-->
Ahlan wa Sahlan di situs dakwahpost.com | menebar ilmu dan menyaring berita yang layak dikonsumsi dll
Hukum Muslimah Memakai Jaket Di Luar Rumah

Hukum Muslimah Memakai Jaket Di Luar Rumah

📝Pakaian adalah salah satu nikmat Allah Ta’ala. Allah jadikan manusia memiliki pakaian-pakaian yang memberikan banyak maslahah untuk manusia. 

☝🏻Allah Ta’ala berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan” (QS. Al A’raf: 32).

Dan semua yang Allah ciptakan di bumi ini adalah untuk kemaslahatan manusia. Maka hukum asal masalah pakaian adalah mubah. 

Islam tidak membatasi jenis pakaian tertentu yang boleh dipakai, atau warna tertentu, atau model tertentu. Hukum asal semua pakaian adalah mubah, selama tidak mengandung perkara yang dilarang syariat. 

☝🏻Allah Ta’ala berfirman

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat” (QS. Al A’raf: 32).

📜Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُوا وَتَصَدَّقُوا وَالْبَسُوا فِي غَيْرِ إِسْرَافٍ وَلَا مَخِيلَةٍ
“Makanlah (makanan yang halal) dan bersedekahlah, serta pakailah pakaian (yang halal) tanpa berlebih-lebihan dan tanpa bersombong diri” (HR. An Nasa-i no.2559, dihasankan Al Albani dalam Shahih An Nasa-i).

⚠️ Perhatikan dalil-dalil di atas, Allah dan Rasul-Nya menghalalkan pakaian secara umum. 

Dari sini para ulama menarik sebuah kaidah fiqih:

الأصل في العبادات الحظر، و في العادات الإباحة
“Hukum asal ibadah adalah terlarang, sedangkan hukum asal adah (muamalah) adalah boleh”.

‘Adah adalah semua perkara non-ibadah, misalnya makanan, minuman, pakaian, pekerjaan, alat-alat, dan lainnya. Semuanya halal dan boleh selama tidak diketahui ada dalil yang mengharamkannya. 

👤Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sadi menjelaskan: 

Semua perkara adah baik berupa makanan, minuman, pakaian, kegiatan-kegiatan non-ibadah, muamalah, pekerjaan, hukum asalnya mubah dan halal. Orang yang mengharam perkara ‘adah, padahal Allah dan Rasul-Nya tidak mengharamkan, ia adalah mubtadi (Qawaid Wal Ushul Al Jamiah, hal.74).

📝 Maka perkara ‘adah, termasuk pakaian ataupun makanan, bisa berubah menjadi haram jika mengandung hal-hal yang diharamkan syariat.

📝Hukum Memakai Jaket Bagi Wanita

👤Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullah ketika ditanya mengenai hukum wanita memakai jaket di luar jilbabnya, beliau menjelaskan: 

“Yang penting, wanita wajib menutup dirinya dengan pakaian yang sempurna ketika keluar rumah, dengan menggunakan jenis pakaian apa saja yang bisa menutup dengan sempurna. Adapun hukum jenis pakaian secara spesifik, maka ini tergantung keadaannya dan kebutuhannya. Hukum asal jenis-jenis pakaian wanita tidaklah terlarang kecuali yang menyerupai lelaki. Tidak boleh menggunakan pakaian khas lelaki. Hendaknya hanya menggunakan pakaian-pakaian khas wanita.

Dalam hadits disebutkan,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنْ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنْ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai laki-laki (HR. Bukhari no. 5435).

⚠️Maka tidak boleh menyerupai lawan jenis. Laki-laki punya pakaian khas laki-laki dan wanita juga punya pakaian khas wanita”

https://muslimah.or.id/11076-bolehkah-wanita-memakai-jaket-di-luar-rumah.html
Read more »
Manhaj Salaf Dalam Menyikapi Para Penyimpang

Manhaj Salaf Dalam Menyikapi Para Penyimpang

Syaikh Fauzan Al-Fauzan Hafidzahullahu Ta’ala ditanya tentang bagaimana menyikapi jamaah-jamaah Islam yang ada saat ini. 

Kemudian beliau dilontarkan kepadanya pertanyaan “Wahai Syaikh, ketika kita memperingatkan satu kelompok tertentu yang jelas penyimpangannya besar, apakah kita peringatkan tanpa menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka, atau kita harus menyebutkan kebaikan-kebaikannya sekaligus keburukan-keburukannya?”

Karena ada pemahaman yang mengharuskan hal ini. Sehingga mereka mengkritik metode Ahlus Sunnah wal Jama’ah ketika membantah penyimpangan yang hanya menyebutkan keburukan-keburukan tersebut. 

Mereka mensyaratkan bahwa harus menyebutkan juga kebaikannya. Apakah ini manhaj yang benar?

🔰 Maka Syaikh Shalih Fauzan Hafidzahullah berkata bahwa kalau kamu menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka itu maknanya kamu mempromosikan mereka. *_Tidak boleh, kamu tidak perlu menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka. Sebutkan kesalahan yang mereka lakukan saja_*

 Karena bukan merupakan tugasmu untuk meluruskan semua keadaannya. Yang merupakan tugasmu adalah menjelaskan kesalahan yang mereka lakukan supaya mereka bertaubat darinya. 

*_Dan supaya kaum muslimin yang lain bisa berhati-hati dan menjauhi kesalahan tersebut._*

 Adapun kalau kamu sebutkan kebaikan-kebaikan mereka, mereka malah mengatakan “inilah yang kami inginkan” yakni karena dengan sebab ini mereka justru dipromosikan dan orang-orang justru akan tertarik dengan kebaikan-kebaikan tersebut. Sehingga tujuannya memberikan peringatan tidak tercapai dengan cara seperti ini.

Ini juga pernyataan yang semakin menguatkan metode para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah ketika memperingatkan tentang kesalahan. Mereka benar-benar membahas kesalahan tersebut karena tujuannya adalah untuk menjauhi kesalahan-kesalahan tadi, bukan untuk merinci semua kebaikan dan keburukan yang ada pada orang yang sedang dikritik tersebut.

Simak melalui: https://youtu.be/Z1tI7WSPV_A
Read more »
Fakta sejarah dibalik islamnya Napoleon kaisar Prancis, ini Tujuannya

Fakta sejarah dibalik islamnya Napoleon kaisar Prancis, ini Tujuannya

🌎 NAPOLEON KAISAR PERANCIS AWALNYA TIDAK DAPAT MASUK MENJAJAH
NEGERI-NEGERI ISLAAM KECUALI SETELAH BERPURA-PURA MASUK ISLAM MENJADI MUALAF

Napoleon Bonaparte, Raja Perancis pada Abad XIX Masehi, tidak punya cara untuk menguasai jantung Dunia Arab dan Muslim, kecuali dengan mengumumkan bahwa dirinya masuk Islaam. Kemudian dengan kekuatan, ia pun menguasai umat Islaam, atas nama Din (Agama). 

Para Orientalis yang menjadi perintis Kolonialisme —setelah mempelajari situasi bangsa Arab dan budaya Muslim — membisiki Napoleon, bahwa kaum Muslimiin itu berutang ketaatan kepada siapa saja yang menguasai mereka dengan kekuatan dan pedang, selama orang yang bersangkutan menampakkan keIslaman, meskipun berpura-pura. 

Setelah tentara Napoleon memasuki jantung Dunia Arab — di Kairo pada waktu itu — tersebarlah berita bahwa dirinya telah berislaam. 

Karena Imaan pada waktu itu dipahami oleh kaum Muslimiin secara umum sebatas keyakinan dan pengakuan tanpa amal serta konsisten dengan Syari'at Islam, maka Napoleon pun dianggap sebagai seorang Muslim. 

Juga, karena Penguasa dalam pandangan kaum Muslimin hanya disebut Penguasa yang sah sesuai Islaam melalui penaklukan dengan kekuatan, maka Napoleon pun menjadi Amir bagi kaum Muslimiin. 

Hal yang tidak berbeda juga pernah terjadi pada Abad VIII Hijriyyaah, yakni ketika Tartar menunjukkan diri masuk Islaam. 

Ketika tentara mereka menyerbu wilayah Syam (kini menjadi negara Palestina, Suriah, Libanon, Yordani), maka Syaikhul Islam 'Ibnu Taimiyyah mendesak kaum Muslimin untuk berjihad melawan mereka. 

Namun, para ulama dan ahli Fiqh zaman itu tidak setuju dengan pemikiran 'Ibnu Taimiyyah, dan menyangkal usulannya dengan dalih bahwa Tartar telah menjadi Muslim. 

Sejarawan besar 'Ibnu Katsir dalam kitab sejarahnya telah mengungkap rahasia di balik peristiwa yang terjadi pada tahun 702 Hijriyyaah tersebut. Ia menyebutkan adanya krisis pemikiran yang menyebabkan kemerosotan kaum muslimin. 

'Ibnu Katsir mengatakan:

“Kaum Muslimiin belum juga menemukan cara untuk melawan Tartar karena mereka menampakkan keIslaman, bukan bughot (memberontak) atau orang-orang yang membangkang terhadap Imaam kaum Muslimiin. Mereka bukanlah orang-orang yang taat pada suatu waktu lalu menyelisihi Imaam.” 

Dalam hal ini 'Ibnu Taimiyyah membuat tulisan yang menjelaskan hukum terkait persoalan tersebut. Ia menyebutkan banyak hujjah atau argumen tentang perlunya jihad melawan Tartar. 

Ia pun menyerukan jihad, bukan untuk meyakinkan masyarakat awam, melainkan meyakinkan para ulama senior pada zamannya, yang menyangkal pemikirannya dan menyebabkan umat enggan berjihad. 

Ulama pada waktu itu justru menyerahkan umat ini kepada musuh, dan mengeluarkan argumen-argumen untuk melegitimasi kenyataan. 

Bahkan, ahli Fiqh zaman itu mampu menghadapi gerakan reformasi Syaikhul Islam dan memupusnya. Selanjutnya, atas nama Din, mereka menjebloskan Ibnu Taimiyyah ke dalam penjara. 

Jadi, tragedi umat ini terulang setiap zaman. Penyebabnya adalah lenyapnya pemahaman yang shohih tentang Islaam, dan maraknya pemikiran untuk mendistorsi Din dari kehendak Allaah dan Rosul-Nya. 

Ayat-ayat Al-Qur’aan dan Hadits ditafsirkan sesuai selera, untuk melegitimasi setiap penyimpangan, dan pembenaran setiap kenyataan yang batil. 

Din (Agama) dieksploitasi untuk mempertahankan realitas yang jauh menyimpang dari karakter kejayaan Islaam masa lalu. 

Itulah sebabnya, Kolonisasi baru tidak mengalami kesulitan memanfaatkan Islaam itu sendiri untuk pertahanan kehadiran pemikiran dan penjajah asing. 

Bahkan, semua sistem yang datang untuk menguasai Dunia Arab mulai dari aliran yang paling kiri, Marxisme, sampai aliran Liberal yang paling kanan mampu mempekerjakan banyak ulama untuk membantu kesuksesan misi aliran asing tersebut. 

Para ulama itu membela dan melegitimasi semua tindakan mereka atas nama Din (Agama), meskipun sejatinya menghancurkan Din itu sendiri. 

Kita menunggu 'Ibnu Taimiyyah baru untuk menggugah ingatan para ulama yang keblinger!

Prof. Dr. Hakim Al-Muthairi 
Guru Besar Tafsir dan Hadits Fakultas Syariah, Universitas Kuwait.

Disunting dari terjemahan Abu Ahmad. 🌿

إسلام نابليون
http://www.dr-hakem.com/Portals/Content/?info=TlRZMUpsTjFZbEJoWjJVbU1RPT0rdQ==.jsp

Read more »
10 prinsip Islam Wasathiyah

10 prinsip Islam Wasathiyah

Islam Wasathiyah adalah “Islam Tengah” untuk terwujudnya umat terbaik (khairu ummah). 

Sebagai seorang da'i/ustadz kita harus faham betul tentang Wasathiyah ini.

Berikut ini 10 prinsip Islam Wasathiyah berdasarkan penjelasan MUI :

1. Tawassuth (mengambil jalan tengah), yaitu pemahaman dan pengamalan yang tidak *ifrath* (berlebih-lebihan dalam beragama) dan *tafrith* (mengurangi ajaran agama). 

2. Tawazun (berkeseimbangan), yaitu pemahaman dan pengamalan agama secara seimbang yang meliputi semua aspek kehidupan, baik duniawi maupun ukhrawi, tegas dalam menyatakan prinsip yang dapat membedakan antara inhiraf (penyimpangan) dan ikhtilaf (perbedaan). 

3. I’tidal (lurus dan tegas), yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya dan melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban secara proporsional.

 4. Tasamuh (toleransi), yaitu mengakui dan menghormati perbedaan, baik dalam aspek keagamaan dan berbagai aspek kehidupan lainnya.

 5. Musawah (egaliter), yaitu tidak bersikap diskriminatif pada yang lain disebabkan perbedaan keyakinan, tradisi dan asal usul seseorang. 

6. Syura (musyawarah), yaitu setiap persoalan diselesaikan dengan jalan musyawarah untuk mencapai mufakat dengan prinsip menempatkan kemaslahatan di atas segalanya. 

7. Ishlah (reformasi), yaitu mengutamakan prinsip reformatif untuk mencapai keadaan lebih baik yang mengakomodasi perubahan dan kemajuan zaman dengan berpijak pada kemaslahatan umum ( mashlahah ‘amah) dengan tetap berpegang pada prinsip al-muhafazhah ‘ala al-qadimi al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah.

8. Aulawiyah (mendahulukan yang prioritas), yaitu kemampuan mengidentifikasi hal ihwal yang lebih penting harus diutamakan untuk diimplementasikan dibandingkan dengan yang kepentingannya lebih rendah.

9. Tathawwur wa Ibtikar (dinamis dan inovatif), yaitu selalu terbuka untuk melakukan perubahan-perubahan sesuai dengan perkembangan zaman serta menciptakan hal baru untuk kemaslahamatan dan kemajuan umat manusia.

 10. Tahadhdhur (berkeadaban), yaitu menjunjung tinggi akhlakul karimah, karakter, identitas, dan integritas sebagai khairu ummah dalam kehidupan kemanusiaan dan peradaban. 

Tanjung Morawa, Kamis 4 Agustus 2022.
Ust. Muhammad Ihsan
Read more »
7 Perumpamaan Orang Mukmin dalam hadits nabi

7 Perumpamaan Orang Mukmin dalam hadits nabi


DALAM hadits, Rasulillah Muhammad banyak menyampaikan/memberikan perumpamaan.

Semua Perumpamaan itu dimaksudkan sebagai pelajaran bagi orang-orang yang berakal.

Tujuh Perumpamaan Orang Mukmin

1.Bagaikan Pohon:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ الزَّرْعِ لَا يَزَالُ الرِّيحُ تُفِيئُهُ وَلَا يَزَالُ الْمُؤْمِنُ يُصِيبُهُ بَلَاءٌ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ كَمَثَلِ شَجَرَةِ الْأَرْزَةِ لَا تَهْتَزُّ حَتَّى تُسْتَحْصَدَ
Rasulullah ﷺ bersabda, "Seorang mukmin itu semisal tanaman yang selalu ditiup oleh angin, dan seorang mukmin akan senantiasa tertimpa bencana, sedangkan orang munafik semisal pohon padi yang tidak pernah bergoyang sehingga ia dipanen." HR. Ahmad 7480

 رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ خَامَةِ الزَّرْعِ يَفِيءُ وَرَقُهُ مِنْ حَيْثُ أَتَتْهَا الرِّيحُ تُكَفِّئُهَا فَإِذَا سَكَنَتْ اعْتَدَلَتْ وَكَذَلِكَ الْمُؤْمِنُ يُكَفَّأُ بِالْبَلَاءِ وَمَثَلُ الْكَافِرِ كَمَثَلِ الْأَرْزَةِ صَمَّاءَ مُعْتَدِلَةً حَتَّى يَقْصِمَهَا اللَّهُ إِذَا شَاءَ
Rasulullah ﷺ bersabda, "Perumpamaan orang mukmin adalah bagai dahan tumbuhan yang daunnya miring sesuai tempat datangnya angin, namun jika telah tenang, dahan itu bisa kembali lurus. Demikian pula seorang mukmin, terkadang dalam keadaan miring karena ujian. Sebaliknya perumpamaan orang kafir bagaikan pohon padi yang lurus dan keras, sehingga Allah (dengan mudah) mematahkannya kapan saja sekehendak-Nya." HR. Bukhari 6912

2.Bagaikan Bangunan

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.” [Shahih Muslim No.4684]

3.Bagaikan Tubuh

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]

4.Bagaikan Cermin

الْمُؤْمِنُ مِرَآةُ أَخِيْهِ، إِذَا رَأَى فِيْهِ عَيْباً أَصْلَحَهُ
“Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya. Jika dia melihat suatu aib pada diri saudaranya, maka dia memperbaikinya.” [sanadnya Hasan]

5.Bagaikan Lebah

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ مَثَلُ النِّحْلَةِ ، إِنْ أَكَلَتْ أَكَلَتْ طَيِّبًا ، وَإِنْ وَضَعَتْ وَضَعَتْ طَيِّبًا ، وَإِنْ وَقَعَتْ عَلَى عُودِ شَجَرٍ لَمْ تَكْسِرْهُ
“Perumpamaan seorang Mukmin seperti lebah, apabila ia makan maka ia akan memakan suatu yang baik. Dan jika ia mengeluarkan sesuatu, ia pun akan mengeluarkan sesuatu yang baik. Dan jika ia hinggap pada sebuah dahan untuk menghisap madu ia tidak mematahkannya.” (HR. Al-Baihaqi]

6.Bagaikan Pohon Kurma

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ مَثَلُ النَّخْلَةِ , مَا أَخَذْتَ مِنْهَا مِنْ شَيْءٍ نَفَعَكَ.
Artinya: ” Perumpamaan seorang mukmin itu seperti pohon kurma, apapun yang engkau ambil darinya pasti bermanfaat bagimu.” (HR: Thobrani)

7.Bagaikan Emas

مَثَلَ الْمُؤْمِنِ مَثَلَ سَبِيْلَةِ الذَّهَبِ إِنَّ نَفَخَتْ عَلَيْهَا اَحَمَرَتْ وَإِنَّ وَزَنَتْ لَمْ تَنْقُصْ.
“Perumpamaan seorang mukmin seperti lempengan emas, kalau engkau meniupkan (api) diatasnya ia menjadi merah, kalau engkau menimbangnya, tidaklah berkurang.” (HR. Baihaqi)

Pelajaran Moral:

1. Ujian dalam kehidupan adalah sebuah keniscayaan.

 Suka dan duka akan mengitari kehidupan. Namun ia tetap tegar, sabar dan tawakkal.

Tidak ada ujian tanpa jalan keluar.

Tidak ada kesusahan tanpa penawar kebahagiaan. Ke kanan atau ke kiri, berada di atas atau bawah, seorang mukmin akan tegar menghadapi ujian hidup.

2. Kerjasama adalah kunci merajut kebersamaan.

 Tidak egois dan merasa diri paling penting dan berjasa. Gotong royong dan tenggang rasa merupakan sikap mukmin yang harus dibangun dalam diri.

3. Suka-duka dilalui bersama. 

Ringan sama dijinjing, ringan sama dipikul. Sikap saling memiliki merupakan lambang persaudaraan sejati.

4. Cermin adalah tempat untuk mengetahui apa yang sudah baik dan apa yang masih belum sempurna.

 Kebaikan yang ada semoga menjadi teladan bagi orang lain. Sedangkan kekurangan atau keburukan menjadi sentilan bagi diri sendiri untuk memperbaiki dan bagi diri orang lain, untuk tidak menyontohnya.

5. Seorang mukmin mampu menempatkan diri pada posisinya.

Orang zalim akan meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Orang mukmin hanya melakukan yang baik-baik, makan yang baik-baik, berkata yang baik-baik. 

Apapun keadaannya, ia akan berusaha melakukan yang baik-baik.

6. Orang mukmin adalah orang yang punya konstribusi besar kepada sesama.

Apapun akan ia lakukan asal itu untuk kebaikan bagi orang lain dan tidak melanggar perintah Allah Subhanahu Wata’ala.

Keberadaan seorang mukmin bermanfaat bagi orang banyak.

7. Menjadi mukmin seumpama menjadi emas, kokoh, tidak luluh dan menyerah dengan keadaan. Ia kukuh berpijak di atas kebenaran, tidak melebur dan mengikuti arus begitu saja. Namun ia punya prinsip.

Masih banyak sekali perumpaman yang disampaikan Rasulullah Muhammad dalam hadits nya, juga termasuk dalam al-Qur’an.

Berbagai perumpamaan ini hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang berakal.

Oleh Ali Akbar bin Agil
Read more »
DOA BERLINDUNG DARI DICABUTNYA NIKMAT LAHIR BATIN

DOA BERLINDUNG DARI DICABUTNYA NIKMAT LAHIR BATIN


Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, dia berkata, “Di antara doa Rasulullah ﷺ adalah:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu

• Dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan,

• Dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan,

• Dari siksa-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan

• Dari segala kemurkaan-Mu.

Faidah Doa:

1. Yang dimaksud nikmat di sini adalah nikmat Islam, iman, anugerah ihsan (berbuat baik) dan kebajikan. Jadi dalam doa ini kita berlindung dari hilangnya nikmat-nikmat tersebut. Maksud hilangnya nikmat adalah nikmat tersebut hilang dan tanpa ada penggantinya.

2. Yang dimaksud dengan berubahnya kesehatan (‘afiyah) adalah nikmat sehat tersebut berubah menjadi sakit. Yang dimaksud dengan ‘afiyah (sehat) di sini adalah berpindahnya nikmat ‘afiyah dari pendengaran, penglihatan dan anggota tubuh lainnya. Jadi doa ini kita maksudkan meminta selalu kesehatan (tidak berubah menjadi penyakit) pada pendengaran, penglihatan dan anggota tubuh lainnya.

3. Yang dimaksud fuja’ah adalah datang tiba-tiba. Sedangkan “niqmah” adalah siksa dan murka. Dalam doa ini berarti kita berlindung kepada Allah dari datangnya azab, siksa dan murka Allah yang tiba-tiba.

4. Dalam doa ini, kita juga meminta pada Allah agar terlindung dari murka-Nya yaitu segala hal yang dapat mengantarkan pada murka Allah.

Semoga doa ini bisa kita amalkan dan mendapatkan berbagai anugerah.

Referensi: ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, Al ‘Azhim Abadi, 4/283, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut, tahun 1415.

Penulis: dr. Adika Mianoki

Sumber: https://muslim.or.id/27406-doa-berlindung-dari-hilangnya-nikmat-dan-kesehatan.html
Read more »
Meluruskan tuduhan strategi salafi menguasai masjid ormas

Meluruskan tuduhan strategi salafi menguasai masjid ormas

Sedemikian "menakutkan" kah SALAFI itu?😁

Setahu saya selama bermuamalah, berkumpul, ngaji bareng, dauroh dll...tdk pernah ada tema "strategi ini/itu blablabla.."

Teman2 saya asatidz salafi itu dikasih kursi bawah pohon bisa ngajar ngaji anak2 TPA aja insya Allah sangat bahagia & bersyukur..

Insya Allah tdk ada mikir2 bikin rencana masuk apalagi menguasai masjid2 NU/Muhammadiyah/Hidayatullah/atau yg lain...
Ini sikap secara umum, kalo ada 1-2 oknum yg terkesan demikian anggap saja sbg pengecualian sbgmn di muhammadiyyah ada profesor2 liberal dan di nu ada dukun2 yg berlindung dibalik baju Banser.

Yg saya saksikan sendiri...beberapa masjid yg mati/hampir mati dr sholat jamaah dipelihara oleh sbgn ustadz salafi smp cukup makmur & bejibun jamaah pengajian justru dilepas untuk diaku-aku sbg masjid ormas tertentu.

Masjid yg semula murni disebut "Rumah Allah" bagi seluruh kaum muslimin akhirnya terpasang papan nama "masjid ormas" (tidak salah sih, selama tdk jadi sumber kefanatikan)

Kalo ada ustadz salafi pingin nguasai masjid, silakan tendang aja dari kepengurusan masjid. 

Tp kalo ada ustadz salafi ngajar ngaji di suatu masjid terus jamaahnya bejibun, sementara ustadz ormas lain sepi...mbok ya ayo sama2 introspeksi diri. Jangan ustadz salafi itu justru dicurigai/didepak dari jadwal kajian...kita butuh ustadz2 yg mampu menyemangati, merawat dan memotivasi jamaah kaum muslimin.

Kalo ustadznya masih muda, terlalu bersemangat shg adabnya buruk silakan berkomunikasi dg gurunya agar mdnasihati ustadz muda tsb. 

Begitu nggih....salafi bukan momok yg patut ditakuti ....salam & senyum 😃

Read more »
Beranda