IBX5A47BA52847EF DakwahPost
Assalamualaikum, Ahlan wa Sahlan di web dakwahpost.com | Motto: Berusaha sedekat mungkin kepada Manhaj Salaf
Bahaya Jimat | Syirik Akbar

Bahaya Jimat | Syirik Akbar

عن عقبة بن عامر قال،سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فَلاَ أَتَمَّ اللَّهُ لَهُ وَمَنْ تَعَلَّقَ وَدَعَةً فَلاَ وَدَعَ اللَّهُ لَهُ
Dari uqbah bin 'Amir berkata, aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallama bersabda: “Barangsiapa yang menggantungkan (hati) pada tamimah (jimat), maka Allah tidak akan menyelesaikan urusannya. Barangsiapa yang menggantungkan (hati) pada kerang (untuk mencegah dari sihir), maka Allah tidak akan memberikan kepadanya jaminan”. (HR. Ahmad 4: 154)

Dalam riwayat lain disebutkan,
مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ
“Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (jimat), maka ia telah berbuat syirik”. (HR. Ahmad 4: 156.)

Kandungan hadits

1- Tamimah pada asalnya digunakan untuk mencegah sihir, yaitu pandangan dari mata hasad (dengki). Dengan pandangan yang hasad, seorang anak bisa menangis terus menerus atau terkena penyakit. Untuk melindungi anak kecil dari penyakit ‘ain ini, di masa silam –zaman Jahiliyah- digunakanlah tamimah, yang bentuk pluralnya tamaa-im. Ketika Islam datang, tamimah atau jimat semacam ini dihapus (Lihat Fathul Majid, 131).

2- Tamimah, yaitu sesuatu jimat yang dikalungkan di leher atau bagian dari tubuh seseorang yang bertujuan mendatangkan manfaat atau menolak mudharat, baik kandungan jimat itu adalah Al-Qur-an, atau benang atau kulit atau kerikil dan semacamnya.
3- Jimat terbagi menjadi dua macam:
Bahaya Jimat

Pertama: Yang tidak bersumber dari Al-Qur-an. Inilah yang dilarang oleh syari’at Islam. Jika ia percaya bahwa jimat itu adalah subjek atau faktor yang berpengaruh, maka ia dinyatakan musyrik dengan tingkat syirik besar. Tetapi jika ia percaya bahwa jimat hanya menyertai datangnya manfaat atau mudharat, maka ia dinyatakan telah melakukan syirik kecil.
Jimat diharamkan oleh syari’at Islam karena ia mengandung makna keterkaitan hati dan tawakkal kepada selain Allah, dan membuka pintu bagi masuknya keperacayaan-kepercayaan yang rusak tentang berbagai hal yang ada pada akhirnya menghantarkan kepada syirik besar.
Kedua: Yang bersumber dari Al-Qur-an. Dalam hal ini, ulama berbeda pendapat, yaitu ada sebagian yang membolehkan dan ada yang mengharamkannya. Pendapat yang kuat adalah pendapat yang kedua, yaitu yang mengharamkannya. Karena dalil yang mengharamkan jimat menyatakannya sebagai perbuatan syirik dan tidak membedakan apakah jimat berasal dari Al-Qur-an atau bukan dari Al-Qur-an. Dengan membolehkan jimat dari ayat Al-Qur-an, sebenarnya kita telah membuka peluang menyebarnya jimat dari jenis pertama yang jelas-jelas haram. 

Maka, sarana yang dapat mengantar kepada perbuatan haram mempunyai hukum haram yang sama dengan perbuatan haram itu sendiri. Ia juga menyebabkan tergantungnya hati kepadanya, sehingga pelaku-nya akan ditinggalkan oleh Allah dan diserahkan kepada jimat tersebut untuk menyelesaikan masalahnya.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran:

1- Dalil yang menunjukkan tidak bolehnya menggantungkan hati kepada selain Allah ketika ingin meraih manfaat atau menolak bahaya. Ketergantungan hati kepada selain Allah dalam hal itu termasuk kesyirikan.
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ
“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. Kepada-Nya-lah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.” (QS. Az Zumar: 38)

2- Akhir zaman adalah masa dimana orang sulit untuk diajak bertauhid secara murni
وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ
“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (QS. Yusuf: 106)

3- Akibat Syirik lebih parah dari dosa besar dan penyebab rusaknya syahadat seseorang.
إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS An Nisa: 48).
Read more »
3 Amalan yang Bisa Menghapus Kesalahan dan Mengangkat Derajat

3 Amalan yang Bisa Menghapus Kesalahan dan Mengangkat Derajat

عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم: ((ألا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟)) قَالُوا: بَلَى، يَا رسولَ اللهِ، قَالَ: ((إِسْبَاغُ الوُضُوءِ عَلَى المَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الخُطَا إِلَى المَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلاةِ بَعْدَ الصَّلاةِ فَذلِكُمُ الرِّبَاطُ)). رواه مسلم.
Dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu, katanya: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Sukakah engkau semua saya tunjukkan pada sesuatu amalan yang dengannya itu Allah akan menghapuskan segala macam kesalahan serta mengangkat pula dengannya tadi sampai beberapa darajat?" Para sahabat menjawab; "Baik, ya Rasulullah." Beliau s.a.w. bersabda:

"Yaitu menyempurnakan wudhu' sekalipun menghadapi kesukaran-kesukaran banyaknya, melangkahkan kaki untuk pergi ke masjid serta menantikan shalat setelah selesai shalat yang satunya. Yang sedemikian itulah yang dinamakan ribat (perjuangan)." (Riwayat Muslim)

Menyempurnakan wudhu

Pelajaran yang terdapat di dalam hadist:

1. Menyempurnakan wudhu' sekalipun menghadapi kesukaran, misalnya di saat yang udaranya dingin sekali, sehingga airnya pun menjadi sangat pula dinginnya.

2. Dalam Hadist di atas dijelaskan bahwa senantiasa berthaharah yakni tetap suci dari hadas besar dan kecil, juga shalat dan segala sesuatu yang dilakukan ditujukan untuk niat beribadah dan berbakti kepada Tuhan, adalah sama pahalanya dengan berjihad fi-sabilillah.

3. Disebut ribat tiga perkara itu karena musuh yang utama bagi manusia adalah hawa nafsunya.

4. Tiga amalan itu (yang disebut dalam hadist) untuk membendung jalan-jalan syetan dan hawa nafsu.
Karena jihadun nafs merupakan jihad yang paling besar.

5. Maka barang siapa bisa melestarikan tiga perkara di atas, akan dihapus kesalahan dan diangkat derajatnya.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Qur'an:

1. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan perintah dan meninggalkan larangan.
وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ
Dan berjihadlah pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. (QS Al-Hajj: 78)

2. Yaitu takut akan hari ia dihadapkan kepada Allah Swt. dan takut akan keputusan Allah terhadap dirinya di hari itu, lalu ia menahan hawa nafsunya dan tidak memperturutkannya serta menundukkannya untuk taat kepada Tuhannya, surga tempatnya.
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى
Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. (QS An-Nazi'at: 40)
فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى
maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya). (QS An-Nazi'at: 41)
Read more »
Kesesatan Kitab Barzanji | Ustadz Zainal Abidin

Kesesatan Kitab Barzanji | Ustadz Zainal Abidin

Bismillah..

Kitab Barzanji adalah kitab yang sangat popular di kalangan kaum Muslimin di Indonesia. Kitab ini merupakan bacaan wajib pada acara-acara Barzanji atau diba’ yang merupakan acara rutin bagi sebagian kaum muslimin di Indonesia.

Kitab Barzanji ini terkandung di dalam kitab Majmu’atu Mawalid wa-Ad’iyyah yang merup kumpulan dr bbrp tulisan spt: Qoshidah Burdah, Maulid Syarafil Anam, Maulid Barzanji, Aqidatul Awwam, Rotib al-Haddad, Maulid Diba’i & yang lainnya.

Kitab yg popular ini di dalamnya banyak sekali penyelewengan2 dr syari’at Islam bahkan berisi kesyirikan dan kekufuran yang wajib dijauhi oleh setiap Muslim.

Kesesatan Kitab Barzanji

Krn itulah Insya Allah dalam pembahasan kali ini akan kami jelaskan kesesatan-kesesatan kitab ini dan kitab-kitab yang menyertainya dalam kitab, sbg nasehat keagamaan bagi saudara-saudara kaum muslimin dan sekaligus sebagai jawaban kami atas permintaan sebagian pembaca yang menanyakan isi kitab ini. Dan sbg catatan bahwa cetakan kitab yg kami jadikan acuan dlm pembahasan ini adl cetakan PT. Al-Ma’arif Bandung.

Maulid Barzanji dan Kesesatan-Kesesatannya

Maulid Barazanji yang terkandung dalam kitab Majmu’atu Mawalid wa Ad’iyyah ini dalam halaman 72-147, di dalamnya terdapat byk sekali kesalahan-kesalahan dalam aqidah, seperti kalimat-kalimat yang ghuluw(melampaui batas syar’I) terhadap Nabi, kalimat-kalimat kekufuran, kesyirikan, serta hikayat2 lemah & dusta.

Di antara kesesatan-kesesatan Kitab ini adalah:

1. Mengamini Adanya “Nur Muhammad”

Penulis berkata dalam halaman 72-73:

وأصلى و أسلم على النور الموصوف بالتقدم و الأولية
Dan aku ucapkan selawat dan salam atas cahaya yg disifati dg yg dahulu & yg awal

Kami katakan: ini adl aqidah Shufiyyah yg batil, orang-orang Shufiyyah beranggapan bahwa semua yang ada di alam semesta ini diciptakan dr nur (cahaya) Muhammad kemudian bertebaran di alam semesta. Keyakinan ini merupakan ciri khas dari kelompok Shufiyyah, keyakinan mrk ini hampir2 sllu tercantum dlm kitab2 mrk.

Ibnu Atho as-Sakandari berkata: “Seluruh nabi diciptakan dari Ar-Rohmah & Nabi kita Muhammad adl ‘Ainur Rahmah.” (Lathaiful Minan hal. 55)

Merupakan hal yang diketahui setiap muslim bahwasanya Rasulullah adalah manusia biasa yang dimuliakan oleh Allah dengan risalah-Nya sebagaimana para rasul yang lainnya, Allah berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا(110)
“Katakanlah:”Sesungguhnya aku ini hanya seorg manusia spt kalian, yg diwahyukan kpdku:”Bahwa sesungguhnya Ilah kalian itu adl Ilah Yang Esa”.” (QS. Al-Kahfi : 110)

2. Membawakan Hikayat2 Dusta Seputar Kelahiran Nabi

Penulis berkata dalam halaman 77-79 dari kitab Majmu’atu Mawalid wa Ad’iyyah ini:

و نطقت بحمله كل دابة لقريش بفصاح الألسن العربية
و خرت الأسرة و الأصنام على الوجوه و الأفواه
و تباشرت وحوش المشارق و المغارب و دوابها البحرية
حضر أمه ليلة مولده اسية و مريم في نسوة من الحظيرة القدسية
Dan memberitahukan tentang dikandungnya beliau setiap binatang ternak Quraisy dg Bahasa Arab yg fasih!

Dan tersungkurlah tahta-tahta dan berhala2 atas wajah2 & mulut2 mrk!

Dan saling memberi kabar gembira binatang-binatang liar di timur dan di barat beserta binatang-binatang lautan!

Saat malam kelahirannya dtng kpd ibunya Asiyah & Maryam beserta para wanita dr surga!

Kami katakan: Kisah ini adalah kisah yang lemah dan dusta sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama hadits. (Lihat Siroh Nabawiyyah Shohiihah 1/97-100)

3. Bertawassul denga Dzat Nabi

Penulis berkata pada halaman 106 dari kitab Majmu’atu Mawalid wa Ad’iyyah ini:

و نتوسل إليك بشرف الذات المحمدية و من هو آخر الأنبياء بصورته و أولهم بمعناه وبآله كواكب أمن البرية
Dan kami bertawassul kpdMu dg kemuliaan dzat Muhammad
Dan yang dia adalah akhir para nabi scr gambaran dan yg paling awal scr makna
Dan dengan para keluarganya bintang-bintang keamanan manusia

Kami katakan: Tawassul dengan dzat Nabi dan keluarganya serta orang-orang yang sudah mati adalah tawassul yang bid’ah dan dilarang. Tidak ada satupun doa-doa dari Kitab dan Sunnah yang terdapat di dalamnya tawassul dengan jah atau kehormatan atau hak atau kedudukan dari para makhluk. Banyak para imam yang mengingkari tawasssul-tawassul bid’ah ini. al-Imam Abu Hanifah berkata: “Tidak selayaknya bagi seorang pun berdoa kepada Allah kecuali dgNya, aku membenci jk dikatakan: “Dg ikatan2 kemuliaan dr arsyMu, atau dg hak makhlukMu.” & ini jg perkataan al-Imam Abu Yusuf. (Fatawa Hindiyyah 5/280)

Syeikh al-Albani berkata: “ Yang kami yakin dan kami beragama kepada Allah dengannya bahwa tawassul-tawassul ini tdklah diperbolehkan & tdk disyari’atkan, karena tidak ada dalil yang bisa dijadikan hujjah padanya, tawassul2 ini tlh diingkari oleh para ulama ahli tahqiq dari masa ke masa.” (at-Tawassul anwa’uhu wa Ahkamuhu hal. 46-47)

4. Menyatakan Bahwa Kedua Orang Tua Nabi Dihidupkan Lagi dan Masuk Islam

Penulis berkata dalam halaman 114:

وقد أصبحا والله من أهل الإيمان
و جاء لهذا في الحديث شواهد
فسلم فإن الله جل جلاله
قدير على الإحياء فى كل أحيان
Dan sesungguhnya keduanya (Abdullah dan Aminah) telah menjadi ahli iman
Dan telah datang hadits tentang ini dg syawahidnya (penguat-penguatnya)
Maka terimalah krn sesungguhnya Allah mampu menghidupkan di setiap waktu

Kami katakan: Hadits tentang dihidupkan nya kedua orang tua Nabi & berimannya keduanya kepada Nabi adl hadits yang dusta. Syaikh Ibnu Taimiyyah berkata: “Hadits ini tidak shohih menurut ahli hadits, bahkan mereka sepakat bahwa hadits itu adalah dusta dan diada-adakan…Hadits ini di samping palsu juga bertentangan dengan al-Qur’an, hadits shohih dan ijma.”(Majmu’ Fatawa 4/324)

5. Berdoa dan Beristighotsah kpd Nabi

Penulis berkata dalam halaman 1114:

يا بشير يا نذير
فأغثني و أجرني يا مجير من السعير
يا ولي الحسنات يا رفيع الدرجات
كفر عني الذنوب و اغفر عني السيأت
Wahai pemberi kabar gembira & pemberi peringatan, Tolonglah aku & selamatkan aku, wahai penyelamat dari neraka Sa’ir
Wahai pemilik kebaikan-kebaikan dan pemilik derajat-derajat
Hapuskanlah dosa-dosa dariku dan ampunilah kesalahan-kesalahanku

Kami katakan: Ini adalah kesyirikan dan kekufuran yang nyata krn penulis berdoa kepada Nabi dan menjadikan Nabi sbg penghapus dosa & penyelamat dr azab neraka, pdhl Allah berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَدْعُو رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا(20)قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًا(21)قُلْ إِنِّي لَنْ يُجِيرَنِي مِنَ اللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا(22)
“Katakanlah: “Sesungguhnya Aku hanya menyembah Rabbku & aku tdk memper sekutukan sesuatupun denganNya.” Katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendtngkan suatu kemudharatan pun kpdmu & tdk pula suatu kemanfaat an.” Katakanlah: “Sesungguhnya aku se-kali2 tiada seorangpun dpt melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali aku tidak akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya.” (QS. Al-Jin: 20-22)

Syaikh Abdur Rohman bin Nashir as-Sa’di berkata: “Katakanlah kepada mrk wahai rosul sebagai penjelasan dari hakikat dakwahmu: “Sesungguhnya Aku hanya menyembah Rabbku dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun dgNya.” Yaitu aku mentauhidkan-Nya, Dialah Yang Maha Esa tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku lepaskan semua yang selain Allah dari berhala dan tandingan-tandingan, dan semua sesembahan yang disembah oleh orang-orang musyrik selain-Nya. “Katakanlah: “Sesungguhnya aku tdk kuasa mendtngkan suatu kemudharatan pun kepadamu dan tidak pula suatu kemanfaatan.” 

Karena aku adalah seorang hamba yang tidak memiliki sama sekali perintah dan urusan. .” Katakanlah: “Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorangpun dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali aku tidak akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya.” Yaitu tidak ada seorang pun yg dpt aku mintai perlindungan agar menyelamatkanku dari adzab Allah. Jika saja Rasulullah yang merup makhluk yg paling sempurna, tdk memiliki kemadhorotan & kemanfaatan, dan tidak bisa menahan dirinya dari Allah sedikitpun, jk Dia menghendaki kejelekan padanya, maka yg selainnya dari makhluk lebih pantas untuk tidak bs melakukan itu semua.” 

(Tafsir al-Karimir Rohman hal. 1522 cet. Dar Dzakhoir)

Ayat-ayat di atas dengan jelas menunjukkan atas larangan berdo’a kepada Rasulullah dan bahwa Rasulullah tidak bs menyelamatkan dirinya dr adzab Allah aplg menyelamatkan yg lainnya !

والله أعلمُ بالـصـواب..
smg manfaat...

Ustadz Zainal Abidin bin syamsudin
repost from whatsapp group
Read more »
Pengakuan pembesar Yahudi dan Nasrani tentang Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam:

Pengakuan pembesar Yahudi dan Nasrani tentang Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam:

1. Waraqah bin Naufal (seorang Nasrani dan penulis Injil dengan Bahasa Ibrani)

Istri Nabi Muhammad Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam, Khadijah datang membawa suaminya menemui Waraqah yang tak lain anak pamannya, menceritakan apa yang terjadi pada suaminya ketika berada di Gua Hira (awal permulaan mendapat wahyu). Nabi bercerita tentang apa yang dilihatnya di Gua Hira. Nabi berkata 'Ada makhluk memelukku dan memerintahkanku untuk membaca' Aku jawab 'Aku tidak bisa membaca'

Waraqah berkata 'Itu adalah Namus (Malaikat) yang diturunkan Allah kepada Musa. Andaikan aku masih muda pada masa itu. Andaikan saja aku masih hidup saat tatkala kaummu mungusirmu'

Nabi bertanya 'Benarkan mereka (kaumku) akan mengusirku?'

Waraqah menjawab 'Benar. Tidak seorang pun yang membawa seperti yang engkau bawa melainkan akan dimusuhi. Andaikan aku masih hidup di masamu nanti, tentu aku akan membantumu dengan sungguh-sungguh' Waraqah meneguhkan hati Muhammad bahwa kelak Ia akan menjadi nabi umat ini.

Darimana Waraqah bahwa apa yang ditemui Nabi Muhammad adalah malaikat? Berdasarkan Kitab Yesaya (bagian dari Perjanjian Lama) 29:12, yang isinya 'Dan apabila kita ini diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan "Baiklah baca ini" Ia menjawab "Aku tidak dapat membaca".

Waraqah meninggal dunia pada saat-saat turun wahyu kepada Nabi Muhammad.

Pengakuan pembesar Yahudi dan Nasrani tentang Nabi Muhammad

2. Rahib Bahira

Saat usia Nabi Muhammad menginjak 12 tahun, diajak pamannya, Abu Thalib, berdagang ke Syam. Rombongan Abu Thalib sempat singgah di Bushra, suatu daerah di Syam yang berada dalam kekuasaan Romawi. Di negeri ini ada seorang Rahib yang dikenal dikenal dengan sebutan Bahira, nama aslinya Jurjis.

Bahira menghampiri rombongan Abu Thalib dan mempersilakan mereka mampir ke tempat tinggalnya sebagai tamu kehormatan. Padahal sebelumnya disebutkan, Bahira tidak pernah keluar rumah. Tapi kali itu dia keluar karena turut merasakan keistimewaan Nabi Muhammad.

Sambil memegang tangan Nabi Muhammad, Sang Rahib berkata "Orang ini adalah pemimpin alam semesta alam. Anak ini akan diutus Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam"

Abu Thalib bertanya "Dari mana engkau tahu hal itu?"

Rahib Bahira menjawab "Sebenarnya sejak kalian tiba di Aqabah, tidak ada bebatuan dan pepohonan melainkan mereka tunduk bersujud. Mereka tidak sujud melainkan kepada seorang nabi. Aku bisa mengetahuinya dari cincin nubuwah yang berada di bagian bawah tulang rawan bahunya yang menyerupai buah apel. Kami juga mendapati tanda itu di dalam Kitab kami"

Kemudian sang Rahib meminta Abu Thalib kembali lagi ke Mekah bersama Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam tanpa melanjutkan perjalanan ke Syam, karena Bahira takut gangguan Yahudi kepada mereka.

3. Raja Romawi Heraklius (Hercules)

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwasanya Abu Sufyan bin Harp saat berada di Syam untuk berniaga, dipanggil Raja Heraklius untuk hadir di kerajaannya. Sang raja yang ditemani pembesar kerajaan, memanggil seorang penerjemah untuk menerjemahkan dialognya dengan Abu Sufyan.

Raja Heraklius ingin bertanya seputar sosok Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam yang diutus sebagai Rasul. Kabar kerasulan Muhammad itu sudah tersiar seantero jazirah Arab, Raja Heraklius yang beragama Nasrani pun penasaran dengan sosok Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam. Oleh karenanya, ketika rombongan Abu Sufyan tiba di Syam, Ia mengundang kabilah itu untuk menjelaskan hal tersebut.

Sejumlah pertanyaan dilontarkan Raja Heraklius kepada Abu Sufyan, yang dianggap nasabnya paling dekat dengan Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam. Berikut beberapa dialog percakapan Heraklius dengan Abu Sufyan:

Heraklius bertanya, "Apakah dia (Nabi Muhammad) berasal dari keturunan raja?"

Abu Sufyan menjawab, "Tidak"

Heraklius bertanya, "Apakah pengikutnya adalah orang-orang mulia dan para pembesar?"

Abu Sufyan menjawab, "Tidak, para pengikutnya adalah orang-orang miskin dan orang-orang yang lemah"

Heraklius bertanya, "Apakah pengikutnya itu bertambah terus atau semakin berkurang?"

Abu Sufyan menjawab, "Pengikutnya semakin hari semakin bertambah dan tidak pernah berkurang"

Heraklius bertanya lagi, "Apakah di antara mereka ada yang meninggalkan agama mereka karena membenci agama itu?"

Abu Sufyan menjawab, "Tidak ada"

Raja Romawi itu bertanya lagi, "Apakah kalian menuduh dia berdusta atas apa yang diucapkannya dengan mengaku sebagai Nabi? Apakah sebelum menjadi seorang nabi, dahulunya dia adalah seorang pendusta?"

Abu Sufyan menjawab, "Tidak"

Heraklius bertanya lagi, "Dia telah mengaku sebagai seorang Nabi kepada kalian. Lalu apa yang diperintahkan Muhammad kepada kalian?"

Abu Sufyan menjawab, "Muhammad mengajak kami dan menyuruh kami bersaksi, 'Sembahlah Allah semata dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun' Muhammad juga menyeru kami untuk meninggalkan apa yang diucapkan oleh nenek moyang kami (menyembah berhala). Dia juga menyeru kami untuk menegakkan Salat, membayar zakat, berlaku jujur, bersikap sederhana dan hidup bersahaja, serta menyambung silaturahim"

Heraklius lalu berkata kepada Abu Sufyan dan rombongannya, disaksikan seluruh petinggi kerajaan, "Wahai Abu Sufyan, jika semua yang telah kau sampaikan itu benar, maka pastilah dia (Muhammad) akan menguasai sampai ke tempatku berpijak di kedua telapak kakiku ini (Damaskus-Syiria)"

"Sesungguhnya, aku telah tahu (ramalan) bahwa dia akan lahir. Namun, aku tidak mengira bahwa dia akan lahir dari bangsa kalian (Arab). Sekiranya aku mengetahui, walaupun dengan susah payah, aku akan berusaha untuk menemuinya. Andai aku berada di dekatnya, aku akan membasuh kedua telapak kakinya" (HR Bukhari)

4. Hushain bin Salam bin Harits (Pendeta Yahudi di Madinah)

Hushain bin Salam bin Harits adalah seorang pendeta dan ulama Yahudi dari Bani Qainuqa, yang paling dalam pengetahuannya tentang kitab suci Taurat. Sewaktu Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam hijrah ke Madinah, Hushain mendapat berita bahwa orang yang di nanti-nanti dan diharap-harap kedatangannya itu telah sampai di Madinah.

Ya, Hushain memang tengah menanti-nanti kedatangan 'Pesuruh Tuhan' yang terakhir, yang sifat-sifatnya termaktub dalam Taurat dan Injil. Kedatangan 'Pesuruh Tuhan' itu telah dijanjikan dalam kitab-kitab tersebut.

Ia pun meyakini sosok 'Pesuruh Tuhan' ada pada sosok Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam. Setelah diam-diam menemui Nabi Muhammad, Hushain mencocokkan sifat-sifat Nabi Muhammad dengan sifat-sifat yang telah disebutkan dalam Taurat dan Injil.

Setelah diketahuinya bahwa sifat-sifat dan tanda-tanda itu cocok pada diri Nabi Muhammad, seketika itu juga Hushain masuk Islam, dan mengajak seluruh keluarganya menjadi pengikut agama Muhammad. Hushain kemudian berganti nama menjadi Abdullah bin Salam.

Dari Abdullah bin Salam "Tatkala Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam tiba di Madinah, manusia berjejalan menemui beliau dan saya termasuk di antara mereka. Setelah saya mengamati Rasulullah, saya langsung mengetahui melalui sinar wajahnya yang menunjukkan beliau bukan seorang pendusta. Ucapan pertama kali yang aku dengar langsung dari lisan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam kala itu beliau mengucapkan, 'Wahai sekalian manusia, tebarkanlah salam, berikanlah makanan (sedekah), sambunglah tali silaturrahmi, salat lah di malam hari tatkala manusia terlelap tidur maka kalian akan masuk surga dengan selamat.’ (HR.Ibnu Majah)

5. Gubernur Mesir, Muqauqis (Kristen Koptik)

Muqauqis pernah menerima kedatangan utusan Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam, bernama Hathib bin Abu Baltha'ah dengan membawa surat dari Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam. Muqauqis menyambutnya dengan ramah dan penuh perhatian. Setelah Muqauqis membaca surat dakwah dari Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam itu lalu ia bertanya kepada Hathib.

"Jika dia (Muhammad) itu seorang Nabi, kenapa tidak mendoakan buruk kepada orang yang menentang seruannya itu dan yang telah mengusirnya keluar dari negerinya?"

Pertanyaan ini lalu dijawab oleh Hathib, "Bukankah tuan menyaksikan bahwa 'Isa bin Maryam itu utusan Allah? Mengapa 'Isa tidak mendoakan buruk kepada kaumnya ketika mereka akan menangkap dan membunuhnya supaya Allah membinasakan mereka, sehingga Allah mengangkat kepada-Nya?"

Mendengar jawaban Hathib yang baik itu, lalu Muqauqis berkata, "Sungguh baik kamu ini, kamu seorang yang bijaksana, datang dari sisi seorang yang bijaksana"

Hathib bin Abu Baltha'ah lantas menjelaskan sifat-sifat Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam dan Muqauqis mendengarkan dan mengakui akan kebenarannya. Muqauqis mengakui pula kebenaran diutusnya nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam, tapi ia belum bisa mengikuti ajaran Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam.

Sesudah itu Muqauqis memanggil seorang penulis untuk menuliskan surat balasan kepada Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam, dan surat itu diserahkan kepada Hathib bin Abu Baltha'ah untuk disampaikan kepada Nabi beserta beberapa macam hadiah. Bunyi surat jawaban Muqauqis itu demikian :

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Kepada Muhammad bin Abdullah dari Muqauqis pembesar Qibthi.

Semoga keselamatan atas engkau. Adapun sesudah itu, sesungguhnya saya telah membaca surat engkau, dan saya telah mengerti apa yang telah engkau sebutkan di dalamnya dan apa yang engkau mengajak kepadanya. Dan sesungguhnya saya mengerti, bahwa Nabi telah muncul, dan dulu saya menyangka bahwa Nabi itu akan lahir di negeri Syam. Sesungguhnya saya telah menghormati utusan engkau, dan saya mengirimkan untuk engkau dua gadis, yang keduanya mempunyai kedudukan yang tinggi dalam lingkungan bangsa Qibthi, dan membawa beberapa pakaian, dan saya mengirimkan hadiah seekor baghal kepada engkau untuk engkau kendarai.

Semoga keselamatan atas engkau.

sumber buku Sirah nabawiyah perjalan hidup RasuL yang agung
Read more »
Musibah Dunia Pasti Berlalu | Ustadz Badrussalam

Musibah Dunia Pasti Berlalu | Ustadz Badrussalam

Ketahuilah bahwa musibah dunia pasti berlalu. Karena dunia bukan negeri balasan. Dunia adalah negeri amal. Namun terkadang Allah memberikan balasan hanya sebatas untuk peringatan dan penggugur dosa-dosa. Maka dari itulah tidak ada sejarahnya bencana terus-menerus mendera. Dia akan selalu berlalu, berlalu, berlalu.

Berbeda dengan negeri akhirat. Negeri akhirat disebut dengan darul jaza (negeri balasan). Maka di akhirat, orang yang beriman dibalas dengan surga dan akan senang terus-menerus. Orang yang tidak beriman akan dibalas dengan neraka dan akan menderita terus-menerus tidak ada habis-habisnya.

Musibah Dunia Pasti Berlalu

Bencana atau musibah itu terkadang menjadi nikmat dan terkadang menjadi adzab. Kapan menjadi nikmat ? Yaitu apabila dengan bencana itu kita menjadi orang yang sadar dan kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sehingga kita menjadi orang yang lebih bertakwa kepada Allah, lebih semangat menjalankan perintah-perintah Allah, lebih semangat meninggalkan larangan-larangan Allah.

Maka kalau ternyata musibah menjadikan kita lebih baik, berarti itu nikmat dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Bagi orang beriman, dia selalu mengambil pelajaran dari setiap musibah yang menimpa. Sedangkan orang yang kurang beriman, dia akan selalu berburuk sangka kepada Allah dari setiap musibah yang menimpa.

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
BBG AL ILMU
Read more »
Pajak Dalam Islam | Ustadz Dr. Musyaffa' ad Dariny

Pajak Dalam Islam | Ustadz Dr. Musyaffa' ad Dariny

Kita perlu membedakan antara dua jenis pajak yang dinamakan oleh sebagian ahli fikih dari kalangan Malikiyah dengan “al-wazha-if” atau “al-kharraj“, dan di kalangan ulama Hanafiyah dinamakan dengan “an-nawa-ib“, yaitu pengganti pajak perorangan dari Sulthan sedangkan di sebagian ulama Hanabilah dinamakan dengan “al-kalf as-sulthaniyah“, kedua jenis pajak ini terbagi menjadi :

1. Pajak yang diambil secara ‘adil dan memenuhi berbagai syaratnya.
2. Pajak yang diambil secara zhalim dan melampaui batas.

Pajak yang diwajibkan oleh penguasa muslim karena keadaan darurat untuk memenuhi kebutuhan negara atau untuk mencegah kerugian yang menimpa. sedangkan perbendaharaan negara tidak cukup dan tidak dapat menutupi biaya kebutuhan tersebut, maka dalam kondisi demikian ulama telah memfatwakan bolehnya menetapkan pajak atas orang-orang kaya dalam rangka menerapkan mashalih al-mursalah

Pendapat ini juga didukung oleh Abu Hamid al-Ghazali dalam al-Mustashfa dan asy-Syatibhi dalam al-I’tisham ketika mengemukakan bahwa jika KAS Bait al-Maal kosong sedangkan kebutuhan pasukan bertambah, maka imam boleh menetapkan retribusi yang sesuai atas orang-orang kaya. Sudah diketahui bahwa berjihad dengan harta diwajibkan kepada kaum muslimin dan merupakan kewajiban yang lain di samping kewajiban zakat.

Allah ta’ala berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ (١٥) 
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar" [Al Hujuraat: 15]

dan firman-Nya,
انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ (٤١) 
"Berangkatlah kamu baik dalam Keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui [At Taubah: 41].
وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ (١٩٥) 
"Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan" [Al Baqarah: 195].
Pajak Dalam Islam
Dengan demikian, salah satu hak penguasa kaum muslimin adalah menetapkan berapa besaran beban berjihad dengan harta kepada setiap orang yang mampu.

Termasuk dari apa yang kami sebutkan, (pungutan dari) berbagai fasilitas umum yang bermanfaat bagi seluruh individu masyarakat, yaitu

▪ manfaat kepada seluruh masyarakat dan perlindungan mereka dari segi keamanan (militer)

▪ dan ekonomi yang tentunya membutuhkan biaya (harta) untuk merealisasikannya sementara hasil dari zakat tidak mencukupi.

▪ Bahkan, apabila dakwah kepada Allah dan penyampaian risalah-Nya membutuhkan dana, (maka kewajiban pajak dapat diterapkan untuk memenuhi keperluan itu), karena merealisasikan hal tersebut merupakan kewajiban bagi tokoh kaum muslimin dan biasanya seluruh hal itu tidak dapat terpenuhi dengan hanya mengandalkan zakat.

▪ Kewajiban tersebut hanya bisa terealisasi dengan penetapan pajak di luar kewajiban zakat. Oleh karena itu, kewajiban ini ditopang kaidah “maa laa yatimmu al-wajib illa bihi fa huwa wajib“, sesuatu dimana sebuah kewajiban tidak sempurna kecuali denganya, maka sesuatu itu bersifat wajib.

▪ Kemudian, setiap individu yang memanfaatkan fasilitas umum yang telah disediakan oleh pemerintah Islam untuk dimanfaatkan dan untuk kemaslahatan individu, maka sebaliknya sudah menjadi kewajiban setiap individu untuk memberi kompensasi dalam rangka mengamalkan prinsip “al-ghurm bi al-ghunm”, tanggungan kewajiban seimbang dengan manfaat yang diambil. Namun, ketetapan ini terikat dengan sejumlah syarat, yaitu :

1. Bait al-maal mengalami kekosongan dan kebutuhan negara untuk menarik pajak memang sangat dibutuhkan sementara sumber pemasukan negara yang lain untuk memenuhi kebutuhan tersebut tidak ada.

2. Pajak yang ditarik wajib dialokasikan untuk berbagai kepentingan umat dengan cara yang adil.

3. Bermusyawarah dengan ahlu ar-ra’yi dan anggota syura dalam menentukan berbagai kebutuhan negara yang membutuhkan dana tunai dan batas maksimal sumber keuangan negara dalam memenuhi kebutuhan tersebut disertai pengawasan terhadap pengumpulan dan pendistribusian dana tersebut dengan cara yang sejalan dengan syari’at.

Pajak jenis ini, yang dibagikan secara adil dan dengan cara yang benar telah disebutkan oleh para ahli fikih empat madzhab dengan penamaan yang berbeda-beda

Sedangkan pajak jenis kedua yang diambil secara tidak wajar dan zhalim, maka hal itu tidak lain merupakan bentuk penyitaan sejumlah harta yang diambil dari pemiliknya secara paksa tanpa ada kerelaan darinya. Hal ini menyelisihi prinsip umum syari’at Islam yang terkait dengan harta, yaitu hukum asal dalam permasalahan harta adalah haram diganggu karena berpedoman pada dalil-dalil yang banyak, diantaranya adalah sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

لا يحلّ مال امرئ مسلم إلاّ بطيب نفس منه 
Tidak halal harta seorang muslim kecuali dengan kerelaan dari jiwanya

من قتل دون ماله فهو شهيد 
Barangsiapa yang terbunuh karena membela hartanya, maka dia syahid

ألا إنّ دماءكم وأموالكم وأعراضكم عليكم حرام 
Sesungguhnya darah-darah kalian, harta-harta dan kerhormatan-kehormatan kalian adalah haram atas sesama kalian (untuk dilanggar).

Berdasarkan hal ini, maka berbagai hadits, baik yang shahih maupun yang tidak, yang mencela para pemungut pajak dan mengaitkannya dengan siksa yang berat, kesemuanya dibawa kepada makna pajak yang diberlakukan secara tidak wajar dan zhalim, yang diambil dan dialokasikan tanpa hak dan tanpa adanya pengarahan. 

Hal ini berarti pegawai yang dipekerjakan untuk memungut pajak dipergunakan oleh para raja dan penguasa serta pengikutnya untuk memenuhi kepentingan dan syahwat mereka dengan mengorbankan kaum fakir dan rakyat yang tertindas. Gambaran inilah yang dikatakan oleh adz-Dzahabi dalam al-Kabair dengan komentarnya,

المكاس من أكبر أعوان الظلمة، بل هو من الظلمة أنفسهم، فإنّه يأخذ ما لا يستحق ويعطيه لمن لا يستحق 
Pemungut pajak adalah salah satu pendukung tindak kezhaliman, bahkan dia merupakan kezhaliman itu sendiri, karena dia mengambil sesuatu yang bukan haknya dan memberikan kepada orang yang tidak berhak.

Inilah kondisi riil yang tersebar luas di pelosok dunia ketika Islam telah berkembang. Berbagai pajak yang tidak wajar diwajibkan oleh beberapa pemerintahan pada saat ini di tengah-tengah manusia dan atas kaum fakir,Demikian pula terkadang pajak tersebut dialokasikan untuk mendanai berbagai pesta dan festival yang di dalamnya terdapat kemaksiatan dan minuman keras, mempertontonkan aurat, pertunjukan musik dan tari serta kegiatan batil lainnya yang jelas-jelas membutuhkan biaya yang mahal.

Bahkan, bisa jadi dia termasuk pelaku kezhaliman itu sendiri, karena biasanya seorang yang berserikat dengan para pelaku kezhaliman dan berbagi harta yang haram dengan mereka, (maka hal itu juga merupakan tindak kezhaliman), karena syari’at apabila mengharamkan suatu aktivitas, maka uang yang diperoleh dari aktivitas tersebut juga haram. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قاتل الله اليهود لمّا حرّم عليهم شحومها جملوه ثمّ باعوه فأكلوا ثمنه 
Semoga Allah membinasakan Yahudi, karena tatkala Allah mengharamkan lemak bangkai atas mereka, mereka malah mencairkannya, kemudian menjual dan menggunakan uang hasil penjualannya

Adapun penetapan pajak di samping zakat, apabila tidak ditemukan sumber keuangan untuk memenuhi suatu kebutuhan negara kecuali dengan adanya penetapan pajak, maka boleh memungut pajak bahkan hal itu menjadi wajib dengan syarat kas Bait al-Maal (kas negara) kosong, dialokasikan dan didistribusikan dengan benar dan ‘adil

Wallahu a'lam

Ust Dr. Musyaffa' ad Dariny Lc, M.A
Sumber: Muslim.or.id
Read more »
Diantara sifat-sifat seorang Nabi | Raja Heraklius

Diantara sifat-sifat seorang Nabi | Raja Heraklius

عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَخْبَرَهُ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سُفْيَانَ أَنَّ هِرَقْلَ قَالَ لَهُ سَأَلْتُكَ مَاذَا يَأْمُرُكُمْ فَزَعَمْتَ أَنَّهُ أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالصِّدْقِ وَالْعَفَافِ وَالْوَفَاءِ بِالْعَهْدِ وَأَدَاءِ الْأَمَانَةِ قَالَ وَهَذِهِ صِفَةُ نَبِيٍّ
Abdullah bin Abbas radhiallahu anhu berkata, telah mengkhabarkan kepada kami Abu Sufyan bahwa Raja Heraklius berkata kepadanya: "Aku telah bertanya kepadamu apa yang dia (Nabi Muhammad) perintahkan kepada kalian, lalu kamu menjawab bahwa dia memerintahkan kalian untuk solat, bersedekah (zakat), menjauhkan diri dari berbuat buruk, menunaikan janji dan melaksanakan amanah". Lalu dia berkata; "Ini adalah diantara sifat-sifat seorang Nabi". (HR Bukhari No: 2484)

Diantara sifat-sifat seorang Nabi

Pesan hadits tersebut adalah :

1. Rasulullah Shallallahu alahi wa salam memerintahkan agar melaksanakan ketaatan kepada Allah dengan ibadat yang wajib sebagai seorang Muslim.

2. Rasulullah Shallallahu alahi wa salam memerintahkan kepada umatnya agar:

a. Melaksanakan shalat
b. Menunaikan zakat dan bersedekah
c. Menjauhi perbuatan buruk
d. Menunaikan janji
e. Melaksanakan amanah

3. Sebagai pengikut setia, adalah menjadi kewajiban kita untuk melaksanakan tanggungjawab yang bersifat peribadi seperti shalat dan menjauhi perbuatan buruk.

4. Seorang muslim diperintahkan menunaikan tanggungjawab yang berkaitan dengan masyarakat seperti mengeluarkan zakat dan bersedekah di samping menunaikan janji dan melaksanakan amanah.

Firman Allah Subhanhu wa taala yang berkaitan dengan tema hadits tersebut adalah

اِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذَا دُعُوْۤا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ اَنْ يَّقُوْلُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا ۗ وَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
"Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, Kami mendengar, dan kami taat. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. An-Nur 24: Ayat 51)
Read more »
Beranda