IBX5A47BA52847EF DakwahPost: sejarah
Hubungan antara Surau, Lapau dan Merantau (urang Minang Harus Tahu)

Hubungan antara Surau, Lapau dan Merantau (urang Minang Harus Tahu)

SURAU DAN MERANTAU

Masa lalu sering menghadirkan kearifan lokal yang terlupakan, karena kita larut terpukau dengan modernitas. Masa lalu memang bukan untuk disembah, namun ia adalah warisan titipan Allah untuk menjadi hikmah. Bagi kaum romantik, masa lalu adalah candu yang harus dijaga orisinalitasnya, karena musuh dari nostalgia adalah improvisasi. Bagi kaum futuristik, masa lalu adalah gerobak tua yang harus ditinggal, karena memberatkan perjalanan ke masa depan. Sedangkan bagi kaum pemberadab, masa lalu adalah kearifan cerdas untuk bekal ke kegemilangan masa depan.

Maka, Minangkabau punya surau. Jangan keliru, surau bukan pesantren. Surau adalah tempat pembekalan bagi setiap lelaki “nan alah bujang” (yang sudah bujangan) alias telah aqil-baligh, yang kelak akan menuntut ilmu diperantauan. Ya, surau adalah sebuah finishing-starting point bagi pasca anak-anak yang telah selesai tarbiyahnya di rumah, oleh ayahbundanya. Jadi, surau bukan untuk anak-anak (belum aqil-baligh). Surau adalah rumah para bujangan.

Di surau, para lelaki belajar agama, beladiri dan kehidupan. Mentor mereka adalah seorang inyiak-badaik (marbot) : generalis serba bisa yang sangat menyenangkan. Kisah-kisah menjelang tidurnya sangat memukau, agamanya begitu humanis dan aplikatif, beladirinya memadai untuk membangun kepercayaan diri, sedangkan ilmu kehidupannya mumpuni untuk memijak bumi dan menjunjung langit : Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung....

Surau, Lapau dan Merantau

Sesekali para bujang surau kedatangan tutor : para bujang perantau yang rindu kampung. Para perantau itu pasti tidur di surau pula. Maklumlah, bujangan memang tak punya rumah di Minangkabau. Lalu, sambil dipijit kaki dan badannya, sang tutor akan ikhlas berbagi ilmu dan pengalaman dari tanah rantau. Tentunya setelah dirayu berkali-kali oleh para bujang surau, karena bicara dan merayu (marketing) adalah ilmu sangat penting lainnya bagi calon perantau.

Lalu, ketika saatnya tiba, maka bujang suraupun akan menjadi bujang perantau : “Karatau madang ka hulu.... babuah babungo balun.... marantau bujang dahulu.... di rumah baguno alun...”

Nah, inilah hakikat menuntut ilmu yang sebenarnya : merantau !!! Berbekal modal seadanya, ia arungi kerasnya hidup, berkhidmat dari guru yang satu ke guru yang lain. Mungkin waktunya lebih banyak di pengembaraan daripada di majelis-majelis ilmu. Tapi itulah menuntut ilmu, karena di pengembaraanpun tersedia begitu banyak ilmu Allah. Itulah menuntut ilmu : ilmu yang diperas melalui perjuangan, pengorbanan, keletihan, darah, keringat dan air mata.

Itulah “pondok pesantren”nya Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Hambali. Itulah “pondok pesantren”nya Ahmad Khatib AlMinangkabawi, Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, Agus Salim, HOS Tjokroaminoto, Buya HAMKA. Jangan heran jika ilmu, pemahaman dan madzhab fiqh mereka begitu beragam, karena guru-guru mereka begitu beraneka. Jangan heran jika mereka saling berbeda, namun saling cinta dan toleran, karena mereka tak pernah berhenti di sebuah fikrah.

Untuk kesekian kalinya, sebuah kearifan lokal telah menginspirasi saya dengan sebuah gagasan : Moving (not boarding) School !!! Sebuah konsep SURAU MERANTAU yang merevitalisasi kembali khasanah menuntut ilmu, bukan sekadar menimba ilmu, secara berpindah : Guru – Kehidupan – Guru. Sudah saatnya kita menghentikan kedangkalan ilmu dan fanatisme guru.

Surau dan Merantau adalah pemikiran brilyan dan futuristik dari ninik-mamak kita dahulu.

Mari bayangkan : Mengapa lelaki Minang merantau, padahal negerinya sangat indah, kaya, subur dan makmur? Bukankah tradisi merantau itu biasanya milik suatu daerah yang gersang, tandus dan minus? Sesungguhnya merantau adalah solusi, karena pemuda negeri makmur biasanya pemalas. Merantau adalah obat atas kemalasan.

Begitu pula dengan surau. Ini adalah ajaran kemandirian, BAHWA PEMUDA AQIL-BALIGH HARUS MENINGGALKAN RUMAH !!! Ke mana? Ya ke surau, sebelum ke rantau. Karena surau adalah rumah persiapan. Kurikulum surau hanya satu, yaitu life-competence : agama, beladiri, kehidupan dan entrepreneurship.

Tetapi lagi-lagi kita membuang kearifan lokal kita sendiri. Bujang tinggal di surau telah dianggap "adaik lamo pusako usang". Harusnya kita memperlakukan sejarah dalam perspektif peradaban masa depan :

Baju dipakai maka kan usang
Adat dipakai maka kan baru

Mari kita hidupkan tradisi berkelana menuntut ilmu (manuntuik). Ilmu sejati itu kita datangi, bukan guru yang mendatangi kita. Karena alam Minangkabau itu sejauh mata memandang :

Dari Taratak air hitam sampai ke sikilang Air Bangis
Dari riak nan berdebur sampai ke Durian nan ditekuk raja

Antara SURAU dan LAPAU

Mengapa surau selalu saja digambarkan dalam foto-foto indah sebagai berada di tengah-tengah antara tabek (kolam ikan) dengan sawah?

Karena surau adalah sebuah primary life, bahwa di surau Si Bujang harus mampu self-help dan personal survival. Siangnya ia di sawah... Saat panen ikan ia menguras tabek untuk dimakan dan dijual... saat senggang mereka di lapau untuk makan, mengopi dan berdiskusi (maota) tentang isu-isu aktual... Sedangkan sore hingga malam mereka bersilat, belajar, mengaji dan mendengar petuah-petuah dari inyiak-badaik.

Ini adalah fullday-life, bukan fullday school. "Schooling" mereka hanyalah dari sore hingga menjelang tidur. Bagi masyarakat dengan prinsip "Alam Takambang Manjadi Guru", bertani adalah belajar... bertabek adalah belajar... nongkrong di warung kopi adalah belajar.... maota adalah belajar...

Bukankah belajar tidak harus sekaku di sekolah?

Surau dalam perjalanannya tak pernah berpisah dengan lapau. Ini adalah dua entitas yang menyatu. Surau bukanlah "the sacred place", dan lapau bukanlah "the profane place". Surau bukanlah tempatnya malin (orang baik), sedangkan lapau bukanlah tempatnya parewa (preman). Tetapi keduanya adalah "The life space" : ruang kehidupan.

Surau mungkin tempat untuk serius, ilmiah dan faktual. Namun setiap hamba Allah butuh relaksasi, agar orang surau-pun tak kehilangan human touch. Maka di lapau lah orang surau merelaksasi dirinya. Mereka bisa berceloteh, ngobrol ngalor-ngidul membahas topik aktual tanpa harus argumentatif. Jika di surau Si Bujang mendapatkan logika, maka di lapau mereka melatih retorika.

Kaki manusia itu berada diantara surau dan lapau. Surau bukan sisi putih dan lapau bukan sisi hitam. Mungkin akan lebih tepat jika dikatakan bahwa surau adalah sisi imani (yaa ayyuhalladziina aamanuu), sedangkan lapau adalah sisi insani (yaa ayyuhannaas). Jika keduanya dikelola dengan baik, akan berakhir di pintu surga.

Dapat dikatakan kecakapan merantau didapatkan di surau dan lapau sekaligus. Tetapi itu kisah lama. Kini surau dan lapau telah dipisahkan, bahkan dipertentangkan. Yang satu menjadi tempatnya malaikat, yang lainnya menjadi tempatnya setan. Lalu, tak satupun yang menjadi tempatnya manusia... Ketika surau dan lapau dihitam-putihkan, maka yang punya "rumah" hanyalah malaikat dan syaithan. Manusia melayang-layang antara langit dan bumi karena hilang pijakan.

Semoga bisa manjadi inspirasi pemuda Minang untuak menghidupkan kembali BUDAYA MINANG nan alah samakin punah

artikel republish
Baca selengkapnya »
Alhamdulillah, Kholid Bin Al-Walid tidak berpaham Khawarij ?

Alhamdulillah, Kholid Bin Al-Walid tidak berpaham Khawarij ?

Bagaimana seandainya Kholid Bin Al-Walid -Radhiallahu Anhu- (Shahabat Nabi) meledakkan (bom di) Gereja ('Ainut Tamr) dan membunuh siapa saja yang di dalamnya ⁉

Di sana ada Gereja namanya 'Ainut Tamr di daerah perkampungan baduwi di Iraq.

Tatkala Kholid Bin Al-Walid -Radhiallahu Anhu- membuka daerah tersebut, Dia mendapati 40 anak kecil yang sedang menuntut ilmu Kitab Injil dan mempelajarinya untuk penyebaran ajaran Nashrani di daerah Timur.

Diantara anak-anak itu, ada Siiriin, Yasaar, Nashiir..

Dan setelah pembukaan -perluasaan daerah islam di wilayah tersebut oleh Kholid Bin Al-Walid- Mereka bertiga ini ingin mengenal tentang Islam !!

🔁 Maka yang pertama masuklah islam dan kemudian memiliki keturunan -yang bernama- Muhammad Bin Siiriin yang dia termasuk para imam dari kalangan tabi'in; imam dalam hal hadits, fiqih dan tafsir mimpi !!

Pukulan Keras Yang Menyakitkan Bagi Kaum Khawarij

🔁 Dan masuk islamlah orang yang kedua, dan kemudian memiliki keturunan -yang bernama- Ishaq Abu Muhammad Bin Ishaq Bin Yasaar.

Si pengarang Kitab dalam ilmu sejarah As-Siyar Wal Maghozi, yang dikenal dengan nama -Kitab- Siiroh Ibnu Ishaq !!

🔁 Dan masuklah islam orang yang ketiga, dan kemudian mempunyai keturunan -yang bernama- Musa Bin Nashiir, Sang Pembuka Negeri Andalus {nama dari bagian Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal)} dan Afrika Utara !!

Inilah dia buah hasil Islam yang dipahami Kholid Bin Al-Walid dan Para Shahabat yang mulia dari Generasi Awal Pendahulu...

-Bukanlah seperti yang dipahami seperti pelaku bom bunuh diri atau teror !! atau seperti yang berfatwa bolehnya bunuh diri !!-

Islam adalah keselamatan, kasih sayang, dan kebaikan bagi manusia.

Dan berdakwah di atas jalan Allah dengan hikmah, dan dengan nasihat yang baik.

Dan bukanlah seperti apa yang telah dilakukan Para DA'ISY (ISIS) hari ini -Qobbahahumullah Ta'ala- yang mereka itu telah mencoreng Persepsi Islam Yang Indah ❗

Maka ambillah pelajaran wahai yang memiliki ilmu dan agama !!

Sumber: Al-Bidayah Wan Nihayah Juz ke-6 Peristiwa 'Ainut Tamr Libni Katsir -Rahimahullahu Ta'ala-.

Diterjemah Oleh: Ustadz Abu Ahmad Ar-Ramadhany Abdurrahman Dani -Hafidzahullah-

📌صفعةٌ مؤلمة للخوارج

⁉ ماذا لو أن خالد بن الوليد فجَّر كنيسة ( عين التمـــر ) و قتل من فيها ⁉
هناك كنيسة اسمها عين التمر في بادية العراق لما فتحها خالد بن الوليد - رضي الله عنه - وجد فيها أربعين غلاماً يتعلمون الأنجيل ويتدارسونه لنشر النصرانية في الشرق .

و كان بينهم سيرين و يســــار و نصــير .. و بعد الفتح تعرّف هؤلاء الثلاثة على الإسلام !!

🔂 فأسلم الأول و أنجب محمد بن سيرين من أئمة التابعين فى الحديث و الفقه وتفسير الرؤى !!

🔁 و أسلم الثانى وأنجب إسحاق أبو محمد بن إسحق بن يسار صاحب كتاب السير والمغازى المعروف باسم سيرة ابن إسحاق !!

🔃 وأسلم الثالث و أنجب مــــوسى بن نصير فاتح الأندلس و شمال إفريقية !!

هذا هو نتاج الإسلام الذي فهمه خالد بن الوليد و الصحابة الكرام من الرعيل الأول ...

الإسلام هو السلام والرحمة و الخير للبشرية

و الدعوة إلى الله بالحكمة و الموعظة الحسنة

و ليس ما يفعله الدواعش اليوم - قبحهم الله تعالى - الذين شوهوا صورة الإسلام الجميلة

فاعتبروا ياأولي الأبصار !!
المصدر / البداية و النهاية الجزء السادس وقعة عين التمر لابن كثير رحمه الله تعالى .
Baca selengkapnya »
4 Ulama Mazhab "Jika Hadits itu shahih, itulah Mazhabku"

4 Ulama Mazhab "Jika Hadits itu shahih, itulah Mazhabku"

Perkataan para Imam 4 Madzhab tentang Pendapat Mereka dan Hadits/Sunnah Shahihah, semoga Allah merahmati mereka:

I.ABU HANIFAH (Imam Madzhab Hanafi)

1. "Apabila hadits itu shahih, maka hadits itu adalah madzhabku. ”(Ibnu Abidin di dalam Al-Hasyiyah 1/63).

2. Tidak dihalalkan bagi seseorang untuk berpegang pada perkataan kami, selagi ia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya”.(Ibnu Abdil Barr di dalam Al-Intiqa'u fi Fadha 'ilits Tsalatsatil A'immatil Fuqaha'i, hal. 145).

3. Dalam sebuah riwayat dikatakan: 'Adalah haram bagi orang yang tidak mengetahui alasanku untuk memberikan fatwa dengan perkataanku”.

4.Di dalam sebuah riwayat ditambahkan: “Sesungguhnya kami adalah manusia yang mengatakan perkataan pada hari ini dan meralatnya di esok hari”.

Jika Hadits itu shahih, itulah Mazhabku

5. “Jika aku mengatakan suatu perkataan yang bertentangan dengan kitab Allah dan kabar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka tinggalkanlah perkataanku”.(Al-Fulani di dalam Al-lqazh, hal. 50)

II. MALIK BIN ANAS (Imam Madzhab Maliki)

1.“Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia yang salah dan benar. Maka perhatikanlah pendapatku. Setiap pendapat yang sesuai dengan Kitab dan Sunnah, ambillah dan setiap yang tidak sesuai dengan Al Kitab dan Sunnah, tinggalkanlah”.(Ibnu Abdil Barr di dalam Al-Jami', 2/32).
2."Tidak ada seorang pun setelah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, kecuali dari perkataannya itu ada yang diambil dan yang ditinggalkan, kecuali Nabi Shallallahu alaihi wa sallam “.(Ibnu Abdil Hadi di dalam Irsyadus Salik, 1/227).

3.Ibnu Wahab berkata, 'Aku mendengar bahwa Malik ditanya tentang menyelang¬-nyelangi jari di dalam berwudhu, lalu dia berkata, 'Tidak ada hal itu pada manusia. Dia berkata. Maka aku meninggalkannya hingga manusia berkurang, kemudian aku berkata kepadanya. Kami mempunyai sebuah sunnah di dalam hal itu, maka dia berkata: Apakah itu? Aku berkata: Al Laits bin Saad dan Ibnu Lahi'ah dan Amr bin Al-Harits dari Yazid bin Amr Al ¬Ma’afiri dari Abi Abdirrahman Al-Habli dari Al Mustaurid bin Syidad Al-Qirasyi telah memberikan hadist kepada kami, ia berkata, ”Aku melihat RasulullahShallallahu Alaihi WaSallam menunjukkan kepadaku dengan kelingkingnya apa yang ada diantara jari¬-jari kedua kakinya. Maka dia berkata, “sesungguhnya hadist ini adalah Hasan,'aku mendengarnya hanya satu jam. Kemudian aku mendengarnya, setelah itu ditanya, lalu ia memerintahkan untuk menyelang-nyelangi jari-jari. (Mukaddimah Al-Jarhu wat Ta'dil, karya Ibnu Abi Hatim, hal. 32-33)

III. ASY-SYAFI'I (Imam Madzhab Syafi'i)

Adapun perkataan-perkataan yang diambil dari Imam Syafi'i di dalam hal ini lebih banyak dan lebih baik, dan para pengikutnya pun lebih banyak mengamalkannya. Di antaranya:

1.Tidak ada seorangpun, kecuali dia harus bermadzab dengan Sunnah Rasulullah dan menyendiri dengannya. Walaupun aku mengucapkan satu ucapan dan mengasalkannya dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang bertentangan dengan ucapanku. Maka peganglah sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Inilah ucapanku. ” (Tarikhu Damsyiq karya Ibnu Asakir,15/1/3).

2. “Kaum muslimin telah sepakat bahwa barang siapa yang telah terang baginya Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya, hanya karena mengikuti perkataan seseorang. “ (Ibnul Qayyim, 2/361, dan Al-Fulani, hal. 68).

3. "Apabila kamu mendapatkan di dalam kitabku apa yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka berkatalah dengan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan tinggalkanlah apa yang aku katakan. ” (Al-Harawi di dalam Dzammul Kalam,3/47/1).

4. "Apabila Hadist itu Shahih, maka dia adalah madzhabku. ” (An-Nawawi di dalamAI-Majmu', Asy-Sya'rani,10/57).

5. “Kamu (Imam Ahmad) lebih tahu dari padaku tentang hadist , dan orang¬-orangnya (Rijalull-Hadits). Apabila hadist itu shahih, maka ajarkanlah ia kepadaku apapun ia adanya, baik ia dari Kufah, Bashrah maupun dari Syam, sehingga apabila ia shahih, aku akan bermadzhab dengannya. ” ( Al-Khathib di dalam Al-Ihtijaj bisy-Syafi'I, 8/1).

6. “Setiap masalah yang didalamnya terdapat kabar dari Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam adalah shahih …. dan bertentangan dengan apa yang aku katakan, maka aku meralatnya di dalam hidupku dan setelah aku mati. ” (Al-¬Harawi, 47/1).

7. "Apabila kamu melihat aku mengatakan suatu perkataan, sedangkan hadist Nabi yang bertentangan dengannya shahih, maka ketahuilah, sesungguhnya akalku telah bermadzhab dengannya (Hadits Nabi)." (Al-Mutaqa, 234/1 karya Abu Hafash Al-Mu'addab).

8.Setiap apa yang aku katakan, sedangkan dari Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam terdapat hadist shahih yang bertentangan dengan perkataanku, maka hadits nabi adalah lebih utama. Olah karena itu, janganlah kamu mengikutiku.” (ibnu Asakir, 15/9/2).

IV.AHMAD BIN HAMBAL (Imam Madzhab Hambali) 

Imam Ahmad adalah salah seorang imam yang paling banyak mengumpulkan sunnah dan paling berpegang teguh kepadanya. Sehingga ia membenci penulisan buku-buku yang memuat cabang-cabang (furu’) dan pendapat. Oleh karena itu ia berkata:

1.“Janganlah engkau mengikuti aku dan jangan pula engkau mengikuti Malik, Syafi'i, Auza'i danTsauri,Tapi ambillah dari mana mereka mengambil. ” (Al¬ Fulani,113 danIbnul Qayyimdi dalam Al-I'lam, 2/302).

2.“Pendapat Auza'i, pendapat Malik, dan pendapat Abu Hanifah semuanya adalah pendapat, dan ia bagiku adalah sama, sedangkan alasan hanyalah terdapat di dalamatsar-atsar (hadits-hadits. Red. )” (Ibnul Abdl Bardi dalam Al-Jami`, 2/149).

3.“Barang siapa yang menolak hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia telah berada di tepi kehancuran. ”(Ibnul Jauzi,182). 

Allah berfirman:“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (An-Nisa:65), dan firman-Nya:“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.” (An-Nur:63)

📌Semua Imam-Imam ini menyatakan bahwa Hadits Shahih adalah Madzhab mereka, mereka rela pendapatnya ditinggalkan jika itu bertentangan dengan Nash al-Qur'an dan hadits shahih.

📌Pentingnya kita mempelajari ilmu Hadits adalah agar kita mengetahui bagaimana Ulama2 Hadits terdahulu meneliti dan mengoreksi hadits sesuai dengan darjat/ tingkatannya (Shahih, dha'if, hasan ataupun Maudhu').

Penjelasan tentang ilmu hadits dan yang terkait dengan ilmu tersebut insyaALLAH pada tulisan berikutnya..  إن شآء الله..

Wallahu A'lam
.ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ
Baca selengkapnya »
Kisah Pendeta Buhaira dan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasalam

Kisah Pendeta Buhaira dan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasalam

Kisah Rahib (Pendeta) Buhaira dan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasalam

Kitab-kitab sirah menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala telah berusia tujuh belas tahun, dia pergi ke Syam bersama pamannya Abu Thalib untuk melakukan perdagangan.

Kisah Pendeta Buhaira dan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasalam

Diriwayatkan oleh Sunan At Tirmidzi dari Abu Musa Al Asy’ari dia berkata, “Abu Thalib pergi ke Syam dengan diikuti oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama dengan tokoh-tokoh Quraisy dan setelah mendekati seorang pendeta, mereka beristirahat, kemudian membiarkan kendaraan mereka mencari kehidupannya. Kemudian pendeta itu keluar menemui mereka, sementara selama ini dia tidak pernah sekali pun menghiraukan kafilah perdagangan itu. Pendeta itu menelusuri tempat mereka berteduh, hingga menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memegang tangannya. Pendeta tersebut berkata, “Inilah Tuan Manusia, Inilah Rasul alam semesta, Dia diutus oleh Allah sebagai pembawa rahmat Alam semesta.”'

Pemuka Quraisy berkata kepada, “Apa dasar kamu, wahai Buhaira?” Dia berkata, “Waktu kamu meninggalkan Aqabah, maka tidak ada batu dan pohon kecuali semuanya bersujud kepadanya dan mereka berdua itu tidak pernah bersujud, kecuali untuk seorang Nabi dan saya megenalnya dengan tanda kenabian di bawah pundaknya seperti buah apel.” Kemudian pendeta tersebut pulang dan membuatkan makanan untuk orang Quraisy.

Sewaktu mereka mendatangi undangannya, Nabi berada di antara unta-unta. Buhaira berkata, “Panggil dia bersama kalian, kemudian dia datang dan awan telah menaunginya.” Setelah mendekat ke kaum, ternyata naungan pohon itu telah melindungi tokoh Quraisy dan tatkala Nabi duduk, tidak-tiba teduh pohon itu beralih ke Rasulullah. Buhaira berkata, “Lihatlah bagaimana teduh pohon itu beralih menaunginya.”
Kisah Pendeta Buhaira dan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasalam

Kemudian dia berpesan agar tidak membawa Muhammad ke Romawi, karena kalau mereka melihat Muhammad, maka mereka pasti mengenalinya dan akan membunuhnya.

Kemudian tiba-tiba ada tujuh orang yang datang dari Romawi, Buhaira menemuinya dan berkata, “Apa yang menyebabkan kalian datang?” mereka berkata, “Kami datang karena pada bulan ini, ada seorang Nabi yang telah melakukan perjalanan dan tidak ada jalan, kecuali telah ditelusuri dan kami telah mendapatkan informasi bahwa dia melintasi jalan kamu itu’.

Buhaira berkata, “Bagaimana pendapat kalian, jika Allah berkehendak atas sesuatu, adakah seorang dari umat manusia ini yang mampu untuk menahannya?” mereka berkata, “Tidak mungkin.” Buhaira berkata, “Kalau begitu baiatlah dia.” Mereka membaiatnya dan kemudian bertanya, “Siapakah walinya?” Mereka berkata, “Abu Thalib.” Abu Thalib senantiasa berusaha hingga dia mengambil kembali Muhammad dan mengutus bersamanya Abu Bakar dan Bilal, dan pendeta Buhaira membekalinya dengan kue dan minyak.” [1]

Pada kisah Buhaira diatas terdapat bukti bahwa Ahlul Kitab mengetahui sifat dan zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan diutus[Lihat DR Mahdi Rizkullah, As Sirah An Nabawiyyah hal.12], pengingkaran mereka terhadap risalah adalah atas dasat ilmu pengetahuan bukan atas dasar kebodohan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

‘Dan setelah datang kepada mereka Al Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, Padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkat itu.’ [QS.Al Baqarah:89]

Pada kisah Buhaira terdapat kesaksian Ahlul Kitab terhadap Ahlul Kitab, bahkan kesaksian seorang ulama dari Ahlul Kitab tentang kebenaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kesaksian terhadap orang-orang Nashrani bahwa mereka akan memusuhi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagian Nashrani berkomentar tentang pertemuan Buhaira dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berkata, “Apa yang dikatakan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah diangkat menjadi Nabi adalah dari pengajaran Buhaira’, kalau memang demikian maka patut dikatakan kepada mereka, ‘Kenapa kalian tidak menerima pernyataannya yang mengatakan tentang kebatilah akidah trinitas, penghapusan dosa dan penyaliban, doktrin yang dibawakan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari pendeta itu?

Kenapa orang-orang Nashrani pada hari ini tidak menerima pernyataan dari sesepuh mereka tentang kebatilan akidah mereka sebagaimana yang difirmakan oleh Allah ta’ala:


‘Sesungguhnya telah kafir orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam.” [QS.Al Maidah:72]

Dan juga firmannya:


“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga’, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa.” [QS.Al-Maidah:73]


Kalau memang pernyataan tersebut dari Buhaira, maka kenapa kalian tidak menerima?” [2]


Foot Note:

[1] Tirmidzi dalam sunannya, dishahihkan oleh Al-Bani, lihat Al-Bani, Shahih Sunan At Tirmidzi 3/191. Dia berkata, ‘Tetapi menyebut nama Bilal dalam riwayat itu adalah sebuah kemungkaran sebagaimana kata orang.’

[2] Lihat catatan kaki buku ,’Rahmatan Lil ‘Alamin, tulisan Qadhi Muhammad Sulaiman Al Manshurfuri, 1/34

[3] Keterangan foto: Biara ini terletak di Busra, Kota di Negeri Hauran ,di Negeri Syam. Bushra atau Bushra asy-Syam adalah kota administrasi Damaskus dan merupakan ibukota distrik Hawran. Kota ini berlokasi di selatan Suriah. Peninggalan sejarah yang terkenal dari kota ini adalah gedung teater Romawi, biara pendeta Bahira, dan Mabrak an-Naqah (tempat menderum unta).

Sumber: Fikih Sirah, Prof.Dr.Zaid bin Abdul Karim az-Zaid, Penerbit Darussunnah
Baca selengkapnya »
Fakta Sejarah pengaruh besar Islam pada kebudayaan Eropa hingga hari ini

Fakta Sejarah pengaruh besar Islam pada kebudayaan Eropa hingga hari ini

Rasulullah shalaAllahu alaihi wasallam telah mengisyaratkan bahwa sebelum kiamat tegak, umat Islam akan mengikuti segala tingkah laku Yahudi dan Nashara.

Ternyata apa yang disampaikan Rasulullah ﷺ adalah kebenaran dan terbukti di zaman sekarang. Terlebih setelah kejatuhan Andalus dari kaum Muslimin dan ekspansi untuk mencari.

Bahkan generasi muda muslim sudah alergi dengan agamanya akibat kejahilan akan agama mereka dan peradabannya. Padahal Islam sempat membuat geger bangsa Eropa kala itu, hanya karena penemuan sabun mandi yang dibeli raja-raja Eropa dari pedagang Muslim. Saat itu kebiasaan Barat sangat jarang mandi dan mencuci pakaian karena dianggap merusak baju mereka.

 pengaruh besar Islam pada kebudayaan Eropa

Namun akibat kejahilan yang merata di mana-mana di era modern ini, muncul sebuah anggapan bahwa jika seorang muslim menampilkan syiar Islam akan dianggap terbelakang dan kolot, bahkan teroris. Maka tidak heran terjadi islamphobia di negeri mayoritas Islam sendiri.

Sehingga kita wajib mengingatkan kembali kaum muslimin akan sejarah mereka yang dilupakan, sehingga generasi muda umat tidak ragu lagi mengekspresikan status mereka sebagai muslim baik di dalam tingkah laku, budaya, pakaian dan lain-lainya.

BAHASA ARAB

Dahulu pada tahun 800-an masehi, para raja dan aristokrat kaya dan elit Eropa seperti Jerman, Britania (Inggris), Perancis dan Italia mengutus pangeran-pangeran mereka ke Andalus (Spanyol) untuk belajar ilmu melalui tangan ulama kaum muslimin.

Kendati ilmu yang mereka pelajari adalah ilmu keduniawian seperti Ilmu astronomi, matematika, fisika, bangunan, dan sejenisnya, mereka harus menguasai Bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya.

Sehingga ketika mereka kembali ke Eropa, bahasa yang mereka gunakan terhadap sesama pelajar alumni Andalusia adalah Bahasa Arab. Bahkan mereka berbangga dengan Bahasa Arab di hadapan aristokrat lain dan terkadang mencampur-campurkan Bahasa Arab ke Bahasa latin mereka agar kelihatan intelek cendekia dan berpendidikan tinggi.

Hal ini membuat Gereja merasa risih dan gusar melihat gelombang budaya Islam memasuki Barat bahkan mempengaruhi pemuda pemuda mereka. Gereja pun mengeluarkan Kanon atau Dekrit gereja bahwa siapapun yang menggunakan Bahasa Arab maka mereka dilarang masuk Kenisah Surgawi alias kerajaan tuhan di langit!

Hal yang kami tulis bukan sekedar wacana, akan tetapi hal ini sebagaimana yang ditulis oleh Paulus Alvarus yang terkenal dengan Alvaro De Cordoba di tahun 854 masehi, seorang Mozarab (penulis sejarah Islam) yang merasa terusik karena perubahan pemuda Kristen di zamannya.

Di dalam bukunya INDICULUS LUMINONUS bab 35 ia berkata:

“Pemuda pemuda Nasrani begitu gembira dengan syair-syair (poetry) Arab dan cerita cerita mereka. Mereka mempelajari buku-buku Fiqih dan buku-buku ideologi Muhammad bukan untuk mempraktekkannya, tetapi untuk mengambil ilmu sastra Arab yang elegan dan benar.

Dimanakah hari ini seorang ilmuan nasrani yang bisa membaca tafsiran Latin di kitab sucinya? Dimanakah mereka yang mempelajari Injil dan buku-buku Para Rasul dan Nabi Nasrani?

Aduhai malangnya! Pemuda Kristen yang seharusnya banyak memiliki bakat, tidaklah memiliki pengetahuan kecuali hanya sastra Arab dan Bahasa Arab saja. Mereka membaca Bahasa Arab dengan begitu ambisius dan cinta yang berlebihan. Mereka juga mengumpulkan literatur-literatur Arab dengan uang yang sangat banyak dan di dalam pembicaraan mereka selalu saja memuji-muji budaya Arab.

Dan jika engkau melihat sisi lain mereka, seperti ketika engkau menyebut buku buku Nasrani, pasti buku-buku itu tidak menarik perhatian mereka sama sekali.

Aduhai Kasihannya! Orang-orang Kristen sudah lupa bahasa mereka. Bahkan satu dari seribu mereka sudah tidak sanggup lagi menulis surat biasa kepada teman sendiri dengan bahasa latin yang benar!

Tapi jika kau suruh mereka menulis dengan Bahasa Arab, sungguh mereka akan menulisnya dengan mengungkapkan jiwanya ke dalam Bahasa Arab itu dengan penuh keindahan, bahkan hampir hampir melebihi syair Arab itu sendiri karena aturan-aturan sastra Arab yang secara tekun mereka pelajari.”

(Dinukil dari buku Medieval Islam karangan Gustave E. von Grunebaum di halaman 57-58)

Bahkan Kaum Nashara juga menulis surat resmi mereka dengan bahasa Arab, hal ini sebagaimana yang dikatakan Ibn Zubayr ketika ia bersama rombongan musafir singgah di benteng Acre. Di situ ditulis bahwa bea cukai tentara salib ditulis dengan bahasa Arab dan mereka berbicara dengan bahasa Arab pula. (الاوضاع الحضارية في بلاد الشام halaman 244).

PAKAIAN ALA ARAB

Gelombang pengaruh Islam tidak hanya berhenti pada bahasa Arab saja, bahkan para raja dan bangsawan mengikuti pakaian ala Islam.

Hingga seorang Kepala Paus di Benteng Acre menulis surat kepada kepausan Roma akan keluhan ia terhadap orang orang Kristen yang meniru-niru pakaian orang Islam dan kebiasaan mereka.

Seperti wanita wanita Kristen yang memakai hijab yang menunjukkan kehormatan dan malu. Bahkan seorang penunggang kuda malah memakai kopiah dan burnus (jubah dengan tutup kepala) dan meletakkan sejadah permadani di dudukan kuda mereka karena merasa bangga dengan indahnya pakaian ala Islam yang penuh corak dan warna melambangkan kehormatan. (Setelah beberapa ratus tahun kemudian, baju Burnus adalah simbol perlawanan penjajahan perancis terhadap Aljazair).

Bahkan mereka juga memanjangkan janggut mereka dan meminyakinya agar mirip kaum muslimin. Memakai sandal seperti sandalnya kaum muslimin, bahkan seorang raja bernama King Baldwin tahun 1100 – 1118 Masehi, juga menganti baju kebesaran Eropanya dengan baju ala Islam dan memanjangkan janggutnya, yang mana hal ini tidak pernah dilakukan raja Eropa.

Seorang Raja Antioch yang bernama Tancred mengeluarkan dekrit agar mencetak uang koin dengan gambar dia sambil mengenakan baju Islam.

KEBERSIHAN

Orang orang Eropa mulai belajar kebersihan melalui kaum Muslimin. Bahkan kalau bukan karena perang salib, mereka tidak bakal mengenal mandi dan kebersihan seperti sekarang.

Seorang wanita orientalis Jerman yang bernama Sigrid Hunke dalam bukunya (Allahs Sonne über dem Abendland):

“Suatu ketika ada seorang ilmuwan Andalusia yang bernama At-Tortushi yang sedang berkeliling Prancis mendapati perkara yang membuat bulu kuduknya merinding, karena ilmuwan itu adalah seorang Muslim yang senantiasa mandi dan wudhu 5 kali sehari.

Dengarkanlah apa yang dikatakannya,”Jika engkau melihat orang Prancis, maka tidak ada yang lebih kotor dan jorok dibanding mereka. Mereka tidak membersihkan badan sendiri, mereka juga tidak mandi selama setahun kecuali sekali atau dua kali saja, Adapun pakaian orang perancis tidak pernah mereka cuci setelah mereka memakainya, bahkan hingga baju itu lusuh dan compang camping.”

Kemudian Sigrid Hunke berkata,”perkara seperti ini memang wajar tidak bisa dilihat orang orang Arab, yang mana kebersihan itu adalah kewajiban dalam agama mereka, di samping itu daerah Arab sangat panas. Bahkan, ketika itu saja di Baghdad sudah ada ribuan pemandian air panas yang tersebar di mana mana.”

Kebiasaan “tidak mandi” ini berlangsung selama ratusan tahun, pemandian mewah dan shampo pertama kali di Inggris dibawa oleh seorang pelancong Muslim India, bernama Sheikh ad Din Muhammad atau dalam dialek inggrisnya adalah Sake Dean Mahomed.

Dia memiliki pemandian air panas, shampo, wewangian, dan juru pijat. Tapi kemudian dia murtad akibat pergaulan Barat. Waliyadzu billah.

Fakta fakta yang dipaparkan di sini bukan sekedar isapan jempol semata, namun ia adalah kenyataan pahit dan memalukan yang akan kekal dalam buku buku sejarah Timur dan Barat.

Lebih dari itu, ada seorang Ratu Kerajaaan Castile yang bernama Isabella yang naik tahta tahun 1474 Masehi, ia sangat merasa bangga dan terhormat karena selama hidupnya ia tidak pernah mandi kecuali hanya dua kali saja; pada hari kelahirannya tahun 1451 M dan pada hari pernikahannya tahun 1469 M. (lihat: The Moorish Civilization in Spain – Joseph McCabe, Hal 105 terjemahan Arab).

Ratu Isabela ini dikenal sebagai maniak eksekusi dan salah satu pelopor inkuisisi yang menyebabkan genosida muslim Spanyol dan Yahudi serta eksodus besar-besaran ke Afrika.

Begitulah kira-kira pengaruh besar Islam pada kebudayaan Eropa. Namun sebagaimana disebutkan bahwa sejarah akan ditulis pemenang, baik itu dengan licik ataupun dengan cara keji lainnya. Tetapi fakta tidak bisa dimanipulasi. Muslim yang baik adalah yang tidak pernah melucuti sejarahnya.

Dengan sejarah yang otentik, kita bisa berkaca akan peradaban kita yang dicuri. Sehingga kita sadar bahwa agama kita ini adalah sebab musabab segala peradaban modern yang dunia kini nikmati.

Semoga tulisan ini memberi pencerahan bagi kita semua.

Walhamdulillahi rabbil alamin.

Oleh Fauzi Rifaldi, Admin fanpage Suara Madinah
Baca selengkapnya »
Buruknya Akhir Hayat pelaku Bidah nan zholim di masa Imam Ahmad bin Hambal

Buruknya Akhir Hayat pelaku Bidah nan zholim di masa Imam Ahmad bin Hambal

1. Ahmad bin Abi Duad

✖ Musuh pertama Ahlus Sunnah di jaman mihnah (ujian pernyataan kufur al-Qur'an makhluk-pent). Dialah yang menguji manusia dengan pernyataan al-Qur'an makhluk. Dan al-Imam Ahmad juga disiksa karena sebab dia.

Ketika Allah mengangkat mihnah (ujian) tersebut melalui Khalifah Mutawakkil, Mutawakkil merampas harta bendanya, lalu dia menjadi fakir. Allah menghinakannya setelah sebelumnya dia mulia dan bergelimang dosa.

kitab Siyar A'lamin Nubala'

Dia menua dan ditimpa penyakit lumpuh separuh. Abdul Aziz al-Kinani (dinisbahkan padanya Kitab al- Haidah) mengunjunginya di saat sakitnya. Lalu dia berkata padanya:
"Aku datang padamu bukan untuk menjengukmu, akan tetapi dalam rangka memuji Allah karena engkau terpenjara dalam kulitmu.¹"

Dia dan anaknya, Muhammad, mati setelah ditimpa malapetaka. Putranya lebih dahulu, kemudian sang ayah di bulan Muharram tahun 240 dan dimakamkan di negerinya, Baghdad.

2. Ibnuz Zayyat Abu Ja'far Muhammad bin Abdul Malik bin Aban

Dia berpendapat bahwa al-Qur'an adalah makhluk. Dia termasuk orang yang memusuhi al-Imam Ahmad rahimahullah. Ketika Allah mengangkat mihnah (ujian) tersebut melalui Khalifah Mutawakkil, Mutawakkil merampas hartanya dan menyiksanya.

Dahulu di masa jayanya, Ibnuz Zayyat pernah berkata:" Aku tidak pernah merasa kasihan pada seorang pun. Sifat belas kasih menandakan kelemahan tabiat seseorang."

Lalu dia dipenjara di penjara yang sempit. Di sekelilingnya terdapat paku-paku seperti jarum besar. Lalu dia pun menangis sembari berteriak:"Kasihanilah aku" Maka mereka (para penjaga) berkata:"Sifat belas kasih menandakan kelemahan tabiat seseorang."

Siyar A'lamin Nubala'
Thuwailibul 'Ilmisy Syar'i (TwIS)
Abu Abdillah Rahmat
Muraja'ah: al-Ustadz Kharisman Abu Utsman hafizhahullah

Catatan:

1. Artinya, tidak perlu dipenjara dalam suatu ruangan khusus, ia sudah terpenjara karena tidak bisa ke mana-mana akibat sakit. Justru penjaranya ada dalam kulitnya. (Ustad Kharisman)

Arabic

صورٌ مِن نهاياتِ الظالمين أهلِ البدعِ في زمانِ الإمامِ أحمدَ بنِ حنبل

1- أحمد بن أبي دؤاد

عدوّ أهل السنة الأول في زمان المحنة، كان يمتحن الناس بخلق القرآن، وعُذِّب الإمام أحمد بسببه.
لما رَفع اللهُ المحنة بالمتوكل، صَادَرَ المُتَوَكِّلُ أمواله، وَافتَقَرَ، فأذلَّهُ اللهُ بعد عزّةٍ وإثْمٍ.

شَاخَ وَرُمِيَ بِالفَالِجِ (الشلل النصفي) ، وَعَادَهُ عَبْدُ العَزِيْزِ الكِنَانِيُّ ( *المنسوب له كتاب الحيدة*) في مرضه، وَقَالَ: لَمْ آتِكَ عَائِداً، بَلْ لأَحْمَدَ اللهَ عَلَى أَنْ سَجَنَكَ فِي جِلْدِكَ.

مَاتَ هُوَ وَوَلَدُهُ مُحَمَّدٌ مَنْكُوْبَيْنِ، الوَلَدُ أَوَّلاً، ثُمَّ مَاتَ الأَبُ فِي المُحَرَّمِ، سَنَةَ أَرْبَعِيْنَ وَمائَتَيْنِ، وَدُفِنَ بِدَارِهِ بِبَغْدَادَ.

2- ابْنُ الزَّيَّاتِ أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بنُ عَبْدِ المَلِكِ بنِ أَبَانٍ

كان يقول بخلق القرآن، وكان من خصوم الإمام أحمد رحمه الله تعالى.
فلما رفع الله المحنة بالمتوكل، صَادَرَ المتوكلُ أمواله، وَعَذَّبَهُ.

كَانَ ابنُ الزيات في زمان عزّته يَقُوْلُ: مَا رَحِمتُ أَحَداً قَطُّ؛ الرَّحْمَةُ خَوَرٌ فِي الطَّبعِ.
فَسُجِنَ فِي قَفَصٍ حَرِجٍ، جِهَاتُه بِمَسَامِيْرَ كَالمَسَالِّ، فَكَانَ يَصِيحُ: ارْحَمُونِي.
فَيَقُوْلُوْنَ: الرَّحْمَةُ خَوَرٌ فِي الطَّبِيعَةِ.

السير للذهبي
Baca selengkapnya »
Meluruskan kekeliruan peristiwa Perang Paderi dan isu Wahabisme di Minangkabau

Meluruskan kekeliruan peristiwa Perang Paderi dan isu Wahabisme di Minangkabau

Berikut saya coba menyajikan secara singkat saja point-point penting tentang Islam, Perang Paderi dan isu Wahabisme di Minangkabau. Jika ingin mengetahui lebih detail saya akan pecah menjadi topik-topik tulisan jika diperlukan. Penjelasan dibawah ini bukan semata opini saya namun berangkat dari hasil kajian sejarah yang dilakukan para aktivis sejarah Minangkabau dari kalangan akademisi dan praktisi pada beberapa grup diskusi.

- Masuknya Islam ke Minangkabau. Menganggap Islam masuk ke Minangkabau sejak zaman Perang Paderi adalah satu kesalahan fatal dan bukti kemalasan membaca literatur. Wilayah Minangkabau adalah wilayah terbuka yang selalu terhubung dengan wilayah-wilayah lain di sekitarnya sejak zaman kejayaan Barus dan Sriwijaya. Islam dipercaya masuk ke Minangkabau sejak abad ke 7, tidak berapa lama terpaut dengan meninggalnya Nabi Muhammad Shallallahu alahi wa salam. Sriwijaya sendiri sudah didiami pedagang-pedagang Muslim sejak masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Sebagai wilayah perdagangan emas dan pala, kota-kota bandar di Sumatra telah berinteraksi dengan Islam sejak saat itu.

peristiwa Perang Paderi

- Agama Adityawarman. Adityawarman yang berayah Jawa Singashari dan beribu Malayu Dharmasraya menikahi putri penguasa lokal Minangkabau yaitu Datuak Katumanggungan. Dia kemudian memperkenalkan konsep kerajaan pada masyarakat Minangkabau dengan mendirikan kerajaan Malayapura (Pagaruyung). Agama yang dianut Adityawarman adalah Budha Bhairawa.

- Agama Keturunan Adityawarman. Dua ratus tahun setelah berdirinya Pagaruyung pada tahun 1347, Islam menjadi agama resmi keluarga raja yaitu dengan naik tahtanya Sultan Alif pada tahun 1561. Sultan Alif ini masih ada kaitan keturunan dengan Adityawarman walaupun tidak dalam garis lurus. Gelar Sultan menunjukkan Raja Minangkabau saat itu sudah beragama Islam. Sejak saat itu pula nama Kerajaan secara resmi berubah menjadi Kerajaan Negeri Minangkabau. Pemerintahan bersifat Triumvirate yang dipegang 3 orang raja yaitu Raja Alam di Pagaruyung, Raja Adat di Buo dan Raja Ibadat di Sumpur Kudus. Keberadaan Raja Ibadat adalah untuk mengatur urusan agama.

- Syekh Burhanuddin Ulakan. Aliran Tasawuf berkembang di Aceh sebagai agama resmi negara seiring meningkatnya pamor Kesultanan Aceh. Pada awal tahun 1700-an muncul seorang ulama besar dari Ulakan-Pariaman yaitu wilayah Pantai Barat Minangkabau. Syekh Burhanuddin yang menuntut ilmu di Singkil, Aceh Selatan mendirikan Tarekat Syattariyah di Ulakan. Tarekat ini dengan segera memperoleh pengikut dalam jumlah besar hingga ke jantung kerajaan di Pagaruyung. Untuk satu abad ke depan, warna Syatariah inilah yang mendominasi Minangkabau dan menjadi cikal bakal Islam Tradisional di Minangkabau.

baca juga: TUDUHAN DENGAN ISTILAH WAHABI

- Konflik di Pagaruyung. Pada akhir tahun 1700-an terjadi persaingan politik di antara anak-anak Sultan Alam Muningsyah II, Raja Alam masa sebelumnya. Konflik ini lah yang menjadi cikal bakal instabilitas di Tanah Datar dan melatarbelakangi beberapa peristiwa pembunuhan di kalangan bangsawan Pagaruyung. Ada dua pihak yang berhadap-hadapan saat itu yaitu kelompok yang dipimpin oleh Raja Adat di Buo yang ingin menerapkan aturan Islam dan pihak Raja Alam di Pagaruyung yang bersekutu dengan Tuan Gadang Batipuah yang berkeinginan mempertahankan acara-acara judi, sabung ayam dan candu sebagai cara cepat mengisi kas negara.Perhatikan, kelompok pendukung aturan Islam dipimpin oleh Raja Adatsendiri, lalu kelompok mana yang kita kenal dengan Kaum Adat itu?

- Kepulangan Tiga Orang Haji dari Mekah. Sampai saat ini masih tidak ada kaitan antara kelompok Harimau Nan Salapan di Luhak Agam dan Pasaman dengan konflik internal kerajaan di pusat Minangkabau yaitu di seputaran Tanah Datar dengan Pagaruyung sebagai episentrum konfliknya. Kepulangan Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang dari Makkah yang sedang bergejolak oleh Revolusi Wahabi menjadi awal dari gerakan pemurnian agama di tingkat rakyat. Gerakan ini kemudian membesar dan menginginkan berdirinya sebuah negara Islam yaitu Darul Islam Minangkabau yang berpusat di Bonjol, Pasaman. Bonjol terletak jauh di utara Pagaruyung dan belum terkait dengan konflik Pagaruyung.

- Penyerahan Minangkabau kepada Belanda. Kembali kepada konflik internal Pagaruyung, di akhir cerita posisi Raja Alam semakin terdesak karena kelompok yang pro pemurnian agama dan anti kemaksiatan semakin kuat. Luhak Agam dan Luhak Tanah Datar lepas dari kendali kekuasaan Raja Alam. Khusus Luhak Agam, faktor Harimau Nan Salapan menjadi penting sebagai sebab berpindahnya dukungan masyarakat. Harimau Nan Salapan adalah Dewan Tuanku (pemimpin agama) yang beranggotakan delapan orang yang berasal dari Wilayah Luhak Agam, Pasaman, Rokan Riau dan Tapanuli Selatan.

- Tuanku Imam Bonjol merupakan anggota dari Harimau Nan Salapan. Lewat komunikasi politik, kelompok pendukung Raja Adat di Buo yang pro penerapan aturan Islam akhirnya bergabung dengan Harimau Nan Salapan. Posisi Raja Alam menjadi semakin terjepit dan akhirnya mengirim utusan ke Batavia untuk mengundang Belanda masuk ke Minangkabau. Raja Alam saat itu yaitu Sultan Tangkal Alam Bagagarsyah menyerahkan Minangkabau tanpa syarat kepada Belanda. Perlu diketahui, Minangkabau yang dimaksud adalah wilayah Dataran Tinggi Minangkabau di sebelah Timur Bukit Barisan. Belanda sebelumnya telah menguasai Padang (daerah pantai barat) sejak tahun 1600-an.

- Perang Paderi. Pasca penyerahan wilayah oleh Raja Alam, Belanda mengambil langkah cepat yaitu mendirikan dua benteng yaitu Fort de Kock di Bukittinggi dan Fort Van der Capellen di Batusangkar. Kelompok pendukung Raja Alam kemudian dipersenjatai untuk menyerang pusat pemerintahan Harimau Nan Salapan di Bonjol. Laskar pribumi ini adalah prajurit-prajurit Tuan Gadang Batipuah yang memang dikenal sebagai tukang onar.

baca juga: faktor ekonomi dan faktor politik dibelakang fitnah wahabi

Mereka dibantu oleh pasukan yang dibawa dari Jawa, Madura, Bugis, Ambon dan tentara bayaran dari India dan Afrika Barat, selain pasukan Belanda sendiri. Bonjol akhirnya jatuh dengan direbutnya benteng Daludalu. Namun Paderi belum takluk, mereka tetap melakukan perlawanan di wilayah Rokan, Riau dibawah pimpinan Tuanku Tambusai (salah satu anggota Harimau Nan Salapan)

- Benarkah ada Kaum Adat dan Kaum Agama serta Wahabi? Sejarah Nasional Indonesia yang ditulis oleh Nugroho Notosutanto menyederhanakan peristiwa diatas menjadi konflik antara kaum adat dan kaum agama (wahabi). Dasar penulisan sejarah ini adalah buku karangan seorang Orientalis Belanda yang anti Islam bernama Prof. JV Veth. Orang inilah yang pertama menggunakan istilah Wahabbi terhadap kelompok pendukung aturan Islam di Minangkabau. Dia pula yang memperkenalkan istilah Kaum Adat sebagai oposan dari Wahabi.

Namun logika ini tentu aneh, karena Raja Adat di Buo sendiri malah berpihak kepada kelompok Paderi. Perlu diketahui Raja Adat ini juga seorang Tuanku dengan gelar Sultan Sembahyang. Jadi bagaimana mungkin mengatakan bahwa kaum adat lah yang melakukan aktivitas judi, sabung ayam, minum tuak dan mengisap candu? Yang ada adalah sekelompok orang yang pro aktivitas maksiat tersebut dengan lindungan Raja Alam dan Tuan Gadang Batipuah. 

- Gerakan pemurnian agama di Minangkabau murni sebagai bentuk keresahan masyarakat atas merajalelanya maksiat. Sedangkan di kalangan bangsawan, ada unsur perebutan kekuasaan dengan latar belakang pandangan keagamaan. Sampai saat itu tidak ada kaitan sama sekali dengan Revolusi Wahabi di Hijaz.

- Gerakan Modernisme Islam tahun 1900-an. Terpaut seratus tahun setelah kecamuk perang Paderi yang meluluhlantakkan Minangkabau, muncullah gerakan pembaharuan agama yang dirintis oleh Haji Rasul, ayah dari Buya HAMKA. Saat ini spirit keagamaan yang berkembang adalah pemikiran-pemikiran Islam Kontemporer dari Mesir seperti pemikiran Muhammad Abduh, Jamaluddin al Afghani dan Rasyid Ridha. Nuansa Islam zaman ini selain gerakan modernisme agama juga memiliki agenda politik anti penjajahan.

Hal ini sejalan dengan mulai bangkitnya perlawanan terhadap penjajah di Mesir, India dan Indonesia. Gerakan inilah yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya gerakan pembaruan Minangkabau yang kemudian menyatukan diri dengan Muhammadiyah yang didirikan Ahmad Dahlan di Yogyakarta. Kemunculan gerakan ini menimbulkan gesekan dengan para penganut Islam Tradisional seperti tarekat Syattariah dan Naqsyabandi. Namun hanya sebatas debat-debat agama saja.

- Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Ada banyak versi tentang kelahiran konsensus ini, namun yang terbanyak diyakini adalah konsensus ini lahir di Puncak Bukit Marapalam dalam pertemuan islah antar pemimpin kelompok-kelompok yang bertikai dalam Perang Paderi. ABS-SBK disebut juga sebagai Piagam Bukit Marapalam. Sejak saat itulah berlaku ketentuan, Islam adalah agama orang Minangkabau dan sumber adat adalah syariat Islam, dengan konsekuensi keluar dari Islam maka dianggap bukan orang Minang lagi.

baca juga: ulama dan Tokoh dunia membantah konotatif dusta tentang penamaan wahabi

- Terpinggirnya ABS-SBK. Jika ABS-SBK benar-benar diterapkan, mungkin kita akan melihat wajah Minangkabau yang lain pada saat ini. Berkuasanya Belanda selama 100 tahun dari 1840 hingga 1940 di Minangkabau membuat cita-cita penerapan aturan Islam kandas. Belanda memperkuat penerapan Hukum Adat dengan menjadikan penghulu-penghulu nagari masuk kedalam struktur pemerintahannya serta menghambat perkembangan dakwah Islam. Oleh karena itu, Belanda amat memusuhi gerakan Modernisme Islam pada awal 1900-an karena bangkitnya Islam akan merugikan kepentingan Belanda.

Itulah sebagian serpihan tentang keberadaan Islam di Minangkabau yang amat kaya dalam variasinya. Islam di Minangkabau telah mengalami persinggungan dengan berbagai jenis aliran dan tarekat sejak Syatariah, Naqsyabandiah, Syafiiah, Pemurnian Agama, Modernisme bahkan Ahmadiyah. Jadi amat keliru jika menganggap Wahabisme lah paham keagamaan orang Minangkabau, apalagi dengan ditambah-tambahi dengan asumsi bahwa Wahabi adalah sebuah mazhab khusus atau malah sekte di luar Islam. Hakikat dakwah yang dibawa oleh para haji yang kembali dari Mekkah pada tahun 1800-an sebenarnya hanyalah mazhab Hanbali yang diakui sebagai salah satu dari empat mazhab resmi Ahlussunnah wal Jamaah.

Istilah Wahabi pada kenyataannya hanyalah istilah yang diciptakan oleh kolonialis untuk memberikan stigma negatif terhadap gerakan perlawanan yang tidak bisa mereka taklukkan. Silahkan ditelusuri sendir apa itu wahabi, karena bisa panjang bahasannya kalau diulas pula disini.

Semoga Bermanfaat.

oleh: Fadli Zulfadli

Kekeliruan istilah perang paderi

Menurut Dr Emeraldy Chatra (Pengajar di Jurusan Komunikasi FISIP Unand)

Istilah Perang Padri diciptakan oleh Prof Veth, seorang orientalis Belanda yang tidak pernah berkunjung ke Sumatera Barat. Ia hanya mengandalkan laporan-laporan pegawai dan tentara kolonial yang berada di medan perang.

Padri itu julukan Prof Veth untuk kaum Islam di Minangkabau. Jelas ini pengistilahan yang sangat keliru, karena asal kata padri adalah "padre"(Spanyol) yang berarti pendeta. Kaum Islam di Minangkabau tentu bukan pendeta.

Selama ini kita menjadikan cerita Veth sebagai rujukan tentang perang yang berkobar mulai 1809 sampai 1837 itu. Selain terdapat pengistilahan yang keliru, jalan cerita yang dikarang Veth juga amburadul.
Baca selengkapnya »
TRAGEDI HARRAH, musibah terburuk dalam sejarah kaum muslimin

TRAGEDI HARRAH, musibah terburuk dalam sejarah kaum muslimin

Seandainya ratusan ulama di negeri ini dibunuh dan kemudian diikuti dengan ribuan pembantaian kaum muslimin lainnya; bagaimana perasaan dan sikap kita ?. Marah ?. Pasti. Dan seperti itulah kemarahan kaum muslimin zaman dulu ketika terjadi tragedi Harrah. Tragedi yang meluluh-lantakkan Kota Madinah dengan genangan darah para shahabat dan taabi'iin serta perampasan harta. Diantara riwayat yang saya baca terkait tragedi Harrah, ada satu yang yang membuat takjub, yaitu apa yang direport oleh Naafi' :

جَاءَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ إِلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُطِيعٍ، حِينَ كَانَ مِنْ أَمْرِ الْحَرَّةِ مَا كَانَ زَمَنَ يَزِيدَ بْنِ مُعَاوِيَةَ، فَقَالَ: اطْرَحُوا لِأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ وِسَادَةً، فَقَالَ: إِنِّي لَمْ آتِكَ لِأَجْلِسَ أَتَيْتُكَ لِأُحَدِّثَكَ حَدِيثًا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُهُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا حُجَّةَ لَهُ، وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
Ibnu ‘Umar datang kepada Abdullah bin Muthii’ ketika terjadi tragedi Al-Harrah pada zaman Yaziid bin Mu’aawiyyah. Lalu 'Abdullah bin Muthii’ berkata : "Berikan kepada Abu 'Abdirrahmaan (yaitu Ibnu ‘Umar) sebuah bantal!". Ibnu 'Umar berkata : "Sesungguhnya aku tidak mendatangimu untuk duduk. Aku datang untuk menyampaikan sebuah hadits yang aku dengar dari Rasulullah ﷺ. Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda : 'Barangsiapa melepaskan tangan dari ketaatan (kepada penguasa), ia akan menjumpai Allah pada hari kiamat dalam keadaan tidak mempunyai hujjah (alasan) untuk membela diri. Dan barangsiapa mati sedangkan tidak ada (ikatan) bai’at di lehernya, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyyah" [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1851].

Jika kita ukur dengan timbangan gula orang zaman sekarang, perkataan Ibnu 'Umar radliyallaahu 'anhu ini sungguh sangat tidak populer. Ketika kaum muslimin Madinah menerima kabar pemimpinnya di Syaam minum khamr dan melakukan kemaksiatan, yang kemudian setelah itu mereka diblokade, diserang, dirampas hartanya, serta kaum muslimin dan ulama mereka dibantai; Ibnu 'Umar malah memberikan nasihat agar tetap mendengar dan taat kepada pemimpin dan tidak melakukan pemberontakan.

TRAGEDI HARRAH

Dalam riwayat lain dijelaskan, Ibnu 'Umar mendatangi Ibnu Muthii' di rangkaian malam saat terjadi tragedi Harrah. Dengan bahasa yang sering terbaca di media sosial, nasihat ini (dapat dianggap) sebagai nasihat yang 'tidak tepat waktu'. "Ya akhi,.... bukannya menyemangati, antum malah menggembosi, menganjurkan mendengar dan taat pada orang yang tak pantas menjadi pimpinan kita".

Tapi itulah 'Abdullah bin 'Umar, sosok pemberani yang tetap menyampaikan hadits yang ia dengar dari Rasululah ﷺ. Dan terbukti ketika tragedi Harrah telah lewat, apa yang dikatakan Ibnu 'Umar dari sabda Nabi ﷺ mengandung hikmah dan faedah yang luar biasa. Para ulama menuliskannya panjang lebar yang kemudian menjadi sebuah konsensus manhaj Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah.

Tragedi Harrah adalah pengalaman pahit dan dianggap salah satu musibah terburuk dalam sejarah kaum muslimin. Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran.

Al-Hasan Al-Bashriy rahimahullah berkata:


إِنَّ الْفِتْنَةَ إِذَا أَقْبَلَتْ عَرَفَهَا الْعَالِمُ، وَإِذَا أَدْبَرَتْ عَرَفَهَا كُلُّ جَاهِلٍ
“Sesungguhnya fitnah ketika ia datang, diketahui para ulama. Dan apabila fitnah telah berlalu, orang-orang jahil baru mengetahuinya” [Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul-Auliyaa’, 9/24].

Ustadz Dony Arif Wibowo
Baca selengkapnya »
KETIKA PKI MENEKAN ULAMA MEMINJAM TANGAN NEGARA

KETIKA PKI MENEKAN ULAMA MEMINJAM TANGAN NEGARA

Saya lahir ketika Orde Baru sedang mulai berkuasa, yang saya tahu, saat itu PKI, anggota, keluarga dan pengikutnya, sedang dikejar-kejar dari lubang semut sampai lubang buaya. Tetangga saya di-pulau-Buru-kan sepuluh tahun lamanya. Padahal di tahun 1960an, dia hanya orang-orang sederhana, yang karena takut pada PKI lalu ikut menjadi penggembira acaranya.

Memang ada jutaan orang yang di masa Orde Baru terdholimi,
baik yang masa lalunya dengan PKI membuat mereka dipersekusi.
Atau juga orang-orang kritis lain yang dengan asal dituduh subversi.
Sejatinya, kejahatan Orde Baru tidak berarti memutihkan dosa-dosa PKI.

Karena, jauh sebelum Orde Baru mengejar-ngejar PKI, justru PKI sudah biasa menekan dan membantai ulama di sana dan di sini, baik secara langsung, atau meminjam tangan negara dengan keji !!!

Zaman itu PKI juga sudah menyalahgunakan dasar negara.
Para ulama yang anti komunis, dituduh Anti Pantjasila.
Partai seberang, dibubarkan meminjam tangan penguasa.
Para pemimpinnya dipenjarakan, tanpa pengadlan tentu saja,
dan para pengikutnya dimusuhi dan dikejar sampai desa-desa.

Dan berikut ini adalah kesaksian tokoh ulama anti komunis di zaman itu, yang dipenjarakan sekian lama, PROF. BUYA HAMKA:
----------------------------------------------------------------------------------

Mari kita segarkan kembali ingatan kita, bahwa menegakkan kebenaran itu selalu penuh tantangan. Belum tentu yang tampak diikuti secara gegap gempita dengan segala kebesarannya adalah hal yang benar. Ulama sejati tidak boleh mundur menyuarakan kebenaran sekalipun kesesatan tampak bagai gelombang besar di hadapannya.

Pada tanggal 17 Agustus 1958, dengan suara yang gegap gempita, Presiden Soekarno telah mencela dengan sangat keras Muktamar (Konferensi) para Alim Ulama Indonesia yang berlangsung di Palembang tahun 1957. Berteriaklah Presiden bahwa konferensi itu adalah “komunis phobia” dan suatu perbuatan yang amoral.

Pidato yang berapi-api itu disambut dengan gemuruh oleh massa yang mendengarkan, terdiri dari parpol dan ormas yang menyebut dirinya revolusioner dan tidak terkena penyakit komunis phobia. Sebagaimana biasa pidato itu kemudian dijadikan sebagai bagian dari ajaran-ajaran Pemimpin Besar Revolusi, semua golongan berbondong-bondong menyatakan mendukung pidato itu tanpa reserve (tanpa syarat).

Malanglah nasib alim-ulama yang berkonferensi di Palembang itu, karena dianggap sebagai orang-orang yang kontra revolusi, bagai telah tercoreng arang. “Nasibnya telah tercoreng di dahinya”, demikian peringatan Presiden. Banyak orang yang tidak tahu apa gerangan yang dihasilkan oleh alim-ulama yang berkonferensi itu, karena disebabkan kurangnya publikasi (atau tidak ada yang berani) yang mendukung konferensi alim-ulama itu, publikasi-publikasi pembela Soekarno dan surat-surat kabar komunis telah mencacimaki alim-ulama kita.

Perlulah kiranya resolusi Muktamar Alim-Ulama ini kita siarkan kembali agar menyegarkan ingatan umat Islam dan membandingkannya dengan Keputusan Sidang MPRS ke IV yang berlangsung bulan Juli 1966 lalu.

KETIKA PKI MENEKAN ULAMA

Muktamar yang berlangsung pada tanggal 8 – 11 September 1957 di Palembang telah memutuskan bahwa :

1. Ideologi-ajaran komunisme adalah kufur hukumnya dan haram bagi umat Islam menganutnya

2. Bagi orang yang menganut ideologi-ajaran komunisme dengan keyakinan dan kesadaran, kafirlah dia dan tidak sah menikah dan menikahkan orang Islam, tiada pusaka mempusakai dan haram jenazahnya diselenggarakan (tata-cara pengurusan) secara Islam.

3. Bagi orang yang memasuki organisasi atau partai-partai berideologi komunisme, PKI, SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakyat dan lain-lain tiada dengan keyakinan dan kesadaran, sesatlah dia dan wajib bagi umat Islam menyeru mereka meninggalkan organisasi dan partai tersebut.

Demikian bunyi resolusi yang diputuskan oleh Muktamar Alim-Ulama Seluruh Indonesia di Palembang itu. Resolusi yang ditandatangani oleh Ketua K.H. M. Isa Anshary dan Sekretaris Ghazali Hassan. Karena resolusi yang demikian itulah para ulama kita yang bermuktamar itu dikatakan oleh Presidennya sebagai amoral (tidak bermoral/kurangajar).

Akibat dari keputusan Muktamar tersebut, alim-ulama kita yang sejati langsung dituduh sebagai orang-orang tidak bermoral, komunis phobia, musuh revolusi dan sebagainya. Maka K.H. M. Isa Anshary sebagai ketua yang menandatangani resolusi itu pada tahun 1962 dipenjarakan tanpa proses pengadilan selama kurang lebih 4 tahun. Dan banyak lagi alim-ulama yang terpaksa menderita dibalik jeruji besi karena dianggap kontra revolusi.

Terbengkalai nasib keluarga, habis segala harta-benda bahkan banyak di antara mereka memiliki anak yang masih kecil-kecil. Semua itu tidak menjadi pikiran Soekarno. Di samping itu, ada “ulama” lain yang karena berbagai sebab memilih tunduk tanpa reserve pada Soekarno dengan ajaran-ajaran yang penuh maksiat itu, bermesra-mesra dengan komunis di bawah panji Nasakom.

Bertahun lamanya masa kemesraan dengan komunis itu berlangsung di negara kita, dalam indoktrinasi, pidato-pidato Nasakom dipuji-puji sebagai ajaran paling tinggi di dunia. Dan ulama yang dipandang kontra revolusi yag telah memutuskan komunis sebagai paham kafir yang harus diperangi, dihina dan setiap pidato dan dalam setiap tulisan. Meskipun sang ulama sudah meringkuk dalam tahanan, namun namanya tetap terus dicela sebagai orang paling jahat karena anti Soekarno dan anti komunis.

Nasehat dan fatwa ulama yang didasarkan kepada ajaran-ajaran Al Qur’an, dikalahkan dengan ajaran-ajaran Soekarno melalui kekerasan ala komunis.

Rupanya Allah hendak memberi dulu cobaan bagi rakyat Indonesia. Kejahatan komunis akhirnya terbukti dengan Gestapu-nya. Allah mencoba dulu rakyat Indonesia sebelum Dia membuktikan kebenaran apa yang dikatakan oleh alim-ulama itu hampir sepuluh tahun lalu.

Sidang MPRS ke IV pun telah mengambil keputusan mengenai komunis dan ajaran-ajarannya sebagai berikut :

“Setiap kegiatan di Indonesia untuk menyebarkan atau mengembangkan paham atau ajaran Komunisme/Marxisme/Leninisme dalam segala bentuk dan manifestasinya, dan penggunaan segala macam aparatur serta media bagi penyebaran atau pengembangan paham atau ajaran tersebut adalah DILARANG”.

Dengan keputusan MPRS tersebut, apa yang mau dikata tentang alim-ulama kita yang dulu dikatakan amoral oleh Soekarno? Insya Allah para alim-ulama kita dapat melupakan semua penghinaan dan penderitaan yang dilemparkan kepada mereka. Dan sebagai ulama mereka tidak akan pernah bimbang walau perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan itu pasti akan beroleh ujian yang berat dari Tuhan.

Watak ulama adalah sabar dalam penderitaan dan bersyukur dalam kemenangan.

Ulama yang berani itu telah menyadarkan dirinya sendiri bahwa mereka itu adalah ahli waris para nabi.

Nabi-nabi banyak yang dibuang dari negeri kelahirannya atau seperti yang dialami Nabi Ibrahim a.s. yang dipanggan dalam api unggun yang besar bernyala-nyala, seperti Nabi Zakariya a.s. yang gugur karena digergaji dan lain-lain nabi utusan Allah.

Hargailah putusan Muktamar Alim-Ulama di Palembang itu, karena akhirnya kita semua telah membenarkannya. Bersyukurlah kita kepada Tuhan bahwa pelajaran ini dapat kita petika bukan dari menggali perbendaharaan ulama-ulama lama tapi hanya dalam sejarah 10 tahun yang lalu.

(Disarikan dari Kumpulan Rubrik Dari Hati ke Hati, Majalah Panji Mas dari 1967 – 1981, terbitan Pustaka Panji Mas hal 319)

Oleh: Prof. Dr. Ing. H Fahmi Amhar
Baca selengkapnya »
APAKAH NABI KITA HIDUP KAYA ATAU MISKIN?

APAKAH NABI KITA HIDUP KAYA ATAU MISKIN?

Periode kehidupan Nabi pernah diwarnai kecukupan bahkan kelebihan, namun juga pernah mengalami masa-masa kekurangan, dan kemiskinan. Saat kecil hingga meninggal, nuansa warna itu bercorak dalam kehidupan beliau.

Saat diasuh kakeknya, Abdul Muththolib, kehidupan beliau relatif berkecukupan. Abdul Muththolib dikenal kaya raya.

Saat diasuh Abu Tholib, sang paman, beliau hidup dalam kemiskinan. Karena secara finansial Abu Tholib memang kekurangan.

APAKAH NABI KITA HIDUP KAYA ATAU MISKIN?

Khodijah radhiyallahu anha, istri Nabi yang pertama, adalah seorang wanita kaya raya dan mulia. Banyak membantu Nabi dengan hartanya.

Namun, tidak sedikit periode kehidupan Nabi setelahnya yang diwarnai dengan kekurangan secara finansial, miskin. Tapi itu terjadi karena Nabi memilih demikian.

Jika Nabi mau, bisa saja Allah memperjalankan gunung-gunung emas dan perak bersama beliau:

وَاللهِ يَا عَائِشَةَ ! لَوْ شِئْتُ لَأَجْرَى اللهُ مَعِي جِبَالَ الذَّهَبِ وَ الْفِضَّةِ
Demi Allah wahai Aisyah, kalau aku mau, Allah bisa memperjalankan bersamaku gunung-gunung emas dan perak (H.R Ibnu Sa’ad dalam Thobaqot – Silsilah asShahihah)

Seandainya Nabi memiliki emas sebanyak atau sebesar gunung Uhud, beliau akan membagi-bagikannya sebagai infaq di jalan Allah. Hingga setelah berlalu hari yang ke-3, yang tersisa hanyalah dinar yang dipersiapkan untuk membayar hutang.

مَا يَسُرُّنِى أَنَّ لِى أُحُدًا ذَهَبًا تَأْتِى عَلَىَّ ثَالِثَةٌ وَعِنْدِى مِنْهُ دِينَارٌ إِلاَّ دِينَارٌ أُرْصِدُهُ لِدَيْنٍ عَلَىَّ
Tidaklah membuatku senang, jika aku memiliki emas sebesar Uhud, kemudian datang hari yang ketiga, sedangkan aku masih memiliki dinar (uang emas). Kecuali dinar itu aku persiapkan untuk membayar hutangku (H.R Muslim)

Tapi memang kehidupan Nabi bersama para istri beliau di Madinah, banyak diwarnai kekurangan secara finansial.

Pernah selama tidak kurang 2 bulan berturut-turut tidak ada makanan yang bisa dipanggang, dimasak, atau direbus di atas tungku api. Hanya makan kurma dan minum air saja. Silakan disimak kisah ibunda kaum beriman, Aisyah radhiyallahu anha:

وَاللَّهِ يَا ابْنَ أُخْتِي إِنْ كُنَّا لَنَنْظُرُ إِلَى الْهِلَالِ ثُمَّ الْهِلَالِ ثُمَّ الْهِلَالِ ثَلَاثَةَ أَهِلَّةٍ فِي شَهْرَيْنِ وَمَا أُوقِدَ فِي أَبْيَاتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَارٌ قَالَ قُلْتُ يَا خَالَةُ فَمَا كَانَ يُعَيِّشُكُمْ قَالَتْ الْأَسْوَدَانِ التَّمْرُ وَالْمَاءُ
Demi Allah wahai putra saudariku, kami pernah melihat hilal kemudian hilal kemudian hilal. Tiga hilal dalam 2 bulan. Tidak ada sesuatu (bahan makanan) yang dimasak (di atas api) di rumah-rumah Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. Aku (Urwah) berkata: Wahai bibi, dengan apa kalian hidup? Aisyah mengatakan: al-Aswadaan: kurma dan air (H.R al-Bukhari dan Muslim)

Nabi pernah masuk di pagi hari ke rumah Aisyah dan bertanya: Apakah ada makanan? Aisyah menjawab: Tidak ada. Nabi menyatakan: Kalau begitu, aku berpuasa (H.R Muslim)

Rumah yang ditinggali Aisyah demikian sempit. Hanya satu kamar yang cukup untuk tidur berdua. Saat Nabi sholat malam, Aisyah masih tidur di depan beliau, tidak memungkinkan untuk Nabi bersujud karena terhalang kaki Aisyah. Maka Nabi pun menyentuh kaki Aisyah memberi isyarat agar ditarik, sehingga Nabi bisa meletakkan dahi beliau. Rumah beliau juga gelap tanpa penerangan.

Aisyah radhiyallahu anha berkata:

...وَرِجْلَايَ فِي قِبْلَتِهِ فَإِذَا سَجَدَ غَمَزَنِي فَقَبَضْتُ رِجْلَيَّ وَإِذَا قَامَ بَسَطْتُهُمَا قَالَتْ وَالْبُيُوتُ يَوْمَئِذٍ لَيْسَ فِيهَا مَصَابِيحُ
...dan kedua kakiku berada di kiblat beliau. Jika beliau akan sujud, beliau menyentuh aku sehingga aku tarik kakiku. Jika beliau berdiri, aku menjulurkan kedua kaki lagi. Pada waktu itu rumah-rumah (istri Nabi) tidak memiliki lampu (H.R Muslim)

Nabi shollallahu alaihi wasallam meninggal dunia dalam keadaan baju perang beliau tergadaikan pada seorang Yahudi, untuk mendapatkan 30 sho’ gandum sebagai makanan sehari-hari.

تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَدِرْعُهُ مَرْهُونَةٌ عِنْدَ يَهُودِيٍّ بِثَلَاثِينَ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ
Rasulullah shollallahu alaihi wasallam meninggal dunia dalam keadaan baju besi beliau tergadaikan pada seorang Yahudi dengan imbalan 30 sho’ gandum (H.R al-Bukhari).

Nabi kita adalah teladan dalam berbagai keadaan. Saat beliau berkecukupan, kehidupannya adalah teladan. Saat beliau kekurangan, beliau juga uswah. Saat senang atau sedih. Dalam seluruh sendi kehidupan.

Kekayaan bukanlah tercela, jika digunakan di jalan Allah. Kemiskinan bukanlah hina, jika dijalani dengan kesabaran dan iffah.

Sahabat Nabi ada juga yang kaya, namun lebih banyak lagi yang miskin. Mereka semua adalah teladan pula dalam kebaikan.

Para Ulama berbeda pendapat tentang manakah yang lebih utama antara orang kaya yang bersyukur atau orang miskin yang bersabar. Namun kesimpulan pendapat yang rajih – insyaAllah- yang terbaik adalah orang yang berbuat secara benar sesuai keadaan dia saat itu. Jika ia ditakdirkan kaya, ia bersyukur. Jika ia ditakdirkan miskin, ia bersabar.

Mungkin saat ini kita kaya, bukan berarti sisa kehidupan kita akan terus demikian. Mungkin juga saat ini kita kekurangan, bukan berarti episode hidup tersebut akan berlanjut demikian tanpa henti.

Bersikaplah dalam bimbingan Sunnah Nabi. Jika miskin, jangan iri dengki pada yang kaya. Turut bersyukur saudara kita berkelimpahan. Kita senang sebagaimana saudara kita merasakan kesenangan itu. Jika kaya, jangan pelit berbagi dengan sesama. Jangan merasa lebih tinggi dan mulia di sisi Allah dibandingkan yang miskin.

Yang kaya jangan merasa bangga dengan memiliki keutamaan melebihi yang lain pada hari kiamat. Kalaupun kita ditakdirkan meninggal dalam keadaan kaya, ingatlah, bisa jadi seandainya pun kita diberi rahmat Allah ke dalam Surga-Nya, proses menuju ke dalamnya tidaklah dalam waktu yang singkat. Orang-orang miskin yang beriman akan lebih dahulu masuk jauh sebelum kita. Karena orang kaya masih sibuk mempertanggungjawabkan dari mana hartanya didapat, ke mana disalurkan.

يَدْخُلُ الْفُقَرَاءُ الْجَنَّةَ قَبْلَ الْأَغْنِيَاءِ بِخَمْسِ مِائَةِ عَامٍ نِصْفِ يَوْمٍ
Orang-orang fakir masuk ke Surga sebelum orang-orang kaya sejauh 500 tahun, (yaitu) setengah hari (di akhirat, pent) (H.R at-Tirmidzi)

قُمْتُ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَكَانَ عَامَّةَ مَنْ دَخَلَهَا الْمَسَاكِينُ وَأَصْحَابُ الْجَدِّ مَحْبُوسُونَ 
Aku berdiri di dekat pintu Surga, mayoritas orang yang memasuki Surga adalah orang-orang miskin, sedangkan orang-orang kaya tertahan (untuk hisab) (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Usamah)

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan pertolongan, taufiq, dan kemudahan pada segenap kebaikan dalam sisa kehidupan kita...

(Abu Utsman Kharisman)
turut publikasi : Salafy Cirebon
Baca selengkapnya »
Keluarga Kami Dulu Diincar PKI

Keluarga Kami Dulu Diincar PKI

Keluarga Nauman Djamil Datuk Mangkuto Ameh, salah satu leluhur kami dari sisi trah Minangkabau, yang saat itu anti PKI dan Wakil Gubernur Riau di masa-masa Pemberontakan PKI ketiga di tahun 1965, dulu juga diincar, ditandai PKI.

Bahkan satu malam, saat beliau sakit, di masa-masa pemberontakan PKI ketiga tahun 1965 itu, para penjaga, sahabat, dan kerabat keluarga kami melihat di ujung jalan rumah kami di jalan Gajah Mada, Pekanbaru, ada Truk berisikan banyak orang, berhenti. Lalu ada beberapa orang turun. Cepat-cepat para penjaga memberitahu pak Datuk, dan menukar pak Datuk dengan seseorang di tempat tidurnya.

Keluarga Kami Dulu Diincar PKI

Benar, mereka lalu masuk ke halaman rumah. Dan saat ditanya hendak perlu apa malam-malam datang, mereka berkata hendak membezuuk pak Datuk. Namun ternyata mereka juga membawa senjata tajam setelah diperiksa. Maka mereka diminta meninggalkan senjata tajamnya di luar rumah. Dan mereka pun diperbolehkan masuk ke rumah dan kamar pak Datuk bersama para sahabat dan penjaga rumah itu.

Herannya, mereka rupanya tidak tahu bahwa yang di kamar atau di tempat tidur itu, bukanlah pak Datuk. Sementara pak Datuk ada di sana menyaksikan ini, berdiri, tak jauh dari tempat tidur 'si sakit' itu.

Setelah berbasa-basi sebentar, mereka pun lantas pergi.

Dan setelahnya, kerabat diamankan, dan penjagaan diperketat.

Di Jawa Timur, adik ipar pak Datuk, adik dari nenek kami H. Sotina Tianor, yakni Ir. H. Sotion Ardjanggi, yang saat itu adalah Direktur P.T. Semen Gresik (*) juga diincar di rumahnya, di Jl. Awikoen, Kompleks Semen Gresik, Gresik.

(*) Pak Sotion di kemudian hari selain menjadi Direktur P. T. Pusri, Dirjen Aneka Industri Kabinet Pembangunan IV, anggota DPR, MPR, dll., juga adalah mertua dari Prof. DR. H. Dien Samsudien, yang juga dikenal sebagai mantan Ketua Umum PP "Muhammadiyah" dan Ketum MUI Pusat, salah seorang 'ulama senior, dll.

Ibu saya dan kerabatnya yang saat itu di sana, di rumah Awikoen, melihat orang-orang yang tak dikenal mengintai dari pepohonan. Maka kerabat pun lebih diamankan, dan penjagaan pun diperketat pula.

Alhamdulillaah sampai masa-masa PKI diperangi, dilarang Tap MPR RI, usaha ini semua tak pernah berhasil.

Demikianlah cerita keluarga kami, dikisahkan, diingatkan di antara kami, turun-temurun.

Kini, meniliki segala keadaan, kiranya waspadalah.

Kini kiranya, kader Neo mereka pun tak hanya sendirian. Para Munafiquun, Kafiruun, Syi'ah, dkk. terbukti bersama mereka di berbagai belahan dunia. 'Iraq, Suriah, Yaman, Libanon, setidaknya, adalah contoh nyata. Belum lagi persekutuan pragmatis mereka dengan kaum lainnya.

Berbagai Bisyaroh (pemberitahuan akan masa depan) dari Hadits, juga mengisyaratkan hal-hal yang pantas diwaspadai kaum beriman. Dan memang satu per satu terjadi.

Dan tentu saja kekayaan alam Nusantara Indonesia tak mungkin diabaikan oleh mereka, kaum yang serakah keduniawian. Dan menghalalkan segala cara. Kaum yang tidak percaya akan Kehidupan Akhirah, Surga, dan Neraka.

Dan sungguh, ingatlah, ini memanglah Masa-masa Akhir Jaman.

Keangkaramurkaan pasti datang, dan tentu dilawan oleh kaum yang beriman.

Puncaknya, bersama Rosuululloh 'Isa (Esau, Yeshua) bin Maryaam Al Masih - 'alaihis salaam - dan Al Imaam Al Mahdi, kaum yang beriman pewaris ajaran 124.000 nabi dan rosul Tauhiid sejak awal jaman pasti - in syaa Allah, sesuai janjiNya - memenangkannya. Dan juga menyelamatkan, menyejahterakan, menenteramkan seluruh makhluk dunia di masa puncak Akhir Jaman.

Sampai masa Kehidupan berikutnya.

Fa bi ayyi 'alaa'i Robbikuma tukadzibaan?

Alhamdulillaah.

Abu Taqi Mayestino (A. Machicky Mayestino Triono Soendoro)
Baca selengkapnya »
-->