Ahlan wa Sahlan di situs dakwahpost.com | kajian islam dan informasi
SIAPAKAH THAGHUT?

SIAPAKAH THAGHUT?

SIAPAKAH THAGHUT?

Seluruh umat diutus kepada mereka seorang rasul mulai dari Nuh ‘alaihis salam sampai dengan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan perintah yang sama yaitu untuk beribadah kepada Allah saja dan larangan untuk beribadah kepada thagut. Dalilnya adalah firman Allah :

{وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ}
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut ” (QS. An Nahl: 36)

“Allah mewajibkan seluruh makhluk untuk kufur (mengingkari) terhadap thagut dan beriman hanya kepada Allah”

Allah Ta’ala juga berfirman :

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْد مِن الْغَي فَمَن يَكْفُرْ بالطَّاغُوت وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انَفِصَام لَهَا وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui “ (QS. Al Baqarah:256)

Inilah makna Laa ilaaha illallah.

PENGERTIAN THAGHUT

Secara bahasa, kata thagut diambil dari kata (طَغَى) yang artinya melampaui batas. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّا لَمـَّا طَغَى الْمَاءُ حَمَلْنَاكُمْ فِي الْجَارِيَةِ
“Sesungguhnya ketika air melampaui batas, Kami bawa kalian di perahu.” (QS. Al-Haqqah: 11)

Secara istilah syar’i yaitu sebagaimana disampaikan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah : thagut adalah segala sesuatu yang menyebabkan seorang hamba melebihi batasannya, baik itu sesuatu yang diibadahi, diikuti, atau ditaati. Syaikh Muhammad At Tamimi rahimahullah menjelaskan bahwa thagut ada banyak. Thagut yang paling besar ada lima : iblis –semoga Allah melaknatnya-, siapa saja yang dijadikan sesembahan dan dia ridho, barangsiapa yang mengajak manusia untuk menyembah dirinya, barangsiapa yang mengetahui tentang ilmu ghaib, dan barangsiapa yang berhukum dengan hukum selain yang Allah turunkan.[1]

Pertama. Iblis laknatullah

Iblis merupakan pimpinan thagut. Mengapa? Karena dia diibadahi, diikuti, dan sekaligus ditaati dan dia ridho dengan perbuatan tersebut. Allah Ta’ala berfirman :

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَن لَّا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan (iblis)? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu “ (QS. Yasin: 60)

Kedua. Barangsiapa yang disembah selain Allah dan dia ridho.

Semua yang ridho dijadikan sesembahan selain Allah maka dia termasuk thagut, baik disembah ketika masih hidup maupun sesudah matinya. Dia ridho untuk dijadikan sesembahan dengan bentuk ibadah apapun. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala :

وَمَن يَقُلْ مِنْهُمْ إِنِّي إِلَهٌ مِّن دُونِهِ فَذَلِكَ نَجْزِيهِ جَهَنَّمَ كَذَلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ
“Dan barangsiapa di antara mereka mengatakan: “Sesungguhnya Aku adalah Tuhan selain Allah”, maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim“ (QS. Al Anbiya’: 29)

Tidak termasuk thagut seseorang yang dijadikan sesembahan dan dia tidak ridho dengan penyembahan tersebut. Misalnya seseorang yang menyembah Isa ‘alaihis salam, maka orang tersebut telah menyembah thagut. Namun Isa ‘alaihis sallam bukanlah thagut karena dia tidak ridho dengan penyembahannya tersebut, bahkan beliau mengingkarinya.

Ketiga. Barangsiapa yang menyuruh manusia untuk menyembah dirinya.

Barangsiapa yang menyuruh manusia untuk menyembah dirinya dengan jenis ibadah apapun baik ketika dia masih hidup maupun sudah mati maka dia termasuk thagut. Sama saja baik ada orang yang mau mengikuti seruannya maupun tidak. Thagut jenis ketiga ini lebih parah daripada yang kedua karena dia menyuruh dan mengajak orang untuk menyembah dirinya.

Hal ini seperti yang Allah kisahkan dalam Al Qur’an :

فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى
“ (Fir’aun) berkata: ”Akulah tuhanmu yang paling tinggi“ (QS. An Nazi’at: 24)

Termasuk juga perbuatan para ulama sufi yang memerintahkan pengikutnya untuk beribadah kepada dirinya.

Keempat. Barangsiapa yang mengaku mengetahui ilmu ghaib.

Barangsiapa yang mengaku mengetahui ilmu ghaib yang mutlak maka dia termasuk thagut. Tidak ada yang mngetahui ilmu ghaib yang mutlak kecuali hanya Allah semata. Yang dimaksud ilmu ghaib yang mutlak adalah perkara-perkara ghaib yang hanya diketahui oleh Allah saja, seperti ilmu tentang umur dan ajal seseorang, ilmu tentang hari kiamat, ilmu tentang nasib seseorang di akherat, dan sebagainya. Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَداً وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Sesungguhnya hanya di sisi Allah sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok . Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengetahui” (QS. Luqman: 34)

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ
“Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.“ (QS. An Naml: 65).

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَداً إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَداً
“(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.“ (QS. Al Jin: 26-27)

Maka termasuk thagut jenis ini adalah para dukun, paranormal, dan tukang sihir yang mengaku mengetahui ilmu ghaib.

Kelima. Barangsiapa yang berhukum dengan hukum selain Allah.

Terdapat perincian permasalahan tentang berhukum dengan hukum selain Allah. Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah berkata, “Orang yang berhukum dengan hukum selain yang Allah turunkan ada empat keadaan:

Orang yang mengatakan, “Saya berhukum dengannya karena lebih baik daripada syari’at Islam”, maka hukumnya kufur akbar. Orang yang mengatakan, “Saya berhukum dengannya karena hukum tersebut sama/setara dengan syari’at Islam, maka berhukum dengannya boleh dan berhukum dengan syari’at (Islam) juga boleh”, maka hukumnya juga kufur akbar. Orang yang mengatakan, “Saya berhukum dengannya sedangkan berhukum dengan syari’at Islam lebih afdhol, akan tetapi boleh berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan”, maka hukumnya juga kufur akbar. Orang yang mengatakan, “Saya berhukum dengannya”. Namun dia meyakini bahwa tidak boleh berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan, dan dia menyatakan bahwa berhukum dengan syari’at Islam lebih afdhol serta tidak boleh berhukum dengan selainnya, akan tetapi dia bermudah-mudah dan meremehkan (dalam melakukan maksiat) atau dia melakukannya karena perintah dari pemerintahnya. Yang demikian ini hukumnya kufur asghar yang tidak mengeluarkannya dari Islam namun termasuk perbuatan dosa besar yang paling besar” [2]

Kami nukilkan juga fatwa yang dikeluarkan oleh Al Lajnah Daimah li Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta pada pertanyaan kesebelas dari Fatwa No 5741.

Pertanyaan : Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah, apakah dia seorang muslim atau kafir dengan kufur akbar? Dan apakah diterima amal perbuatannya?

Jawaban : Segala puji bagi Allah semata. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya.

Allah Ta’ala berfirman :

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
“Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (QS. Al Maidah: 44)

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Barangsiapa tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim” (QS. Al Maidah: 45)

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Barangsiapa tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik“ (QS. Al Maidah: 47)

Jika orang tersebut menghalalkan berhukum dengan hukum selain Allah dan meyakini kebolehannya, maka dihukumi kafir akbar, zalim akbar, dan fasik akbar yang mengeluarkannya dari Islam. Adapun jika dia melakukannya karena untuk menyuap atau maksud lainnya, sementara dia meyakini haramnya berhukum dengan hukum selain Allah, maka dia telah berbuat dosa dan dihukumi kafir asghar, zalim asghar, dan fasik asghar yang tidak mengeluarkannya dari Islam. Inilah yang dijelaskan oleh para ulama tentang tafsir ayat-ayat di atas. (Dikeluarkan oleh Komisi Penelitian Ilmiah dan Penerbitan Fatwa : Abdullah bin Ghudayan, Abdur Razzaq ‘Afifi, ‘Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baaz).[3]

Maka, penting untuk diketahui bahwa berhukum dengan hukum selain Allah tidak otomatis dihukumi kafir dan tidak serta merta pelakunya keluar dari Islam.

Penyebutan lima gembong thagut di atas tidak membatasi bahwa thagut terbatas hanya lima saja. Namun yang disebutkan hanya sekedar contoh thagut yang paling banyak saja.

[2]. KEWAJIBAN KUFUR TERHADAP THAGHUT

Dalam surat Al Baqarah 256 di atas Allah memerintahkan untuk kufur terhadap thagut. Yang dimaksud kufur terhadap thagut mencakup tiga makna :

1. Meyakini batilnya peribadatan kepada selain Allah
2. Meninggalkan dan membenci peribadatan kepada selain Allah
3. Mengkafirkan pelakunya dan membencinya.[4]

Kufur terhadap thagut termasuk salah satu makna dari rukun Laa ilaaha illallah yaitu menafikan peribadatan selain Allah. Firman Allah (فَمَن يَكْفُرْ بالطَّاغُوت) merupakan peniadaan peribadatan selain Allah, sedangkan firman-Nya (وَيُؤْمِن بِاللّهِ) menetapkan bahwa peribadatan hanya untuk Allah semata.

Inilah makna Laa ilaaha illallah.

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufiq-Nya kepada kita untuk senantiasa mentauhidkan Allah dan kufur terhadap thagut. Upaya terpenting untuk mendapatkannya adalah dengan senantiasa mempelajari dan mengamalkan tauhid serta menyebarkan dakwah tauhid kepada umat.

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.


Penulis : dr. Adika Mianoki
Artikel Muslim.Or.Id

[1] Lihat Tsalatsatul Ushuul
[2] Qadhiyatut Takfir Baina Ahlis Sunnah wal Firaq Adh Dhulal 72. Lihat tulisan berjudul Aqwalul ‘Ulama AsSalafiyyin AlQailiina bit Tafshil fii Hukmi man Hakkama Al Qawanindi situs http://www.al-sunan.org/vb/showthread.php?t=7005
[3] Lihat Aqwaalul ‘UlamaAsSalafiyyin Al Qaailiina bit Tafshil fii Hukmi man Hakkama Al Qawanin
[4] Lihat Taisirul Wushuul 184
@STaushiyyah
Read more »
BERWUDHU SEBELUM TIDUR MALAM

BERWUDHU SEBELUM TIDUR MALAM

BERWUDHU SEBELUM TIDUR MALAM

Di antara orang-orang yang berbahagia dengan do’a para Malaikat adalah orang yang tidur malam dalam keadaan suci.

Inginkah kita di doakan agar di ampuni dosa-dosa kita oleh malaikat Allah ketika dalam keadaan tidur ?

Dari Al-Barra’ bin Azib رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ, Rasulullah ﷺ bersabda,

“Apabila engkau hendak tidur, berwudhulah sebagaimana wudhu ketika hendak shalat. Kemudian berbaringlah miring ke kanan, dan bacalah

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ
Jika kamu mati di malam itu, kamu mati dalam keadaan fitrah. Jadikanlah doa itu, sebagai kalimat terakhir yang engkau ucapkan sebelum tidur.” (HR. Bukhari 247 dan Muslim 2710)

Dari Ibnu ‘Abbas رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

طَهِّّرُوْا هَذِهِ اْلأَجْسَادَ طَهَّرَكُمُ اللهُ، فَإِنَّهُ لَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَبِيْتُ طَاهِرًا إِلاَّ بَاتَ مَعَهُ فِيْ شِعَارِهِ مَلَكٌ، لاَ يَنْقَلِبُ سَاعَةً مِنَ اللَّيْلِ إِلاَّ قَالَ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا.
“Sucikanlah badan-badan kalian, semoga Allah mensucikan kalian, karena tidak ada seorang hamba pun yang tidur malam dalam keadaan suci melainkan satu Malaikat akan bersamanya di dalam syi’aar (segala sesuatu yg ada pada badan berupa pakaian dll), tidak satu saat pun dia membalikkan badannya melainkan satu Malaikat akan berkata: ‘Ya Allah, ampunilah hamba-Mu ini, karena ia tidur malam dalam keadaan suci.’” (HR. Ath-Thabrani kitab al-ausath dengan sanad jayyid)

Dari Abdullah bin Umar رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ بَاتَ طَاهِرًا، بَاتَ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ، فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فُلَانٍ، فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا
“Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci.'” (HR. Ibn Hibban 3/329.)

Semoga bermanfaat.
Read more »
Adab yang Harus Diperhatikan Dalam Menyampaikan Nasehat

Adab yang Harus Diperhatikan Dalam Menyampaikan Nasehat

Menyampaikan Nasehat

Nasehat adalah bagian penting dalam kehidupan. Ia merupakan tonggak dan tali kekang kemuliaan ummat. Sampai-sampai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengatakan bahwa agama ini semuanya adalah nasehat. Tamim ad-Dari radhiyallahu anhu pernah menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda:

الدِّينُ النَّصِيحَةُ، قُلْنَا لِمَنْ؟، قال: لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ
“Agama adalah nasehat”, kami (para sahabat) berkata: “Bagi siapa ?” Beliau menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, dan untuk para pemimpin umat Islam dan kaum muslimin secara umum.” (HR. Muslim: 55)

Nasehat itu wajib, namun yang perlu diingat, bahwa nasehat itu adalah obat bagi luka. Selembut apapun, ia tetap memberikan sakit. Oleh sebab itu, perhatikan cara menyampaikan nasehat. Pahamilah, bahwa hukum asalnya, nasehat hendaknya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Selama tidak ada mashlahat yang lebih besar untuk menampakkannya. Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah pernah mengatakan:

كَانَ السَّلَفُ إِذَا أَرَادُوْا نَصِيْحَةَ أَحَدٍ ، وَعَظُوْهُ سِرًّا ، حَتَّى قَالَ بَعْضُهُمْ: مَنْ وَعَظَ أَخَاهُ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ فَهِيَ نَصِيْحَةٌ، وَمَنْ وَعَظَهُ عَلَى رُؤُوْسِ النَّاسِ فَإِنَّمَا وَبَّخَهَ 
“Dahulu generasi salaf jika mereka ingin menasehati seseorang, mereka menyampaikannya dengan sembunyi-sembunyi, sampai-sampai sebagian mereka berkata: 'Barangsiapa yang menasehati saudaranya antara dia dan saudaranya saja maka itulah nasehat, dan Barangsiapa yang menasehatinya di hadapan halayak, maka ia telah menjatuhkannya.'”

Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata:

المُؤْمِنُ يَسْتُرُ ويَنْصَحُ ، وَالفَاجِرُ يَهْتِكُ وَيُعَيِّرُ
“Seorang mukmin itu menutupi dan menasehati, sementara orang yang jahat adalah mencederai dan menghina”. (Jami Al-Ulum wal Hikam: 1/236)

Al-Imam Ibnu Hazm rahimahullah menjelaskan dengan gamblang perihal cara menasehati yang sesungguhnya ini. Beliau rahimahullah mengatakan:

إِِذَا نَصَحْتَ فَانْصَحْ سِرًّا لَا جَهْرًا، وَبِتَعْرِيْضٍ لَا تَصْرِيْحٍ، إِلَّا أَنْ لَا يَفْهَمَ المَنْصُوْحُ تَعْرِيْضَكَ، فَلَا بُدَّ مِنْ التَّصْرِيْحِ .... فَإِِنْ تَعَديْتَ هَذِهِ الْوُجُوْهَ فَأَنْتَ ظَالِمٌ لَا نَاصِحٌ
“Jika kamu ingin menasehati, maka nasehatilah dengan sembunyi-sembunyi tidak dengan terang-terangan, dengan bahasa kiasan tidak dengan bahasa lugas, kecuali jika yang dinasehati tidak memahami bahasa kiasan maka diperlukan bahasa yang lugas dan jelas. Jika kamu melampaui hal tersebut maka kamu adalah seorang yang zhalim, bukan sebagai pemberi nasehat”. (Al-Akhlak Was Siyar: 45)

Oleh sebab itu, sebelum menasehati orang lain. Perhatikanlah banyak hal, salah satunya yaitu cara kita menyampaikan nasehat itu. Nasehat itu penting, tapi lebih penting lagi cara menyampaikannya. Nasehat untuk memperbaiki bukan membuat orang semakin lari dan benci.

Semoga bermanfaat.

Ditulis oleh: Zahir al-Minangkabawi
artikel maribaraja.com
Read more »
Sedekah salah satu jalan memperoleh Kesembuhan

Sedekah salah satu jalan memperoleh Kesembuhan

Bersedekah salah satu jalan memperoleh Kesembuhan

KEAJAIBAN SEDEKAH

Suatu ketika, ada seorang lelaki bertanya kepada Imam Abdullah bin Mubarak rahimahullah tentang luka yang ada pada pahanya semenjak tujuh tahun lamanya. Ia telah berobat dengan segala obat yang disarankan dan telah berkonsultasi dengan para ahli kedokteran namun semua nihil. Kemudian Imam Abdullah bin Mubarak rahimahullah pun mengatakan kepadanya:

“Pergilah dan galilah sumur di tempat yang manusia sangat membutuhkan airnya, aku berharap agar sumber mata air sumur tersebut mengalir dan menahan darah yang mengalir darimu.”

Lelaki itu kemudian melaksanakan petuah sang imam, dan Allah menyembuhkan penyakitnya. (Lihat: Siyar A’lamin Nubala oleh Imam Dzahabi )

Oleh sebab itu, bagi Anda yang menderita penyakit dan mengharapkan kesembuhan maka sedekah adalah salah satu jalannya. Sebab, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersada:

دَاوُوا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ
“Obatilah penyakit-penyakit kalian dengan sedekah.” (HR. Al-Baihaqi, dihasankan oleh Syaikh al-Albani Shahih al-Jami’: 3358)

Semoga bermanfaat.

Ditulis oleh: Zahir al-Minangkabawi
artikel maribaraja.com
Read more »
BerSyukur Atas TakdirNya

BerSyukur Atas TakdirNya

BerSyukur Atas TakdirNya

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ
…jika sesuatu menimpamu, maka janganlah mengatakan,’Seandainya aku melakukannya, niscaya akan demikian dan demikian.’ Tetapi ucapkanlah, 'Sudah menjadi ketentuan Allah, dan apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi… (HR. Muslim)

Orang yang beriman bahwa apa yang menimpanya ‘Sudah menjadi ketentuan Allah’, akan terdorong untuk semata-mata bersyukur kepada Allah 'Azza wa jalla.

Jika ia ditimpa sesuatu yang disukai, maka ia bersyukur kepada Allah 'Azza wa jalla; karena Dia-lah Yang memberi nikmat dan karunia. Jika ia ditimpa sesuatu yang tidak disenangi, dia juga bersyukur kepada Allah 'Azza wa jalla atas takdir-Nya, dengan menahan amarah, tidak mengeluh, tetap memelihara adab dan menempuh jalan ilmu. Sebab, mengenal Allah 'Azza wajalla dan beradab kepada-Nya akan mewariskan rasa syukur kepada Allah 'Azza wajalla atas segala yang disenangi dan yang tidak disenangi, meskipun bersyukur atas hal-hal yang tidak disenangi lebih berat dan lebih sulit.

(Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, “al-Iimaan bil Qadha Wal Qadar”, ei. hal.106)

Al-Sofwa Channel | alsofwa.comalsofwah.or.id
W.A Dakwah Al-Sofwa +62 81 3336333 82
Read more »
Anda Muslim ?, Inilah Kemerdekaan Hakiki

Anda Muslim ?, Inilah Kemerdekaan Hakiki

Anda Muslim ?, Inilah Kemerdekaan Hakiki

Apa itu Kemerdekaan yang Hakiki Liat orang rame-rame euforia 17-an jadi inget perkataan Syaikh Ibnu Utsaimin di Syarah Al Aqidah Al Washithiyyah

أن العبودية لله هي حقيقة الحرية، فمن لم يتعبد له، كان عابداً لغيره
‘Ubudiyah kepada Allah adalah kemerdekaan yang hakiki, orang yang engga menyembah kepada Allah semata, dia adalah hamba/budak bagi selain Allah” yang namanya budak itu engga merdeka dong! coba bayangin aja..

Mau lewat jembatan, was-was kalo engga siul.. Mau bangun gedung, was-was kalo engga numbal

Mau ujian UN takut engga lulus, supaya hajat terkabul merasa perlu untuk minta ke kuburan Fulan.. Jualan baso pengen laris, merasa perlu pasang penglaris plus nurutin pantangan2nya.. Setiap tindak-tanduk perbuatan jadinya selalu terkait, tergantung, terpikir, takut sama oknum-oknum sesembahan laen selain Allah. Bener-bener diperbudak, bener-bener engga bebas..

Merdeka yang hakiki adalah jika sudah menyerahkan segala bentuk ibadah kepada Allah semata, jadi bebas dari ketergantungan, ketakutan dan keterikatan kepada makhluk

Oleh Al-Ustâdz Yulian Purnama
https://t.me/MuliaDenganSunnah
Read more »
Syeikh Sholih Al-Ushoimiy, Ulama dengan 1000 Guru di Abad 21

Syeikh Sholih Al-Ushoimiy, Ulama dengan 1000 Guru di Abad 21


Beliau adalah Syaikh Sholih bin ‘Abdillah bin Hamad Al ‘Ushoimiy -hafidzahullah- (Pengarang kitab Tadzim Ilmi dan Khulashah Ta'dzim Ilmi)

● Beliau lahir di Riyadh tahun 1391 H dan menetap di ibu kota Kerajaan Saudi Arabia tersebut.

● Ulama yang saat ini berumur 49 tahun dikenal sebagai ulama hadits dan musnid (memiliki banyak sanad dan memberikannya).

● Disebutkan pula bahwa beliau telah belajar dari 1000 lebih guru.

● Beliau menuntut ilmu sejak usia muda. Beliau telah mengunjungi banyak negeri dalam menuntut ilmu untuk mencari sanad hadits dan sanad berbagai kitab para ulama.

● Sampai-sampai beliau dikenal dengan muhaddits (ahli hadits) dari Najed, dikenal pula musnid (ulama yang memiliki banyak sanad).

● Yang dimaksud memiliki banyak sanad adalah ia memiliki sanad sampai guru-guru beliau yang bisa diteruskan sampai pada penulis hadits (seperti: Imam Bukhari dan Imam Muslim) atau memiliki sanad yang sampai pada berbagai penulis kitab.

● Syaikh Sholih Al ‘Ushoimiy di antaranya memiliki sanad sampai pada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab pada kitab:

  1. Tsalatsatul Ushul.
  2. Kitab Tauhid.
  3. Kasyfu Syubhat.
  4. Qowa’idul Arba’.
  5. Fadhul Islam.

● Beliau juga memiliki sanad sampai Ibnu Taimiyah dalam kitab:
  1. Al Aqidah Al Wasithiyyah.
  2. Muqoddimah fii Ushulit Tafsir.

● Begitu pula sanad dari kitab:
  1. Manzhumah Al Qowa’id Al Fiqhiyyah. (Karya: Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di).
  2. Al Arba’in An Nawawi. (Karya: Imam Nawawi).
  3. Al Muqaddimah Al Aajurromiyah. (Karya: Muhammad Ash Shanhaji).
  4. Nukhbatul Fikar Fi Mushthalahi Ahlil Atsar. (Karya: Al Hafidz Ibnu Hajar).
  5. Al Waroqot Fi Ushulil Fiqh. (Karya: Imam Al Haramain Al Juwaini).

● Perjalanan beliau dalam mencari sanad, ada yang sampai ke negeri Maghrib (Maroko).

● Sedangkan sanad berbagai hadits dan kitab Arba’in An Nawawiyah, beliau dapatkan dari India.

● Adapun sanad qiroah Al Qur’an didapatkan dari Mesir. Karena memang sanad qiroah Qur’an dikenal banyak terdapat di Mesir, sedangkan sanad hadits di India.

● Kalau dihitung-hitung beliau telah belajar dari 1000 ulama dan dari mereka, beliau membaca kitab guna meraih sanad dan keilmiahan ilmu.

● Dan beliau dikenal dengan orang yang memiliki hafalan luar biasa. Sampai sanad-sanad hadits dihafal dan disebutkan dengan mudah di luar kepala.

● Beliau dikenal dengan kelihaian membuat syair dan memiliki perhatian yang begitu besar dengan bahasa arab kendati bahasa arab bahasa ibu beliau.

Guru-Guru Beliau
Sebagaimana telah disebutkan bahwa beliau memiliki banyak guru, hingga bisa dikata lebih dari 1000. Di antara ulama-ulama yang masyhur yang beliau timba ilmu dari mereka adalah:
  1. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz.
  2. Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin.
  3. Syaikh ‘Abdullah bin ‘Aqil.
  4. Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Al Jibrin.
  5. Syaikh Bakr Abu Zaid.
  6. Syaikh Sholih bin Fauzan Al Fauzan.
  7. Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Al Ghudayan.

Beliau adalah salah satu lulusan Universitas Al Imam Muhammad bin Su’ud di jenjang S1.

● Kemudian beliau menyelesaikan progam Majister dalam ilmu hadits di Universitas Ummul Quro.

● Dan kini beliau telah menyelesaikan progam Doktoralnya.

 Di samping itu beliau adalah:
● Khotib di Jami’ Abu Bakr As Shiddiq. di rumah sakit tentara di Riyadh.
● Imam masjid di Jami’ Al Iman di Hayy Nasim Syarqi.

Kajian Ilmiah, beliau biasa mengadakan dauroh ilmiah maupun kajian rutin terutama dalam ilmu hadits.

● Beliau juga mengadakan daurah tahunan di Masjid Nabawi, Dauroh Durus Barnamij Muhimmatul ‘Ilmi. Tahun ini (1440 H) adalah daurah yang ke 11 selama 8 hari, dengan progam menyelesaikan pembacaan dan syarah dari 15 kitab.

Karya Ilmiah
  1. Ta’zhimul ‘Ilmi.
  2. Ma’anil Fatihah wa Qishorul Mufasshol.
  3. Al Muqoddimah Al Fiqhiyyah Ash Shugro.
  4. Khulashoh Muqoddimah Ushulit Tafsir.

● Dan beliau masih memiliki karya ilmiah lainnya.

Beliau mendapatkan rekomendasi (tazkiyah) dari mufti tertinggi di Negara Arab Saudi Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh

● Dan pada tahun 1438 H beliau diangkat menjadi anggota Haiah Kibar Ulama negara KSA.

Semoga Allah memberikan keberkahan umur pada beliau, diberikan kesehatan dan dimudahkan dalam ketaatan

Biogragi ini admin kutip dari group khusus binaan ustadz Abu Rifqy Ar Rifqany, mahasiswa S2 di Universitas Islam Madinah 

adapun video admin search sendiri di youtube
Read more »
Beranda