IBX5A47BA52847EF DakwahPost
Assalamualaikum sobat dakwahpost.com pada tulisan singkat ini, ana mengajak sahabat sekalian yg memiliki kelebihan rezeki untuk membantu ...
Apakah sebenarnya Salafy Wahhabi?

Apakah sebenarnya Salafy Wahhabi?

● Tanya:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Mengapa banyak sekali yang mengatakan "Salafy itu wahabi" sebenarnya wahabi itu apa ustadz?
Syukron.

● Jawab:

Wa'alaikumussalam warohmatullah wabarokatuh.

Salafy adalah orang yang mengikuti cara beragama Salaf dalam beraqidah, beribadah, berakhlaq, bermuamalah, berjihad, beramar ma'ruf nahi munkar, maupun al-wala' wal baro'. Salaf adalah ringkasan dari kata Salafussholih yaitu para pendahulu yang sholih dari kalangan shohabat Nabi, tabi'in, tabi'it tabi'in. Tiga generasi ini yang telah dipuji keimanannya oleh Allah dan Rosul-Nya shollallahu 'alaihi wasallam dalam Al-Qur'an was Sunnah dan kaum muslimin diperintah untuk mengikuti jejak mereka karena keislaman mereka yang murni dan bersih dari polusi pemikiran.

Apakah sebenarnya Salafy Wahhabi

Maka Salafy adalah orang yang mengikuti Salaf dalam berislam. Salafy bukan organisasi masyarakat, bukan pula kelompok yang di dalamnya ada ketua dan anggota. Salafy juga bukan orang yang menisbatkan dirinya kepada Syaikh tertentu, atau Ustadz tertentu, maupun harokah (pergerakan) tertentu dalam beragama. Karena Salafy menentang harokah hizbiyyah yang mengakibatkan perpecahan.

Sedangkan Wahhabi adalah julukan yang dibikin oleh orang-orang belakangan yang berang dengan dakwah tauhid dan sunnah. Mereka tidak mau kebiasaan masyarakat yang kental dengan tradisi syirik dan bid'ah itu dikoreksi dan diluruskan. Jadi istilah Wahhabi itu sebetulnya julukan yang sengaja dibuat untuk membikin orang lari dari dakwah tauhid dan sunnah.

Umat Islam tidak boleh kritis dan harus dipertahankan status quo kebodohannya supaya terus-menerus tenggelam dalam praktek syirik dan bid'ah. Jika umat Islam sudah berani menggadaikan prinsip agamanya dengan meninggalkan tauhid dan sunnah, maka tunggulah kehancurannya meski jasadnya bersatu dan umat semacam ini lebih mudah dijajah sebagaimana yang telah dibuktikan oleh sejarah.

Namun apabila julukan Wahhabi itu dinisbatkan kepada sosok Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab, maka sesungguhnya beliau adalah salah seorang Ulama Ahlussunnah yang mengikuti manhaj salaf dalam beragama. Beliau tidak mengadakan madzhab baru seperti yang dituduhkan, beliau hanya berdakwah menyeru manusia kepada tauhid dan sunnah Nabi shollallahu 'alaihi wasallam yang mulia dengan dalil-dalil Al-Qur'an was Sunnah sesuai pemahaman Salaf. Silakan baca karya-karya tulis Syaikh Muhammad yang sudah banyak dicetak.

Jika demikian adanya lantas dari sudut mana Salafy diklaim sebagai Wahhabi? Jadi jelas ini hanya julukan yang sengaja direkayasa untuk membikin orang lari dari kebenaran. Dan kelompok-kelompok yang gemar melontarkan label Wahhabi kepada Salafiyyin sesungguhnya dia sedang mendukung program para penjajah.
___
Al-Ustâdz Fikri Abul Hasan
Artikel manhajul-haq
Baca selengkapnya »
5 hal yang harus diketahui jika akal meragukan Allah

5 hal yang harus diketahui jika akal meragukan Allah

Jika akal dihinggapi keraguan tentang al-Khaaliq, camkan 5 hal berikut ini;

1. Akal adalah makhluk sebagaimana mata juga makhluk. Jika kemampuan mata terbatas, maka begitu pula dengan akal.

2. Banyak makhluk yang masih belum bisa dijangkau akal. Nah, apalagi al-Khaaliq (Pencipta).

3. Lingkaran pencipta adalah suatu hal yang mustahil. Harus ada Pencipta yang pertama, yang tidak tercipta.

akal meragukan Allah

4. Jika akal bertanya; "siapa yang menciptakan Allah (Sang Pencipta)..??", maka camkanlah bahwa itu adalah bisikan syaitan. Secara akal sehat (berdasarkan poin 3 di atas), pertanyaan tersebut sudah salah di awal. Jika sesuatu ada setelah sebelumnya tiada, berarti dia makhluk, bukan Pencipta.

5. Terkait poin 4 di atas, manakala syaitan datang membisikkan keraguan, amalkan 3 petunjuk Rasulullah ﷺ sebagaimana tersirat dalam hadits...!!; stop berpikir tentang perkara yang tidak mungkin dijangkau akal, ta'aawudz dari syaitan, lawan dengan iman pada Allah.

Demikian intisari penjelasan Ibnu Sa'di rahimahullaah dalam kitabnya "Bahjatu Quluubil Abroor", hlm. 39-41.

✍ Al-Ustâdz Abu Ziyan, Johan Saputra Halim, M.HI.
• Channel: t.me/kristaliman
Baca selengkapnya »
KAYA YANG SESUNGGUHNYA

KAYA YANG SESUNGGUHNYA

لَا بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنْ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنْ اتَّقَى خَيْرٌ مِنْ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنْ النَّعِيمِ
“Tidak ada masalah dengan kekayaan bagi orang yang bertaqwa. Kesehatan itu lebih baik daripada kekayaan bagi orang yang bertaqwa. Dan jiwa yang bagus merupakan kenikmatan.” (HR. Ibnu Majah: 2132, Ahmad: 22076)

Hadits berikut semakna dengan hadits tersebut

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ.
Dari Abu Hurairah RA, Nabi Shallallahu alahi wa salam bersabda: “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, akan tetapi kaya itu adalah kaya hati (jiwa)." (HR Bukhari No: 6446)

KAYA YANG SESUNGGUHNYA

Kandungan hadits

1. Hakikat kaya bukanlah karena banyak harta, karena mayoritas manusia yang dilapangkan hartanya tidak puas dengan harta yang telah dimilikinya.

2. Kekayaan sebenarnya adalah kekayaan jiwa, yaitu ketika merasa cukup dengan apa yang diperolehnya (qona’ah), rela dan tidak tamak dalam mencari harta.

3. Jadikanlah diri kita seorang yang kaya hati, sentiasa merasa cukup dan bersyukur dengan setiap pemberianNYa.

Firman Allah Subhanahu wata'ala yang berkaitan dengan tema hadits tersebut adalah

وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللّهِ رِزْقُهَا
“Tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin rezekinya oleh Allah.” (QS. Hud:6)
Baca selengkapnya »
Apakah Manhaj Tidak Akan Ditanya di Alam Kubur?

Apakah Manhaj Tidak Akan Ditanya di Alam Kubur?

● Tanya: Ada orang harokah yang bilang, "Manhaj tidak penting karena tidak akan ditanya di alam kubur", bagaimana cara meluruskannya?

● Jawab: 


Ungkapan seperti itu menunjukkan yang berkata tidak mengerti esensi manhaj dalam beragama. Manhaj adalah cara beragama Nabi shollallahu 'alaih wasallam dan para shohabat beliau baik dalam hal aqidah, ibadah maupun akhlaq. Manhaj ini yang menentukan benar tidaknya aqidah seseorang dalam beriman. Praktis orang yang mampu menjawab pertanyaan kubur adalah orang yang benar manhajnya dalam beraqidah. Nabi shollallahu 'alaihi wasallam telah mengingatkan:

فإنه من يعش منكم فسيري اختلافا كثيرا فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين عضوا عليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل بدعة ضلالة
"Barangsiapa yang masih hidup sepeninggalku maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku (cara beragamaku) dan sunnah para Khulafa’urrosyidin Al-Mahdiyyin sepeninggalku, gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi gerahammu. Dan berhati-hatilah kalian dari perkara baru yang diada-adakan dalam beragama, karena setiap bid'ah (perkara baru yang diada-adakan) itu sesat.” (HR. Abu Dawud 4607, At-Tirmidzi 2676 dan beliau berkata, “Hadits hasan shohih” Syaikh Al-Albani menshohihkannya dalam "Shohihul Jami’" 2546)

Apakah Manhaj Tidak Akan Ditanya di Alam Kubur

Pendek kata, jika buang air kecil saja yang tidak bersih di dunia bisa mengakibatkan siksa kubur, apalagi dengan manhaj yang menyimpang?

Al-Ustâdz Fikri Abul Hasan
Artikel manhajul-haq
Baca selengkapnya »
Dibentak Anak Itu Lebih Sakit Dari Pada Saat  Melahirkannya

Dibentak Anak Itu Lebih Sakit Dari Pada Saat Melahirkannya

“IBU, masakin air..Bu. Aku mau mandi pakai air hangat,” seorang anak meminta Ibunya menyiapkan air hangat untuk mandinya.

Sang Ibu dengan ikhlas melaksanakan apa yang diperintah oleh sang anak.

Dengan suara lembut Ibunya menyahut, “Iya, tunggu sebentar ya, sayang !”

“Jangan terlalu lama ya Bu ! Soalnya saya ada janji sama teman,” ujar sang anak.

Tidak lama kemudian sang Ibu telah usai menyiapkan air hangat untuk buah hatinya.

“Nak, air hangatnya sudah siap,” Ibu itu memberi tahu.

“Lama sekali sih, Bu…” sang anak sedikit membentak.

Setelah selesai mandi dan berpakaian rapi, sang anak berpamitan kepada Ibunya,

“Bu, saya keluar dulu ya, mau jalan-jalan sama teman.”

Dibentak Anak Itu Lebih Sakit

“Mau kemana Nak ?” tanya sang Ibu.

“Kan sudah aku bilang, saya mau keluar jalan-jalan sama teman,” kata sang anak sambil mengerutkan dahi.

Malam harinya, sang anak pulang dari jalan-jalan, sesampainya di rumah ia merasa kesal karena Ibunya tidak ada di rumah. Padahal perutnya sangat lapar, di meja makan tidak ada makanan apa pun.

Beberapa saat kemudian, Ibunya datang sambil mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum... Nak, kamu sudah pulang ? Sudah dari tadi ?”

“Hah, Ibu dari mana saja. Saya ini lapar, mau makan tidak ada makanan di meja makan. Seharusnya kalau Ibu mau keluar itu masak dulu…” kata si anak membentak dengan suara sangat lantang.

Sang Ibu mencoba menjelaskan sambil memegang tangan anaknya,

“Begini sayang, kamu jangan marah dulu. Ibu tadi keluar bukan untuk urusan yang tidak penting, kamu belum tahukan kalau istrinya Pak Rahman meninggal ?”

“Meninggal ? Padahal tidak sakit apa- apa kan, Bu ?” sang anak sedikit kaget, nada suaranya juga tidak tinggi lagi.

“Dia meninggal waktu Maghrib tadi. Dia meninggal saat melahirkan anaknya. Kamu juga harus tahu nak, seorang Ibu itu bertaruh nyawa saat melahirkan anaknya,” Ibu memberikan penjelasan.

Hati sang anak mulai terketuk, dengan suara lirih ia bertanya pada Ibunya,

“Itu artinya, Ibu saat melahirkanku juga begitu ? Ibu juga merasakan sakit yang luar biasa juga ?”

"Iya anakku. Saat itu Ibu harus berjuang menahan rasa sakit yang luar biasa. Namun, ada yang lebih sakit daripada sekadar melahirkanmu, Nak." sang Ibu menjawab.

“Apa itu, Bu ?” sang anak ingin mengerti apa yang melebihi rasa sakit Ibunya saat melahirkan dia.

Sang Ibu tak mampu menahan air mata yang mengalir dari setiap sudut matanya seraya berkata,

“Rasa sakit saat Ibu melahirkanmu itu tak seberapa, bila dibandingkan dengan rasa sakit yang Ibu rasakan saat dirimu membentak Ibu dengan suara lantang, saat itu kau menyakiti hati Ibu, Nak !”

Si anak langsung menangis dan memohon ampun atas apa yang telah diperbuat selama ini pada Ibunya.

Masih beranikah Kalian membentak Ibu kalian yang telah mempertaruhkan hidup matinya melahirkan Kalian...???

Semoga bermanfaat dan tolong bagikan kisah ini kepada Anak-anak kita, Keponakan-keponakan kita, dan kepada Cucu-cucu kita.☝☝☝
Baca selengkapnya »
Bahaya Ulama jahat dan Menyesatkan umat

Bahaya Ulama jahat dan Menyesatkan umat

Siapakah Ulama Suu’..? Ulama’ suu’ adalah ulama jahat dan menyesatkan dari jalan yang benar. Dikatakan jahat, karena mereka bukannya menunjukkan jalan yang benar kepada umat, namun justru rakus kepada kehidupan dunia, dimana akhirnya mereka menjual agamanya (aqidahnya) untuk kepentingan dunianya.

Tentang sifat mereka ini, Rasulullah shallallahu alahi wa salam bersabda :

ﻳَﺨْﺮُﺝُ ﻓِﻲ ﺁﺧِﺮِ ﺍﻟﺰَّﻣَﺎﻥِ ﺭِﺟَﺎﻝٌ ﻳَﺨْﺘَﻠُﻮﻥَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺑِﺎﻟﺪِّﻳﻦِ ﻳَﻠْﺒَﺴُﻮﻥَ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﺟُﻠُﻮﺩَ ﺍﻟﻀَّﺄْﻥِ ﻣِﻦْ ﺍﻟﻠِّﻴﻦِ ﺃَﻟْﺴِﻨَﺘُﻬُﻢْ ﺃَﺣْﻠَﻰ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺴُّﻜَّﺮِ ﻭَﻗُﻠُﻮﺑُﻬُﻢْ ﻗُﻠُﻮﺏُﺍﻟﺬِّﺋَﺎﺏِ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﺃَﺑِﻲ ﻳَﻐْﺘَﺮُّﻭﻥَ ﺃَﻡْ ﻋَﻠَﻲَّ ﻳَﺠْﺘَﺮِﺋُﻮﻥَ ﻓَﺒِﻲ ﺣَﻠَﻔْﺖُ ﻟَﺄَﺑْﻌَﺜَﻦَّ ﻋَﻠَﻰ ﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻓِﺘْﻨَﺔً ﺗَﺪَﻉُ ﺍﻟْﺤَﻠِﻴﻢَ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﺣَﻴْﺮَﺍﻧًﺎ .
"Akan muncul di akhir zaman orang-orang yang mencari dunia dengan menjual agamanya. Di hadapan manusia mereka memakai baju dari bulu domba untuk memberi kesan kerendahan hati mereka, lisan mereka lebih manis (pandai berbicara/berdakwah) dari gula namun hati mereka adalah hati serigala (sangat menyukai harta dan kedudukan). Allah berfirman : “Apakah dengan-Ku kalian tertipu ataukah kalian berani kepada-Ku. Demi Diriku, Aku bersumpah. Aku akan mengirim bencana dari antara mereka sendiri yang menjadikan orang-orang santun menjadi kebingungan (apalagi selain mereka) sehingga mereka tidak mampu melepaskan diri darinya". (HR: Tirmidzi dengan sanad hasan menurut syaikh Al Bani).

Bahaya Ulama jahat dan Menyesatkan umat
pentolan syiah iran
Ulama suu’ (sesat/jahat) akan menyuguhkan keburukan dalam bentuk kebaikan, membungkus kesesatan dengan kebaikan. Mereka sanggup membungkus kebatilan dengan cover sebuah kebenaran. Semua itu dilakukan dalam rangka untuk menjilat para penguasa (pemimpin) dan orang-orang kafir demi untuk mendapatkan kedudukan, pangkat, jabatan, penghargaan atau apa saja dari kenikmatan dunia yang ada di tangan mereka_.

SIFAT DAN CIRI ULAMA SUU'

1. Mereka Senang Mendatangi pintu-pintu penguasa Dan Membela Kedzalimannya

Sebagaimana perkataan sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman ra :

ﺇِﺫَﺍ ﺭَﺃَﻳْﺘُﻢُ ﺍﻟْﻌَﺎﻟِﻢَ ﺑِﺒَﺎﺏِ ﺍﻟْﺴُﻠْﻄَﺎﻥِ ﻓَﺎﺗَّﻬَﻤُﻮْﺍ ﺩِﻳْﻨَﻪُ ، ﻓَﺈِﻧَّﻬُﻢْ ﻻَ ﻳَﺄْﺧُﺬُﻭْﻥَ ﻣِﻦْ ﺩُﻧْﻴَﺎﻫُﻢْ ﺷَﻴْﺌﺎً ﺃَﺧَﺬُﻭﺍ ﻣِﻦْ ﺩِﻳْﻨِﻬِﻢْ ﺿِﻌْﻒ .
Jika kalian melihat seorang alim (ulama) mendatangi pintu-pintu penguasa, maka dia tertuduh rusak agamanya (aqidahnya). Maka tidaklah para ulama’ itu mengambil sebagian dari keuntungan dunia dari para penguasa, kecuali para penguasa tersebut akan mengambil bagian dari agama (aqidah) ulama’ itu secara sebanding (HR: Ahmad).

2. Mereka Menyeru (Mengajak) Ke Pintu-Pintu Neraka Jahannam

Sebagaimana dijelaskan dalam hadits panjang dari Sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman ra :

ﻗُﻠْﺖُ ﻓَﻬَﻞْ ﺑَﻌْﺪَ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻣِﻦْ ﺷَﺮٍّ ﻗَﺎﻝَ ﻧَﻌَﻢْ ﺩُﻋَﺎﺓٌ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏِ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ ﻣَﻦْ ﺃَﺟَﺎﺑَﻬُﻢْ ﺇِﻟَﻴْﻬَﺎ ﻗَﺬَﻓُﻮﻩُ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻗُﻠْﺖُ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻِﻔْﻬُﻢْ ﻟَﻨَﺎ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻫُﻢْ ﻣِﻦْ ﺟِﻠْﺪَﺗِﻨَﺎ ﻭَﻳَﺘَﻜَﻠَّﻤُﻮﻥ ﺑِﺄَﻟْﺴِﻨَﺘِﻨَﺎ .
"Aku bertanya: Apakah setelah kebaikan akan muncul lagi keburukan..? Beliau menjawab: Ya, yaitu para penyeru (pendakwah) yang mengajak ke pintu-pintu neraka jahannam. Siapa yang menerima ajakan mereka, maka akan dilemparkan ke dalam neraka jahannam. Aku kembali bertanya: Wahai Rasulullah, sebutkan sifat-sifat (ciri-ciri) mereka kepada kami..? Beliau menjelaskan: Mereka itu berasal dari kulit-kulit kalian dan berbicara dengan bahasa kalian (yaitu pandai berbicara)". (HR: Bukhari).

3. Suka Menyembunyikan Kebenaran Dan Menyelewengkan Ayat-Ayat Allah Dan Hadits-Hadits Nabi

Sebagaimana dijelaskan Allah Ta'ala dalam firman-Nya:

اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْتُمُوْنَ مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ الْکِتٰبِ وَ يَشْتَرُوْنَ بِهٖ ثَمَنًا قَلِيْلًا ۙ اُولٰٓئِكَ مَا يَأْكُلُوْنَ فِيْ بُطُوْنِهِمْ اِلَّا النَّارَ وَلَا يُکَلِّمُهُمُ اللّٰهُ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَلَا يُزَکِّيْهِمْ ۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَ لِيْمٌ .
"Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Qur'an , dan menjualnya dengan harga murah, mereka hanya menelan api neraka ke dalam perutnya dan Allah tidak akan menyapa mereka pada hari Kiamat, dan tidak akan menyucikan mereka. Mereka akan mendapat azab yang sangat pedih". [QS. Al-Baqarah: 174].

✏ Semoga kita semakin mengerti dan paham tentang sifat dan ciri ulama su' (yaitu buruk, jahat dan menyesatkan umat) ditengah-ditengah kita, apalagi dizaman yang penuh dengan fitnah (ujian) ini, maka ambillah ilmu dari orang yang jujur dalam menyampaikan kebenaran, maka kita akan selamat*.

✅ Semoga bermanfaat selalu...Barakallahu fikum
Baca selengkapnya »
Penjelasan tentang Tauhid Uluhiyyah

Penjelasan tentang Tauhid Uluhiyyah

Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah dengan perbuatan para hamba berdasarkan niat taqarrub (mendekatkan diri) yang disyari’atkan seperti do’a, nadzar, kurban, raja’ (pengharapan), takut, tawakkal, raghbah (senang), rahbah (takut) dan inabah (kembali/taubat). Dan jenis tauhid ini adalah inti dakwah para rasul, mulai rasul yang pertama hingga yang terakhir. Allah berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu’.” (QS. An-Nahl: 36)

Juga firman Allah, artinya, “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku’.” (QS. Al-Anbiya’: 25)

Penjelasan tentang Tauhid Uluhiyyah

Setiap rasul selalu melalui dakwahnya dengan perintah tauhid uluhiyah. Sebagaimana yang diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib, dan lain-lain, artinya, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagi-mu selain-Nya.” (QS. Al-A’raf: 59, 65, 73, 85)

“Dan ingatlah Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya, ‘Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepada-Nya’.” (QS. Al-Ankabut: 16)

Dan diwahyukan kepada Nabi Muhammad:

قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama’.” (QS. Az-Zumar: 11)

Tauhid ini adalah inti dari dakwah para rasul, karena ia adalah asas dan pondasi tempat dibangunnya seluruh amal. Tanpa merealisasikannya, semua amal ibadah tidak akan diterima. Karena kalau ia tidak terwujud, maka bercokollah lawannya, yaitu syirik. Sedangkan Allah berfirman, artinya, “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi” (QS. Az-Zumar: 65)

Dan tauhid jenis ini adalah kewajiban pertama segenap hamba. Allah berfirman, artinya, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak “ (QS. An-Nisa’: 36)

Sumber Kitab tauhid jld 1
Penulis : Syaikh sholeh bin fauzan al fauzan
Penerbit : Darulhaq
www.darulhaq.com
Baca selengkapnya »
Beranda
-->