IBX5A47BA52847EF DakwahPost: nasehat
Imbauan Kepada Ikhwah - Akhawat Salafiyyin Terkait Peristiwa Terorisme

Imbauan Kepada Ikhwah - Akhawat Salafiyyin Terkait Peristiwa Terorisme

Terorisme (pengeboman / bom bunuh diri) kembali terjadi di beberapa tempat di Indonesia hari-hari ini. Sungguh peristiwa terorisme tersebut sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam dan aqidah Salaf, bahkan bertentangan dengan prinsip jihad itu sendiri. Lebih jahat lagi, dalam terorisme kali ini dikabarkan terduga terorisnya ada yang wanita muslimah bercadar.

Terkait dengan peristiwa terorisme tersebut, demi menghindari kesalahpahaman dan tindakan tidak terkontrol dari sebagian pihak, terkhusus terhadap kaum muslimah yang bercadar, maka :

✅ Diimbau kepada seluruh akhawat dan ummahat secara khusus – jika tidak ada hal yang sangat darurat – untuk sementara waktu tidak melakukan aktivitas di / keluar rumah.



Kemudian diimbau kepada :
✅ Salafiyyin secara umum, ikhwah maupun akhawat, agar :
Tetap menjaga hubungan baik dengan masyarakat sekitar demi menutup celah-celah provokasi oleh sebagian pihak yang tak bertanggung jawab. Hendaknya ikhwah/akhwat tetap terbuka, normal, dan jangan malah menutup diri.

 Apabila terjadi sesuatu, maka diharapkan kepada ikhwah agar tetap tenang dan tidak panik. Serta bersegera untuk melapor kepada kepolisian terdekat.
Senantiasa membawa KTP ketika keluar ke mana pun.
Jika ada pemeriksaan, hendaknya bersikap tenang dan kooperatif dengan aparat.

Diharapkan juga kepada setiap ikhwah memiliki majalah asy-Syariah edisi MENGAPA TERORIS TIDAK PERNAH HABIS di rumahnya masing-masing.

Tetap berhati-hati dan waspada. Tingkatkan penjagaan terhadap ma'had-ma'had dan masjid-masjid Salafiyyin.

Senin, 28 Sya'ban 1439 H / 14 Mei 2018 M
 Asatidzah Pengampu Majalah asy-Syari'ah
Situs Resmi http://www.manhajul-anbiya.net
Baca selengkapnya »
Nasehat Syeikh Sholih Al-Fauzan Hafidzahullah Menjelang Ramadhan

Nasehat Syeikh Sholih Al-Fauzan Hafidzahullah Menjelang Ramadhan

السُّــــؤَالُ: ما نصيحتكم للمسلمين بمناسبة اقتراب شهر رمضان؟
Pertanyaan: Apa nasehat anda kepada kaum muslimin bertepatan dengan dekatnya menjelang bulan Ramadhan?
الجَـــــوَابُ:

”الواجب على المسلم يسأل الله أن يبلغه رمضان وأن يعينه على صيامه وقيامه، والعمل فيه، لأنه فرصة في حياة المسلم: " مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ"، "مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ"، فهو فرصة في حياة المسلم قد لا يعود عليه مرة ثانية.
Wajib bagi kaum muslimin untuk memohon kepada Allah agar bisa disampaikan (dipertemukan) dengan bulan Ramadhan, diberi kemampuan untuk berpuasa dan mendirikan shalat tarawih, dan juga bisa beramal saleh pada bulan Ramadhan. Dikarenakan bulan tersebut merupakan peluang kebaikan dalam kehidupan seorang muslim. “Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dikarenakan keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosanya yang terdahulu” (H.R al-Bukhari)

”Barang siapa yang shalat malam pada bulan Ramadhan dikarenakan keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosanya yang terdahulu. “ (H.R al-Bukhari)


Menjelang Ramadhan

Maka ini adalah peluang kebaikan dalam kehidupan seorang muslim, bisa saja tidak terulang untuk kedua kalinya.

فالمسلم يفرح بقدوم رمضان ويستبشر به، ويستقبله بالفرح والسرور، ويستغله في طاعة الله ليله قيام، ونهاره صيام وتلاوة للقرآن والذكر فهو مغنم للمسلم.
Maka seorang muslim hendaknya bergembira dan merasa senang dengan datangnya bulan Ramadhan, menyambutnya dengan penuh kegembiraan, menggunakan kesempatan pada bulan tersebut untuk memperbanyak ketaatan. Shalat di malam hari dan pada siang harinya berpuasa, membaca Al-qur’an dan berdzikir, yang mana ini semua merupakan kebaikan yang melimpah bagi setiap muslim.

أما الذين إذا أقبل رمضان يعدون البرامج الفاسدة والملهية والمسلسلات والخزعبلات والمسابقات ليشغلوا المسلمين فهؤلاء جند الشيطان، الشيطان جندهم لهذا،
Adapun orang-orang yang menyambut bulan Ramadhan dengan mempersiapkan berbagai kegiatan-kegiatan yang rusak (negatif), yang melalaikan (seperti musik) , nonton sinetron, acara -acara lawakan atau perlombaan kuis, yang semua ini melalaikan kaum muslimin -dari ibadah-, maka mereka ini adalah bala tentara Syaithan. Syaithan telah menjadikan mereka sebagai bala tentaranya untuk kerusakan ini semua.

فعلى المسلم أن يحذر من هؤلاء ويحذر منهم، رمضان ما هو وقت لهو ولعب ومسلسلات وجوائز ومسابقات وضياع للوقت“.
الشيخ صالح الفوزان حفظه الله.
Maka wajib bagi setiap muslim untuk berhati-hati dari dari orang-orang seperti ini dan memperingatkan umat akan bahaya mereka.

Bulan Ramadhan bukanlah waktu untuk berbuat sia-sia dan bermain-main, bukan pula waktu untuk nonton sinetron, kuis-kuis dan perlombaan serta bukan pula untuk menyia-nyiakan waktu.
Fatwa ini bisa di dengar melalui link di bawah ini: [ http://cutt.us/4w6Ss ]

✍ Alih Bahasa: Al-Ustâdz Tauhiddin Ali Rusdi Sahal
Baca selengkapnya »
Sebenarnya Hanya Salah Komunikasi aja..

Sebenarnya Hanya Salah Komunikasi aja..

Contoh Komunikasi yg salah :

Papa : " Ma, Papa boleh nggak mau nikah lagi ?

Mama : " Apa Pah mau nikah lagi ,ceraikan aku aja atau langkahi dlu mayatku

Coba Klo Komunikasi sperti ini :

Papa : " MA, aku Kasian liat Mama tiap hari harus capek ngurusi kerjaan rumah, (cuci, ngepel blm lagi ngurusi anak)

Mama : habis gmn donk Pa, emang Papa mau carikan pembantu yg bisa bantuin Mama?

Sebenarnya Hanya Salah Komunikasi aja..

Papa : Jangan cari pembantu Ma, zaman skr pembantu kurang bisa dipercaya ngurusi anak anak kita..

Mama : Lalu siapa donk Pa?

Papa : gini aja Ma aku punya Ide, gmn klo bu Mirna yg temannya Papa aja, Insha Allah bisa dipercaya Ma buat bantuin kerjaan Mama skalian ngurusi anak anak..

Mama : ah yang bener Pa..?

Papa : beneran Ma, Papa udh selidiki, lagian kasian jg suaminya udh meninggal, ya Itung itung kita bantuin ibu yg sdh janda..

Mama : oh gitu boleh dech Pa,tapi ntar tidurnya di kamar belakang ya Pa..biar dia gak mondar mandir..

Papa : bisa diatur itu Ma

Mama : Tapi mama khawatir takutnya Papa ntar berbuat yg nggak nggak sama dia

Papa : gini aja Ma, supaya Mama gak khawatir lagi ama Papa, mendingan di hallalin di awal aja Ma spy Mama gak berfikir macem macem lagi, selain itu klo ad apa apa sdh gak bikin dosa.. dan lagi Mama jg gak perlu ngeluarin uang untk bayar pembantu..

Mama : Ide Papa boleh jg tu, ya udh kapan" Pa segera dihalalkan aja Pa biar aku segera ada yg bantuin di rumah..

Papa : Siaaap segera laksanakan.. Ma..

NAH, BEGITULAH HARUS NYA DLM KOMUNIKASI.

SILAHKAN MENCOBA DIRUMAH.. SEMOGA BERHASIL

Sekedar selingan biar ngak sedikit rileks
Baca selengkapnya »
Cara Menjadi terbaik dengan cara yang baik

Cara Menjadi terbaik dengan cara yang baik

Hikmah...

Seorang Guru membuat garis sepanjang 10cm di papan tulis, lalu berkata : "Anak2, coba perpendek garis ini!"

Seorang anak  maju kedepan. Ia tidak mengurangi garis yang 10 cm, namun membuat garis baru sepanjang 15 cm, lebih panjang dr garis yg pertama.

Sang Guru menepuk bahunya : "Kamu memang bijak, untuk membuat garis itu menjadi pendek, tak perlu menghapusnya, cukup membuat garis lain yg lebih panjang, maka garis pertama akan menjadi lebih pendek dgn sendirinya."

Cara Menjadi terbaik dengan cara yang baik

Untuk menjadi yang terbaik tak perlu menjatuhkan, menyingkirkan atau menjelekkan pihak lain. Cukup lakukan kebaikan yang lebih baik secara konsisten.

Biarkan waktu yang akan membuktikan kualitas kita.

Permata akan tetap bersinar meskipun terpendam dalam lumpur yang gelap pekat.

Majulah Tanpa Menyingkirkan
Naiklah Tinggi Tanpa Menjatuhkan
Jadilah Baik Tanpa Harus Menjelekkan
Jadilah Benar Tanpa Harus Menyalahkan

Mari kita bergandengan Tangan Menyebar kebaikan
Baca selengkapnya »
Ramadhan Hanya Beberapa Hari Saja

Ramadhan Hanya Beberapa Hari Saja

Saat ALLAH mengulas puasa di hari-hari Ramadhan, ALLAH berfirman dalam QS. Al Baqarah ayat 184:

‏أَيَّامًا مَّعْدُودٰتٍ
"Beberapa hari yang telah ditentukan"

Ya, hanya beberapa hari saja.

ALLAH memberi isyarat kepada kita bahwa kebersamaan kita dengan Ramadhan sangat singkat.

Jangan sampai kita terlena karena merasa berada di awal bulan dan menatap 20-an hari dihadapan kita.

Ramadhan Hanya Beberapa Hari Saja

Lihat saja betapa cepatnya hari-hari terbaik ini berlari meninggalkan kita, tanpa terasa kita akan hanyut sampai di hari-hari terakhir, lalu...

ia benar-benar pergi dan kita belum sempat mengerjakan banyak amal shalih.

Ia akan mengucapkan salam perpisahan sedangkan dosa kita belum diampuni.

Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda:

"Sungguh rugi seseorang yang bertemu dengan Ramadhan, lalu Ramadhan itu berlalu darinya sebelum dosa-dosa dirinya diampuni."

(HR. Tirmidzi)

Saudaraku, jadikan setiap hari di bulan suci ini layaknya partai final, jangan biarkan ia mudah berlalu, hanya beberapa hari saja...

Hikmah yang disampaikan Syaikh Sa'ad Turki Al Khatslan (anggota komite fatwa dan kibar 'ulama di saudi arabia) dengan pengembangan.

✏ Al-Ustâdz Muhammad Nuzul Dzikri
• Website : muhammadnuzuldzikri.com
Baca selengkapnya »
Obati membicarakan manusia dengan dzikir kepada Allah

Obati membicarakan manusia dengan dzikir kepada Allah

Membicarakan orang adalah sebuah penyakit dan berdzikir kepada ALLAH adalah sebuah obat.

ذكر الناس داء وذكر الله دواء
Ungkapan indah di atas disampaikan oleh Ibnu 'Aun -rahimahullah- (As Siyar 6/369).

Saudaraku, Membicarakan orang akan menumbuhkan berbagai macam penyakit seperti hasad, benci, ghibah, dan lain-lain. Hati akan kotor dan akhirnya akan mati.

Obati membicarakan manusia dengan dzikir kepada Allah

Dahulu ulama kita menyatakan:

اكثر الناس خطايا افرغهم ذكرا لخطايا الناس
Orang yang paling banyak kesalahan (dosa) adalah orang yang paling sering membicarakan kesalahan dan 'aib manusia (As Shomtu wa Aadaabul Lisaan 104)

Dan obat dari penyakit ini adalah berdzikir kepada ALLAH.

Ketika seorang hamba menikmati saat-saat berdzikir dan melafazhkan asma-Nya, niscaya ia tidak akan mau menukarnya dengan membicarakan manusia, karena seorang pencinta lebih tertarik membicarakan kekasihnya dibanding pihak lain.

Lalu bagaimana dengan seorang hamba yang jatuh cinta pada Rabbnya?!

Saudaraku, Di bulan suci Ramadhan ini, jangan sampai yang lebih sering keluar dari lisan kita adalah nama dan aib manusia dibanding nama-nama ALLAH dan berdzikir padaNya.

...والذاكرين الله كثيرا والذاكرات اعد الله لهم مغفرة واجرا عظيما
"... dan laki-laki serta wanita yang banyak berdzikir kepada ALLAH, ALLAH telah menyiapkan ampunan dan pahala yang besar untuk mereka." (QS. Al Ahzab: 35)

✏ Al-Ustâdz Muhammad Nuzul Dzikri
Website : muhammadnuzuldzikri.com
Baca selengkapnya »
Pantaskah Bersikap Buruk kepada Sesama Muslim ?

Pantaskah Bersikap Buruk kepada Sesama Muslim ?

Allah azza wajalla berfirman,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu (Qs. Ali Imran : 159)

Pantaskah Bersikap Buruk kepada Sesama Muslim

Al-‘Allamah as-Sa’di mengomentari ayat ini dengan mengatakan :  Pantaskah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, serta mengaku menjadi pengikut dan penganutnya bersikap buruk kepada sesama muslim, berperangai jahat, kejam, keras hati, serta kasar dan kaku dalam berbicara ?
Kita katakan : Tentu, tidak pantas. Itulah jawabnya.

Semoga Allah meliputi hati kita dengan rahmat-Nya sehingga tidak bersikap buruk kepada sesama muslim, tidak berperangai jahat, kejam, keras hati serta kasar dan kaku dalam berbicara terhadap sesama muslim. Amin

(Prof. Dr. Nashir al-Umar, et.al, “Liyaddabbaruu Aayaatihi, eid,hal. 82)

WhatsApp@DakwahAlSofwa +62 81 3336333 82
Baca selengkapnya »
Gunakan Waktu Luangmu Sebelum Datang Waktu Sempitmu

Gunakan Waktu Luangmu Sebelum Datang Waktu Sempitmu

Dari Abu Musa Al Asy'ari رضي الله عنه : Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

« إذَا مَرِضَ الْعَبْدُ ، أوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يعملُ مُقيمًا صَحيحًا ».
(("Bila hamba itu sakit atau bersafar, maka dituliskan untuknya semisal apa yang dia amalkan ketika dia mukim (tidak bersafar) dan sehat")) [HR Bukhari : (2996)]

Berkata 'Allamah Syaikh/ Ibnu Utsaimin رحمه الله :

▪️Yaitu : Bahwasannya manusia bila kebiasaannya beramal Shaleh, kemudian dia sakit dan dia tidak lagi mampu atasnya , maka akan dituliskan pahala sempurna untuknya .....
Walhamdulillah atas nikmat-nikmat-Nya

Gunakan Waktu Luangmu

〰Maka apabila kamu , sebagai contoh : bahwasannya kebiasaanmu SHALAT berjama'ah , kemudian kamu sakit dan tidak mampu lagi SHALAT berjama'ah maka kamu sama seperti orang yang SHALAT berjama'ah dan tetap dituliskan pahalamu sebanyak dua puluh tujuh derajat

▫️Dan sekiranya kamu safar , sedang kebiasaanmu diwaktu mukim (tidak Safar) dinegrimu senang menghidupkan SHALAT sunnah, membaca Al Qur'an, bertasbih, bertahlil, dan bertakbir ...,
Akan tetapi ketika kamu Safar, kamu tersibukkan dari hal-hal tersebut,
Maka sungguh tetap dituliskan untukmu apa yang dahulunya kamu amalkan dinegrimu diwaktu mukim

Sebagai contoh : Sekiranya kamu Safar dan kamu SHALAT sendirian didaratan , sedangkan tidak ada seorangpun bersamamu ....maka sungguh akan ditulis untukmu pahala SHALAT berjama'ah secara sempurna, bila kebiasaanmu SHALAT berjamaah diwaktu mukim

Dan demikian ini terdapat perhatian bagi orang yang berakal, agar selama dia berada pada kondisi sehat dan waktu luang, maka hendaknya dia terus bersemangat untuk beramal Shaleh .....
Hingga apa bila dia sudah merasa lemah darinya, karena sakit atau kesibukan, maka tetap akan dituliskan pahala sempurna untuknya

Maka ambillah masa sehatmu dan masa lapangmu , dan beramal Shalehlah...
Hingga apa bila engkau tersibukkan dengan sakit atau selainnya....
Maka tetap dituliskan pahala sempurna untukmu...
Walhamdulillah...

Oleh karena itu berkata Ibnu Umar رضي الله عنهما :

‎خذْ من صحتكَ لمرضك، ومن حياتكَ لموتك.
(("Ambillah masa sehatmu karena akan datang masa sakitmu Dan masa hidupmu Karena akan datang masa matimu"))

[[Syarh Riyadh As Shalihin :(2/189)]]

Abu Abdillah Fakhruddin Al Makassari
══════ ❁✿❁ ══════

‎• - عَنْ أَبي موسى الأشْعَرِيِّ ‎ّ- رَضِيَ اللهُ عَنْهُ -

‎• - قال رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: « إذَا مَرِضَ الْعَبْدُ ، أوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يعملُ مُقيمًا صَحيحًا ».  رواه البخاري (٢٩٩٦)
‎‏
‎• - قال العلامة ابن عثيمين عليه رحمات رب العالمين -:

‎• - يعني أن الإنسانَ إذا كان من عاداتهِ أن يعملَ عملاً صالحاً، ثم مرضَ فلم يقدر عليه، فإنه يُكتبُ له الأجرُ كاملاً. والحمدُ لله على نِعَمه.

‎❖ إذا كنتَ مثلاً من عاداتكَ أن تصليَ مع الجماعة، ثم مرضتَ ولم تستطعْ أن تصليَ مع الجماعة ، فكأنك مصلٍّ مع الجماعة ، يُكتبُ لك سبعٌ وعشرونَ درجة،

ولو سافرتَ وكان من عادتكَ وأنت مقيمٌ في البلدِ أن تصليَ نوافل، وأن تقرأ قرآناً ، وأن تسبِّحَ وتهلِّلَ وتكبِّر ، ولكنك لما سافرتَ انشغلتَ بالسفر عن هذا، فإنه يُكتبُ لك ما كنتَ تعملهُ في البلدِ مقيماً.

‎❖ مثلاً لو سافرتَ وصليتَ وحدكَ في البِّر ليس معك أحد، فإنه يُكتبُ لكَ أجرُ صلاةِ الجماعةِ كاملاً إذا كنتَ في حالِ الإقامةِ تصلي مع الجماعة.

‎⇚وفي هذا تنبيهٌ على أنه ينبغي للعاقلِ مادام في حالِ الصحةِ والفراغ ، أن يحرصَ على الأعمالِ الصالحة، حتى إذا عجزَ عنها لمرضٍ أو شغل، كُتبــتْ لــه كاملــة.

‎❖ اغتنمِ الصحَّة، اغتنمِ الفراغ، اعملْ صالحًا، حتى إذا شُغلتَ عنه بمرضٍ أو غيرهِ كُتبَ لك كاملاً، ولله الحمد.

‎• - ولهذا قال ابن عمر : خذْ من صحتكَ لمرضك، ومن حياتكَ لموتك.

 شرح رياض الصالحين (٢ / ١٨٩) 】
Baca selengkapnya »
BEGITU CEPATKAH WAKTU BERLALU

BEGITU CEPATKAH WAKTU BERLALU

Ternyata begitu cepat waktu berlalu meninggalkan kita tanpa terasa, sedangkan apa yang kita sudah perbuat dan sudah kita kumpulkan sebagai pundi pundi amal kita tidak ada bahkan hilang bagai debu yang beterbangan.

Waktu berlalu cepat...

Ternyata tidak ada yang bisa kita perbuat...
Ternyata Tak mampu mengkhatamkan AlQuran...
Ternyata Tak kuasa menghafalkan satu suratpun dari AlQuran...
Ternyata kesehatan tubuh hilang ditelan waktu sekarang ada dipembaringan...
Ternyata rambut yang menghitam sekarang sudah beruban...
Ternyata wajah yang jelita sekarang tinggal keriput tua...
Ternyata semua tinggal penyesalan yang tersisa...
Ternyata pula jarak terjauh adalah masa lalu yang tak bisa kita jelajah...

Tanda tanda waktu begitu cepat berlalu dan kita begitu terbuai melaluinya tanpa bekal akhirat yang tersisa, inilah waktu akhir zaman yang sudah di sebutkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, beliau bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ فَتَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ، وَيَكُونَ الشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ، وَتَكُونَ الْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ، وَيَكُونَ الْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ، وَتَكُونَ السَّاعَةُ كَاحْتِرَاقِ السَّعَفَةِ
"Tidak akan terjadi hari kiamat hingga zaman berdekatan (waktu terasa singkat), Setahun bagaikan sebulan, Sebulan bagaikan sepekan, Sepekan bagaikan sehari, Sehari bagaikan sejam dan Sejam bagaikan terbakarnya pelepah pohon kurma.” (HR. Ahmad, shahih oleh al-Albani dalam al-Jaami’ ash Shaghiir, 7299)

Ibnu Hajar Al-Asqolani rahimahullahu Ta'ala berkata :

فإنا نجد من سرعة مر الأيام ما لم نكن نجده في العصر الذي قبل عصرنا هذا، وإن لم يكن هناك عيش مستلذ ؛ والحق أن المراد نزع البركة من كل شيء ، حتى من الزمان ، وذلك من علامات قرب الساعة .
"Sungguh kita telah mendapati cepatnya hari-hari yang telah berlalu dan ini tidak kita jumpai pada masa sebelum zaman kita sekarang ini. Walaupun di masa itu tidak ada kehidupan yang terasa lezat. Dan yang benar bahwa maksud dari semua hal itu adalah dicabutnya barokah dari segala sesuatu hingga perihal masa sekalipun. Dan itu merupakan tanda dekatnya hari kiamat." (Fathul Bari 13/19)


Subhanallah, diantara tanda terasa cepatnya waktu adalah dicabutnya keberkahan...Maka sungguh merugi, jika kita tidak mensegerakan dan memperbanyak amal dalam kondisi ini.

Oleh karena itu benarlah perkataan Ibnul Qayyim rahimahullahu ta'ala agar kita tidak merugi tentang waktu yang amat cepat berlalu, beliau rahimahullahu ta'ala berkata : “Waktu manusia adalah umurnya yang sebenarnya. Waktu tersebut adalah waktu yang dimanfaatkan untuk mendapatkan kehidupan yang abadi dan penuh kenikmatan dan terbebas dari kesempitan dan adzab yang pedih. Ketahuilah bahwa berlalunya waktu lebih cepat dari berjalannya awan (mendung).

Barangsiapa yang waktunya hanya untuk ketaatan dan beribadah pada Allah Ta'ala, maka itulah waktu dan umurnya yang sebenarnya. Selain itu tidak dinilai sebagai kehidupannya, namun hanya teranggap seperti kehidupan binatang ternak. Jika waktu hanya dihabiskan untuk hal-hal yang membuat lalai, untuk sekedar menghamburkan syahwat (hawa nafsu), berangan-angan yang batil, hanya dihabiskan dengan banyak tidur dan digunakan dalam kebatilan, maka sungguh kematian lebih layak bagi dirinya.” (Kitab Al Jawabul Kafi, 109)

Aun bin ‘Abdillah rahimahullah berkata :

“Sikapilah bahwa besok adalah ajalmu. Karena begitu banyak orang yang menemui hari besok, ia malah tidak bisa menyempurnakannya. Begitu banyak orang yang berangan-angan panjang umur, ia malah tidak bisa menemui hari esok. Seharusnya ketika engkau mengingat kematian, engkau akan benci terhadap sikap panjang angan-angan.”

Beliau juga berkata :

إنَّ من أنفع أيام المؤمن له في الدنيا ما ظن أنَّه لا يدرك آخره
“Sesungguhnya hari yang bermanfaat bagi seorang mukmin di dunia adalah ia merasa bahwa hari esok sulit ia temui.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 385)

Astaghfirullah hal adzim...beristighfarlah demi waktu, karena diantaranya terdapat kondisi kondisi tanpa amal, bahkan maksiat yang merengkuhnya hingga terbuai dengannya.

Sungguh merugilah mereka dikala waktu yang ada hanya dipakai untuk bersantai ria hura hura tanpa sedetikpun lisan berbasah dengan dzikirullah...na'udzhubillah.

Banyak yang terlena dengan waktu hingga Allah Ta'ala takdirkan su'ul khotimah.

Kita berlindung kepada Allah Ta'ala agar terhindar dari semua itu.

Wallahu a'lam

artikel republish dari group whatsapp
Baca selengkapnya »
MARHABAN YA ROMADHON

MARHABAN YA ROMADHON

Asy Syeikh Sholih Al Fauzan hafidzohullah:

(فالتهنئة بهذا الشهر والفرح بقدومه يدلان على الرغبة في الخير، وقد كان السلف يبشر بعضهم بعضًا بقدوم شهر رمضان؛ اقتداء بالنبي صلى الله عليه وسلم)
Mengucapkan selamat dengan datangnya bulan ini (Romadhon) dan gembira dengan kedatangannya adalah bukti hausnya seseorang akan kebaikan.

Yang mana para salafus solih mereka saling memberikan kabar gembira satu dengan yang lainnya dengan kedatangan bulan Romadon dalam rangka mencontoh Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wa sallam.

telegram.me/berbagiilmuagama
http://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/7452
Baca selengkapnya »
Nasehat bagi mereka yang cendrung menuruti hawa nafsu

Nasehat bagi mereka yang cendrung menuruti hawa nafsu

KASUS 1

(-) : "Ustadz, saya biasa makan babi dan suka makan babi. Apa nasihat ustadz untuk saya?".
(+) : "Kalau darurat boleh".
--------------

KASUS 2

(-) : "Ustadz, saya biasa makan babi dan suka makan babi. Apa nasihat ustadz untuk saya?".
(+) : "Babi haram. Anda harus segera berhenti makan babi, karena makanan halal insyaallah banyak".
-----------------

Nasehat bagi mereka yang cendrung menuruti hawa nafsu

Manusia akan senantiasa cenderung menuruti hawa nafsu. Seperti halnya jika ada dua pilihan, bekerja atau istirahat; maka jiwa cenderung memilih istirahat. Puasa atau makan lezat; maka cenderung akan dipilih makan lezat. Allah ta'ala berfirman :

إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ
"Karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang" [QS. Yuusuf : 53].

Seorang penasihat yang mempunyai bashirah mengetahui hal ini dan ia akan senantiasa berusaha memotong jalan hawa nafsu. Keluar dari kebiasaan, kenyamanan, dan kelezatan hobi makan daging babi mungkin saja menimbulkan kegelisahan. Keluar dari pekerjaan bala tentara lintah darat memang berat, keluar dari zona nyaman. Daging sapi, kambing, ayam, dan yang lainnya selain daging babi, insyaallah banyak. Tinggal kita doyan apa tidak. Bekerja jadi jongos, kuli, tukang cuci piring, dagang, juru ketik, tukang ojek, karyawan kantor, dan yang lainnya insyaallah masih terbuka. Tinggal kita mau melakukannya apa tidak.

Kondisi darurat ada, tapi bukan menjadi hukum umum. Tidak setiap 'kesulitan' melahirkan situasi demikian. Hijrah PASTI ada kesulitan. Jalan menuju surga tidak diperoleh tanpa ujian. Pasti ada aral menghadang.

Nb : bijakmu seringkali salah tempat.
Copas dari status Ustadz Dony Arif Wibowo
Baca selengkapnya »
JANGAN BERHENTI DI TENGAH BADAI

JANGAN BERHENTI DI TENGAH BADAI

Seorang Anak mengemudikan mobilnya bersama ibunya.

Setelah beberapa puluh kilometer, Tiba² awan hitam datang bersama angin kencang. Langit menjadi gelap. Beberapa kendaraan mulai menepi & berhenti.

“BAGAIMANA, Bu? Kita berhenti?”,

Si Anak bertanya.

“Teruslah.. !”, kata Ibu.

Anaknya TETAP menjalankan mobil. Langit makin gelap, angin bertiup kencang. Hujanpun turun.

Beberapa pohon bertumbangan, Bahkan ada yg diterbangkan angin. Suasana sangat menakutkan. Terlihat kendaraan² besar juga mulai menepi & berhenti.

JANGAN BERHENTI DI TENGAH BADAI

“Bu....?"

“TERUSLAH mengemudi..!!” kata Ibu, sambil terus melihat ke depan.

Anaknya TETAP mengemudi degan bersusah payah.

Hujan lebat menghalangi pandangan HANYA berjarak bebarapa meter saja.

Si Anak mulai takut.

NAMUN... tetap mengemudi WALAUPUN sangat perlahan.

Setelah melewati beberapa kilo ke depan, dirasakan hujan mulai mereda & angin mulai berkurang.

SETELAH beberapa kilometer, SAMPAILAH mereka pada daerah yg kering & matahari bersinar.

“SILAKAN berhenti & keluarlah”, kata Ibu

“KENAPA sekarang ?”, tanya-nya.

“Agar kau BISA MELIHAT seandainya berhenti di tengah badai”.

Sang Anak berhenti & keluar. Dia melihat jauh di belakang sana badai masih berlangsung. Dia MEMBAYANGKAN orang² yg terjebak di sana.

Dia BARU mengerti bahwa JANGAN PERNAH BERHENTI di tengah badai KARENA akan terjebak dalam ketidak pastian.

JIKA kita sedang menghadapi “badai” kehidupan, TERUSLAH berjalan, JANGAN berhenti & putus asa karena kita akan tenggelam dalam keadaan yg terus menakutkan.

LAKUKAN saja Apa yang dpt kita lakukan & yakinkan diri bahwa BADAI PASTI BERLALU.

KITA tidak kan pernah berhenti, tetapi maju terus Karena kita yakin bahwa di depan sana Kepastian dan Kesuksesan ada untuk kita...

HIDUP TAK SELAMANYA BERJALAN MULUS!!!

BUTUH batu kerikil supaya kita BERHATI-HATI..
BUTUH semak berduri supaya kita WASPADA..
BUTUH Pesimpangan supaya kita BIJAKSANA dalam MEMILIH..
BUTUH Petunjuk jalan supaya kita punya HARAPAN tentang arah masa depan..

Hidup Butuh MASALAH supaya kita tahu kita punya KEKUATAN..

BUTUH Pengorbanan supaya kita tahu cara KERJA KERAS.
BUTUH air mata supaya kita tahu MERENDAHKAN HATI.
BUTUH dicela supaya kita tahu bagaimana cara MENGHARGAI..
BUTUH tertawa dan senyum supaya kita tahu MENGUCAPKAN SYUKUR..
BUTUH Orang lain supaya kita tahu kita TAK SENDIRI..

Jangan selesaikan MASALAH dengan mengeluh, berkeluh kesah, dan marah", Selesaikan saja dengan sabar, bersyukur dan jangan lupa TERSENYUM.

Teruslah MELANGKAH walau mendapat RINTANGAN, Jangan takut..

Saat tidak ada lagi tembok untuk bersandar, masih ada lantai untuk bersujud.

Perbuatan baik yg paling sempurna adalah perbuatan baik yg tidak terlihat, Namun.. Dapat dirasakan hingga jauh ke dalam relung hati.

Jangan menghitung apa yg hilang, namun hitunglah apa yg tersisa.

Sekecil apapun penghasilan kita, pasti akan cukup bila digunakan utk Kebutuhan Hidup.

Sebesar apapun penghasilan kita, pasti akan kurang bila digunakan utk Gaya Hidup.

Tidak selamanya kata-kata yg indah itu benar, juga tidak selamanya kata-kata yg menyakitkan itu salah.

Hidup ini terlalu singkat, lepaskan mereka yg menyakitimu, sayangi mereka yg peduli padamu.

SEMOGA BERMANFAAT..

artikel republish from whatsapp group
Baca selengkapnya »
Saudariku...Cinta dan bencilah kepada sesuatu Karna Allah

Saudariku...Cinta dan bencilah kepada sesuatu Karna Allah

Saudariku, ketahuilah, ikatan iman yang paling kuat tergambar pada diri seseorang yang mencintai sesuatu semata-mata karena Allah dan membenci sesuatu juga semata-mata karena Allah.

◼ Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

أَوْثَقُ عُرَى الْإِيمَانِ الْمُوَالَاةُ فِي اللهِ وَالْمُعَادَاةُ فِي اللهِ، وَالْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ
“Ikatan iman yang paling kuat adalah loyalitas karena Allah dan antipati karena Allah, serta cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. ath-Thabarani, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah)

✔ Keimanan seseorang yang menyatakan dirinya beriman kepada Allah akan terlihat pada sikap ini. Jika keimanannya benar, dia akan mencintai segala sesuatu yang dicintai oleh Allah dan mencintai pelaku-pelakunya. Di samping itu, dia akan membenci segala sesuatu yang dibenci oleh Allah dan membenci para pelakunya.

💎 Allah subhanahu wa ta’ala memuji Ibrahim ‘alaihissalam dan orang-orang mukmin yang bersama beliau yang menerapkan sikap ini, agar kita meneladani mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قَدۡ كَانَتۡ لَكُمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ فِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ إِذۡ قَالُواْ لِقَوۡمِهِمۡ إِنَّا بُرَءَٰٓؤُاْ مِنكُمۡ وَمِمَّا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ كَفَرۡنَا بِكُمۡ وَبَدَا بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمُ ٱلۡعَدَٰوَةُ وَٱلۡبَغۡضَآءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَحۡدَهُ
“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaum mereka, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa-apa yang kalian ibadahi selain Allah. Kami ingkari (kekafiran) kalian dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian, selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja’.” (al-Mumtahanah: 4)

✔ Ketahuilah, cinta karena Allah dan benci karena Allah adalah makna yang terkandung dalam kalimat La ilaha illallah.

◼ Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦٓ إِنَّنِي بَرَآءٞ مِّمَّا تَعۡبُدُونَ ٢٦ إِلَّا ٱلَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُۥ سَيَهۡدِينِ ٢٧ وَجَعَلَهَا كَلِمَةَۢ بَاقِيَةٗ فِي عَقِبِهِۦ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ ٢٨
“(Ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapak dan kaumnya, ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian ibadahi, selain (Allah) yang telah menciptakanku; sesungguhnya Dia akan memberiku petunjuk.’ Dia (Ibrahim) jadikan kalimat tersebut kekal pada keturunannya agar mereka kembali (berpegang teguh pada kalimat tersebut).” (az-Zukhruf: 26—28)

📚 Para ahli tafsir mengatakan bahwa kalimat yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah kalimat tauhid, La ilaha illallah. Oleh karena itu, arti ayat tersebut adalah bahwa ucapan Ibrahim ‘alaihissalam terhadap ayah dan kaumnya—yang merupakan makna kalimat tauhid, La ilaha illallah—terus-menerus diwariskan dari generasi ke generasi dari keturunan Ibrahim alaihissalam, yaitu para nabi dan orang-orang yang beriman. Di antara keturunan beliau adalah Nabi kita, Muhammad ﷺ.


📜 Jika kita perhatikan sirah (perjalanan hidup) beliau ﷺ dan orang-orang yang bersama beliau, yaitu para sahabat, niscaya akan kita dapati bahwa keadaan mereka persis seperti keadaan Ibrahim alaihissalam dan orang-orang yang bersamanya yang digambarkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala . Mereka mencintai kaum yang tidak memiliki hubungan kekerabatan sama sekali dengan mereka semata-mata karena keimanan. Sebaliknya, mereka membenci dan memerangi kaum yang paling dekat kekerabatannya dengan mereka semata-mata karena kaum tersebut kafir kepada Allah.

◼ Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَّا تَجِدُ قَوۡمٗا يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ يُوَآدُّونَ مَنۡ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوۡ كَانُوٓاْ ءَابَآءَهُمۡ أَوۡ أَبۡنَآءَهُمۡ أَوۡ إِخۡوَٰنَهُمۡ أَوۡ عَشِيرَتَهُمۡۚ أُوْلَٰٓئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلۡإِيمَٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٖ مِّنۡهُۖ وَيُدۡخِلُهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَاۚ رَضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ أُوْلَٰٓئِكَ حِزۡبُ ٱللَّهِۚ أَلَآ إِنَّ حِزۡبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ٢٢
“Tidak akan engkau dapati bahwa suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara, ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah mengokohkan keimanan dalam hati mereka, menguatkan mereka dengan pertolongan dari-Nya, dan memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, sesungguhnya golongan Allah itulah orang-orang yang beruntung.” (al-Mujadilah: 22)

📖 Ayat ini sangat tegas menunjukkan bahwa tidak akan pernah ada orang yang beriman kepada Allah berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya. Keimanan seseorang kepada Allah mengharuskan hilangnya kecintaan kepada musuh-musuh Allah. Sebab, kedua hal tersebut saling berlawanan. Jadi, keberadaan salah satu dari keduanya mengharuskan hilangnya yang lain.

💡 Asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata,
"Adapun orang yang beranggapan bahwa dia beriman kepada Allah dan hari akhir, tetapi berkasih sayang kepada musuh-musuh Allah dan mencintai orang yang meninggalkan iman di belakang punggungnya, keimanannya hanyalah pengakuan, tidak ada hakikatnya. Setiap hal membutuhkan pembuktian akan kebenarannya. Adapun semata-mata pengakuan, tidak ada manfaatnya dan pengucapnya tidak akan dibenarkan." (Lihat Taisir al-Karimir Rahman)

🌴 Yang menunjukkan hal ini dari sirah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam adalah hijrah beliau dari Mekah menuju Madinah. Hijrah tersebut wajib bagi Rasulullah dan para sahabat beliau. Mereka meninggalkan kampung halaman dan sanak kerabat karena Allah. Mereka berlepas diri dari kesyirikan dan para pelakunya walaupun masih terhitung kerabat terdekat mereka sendiri. Mereka menuju ke suatu tempat yang banyak penduduknya telah menerima Islam, yaitu kaum Anshar. Kaum Anshar pun mencintai kaum Muhajirin yang datang kepada mereka, bahkan lebih mengutamakan Muhajirin daripada diri mereka sendiri, walaupun mereka sendiri sangat membutuhkan apa yang mereka berikan kepada Muhajirin. Padahal, kebanyakan kaum Anshar tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan para pendatang tersebut. (Lihat al-Hasyr: 8—9)

💎 Semua itu mereka lakukan hanya dengan satu alasan, yaitu keimanan. Mereka melakukan semua itu karena Allah.

✔ Hal lain yang menunjukkan sikap cinta dan benci karena Allah adalah sikap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam kepada paman beliau, Abu Thalib, yang meninggal dalam keadaan musyrik. Beliau menyatakan, “Aku akan senantiasa memintakan ampun untukmu selama aku tidak dilarang.” Lalu turunlah ayat-Nya,

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَن يَسۡتَغۡفِرُواْ لِلۡمُشۡرِكِينَ وَلَوۡ كَانُوٓاْ أُوْلِي قُرۡبَىٰ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُمۡ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَحِيمِ ١١٣
“Tidak sepantasnya Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun bagi orang-orang musyrik, walaupun dari kalangan kerabat mereka sendiri, setelah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penduduk neraka Jahim (mati di atas kesyirikan).” (at-Taubah: 113)

⛔ Maka dari itu, beliau pun berhenti memintakan ampun untuk paman beliau dan berlepas diri darinya, walaupun semasa hidupnya sang paman sangat sayang kepada beliau dan sangat besar pembelaannya terhadap beliau. Kisah tersebut diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya.

⚠Sebagaimana halnya sikap antipati dibangun di atas keimanan, demikian pulalah loyalitas dan kecintaan.

◼ Allah berfirman,

وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ
“Orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah wali (pelindung dan penolong) bagi sebagian yang lain.” (at-Taubah: 71)

◼Allah juga berfirman,

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَهُمۡ رَٰكِعُونَ ٥٥
“Sesungguhnya wali (pelindung dan penolong) kalian adalah Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman yang menegakkan shalat dan menunaikan zakat dalam keadaan tunduk.” (al-Maidah: 55)

📖 Banyak sekali ayat yang semakna dengannya di dalam al-Qur’an.

Ketahuilah, Saudariku, prinsip ini akan menjadikan seseorang senantiasa berada di atas al-haq (kebenaran) dan akan selalu berpegang padanya. Dia tidak peduli meskipun yang menyelisihi al-haq tersebut adalah orang yang paling dia sayangi, orang yang paling dekat kekerabatannya dengannya, atau orang yang paling berjasa terhadap dirinya, dst. Dia tetap berlepas diri darinya karena al-haq lebih dia cintai daripada apa pun dan siapa pun. Dia meyakini bahwa segala sesuatu yang datang dari Allah dan Rasul-Nya adalah kebenaran, sedangkan segala sesuatu yang menyelisihinya adalah kebatilan. Prinsip inilah yang disebut al-wala’ wal bara’ (cinta dan benci karena Allah) di dalam Islam.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Penulis : Al-Ustadz Syafi’i bin Shalih al-Idrus حفظه الله
Sumber : qonitah.com
Baca selengkapnya »
Hati-hati dalam BerCurhat Terutama Para Muslimah

Hati-hati dalam BerCurhat Terutama Para Muslimah

Saat menghadapi masalah, ada yang cenderung menguap, membuka masalahnya kepada orang lain, termasuk kepada orang yang mungkin tak membantu, pokoknya asal cerita, plong dan lega, beban berat terbuang sesaat walaupun masalah belum tentu terurai.

Bila Anda adalah istri atau suami dan Anda termasuk tipe ini, maka itu urusan Anda, namun waspadalah ?

Dengan curhat, berarti Anda membawa keluar masalah dengan suami atau istri kepada orang lain, berarti si pembawa –minimal- telah menyebarkan aib atau kekurangan pasangannya. Padahal sesama muslim dianjurkan saling menutupi kekurangan masing-masing.

مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالأَخِرَةِ .
“Barangsiapa menutupi seorang muslim maka Allah menutupinya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim).

Dengan curhat berarti Anda telah mengghibah pasangan, karena Anda tidak mungkin dalam kondisi perselisihan membicarakan kebaikannya, karena yang ada di pikiran anda adalah keburukannya dan orang berbicara apa yang ada di benaknya. Anda mau makan bangkai pasangan Anda sendiri?

Hati-hati dalam BerCurhat

Dengan curhat, justru tidak mengurai persoalan, yang ada malah menambah benang kusut. Perselisihan bertambah ruwet dan carut marut dengan campur tangan pihak ketiga. Ketika Anda menyeret pihak ketiga tentunya pihak ketiga ini anda harapkan berada sepihak dengan Anda dan otomatis berseberangan dengan pasangan Anda. Bukankah ini berarti Anda hanya mencari sekutu pendukung? Hal yang sama bisa dilakukan oleh pasangan Anda bukan? 

Tambah kusut. Di samping itu teman curhat Anda bisa jadi adalah ember, menampung apa saja, akan tetapi karena ember itu mulutnya lebar maka ia bisa melebar kemana-mana. Artinya keluh kesah Anda yang Anda bisikkan kepadanya malah dia umbar kemana-mana? Anda mau aib anda dan pasangan menjadi biang gosip?

Bila curhat dilakukan kepada teman lawan jenis, suami curhat kepada teman wanitanya atau istri curhat kepada teman lelakinya, hal seperti ini akan membuka peluang wa la taqrabu az-zina, menyerempet zina, karena bila orang yang dicurhati memposisikan sebagai pendengar yang baik, maka pihak yang curhat akan merasa nyaman, kenyamanan ini merupakan lahan basah setan untuk membujuk keduanya lebih intens lagi bercurhat ria, akhirnya terbentuk majlis-majlis curhat dan akhirnya… 

Kalaupun tidak sampai pada akhirnya, namun saat seseorang, suami atau istri, sudah merasa enak, nyaman dan nyambung bila duduk semajlis dengan lawan jenis demi curhat, maka itu sama dengan berlindung dari terik matahari di balik api, lari dari satu masalah dan terjerumus ke dalam masalah yang bisa jadi lebih berat.

Jadi, hati-hatilah dalam bercurhat ❗

WhatsApp@DakwahAlSofwa +62 81 3336333 82
Baca selengkapnya »
Benci Kebaikan, Maka Akan Terjatuh pada Keburukan

Benci Kebaikan, Maka Akan Terjatuh pada Keburukan

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

مَنْ رَغِبَ عَنْ إِنْفَاقِ مَالِهِ فِي طَاعَةِ اللَّهِ ابْتُلِيَ بِإِنْفَاقِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ وَهُوَ رَاغِمٌ.
"Siapa yang tidak suka membelanjakan hartanya untuk ketaatan kepada Allah, maka dia akan ditimpa dengan membelanjakannya untuk selain Allah dalam keadaan dia tidak menyukainya.

وَكَذَلِكَ مَنْ رَغِبَ عَنِ التَّعَبِ لِلَّهِ ابْتُلِيَ بِالتَّعَبِ فِي خِدْمَةِ الْخَلْقِ وَلَا بُدَّ.
Demikian juga siapa yang tidak suka keletihan untuk Allah, maka dia akan ditimpa dengan keletihan untuk melayani makhluk, mau tidak mau.

Benci Kebaikan

وَكَذَلِكَ مَنْ رَغِبَ عَنِ الْهَدْيِ بِالْوَحْيِ، ابْتُلِيَ بِكُنَاسَةِ الْآرَاءِ وَزِبَالَةِ الْأَذْهَانِ، وَوَسَخِ الْأَفْكَارِ.
Demikian juga siapa yang tidak suka dengan petunjuk yang berasal dari wahyu, maka dia akan ditimpa dengan pendapat yang kotor, sampah pikiran, dan limbah pemikiran.

فَلْيَتَأَمَّلْ مَنْ يُرِيدُ نُصْحَ نَفْسِهِ وَسَعَادَتَهَا وَفَلَاحَهَا هَذَا الْمَوْضِعَ فِي نَفْسِهِ وَفِي غَيْرِهِ.
Maka siapa saja yang menginginkan kebaikan, kebahagiaan, dan keberuntungan untuk dirinya, hendaklah dia memperhatikan hal ini pada dirinya dan pada orang lain."

[Madarijus Salikin, jilid 1 hlm. 184]

Sumber || https://telegram.me/fawaz_almadkali
Baca selengkapnya »
Dzikir adalah ketentraman sekaligus cahaya bagi hati

Dzikir adalah ketentraman sekaligus cahaya bagi hati

Memperbanyak berdzikir kepada Allah adalah juga benteng seorang muslim dari sifat munafik. Termasuk ciri-ciri orang munafik adalah menyedikitkan berdzikir. Allah berfirman tentang orang-orang munafik:

وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلا قَلِيلا
“Mereka tidak berdzikir kepada Allah kecuali hanya sedikit.” [QS An-Nisa’: 142]

Ka’ab bertutur:

من أكثر ذكر الله برئ من النفاق
“Siapa yang memperbanyak dzikir kepada Allah maka ia terlepas dari kemunafikan.”

Dzikir adalah ketentraman sekaligus cahaya bagi hati

Oleh karena itu, di bagian akhir surat Al-Munafiqun, Allah mengungkapkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
” Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” [QS Al-Munafiqun: 9]

Ali bin Abi Thalib ditanya tentang orang-orang khawarij apakah mereka termasuk orang munafik atau bukan. Beliau menjawab:

المنافقون لا يذكرون الله إلا قليلا
“Orang munafik itu tidak berdzikir kecuali hanya sedikit.”

Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin hafizhahullah berkata:

“ini adalah ciri-ciri orang munafik yaitu sedikit berdzikir. Memperbanyak dzikir adalah penjaga/penyelamat dari kemunafikan.”

di kutip dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wal Adzkar karya syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin hafizhahullah.
Baca selengkapnya »
Jangan Sibuk Menumpuk Harta, Tinggalkan Dakwah

Jangan Sibuk Menumpuk Harta, Tinggalkan Dakwah

Dakwah itu Jihad.
Jihad itu butuh kerjasama.

Ada yang berjuang dengan Ilmu
Ada yang berjuang dengan Fisik
Ada yang berjuang dengan Harta.

Jika seluruhnya bersatu dengan tujuan yg sama, maka akan saling melengkapi dan menutupi kebutuhan masing-masing.

Para pengusaha berkata: Antum sibuk aja dengan Ilmu dan Dakwah, biar kita yang siapkan Biayanya.

Jangan Sibuk Menumpuk Harta, Tinggalkan Dakwah

Para penuntut Ilmu dan Da'i pun akan berkata : Antum berjuang dengan Harta, biar kami berjuang sekuat tenaga dengan Ilmu, agar Tegaknya Agama Allah nan mulia, agar sampainya dakwah ini ke seluruh pelosok bumi.

Sebuah kolaborasi yang Istimewa untuk membela dan memperjuangkan Agama Allah.

Namun jika yang berharta sibuk dengan hartanya sendiri, tidak peduli dengan dakwah, maka akhirnya yang berIlmu pun terpaksa sibuk dengan mencari harta, lalu siapa lagi yang akan berdakwah ?

Padahal Allah menciptakan manusia dengan kelebihan masing-masing agar saling membantu untuk ketakwaan.

Mari lihat diri kita, Sudah berapa besar pengorbanan kita untk dakwah ?
Berapa besar penghargaan kita terhadap Ilmu Agama ?

Seorang Muslim sejati tidak akan Menumpuk kekayaan, baginya harta hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhannya, selebihnya ia akan berjuang untuk nasibnya di akhirat.

Abu Akyas Hafzan Elhadi
Baca selengkapnya »
Petuah Ulama Bertemanlah Dengan Ahlus Sunnah...

Petuah Ulama Bertemanlah Dengan Ahlus Sunnah...

Berkata Abdul Aziz al-Baghdadi ( Budaknya al-Khollal ) rahimahumallah :

Orang yang paling pantas dijadikan sebagai sahabatmu ialah orang yang SEJALAN denganmu dalam hal SUNNAH.❗

Dan janganlah engkau menjadikan orang yang MENYELISIHIMU dalam perkara Sunnah sebagai sahabatmu meskipun ia adalah KARIB KERABATMU.

Sumber : Zadul Musafir 1/284
•••┈••••○❁❁○••••┈•••
Petuah Ulama Bertemanlah Dengan Ahlus Sunnah...

قال عبدالعزيز البغدادي (غلام الخلال) : « أولى الناس بالصحبة من وافقك في السنة ، ولا تصحب من خالفك في السنة وإن كان قريباً » [ زاد المسافر (284/1) ]
Baca selengkapnya »
Manusia Manakah Yang Paling Berat Ujiannya

Manusia Manakah Yang Paling Berat Ujiannya

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahuDari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً
“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

Manusia Manakah Yang Paling Berat Ujiannya

« الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »
“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.”

HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad (1/185).

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10)
Baca selengkapnya »
BERDOALAH MENYAMBUT RAMADHAN..

BERDOALAH MENYAMBUT RAMADHAN..

Mu'alla bin al-Fadhl rahimahullah berkata :

كَانُوْا يَدْعُوْنَ اللّٰهَ تَعَالَى سِتّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ رَمَضَانَ وَيَدٔعُوْنَهُ سِتَّةَ أَشٔهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَ مِنٔهُمْ
"Dahulu (para salaf) mereka berdoa selama 6 bulan agar mereka dipertemukan dengan bulan Ramadhan dan berdoa setelahnya 6 bulan agar amal ibadah mereka diterima" (Lathaa'iful Ma'aarif hal 148)

Diantara mereka seperti Yahya bin Abi Katsir (wafat 129 H) rahimahullah yang berdoa :

اَللّٰهُمَّ سَلِّمْنِيْ إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِيْ رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنِّيْ مُتَقَبَّلًا
"Ya Allah, sampaikanlah aku kepada bulan Ramadhan, dan sampaikanlah bulan Ramadhan kepadaku, dan terimalah amalku" (Lathaa'iful Ma'aarif hal 158)

BERDOALAH MENYAMBUT RAMADHAN..

Abdul Aziz bin Abir Rawwad al-Azdi al-Makki (wafat 159 H) rahimahullah berkata :

كان المسلمون يدعون عند حضرة شهر رمضان : اللَّهُمَّ أَظَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ وَحَضَرَ، فَسَلِّمْهُ لِي وَسَلِّمْنِي فِيهِ وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي، اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي صِيَامَهُ وَقِيَامَهُ صَبْرًا واحتِسَابًا، وَارْزُقْنِي فِيهِ الْجدّ والاجتِهَادَ وَالْقُوَّةَ وَالنَّشَاطَ، وَأَعِذْنِي فِيهِ مِنَ السآمَةِ وَالفَتْرة وَالْكِسَلِ وَالنُّعَاسِ، وَوَفِّقْنِي فيهِ لِلَيْلَةِ الْقَدْرِ، وَاجْعَلْهَا خَيْرًا لِي مِنْ أَلْفِ شَهْرِ
Dahulu kaum muslimin berdoa di saat bulan Ramadhan tiba :

Ya Allah, Ramadhan telah menghadap dan hadir. Karenanya, cerahkanlah Ramadhan untukku, dan sampaikanlah aku kepadanya, dan selamatkanlah aku (dari segala penghalang darinya) di bulan Ramadhan, serta terimalah amal-amal Ramadhan dariku...

Ya Allah, anugerahilah aku berpuasa padanya, dan sholat malam padanya, karena sabar dan mencari pahala. Anugerahilah aku padanya kegigihan, kesungguhan, kekuatan, dan semangat...

Lindungilah aku padanya dari rasa bosan, lemah semangat, malas, dan mengantuk...

Berilah aku taufik pada bulan itu untuk mendapatkan Lailatul Qadar, dan jadikanlah malam itu lebih baik bagiku dibandingkan 1000 bulan...

(Ath-Thabrani dalam ad-Du’aa no. 914, Abul Qasim al-Ashbahani dalam at-Targhib wat Tarhib no. 1784, dan Abdul Ghani al-Maqdisi dalam Akhbar ash-Shalah no. 129, sanadnya hasan sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh DR. Muhammad Sa’id al-Bukhari dalam tahqiq-nya terhadap Kitabud Du’aa hal 1227)
Kenapa mereka berdoa seperti itu...?

Karena mereka tahu keutamaan, keistimewaan dan kelebihan Ramadhan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan lainnya...

Karena mereka sangat rindu dan ingin kembali merasakan kenikmatan, kelezatan dan manisnya beribadah selama Ramadhan...

Karena mereka ingin mendapatkan ampunan dari segala dosa-dosa, sebagaimana bayi yang baru lahir dari kandungan ibunya...

Maka berdoalah menyambut Ramadhan...

✍ Ustadz Najmi Umar Bakkar

🌐 Channel Cahaya Sunnah
https://t.me/MuliaDenganSunnah
Baca selengkapnya »
-->