-->
Ahlan wa Sahlan di situs dakwahpost.com | menebar ilmu dan menyaring berita yang layak dikonsumsi dll
Meluruskan ungkapan "arabisasi nama bayi di keluarga jawa"

Meluruskan ungkapan "arabisasi nama bayi di keluarga jawa"

arabisasi nama bayi di keluarga jawa

Jika mau jawaban ngasal dari statement ngasal lagi tak bermutu ini:

"Karena nama lokal kuno identik dengan animisme dinamisme, sedangkan nama Barat adalah nama kaum kolonial penjajah bangsa Indonesia".

Jika mau jawaban tidak ngasal:

"Kita diperintahkan untuk memberi nama anak dengan nama yang bermakna baik atau nama orang shalih (dari kalangan nabi, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik) dan menunjukkan syiar Islam. Apalagi nama yang dinashkan dalam dalil akan kebaikannya seperti 'Abdullah dan 'Abdurrahman. Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ أَحَبَّ أَسمَائِكُمْ إِلَى اللَّهِ عَبدُاللَّهِ وَ عَبدُ الرَّحْمَنِ
“Sesungguhnya nama yang paling dicintai Allah adalah 'Abdullah dan, 'Abdurrahman" [Diriwayatkan oleh Muslim].

Sebaliknya, kita dilarang menamai anak dengan nama yang mengandung makna kekufuran, kemaksiatan, atau makna-makna jelek secara syar' iy dan 'urfiy. Misalnya Fir'aun dan Abu Lahab. Meskipun bau-bau Arab, tapi dua nama ini adalah nama tokoh kekufuran yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Yang lain: Tuyul, nama setan pencuri duit. Babi, nama hewan menjijikkan. Wisnu, nama sesembahan agama kufur. Atau memakai nama sia-sia yang makruh seperti Celengan, tempat menyimpan receh. 

Memakai nama lokal, Barat, Utara, Cina, atau Argentina boleh saja selama maknanya baik. Namun orang-orang mukmin akan selalu memilih nama terbaik bagi anaknya, yang Islamiy (sesuai syariat Islam dan menunjukkan syiar Islam). 

Seseorang kelak di hari kiamat akan dipanggil dengan nama yang ia dikenal saat di dunia.

Baca selengkapnya »
Alfin Andrian menusuk Syekh Ali Jaber secara sadar bukan gangguan jiwa

Alfin Andrian menusuk Syekh Ali Jaber secara sadar bukan gangguan jiwa

Alfin Andrian menusuk Syekh Ali Jaber

Alfin Andrian alias AA, pelaku penusukan terhadap ulama asal Madina Syekh Ali Jaber, telah sepekan menjalani pemeriksaan secara maraton yang dilakukan Reskrim Polresta Bandar Lampung. Hingga Sabtu (19/9/2020), tersangka AA belum menjalani observasi kejiwaan di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Lampung.

Pasalnya, tersangka AA dinilai masih dalam keadaan stabil saat mengikuti serangkian pemeriksaan berita acara pidana oleh penyidik. Selain itu, saat memperagakan adegan rekonstruksi yang digelar polisi pada Jumat (18/9/2020) tersangka dalam kondisi stabil alias normal.

Menanggapi fakta itu, Kepala Bidang Humas Polda Lampung, Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad mengatakan, pihaknya masih fokus merampungkan pemberkasan berita acara perkara pidana tersangka.

"Sejauh ini kondisi kejiwaan tersangka stabil. Penyerangan dan penikaman ulama Syekh Ali Jaber dilakukan tersangka secara sadar," ujar Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad.

Karena polisi masih menganggap tersangka normal, maka pihak RSJ Provinsi Lampung belum bisa memastikan pelaku mengalami gangguan jiwa atau tidak.

Ketua Komite Medik RSJ Provinsi Lampung, dr Tendry Septa Sp.Kj mengatakan, pihak rumah sakit siap apabila dibutuhkan setiap waktu untuk membantu polisi. "Jika diminta, nanti kami akan membentuk tim untuk menyelidiki apakah pelaku memiliki gangguan jiwa atau tidak," tuturnya.

source rctiplus.com
Baca selengkapnya »
Fenomena "Orang Gila" Menyerang Tokoh Agama, mengingat kisah terbunuhnya syaikh jamilurrahman

Fenomena "Orang Gila" Menyerang Tokoh Agama, mengingat kisah terbunuhnya syaikh jamilurrahman

Fenomena "Orang Gila" Menyerang Tokoh Agama
Fenomena "Orang Gila" Menyerang Tokoh Agama Bukan Hal Yang Baru

Mengingat kembali kisah terbunuhnya asy Syaikh as Salafy Jamilurrohman al Afghany رحـمہ الله تعالـــﮯ

Jumat, 20 Shofar 1412/30 Agustus 1991 sebelum dilaksanakannya sholat Jum'at di Bajur, sebuah kota kecil perbatasan antara Kunar dan Peshawar. Sedang berlangsung pertemuan antara Jama'atu ad Dakwah pimpinan syakh Jamilurrohaman dengan beberapa anggota lajnah ishlahiyyah dari Arab.

Ketika itu ada sebuah mobil yang berhenti di dekat tempat perkumpulan, dari dalam mobil keluar seorang pemuda berkebangsaan Arab, sementara di dalam Mobil ada 2 orang lainnya berkebangsaan Afghanistan.  

Pemuda ini pun masuk lalu ingin bertemu dengan Syaikh Jamil. Dia berhasil masuk membawa senjata karna memang sudah menjadi ketetapan yang dibuat oleh Syaikh, bahwasanya siapapun yang datang menemui Syaikh dari kalangan berkebangsaan Arab, maka tidak ada dilakukan pemeriksaan oleh para pengawal Syaikh. Dikarenakan besarnya ketsiqohan Syaikh terhadap bangsa Arab yang selama ini dikenal mendukung beliau

Lalu pemuda inipun mendekat seakan² ingin ber "mu'anaqoh" dengan Syaikh, ketika jarak antara pemuda ini dengan Syaikh sudah amat dekat, tiba² si pemuda mengeluarkan pistol dari saku bajunya dan langsung melepaskan 3 tembakan yang memgenai bagian kepala Syaikh. 2 peluru menghujam bagian tengah wajah beliau yakni antara kedua mata dengan hidung, 1 peluru mengenai pinggir telinga Syaikh Rohimahulloh.

Setelah melepaskan tembakan pemuda inipun berusaha kabur namun langsung di hujani oleh tembakan para pengawal Syaikkh. Sempat Syaikh memberi isyarat agar para pengawal jangan membunuh pemuda tadi, namun kejadiannya begitu cepat dan akhirnya pemuda tadipun terbunuh. Salah satu sumber menyebutkan bahwa ketika pemuda ini sudah merasa tak mampu lari diapun bunuh diri setelah itu baru para pengawal Syaikh menghujaninya dengan tembakan.

Setelah mendengar suara gemuruh tembakan, mobil yang membawa si pemudapun langsung kabur tancap gas.

Setelah berita ini tersebar dihembuskanlah kabar² dusta bahwa si pemuda ini memiliki gangguan jiwa, maka dari itu pihak² yang pernah memiliki hubungan dengannya pun berlepas diri dari perbuatannya. Ini dilakukan agar permasalahan ini dianggal hal yang remeh dan menutup²i siapa aktor dibalik tragedi ini. Dan walhamdulillah pembunuhan yang dilakukan oleh seorang Arab ini tidak mampu menjadi alat adu domba untuk merusak hubungan baik antara Jamatu Dakwah dengan bangsa Arob. Hubungan keduanya tetap terjalin baik.

Profil singkat pemuda biadab ini.

Setelah dilakukan investigasi terungkap bahwa pemuda ini memiki bantak nama samaran, dia terkenal dengan nama Abu Abdilloh Ar Rūmi, nama aslinya adalah Asyrof bin Anwar bin Muhammad an Naily. Seorang dari kalangan Ikhwanul Muslimin. Seorang yang memiliki kecerdasaan, dan ia sering mengirimkan tulisan²nya untuk dimuat di Majalah al Jihad milik pengikut Abdulloh Azzam. Orang ini memiliki kebencian yang besar tehadap dakwah Salafiyyah yang ia juluki dengan Wahabiyyah. Dan juga kebencian dan kedengkian terhadap Jamatu ad Dakwah yang ia juluki sebagai antek² Saudi yang dikirim untuk memecah belah barisan Mujahidin serta merusak Jihad.

Semoga Alloh merahmati Syaikh Jamilurroham, mengampuni kesalahan²nya dan menerima syahid dari beliau.

Selesai.

Disalin ulang secara ringkas dari :

1. Kajian Maqtal rekaman ke 12 https://t.me/Alafghaniy/26
2. Kitab Maqtal Pdf Version Halaman 64-72


catatan admin dakwahpost.com

mu'anaqoh adalah merangkul untuk memeluk bertujuan untuk ramah tamah 
Baca selengkapnya »
KENAPA KITA HARUS BELAJAR FIKIH MUAMALAT?

KENAPA KITA HARUS BELAJAR FIKIH MUAMALAT?


Karena bahaya sekali jika pedagang tidak mengetahui halal dan haram.

Abu Laits (wafat: 373 H) berkata, “Seorang laki-laki tidak halal melakukan akad jual beli selagi dia belum menguasai bab fikih jual beli.”

Muhammad bin Hasan itu sarankan orang yang berdagang harus punya ahli fikih muamalat sebagai tempat untuk bertanya.

Pedagang diharuskan menguasai fikih jual beli ini berlaku sampai abad ke-8 Hijriyah sebagaimana kata Ibnu Al-Hajj.

Istri para salaf sampai berkata pada suaminya yang mencari nafkah:

إِيَّاكَ وَكَسْبَ الحَرَامِ فَإِنَّا نَصْبِرُ عَلَى الجُوْعِ وَالضَّرِّ وَلاَ نَصْبِرُ عَلَى النَّارِ
Hati-hati dengan harta haram.  Kami mampu bertahan menahan lapar dan mudarat lainnya. Akan tetapi, kami tidak mampu bertahan memakan neraka Allah. (Disebutkan oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum Ad-Diin, 2:343, Syamilah).

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum Ad-Diin dan Imam Asy-Syafii menukil adanya ijmak akan perkataan berikut ini,

فَمَنْ تَعَلَّمَ وَعَمِلَ بِمُقْتَضَى مَا عَلِمَ أَطَاعَ اللَّهَ تَعَالَى طَاعَتَيْنِ ، وَمَنْ لَمْ يَعْلَمْ وَلَمْ يَعْمَلْ فَقَدْ عَصَى اللَّهَمَعْصِيَتَيْنِ ، وَمَنْ عَلِمَ وَلَمْ يَعْمَلْ بِمُقْتَضَى عِلْمِهِ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ تَعَالَى طَاعَةً وَعَصَاهُ مَعْصِيَةً
“Siapa saja yang belajar dan mengamalkan ilmunya, berarti ia telah taat kepada Allah dalam dua ketaan. Namun, jika tidak belajar dan tidak beramal, berarti ia melakukan dua dosa. Siapa yang belajar, tetapi tidak mengamalkan ilmu, berarti ia telah taat kepada Allah dalam hal ilmu, tetapi ia dianggap durhaka karena tidak mengamalkan ilmu.” (Dinukil dari Anwar Al- Buruq fii Anwa’ Al-Furuq, 4:23, Syamilah)

Referensi:

1. Harta Haram Muamalat Kontemporer. Cetakan ke-23, Tahun 2020. Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. Berkat Mulia Insani.
2. Anwar Al-Buruq fi Anwa’ Al-Furuq. Mawqi’ Al-Islam. Maktabah Syamilah.
3. Ihya’ ‘Ulum Ad-Diin. Imam Al-Ghazali. Maktabah Syamilah.

Oleh: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal hafizhahullah
Sumber: https://rumaysho.com
Baca selengkapnya »
Biografi Al-Imam Al-Mujaddid, Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah

Biografi Al-Imam Al-Mujaddid, Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah


Nasab, Kelahiran, dan Perkembangan Beliau rahimahullah

Beliau adalah Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab bin Sulaiman bin ‘Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid At-Tamimi. Beliau dilahirkan pada tahun 1115H -bertepatan dengan 1703M- di negeri ‘Uyainah, daerah yang terletak di utara kota Riyadh, di mana keluarganya tinggal.

Beliau tumbuh di rumah ilmu di bawah asuhan ayahanda beliau, ‘Abdul Wahhab, yang menjabat sebagai hakim di masa pemerintahan ‘Abdullah bin Muhammad bin Hamd bin Ma’mar. Kakek beliau, yakni Asy-Syaikh Sulaiman adalah tokoh mufti yang menjadi referensi para ulama. Sementara seluruh paman-paman beliau sendiri juga ulama.

Beliau dididik ayah dan paman-pamannya semenjak kecil. Beliau telah menghafalkan Al-Qur’an sebelum mencapai usia 10 tahun di hadapan ayahnya. Beliau juga memperdengarkan bacaan kitab-kitab tafsir dan hadits, sehingga beliau unggul di bidang keilmuan dalam usia yang masih sangat dini. Di samping itu, beliau sangat fasih lisannya dan cepat dalam menulis. Ayahnya dan para ulama di sekitarnya amat kagum dengan kecerdasan dan keunggulannya. Mereka biasa berdiskusi dengan beliau dalam permasalahan-permasalah ilmiah, sehingga mereka dapat mengambil manfaat dari diskusi tersebut. Mereka mengakui keutamaan dan kelebihan yang ada pada diri beliau. Namun beliau tidaklah merasa cukup dengan kadar ilmu yang sedemikian ini, sekalipun pada diri beliau telah terkumpul sekian kebaikan. Beliau justru tidak pernah merasa puas terhadap ilmu.

Rihlah Beliau dalam Menuntut Ilmu

Beliau tinggalkan keluarga dan negerinya untuk berhaji. Seusai haji, beliau melanjutkan perjalanan ke Madinah dan menimba ilmu dari para ulama di negeri itu. Di antara guru beliau di Madinah adalah:
Asy-Syaikh ‘Abdullah bin Ibrahim bin Saif, dari Alu (keluarga) Saif An-Najdi. Beliau adalah imam bidang fiqih dan ushul fiqih.
Asy-Syaikh Ibrahim bin ‘Abdillah, putra Asy-Syaikh ‘Abdullah bin Ibrahim bin Saif, penulis kitab Al-‘Adzbul Fa’idh Syarh Alfiyyah Al-Fara’idh.
Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muhammad Hayah As-Sindi, dan beliau mendapatkan ijazah dalam periwayatannya dari kitab-kitab hadits.

Kemudian beliau kembali ke negerinya.

Tidak cukup ini saja, beliau kemudian melanjutkan perjalanan ke negeri Al-Ahsa’ di sebelah timur Najd. Di sana banyak ulama mahdzab Hambali, Syafi’i, Maliki dan Hanafi. Beliau belajar dari mereka, khususnya ulama mahdzab Hambali. Di antaranya adalah Muhammad bin Fairuz dan ‘Abdul Wahhab bin Fairuz. Beliau belajar fiqih kepada mereka dan juga belajar kepada ‘Abdullah bin ‘Abdul Lathif Al-Ahsa’i.

Tidak cukup sampai di situ. Bahkan beliau menuju ke Iraq, khususnya Bashrah, yang pada waktu itu dihuni oleh para ulama ahlul hadits dan fiqih. Beliau menimba ilmu dari mereka khususnya Asy-Syaikh Muhammad Al-Majmu’i, dan selainnya. Setiap kali pindah, jika beliau memperoleh buku-buku Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim muridnya, beliau segera menyalinnya dengan pena. Beliau menyalin banyak buku di Al-Ahsa’ dan Bashrah, sehingga terkumpullah kitab-kitab beliau dalam jumlah yang besar.

Selanjutnya beliau bertekad menuju negeri Syam, karena di sana ketika itu terdapat ahlul ilmi dan ahlul hadits, khususnya dari mahdzab Hambali. Namun setelah menempuh perjalanan ke sana, terasa oleh beliau perjalanan yang sangat berat. Beliau ditimpa lapar dan kehausan, bahkan hampir saja beliau meninggal dunia di perjalanan. Maka beliaupun kembali ke Bashrah dan tidak melanjutkan rihlah-nya ke negeri Syam.

Selanjutnya beliau bertolak ke Najd setelah berbekal ilmu dan memperoleh sejumlah besar kitab, selain kitab-kitab yang ada pada keluarga dan penduduk negeri beliau. Setelah itu, beliau pun berdakwah, mengadakan perbaikan dan menyebarkan ilmu yang bermanfaat serta tidak ridha dengan berdiam diri membiarkan manusia dalam kesesatan.

Dakwah Beliau


Kondisi keilmuan dan keagamaan manusia waktu itu benar-benar dalam keterpurukan yang nyata, hanyut dalam kegelapan syirik dan bid’ah. Sehingga, khurafat, peribadatan kepada kuburan, mayat, dan pepohonan merajalela. Sedangkan para ulamanya sama sekali tidak mempunyai perhatian terhadap aqidah salaf dan hanya mementingkan masalah-masalah fiqih. Bahkan di antara mereka justru memberikan dukungan kepada pelaku-pelaku kesesatan tersebut.

Adapun dari segi politik, mereka tepecah belah, tidak memiliki pemerintahan yang menyatukan mereka. Bahkan setiap kampung mempunyai amir (penguasa) sendiri. ‘Uyainah mempunyai penguasa sendiri, begitu pula Dir’iyyah, Riyadh dan daerah-daerah lainnya. Sehingga pertempuran, perampokan, pembunuhan dan berbagai tindak kejahatan pun terjadi di antara mereka.

Melihat kondisi yang demikian mengenaskan, bangkitlah ghirah (kecemburuan) beliau terhadap agama Allah Subhanahu wa Ta’ala, juga rasa kasih sayang beliau terhadap kaum muslimin. Mulailah beliau berdakwah menyeru manusia ke jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengajarkan tauhid, membasmi syirik, khurafat dan bid’ah-bid’ah serta menanamkan manhaj Salafush Shalih. Sehingga berkerumunlah murid-murid beliau, baik dari Dir’iyyah maupun ‘Uyainah.

Selanjutnya beliau mendakwahi amir ‘Uyainah. Pada awalnya, sang amir menyambut baik dakwah tauhid ini dan membelanya. Sampai-sampai ia menghancurkan kubah Zaid bin Al-Khaththab yang menjadi tempat kesyirikan, atas permintaan Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab. Namun karena adanya tekanan dan amir Al-Ahsa’, akhirnya amir ‘Uyainah pun menghendaki agar Asy-Syaikh keluar dari ‘Uyainah. Maka berangkatlah beliau menuju Dir’iyyah tanpa membawa sesuatupun kecuali sebuah kipas tangan guna melindungi wajahnya. Beliau terus berjalan di tengah hari seraya membaca:

وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ
“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah pasti Allah memberinya jalan keluar dan rizki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (Ath-Thalaq: 2-3)

Beliau terus mengulang-ulang ayat tersebut sampai tiba di tempat murid terbaiknya di Dir’iyyah yang bernama Ibnu Suwailim yang ketika itu merasa takut dan gelisah, mengkhawatirkan keselamatan dirinya dan juga syaikhnya karena penduduk negeri tersebut telah saling memperingatkan untuk berhati-hati dari syaikh. Maka beliau pun menenangkannya dengan mengatakan, “Jangan berpikir yang bukan-bukan, selama-lamanya. Bertawakkallah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya Dia akan menolong orang-orang yang membela agamanya.”

Berita kedatangan Asy-Syaikh diketahui seorang wanita shalihah, istri amir Dir’iyyah, Muhammad bin Su’ud. Dia lalu menawarkan kepada suaminya agar membela syaikh ini, karena beliau adalah nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dikaruniakan kepadanya, maka hendaklah dia bersegera menyambutnya. Sang istri berusaha menenangkan dan membangkitkan rasa cinta pada diri suaminya terhadap dakwah dan terhadap seorang ulama. Maka sang amir mengatakan, “(Tunggu) beliau datang kepadaku.” Istrinya menimpali “Justru pergilah Anda kepadanya, karena jika Anda mengirim utusan dan mengatakan ‘Datangkan beliau kepadaku’, bisa jadi manusia akan mengatakan bahwa Amir meminta beliau datang untuk ditangkap. Namun jika Anda sendiri yang mendatanginya, maka itu merupakan suatu kehormatan bagi beliau dan bagi anda.”

Sang amir akhirnya mendatangi Asy-Syaikh, mengucapkan salam dan menanyakan perihal kedatangannya. Asy-Syaikh rahimahullah menerangkan bahwa tidak lain beliau hanya mengemban dakwah para rasul yakni menyeru kepada kalimat tauhid Laa ilaha illallah. Beliau jelaskan maknanya, dan beliau jelaskan pula bahwa itulah aqidah para rasul. Sang amiru mengatakan: “Bergembiralah dengan pembelaan dan dukungan.” Asy-Syaikh rahimahullah menimpali: “Berbahagialah dengan kemuliaan dan kekokohan. Karena barang siapa menegakkan kalimat Laa ilaha illallah ini, pasti Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan kekokohan kepadanya.” Sang amir menjawab: “Tapi saya punya satu syarat untuk Anda.” Beliau bertanya: “Apa itu?” Sang amir menjawab: “Anda membiarkanku dan apa yang aku ambil dari manusia.” Jawab Asy-Syaikh rahimahullah: “Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kecukupan kepada Anda dari semua ini, dan membukakan pintu-pintu rizki dari sisi-Nya untuk Anda.” Kemudian keduanya berpisah atas kesepakatan ini. Mulailah Asy-Syaikh berdakwah dan sang amir melindungi dan membelanya, sehingga para thalabul ilmi (penuntut ilmu) berduyun-duyun datang ke Dir’iyyah. Semenjak itu beliau menjadi imam shalat, mufti dan juga qadhi. Maka terbentuklah pemerintahan tauhid di negeri Dir’iyyah.

Kemudian Asy-Syaikh mengirim risalah ke negeri-negeri sekitarnya, menyeru mereka kepada aqidah tauhid, meninggalkan bid’ah dan khurafat. Sebagian mereka menerima dan sebagian lagi menolak serta menghalangi dakwah beliau, sehingga merekapun diperangi oleh tentara tauhid di bawah komando amir Muhammad bin Su’ud dengan bimbingan dari beliau rahimahullah. Hal itu menjadi sebab meluasnya dakwah tauhid di daerah Najd dan sekitarnya. Bahkan amir ‘Uyainah pun kini masuk di bawah kekuasaan Ibnu Su’ud, begitu pula Riyadh, dan terus meluas ke daerah Kharaj, ke utara dan selatan. Di bagian utara sampai ke perbatasan Syam, dan di bagian selatan hingga perbatasan Yaman, dan di bagian timur dari Laut Merah hingga Teluk Arab. Seluruhnya di bawah kekuasaan Dir’iyyah, baik daerah kota maupun gurunnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan kebaikan, rizki, kecukupan dan kekayaan kepada penduduk Dir’iyyah. Maka berdirilan pusat perdagangan di sana, dan bersinarlah negeri tersebut dengan ilmu dan kekuasaan sebagai berkah dari dakwah salafiyah yang merupakan dakwah para Rasul.

Karya beliau sangat banyak, di antaranya:

- Kitab At-Tauhid Al-Ladzi Huwa Haqqullah ‘ala Al-‘Abid
- Al-Ushul Ats-Tsalatsah
- Kasyfusy Syubhat
- Mukhtashar Sirah Rasul shallallâhu ‘alaihi wa sallam
- Qawa’idul ‘Arba’ah, dan lainnya

Wafat Beliau


Beliau wafat pada tahun 1206H. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan rahmat-Nya kepada beliau, meninggikan derajat dan kedudukannya di jannah-Nya yang luas serta mengumpulkan beliau bersama orang-orang shalih dan para syuhada’. Amin ya Rabbali ‘alamin.

(Disarikan dari Syarh Ushul Ats-Tsalatsah, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, hal. 5, dan Syarh Kasyfusy Syubhat, Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan, hal. 3-12)
=============

Dibagikan oleh Rumah Ilmu Dar Alamiyyah & Kampus Dakwah Utsman diseberang Kampus Lipia Jakarta Selatan dibawah bimbingan ust Anton Abdillah Al Atsary
Baca selengkapnya »
Kisah Nyata Seorang Dokter Setelah Itikaf Di Mesjid 3 Hari

Kisah Nyata Seorang Dokter Setelah Itikaf Di Mesjid 3 Hari

Kisah Nyata Seorang Dokter Setelah Itikaf Di Mesjid 3 Hari

KISAH NYATA yg inspiratif di Bandung .

Sejak pulang dari itikaf di masjid selama tiga hari bersama jamaah dakwah, dokter Agus menjadi pribadi yang berbeda. Sedikit-sedikit bicaranya Allah, sedikit-sedikit bicaranya Rasulullah.

Cara makan dan cara tidurnya pun berbeda, katanya itulah cara tidur Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Rupanya, pengalaman itikaf dan belajar di masjid betul-betul berkesan baginya. Ada semangat baru.

Namun beliau juga jadi lebih banyak merenung. Dia selalu teringat-ingat dengan kalimat yang dibicarakan amir jamaah.

“Obat tidak dapat menyembuhkan, yang menyembuhkan adalah Allah.

Obat bisa menyembuhkan berhajat kepada Allah, karena sunnatullah.

Sedang Allah menyembuhkan, tidak berhajat melalui obat.

Allah bisa menyembuhkan dengan obat atau bahkan tanpa obat.

Yang menyembuhkan bukanlah obat, yang menyembuhkan adalah Allah.”

Dia-pun merenung, bukan hanya obat, bahkan dokter pun tidak punya upaya untuk memberi kesembuhan. Yang memberi kesembuhan adalah Allah.

Sejak itu, sebelum memeriksa pasiennya, ia selalu bertanya.

“Bapak sebelum ke sini sudah izin dulu kepada Allah?” atau “Sudah berdoa meminta kesembuhan kepada Allah?” atau “Sudah lapor dulu kepada Allah?"

Jika dijawab belum (kebanyakan memang belum), beliau meminta pasien tersebut mengambil air wudhu, dan shalat dua rakaat di tempat yang telah disediakan

Jika memberikan obat, beliau pun berpesan dengan kalimat yang sama. “Obat tidak bisa menyembuhkan, yang menyembuhkan adalah Allah. Namun berobat adalah sunnah dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan sebagai ikhtiar dan sunnatullah, agar Allah mau menyembuhkan”.

Ajaib! banyak pasien yang sembuh.

Jika diperiksa dengan ilmu medis, peluang sehatnya hampir tidak ada, ketika diberikan terapi “Yakin” yang diberikan beliau, menjadi sehat.

Pernah ada pasien yang mengeluh sakit, beliau minta agar orang tsb. untuk shalat dua rakaat (minta ampun dan minta kesembuhan kepada Allah), ketika selesai shalat pasien tersebut langsung merasa sehat dan tidak jadi berobat.

Rudi, Asistennya bertanya, kenapa dia langsung sembuh?
Dr. Agus katakan, bisa jadi sumber sakitnya ada di hati, hati yang gersang karena jauh dari Allah.

Efek lain adalah pasiennya pulang dalam keadaan senang dan gembira. Karena tidak hanya fisiknya yang diobati, namun batinnya pun terobati.

Hati yang sehat, membuat fisik yang kuat. Dan sebaik-baik obat hati adalah Dzikir, Al-Quran, Wudhu, Shalat, Do'a dan tawakal pada Allah.

Pernah ada pasien yang jantungnya bermasalah dan harus dioperasi.

Selain “Yakin”, beliau juga mengajarkan terapi cara hidup Rasulullah. Pasien tersebut diminta mengamalkan satu sunnah saja, yaitu sunnah tidur. Sebelum tidur berwudhu, kalau bisa shalat dua rakaat, berdoa, berdzikir, menutup aurat, posisi kanan adalah kiblat, dan tubuh miring ke kanan.

Seminggu kemudian, pasien tersebut diperiksa. Alhamdulillah, tidak perlu dilakukan operasi. Allah telah memberi kesembuhan atasnya.

Ada juga pasien yang ginjalnya bermasalah. Beliau minta agar pasien tersebut mengamalkan sunnah makan dan sunnah di dalam WC. Makan dengan duduk sunnah sehingga posisi tubuh otomatis membagi perut menjadi 3 (udara, makanan, dan air). Kemudian buang air kecil dengan cara duduk sunnah, menguras habis-habis kencing yang tersisa dengan berdehem 3 kali, mengurut, dan membasuhnya dengan bersih.

Seminggu kemudian, saat diperiksa ternyata Allah berikan kesembuhan kepada orang tersebut.

Rudi pernah sedikit protes. Sejak melibatkan Allah, pasiennya jadi jarang bolak-balik dan berisiko mengurangi pendapatan beliau.

Namun Dr. Agus katakan bahwa rezeki adalah urusan Allah. Dan beliau jawab dengan kalimat yang sama dengan redaksi yang berbeda, bahwa “Sakitnya pasien tidak dapat mendatangkan rezeki, yang memberi rezeki adalah Allah. Allah juga bisa mendatangkan rezeki tanpa melalui sakitnya pasien”.

Enam bulan berikutnya seorang pasien yang pernah sembuh karena diminta shalat oleh beliau, datang ke klinik, mengucapkan terima kasih, dan berniat mengajak dokter serta asistennya umroh bulan depan.

Dr. Agus kemudian memanggil Rudi ke dalam ruangan. Sebenarnya beliau tahu bahwa Rudi ingin: sekali berangkat umrah. Namun kali ini beliau ingin bertanya langsung dengannya.

“Rudi, bapak ini mengajak kita untuk umrah bulan depan, kamu bersedia?”

Rudi tidak menjawab, namun matanya berbinar, air matanya tampak mau jatuh.
“Sebelum menjawab, saya izin shalat dulu pak,” ucapnya lirih. Ia shalat lama sekali, sepertinya ini shalat dia yang paling khusyu'.

Pelan, terdengar dia terisak-isak menangis dalam doanya.
------
Demikian mudah-mudahan kisah yang di bagikan membawa banyak manfaat,..... kisah nyata...........

Dr. Agus Thosin, SpJP (Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah) praktek di RSAI Bandung

penulis unknow
Baca selengkapnya »
ALLAH MENGANGKAT DERAJAT ORANG YANG BERILMU

ALLAH MENGANGKAT DERAJAT ORANG YANG BERILMU

ALLAH MENGANGKAT DERAJAT ORANG YANG BERILMU

Allah Jalla Jalaaluhu berfirman :

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat". (Al Mujadilah : 11)

Berkata Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullaah :

إن العلم يرفع صاحبَه في الدنيا و الآخرة ما لا يرفعه المُلكُ و لا المال و لا غيرهما 
"Sesungguhnya ilmu akan mengangkat derajat pemiliknya di dunia dan akhirat kepada derajat yang kerajaan dan harta dan selain keduanya tidak bisa mengangkatnya (ke derajat tersebut).

فالعلم يزيد الشريف شرفًا ، و يرفع العبد المملوك ، حتى يُجلِسه مجالس الملوك .
"Maka ilmu akan menambah kemuliaan orang yang mulia, mengangkat kedudukan hamba sahaya hingga mendudukkannya di majelis para raja".

مفتاح دار السعادة ( 1/258 )

Di terjemahkan oleh Abu Sufyan Al Makassary
Baca selengkapnya »
Beranda

BERLANGGANAN ARTIKEL KAMI