IBX5A47BA52847EF DakwahPost: muslimah
Benarkah Shaf shalat Paling Utama Bagi Wanita Yang Paling Belakang

Benarkah Shaf shalat Paling Utama Bagi Wanita Yang Paling Belakang

● Pertanyaan

Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya :

Kaum wanita di bulan Ramadhan berlomba-lomba untuk mendapatkan shaf paling belakang dalam shalat berjamah di masjid,

mereka enggan duduk di shaf pertama sehingga hal itu menyebabkan shaf-shaf pertama di tempat shalat kaum wanita menjadi kosong,

dan sebaliknya shaf terakhir penuh membludak hingga menutupi jalan bagi kaum wanita yang ingin menuju ke shaf depan, hal ini mereka lakukan berdasarkan sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

وَخَيْرُ صُفُوْفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا
“Sebaik-baiknya shaf wanita (dalam shalat) adalah shaf paling belakang”

Mohon penjelasan anda tentang hal ini.

Shaf shalat Paling Utama Bagi Wanita

● Jawaban

Mengenai hal ini detailnya sebagai berikut :

• Jika kaum wanita itu shalat dengan adanya tabir pembatas antara mereka dengan kaum pria maka shaf yang terbaik adalah shaf yang terdepan karena hilangnya hal yang dikhawatirkan terjadi antara pria dan wanita.

• Dengan demikian sebaik-baik shaf wanita adalah shaf pertama sebagaimana shaf-shaf pada kaum pria, karena keberadaan tabir pembatas itu dapat menghilangkan kekhawatiran terjadinya fitnah.

• Hal ini berlaku jika ada tabir pembatas antara pria dan wanita.

• Dan bagi kaum wanita pun harus meluruskan, menertibkan dan mengisi shaf depan yang kosong, kemudian shaf berikutnya, sebagaimana ketetapan ini berlaku pada shaf kaum pria.

• Jadi, ketetapan-ketetapan ini berlaku bila ada tabir pemabatas.

[Kitab Al-Muntaqa min Fatawa Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, 3/56-57]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq, Penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin]

[Dikutip dari: almanhaj.or.id ]
Baca selengkapnya »
Bagaimana Hukum Shaf wanita sholat berjamaah ?

Bagaimana Hukum Shaf wanita sholat berjamaah ?

Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya :

• Apakah shaf wanita dalam shalat harus diluruskan dan ditertibkan?

• Apakah hukum shaf pertama sama dengan shaf-shaf lainnya, khususnya bila tempat shalat kaum wanita benar-benar terpisah dari tempat shalat kaum pria?

Bagaimana Hukum Shaf wanita sholat berjamaah

● Jawaban

• Hukum-hukum yang ditetapkan dalam shaf-shaf wanita sama dengan hukum-hukum yang ditetapkan dalam shaf-shaf pria dalam hal meluruskan, menertibkan dan mengisi shaf yang kosong.

• Kemudian jika di antara kaum pria dan wanita tidak ada tabir, maka sebaik-baiknya shaf wanita adalah yang paling belakang, karena shaf yang paling belakang itu adalah yang paling jauh dari kaum pria, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits,

• akan tetapi jika diantara kaum pria dan kaum wanita terdapat tabir pemisah, maka sebaik-baik shaf wanita adalah yang paling depan, karena dengan adanya tabir berarti sesuatu keburukan yang dikhawatirkan terjadi antara pria dan wanita telah hilang, disamping itu, shaf yang terdepan lebih dekat kepada imam. Wallahu a’lam.

[Kitab Al-Muntaqa min Fatawa Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, 3/56-57]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq, Penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin]

Dikutip dari: almanhaj.or.id ]
Baca selengkapnya »
Akhi, MAUKAH ENGKAU MENIKAH DENGANKU ?

Akhi, MAUKAH ENGKAU MENIKAH DENGANKU ?

Dulu ana datang ke suami ana, justru ana yang menawarkan diri ke suami. ”Akhi maukah menikah dengan ana?”, tawarku padanya

Waktu itu dia masih kuliah smester 8, dan dia cuma bengong seribu bahasa, serasa melayang di atas awan, seolah waktu terhenti

Beberapa saat setelah setengah kesadarannya kembali dan setengahnya lagi entah kemana, dia berucap

Afwan ukhti, anti pengen mahar apa dari ana?” ucapnya

Cukup antum bersedia menikah denganku saja itu sudah lebih dari cukup” jawabku

Eh dianya langsung lemes kayak pingsan! Besoknya datang nazhar, terus khitbah

Lalu untuk ngumpulin uang buat nikah, dia jual sepeda dan jual komputernya untuk mahar dan biaya nikah

Akhi, MAUKAH ENGKAU MENIKAH DENGANKU ?

Di awal pernikahan dia gak punya pendapatan apa-apa. Kita usaha bareng dan ana gak pernah nanya seberapa pendapatnya ataupun dia kerja apa

Selama ana nikah dengannya ana belum pernah minta uang. Hingga kinipun kalo gak dikasih ya diam. Saat beras habis ana gak masak

Saat dia nanya, “Koq gak masak beras, Dek

Habis Mas”, jawabku

Koq gak minta uang?”, lanjutnya

Ana gak jawab, takut suami gak punya kalo ana minta. Jadi ana takut menyinggung perasaan dia

Kalo kita menghormati suami, maka suami akan menyayangi kita lebih dari rasa sayang kita ke dia

Bahkan usaha sekarang sudah maju pesat Alhamdulillah Ibarat kata uang 50jt sudah hal biasa

Lalu suatu hari ana tawarkan dia nikah lagi namun dia gak mau. Katanya ana itu tidak ada duanya, hehehe, ngalem dewek Walaupun ortunya dulu gak ridho dengan ana, karena Salafi tapi sekarang sudah baikan

Rezeki bisa dicari bersama. Bagi ana usaha yang dicari bersama suami susah-payah bersama, setelah sukses maka banyak kenangan manis yang tak terlupa

Itulah kiranya yang ana rasakan darinya, setelah 12 tahun menikah dan Insya Allah dikaruniai anak 7 semoga semakin menambah keberkahan dalam rumah tangga ana

Dan bukan hal yang hina bagi ana kalo ada seorang akhawat datang menawarkan diri ke ikhwan. Ana dulu hanya melihat dari bacaan Al-Qur’annya yang bagus dan dia sangat menjaga Sholatnya juga mengenal sunnah dengan baik itu aja gak lebih

Jazakumullahu khairan

copas dari kronologi ustadz Fuad Romadhon Ritonga
Baca selengkapnya »
Terima Kasih Istriku, Engkau Menjaga Kehormatanku

Terima Kasih Istriku, Engkau Menjaga Kehormatanku

Ada sebuah kisah, ketika seorang suami menangis kepada sahabatnya.

Sahabatnya itu pun bertanya, "Kenapa kau menangis tersedu-sedu seperti ini?"

Sang suami menjawab, "Istriku sedang sakit demam"

Sahabatnya bertanya lagi, "Sebegitu cintanyakah kau? Sehingga istri sakit demam saja sampai menangis sangat dlm seperti ini?

Sang suami menjawab, "Kau tahu siapa istriku?".

Lalu sang suami menceritakan pada sahabatnya, Aku ini miskin, tidak punya pekerjaan tetap & setiap hari keluargaku hanya makan dengan kacang, itu pun jika aku pulang.

Jika aku tak pulang karena belum mendapat apa "untuk dimakan paling istriku hanya minum air atau berpuasa.

Terima Kasih Istriku, Engkau Menjaga Kehormatanku

Suatu hari keluarga mertuaku mengundang kami untuk berkunjung ke rumahnya, kebetulan istriku berasal dari keluarga kaya.

Saat aku duduk berkumpul bersama mertuaku & keluarga yang lain di meja makan dengan hidangan yang mewah, aku tidak menemukan istriku. Lalu aku bertanya kepada ibu mertuaku,

"Dimanakah dia ibu?". Ibu mertuaku menjawab, "Istrimu sedang di dapur, dia mencari kacang... Katanya dia sudah bosan dengan hidangan lauk & daging, sehingga dia sangat ingin makan kacang"

Ketika mendengar itu ayah mertuaku langsung memelukku sambil berkata,... "Terima kasih menantuku kau telah mencukupi nafkah anakku dngn baik, sampai "dia bosan makan daging & malah ingin mencoba makan kacang."

Saat itu dadaku tersesak, menahan tangis.

Lalu saat pulang ke rumah kami aku tak bisa lagi menahan tangis, sambil ku peluk erat istriku ...

"Betapa engkau sangat menjaga kehormatanku di hadapan orang lain wahai istriku walau pun itu orang tuamu sendiri, sedangkan aku tahu setiap hari kau hidup kekurangan disini, bahkan sampai tdk makan sama sekali."

Istriku hanya menjawab, "Aku berkewajiban menjaga kehormatanmu, Karena istri adalah pakaian suami & suami adalah pakaian istri. Karena itu istri adalah kehormatan suaminya, begitu juga pun sebaliknya suami adalah kehormatan bagi isterinya".

Allahu Akbar

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita para suami menjaga kemuliaan istri kita demikian juga dengan istri sudahkah menjaga kehormatan sang suami?

SEMOGA BERMANFAAT

catatan admin
-repost from whatsapp group dgn sedikit editan
-kebenaran kisah ini tidak diketahui, tapi ada pelajaran berharga pada kisah ini yg perlu diambil dan diamalkan
Baca selengkapnya »
Wanita-wanita yang Mengundang Selera....

Wanita-wanita yang Mengundang Selera....

Asy-Syaikh al-'Allàmah Muhammad Amàn al-Jàmì rahimahullah mengatakan, "Wanita ini (wanita yang berhias/berdandan dan keluar-keluar ke mana-mana) permisalannya seperti:

makanan lezat yang membangkitkan selera, yang orang yang memasaknya sudah mencurahkan seluruh kemampuannya di dalam menyiapkan makanan ini.

Kemudian, si koki tadi mengambilnya dan meletakkannya di pinggir jalan raya di samping rawa-rawa, lalu koki tadi membuka penutup makanan tersebut.

Kemudian berbagai binatang kecil(serangga) dari seluruh penjuru pun datang mengerumuninya, menghirup bau sedapnya, Lalat pun mulai berkeliaran mengitari di sekeliling makanan tadi.

Wanita-wanita yang Mengundang Selera.

Terkadang lalat itu akan jatuh ke dalamnya. Dalam pada itu, orang-orang melihat kepada makanan tadi dengan perasaan jijik (karena kotornya makanan tadi) dan wajah-wajah mereka pun masam‼

Kesudahannya, makanan tadi menjadi makan malam anjing, bila anjing-anjing itu bisa mengalahkan serangga-serangga tadi. Dan tentu saja serangga itu akan kalah.

Inilah permisalan wanita-wanita yang berdandan dan keluar rumah (memperlihatkan kecantikannya kepada selain suaminya-pent)."

📚 Majmu' ar-Rasa-il 346

قال الشيخ العلامة محمد أمان الجامي –رحمه الله– «وهذه المرأة [المتبرجة المتجولة] مَثَلُها كمَثَل طعامٍ شهيٍ بَذَل صانعُه في إعداده كل ما في وُسعِه ثم أخذه فجعله في قارعة الطريق وبِجِوار المُستنقعات، فرفع عنه الغطاء فهاجرت إليه ‏الحشرات من كل مكانٍ تستنشق ريحه، فأخذ الذباب يحوم حوله فيسقط فيه أحيانًا والناس ينظرون إليه مستقذرين وعابسين وجوههم. وفي النهاية يصبح عشاء للكلاب إذا تغلبت على الحشرات ولابد أن تتغلب. هذا مثل المتبرجات المتجولات».{مجموع الرسائل ٣٤٦}

t.me/majalahqonitah
Baca selengkapnya »
Puisi Tentang IBU MUSLIMAH

Puisi Tentang IBU MUSLIMAH

(puisi untuk ibu muslimah, ibu Indonesia dan Ibu Sukma semoga Allah memberikan hidayah untuk Anda)

☘ Aku tahu syariat Islam
Anda mungkin belum tahu...
Jilbab ibu muslimah sangatlah indah
Lebih cantik dari gumpalan rambut palsu di belakang kepala...

Panjang dan lebarnya membuat ibu muslimah terjaga suci
Sesuci kain putih yang membungkus Anda nanti setelah mati...

Puisi Tentang IBU MUSLIMAH

Bentuk dan modelnya sangatlah sederhana
Menyatu dengan kodrat seorang wanita bermartabat dan bersahaja...
Jari jemarinya tak pernah ia biarkan
Disentuh oleh lelaki sembarangan...

Lihatlah ibu muslimah
Saat penampilan jilbab dan cadarmu semakin asing
Supaya kau dapat mengingat
Kecantikan asli dari Rabb-mu...

Jika kau ingin menjadi penghuni surga
Selamat datang di agama Allah, agama Islam yang luar biasa...

☘ Aku tahu syariat Islam
Anda mungkin belum tahu suara mengaji ibu muslimah sangatlah elok
Tak apple to apple dengan alunan dangdutmu...

Makhrajul huruf dan tajwidnya adalah pahala...
Demikian indah lantun kalam Ilahi
Hembusan doanya bersahutan dengan dzikir
Nama demi nama milik Allah disebutkan
Tetes demi tetes air mata berjatuhan
Menggugurkan dosa-dosa karena ayat-ayat Al-Quran dibacakan...

☘ Pandanglah ibu muslimah
Saat Islam-mu semakin pudar
Supaya kau dapat menyadari engkau hanya hamba Tuhanmu..

Bahkan sejak engkau belum ada, agama yang mengantar ke surga ini juga cinta dan hormat kepada ibu Indonesia, khususnya ibu muslimah...

oleh Muflih Safitra
Baca selengkapnya »
Mengenal Sosok Hajar, Istri Bapak Tauhid (Nabi Ibrahim)

Mengenal Sosok Hajar, Istri Bapak Tauhid (Nabi Ibrahim)

Di waktu yang sama ini saya mengingatkan kaum nisaa’, kaum ummahat dengan sosok Hajar radhiyallahu ‘anha.

Sosok wanita penyabar, sosok wanita pendidik, sosok wanita yang taat kepada suami, sosok istri yang mendukung misi dakwah. Sabar menerima apa yang diberikan oleh suami, tidak banyak menuntut, tidak banyak permintaan.

Demikian Hajar sebagai sosok istri yang penuh ibadah kepada Allah. Menghiasai hari-harinya dengan dzikir kepada Allah. Tidak tertipu oleh wanita-wanita lain yang bisa hidup nyaman, yang bisa hidup dengan serba ada. Tapi taat mengikuti ajakan suami. Kemana kita akan pergi ? Ke sebuah lembah وَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ , sebuah lembah yang kering yang tidak ada tanaman dan tetumbuhan di sana.

Mengenal Sosok Hajar, Istri Bapak Tauhid (Nabi Ibrahim)

Berangkatlah Hajar menemani suami. Sesampainya di sana Hajar pun berusaha membantu suami dengan apa yang dia mampu. Tidak banyak mengeluh, tidak banyak menuntut, tidak mengganggu iman suami. Tidak menjadikan iman suami lemah. Tidak menjadikan semangat suami menjadi dhoif (lemah).

Hajar radhiyallahu ‘anha sosok wanita yang pendidik bagi putranya.

Ketika suami mendidik putranya di atas tauhid, di atas syariat, tunduk kepada Allah dan aturan Allah, sang istri memberi semangat kepada putra, memberi semangat iman, bukan malah istri yang menggadoli anaknya, memberikan angan-angan panjang tentang dunia:

“kemana hendak pergi?”

“akan jadi apa kamu?”

“akan makan apa kamu?”.

● Hajar seorang wanita dan istri pendidik yang bisa diberi amanat oleh suami.

Suami pergi berangkat berdakwah dalam waktu yang tidak sedikit. Hajar sebagai istri mengemban amanah, amanah mendidik, demikian.

Para istri, jadilah kalian istri-istri yang taat kepada Allah, taat kepada suami dalam perkara yang ma’ruf, taat kepada suami dalam syariat Allah.

Para istri jadilah kalian orang-orang yang banyak beristighfar kepada Allah, merenungi dosa.

Para istri, bercakaplah dengan suami, berbincanglah dengan suami dengan penuh kesopanan dan kesantunan, jangan anda menyombongkan diri.

Sungguh nabi kita telah mengabarkan kepada kalian dan kita semuanya tentang wanita,

نَاقِصَاتُ عَقلٍ وَدِينٍ 

Aku tidak melihat hamba Allah yang lebih kurang daya berpikirnya untuk mencerna, untuk menimbang yang baik dan yang buruk, mana yang lebih baik dan mana yang lebih buruk untuk segera ditinggalkan نَاقِصَاتُ عَقلٍ وَدِينٍ, dan lemah imannya dibandingkan kalian wahai wanita, sadarlah..!!

Dan Nabi kita mengabarkan:
فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ 

Aku melihat kalian wahai wanita adalah sebagai mayoritas penghuni neraka, kecuali orang-orang yang beriman diantara kalian, yang bertakwa diantara kalian, yang beribadah kepada Allah, menyadari tentang kondisinya, tawadhu’, rendah hati karena Allah, menghormati suami, mendidik anak-anak.

Transkrip Audio Al-Ustadz Luqman bin muhammad Ba’abduh hafizhahullah
Sumber || luqmanbaabduh.com
Baca selengkapnya »
Penyebab Wanita Sekarang Tidak Betah Tinggal Di Rumah

Penyebab Wanita Sekarang Tidak Betah Tinggal Di Rumah

Asy-Syaikh Abul Harits Ibrahim at-Tamimy hafizhahullah berkata:

مَن تأمَّلَ قولَ اللهِ تعالى للمؤمنات:
(وقَرْن في بيوتكُنَّ ولاتبرجنَ تَبرُّجَ الجاهليةِ الأولى)
مع قوله:
(واذكُرْنَ مايُتلى في بيوتكُنَّ من آياتِ اللهِ والحكمة)
عرفَ سببَ الوحشةِ التي يجِدُها نساءُ زماننا مِن القرارِ في البيوت!
فتلك البيوت كانت عامرةً بالذِّكر والقرآن والعلم!
وأما غالب البيوت في زماننا فهي عامرةٌ بالغناء والمسلسلات والملهيات!
فالأولى جالبةٌ للسعادةِ والراحةِ التي تُرَغِّبُ في المكث فيها.
والثانيةُ جالبة للتعاسة والكآبة والضيق الذي يدفع إلى الخروج منها! 
"Siapa yang memperhatikan firman Allah Ta'ala kepada para wanita yang beriman:

ﻭَﻗَﺮْﻥَ ﻓِﻲ ﺑُﻴُﻮﺗِﻜُﻦَّ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺒَﺮَّﺟْﻦَ ﺗَﺒَﺮُّﺝَ ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔِ ﺍﻟْﺄُﻭﻟَﻰ.
"Dan hendaklah kalian (para wanita) tetap berada di rumah-rumah kalian, dan janganlah kalian bernampilan seperti wanita jahiliyah yang terdahulu." (QS. Al-Ahzab: 33)

Dan firman-Nya:

ﻭَﺍﺫْﻛُﺮْﻥَ ﻣَﺎ ﻳُﺘْﻠَﻰٰ ﻓِﻲ ﺑُﻴُﻮﺗِﻜُﻦَّ ﻣِﻦْ ﺁﻳَﺎﺕِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟْﺤِﻜْﻤَﺔِ.
"Dan ingatlah oleh kalian (para wanita) apa yang dibacakan di rumah-rumah kalian berupa ayat-ayat Allah dan al-hikmah (Sunnah Nabi)." (QS. Al-Ahzab: 34)


Tidak Betah Tinggal Di Rumah

Dia akan mengetahui sebab ketidakbetahan yang dirasakan oleh para wanita di zaman kita untuk tinggal di rumah.

Rumah-rumah dahulu dipenuhi dengan dzikir, al-Qur'an, dan ilmu, sedangkan kebanyakan rumah-rumah di zaman kita penuh dengan nyanyian, sinetron, dan hal-hal yang melalaikan.

Jadi rumah-rumah dahulu membuahkan kebahagiaan dan ketenangan yang membuat senang untuk tinggal di dalamnya, sedangkan rumah-rumah sekarang membuahkan kesengsaraan, penderitaan, kesempitan yang mendorong untuk keluar darinya."

‬HAKEKAT "KEBEBASAN" YANG DIINGINKAN OLEH PARA PEJUANG "KEBEBASAN WANITA"

Asy-Syaikh Abdul Qadir bin Muhammad al-Junaid hafizhahullah berkata:

[قنوات، وصحف، ودور فنّ] تسعى لتحرر المرأة، وتحريرهم أن تكون لهم: (سلعة) يكسبون بتعريها وجمالها وجسدها ألاموال، "دعاية، فلم، أغنية، مسلسل"
"Channel-channel televisi, surat kabar-surat kabar, dan studio-studio seni berusaha agar wanita memperoleh kebebasan, dan kebebasan menurut mereka adalah agar wanita menjadi barang dagangan bagi mereka yang mereka bisa mengeruk harta dengan telanjangnya, kecantikannya, dan tubuhnya, melalui iklan, film, nyanyian, dan sinetron."

Allahu Musta'an,
Baarakalahu fikunna...

Silahkan Sebarkan Faedah ini

Mau Dapat Ilmu? Silahkan bergabung bersama kami :  Grup Mutiara Shalihah (Khusus Muslimah)
081310670161 atau 089508030787
Baca selengkapnya »
Mengapa Wanita Saudi Tidak Berduyun-Duyun Shalat Di Masjidil Haram ?

Mengapa Wanita Saudi Tidak Berduyun-Duyun Shalat Di Masjidil Haram ?

Pertanyaan.

Shalat di Masjidil Haram pahalanya 100.000 kali dibandingkan shalat di masjid lain selain Masjidin Nabawi dan Masjidil Aqsha. Kenapa wanita saudi arabia tidak berduyun duyun selalu shalat di Masjidil Haram? Bahkan wanita saudi arabia lebih mengutamakan dalil, “Sebaik-baik shalat seorang wanita adalah shalat di rumahnya.”

Bagi jamaah haji wanita pahala shalat di maktab apa juga 100.000 kali lipat, karena masih shalat di tanah haram. Shalat di masjid yang berada di tanah haram pahalanya apa sama dengan shalat di Masjidil Haram?

Jawaban.

Semoga Allâh senantiasa menambah semangat anda dalam ketaatan.

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan al-Bukhâri dan Muslim, satu shalat di Masjidil Haram memang lebih utama dari seratus ribu shalat di masjid lain, satu shalat di Masjid Nabawi lebih baik dari seribu shalat di masjid lain, dan di Masjid al-Aqsha lebih utama dari lima ratus shalat di masjid lain.

Namun bagi para wanita termasuk jamaah haji, shalat di rumah atau penginapan lebih baik bagi mereka daripada shalat di Masjid Nabawi, bahkan di Masjidil Haram. Dasarnya adalah hadits berikut ini:

عَنْ أُمِّ حُمَيْدٍ امْرَأَةِ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ، أَنَّهَا جَاءَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أُحِبُّ الصَّلاةَ مَعَكَ، قَالَ: «قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلاةَ مَعِي، وَصَلاتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي حُجْرَتِكِ، وَصَلاتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاتِكِ فِي دَارِكِ، وَصَلاتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ، وَصَلاتُكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي مَسْجِدِي» ، قَالَ: فَأَمَرَتْ فَبُنِيَ لَهَا مَسْجِدٌ فِي أَقْصَى شَيْءٍ مِنْ بَيْتِهَا وَأَظْلَمِهِ، فَكَانَتْ تُصَلِّي فِيهِ حَتَّى لَقِيَتِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ
Dari Ummu Humaid Radhiyallahu anhuma –istri Abu Humaid as-Sa’idi Radhiyallahu anhu – bahwa ia telah datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasûlullâh, sungguh saya senang shalat bersamamu.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Aku sudah tahu itu, dan shalatmu di bagian dalam rumahmu lebih baik bagimu daripada shalatmu di kamar depan. Shalatmu di kamar depan lebih baik bagimu daripada shalatmu di kediaman keluarga besarmu. 

Shalatmu di kediaman keluarga besarmu lebih baik bagimu daripada shalatmu di masjid kaummu, dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik daripada shalatmu di masjidku.” Maka Ummu Humaid memerintahkan agar dibangunkan masjid di bagian rumahnya yang paling dalam dan paling gelap, dan ia shalat di situ sampai bertemu Allâh. 

[HR. Ahmad no. 27.090, dihukumi hasan oleh Ibnu Hajar rahimahullah]

Para jamaah haji wanita perlu meneladani Ummu Humaid Radhiyallahu anha yang begitu menaati sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan selalu shalat di rumah. Semakin tersembunyi tempat shalat, itu semakin baik bagi wanita. Jika seorang wanita dihadapkan pada pilihan shalat di rumah (hotel) dan shalat di Masjidil Haram, lalu ia memilih shalat di Masjidil Haram, ia akan mendapatkan pelipatan pahala lebih dari seratus ribu. Namun jika ia memilih shalat di rumah (hotel), ia akan mendapatkan pahala lebih besar lagi.

Shalat Di Masjidil Haram

Pemahaman akan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti inilah yang membuat masjid-masjid di Arab Saudi sepi dari jamaah wanita. Kadang-kadang mereka rindu untuk datang ke masjid, dan para suami tidak boleh melarang mereka untuk datang ke masjid. Namun perlu dijelaskan kepada para isteri bahwa shalat di rumah lebih baik.

Adapun masjid-masjid di tanah haram Makkah selain Masjidil Haram, sebagian besar Ulama berpendapat bahwa shalat di sana juga mendapatkan pelipatgandaan sebanyak lebih dari seratus ribu kali, karena kata Masjidil Haram dalam beberapa ayat al-Qur’ân bermakna lebih luas dari sekedar Masjidil Haram yang kita kenal, dan mencakup tanah haram Makkah semuanya. Namun tentu saja Masjidil Haram lebih afdhal, sebagaimana shaf depan Masjidil haram juga lebih afdhal dari shaf belakang, meskipun sama-sama mendapatkan pahala berlipat ganda.

Sebagian Ulama lagi berpendapat bahwa pelipatgandaan seratus ribu kali hanya untuk Masjidil Haram saja. Pendapat kedua ini lebih kuat, karena dalam sebagian riwayat hadits disebutkan bahwa yang mendapat pelipatgandaan Masjid Ka’bah, yakni masjid yang memilik ka’bah.

صَلاَةٌ فِيهِ أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ مِنَ المَسَاجِدِ، إِلاَّ مَسْجِدَ الكَعْبَةِ
Satu kali shalat di dalamnya (Masjid Nabawi) lebih utama dari seribu shalat di masjid-masjid lain, kecuali Masjid Ka’bah.” [HR. Muslim no. 1.396]

Sementara tidak ada dalil yang secara tegas menyebutkan pelipatgandaan pahala sebanyak seratus ribu kali lebih di masjid-masjid lain di tanah haram Makkah.

Wallahu A’lam.

Ustadz Anas Burhanuddin MA

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XVII/1435H/2014. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
Baca selengkapnya »
Aku Pria Yang Berpoligami

Aku Pria Yang Berpoligami

Aku menikah muda. Kala itu, usiaku tak lebih dari 19 tahun dan baru saja lulus SMU. Wanita yang kuperisteri saat itu bahkan baru 16 tahun. Ia hanya lulus SLTP, karena keluarganya pun seperti keluargaku, miskin, tak punya cukup biaya untuk menyekolahkan anaknya lebih tinggi.

Namaku Arman, dan isteriku Salimah. Kami tinggal di sebuah dusun, yang termasuk wilayah sebuah desa kecil, di sisi barat Jawa.

Di desa kami, usia seperti kami bukanlah usia muda untuk menikah, minimal untuk ukuran pada masa itu. Pada zaman sekarang, ukuran itu memang sudah mengalami dinamika. Makin sedikit saja pasangan muda yang menikah. Berbanding lurus dengan makin banyak pula wanita-wanita yang telat menikah. Meski jumlahnya tak sebanyak di kota-kota besar.

Kami menjalani pernikahan dengan segala suka duka yang kami alami. Latar belakang kami dari keluarga yang cukup religious, meski tradisional. Dalam arti, kami masih terbiasa hidup dalam nuansa yang menggabungkan nilai-nilai religi Islam, dengan adat tradisional. Orang Sumatra menyebut kami dari kalangan kaum tua.

Aku kurang begitu mengerti soal itu. Meski setelah beberapa tahun menikah, aku mulai sedikit mendalami agama melalui beberapa orang ustadz, di musholla dekat rumah. Lewat mereka, aku mulai dikenalkan dengan upaya banyak ulama untuk menjernihkan agama dari pengaruh bid’ah dan khurofat. Aku sangat memahami paparan-paparan mereka. Tapi, tentu sulit bagi keluarga kami, untuk meninggalkan berbagai tradisi nenek moyang yang sudah lama kami jalankan. Meski kami tahu, sebagian di antaranya berbau kemusyrikan. Wal ‘iyyaadzu billah.

Kedua orang tuaku, yang kebetulan rumahnya bersebelahan dengan kami di desa yang sama, juga mengikuti perkembangan tersebut. Mereka juga sepertiku, sulit meninggalkan tradisi lama kami. Tapi, minimal aku mengerti, bahwa mereka tidak lagi apatis terhadap pemahaman-pemahaman seperti yang disampaikan oleh para ustadz secara bergiliran, di musholla kami itu. Meski kecil, tapi cukup membanggakan, karena setidaknya ada 2 taklim dalam sepekan.

Selain dua majelis itu, kadang beberapa ustadz senior di desa kami yang berpemahaman kaum tua, juga ikut mengisi. Wajarlah, bila akhirnya sering terjadi perbedaan pendapat di kalangan jama’ah yang hadir. Pro dan kontra.

Aku tidak akan berbicara banyak soal itu. Aku hanya ingin menceritakan kepada pembaca, tentang perjalanan hidup rumah tangga kami.

***
Tak terasa, sudah 10 tahun kami berumah tangga. Umurku kini menginjak 30 tahun, sementara isteriku 26 tahun. Kami sudah dianugerahi 3 orang anak. Yang sulung sudah 9 tahun.

Selama satu dasawarsa tersebut, di antara kami sudah terjalin saling pengertian yang cukup manis. Setidaknya, begitulah dalam pandangan kami. Mengingat banyak teman yang menikah di rentang usia mirip dengan kami, tapi rumah tangganya terbilang kacau balau. Sering mengalami percekcokan yang nyaris tak berujung. Bahkan tak sedikit yang akhirnya bercerai, hanya setelah 3 atau 4 tahun menikah.

Kegamangan pertama rumah tangga kami, terjadi beberapa bulan lalu, saat hamper masuk tahun ke sebelas pernikahan. Ibunda Salimah, yang sangat dicintai dan mencintai isteriku meninggal dunia. Usianya baru 48 tahun. Beliau wafat karena penyakit paru-paru yang tak kunjung sembuh. Dan kami memang tak punya cukup uang untuk melakukan perobatan secara rutin dan memadai. Meski bagaimanapun, semua itu sudah taqdir, dan kami tabah menerimanya.

Walau begitu, isteriku tetap dilanda kesedihan sedemikian rupa. Meski tak menimbulkan prahara dalam rumah tangga, tapi sontak ia berubah menjadi pendiam. Di antara 6 bersaudara –yang kesemuanya sudah menikah dan punya anak-, ia memang yang paling disayang sang ibu. Karena sangat disayang itulah, isteriku menjadi anak yang paling terpukul oleh meninggalnya beliau, berbeda dengan saudara lainnya, yang meskipun bersedih, namun tak terlihat mengalami kegoncangan berarti.

Kesedihan bertambah, saat aku diberhentikan dari perusahaanku. Di situ, aku memang hanya bekerja sebagai satpam. Tanpa aku tahu sebabnya, ada pengurangan jumlah tenaga sekuriti, dan aku termasuk yang di-PHK. Alasan mereka, sebagian besar satpam yang ada adalah veteran tentara. Mereka lebih membutuhkan pekerjaan itu dibanding diriku.

Yah, apa mau dikata. Aku menjadi satpam memang hanya bermodal sabuk hitam karate yang kumiliki. Ijazah relative tak dibutuhkan untuk pekerjaan itu. Akhirnya, aku menganggur beberapa bulan. Namun, Alhamdulillah, aku kembali diterima sebagai sekuriti di perusahaan lain yang lebih kecil, dengan gaji yang tentunya juga lebih sedikit. Tapi aku menerimanya dengan senang hati.

Kedukaan, ditambah dengan kondisi perekonomian keluarga yang semakin surut, membuat rumah tangga kami mengalami masa-masa kritis. Keramahtamahan dan keakraban kami ulai berkurang. Meski, kami bukan tipikal suami isteri yang senang bertengkar. Nyaris tak pernah terjadi percekcokan di antara kami, kecuali dengan hanya ‘marah-marahan’ kecil saja.

Saat itu, aku semakin rajin mengikuti taklim pekanan, terutama hari selasa malam. Isteriku juga ikut serta, bersama banyak warga kampong yang memenuhi musholla kecil itu.

Kajian malam itu membahas tentang keluarga sakinah. Suatu saat, pembahasan menyentuh soal poligami. Aku dan isteriku, cukup terperanjat. Baru saat itu, kami memahami bahwa poligami dalam Islam ternyata begitu kompleks pembahasannya. Selama ini aku hanya mengetahui bahwa pria muslim diperbolehkan melakukan poligami, dengan syarat mampu berlaku adil. Ternyata, hukum poligami juga beragam, tergantung pada situasi, kondisi –baik pribadi maupun orang lain yang ikut terlibat dalam praktik poligami tersebut-, dan banyak hal lainnya.

Di situ, Ustadz MZ juga menjelaskan bahwa banyak orang yang melakukan poligami, tanpa mengikuti aturan, adab, dan etika berpoligami yang ada dalam Islam, sehingga justru menimbulkan citra buruk di masyarakat. Aku terperangah. Ya, tak sedikit kenyataan seperti itu, yang juga aku saksikan pada banyak pelaku poligami.

Padahal, secara umum poligami itu dibenarkan syari’at, meski hokum asalnya adalah mubah dengan syarat. Jadi diperbolehkan saja, tak sampai dianjurkan. Namun bisa berbeda-beda hukumnya, tergantung bagi siapa dan dalam kondisi bagaimana.

Syaikh Muhammad Sholeh Al-Utsaimin menjelaskan,
“Poligami disunnahkan bagi orang yang mampu melakukannya dan bertujuan untuk menjaga kemaluannya serta pandangan matanya dari maksiat, selain juga untuk memperbanyak keturunan dan untuk memotivasi masyarakat Islam agar melakukan perbuatan serupa –dengan tujuan-tujuan yang sama-, sehingga mereka tidak perlu lagi melakukan perbuatan yang diharamkan oleh Alloh. Mereka bisa menggunakan poligami untuk memperbanyak generasi Islam dan memperbanyak orang-orang yang beribadah kepada Alloh di muka bumi, atau untuk tujuan-tujuan baik lainnya.

Dalilnya adalah firman Alloh (artinya),
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita alin yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka kawinilah seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” {QS. An-Nisaa’:3}

Demikian juga firman Alloh (artinya),

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rosululloh itu suri teladan..” {QS. Al-Ahzaab: 21}

Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam sendiri memiliki beberapa orang isteri, dan beliau selalu bersikap adil di antara mereka. Beliau pernah berkata,

“Yaa Alloh, inilah yang bisa kulakukan, maka janganlah Engkau mencelaku karena sesuatu yang tidak mampu kulakukan.” Dikeluarkan oleh ashhaabus sunan denga sanad yang shohih. MAksudnya, bahwa sikap adil itu wajib sebatas yang mampu dilakukan oleh manusia, seperti memberi nafkah, mengatur giliran bermalam dan sejenisnya. Adapun cinta kasih dan ‘hubungan seks’, bukanlah sesuatu yang berada dalam kemampuan manusia untuk menciptakannya.

Aku Pria Yang Berpoligami

Sesampainya di rumah, aku dan isteriku mendiskusikan kembali soal poligami tersebut. Aneh, isteriku juga menanggapinya tidak dengan dingin, bahkan seringkali ditimpali canda tawa. Biasanya, umumnya wanita tak tertarik membahas poligami. Karena biasanya juga, ketika membayangkan suaminya akan memadu dirinya, sudut pandangnya pada poligami otomatis jadi tidak jelas, cenderung berbaur sinisme. Bahkan ada yang sontak memarahi suaminya, hanya karena secara tak sengaja menyinggung-nyinggung topik poligami. Meski belum terbersit keinginan untuk melakukannya!

Hingga larut malam, kami sibuk membahas soal-soal poligami, yang bagi kami menarik, dan banyak hal yang tak kami ketahui sebelumnya tentang topik ini.

“Kalau aku dipoligami, gimana ya?” tiba-tiba isteriku berkata begitu. Aku terperangah.

Aku sendiri, tak pernah berpikir soal poligami. Apalagi, kondisi perekonomian kami yang seperti ini, membuatku tahu diri untuk sekedar memampirkan topik poligami ke dalam benakku.

“Wah, memangnya kamu mau?”

“Gak tahu ya. Aku hanya membayangkan, kalau aku hidup bersama suami dan maduku , gimana ya?” Ia mengatakan itu, sambil tersenyum lebar. Aku jadi ikut geli melihatnya.

Lewat tengah malam, pembicaraan kami terhenti. Dan setelah itu –aneh sekali- hubungan kami menjadi cair lagi. Seolah-olah kedukaan yang merambati hati isteriku dalam beberapa bulan ini, pupus sama sekali. Hari-hari selanjutnya, kembali kami lalui dengan suasana bahagia. Betapa sejuk dada ini.

*****

2 bulan setelah itu, ada hal yang mengejutkan buat kami. Isteriku, didatangi tamu seorang wanita berusia 34 tahun. Berarti empat tahun lebih tua dariku, dan 8 tahun lebih tua dari isteriku.

Ia juga sudah beberapa bulan mengikuti pengajian di musholla kami. Ia berasal dari desa sebelah, hanya 1 kilometer dari rumah kami. Isteriku juga sudah sering berjumpa dengannya di pengajian. Ia dating dengan hijab sempurna (setidaknya menurut ukuranku). Ukuran jilbabnya lebih lebar dari jilbab isteriku.

Selama hampir dua jam, ia berada di kamar bersama isteriku. Mereka terlibat obrolan panjang, yang kadang diselingi dengan tawa ringan. Terlihat betul keakraban mereka. Padahal setahuku mereka belum lama saling mengenal. Bahkan ini pertama kalinya wanita itu dating ke rumahku. Isteriku sendiri, meskipun supel, tapi tak pernah begitu mudah mudah menjadi akrab dan berbicara begitu lepas seperti saat ini.

Di luar, di ruang tamu, aku duduk sendirian sambil membaca buku. Tak lama, wanita itu keluar. Ia menghadap ke arahku yang berada di pojok ruangan, di atas kursi, dengan membentuk kedua tangan bersalaman dari jauh.

“Saya pamit pulang dulu, Mas Arman…” Ujarnya lembut.
“O ya, ya, silahkan…”

Sepulang wanita tersebut, isteriku berhambur ke ruang tamu. Ada senyum tersungging di wajahnya.
“Kenapa, kok senyum-senyum gitu. Menang arisan ya?”

“Enggak, kok mas. Lagi senang aja…”

“Senang kenapa?”

“Mas, kamu saying sama aku gak?”

“Loh, kok pake nanya kayak gitu. Ya saying dong.”

“Begini. Tapi janji, mas jangan marah ya?”

“Ada apa dulu?”

“Pokoknya janji dulu, gak marah, baru aku ngomong.”

“Oke, aku janji.”

“Begini, mas. Menyambung obrolan kita malam itu…”

Hatiku tiba-tiba merasa aneh.

“Sepertinya, aku mau mewujudkan apa yang aku bilang waktu itu…”

“Maksudmu?”

“Bagaimana, kalau mas menikahi mbak Ratna yang tadi bertamu ke sini?”

Dadaku kini berdegup.

“Dia masih gadis dan perawan, Mas. Sampai sekarang belum menikah. Wajahnya lumayan cantik kan, Mas, gak kalah denganku? Aku mau, Mas menikahinya untukku…”

“Maksudmu..”

“Ya. Aku mau, Mas berpoligami. Tapi bukan dengan wanita lain, dengan mbak Ratna itu. Aku merasa cocok dengannya, Mas. Aku juga ingin membantunya, kasihan dia gak nikah-nikah seusia itu. Padahal, yang mau sama dia banyak. Tapi, tadi dia bilang, dia mau kalau yang menikahinya adalah Mas…”

Mataku berkunang-kunang. Perasaanku campur aduk. Aku kehilangan kata untuk menjawab tawaran isteriku yang begitu tiba-tiba, dan sama sekali tak pernah terpikir olehku.

“Jangan khawatir, Aku rela kok, dia menjadi maduku, Mas.”

“Kenapa dia mau aku nikahi?” Kini aku balik bertanya.
“Gak tahu juga, Mas. Tapi yang jelas, saat melihatmu keluar bersamaku dari pengajian, dia kok merasa tertarik ingin menjadi isteri Mas. Makanya, ia memberanikan diri berbicara denganku tadi…”

“Tapi, aku belum pantas berpoligami, Adinda…”

“Justru karena Mas berpendapat begitu, aku malah bersuka hati menawari Mas untuk berpoligami. Kalau Mas begitu getol ingin kawin lagi, aku malah jadi khawatir..”

Wah, aneh. Tak terpikir sedikitpun, kalau aku akan terjebak dalam suasana begini. Isteri yang kucintai, dan selalu hidup bersamaku dalam susah dan senang, tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba memintaku untuk berpoligami.

“Tapi, lihat saja, ekonomi kita sedang begini. Dalam kondisi baik saja, kita hidup miskin dan kekurangan. Bagaimana mungkin aku beristeri lebih dari satu? Kamu ini aneh, Adinda..”

“Ah, soal itu gak perlu khawatir, Mas. Kami tadi sudah mengobrolkannya. Kebetulan, mbak Ratna ini juga lumayan berkecukupan. Ia sudah memiliki rumah sendiri, sudah punya mobil meskipun sederhana, Ia juga punya mini market loh…”

Isteriku berbicara panjang lebar soal Ratna, dan aku hanya mendengarkan dengan patuh. Aku tak bisa berkata-kata. Sulit menjabarkan suasana hatiku saat itu. Karena yang berbicara adalah isteriku. Kalau orang lain, mungkin aku tak ambil peduli sama sekali.

“Kalau mau menikahinya, Mas diminta untuk mengelola mini market miliknya, untuk sumber penghasilan bersama…”

“Tapi jangan salah sangka, Mas. Aku mau Mas menikahinya, bukan karena dia kaya. Tapi aku justru ingin menolongnya. Kasihan, sudah usia 34 tahun, tapi ia belum juga menikah. Tapi, karena kondisinya demikian, bagiku akan lebih mudah merealisasikannya…”

Sampai di situ, aku masih terbungkam. Ketika isteriku menanyakan pendapatku, aku hanya bilang, agar ia menunggu hingga esok hari, karena aku betul-betul kebingungan. Bukan aku tak tertarik dengan Ratna. Apalagi, bila menikahinya justru atas permintaan isteri sendiri. Tapi, aku memang betul-betul blank saat itu.

Semalaman aku tak bisa memejamkan mata. Jam tiga dini hari, aku bangkit dari pembaringan, dan melakukan sholat malam. Aku berdo’a, memohon pilihan kepada Alloh. Satu malam itu, aku tak tidur sama sekali.

Pagi harinya, aku mengajak isteriku ke rumah orang tuaku, dan juga menemui bapak isteriku. Kepada mereka, aku menceritakan permintaan isteriku itu. Tanpa diduga sama sekali, mereka semua setuju. Akhirnya, dengan ringan hati, aku pun menerima tawaran isteriku tersebut…

*****
Aku pun kini beristeri dua. Aku berpoligami, di saat aku betul-betul tak menginginkannya, bahkan tak pernah memikirkan sebelumnya. Setelah menikahi Ratna, aku baru tahu bahwa ternyata keberadaan isteri keduaku itu menjadi obat buat isteriku, atas kematian ibundanya. Satu hal yang tak pernah kubayangkan pula sebelumnya.

Bagi isteriku, Ratna bisa menjadi teman mengobrol, kawan curhat, dan berbagi kasih, seperti yang biasa ia lakukan bersama ibunya. Ratna bisa menjadi pengganti ibunya, dalam dimensi yang sama sekali berbeda tentunya, namun memberikan suntikan rasa yang sama: senang dan bahagia.

Semenjak kami berpoligami, kehidupan rumah tangga kami justru semakin semarak, meriah, dan penuh keceriaan. Isteriku sekarang bahkan terlihat jauh lebih berbahagia, ketimbang saat-saat kami masih hidup berdua, sebelum ibunya wafat. Sering kami berpergian bersama, mengunjungi karib kerabat dari pihakku, pihak Salimah, atau pihak Ratna.

Aku tak lagi bekerja sebagai satpam. Aku sibuk mengurus bisnis keluarga yang Alhamdulillah berjalan dengan baik. Aku tak tahu, apa lagi yang bisa aku ungkapkan kepada pembaca sekalian. Yang jelas, aku tak bisa menyarankan siapapun untuk mengambil langkah, seperti yang aku lakukan. Karena bisa jadi, kondisi kita tak sama, atau bahkan jauh berbeda. Tapi yang jelas, POLIGAMI telah menjadi salah satu sumber kebahagiaan dalam kehidupan rumah tangga kami. Terserah, anda setuju atau tidak….

Sumber: Diketik ulang oleh al Akh Abu Abdillah Huda dari dari buku “Aku Wanita Yang Dipoligami”, Al-Ustadz Abu ‘Umar Basyir
Baca selengkapnya »
Nasehat sang istri kepada madu suaminya yang menyejukkan hati

Nasehat sang istri kepada madu suaminya yang menyejukkan hati

Maduku....... Ketahuilah bahwa aku harus mengasihimu, karena engkau adalah orang yang dikasihi oleh suamiku. Sebab tidaklah sempurna kasihku pada suamiku selagi aku gagal memberi kasih dan sayangku kepada orang yang dikasihinya.

Maduku.... Allah ta'ala telah mentaqdirkan kita membagi kasih dari suami yang sama, kita diikat dengan hubungan madu.... keluarga kita disatukan. Kenapa Allah memilihmu untuk menjadi maduku padahal kita tidak mengharapkannya walau sedetikpun?.

Duhai yang ada di hati suamiku.

Maha suci Allah ta'ala dari maksud jahat kepada kita dan suami kita. Dia pertemukan kita dalam anugrah mulia ini bukan untuk mengadu kita seperti kucing dan anjing atau seperti pertarung diarenanya. Tidak... sama sekali bukan itu maduku. Akan tetapi, anugrah ini diberikan kepada kita agar kita menjadi sahabat sejati, membantu suami kita mengurus madrasah Rabbaniyah ini, agar perjuangannya memperoleh hasil yang terpuji.

Nasehat sang istri kepada madu suaminya

Cobalah bertanya kepada suami kita.... tentang harapannya pada istri-istrinya. Apakah dia suka jika kita bertemu laksana kuncing dan anjing....? Kalaupun ia tidak menjawab dengan lidahnya lantaran kekuatan jiwanya, yang mampu menyembunyikan kesedihan dan keresahan jiwanya, tapi coba engkau lihat raut wajahnya. Ketika ia mengetahui kita tidak bertegur sapa, kau melihat raut wajahnya tetap manis dalam renungannya, dia diam seribu bahasa, kemesraan itu semakin berkurang, gairahnya semakin melemah dan akhirnya rumah yang seharusnya menjadi surga dunianya, ternyata begitu menyiksanya... ia pergi....????

Dan jika ia pergi dengan imannya.... ia bertafakur dalam kesendirian, dalam harapam dan do'anya. tetapi jika ia pergi dalam keputusasaan. Maka ketahuilah mungkin ia akan mencari medan kemaksiyatan untuk sekedar melabuhkan kerinduannya.

Kenyataan ini duhai maduku.... menandakan bahwa suami kita menginginkan kita bersatu dalam kebaikan. Dan Allah ta'ala memiliki kehendak jauh lebih baik dari itu. Allah ta'ala ingin kita membuktikan cinta kepada-Nya dan kepada suami kita dengan berta'awun 'alal birri wa taqwa.
Maduku.....

Engkau hadir sebagai pendidik jiwaku. Engkau didatangkan sebagai guru yang mengenalkanku pada diriku. Engkau memang layak untuk menjadi guru bagi jiwaku. Hingga aku bangkit dan memerangi nafsuku. Engkau membuat aku mengutuk kejahatanku. Engkau membuatku lebih mulia dalam melayani suamiku lebih baik. Engkau membuat aku merasa lemah dan hina. Kehadiranmu membangkitkan rasa penghambaanku terhadap Ilahi yang Maha Suci.

Dengan kehadiranmu aku melihat betapa besar Kekuasaan dan Kehendak-Nya, dan jika Ia menghendaki terjadinya sesuatu, maka tidak ada seorangpun yang dapat menghalangi-Nya.
Dengan perlahan melalui kehadiranmu..... aku dibimbing menjadi seorang mukminah, sholehah dan semoga menjadi ahli jannah. Maduku.... ketahuilah bahwa engkaulah yang menyusahkanku. Tetapi engkau pula yang mengantarkan aku pada kemuliaan dan kebahagiaan.

Wahai yang merindui suamiku

Kehadiranmu dalam hidupku membawa sesuatu yang tidak kudapatkan dari orang-orang yang kucintai. Engkau menghadiahkan kepadaku sesuatu yang tidak kuperoleh dari orang lain kendatipun mereka sangat ingin memberikan dan memperolehnya...?

Engkau menghadiahkanku obat dari sifat tamakku. Dulu... aku ingin dunia ini jadi miliku seorang. Kini setelah hadiah itu.... aku pun terdidik untuk membagikannya kepada yang lain. Jika aku ingin bersuami, wanita lain juga demikian, termasuk engkau, laul aku memaksakan hatiku mengatakan : "Ya".

Ketika suamiku pergi untuk memenuhi giliranmu. Kekosongan hatiku....kulaporkan kepada Ilahi yang Maha Suci.... Aku pun mulai menyadari betapa besarnya kuasa Ilahi dalam hidup ini. Padahal sebelum kehadiranmu aku tidak pernah peduli.

Saat kau bermesraan dengan suamimu, aku pun memilih untuk bermunajad pada Ilahi.... kulaporkan segala keresahanku padanya.. kutumpahkan air mataku memohon ampunan Nya. Dan air mata itu ternyata telah membasahi jiwaku yang dahaga.... taman hatiku yang kering.... akhirnya aku pun mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan melebihi apa yang diberikan suamiku....

( Dinukil dari buku Risalah cinta yang merindu, Ust. Ali Ahmad bin Umar dengan sedikit perubahan )
Baca selengkapnya »
Syarat-syarat hijab Muslimah yang syar’i

Syarat-syarat hijab Muslimah yang syar’i

Sangat mengerikan akibat bagi wanita yang tidak menutup aurat dan tidak berhijab syar'i

Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda:

صِنفان من أهل النار لم أرهما: قومٌ معهم سياط كأذناب البقر يضربون بها الناس، ونساء كاسيات عاريات، مميلات مائلات، رؤوسهن كأسنمة البخت المائلة، لا يدخُلْن الجنة، ولا يجدن ريحها، وإن ريحها ليوجد من مسيرة كذا وكذا
"Ada dua golongan penduduk neraka yang aku belum pernah melihatnya sebelumnya: Pertama, suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, mereka menggunakannya untuk mencambuk orang-orang. Kedua, wanita yang berpakaian tapi telanjang, mereka berlenggak-lenggok, kepalanya seperti punuk unta. Mereka tidak masuk surga, dan tidak mencium wanginya, padahal wangi surga tercium dari jarak sekian dan sekian" (HR. Muslim no. 2128).

Syarat-syarat hijab Muslimah yang syar’i

Adapun kelompok pertama, dijelaskan oleh Ibnul Jauzi:

الْإِشَارَة بأصحاب السِّيَاط يشبه أَن يكون للظلمة من أَصْحَاب الشَّرْط
"Makna dari pemilik cambuk adalah penegak hukum yang zalim" (Kasyful Musykil min Haditsi Shahihain, 3/567).

Sedangkan kelompok kedua, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan:

قد فُسِّر قوله " كاسيات عاريات " : بأنهن يلبسن ألبسة قصيرة ، لا تستر ما يجب ستره من العورة ، وفسر : بأنهن يلبسن ألبسة خفيفة لا تمنع من رؤية ما وراءها من بشرة المرأة ، وفسرت : بأن يلبسن ملابس ضيقة ، فهي ساترة عن الرؤية لكنها مبدية لمفاتن المرأة
"Wanita yang [berpakaian tapi telanjang], ditafsirkan para ulama maknanya mereka menggunakan pakaian yang pendek, yang tidak menutup aurat yang wajib untuk ditutup. Sebagian ulama menafsirkan: mereka menggunakan pakaian yang tipis, sehingga tidak menghalangi terlihatnya warna kulit mereka. Sebagian ulama menafsirkan: mereka menggunakan pakaian yang sempit, pakaiannya menutupi aurat namun masih menampakkan keindahan-keindahan wanita" (Fatawa Syaikh Ibnu Al Utsaimin, 2/825).

Maka wajib bagi Muslimah untuk menggunakan hijab yang syar'i di depan lelaki non mahram.

Syarat-syarat hijab Muslimah yang syar’i adalah sebagai berikut:

1- استيعاب جميع البدن إلا ما استثني. 2- أن لا يكون زينة في نفسه. 3- أن يكون صفيقاً لا يشف. 4- أن يكون فضفاضاً غيرضيق فيصف شيئاً من جسمه. 5- أن لا يكون مبخراً مطيباً. 6- أن لا يشبه لباس الرجل. 7- أن لا يشبه لباس الكافرات. 8- أن لا يكون لباس شهرة
(1) Menutupi seluruh tubuh kecuali yang tidak wajib ditutupi
(2) Tidak berfungsi sebagai perhiasan
(3) Kainnya tebal tidak tipis
(4) Lebar tidak ketat sehingga menampakkan bentuk tubuh
(5) Tidak diberi pewangi atau parfum
(6) Tidak menyerupai pakaian lelaki
(7) Tidak menyerupai pakaian wanita kafir
(8) Bukan merupakan libas syuhrah (pakaian yang menarik perhatian orang-orang)”
(Al Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah Lil Imam Al Albani, 394).

Semoga Allah memberi taufiq.
***
telegram ustadz fawaid_kangaswad
Baca selengkapnya »
Istri Nabi Suri Tauladan terbaik bagi para Muslimah

Istri Nabi Suri Tauladan terbaik bagi para Muslimah

🌹Sebaik-baik cermin bagi para muslimah adalah para istri Nabi ﷺ, karena mereka adalah para wanita shalihah dan telah dijamin oleh Allah kesucian diri mereka.

✔Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman memerintahkan para Istri Nabi ﷺ:

{وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا}
Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah kalian (istri-istri Nabi) dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui. (QS.Al-Ahzab:34).

Istri Nabi Suri Tauladan terbaik bagi para Muslimah

✅Berkata Al-Mufassir Al-Wahidi rahimahullah:

Ayat ini adalah himbauan kepada mereka (istri-istri Nabi) agar menghafal (mempelajari) Al-Qur'an dan Akhbar (Sunnah) dan mengkaji keduanya, agar mereka mengetahui batasan-batasan syariat. Arah pembicaraan dalam ayat sekalipun khusus mereka, tetapi mencakup selain mereka juga. Karena pondasi syariat adalah keduanya: Al-Qur'an dan As-Sunnah, dan dengan keduanya-lah ditetapkan batasan-batasan Allah dan kewajiban-kewajibanNya. (At-Tafsir Al-Wasith:3/470).

✅Berkata Al-Hãfidz Ibnu Katsîr rahimahullah tentang ayat di atas:

ﺃﻱ ﻭاﻋﻤﻠﻦ ﺑﻤﺎ ﻳﻨﺰﻝ اﻟﻠﻪ ﺗﺒﺎﺭﻙ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻠﻰ ﺭﺳﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻲ ﺑﻴﻮﺗﻜﻦ ﻣﻦ اﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭاﻟﺴﻨﺔ،
Maksudnya: beramal-lah dengan apa yang Allah Tabãraka wa Ta'ãlã turunkan kepada RasulNya di rumah-rumah kalian berupa Al-Qur'an dan As-Sunnah. (Tafsir Ibnu Katsir:6/370).

🍂Sebaik-baik muslimah adalah yang bersegera menerima perintah Allah dan RasulNya. Maka teladanilah ibu-ibu kalian yaitu para istri Nabi yang telah menjadikan Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai pedoman mereka sehingga mereka mendapatkan keutamaan di dunia dan akhirat. Jangan jadikan dirimu terhina karena tertipu dengan kehidupan dunia yang sebentar lagi engkau akan tinggalkan.

وبالله التوفيق.
15 Shafar 1439, Muhammad Abu Muhammad Pattawe, Darul-Hadits Ma'bar-Yaman.

🌐 TG Channel : @DakwahAkhawat

Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan Allâh membalas anda dengan kebaikan karena telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.
Baca selengkapnya »
Cadar dalam Pandangan Nahdlatul Ulama

Cadar dalam Pandangan Nahdlatul Ulama

PENDAPAT IMAM SYAFI’I dan SYAFI’IYAH TERKAIT CADAR

Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih. Sangat mudah bagi orang yang memiliki penyakit dalam hatinya untuk mengakses dan melihat tubuh wanita. Tidak ada pembatas ruang dan waktu. Kapanpun dan dimanapun seseorang dengan mudah bisa melihat tubuh wanita. Namun disisi lain banyak muslimah yang semakin tersadarkan akan pentingnya menjaga aurat. Saat ini banyak kita jumpai para wanita muslimah yang mengenakan jilbab syar’i bahkan tidak sedikit diantara mereka sudah siap memakai cadar kemanapun mereka pergi.

Wanita bercadar tidak saja kita jumpai di tempat-tempat kajian, namun juga saat kuliah di kampus, ke pasar, dan berbagai aktivitas lainnya. Namun sangat disayangkan kesadaran mereka yang begitu tinggi untuk menjaga aurat tidak diamini oleh pihak-pihak tertentu. Justru yang ada, mereka dicurigai dan dilarang untuk mengenakan cadar. Berbeda dengan mereka yang mengumbar aurat seolah tidak ada pengawasan dan aturan.

Hukum Cadar Menurut Madzhab Syafi’i

Di Indonesia yang mayoritas bermadzhab Syafi’i mesti mengetahui bagaimana pandangan Imam Syafi’i dan Ulama Syafi’iyah tentang hukum mengenakan cadar. Dengan pengetahuan ini, maka dihrapkan terjalin diantara masyarakat dan para muslimah bercadar untuk saling memahami dan menghargai.

Cadar dalam Pandangan Nahdlatul Ulama

Berikut kami tulis pendapat madzhab Syafi’I dan Fatwa dari Ulama NU tentang Cadar.

Pendapat Imam Syafi’I Rahimahullah berkata :

وَكُلُّ الْمَرْأَةِ عَوْرَةٌ إِلاَّ كَفَّيْهَا وَوَجْهُهَا وَظَهْر قَدَمَيْهَا عَوْرَةٌ
“Dan setiap wanita adalah aurat kecuali telapak tangan dan wajahnya, demikian juga kedua telapak kakinya.” (Al-Umm, 1/110)

Pendapat Ulama Syafi’iyah

وَاخْتَلَفَ الشَّافِعِيَّةُ فِي تَنَقُّبِ الْمَرْأَةِ ، فَرَأْيٌ يُوجِبُ النِّقَابَ عَلَيْهَا ، وَقِيل : هُوَ سُنَّةٌ ، وَقِيل : هُوَ خِلاَفُ الأَوْلَى
“Madzhab Syafi’i berbeda pendapat tentang hukum mengenakan cadar bagi wanita. Pendapat pertama menyatakan bahwa hukum mengenakan cadar bagi wanita adalah wajib. Pendapat kedua menyatakan hukumnya adalah sunnah. Dan pendapat ketiga ada juga menyatakan khilaful awla” (Lihat Al-Mawsu’atul Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, Kuwait-Wizaratul Awqaf was Syu’unul Islamiyyah, juz, XLI, halaman 134).

Imam Nawawi Rahimahullah dalam Kitab Al Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab (3/169) mengatakan,

المَشْهُورُ مِنْ مَذْهَبِنَا أَنَّ عَوْرَةَ الرَجُلِ مَا بَيْنَ سُرّتِهِ وَرُكْبَتِهِ وَكَذَلِكَ الاَمَةُ وَعَوْرَةُ الحُرَّةِ جَمِيْعُ بَدَنِهَا إِلاَّ الوَجْهُ وَالكَفَّيْنِ وَبِهَذَا كُلِهِ قَالَ مَالِك وَطَائِفَةٌ وَهِيَ رِوَايَةُ عَنْ أَحْمَد
“Pendapat yang masyhur di madzhab kami (Syafi’iyah) bahwa aurat pria adalah antara pusar hingga lutut, begitu pula budak wanita. Sedangkan aurat wanita merdeka adalah seluruh badannya kecuali wajah dan telapak tangan. Demikian pula pendapat yang dianut oleh Imam Malik dan sekelompok ulama serta menjadi salah satu pendapat Imam Ahmad.”

Imam Haramain Al-Juwaini Rahimahullah, beliau berkata :

مَعَ اتِّفَاقِ المُسْلِمِينَ عَلَى مَنْعِ النِّسَاءِ مِنَ التَبَرُّجِ وَالسُفُورِ وَتَرْكِ التَنَقُّبِ
“…disertai kesepakatan kaum muslimin untuk melarang para wanita dari melakukan tabarruj dan membuka wajah mereka dan meninggalkan cadar…” (Nihaayatul Mathlab fi Dirooyatil Madzhab, 12/31)

Imam Al-Ghazali Rahimahullah, beliau berkata:

فَإِذَا خَرَجَتْ , فَيَنْبَغِي أَنْ تَغُضُّ بَصَرَهَا عَنِ الرِجَالِ , وَلَسْنَا نَقُولُ : إِنَّ وَجْهَ الرَجُلِ فِي حَقِهَا عَوْرَةٌ , كَوَجْهِ المَرْأَةِ فِي حَقِّهِ, بَلْ هُوَ كَوَجْهِ الصَبِي الأَمْرَدِ فِي حَقِّ الرَجُلِ , فَيَحْرُمُ النَظَرُ عِنْدَ خَوفِ الفِتْنَةِ فَقَطْ , فَإِنْ لَمْ تَكُنْ فِتْنَة فَلَا , ِإذْ لَمْ يَزَلْ الرِجَالُ عَلىَ مَمَرِّ الزَمَانِ مَكْشُوفِيْ الوُجُوهِ , وَالنِّسَاءُ يَخْرُجْنَ مُنْتَقِبَاتِ , وَلَوْ كَانَ وُجُوهُ الرِّجَالِ عَوْرَةٌ فِي حَقِّ النِّسَاءِ لَأَمَرُوا بِالتَّنَقُّبِ أَوْ مَنَعْنَ مِنَ الخُرُوجِ إِلاَّ لِضَرُوْرَةِ
“Jika seorang wanita keluar maka hendaknya ia menundukkan pandangannya dari memandang para lelaki. Kami tidak mengatakan bahwa wajah lelaki adalah aurat bagi wanita –sebagaimana wajah wanita yang merupakan aurat bagi lelaki- akan tetapi ia sebagaimana wajah pemuda amrod (yang tidak berjanggut dan tanpan) bagi para lelaki, maka diharamkan untuk memandang jika dikhawatirkan fitnah, dan jika tidak dikhawatirkan fitnah maka tidak diharamkan. 

Karena para lelaki senantiasa terbuka wajah-wajah mereka sejak zaman-zaman lalu, dan para wanita senantiasa keluar dengan bercadar. Kalau seandainya wajah para lelaki adalah aurat bagi wanita maka tentunya para lelaki akan diperintahkan untuk bercadar atau dilarang untuk keluar kecuali karena darurat” 

(Ihyaa Uluum Ad-Diin, 2/47)

Abdul Hamid asy-Syarwani berkata :

أَنَّ لَهَا ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ عَوْرَةٌ فِي الصَّلَاِة وَهُوَ مَا تَقَدَّمَ، وَعَوْرَةٌ بِالنِّسْبَةِ لِنَظَرِ الْاَجَانِبِ إِلَيْهَا جَمِيعُ بَدَنِهَا حَتَّى الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ
“Bahwa perempuan memiliki tiga aurat. Pertama, aurat dalam shalat dan hal ini telah dijelaskan. Kedua aurat yang terkait dengan pandangan orang lain kepadanya, yaitu seluruh badannya termasuk wajah dan kedua telapak tangannya menurut pendapat yang mu’tamad…” (Hasyiyah asy-Syarwani, Bairut-Dar al-Fikr, juz, II, h. 112)

Syaikh Sulaiman Al Jamal berkata:

غَيْرُ وَجْهٍ وَكَفَّيْنِ : وَهَذِهِ عَوْرَتُهَا فِي الصَّلاَةِ . وَأَمَّا عَوْرَتُهَا عِنْدَ النِّسَاءِ المُسْلِمَاتِ مُطْلَقًا وَعِنْدَ الرِّجَالِ المَحَارِمِ ، فَمَا بَيْنَ السُرَّةِ وَالرُكْبَةِ . وَأَمَّا عِنْدَ الرِّجَالِ الْأَجَانِبِ فَجَمِيْعُ البَدَنِ
“Maksud perkataan An-Nawawi ‘aurat wanita adalah selain wajah dan telapak tangan’, ini adalah aurat di dalam shalat. Adapun aurat wanita muslimah secara mutlak di hadapan lelaki yang masih mahram adalah antara pusar hingga paha. Sedangkan di hadapan lelaki yang bukan mahram adalah seluruh badan” (Hasyiatul Jamal Ala’ Syarh Al Minhaj, 411)

Syaikh Muhammad bin Qaasim Al Ghazzi Rahimahullah, penulis kitab Fathul Qaarib, berkata:

وَجَمِيْعُ بَدَنِ الْمَرْأَةِ الحُرَّةِ عَوْرَةٌ إِلاَّ وَجْهُهَا وَكَفَّيْهَا ، وَهَذِهِ عَوْرَتُهَا فِي الصَّلاَةِ ، أَمَّا خَارِجَ الصَّلاَةِ فَعَوْرَتُهَا جَمِيْعُ بَدَنِهَا
“Seluruh badan wanita selain wajah dan telapak tangan adalah aurat. Ini aurat di dalam shalat. Adapun di luar shalat, aurat wanita adalah seluruh badan” (Fathul Qaarib, 19)

Ibnu Qaasim Al Abadi Rahimahullah berkata:

فَيَجِبُ مَا سَتَرَ مِنَ الُأْنثَى وَلَوْ رَقِيْقَةٌ مَا عَدَا الوَجْهِ وَالكَفَّيْنِ . وَوُجُوبُ سَتْرِهِمَا فِي الحَيَاةِ لَيْسَ لِكَوْنِهِمَا عَوْرَةٌ ، بَلْ لُخُوفِ الفِتْنَةِ غَالِبًا
“Wajib bagi wanita menutup seluruh tubuh selain wajah telapak tangan, walaupun penutupnya tipis. Dan wajib pula menutup wajah dan telapak tangan, bukan karena keduanya adalah aurat, namun karena secara umum keduanya cenderung menimbulkan fitnah” (Hasyiah Ibnu Qaasim ‘Ala Tuhfatul Muhtaaj, 3/115)

Taqiyuddin Al Hushni rahimahullah, penulis Kitab Kifaayatul Akhyaar, berkata:

وَيُكْرَهُ أَنْ يُصَلِّيَ فِيْ ثَوْبٍ فِيْهِ صُوْرَةٌ وَتَمْثِيْلٌ ، وَالْمَرْأَةُ مُتَنَقِّبَةٌ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ فِي مَسْجِدٍ وَهُنَاكَ أَجَانِب لاَ يَحْتَرِزُوْنَ عَنِ النَّظَرِ ، فَإِنْ خِيْفَ مِنَ النَّظَرِ إِلَيْهَا مَا يَجُرُّ إٍلَى الفَسَادِ حَرَمَ عَلَيْهَا رَفْعُ النِقَابِ
“Makruh hukumnya shalat dengan memakai pakaian yang bergambar atau lukisan. Makruh pula wanita memakai niqab (cadar) ketika shalat. Kecuali jika di masjid kondisinya sulit terjaga dari pandangan lelaki asing (ajnabi). Jika wanita khawatir dipandang oleh lelaki ajnabi sehingga menimbulkan kerusakan, haram hukumnya melepaskan niqab (cadar)” (Kifaayatul Akhyaar, 181).

Syaikh Salim bin Sumir al Hadhrami berkata dalam Kitab Safinatun Najah :

فصل: العورات أربع: الرجل مطلقا والأمة في الصلاة ما بين السرة والركبة. وعورة الحرة في الصلاة جميع بدنها ما سوي الوجه والكفين. وعورة الحرة والأمة عند الأجانب جميع البدن. وعند محارمهما والنساء ما بين السرة والركبة.
“Fasal (tentang aurat). Aurat itu ada empat macam: Pertama, aurat laki-laki dalam semua keadaan dan aurat budak perempuan adalah bagian badan antara pusar dan lutut. Kedua, aurat perempuan merdeka (baca:bukan budak) ketika shalat adalah seluruh badannya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya. Ketiga, aurat perempuan merdeka dan budak perempuan yang harus ditutupi ketika bersama dengan laki-laki ajnabi (bukan mahram) adalah seluruh anggota badannya. Keempat, aurat perempuan merdeka dan budak perempuan yang harus ditutupi ketika bersama dengan laki-laki yang berstatus mahram dengannya adalah bagian badan antara pusar dan lutut”

Syaikh Muhammad bin Umar Nawawi dalam Kitab Syarh ‘Uqud al Lajjiin fi Bayan Huquq al Jauzain berkata :

(الفصل الثاني في) بيان (حقوق الزوج) الواجبة (على الزوجة) و هي طاعة الزوج في غير معصية وحسن المعاشرة وتسليم نفسها إليه وملازمة البيت وصيانة نفسها من أن توطيء فراشه غيره و الاحتجاب عن رؤية أجنبي لشيء من بدنها ولو وجهها وكفيها إذ النظر إليهما حرام ولو مع اتفاء الشهوة والفتنة …
“(Fasal kedua itu berisi) penjelasan (mengenai hak-hak suami) yang menjadi kewajiban (istri). Hak-hak tersebut adalah:

1. Mentaati suami selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat
2. Memperlakukan suami dengan baik
3. Menyerahkan dirinya kepada suami (jika suami mengajak untuk berhubungan badan, pent)
4. Betah di rumah
5. Menjaga diri jangan sampai ada laki-laki selain suaminya berada di tempat tidur suaminya
6. Berhijab sehingga tidak ada satupun bagian tubuhnya yang terlihat oleh laki-laki ajnabi termasuk di antaranya adalah wajah dan kedua telapak tangannya karena adalah haram hukumnya seorang laki-laki melihat wajah dan telapak tangannya meski pandangan tersebut tanpa diiringi syahwat dan tidak dikhawatirkan adanya pihak-pihak yang tergoda…”

BIJAK DALAM MASALAH CADAR

Ahkam Al-Fuqaha’ fi Muqarrati Mu’tamarat Nahdhatil Ulama’ berisi kumpulan masalah-masalah Diniyah dalam Muktamar NU ke-1 s/d 15 yang diterbitkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Penerbit CV Toha Putra Semarang. Buku ini disusun dan dikumpulkan oleh Kyai Abu Hamdan Abdul Jalil Hamid Kudus, Katib II PB Syuriah NU dan dikoreksi ulang oleh Abu Razin Ahmad Sahl Mahfuzh Rais Syuriah NU. 

Seluruh fatwa yang ada di buku tersebut sudah dikoreksi oleh tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama antara lain J. M. (Yang Mulia-ed) Rois Aam, KH Abdul Wahab Khasbullah, J.M. KH Bisyri Syamsuri, Ustadz R Muhammad Al-Kariem Surakarta, KH Zubair Umar, Djailani Salatiga, Ustadz Adlan Ali, KH Chalil Jombong, dan (alm) KH Sujuthi Abdul Aziez Rembang.

Pada buku di atas, tepatnya pada juz kedua yang berisi hasil keputusan Muktamar NU ke delapan yang diadakan di Batavia (Jakarta) pada tanggal 12 Muharram 1352 H atau 7 Mei 1933 H pasnya pada halaman 8-9 tercantum fatwa yang merupakan jawaban pertanyaan yang berasal dari Surabaya sebagai berikut:

مَا حُكْمُ خُرُوجِ الْمَرْأَةِ لِأَجْلِ الْمُعَامَلَةِ مَكْشُوفَة الوَجْهِ وَالكَفَّيْنِ وَالرِجْلَيْنِ، هَلْ هُوَ حَرَامٌ أَوْ لاَ؟ وَإِنْ قُلْتُمْ بِالحُرْمَةِ فَهَلْ هُنَاكَ قَوْلٌ بِجَوِازِهِ لِأَنَّهُ مِنَ الضَرُوْرَةِ أَوْ لَا؟ (سورابايا).135
135. Soal: Bagaimana hukumnya keluarnya wanita akan bekerja dengan terbuka muka dan kedua tangannya? Apakah HARAM atau makruh? Kalau dihukumkan HARAM, apakah ada pendapat yang menghalalkan? Karena demikian itu telah menjadi darurat ataukah tidak? (Surabaya).

ج: يُحْرَمُ خُرُوْجُهَا لِذَلِكَ بِتِلْكَ الحَالَةِ عَلَى المُعْتَمَدِ وَالثَانِي يَجُوزُ خُرُوْجُهَا لَأَجْلِ المُعَامَلَةِ مَكْشُوفَة الوَجْهِ وَالكَفَّيْنِ إِلَى الكَوْعَينِ. وَعِنْدَ الحَنَفِيَّةِ يَجُوزُ ذَلِكَ بَلْ مَعَ كَشْفِ الرِجْلَيْنِ إِلىَ الكَوْعَيْنِ إِذَا أَمنتِ الفِتْنَة.
Jawab : Hukumnya wanita keluar yang demikian itu HARAM, menurut pendapat yang mu’tamad, menurut pendapat lain boleh wanita keluar untuk jual beli dengan terbuka muka dan kedua telapak tangannya, dan menurut Mazhab Hanafi, demikian itu boleh bahkan dengan terbuka kakinya (sampai mata kaki-ed) apabila tidak ada fitnah.

KESIMPULAN

Dari pembahasan singkat di atas dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Memakai cadar merupakan perkara yang sudah dikenal sejak zaman Nabi, dan para ulama sepakat bahwa istri-istri Nabi bercadar.

2. Imam Syafi’i tidak menghukumi cadar secara tegas, namun pada beberapa kesempatan beliau menganjurkan seperti saat ihram.

3. Cadar di Madzhab Syafi’i masih diperselisihkan hukumnya.

4. Ulama Syafi’iyah sepakat bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali dua telapak tangan dan wajah.

5. Mayoritas Ulama Syafi’iyah mewajibkan wanita untuk bercadar.

6. Ulama Syafi’iyah membedakan antara aurat wanita saat shalat dan ketika di hadapan laki-laki asing. Dalam shalat wajah dan telapak tangan dibuka, adapun diluar shalat di hadapan laki-laki asing maka wajahnya aurat dan harus ditutup.

7. Sebagian Madzhab Syafi’iyah berpendapat bahwa wajah wanita bukan aurat, tapi tetap hanya boleh dipandang jika ada keperluan syar’i.

8. Para ulama Syafi’iyah sepakat bahwa jika memandang wajah wanita dikhawatirkan terjadi fitnah, seperti memandangnya dengan syahwat, maka hukumnya haram.

9. Pendapat yang benar (baca: mu’tamad) dalam Mazhab Syafi’i –ditimbang oleh kaedah-kaedah mazhab- adalah pendapat yang mengatakan bahwa seluruh badan muslimah itu wajib ditutupi ketika hendak keluar rumah. Pendapat inilah yang dipilih dan difatwakan oleh NU.

10. Sedangkan pendapat yang membolehkan untuk membuka wajah dan kedua telapak tangan bagi muslimah adalah pendapat yang lemah dalam Mazhab Syafi’i.

11. Hasil Bahsul Masa’il NU menyimpulkan bahwa pada asalnya wanita mesti menutup seluruh tubuhnya, kecuali dalam kondisi yang tidak mengundang fitnah.

SARAN

1. Jika terjadi tindakan radikalisme atau perilaku wanita bercadar yang tidak baik, maka jangan disalahkan cadarnya atau agamanya. Karena pada hakikatnya agama islam adalah agama yang cinta damai.

2. Jika ada larangan dari Perguruan Tinggi, lembaga pendidikan, atau instansi lainnya yang melarang wanita muslimah bercadar, maka perlu ditinjau ulang. Karena wanita bercadar bukan saja mereka menjaga kesucian diri mereka namun juga menjaga pandangan laki-laki yang liar.

3. Kepada wanita muslimah yang bercadar hendaknya bukan sekedar wajah yang ditutup dan penampilan yang diperbaiki, lebih dari itu hendaknya adab dan akhlak serta hati pun harus selalu diperbaiki. Sehingga menepis penilaian buruk masyarakat kepada para wanita bercadar.

Demikian tulisan sederhana ini kami buat, semoga bermanfaat. Jika terdapat kekurangan dan kesalahan penulis memohon ampunan kepada Allah dan siap untuk dikoreksi dan diperbaiki. Wallahu A’lam.

Ditulis Oleh: Ustadz Abu Rufaydah حفظه الله
Kontributor Bimbinganislam.com
Baca selengkapnya »
ROOBI'AH BINTI ISMA'IL, Kapankah Ada Wanita seperti ini lagi

ROOBI'AH BINTI ISMA'IL, Kapankah Ada Wanita seperti ini lagi

Ibnu 'Asaakir rahimahullah dalam kitabnya Taarikh Dimasyq menyebutkan biografi seorang wanita yang sholehah yang sangat rajin beribadah yang bernama ROOBI'AH BINTI ISMA'IL. Wanita ini seorang janda yang kaya raya. Ia telah memberanikan diri untuk menawarkan dirinya untuk dinikahi kepada seorang lelaki yang sholeh yang bernama Ahmad bin Abil Hawaari. Maka Ahmad bin Abil Hawaari berkata :

لَيْسَ لِي هِمَّةٌ فِي النِّسَاءِ لِشُغْلِي بِحَالِي
"Aku tidak punya hasrat kepada para wanita karena kesibukanku dengan dirikau (yaitu ibadahku)"
Ternyata sang wanita Robi'ah binti Isma'il juga berkata

إني لأشغل بحالي منك وما لي شهوة ولكني ورثت مالا جزيلا من زوجي فأردت أن أنفقه على إخوانك وأعرف بك الصالحين فتكون لي طريقا إلى الله
"Sungguh aku juga bahkan lebih sibuk beribadah dari dirimu, serta aku tidak berhasrat, akan tetapi aku telah mewarisi harta yang banyak dari suamiku. Aku ingin untuk menginfakan hartaku pada saudara-saudaramu, dan dengan dirimu aku mengenal orang-orang yang sholeh, sehingga hal ini menjadi jalanku menuju Allah"

ROOBI'AH BINTI ISMA'IL

Ahmad bin Abil Hawaari berkata, "Aku minta izin dahulu kepada guruku"

Lalu Ahmad pun menyampaikan hal ini kepada Abu Sulaiman gurunya, dan sang guru selalu melarang murid-muridnya untuk menikah dan berkata, "Tidak seorangpun dari sahabat kami yang menikah kecuali akan berubah". Namun tatkala sang guru mendengar tentang tuturan sang wanita maka ia berkata :

تَزَوَّجْ بِهَا فَإِنَّهَا وَلِيَّةُ للهِ
"Nikahilah wanita tersebut, sesungguhnya ia adalah seorang wanita wali Allah"

Lalu akhirnya Ahmad bin Abil Hawaaripun menikahi sang wanita Roobi'ah binti Isma'il, lalu Ahmad berkata,

وتزوجت عليها ثلاث نسوة فكانت تطعمني الطيبات وتطيبني وتقول اِذْهَبْ بِنَشَاطِكَ وَقُوَّتِكَ إِلَى أَزْوَاجِكَ
"Setelah itu akupun menikahi lagi tiga orang wanita setelahnya. Dan ia senantiasa memberi makanan yang baik kepadaku, dan memakaikan minyak wangi kepadaku seraya berkata, "Pergilah engkau dengan semangat dan kekuatanmu ke istri-istrimu" (Tariikh Dimasyq, Karya Ibnu 'Asaakir jilid 69 hal 115-116)

Kapankah ada wanita yang seperti ini lagi…? Memberi nafkah kepada suaminya…bahkan menghiasi suaminya untuk mendorong suaminya berangkat ke madu-madunya yang lain??!!

Namun juga para wanita juga akan berkata, "Kapankah ada seorang lelaki yang seperti Ahmad Abul Hawaari lagi? yang sangat rajin beribadah…?, sehingga para wanita tidak ragu untuk menawarkan dirinya??"

Ditulis oleh Ustadz DR Firanda Andirja MA حفظه الله

catatan admin
ROOBI'AH BINTI ISMA'IL  wanita sholehah yang zuhud terhada dunia namun dia bukanlah sufi dari kalangan wanita
Baca selengkapnya »
Wanita melihat majalah yang ada gambarnya

Wanita melihat majalah yang ada gambarnya

Pertanyaan.

Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Ifta ditanya : Apa hukum wanita-wanita yang melihat majalah di dalamnya ada gambar-gambar dan makalah-makalah yang haram secara syar’i ?
Wanita melihat majalah yang ada gambarnya

Jawaban.

Diharamkan bagi setiap mukallaf, baik lelaki maupun perempuan untuk membaca buku-buku bid’ah yang sesat, majalah yang menyebarkan khurafat dan menyebarkan cerita-cerita bohong serta mengajak kepada penyelewengan dari akhlak yang baik, kecuali apabila tujuan membacanya untuk membalas tulisan yang menyesatkan yang ada di dalamnya, mengingatkan penerbitnya dan mengingatkan manusia dari bahayanya.

(Dari Lajnah Da’imah Lil Ifta, Saudi Arabia, Majalatul Buhuts Al-Islmaiyah, 19/138)

artikel: salafy.or.id
Baca selengkapnya »
Alhamdulillah, SUAMIKU SEORANG PENCEMBURU

Alhamdulillah, SUAMIKU SEORANG PENCEMBURU

Suamiku seorang pencemburu...
Ia tak suka jika laki-laki bersikap ramah padaku...
Jika aku terlalu akrab bicara dengan teman laki-laki, suamiku marah, meski teman dekat sekalipun...
Ia meneleponku jika sudah dekat rumah, agar aku bersiap dengan hijabku membukakan pintu untuknya...

Jika ada tamunya datang, dia menyuruhku merapikan hijabku...
Ia lebih memilih mengambilkan minuman dan menyajikannya sendiri untuk tamu laki-laki, bukan aku...

Jika tak sengaja hijabku terbuka karena angin atau karena dudukku yg kurang rapi, ia segera merapikannya untukku...

SUAMIKU SEORANG PENCEMBURU

Ia belikan aku pakaian syar'i, menjulur menutup seluruh tubuh..
Ia tak ingin perhiasan miliknya dilihat laki-laki bukan mahromku..
Seperti harta berharga satu-satunya, ia sungguh menjagaku..
Jika keluar ia melarangku memakai parfum, berhias, mempercantik diri..
Hanya untuknya, hanya saat didepannya, begitu pintanya...

Kenapa suamiku begitu??
Rupanya ia bukanlah pencemburu buta
Ia takut Allah murka padanya.
Betapa takutnya suamiku membiarkan aku mengumbar auratku..

Ia tahu setelah menikahiku, dialah yg bertanggung jawab atas sikapku..
Ia takut menanggung dosa, atas aku.. Perempuan yg rentan dengan fitnah..
Ia terus menjagaku, karena cinta dan taatnya pada Allah

"Beruntunglah kalian, para istri yang bersuamikan laki-laki yg memiliki sifat cemburu dalam hatinya, artinya kalian begitu istimewa dan berharga dimatanya" Karena begitulah istimewanya bidadari-bidadari surga...

إِنَّ اللَّهَ يَغَارُ وَغَيْرَةُ اللَّهِ أَنْ يَأْتِيَ الْمُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ ) رواه البخاري ( 4925 ) ومسلم ( 2761 ) .
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah cemburu, orang beriman cemburu, dan cemburu-Nya Allah jika seorang Mu’min melakukan apa yg Allah haramkan atasnya”
(HR. Imam Ahmad, al-Bukhari dan Muslim).

Bagaimana dengan anda wahai para suami??

artikel republish dan diedit ulang
Baca selengkapnya »
Jangan Membentak Suami Ya Sholihah, Sainganmu Bidadari Surga

Jangan Membentak Suami Ya Sholihah, Sainganmu Bidadari Surga

Hukum Membentak Suami Adalah Dosa Besar.

Wajib dibaca setiap muslimah yg merindukan Surga-Nya Allah Tabaraka Wata'ala.

Hukum membentak suami adalah tidak boleh dan ini merupakan sebuah dosa besar !!

Seorang suami adalah orang yang paling harus ditaati dan dihormati oleh istri.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Rasulullah dalam beberapa haditsnya menunjukkan betapa tinggi kedudukan suami bagi istrinya:

“ Seandai aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan seorang istri utk sujud kepada suaminya .” (HR Abu Daud, Al-Hakim, Tirmidzi)

“ Tidaklah pantas bagi seorang manusia untuk sujud kepada manusia yang lain. Seandainya pantas/boleh bagi seseorang untuk sujud kepada seorang yang lain niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya dikarenakan besarnya hak suaminya terhadapnya… ” (HR. Ahmad)

“ Dan sebaik-baik istri adalah yang TA'AT kepada suaminya, bijaksana, berketurunan, sedikit bicara, tidak suka membicarakan sesuatu yang tidak berguna, tidak cerewet dan tidak suka bersuara hingar-bingar serta setia kepada suaminya. ” (HR. An Nasa'i)

Jika suami berbuat keliru atau salah, Maka sudah semestinya bagi sang istri untuk mengingatkan suami dengan baik, dengan nada lemah lembut, tidak membentak (bersuara keras), dan tidak pula menyinggung perasaannya.

Sikap kasar istri terhadap suami –dan sebaliknya– menandakan kurangnya ilmu dan keburukan akhlak.

 Bidadari Surga

Rasulullah ﷺ bersabda:

“ Sebaik-baiknya wanita — bagi suami — ialah yang menyenangkan ketika dilihat, patuh ketika diperintah, dan tidak menentang suaminya baik dalam hatinya dan tidak membelanjakan (menggunakan) hartanya kepada perkara yang dibenci suaminya ” (H.R. Ahmad)

Sebagaimana anak bisa dianggap durhaka pada orang tua, maka istri juga bisa dikatakan durhaka pada suami ketika berani membentaknya.

Wallahu A'lam.

Bidadari Marah kepada Istri yang Memarahi Suaminya

Jika seorang suami dibentak atau di dzalimi oleh istrinya, maka para bidadari di surga akan marah kepada istri yang memarahi suaminya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻻَ ﺗُﺆْﺫِﻱ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓٌ ﺯَﻭْﺟَﻬَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺇِﻻَّ ﻗَﺎﻟَﺖْ ﺯَﻭْﺟَﺘُﻪُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺤُﻮْﺭِ ﺍﻟْﻌِﻴْﻦِ : ﻻَ ﺗُﺆْﺫِﻳْﻪِ , ﻗَﺎﺗَﻠَﻚِ ﺍﻟﻠﻪُ , ﻓَﺈِﻧَّﻤَﺎ ﻫُﻮَ ﻋِﻨْﺪَﻙَ ﺩَﺧِﻴْﻞٌ ﻳُﻮْﺷِﻚُ ﺃَﻥْ ﻳُﻔَﺎﺭِﻗَﻚِ ﺇِﻟَﻴْﻨَﺎ
“ Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia, melainkan istrinya dari kalangan bidadari akan berkata, “Janganlah engkau menyakitinya. Semoga Allah memusuhimu. Dia (sang suami) hanyalah tamu di sisimu; hampir saja ia akan meninggalkanmu menuju kepada kami ”  (HR. At-Tirmidzi)

Ini seharusnya menjadi pelajaran bagi para istri untuk tidak mendzalimi suaminya.

Saingannya berat, namun sainganmu adalah Bidadari yang Allah Subhaanahu Wa Ta'ala mensifatkannya didalam Al qur'an.

Diantara sifatnya adalah :

ﺇِﻥَّ ﻟِﻠْﻤُﺘَّﻘِﻴﻦَ ﻣَﻔَﺎﺯًﺍ ﺣَﺪَﺍﺋِﻖَ ﻭَﺃَﻋْﻨَﺎﺑًﺎ ﻭَﻛَﻮَﺍﻋِﺐَ ﺃَﺗْﺮَﺍﺑًﺎ
" Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan, (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, dan gadis-gadis remaja yang sebaya. " (QS an-Naba': 31-33)

ﻛَﺬَﻟِﻚَ ﻭَﺯَﻭَّﺟْﻨَﺎﻫُﻢْ ﺑِﺤُﻮﺭٍ ﻋِﻴﻦٍ
" Demikianlah, dan Kami berikan kepada mereka bidadari. " (QS. Ad-Dhukhan: 54)

ﻣُﺘَّﻜِﺌِﻴﻦَ ﻋَﻠَﻰ ﺳُﺮُﺭٍ ﻣَﺼْﻔُﻮﻓَﺔٍ ﻭَﺯَﻭَّﺟْﻨَﺎﻫُﻢْ ﺑِﺤُﻮﺭٍ ﻋِﻴﻦٍ
" Mereka berdelekan di atas dipan-dipan berderetan dan kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli. " (QS. At-Thur: 20)

ﺣُﻮﺭٌ ﻣَﻘْﺼُﻮﺭَﺍﺕٌ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺨِﻴَﺎﻡِ
" (Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, dipingit dalam rumah. " (QS. Ar-Rahman: 72)

ﻓِﻴﻬِﻦَّ ﺧَﻴْﺮَﺍﺕٌ ﺣِﺴَﺎﻥٌ
" Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik ."  (QS. Ar-Rahman: 70)

ﺇِﻧَّﺎ ﺃَﻧْﺸَﺄْﻧَﺎﻫُﻦَّ ﺇِﻧْﺸَﺎﺀً ﻓَﺠَﻌَﻠْﻨَﺎﻫُﻦَّ ﺃَﺑْﻜَﺎﺭًﺍ ﻋُﺮُﺑًﺎ ﺃَﺗْﺮَﺍﺑًﺎ
" Sesungguhnya kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung.[1] Dan kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. Penuh cinta lagi sebaya umurnya. " (QS. Al-Waqi'ah: 35-37)

Hadits Abdullah Ibnu Mas’ud Radiyallahu 'anhu :

ﺃَﻭَّﻝُ ﺯُﻣْﺮَﺓٍ ﻳَﺪْﺧُﻠُﻮﻥَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﻛَﺄَﻥَّ ﻭُﺟُﻮﻫَﻬُﻢْ ﺿَﻮْﺀُ ﺍﻟْﻘَﻤَﺮِ ﻟَﻴْﻠَﺔَ ﺍﻟْﺒَﺪْﺭِ، ﻭَﺍﻟْﺰُّﻣْﺮَﺓُ ﺍﻟﺜَّﺎﻧِﻴَﺔُ ﻋَﻠَﻰ ﻟَﻮْﻥِ ﺃَﺣْﺴَﻦِ ﻛَﻮْﻛَﺐٍ ﺩُﺭﻱَ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ، ﻟِﻜُﻞ ﺭَﺟُﻞٍ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﺯَﻭْﺟَﺘَﺎﻥِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺤُﻮﺭِ ﺍﻟْﻌِﻴﻦِ، ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞ ﺯَﻭْﺟَﺔٍ ﺳَﺒْﻌُﻮﻥَ ﺣُﻠَّﺔً، ﻳُﺮَﻯٰ ﻣُﺦُّ ﺳُﻮﻗِﻬِﻤَﺎ ﻣِﻦْ ﻭَﺭَﺍﺀِ ﻟُﺤُﻮﻣِﻬِﻤَﺎ ﻭَﺣُﻠَﻠِﻬِﻤَﺎ، ﻛَﻤَﺎ ﻳُﺮَﻯٰ ﺍﻟﺸَّﺮَﺍﺏُ ﺍﻷَﺣْﻤَﺮُ ﻓِﻲ ﺍﻟﺰُّﺟَﺎﺟَﺔِ ﺍﻟْﺒَﻴْﻀَﺎﺀِ
“ Kelompok pertama kali yang masuk surga, seolah wajah mereka cahaya rembulan di malam purnama. Kelompok kedua seperti bintang kejora yang terbaik di langit. Bagi setiap orang dari ahli surga itu dua bidadari surga. Pada setiap bidadari ada 70 perhiasan. Sumsum kakinya dapat terlihat dari balik daging dan perhiasannya, sebagaimana minuman merah dapat dilihat di gelas putih.” (HR. Thabrani dengan sanad shahih)

Nah Para Istri 2 Sholehah, jangan mendzalimi apalagi membentak suami kalian lagi.

sainganmu bidadari loh !!!

Jika Memang Ingin Marah Pada Suami

Jika kemarahan melanda dan sudah tak tertahankan, tentunya tidak disarankan untuk mengekspresikan dengan cara meledak-ledak di depan pasangan. Apalagi dengan cara membentak. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan jika sedang ingin marah pada suami.

Hal yang pertama dilakukan adalah ucapkan ISTIGHFAR, Mohon ampunlah pada Allah ﷻ

Istighfar akan meringankan hati kita.

Selanjutnya, klarifikasi secara detail duduk permasalahan.

Jangan mengikuti nafsu karena emosi akan semakin meluap-luap. Tapi sebisa mungkin, tahanlah dulu emosi.

Karena bicara dalam keadaan emosi hanya akan memperburuk keadaan, karena terkadang kita ingin menumpahkan kekesalan, bahkan kekesalan yang telah lalu.

Jika dirasa sudah bisa mengendalikan diri,

Ambillah air wudhu kemudian kerjakan shalat dan berdoalah.

Adukan semua persoalan pada Allah ﷻ

Semua kekesalan, kecewa, adukan saja. Dan tak lupa, mintalah pada-Nya untuk diberikan jalan keluar.

Jika diri sudah tenang, mulailah berbicara dengan suami.

Ingat, yang akan dibicarakan adalah dalam rangka mencari jalan keluar, bukan untuk menambahkan kericuhan.

Tak lupa, ada unsur saling menasehati dalam rumah tangga. Berikan nasihat pada pasangan atas kesalahan yang dilakukan.

Semoga beberapa hal tersebut bisa semakin mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah dalam rumah tangga.aamin.

FADAZH/ABU FADLY.
Baca selengkapnya »
Begitu beratnya pengorbanan suamimu terhadapmu

Begitu beratnya pengorbanan suamimu terhadapmu

Saya terima nikahnya.... binti.... dengan mas kawin......di bayar tunai....”.

Singkat, padat ringkas dan jelas.

Tapi tahukan makna “perjanjian atau ikrar” tersebut?
Itu tersurat. Tetapi apa pula yang tersirat?

Yang tersirat ialah : Artinya: ”Maka aku tanggung dosa-dosanya si dia (perempuan yang ia jadikan istri) dari ayah dan ibunya."

Dosa apa saja yang telah dia lakukan. Dari tidak menutup aurat hingga ia meninggalkan sholat.

Semua yang berhubungan dgn si dia (perempuan yang ia jadikan istri), aku tanggung dan bukan lagi orang tuanya yang menanggung.

Begitu beratnya pengorbanan suamimu terhadapmu

Serta akan aku tanggung semua dosa calon anak-anakku” juga sadar, sekiranya aku gagal dan aku lepas tangan dalam menunaikan tanggung jawab, maka aku fasik, dan aku tahu bahwa nerakalah tempatku kerana akhirnya isteri dan anak-anakku yg akan menarik aku masuk kedalam Neraka Jahanam dan Malaikat Malik akan melibas aku hingga pecah hancur badanku.

Akad nikah ini bukan saja perjanjian aku dengan si istri dan si ibu bapa istri, tetapi ini adalah perjanjian terus kepada ALLAAH Subhanahu Wa Ta'ala ".

Jika aku GAGAL (si Suami) ?”Maka aku adalah suami yang fasik, ingkar dan aku rela masuk neraka. Aku rela malaikat menyiksaku hingga hancur tubuhku”.

Duhai para istri...

Begitu beratnya pengorbanan suamimu terhadapmu.

Karena saat Ijab terucap, Arsy Allaah Subhanahu wa ta'ala berguncang karena beratnya perjanjian yang dibuat olehnya di depan Allaahu Ta'ala dengan disaksikan para malaikat dan manusia.

Maka andai saja kau menghisap darah dan nanah dari hidung suamimu, maka itupun belum cukup untuk menebus semua pengorbanan suami terhadapmu.

Semoga... ini menjadi perenungan untuk sudah nikah maupun yg belum menikah.

Subhaanallaah..

beratnya beban yang di tanggung suami. Bukankah untuk meringankan tanggung jawabnya itu berarti seorang istri harus patuh kepada suami, menjalankan perintah Allaah Subhanahu wa ta'ala dan menjauhi larangan-Nya?

Juga mendidik putra-putri kita nanti agar mengerti tentang agama dan tanggung jawab.

Semoga kita semua menjadi orang tua yang dapat memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita kelak dengan agama dan cinta kasih sehingga tercipta keluarga kecil yang sakinah, mawaddah, dan warahmah.

Saudara dan sahabatku ......

Semoga kita selalu dalam lindungan-Nya yang dilimpahkan kesehatan, kebahagiaan, keselamatan dan kemudahan untuk selalu beribadah kepada-Nya.

"Ya Allaah, muliakanlah sdr dan sahabat-sahabat Kami, Berikanlah Kami pasangan yang setia, mewujudkan keluarga sakinah mawaddah warahmah. Kelak masukkanlah Kami disurga yang terindah.

Rasulullaah shallallahu alahi wa salam bersabda : "Barang siapa yang menyampaikan 1(satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya, maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)

Subhaanallaah.....
Semoga kita menjadi lebih baik dan bermanfaat.

Robbana Taqobbal Minna
Yaa Allaah terimalah dari kami (amalan kami). Aamiin...

artikel republish
Baca selengkapnya »
Sungguh Bahagia Anda, jika Memiliki Istri Qana'ah

Sungguh Bahagia Anda, jika Memiliki Istri Qana'ah

🌻 Istri qana'ah adalah istri yang selalu ridha dengan apapun yang diberikan suami, ikhlas menerima dengan dada lapang, percaya sepenuhnya dengan suami bahwa suami tidak akan menzaliminya.

🌺 Ia yakin bahwa rezekinya tidak akan pernah diambil ataupun tertukar dengan siapapun, baik orang tersebut orang tua suami, adik dan dan kakak iparnya, kerabat dan handai tolannya, ataupun istri-istri suaminya yang lain. Karena keyakinannya bahwa setiap orang telah memiliki masing-masing rezeki yang telah ditentukan Allah 50.000 tahun sebelum terwujud langit dan bumi.

Memiliki Istri Qana'ah

🌼 Istri qana'ah adalah istri yang bijak menggunakan harta pemberian suaminya. Ia tidak boros menghambur-hamburkan harta -sekalipun suami kaya raya- tidak buang-buang makanan ataupun menumpuk-numpuknya dalam lemari es hingga rusak untuk kemudian dibuang di tong sampah. Apalagi jika suaminya susah dan tidak kaya, dia akan berhemat semaksimal mungkin daripada harus berhutang ke warung.

🌸 Istri Qana'ah adalah istri yang selalu memuji dan bersyukur dengan apapun yang didapat dari suami, sekalipun sedikit. Baginya suaminyalah orang yang paling sempurna memberikan kebahagian padanya.

🌺 Istri Qana'ah adalah istri yang selalu melihat ke bawah, bahwa di bawahnya masih banyak orang-orang yang hidup dengan serba kekurangan, makan dengan ala kadarnya, rumah masih ngontrak, suami hanyalah operator alias buruh kasar.

🚘 Masih bayak orang yang hidup tanpa kendaraan, jangankan mobil... terkadang motorpun tak punya. Kemana-mana harus setia dengan angkutan umum, bersempit-sempit ria dengan orang banyak.

Ia sadar bahwa ia lebih beruntung karena masih punya sepeda motor meskipun butut, punya mobil walaupun telah tua, punya rumah meskipun kecil. Ia selalu bersyukur karena Allah masih memberikan kesehatan pada suaminya hingga bisa bekerja. Sebab ia tau ada suami-suami yang malas bekerja, terpaksa istri harus peras keringat jadi tulang punggung keluarga.

💐 Ia sadar bahwa ada pula istri-istri yang suami mereka sakit kronis dan tidak mampu mencari nafkah, mereka bertahan hidup dengan susah payah, la haula wala quwwata illa billahi.

🌾 Istri qana'ah adalah istri yang malu banyak meminta kepada suaminya, bahkan sebagian mereka ada yang tidak pernah minta uang belanja kecuali jika diberi suami, tanpa pernah mengeluh apalagi menyusahkan suami. Berapa pun diberi suami ia diam tak berkomentar.

🍃 Istri qana'ah adalah istri yang paham kondisi keuangan suami, paham beban yang ada di pundak suami. Ia berusaha semampunya untuk membantu suami mengatasi masalah-demi masalah keuangan.

🌍 Istri Qana'ah adalah "barang langka" yang sulit ditemukan di zaman yang kemilau dunia begitu menyilaukan mata. Ia tak perduli tetangganya punya" gunung emas" dan ladang intan berlian. Sekalipun ia tak menoleh apalagi "merengek" kepada suami untuk memperoleh dan memiliki apa yang dimiliki wanita tetangga.

🌈 Duhai suami...
Alangkah bahagianya anda jika mendapatkan wanita qana'ah penyejuk mata dan pelita hati anda. Dengannya anda kan menjadi raja dunia tanpa mahkota dan istana.

💎 Duhai Ilahi... anugerahkan kami istri-istri yang qana'ah di dunia ini, agar kami dapat lebih dekat pada-Mu.

🌐 Sumber: habufairuz.com
Baca selengkapnya »
-->