kuasa menahan tangis saat membacakan hadits Nabishallallahu’alaihiwasallam, untuk menyembunyikannya ia tarik kain surban menutupi matanya kemudian terucaplah kata-kata tadi.

Diceritakan pula bahwa Ayub biasa mengerjakan sholat malam sampai subuh. Hingga ketika subuh menjelang ia mengangkat suara seolah-olah baru terbangun dari tidur.

Kisah lain datang dari Daud bin Abi Hind. Selama 40 tahun ia berpuasa namun tak seorangpun dari anggota keluarganya yang tahu. Bagaimana cara ia mensiasatinya ? Begini, Daud memiliki sebuah kedai tempat dimana ia berdagang. Sarapan pagi yang telah disiapkan sang istri, ia bawa ke kedainya lalu disedekahkan. Begitupula saat waktu makan siang, ia pulang mengambil bekal makanannya kemudian kembali pergi ia sedekahkan. Sehingga anggota keluarganya menyangka ia memilih makan di tempat dagangnya. Lalu baru ketika malam hari, ia bersantap bersama keluarga sembari berbuka. Dan itu berlangsung selama 40 tahun.

Menyembunyikan Amal sholeh

Ada lagi Manshur bin al-Mu’tamir yang beribadah 40 tahun mengisi siang dengan shiyam dan malam dengan qiyam. Kegigihan beribadahnya membuat ibu Manshur merasa perlu bertanya kepadanya, “kamu habis membunuh orang, nak ?” “Aku lebih tau kondisiku wahai Ibunda,” jawabnya. Yang menjadi saksi dari judul tulisan ini adalah kebiasaan Manshur memakai celak di pagi hari. Itu ia lakukan demi menutupi bekas tangis di matanya setelah sepanjang malam bermunajat.

Sangat banyak kisah-kisah terabadikan dalam adabiyyat dan tarojum orang-orang saleh terdahulu.

Ada dari mereka yang selalu menutup wajahnya ketika berjihad. Ada juga yang menyembunyikan mushafnya ketika sedang membaca kalamullah. Ada pula yang rela memburu waktu tersunyi untuk berderma. Banyak cara yang mereka lakukan untuk menyembunyikan ketaatan. Mereka taat namun enggan dipandang taat. Kebaikan yang mereka laksanakan tidak lantas membuat mereka besar diri, menganggap diri sudah baik, apalagi demi agar manusia menganggap mereka baik. Mereka cukupkan diri dengan ridha Allah, mereka dahulukan penilaian Allah jauh di atas penilaian manusia.

Abdullah Khuraibi berpesan, “Mereka (orang-orang terdahulu) menganjurkan tiap orang agar memiliki amalan rahasia antara dirinya dan Allah, yang bahkan tidak diketahui istri dan anak-anaknya.”

Pada asalnya amalan terbaik adalah yang dikerjakan dengan sembunyi-sembunyi, karena dengan itu keikhlasan menjadi lebih mudah digapai. Orang-orang terbaik umat ini mengusahakan semua cara agar amalan baik mereka terpelihara dari niat mencari pandangan dan pujian manusia. Tidak butuh dokumentasi dan publikasi sana-sini, karena yakin bahwa tidak seremeh amal pun yang luput dari penglihatan Allah, satu-satunya Dzat yang hanya untukNya amal kebaikan mereka persembahkan. Hanya keridhaan Pencipta yang mereka kejar. 

Wahai indahnya ibadah para mukhlisin dan mukhlasin itu. Kebaikan yang dilakukan tak ubah keburukan yang harus disimpan rapat-rapat. Sebab mereka tau, satu titik riya’ mampu melumat habis pahala amalan yang telah dikerjakan, hingga menjadi debu yang tak berarti.

Catatan:
Mari menjadi agen rahasia dalam beribadah, seperti dia yang diam-diam mendoakan kamu. Dia, iya dia. Bergerilya dia di dalam doa. Dengan tulus dan rahasia. Hanya kepada Pemilik hati ia titipkan segenap rasa dan pinta. Mendoakan orang lain memang begitu rumusnya, semakin rahasia semakin bertenaga dan semakin diumbar semakin hambar. Dan ingat itu doa bukan pelet.
______________
Madinah Al-Munawwarah
Penulis: Ustaz. Arif Rinanda
Murajaah: ACT El-Gharantaly
Baca selengkapnya »
Haru bercampur malu melihat perjuangan sang nenek menghafal Alquran

Haru bercampur malu melihat perjuangan sang nenek menghafal Alquran

Bismillaah..

Hari ini, sepulang kuliah, hati saya berdebar tak karuan, perasaan saya campur aduk, mata saya ingin menangis tapi entahlah, udara yang terlalu dingin dan kerumunan orang ramai di sini melarang air mata saya untuk keluar.

Guru saya, hari ini menyampaikan sebuah hadits, yang sebenarnya sudah sering saya dengar, terngiang ngiang di telinga saya, bahkan sampai ke tahap saya sudah hafal hadits tersebut hanya karena sering mendengarnya, bukan karena saya hafalkan dengan sengaja. Hadits itu adalah perkataan kekasih saya yg tercinta; Rosulullah Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam :

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan) al-Qur’an nanti, ‘Bacalah dan naiklah serta tartillah (bacalah) sebagaimana engkau di dunia mentartilnya (membacanya) ! Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal).”

Tetapi, alasan hati saya terenyuh setelah mendengar hadits ini, adalah cerita yang disampaikan oleh guru saya, terjadi pada dirinya sendiri…

Pada suatu waktu, beliau menyampaikan sebuah kajian di sebuah tempat di Kota Madinah, kemudian beliau menyebutkan hadits ini, menjelaskan kepada para jemaah dengan gaya bicaranya yang sangat saya sukai, menyentuh, dari hati ke hati, membara, dan banyak lagi yang tak bisa saya ungkapkan di sini. Saya yakin, saat itu, para jemaah tersentuh hatinya sebagaimana biasanya beliau menyentuh hati saya dan teman teman dengan kalimat2 indahnya, menghidupkan jiwa yang mati di dalam diri kami, menyulutkan semangat belajar ketika datang kemalasan dan rasa kantuk.

perjuangan sang nenek menghafal Alquran
ilustrasi

Setelah kajian selesai, datang seorang nenek kepada beliau. Tua, renta. Umurnya kisaran 75 tahun. Bayangkan sekarang juga, nenek berumur 75 tahun. Bayangkan bagaimana lemah tubuhnya, keriput mukanya dan getaran tangan juga kakinya. Beliau datang, dengan hati yang tulus, semangat yang menggebu berkata kepada guru saya

” Wahai anakku, aku, ingin berada di tingkat yang tertinggi di surga itu, aku ingin bisa berada di sana, tapi, aku tidak bisa membaca alquran sama sekali”

Saudara saudariku yang kucintai karena Allah..

Sebelum saya melanjutkan cerita ini, saya ingin saudara saudari para pembaca semua bertanya kepada diri sendiri, bertanya berapa umurku saat ini lalu tanyakan lagi, apa ada di dalam diriku semangat menghafal alquran dan semangat mencapai surga tertinggi seperti yang dimiliki si nenek ? Tanyakan dan simpan jawabannya.

Kemudian guru saya, bergegas pergi ke kantor beliau, mengambil sebuah tas yang isinya paket lengkap kaset murottal Syekh Al Minsyawi hafizhohullahu ta’ala (saat itu belum ada/belum tersebar alquran2 digital seperti sekarang), guru saya berikan kepada nenek itu, agar nenek itu bisa menghafal dengan kaset2 itu, karena beliau sama sekali tak bisa membaca alquran.

nenek itu pulang, tentu dengan kebahagiaan yang teramat sangat, yang hanya dirasakan oleh orang orang yang bersih hatinya, yang merindu akan surga dan Robb nya ‘azza wa jalla, mulailah dari saat itu sang nenek menghafal, mendengarkan kaset pemberian guru saya setiap hari, menghafalkan 1 HALAMAN setiap harinya, menyetorkan nya kepada guru saya, kemudian duduk menghabiskan waktunya mengulang ulang hafalan di sisi guru saya

Yang terlewat saya sampaikan di awal adalah bahwa sang nenek sudah tinggal sendirian di rumahnya, karena anak2 nya sudah membangun bahtera mereka masing -masing. Sebelumnya, beliau hampir setiap hari menelpon anak-anaknya, menanyakan kabar mereka, meminta mereka mengunjunginya, menyampaikan bahwa beliau merindukan mereka dan sebagainya sampai hari hari dimana beliau mulai menghafalkan alquran, beliau melarang anak-anaknya untuk mengunjunginya kecuali di Hari Kamis dan Jumat, karena beliau tak mau waktunya banyak terbuang sebelum ajal menjemputnya. Karena dia punya tujuan, SURGA TERTINGGI.

Lihatlah bagaimana alquran memalingkan kita dari dunia.

Akan hilang sedikit demi sedikit kecintaan akan dunia bersama banyaknya ayat yang kita hafalkan. Sampai datang masanya kita memandang dunia dengan penuh kehinaan karena apa yang tersimpan di dalam dada jauh lebih mulia dibanding gemerlapnya dunia.

Singkat cerita, karena kesungguhan sang nenek dalam menghafal alquran, beliau dapat menyelesaikan hafalannya dalam waktu 2 tahun saja. Istiqomah dalam menghafal setiap harinya, mengulang hafalannya, memperbarui dan merevisi terus menerus niat beliau dalam menggapai surga, membuat Allah memudahkan beliau untuk menyelesaikan hafalannya. Bacaan beliau, jangan ditanya, mutqin, bersih dari kesalahan2, tidak kalah dari orang yang bisa membaca alquran dengan lancar.

Sebelum saya lanjutkan lagi, ingat2 lagi berapa umur nenek ini, dan kurangkan dengan umur anda. Setelah dapat selisihnya, bila tak timbul rasa malu, sepertinya ada yang perlu ditanyakan tentang hati anda.

Guru saya begitu terharu, sampai akhirnya meminta sang nenek berbicara di depan khalayak ramai bagaimana dia bisa menghafal alquran dalam waktu dua tahun saja, sang nenek berkata

“Wahai anakku, sungguh aku tidak mau berbicara di depan khalayak ramai kemudian dikatakan seorang hafizhoh alquran dan dipuji puji oleh manusia. Bukankah aku sudah katakan dari awal, seperti katamu wahai anakku, bahwa aku hanya ingin naik dan naik nanti di hari kiamat ke surga yang tertinggi”

Guru saya terus meRayu beliau, menyampaikan berbagai alasan, bahwasanya beliau ingin org lain pun melakukan hal yang sama seperti halnya si nenek, membagikan semangat beliau yang begitu segar di umur beliau yang telah hampir layu, guru saya ingin orang orang mengambil pelajaran, dari si nenek.

Dan akhirnya, dengan izin Allah, si nenek menyetujuinya, kemudian ditentukanlah tempat dan tanggal pertemuan tersebut..

Pada hari yang ditentukan, setelah guru saya memberikan sedikit muqoddimah dan nasehat, dengan perasaan gembira dan rindu yang mendalam, guru saya memanggil nama si nenek, dengan penuh harapan bahwa kebaikan yang banyak akan mengalir di kota madinah, akan tumbuh penghafal penghafal alquran dari kalangan muda dan tua, karena saya yakin siapapun yang melihat nenek ini akan tersulut semangatnya untuk menghafal alquran, saya sangat yakin.

Namun apa yang terjadi tak seperti yang diperkirakan, karena Allah yang Maha Mengatur lagi Maha Mengetahui, manusia berencana, namun keputusan ada di tangan – Nya..

Berdirilah seorang anak gadis, remaja, umurnya sekitar 15 tahun, padahal yang diharapkan berdiri adalah ibu tua berumur 75 tahun.. dia berkata, di depan para jemaah

“Wahai ustadzah…sesungguhnya nenekku, telah meninggal, dua hari yang lalu”

Allahu Akbar

Semua terdiam, guru saya, para jemaah, dan tentunya kami semua, yang mendengar cerita itu hari ini, ada yang tertunduk, ada yang sudah menangis tersedu sedu, ada yang termenung, ada yang sibuk mencari tissue di tasnya, adapun saya, tak henti hentinya mengucap kalimat takjub, tangan saya dingin, hati saya menangis dan teriris, bukan karena sang nenek sudah meninggal dunia, atau karena sang nenek tak jadi berbicara di depan orang ramai, bukan sama sekali, yang membuat saya begitu sedih dan terharu, adalah bagaimana Allah menginginkan kebaikan untuk beliau di sisa sisa hidupnya. 

Bagaimana Allah mengantarkan beliau untuk mendatangi majelis guru saya di hari itu, bagaimana Allah menggerakkan hati beliau untuk bisa menghafal alquran. Bagaimana Allah membuat beliau istiqomah. Bagaimana Allah timbulkan kecintaan beliau kepada Al-quran..Itu membuat saya berpikir, Bagaimana dengan saya? Apakah Allah menginginkan kebaikan untuk saya? Ada di mana saya nanti di hari kiamat?

Saudara saudariku yang kucintai karena Allah

Percayalah, selalu ada jalan menuju kebaikan
Selalu ada jalan menuju surga Allah

Tidak ada tempat ketiga di akhirat nanti, bila kita tak bisa menggapai surga-Nya maka sudah jelas kita akan berada di mana, wal ‘iyaadzu billah

Selalu ada jalan apabila kita mau berjuang

Tak ada yang tak mungkin

Umur dan kesibukan bukan penghalang untuk menghafal Al-Quran

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, diutus ketika beliau berumur 40 tahun, dari situ wahyu turun dan beliau mulai menghafalnya, begitu pula para sahabat, menghafal alquran di umur mereka yang telah senja

Tak ada kenikmatan lain selain ketika Allah memilih kita sebagai keluarga dan orang-orang terdekat-Nya. Siapa keluarga Allah? Merekalah orang- orang yang berjalan di atas bumi dan Al-Quran tersimpan di dalam dada mereka.

Mulailah

Kita tak tau kapan nafas kita akan habis, jantung kita berhenti berdetak, bisa jadi satu tahun lagi, satu bulan lagi, satu minggu lagi, satu hari lagi, atau bahkan tepat setelah kita membaca tulisan ini….

Mari bangun dari tidur yang panjang ini, saudara saudariku yang kurindukan karena Allah..

Semoga Allah mengumpulkan kita di SURGA yang TERTINGGI, dengan suara aliran sungai dan udara sejuk serta pepohonan hijau, berkumpul dan tertawa bahagia, bersama.

Uhibbukum Fillah….

Madinah Al-Munawwarah, 12 Jumadal Akhir 1439 H

(di tulis oleh muslimah berusia muda merupakan salah satu murid sang istri yang sekarang Lagi belajar di kota suci madinah kerjaaan arab saudi )
======

buku kisah inspiratif para penghafal Al-qur'an
buku andapun bisa hafal 30 juz al-Qur'an


semoga bermanfaaat
Baca selengkapnya »
Diangkat dari kisah nyata: Menjaga kesucian diri

Diangkat dari kisah nyata: Menjaga kesucian diri

Salah seorang sahabatku yang aku percayai bercerita padaku bahwa pada suatu hari ia berdua bersama wanita yang pernah bersamanya dulu semasa kanak-kanak.

Dalam pertemuan itu wanita tersebut merayunya untuk melakukan suatu hal yang tdak senonoh dan degan tegas ia menolaknya seraya berkata "Tidak...!!!, sesunguhnya diantara bentuk rasa syukurku, atas nikmat Allah yang telah mempertemukanku denganmu adalah menjauhi ajakan hawa nafsu"

Cerita yang disampaikan sahabatku itu terjadi di masa lalu.

Pemilik dari Kata "Aku" dalam kisah diatas adalah Al Imam Ibn Hazm - Rahimahullah- yang disampaikan dalam kitab beliau Tauqul Hamamah.

Seorang pemuda menuturkan "dulu Aku jatuh cinta pada putri pamanku, aku sangat menginginkannya, namun sayang ia menolak cintaku. Setelah berlalu beberapa tahun ia mendatangiku (dalam keadaan butuh uang) maka aku memberikannya 120 dinar dengan syarat ia bersedia berduaan denganku, diapun setuju.

Menjaga kesucian diri

Saat aku berada diantara kedua pahanya, ia berkata "bertaqwalah kepada Allah, jangan pernah membuka cincin kecuali dengan haknya!" "Aku terkejut dan pergi meninggalkannya, padahal ia adalah wanita yang paling aku sukai"

Kisah pemuda diatas disampaikan oleh Rasulullah -Shalallahu alaihi wasallam - dalam Shahih Bukhari dan Muslim.

Ibn Qudamah Al Maqdisy dalam kitab at tawwabin mengisahkan bahwa zaman dahulu terdapat seorang pelacur high class yang mana sepertiga kecantikan dunia ada padanya, ia hanya mau diajak kencan jika dibayar 100 dinar.

Seorang pemuda ahli ibadah terpesona melihatnya, maka iapun bekerja keras untuk mengumpulkan uang agar bisa mendapatkan gadis itu, ia mendatangi gadis itu dan berkata "Aku sangat mengagumimu maka Aku berusaha keras untuk mengumpulkan 100 dinar" "masuklah" balas gadis itu dan dia masuk ke kamarnya yang terdapat didalamnya ranjang emas.

"Kemarilah" rayu gadis itu diatas ranjang, ketika posisi mereka sudah seperti posisi sepasang suami istri, terbayang oleh sang pemuda keadaannya di hadapan Rabbnya di hari hisab, iapun gemetar karnanya.

"Biarkan aku pergi dan ambillah 100 dinar itu" ucapnya.

"Ada apa denganmu, bukankah usahamu sangat besar untuk mendapatkanku, sekarang setelah itu kau peroleh kau pergi menjauhinya?" Tanya wanita itu keheranan.

"Aku takut berhadapan dengan Allah, dan sekarang engkau adalah wanita yang paling aku benci" balasnya.

"Kalau kamu jujur dengan apa yang kamu ucapkan maka kamu harus menjadi suamiku" pinta wanita itu.

"Tidak, hingga aku keluar dari sini" tanggapnya.

"Kalau begitu saat aku menemuimu kau harus menikah denganku" wanita itu berharap.

"Semoga" balas lelaki itu sambil keluar dari rumah.

Beberapa waktu kemudian wanita itu pergi mencari pemuda dambaannya itu ke negrinya, setelah bertanya kependuduk setempat ia berhasil menemui pemuda tersebut, " seorang putri mendatangaimu" ucap penduduk yang terpesona akan kecantikannya, pemuda itu terkejut melihatnya hingga jatuh kepangkuan gadis tersebut dan meninggal ketika itu juga.

Lihatlah bagaimana sahabat Ibn Hazm yang menjauhi maksiat, padahal wanita itu adalah dambaannya waktu kecil yang sudah lama berpisah, bayangkan betapa besar kerinduannya!

Ahli ibadah, rasa takutnya terhadap dosa zina membuatnya meninggalkan apa yang selama ini ia impikan dan berusaha untuk mencapainya, bahkan ketakutan itu membawanya kepada kematian.

Pemuda yang mencintai sepupunya, meninggalkan gadis yang paling ia cintai, bertahun-bertahun ia menantikan kesempatan itu, Allah menjadikan ketaqwaan menyelamatkannya dari zina.

Kesucian diri yang hampir tercoreng dan berlumur lumpur itu akhirnya terjaga atas izin Allah taala.

(Rail / Alam takambang jadi guru : ....)
Baca selengkapnya »
KEAJAIBAN DO'A (diangkat dari kisah nyata)

KEAJAIBAN DO'A (diangkat dari kisah nyata)

Syaikh Ali Musthafa Thantawi mengisahkan:

Dahulu, aku menjabat sebagai hakim di wilayah Syam.

Disuatu senja, aku dan beberapa kawan pergi menikmati sejuknya malam. Namun tiba-tiba aku merasakan pernafasanku begitu sesak.

Akupun pamit kepada kawan-kawan untuk pulang. Akan tetapi mereka meminta supaya aku tetap ikut bersama mereka.

Aku sampaikan bahwa aku tidak bisa menemani mereka lagi. Aku ingin pulang dan mencari hawa yang baik.

Aku menyusuri gelapnya malam yang baru saja dihantarkan senja.

KEAJAIBAN DO'A

Tiba-tiba aku mendengar tangisan seorang wanita dari balik bukit kecil.

Suara tangis itu terdengar begitu keras,

Aku mendekat ke arah dimana suara itu berasal.

Ternyata kudapati seorang wanita yang sedang menangis dengan wajah yang memendam kesedihan yang mendalam. Dalam tangisnya ia tak henti-hentinya berdo'a.

Lalu akupun bertanya, "Saudariku. .. apa yang membuatmu menangis .?

Wanita itu menjawab:

"Suamiku adalah orang yang sangat keras dan suka menzhalimiku, dia mengusirku dari rumah dan merampas anak-anak dariku. Dia juga bersumpah untuk tidak akan melihatku selama-lamanya. Sementara aku tak punya siapa-siapa. Tak ada tempat untukku kembali.

Aku bertanya lagi "Mengapa engkau tidak mengadukannya kepada Hakim. .?

Wanita itu menjawab: "Bagaimana mungkin wanita biasa sepertiku bisa sampai kepada seorang hakim.?"

Sambil menangis Syaikh melanjutkan kisahnya,

"Wanita itu berkata seperti itu, padahal dia tidak menyadari bagaimana Allah menghantarkan seorang hakim untuknya (Maksudnya beliau).

Subhanallah. .. siapa yang menuntun hakim tersebut keluar ditengah gelapnya malam, untuk kemudian berdiri didepan wanita malang dan menanyakan sendiri apa keperluannya?

Doa apa yang telah dipanjatkan wanita malang itu, sehingga dengan cepat dijawab oleh Allah dengan cara seperti ini.. ?

Wahai engkau yang merasa dirundung duka dan mengira bahwa dunia begitu gelap hingga tak lagi dapat mengantarkanmu pada jalan keluar..

Angkatlah tanganmu ke langit dan jangan bertanya, "Bagaimana masalahku akan akan diselesaikan.?"

Apakah engkau masih akan merasa bahwa hidup itu sempit..?

Jangan lagi. .. khusyu'lah dengan penuh tunduk kepada-Nya. Dialah yang Maha Mendengar langkah seekor semut yang berjalan di tengah kegelapan malam.

Yakinlah. .. bahwa disana ada bahagia yang menantimu setelah kesabaran yang panjang.

Tidaklah Allah mengujimu dengan suatu ujian melainkan disana ada kebaikan untukmu, meskipun engkau menduga sebaliknya. .

Lapangkan dadamu.

Kalau bukan karena ujian, maka Yusuf tetap menjadi seorang anak yang manja dipangkuan ayahnya.

Namun setelah melewati ujian, ia kemudian menjadi penguasa Mesir.

Apakah engkau masih merasa bahwa hidup itu sempit..?

Yakinlah. ..

Bahwa disana ada bahagia yang menantimu setelah kesabaran yang panjang.

Ada keajaiban yang menantimu untuk membuatmu lupa betapa pahitnya ujian hidup."

(Rawaa'i At-Thantawi)
_____
Madinah 22 -02-1437 H
ACT El-Gharantaly
Baca selengkapnya »
APAKAH ANDA PENUNTUT ILMU KELAS ELIT ?

APAKAH ANDA PENUNTUT ILMU KELAS ELIT ?

"Kondisi Langit gelap ni, kayaknya akan hujan, jadi berangkat ngaji gk ya?"

"Wah udah rintik-rintik (senyum bahagia), moga kajian diliburkan"

"Yah, malah gak jadi hujan (melipat muka)"

"Hari ini panas sekali, belum jalan macet, ragu mw berngkat kajian"

"Sebenarnya jalan kaki sampai, jaraknya gak jauh kok. Cuma ngajinya mending minggu depan aja dah, nunggu motor selesai diservis"

Hari ini kesungguhan penuntut ilmu terancam punah. Bayangkan, kendala sepele seperti diatas saja mampu mengkandaskan niat ber tholabul ilmi, padahal sekedar menghadiri kajian rutin, tapi pertimbangannya tak terhitung.

PENUNTUT ILMU KELAS ELIT

Elit sekali !!

Harus menemukan kondisi yang nyaman dulu baru ngaji,

Sepertinya kita butuh membuka mata, agar dapat melihat kesungguhan para ulama, bagaimana mereka menerjang badai kebodohan dan menaklukkan jarak yg jauh dengan berjalan kaki.

Yusuf bin Ahmad As Syairoziy berkisah dalam kitab "Arba'in Al Buldan", seputar sepak terjang pencari ilmu sesungguhnya:

"(Dahulu) Ketika aku sedang dalam perjalanan mencari guru, tujuan pertamaku adalah mengembara. Namun (sepertinya) zaman enggan melihat perjalananku sia-sia. Hingga Allah takdirkan diriku bertemu dengan orang 'alim di kota Kerman. Sehingga berubahlah haluan niatku.

(Diawal pertemuan itu) aku ucapankan salam kepadanya terlebih dahulu, mencium keningnya lalu duduk di hadapannya.

Spontan Ia menanyaiku: "Apa gerangan yg membuatmu singgah di kota ini?"

Aku pun menjawab: "Maksud kedatanganku adalah pertemuanmu, aku ingin menjadi muridmu. Ini, aku bawa catat kecilku siap berguru kepadamu. Dan aku menyengaja sampai di tempat ini dengan berjalan kaki supaya bisa meraih keberkahan ilmumu dan sanadmu yang tinggi"

"Semoga Allah memberimu dan juga kepada kami taufikNya, Menjadikan tujuan dan jalan yg kita tempuh ikhlas karenaNya. Kiranya kau tahu diriku sebenarnya niscaya kau tidak akan sudi menghadiahkan untukku ucapan salam dan duduk seperti ini." Sahut sang guru merendah.

Kemudian ia menangis terisak-isak membuat orang-orang di sekitarnya ikut menguraikan air mata.

Dan berdo'a:

"Ya Allah Tutuplah aib-aib kami dengan kain penutup terbaik, dan anugrahi kami petunjuk menuju ridhaMu."

Lalu sang guru teringat kenangan indahnya semasa mencari ilmu dan bercerita :

" Wahai anakku (menyapa muridnya)! Dulu aku juga berpergian sepertimu demi menyimak hadits dari Kitab As Shahih, berjalan kaki bareng ayahku dari kota Herat menuju Dawoudi di Busang, sedang umurku belum genap 10 tahun.

Dan kebiasaan ayahku, selalu membekaliku dua bongkahan batu dan berpesan agar aku senantiasa membawanya. Ayah adalah orang yg aku segani maka aku bersungguh-sungguh menggenggam keduanya selama perjalanan

Ketika ia tahu bahwa kondisi jalanku mulai sempoyongan, ia menyuruhku agar membuang satu batu sehingga bebanku berkurang.

Tiap kali aku terlihat letih. Beliau selalu bertanya, "Kamu sudah merasa capek?".

Dengan segan aku katakan, "Belum".

Lantas beliau menimpali, "(jika belum) kenapa jalanmu melambat?"

Sampai beberapa jam setelah berjalan, aku merasa benar-benar capek dan tidak kuasa lagi meneruskan, ayahku mengetahui hal itu, ia pun segera mengambil batu yg tersisa dalam genggamanku dan membuangnya.

Ini pembuktian dariku, aku paksakan diri agar tetap melanjutkan perjalanan. Hingga akhirnya aku sampai pada titik nadir dari kekuatanku. Tubuhku tak lagi berkutik saking capeknya, hampir-hampir tersungkur pingsan.

Karena belum sampai di tempat tujuan, ayahku rela memanggulku diatas pundaknya dan melanjutkan perjalanan yg tersisa.

Kemudian kami berjumpa dengan sejumlah pekebun, mereka merasa iba terhadap kami dan menawarkan bantuan, "Wahai Syaikh Isa, bawa kemari anak anda, kami akan menghantarkannya dengan tunggangan kami"

Ayahku pun menyanggah mereka, "Hanya Allah tempat kami berlindung, tidak mungkin kami memilih berkendaraan tatkala mencari hadits, kami memang harus berjalan kaki.

Demikian itu kami lakukan karena besarnya penghormatan kami terhadap hadist-hadits Rosulullah dan harapan kami terahadap pahala yg melimpah." (Siyar A'lam An Nubala' 20/307-308)

💐 Saudaraku 💐

🎈Itulah perjuangan mereka, mana perjuanganmu??
🎈Mereka berjalan kaki karena pilihan lho. Bukan terpaksa, Bahkan sampai menolak tunggangan.
🎈Adapun kita berjalan karana faktor keadaan "terpaksa, gak ada pilihan lain".

💐 Saudaraku 💐

🎈Mungkin inilah jawaban dari pertanyaan, kenapa seseorang lebih memilih tidak berangkat kajian ketika tidak ada kendaraan, sekalipun dekat.
🎈Yah, karena surutnya kesungguhan dan pasangnya kemalasan.

Boleh Share !!!

Allahul musta'an wa 'alaihi tuklan

Kampus Lipia, Jaksel. Selasa , 20 Muharram 1439

artikel republish
Baca selengkapnya »
SOLUSI DATANGNYA DARI ALLAH

SOLUSI DATANGNYA DARI ALLAH

Assalamualaikum.....

Berhijrah bukan semata2 hanya pindah pekerjaan & meninggalkan hutang-piutang yg mengandung Riba, namun secara hati apakah hati kita juga telah berhijrah ?

(Saya ceritakan pengalaman pribadi saya :)

Sebelum saya keluar dari pekerjaan di bank, ada seorang teman yg menyampaikan pada saya bahwa utk melakukan hijrah saya tdk boleh zalim dg anak & isteri saya yg kelak akan saya ajak ke jalan hijrah, krn itu saya perlu melakukan persiapan...

Menyiapkan dana di tabungan minimal utk 1 tahun hidup

Caranya, dg menghitung kebutuhan hidup selama 1 bulan lalu dikalikan 12...dan dana tsb disimpan di tabungan dan baru boleh di gunakan setelah kami hijrah.

SOLUSI DATANGNYA DARI ALLAH

Berdasarkan logika manusia sayapun lakukan hal itu.

Ternyata memang benar kalau dibulan2 awal kami hijrah penghasilan dari usaha yg kami rintis ternyata tdk sesuai dg perhitungan kami sehingga tabungan tersebutlah yg "menolong" kami.

Hampir setiap bulan hal ini terjadi dan saat ini terjadi hati kamipun berkata....

"TENANG MASIH ADA TABUNGAN"

Sampai akhirnya tabungan kami pun habis dan kamipun mulai mengkawatirkan kehidupan kami di bulan2 berikutnya.

Dan di saat2 seperti inilah godaan setan itu datang... dari mulai merasa menyesal mengapa keluar dari kantor sampai pada mulai berniat utk mempertimbangkan tawaran dari teman2 utk kembali bekerja di bank, dll.

Di tengah ke galauan itu saya pun menyadari kalau saat itu hanya tinggal ALLAH lah tempat kita bergantung dan Alhamdulillah saya pun menyadari kalau memang secara fisik saya sdh hijrah, tapi secara hati belum.

Waktu saldo tabungan masih ada, saya bergantung pada tabungan, bukan pada ALLAH. Yang mungkin membuat ALLAH tersinggung sehingga dihabiskanlah Tabungan saya...agar saya tidak bergantung sama selain ALLAH.

Setelah kejadian ini saya pun menyadari bahwa yg di tuntut oleh ALLAH pada kita adalah KEPASRAHAN & KETERGANTUNGAN yg 100% hanya kepada NYA.

Bukan ketergantungan kita pada saldo tabungan, bukan ketergantungan pada omset usaha, bukan ketergantungan kita pada orang lain.

Usaha kita itu bukanlah pemberi rejeki, usaha kita itu hanya lah jalan rejeki, pemberi nya tetap ALLAH.

Alhamdulillah setelah saldo tabungan saya ludes, saya sekeluarga tetap hidup, anak2 tetap bisa bersekolah, bahkan waktu anak pertama saya harus masuk Universitas Negeri melalui jalur Mandiri pun nyatanya saya bisa bayar uang masuknya....

Maha Besar Engkau yg ALLAH yg telah memberikan SOLUSI buat kami.

Pada saat dulu kita masih jadi pegawai, apakah kepasrahan & ketergantungan kita sudah 100% kepada ALLAH ?

Banyak diantara kita yg bekerja di bank lebih mengantungkan diri kita pada tanggal 25 setiap bulannya (tgl gajian) dari pada kepada ALLAH.

Banyak diantara kita yg lebih menggantungkan hidup kita kepada perusahaan tempat kita bekerja, yg sangat kita yakini kalau perusahaan seolah2 tdk akan pernah bankrut daripada kepada ALLAH.

Banyak diantara kita yg lebih menggantungkan kenaikan gaji kita kepada atasan kita seolah2 atasan kita itulah penentu kenaikan gaji kita, dari pada kepada ALLAH.

Jadi buat saya manfaat hijrah yg mendasar yg saya rasakan adalah HIJRAH NYA KEPASRAHAN & KETERGANTUNGAN HIDUP dari yg dulunya tidak 100% pada ALLAH saat ini selalu terus berusaha utk 100% hanya pada ALLAH.

Demikian, semoga manfaat.

(by: El Candra, Founder XBank Indonesia)

republish from whatsapp group dakwah
Baca selengkapnya »
Orang Tua anda masih hidup ? ambil pelajaran dari kisah haru ini

Orang Tua anda masih hidup ? ambil pelajaran dari kisah haru ini

orang tua dan hari tua

Kemarin sore seorang teman menunjukkan sebuah foto yang ada di WAG RT-Nya, wilayah Mungkin Magelang. Mayat dua orang sepuh yang sudah membengkak, menghitam dan mulai berair. Saya hanya melihat sekilas karena tidak punya cukup nyali memandangnya dekat.

Jenasah kakek nenek itu ditemukan beberapa hari setelah kematiannya oleh menantu dan tetangga. Tak ada yang tahu persis kapan mereka berdua wafat. Kata polisi kemungkinan sudah dua minggu lebih berlalu. Mereka meninggal tanpa kata, tanpa pamit dan yang pasti tanpa didampingi oleh anak, menantu dan cucu-cucunya.

Bukan karena mereka tak punya, namun tak ada satu pun anak yang bisa menemani dan merawat mereka di hari-hari tuanya. Anak-anak mereka tinggal di luar kota. Saya ikut sesak menahan air mata…

orang tua dan hari tua

Lelaki sepuh itu akhirnya meninggal dalam keadaan duduk bersandar pada kursi kayu di ruang tamunya.

Lelaki itu sehar-harinya adalah suami yang merawat istrinya yang stroke dan sudah tidak bisa beraktivitas apapun kecuali berbaring di tempat tidur. Polisi memperkirakan kematian lelaki sepuh ini terjadi lebih dulu. Istrinya menyusul wafat kemudian, banyak orang mereka-reka : sang istri meninggal karena selama berhari-hari tak makan minum atau melakukan aktivitas lainnya, karena sang suami yang selama ini menjadi satu-satunya 'perawat' terlebih dahulu meninggal dunia.

Bisakah anda bayangkan keadaan mereka berdua ? saat sang istri memanggil suaminya berkali-kali dalam resah namun tak ada jawaban apapun. Resah bukan saja karena ia sendiri merasa lapar, sakit dan tak berdaya. Namun mengkhawatirkan keadaan belahan jiwa namun tak bisa berbuat apa-apa karena badan tak lagi bisa digerakkan bersebab stroke menahun.

Sang suami juga tak bisa mengabarkan siapapun untuk menggantikannya merawat istri tercinta. Kematian datang tanpa mengucapkan salam pemberitahuan. Begitu tiba-tiba dan sangat nyata.

Mereka berdua meninggal di dalam rumah mereka sendiri. Rumah yang menjadi saksi saat pernikahan mereka bermula, saat mereka melahirkan anak demi anak. Membesarkan anak-anak mereka dari bayi merah, hingga akhirnya bisa merangkak perlahan, berjalan, berlari … dan akhirnya pergi sendiri-sendiri menapaki jalan takdirnya.

Menjadi orang tua memang adalah jalan panjang untuk melepaskan seorang anak agar mampu menjalani kehidupan mereka sendiri … karena itulah mengapa kisah pengasuhan anak menjadi rumit. Karena pengasuhan karena telah melibatkan berjuta ragam emosi dan kenangan. Anak-anak lahir dari Rahim ibunya, membawa DNA bapaknya, besar dengan keringat dan airmata orang tuanya : namun bukan milik orang tuanya.

Orang tua harus ridho melepaskan anaknya menjalani peran kehidupannya sendiri, suatu waktu. Bahkan saat sang anak memutuskan untuk pergi mengembara menggapai mimpi-mimpi mereka

Dan bagi orang tua, ternyata berpisah dengan anak itu bukan urusan mudah.

Meski teknologi membuat kita bisa menatap wajah keriput mereka di layar HP, ternyata taka da yang bisa mengobati rindu sebaik dekapan hangat dan ketulusan cinta. Sebanyak apapun uang tak akan bisa membeli perhatian, senyuman, dukungan dan pelayanan tulus.

Saya menuliskan ini bukan hendak menyalahkan si anak atau keluarganya, saya pun tak tahu persis apa kesulitan mereka. Saya hanya ingin menuliskan catatan untuk diri saya sendiri. Karena saya dan suami pun juga tinggal jauh dari orang tua.

Dua momen bude dan pakde saya meninggal pun saya tak bisa takziah langsung, dada saya sesak setiap kali mengingatnya. Sudah tak mampu memuliakan mereka saat hidup, ternyata saya pun tak bisa memuliakan jenasahnya sebelum dikubur selamanya. semoga Allah memberikan kami kekuatan dan kesempatan menyempurnakan bakti pada orang tua dan mertua.

Mereka adalah pintu surga yang terbuka. Berbuat baik pada mereka bahkan lebih didahulukan daripada jihad. Menafkahi mereka adalah keutaamaan yang besar. Bersabar atas mereka adalah pahala yang besar dihadapan ALLAH.

Waktu berlalu, usia mereka bertambah, badan mereka makin lemah, kematian semakin mendekat. BUkan tentang kematian mereka, namun juga tentang jatah kematian diri kita. Adakah yang bisa menjamin bahwa kita bisa setua mereka dan punya waktu untuk melanjutkan mimpi yang tak ada habisnya ?

PULANGLAH

Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata “Saya berbai’at kepadamu untuk berhijrah dan berjihad, aku mengharapkan pahala dari Allah.” Beliau bertanya, “Apakah salah satu orang tuamu masih hidup?” Ia menjawab, “Ya, bahkan keduanya masih hidup.” Rasulullah bertanya lagi, “Maka apakah kamu masih akan mencari pahala dari Allah?” Ia menjawab, “Ya.” Maka beliau pun bersabda, “Pulanglah kepada kedua orang tuamu lalu berbuat baiklah dalam mempergauli mereka.” (HR. Muslim)

Pulanglah, ada surga yang bisa kita raih dalam bakti padanya. Pulanglah, ada berkah dan kebaikan yang besar yang akan kita dapatkan untuk memperbaiki kehidupan kita sendiri. Pulanglah, kesempatan terbatas dan tak bisa diulang. Sempatkanlah pulang, supaya kita bisa memohon maaf atas bakti yang tak sempurna, atas semua kedurhakaan dan belum mampunya kita membahagiakan mereka.

Pulanglah, karena sampai kita menjadi orang tua bagi anak-anak kita pun masih saja merepotkan mereka. Pulanglah, untuk mengucapkan terimakasih yang tak pernah cukup …

Jika mereka sakit hari ini, sungguh sakit mereka pun bisa jadi karena kita anak-anaknya. Masa muda dan kekuatan mereka berkurang untuk membesarkan kita anak-anaknya.

“Rindu itu berat, hidup dalam sepi tanpa anak cucu di akhir masa tua itu jauh lebih berat”

Sungguh tak ada orang tua yang ingin merepotkan anak-anaknya. Tak ada yang ingin sakit di masa lemahnya. taka da yang ingin berhitung budi dengan anak-anaknya. Mereka ikhlas.

Bukan orang tua yang sebenarnya membutuhkan anak-anaknya. Tapi justru anak-anaknya lah yang sangat membutuhkan orang tuanya. Karena sadar bahwa amal yang tak seberapa ini, dosa yang banyak ini hanya bisa lebur dengan amalan istimewa di mata ALLAH. Salah satunya adalah berbakti pada orang tua.

“Ridla Allah tergantung kepada keridlaan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua” [Hadits Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad (2), Ibnu Hibban (2026-Mawarid-), Tirmidzi (1900), Hakim (4/151-152)]

“Setiap dosa, Allah akan menunda (hukumannya) sesuai dengan kehendakNya pada hari Kiamat, kecuali durhaka kepada orang tua. Sesungguhnya orangnya akan dipercepat (hukumannya sebelum hari Kiamat).” [HR Bukhari]

Memang tak ada orang tua yang sempurna namun yang pasti bahwa setiap anak berhutang pada orang tuanya. Bukan tentang nominal angka-angka yang mereka habiskan untuk membesarkan dan mendidik kita, namun tentang cinta, ketulusan, perhatian, doa dan pegorbanan yang tak berbilang.

Maka, ketika seorang anak yang menggendong sang ibu bertawaf bertanya pada Ibnu Umar “apakah aku sudah membalas baktiku pada ibuku?”

“belum, bahkan engkau belum membalas satu tarikan nafas dan rasa sakitnya saat ia melahirkanmu”

Rabbifghfirli waliwali dayya warham humaa kamaa rabbayani shoghiroo….

Ninin Kholida

republish from whatsapp group dakwah
Baca selengkapnya »
KISAH WANITA FILIPINA YANG SHOLIHAH

KISAH WANITA FILIPINA YANG SHOLIHAH

Salah satu surat kabar di Saudi menuliskan bahwa seorang lelaki tua di Saudi sedang menghadapi sakratul maut. Ia lalu meminta agar semua anaknya berkumpul utk menyampaikan sebuah wasiat kepada mereka.

Ia berkata kepada anak laki-laki tertuanya, "saya memiliki seorag istri sirri di luar negeri ia berkebangsaan Filipina dan ini alamatnya di salah satu wilayah islami di Filipina. Jagalah ia, wahai anakku! Untuk meringankan tanggung jawabku."

Lelaki itupun meninggal, lalu sang anak tertua bersama dg saudara-saudaranya mendatangi hakim setempat utk mengurus harta warisan yg ditinggalkan oleh sang ayah. Tak lupa pula, sang anak tertua mengingatkan hakim tentang isteri sirri ayahnya tsb.

Sang hakim lalu memutuskan utk menghentikan sementara pembagian warisan ini, sampai wanita Filipina tsb hadir di depan hakim.

Lalu bergegaslah anak tertua menuju Filipina mencari alamat isteri ayahnya.

Tak lama setelah dalam proses pencarian, ia menemukan alamat tsb dan mendapati rumahnya yg sangat sederhana.

Diketuknya pintu rmh itu, lalu keluarlah seorang wanita berhijab. Ia memperkenalkan dirinya kpd wanita tsb. Wanita itu lalu berkata, "Saya isteri ayahmu. Berita ttg wafatnya ayahmu telah aku terima."

Sang anak kemudian menyampaikan bahwa, ia harus membawanya ke Riyadh atas perintah hakim utk menerima warisan ayahnya.

KISAH WANITA FILIPINA YANG SHOLIHAH

Setelah memyelesaikan permasalahan imigrasi, wanita itupun terbang ke saudi. Sesampainya di hadapan hakim, ia lalu menerima bagiannya dari warisan senilai 800.000 riyal (sekitar 2,8 milyar rupiah).

Setelahnya ia meminta kepada sang anak tertua agar menemaninya ke Makkah tuk melaksanakan ibadah umroh.

Sang anak pun memenuhi permintaannya. Kemudian setelahnya ia mengantarkan wanita tsb kembali ke negaranya via Jeddah.

Setelah empat tahun berlalu, sang anak tertua rindu untuk mengunjungi ibunya (isteri ayahnya). Ia pun safar ke Filipina.

Sesampainya di sana, ia mendapati keadaan rumah ibunya tak ada perubahan sedikitpun. Sama dg pertama kali ia lihat, baik kondisi dari luar maupun di dalam rumah.

Iapun bertanya, "ke mana harta yg telah diwariskan oleh ayahku?, aku tidak melihat perubahan pada dirimu."

Wanita itu menjawab, " Ayo, berdiri! ", ia lalu membawanya ke pusat kota, lalu menuju ke Markaz Dakwah Islam Dan Pengurusan Anak Yatim.

"Angkatlah kepalamu, tengoklah tulisan di gedung tsb." Sang anak membaca tulisan di gedung itu, yg ternyata tertulis nama ayahnya yg dijadikan nama markaz tsb. Wanita itu berkata, "Saya namai gedung ini, dan saya telah hibahkan dan sedekahkan sbg sedekah jariyah atas nama ayahmu."

Demi menyaksikan dan mendengar penjelasannya, sang anak menangis dan merasa rendah di hadapan kejujuran dan ketulusan wanita ini bersama ayahnya.

Sekembalinya di Riyadh, pada hari yg sama, ia berkumpul bersama saudara2nya. Ia lalu menceritakan apa yg telah ia saksikan. Dan tidaklah mereka berpisah pd malam itu, kecuali telah terkumpul harta donasi dari mereka sebesar 5 juta riyal (sekitar 17,5 milyar rupiah) utk donasi kebaikan atas nama ayah mereka.

Wanita ini telah mengajarkan kpd mereka sebuah ketulusan dan kedermawanan serta kecintaan thd akhirat.

Sebaik2 wanita muslimah adalah isteri yg sholihah.

✍🏽 Diterjemahkan oleh Ust. Abu Abdillah Diar

(Semoga Allah mengampuni kedua org tua kita , dan seluruh orang tua kaum muslimin).

Wassalam.
Baca selengkapnya »
-->