Perkataan Nabi Saja Mereka Abaikan Apalagi Kita?

Perkataan Nabi Saja Mereka Abaikan Apalagi Kita?

Kalau posting membahas soal sebuah amalan Bid'ah selalu muncul comment, "ya udah datangi saja para habib dan kyai yang berbuat itu kalau sampeyan merasa itu amalan Bid'ah, nasehati dan ajak mereka meninggalkannya".

Jelas perkataan jahil, karena larangan berbuat bid'ah disampaikan langsung oleh Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam, dan perkataan ini tidak ada satupun ulama hadits mendhaifkannya, hampir semua mensahhihkannya, dan jumlah hadist tentang larangan bid'ah sangat banyak sekali, tidak cuma satu hadits saja.

Perkataan Nabi Saja Mereka Abaikan Apalagi Kita?

Kalau perkataan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam saja mereka abaikan, padahal berbuat bid'ah menurut beliau shalallahu alaihi wa Sallam tempatnya ada di neraka, ancamannya jelas berat, justru oleh pelaku kebid'ahan mereka abaikan, seperti angin lalu saja, dan malah berusaha Istiqomah dalam kebid'ahan, apalagi kita yang derajatnya jauh dibawah Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam?

Jika kita bukan apa-apa kemudian nasehatkan bahaya berbuat bid'ah kepada mereka pelaku amalan-amalan bid'ah pastilah lebih mereka diingkari, bahkan kalau kita sampaikan bisa jadi kita dilempar sandal.

Paling yang dapat kita lakukan share Nasehat, sampaikan secara umum, tidak secara personal, lalu kemudian doakan, InsyaAllah.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh (berbuat) yang ma’rûf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” [Ali ‘Imrân/3:104]

Oleh Siswo Kusyudhanto
Read more »
Beda Salafi dengan Takfiri (Bagian 1)

Beda Salafi dengan Takfiri (Bagian 1)

Mengingat kemunculan Khawarij itu aktif terus-menerus hingga kemunculan Dajjal dan hakikat senyatanya dari diri mereka sendiri di berbagai masa depan dan wilayah tersebut dipahami oleh sebagian besar umat Islam sehingga sebagian besar umat Islam beranggapan bahwa Khawarij itu sesuai dengan harapan. Sebagian besar orang yang hidup di masa salaf tidak mengerti hakikat mereka yang senyatanya. Karena itu adalah suatu hal yang vital adalah yang dapat dipahami di antara mereka para Khawarij dengan para pengikut Salaf Shalih.

Terlebih lagi pendapat yang dibuat media massa yang memiliki berbagai pandangan, kecenderungan dan pengetahuan sangat mempengaruhi banyak orang. Kita bisa melihat media tidak bisa membedakan antara salafi dengan takfiri [baca: khariji] yang ini tentu saja sangat merusak citra dakwah salafiyyah. 

Mengundang takfiri khariji yang menyimpang dari dakwah salafiyyah mengundang sebagai salafi. Pemikiran dan tindakan takfiri khariji punukan sebagai bagian dari dakwah salafiyyah. Syarat ini menuntut kita untuk menentukan perbedaan antara dakwah salafiyyah dengan dakwah yang diusung oleh Khawarij yang utama vonis kafir seenaknya.

1. Ulama kontemporer yang dibuat sebagai rujukan. Ada perbedaan yang nyata antara salafi dengan takfiri dalam masalah ini. Daftar pustaka Al-Qur'an dan sunnah Nabi di samping berbagai evaluasi dari ulama salaf dan pemahaman ulama adalah penjelasan para ulama di zaman ini semisal Ibnu Baz, Al Albani, Ibnu Utsaimin, Lajnah Daimah KSA, Syaikh Abdul Muhsin al Abbad dan para ulama lain yang meniti jejak para ulama tersebut.

Sementara takfiri tokoh kontemporer yang mereka jadikan sebagai rujukan adalah Sayyid Qutb, Muhammad Qutb, Abu Muhammad al Maqdisi, Abu Qatadah al Falistini, Abu Bashir at Thurthusi dan orang-orangutan yang dapat digunakan dan mencoba satu dengan yang lain.

2. Sanad dakwah salafiyyah itu bersambung dengan para ulama salaf awal baik dalam masalah ilmu atau pemahaman. Para salafi selalu memulai mengambil akidah dan jalan beragama mereka dari para ulama sebelumnya lalu ulama sebelum sampai pada para ulama salaf sebelumnya. Tidaklah Anda melompati kaedah yang dianut oleh para salafi ditambah berdalil dengan al Qur'an, sunnah dan terjemahan para salaf yang kaedah ini dikeluarkan dari generasi ke generasi hingga pada kita.

Sementara takfiri kontemporer dengan beragam alirannya sanad keilmuan mereka menyelesaikan hingga para ulama salaf namun hanya berakhir pada Jamaah Takfir wal Hijrah, Jamaah Jihad dan JI yang dimulai pada tahun 70-an. Para takfiri itu tumbuh berkembang dari rahim ide-ide Sayyid Qutb. Sementara Sayyid Qutb pada awalnya terdidik oleh ajaran IM yang didirikan oleh Hasan al Banna pada tahun 1928. Meskipun pada akhirnya Sayyid Qutb hanya membahas sendiri dengan menggunakan percakapan dari IM.

3. Dakwah salafiyyah meminta izin jalan beragamanya dan kesuciannya dari keberagaman pembaharuan yang mau masuk ke dalam dakwah tubuh. Sembilan slogan dakwah salafiyyah terkait dengan masalah agama adalah" hati-hatilah dengan berbagai perkara agama yang baru karena semua perkara agama yang baru semua bidah sementara semua bidah itu sesat dan semua kesesatan itu di mana saja ". Dakwah salafiyyah berkeyakinan bahwa tidak mungkin ada kebaikan yang sempurna jika sesuai dengan syariat menyetujui perkataan Imam Malik " Tidaklah akan baik generasi akhir Muhammad kecuali dengan hal yang membuat baik generasi baru".

Sementara takfiri, tokoh kontemporer mereka yang paling menonjol itu tumbuh berkembang dan terdidik tidak dengan manhaj salaf. Itulah Sayyid Quthb yang tumbuh besar sebagai pengikut IM yang kemudian membuat aliran gabungan (baca: Qutbi) dalam jamaah IM.

Sementara Aiman ​​azh Zhawahiri pertama kali tumbuh besar - bagaimana pengakuannya sendiri- bersama Jamaah Jihad pada sekitaran tahun 1966 M di saat terbentuknya generasi awal Jamaah Jihad setelah terbunuhnya Sayyid Qutb.

Sementara Abu Muhammad al Maqdisi sendiri memberikan pengakuan bahwa dirinya tumbuh berkembang bersama para pembesar IM yang menyuapinya dengan Fi Zhilal al Qur'an, Ma'alim cocok dengan Thariq dan buku-buku Sayyid Qutb yang lain, buku-buku Muhammad Qutb serta karya-karya al Maududi.

Mereka-mereka inilah tokoh intelektual untuk berpikir atau aliran takfiri kontemporer. Semua mereka tumbuh berkembang tidak di atas manhaj salaf shalih. Mereka ingin mencampur kebatilan yang telah mereka yakini dengan kebenaran yang mereka lihat pada manhaj salaf maka yang terjadi adalah manhaj (jalan beragama) oplosan. Meminta jalan beragama mereka disetujui salafiyyah namun mereka juga tidak lagi disetujui oleh kala. Realita yang bertentangan adalah manhaj atau jalan beragama oplosan yang merupakan hasil dari pencampuran dua jalan dengan pencampur yang unik. Hasil investigasi dari realita situasi dan jejak-jejak mereka menunjukkan apa yang mereka lakukan bagian dari salafi dalam masalah-masalah yang di mana mereka menyelisihi .

Beda Salafi dengan Takfiri (Bagian 1)

4. Manhaj salaf hearts Metode Memperbaiki Kondisi 'masyarakat Tegak di differences Prinsip tashfiyyah Dan tarbiyyah sejalan DENGAN firman Allah:

إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Yang berarti, “ Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah kondisi masyarakat sampai masyarakat mengubah kondisi mereka sendiri ” (QS. ar Ra'du: 11)

Langkah awal proses perbaikan adalah memperbaiki diri sendiri dari akidah bobrok diganti dengan akidah yang lurus, mengambil berbagai ibadah dan perkuatan yang bid'ah diganti dengan komitmen terhadap sunnah dalam perkuatan atau pun meninju dengan baik dari sisi lahahah atau sisi batiniahnya, untuk menemukan pilihan yang menyimpang dengan baik Lakukan apa yang menjadi tuntunan keadaan yang ada di zamannya sesuai dengan kondisi dan kemampuannya masing-masing.

Jika setiap muslim telah mewujudkan hal tersebut pada dirinya masing-masing maka proses perbaikan akan menjalar kepada orang lain dengan cara yang lebih baik. Terkait tersebarlah iman dan keamanan lalu terwujudlah kekuasaan yang Allah janjikan kepada orang-orang yang beriman dalam QS. an Nur: 55.

Sementara takfiri berkeyakinan adalah meniti metode tashfiyyah dan tarbiyyah dalam proses memperbaiki masyarakat adalah sebuah kekalahan melawan kesesatan dan penyimpangan karena jalan yang diharuskan untuk memperbaiki penyimpangan yang ada di masyarakat adalah dengan mengubah para penguasanya dan ini akan terasi kedok jihad.
5. Salafi menghormati dan memuliakan para ulama. Salafi terkenal meneladani jejak salaf dalam menghormati para ulama karena membahas para ulama ahli sunnah dan mencela mereka mungkin terjadi ada kecenderungan mencela manhaj kenabian yang mereka titi.

Kebalikan dari sikap di atas adalah sikap takfiri yang jelas tergambar pada sikap tokoh-tokoh mereka. Telah masyhur karenaakah celaan, caci maki dan pelecehan para tokoh takfiri terhadap para ulama dakwah salafiyyah. Abu Muhammad al Maqdisi dalam artikelnya ' Zillu Himar al Ilmi fi ath Thin ' (Terperosoknya Keledai Ilmu dalam Kubangan Lumpur) menggelari para ulama anggota Haiah Kibar Ulama KSA terutama Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah alu Syaikh dan para ulama yang lain sebagai 'Keledai Ilmu', 'Ulama Sesat', 'semakin buta dan kelewat batas', 'menyimpang dari kebenaran dan keluar dari tauhid', 'berpihak pada thaghut dan kemusyrikan' dst.

Sementara Aiman ​​azh Zhawahiri menyebut Ibnu Baz, Abu Bakar al Jazairi dll sebagai ' nama yang menggema namun kosong karena tertutup dalam kemunafikan di depan para thaghut ', ' orang-orang yang merobohkan dan menggunakan akidah para pemuda , membenarkan kekafiran para tiran, orang-orang Yang memusuhi amar makruf nahi munkar ',' sungguh Ibnu Baz dan rombongannya adalah para ulama yang yang menjual kita kepada para musuh dengan mendapatkan dana dan memimpin orang lain yang marah atau pun suka dengan sebutan ini untuknya '.

Artikel ini ditujukan untuk para ahli ahli sunnah yang dilatarbelakangi oleh konflik pribadi namun motivatornya adalah perbedaan akidah dan jalan beragama antara salafi dengan takfiri yang merupakan khawarij kontemporer.

6. Ajaran salaf adalah ajaran Islam yang benar. Tolak ukur mengikuti ajaran salaf adalah realita yang sesuai dengan ajaran Islam dan penerapan melawan aturan Islam bukan hanya semata-mata pengakuan lisan sebagai seorang salafi.

Salafi berkeyakinan bahwa tidak ada perbedaan antara Islam yang benar yang dibawa oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallamdan dipraktekkan oleh para shahabat dalam berbagai bidang dalam agama baik dalam bidang ilmu, amal, dakwah, usaha perbaikan masyarakat dan jihad dengan dakwah salafiyyah yang putih jernih. Semakin serius salafi melaksanakan berbagai aturan Allah di berbagai bidang dalam agama maka semakin lengkap komitmennya terhadap manhaj salaf.

Seorang yang semakin sembrono terhadap aturan syariat adalah yang semakin jauh dari salafiyyah yang sebenarnya. Jadi muslim sejati sama dengan salafi sejati dan sebaliknya adalah sebaliknya. Oleh karena itu salafi memperbaiki diri dengan muslim yang lain dalam ilmu, Dakwah, upaya perbaikan masyarakat atau pun jihad.

Sementara orang-orang takfiri mereka sepakat bahwa mereka berbeda dengan dakwah salafiyyah yang murni dalam banyak poin.

Mereka juga menyadari bahwa sebutan salafi tanpa embel-embel itu dalam benak orang awam atau orang-orang terpelajar identik dengan para ulama besar salafi semisal Al Albani, Ibnu Baz, Ibnu Utsaimin dan para ulama ahli sunnah selain yang cela dan mereka sesatkan.

Oleh karena itu, mereka tidak mau mengaku sebagai salafi tanpa embel-embel karena mereka menyadari akibat pengakuan semacam ini. Oleh karena itu mereka menambah kata-kata jihad yang sebenarnya mereka sangat jauh dari jihad yang benar-benar dalam nama salafi untuk diri mereka sendiri sehingga mereka menyebut diri mereka sebagai salafi jihad. 

Sementara hasil investigasi menunjukkan bahwa mereka mengeluarkan meniti jejak para ulama salafi baik yang diluncurkan maupun yang diterbitkan. Yang benar-benar mereka membisniskan kata-kata jihad untuk menarik simpati hati kaum muslimin yang membutuhkan mantap untuk meniti manhaj salaf shalih. Jadi mereka menambah kata-kata jihad pada nama salafi untuk bisa menebar memahami mereka yang sudah terkontaminasi dan untuk mencapai kepentingan mereka.

Sumber: www.ustadzaris.com
Chanel Telegram : http://t.me/Manhaj_salaf1
Read more »
Jika Imam Batal Ketika Sujud

Jika Imam Batal Ketika Sujud

Apa yang harus dilakukan imam jika dia batal dalam posisi sujud? Makmum kan gak liat dia pergi..

Jawab :

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ketika imam batal wudhu dalam posisi sujud, ada beberapa proses yang bisa dilakukan:

1. Imam yang batal langsung bangkit diam-diam, tanpa membaca takbir intiqal, karena dia sudah batal.

2. Kemudian dia tepuk salah satu jamaah yang berada di belakangnya untuk menggantikan dirinya jadi imam.

3. Selanjutnya, imam yang baru ini bertakbir bangkit dari sujud tetap di shaf pertama (posisi semula).

4. Setelah berdiri, dia bisa maju menggantikan posisi imam, kemudian menyelesaikan shalat.

Jika Imam Batal Ketika Sujud

Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya, ‘Apa yang harus dilakukan apabila imam batal wudhunya dalam posisi sujud?’

Jawab beliau,

العمل في هذه الحال أن ينصرف من الصلاة ، ويأمر أحد المأمومين الذين خلفه بتكميل الصلاة بالجماعة
"Yang harus dia lakukan dalam kondisi ini, dia harus membatalkan shalat, lalu menyuruh salah satu makmum yang berada di belakangnya untuk melanjutkan shalat jamaah." (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 15/154).

Jika imam lupa atau tidak tahu, sehingga tidak langsung membatalkan, namun dia bangkit dengan membaca takbir, padahal dia sudah batal, kemudian diikuti makmum, maka shalat makmum tetap sah. Dalam dalam kasus ini ada udzur untuk makmum.

Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan,

وإذا حصل للإمام سبب الاستخلاف في ركوع أو سجود فإنه يستخلف، كما يستخلف في القيام وغيره، ويرفع بهم من السجود الخليفة بالتكبير ويرفع الإمام رأسه بلا تكبير؛ لئلا يقتدوا به، ولا تبطل صلاة المأمومين إن رفعوا رءوسهم برفعه
"Jika ada sebab yang mengharuskan imam harus diganti dalam posisi rukuk atau sujud, maka imam bisa langsung nunjuk pengganti sebagaimana yang biasa dilakukan dalam posisi berdiri. Kemudian Imam pengganti mengangkat kepalanya dari sujud dengan mengeraskan takbir intiqal. Sementara imam yang batal, tidak boleh membaca takbir ketika bangkit, agar makmum tidak mengikutinya. Meskipun shalat makmum tetap sah jika dia bangkit karena mengikuti takbir imam. (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 3/253).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits
Read more »
Memberi Nama Makanan dengan ‘Setan’

Memberi Nama Makanan dengan ‘Setan’

Tanya: Apa hukum memberi nama makanan dengan kata ‘setan’, sepeti bakso setan atau krupuk setan.. yg sekarang lagi marak.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Dalam banyak ayat, Allah menegaskan bahwa setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Diantaranya, Allah berfirman,

وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya dia, musuh yang nyata bagi kalian.” (QS. al-Baqarah: 168).

Dan sikap yang benar terhadap musuh adalah berusaha melawannya, melakukan perbuatan yang membuatnya sedih, dan menjauhinya. Bukan sebaliknya, justru mendekatinya.

Memberi Nama Makanan dengan ‘Setan’

Memberi nama makanan halal dengan ‘setan’

Dalam al-Quran, Allah sebut makanan yang halal dengan thayyibat.

Allah berfirman, menceritakan sifat syariat Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ
“Beliau menghalalkan yang thayyibat untuk mereka, dan beliau mengharamkan al-Khabaits.” (QS. al-A’raf: 157)

Thayib secara bahasa artinya baik. Khabaits, bentuk jamak dari khabits, yang artinya sesuatu yang menjijikkan. Semua yang halal adalah thayyib, dan semua yang haram adalah Khabits.
Artinya, Allah memberikan nama yang baik untuk yang halal dan Allah memberikan nama yang buruk untuk sesuatu yang haram.

Karena, memberi nama yang baik untuk sesuatu yang baik, dan memberi nama yang buruk untuk sesuatu yang buruk, bagian dari mengikuti petunjuk Allah. Sebaliknya memberi nama yang buruk untuk sesuatu yang Allah halalkan, bisa termasuk menghinakan rizki yang Allah berikan.
Dalam Fatwa Islam dinyatakan,

إطلاق أسماء الأشياء التي يبغضها الله تعالى على الأشياء التي أباحها ؛ فهو فعل يحتوي على استهانة بشرع الله تعالى وعدم التعظيم لأحكامه ، وهذا مناف لتقوى الله تعالى
Menyebut sesuatu yang Allah halalkan dengan menggunakan istilah sesuatu yang Allah benci, perbuatan semacam ini termasuk meremehkan aturan Allah dan tidak mengagungkan hukum-hukum-Nya. Dan ini bertentangan dengan sikap taqwa kepada Allah. (Fatwa Islam, no. 234755).

Dengan pertimbangan ini, tidak selayaknya memberi makanan yang baik, yang halal, dengan nama yang buruk. Bakso setan, krupuk setan, mie ayam setan, pecel setan, dst. Benar, tujuannya untuk menggambarkan betapa pedasnya makanan itu, tapi hindari nama musuh bersama ini.
Makanan yang halal, minuman yang halal adalah rizki dari Allah. Selayaknya dimuliakan dan dihormati.

Allahu a’lam. 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)
Read more »
Keluar Grup Wa Tanpa Permisi Adalah Adab Yang Buruk

Keluar Grup Wa Tanpa Permisi Adalah Adab Yang Buruk

Keluar Grup Wa

Hendaknya minta izin, permisi atau mohon diri serta mengucapkan salam ketika keluar grup.

Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda :

إِذَا انْتَهَى أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَجْلِسِ فَلْيُسَلِّمْ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ فَلْيُسَلِّمْ
"Jika kalian mendatangi suatu majelis, maka ucapkanlah salam. Jika kalian ingin berdiri meninggalkan majelis maka ucapkan salam" (HR. Ahmad, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib no. 2707)

Al Khallal mengatakan :

الرجل يستأذن إذا أراد أن يقوم عن المجلس
"Seseorang hendaknya minta izin jika ingin keluar dari majlis" (Adabus Syar'iyah, 1/416)
Imam Ahmad ditanya:

إذا جلس رجل إلى قوم يستأذنهم إذا أراد أن يقوم قال : قد فعل ذلك قوم ما أحسنه
"Apakah jika seeorang ingin keluar dari majelis, ia meminta izin dahulu? Imam Ahmad menjawab: Perbuatan ini adalah kebiasan kaum-kaum yang baik" (Adabus Syar'iyah, 1/416)

Maka, keluar majelis, termasuk keluar grup Whatsapp tanpa permisi pada admin atau tanpa mohon diri, adalah adab yang buruk.

Hendaknya diperbaiki...
Read more »
Keadaan Kita dalam Shalat

Keadaan Kita dalam Shalat

Keadaan Kita dalam Shalat

Seorang hamba memiliki dua waktu menghadap kepada Rabbnya, yaitu ; saat berdiri shalat dan saat hari Kiamat.

Barangsiapa menghadap pada kesempatan pertama dengan sebaik-baiknya, maka ringan baginya kesempatan kedua.

Sebaliknya, siapa yang meremehkan saat menghadap yang pertama dan tidak memenuhi haknya, maka Allah ta'ala akan mempersempitnya pada kesempatan kedua.

(Dr. Ahmad bin Utsman al-Mazyad, Mukhtashar al-Fawaid (E.id, hal. 141)

Maka mari jaga shalat lima waktu kita dan teruslah perbaiki kualitasnya. Semoga Allah ta'ala memberikan taufik dan hidayah-Nya sehingga shalat kita semakin baik kualitasnya. Aamiin

------------------
Al-Sofwa Channel | alsofwa.com
Konsultasi Islam & Keluarga (021-7817575)
W.A Dakwah Al-Sofwa +62 81 3336333 82
Read more »
Melupakan Kesalahan Dan Tidak Mengingat-Ingatnya

Melupakan Kesalahan Dan Tidak Mengingat-Ingatnya

Melupakan Kesalahan Dan Tidak Mengingat-Ingatnya

#Indahnya Taghoful#

Taghoful artinya melupakan kesalahan saudara kita dan tidak mengingat-ingatnya.
Ia adalah akhlak yang mulia..

Al Hasan Al Bashri berkata,

"Taghoful adalah akhlak orang-orang yang mulia."

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata:

ﻣﺎ ﻳﺰﺍﻝ ﺍﻟﺘﻐﺎﻓﻞ ﻋﻦ ﺍﻟﺰﻻﺕ ﻣﻦ ﺃﺭﻗﻰ ﺷﻴﻢ ﺍﻟﻜﺮﺍﻡ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﺠﺒﻠﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺰﻻﻥ ﻭﺍﻷﺧﻄﺎﺀ ﻓﺈﻥ ﺍﻫﺘﻢ ﺍﻟﻤﺮﺀ ﺑﻜﻞ ﺯﻟﺔ ﻭﺧﻄﻴﺌﺔ ﺗﻌﺐ ﻭﺃﺗﻌﺐ ﻏﻴﺮﻩ ﻭﺍﻟﻌﺎﻗﻞ ﺍﻟﺬﻛﻲ ﻣﻦ ﻻ ﻳﺪﻗﻖ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺻﻐﻴﺮﺓ ﻭﻛﺒﻴﺮﺓ ﻣﻊ ﺃﻫﻠﻪ ﻭﺃﺣﺒﺎﺑﻪ ﻭﺃﺻﺤﺎﺑﻪ ﻭﺟﺮﺍﻧﻪ ﻭﻟﻬﺬﺍ ﻗﺎﻝ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ : ﺗﺴﻌﺔ ﺃﻋﺸﺎﺭ ﺣﺴﻦ ﺍﻟﺨﻠﻖ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻐﺎﻓﻞ.
Melupakan kesalahan orang lain adalah sifat orang-orang mulia. Karena manusia tak ada yang lepas dari kesalahan dan dosa. Apabila seseorang selalu memperhatikan tiap kesalahan orang lain, ia akan lelah dan membuat orang lain lelah. Orang yang berakal dan cerdas adalah orang yang tidak menghitung-hitung kesalahan saudaranya, tetangganya, temannya dan keluarganya.

Oleh karena itu imam Ahmad berkata, "Sembilan persepuluh akhlak yang baik ada pada taghaful."

(Tahdzibul Kamal 19/230)

Bila kita cinta mungkin amat mudah kita melupakan kesalahannya..
Tetapi ketika kita benci..
Kesalahan kecil padanya tampak jelas di mata kita..
Allahul Musta'an..

Jumuah 10 Jumadil Akhir 1440 H / 15 Februari 2019

Oleh Ustadz Badru Salam, Lc
sumber salamdakwah.com
Read more »
Beranda