ARRAZI HASYIM BERAQIDAH KAFIR KRISTEN


Bismillahirrahmanirrahim.

Saya nasehatkan untuk seluruh kaum muslimin untuk segera meninggalkan dan menjauhkan Arrazi Hasyim, karena tidak ada kelurusan ajaran dan kebaikan dalam Islam sedikit pun, yang ada hanyalah kesesatan dan kekufuran secara nyata.

Perkataan Arrazi Hasyim,

“Seseorang yang menyembah Nabi Isa alaihissalam itu wajar, kalau menyembah Nabi Isa alaihissalam yang dilihat sifat Allah, Aman !”

PERTAMA, Perkataannya ini merupakan kekafiran yang nyata dan syirik akbar yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam dan batal Islamnya yang menyatakan serta menetapkan bahwa terdapat ilah (tuhan) selain Allah Azza Wa Jalla yang disembah (diibadahi).
.
Padahal Allah Azza Wa Jalla telah menetapkan bahwa tidak ada yang berhak disembah dan diibadahi kecuali Dia, Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَأُوْلُواْ ٱلۡعِلۡمِ قَآئِمَۢا بِٱلۡقِسۡطِۚ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ  
“Allah menyatakan bahwa tidak ada ilah (yang berhak disembah/diibadahi dengan benar) selain Dia, (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada ilah (yang berhak disembah/diibadahi dengan benar) selain Dia, Yang Mahaperkasa, Maha-bijaksana.” (QS. Ali Imran [3] : 18)
 .
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
.
وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ  
"Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada ilah (yang berhak disembah/diibadahi dengan benar) selain Aku, maka sembahlah (beribadahlah kepada) Aku.” (QS. Al Anbiya [21] : 25)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

يُنَزِّلُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ بِٱلرُّوحِ مِنۡ أَمۡرِهِۦ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦٓ أَنۡ أَنذِرُوٓاْ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱتَّقُونِ  
“Dia menurunkan para malaikat membawa wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, (dengan berfirman) yaitu, “Peringatkanlah (hamba-hamba-Ku), bahwa tidak ada ilah (yang berhak disembah/diibadahi dengan benar) selain Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku.” (QS. An Nahl [16] : 2)
.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
.
قُلۡ يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ تَعَالَوۡاْ إِلَىٰ كَلِمَةٖ سَوَآءِۢ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمۡ أَلَّا نَعۡبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشۡرِكَ بِهِۦ شَيۡٔٗا وَلَا يَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا أَرۡبَابٗا مِّن دُونِ ٱللَّهِۚ فَإِن تَوَلَّوۡاْ فَقُولُواْ ٱشۡهَدُواْ بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ  
“Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.” (QS. Ali Imran [3] : 64)
.
Padahal Nabi Isa alaihissalam memerintahkan Bani Israil untuk menyembah (beribadah) kepada Allah Azza Wa Jalla, bukan dirinya, serta melarang untuk menyembah (beribadah) kepada selain Allah Azza Wa Jalla.
.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
.
وَقَالَ ٱلۡمَسِيحُ يَٰبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمۡۖ إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٖ  
“Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, “Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu.” (QS. Al Ma’idah [5] : 72)
.
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Isma'il : telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il : telah menceritakan kepada kami Aban bin Yazid : telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Katsir dari Zaid bin Sallam bahwa Abu Sallam : telah menceritakan kepadanya bahwa Al Harits Al Asy'ari radhiyallahu ‘anhu telah menceritakan kepadanya bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
.
"Sesungguhnya Allah memerintahkan lima kalimat kepada Yahya bin Zakariya –alaihis salam- agar diamalkan dan memerintahkan Bani Israil supaya mengamalkannya, dan sesungguhnya ia hampir saja memperlambatnya. Isa putra Maryam -alaihis salam- berkata : "Sesungguhnya Allah memerintahkan lima kalimat padamu agar kamu amalkan dan agar Bani Israil kamu perintahkan untuk mengamalkannya, perintahlah mereka atau aku yang memerintah mereka." Yahya menjawab : "Aku khawatir bila kamu mendahuluiku menyampaikannya, aku akan dibenamkan atau disiksa." Isa putra Maryam -alaihis salam- kemudian mengumpulkan manusia di Baitul Maqdis, masjid penuh sesak hingga ke teras, ISA PUTRA MARYAM -ALAIHIS SALAM- berkata,
.
"Sesungguhnya Allah memerintahkanku lima kalimat agar aku amalkan dan aku perintahkan kalian untuk mengamalkannya. Pertama, SEMBAHLAH (BERIBADAHLAH KEPADA) ALLAH DAN JANGAN MENYEKUTUKAN-NYA DENGAN SESUATU PUN, sesungguhnya perumpamaan orang yang menyekutukan Allah sama seperti seseorang membeli budak dengan uang emas atau perak lalu ia berkata : “Ini rumahku dan ini pekerjaanku, bekerjalah dan tunaikan untukku. Tapi budak itu malah bekerja dan menunaikan untuk orang lain, siapa di antara kalian yang mau budaknya seperti itu ?” (Kedua) Sesungguhnya Allah memerintahkan shalat pada kalian, bila kalian shalat, maka janganlah menoleh, karena Allah menghadapkankan wajah-Nya ke wajah hamba-Nya saat shalat, selama ia tidak menoleh. (Ketiga) Aku memerintahkan kalian puasa, dan perumpamaannya seperti seseorang berada di tengah-tengah sekelompok orang, ia membawa kantong berisi minyak kesturi, kalian semua kagum atau semerbak baunya mengagumkan, sesungguhnya bau (mulut) orang yang berpuasa lebih harum bagi Allah melebihi minyak kesturi, (Keempat) aku juga memerintahkan kalian bersedekah, perumpamaannya seperti seseorang yang ditawan musuh, mereka membelenggu tangannya ke leher, mereka lalu memajukannya untuk ditebas lehernya, kemudian ia berkata : "Aku menebusnya dari kalian dengan yang sedikit dan yang banyak" lalu tawanan tersebut menebus dirinya dari mereka. (Kelima) Aku memerintahkan kalian untuk mengingat Allah, sesungguhnya perumpamaannya seperti seseorang yang dikejar musuh dengan cepat, hingga ketika tiba di benteng yang kokoh, ia menjaga dirinya dari mereka, demikian halnya hamba, ia tidak menjaga diri dari setan kecuali dengan mengingat Allah."
.
- HR. Tirmidzi no. 2790 | no. 2863
.
Dan bahkan kelak, Nabi Isa alaihissalam mengingkari orang-orang yang menyembah dirinya.
.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
.
وَإِذۡ قَالَ ٱللَّهُ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ ءَأَنتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ ٱتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيۡنِ مِن دُونِ ٱللَّهِۖ قَالَ سُبۡحَٰنَكَ مَا يَكُونُ لِيٓ أَنۡ أَقُولَ مَا لَيۡسَ لِي بِحَقٍّۚ إِن كُنتُ قُلۡتُهُۥ فَقَدۡ عَلِمۡتَهُۥۚ تَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِي وَلَآ أَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِكَۚ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّٰمُ ٱلۡغُيُوبِ مَا قُلۡتُ لَهُمۡ إِلَّا مَآ أَمَرۡتَنِي بِهِۦٓ أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمۡۚ وَكُنتُ عَلَيۡهِمۡ شَهِيدٗا مَّا دُمۡتُ فِيهِمۡۖ فَلَمَّا تَوَفَّيۡتَنِي كُنتَ أَنتَ ٱلرَّقِيبَ عَلَيۡهِمۡۚ وَأَنتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ  
“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam! Engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang, jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?” (Isa) menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (yaitu), “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu,” dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di tengah-tengah mereka. Maka setelah Engkau mewafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkaulah Yang Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.” (QS. Al Ma’idah [5] : 116 – 117)
.
KEDUA, Perkataan Arrazi Zindiq dan pendusta, 
.
“Seseorang yang menyembah Nabi Isa alaihissalam itu wajar, kalau menyembah Nabi Isa alaihissalam yang dilihat sifat Allah, Aman !”
.
Ini sama saja seperti Aqidah kafir Kristen yang menyatakan bahwa Dzat Allah Azza Wa Jalla bersatu atau menitis ke dalam diri mahluk-Nya, atau yang disebut dengan ajaran Hululiyah/Ittihad (Wihdatul Wujud)
.
Kalau Kristen (Nashrani) yang beraqidah Hululiyah/Ittihad ini saja dikafirkan oleh Allah Azza Wa Jalla, maka ini sama juga hukumnya dengan orang yang mengaku Islam akan tetapi beraqidah seperti Kafir Kristen (Nashrani) Hululiyah/Ittihad, YAKNI Dzat Allah Azza Wa Jalla bersatu atau menitis ke dalam diri mahluk-Nya.
.
Ketahuilah ! Aqidah DZAT ALLAH menitis ke dalam mahluk-Nya dan bersatu dengan mahluk-Nya (Hululiyah/Ittidad) adalah aqidah orang-orang yang DIKAFIRKAN oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala yaitu NASHRANI yang secara khusus mengimani, meyakini dan membenarkan bahwa DZAT ALLAH menitis ke dalam mahluk-Nya atau bersatu dengan mahluk-Nya, yaitu Nabi Isa alaihisallam, dan yang secara umum mengimani, meyakini dan membenarkan bahwa DZAT ALLAH menitis ke dalam mahluk-Nya atau bersatu dengan kedua mahluk lain-Nya yaitu kepada Maryam, ibu Nabi Isa alaihisallam, yang disebut oleh beberapa golongan Nashrani, sebagai “Tuhan Ibu” yang melahirkan “Tuhan Anak” yaitu Nabi Isa alaihisallam dan kepada Malaikat Jibril alaihisallam yang mereka sebut “Roh Kudus”.
.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
.
لَقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ مَرۡيَمَۖ 
“SUNGGUH TELAH KAFIR orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah itu dialah Al Masih putra Maryam.” (QS. Al Maidah [5] : 72)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
.
لَّقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ ثَالِثُ ثَلَٰثَةٖۘ وَمَا مِنۡ إِلَٰهٍ إِلَّآ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۚ وَإِن لَّمۡ يَنتَهُواْ عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ  
“SUNGGUH TELAH KAFIR orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada ilah (yang berhak disembah/diibadahi) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa azab yang pedih. (QS. Al Maidah [5] : 73)
.
Syaikh Al Islam Abu Al Abbas Ahmad Al Harani rahimahullah (wafat 728 H) berkata,
.
“Mereka mengetahui bahwa Allah adalah Rabb semesta alam Yang Menguasai dan menciptakannya. Dan bahwasannya Pencipta Yang Maha Suci adalah Dzat yang berbeda dari mahluk-Nya. Dia (Allah) Azza Wa Jala bukanlah keadaan yang ada padanya (mahluk), JUGA TIDAK BERSATU DENGANNYA (MAHLUK). ORANG-ORANG NASHRANI, MEREKA DIKAFIRKAN OLEH ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA KARENA MENGATAKAN BAHWA ALLAH BERSATU (MENITIS KEPADA MANUSIA) DAN BAHWA ALLAH BERSATU DENGAN AL MASIH SECARA KHUSUS. LALU BAGAIMANA DENGAN ORANG YANG MENGATAKAN BAHWA ALLAH BERSATU PADA SETIAP MAHLUK SECARA UMUM ?”

- Al Ubudiyyah, hlm. 42

Dan keyakinan Hululiyah/Ittihad, yakni Dzat Allah Subhanahu Wa Ta’ala bersatu dengan mahluk-Nya atau menitis ke dalam mahluk-Nya adalah sesat dan tertolak sebagaimana telah menjadi Ijma’ (kesepakatan) ulama yang dinukil oleh Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah (wafat 774 H), beliau berkata,
.
“KEYAKINAN HULUL ATAU ITTIHAD INI DITOLAK OLEH IJMA’ ULAMA. Mahatinggi Allah dan Mahasuci Allah.”

- Tafsir min Ibnu Katsir, VII/510-511

Dan yang menentang serta menyelisihi Ijma’ (kesepakatan) ulama adalah manusia-manusia yang sesat menyesatkan dan balasannya adalah dibiarkan Allah menganggap baik kesesatannya sebagai petunjuk dan kebenaran yang merupakan bagian dari Istidraj-Nya, yang berakhir di Neraka Jahanam sebagai seburuk-buruknya tempat kembali.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
 
وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا
“Dan barangsiapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang yang beriman, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa [4] : 115)

Al-Hafizh Ibnu Katsir Asy-Syafi’i rahimahullah (wafat 774 H) berkata,

“AYAT INI MENGANDUNG JAMINAN UNTUK KESEPAKATAN MEREKA (PARA SAHABAT, TABI’IN, TABI’UT TABI’IN DAN KAUM MUSLIMIN) YANG TIDAK MUNGKIN SALAH, SEBAGAI PENGHORMATAN BAGI MEREKA DAN PENGAGUNGAN KEPADA RASULULLAH SHALLALLAHHU ‘ALAIHI WASALLAM.

“Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”

YAITU JIKA IA MENEMPUH JALAN INI (MENYELISIHI JALAN, SYARIAT DAN SUNNAH RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM DAN IJMA’, NISCAYA KAMI AKAN BALAS DIA DENGAN MENGANGGAP BAIK DALAM DADANYA DAN MENGHIASINYA SEBAGAI ISTIDRAJ (PENGULURAN DALAM KESESATAN MENUJU KEBINASAAN). Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah akan memalingkan hati mereka (QS. Ash-Shaff : 5)” Dan juga firman-Nya, “Dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan yang sangat ( QS. Al-An’am : 110)” Dia menjadikan api neraka sebagai tempat kembalinya di akhirat. Karena barangsiapa yang keluar dari hidayah, tidak ada jalan lain baginya, kecuali jalan menuju Neraka pada hari Kiamat kelak.”
.
- Tafsir min Ibnu Katsir, II/407-408
.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah (wafat 1376 H) berkata
.
“AYAT YANG MULIA INI TELAH DIJADIKAN DALIL BAHWA IJMA’ (KESEPAKATAN) UMAT ADALAH HUJJAH, DAN BAHWA IJMA’ ADALAH MA’SHUM, TERJAGA DARI KESALAHAN. YANG DEMIKIAN ITU KARENA ALLAH TELAH MENGANCAM ORANG YANG MENYELISIHI JALAN KAUM MUKMININ DENGAN KEHINAAN DAN API NERAKA, jalan kaum Mukminin ini adalah sebuah kata tunggal (mufrad) yang bersandar, meliputi segala perkara yang ada pada kaum Mukminin, baik aqidah maupun perbuatan, lalu bisa mereka telah sepakat wajibnya suatu perkara atau menganjurkannya atau mengharamkannya atau memakruhkannya atau membolehkannya, maka inilah jalan mereka, dan BARANGSIAPA MENYELISIHINYA PADA SUATU HAL DARI ITU SETELAH TERJADINYA IJMA’ MEREKA ATAS HAL TERSEBUT, MAKA SESUNGGUHNYA IA TELAH MENGIKUTI SELAIN JALAN MEREKA (JALAN ORANG YANG BERIMAN).”
.
- Taisir al-Karim ar-Rahman as-Sa’di, II/195
.
Telah menceritakan kepada kami Al 'Abbas bin 'Utsman Ad Dimasyqi telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim telah menceritakan kepada kami Ma'an bin Rifa'ah As Salami telah menceritakan kepadaku Abu Khalaf Al A'ma dia berkata; aku mendengar Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
.
“Sesungguhnya umatku tidak akan bersatu di atas kesesatan.”
.
- HR. Ibnu Majah no. 3940 | no. 3950
.
Jauhkanlah Arrazi Hasyim. Jauhkanlah jika ingin selamat dalam perkara agama, dunia dan akhirat. Sungguh tidak ada kebaikan di dalam dirinya. Yang ada hanyalah kesesatan dan kekufuran yang nyata.
.
.
Atha bin Yussuf Hafizhahullah.

Nas alulloha as Salamah wal afiyah.

Tidak ada komentar: