Ahlan wa Sahlan di situs dakwahpost.com | kajian islam dan informasi
Menshare Ilmu dan Konten Dakwah, Haruskah Izin?

Menshare Ilmu dan Konten Dakwah, Haruskah Izin?

Menshare Ilmu dan Konten Dakwah, Haruskah Izin?

Pada dasarnya, menukil ilmu dari kitab ulama, menshare potongan video dakwah seorang ulama sunnah hukum asalnya boleh dan tidak harus izin kepada sohibnya, kalaupun izin maka itu hanya untuk sebagai adab semata, karena memang pada dasarnya ilmu itu untuk disebarkan dan tidak disimpan. Dan itulah yang diharapkan oleh para dai yaitu tersebarnya ilmu.

Dahulu Imam Ibnul Mubarak mengatakan:

لا أعلم بعد النبوة أفضل من بث العلم 
"Saya tidak mengetahui setelah kenabian yang lebih utama daripada menyebarkan ilmu". (Siyar A'lam Nubala', adz Dzahabi 8/387)

Saya masih ingat, dulu saya pernah izin kepada Syaikhuna Dr. Khalid Al Mushlih untuk menyadur dan menerjemahkan artikel tulisan beliau, maka beliau bilang: "Silahkan dan seperti ini tidak perlu minta izin, karena memang tujuannya untuk disebarkan".

Namun jika memang suatu lembaga tertentu atau pribadi tertentu mensyaratkan dengan pertimbangan dan alasan tertentu "tidak boleh memotong, menukil kecuali dengan izin mereka" demi kemaslahatan dan dikhawatrikannya suatu keburukan, maka aturan dan syarat tersebut harus ditaati berdasarkan hadits:

وَالْمُسْلِمُوْنَ عَلَى شُرُوْطِهِمْ إِلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا
"Kaum Muslimin itu terikat dengan persyaratan yang mereka sepakati, kecuali syarat yang mengharamkan perkara yang halal atau menghalalkan perkara yang haram". (HR. Abu Dâwûd no. 3594 dan disahahihkan oleh Syaikh al-Albâni dalam Irwâ’ al-Ghalîl no. 1303)
Silahkan dishare artikel ini tanpa perlu izin... He..

Abu Ubaidah As Sidawi
Read more »
Kisah Nabi Muhammad Ketika masih Kecil Bertemu Kakek dan Ibunya

Kisah Nabi Muhammad Ketika masih Kecil Bertemu Kakek dan Ibunya

Bertemu Kakek dan Ibunda

Tidak lama kemudian, datanglah seseorang bernama Waraqah bin Naufal dan seorang temannya dari Quraisy. Keduanya menyerahkan Muhammad kepada Abdul Muthalib,

"Ini anakmu, kami menemukannya di Makkah Atas."

Alangkah lega dan gembiranya Abdul Muthalib.

"Cucuku!" katanya sambil mendekap Muhammad.


Abdul Muthalib memperhatikan cucunya dengan wajah berseri-seri, "Apakah kamu mau kakek ajak menunggangi unta yang hebat?"

"Mau. Tetapi, mana untanya kek?"

Sambil tertawa, orang tua itu mengangkat Muhammad dan mendudukkannya di atas bahu.

"Kau kini telah menduduki untanya, Nak! Ha....ha....ha...."

"Wah, unta hebatnya kok sudah tua ya Kek?"

"Biar tua, tapi ini unta yang hebat, cucuku! Lihat unta ini mampu mengajakmu berthawaf mengelilingi Ka'bah."

Abdul Muthalib membawa Muhammad berthawaf di Ka'bah. Setelah itu ia memintakan perlindungan Tuhan untuk cucunya itu dan mendoakannya.

"Mari kita menemui ibumu sekarang," ajak Abdul Muthalib.

Alangkah senangnya anak dan ibu itu ketika mereka saling bertemu. Walaupun demikian, tersisip kesedihan di hati Muhammad ketika ia melepas Halimah As Sa'diyah, ibu susu yang selama ini telah merawatnya dengan limpahan kasih sayang yang demikian besar.

"Selamat tinggal Muhammad. Jadilah orang besar seperti yang pernah dikatakan ibumu," kata Halimah sambil beranjak pergi.

Sampai dewasa, Muhammad tidak pernah memutuskan tali silaturahim dengan ibu susunya itu.
Gembala Kambing

Mulai dari hidupnya di Bani Sa'ad sampai masa kecilnya di Makkah, hidup Nabi Muhammad dilalui sebagai seorang gembala.

Waraqah bin Naufal


Waraqah bin Naufal adalah paman Khodijah (kelak menjadi istri Muhammad). 

Waraqah bin Naufal tidak menyukai berhala. Ia tetap mengikuti ajaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, menjadi hamba Allah yang setia.

Ia tidak meminum minuman keras dan tidak berjudi. Ia bermurah hati terhadap orang orang miskin yang membutuhkan pertolongannya.

Di Bawah Asuhan Kakek

Sejak itu, Abdul Muthalib bertindak sebagai pengasuh cucunya. Ia mengasuh Muhammad dengan sungguh-sungguh dan mencurahkan segala kasih sayangnya.

Abdul Muthalib adalah pemimpin seluruh Quraisy dan seluruh Makkah. Untuk dia, diletakkan hamparan khusus tempatnya duduk di bawah naungan Ka'bah. Anak-anak beliau (paman-paman Muhammad), tidak ada yang berani duduk di tempat itu. Mereka duduk di sekeliling hamparan itu sebagai penghormatan kepada ayah mereka.

Suatu saat, Muhammad kecil yang montok itu duduk di atas hamparan tersebut. Serentak paman-paman beliau langsung memegang dan menahan Muhammad agar tidak duduk di atas hamparan. Namun, ketika Abdul Muthalib datang dan melihat kejadian tersebut, berkata:

"Biarkan anakku itu," katanya, "Demi Allah, sesungguhnya dia akan memiliki kedudukan yang agung."

Kemudian, Abdul Muthalib duduk di atas hamparan tersebut sambil memangku Muhammad. Dielus-elusnya punggung Muhammad penuh sayang. Abdul Muthalib bergembira dengan apa yang dilakukan cucunya itu.

Lebih-lebih lagi, kecintaan kakek kepada cucunya itu timbul ketika Aminah kemudian berniat membawa Muhammad ke Yatsrib untuk diperkenalkan kepada saudara-saudara ibunya dari keluarga Najjar.

Perjalanan ini juga bertujuan menengok makam Abdullah, ayah Muhammad. Sudah lama Aminah memendam keinginan untuk menengok makam suami tercintanya itu. Kini, ia akan berangkat dengan ditemani putranya seorang.

Aminah Wafat

Dalam perjalanan itu, Aminah membawa Ummu Aiman, budak perempuan peninggalan Abdullah. Sesampainya di Yatsrib, mereka disambut oleh saudara-saudara Aminah. Kepada Muhammad diperlihatkan rumah tempat ayahnya meninggal dulu serta tempat ia dikuburkan.

Itu adalah saat pertama Muhammad benar-benar merasa dirinya sebagai anak yatim. Apalagi ia mendengar ibunya bercerita panjang lebar tentang sang ayah tercinta yang setelah beberapa waktu tinggal bersama-sama, kemudian meninggal dunia.

(Di kemudian hari, setelah hijrah, pernah juga Rasulullah Shallallahu alahi wa sallam menceritakan kepada sahabat-sahabatnya tentang kisah perjalanan masa kecil beliau ke Yatsrib yang saat itu telah berubah nama menjadi Madinah.

Beliau amat terkenang dengan perjalanan bersama ibunya itu, kisah perjalanan penuh cinta pada Madinah, kisah penuh duka pada orang yang ditinggalkan keluarganya.)

Sesudah cukup sebulan tinggal di Madinah, mereka pun bersiap pulang. Mereka berjalan dengan menggunakan dua ekor unta yang mereka bawa dari Makkah.

Akan tetapi, di tengah perjalanan, di sebuah tempat bernama Abwa), Aminah menderita sakit hingga kemudian meninggal di tempat itu.

"Ibu! Ibu!" panggil Muhammad kepada ibunya yang sudah wafat.

Dalam pelukan Ummu Aiman, dengan air mata meleleh, Muhammad menyaksikan tubuh ibunya dikuburkan di tempat itu.

Pada usia enam tahun. Muhammad Shallallahu alahi wa sallam telah menjadi seorang anak yatim piatu.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّد
catatan
Abwa adalah sebuah dusun yang terletak di antara Madinah dengan Juhfa. Jaraknya 37 km dari Madinah.

Wallahu A'lam Bishowwab
Read more »
Sudah Lama mengikuti manhaj salaf Tapi masih buruk akhlaknya

Sudah Lama mengikuti manhaj salaf Tapi masih buruk akhlaknya

Tapi masih buruk akhlaknya

Ada sekertas yang ditulis salah satu ikhwah, minta nasehat kepada beliau tentang fenomena yang mungkin sering kita rasakan juga.

Bahwa ikhwah yang baru ngaji mengeluhkan akhlak sebagian ikhwah yang sudah mengikuti manhaj salaf sejak lama, tapi kurang berakhlak yang baik.

Maka nasehat beliau membuat takjub dg penjelasan sangat detail dari beliau.

Dalil Al-Quran dan sunnah seakan sudah melekat di ingatan beliau.

(intinya) bahwa Akhlak yang Mulia itu sendiri merupakan manhaj para sahabat, Jadi WAJIB bagi yang mengikuti manhaj para sahabat harus memiliki AKHLAK yang MULIA..

Karena dg akhlak yang mulia itu manusia akan berbondong-bondong masuk ke dalam Agama Islam.

Bahkan Nabi yang mulia di Firman kan oleh Allah, bahwa beliau mempunyai Akhlak yang Sangat Agung.

Beliau membaca firman Allah di dalam surat Al-Qolam :

"Janganlah kita merasa sombong, meremehkan orang lain yang belum ngaji, ajaklah mereka dengan cara yang baik, Doakan mereka agar mengenal hidayah Sebagaiaman kita juga selalu berdoa di setiap sholat untuk minta hidayah.."

Janganlah yang sudah lama ngaji punya sifat sombong, Semisal :

Kita tahu bahwa mengangkat celana diatas mata kaki agar kita terhindar dari sifat sombong, lantas jangan membuat hal tsb menjadikan kita orang yang sombong mentang-mentang sudah melaksanakan sunnah, lalu setiap kita ketemu saudara kita, kita liatin aja celananya. Jangan begitu...!!

Ummahat juga begitu, Jangan hanya berkumpul dg yang bercadar saja, lalu yang ndak bercadar dihindari.

Ajak mereka, rangkul mereka, biarkan dulu mereka duduk di majelis ilmu walaupun jilbabnya belum syar'i, masih memakai jilbab apa adanya, sambut mereka lalu dakwahi pelan-pelan, jangan langsung di paksa memakai cadar, karena cadar tidak wajib.

Biarlah dg pilihannya, yang penting sudah menutup aurat dg baik.

Ikhwan salafiyyin HARUS MURAH SENYUM dg sesama muslim, Nabi saja murah senyum.

Seorang dikatakan Sholeh/sholehah jika terpenuhi 2 hal :

1. Hubungan dg Allah Baik
2. Hubungan dg manusia juga baik

Ustadz Abdul Hakim juga membawakan kisah Sahabat Muadz bin Jabal yang membaca surat al baqoroh ketika shalat isya, lalu ada Jamaah yang membatalkan shalatnya, berita tersebut sampai kepada Nabi dan Nabi pun menegur muadz agar jangan membuat orang lari dari jalan Allah.

Yang dilakukan muadz tidak sepenuhnya salah, tapi kurang hikmah saja.
(begitulah kira-kira makna nasehat beliau)

Nasehat yang sangat menusuk hati kami, membuat kita terus introspeksi diri agar memperhatikan akhlak disetiap gerak gerik langkah kita..

Karena AKHLAK yang BAIK adalah point penting dari Manhaj Salaf.
Lalu.... Bagaimana jika ada yang mengaku berada dimanhaj salaf, tapi punya akhlak sayyiah/buruk?

Berarti belum tahu Manhaj Salaf.
__________________
Masjid Raudhotul Jannah, Pekanbaru
Rangkaian Majelis Terakhir Ustadz. Abdul Hakim bin Amir Abdat di Pekanbaru dan sekitarnya
Reposted by :Grup WA Manhaj Salaf Channel Telegram salafyways https://goo.gl/vLphkg
Read more »
Kenapa Kisah Nabi Musa Sering Di ulang dalam Al-qur'an

Kenapa Kisah Nabi Musa Sering Di ulang dalam Al-qur'an

Kisah Nabi Musa Sering Di ulang dalam Al-qur'an

Dulu aku bertanya, mengapa namamu yang berulangkali disebut-Nya
dan kisahmu yang bertebar merambah hampir tiap surah
bahkan Allah menetapkan; kau terkisah untuk menguatkan jiwa
hati dan rasa seorang Nabi penutup masa.

Ya, kini aku tahu.. betapa tak mudah menjadimu wahai nabi Musa Alaihissalam
mengemban risalah dalam keadaan yang serba tak sempurna
kau tak fasih bicara, sulit berkata-kata
dan sebab khilaf masa lalu, kau tersalah membunuh
maka saat wahyu turun, air matamu menitik, tubuhmu berpeluh
dalam kesadaran akan beratnya beban, kau mengeluh
“bicaraku gagap, lidahku kelu, aku takut mereka akan mendustakanku..
dan pada mereka aku berdosa sungguh, aku takut akan dibunuh”

Ya, kini aku tahu, sungguh tak mudah menjadimu
sebab dalam keterbatasan itu, Allah berikan untukmu lawan penuh kuasa
perbendaharaannya kaya, kerajaannya luas, tentaranya perkasa
punggawanya setia, lagi taat buta
mengaku tuhan tertinggi, dia merasa berkuasa atas hidup dan mati
dan kau.. kau terhutang budi masa kecil padanya
dan tahukah kau wahai nabi Musa Alaihissalam,
kelak kaum yang kau pimpin
yang kau bimbing bebas dari perbudakan tiran
yang menyaksikan sejuta kuasa Allah menaungi mereka
akan berlomba membangkangi Allah dan mendurhakaimu?

Malam ini kususuri kisahmu, dan aku takjub
atas takdir-Nya, masa lalumu tak sempurna
kau terpilih memikul risalah suci, dan kau didustakan
sedang Muhammad shalallahu alaihi wasallam dipilih-Nya dari pribadi yang terjaga sempurna
dia memikul risalah dengan gelar al amin yang masyhur sudah
tapi diapun tetap didustakan.

Mungkin sebab itulah kisahmu selalu menjadi penguat hatinya
di saat-saat berat, Muhammad shalallahu alaihi wasallam mengenangmu dan melirihkan gumam:

“Semoga Allah menyayangi saudaraku Musa Alaihissalam..
sungguh ia dicobai lebih menyakitkan dari ini”

Malam ini wahai nabi Musa alaihissalam, kususuri kisahmu...
aku tersenyum, alhamdulillah, kau membuatku merasa
beban-beban da’wah ini hanyalah seberkas kapas
tapi di sisi lain, menelisik ceritamu, mataku basah.

“ahh.. surga, rasanya masih jauh, sangat jauh..”

Ya hayyu ya Qayyum birahmatika ashtaghits ashlihli sya'ni kullah...
wa la taqilni ila nafsi tharfata'ain.
Read more »
Haram Nonton Acara Sihir, Dukun dan Sulap di Tv, medsos dan lainnya

Haram Nonton Acara Sihir, Dukun dan Sulap di Tv, medsos dan lainnya

Haram Nonton Acara Sihir, Dukun dan Sulap di Tv

Salah satu bahaya televisi – termasuk channel youtube – hari ini adalah adanya acara sihir, dukun, sulap dst. Sehingga banyak orang Islam yang merasa biasa saja untuk menyaksikannya. Bahkan sebagiannya, menantikan dengan sengaja, menandainya jadwal tayangnya kemudian menonton bersama keluarga. Padahal, menyaksikan acara-acara tersebut dengan sengaja dihukumi sama seperti mendatangi dukun atau tukang sihir. Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah pernah ditanya tentang hal semacam ini, beliau menjawab:

“Para ulama senantiasa memperingatkan dari channel (tayangan) ini dan selalu mengulang-ulang hukum keharamannya. Maka wajib bagi seorang muslim untuk menjauhinya, jangan bermudah-mudahan dalam urusan ini. Jangan ia masukkan tayangan tersebut ke dalam rumah atau tempatnya. Wajib bagi kaum muslimin agar betul-betul berhati-hati darinya. Tidak diragukan lagi bahwa apabila ia membukanya kemudian menyaksikannya maka ia berdosa. Karena dia tidak meninggalkan dan menjauh darinya. Maka ditakutkan atas dirinya bahwa dia akan memperoleh ancaman ini, shalatnya selama 40 hari tidak diterima,karena dia masuk dalam hukum orang yang pergi ke dukun. Apabila ia membuka channel mereka itu dengan maksud sengaja untuk menyaksikan apa yang mereka tampilkan maka dia masuk ke dalam hukum orang yang pergi mendatangi mereka (dukun dan peramal), tidak ada bedanya.” (Islamweb fatwa no. 340948)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah, menjelaskan bahwa hukum orang yang mendatangi dukun terbagi menjadi 3 macam:

1. dia mendatangi dukun kemudian bertanya tanpa membenarkannya, maka ini adalah haram. Hukuman bagi pelakunya adalah tidak diterima shalatnya selama 40 hari. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dalam Shahih Muslim, bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا
“Barangsiapa yang mendatangi peramal dan menanyakan kepadanya tentang sesuatu perkara, maka shalatnya tidak diterima selama 40 hari.” (HR. Muslim: 2230)

2. dia mendatangi dukun kemudian bertanya dan dia membenarkan apa yang dikabarkan dukung itu, maka ini adalah sebuah kekufuran terhadap Allah azza wajalla. Karena ia membenarkan pengakuan dukun tersebut atas pengetahuannya terhadap ilmu ghaib. Dan pembenaran terhadap seorang yang mengklaim mengetahui ilmu ghaib adalah bentuk pendustaan terhadap firman-Nya Allah:

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ
Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”. (QS. An-Naml: 65)

Karena itulah, disebutkan dalam sebuah hadits shahih:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
“Barangsiapa yang mendatangi seorang dukun, dan mempercayai apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya dia telah kafir (ingkar) terhadap wahyu yang telah diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Abu Daud).

3. dia mendatangi dukun kemudian bertanya untuk menunjukkan keadaan dukun itu dengan sebenarnya kepada orang-orang. Bahwasanya perdukunan itu adalah sebuah penipuan dan penyesatan, maka ini hukumnya tidak mengapa. Dalil dari hal ini adalah hadits bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam mendatangi Ibnu Shayyad, lalu Nabi menyembunyikan dalam dirinya sesuatu darinya. Kemudian beliau menanyainya apa yang beliau sembunyikan darinya. Lalu ia pun menjawab: asap. (Majmu’ fatawa wa rasa’il Asy-Syaikh Ibn Utsaimin: 2/184)

Oleh sebab itu, sangat berbahaya menonton acara sihir, perdukunan atau sulap tersebut. Meski menontonnya karena iseng saja, tidak mempercayai dan membenarkan apa yang ditampilkan, namun itu sudah cukup mengakibatkan shalat kita selama 40 hari tidak diterima, dan apabila sampai kagum lantas kemudian mempercayai maka kita sudah jatuh pada kesyirikan.

Semoga bermanfaat.

Ditulis oleh: Zahir al-Minangkabawi
artikel maribaraja.com
Read more »
Ya Allah, Jadikanlah Kami Anak Yang Pandai Berbakti Kepada Ibu

Ya Allah, Jadikanlah Kami Anak Yang Pandai Berbakti Kepada Ibu

Berbakti Kepada Ibu

Kesempitan hidup, baik sempit secara lahir maupun sempit secara batin dan berbakti kepada ibu memiliki kolerasi yang sangat kuat. Perhatikanlah firman Allah ketika menghikayatkan ucapan Nabi Isa alaihissalam dalam surat Maryam:

وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا
Dan (menjadikanku) berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi sengsara. (QS. Maryam: 32)

Para ulama mengatakan bahwa ketika dalam ayat ini disebutkan berbakti kepada ibu dan kehidupan yang sengsara dalam satu konteks kalimat, maka ini menunjukkan bahwa keduanya memiliki kaitan yang sangat erat.

Karenanya, jika hidup kita terasa sulit, baik secara lahir atau batin maka segeralah perhatikan bakti kita kepada ibu. Sebab bisa jadi kesusahan hidup kita itu adalah karena kurangnya bakti kita kepada ibu. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika ada seorang laki-laki bertanya tentang siapa manusia yang paling berhak mendapatkan baktinya, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:

أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ
“Ibumu!” dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” beliau menjawab: “Ibumu!” dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” beliau menjawab: “Kemudian Ibumu!” dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” dijawab: “Kemudian bapakmu!” (HR. Bukhari: 5971,Muslim: 2548)

Jika ada seorang yang enggan berbakti namun kehidupannya terlihat lapang, maka dari ayat ini kita tahu bahwa kelapangan itu hanya ada secara lahiriyah saja. Pasti batinnya itu remuk, terpuruk dan tidak pernah merasa lapang. Dia hidup mewah bisa tertawa dan terlihat bahagia, maka dapat dipastikan bahwa semuanya itu semu dan hanya kepura-puraan belaka. Dia hanya pandai menyimpan tangisnya dari mata manusia.

Oleh sebab itu, marilah kembali kita lihat bakti kita kepada ibu. Jika beliau masih hidup maka bahagiakanlah, dengan segala upaya dan apa saja yang kita miliki, karena beliaulah pintu surga kita. Dari Abu Darda’ radhiyallahu anhu, bahwa seorang laki-laki mendatanginya dan berkata:

إِنَّ لِيَ امْرَأَةً وَإِنَّ أُمِّي تَأْمُرُنِي بِطَلَاقِهَا قَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوْ احْفَظْهُ
“Sesungguhnya aku memiliki seorang isteri, sedang ibuku menyuruhku untuk menceraikannya.” Abu Darda` berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Jika kamu mampu, letakkanlah pintu tersebut atau jagalah.” (HR. Tirmidzi: 1900)

Mudah-mudahan kita termasuk anak-anak yang pandai berbakti kepada orang tua terutama ibu. Meski kita telah menjadi orang besar. Dan semoga Allah melindungi kita dari menyia-nyiakan ibu, saat beliau telah berada di usia senja. Ya Allah ya Rabb, jagalah ibu kami, ampunilah dosa-dosanya dan berikan ia husnul khatimah serta masukkan ia ke dalam golongan hamba-hamba yang Engkau cintai. Amin.

Semoga bermanfaat.

Ditulis oleh: Zahir al-Minangkabawi
artikel /maribaraja.com
Read more »
Cara Nabi Membaca Al Qur'an

Cara Nabi Membaca Al Qur'an

Cara Nabi Membaca Al Qur'an

1. Al Maddu (Panjang)

Rasulullāh shallallāhu 'alaihi wasallam memanjangkan setiap akhir ayat (jika mad), dan menjaga konsistensi bacaan mad.

Anas bin Malik berkata mengenai bacaan Rasulullāh:

كان يمدّ مدّا
"Bacaannya panjang (mad)." [ HR. Bukhari ]
2. Taqtī'ul Qirā'ah (Memotong Bacaan)

Rasulullāh selalu berhenti di setiap akhir ayat dan tidak memyambungkan ayat dengan ayat.

Ummu Salamah mengatakan:

كان يقطع قراءته آية آية
"Bahwasanya Rasulullāh memotong bacaannya ayat per ayat." [ HR Ahmad, Abu Dawud ]
3. Yatafā'alu Ma'al Āyah (Berinteraksi Dengan Ayat)

Hudzaifah mengatakan:

إذا مرَّ بآيةٍ فيها تسبيحٌ سبَّح، وإذا مرَّ بسؤالٍ سأل، وإذا مر بتعوذٍ تعوذ، 
"Bila Rasulullāh melewati ayat yang terdapat tasbih, maka beliau akan bertasbih, dan bila melewati doa, beliau akan berdoa, dan bila melewati ayat tentang meminta lerlindungan maka beliau akan meminta perlindungan" [ HR. Muslim ]

4. Muta'anniyah Wadhihah (Bacaannya Jelas)

Ummu Salamah menyifati bacaan Rasulullāh dengan berkata:

قراءةً مفسّرةً حرفًا حرفًا
"Bacaannya dibaca dengan jelas huruf per hurufnya." [ HR At Tirmidzi ]

5. Tardīdul Āyah (Mengulang Ayat)

'Aisyah berkata:

قام رسول الله صلى الله عليه وسلم بآية من القرآن ليلة
"Rasulullāh pernah shalat dengan membaca satu ayat Al Qur'an semalam penuh" [ HR At Tirmidzi ]

Sumber : Tadabbur Qur'an Indonesia
Read more »
Beranda