IBX5A47BA52847EF DakwahPost
Adab dalam Menghormati Jenazah

Adab dalam Menghormati Jenazah

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ "إِذَا رَأَيْتُمْ الْجَنَازَةَ فَقُومُوا لَهَا حَتَّى تُخَلِّفَكُمْ أَوْ تُوضَعَ." رواه الترمذي
Dari Amir bin Rabi'ah, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, "Apabila kalian melihat jenazah, maka berdirilah sampai jenazah itu lewat, atau sampai jenazah itu diletakkan" HR. At-Tirmidzi (w. 297 H)

Adab dalam Menghormati Jenazah

Istifadah:

Dalam hadist shahih Imam Bukhari diceritakan, pernah suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melihat rombongan yang membawa jenazah dihadapan beliau. Nabipun berdiri menghormati . Melihat hal tersebut sahabat lantas berkata dengan nada seolah protes, "bukankah “Itu jenazah orang Yahudi.”

“Bukankah ia juga manusia?” sahut Rasulullah.

Dari dialog di atas, kita dapat memahami bahwa Rasulullah sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini beliau terapkan dalam etika menghormati orang lain, tidak peduli siapapun mereka dan apa agamanya. Bahkan Nabi tetap menghormati orang yang sudah meninggal dengan cara berdiri ketika jenazah tersebit lewat di hadapannya, sekalipun beragama Yahudi. Karena kerahmatan Islam adalah untuk semuanya, baik manusia, jin, hewan, tumbuhan maupun alam semesta.

Hadist di atas memberi pesan bahwa menghormati orang lain bukan saja ketika ia masih hidup, namun ketika sudah meninggal pun kita tetap dianjurkan untuk menghormatinya. Salah satunya adalah berdiri ketika ada iringan jenazah yang lewat di hadapan kita, baik jenazah itu muslim maupun non muslim. Inilah salah satu etika yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap orang yang sudah meninggal.

[Lembaga Kajian & Riset Rasionalika Darus-Sunnah]
Read more »
Setiap Muslim Bersaudara

Setiap Muslim Bersaudara

Setiap Muslim Bersaudara

Orang-orang yang beriman kepada Allah Ta’ala diibaratkan sebagai sebuah TUBUH.. dalam hal cinta dan kasih sayang.

Dari An-Nu’man bin Basyir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan kaum mukminin dalam hal cinta dan kasih sayang dan tolong-menolong mereka, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya merasa sakit, maka seluruh anggota tubuh yang lainnya ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam”

(HR Al-Bukhari, Muslim dan Ahmad, lafazh ini milik Muslim).
Read more »
Bekal terbaik untuk kampung akhirat

Bekal terbaik untuk kampung akhirat

Bekal terbaik untuk kampung akhirat
FIRMAN ALLOH

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
“…Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa…” (QS. Al-Baqorah: 197)

Dari Abu Ayyûb al-Anshârî:

أَنَّ رَجُلًا قَالَ:يارَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي بِمَا يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي مِنَ النَّارِ فَقَالَ النَّبِيُّ:لَقَدْ وُفِّقَ أَوْ قَالَ لَقَدْ هُدِيَ كَيْفَ قُلْتَ؟ فَأَعَادَ الرَّجُلُ فَقَالَ النَّبِيُّ:تَعْبُدُاللَّهَ لَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ وَتَصِلُ ذَا رَحِمِكَ فَلَمَّا أَدْبَرَ قَالَ النَّبِيُّ:إِنْ تَمَسَّكَ بِمَا أَمَرْتُ بِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ
Ada seseorang berkata kepada Nabi ﷺ: Wahai Rosululloh, beritahukan aku tentang sesuatu yg bisa memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka, maka Nabi ﷺ bersabda: Sungguh dia telah diberi taufik, atau Sungguh telah diberi hidayah, apa tadi yg engkau katakan? 

Lalu orang itupun mengulangi perkataannya. Setelah itu Nabi ﷺ bersabda: Engkau beribadah kepada Alloh dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, menegakkan sholat, membayar zakat, dan engkau menyambung silaturahmi. Setelah orang itu pergi, Nabi ﷺ bersabda: Jika dia melaksanakan apa yg aku perintahkan tadi, pastilah dia masuk surga. 

(Shohih Al-Bukhori dan Muslim)
Read more »
Apa Harus dilakukan ketika Pikiran kacau dalam sholat ?

Apa Harus dilakukan ketika Pikiran kacau dalam sholat ?

Pertanyaan.

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Ketika saya hendak shalat, saya sedang kacau pikiran dan banyak yang dipikirkan, dan rasanya saya tidak begitu sadar terhadap diri saya sendiri kecuali setelah salam, lalu saya mengulangi lagi, namun saya rasakan seperti semula, sampai-sampai saya lupa tasyahud awal dan tidak tahu lagi berapa rakaat yang telah saya kerjakan. Hal ini semakin menambah kekhawatiran dan rasa takut saya kepada murka Allah, kemudian saya sujud sahwi. Saya mohon bimbingannya, dan saya haturkan terima kasih.

Jawaban.

Bisikan itu berasal dari syetan, yang wajib bagi anda adalah memelihara shalat, konsentrasi dan thuma’ninah dalam melaksanakannya sehingga anda dapat melaksanakannya dengan penuh kesadaran. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman.

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ﴿١﴾ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
“Artinya : Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya”. [Al-Mukminun/23 : 1-2]

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat orang yang tidak sempurna shalatnya dan tidak thuma’ninah dalam melaksanakannya, beliau menyuruhnya untuk mengulangi shalatnya, beliaupun bersabda.

إِذَ قُمْتَ إِلَى الَّصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الْوُضُوْءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَاْ مَاتَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَع حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلاَتِكَ كُلِّهَا
“Artinya : Jika engkau hendak mendirikan shalat, sempurnakanlah wudhu, lalu berdirilah menghadap kiblat kemudian bertakbirlah (takbiratul ihram), lalu bacalah ayat-ayat Al-Qur’an yang mudah bagimu, kemudian ruku’lah sampai engkau tenang dalam posisi ruku, lalu bangkitlah (berdiri dari ruku’) sampai engkau berdiri tegak, kemudian sujudlah sampai engkau tenang dalam posisi sujud, lalu bangkitlah (dari sujud) sampai engkau tenang dalam posisi duduk. Kemudian, lakukan itu semua dalam semua shalatmu”. [1]

Pikiran kacau dalam sholat

Jika anda sadar bahwa anda sedang shalat di hadapan Allah dan bemunajat kepadaNya, maka hal itu akan mendorong anda untuk khusyu’ dan konsentrasi ketika shalat, syetan pun akan menjauh dari anda sehingga selamatlah anda dari bisikkannya. Jika dalam shalat anda terasa banyak godaan, meniuplah tiga kali ke samping kiri dan memohonlah perlindungan Allah tiga kali dari godaan syetan yang terkutuk, insya Allah hal ini akan membebaskan anda.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyuruh salah seorang sahabatnya melakukan itu, ketika orang tersebut berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syetan telah menyelinap diantara diriku dan shalatku serta bacaanku, ia mengacaukan shalatku”. [2]

Jadi, anda tidak perlu mengulangi shalat karena godaan, akan tetapi hendaknya anda sujud sahwi jika anda telah melakukan apa yang diwajibkan itu. Misalnya, anda tidak melakukan tasyahud awal karena lupa, atau tidak membaca tasbih ketika ruku’ atau sujud karena lupa, atau anda ragu apakah tiga raka’at atau empat raka’at ketika shalat Zhuhur umpamanya, maka anggaplah itu tiga raka’at, lalu sempurnakanlah shalat, kemudian sujud sahwi dua kali sebelum salam. 

Jika dalam shalat Maghrib anda ragu apakah baru dua raka’at atau sudah tiga raka’at, maka anggaplah itu baru dua raka’at lalu sempurnakan, kemudian sujud sahwi dua kali sebelum salam, karena demikianlah yang diperintahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Semoga Allah melindungi anda dari godaan setan dan menunjuki anda kepada yang diridahiNya.

[Kitab Ad-Da’wah, hal 76, Syaikh Ibnu Baz]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisu, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq]
_______
Footnote
[1]. Al-Bukhari, kitab Al-Adzan 757, Muslim kitab Ash-Shalah 397
Read more »
Antara “Andai Kemarin” Dan “Andai Besok”…

Antara “Andai Kemarin” Dan “Andai Besok”…

Sobat! Dua ucapan yang sekilas sama saja, namun ketahuilah bahwa keduanya memiliki perbedaan yang sangat besar.

Ucapan “ANDAI KEMARIN” menggambarkan adanya penyesalan dan keinginan untuk merubah masa lalu. Tentu saja keinginan merubah masa lalu adalah sikap pandir dan sia-sia

Wajar saja bila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ – حديث صحيح رواه مسلم
“Orang mukmin yang tangguh lebih baik dan lebih Allah cintai dibanding mukmin yang lemah dan pada keduanya terdapat kebaikan. Upayakanlah segala yang bermanfaat bagimu, dengan tetap meminta pertolongan dari Allah dan jangan pernah merasa lemah/tidak berdaya.”

Bila engkau ditimpa sesuatu maka jangan pernah berkata: “andai aku berbuat demikian niscaya kejadiannya akan demikian dan demikian.”

Namun ucapkanlah: “ini adalah takdir Allah dan apapun yang Allah kehendaki pastilah terjadi/terwujud,” karena sejatinya ucapan “andai” hanyalah membuka pintu godaan setan.” [Riwayat Muslim]


Antara “Andai Kemarin” Dan “Andai Besok”…

Walau demikian, perlu anda ketahui bahwa larangan ini berlaku bila ucapan “ANDAI” diucapkan dalam konteks menyesali kodrat ILAHI, bukan dalam rangka mengambil pelajaran/ibroh agar tidak mengulang kembali kesalahan atau untuk meningkatkan amalan.

Adapun bila diucapkan dalam rangka mengambil ibroh atau antisipasi maka itu ucapan terpuji. Karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

: ((لولا حداثة عهد قومك بالكفر لنقضت الكعبة، ولجعلتها على أساس إبراهيم، فإن قريشاً حين بنت البيت استقصرت، ولجعلت لها خلفاً)
“Andailah bukan karena kaummu baru saja meninggalkan kekufurannya niscaya aku memugar bangunan Ka’bah, dan aku kembalikan sesuai pondasi yang dibuat oleh Nabi Ibrahim, karena sejatinya pada saat quraisy memugar Ka’bah, mereka kekurangan biaya, dan niscaya aku buatkan pula pintu keluarnya.” [Riwayat Muslim]

Pada kisah lain Nabi bersabda:

(لو استقبلت من أمري ما استدبرت لما سقت الهدى ولجعلتها عمرة…)
“Andai aku masih di awal perjalananku dan belum terlanjur, niscaya aku tidak membawa hewan sembelihan (Al Hadyu) dan aku jadikan ihromku ini sebagai ihrom umroh terlebih dahulu ( sehingga menjadi haji tamattu’). [Riwayat Muslim]

Ucapan “ANDAI” untuk hari esok adalah indikator orang cerdas nan bijak. “ANDAI BESOK” berarti rencana, persiapan atau antisipasi, dan semua itu mencerminkan sikap bijak dan sudah barang tentu tidak terlarang.

Karena itu ungkapan semacan ini banyak kita temukan dalam hadits dan ucapan para sahabat.

Diantaranya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع
“Andai aku berumur panjang hingga tahun depan niscaya saya puasa pula pada hari ke sembilan (dari bulan Muharrom).” [Riwayat Muslim]

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى
BBG AL ILMU
Read more »
Ancaman kepada Istri yang menolak ajakan suami

Ancaman kepada Istri yang menolak ajakan suami

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال، رسول الله صلى الله عليه وسلم: إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَلَمْ تَأْتِهِ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
“Jika suami memanggil isterinya ke tempat tidurnya lalu ia tidak mendatanginya, sehingga dia tidur dalam keadaan marah kepadanya, maka para Malaikat melaknatnya hingga Shubuh.” [Al-Bukhari dan Muslim]

Ancaman kepada Istri yang menolak ajakan suami

Pelajaran yang terdapat di dalam hadist:

1- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Tidak ada (kewajiban) atas wanita, setelah hak Allah dan Rasul-Nya, yang lebih wajib dibanding hak suaminya."

2- Kewajiban isteri, ketika suami memanggilnya ke tempat tidur, ialah tidak menolaknya walaupun ia sedang sibuk dengan pekerjaannya. Karena hal itu menyebabkan laknat Malaikat kepadanya. Kecuali bila ia memberitahukan kepada suaminya tentang alasannya, lalu suami ridha dengan hal itu.

3- Makna hadits ini bahwa laknat akan berlanjut atasnya hingga kemaksiatan tersebut sirna dengan terbitnya fajar, bertaubat darinya, atau datang ke tempat tidurnya.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran:

- Wanita yang nusyuz ialah wanita yang bersikap sombong terhadap suaminya, tidak mau melakukan perintah suaminya, berpaling darinya, dan membenci suaminya. Apabila timbul tanda-tanda nusyuz pada diri si istri, hendaklah si suami menasihati dan menakutinya dengan siksa Allah bila ia durhaka terhadap dirinya. 

Karena sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadanya agar taat kepada suaminya dan haram berbuat durhaka terhadap suami, karena suami mempunyai keutamaan dan memikul tanggung jawab terhadap dirinya.

وَاللاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ
Wanita-wanita yang kalian khawatiri nusyuznya, maka nasihatilah mereka. (An-Nisa: 34)
Read more »
Islam yang Murni Akan Kembali Ke Kota Madinah munawwaroh

Islam yang Murni Akan Kembali Ke Kota Madinah munawwaroh

Islam yang Murni Akan Kembali Ke Kota Madinah Bukan Yaman, Turki, Cairo, apalagi Maroko.

Apa makna Sabda Nabi,

إن الإيمان ليأرز إلى المدينة كما تأرز الحية إلى جحرها
”Sesungguhnya keimanan akan bersarang ke Madinah sebagaimana ular bersarang ke dalam lubangnya (sarangnya).” ?

Islam yang Murni Akan Kembali Ke Kota Madinah munawwaroh

Fatwa Syaikh al-‘Utsaimin :

“Alhamdulillah..

Hadits ini, yakni sabda Rasul, ”Sesungguhnya keimanan akan bersarang ke Madinah sebagaimana ular bersarang ke dalam lubangnya (sarangnya).” (HR. al-Bukhari No. 1876, Muslim no. 147)

Pada kata (يأرز) dengan meng-kasrah huruf “ra” (sehingga dibaca : ya-rizu), boleh pula men-fathah atau men-dhammah huruf “ra” (sehingga dibaca : ya-razu atau ya-ruzu). Dan makna (يأرز) disini adalah kembali dan menetap di Madinah sebagaimana seekor ular yang apabila keluar dari sarangnya maka akan kembali lagi ke sarangnya. 

Ini adalah sebuah isyarat dari Nabi shallalahu ‘alaihi wassallam bahwa agama ini (yakni Islam) kelak akan kembali ke kota Madinah setelah negeri – negeri yang lainnya telah rusak seperti ular yang keluar dari sarang dan menyebar diatas permukaan bumi setelah itu kembali lagi ke dalam sarangnya.

Hadits ini juga terdapat isyarat bahwa Islam itu bermula/dikeluarkan di Madinah maka akan kembali ke Madinah pula. Sesungguhnya Islam dengan kekuatan/kemampuannya tidaklah tersebar melainkan dari Madinah walaupun pada awalnya berasal dari Mekkah dan Mekkah adalah tempat turunnya wahyu yang pertama kali akan tetapi kaum muslimin mempunyai daulah, kekuatan dan berjihad setelah mereka berhijrah ke Madinah. Oleh karena itu, Islam dengan kekuasaan, pengaruh dan kekuatannya menyebar dari Madinah dan akan kembali lagi ke Madinah pada akhir zaman nanti.”

Sumber : http://islamqa.info/ar/ref/10329
Read more »
Beranda
-->