IBX5A47BA52847EF DakwahPost: sejarah
Buruknya Akhir Hayat pelaku Bidah nan zholim di masa Imam Ahmad bin Hambal

Buruknya Akhir Hayat pelaku Bidah nan zholim di masa Imam Ahmad bin Hambal

1. Ahmad bin Abi Duad

✖ Musuh pertama Ahlus Sunnah di jaman mihnah (ujian pernyataan kufur al-Qur'an makhluk-pent). Dialah yang menguji manusia dengan pernyataan al-Qur'an makhluk. Dan al-Imam Ahmad juga disiksa karena sebab dia.

Ketika Allah mengangkat mihnah (ujian) tersebut melalui Khalifah Mutawakkil, Mutawakkil merampas harta bendanya, lalu dia menjadi fakir. Allah menghinakannya setelah sebelumnya dia mulia dan bergelimang dosa.

kitab Siyar A'lamin Nubala'

Dia menua dan ditimpa penyakit lumpuh separuh. Abdul Aziz al-Kinani (dinisbahkan padanya Kitab al- Haidah) mengunjunginya di saat sakitnya. Lalu dia berkata padanya:
"Aku datang padamu bukan untuk menjengukmu, akan tetapi dalam rangka memuji Allah karena engkau terpenjara dalam kulitmu.¹"

Dia dan anaknya, Muhammad, mati setelah ditimpa malapetaka. Putranya lebih dahulu, kemudian sang ayah di bulan Muharram tahun 240 dan dimakamkan di negerinya, Baghdad.

2. Ibnuz Zayyat Abu Ja'far Muhammad bin Abdul Malik bin Aban

Dia berpendapat bahwa al-Qur'an adalah makhluk. Dia termasuk orang yang memusuhi al-Imam Ahmad rahimahullah. Ketika Allah mengangkat mihnah (ujian) tersebut melalui Khalifah Mutawakkil, Mutawakkil merampas hartanya dan menyiksanya.

Dahulu di masa jayanya, Ibnuz Zayyat pernah berkata:" Aku tidak pernah merasa kasihan pada seorang pun. Sifat belas kasih menandakan kelemahan tabiat seseorang."

Lalu dia dipenjara di penjara yang sempit. Di sekelilingnya terdapat paku-paku seperti jarum besar. Lalu dia pun menangis sembari berteriak:"Kasihanilah aku" Maka mereka (para penjaga) berkata:"Sifat belas kasih menandakan kelemahan tabiat seseorang."

Siyar A'lamin Nubala'
Thuwailibul 'Ilmisy Syar'i (TwIS)
Abu Abdillah Rahmat
Muraja'ah: al-Ustadz Kharisman Abu Utsman hafizhahullah

Catatan:

1. Artinya, tidak perlu dipenjara dalam suatu ruangan khusus, ia sudah terpenjara karena tidak bisa ke mana-mana akibat sakit. Justru penjaranya ada dalam kulitnya. (Ustad Kharisman)

Arabic

صورٌ مِن نهاياتِ الظالمين أهلِ البدعِ في زمانِ الإمامِ أحمدَ بنِ حنبل

1- أحمد بن أبي دؤاد

عدوّ أهل السنة الأول في زمان المحنة، كان يمتحن الناس بخلق القرآن، وعُذِّب الإمام أحمد بسببه.
لما رَفع اللهُ المحنة بالمتوكل، صَادَرَ المُتَوَكِّلُ أمواله، وَافتَقَرَ، فأذلَّهُ اللهُ بعد عزّةٍ وإثْمٍ.

شَاخَ وَرُمِيَ بِالفَالِجِ (الشلل النصفي) ، وَعَادَهُ عَبْدُ العَزِيْزِ الكِنَانِيُّ ( *المنسوب له كتاب الحيدة*) في مرضه، وَقَالَ: لَمْ آتِكَ عَائِداً، بَلْ لأَحْمَدَ اللهَ عَلَى أَنْ سَجَنَكَ فِي جِلْدِكَ.

مَاتَ هُوَ وَوَلَدُهُ مُحَمَّدٌ مَنْكُوْبَيْنِ، الوَلَدُ أَوَّلاً، ثُمَّ مَاتَ الأَبُ فِي المُحَرَّمِ، سَنَةَ أَرْبَعِيْنَ وَمائَتَيْنِ، وَدُفِنَ بِدَارِهِ بِبَغْدَادَ.

2- ابْنُ الزَّيَّاتِ أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بنُ عَبْدِ المَلِكِ بنِ أَبَانٍ

كان يقول بخلق القرآن، وكان من خصوم الإمام أحمد رحمه الله تعالى.
فلما رفع الله المحنة بالمتوكل، صَادَرَ المتوكلُ أمواله، وَعَذَّبَهُ.

كَانَ ابنُ الزيات في زمان عزّته يَقُوْلُ: مَا رَحِمتُ أَحَداً قَطُّ؛ الرَّحْمَةُ خَوَرٌ فِي الطَّبعِ.
فَسُجِنَ فِي قَفَصٍ حَرِجٍ، جِهَاتُه بِمَسَامِيْرَ كَالمَسَالِّ، فَكَانَ يَصِيحُ: ارْحَمُونِي.
فَيَقُوْلُوْنَ: الرَّحْمَةُ خَوَرٌ فِي الطَّبِيعَةِ.

السير للذهبي
Baca selengkapnya »
Meluruskan kekeliruan peristiwa Perang Paderi dan isu Wahabisme di Minangkabau

Meluruskan kekeliruan peristiwa Perang Paderi dan isu Wahabisme di Minangkabau

Berikut saya coba menyajikan secara singkat saja point-point penting tentang Islam, Perang Paderi dan isu Wahabisme di Minangkabau. Jika ingin mengetahui lebih detail saya akan pecah menjadi topik-topik tulisan jika diperlukan. Penjelasan dibawah ini bukan semata opini saya namun berangkat dari hasil kajian sejarah yang dilakukan para aktivis sejarah Minangkabau dari kalangan akademisi dan praktisi pada beberapa grup diskusi.

- Masuknya Islam ke Minangkabau. Menganggap Islam masuk ke Minangkabau sejak zaman Perang Paderi adalah satu kesalahan fatal dan bukti kemalasan membaca literatur. Wilayah Minangkabau adalah wilayah terbuka yang selalu terhubung dengan wilayah-wilayah lain di sekitarnya sejak zaman kejayaan Barus dan Sriwijaya. Islam dipercaya masuk ke Minangkabau sejak abad ke 7, tidak berapa lama terpaut dengan meninggalnya Nabi Muhammad Shallallahu alahi wa salam. Sriwijaya sendiri sudah didiami pedagang-pedagang Muslim sejak masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Sebagai wilayah perdagangan emas dan pala, kota-kota bandar di Sumatra telah berinteraksi dengan Islam sejak saat itu.

peristiwa Perang Paderi

- Agama Adityawarman. Adityawarman yang berayah Jawa Singashari dan beribu Malayu Dharmasraya menikahi putri penguasa lokal Minangkabau yaitu Datuak Katumanggungan. Dia kemudian memperkenalkan konsep kerajaan pada masyarakat Minangkabau dengan mendirikan kerajaan Malayapura (Pagaruyung). Agama yang dianut Adityawarman adalah Budha Bhairawa.

- Agama Keturunan Adityawarman. Dua ratus tahun setelah berdirinya Pagaruyung pada tahun 1347, Islam menjadi agama resmi keluarga raja yaitu dengan naik tahtanya Sultan Alif pada tahun 1561. Sultan Alif ini masih ada kaitan keturunan dengan Adityawarman walaupun tidak dalam garis lurus. Gelar Sultan menunjukkan Raja Minangkabau saat itu sudah beragama Islam. Sejak saat itu pula nama Kerajaan secara resmi berubah menjadi Kerajaan Negeri Minangkabau. Pemerintahan bersifat Triumvirate yang dipegang 3 orang raja yaitu Raja Alam di Pagaruyung, Raja Adat di Buo dan Raja Ibadat di Sumpur Kudus. Keberadaan Raja Ibadat adalah untuk mengatur urusan agama.

- Syekh Burhanuddin Ulakan. Aliran Tasawuf berkembang di Aceh sebagai agama resmi negara seiring meningkatnya pamor Kesultanan Aceh. Pada awal tahun 1700-an muncul seorang ulama besar dari Ulakan-Pariaman yaitu wilayah Pantai Barat Minangkabau. Syekh Burhanuddin yang menuntut ilmu di Singkil, Aceh Selatan mendirikan Tarekat Syattariyah di Ulakan. Tarekat ini dengan segera memperoleh pengikut dalam jumlah besar hingga ke jantung kerajaan di Pagaruyung. Untuk satu abad ke depan, warna Syatariah inilah yang mendominasi Minangkabau dan menjadi cikal bakal Islam Tradisional di Minangkabau.

baca juga: TUDUHAN DENGAN ISTILAH WAHABI

- Konflik di Pagaruyung. Pada akhir tahun 1700-an terjadi persaingan politik di antara anak-anak Sultan Alam Muningsyah II, Raja Alam masa sebelumnya. Konflik ini lah yang menjadi cikal bakal instabilitas di Tanah Datar dan melatarbelakangi beberapa peristiwa pembunuhan di kalangan bangsawan Pagaruyung. Ada dua pihak yang berhadap-hadapan saat itu yaitu kelompok yang dipimpin oleh Raja Adat di Buo yang ingin menerapkan aturan Islam dan pihak Raja Alam di Pagaruyung yang bersekutu dengan Tuan Gadang Batipuah yang berkeinginan mempertahankan acara-acara judi, sabung ayam dan candu sebagai cara cepat mengisi kas negara.Perhatikan, kelompok pendukung aturan Islam dipimpin oleh Raja Adatsendiri, lalu kelompok mana yang kita kenal dengan Kaum Adat itu?

- Kepulangan Tiga Orang Haji dari Mekah. Sampai saat ini masih tidak ada kaitan antara kelompok Harimau Nan Salapan di Luhak Agam dan Pasaman dengan konflik internal kerajaan di pusat Minangkabau yaitu di seputaran Tanah Datar dengan Pagaruyung sebagai episentrum konfliknya. Kepulangan Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang dari Makkah yang sedang bergejolak oleh Revolusi Wahabi menjadi awal dari gerakan pemurnian agama di tingkat rakyat. Gerakan ini kemudian membesar dan menginginkan berdirinya sebuah negara Islam yaitu Darul Islam Minangkabau yang berpusat di Bonjol, Pasaman. Bonjol terletak jauh di utara Pagaruyung dan belum terkait dengan konflik Pagaruyung.

- Penyerahan Minangkabau kepada Belanda. Kembali kepada konflik internal Pagaruyung, di akhir cerita posisi Raja Alam semakin terdesak karena kelompok yang pro pemurnian agama dan anti kemaksiatan semakin kuat. Luhak Agam dan Luhak Tanah Datar lepas dari kendali kekuasaan Raja Alam. Khusus Luhak Agam, faktor Harimau Nan Salapan menjadi penting sebagai sebab berpindahnya dukungan masyarakat. Harimau Nan Salapan adalah Dewan Tuanku (pemimpin agama) yang beranggotakan delapan orang yang berasal dari Wilayah Luhak Agam, Pasaman, Rokan Riau dan Tapanuli Selatan.

- Tuanku Imam Bonjol merupakan anggota dari Harimau Nan Salapan. Lewat komunikasi politik, kelompok pendukung Raja Adat di Buo yang pro penerapan aturan Islam akhirnya bergabung dengan Harimau Nan Salapan. Posisi Raja Alam menjadi semakin terjepit dan akhirnya mengirim utusan ke Batavia untuk mengundang Belanda masuk ke Minangkabau. Raja Alam saat itu yaitu Sultan Tangkal Alam Bagagarsyah menyerahkan Minangkabau tanpa syarat kepada Belanda. Perlu diketahui, Minangkabau yang dimaksud adalah wilayah Dataran Tinggi Minangkabau di sebelah Timur Bukit Barisan. Belanda sebelumnya telah menguasai Padang (daerah pantai barat) sejak tahun 1600-an.

- Perang Paderi. Pasca penyerahan wilayah oleh Raja Alam, Belanda mengambil langkah cepat yaitu mendirikan dua benteng yaitu Fort de Kock di Bukittinggi dan Fort Van der Capellen di Batusangkar. Kelompok pendukung Raja Alam kemudian dipersenjatai untuk menyerang pusat pemerintahan Harimau Nan Salapan di Bonjol. Laskar pribumi ini adalah prajurit-prajurit Tuan Gadang Batipuah yang memang dikenal sebagai tukang onar.

baca juga: faktor ekonomi dan faktor politik dibelakang fitnah wahabi

Mereka dibantu oleh pasukan yang dibawa dari Jawa, Madura, Bugis, Ambon dan tentara bayaran dari India dan Afrika Barat, selain pasukan Belanda sendiri. Bonjol akhirnya jatuh dengan direbutnya benteng Daludalu. Namun Paderi belum takluk, mereka tetap melakukan perlawanan di wilayah Rokan, Riau dibawah pimpinan Tuanku Tambusai (salah satu anggota Harimau Nan Salapan)

- Benarkah ada Kaum Adat dan Kaum Agama serta Wahabi? Sejarah Nasional Indonesia yang ditulis oleh Nugroho Notosutanto menyederhanakan peristiwa diatas menjadi konflik antara kaum adat dan kaum agama (wahabi). Dasar penulisan sejarah ini adalah buku karangan seorang Orientalis Belanda yang anti Islam bernama Prof. JV Veth. Orang inilah yang pertama menggunakan istilah Wahabbi terhadap kelompok pendukung aturan Islam di Minangkabau. Dia pula yang memperkenalkan istilah Kaum Adat sebagai oposan dari Wahabi.

Namun logika ini tentu aneh, karena Raja Adat di Buo sendiri malah berpihak kepada kelompok Paderi. Perlu diketahui Raja Adat ini juga seorang Tuanku dengan gelar Sultan Sembahyang. Jadi bagaimana mungkin mengatakan bahwa kaum adat lah yang melakukan aktivitas judi, sabung ayam, minum tuak dan mengisap candu? Yang ada adalah sekelompok orang yang pro aktivitas maksiat tersebut dengan lindungan Raja Alam dan Tuan Gadang Batipuah. 

- Gerakan pemurnian agama di Minangkabau murni sebagai bentuk keresahan masyarakat atas merajalelanya maksiat. Sedangkan di kalangan bangsawan, ada unsur perebutan kekuasaan dengan latar belakang pandangan keagamaan. Sampai saat itu tidak ada kaitan sama sekali dengan Revolusi Wahabi di Hijaz.

- Gerakan Modernisme Islam tahun 1900-an. Terpaut seratus tahun setelah kecamuk perang Paderi yang meluluhlantakkan Minangkabau, muncullah gerakan pembaharuan agama yang dirintis oleh Haji Rasul, ayah dari Buya HAMKA. Saat ini spirit keagamaan yang berkembang adalah pemikiran-pemikiran Islam Kontemporer dari Mesir seperti pemikiran Muhammad Abduh, Jamaluddin al Afghani dan Rasyid Ridha. Nuansa Islam zaman ini selain gerakan modernisme agama juga memiliki agenda politik anti penjajahan.

Hal ini sejalan dengan mulai bangkitnya perlawanan terhadap penjajah di Mesir, India dan Indonesia. Gerakan inilah yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya gerakan pembaruan Minangkabau yang kemudian menyatukan diri dengan Muhammadiyah yang didirikan Ahmad Dahlan di Yogyakarta. Kemunculan gerakan ini menimbulkan gesekan dengan para penganut Islam Tradisional seperti tarekat Syattariah dan Naqsyabandi. Namun hanya sebatas debat-debat agama saja.

- Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Ada banyak versi tentang kelahiran konsensus ini, namun yang terbanyak diyakini adalah konsensus ini lahir di Puncak Bukit Marapalam dalam pertemuan islah antar pemimpin kelompok-kelompok yang bertikai dalam Perang Paderi. ABS-SBK disebut juga sebagai Piagam Bukit Marapalam. Sejak saat itulah berlaku ketentuan, Islam adalah agama orang Minangkabau dan sumber adat adalah syariat Islam, dengan konsekuensi keluar dari Islam maka dianggap bukan orang Minang lagi.

baca juga: ulama dan Tokoh dunia membantah konotatif dusta tentang penamaan wahabi

- Terpinggirnya ABS-SBK. Jika ABS-SBK benar-benar diterapkan, mungkin kita akan melihat wajah Minangkabau yang lain pada saat ini. Berkuasanya Belanda selama 100 tahun dari 1840 hingga 1940 di Minangkabau membuat cita-cita penerapan aturan Islam kandas. Belanda memperkuat penerapan Hukum Adat dengan menjadikan penghulu-penghulu nagari masuk kedalam struktur pemerintahannya serta menghambat perkembangan dakwah Islam. Oleh karena itu, Belanda amat memusuhi gerakan Modernisme Islam pada awal 1900-an karena bangkitnya Islam akan merugikan kepentingan Belanda.

Itulah sebagian serpihan tentang keberadaan Islam di Minangkabau yang amat kaya dalam variasinya. Islam di Minangkabau telah mengalami persinggungan dengan berbagai jenis aliran dan tarekat sejak Syatariah, Naqsyabandiah, Syafiiah, Pemurnian Agama, Modernisme bahkan Ahmadiyah. Jadi amat keliru jika menganggap Wahabisme lah paham keagamaan orang Minangkabau, apalagi dengan ditambah-tambahi dengan asumsi bahwa Wahabi adalah sebuah mazhab khusus atau malah sekte di luar Islam. Hakikat dakwah yang dibawa oleh para haji yang kembali dari Mekkah pada tahun 1800-an sebenarnya hanyalah mazhab Hanbali yang diakui sebagai salah satu dari empat mazhab resmi Ahlussunnah wal Jamaah.

Istilah Wahabi pada kenyataannya hanyalah istilah yang diciptakan oleh kolonialis untuk memberikan stigma negatif terhadap gerakan perlawanan yang tidak bisa mereka taklukkan. Silahkan ditelusuri sendir apa itu wahabi, karena bisa panjang bahasannya kalau diulas pula disini.

Semoga Bermanfaat.

oleh: Fadli Zulfadli

Kekeliruan istilah perang paderi

Menurut Dr Emeraldy Chatra (Pengajar di Jurusan Komunikasi FISIP Unand)

Istilah Perang Padri diciptakan oleh Prof Veth, seorang orientalis Belanda yang tidak pernah berkunjung ke Sumatera Barat. Ia hanya mengandalkan laporan-laporan pegawai dan tentara kolonial yang berada di medan perang.

Padri itu julukan Prof Veth untuk kaum Islam di Minangkabau. Jelas ini pengistilahan yang sangat keliru, karena asal kata padri adalah "padre"(Spanyol) yang berarti pendeta. Kaum Islam di Minangkabau tentu bukan pendeta.

Selama ini kita menjadikan cerita Veth sebagai rujukan tentang perang yang berkobar mulai 1809 sampai 1837 itu. Selain terdapat pengistilahan yang keliru, jalan cerita yang dikarang Veth juga amburadul.
Baca selengkapnya »
TRAGEDI HARRAH, musibah terburuk dalam sejarah kaum muslimin

TRAGEDI HARRAH, musibah terburuk dalam sejarah kaum muslimin

Seandainya ratusan ulama di negeri ini dibunuh dan kemudian diikuti dengan ribuan pembantaian kaum muslimin lainnya; bagaimana perasaan dan sikap kita ?. Marah ?. Pasti. Dan seperti itulah kemarahan kaum muslimin zaman dulu ketika terjadi tragedi Harrah. Tragedi yang meluluh-lantakkan Kota Madinah dengan genangan darah para shahabat dan taabi'iin serta perampasan harta. Diantara riwayat yang saya baca terkait tragedi Harrah, ada satu yang yang membuat takjub, yaitu apa yang direport oleh Naafi' :

جَاءَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ إِلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُطِيعٍ، حِينَ كَانَ مِنْ أَمْرِ الْحَرَّةِ مَا كَانَ زَمَنَ يَزِيدَ بْنِ مُعَاوِيَةَ، فَقَالَ: اطْرَحُوا لِأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ وِسَادَةً، فَقَالَ: إِنِّي لَمْ آتِكَ لِأَجْلِسَ أَتَيْتُكَ لِأُحَدِّثَكَ حَدِيثًا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُهُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا حُجَّةَ لَهُ، وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
Ibnu ‘Umar datang kepada Abdullah bin Muthii’ ketika terjadi tragedi Al-Harrah pada zaman Yaziid bin Mu’aawiyyah. Lalu 'Abdullah bin Muthii’ berkata : "Berikan kepada Abu 'Abdirrahmaan (yaitu Ibnu ‘Umar) sebuah bantal!". Ibnu 'Umar berkata : "Sesungguhnya aku tidak mendatangimu untuk duduk. Aku datang untuk menyampaikan sebuah hadits yang aku dengar dari Rasulullah ﷺ. Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda : 'Barangsiapa melepaskan tangan dari ketaatan (kepada penguasa), ia akan menjumpai Allah pada hari kiamat dalam keadaan tidak mempunyai hujjah (alasan) untuk membela diri. Dan barangsiapa mati sedangkan tidak ada (ikatan) bai’at di lehernya, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyyah" [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1851].

Jika kita ukur dengan timbangan gula orang zaman sekarang, perkataan Ibnu 'Umar radliyallaahu 'anhu ini sungguh sangat tidak populer. Ketika kaum muslimin Madinah menerima kabar pemimpinnya di Syaam minum khamr dan melakukan kemaksiatan, yang kemudian setelah itu mereka diblokade, diserang, dirampas hartanya, serta kaum muslimin dan ulama mereka dibantai; Ibnu 'Umar malah memberikan nasihat agar tetap mendengar dan taat kepada pemimpin dan tidak melakukan pemberontakan.

TRAGEDI HARRAH

Dalam riwayat lain dijelaskan, Ibnu 'Umar mendatangi Ibnu Muthii' di rangkaian malam saat terjadi tragedi Harrah. Dengan bahasa yang sering terbaca di media sosial, nasihat ini (dapat dianggap) sebagai nasihat yang 'tidak tepat waktu'. "Ya akhi,.... bukannya menyemangati, antum malah menggembosi, menganjurkan mendengar dan taat pada orang yang tak pantas menjadi pimpinan kita".

Tapi itulah 'Abdullah bin 'Umar, sosok pemberani yang tetap menyampaikan hadits yang ia dengar dari Rasululah ﷺ. Dan terbukti ketika tragedi Harrah telah lewat, apa yang dikatakan Ibnu 'Umar dari sabda Nabi ﷺ mengandung hikmah dan faedah yang luar biasa. Para ulama menuliskannya panjang lebar yang kemudian menjadi sebuah konsensus manhaj Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah.

Tragedi Harrah adalah pengalaman pahit dan dianggap salah satu musibah terburuk dalam sejarah kaum muslimin. Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran.

Al-Hasan Al-Bashriy rahimahullah berkata:


إِنَّ الْفِتْنَةَ إِذَا أَقْبَلَتْ عَرَفَهَا الْعَالِمُ، وَإِذَا أَدْبَرَتْ عَرَفَهَا كُلُّ جَاهِلٍ
“Sesungguhnya fitnah ketika ia datang, diketahui para ulama. Dan apabila fitnah telah berlalu, orang-orang jahil baru mengetahuinya” [Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul-Auliyaa’, 9/24].

Ustadz Dony Arif Wibowo
Baca selengkapnya »
KETIKA PKI MENEKAN ULAMA MEMINJAM TANGAN NEGARA

KETIKA PKI MENEKAN ULAMA MEMINJAM TANGAN NEGARA

Saya lahir ketika Orde Baru sedang mulai berkuasa, yang saya tahu, saat itu PKI, anggota, keluarga dan pengikutnya, sedang dikejar-kejar dari lubang semut sampai lubang buaya. Tetangga saya di-pulau-Buru-kan sepuluh tahun lamanya. Padahal di tahun 1960an, dia hanya orang-orang sederhana, yang karena takut pada PKI lalu ikut menjadi penggembira acaranya.

Memang ada jutaan orang yang di masa Orde Baru terdholimi,
baik yang masa lalunya dengan PKI membuat mereka dipersekusi.
Atau juga orang-orang kritis lain yang dengan asal dituduh subversi.
Sejatinya, kejahatan Orde Baru tidak berarti memutihkan dosa-dosa PKI.

Karena, jauh sebelum Orde Baru mengejar-ngejar PKI, justru PKI sudah biasa menekan dan membantai ulama di sana dan di sini, baik secara langsung, atau meminjam tangan negara dengan keji !!!

Zaman itu PKI juga sudah menyalahgunakan dasar negara.
Para ulama yang anti komunis, dituduh Anti Pantjasila.
Partai seberang, dibubarkan meminjam tangan penguasa.
Para pemimpinnya dipenjarakan, tanpa pengadlan tentu saja,
dan para pengikutnya dimusuhi dan dikejar sampai desa-desa.

Dan berikut ini adalah kesaksian tokoh ulama anti komunis di zaman itu, yang dipenjarakan sekian lama, PROF. BUYA HAMKA:
----------------------------------------------------------------------------------

Mari kita segarkan kembali ingatan kita, bahwa menegakkan kebenaran itu selalu penuh tantangan. Belum tentu yang tampak diikuti secara gegap gempita dengan segala kebesarannya adalah hal yang benar. Ulama sejati tidak boleh mundur menyuarakan kebenaran sekalipun kesesatan tampak bagai gelombang besar di hadapannya.

Pada tanggal 17 Agustus 1958, dengan suara yang gegap gempita, Presiden Soekarno telah mencela dengan sangat keras Muktamar (Konferensi) para Alim Ulama Indonesia yang berlangsung di Palembang tahun 1957. Berteriaklah Presiden bahwa konferensi itu adalah “komunis phobia” dan suatu perbuatan yang amoral.

Pidato yang berapi-api itu disambut dengan gemuruh oleh massa yang mendengarkan, terdiri dari parpol dan ormas yang menyebut dirinya revolusioner dan tidak terkena penyakit komunis phobia. Sebagaimana biasa pidato itu kemudian dijadikan sebagai bagian dari ajaran-ajaran Pemimpin Besar Revolusi, semua golongan berbondong-bondong menyatakan mendukung pidato itu tanpa reserve (tanpa syarat).

Malanglah nasib alim-ulama yang berkonferensi di Palembang itu, karena dianggap sebagai orang-orang yang kontra revolusi, bagai telah tercoreng arang. “Nasibnya telah tercoreng di dahinya”, demikian peringatan Presiden. Banyak orang yang tidak tahu apa gerangan yang dihasilkan oleh alim-ulama yang berkonferensi itu, karena disebabkan kurangnya publikasi (atau tidak ada yang berani) yang mendukung konferensi alim-ulama itu, publikasi-publikasi pembela Soekarno dan surat-surat kabar komunis telah mencacimaki alim-ulama kita.

Perlulah kiranya resolusi Muktamar Alim-Ulama ini kita siarkan kembali agar menyegarkan ingatan umat Islam dan membandingkannya dengan Keputusan Sidang MPRS ke IV yang berlangsung bulan Juli 1966 lalu.

KETIKA PKI MENEKAN ULAMA

Muktamar yang berlangsung pada tanggal 8 – 11 September 1957 di Palembang telah memutuskan bahwa :

1. Ideologi-ajaran komunisme adalah kufur hukumnya dan haram bagi umat Islam menganutnya

2. Bagi orang yang menganut ideologi-ajaran komunisme dengan keyakinan dan kesadaran, kafirlah dia dan tidak sah menikah dan menikahkan orang Islam, tiada pusaka mempusakai dan haram jenazahnya diselenggarakan (tata-cara pengurusan) secara Islam.

3. Bagi orang yang memasuki organisasi atau partai-partai berideologi komunisme, PKI, SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakyat dan lain-lain tiada dengan keyakinan dan kesadaran, sesatlah dia dan wajib bagi umat Islam menyeru mereka meninggalkan organisasi dan partai tersebut.

Demikian bunyi resolusi yang diputuskan oleh Muktamar Alim-Ulama Seluruh Indonesia di Palembang itu. Resolusi yang ditandatangani oleh Ketua K.H. M. Isa Anshary dan Sekretaris Ghazali Hassan. Karena resolusi yang demikian itulah para ulama kita yang bermuktamar itu dikatakan oleh Presidennya sebagai amoral (tidak bermoral/kurangajar).

Akibat dari keputusan Muktamar tersebut, alim-ulama kita yang sejati langsung dituduh sebagai orang-orang tidak bermoral, komunis phobia, musuh revolusi dan sebagainya. Maka K.H. M. Isa Anshary sebagai ketua yang menandatangani resolusi itu pada tahun 1962 dipenjarakan tanpa proses pengadilan selama kurang lebih 4 tahun. Dan banyak lagi alim-ulama yang terpaksa menderita dibalik jeruji besi karena dianggap kontra revolusi.

Terbengkalai nasib keluarga, habis segala harta-benda bahkan banyak di antara mereka memiliki anak yang masih kecil-kecil. Semua itu tidak menjadi pikiran Soekarno. Di samping itu, ada “ulama” lain yang karena berbagai sebab memilih tunduk tanpa reserve pada Soekarno dengan ajaran-ajaran yang penuh maksiat itu, bermesra-mesra dengan komunis di bawah panji Nasakom.

Bertahun lamanya masa kemesraan dengan komunis itu berlangsung di negara kita, dalam indoktrinasi, pidato-pidato Nasakom dipuji-puji sebagai ajaran paling tinggi di dunia. Dan ulama yang dipandang kontra revolusi yag telah memutuskan komunis sebagai paham kafir yang harus diperangi, dihina dan setiap pidato dan dalam setiap tulisan. Meskipun sang ulama sudah meringkuk dalam tahanan, namun namanya tetap terus dicela sebagai orang paling jahat karena anti Soekarno dan anti komunis.

Nasehat dan fatwa ulama yang didasarkan kepada ajaran-ajaran Al Qur’an, dikalahkan dengan ajaran-ajaran Soekarno melalui kekerasan ala komunis.

Rupanya Allah hendak memberi dulu cobaan bagi rakyat Indonesia. Kejahatan komunis akhirnya terbukti dengan Gestapu-nya. Allah mencoba dulu rakyat Indonesia sebelum Dia membuktikan kebenaran apa yang dikatakan oleh alim-ulama itu hampir sepuluh tahun lalu.

Sidang MPRS ke IV pun telah mengambil keputusan mengenai komunis dan ajaran-ajarannya sebagai berikut :

“Setiap kegiatan di Indonesia untuk menyebarkan atau mengembangkan paham atau ajaran Komunisme/Marxisme/Leninisme dalam segala bentuk dan manifestasinya, dan penggunaan segala macam aparatur serta media bagi penyebaran atau pengembangan paham atau ajaran tersebut adalah DILARANG”.

Dengan keputusan MPRS tersebut, apa yang mau dikata tentang alim-ulama kita yang dulu dikatakan amoral oleh Soekarno? Insya Allah para alim-ulama kita dapat melupakan semua penghinaan dan penderitaan yang dilemparkan kepada mereka. Dan sebagai ulama mereka tidak akan pernah bimbang walau perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan itu pasti akan beroleh ujian yang berat dari Tuhan.

Watak ulama adalah sabar dalam penderitaan dan bersyukur dalam kemenangan.

Ulama yang berani itu telah menyadarkan dirinya sendiri bahwa mereka itu adalah ahli waris para nabi.

Nabi-nabi banyak yang dibuang dari negeri kelahirannya atau seperti yang dialami Nabi Ibrahim a.s. yang dipanggan dalam api unggun yang besar bernyala-nyala, seperti Nabi Zakariya a.s. yang gugur karena digergaji dan lain-lain nabi utusan Allah.

Hargailah putusan Muktamar Alim-Ulama di Palembang itu, karena akhirnya kita semua telah membenarkannya. Bersyukurlah kita kepada Tuhan bahwa pelajaran ini dapat kita petika bukan dari menggali perbendaharaan ulama-ulama lama tapi hanya dalam sejarah 10 tahun yang lalu.

(Disarikan dari Kumpulan Rubrik Dari Hati ke Hati, Majalah Panji Mas dari 1967 – 1981, terbitan Pustaka Panji Mas hal 319)

Oleh: Prof. Dr. Ing. H Fahmi Amhar
Baca selengkapnya »
APAKAH NABI KITA HIDUP KAYA ATAU MISKIN?

APAKAH NABI KITA HIDUP KAYA ATAU MISKIN?

Periode kehidupan Nabi pernah diwarnai kecukupan bahkan kelebihan, namun juga pernah mengalami masa-masa kekurangan, dan kemiskinan. Saat kecil hingga meninggal, nuansa warna itu bercorak dalam kehidupan beliau.

Saat diasuh kakeknya, Abdul Muththolib, kehidupan beliau relatif berkecukupan. Abdul Muththolib dikenal kaya raya.

Saat diasuh Abu Tholib, sang paman, beliau hidup dalam kemiskinan. Karena secara finansial Abu Tholib memang kekurangan.

APAKAH NABI KITA HIDUP KAYA ATAU MISKIN?

Khodijah radhiyallahu anha, istri Nabi yang pertama, adalah seorang wanita kaya raya dan mulia. Banyak membantu Nabi dengan hartanya.

Namun, tidak sedikit periode kehidupan Nabi setelahnya yang diwarnai dengan kekurangan secara finansial, miskin. Tapi itu terjadi karena Nabi memilih demikian.

Jika Nabi mau, bisa saja Allah memperjalankan gunung-gunung emas dan perak bersama beliau:

وَاللهِ يَا عَائِشَةَ ! لَوْ شِئْتُ لَأَجْرَى اللهُ مَعِي جِبَالَ الذَّهَبِ وَ الْفِضَّةِ
Demi Allah wahai Aisyah, kalau aku mau, Allah bisa memperjalankan bersamaku gunung-gunung emas dan perak (H.R Ibnu Sa’ad dalam Thobaqot – Silsilah asShahihah)

Seandainya Nabi memiliki emas sebanyak atau sebesar gunung Uhud, beliau akan membagi-bagikannya sebagai infaq di jalan Allah. Hingga setelah berlalu hari yang ke-3, yang tersisa hanyalah dinar yang dipersiapkan untuk membayar hutang.

مَا يَسُرُّنِى أَنَّ لِى أُحُدًا ذَهَبًا تَأْتِى عَلَىَّ ثَالِثَةٌ وَعِنْدِى مِنْهُ دِينَارٌ إِلاَّ دِينَارٌ أُرْصِدُهُ لِدَيْنٍ عَلَىَّ
Tidaklah membuatku senang, jika aku memiliki emas sebesar Uhud, kemudian datang hari yang ketiga, sedangkan aku masih memiliki dinar (uang emas). Kecuali dinar itu aku persiapkan untuk membayar hutangku (H.R Muslim)

Tapi memang kehidupan Nabi bersama para istri beliau di Madinah, banyak diwarnai kekurangan secara finansial.

Pernah selama tidak kurang 2 bulan berturut-turut tidak ada makanan yang bisa dipanggang, dimasak, atau direbus di atas tungku api. Hanya makan kurma dan minum air saja. Silakan disimak kisah ibunda kaum beriman, Aisyah radhiyallahu anha:

وَاللَّهِ يَا ابْنَ أُخْتِي إِنْ كُنَّا لَنَنْظُرُ إِلَى الْهِلَالِ ثُمَّ الْهِلَالِ ثُمَّ الْهِلَالِ ثَلَاثَةَ أَهِلَّةٍ فِي شَهْرَيْنِ وَمَا أُوقِدَ فِي أَبْيَاتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَارٌ قَالَ قُلْتُ يَا خَالَةُ فَمَا كَانَ يُعَيِّشُكُمْ قَالَتْ الْأَسْوَدَانِ التَّمْرُ وَالْمَاءُ
Demi Allah wahai putra saudariku, kami pernah melihat hilal kemudian hilal kemudian hilal. Tiga hilal dalam 2 bulan. Tidak ada sesuatu (bahan makanan) yang dimasak (di atas api) di rumah-rumah Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. Aku (Urwah) berkata: Wahai bibi, dengan apa kalian hidup? Aisyah mengatakan: al-Aswadaan: kurma dan air (H.R al-Bukhari dan Muslim)

Nabi pernah masuk di pagi hari ke rumah Aisyah dan bertanya: Apakah ada makanan? Aisyah menjawab: Tidak ada. Nabi menyatakan: Kalau begitu, aku berpuasa (H.R Muslim)

Rumah yang ditinggali Aisyah demikian sempit. Hanya satu kamar yang cukup untuk tidur berdua. Saat Nabi sholat malam, Aisyah masih tidur di depan beliau, tidak memungkinkan untuk Nabi bersujud karena terhalang kaki Aisyah. Maka Nabi pun menyentuh kaki Aisyah memberi isyarat agar ditarik, sehingga Nabi bisa meletakkan dahi beliau. Rumah beliau juga gelap tanpa penerangan.

Aisyah radhiyallahu anha berkata:

...وَرِجْلَايَ فِي قِبْلَتِهِ فَإِذَا سَجَدَ غَمَزَنِي فَقَبَضْتُ رِجْلَيَّ وَإِذَا قَامَ بَسَطْتُهُمَا قَالَتْ وَالْبُيُوتُ يَوْمَئِذٍ لَيْسَ فِيهَا مَصَابِيحُ
...dan kedua kakiku berada di kiblat beliau. Jika beliau akan sujud, beliau menyentuh aku sehingga aku tarik kakiku. Jika beliau berdiri, aku menjulurkan kedua kaki lagi. Pada waktu itu rumah-rumah (istri Nabi) tidak memiliki lampu (H.R Muslim)

Nabi shollallahu alaihi wasallam meninggal dunia dalam keadaan baju perang beliau tergadaikan pada seorang Yahudi, untuk mendapatkan 30 sho’ gandum sebagai makanan sehari-hari.

تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَدِرْعُهُ مَرْهُونَةٌ عِنْدَ يَهُودِيٍّ بِثَلَاثِينَ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ
Rasulullah shollallahu alaihi wasallam meninggal dunia dalam keadaan baju besi beliau tergadaikan pada seorang Yahudi dengan imbalan 30 sho’ gandum (H.R al-Bukhari).

Nabi kita adalah teladan dalam berbagai keadaan. Saat beliau berkecukupan, kehidupannya adalah teladan. Saat beliau kekurangan, beliau juga uswah. Saat senang atau sedih. Dalam seluruh sendi kehidupan.

Kekayaan bukanlah tercela, jika digunakan di jalan Allah. Kemiskinan bukanlah hina, jika dijalani dengan kesabaran dan iffah.

Sahabat Nabi ada juga yang kaya, namun lebih banyak lagi yang miskin. Mereka semua adalah teladan pula dalam kebaikan.

Para Ulama berbeda pendapat tentang manakah yang lebih utama antara orang kaya yang bersyukur atau orang miskin yang bersabar. Namun kesimpulan pendapat yang rajih – insyaAllah- yang terbaik adalah orang yang berbuat secara benar sesuai keadaan dia saat itu. Jika ia ditakdirkan kaya, ia bersyukur. Jika ia ditakdirkan miskin, ia bersabar.

Mungkin saat ini kita kaya, bukan berarti sisa kehidupan kita akan terus demikian. Mungkin juga saat ini kita kekurangan, bukan berarti episode hidup tersebut akan berlanjut demikian tanpa henti.

Bersikaplah dalam bimbingan Sunnah Nabi. Jika miskin, jangan iri dengki pada yang kaya. Turut bersyukur saudara kita berkelimpahan. Kita senang sebagaimana saudara kita merasakan kesenangan itu. Jika kaya, jangan pelit berbagi dengan sesama. Jangan merasa lebih tinggi dan mulia di sisi Allah dibandingkan yang miskin.

Yang kaya jangan merasa bangga dengan memiliki keutamaan melebihi yang lain pada hari kiamat. Kalaupun kita ditakdirkan meninggal dalam keadaan kaya, ingatlah, bisa jadi seandainya pun kita diberi rahmat Allah ke dalam Surga-Nya, proses menuju ke dalamnya tidaklah dalam waktu yang singkat. Orang-orang miskin yang beriman akan lebih dahulu masuk jauh sebelum kita. Karena orang kaya masih sibuk mempertanggungjawabkan dari mana hartanya didapat, ke mana disalurkan.

يَدْخُلُ الْفُقَرَاءُ الْجَنَّةَ قَبْلَ الْأَغْنِيَاءِ بِخَمْسِ مِائَةِ عَامٍ نِصْفِ يَوْمٍ
Orang-orang fakir masuk ke Surga sebelum orang-orang kaya sejauh 500 tahun, (yaitu) setengah hari (di akhirat, pent) (H.R at-Tirmidzi)

قُمْتُ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَكَانَ عَامَّةَ مَنْ دَخَلَهَا الْمَسَاكِينُ وَأَصْحَابُ الْجَدِّ مَحْبُوسُونَ 
Aku berdiri di dekat pintu Surga, mayoritas orang yang memasuki Surga adalah orang-orang miskin, sedangkan orang-orang kaya tertahan (untuk hisab) (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Usamah)

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan pertolongan, taufiq, dan kemudahan pada segenap kebaikan dalam sisa kehidupan kita...

(Abu Utsman Kharisman)
turut publikasi : Salafy Cirebon
Baca selengkapnya »
Keluarga Kami Dulu Diincar PKI

Keluarga Kami Dulu Diincar PKI

Keluarga Nauman Djamil Datuk Mangkuto Ameh, salah satu leluhur kami dari sisi trah Minangkabau, yang saat itu anti PKI dan Wakil Gubernur Riau di masa-masa Pemberontakan PKI ketiga di tahun 1965, dulu juga diincar, ditandai PKI.

Bahkan satu malam, saat beliau sakit, di masa-masa pemberontakan PKI ketiga tahun 1965 itu, para penjaga, sahabat, dan kerabat keluarga kami melihat di ujung jalan rumah kami di jalan Gajah Mada, Pekanbaru, ada Truk berisikan banyak orang, berhenti. Lalu ada beberapa orang turun. Cepat-cepat para penjaga memberitahu pak Datuk, dan menukar pak Datuk dengan seseorang di tempat tidurnya.

Keluarga Kami Dulu Diincar PKI

Benar, mereka lalu masuk ke halaman rumah. Dan saat ditanya hendak perlu apa malam-malam datang, mereka berkata hendak membezuuk pak Datuk. Namun ternyata mereka juga membawa senjata tajam setelah diperiksa. Maka mereka diminta meninggalkan senjata tajamnya di luar rumah. Dan mereka pun diperbolehkan masuk ke rumah dan kamar pak Datuk bersama para sahabat dan penjaga rumah itu.

Herannya, mereka rupanya tidak tahu bahwa yang di kamar atau di tempat tidur itu, bukanlah pak Datuk. Sementara pak Datuk ada di sana menyaksikan ini, berdiri, tak jauh dari tempat tidur 'si sakit' itu.

Setelah berbasa-basi sebentar, mereka pun lantas pergi.

Dan setelahnya, kerabat diamankan, dan penjagaan diperketat.

Di Jawa Timur, adik ipar pak Datuk, adik dari nenek kami H. Sotina Tianor, yakni Ir. H. Sotion Ardjanggi, yang saat itu adalah Direktur P.T. Semen Gresik (*) juga diincar di rumahnya, di Jl. Awikoen, Kompleks Semen Gresik, Gresik.

(*) Pak Sotion di kemudian hari selain menjadi Direktur P. T. Pusri, Dirjen Aneka Industri Kabinet Pembangunan IV, anggota DPR, MPR, dll., juga adalah mertua dari Prof. DR. H. Dien Samsudien, yang juga dikenal sebagai mantan Ketua Umum PP "Muhammadiyah" dan Ketum MUI Pusat, salah seorang 'ulama senior, dll.

Ibu saya dan kerabatnya yang saat itu di sana, di rumah Awikoen, melihat orang-orang yang tak dikenal mengintai dari pepohonan. Maka kerabat pun lebih diamankan, dan penjagaan pun diperketat pula.

Alhamdulillaah sampai masa-masa PKI diperangi, dilarang Tap MPR RI, usaha ini semua tak pernah berhasil.

Demikianlah cerita keluarga kami, dikisahkan, diingatkan di antara kami, turun-temurun.

Kini, meniliki segala keadaan, kiranya waspadalah.

Kini kiranya, kader Neo mereka pun tak hanya sendirian. Para Munafiquun, Kafiruun, Syi'ah, dkk. terbukti bersama mereka di berbagai belahan dunia. 'Iraq, Suriah, Yaman, Libanon, setidaknya, adalah contoh nyata. Belum lagi persekutuan pragmatis mereka dengan kaum lainnya.

Berbagai Bisyaroh (pemberitahuan akan masa depan) dari Hadits, juga mengisyaratkan hal-hal yang pantas diwaspadai kaum beriman. Dan memang satu per satu terjadi.

Dan tentu saja kekayaan alam Nusantara Indonesia tak mungkin diabaikan oleh mereka, kaum yang serakah keduniawian. Dan menghalalkan segala cara. Kaum yang tidak percaya akan Kehidupan Akhirah, Surga, dan Neraka.

Dan sungguh, ingatlah, ini memanglah Masa-masa Akhir Jaman.

Keangkaramurkaan pasti datang, dan tentu dilawan oleh kaum yang beriman.

Puncaknya, bersama Rosuululloh 'Isa (Esau, Yeshua) bin Maryaam Al Masih - 'alaihis salaam - dan Al Imaam Al Mahdi, kaum yang beriman pewaris ajaran 124.000 nabi dan rosul Tauhiid sejak awal jaman pasti - in syaa Allah, sesuai janjiNya - memenangkannya. Dan juga menyelamatkan, menyejahterakan, menenteramkan seluruh makhluk dunia di masa puncak Akhir Jaman.

Sampai masa Kehidupan berikutnya.

Fa bi ayyi 'alaa'i Robbikuma tukadzibaan?

Alhamdulillaah.

Abu Taqi Mayestino (A. Machicky Mayestino Triono Soendoro)
Baca selengkapnya »
Apa benar Kitab al-Ibaanah karya al-Imam Abul Hasan al-Asy'ary?

Apa benar Kitab al-Ibaanah karya al-Imam Abul Hasan al-Asy'ary?

Simak uraian berikut:

Imam Ibn Katsir dan Imam adz-Dzahabi rahimahumallah menjelaskan bahwa al-Imam abul Hasan al-Asy'ary memiliki 3 fase pemikiran:

Pertama: beliau berpahaman mu'tazilah dan menafikan semua sifat-sifat Allah

Kedua: beliau bergeser dari mu'tazilah Menuju fase Transisi, sebagian keyakinan beliau sesuai dengan akidah salaf, dan sebagian yang lain masih menyelisihi aqidah salaf, beliau menetapkan 7 sifat aqliyah: hidup, ilmu, kekuasaan, keinginan, pendengaran, penglihatan dan kalam, akan tetapi di sisi lain beliau masih metakwil sifat khobariyah, seperti: wajah, tangan, telapak kaki, betis dan selainnya.

Ketiga; beliau rujuk kembali ke madzhab salaf, menetapkan semua sifat Allah tanpa membagaimanakannya dan tanpa menyerupakannya, hal ini selaras dengan pemahaman para salaf, dan ini adalah metode yang beliau tempuh dalam kitabnya Al-IBANAH, kitab terakhir beliau.

3 fase pemikiran di atas bisa dilacak dalam kalimat Imam Ibn Katsir berikut ini

‎(ذكروا للشيخ أبي الحسن الأشعري ثلاثة أحوال:
‎أولها حال الانعزال التي رجع عنها لا محالة.
‎والحال الثاني إثبات الصفات العقلية السبعة، وهي الحياة، والعلم، والقدرة، والإرادة، والسمع، والبصر، والكلام. وتأويل الخبرية كالوجه واليدين والقدم والساق ونحو ذلك .
‎والحال الثالث إثبات ذلك كله من غير تكييف ولا تشبيه جرياً على منوال السلف وهي طريقته في الإبانة التي صنفها آخراً.))

Al-Imam Ibn Katsir, Thabaqat asy-Syafi'iyyin (al-Manshurah: Dar al-Wafa', 2004), hal. 210

Kitab al-Ibaanah karya al-Imam Abul Hasan al-Asy'ary

Dan juga ucapan Imam adz-Dzahabi berikut:

‎فله ثلاثة أحوال :حال كان معتزلياوحال كان سنيا في بعض دون البعض وحال كان في غالب الأصول سنيا وهو الذي علمناه من حاله))
Imam adz-Dzahabi, Kitab al-Arsy (Madinah: imadah Bahst ilmy, 2003), hal. 400
Imam al-Alusy juga berkata:

‎منهم الامام ابو الحسن الأشعري فأن آخر أمره الرجوع إلى ذلك المذهب الجليل بل الرجوع إلى ما عليه السلف في جميع المعتقدات قال في كتابه (الإبانة) الذي هو آخر مؤلفاته : ‎(( الذي نقول به وديانتنا التي ندين بها التمسك بكتاب الله تعالى وسنّة نبيّه صلى الله عليه وسلم وما روي عن الصحابة والتابعين وأئمة الحديث ونحن بذلك معتصمون وبما كان عليه أحمد إبن حنبل نضر الله تعالى وجهه ))
Dan di antara mereka adalah al-Imam Abul Hasan al-Asy'ary, sesungguhnya beliau di akhir umurnya, telah rujuk menuju madzhab yang agung bahkan beliau kembali kepada madzhab para salaf dalam seluruh perkara aqidah, beliau berkata dalam kitab AL-IBAANAH yang merupakan akhir karya beliau:

" Pendapat yang kami pegang dan agama yang dengannya kami beragama adalah berpegang teguh dengan kitabullah ta'ala dan sunnah nabi shallahu alaihi wasallam, serta apa saja yang diriwayatkan dari para shahabat, tabi'in dan imam-imam ahl Hadits, kami berpegang teguh dengan yang demikian itu dan dengan apa yang dipegang oleh imam Ahmad bin Hanbal semoga Allah menjadikan indah wajah beliau.. (Imam al-Aluusy, Gharaib al-Ightirab, hal: 189).

Kesimpulan

1.Al-Imam Abul Hasan al-Asy'ary telah rujuk kepada pemahaman salaf dalam seluruh perkara aqidah, sebagaiman telah disebutkan oleh imam Ibnu katsir, adz-dzahabi, Al-Aluusy dll.

2. Penjelasan rujuknya beliau ke madzhab salaf beliau tuangkan dalam kitab al-Ibaanah sebagaimana yang dijelaskan ibnu Katsir, al-Aluusy dll. Ini juga sekaligus bantahan bagi orang yang mengingkari bahwa Al-IBANAH adalah karya al-Imam Abul Hasan al-Asy'ary.

3. Al-IBAANAH adalah karya terakhir al-Imam Abul Hasan al-Asy'ary rahimahullah

Wallahu a'lam

(Ustadz Fadlan Fahamsyah, dosen STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya)
Baca selengkapnya »
Membantah Istilah Wahabi Dan Konotasi Buruknya

Membantah Istilah Wahabi Dan Konotasi Buruknya

PERNYATAAN DARI para ustadz di PAGI FB (Perkumpulan Administrator Grup Islam FB): 🌍 SEKELUMIT BANTAHAN ISTILAH DAN KONOTASI BURUK BOHONG 'WAHHABI' DARI BEBERAPA 'ULAMA DAN TOKOH SERTA ORGANISASI DUNIA DAN LAIN-LAIN 📚🌺

Bismillahirrohmaanirrohiim.

🔹 (A) PERNYATAAN BANTAHAN PARA 'ULAMA DAN TOKOH DUNIA

1. Syaikh Mas’ud An-Nadawy dari India berkata:

“Sesungguhnya adalah kebohongan yang amat nyata yang dituduhkan terhadap dakwah Islam dari Syaikh Muhammad bin 'Abdul Wahhab, penamaannya dengan 'Wahhabi', tetapi bahkan orang-orang yang rakus berusaha mempolitisir nama tersebut (menjadi) sebagai agama di luar Islam.

Lalu Inggris dan Turki (*) serta Mesir (+) bersatu untuk menjadikannya sebagai lambang yang menakutkan, yang mana setiap muncul kebangkitan Islam di berbagai negeri, lalu orang-orang Eropa melihat akan membahayakan mereka, mereka lalu menghubungkannya dengan 'Wahhabi', sekalipun keduanya saling bertentangan.”

(Muhammad bin Abdul 'Wahhab Mushlih Mazhluum, hal: 165)

(*) Turki di masa Sekuler di bawah rezim Kemal Ataturk.
(+) Mesir saat dijajah Inggris.

2. Syaikh Muhammad Syukri Al 'Alusy berkata, setelah beliau menyebutkan berbagai tuduhan bohong yang disebarkan oleh musuh-musuh terhadap dakwah Tauhid dan pengikutnya:

“Seluruh tuduhan tersebut adalah kebohongan, fitnah dan dusta semata dari musuh-musuh mereka, dari golongan pelaku bid’ah dan kesesatan, bahkan kenyataannya seluruh perkataan dan perbuatan serta buku-buku mereka menyanggah tuduhan itu semua.”

(al Alusy, Tarikh Nejd, hal: 40). Beliau adalah 'ulama besar Ahlus Sunnah 'Iraq.

3. Begitu pula Raja 'Abdul 'Aziz dalam sebuah pidato yang beliau sampaikan di kota Makkah di hadapan jamaah haji tanggal 11 Mei 1929 M dengan judul “Inilah 'Aqidah Kami”:

"Mereka menamakan kami sebagai orang-orang 'Wahhabi', mereka menamakan madzhab kami 'Wahhabi', dengan anggapan ini adalah madzhab khusus.

Ini adalah kesalahan yang amat keji, muncul dari isu-isu bohong yang disebarkan oleh orang-orang yang mempunyai tujuan tertentu (yang buruk), dan kami bukanlah pengikut madzhab dan 'aqiidah baru.

Muhammad bin 'Abdul Wahhab tidaklah membawakan sesuatu yang baru. 'Aqiidah kami adalah 'aqiidah kaum Salafush Sholih (kaum Pendahulu Yang Salih), yaitu yang terdapat dalam kitab Allah dan Sunnah Rosul-Nya, serta apa yang menjadi pegangan kaum Salafush Sholih.

Kami memuliakan Imam-imam Yang Empat, kami tidak membeda-bedakan antara Imam-imam Malik, Syafi’i, Ahmad, dan Abu Hanifah. Seluruh mereka adalah orang-orang yang dihormati, dalam pandangan kami. Sekalipun kami dalam masalah (Madzhab) Fiqh berpegang dengan Madzhab (Fiqh) Hambaly.”

(al Wajiz fi Sirah Malik 'Abdul 'Aziz, hal: 216)

4. Syaikh/Buya Prof. DR. HAMKA, Ketua Umum yang pertama dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), seorang tokoh 'ulama dari unsur Organisasi Islam RI tertua yang masih ada yakni "Muhammadiyah" (aktif sejak tahun 1912 di D. I. Yogyakarta), seorang pejuang kemerdekaan RI yang juga pujangga nasional, menulis dalam bukunya yang berjudul "Dari Perbendaharaan Lama":

Di Minangkabau timbullah gerakan yang dinamai “Kaum Muda.”

Di Jawa datanglah K. H. Ahmad Dahlan dan Syekh Ahmad Soorkati (Syaikh Ahmad Surkati Al Anshori - Red.). K. H. Ahmad Dahlan mendirikan “Muhammadiyah.”

Syekh Ahmad Soorkati dapat membangun semangat baru dalam kalangan orang-orang Arab.

Ketika dia mulai datang, orang Arab belum pecah menjadi dua, yaitu Ar Rabithah 'Alawiyyaah (kelompok yang mengklaim dirinya adalah keturunan 'Alawiyyiin/Ali bin Abi Tholib RA seperti kaum Habib, Sayyid, Syarif. - Red.), dan Al-'Irsyad (kaum Masyaikh, Arab yang non-'Alawiyyiin). Bahkan yang mendatangkan Syekh itu ke mari (tadinya) adalah dari kalangan yang kemudiannya membentuk Ar-Rabithah Alawiyyaah.

Musuhnya dalam kalangan Islam sendiri, pertama ialah Kerajaan Turki. Kedua Kerajaan Syarif (yang mengaku sebagai keturunan Nabi/Ahlul Bait. - Red.) di Mekkah, ketiga Kerajaan Mesir. 'Ulama-ulama pengambil muka mengarang buku-buku buat “mengafirkan” Wahabi.

Bahkan ada di kalangan 'Ulama itu yang sampai hati mengarang buku mengatakan bahwa Muhammad bin 'Abdul Wahhab pendiri faham ini adalah keturunan (dari) Musailamah Al Kahzab (Sang Pembohong di masa pemerintahan Khulafahur Rosyidiin para Shahabah Nabi, padahal sesungguhnya Syaikh Muhammad bin 'Abdul Wahhab adalah keturunan dari Bani Tamim - Red.)!

Pembangunan 'Wahhabi' pada umumnya adalah bermazhab Hambali, tetapi faham itu juga dianut oleh pengikut Mazhab Syafi’i, sebagai kaum 'Wahhabi Minangkabau'.

Dan juga penganut Mazhab Hanafi, sebagai kaum 'Wahhabi' di India.

Sekarang 'Wahhabi' dijadikan alat kembali oleh beberapa golongan tertentu untuk menekan semangat kesadaran Islam yang bukan surut ke belakang di Indonesia ini, melainkan kian maju dan tersiar.

Kebanyakan orang Islam yang tidak tahu di waktu ini, yang dibenci bukan lagi pelajaran 'Wahhabi', melainkan (adalah) nama "'Wahhabi'".

Ir. Dr. Sukarno dalam “Surat-Surat dari Endeh”nya kelihatan bahwa fahamnya dalam agama Islam adalah banyak mengandung anasir (pengaruh) 'Wahhabi'.

Kaum komunis Indonesia telah mencoba menimbulkan sentiment Ummat Islam dengan membangkit-bangkit nama 'Wahhabi'.

Padahal seketika terdengar kemenangan gilang-gemilang yang dicapai oleh Raja 'Wahabi' 'Ibnu Saud, yang mengusir kekuasaan keluarga Syarif ('Alawiyyiin) dari Mekkah, Umat Islam mengadakan Kongres Besar di Surabaya dan mengetok kawat mengucapkan selamat atas kemenangan itu (1925).

Sampai mengutus dua orang pemimpin Islam dari Jawa ke Mekkah, yaitu H. O. S. Cokroaminoto dan K. H. Mas Mansur. Dan Haji Agus Salim datang lagi ke Mekkah tahun 1927.

Karena tahun 1925 dan tahun 1926 itu belum lama, baru lima puluh tahun lebih saja, maka masih banyak orang yang dapat mengenangkan bagaimana pula hebatnya reaksi pada waktu itu, baik dari pemerintah penjajahan, walau dari Umat Islam sendiri yang ikut benci kepada 'Wahhabi', karena hebatnya propaganda (dari) Kerajaan Turki dan 'Ulama-ulama pengikut Syarif.

Sekarang Pemilihan Umum (RI) yang pertama sudah selesai (tahun 1955 - Red.). Mungkin menyebut-nyebut “Wahhabi” dan membusuk-busukkannya ini akan disimpan dahulu untuk Pemilihan Umum yang akan datang.

Dan mungkin juga propaganda ini masuk ke dalam hati orang, sehingga gambar-gambar “Figur Nasional,” sebagai Tuanku Imam Bonjol dan K. H. Ahmad Dahlan diturunkan dari dinding (karena dituding, dimaki, sebagai 'Wahhabi' - red.).

Dan mungkin perkumpulan-perkumpulan yang memang nyata kemasukan faham 'Wahhabi' seperti Muhammadiyah, Al-Irsyad, Persis dan lain-lain diminta supaya dibubarkan saja.

Kepada orang-orang yang membangkit-bangkit bahwa pemuka-pemuka Islam dari sumatera yang datang memperjuangkan Islam di Tanah Jawa ini adalah penganut atau keturunan kaum Wahhabi, kepada mereka orang-orang dari Sumatera itu mengucapkan banyak-banyak terima kasih!

Sebab kepada mereka diberikan kehormatan yang begitu besar!

Sungguh pun demikian, faham 'Wahhabi' bukanlah faham yang dipaksakan oleh Muslimin, baik mereka 'Wahhabi' atau tidak. Dan masih banyak yang tidak menganut faham ini dalam kalangan Masyumi (*)

Tetapi pokok perjuangan Islam, yaitu hanya takut semata-mata kepada Allah dan anti kepada segala macam penjajahan, termasuk Komunis, adalah anutan dari mereka bersama!”

(*) "Masyumi" adalah Majelis Syuro Muslimin Indonesia, persekutuan antara Muhammadiyah, Al 'Irsyad, Persis dan simpatisannya yang memenangkan Pemilu tahun 1955 dan dikenal anti Takhayul, Bid'ah, Khurofat, Komunisme, dsb. - Red.).

5. Surat-surat DR. Ir. Ahmad Sukarno (Presiden RI) kepada Syaikh (Tuan) A. Hasan, 'Ulama Indonesia dari unsur Organisasi Islam Persis (Persatuan Islam):

Endeh, 1 Desember 1934

Assalamu’alaikum,

Jikalau saudara memperkenankan, saya minta saudara mengasih hadiah kepada saya buku-buku yang tersebut berikut ini: Pengajaran Sholat, Utusan Wahabi, Al-Muctar, Debat Talqien. Al-Burhan Complete, Al-Jawahir.

Kemudian, jika saudara bersedia, saya minta sebuah risalah yang membicarakan soal “sajid” (kalangan Sayyid atau Habaib atau Syarif - Red.). Ini buat saya bandingkan dengan alasan-alasan saya sendiri tentang hal ini.

Membantah Istilah Wahabi Dan Konotasi Buruknya

Walaupun Islam zaman sekarang menghadapi soal yang beribu-ribu kali lebih besar dan lebih rumit dari pada soal “sajid” (*) itu, tetapi toch menurut keyakinan saya, salah satu kejelasan Islam Zaman sekarang ini, ialah pengeramatan manusia yang menghampiri kemusrikan itu.

(*) Kaum Sayyiid atau 'Alawiyyiin, termasuk Habaib dan Syarif. - Red.

Alasan-alasan kaum “sajid” misalnya, mereka punya “brosur kebenaran” (yang mengklaim ketinggian derajat kaum Sayyiid, Syarif, Habaib secara mutlak dibandingkan seluruh Muslimiin lain - Red.), saya sudah baca, tetapi tidak bisa menyakinkan saya.

Tersesatlah orang yang mengira, bahwa Islam mengenal satu “Aristokrasi Islam” (macam klaim Sayyiid di atas - Red.)

Tiada satu agama yang menghendaki kesamarataan lebih daripada Islam.

Pengeramatan manusia itu adalah salah satu sebab yang mematahkan jiwa suatu agama dan umat, oleh karena pengeramatan manusia itu melanggar tauhid. Kalau Tauhid rapuh, datanglah kebathilan!

Sebelum dan sesudahnya terima itu buku-buku yang saya tunggu-tunggu benar, saya mengucapkan terimakasih.

Wassalam,

Soekarno

Di surat lain kepada Syaikh A. Hasan:

Endeh, 12 Juli 1936
...

Buat menganjal saya punya rumah tangga yang kini kesempitan, saya punya onderstand dikurangi, padahal tadinya sudah sesak sekali buat mempelajari segala saya punya keperluan, maka sekarang saya lagi asyik mengerjakan terjemahan sebuah buku Inggris yang mentarikhkan Ibnu Saud. Bukan main hebatnya ini biografi!

Bagi saya buku ini bukan saja satu ikhtiar ekonomi, tetapi adalah pula satu pengakuan, satu confenssion. Ia menggambarkan Ibnu Saud dan Wahhabism begitu rupa, mengkobar-kobarkan elemen amal, perbuatan begitu rupa hingga banyak kaum ‘tafakur’ (Sufi atau Tasawuf. - Red.) dan kaum pengeramat Husain c.s (kaum Syi'ah dan Habaib, Sayyid, Syarif. - Red.) akan kehilangan akal nanti sama sekali.

Dengan menjalin ini buku, adalah suatu confenssion bagi saya bahwa, walaupun tidak semua mufakat tentang system Saudisme yang juga masih banyak feudal itu, toch menghormati dan kagum kepada pribadinya itu yang “toring above all moslems of his time; an Immense man, tremendous, vital, dominant. A giant thrown up of the chaos and agrory of the desert, to rule, following the example of this great teacher, Mohammad”.

Selagi menggoyangkan saya punya pena buat menterjemahkan biografi ini, jiwa saya ikut bergetar karena kagum kepada pribadi orang yang digambarkan. What a man!

Mudah-mudahan saya mendapat taufik menjelaskan terjemahan ini dengan cara yang bagus dan tak kecewa. Dan mudah-mudahan nanti ini buku, dibaca oleh banyak orang Indonesia, agar bisa mendapat inspirasi daripadanya.

Sebab, sesungguhnya buku ini penuh dengan inspirasi. Inspirasi bagi kita punya bangsa yang begitu muram dan kelam hati.

Inspirasi bagi kaum muslimin yang belum mengerti betul-betul artinya perkataan “Sunah Nabi”, yang mengira, bahwa Sunah Nabi SAW itu hanya makan kurma di Bulan Puasa dan cela' mata dan sorban saja !.

Wassalam,

Soekarno

Kepada Syaikh A. Hassan pimpinan Persis, Soekarno juga bercerita mengenai ibu mertuanya yang telah meninggal dunia, dan kritik oleh kaum Islam Tradisional dan 'Alawiyyiin yang dialamatkan kepadanya. Ini karena beliau dan keluarganya TIDAK mengadakan acara peringatan kematian dengan hitungan hari menurut warisan budaya Hindu Jawa di hari 1, 3, 7, 40, 100, 1000 atau yang kemudian populer di Nusantara - khususnya Jawa - sebagai 'Tahlilan', untuk mendiang ibu mertua beliau.

Dalam surat tertanggal 14 Desember 1935, Soekarno menulis:

"Kaum kolot di Endeh, di bawah ajaran beberapa orang Hadaramaut (Habaib, Sayyid, Syarif dll. - Red.) , belum tenteram juga membicarakan halnya tidak bikin ‘selamatan tahlil’ buat saya punya ibu mertua yang baru wafat itu, mereka berkata bahwa saya tidak ada kasihan dan cinta pada ibu mertua itu.

Biarlah!

Mereka tak tahu-menahu, bahwa saya dan saya punya istri, sedikitnya lima kali satu hari, memohonkan ampunan bagi ibu mertua itu kepada Allah.

Moga-moga ibu mertua diampuni dosanya dan diterima iman Islamnya. Moga-moga Allah melimpahkan Rahmat-Nya dan Berkat-Nya … "

Begitulah cuplikan surat-surat Sukarno kepada sahabatnya, Tuan (Syaikh) A. Hassan, 'ulama besar Indonesia dari unsur Ormas Islam Persis.

6. Ustadz DR. Tiar Anwar Bachtiar dari Persis di tulisan beliau yang berjudul "WAHABI: Antara Stigmatisasi dan Adu Domba Umat Islam", menulis antara lain:

Iran dan Syi'ah pada umumnya cukup cerdik memainkan media. Mereka masuk ke dalam konflik modern di kalangan umat Islam sendiri.

Konflik yang mereka pilih adalah antara pendukung gerakan Muhammad 'ibn 'Abdul Wahhab (baca: 'Wahhabi'. - Red) dengan penentangnya.

Umumnya penentang gerakan 'Wahhabi' ini adalah kalangan tradisionalis bermazhab Syafi'i yang memiliki pengikut paling banyak di berbagai belahan dunia (di RI biasanya bergabung di Nahdlatul Ulama/NU bercampur dengan kaum Sufi-Mistik dan Habaib juga Kejawen serta Syi'ah penyusup yang ditengarai juga di NU. - Red.).

Sementara gerakan 'Wahhabi' bukan mainstream.

Syi'ah masuk ke dalam konflik yang sudah cukup lama ini dengan mengambil posisi berlawanan dengan 'Wahhabi'.

Posisi ini kelihatannya tidak diambil karena kalangan tradisionalis tidak menolak Syi'ah, tetapi lebih pada strategi diplomasi dengan kelompok yang lebih besar.

Kalangan tradisionalis ('Islam Jawa'. - Red.), sekalipun berkonflik dengan 'Wahhabi', tetapi sebagai Sunni tetap menolak secara mendasar ajaran-ajaran Syi'ah.

Akan tetapi di beberapa tempat, kalangan tradisionalis ini lebih mudah untuk disusupi, walaupun sebenarnya tegas menolak Syi'ah sehingga Syi'ah lebih leluasa untuk masuk kepada kelompok ini.

Oleh sebab itu, sebagai aksi nyatanya di dalam berbagai media cetak, elektronik, maupun dunia maya Syi'ah secara atraktif menyebut musuh mereka adalah 'Wahabi', 'Salafy', atau 'Takfiri'. Ketiga istilah itu kira-kira ditujukan untuk objek yang sama.

Di kesempatan lain beliau berkata:

“Penyebutan istilah 'Wahhabi' sebenarnya kuranglah tepat. Seharusnya kalau dinisbahkan kepada Syeikh Muhammad bin 'Abdul Wahhab, maka semestinya bernama: Muhammadiyah,” ujar DR. Tiar dalam acara perdana Ngobrol Bareng Sejarah Indonesia (NGOBRAS) di aula AQL Islamic Center, Tebet Jakarta Selatan, pada Sabtu, 19 September 2015.

Ketua Persatuan Pemuda Persis ini menjelaskan, mengenai nama 'Wahhabi' ini sengaja dipilih oleh para pembencinya.

Tujuannya agar dikesankan negatif seperti gerakan Wahhabiyyaah abad keempat di Maroko, yang dinahkodai seorang Khowarij bernama 'Abdul Wahhab bin Rustum.

“Maka dari itu, kita harus berhati-hati dalam menggunakan istilah,” ujar DR. Tiar.

Menanggapi isu panasnya masalah konflik antara pendukung 'Wahhabi' dan As'yariyyaah (yang biasanya bersama Maturidiyyaah, di NU), DR. Tiar melanjutkan, setidaknya ada dua hal mendasar yang menyebabkan isu ini memanas kembali.

Pertama, isu ini dipolitisasi sedemikian rupa oleh pihak berkepentingan untuk memecah-belah umat.

Kedua, buntunya komunikasi umat.

Akibatnya, terjadi kesenjangan luar biasa di antara umat Islam. Apalagi, jika masalah khilafiyah furu`iyyaah (perbedaan pada masalah agama yang cabang bukan pokok. - Red.) dibesar-besarkan, maka akan menjadi semakin runyam.

Di akhir pembicaraan ia meminta agar umat islam bisa menjaga persatuan dan tidak terpengaruh dengan istilah-istilah provokatif. Kedua, adalah pentingnya menjalin komunikasi yang baik, antar umat Islam.

7. Habib Ahmad bin Zain (Zen) Alkaff, tokoh NU Jawa Timur menyatakan:

“'Wahhabi' sama-sama Ahlus Sunnah (Sunni), kalau mereka (Syi'ah), bukan. Kalau 'Wahhabi' kitab rujukannya sama, rukun Iman, rukun Islamnya juga sama. Sedangkan Syi'ah berbeda ... Kita hanya berbeda dalam masalah furu’iyyah (cabang Fiqh) dengan 'Wahhabi'”, tegas Habib Ahmad bin Zain Alkaff dalam konperensi pers setelah acara tabligh akbar yang bertajuk “Mengokohkan Ahlus Sunnah wal Jama'ah di Indonesia”, yang digelar di hari Ahad, 16 September 2012, di masjid Al-Furqan Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII), Jakarta.

Anggota dewan Syuriah PWNU Jawa Timur ini, menyatakan bahwa masyarakat tidak perlu terkejut mendengar tuduhan seperti itu, sebab hal tersebut juga yang menimpa dirinya yang jelas-jelas warga Nahdliyyiin NU.

“Tidak usah heran, saya aja yang sudah jelas-jelas bukan 'Wahhabi', dituduh Wahhabi juga sama mereka (Syi'ah)” tutupnya.

Demikian sekelumit bantahan dari para tokoh Islam dunia dan RI. Masih banyak pula yang lainnya, namun kiranya ini cukup dapat mewakili.

🔹(B) KENYATAAN DI INDONESIA DAN DUNIA

Dalam sejarah RI, para pendiri Organisasi Islam Muhammadiyah, lalu Al 'Irsyaad Al Islamiyyaah, Persis, Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII), Hidayatullah, Wahdah Islamiyah, HASMI, dsb. sampai kaum Ahlus Sunnah atau Salafiyyiin, berasal dari satu induk komunitas.

Dan mereka juga secara umum, belajar dari guru-guru agama yang sama.

Utamanya dulu para pendahulunya secara umum belajar dari Syaikh Ahmad Surkati Al Anshori, dkk. selain guru-guru lain.

Syaikh Ahmad Surkati (Sudan-Arab) adalah murid generasi berikutnya dari Syaikh Muhammad bin 'Abdul Wahhab at Tamimi (dari salah-satu keluarga Quraisy terhormat, yakni Bani Tamim), yakni seorang guru agama (syaikh) Ahlus Sunnah Wal Jama'ah (Sunni) bermadzhab Fiqh Hanbaliyyaah dari Arabia Tengah (wilayah ini kini disebut sebagai Arab Saudi), yang di kemudian hari ajarannya difitnah sebagai 'Wahhabi' itu.

BIASANYA hasil ajaran beliau - Syaikh Ahmad Surkati dkk. - dan ini dilakukan para muridnya di RI, adalah:

- Tidak melakukan 'Tahlilan'-'Yaasiinan' memperingati kematian orang sesuai hitungan Hindu Jawa serta Syi'ah dan makan-makan di saat-saat itu.

- Tidak selalu berdoa Qunut kecuali ada bahaya terhadap Muslimiin dan ini malahan tak perlu selalu di sholat Subuh karena dapat berqunut di sholat fardhu lain.

- Tidak senang-tak mau beribadah bahkan mencari wahyu, wangsit, ilham, rizki, kekayaan, pangkat dsb. di kuburan atau melalui kuburan (biasanya kuburan keramat), namun tetap berziarah kubur sesuai tatacara sunnah.

- Tidak Maulidan karena awalnya ini dari kebiasaan Syi'ah 500 tahunan setelah masa Rosululloh - shollollohu 'alaihi wasallam - yang menunggangi Ahlul Bait Nabi.

- Tidak melakukan Haul peringatan orang yang sudah meninggal.

- Tidak membaca basmalah dengan kencang tetapi dengan lirih sebelum membaca Surah Al Fatihah saat melakukan sholat berjama'ah yang jahr, karena lebih shohih dan lebih banyak hadits demikian.

- Tidak bernyanyi Barzanji karena isinya ada risiko ghuluw-mengkultuskan berlebihan bahkan kesalahan 'aqidah.

- Tidak bersholawat kencang-kencang dan berjama'ah apalagi memakai musik (namun tetap bersholawat sebagaimana tatacara Sunnah).

- Tidak berdzikr kencang-kencang, berjama'ah, apalagi memakai musik.

- Tidak mengatakan bahwa Allah ada di mana-mana, namun bahwa Allah istiwa' di 'Arsy yang 'Arasy itu berada di atas lapisan-lapisan langit (yang langit itu juga sedang mengembang setelah dulu menjadi satu dengan Bumi), dan kekuasaanNya di mana-mana menjangkau apapun kapanpun tak dibatasi oleh apapun.

- Tidak suka mendalami wilayah mistik, sihir, dan mengakomodasi kebiasaan mistis sisa jaman kuno, dsb.

Dan jaman dulu jadinya di Nusantara Republik Indonesia - selama berpuluh tahun terakhir ini bahkan - MEREKA INI ada yang DISEBUT bahkan DIMAKI-MAKI sebagai:

" ... MUHAMMADIYAH ... !"

Dan mereka ini juga sampai dikonotasikan, dikomentari menjadi macam:

"... Bukan Islam ... Kafir ... Lebih baik berbesan atau bermenantu orang Kristen daripada orang Muhammadiyah ... (!)"

Dan sebagainya.

Hal ini boleh ditanyakan ke para Sejawaran dan keluarga, cucu-cicit dari K. H. Ahmad Dahlan pendiri Ormas Islam Muhammadiyah yang bahkan dulu masjid beliau di Yogyakarta sampai dibakar oleh 'orang Islam Tradisional Jawa penerus sisa adat kebiasaan Jawa-Hindu'. Dan beliau sendiri diserang oleh kaum Jawa Tradisional tersebut, K.H. Ahmad Dahlan hendak mereka bunuh. Dan K.H. Ahmad Dahlan juga mereka katai sebagai "Kyai Palsu".

Maka dulu mereka yang demikian - yang tidak mau Selamatan Kematian-Tahlilan, Maulid, Haul, beribadah di Kuburan, dsb. - jadi dimaki "Muhammadiyah", "Bukan Islam (yang benar)", "Kafir", "Garis Keras", "Putihan", dll., dsb.

Dan SEKARANG sejak semakin ada persekutuan kaum Syi'ah dan Liberalis, Pluralis, Sekuleris, dan kaum penyubur Mistik-Bid'ah dan kawan-kawan di Republik Indonesia, - terutama di masa KH Said 'Aqil Siradj yang kini Ketum PB NU - muncul di permukaan, MAKA kaum Muslimiin YANG SAMA, yang cirinya SERUPA macam di atas, BERUBAH DIMAKI sebagai:

"WAHABI!! ... KAFIR!! ... Teroris! ... Takfiri! ... Ekstrim! ... Garis Keras! ... Bukan Islam Moderat ... Tidak sesuai untuk Nusantara! ... ISIS ... Bukan Ahlus Sunnah Wal Jama'ah ... Bukan Islam ... !"

Dan sebagainya.

PADAHAL itu semua istilah yang salah, hanya dari sudut pandang satu sisi kaum saja (selain malahan ada yang salah dalam Tata Bahasa dan maknanya serta Sejarahnya bahkan dasar 'Aqidahnya).

Misalnya, dulu kaum penjajah Belanda memaki kaum pejuang kemerdekaan Nusantara RI sampai sebagai "Ekstrimis" dan "Pemberontak", dan mereka bunuhi. Namun kini kaum yang dimaki dan dibunuhi itu menjadi disebut sebagai "Pahlawan" bagi RI.

Masih pula makian itu ditambahi aneka kebohongan lain. Berbagai Fitnah keji dan liar.

Utamanya, dari Syi'ah dan sekutunya, atau yang diperalat-ditungganginya.

Dan yang seperti itu, yang TIDAK DEMIKIAN, yang tidak melakukan macam di atas - yakni tidak Selamatan-tahlilan-yaa siinan kematian dan 'makan-makannya', tidak memperingati kematian (haul), tidak bersholawat berjama'ah, tidak berdzikir berjama'ah, tidak Maulidan, tidak menyalahfungsikan ziarah kubur menjadi melakukan ibadah ritual di kuburan bahkan mencari wangsit-wahyu di kuburan, dsb. - di Republik Indonesia saja ADALAH YANG MENJADI KETETAPAN umum dari 3 Organisasi Massa Islam Tertua RI, yakni

- Muhammadiyah (berdiri di tahun 1912 dengan akta Notaris 1914).

- Al 'Irsyaad Al Islamiyyaah atau yang sekarang dikenal sebagai Perhimpunan Al 'Irsyad (berdiri di tahun 1914 dengan Akta Notaris di tahun 1915).

- Persis (berdiri di tahun 1923).

Dan banyak muslimiin di Ormas Islam lain yang lahir sesudah kemerdekaan, SAMA SAJA, TIDAK MELAKUKAN yang di atas itu - yakni tidak Tahlilan, tidak Maulidan, tidak Haul, tidak berdzikir berjama'ah beribadah di kuburan, dll. - YAKNI macam Ormas Islam:

Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Hidayatullah, Al Shofwah, Wahdah Islamiyah, HASMI, dll.

Dan yang tidak bergabung resmi dengan mereka.

Banyak.

Dan banyak sekali muslimiin lain, juga SAMA saja, TIDAK MELAKUKAN demikian - yakni tidak Tahlilan, tidak Haul, tidak Maulidan, tidak berdzikir berjama'ah - macam itu DI DUNIA. Bukan di Arab Saudi saja.

Mayoritas dari sekitar 1,5 Milyar kaum Muslimiin di Dunia, tidak melakukannya.

Dan mereka jelas MUSLIMIIN.

MEREKA AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH. SUNNI.

Bukan 'Wahhabi'.

TETAPI dikata-katai, DIMAKI sebagai 'Wahhabi', secara sepihak, yang istilah ini sendiri SALAH secara Tata Bahasa Arab, juga SALAH secara 'Aqidah, dan juga SALAH secara Sejarah.

Dalam tinjauan Tata Bahasa Arab, mereka TIDAK MUNGKIN disebut 'Wahhabi' karena sebutan itu dinisbatkan kepada pengikut ajaran Syaikh MUHAMMAD bin 'Abdul Wahhab At Tamimi. Tentu saja, nama beliau adalah: "Muhammad". Dan bapaknya adalah 'Abdul Wahhab. Mereka dari keluarga At Tamimi (artinya, dari keluarga Quraisy terhormat Bani Tamim).

Maka seharusnya pengikutnya disebut "Muhammadi" atau "Muhammadiyah". Bukan 'Wahhabi'.

Dalam tinjauan 'Aqidah, TIDAK MUNGKIN pula disebut 'Wahhabi' karena nama "Al Wahhab" adalah nama ALLAH. Dan secara 'aqidah, manusia tidak dibenarkan memakai nama Allah: "Al Wahhab". Walaupun arti dari kata "Wahhabi" artinya, adalah "Pengikut Allah al Wahhab", dan artinya bagus sekali malahan, namun ini janggal.

Dalam tinjauan Sejarah pun, TIDAK MUNGKIN pengikut Syaikh Muhammad bin 'Abdul Wahhab At Tamimi disebut 'Wahhabi', karena yang disebut demikian adalah pengikut dari 'Abdul Wahhab bin Rustum, seorang Khowarij masa Abad III-IV Hijriyyah.

Sementara Syaikh Muhammad bin 'Abdul Wahhab At Tamimi, hidup di masa Abad XII-XIII Hijriyyah.

Tetapi ada usaha mengesankan keduanya adalah sama. Untuk adu-domba.

🔹KESIMPULAN DAN PENUTUP

Karenanya golongan 'Wahabi' ini sebenarnya tidak pernah ada.

Dan ini adalah hasil FITNAH pencitraan buruk serta ADU-DOMBA besar dari musuh-musuh kebenaran.

Utamanya dilancarkan oleh Syi'ah dan sekutunya. Secara halus dan licik, dan dapat menunggangi kaum Habaib dan NU, dan masyarakat muslim awwam.

Fitnah ini ditujukan terhadap kaum Ahlus Snunnah Wal Jama'ah yang paling berusaha murni menjalankan ajaran Islam, bahkan 'Kaum Putihan Wali Songo', yang 'DULU di di masa menjelang dan awal kemerdekaan RI' disasarkan terhadap Muhammadiyah, Al 'Irsyad, Persis.

Dan 'SEKARANG setelah kemerdekaan RI', selain terhadap mereka, juga biasa disasarkan terhadap kaum yang disebut sebagai kaum Salafiyyuun (kaum Pengikut Salafush Sholih), juga Ormas Islam DDII, Hidayatullah, Wahdah Islamiyyah, Hasmi, dst., serta terhadap kaum ulama dan awwam dari negeri Arab Saudi-madzhab Hambali, dan para pengikutnya di banyak negara.

Kiranya karena mereka lah yang paling istiqomah memerangi kaum Syi'ah, Kekafiran (Khurafat), Syirik, Bid'ah, Mistik, Filsafat-Liberalisme-Sekulerisme-Pluralisme, Komunis, Kapitalis Barat Penjajah, Kolonialis, yang kaum-kaum ini memang dapat bersekutu menghadapi Islam.

Dan kenyataannya, kini, kaum Neo Komunis Rusia, RRC, Korea Utara, Vietnam, dll. memang membantui Syi'ah (Iran), melawan negara-negara dan kelompok-kelompok militan Ahlus Sunnah Wal Jama'ah sedunia yang dipimpin Arab Saudi. Khususnya di Suriah. Juga di 'Iraq, dan Yaman.

Sementara Syi'ah adalah hasil pengacauan bentukan Yahudi kawanan 'Abdullah bin Saba. Dan ada sedikit keserupaan dengan kaum Sufi-Mistik, selama mereka membesar bersama di masa Daulah Abbasiyyaah.

Di RI, dua golongan ini dan golongan sekutunya menyusup ke sebuah Organisasi Islam besar NU, yang akhirnya OKNUM merekalah juga yang ikut memperluaskan fitnah ini. Baik sadar atau tidak.

Tentu saja mereka memerlukan Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya Alam Republik Indonesia.

Maka propaganda ini perlu terus mereka jalankan, untuk menggalang simpati dan melemahkan persatuan Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.

Apalagi menjelang Perang Akhir Jaman, Al Malhamah Al Kubro alias Al Majiduun alias Armageddon yang memang akan berpusat di Syam (Palestina, Suriah, Iraq, Suriah) dan mendunia ini.

Berhati-hatilah saudaraku. Di Akhir Jaman memang banyak fitnah kebohongan.

Namun petunjuk Allah selalu ada bagi mereka yang mau memperhatikannya.

🌺 Al Qur'an Surah Al Hujuraat ayat 6:

يٰاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اِنْ جَآءَكُمْ فَاسِقٌ ۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu. 

🌺 Al Qur'an Surah Al Hujuraat ayat 12:

يٰـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ ۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًا ؕ اَ يُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ ؕ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ؕ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang.

🔹"Yang menyebabkan agama cacat ialah hawa nafsu." (HR Asysyihaab)

🔹"Kebanyakan dosa anak Adam karena lidahnya." (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)

🔹"Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah berbicara yang baik-baik atau diam." (HR. Bukhori)

artikel republish, jika ada kesalahan dalam penulikan, silahkan hubungi admin, syukron
Baca selengkapnya »
Inilah Sejarah awal mula unjuk rasa masuk ke dalam tubuh Umat Islam

Inilah Sejarah awal mula unjuk rasa masuk ke dalam tubuh Umat Islam

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
الحمد لله والصلاة و السلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين


Amalan yahudi yang paling disukai saat ini oleh kaum awam adalah UNJUK RASA.

UNJUK RASA sudah mendarah daging bagi sebagian umat Islam.

Ketahuilah, UNJUK RASA dalam Islam pertama kali di lakukan oleh seorang yahudi majusi Abdullah ibnu Saba yang menyamar menjadi Muslim.

Si yahudi majusi ini (memprofokasi) dengan mengajarkan unjuk rasa kepada umat Islam untuk menentang pemerintahan Khalifah Usman bin Affan rahiallahu anhu.

Diantara bentuk penyimpangan akidah Abdullah ibnu Saba al yahudi al majusi ini adalah

🔥 keluar dari barisan persatuan kaum muslimin.
🔥 Menyebarkan desas-desus dan provokasi.
🔥 Tidak taat kepada pemimpin.
🔥 Dan membangkitkan pergolakan.

Dimana sebagian orang begitu semangat menempuh jalan ini.

Sedangkan inti dari apa yang dia bawa adalah pemikiran-pemikiran pribadinya yang bernafaskan Yahudi.

Contohnya adalah qiyas-nya yang bathil tentang kewalian Ali radliyallahu ‘anhu. Dia berkata : “Sesungguhnya telah ada seribu Nabi dan setiap Nabi mempunyai wali. Sedangkan Ali walinya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.” Kemudian dia berkata lagi : “Muhammad adalah penutup para Nabi sedangkan Ali adalah penutup para wali.”

Ketika Abdullah ibnu Saba al-Yahudi al-Majusi ( PENCIPTA agama syiah ) berusaha menyebarkan fitnah di tengah-tengah kaum muslimin di masa Khalifah Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu –seseorang yang telah dikabarkan pasti masuk surga sekaligus menantu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Di masa tersebut, umat Islam hidup dalam keadaan lapang dan kecukupan.

Inilah Sejarah awal mula unjuk rasa

Di zaman itu, pegawai Khalifah Utsman setiap hari berseru, “Kemarilah, aku akan memberi kalian”. Setelah orang-orang datang, ia pun memeberi mereka harta, makanan, pakaian, dll. Begitu banyak kenikmatan pada masa itu. Hati masyarakat bersatu. Dan tidak ada rasa ketakutan.

Lalu orang Yahudi ini –Abdullah bin Saba- dan kroni-kroninya menebar fitnah di kalangan umat Islam. Siasatnya adalah agar para pemimpin dan ulama umat Islam dicela. Lalu mereka tampil seolah-olah sebagai orang yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dan mereka pun berhasil memperdaya hati-hati manusia.

Menyebarlah laki-laki busuk ini dan orang-orang yang bersamanya untuk mencela pemimpin agar rusak kehidupan dunia. Kemudian mencela ulama agar rusak kehidupan akhirat. Sehingga orang-orang tidak lagi menghargai ucapan ulama.

Lalu orang-orang yang terpengaruh, diperintahkan agar semakin menyuarakan hal tersebut lebih luas lagi.

Mereka tampil sebagai sosok yang mengingkari kemungkaran, menginginkan perbaikan, dan menuntut hak-hak rakyat agar ditunaikan. Muncullah unjuk rasa kepada Khalifah Utsman bin Affan radhiallahu anhu.

Apa hasil dari ini?! Hasilnya adalah kezaliman dan kerusakan.

Setelah satu bulan mereka memboikot Utsman dari makanan dan minuman yang dikirimkan ke rumahnya. Mereka terus membuat suasanan panas dan menyebar fitnah.

Mereka pun menerobos masuk ke rumah Utsman –seorang sahabat yang paling mulia yang hidup ketika itu-, lalu salah seorang dari mereka menarik janggut beliau.

Utsman berkata kepadanya, “Wahai anakku, engkau telah merendahkan janggut yang dulu dimuliakan oleh ayahmu”.

Kemudian yang lain masuk lagi dan ia merusak apa yang ada di dalam rumah, lalu menikamnya dengan pedang sebanyak sembilan tebasan. Si pembunuh yang celaka ini berkata, “Tiga tebasan untuk Allah dan enam lainnya karena kebencianku kepadamu wahai Utsman”.

(Syaikh Sulthan bin Abdurrahman al-‘Id; Tarikh Ar Rasul juz 4 halaman 340 karya Ath Thabary melalui Mawaqif; Bidayah wan Nihayah 7/203)

Yang akhirnya qadarullah Sang Khalifah radhiallahu anhu dibunuh oleh mereka.

Dari sinilah lahir agama syiah yang diprakarsai oleh Abdullah ibnu Saba al yahudi al majusi.

Masih ingin boikot yahudi ?
‎الله أعلم
Demikian dari kami semoga bermanfaat.

‎سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
‎والسلام عليكم و رحمة الله و بركاته
Abu Aurel Reza
Baca selengkapnya »
IMAM MALIK BIN ANAS BUKAN ANAKNYA SAHABAT ANAS BIN MALIK

IMAM MALIK BIN ANAS BUKAN ANAKNYA SAHABAT ANAS BIN MALIK

Imam Malik yang dikenal sebagai Mazhab Fiqih kedua di dalam Islam beliau adalah Ulama Asli madinah.

memang nama beliau terlihat mirip dengan nama Sahabat Rasulullah shalaAllahu Alaihi wasallam Yaitu Sahabat Anas bin Malik - Radhiyallahu anhu-.

Tapi Imam Malik bin Anas bukan ANAKNYA dari sahabat Anas Bin Malik.

Hal hal seperti ini seharusnya tidak boleh terjadi kesalahan bagi Orang yang Biasa terjun di Ilmu Hadits apalagi yang disebut sebut sebagai Ahlul Hadits KARENA ini berkaitan dengan Seorang Ulama yamg sangat sangat masyhur.

IMAM MALIK BIN ANAS

kalau seseorang Salah dalam hal yang sangat sepele dalam masalah ini berarti menunjukkan kurangnya Amanah Ilmiyah dan Sangat tidak berkompeten.

Padahal dahulu Ulama Hadits rela berjalan kaki melintasi gunung, gurun dan salju demi Menjaga Keotentikan Hadits Rasulullah shalaAllahu Alaihi wasallam.

hal hal seperti ini adalah KEWAJIBAN DAN AMANAH bagi orang yang mengetahui kebenaran untuk mengungkap kesalahan kesalahan dai dai yang tidak menyebutkan kebenaran agar umat tidak salah paham.

kebenaran dan kesempurnaan hanya milik Allah dan sebaik baik petunjuk dan tuntunan adalah Mengikuti Rasulullah shalaAllahu Alaihi wasallam.

sumber: fb Mahasiswa Madinah
Baca selengkapnya »
Orang Indonesia Banyak yang gagal paham tentang Wahhabi

Orang Indonesia Banyak yang gagal paham tentang Wahhabi

Wahhabi dalam penulisan barat mempunyai banyak uraian, semuanya menjurus pada aliran Islam yang berpegang kepada nash Al Quran dan hadist secara literal dan enggan melihat tafsiran yang lebih modern atau yang agak western influence. Sebagian lagi melihat Wahhabi sebagai aliran yang menganggap hanya merekalah yang benar, identik dengan unsur-unsur padang pasir.

Di Indonesia Wahabi disebut dengan golongan dalam pemahaman Islam, yang suka memvonis bida'h dan syirik pemahaman lain, laki-lakinya berjenggot dan celana setengah betis dan bercadar wanitanya.

Konon kata Wahhabi diambil dari nama pembawa pemikiran ini yaitu Muhammad bin Abdul Wahhab yang terkenal dengan kitabnya Ushulus tsalasah dan kitabut tauhid.
Orang Indonesia Banyak yang gagal paham tentang Wahhabi

Cahaya baru di tengah-tengah padang pasir itu pada tahun 1116 H/1704 M, yaitu 12 abad setelah tiadanya Nabi dengan lahirnya Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab, guru besar ajaran Wahhabi yang masyhur. Kembali pada ajaran Rasul Shalallahu alaihi wasallam yang asli adalah dasar pengajarannya. Tauhid yang khalis, yang tidak bercampur dengan syirik sedikit juga, kesanalah semua umat harus pulang agar selamat dunia akhirat. (Hamka/ Sejarah umat Islam : 289)

Di dalam Islam telah datang Muhammad bin Abdul Wahhab dan Sayyid Jamaluddin Al Afgany, pemikir dan pejuang yang menyeru kepada jalan yang telah dibawa Nabi Muhammad juga. Tidaklah cukup kitab untuk memaparkan jasa masing-masing dari pejuang itu. (Hamka/Lembaga hidup :377)

Seperti itulah pujian Hamka Mantan Ketua MUI dan Ketua Umum Muhammadiyah terhadap yang tertuduh ekstrim itu, jasanya sangatlah banyak untuk umat ini.

Kaum Wahhabi menyebut diri mereka Salafi, Ustadz kenamaan Aswaja Abdul Somad yang mana bintangnya sedang bercahaya beberapa tahun terakhir ini, menyebutkan permasalahan ini dalam kitabnya 37 masalah populer di masalah yang ke 36. Disana disebutkan pendapat-pendapat ulama yang kontra salafi dan dapat dipahami bahwa salafi wahabi adalah jamaah sesat dan fitnah bagi umat islam. (Silahkan baca 37 Masalah Populer : 216-227)

Lalu bagaimanakah perkembangannya di Indonesia?

Ahli sejarah Melayu Buya Hamka berkata "menurut perhitungan sejarah, pembaharuan paham Islam di Indonesia ini dalam rangka kebangunan Dunia Islam umumnya dimulai pertama kali di Minangkabau. Yaitu kembalinya tiga orang haji dari Mekkah : Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang sekitar tahun 1803. Faham-faham dan ajaran agama yang terpengaruh oleh ajaran tuan Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab yang lebih terkenal dengan sebutan Wahhabi, inilah yang mereka sebarkan di Minangkabau. (Hamka/ Islam dan adat Minangkabau : 181)

Pemahaman itu pulalah yang dipegang oleh Pahlawan Indonesia Tuanku Imam Bonjol. Setelah benteng Bonjol dikalahkan pada abad ke 19 maka lahirlah di abad 20 di Minangkabau dakwah pembaharuan kedua oleh murid-murid Ahmad Khatib yaitu Syekh Abdullah Ahmad, M. Jamil Jambek, Abdul Karim Amrullah dan Muhammad Thaib, sedangkan di Jawa atau Jogja muncul pula KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah, di Malaysia Syaikh Taher Jalaluddin Al Azhari, di Langkat Haji Muhammad Nur yang menjadi Mufti di sana, Syeikh Hasan Ma'shum di Deli dan Binjai, di Selanggor Syaikh Muhammad Shaleh, Mufti Perak, Haji Muhammad Simabur yang semuanya dituduh Wahhabi.

Hamka menuturkan : Wahhabi adalah permulaan kebangkitan bangsa Arab, setelah jatuh pamornya karena serangan Bangsa Mongol dan Tartar ke Baghdad. Wahhabi pun ditakuti oleh bangsa-bangsa penjajah, karena apabila ia masuk kesuatu negri, ia akan mengembangkan mata penduduknya menantang penjajah. Sebab paham Wahhabi ialah meneguhkan kembali ajaran tauhid yang murni, menghapuskan segala sesuatu yang akan membawa kepada syirik. Sebab itu timbullah perasaan tidak ada tempat takut melainkan Allah taala. Wahhabi adalah menentang keras kepada jumud, yaitu memahami agama dengan beku, orang harus kembali kepada Al quran dan al hadist.

Sekarang Wahhabi dijadikan kembali sebagai alat untuk menekan semangat kesadaran Islam oleh beberapa golongan tertentu, yang bukan surut ke belakang di Indonesia, melainkan kian maju dan tersiar. Kebanyakan orang Islam yang tidak tahu waktu ini, yang dibenci bukan lagi pelajaran Wahhabi, melainkan "nama Wahhabi" (Hamka/Dari perbendaharaaan lama : 216)

Walaupun banyak tuduhan negatif diberikan untuk penganut paham Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab ini, dakwahnya tetap jalan dan semakin dirasakan manfaatnya. Seperti yang dinyatakan Hamka : Negeri-negeri Melayu mulai merasakan kebangkitan baru dari Islam karena masuknya paham-paham yang diajarkan oleh kaum Wahhabi. (Hamka/Sejarah umat Islam : 521)

Penamaan Wahhabi, kehormatan atau penghinaan?

Dulu banyak orang atau organisasi yang bangga jika dkaitkan dengan Wahhabi, termasuk Muhammadiyah. (Hamka/ Muhammadiyah melalui tiga zaman : 108)

Dr. Abdul Karim Amrullah -ayah Hamka- dan kawan-kawan awalnya merasa resah dengan sebutan Wahhabi itu, namun lama-kelamaan merekapun bangga dengan nama yang disematkan pada mereka itu, sebagaimana yang dijelaskan Hamka dalam bukunya "Ayahku".

Namun, sekarang citra Wahhabi di dunia Islam dan dunia secara umum begitu buruk. Ini diantaranya dikaitkan dengan kebiasaan kerajaan Arab Saudi, hukum yang diterapkan di negara itu, aliansi pemerintah Saudi dengan Amerika Serikat, suksesnya kampanye anti-arab, pengaitan Wahabisme dengan terorisme. Akibat dari isu-isu tersebut banyak umat Islam yang tidak mau disebut Wahabi, termasuk beberapa orang Muhammadiyah. (Ahmad Najib Burhani/ Muhammadiyah berkemajuan : 35)

Pada abad ke-19, Kerajaan Turki menyuruh penguasa Negri Mesir memerangi penganut paham Wahhabi di Tanah Arab. Untuk ini, dibuat propaganda di seluruh dunia Islam bahwa Wahhabi telah keluar daris garis Islam yang benar, sehingga sisa dakinya sampai sekarang masih bersarang dalam otak golongan tua dalam Islam. (Hamka/ Tafsir Al Azhar : l/503-504)

Apa saja ajaran Wahhabi yang ditentang Masyarakat itu?

Dalam aqidah asma' wa sifat mereka menolak takwil, hal ini bertentangan dengan aqidah a'sary.

Pemahaman mereka adalah sebagaimana yang disampaikan Nuaim bin Hammad al-Khuza'i guru Imam Bukhari "barang siapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya adalah kafir, dan siapa yang tidak mau percaya akan sifat Allah yang telah dijelaskan-Nya sendiri tentang diri-Nya, diapun kafir" (Hamka / Tafsir Al Azhar : lll/438)

Diantara Ulama mutaakkhirin yang keras menganut paham salaf ini adalah Ibn Taimiyah dan muridnya Ibnul Qayyim, pada zaman terakhir adalah Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab dan terakhir sekali Sayyid Rasyid Ridha. Ibn Taimiyah sampai dituduh oleh musuh-musuhnya berpaham "mujassimah" (mensifatkan Allah bertubuh) karena kerasnya mempertahankan paham ini. (Silahkan rujuk, 1001 Soal Kehidupan karya Hamka)

Melarang taklid, tidak membenarkan tawasul dengan orang mati, tidak membenarkan sifat ghuluw terhdap Nabi dan orang-orang shaleh, mengingkari ibadah tanpa dalil.

Bagaimana pandangan terhadap Muhammad bin Abdul Wahhab sebenarnya?

Dakwah Imam Muhammad bin Abdul Wahhab semata-mata hanya dakwah islamiyah dan dakwah salafiyah yang berjalan diatas manhaj salafus shalih, dan apa-apa yang bertentangan dengan salaf hanyalah tuduhan semata. (Dr. Nashir bin Abdul Karim/ Islamiyah la Wahhabiyah : 59)

Lalu mengapa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dituduh dengan hal yang buruk?

Sesungguhnya keburukan yang menimpa muslimin adalah berani memvonis tanpa meneliti terlebih dahulu, melemparkan tuduhan keji kepada orang-orang mulia tanpa mempelajari dan mencari bukti. Dan sifat tercela ini juga merambah kepada kaum terpelajar sampai-sampai mereka ikut orang awam dalam setiap keburukan. (Muhammad Hamid al Faqy/ Atsaru da'wah wahhabiyah: Muqaddimah, 2)

Sesungguhnya apa-apa yang dituduhkan musuh Beliau tidak akan ditemukan dalam karangannya yang begitu banyak. (Muhammad bin Saad As Syuwai'ir / Tashih akta' tarikhy haula al wahabiyah : 82)

Dan tuduhan-tuduhan itu tentu tidak akan didapati bukti nyatanya dalam sejarah, tidak pula di zaman ini.

Para pembenci dakwah Beliau bahkan menuduhnya "mengaku nabi, sebagai khawarij, mudah mengkafirkan kaum muslimin, memusuhi Rasulullah, mengingkari karamah para wali dan tuduhan lainnya. ( Ahmad bin Abdul Aziz / Dakwah Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab : 262)

Kita kembali ke penyebutan Salafi dengan Wahhabi, pantaskah?

Banyak orang Salafi yang tidak terima dengan penamaan ini, padahal nama itu bisa dikatakan mau tidak mau melekat pada mereka. Memang bukan mereka yang menamai diri mereka, tapi dengan itulah mereka disebut orang. Seperti penamaan "Khawarij" dan "Jamaa'h kompor" apakah itu dari mereka?

Dr. Abdul Karim Amrullah peraih gelar doktor kehormatan pertama dari Universitas Al Azhar disebut Wahhabi, muridnya Rahmah el Yunusiah peraih gelar Doktor dan Syaikhah (Guru besar) kehormatan satu-satunya dari Universitas Al Azhar pun sama, Pahlawan Indonesia Tuanku Imam Bonjol, Hamka peraih tiga Doktor Kehormatan dari tiga negara Islam juga dituduh Wahhabi, KH. Ahmad Dahlan pun begitu, Dr. Muhammad Asri bin Zainul Abidin Mufti Perlis juga disebut Wahhabi.

Kalaulah Wahhabi adalah orang-orang yang diakui ilmunya, yang telah meraih gelar kehormatan, menjadi ketua MUI, guru besar, pendiri organisasi islam terbesar di Indonesia, Pahlawan Nasional dan Mufti sebuah negri maka sebutlah kami Wahhabi.

Jika Wahhabi adalah seperti yang dipahami Syaikhul Islam Ibn Taimiyah dan muridnya Ibnul Qayyim dan diteruskan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan yang mengikuti mereka maka sebutan Wahhabi pantaslah menjadi kebanggaan bagi kami (penulis). Sebagaimana kebanggaan yang dirasakan Dr. Haka, Prof. Hamka dan Muhammadiyah dulunya.

Dan semua tuduhan buruk terhadap dakwah Salafi yang mereka sebut kaum Sawah (Salafi Wahhabi) itu biarlah berlalu seperti gumpalan debu yang menghalangi jalan kami, tapi jalan kami takkan pernah terhenti.

Namun, tidak pula kami menyalahkan Salafi yang tidak terima dengan nama ini, karna memang nama itu bukan dari Salafi.

Dan kami juga tidak menafikan ada kemungkinan salah pada Salafi atau Wahhabi menurut nama yang mereka berikan itu, karna setiap kita wajib mencari kebenaran sesuai kesanggupan masing-masing.

(Rail / al - munir : ...)
Baca selengkapnya »
-->