IBX5A47BA52847EF DakwahPost: syarah
Menyedihkan, Mereka ini Diusir dari Telaga Nabi

Menyedihkan, Mereka ini Diusir dari Telaga Nabi

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Mengimani keberadaan telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bagian dari prinsip ahlus sunah. dan ini bagian dari kesempurnaan iman kepada hari akhir.

Tentang keberadaan haudh (telaga) di hari kiamat, telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak hadis dengan redaksi yang berbeda. Diantaranya,

Pertama, bahwa semua nabi memiliki haudh

Dari Samurah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ لِكُلِّ نَبِىٍّ حَوْضًا وَإِنَّهُمْ يَتَبَاهَوْنَ أَيُّهُمْ أَكْثَرُ وَارِدَةً وَإِنِّى أَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ وَارِدَةً
Sesungguhnya setiap nabi memiliki Haudh (telaga). Dan mereka akan saling berlomba, siapa diantara mereka yang telaganya paling banyak pengunjungnya. Dan saya berharap, aku adalah orang yang telaganya paling banyak pengunjungnnya. (HR. Turmudzi 2631 dan dishahihkan al-Albani)

Kedua, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunggu kita di telaga

Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنِّى فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، مَنْ مَرَّ عَلَىَّ شَرِبَ ، وَمَنْ شَرِبَ لَمْ يَظْمَأْ أَبَدًا
Saya menunggu kalian di telaga. Siapa yang mendatangiku, dia akan minum airnya dan siapa yang minum airnya, tidak akan haus selamanya. (HR. Bukhari 6583 & Muslim 6108)

Ketiga, ada yang disesatkan, sehingga tidak bisa mendekat ke telaga

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ، وَلَيُرْفَعَنَّ لِي رِجَالٌ مِنْكُمْ، ثُمَّ لَيُخْتَلَجُنَّ دُونِي، فَأَقُولُ: يَا رَبِّ، أَصْحَابِي، فَيُقَالُ لِي: إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ
Aku menunggu kalian di telaga. Sungguh ditampakkan kepadaku beberapa orang diantara kalian, kemudian dia disimpangkan dariku. Lalu aku mengatakan, “Ya Rabbi, itu umatku.” Kemudian disampaikan kepadaku, “Kamu tidak tahu apa yang mereka perbuat setelah kamu meninggal.” (HR. Ahmad 4180 dan Bukhari 6576)

Keempat, air telaga bersumber dari surga

Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu,

سُئِلَ عَنْ عَرْضِ الحَوضِ فَقَالَ « مِنْ مَقَامِى إِلَى عَمَّانَ ». وَسُئِلَ عَنْ شَرَابِهِ فَقَالَ « أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ يَغُتُّ فِيهِ مِيزَابَانِ يَمُدَّانِهِ مِنَ الْجَنَّةِ أَحَدُهُمَا مِنْ ذَهَبٍ وَالآخَرُ مِنْ وَرِقٍ
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang lebar telaga. Jawab beliau, “Dari tempatku ini sampai Oman.” Lalu beliau ditanya tentang kondisi airnya, jawab beliau, “Lebih putih dari susu, lebih manis dari madu, ada dua pancuran yang selalu memancar, terhubung sampai ke surga. Yang satu dari emas dan yang satu dari perak.” (HR. Muslim 6130).

Kelima, Luas telaga dan Gayungnya

Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

حَوْضِى مَسِيرَةُ شَهْرٍ ، مَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ اللَّبَنِ ، وَرِيحُهُ أَطْيَبُ مِنَ الْمِسْكِ ، وَكِيزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ
Telagaku lebarnya sejauh perjalanan sebulan. Airnya lebih putih dari susu, aromanya lebih harum dari kesturi, gayungnya seperti bintang di langit. (HR. Bukhari 6579 & Muslim 6111).

Menyedihkan, Mereka ini Diusir dari Telaga Nabi

Gayungnya disamakan dengan bintang artinya sama dalam jumlah dan gemerlapnya. Mereka yang Disesatkan dari Telaga

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bercerita, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendatangi kuburan, lalu beliau memberi salam, “Salamu alaikum, wahai penduduk negeri kaum mukminin, kami insyaaAllah akan bertemu kalian.” Lalu beliau mengatakan,

“Saya ingin ketemu dengan teman-temanku.”

“Bukankah kami ini teman-teman anda ya Rasulullah?” tanya para sahabat.

“Bukan, kalian sahabatku. Teman-temanku adalah umat islam yang akan datang setelah masa ini. Aku menunggu mereka di telagaku.” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Ya Rasulullah, bagaimana anda bisa mengenali umatmu yang belum pernah ketemu dengan anda?” tanya sahabat.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat permisalan,

“أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ رَجُلًا كَانَ لَهُ خَيْلٌ غُرٌّ مُحَجَّلَةٌ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ خَيْلٍ بُهْمٍ دُهْمٍ، أَلَمْ يَكُنْ يَعْرِفُهَا؟ ” قَالُوا: بَلَى. قَالَ: ” فَإِنَّهُمْ يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ، وَأَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ”
“Bagaimana menurut kalian, jika ada orang yang memiliki kuda hitam yang ada belang putih di wajah dan kaki-kakinya, dan dia berada di kerumunan kuda yang serba hitam. Bukankah dia bisa mengenalinya?”

“Tentu dia bisa mengenali kudanya.” Jawab sahabat.

“Umatku akan dibangkitkan di hari kiamat dalam keadaan belang di wajah dan tangannya karena bekas wudhu. Saya menunggu mereka di telaga.” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Lalu beliau mengingatkan,

أَلَا لَيُذَادَنَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ عَنْ حَوْضِي كَمَا يُذَادُ الْبَعِيرُ الضَّالُّ، أُنَادِيهِمْ: أَلَا هَلُمَّ، فَيُقَالُ: إِنَّهُمْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ، فَأَقُولُ: سُحْقًا، سُحْقًا
Ketahuilah, sungguh ada beberapa orang yang disesatkan, tidak bisa mendekat ke telagaku, seperti onta hilang yang tersesat. Aku panggil-panggil mereka, “Kemarilah…kemarilah.” Lalu disampaikan kepadaku, “Mereka telah mengubah agamanya setelah kamu meninggal.”

Akupun (Nabi) mengatakan, “Celaka-celaka..”. (HR. Ahmad 8214 & Muslim 607)

Dalam riwayat Bukhari, Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهُمْ مِنِّى . فَيُقَالُ إِنَّكَ لاَ تَدْرِى مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِى
“Mereka umatku… “

lalu disampaikan kepadaku, “Kamu tidak tahu bahwa mereka telah mengubah (agamanya) setelah kamu meninggal”. Akupun berkomentar, “Celaka-celaka bagi orang yang mengganti agamannya setelah aku meninggal.” (HR. Bukhari 7051).

Siapakah Orang yang Mengganti itu?

Kita simak keterangan al-Qurthubi,

قال علماؤنا رحمة الله عليهم أجمعين : فكل من ارتد عن دين الله أو أحدث فيه ما لا يرضاه الله و لم يأذن به الله فهو من المطرودين عن الحوض المبعدين عنه و … وكذلك الظلمة المسرفون في الجور و الظلم و تطميس الحق و قتل أهله و إذلالهم و المعلنون بالكبائر المستحفون بالمعاصي و جماعة أهل الزيغ و الأهواء و البدع
Para ulama (guru) kami – rahimahumullah – mengatakan,

Semua orang yang murtad dari agama Allah, atau membuat bid’ah yang tidak diridhai dan diizinkan oleh Allah, merekalah orang-orang yang diusir dan dijauhkan dari telaga…. Demikian pula orang-orang dzalim yang melampaui batas dalam kedzalimannya, membasmi kebenaran, membantai penganut kebenaran, dan menekan mereka. Atau orang-orang yang terang-terangan melakukan dosa besar terang-terangan, menganggap remeh maksiat, serta kelompok menyimpang, penganut hawa nafsu dan bid’ah. (at-Tadzkirah, hlm. 352).

Keterangan lain juga disampaikan Ibnu Abdil Bar,

“Semua orang yang melakukan perbuatan bid’ah yang tidak diridhai Allah dalam agama ini akan diusir dari telaga Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang paling parah adalah ahlul bid’ah yang menyimpang dari pemahaman kaum muslimin, seperti khawarij, syi’ah rafidhah dan para pengikut hawa nafsu… semua mereka ini dikhawatirkan termasuk orang-orang yang disebutkan dalam hadits ini yang diusir dari telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Syarh az Zarqaani ‘ala al-Muwaththa, 1/65).

Mengapa mereka diusir dari telaga?

Karena sewaktu di dunia mereka tidak mau minum sunah dan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka lebih memihak bid’ah dengan sejuta alasannya, demi membela ajaran tokohnya. Sebagaimana mereka tidak minum telaga sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka di akhirat kelak mereka tidak boleh minum air telaga beliau, yang merupakan janji indah untuk ahlus sunah.

Terutama Mereka Yang Mengingkari Keberadaan Telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Kita simak penuturan Imam Ibnu Katsir,

“Penjelasan tentang telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam – semoga Allah Memudahkan kita meminum dari telaga tersebut pada hari kiamat – yang disebutkan dalam banyak hadis, dengan banyak jalur yang kuat, meskipun ini tidak disukai oleh orang-orang ahlul bid’ah yang keras kepala menolak dan mengingkari keberadaan telaga ini. Merekalah yang paling terancam untuk diusir dari telaga tersebut pada hari kiamat. Sebagaimana ucapan salah seorang ulama salaf,

من كذب بكرامة لم ينلها
“Barangsiapa yang mendustakan (mengingkari) suatu kemuliaan maka dia tidak akan mendapatkan kemuliaan tersebut…”(an-Nihayah fi al-Fitan wal Malahim, 1/374).

Semoga Allah memberi kekuatan kita untuk selalu istiqamah di atas kebenaran…

Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
Baca selengkapnya »
Istighfar Anak Shaleh mengangkat  Derajat Orang Tuanya di Surga

Istighfar Anak Shaleh mengangkat Derajat Orang Tuanya di Surga

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، أَنَّى لِي هَذِهِ ؟ فَيَقُولُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ
Artinya: “Dari Abu Hurairah – Radhiyallahu ‘Anhu – berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda: ‘Sesungguhnya Allah ‘Azza Wajalla meninggikan derajat seorang hambaNya yang Saleh di surga, sehingga hamba tersebut bertanya: ‘Ya Rabb, Bagaimanakah semua ini (bisa menjadi) milikku?, Allah berfirman menjawabnya: ‘Karena Istghfar anakmu untuk dirimu'”. (HR: Ahmad, Ibnu Majah. Dan dinilai Shahih oleh Syaikh Al-Albani dan Hasan oleh Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth).

Pelajaran yang terdapat dalam hadits:

1- Allah ‘Azza Wajjalla akan meninggikan derajat di surga setiap orang tua dengan amalan dan istighfar anak-anaknya yang tak pernah mereka ia duga sebelumnya.

2- Maka alangkah beruntungnya orang tua yang beriman dan saleh, terlebih apabila ia memiliki anak cucu yang Saleh dan Salehah. mereka akan berkumpul bersama di surga yang penuh kenikmatan dan kekal selama lamanya.
Istighfar Anak Shaleh

Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran:

- Selamat mendidik diri dan keluarga dan jangan lupa untuk selalu membaca doa ini, doa yang pernah dipanjatkan oleh Nabi Zakariyya dan Ibrahim ‘Alaihimassalam agar kita diberikan anak cucu yang saleh

رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاء
“Ya Rabbi berikanlah kepadaku dari sisimu keturunan yang baik sesungguhnya engkau adalah Maha mendengar doa” Ali Imron: 38

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِين
“Ya Rabbi berikanlah untukku (keturunan) yang Saleh”. As-Soffat:100

2- Apabila orang yang beriman memiliki keturunan yang mengikuti mereka dalam keimanan niscaya Allah akan hubungkan anak cucu mereka bersama dengannya kelak dalam satu Manzilah (tempat) yang sama disurga. Demikian penjelasan Ibnu Katsir ketika menafsirkan Ayat ini:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
Artinya: “Dan orang-orang yang beriman beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga) dan kami tidak mengurangi sedikit pun pahala kebaikan atau kebaikan mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya” (QS: Ath-Thūr – 21). 

republish from whatsapp group dakwah
Baca selengkapnya »
syarah hadits shahih imam muslim nomor 438 (Takbiratul ihram)

syarah hadits shahih imam muslim nomor 438 (Takbiratul ihram)

حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ، حَدَّثَنَا أَبُو الْأَشْهَبِ، عَنْ أَبِي نَضْرَةَ الْعَبْدِيِّ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى فِي أَصْحَابِهِ تَأَخُّرًا فَقَالَ لَهُمْ: «تَقَدَّمُوا فَأْتَمُّوا بِي، وَلْيَأْتَمَّ بِكُمْ مَنْ بَعْدَكُمْ، لَا يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأَخَّرُونَ حَتَّى يُؤَخِّرَهُمُ اللهُ
🎬 Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab shahihnya (no. 438) dari Abu Sa’id Alkhudry bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat sebagian sahabatnya sering terlambat (shalat jama’ah), beliau pun berkata: “majulah kalian, bermakmumlah kepadaku, dan orang yang datang kemudian bermakmum kepada kalian, orang – orang yang senantiasa terlambat akan Allah lambatkan ia”

📄 Imam Suyuthi berkata makna hadits ini adalah: “orang yang senantiasa terlambat mendapatkan shaf yang terdepan akan Allah lambatkan ia mendapat rahmat, keutamaan yang agung, kedudukan tinggi dengan ilmu dan yang semisalnya”.
shalat berjamaah

📋 Syekh Ibnu Utsaimin mengomentari hadits ini dalam fatwa beliau (Fatwa Syekh Utsaimin hal.54 jil.13): “berdasarkan hadits ini, hendaklah seseorang khawatir kalau ia membiasakan dirinya terlambat dalam ibadah, Allah akan menimpanya dengan keterlambatan disetiap momen – momen kebaikan”.

📻 Anas bin Malik berkata tentang ayat (berlombalah menuju ampunan dari Rabbmu..)yaitu: “takbiratul ihram”.

Dibangun atas dasar ini, saya akan nuqil bagaimana sikap para salaf bagaimana perhatian mereka akan shaf yang pertama dan takbiratulihram:

📌 1. Sa’id bin Almusayyab berkata: “aku tidak pernah ketinggalan takbiratul ihram sejak 50 tahun”, dan beliau juga berkata: “aku tidak pernah melihat tengkuk seseorang ketika shalat sejak 50 tahun” karena beliau selalu berada di shaf yang pertama.

📌 2. Rabi’ah bin Yazid berkata: “tidaklah muadzin azan shalat zhuhur sejak 40 tahun kecuali aku sudah berada di masjid, kecuali aku sakit atau musafir”.

📌 3. Muhammad bin Samma’ah Alqadhi berkata: “selama 40 tahun aku tidak pernah ketinggalan takbir yang pertama, kecuali satu hari saat ibuku meninggal dunia,aku ketinggalan satu shalat secara berjamaah, maka akupun berdiri (qiyamullail) 25 rakaat, berharap mendapatkan kelipatan yang terdapat di shalat berjama’ah, matakupun terasa berat (tertidur) seseorangpun mendatangiku (dalam mimpi) dan berkata: “Muhammad! Kamu sudah shalat 25 rakaat, tapi bagaimana dengan aminnya malaikat? (kamu tidak bisa menggantinya, hanya di dapat saat shalat berjamah)”.

📌 4. Ghassan berkata: “anak saudaraku Bisyr bin Manshur berkata: “aku tidak pernah melihat pamanku ketinggalan takbir yang pertama”.

📌 5. Waki’ berkata: “adalah A’masy mendekati 70 tahun tidak pernah ketinggalan takbir yang pertama, aku sering mengunjunginya sekitar dua tahun ia tidak pernah masbuq satu rakaat pun”.

📌 6. Ibrahim Annakh’I berkata: “kalau kamu melihat orang yang meremehkan takbir yang pertama, cucilah tanganmu darinya” (jangan mau berurusan dengannya. Pent.).

📌 7. Waki’ berkata: “yang tidak mendapatkan takbir yang pertama jangan harap kebaikan darinya”.

📌 8. Bisyr bin Alhasan Albashri Abu Malik dinamakan dengan Asshaffi karena beliau selalu di shaf pertama di masjid Bashrah selama 50 tahun.

📌 9. Alghazali berkata: “diriwayatkan bahwa para salaf mentakziahi diri mereka selama tiga hari kalau mereka ketinggalan takbir yang pertama, dan tujuh hari kalau ketinggalan jama’ah ”.

Sekian, semoga Allah membantu kita, memperbaiki keadaan kita, dan melimpahkan keikhlasan kepada kita dalam beramal, memberi rezeki kepada kita berupa ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih.

📝 DR. Sulthan Fahd Atthubaisyi
⏳ Penerjemah : Ust. Abu Rhazin Rahmat Hidayat Margolang, S.Pd
Baca selengkapnya »
syarah hadits: { Shalat Adalah Cahaya }

syarah hadits: { Shalat Adalah Cahaya }

syarah hadits: { Shalat Adalah Cahaya }

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Shalat adalah cahaya.”

Yaitu cahaya dalam hati. Dan jika hati bersinar, maka wajah pun akan bersinar. Selain itu shalat juga akan menjadi cahaya pada hari kiamat kelak.

(Syarah Hadist Arba’in, Imam Nawawi, edisi terjemahan hal 188)

Oleh: Mutiara Risalah Islam

Like, Komen, Share yuk karena Barangsiapa yang menunjukkan jalan kebaikan baginya semisal pahala orang yang mengamalkannya.

Mau Dapat Ilmu? Gabung Yuk bersama Grup Mutiara Risalah Islam, dibawah asuhan Dewan Pembina Risalah Islam Ustadz Musyaffa' ad Dariny, Lc., M.A. di :

WA: 089628222285 ketik [Gabung MRI26 Nama]
Baca selengkapnya »
sangat penting, perhatikan kepada siapa kamu berteman dan berguru

sangat penting, perhatikan kepada siapa kamu berteman dan berguru

Rasulullah ﷺ bersabda, "Seseorang itu tergantung pada agama teman (sahabat) karibnya. Maka hendaklah seorang dari kalian memperhatikan dengan siapa dia bersahabat karib."

(Shahiih, HR. Ahmad, II/303, 334, Abu Dawud, no.4833, at-Tirmidzi, no. 2378, dan al-Hakim, IV/171, no. 7319, ath-Thayalisi, no. 2573, al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman, no. 9436, 9438, Abu Nu'aim dalam al-Hilyah, III/165, Ibnu Humaid dalam Musnad-nya, 1431, Silsilah ash-Shahiihah, no. 928)
sangat penting, perhatikan kepada siapa kamu berteman dan berguru

Benar, teman atau guru sangatlah berpengaruh bagi kehidupan dan agama seseorang oleh sebab itulah jangan sampai di antara kita salah atau keliru di dalam mengambil sahabat karib dan guru di dalam menuntun kita ke jalan yang benar.

Dari Abu Musa al-Asy'ariy رضي الله تعالىٰ عنه, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,

"Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, bisa jadi ia memberikanmu minyak, atau engkau membeli darinya, atau engkau mendapatkan aroma yang harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi ia membakar bajumu atau engkau mendapatkan bau yang tidak sedap darinya."

(Shahiih, HR. Al-Bukhari, II/741, no. 1995, 2101, 5534, Muslim, no. 2628, dan Ahmad, IV/408, no. 19127)

Imam an-Nawawi رحمه الله تعالىٰ berkata,
"Di dalam hadits ini terdapat keutamaan bermajelis dengan orang-orang shalih, orang-orang yang memiliki kebaikan, akhlak mulia, wara', ilmu, dan adab. Dan di dalamnya juga terdapat larangan bermajelis dengan pelaku kejahatan, ahlul bid'ah, orang-orang yang membicarakan aib orang lain, dan yang selainnya dari berbagai macam perbuatan tercela."

(Syarah Shahiih Muslim, XVI/178)

Burung tidaklah terbang melainkan dengan teman (kelompoknya), begitupun manusia tidaklah ia berkumpul dan berteman dekat melainkan yang sejenis dengannya.

Imam Muhammad bin Sirin رحمه الله تعالىٰ berkata,
"Sesungguhnya 'ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapakah kalian mengambil agama kalian?"

(Diriwayatkan oleh Muslim dalam muqaddimah kitab Shahiih-nya, I/27 - 28, Ad-Darimi dalam Musnadnya, I/343, 399, 438, al-Khathib Al-Baghdadi dalam al-Kifayah fi 'Ilmir Riwayah, hal. 121 - 122, dan al-Faqih wal Mutafaqqih, I/191, 192, 378)

Imam Malik bin Anas رحمه الله تعالىٰ berkata,

"Tidak boleh menuntut 'ilmu dari empat orang, yaitu :
1. Orang bodoh yang menampakkan kebodohannya meskipun banyak meriwayatkan hadits.
2. Ahlul bid'ah yang mengajak kepada hawa nafsunya.
3. Orang yang berdusta saat berbicara dengan orang lain meskipun ia tidak berdusta dalam meriwayatkan hadits.
4. Orang shalih ahli ibadah namun tidak memahami apa yang ia katakan."

(Siyar A'laamin Nubalaa', VI/61)

Ustadzuna Aris Munandar حفظه الله تعالىٰ berkata,
"Belajar agama tanpa guru bisa sesat, akan tetapi salah mengambil di dalam beragama bisa tambah sesat."

Maka sudah kelayaknya bagi seorang muslim untuk memperhatikan hal ini, mengambil 'ilmu dari orang-orang yang jelas 'aqidahnya, jelas manhajnya dan telah teruji di atas keistiqomahan ala manhaj Salaf, Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Semoga Allah تبارك و‏تعالىٰ memberikan hidayah dan taufiq.

repost from group dakwah whatsapp
Baca selengkapnya »
PEMBAHASAN PENTING SEPUTAR ZAKAT HARTA[1] jelas, ilmiah dan ringkas

PEMBAHASAN PENTING SEPUTAR ZAKAT HARTA[1] jelas, ilmiah dan ringkas

Urgensi Zakat

Menunaikan zakat termasuk rukun Islam yang lima. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًارَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ،وَحَجِّ الْبَيْتِ لِمَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

“Islam dibangun di atas lima rukun: Syahadat laa ilaaha illallah dan Muhammad Rasulullah, menegakkan sholat, mengeluarkan zakat, puasa di bulan Ramadhan dan haji ke baitullah bagi yang mampu melakukan perjalanan ke sana.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma]
PEMBAHASAN PENTING SEPUTAR ZAKAT HARTA

Manfaat Zakat

Mengokohkan pilar-pilar kecintaan antara si kaya dan si miskin, karena karakter jiwa manusia selalu mencintai orang yang berbuat baik kepadanya.

Membersihkan dan mensucikan hati, sehingga jauh dari sifat kikir dan bakhil, sebagaimana firman Allah ta’ala,

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka yang dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” [At-Taubah: 103]

Melatih diri untuk bersifat dermawan, murah hati dan berkasih saying kepada mereka yang membutuhkan.

Mendulang berkah, tambahan rezeki dan penggantian dari Allah, sebagaimana firman-Nya,

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah sebaik-baik Pemberi rezeki.” [Saba’: 39]

Dalam hadits qudsi, Allah ta’ala berfirman,

يَا ابْنَ آدَمَ أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ
“Wahai anak Adam bersedekahlah, niscaya Kami akan bersedekah kepadamu.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Bahaya Meninggalkan Zakat

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِفَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ  يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَاجِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَاكُنْتُمْ تَكْنِزُونَ
“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak, dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih pada hari dipanaskan emas dan perak itu dalam neraka jahanam lalu dibakar dengannya dahi, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang akibat dari apa yang kamu simpan itu.” [At-Taubah: 34-35]

Setiap harta yang tidak ditunaikan zakatnya itu termasuk kanzun (simpanan harta yang tidak dikeluarkan zakatnya) yang menyebabkan azab atas pemilik harta tersebut pada hari kiamat, sebagaimana ditunjukkan oleh sebuah hadits yang shahih dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam,

مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَلَا فِضَّةٍ، لَا يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا، إِلَّا إِذَا كَانَيَوْمُ الْقِيَامَةِ، صُفِّحَتْ لَهُ صَفَائِحُ مِنْ نَارٍ، فَأُحْمِيَ عَلَيْهَا فِي نَارِجَهَنَّمَ، فَيُكْوَى بِهَا جَنْبُهُ وَجَبِينُهُ وَظَهْرُهُ، كُلَّمَا بَرَدَتْ أُعِيدَتْ لَهُ، فِييَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ، حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ الْعِبَادِ، فَيَرَىسَبِيلَهُ، إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِمَّا إِلَى النَّارِ
“Tidaklah seorang pemilik emas dan tidak pula perak yang tidak menunaikan haknya, kecuali apabila datang hari kiamat akan dibentangkan baginya batu-batu yang lebar dari api neraka, lalu batu-batu itu dipanaskan di neraka jahannam, lalu disetrika perut, dahi dan punggungnya, setiap kali sudah dingin akan dikembalikan seperti semula, dalam satu hari yang ukurannya sama dengan 50.000 tahun, sampai diputuskan perkara di antara manusia, lalu ia melihat jalannya, apakah ke surga atau ke neraka.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radiyallahu’anhu]

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam juga pernah menyebutkan tentang seorang pemilik unta, sapi dan kambing yang tidak mengeluarkan zakatnya, maka ia akan diazab dengan harta miliknya pada hari kiamat. Dan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

مَنْ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا، فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ مُثِّلَ لَهُ مَالُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ شُجَاعًاأَقْرَعَ لَهُ زَبِيبَتَانِ يُطَوَّقُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ، ثُمَّ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ – يَعْنِيبِشِدْقَيْهِ – ثُمَّ يَقُولُ أَنَا مَالُكَ أَنَا كَنْزُكَ، ثُمَّ تَلاَ: (لَا يَحْسِبَنَّ الَّذِينَيَبْخَلُونَ) ” الآيَةَ
“Barangsiapa yang Allah berikan harta namun ia tidak menunaikan zakatnya maka pada hari kiamat nanti hartanya akan dirubah wujud menjadi ular botak yang mempunyai dua titik hitam di kepalanya, yang akan mengalunginya kemudian mengambil dengan kedua sisi mulutnya seraya berkata: ‘Aku adalah hartamu, aku adalah simpananmu’. Kemudian beliau membaca ayat: Janganlah sekali-kali orang-orang yang bakhil dengan harta yang telah Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya itu menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka, sebenarnya bahwa kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka, harta-harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan di lehernya kelak di hari kiamat.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radiyallahu’anhu]

Harta yang Diwajibkan Zakat

Zakat diwajibkan atas empat macam harta:

1) Harta yang keluar dari bumi, dari jenis biji-bijian dan buah-buahan.
2) Hewan ternak yang digembalakan (yaitu unta, sapi, kambing dan yang sejenisnya).
3) Emas dan perak, termasuk uang dan perhiasan wanita.
4) Barang dagangan.

Nishob dan Haul Zakat

Bagi setiap harta tersebut ada nishob, yaitu jumlah minimal harta yang wajib dikeluarkan zakatnya, sehingga tidak wajib zakat apabila belum mencapai nishobnya.

Adapun haul maknanya adalah telah dimiliki selama satu tahun, ini adalah syarat wajib zakat untuk emas, perak, uang, perhiasan wanita dan barang dagangan.

Apabila harta tersebut telah mencapai nishob danhaul maka wajib dikeluarkan zakatnya, jika belum sampai nishob maka tidak diwajib zakat, demikian pula jika sebelum satu tahun kemudian berkurang dari nishob juga tidak wajib zakat. Tetapi tidak boleh seseorang membelanjakan hartanya sebelum sampai setahun sehingga berkurang darinishob dengan maksud menghindari kewajiban zakat, namun jika dibelanjakan karena suatu keperluan maka tidak apa-apa.

Rincian Nishob Zakat

Pertama: Zakat Pertanian

Biji-bijian dan buah-buahan nishobnya 5 wasaq, sedangkan 1 wasaq sama dengan 60 sho’, dan 1sho’ adalah 4 mud, yaitu 4 cidukan dua tangan orang dewasa yang ukurannya sedang dan kedua tangannya terisi penuh.

Dalam perhitungan saat ini 1 sho’ senilai kurang lebih 3 kg, maka nishob zakat pertanian adalah 60sho’ x 5 wasaq x 3 kg, hasilnya adalah 900 kg, inilahnishob zakat pertanian.

Maka ketika hasil pertanian seseorang telah mencapai 900 kg, wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 1/10 atau 10 % jika pertaniannya menggunakan air tanpa biaya dan beban. Apabila menggunakan air dengan biaya dan beban maka yang dikeluarkan hanya separuhnya saja, yaitu 1/20 atau 5 %.

Adapun jika menggunakan irigasi buatan maka perlu perincian, jika irigasi tersebut dibuat oleh Pemerintah dan dipakai gratis tanpa adanya beban oleh para petani maka zakatnya adalah 10 %, sedangkan jika Pemerintah menarik biaya atau irigasi tersebut dibuat sendiri oleh petani maka zakatnya sebesar 5 %.

Jenisnya adalah kurma, kismis (anggur kering), gandum, beras, biji gandum dan yang semisalnya. Adapun waktu mengeluarkan zakatnya adalah ketika panen.

Kedua: Zakat Peternakan

Hewan ternak yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah unta, sapi (termasuk kerbau) dan kambing atau domba. Kerbau wajib dikeluarkan zakatnya sebagaimana sapi, berdasarkan ijma’.[2]

Syarat-syarat Wajibnya Zakat Peternakan

1. Mencapai nishob

2. Mencapai haul

3. Diternak untuk dikembangkan (apakah untuk digemukkan, dikembangbiakkan ataukah untuk diambil susunya), bukan untuk dipekerjakan atau dijual, jika untuk dipekerjakan seperti untuk membajak sawah atau disewakan mengangkut barang maka tidak ada zakat, dan jika untuk dijual maka masuk ke zakat perdagangan.

4. Digembalakan di padang rumput dan memakan rerumputannya secara gratis sepanjang tahun atau kebanyakannya; sepanjang tahun artinya setahun penuh, kebanyakannya artinya lebih dari 6 bulan. Adapun hewan yang dikurung dan makanannya dicarikan atau dibelikan maka tidak diwajibkan zakat, namun secara umum dianjurkan untuk bersedekah.

Ketiga: Zakat Perak

Nishob perak adalah 200 dirham, yaitu senilai 595 gram.[3]

Keempat: Zakat Emas

Nishob emas adalah 20 dinar, yaitu senilai 85 gram.[4]

Maka apabila seseorang memiliki emas minimal sebanyak 85 gram atau perak sebanyak 595 gram wajib atasnya mengeluarkan zakat sebanyak 1/40 atau 2,5 % dari harta emas atau perak yang ia miliki apabila telah genap satu tahun dalam kepemilikannya.

Apabila harta seseorang telah mencapai nishob, kemudian pada pertengahan tahun ia mendapatkan tambahan-tambahan harta, maka jika telah sampai setahun hendaklah ia mengeluarkan zakat dengan menghitung keseluruhan hartanya. Jadi, tambahan-tambahan harta di pertengahan tahun tersebut dihitung bersama harta yang telah dimiliki dari awal tahun yang telah mencapai nishob sebelumnya, tanpa membuat penghitungan dari awal tahun yang baru.

Kelima: Zakat Uang

Uang kertas yang hari ini digunakan manusia hukumnya sama dengan emas dan perak, baik disebut dirham, dinar, dolar atau selain itu, hukumnya sama saja jika nilainya telah mencapai seperti nishobnya perak atau emas, dan telah lewat satu tahun kepemilikannya, maka wajib dikeluarkan zakatnya. Dan hendaklah nishob uang mengikuti yang paling rendah nilainya apakah emas atau perak, jika diuangkan.

Contoh: Apabila harga perak Rp. 5.000 per gram dan nishob adalah 595 gram, maka nishob uang adalah Rp. 5.000 x 595 = Rp. 2.975.000. Maka apabila seseorang telah memiliki uang sejumlah tersebut atau lebih dan telah dimilikinya selama satu tahun maka wajib atasnya mengeluarkan zakat sebesar 2,5 %.

Akan datang pembahasan lebih detail insya Allah dalam pasal Cara Menghitung Zakat Emas, Perak dan Uang.

Keenam: Zakat Perhiasan Emas dan Perak

Perhiasan wanita berupa emas dan perak juga wajib zakat apabila telah mencapai nishob dan telah lewat satu tahun dalam kepemilikannya, menurut pendapat yang paling kuat dari dua pendapat ulama dalam masalah ini, berdasarkan keumuman hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam,

مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَلَا فِضَّةٍ، لَا يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا، إِلَّا إِذَا كَانَيَوْمُ الْقِيَامَةِ، صُفِّحَتْ لَهُ صَفَائِحُ مِنْ نَارٍ
“Tidaklah seseorang yang memiliki emas atau perak kemudian tidak ditunaikan haknya, apabila datang hari kiamat dibentangkan baginya batu-batu yang lebar dari api neraka.” [HR. Muslim Abu Hurairah radiyallahu’anhu]

Dan juga berdasarkan hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam kepada seorang wanita,

أَتُعْطِينَ زَكَاةَ هَذَا؟ قَالَتْ: لَا، قَالَ: أَيَسُرُّكِ أَنْ يُسَوِّرَكِ اللَّهُ بِهِمَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ سِوَارَيْنِ مِنْ نَارٍ؟، قَالَ: فَخَلَعَتْهُمَا، فَأَلْقَتْهُمَا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَقَالَتْ: هُمَا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِرَسُولِهِ
“Apakah engkau telah mengeluarkan zakat perhiasan ini? Wanita tersebut menjawab, ‘Tidak’. Beliau pun bersabda, ‘Apakah engkau ingin dipakaikan Allah pada hari kiamat dengan dua gelang dari neraka?’ Maka wanita itu langsung melemparnya seraya berkata: Kedua gelang itu untuk (disedekahkan di jalan) Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.” [HR. Abu Daud dan An-Nasai, dengan sanad yang hasan, dihasankan Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahulllah]

Dan dari Ummu Salamah radiyallahu’anha, beliau berkata,

كُنْتُ أَلْبَسُ أَوْضَاحًا مِنْ ذَهَبٍ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَكَنْزٌ هُوَ؟ فَقَالَ: مَا بَلَغَ أَنْ تُؤَدَّى زَكَاتُهُ، فَزُكِّيَ فَلَيْسَ بِكَنْزٍ
“Aku pernah mengenakan perhiasan emas, aku pun berkata: Wahai Rasulullah, apakah ini termasuk kanzun (simpanan harta yang dilarang), Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: Jika telah memenuhi syarat untuk dikeluarkan zakatnya lalu dikeluarkan zakatnya, maka tidak termasuk kanzun.” [HR. Abu Daud, dishahihkan Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahulllah]

Ketujuh: Zakat Barang Dagangan

Nishob barang dagangan juga disamakan dengannishobnya salah satu dari emas dan perak, dipilih mana yang paling rendah nilainya apabila diuangkan. Maka barang-barang yang dipersiapkan untuk dijual harus dihitung pada akhir tahun dan dikeluarkan zakatnya sebanyak 1/40 atau 2,5 % dari nilainya, berdasarkan hadits Samurah radiyallahu’anhu, beliau berkata,

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْمُرُنَا أَنْنُخْرِجَ الصَّدَقَةَ مِنَ الَّذِي نُعِدُّ لِلْبَيْعِ
“Amma ba’du, sesungguhnya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk mengeluarkan zakat dari harta yang kami persiapkan untuk dijual.” [HR. Abu Daud, dishahihkan Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahulllah]

Kewajiban zakat ini juga mencakup barang-barang yang dipersiapkan untuk dijual seperti tanah, bangunan, mobil, dan lain-lain.

Kedelapan: Zakat Harta yang Disewakan

Bangunan yang disewakan maka kewajiban zakat ada pada uang dari hasil penyewaannya jika mencapai nishob dan telah lewat setahun dalam kepemilikan. Adapun pada barang itu sendiri maka tidak ada kewajiban zakatnya, karena tidak dipersiapkan untuk dijual.

Demikian pula mobil pribadi maupun mobil yang disewakan, tidak ada kewajiban zakat atasnya apabila tidak dipersiapkan untuk dijual tetapi dibeli oleh pemiliknya untuk digunakan.

Akan tetapi apabila terkumpul bagi pemilik mobil itu uang hasil disewakannya mobil tersebut atau uang apa pun yang telah mencapai nishob maka wajib dikeluarkan zakatnya apabila telah lewat setahun dalam kepemilikan, baik uang tersebut dipersiapkan untuk nafkah, menikah, untuk dibelikan perabot rumah, untuk dibayarkan hutang maupun untuk selainnya, berdasarkan keumuman dallil-dalil syar’i yang menunjukkan kewajiban zakat dalam permasalahan seperti ini.

Kesembilan: Zakat Harta Orang yang Berhutang

Pendapat yang benar dari beberapa pendapat ulama adalah: Hutang tidak menghalangi zakat. Apabila seseorang memiliki harta yang mencapainishob dan haul maka wajib dikeluarkan zakatnya walau ia memiliki hutang, dan harta tersebut dipersiapkan untuk bayar hutang, berdasarkan keumuman dalil-dalil yang mewajibkan zakat tanpa mengecualikan orang yang berhutang.

Kesepuluh: Zakat Harta Anak Yatim dan Orang Gila

Harta anak yatim dan orang gila wajib dikeluarkan zakatnya menurut pendapat jumhur ulama, jika telah mencapai nishob dan telah lewat satu tahun dalam kepemilikan. Wajib bagi para walinya untuk mengeluarkan zakat harta mereka dengan meniatkannya dari mereka, ketika telah sempurna satu tahun, berdasarkan keumuman dalil, seperti sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits Mu’adz radhiyallahu’anhu ketika Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mengutus beliau ke negeri Yaman,

أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْوَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ
“Bahwa Allah mewajibkan zakat atas kaum muslimin pada harta-harta mereka, diambil dari orang-orang kaya mereka dan diserahkan kepada orang-orang fakir mereka.” [HR. Al-Bukhari dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma]

Orang-orang yang Berhak Menerima Zakat

Zakat adalah hak Allah ta’ala, tidak boleh diberikan kepada orang yang tidak berhak menerimanya. Tidak boleh dikeluarkan dalam rangka mendapatkan suatu manfaat atau menolak suatu mudhorat, atau sekedar melindungi hartanya dan menghindari celaan, akan tetapi wajib atas seorang muslim memberikan zakatnya kepada yang berhak menerimanya dengan hati yang lapang dan ikhlas karena Allah ta’ala, bukan karena tujuan lain, yang dengan itu berarti ia telah memenuhi kewajibannya dan berhak mendapatkan pahala yang besar serta ganti yang lebih baik dari Allah ta’ala.

Orang-orang yang berhak menerima zakat ada delapan golongan:

1. Fakir
2. Miskin
3. Amil zakat
4. Muallaf
5. Budak yang mau membebaskan diri
6. Orang yang berhutang
7. Orang yang berada di jalan Allah
8. Musafir.

Allah ta’ala telah menjelaskan dalam kitab-Nya yang mulia tentang golongan-golongan penerima zakat ini,

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِقُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِفَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
“Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, budak (yang mau memerdekakan diri), orang-orang yang berhutang, orang yang sedang di jalan Allah dan musafir, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Hikmah.” [At-Taubah: 60]

Ayat yang mulia ini ditutup dengan dua nama Allah ta’ala yang agung, yaitu Maha mengetahui dan Maha Hikmah, sebagai peringatan dari Allah subhanahu wa ta’ala terhadap hamba-hamba-Nya bahwa Allah ta’ala Maha Mengetahui keadaan para hamba dan siapa saja yang berhak dan yang tidak berhak menerima zakat.

Dan Allah ta’ala Maha Hikmah dalam syari’at-Nya dan ketentuan-Nya, maka tidaklah Allah ta’ala meletakkan sesuatu kecuali pada tempatnya yang layak, meskipun sebagian dari rahasia-rahasia hikmah Allah ta’ala tersebut tersembunyi dari sebagian manusia. Dan semua hikmah-hikmah itu agar para hamba tenang dengan syari’at-Nya dan tunduk dengan hukum-Nya.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
————————
[1] Diringkas dengan penambahan dari Ar-Risaalatul Ula fi Buhuutsin Haammatin haulaz Zakati, dari kitab Risaalataani Maujizataani fiz-Zakaati wash-Shiyaam karya Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz rahimahullah.
[2] Lihat Al-Imam Ibnul Mundzir dalam Al-Ijma’, hal. 90, sebagaimana dalam At-Ta’liq ‘Ala Kitabiz Zakati was Shiyam, hal. 23.
[3] Lihat Taudihul Ahkam, 3/319 dan Al-Adilatur Rhodiyyah, hal. 123.
[4] Lihat Taudihul Ahkam, 3/319 dan Al-Adilatur Rhodiyyah, hal. 123.

Sumber:
https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/623779784438174:0
http://sofyanruray.info/pembahasan-penting-seputar-zakat-harta/
Baca selengkapnya »
MENGAPA ZAKAT ITU 2,5 %?, Apakah Zaman Nabi Sudah Kenal Persen??

MENGAPA ZAKAT ITU 2,5 %?, Apakah Zaman Nabi Sudah Kenal Persen??

Mengapa zakat itu Cuma 2,5%, padahal pajak saja 10% bahkan ada yang lebih.. apakah ada dalil? Apakah di zaman nabi sudah kenal persen?

Jawaban:

Kami tidak tahu, kapan pertama kali istilah persen itu muncul. Dan sebenarnya sejarah semacam ini tidak terlalu penting. Sejarah persen tidak ada kaitan erat dengan kehidupan manusia. Hanya saja di dalam al-Quran sendiri, Allah telah menyebutkan pecahan. Tepatnya ketika Allah menjelaskan jatah warisan. Ada yang dapat ½, ¼, 1/3, 2/3, dst.

Demikian pula ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan zakat, beliau menggunakan angka pecahan. Dari situ, para ulama mengkonversi menjadi persen. Dan jika kita konversi, 2,5% = 1/40.
MENGAPA ZAKAT ITU 2,5 %?

Dalil Zakat Mal 2,5%

Terdapat banyak hadis, mengenai penjelasan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang nishab (batas nilai) zakat dan besar yang dibayarkan.

Berikut diantaranya,

Hadist dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا كَانَتْ لَكَ مِائَتَا دِرْهَمٍ وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا خَمْسَةُ دَرَاهِمَ ، وَلَيْسَ عَلَيْكَ شَيْءٌ يَعْنِي فِي الذَّهَبِ حَتَّى يَكُونَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا ، فَإِذَا كَانَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا نِصْفُ دِينَارٍ ، فَمَا زَادَ فَبِحِسَابِ ذَلِكَ
"Jika kamu punya 200 dirham dan sudah mengendap selama setahun maka ada kewajiban zakat 5 dirham. Dan kamu tidak memiliki kewajiban zakat untuk emas, kecuali jika kamu memiliki 20 dinar. Jika kamu memiliki 20 dinar, dan sudah genap selama setahun, maka zakatnya ½ dinar. Lebih dari itu, mengikuti hitungan sebelumnya." (HR. Abu Daud 1575 dan dishahihkan al-Albani).

Dapat dihitung bahwa:
5/200 = 1/40 = 2.5%
0.5/20 = 1/40 = 2.5%

Hadis dari Aisyah dan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhum,

Mereka mengatakan,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْخُذُ مِنْ كُلِّ عِشْرِينَ دِينَارًا فَصَاعِدًا نِصْفَ دِينَارٍ ، وَمِنْ الْأَرْبَعِينَ دِينَارًا دِينَارًا
Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil zakat dari 20 dinar atau lebih sebesar ½ dinar. Sementara dari 40 dinar masing-masing diambil satu dinar-satu dinar. (HR. Ibnu Majah 1863, Daruquthni 1919, dan dishahihkan al-Albani).

Hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Bahwa beliau pernah diutus Abu Bakr untuk menjadi wakilnya untuk wilayah Bahrain. Kemudian beliau mendapat surat dari Khalifah Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu tentang rincian zakat. Di sana dinyatakan,

هَذِهِ فَرِيضَةُ الصَّدَقَةِ الَّتِي فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمُسْلِمِينَ ، وَالَّتِي أَمَرَ اللَّهُ بِهَا رَسُولَهُ … وَفِي الرِّقَّةِ رُبْعُ الْعُشْرِ
Ini adalah kewajiban zakat yang ditetapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum muslimin.. dan yang diperintah Allah dan Rasul-Nya….

Kemudian Abu Bakr menyebutkan rincian zakat ternak dan mal. Ketika beliau menjelaskan zakat mal, Abu Bakr menuliskan,

وَفِي الرِّقَّةِ رُبْعُ الْعُشْرِ
Untuk zakat riqqah sebesar 1/40. (HR. Bukhari 1454).


Dari beberapa hadis di atas, kita bisa membuat perhitungan:

1. Pertama, Nishab emas

Nishab emas      = 20 dinar.
Zakatnya             = ½ dinar

Konversi Satuan uang
1 dinar = 4,25 gr emas
20 dinar  = 20 x 4,25 gr emas = 85 gr emas.

Jika harga emas Rp 500.000/gr maka nishab zakat uang dan emas sekitar 42,5 juta.

2. Kedua, Nishab perak

Nishab perak     = 200 dirham
Zakatnya             = 5 dirham

Konversi Satuan uang
1 dirham = 2,975 gr perak (menurut pendapat jumhur ulama)
200 dirham = 200 x 2,975 gr perak = 595 gr perak.

Jika harga perak adalah Rp 20.000/gr maka nishab zakat perak jika dikonversi ke uang adalah 11,9 juta.

Mana yang digunakan sebagai acuan nishab zakat uang, emas atau perak?

Ulama berbeda pedapat dalam kasus ini. Allahu a’lam.

Ustadz Ammi Nur Baits hafidzohulloh. Konsultasisyariah.com
Sumber : Channel Telegram ISLAMADINA
Baca selengkapnya »
SURGA DAN NERAKA SUDAH ADAKAH SEKARANG?

SURGA DAN NERAKA SUDAH ADAKAH SEKARANG?

alam indah
image ilustration
Asy Syeikh Al Utsaimin rohimahullah: Ini adalah perkara yang ditunjukkan didalam Al Qur'an dan As Sunnah dan telah sepakat atasnya ahlus sunnah wal jamaah bahwa surga itu sudah ada sekarang.

Oleh karena itu Allah Ta'alaa berfirman:

 وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (آل عمران 133)
 "Bersegeralah menuju ampunan Allah dan bersegeralah menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa" (QS: Ali Imran; 133)

Kata أعدت artinya telah disiapkan.

Ini menunjukkan bahwa surga sudah ada sekarang, sebagaimana neraka sudah ada sekarang, dan akan kekal selama lamanya.

Sumber: Syarah Riyadhus Sholihin 2/175, Alih bahasa: Abu Arifah Muhammad Bin Yahya Bahraisy
Baca selengkapnya »
hadits shohihkan membaca 100 kali istiqfar di bulan rajab

hadits shohihkan membaca 100 kali istiqfar di bulan rajab


Hadits “Siapa yang mengucapkan di bulan Rajab ‘Astaghfirullah laa ilaaha illaa huwa’ Adalah Palsu

Saya mendapatkan hadits berikut via HP dan saya ingin tahu keshahihannya. Dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Siapa yang mengucapkan di bulan Rajab ‘Astaghfirullah laa ilaaha illaa huwa’ wahdahu laa syariika lah wa atuubu ilaih.” Sebanyak 100x dan menutup dengan sedekah. Maka Allah akan menutup akhir kehidupannya dengan rahmat dan ampunan. Dan siapa yang membacanya sebanyak 400x, Allah akan catat baginya pahala seratus syahid.” Mohon penjelasannya, jazaakumullah khairan.
membaca 100 kali istiqfar di bulan rajab
jawaban
Alhamdulillah

Hadits ini tidak ada landasannya dalam Alquran dan Sunah serta atsar. Periwayatannya tidak dikenal di kalangan ulama, bahkan tidak terdapat dalam kitab-kitab yang membahas hadits-hadits dusta dan palsu.

Yang kami dapatkan, hadits ini berasal dari kitab-kitab kalangan Syiah yang penuh dengan riwayat dusta tanpa sanad dan tanpa landasan. Riwayat ini disebut oleh Thawus, Ali bin Musa bin Ja’far, yang wafat tahun 664 H dalam kitabnya, “Iqbalul A’mal” (3/216). Kami tidak dapatkan hadits ini pada kitab Syiah yang lebih lama.

Ibnu Thawus sendiri menyebutkannya tanpa sanad, dia berkata, “Apa yang kami sebutkan terkait dengan keutamaan istighfar, tahlil dan taubat di bulan Rajab, kami dapatkan bahwa hal tersebut diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wa wa aalihi bahwa beliau bersabda, “Siapa yang mengucapkan di bulan Rajab, “Astaghfirullah allazii laa ilaaha illaa huwa, laa syariikalahu wa atuubu ilaih, sebanyak 100x, lalu ditutup dengan sadaqah, maka Allah akan beri akhir kehidupannya dengan rahmat dan ampunan. Siapa yang membacanya sebanyak 400x, Allah akan catat untuknya pahala seratus orang syahid. Jika dia berjuma Allah pada hari kiamat, Allah akan berkata kepadanya, ‘Engkau telah mengakui kerajaanKu, maka beranganlah sesukamu, maka Aku akan berikan, sesungguhnya tidak ada yang berkuasa selain Aku.”

Sebagian kitab lainnya juga mengutip darinya, seperti “Wasa’ilul Syiah, 10/484, oleh Al-Hur Aamili, wafat tahun 1104 H, dan lainnya.

Dengan demikian jelaslah tanda-tanda kepalsuan hadits ini,

Pertama: Haditsnya ini tidak ada sanadnya.

Kedua: Hadits ini hanya diriwayatkan oleh kitab-kitab Syiah. Dari kitab-kitab merekalah hadits ini dipopulerkan di beberapa grup milist dan situs-siitus internet. Karena itu hendaklah berhati-hati dengan hadits-hadits yang beredar di beberapa milist, boleh jadi sumbernya adalah kitab-kitab Syiah yang dusta.

Ketiga:
Hadits tentang keutamaan-keutamaan bulan Rajab hendaknya disimpan saja. Wajib berhati-hati dengan seluruh riwayat dalam bab ini. Banyak di dalamnya hadits palsu, sehingga sebagian ulama mengarang karangan khusus, seperti Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah dalam kitabnya, “Tabyinul Ujab Bimaa Warada Fi Fadhli Rajab” (Menjelaskan Keanehan Terhadap Riwayat Tentang Keutamaan Bulan Rajab). Dalam kitab ini beliau berkata, “Tidak terdapat keutamaan bulan Rajab, apakah dalam puasanya, tidak terdapat keutamaan puasa khusus di dalamnya juga tidak ada keutamaan qiyamullail secara khusus, tidak ada satupun hadits shahih yang dapat dijadikan argument. Telah mendahului saya menegaskan hal ini imam Abu Ismail Al-Harawi Al-Hafiz.

Kami riwayatkan darinya dengan sanad yang sahih, demikian pula kami riwayatkan dari selainnya. Akan tetapi, yang terkenal adalah bahwa sebagian ulama mentolerir meriwayatkan hadits-hadits dalam fadhailul a’mal walaupun lemah selama tidak palsu. Namun demikian, walau begitu, pelakunya harus meyakini bahwa hadits itu dhaif serta tidak mempublikasikannya agar orang-orang tidak terbiasa mengamalkan hadits dhaif, agar tidak menjadi syariat padahal dia bukan syariat, atau sebagaian orang yang tidak paham menganggap bahwa hal itu adalah sunah yang shahih.” (Tabyiinul Ujab, hal. 11)

Keempat:
Keanehan dalam pahala. Karena amal yang ringan di bulan Rajab diganjar dengan pahala seratus orang mati syahid. Hal seperti ini tidak terdapat dalam ajaran syariat yang shahih.

Wallahua’lam.

source islamqa.info
Baca selengkapnya »
nih TIGA JENIS ULAMA anda ikut yang mana?

nih TIGA JENIS ULAMA anda ikut yang mana?

1. ULAMA AGAMA 
Dialah ulama yang menyebarkan agama Islam, berfatwa sesuai dengan ajaran Islam berdasarkan ilmu, dia tidak peduli apakah petunjuk syari'at itu mencocoki hawa nafsu manusia ataukah tidak.

2. ULAMA NEGARA
Dialah ulama yang melihat pada apa yang dimaukan oleh Negara, lalu dia berfatwa sesuai dengan keinginan Negara, sekalipun dengan cara memalingkan makna kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu 'alihi wa sallam.

3. ULAMA UMAT
Dialah ulama yang melihat pada apa yang diridhai oleh manusia. Jika ia memandang manusia ada pada suatu keadaan maka ia akan berfatwa dengan sesuatu yang membikin ridha mereka. Lalu ia berupaya memalingkan makna nash-nash kitab dan sunnah demi mencocokkan dengan hawa nafsu manusia.

Kita memohon kepada Allah agar menjadikan kita termasuk diantara ULAMA AGAMA yang beramal dengannya."
nih TIGA JENIS ULAMA anda ikut yang mana?
image ilustration from forum.education-sa.com
[[ Syarh Riyadhis Shalihih : 4/307-308 ]] oleh Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin rahimahullah
Baca selengkapnya »
Apa itu pengobatan Ruqyah syar'i

Apa itu pengobatan Ruqyah syar'i

Saudariku yang dirahmati Allah, saat ini, sering kali kita mendengar terapi pengobatan ruqyah namun pengertian yang terlintas dibenak kita adalah terapi untuk mengusir gangguan jin. Hal ini adalah pendapat keliru dan salah kaprah dikalangan masyarakat saat ini. 

Padahal, ruqyah yang sesuai syar’i adalah sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disyari’atkan untuk dilakukan bagi setiap muslim pertama kali saat dirinya merasa sakit, baik sakit fisik maupun karena gangguan jin.

Apa itu pengobatan Ruqyah syar'i
image from quran-mp3.net
Ruqyah (dengan huruf ra’ di dhammah) adalah yaitu bacaan untuk pengobatan syar’i (berdasarkan riwayat yang shahih atau sesuai ketentuan ketentuan yang telah disepakati oleh para ulama) untuk melindungi diri dan untuk mengobati orang sakit. Bacaan ruqyah berupa ayat ayat al-Qur’an dan doa doa yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tidak diragukan lagi, bahwa penyembuhan dengan Al-Qur’an dan dengan apa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa ruqyah merupakan penyembuhan yang bermanfaat sekaligus penawar yang sempurna bagi penyakit hati dan fisik dan bagi penyakit dunia dan akhirat. Bagaimana mungkin penyakit itu mampu melawan firman-firman Rabb bumi dan langit yang jika firman-firman itu turun ke gunung maka ia akan memporakporandakan gunung gunung. Oleh karena itu tidak ada satu penyakit hati maupun penyakit fisik melainkan ada penyembuhnya.

Allah berfirman, “Katakanlah, ‘AlQur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang orang yang beriman.’” (Qs. Fushilat: 44)

Dan di surah Al Isra’ 82, “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang orang yang beriman.

Dan di surat Yunus ayat 57, “Hai sekalian manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran dari Rabb kalian, dan penyembuh bagi penyakit penyakit (yang berada) didalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Pada masa jahiliyah, telah dikenal pengobatan ruqyah. Namun ruqyah kala itu banyak mengandung kesyirikan. Misalnya menyandarkan diri kepada sesuatu selain Allah, percaya kepada jin, meyakini kesembuhan dari benda benda tertentu, dan lainnya. Setelah Islam datang, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang ruqyah kecuali yang tidak mengandung kesyirikan.

Auf bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Dahulu kami meruqyah di masa jahiliyyah. Lalu kami bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang hal itu?’
Beliau menjawab, ‘Tunjukkan kepadaku ruqyah-ruqyah kalian. Ruqyah-ruqyah itu tidak mengapa selama tidak mengandung syirik’.” (HR. Muslim no. 2200)

Al-Qurthubi rahimahullahu berkata, “Hadits menunjukkan bahwa hukum asal seluruh ruqyah adalah dilarang, sebagaimana yang tampak dari ucapannya: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari segala ruqyah.’ Larangan terhadap segala ruqyah itu berlaku secara mutlak. Karena di masa jahiliyyah mereka meruqyah dengan ruqyah-ruqyah yang syirik dan tidak bisa dipahami maknanya. 

Mereka meyakini bahwa ruqyah-ruqyah itu berpengaruh dengan sendirinya. Ketika mereka masuk Islam dan hilang dari diri mereka yang demikian itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mereka dari ruqyah secara umum agar lebih mantap larangannya dan lebih menutup jalan (menuju syirik). Selanjutnya ketika mereka bertanya dan mengabarkan kepada beliau bahwa mereka mendapat manfaat dengan ruqyah-ruqyah itu, beliau memberi keringanan sebagiannya bagi mereka. Beliau bersabda, ‘Perlihatkan kepadaku ruqyah-ruqyah kalian. Tidak mengapa menggunakan ruqyah-ruqyah selama tidak mengandung syirik’.

Mencegah Lebih Baik dari Mengobati
Saudariku, sesungguhnya syari’at Islam telah sempurna sehingga tidak ada hal melainkan sudah ada keterangannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu, Allah telah mengabarkan apa apa yang baik bagi seorang hamba dan apa apa yang mesti ditinggalkan dengan segala hikmah yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui.

Diantara apa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu berdzikir mengingat Allah dalam setiap keadaan, dzikir pagi dan petang hari, ketika hendak tidur, ketika masuk dan keluar rumah, saat memakai baju, dan lainnya hingga tidur lagi. Jika kita selalu menjaga dzikir dzikir ini pada waktunya, niscaya ia akan mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat, mencegah segala keburukan, mendatangkan berbagai manfaat dan menolak datangnya bahaya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Jika Allah akan memberi kunci kepada seorang hamba, berarti Alah akan membukakan (pintu kebaikan) kepadanya dan jika seseorang disesatkan Allah, berarti ia akan tetap berada di muka pintu tersebut.” Bila seseorang tidak dibukakan hatinya untuk berdoa dan berdzikir, maka hatinya selalu bimbang, perasaannya gundah gulana, pikiran kalut, gelisah hasrat dan keinginannya menjadi lemah. Namun bila seorang hamba selalu berdoa dan berdzikir memohon perlindungan kepada Allah dari berbagai keburukan, niscaya hatinya menjadi tenang karena ingat kepada Allah. 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (Qs. Ar Ra’d: 28)

Doa dan dzikir yang dilaksanakan seharusnya adalah doa dan dzikir yang ada tuntunannya dari Rasulullah. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Dzikir yang paling baik dan paling bermanfaat adalah doa dan dzikir yang diyakini dengan hati, diucapkan dengan lisan, dilaksanakan dengan konsisten dari doa dan dzikir yang dicontohkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta orang yang melakukannya memahami makna dan maksud yang terkandung didalamnya.”

Seorang muslim seharusnya menjaga diri semaksimal mungkin dengan hal hal yang telah disyari’atkan Allah Ta’ala yaitu menjaga AllahTa’ala dengan benar benar mengikhlaskan diri dalam mentauhidkan-Nya, senantiasa bertaqwa, senantiasa berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menjauhi bid’ah dan menyelisihi pada pengikut hawa nafsu.

Sumber: Doa dan Wirid, Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawaz & Doa doa Ruqyah , Dr.Khalid bin Abdurrahman al-Jarisi. Penulis: Ummu Mu’aadz, Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar.

baca juga
Baca selengkapnya »
adakah masa iddah mantan istri belum digauli

adakah masa iddah mantan istri belum digauli

Sebelum kita bahas hukumnya, sebaiknya kita bahas kronologi kisah tersebut tanpa menyebutkan nama asli mereka, untuk diambil pelajaran bagi kita semua.

Beberapa jam sebelumnya admin ditanya oleh seorang akhwat (kisah pribadinya dan tidak perlu disebutkan orangnya), akhwat tersebut bertanya akan perihal kehidupan rumah tangganya yang sempat dia jalani bersama mantan suaminya, dikarenakan suami lemah syahwat, sang istri menuntut cerai terhadap suaminya, mau tidak mau, ridho ataupun tidak ridho, sang suami harus menerima konsekuensi tuntutan istrinya tersebut dikarenakan hubungan suami istri merupakan hak istri yang hendaklah ditunaikan sang suami, kecuali sang istri ridho akan kondisi suaminya. Hal ini kaidah hukumnya berbeda.
adakah masa iddah mantan istri belum digauli
image ilustration from kidchan.com
Begitulah sedikit gambaran kisah saudari tersebut, semoga dia segera mendapatkan suami yang dia idamkan dan terhadap saudara kita tersebut semoga allah ta’ala segera menyembuhkan penyakitnya tersebut agar dapat menjalani hidup normal bersanding kembali dengan mantan istrinya atau wanita lain atas izin allah ta’ala.Masuk pada pembahasan, bagaimana hukum mantan istri yang dicerai suami dikarenakan uzur syar’i seperti lemah syahwat sehingga belum disetubuhi sang suami, adakah masa iddahnya? Dan bolehkah dia menerima pinangan pria lain setelah diceraikan suaminya?

JawabanApa itu masa iddah,syeikh abu bakar al-jazairi dalam kitabnya minhajul muslim mengatakan: masa iddah adalah “hari-hari dimana wanita yang ditalak (dicerai) menjalani masa penantian. Selama masa penantian tersebut, seorang mantan istri tidak boleh menikah dan tidak boleh di minta untuk menikah.”Mantan istri yang dicerai sebelum digauli, hendaklah digaris bawahi yaitu belum digauli (belum berhubungan intim/jima’ dengan mantan suaminya), bagi mereka tidak berlaku masa iddah, hal ini pengecualian berdasarkan firman allah ta’ala dalam surat al-ahzab: 49

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِناتِ ثُمَّ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ فَما لَكُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ عِدَّةٍ تَعْتَدُّونَها فَمَتِّعُوهُنَّ وَسَرِّحُوهُنَّ سَراحاً جَمِيلاً

“wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian telah menikahi wanita muslimah kemudian kalian talak mereka sebelum kalian menggaulinya maka sekali-kali tidak wajib bagi mereka (mantan istri) masa iddah bagi mu, yang kamu minta menyempurnakannya, maka hendaklah (mantan suami) memberi mereka (mantan istri) mut’ah dan lepaskanlah mereka itu dengan cara yang sebaik-baiknya”


adakah masa iddah mantan istri belum digauli
www.elwatannews.com
Ibnu katsir menjelaskan dalam kitab tafsirnya bahwa “ ayat ini terdapat banyak hukum yang dapat diambil, diantaranya, pernikahan adalah berdiri diatas sebuah akad. Ayat ini amat jelas pembahasannya tentang hukum nikah dan terjadi ikhtilaf (perselisihan pendapat diantara ulama) menjadi 3 perkataan: apakah nikah hanya seputar akad atau hubungan badan atau keduanya. Ayat ini menjelaskan bahwa setelah akad nikah adanya hubungan badan setelahnya. Ayat ini juga menjelaskan bolehnya menceraikan istri setelah akad nikah walaupun belum terjadinya hubungan badan.”( selengkapnya silahkan baca tafsir ibnu katsir jilid ke 6 hal 389 versi cetakan arab)

baca juga: mitos seputar puasa

Dari ayat ini dapat kita ambil kesimpulan bahwa mantan istri yang diceraikan sebelum berhubungan intim, tidak berlaku bagi mereka hukum masa iddah dan dibolehkannya mereka menerima pinangan nikah. ( selengkapnya silahkan baca tafsir ibnu katsir jilid ke 6 hal 390 versi cetakan arab)

Mantan istri yang diceraikan sebelum digauli bagi mereka setengah mahar dan berhak baginya pemberian dari mantan suami semampunya berupa benda atau perhiasan dll yang dapat menyenangkan hatinya dan perlakuan yang baik, dalilnya terdapat dalam surat albaqarah: 236-237. Wallahu a’lam
Baca selengkapnya »
SHOHEHKAH HADIS ADZAN dan IQOMAH KETIKA BAyi LAHIR ?

SHOHEHKAH HADIS ADZAN dan IQOMAH KETIKA BAyi LAHIR ?

Kritik: Anjuran Adzan Di Telinga Bayi. Alhamdulillah wash sholaatu was salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. Kebanyakan buku atau kitab yang menjelaskan hal-hal yang mesti dilakukan ketika menyambut sang buah hati adalah amalan satu ini yaitu adzan dan iqomah di telinga bayi yang baru lahir. Bahkan bukan penulis-penulis kecil saja, ulama-ulama hebat pun menganjurkan hal ini sebagaimana yang akan kami paparkan.

Namun, tentu saja dalam permasalahan ini yang jadi pegangan dalam beragama adalah bukan perkataan si A atau si B. Yang seharusnya yang jadi rujukan setiap muslim adalah Al Qur’an dan hadis yang shohih. Boleh kita berpegang dengan pendapat salah satu ulama, namun jika bertentangan dengan Al Qur’an atau menggunakan hadis lemah, maka pendapat mereka tidaklah layak kita ikuti.


Itulah yang akan kami tinjau pada pembahasan kali ini. Apakah benar adzan iqomah ketika bayi lahir disyari’atkan (disunnahkan)? Kami akan berusaha meninjau dari pendapat para Imam Madzhab, lalu kami akan tinjau dalil yang mereka gunakan. Agar tidak berpanjang lebar dalam muqodimah, silakan simak pembahasan berikut ini.

Pendapat Para Ulama Madzhab

Para ulama Hambali hanya menyebutkan permasalahan adzan di telinga bayi saja.
Para ulama Hanafiyah menukil perkataan Imam Asy Syafi’i dan mereka tidak menganggap mustahil perkataannya (maksudnya: tidak menolak perkataan Imam Asy Syafi’i yang menganjurkan adzan di telinga bayi, pen).

Imam Malik memiliki pendapat yang berbeda yaitu beliau membenci perbuatan adzan dan iqamah ketika bayi lahir, bahkan menggolongkannya sebagai perkara yang tidak ada tuntunannya.

Sebagian ulama Malikiyah menukil perkataan para ulama Syafi’iyah yang mengatakan bahwa tidak mengapa mengamalkan hal ini (adzan dan iqamah ketika bayi lahir). (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 2/779, pada Bab Adzan, Wizarotul Awqof Kuwaitiyyah, Asy Syamilah)
Ulama lain yang menganjurkan hal ini (adzan dan iqamah ketika bayi lahir) adalah Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman dan Ibnul Qoyyim dalam Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud.

Inilah pendapat para ulama madzhab dan ulama lainnya. Intinya, ada perselisihan dalam masalah ini (adzan dan iqamah ketika bayi lahir). Lalu manakah pendapat yang kuat?

Tentu saja kita harus kembalikan pada dalil yaitu perkataan Allah dan Rasul-Nya.
Itulah sikap seorang muslim yang benar. Dia selalu mengembalikan suatu perselisihan yang ada kepada Al Qur’an dan As Sunnah sebagaimana hal ini diperintahkan dalam firman Allah,
وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبِّي عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ
“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah illahku. Kepada-Nya lah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali.” (QS. Asy-Syuura : 10)

Ahli tafsir terkemuka, Ibnu Katsir rahimahullah, mengatakan, ”Maksudnya adalah (perkara) apa saja yang diperselisihkan dan ini mencakup segala macam perkara, maka putusannya (dikembalikan) pada Allah yang merupakan hakim dalam perselisihan ini. (Di mana perselisihan ini) diputuskan dengan kitab-Nya dan Sunnah (petunjuk) Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala pada ayat yang lain,
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya).”(QS. An Nisa’ [4] : 59).

Yang (memutuskan demikian) adalah Rabb kita yaitu hakim dalam segala perkara. Kepada Nya lah kita bertawakkal dan kepada-Nya lah kita mengembalikan segala urusan. –Demikianlah perkataan beliau rahimahullah dengan sedikit perubahan redaksi-.

Dalil Para Ulama yang Menganjurkan

hadis pertama,Dari ‘Ubaidillah bin Abi Rofi’, dari ayahnya (Abu Rofi’), beliau berkata,
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلَاةِ
"Aku telah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengumandangkan adzan di telinga Al Hasan bin 'Ali ketika Fathimah melahirkannya dengan adzan shalat". (HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi)

hadis kedua,Dari Al Husain bin ‘Ali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ وُلِدَ لَهُ مَوْلُودٌ فَأَذَّنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَأَقَامَ الصَّلَاةَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى لَمْ تَضُرَّهُ أُمُّ الصِّبْيَانِ
“Setiap bayi lahir, lalu diadzankan di telinga kanan dan dikumandangkan iqomah di telinga kiri, maka ummu shibyan tidak akan membahayakannya.” (Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam musnadnya dan Ibnu Sunny dalam Al Yaum wal Lailah). Ummu shibyan adalah jin (perempuan).

baca juga: perdagangan saham singapore secara online meninggalkan indonesia

hadis ketiga,Dari Ibnu Abbas, beliau mengatakan,
أذن في أذن الحسن بن علي يوم ولد ، فأذن في أذنه اليمنى ، وأقام في أذنه اليسرى
“Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adzan di telinga al-Hasan bin 'Ali pada hari beliau dilahirkan maka beliau adzan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri.” (Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

Untuk memutuskan apakah mengumandangkan adzan di telinga bayi termasuk anjuran atau tidak, kita harus menilai keshohehan hadis-hadis di atas terlebih dahulu.

Penilaian Pakar Hadis Mengenai Hadis-hadis Di Atas 
Penilaian hadis pertama: Para perowi hadits pertama ada enam,
مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ سُفْيَانَ قَالَ حَدَّثَنِى عَاصِمُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى رَافِعٍ عَنْ أَبِيهِ
yaitu: Musaddad, Yahya, Sufyan, ‘Ashim bin ‘Ubaidillah, ‘Ubaidullah bin Abi Rofi’, dan Abu Rofi’.

Dalam hadits pertama ini, perowi yang jadi masalah adalah ‘Ashim bin Ubaidillah.

Ibnu Hajar menilai ‘Ashim dho’if (lemah). Begitu pula Adz Dzahabi mengatakan bahwa Ibnu Ma’in mengatakan ‘Ashim dho’if (lemah). Al Bukhari dan selainnya mengatakan bahwa ‘Ashim adalah munkarul hadis (sering membawa hadits munkar).

Dari sini nampak dari sisi sanad terdapat rawi yang lemah sehingga secara sanad, hadis ini sanadnya lemah.
SHOHEHKAH HADIS ADZAN dan IQOMAH KETIKA BAyi LAHIR
Ringkasnya, hadis pertama adalah hadis lemah (hadits dho’if).

Kemudian beberapa ulama menghasankan hadits ini seperti At-Tirmidzi. Beliau mengatakan bahwa ini hadis hasan. Kemungkinan beliau mengangkat hadis ini ke derajat hasan karena ada beberapa riwayat yang semakna yang mungkin bisa dijadikan penguat. Mari kita lihat hadis kedua dan ketiga.

Penilaian hadis kedua: Para perowi hadits kedua ada lima,
حدثنا جبارة ، حدثنا يحيى بن العلاء ، عن مروان بن سالم ، عن طلحة بن عبيد الله ، عن حسين
yaitu: Jubaaroh, Yahya bin Al ‘Alaa’, Marwan bin Salim, Tholhah bin ‘Ubaidillah, dan Husain.

Jubaaroh dinilai oleh Ibnu Hajar dan Adz Dzahabi dho’if (lemah).

baca juga: apa pengertian ekonomi islam menurut sarjana ekonomi islam dunia

Yahya bin Al ‘Alaa’ dinilai oleh Ibnu Hajar orang yang dituduh dusta dan Adz Dzahabi menilainya matruk (hadis yang diriwayatkannya ditinggalkan).

Marwan bin Salim dinilai oleh Ibnu Hajar matruk (harus ditinggalkan), dituduh lembek dan juga dituduh dusta.

Syaikh Al Albani dalam Silsilah Adh Dho’ifah no. 321 menilai bahwa Yahya bin Al ‘Alaa’ dan Marwan bin Salim adalah dua orang yang sering memalsukan hadis.

Dari sini sudah dapat dilihat bahwa hadis kedua ini tidak dapat menguatkan hadis pertama karena syarat hadis penguat adalah cuma sekedar lemah saja, tidak boleh ada perowi yang dusta. Jadi, hadis kedua ini tidak bisa mengangkat derajat hadis pertama yang dho’if (lemah) menjadi hasan.

Penilaian hadis ketiga: Para perowi hadis ketiga ada delapan,
وأخبرنا علي بن أحمد بن عبدان ، أخبرنا أحمد بن عبيد الصفار ، حدثنا محمد بن يونس ، حدثنا الحسن بن عمرو بن سيف السدوسي ، حدثنا القاسم بن مطيب ، عن منصور ابن صفية ، عن أبي معبد ، عن ابن عباس
yaitu: Ali bin Ahmad bin ‘Abdan, Ahmad bin ‘Ubaid Ash Shofar, Muhammad bin Yunus, Al Hasan bin Amru bin Saif As Sadusi, dan Qosim bin Muthoyyib, Manshur bin Shofiyah, Abu Ma’bad, dan Ibnu Abbas.

Al Baihaqi sendiri dalam Syu’abul Iman menilai ini hadis dho’if (lemah). Namun, apakah hadis ini bisa jadi penguat hadis pertama tadi? Kita harus melihat perowinya lagi.

Perowi yang menjadi masalah dalam hadis ini adalah Al Hasan bin Amru.

Al Hafidz berkata dalam Tahdzib At Tahdzib no. 538 mengatakan bahwa Bukhari berkata Al Hasan itu kadzdzab (pendusta) dan Ar Razi berkata Al Hasan itu matruk (harus ditinggalkan). Sehingga Al Hafidz berkesimpulan bahwa Al Hasan ini matruk (Taqrib At Tahdzib no. 1269).

Kalau ada satu perowi yang matruk (yang harus ditingalkan) maka tidak ada pengaruhnya kualitas perowi lainnya sehingga hadis ini tidak bisa dijadikan penguat bagi hadis pertama tadi.

Ringkasnya, hadis kedua dan ketiga adalah hadis maudhu’ (palsu) atau mendekati maudhu’.
Dari pembahasan di atas, terlihat bahwa hadis pertama tadi memang memiliki beberapa penguat, tetapi sayangnya penguat-penguat tersebut tidak bisa mengangkatnya dari dho’if (lemah) menjadi hasan. Maka pernyataan sebagian ulama yang mengatakan bahwa ini hadis hasan adalah suatu kekeliruan. 

Syaikh Al Albani juga pada awalnya menilai hadits tentang adzan di telinga bayi lahir adalah hadits hasan. Namun, akhirnya beliau meralat pendapat beliau ini sebagaimana beliau katakan dalam Silsilah Adh Dho’ifah no. 321. Jadi kesimpulannya, hadis yang membicarakan tentang adzan di telinga bayi adalah hadis lemah sehingga tidak bisa diamalkan.

Seorang ahli hadis Mesir masa kini yaitu Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini hafizhohullah mengatakan, “Hadis yang menjelaskan adzan di telinga bayi adalah hadis lemah. Sedangkan suatu amalan secara sepakat tidak bisa ditetapkan dengan hadis lemah. Saya telah berusaha mencari dan membahas hadis ini, namun belum juga mendapatkan penguatnya (menjadi hasan).” (Al Insyirah fi Adabin Nikah, hal. 96, dinukil dari Hadiah Terindah untuk Si Buah Hati, Ustadz Abu Ubaidah, hal. 22-23)


Penutup
Dalam penutup kali ini, kami ingin menyampaikan bahwa memang dalam masalah adzan di telinga bayi terdapat khilaf (perselisihan pendapat). Sebagian ulama menyatakan dianjurkan dan sebagiannya lagi mengatakan bahwa amalan ini tidak ada tuntunannya. Dan setelah membahas penilaian hadis-hadis tentang dianjurkannya adzan di telinga bayi di atas terlihat bahwa semua hadits yang ada adalah hadis yang lemah bahkan maudhu’ (palsu).

Kesimpulannya
hadis adzan di telinga bayi tidak bisa diamalkan sehingga amalan tersebut tidak dianjurkan.
Jika ada yang mengatakan, “Kami ikut pendapat ulama yang membolehkan amalan ini.”

Cukup kami sanggah,
“Ingatlah saudaraku, di antara pendapat-pendapat yang ada pasti hanya satu yang benar. Coba engkau memperhatikan perkataan para salaf berikut ini.

Ibnul Qosim mengatakan bahwa beliau mendengar Malik dan Al Laits berkata tentang masalah perbedaan pendapat di antara sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah tepat perkataan orang-orang yang mengatakan bahwa khilaf (perbedaan pendapat) boleh-boleh saja (ada kelapangan). Tidaklah seperti anggapan mereka. Di antara pendapat-pendapat tadi pasti ada yang keliru dan ada benar.”

Begitu pula Asyhab mengatakan bahwa Imam Malik ditanya mengenai orang yang mengambil hadits dari seorang yang terpercaya dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau ditanya, “Apakah engkau menganggap boleh-boleh saja ada perbedaan pendapat (dalam masalah ijtihadiyah, pen)?”

Imam Malik lantas menjawab, “Tidak demikian. Demi Allah, yang diterima hanyalah pendapat yang benar. Pendapat yang benar hanyalah satu (dari berbagai pendapat ijtihad yang ada). Apakah mungkin ada dua pendapat yang saling bertentangan dikatakan semuanya benar [?] Tidak ada pendapat yang benar melainkan satu saja.” (Dinukil dari Shohih Fiqh Sunnah, 1/64)”

Demikian saudaraku, penjelasan mengenai adzan di telinga bayi. Semoga dengan penjelasan pada posting kali ini, kaum muslimin mengetahui kekeliruan yang telah berlangsung lama di tengah-tengah mereka dan semoga mereka merujuk pada kebenaran. Semoga tulisan ini dapat memperbaiki kondisi kaum muslimin saat ini.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Allahumman fa’ana bimaa ‘allamtana, wa ‘alimna maa yanfa’una wa zidnaa ‘ilmaa. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Keterangan:
Hadis shohih adalah hadist yang memenuhi syarat: semua periwayat dalam hadits tersebut adalah adil (baik agamanya), dhobith (kuat hafalannya), sanadnya bersambung, tidak menyelisihi riwayat yang lebih kuat, dan tidak ada illah (cacat).

Hadis hasan adalah hadis yang memenuhi syarat shohih di atas, namun ada kekurangan dari sisi dhobith (kuatnya hafalan).

Hadis dho’if (lemah) adalah hadits yang tidak memenuhi syarat shohih seperti sanadnya terputus, menyelisihi riwayat yang lebih kuat (lebih shohih) dan memiliki illah (cacat).

Hadis maudhu’ (palsu) adalah hadis yang salah satu perowinya dinilai kadzdzib (pendusta) yakni berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hadis matruk (yang harus ditinggalkan) adalah hadis yang salah satu perowinya dituduh kadzib (berdusta).

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal, Artikel www.muslim.or.id, dipublish ulang oleh kumpulankonsultasi.com
Baca selengkapnya »
Kenapa tidak boleh mewasiatkan warisan lebih dari sepertiganya?

Kenapa tidak boleh mewasiatkan warisan lebih dari sepertiganya?

Dilarangnya mewasiatkan warisan lebih dari sepertiganya, karena hak ahli waris tergantung pada harta warisan. Jika dibolehkan mewasiatkan lebih dari sepertiganya, maka akan merusak hak-hak mereka.


Karena itulah ketika Sa'd bin Abi Waqash meminta izin kepada Rasulullah -shollallaahu’alaihi wassalam- untuk mewasiatkan dua pertiga hartanya beliau berkata, "Tidak boleh." Lalu Sa'd berkata, "Setengahnya." Rasulullah –shollallaahu’alaihi wasallam- pun berkata, "Tidak boleh." Lalu Sa'ad berkata lagi, "Kalau begitu sepertiganya."


Nabi –shollallaahu’alaihi wasallam- bersabda,

اَلثُّلُثُ،وَالثُّلُثُ كثِيْرٌ إِنَّكَ إِنْ تَذَرْرَثَتَكَ وَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ هُمْ تَذَرَ تَذَرَ عَالَةً يَتَكَفَّفُوْنَ النَّاسَ 
"Sepertiganya. Sepertiga itu cukup banyak. Sesungguhnya jika engkau meninggalkan para ahli warismu dalam keadaan kaya (cukup) itu lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin sehingga meminta-minta kepada orang lain." (HR. Al- Bukhari, kitab al-Jana'iz no. 1295, dan Muslim, kitab al-Washiyyah no. 1628).
Kenapa tidak boleh mewasiatkan warisan lebih dari sepertiganya

Rasulullah –shollallaahu’alaihi wassalam- telah menjelaskan bahkan menegaskan dalam hal ini tentang hikmah dilarangnya wasiat melebihi sepertiganya. Karena itu, jika ia mewasiatkan lebih dari sepertiganya lalu para ahli warisnya mengizinkan, maka hal itu tidak apa-apa.

baca juga: warisan untuk anak perempuan

Rujukan: Fatawa Nur ‘Ala Ad-Darb, Syaikh Ibnu Utsaimin, juz 2, hal. 559. Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 1, penerbit Darul Haq. ilustration image by: www.alriyadh.com
Baca selengkapnya »
-->