-->
Ahlan wa Sahlan di situs dakwahpost.com | menebar ilmu dan menyaring berita yang layak dikonsumsi dll
Meluruskan pernyataan KH Mustofa Bisri bahwa syeikh bin baz rahimahullah Tinggal di istana

Meluruskan pernyataan KH Mustofa Bisri bahwa syeikh bin baz rahimahullah Tinggal di istana

saya akan membela syaikh bin baz Rahimahullah dari tuduhan orang ini dalam ceritanya .

Kesederhanaan Syekh Bin baz yg katanya dongeng pak mus di di video , pak mus mengatakan syaikh bin baz punya ISTANA PERISTIRAHATAN DAN suka LEYEH LEYEH 

--------------

Syaikh Ibnu Baz adalah seorang yang sangat tidak perhatian dengan dunia sebagaimana yang bisa kita ketahui dari keadaan beliau. Terlebih jika kita tahu bahwa beliau itu tidak memiliki rumah!!!.

Dr Zahrani pernah berupaya untuk meminta izin kepada beliau untuk membeli rumah yang biasa beliau tempati jika berada di Mekah karena rumah tersebut biasanya cuma disewa. Komentar beliau,

“Palingkan pandanganmu dari topik ini. Sibukkan dirimu untuk mengurusi kepentingan kaum muslimin”.

Suatu ketika Raja Faishal berkunjung ke kota Madinah dan Syeikh Ibnu Baz ketika itu adalah rektor Universitas Islam Madinah. Ketika itu raja Faishal berkunjung ke rumah Syeikh Ibnu Baz. Saat itu raja Faishal berkata kepada beliau,

“Kami akan bangunkan rumah yang layak untukmu”.

Menanggapi hal tersebut, beliau hanya diam dan tidak berkomentar. Akhirnya rumah pun dibangun. Ketika panitia pembangunan mau membuat surat kepemilikan rumah atas nama Syeikh Ibnu Baz beliau berkata,

“Jangan. Buatlah surat kepemilikan rumah tersebut atas nama rektor Universitas Islam Madinah sehingga jika ada rektor baru penggantiku maka inilah rumah kediamannya”.

Syeikh Ibnu Baz itu memiliki daya ingat yang luar biasa. Jika kita bertemu dan mengucapkan salam kepada beliau dan kita pernah mengucapkan salam kepada beliau beberapa tahun sebelumnya maka beliau pasti masih mengenal kita.

Bahkan ada orang yang bercerita bahwa dia bertemu dan mengucapkan salam kepada Syeikh Ibnu Baz setelah lima belas tahun ternyata Syeikh Ibnu Baz masih ingat dengan namanya.

Akan tetapi yang lebih mengherankan adalah kemampuan beliau untuk menghafal jilid dan halaman buku. Bahkan beliau bisa mengoreksi beberapa buku dengan bermodalkan hafalan beliau.

Syeikh Syinqithi, penulis Adhwa-ul Bayan, itu tergolong guru Syeikh Ibnu Baz. Beliau adalah seorang pakar dalam ilmu syar’i dengan kekuatan hafalan yang tidak tertandingi. Syeih Ibnu Baz sering menghadiri ceramah-ceramah yang disampaikan oleh Syiekh Syinqithi. Beliau kagum dengan cepatnya Syeikh Syinqithi dalam penyampaiannya. Dalam salah satu kaset Syeikh Ibnu Baz mengungkapkan kekagumannya dengan mengatakan, “Maa syaallah. Maa syaallah”.

Satu hari Syeikh Syinqithi sejak usai shalat Shubuh sampai watu dhuha mencari-cari sebuah hadits yang dinyatakan oleh Ibnu Katsir ada dalam sunan Abu Daud. Beliau bolak-balik kitab sunan Abu Daud namun beliau tidak kunjung mendapatkannya. Syeikh Syinqithi berkata,

“Aku tidak menyalahkan Ibnu Katsir namun aku belum mendapatkannya. Ketika aku sedang asyik mencari tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu. Aku lantas berdiri dan membuka pintu”.

Ternyata Syeikh Ibnu Baz yang datang bertamu. Ketika Ibnu Baz masih di depan pintu dan belum masuk ke dalam rumah, Syeikh Syinqithi berkata,

“Ya Syekh Abdul Aziz, Ibnu Katsir menyebutkan bahwa hadits yang bunyinya demikian dan demikian itu ada di Sunan Abu Daud. Sejak usai shalat Shubuh kucari-cari hadits tersebut namun tidak kudapatkan. Di manakah hadits tersebut?”.

Syeikh Ibnu Baz berkata,

“Ada…ada di kitab ini halaman sekian”.

Syeikh Syinqithi,

“Sekarang silahkan masuk ya Syeikh”.

Syeikh Ibnu Baz memiliki daya ingat yang luar biasa. Ini disebabkan tentunya karunia Allah kemudian beliau adalah seorang yang tidak pernah lepas dari berdzikir. Lisan beliau selalu basah untuk berdzikir mengingat Allah. Beliau senantiasa berdzikir. Ini adalah sebuah realita yang bisa disaksikan oleh orang yang bertemu dengan beliau meski sejenak.

Syeih Ibnu Baz mulai mengisi kajian dan menyebaran ilmu sejak belia. Dalam sebuah wawancara yang dilakukan oleh sebuah majalah yang bernama al Majallah dengan Ibnu Baz terdapat dialog sebagai berikut.

Al Majallah, “Sungguh engkau adalah seorang hakim akan tetapi engkau mendapatkan popularitas yang luas berbagai dengan para hakim yang lain. Apa rahasianya?”
Jawaban beliau,

“Kami bertugas sebagai hakim. Setelah jam kerja berakhir kami mengisi berbagai kajian. Kami adakan berbagai kajian keislaman dan kami terus mengajar dan mengisi pengajian sehingga Allah jadian kami manusia yang bermanfaat bagi banyak orang”.

Beliau memang memiliki pandangan khas tentang tugas seorang hakim peradilan syariah. Beliau berpandangan bahwa seorang hakim tidak cukup dengan menjalankan tugasnya di pengadilan. Beliau mencela para hakim yang bersikap semacam itu.

Beliau pernah mengatakan,

“Jika seorang hakim hanya mencukupkan diri memutuskan sengketa tentang onta, keledai, sapi dan kambing atau semisalnya maka tidak ada kebaikan pada dirinya. Bahkan tugas hakim yang paling penting adalah amar makruf nahi munkar, berdakwah, memperbaiki lingkungan sekitarnya, mewujudkan kemaslahatan kaum muslimin dan menghubungkan orang-orang yang memerlukan untuk dihubungkan”.

Ketika Ibnu Baz menjadi hakim di daerah Dalm, beliau memiliki kursi terbuat dari tanah di tengah-tengah pasar. Di situlah beliau memutuskan berbagai sengketa yang terjadi di antara kaum muslimin.

Hamba Allah
Read more »
Apapun Profesi Anda, muslim wajib belajar islam dan mengamalkannya

Apapun Profesi Anda, muslim wajib belajar islam dan mengamalkannya

SETIAP MUSLIM WAJIB MEMPELAJARI AGAMA 

Salah satu fenomena yang cukup memprihatinkan pada zaman kita saat ini adalah rendahnya semangat dan motivasi untuk menuntut ilmu agama. Ilmu agama seakan menjadi suatu hal yang remeh dan terpinggirkan bagi mayoritas kaum muslimin. Berbeda halnya dengan semangat untuk mencari ilmu dunia. Seseorang bisa jadi mengorbankan apa saja untuk meraihnya. Kita begitu bersabar menempuh pendidikan mulai dari awal di sekolah dasar hingga puncaknya di perguruan tinggi demi mencari pekerjaan dan penghidupan yang layak. 

Mayoritas umur, waktu dan harta kita, dihabiskan untuk menuntut ilmu dunia di bangku sekolah. Bagi yang menuntut ilmu sampai ke luar negeri, mereka mengorbankan segala-galanya demi meraih ilmu dunia: jauh dari keluarga, jauh dari kampung halaman, dan sebagainya. Lalu, bagaimana dengan ilmu agama? Terlintas dalam benak kita untuk serius mempelajarinya pun mungkin tidak. Apalagi sampai mengorbankan waktu, harta dan tenaga untuk meraihnya. Tulisan ini kami maksudkan untuk mengingatkan diri kami pribadi dan para pembaca bahwa menuntut ilmu agama adalah kewajiban yang melekat atas setiap diri kita, apa pun latar belakang profesi dan pekerjaan kita.

KEWAJIBAN MENUNTUT ILMU AGAMA 

Sebagian di antara kita mungkin menganggap bahwa hukum menuntut ilmu agama sekedar sunnah saja, yang diberi pahala bagi yang melakukannya dan tidak berdosa bagi siapa saja yang meninggalkannya. Padahal, terdapat beberapa kondisi di mana hukum menuntut ilmu agama adalah wajib atas setiap muslim (fardhu ‘ain) sehingga berdosalah setiap orang yang meninggalkannya. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224)

Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tegas menyatakan bahwa menuntut ilmu itu hukumnya wajib atas setiap muslim, bukan bagi sebagian orang muslim saja. Lalu, “ilmu” apakah yang dimaksud dalam hadits ini? Penting untuk diketahui bahwa ketika Allah Ta’ala atau Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kata “ilmu” saja dalam Al Qur’an atau As-Sunnah, maka ilmu yang dimaksud adalah ilmu syar’i (ilmu agama), termasuk kata “ilmu” yang terdapat dalam hadits di atas.

Sebagai contoh, berkaitan dengan firman Allah Ta’ala,

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Dan katakanlah,‘Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu’“. (QS. Thaaha [20] : 114)

maka Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata,

( وَقَوْله عَزَّ وَجَلَّ : رَبّ زِدْنِي عِلْمًا ) وَاضِح الدَّلَالَة فِي فَضْل الْعِلْم ؛ لِأَنَّ اللَّه تَعَالَى لَمْ يَأْمُر نَبِيّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِطَلَبِ الِازْدِيَاد مِنْ شَيْء إِلَّا مِنْ الْعِلْم ، وَالْمُرَاد بِالْعِلْمِ الْعِلْم الشَّرْعِيّ الَّذِي يُفِيد مَعْرِفَة مَا يَجِب عَلَى الْمُكَلَّف مِنْ أَمْر عِبَادَاته وَمُعَامَلَاته ، وَالْعِلْم بِاَللَّهِ وَصِفَاته ، وَمَا يَجِب لَهُ مِنْ الْقِيَام بِأَمْرِهِ ، وَتَنْزِيهه عَنْ النَّقَائِض
“Firman Allah Ta’ala (yang artinya),’Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu’ mengandung dalil yang tegas tentang keutamaan ilmu. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta tambahan sesuatu kecuali (tambahan) ilmu. Adapun yang dimaksud dengan (kata) ilmu di sini adalah ilmu syar’i. Yaitu ilmu yang akan menjadikan seorang mukallaf mengetahui kewajibannya berupa masalah-masalah ibadah dan muamalah, juga ilmu tentang Allah dan sifat-sifatNya, hak apa saja yang harus dia tunaikan dalam beribadah kepada-Nya, dan mensucikan-Nya dari berbagai kekurangan”. (Fathul Baari, 1/92)

Dari penjelasan Ibnu Hajar rahimahullah di atas, jelaslah bawa ketika hanya disebutkan kata “ilmu” saja, maka yang dimaksud adalah ilmu syar’i. Oleh karena itu, merupakan sebuah kesalahan sebagian orang yang membawakan dalil-dalil tentang kewajiban dan keutamaan menuntut ilmu dari Al Qur’an dan As-Sunnah, namun yang mereka maksud adalah untuk memotivasi belajar ilmu duniawi. Meskipun demikian, bukan berarti kita mengingkari manfaat belajar ilmu duniawi. Karena hukum mempelajari ilmu duniawi itu tergantung pada tujuannya. Apabila digunakan dalam kebaikan, maka baik. Dan apabila digunakan dalam kejelekan, maka jelek. (Lihat Kitaabul ‘Ilmi, hal. 14)

Sumber: https://muslim.or.id/18810-setiap-muslim-wajib-mempelajari-agama.html
Read more »
Adanya Pahala, dosa dan perkasa gaib lainnya, apakah berarti islam tidak ilmiah ?

Adanya Pahala, dosa dan perkasa gaib lainnya, apakah berarti islam tidak ilmiah ?

Surga neraka, pahala dan dosa, bagi sebagian orang dianggap tidak ilmiah. sebab, tak bisa dibuktikan di dunia dan tidak terukur. Menurut mereka, sesuatu dianggap ilmiah jika dapat dibuktikan secara logis dan empiris. Ketika kaidah ilmiah ini dipaksakan untuk meneropong Islam, niscaya akan terjadi gesekan. Sebab, ada hal-hal tertentu dalam Islam yang tidak dapat dilogika apalagi dibuktikan di dunia. Misalnya, eksistensi pahala dan dosa; surga dan neraka. Lantas, apakah itu berarti Islam tidak ilmiah? 

Dalam hal ini, kita memiliki kaidah sendiri. Jika dilihat dari sisi etimologi, kata ilmiah maknanya menisbatkan pada ilmu. Seseorang dikatakan bicara Islam secara ilmiah, jika omongannya berdasarkan ilmu. Sedangkan sumber pokok ilmu dalam Islam ada dua: Al Qur'an dan As Sunnah. Jadi, omongan seseorang tentang Islam dikatakan ilmiah, atau bersandar pada ilmu, jika jika ia bersandar dan mengakar pada Al Qur'an dan As Sunnah.

Kita tak perlu latah memaksakan kaidah ilmiah kaum rasionalis empiris dalam beragama. 

Sandaran mereka logika. Padahal, tidak semua syariat Allah Ta'ala masuk dalam logika manusia. Contoh sederhana: ketika seseorang kentut, maka ia berhadats. Untuk menghilangkan hadats, ia harus berwudhu. Ia basuh wajah, lengan, mengusap kepala, dan kaki. Tapi justru tidak menyentuh lubang tempat keluarnya kentut itu sendiri. 

Logikanya, jika kentut adalah penyebab hadats, mestinya lubang angin itulah yang lebih utama dibersihkan. Jika ini dianggap tidak logis, apakah lantas syariat Allah ini tidak dikerjakan? 

Para pendahulu umat ini: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, para sahabat dari kalangan muhajirin dan anshar, tabi'in, tabi'ut tabi'in, mereka tidak berpusing-pusing menyoal Islam harus logis dan harus selalu bisa dibuktikan secara empiris. Namun demikian, Allah beri mereka kedudukan sebagai generasi terbaik. Sejarah Islam mencatat dan mengenang mereka sebagai sumur ilmu yang tak kering ditimba. 

Sesungguhnya, Islam itu sederhana dan menuntut cara bersikap yang juga sederhana: sami'naa wa atha'naa. Itulah kenapa agama ini disebut Islam, yang artinya berserah diri kepada Allah dengan bertauhid, ikhlas, dan taat pada-Nya.

Lalu, di mana posisi akal? Seperti kata Allah, ia mestinya digunakan untuk mengenal kebesaran Allah Ta'ala dengan mentadabburi hikmah yang terkandung dalam setiap ketetapan-Nya. Sebab, tidaklah Allah ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Nya. Bukan untuk sok keren mengkritisi firman-Nya.

Abunnada 
___
Bacaan: https://ar.islamway.net/article/24223/في-تعريف-العلم-وفضله-وحكم-طلبه
https://binbaz.org.sa/fatwas/14565//معنى-الاسلام
Ilmu dalam Perspektif, YOI, hal. 99-109
Read more »
Berpegang Teguh diatas Sunnah adalah Jalan Keselamatan

Berpegang Teguh diatas Sunnah adalah Jalan Keselamatan

  
Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengabarkan bahwa umatnya akan terpecah belah dan berselisih, beliau shallallahu alaihi wa sallam tidak memerintahkan kita untuk menyatukan tapi yang beliau perintahkan adalah berpegang teguh dengan apa yang beliau ajarkan dan para sahabatnya, karena sebenarnya perpecahan itu sudah merupakan sunnatullah yang pasti terjadi sebagai ujian bagi manusia.

Jalan manakah yang akan kita tempuh dan berpegang teguh dengannya.
Inilah ujian hidup...

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

“Barangsiapa yang berumur panjang di antara kalian, kelak dia akan melihat PERSELISIHAN yang BANYAK. 
Maka hendaknya kalian tetap BERPEGANG TEGUH dengan SUNNAHKU dan SUNNAH KHULAFAUR RASYIDIN (para sahabat) yang mendapat PETUNJUK. 

Berpegang teguhlah dengannya. 
GIGITLAH dengan GIGI GERAHAM KALIAN. Berhati-hatilah kalian dengan perkara-perkara yang baru dalam agama, karena setiap ajaran yang baru dalam agama Islam adalah termasuk perbuatan BID'AH, dan setiap BID'AH adalah KESESATAN, dan setiap kesesatan tempatnya DI NERAKA” 
(📚HR. An Nasa’i, derajat : hasan shahih).

Perpecahan dalam umat ini adalah suatu keniscayaan.
Inilah sunnatullah, ketetapan Allah ta a'la yang pasti terjadi. 

Berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan khulafaur rasyidin (para sahabat), inilah SOLUSI keluar dari FITNAH PERPECAHAN UMAT, tidak ada jalan lain.

Imam Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata, 

“Di dalam hadits ini terdapat perintah ketika terjadi perselisihan untuk berpegang teguh dengan sunnah Nabi dan khulfaur rasyidin. 
Yang dimaksud sunnah adalah jalan yang ditempuh, mencakup di dalamnya berpegang teguh dengan keyakinan, perkataan, dan perbuatan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan khulfaur rasyidin. 
Inilah sunnah yang sempurna. 
Oleh karena itu para ulama salaf di masa silam tidak menamakan sunnah kecuali mencakup seluruh perkara tadi” 
(📚lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam)

Memahami Islam Dengan Benar https://www.facebook.com/Memahami-Islam-Dengan-Benar-437628016778581/
Read more »
Instruksi POLRI: Jangan Pakai Sandal Jepit Naik Sepeda Motor, Bagaimana sikap Ahlussunah ?

Instruksi POLRI: Jangan Pakai Sandal Jepit Naik Sepeda Motor, Bagaimana sikap Ahlussunah ?

Ahlussunnah sudah jelas dalam berprinsip. Segala perintah atau intruksi dari penguasa selama perintah tersebut bukan kemaksiatan atau kemungkaran, tetap taat dan patuh kepada penguasa.

Termasuk dalam perkara perintah jangan pakai sandal JEPIT ketika naik motor, jangan naik motor lebih dari dua orang, harus pakai helm dan lain sebagainya. Perintah-perintah itu semua adalah perintah yang makruf, untuk meminalisir kecelakaan di jalan. 

Allah Ta’ala berfirman : 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ...(النساء : 59).
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian... (An Nisa : 59).

Didalam tafsir al Muyassar berkenaan dengan ayat ini disebutkan :

يا أيها الذين صدَّقوا الله ورسوله وعملوا بشرعه, استجيبوا لأوامر الله تعالى ولا تعصوه, واستجيبوا للرسول صلى الله عليه وسلم فيما جاء به من الحق, وأطيعوا ولاة أمركم في غير معصية الله
Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNYA serta melaksanakan syariatNYA, laksanakanlah perintah-perintah Allah dan janganlah kalian mendurhakaiNYa, dan penuhilah panggilan rasulNYA dengan mengikuti kebenaran yang dibawanya, dan taatilah para penguasa kalian dalam perkara selain maksiat kepada Allah. (Tafsir Al Muyassar).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من أطاعني فقد أطاع الله ومن يعصني فقد عصى الله ومن يطع الأمير فقد أطاعني ومن يعص الأمير فقد عصاني
“Barang siapa yang mentaati aku sungguh ia telah mentaati Allah, dan barang siapa yang durhaka padaku sungguh ia telah mendurhakai Allah, barang siapa yang TAAT pada PEMIMPIN sungguh ia telah taat padaku, dan barang siapa yang DURHAKA pada PEMIMPIN sungguh ia telah durhaka padaku” (HR. Muslim no. 1835).  

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :

السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ ، وَلاَ طَاعَة.
Mendengar dan taat diperbolehkan bagi seorang muslim dalam semua hal yang disukainya dan yang dibencinya, selagi ia tidak diperintahkan untuk MAKSIAT. Apabila diperintahkan untuk maksiat, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat.(HR. Bukhari).

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لاَ طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ.
Tidak ada ketaatan di dalam MAKSIAT, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam hal yang baik. (HR. Bukhari).

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوف
Tidak ada ketaatan dalam BERMAKSIAT kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya kepada hal yang baik. (HR. Muslim dari Ali radhiyallahu anhu).

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Tidak ada ketaatan kepada makhluk di dalam MAKSIAT kepada Allah Azza wa Jalla (HR. Ahmad dari Ali radhiyallahu anhu. Berkata Syekh Arnuth isnad shahih atas syarat Bukhari Muslim).

Oleh karena itu, dalam hal aturan berlalu lintas hendaklah kaum muslimin mentaati pemimpin, penguasa atau pemerintah, karena itu perkara yang makruf, bukan perkara maksiat.

Copas dari berbagai sumber
Read more »
Tanggapan ustadz Abdurrahman Al-Amiry perihal buku Titik Pisah Salafi-Muhammadiyah

Tanggapan ustadz Abdurrahman Al-Amiry perihal buku Titik Pisah Salafi-Muhammadiyah

Ini sudah melampau.

Tidak ada salafi mau menguasai Muhammadiyah. Asatidzah salafi tidak suka berpolitik dan sangat tak berambisi kekuasan ataupun wilayah.

Yang ada, asatidzah salafi diundang mengisi kajian ataupun diundang menjadi dosen di kampus Muhammadiyah dengan tujuan untuk menyebarkan ilmu.

Maka:

1. Tak ada ceritanya asatidzah salafi hendak menguasai organisasi manapun.

2. Yang buat poster ini hanya baperan.

3. Kami berdakwah tak cari massa, uang, pengikut, ataupun anggota.

4. Anda mau buat titik pisah, ya silakan saja. Selama kami tak pernah berpisah dengan Allah, naka tak ada yang jadi masalah.

Semoga paham dan tak perlu baper.

Ust Abdurrahman Al-Amiry
Read more »
MUHAMMADIYAH PUN SAMPAI DIKATAI SEBAGAI 'WAHABI' DAN "KADRUN" OLEH MEREKA

MUHAMMADIYAH PUN SAMPAI DIKATAI SEBAGAI 'WAHABI' DAN "KADRUN" OLEH MEREKA

Dulu, bahkan SEJAK AWAL, organisasi massa Islaam Ahlus Sunnah was Salafiyyaah yang tertua (aktif sejak 1330 Hijriyah atau 1912 Masehi) dan terbesar, serta terkaya di Indonesia, yang masih resmi ada, yakni MUHAMMADIYAH, dimaki sebagai:

Wahabi.

Padahal ini istilah hasil rekayasa musuh Islaam, dan tidak benar dalam Sejarah, Aqidah, Tata Bahasa Arab.  

Juga dikatai "Kadrun", di masa Muhammadiyah di Masyumi (bersama Al Irsyad, Persis, dkk.). Menentang Nas-A-Kom (Nasionalisme - Agama - Komunisme) koalisi PNI, NU, dan PKI.

Bahkan K. H. Ahmad Dahlan (keturunan sah Maulana Malik Ibrahim, Wali Songo yang paling tua, dan beliau bergelar bangsawan Keraton Yogya Hadiningrat) pendiri Muhammadiyah pun dikatai sebagai "Kyai Palsu", "Kafir", hingga Mushollah (Langgar Kidul) beliau di Yogyakarta dibakar mereka. 

Dan beliau - bersama Nyai Walidah istri beliau dan K. H. Muhammad Suja' sahabat beliau - diserang hendak dibunuh di Banyuwangi oleh 'kaum Islam Jawa Tradisional (Abangan, Kejawen)'. 

Karena dianggap 'lain'. 

Karena K. H. Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah menentang Takhayyyul, Bid'ah, Churofat. 

Sesuai Al Qur'aan, As Sunnah, was Salafiyyaah. 

Bersemboyan "Anti TBC (Anti Takhayyul, Bid'ah, Churofat)". 

Juga karena Muhammadiyah mengikuti ajaran bersanad lurus sejak:

Syaikh Muhammad bin 'Abdul Wahhab at Tamimi (*), syaikh Muhammad Rosyid Ridho, syaikh Muhammad 'Abduh, syaikh Jamaluddin Al Afghani, syaikh 'Ibnul Qoyyim, syaikh 'Ibnu Taimiyyah, Imaam Madzhab Yang Empat (Abu Hanifah (Hanafi), Malik, Syafi'i dan Ahmad bin Hanbal (Hanbali)), dan sampai ke 3 generasi Salafush Sholih - Sahabat Nabi, Tabi'iin, dan Tabi'ut Tabi'iin - yang dijamin ALLAAH sebagai yang terbaik sampai Rosuululloh shollollohu 'alaihi wa sallam.

Kitab Al Mannar yang banyak juga dipakai di Muhammadiyah (selain Ibnu Katsir, dll.) jelas memuat ajaran mereka. Tanpa kecuali.

Keterangan:

(*) Karena ini, Muhammadiyah juga dimaki sebagai 'Wahabi'. Padahal ini hanya istilah fitnah. Tidak benar dalam Tata Bahasa juga Aqidah dan Sejarah, oleh Inggris, Sufi, Syi'ah, dan Komunis di Indonesia di masa NASAKOM (PNI, NU, PKI) versus MASYUMI (Muhammadiyah, Al Irsyad, Persis, dkk.)

🔹Lihat Sejarah Muhammadiyah: 

https://muhammadiyah.or.id/sejarah-singkat-muhammadiyah/

🔹Muhammadiyah adalah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Was Salafiyyaah

https://pwmu.co/40369/11/03/muhammadiyah-itu-golongan-ahlus-sunnah-salafiyyah/

https://www.google.com/amp/s/pwmu.co/17744/11/06/yunahar-ilyas-muhammadiyah-adalah-ahlussunnah-wal-jamaah/amp/

https://www.google.com/amp/s/sangpencerah.id/2013/12/pandangan-prof-dr-yunahar-ilyas-tentang/%3famp

🔹Muhammadiyah tidak bermadzhab karena berperbandingan Madzhab. Berusaha merujuk ke generasi Salafush Sholih: 

https://muhammadiyah.or.id/mengapa-muhammadiyah-tidak-bermadzhab/

https://ibtimes.id/mengapa-muhammadiyah-tidak-bermadzhab/ 

http://www.umm.ac.id/id/muhammadiyah/10838.html

http://tabligh.id/agama-islam-yang-dianut-oleh-muhammadiyah-berbeda-dengan-agama-islam-yang-dianut-oleh-ummat-islam-umum/

Prinsip tidak bermadzhab Muhammadiyah ini sama dengan prinsip banyak Ormas, lembaga, masyarakat Islam lain. Salah satunya, Persis atau Persatuan Islam (1923).

https://www.sigabah.com/beta/tidak-bermadzhab-sebagai-madzhab-persis/

🔹Salah satu dasar Aqidah Ahlus Sunnah Was Salafiyyaah yang dianut Muhammadiyah: 

Allaah istiwa' fi 'Arsy

https://muhammadiyah.or.id/benarkah-allah-ada-di-atas-arsy/

https://fatwatarjih.or.id/apakah-allah-bersemayam-di-atas-arsy/

🔹Tauhid Asma Wa Sifat Ala Keputusan Muktamar Ke-18 sesuai 'Aqidah Ahlus Sunnah Was Salafiyyaah

http://tabligh.id/tauhid-asma-wa-sifat-ala-keputusan-muktamar-ke-18/

🔹️Muhammadiyah tidak ber'aqidah Asy'ariyyaah

http://tabligh.id/tauhid-asma-wa-sifat-ala-keputusan-muktamar-ke-18/

🔹Muhammadiyah Anti Bid'ah 

http://tabligh.id/sikap-muhammadiyah-kepada-pelaku-bidah/

🔹 Muhammadiyah Tidak Bertarekat Sufi/Tasawuf

https://suaramuhammadiyah.id/2019/12/20/mengapa-muhammadiyah-tidak-bertarekat/

🔹 Muhammadiyah tidak memperingati kematian orang di hari-hari tertentu macam yang populer disebut sebagai 'Tahlilan'.

https://fatwatarjih.or.id/tahlilan-dalam-pandangan-muhammadiyah/

Dan sebagainya.

Abu taqi mayestino 
Read more »
Beranda