IBX5A47BA52847EF DakwahPost
artikel ini republish, admin telah melakukan klarifikasi langsung kepada profesor karim jogja via email dan whatsapp cacatan admin perih...
Keutamaan berdoa pada hari jumat

Keutamaan berdoa pada hari jumat

عن أبي هريرة رضى الله عنه أن رسول الله - صلّى الله عليه وسلّم – ذكر يوم الجمعة، فقال:" فيه ساعة لا يوافقها عبد مسلم وهو قائم يصلّي يسأل الله تعالى شيئاً، إلا أعطاه إيّاه وأشار بيده يقلّلها" متفق عليه 
Dari Abu hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alahi wa salam bersabda, pada hari jumat ada waktu yang mana seorang hamba muslim yang tepat beribadah dan berdoa pada waktu tersebut meminta sesuatu melainkan Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan permintaannya, beliau mengisyaratkan dengan tangannya untuk menunjukkan bahwa waktu tersebut sangat sedikit. HR. Bukhari-Muslim

Keutamaan berdoa pada hari jumat

Faedah dari hadist ini

1. Keutamaan berdoa pada hari jumat
2. Orang yang rajin beribadah adalah orang yang paling patut diterima doanya
3. Anjuran untuk mencari waktu-waktu yang afdhol untuk berdoa
Baca selengkapnya »
Keluar Mani Karena mencium Istri, batalkah puasa ?

Keluar Mani Karena mencium Istri, batalkah puasa ?

Apabila saya mencium istri hingga membuat saya er3ksi saat sedang berpuasa dan sudah berwudhu, apakah ini membatalkan puasa dan wudhu saya, ataukah hanya wudhu saja, atau keduanya tidak batal sama sekali? Apa hukumnya mengoleskan parfum pada saat berpuasa, apakah itu haram atau makruh?

Jawaban :
Orang yang berpuasa wajib menghindari hal-hal yang dapat membatalkan puasa, baik untuk dirinya sendiri maupun istri. Ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shallallahu `Alaihi wa Sallam, "Jika kalian sedang berpuasa, maka janganlah berkata kotor dan berteriak untuk mencaci-maki. Jika ada seseorang yang mencaci atau memeranginya, maka hendaknya dia berkata, 'Aku sedang berpuasa'.
(Muttafaq `Alaih). Apabila sampai keluar mani (ejakulasi), maka puasa Anda batal. Anda harus meng-qadha puasa tersebut dan mandi junub.

Keluar Mani Karena mencium Istri, batalkah puasa

Sekalipun tidak sampai keluar mani, biasanya perbuatan seperti itu mendorong keluarnya madzi. Jika keluar madzi, maka wudhu Anda batal. Anda harus mengulang wudhu, serta mencuci pen1s dan skrotum (dua biji zakar), namun puasa Anda tetap sah. Apabila tidak keluar madzi, maka puasa Anda sah (tanpa ada konsekuensi lain). Hukum yang berlaku untuk istri Anda sama seperti yang telah kami sebutkan sebelumnya. Adapun mengoleskan parfum saat berpuasa boleh-boleh saja, kecuali dupa. Sebaiknya orang yang berpuasa menghindari untuk menghirup bau dupa. Adapun memakaikan asap dupa pada baju atau sorban dibolehkan.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam

Al-Lajnah ad-Daimah Lilbuhuts al-Ilmiyyah Walifta'
Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Wakil: Abdurrazzaq 'Afifi
Anggota: Abdullah bin Ghudayyan

السؤال الثاني من الفتوى رقم (14283)
س2: إذا قبلت زوجتي وحدث لي انتصاب وكنت صائما ومتوضئا، هل يبطل الصيام والوضوء، أم يبطل الوضوء فقط، أم ليس لهما بطلان، وما حكم مس الطيب أثناء الصيام هل هو حرام أم مكروه؟
ج2: الواجب على الصائم أن يجتنب ما يخل بصومه أو بصوم زوجته؛ لقوله صلى الله عليه وسلم: «إذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفث ولا يصخب، فإن شاتمه أحد أو قاتله فليقل: إني امرؤ صائم (1) » متفق عليه، فإذا أنزلت المني فإنه يبطل صومك وعليك قضاء هذا اليوم
__________
(1) صحيح البخاري الصوم (1904) ، صحيح مسلم الصيام (1151) ، سنن النسائي الصيام (2217) ، سنن ابن ماجه الصيام (1691) ، مسند أحمد (6/244) .

والغسل من الجنابة.
وإذا لم تنزل المني فإن ذلك مدعاة لخروج المذي، فإن خرج فقد بطل وضوءك فعليك الوضوء مع غسل ذكرك وأنثييك وصومك صحيح، فإن لم يخرج فصومك صحيح، وحكم المرأة حكمك فيما ذكرنا، وأما الطيب أثناء الصيام فلا مانع منه إلا البخور، فينبغي تجنب استعاطه، وأما تبخير الثياب والعمامة فلا بأس به.
وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو ... نائب الرئيس ... الرئيس
عبد الله بن غديان ... عبد الرزاق عفيفي ... عبد العزيز بن عبد الله بن باز
Baca selengkapnya »
Ternyata 1 amalan bisa multi niat dan multi pahala

Ternyata 1 amalan bisa multi niat dan multi pahala

Sungguh umur kita sangat terbatas…, harus kita akui bahwa waktu yang kita gunakan untuk beramal sholeh sangat sedikit…berbeda dengan waktu yang kita gunakan untuk urusan dunia.

Kita butuh strategi dalam beramal agar dengan amal yang terbatas kita bisa meraih pahala yang lebih banyak.

Diantara strategi yang mungkin bisa kita lakukan adalah memperbanyak niat yang baik dalam satu amalan . Semakin banyak niat baik yang diniatkan oleh seorang hamba maka semakin banyak pahala yang akan ia peroleh.

Beberapa perkara yang penting untuk diingat kembali :

 Pertama : Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

إنّمَا الأَعْمَالُ بالنِّيّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امرِىءٍ مَا نَوَى
"Hanyalah amalan-amalan tergantung pada niat-niat. Dan bagi setiap orang apa yang dia niatkan" (HR Al-Bukhari no 1 dan Muslim no 1907)

Dan keumuman hadits ini menunjukkan seseorang mendapatkan ganjaran berdasarkan niatnya, maka jika ia berniat banyak ia akan mendapatkan banyak pahala.

 Kedua : Sekedar niat yang kuat maka telah mendatangkan pahala

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

فَمَنْ هَمَّ بحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَها اللهُ تَبَارَكَ وتَعَالى عِنْدَهُ حَسَنَةً كامِلَةً، وَإنْ هَمَّ بهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عَشْرَ حَسَناتٍ إِلى سَبْعمئةِ ضِعْفٍ إِلى أَضعَافٍ كَثيرةٍ
“Barangsiapa berniat untuk melakukan kebaikan lalu tidak jadi melakukannya maka Allah tabaaraka wa ta’ala mencatat disisi-Nya satu kebaikan sempurna, dan jika ia berniat untuk melakukannya lalu melakukannya maka Allah mencatatnya sepuluh  kebaikan sampai tujuh puluh kali lipat sampai berlipat-lipat yang banyak.” (HR Al-Bukhari no 6491 dan Muslim no 128)

Tatkala Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pulang dari perang Tabuk dan telah dekat dengan Madinah beliau berkata:

إِنَّ بالمدِينَةِ لَرِجَالًا ما سِرْتُمْ مَسِيرًا، وَلاَ قَطَعْتُمْ وَادِيًا، إلاَّ كَانُوا مَعَكمْ حَبَسَهُمُ الْمَرَضُ». وَفي روَايَة: «إلاَّ شَرَكُوكُمْ في الأجْرِ
“Sesungguhnya di Madinah ada para laki-laki yang mana tidaklah kalian menempuh perjalanan tidak pula melewati lembah melainkan mereka bersama kalian, sakit telah menghalangi mereka.” Diriwayat yang lain “…melainkan mereka berserikat dengan kalian dalam pahala” (HR Al-Bukhari no 4423 dan Muslim no 1911)

Rasulullah juga bersabda :

«مَنْ سَألَ اللهَ تَعَالَى الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ، وَإنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ»
“Barangsiapa meminta kepada Allah mati syahid dengan (penuh -pent) kejujuran maka Allah akan menyampaikannya pada kedudukan syuhada walaupun ia mati di atas tempat tidurnya.” (HR Muslim no 1909)

Rasulullah juga bersabda:

إنَّمَا الدُّنْيَا لأرْبَعَةِ نَفَرٍ: عَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالًا وَعِلمًا، فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَيَعْلَمُ للهِ فِيهِ حَقًّا، فَهذا بأفضَلِ المَنَازِلِ. وَعَبْدٍ رَزَقهُ اللهُ عِلْمًا، وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا، فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ، يَقُولُ: لَوْ أنَّ لِي مَالًا لَعَمِلتُ بِعَمَلِ فُلانٍ، فَهُوَ بنيَّتِهِ، فأجْرُهُمَا سَوَاءٌ. وَعَبْدٍ رَزَقَهُ الله مَالًا، وَلَمَ يَرْزُقْهُ عِلْمًا، فَهُوَ يَخبطُ في مَالِهِ بغَيرِ عِلْمٍ، لاَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَلاَ يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَلاَ يَعْلَمُ للهِ فِيهِ حَقًّا، فَهذَا بأَخْبَثِ المَنَازِلِ. وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالًا وَلاَ عِلْمًا، فَهُوَ يَقُولُ: لَوْ أنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بعَمَلِ فُلاَنٍ، فَهُوَ بنِيَّتِهِ، فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ
Sesungguhnya dunia ini untuk empat orang:

1. Seorang hamba yang telah Allah anugerahi harta dan ilmu maka iapun mentaati Rabbnya pada (penggunaan) harta dan ilmunya, menyambung silaturahim, dan mengetahui pada ilmu dan hartanya tersebut ada hak Allah, maka orang ini berada pada *kedudukan yang paling utama .

2. Dan seorang hamba yang Allah anugerahi ilmu akan tetapi tidak Allah anugerahi harta maka iapun mempunyai niat yang benar, ia berkata “Seandainya aku memiliki harta sungguh aku akan beramal sebagaimana amalan fulan", maka ia dengan niatnya pahala keduanya sama.

3. Dan seorang hamba yang Allah anugerahi harta akan tetapi tidak Allah anugerahi ilmu maka iapun ngawur menggunakan hartanya tanpa ilmu. Ia tidak mentaati Rabbnya pada hartanya, tidak pula menyambung silaturahim, tidak mengetahui bahwasanya pada hartanya itu ada hak Allah. Maka orang ini berada pada tingakatan paling buruk.

4. Dan seorang hamba yang tidak Allah anugerahi harta maupun ilmu maka iapun berkata, “Seandainya aku memiliki harta tentu aku akan menggunakan hartaku sebagaimana perbuatan si fulan” maka ia dengan niatnya dosa keduanya sama” (HR At-Thirmidzi no 2325)


 Ketiga: Jika seorang telah berniat lalu berusaha beramal dan ternyata amalannya tidak sesuai dengan yang ia niatkan maka ia tetap mendapatkan pahala

وعن أبي يَزيدَ مَعْنِ بنِ يَزيدَ بنِ الأخنسِ - رضي الله عنهم - وهو وأبوه وَجَدُّه صحابيُّون، قَالَ: كَانَ أبي يَزيدُ أخْرَجَ دَنَانِيرَ يَتَصَدَّقُ بِهَا، فَوَضعَهَا عِنْدَ رَجُلٍ في الْمَسْجِدِ، فَجِئْتُ فأَخذْتُها فَأَتَيْتُهُ بِهَا. فقالَ: واللهِ، مَا إيَّاكَ أرَدْتُ، فَخَاصَمْتُهُ إِلى رسولِ اللهِ - صلى الله عليه وسلم - فقَالَ: «لكَ مَا نَوَيْتَ يَا يزيدُ، ولَكَ ما أخَذْتَ يَا مَعْنُ»
Dari Abu Yazid Ma’an bin  Yazid bin Akhnas radhiyallahu ‘anhum –dia, bapaknya dan kakeknya adalah sahabat Nabi-, dia berkata, “Dulu Abu Yazid mengeluarkan dinar-dinar untuk disedekahkan, maka iapun meletakkannya  di samping seseorang di masjid, maka akupun datang dan mengambilnya. Kemudian aku mendatanginya dengan membawa sedekah tersebut”, ia berkata, “Demi Allah, yang aku inginkan bukan engkau.” Maka aku pun mengadukannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Bagimu apa yang kamu niatkan wahai Yazid dan bagimu apa yang kamu ambil wahai Ma’an ” (HR Al-Bukhari no 1422)

Sang ayah tidak bermaksud sedekahnya diberikan kepada sang anak, akan tetapi Allah menetapkan bagai sang ayah pahala karena niatnya yang baik, meskipun akhirnya harta sedekah tersebut kembali kepada sang ayah. Karena sang anak di bawah tanggungan sang ayah

Rasulullah juga bersabda :

قاَلَ رَجُلٌ لَأَتَصَدَّقَنَّ اللَّيْلَةَ بِصَدَقَةٍ، فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ زَانِيَةٍ فَأَصْبَحُوْا يَتَحَدَّثُوْنَ تُصُدِّقَ اللَّيْلَةَ عَلَى زَانِيَةٍ قَالَ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ عَلَى زَانِيَةٍ، لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ غَنِيٍّ فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُوْنَ تُصُدِّقَ عَلَى غَنِي قَالَ اللَّهُمَّ لك الْحَمْدُ عَلَى غَنِيٍّ لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ سَارِقٍ فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُوْنَ تُصُدِّقَ عَلَى سَارِقٍ فَقَالَ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ عَلَى زَانِيَةٍ وَعَلَى غَنِيٍّ وَعَلَى سَارِقٍ فَأُتِيَ فَقِيْلَ لَهُ : أَمَّا صَدَقَتُكَ فَقَدْ قُبِلَتْ أَمَّا الزَّانِيَةُ فَلَعَلَّهَا تَسْتَعِفُّ بِهَا عَنْ زِنَاهَا وَلَعَلَّ الْغَنِيُّ يَعْتَبِرُ فَيُنْفِقُ مِمَّا أَعْطَاهُ اللهُ وَلَعَلَّ السَّارِقَ يَسْتَعِفُّ بِهَا عَنْ سَرِقَتِهِ
Seseorang telah berkata, ‘Sungguh aku akan bersedekah malam ini.’ Kemudian ia keluar untuk bersedekah maka ia menyedekahkannya ke tangan seorang pezina. Pada keesokan harinya, orang-orang membicarakan (bahwa) sedekah telah diberikan kepada seorang pezina. Ia berkata, “Yaa Allah, segala puji bagiMu, sedekahku (ternyata) jatuh pada seorang pezina, sungguh aku akan bersedekah". Kemudian ia keluar untuk bersedekah maka ia menyedekahkannya kepada orang kaya.

Pada keesokan harinya, orang-orang membicarakan (bahwa) sedekah telah diberikan kepada orang kaya. Ia berkata, “Yaa Allah, segala puji bagiMu, sedekahku (ternyata) jatuh pada seorang kaya, sungguh aku akan bersedekah". Kemudian ia keluar untuk bersedekah maka ia menyedekahkannya kepada pencuri. Pada keesokan harinya, orang-orang membicarakan (bahwa) sedekah telah diberikan kepada seorang pencuri. Ia berkata, “Yaa Allah, segala puji bagiMu, sedekahku (ternyata) jatuh pada seorang pezina, orang kaya, dan seorang pencuri”.

Maka ia didatangi (*dalam mimpi) dan dikatakan padanya, adapun sedekahmu maka telah diterima, adapun pezina  mudah-mudahan dengan (sebab sedekahmu) ia mejaga diri dari zina, dan mudah-mudahan orang kaya tersebut mengambil pelajaran kemudian menginfakkan harta yang Allah berikan, dan mudah-mudahan dengan sebab itu pencuri tersebut menjaga diri dari mencuri.

(HR Muslim no 1022)

 Keempat: *Niat yang baik merubah pekerjaan yang asalnya hukumnya hanya mubah menjadi suatu qurbah (ibadah) yang diberi ganjaran oleh Allah.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada Sa'ad bin Abi Waqqoosh radhiallahu 'anhu

وَإنَّكَ لَنْ تُنفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغي بِهَا وَجهَ اللهِ إلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ في فِيِّ امْرَأَتِكَ
"Sesungguhnya tidaklah engkau menginfakkan satu infakpun yang dengan infak tersebut engkau mengharapkan wajah Allah kecuali engkau akan diberi ganjaran atasnya, sampai-sampai suapan yang kau suapkan ke mulut istrimu” (HR Al-Bukhari no 56 dan Muslim no 1628)

Mu'aadz bin Jabal radhiallahu 'anhu berkata,

أَمَّا أَنَا فَأَنَامُ وَأَقُومُ وَأَرْجُو فِي نَوْمَتِي مَا أَرْجُو فِي قَوْمَتِي.
"Adapun aku, maka aku tidur dan sholat malam, dan aku berharap pahala dari tidurku sebagaimana pahala yang aku harapkan dari sholat malamku" (HR Al-Bukhari no 6923 dan Muslim no 1733)

An-Nawawi berkata, "Maknanya adalah aku tidur dengan niat untuk menguatkan diriku dan berkonsentrasi untuk ibadah serta menyegarkan/menyemangatkan diri untuk ketaatan, maka aku berharap pahala pada tidurku ini sebagaimana aku berharap pahala pada sholat-sholatku" (Al-Minhaaj syarh Shahih Muslim 12/209)

Ibnu Hajr berkata,

وَمَعْنَاهُ: أَنَّهُ يَطْلُب الثَّوَاب فِي الرَّاحَة كَمَا يَطْلُبهُ فِي التَّعَب, لِأَنَّ الرَّاحَة إِذَا قُصِدَ بِهَا الْإِعَانَة عَلَى الْعِبَادَة حَصَّلَتْ الثَّوَاب
"Maknanya adalah ia mencari ganjaran pahala dalam istirahat sebagaimana ia mencarinya dalam kelelahan (ibadah), karena istirahat jika dimaksudkan untuk membantu dalam beribadah maka akan mendatangkan pahala" (Fathul Baari 8/62)

Ibnu Qudaamah berkata : Sebagian para salaf berkata, “Sungguh aku lebih senang jika pada setiap yang aku lakukan terdapat sebuah niat, sampai-sampai pada makanku, minumku, tidurku, dan ketika masuk ke dalam wc, serta pada semua yang bisa diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah". Karena semua yang menjadi sebab tegaknya badan dan luangnya hati adalah bagian dari kepentingan agama, maka, siapa saja yang meniatkan makannya sebagai bentuk ketakwaan dalam beribadah, menikah untuk menjaga agamanya, menyenangkan hati keluarganya, dan agar bisa memiliki anak yang menyembah Allah setelah wafatnya maka ia akan diberi pahala atas semua hal itu.

Jangan kamu remehkan sedikitpun dari gerakanmu dan kata-katamu, dan hisablah dirimu sebelum engkau dihisab, dan luruskanlah sebelum engkau melakukan apa yang engkau lakukan, dan juga perhatikanlah niatmu terhadap hal-hal yang engkau tinggalkan. (Mukhtashor Minhaaj Al-Qooshidiin hal 363)

Contoh praktek Multi Niat Pada Satu Amalan Sholeh

Ibnu Qudaamah Al-Maqdisi rahimahullah berkata :

الطاعات، وهى مرتبطة بالنيات في أصل صحتها، وفى تضاعف فضلها، وأما الأصل، فهو أن ينوى عبادة الله تعالى لا غير، فإن نوى الرياء صارت معصية . وأما تضاعف الفضل، فبكثرة النيات الحسنة، فإن الطاعة الواحدة يمكن أن ينوى بها خيرات كثيرة، فيكون له بكل نية ثواب، إذ كل واحدة منها حسنة، ثم تضاعف كل حسنة عشر أمثالها

"Ketaatan-ketaatan berkaitan dengan niat dari sisi sahnya ketaatan tersebut dan dari sisi berlipat gandanya ganjaran/pahala ketaatan tersebut. Adapun dari sisi sahnya maka hendaknya ia berniat untuk beribadah kepada Allah saja dan bukan kepada selain-Nya, jika ia meniatkan riyaa maka ketaatan tersebut berubah menjadi kemaksiatan.

Adapun dari sisi berlipat gandanya pahala, yaitu dengan banyaknya niat-niat baik. Karena satu ketaatan memungkinkan untuk diniatkan banyak kebaikan, maka baginya pahala untuk masing-masing niat. Karena setiap niat merupakan kabaikan, kemudian setiap kebaikan akan dilipat gandakan menjadi 10 kali lipat" (Mukhtashor Minhaaj Al-Qosshidiin hal 362)

Diantara contoh praktek menggandakan niat-niat kebaikan dalam satu amalan adalah :

 Pertama : Duduk di mesjid

Ibnu Qudaamah berkata : “Sebagai contoh duduk di masjid, maka sesungguhnya hal itu adalah salah satu amalan ketaatan, dengan hal itu seseorang bisa meniatkan niat yang banyak seperti meniatkan dengan masuknya menunggu waktu sholat, iktikaf, menahan anggota badan (dari maksiat –pent), menolak hal-hal yang memalingkan dari Allah dengan mempergunakan seluruh waktunya untuk di masjid, untuk dzikir kepada Allah dan yang semisalnya. Inilah cara untuk memperbanyak niat maka qiyaskanlah dengan hal ini amalan-amalan ketaatan lainnya karena tidak ada satu ketaatanpun melainkan dapat diniatkan dengan niat yang banyak.” (Mukhtashor Minhaaj Al-Qosshidiin hal 362 )

Kedua : Menuntut Ilmu

Imam Ahmad berkata :

الْعِلْمُ أَفْضَلُ الأَعْمَالِ لِمَنْ صَحَّتْ نِيَّتُهُ، قِيْلَ : بِأَيِّ شَيْءٍ تَصِحُّ النِّيَّةُ قَالَ: يَنْوِي يَتَوَاضَعُ فِيْهِ وَيَنْفِي عَنْهُ الْجَهْلَ
"Ilmu adalah amalan yang termulia bagi orang yang niatnya benar".

Lalu dikatakan kepada beliau, "Dengan perkara apa agar niat menjadi benar?", Imam Ahmad berkata, "Ia niatkan untuk bersikap tawadhu pada ilmunya, dan untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya" (Al-Inshoof 2/116)

Imam Ahmad juga berkata :

العِلْمُ لاَ يَعْدِلُهُ شَيْءٌ لِمَنْ صَحَّتْ نِيَّتُهُ ". قَالُوا: كَيْفَ ذَلِكَ؟ قَالَ: "يَنْوِي رَفْعَ الْجَهْلَ عَنْ نَفْسِهِ وَعَنْ غَيْرِهِ
"Tidak ada sesuatupun yang setara dengan ilmu bagi orang yang benar niatnya", mereka berkata, "Bagaimana caranya?". Imam Ahmad berkata, "Yiatu ia berniat untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan juga dari orang lain" (Majmuu' Fataawaa wa Rosaail Syaikh Ibnu Al-'Utsaimiin 26/75)

Ilmu menjadi amalan yang paling mulia tatkala dibarengi dengan banyak niat baik, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ahmad yaitu jika diniatkan untuk agar bisa tawaadhu' dan juga untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan juga untuk berdakwah dalam rangka untuk menghilangkan kebodohan dari orang lain.

Syaikh Ibnu Al-'Utsaimin menyebutkan beberapa niat yang hendaknya ditanam dalam hati seorang penuntut ilmu tatkala ia menuntut ilmu, diantaranya ;

- Berniat untuk menjalankan perintah Allah.
- Berniat untuk menjaga syari'at Islam, karena menuntut ilmu adalah sarana terbesar untuk menjaga kelestarian syari'at (hukum-hukum Islam).
- Berniat untuk membela agama, karena agama memiliki musuh-musuh yang ingin merusak agama ini, diantaranya dengan menyebarkan syubhat-syubhat
- Berniat untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya
- Berniat untuk menghilangkan kebodohan dari orang lain

 Ketiga : Tatkala berangkat ke mesjid

Bisa dengan meniatkan perkara-perkara berikut :
1.Memakmurkan masjid, Allah berfirman "Sesungguhnya orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir" (QS At-Taubah : 18)
2. Senyum kepada saudara, karena hal itu adalah sedekah.
3. Menyebarkan salam.
4. Menghadiri shalat jama’ah.
5. Memperbanyak jumlah kaum muslimin.
6. Berdakwah dijalan Allah.
7. Merasa bangga karena Allah menyebut-nyebut namamu.
8. Menunggu sesaat turunnya ketenangan untuk mengkhusyu’kan hati.
9. Menghadiri majelis-majelis ilmu.
10. Menunggu turunnya rahmat.
11. Mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan wajib dan amalan-amalan sunnah untuk mendapatkan kecintaan Allah

Keempat : Tatkala membaca atau menghafal Al-Qur'an

Dengan meniatkan perkara-perkara berikut :
1. Berniat untuk mendapat kebaikan pada setiap huruf
2. Mengingat negeri akhirat
3. Mentadabburi ayat-ayat al-qur’an.
4. Agar mendapatkan syafa’at al-qur’an.
5. Mendekatkan diri kepada Allah dengan membaca firman-firman-Nya.
6. Mengamalkan hal-hal yang terkandung di dalam al-qur’an.
7. Mengangkat derajat di surga dengan menghafalkan ayat-ayatNya.

Kelima : Tatkala menjenguk orang sakit

1. Berniat untuk menunaikan salah satu hak seorang muslim, yaitu menjenguknya jika sakit
2. Mengingat Hadits qudsi "Apakah kamu tidak mengetahui bahwa jika kamu mengunjunginya maka kamu mendapati-Ku disisinya".
3. Bersyukur kepada Allah atas penjagaan-Nya  terhadap dirinya dari apa-apa yang menimpa saudaranya
4. Meminta kepada orang yang sakit untuk dido’akan (karena kedekatannya terhadap Robbnya).

Keenam : Ketika puasa sunnah

1. Mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan yang paling dicintai-Nya.
2. Agar Allah menjauhkan wajahku dari api neraka sejauh 70 tahun perjalanan.
3. Memerangi hawa nafsu dan menundukkannya untuk melakukan ketaatan.
4. Membelenggu syahwat (meminta penjagaan).
5. Mengikuti sunnah Rosul shallallhu ‘alaihi wasallam (puasa senin kamis, puasa tengah bulan tgl 13-14-15 ).
6.Memperoleh kemenangan. berupa sesaat dikabulkannya do’a bagi orang yang berpuasa.
7. Ikut merasakan apa yang dirasakan orang-orang fakir dan miskin.
8. Agar Allah memasukkan kita ke surga melalui pintu Ar-Rayyan.
9. Barangsiapa yang membuat haus dirinya karena Allah (berpuasa) pada hari yang panas, maka Allah akan memberikan minum pada hari kiamat yang amat panas dan amat menimbulkan dahaga.

Ketujuh : Ketika bersedekah dengan harta

Hendaknya meniatkan:
1. Barangsiapa menghutangi Allah hutang yang baik maka Dia akan melipatgandakannya.
2. Berlindung dari neraka walaupun dengan separuh kurma.
3. Membantu dan menyenangkan hati faqir miskin.
4. Untuk mengobati saudara/kerabat yang saikit. Rasulullah bersada "Obatilah orang-orang sakit diantara kalian dengan sedekah".
5. Kalian tidak akan mencapai derajat birr (kebajikan) sampai kalian berinfak dengan apa-apa yang kalian cintai.
6. Sedekah menghilangkan kemurkaan Allah

 Multi Niat Juga Berlaku Pada Perkara-Perkara Mubah

Sebagaimana penjelasan di atas bahwasanya perkara-perkara mubah jika dikerjakan dengan niat yang baik maka bisa berubah menjadi bernilai ibadah.
Oleh karenanya sungguh kita telah merugi dan telah membuang banyak waktu dan tenaga dalam urusan dunia jika kita tidak meniatkannya untuk akhirat..terlalu banyak pahala tidak kita raih.

Ibnu Qudaamah berkata:
"Tidak ada satu perkara yang mubah kecuali mengandung satu atau beberapa niat yang dengan niat-niat tersebut berubahlah perkara mubah menjadi qurbah (berpahala), sehingga dengannya diraihlah derajat-derajat yang tinggi. Maka sungguh besar kerugian orang yang lalai akan hal ini, dimana ia menyikapi perkara-perkara yang mubah (*seperti makan, minum, dan tidur) sebagaimana sikap hewan-hewan ternak.

Dan tidak selayaknya seorang hamba menyepelekan setiap waktu dan betikan-betikan niat, karena semuanya akan dipertanyakan pada hari kiamat, "Kenapa ia melakukannya?", "Apakah yang ia niatkan?". Contoh perkara mubah yang diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah parfum (minyak wangi), ia memakai minyak wangi dengan niat untuk mengikuti sunnah Nabi, untuk memuliakan masjid, untuk menghilangkan bau tidak enak yang mengganggu orang yang bergaul dengannya" (Mukhtasor minhaaj Al-Qoosidhiin hal 362-363)

Sebagai contoh menggandakan niat dalam perkara-perkara mubah:

 Pertama : Tatkala makan dan minum
1. Untuk menguatkan tubuh agar bisa beribadah kepada Allah.
2. Merenungkan nikmat Allah, sebagai pengamalan firman Allah "Apakah manusia tidak melihat kepada makanannya?" (QS 'Abasa : 24)
3. Mensyukuri nikmat Allah.
4. Berusaha menerapkan sunnah Nabi tatkala makan dan minum.

 Kedua : Tatkala memakai pakaian
1. Mengingat Allah (dengan membaca do’a berpakaian)
2. Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan
3. Bersyukur atas nikmat Allah
4. Menghidupkan sunnah nabi melalui cara berpakaian

 Ketiga : Tatkala menggunakan internet
1. Menyeru kepada jalan Allah
2. Menghadiri majelis-majelis dzikir
3. Menyebarkan islam.
4. Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai daripada seorang mukmin yang lemah.
5. Menuntut ilmu

 Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 5-02-1433 H / 30 Desember 2011 M

 Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja
source firanda.com
Baca selengkapnya »
Akhi, MAUKAH ENGKAU MENIKAH DENGANKU ?

Akhi, MAUKAH ENGKAU MENIKAH DENGANKU ?

Dulu ana datang ke suami ana, justru ana yang menawarkan diri ke suami. ”Akhi maukah menikah dengan ana?”, tawarku padanya

Waktu itu dia masih kuliah smester 8, dan dia cuma bengong seribu bahasa, serasa melayang di atas awan, seolah waktu terhenti

Beberapa saat setelah setengah kesadarannya kembali dan setengahnya lagi entah kemana, dia berucap

Afwan ukhti, anti pengen mahar apa dari ana?” ucapnya

Cukup antum bersedia menikah denganku saja itu sudah lebih dari cukup” jawabku

Eh dianya langsung lemes kayak pingsan! Besoknya datang nazhar, terus khitbah

Lalu untuk ngumpulin uang buat nikah, dia jual sepeda dan jual komputernya untuk mahar dan biaya nikah

Akhi, MAUKAH ENGKAU MENIKAH DENGANKU ?

Di awal pernikahan dia gak punya pendapatan apa-apa. Kita usaha bareng dan ana gak pernah nanya seberapa pendapatnya ataupun dia kerja apa

Selama ana nikah dengannya ana belum pernah minta uang. Hingga kinipun kalo gak dikasih ya diam. Saat beras habis ana gak masak

Saat dia nanya, “Koq gak masak beras, Dek

Habis Mas”, jawabku

Koq gak minta uang?”, lanjutnya

Ana gak jawab, takut suami gak punya kalo ana minta. Jadi ana takut menyinggung perasaan dia

Kalo kita menghormati suami, maka suami akan menyayangi kita lebih dari rasa sayang kita ke dia

Bahkan usaha sekarang sudah maju pesat Alhamdulillah Ibarat kata uang 50jt sudah hal biasa

Lalu suatu hari ana tawarkan dia nikah lagi namun dia gak mau. Katanya ana itu tidak ada duanya, hehehe, ngalem dewek Walaupun ortunya dulu gak ridho dengan ana, karena Salafi tapi sekarang sudah baikan

Rezeki bisa dicari bersama. Bagi ana usaha yang dicari bersama suami susah-payah bersama, setelah sukses maka banyak kenangan manis yang tak terlupa

Itulah kiranya yang ana rasakan darinya, setelah 12 tahun menikah dan Insya Allah dikaruniai anak 7 semoga semakin menambah keberkahan dalam rumah tangga ana

Dan bukan hal yang hina bagi ana kalo ada seorang akhawat datang menawarkan diri ke ikhwan. Ana dulu hanya melihat dari bacaan Al-Qur’annya yang bagus dan dia sangat menjaga Sholatnya juga mengenal sunnah dengan baik itu aja gak lebih

Jazakumullahu khairan

copas dari kronologi ustadz Fuad Romadhon Ritonga
Baca selengkapnya »
Peristiwa Kemenangan bersejarah yang terjadi di Bulan Ramadhan

Peristiwa Kemenangan bersejarah yang terjadi di Bulan Ramadhan

Peristiwa Kemenangan bersejarah yang terjadi di Bulan Ramadhan

Ramadhan Mubarok merupakan bulan penuh kemenangan dan keberkahan bagi umat Islam. Kejayaan Islam tidak dapat dilepaskan dari Bulan Ramadhan. Kemenangan yang terbentang dari peristiwa Badar Al-Kubra hingga proklamasi kemerdekaan Indonesia itu terjadi di bulan penuh berkah ini. Marilah kita lihat satu persatu kemenangan itu.

Badar Al-Kubra, 17 Ramadhan 2 H. Inilah peristiwa yang begitu menyejarah. Tonggak awal lahirnya peradaban yang mampu menggoyang dua kekuatan besar saat itu, Persia dan Romawi. Saat itu, 314 orang Islam berperang melawan 1000 orang kafir Quraisy. Sesungguhnya pada saat itu, umat Islam tidaklah berada dalam posisi siap untuk berperang karena hanya akan mencegat para kafilah dagang Quraisy. Tapi, Allah berkehendak lain. Pasukan kafir Quraisy Mekah terlanjur bersemangat untuk menyerang umat Islam. Bahkan, Abu Jahal berkata, “kita tidak akan kembali hingga mencapai Badar.” Maka pecahlah peperangan di antara kaum Muslim dan orang-orang kafir Quraisy. Dahsyatnya peperangan itu tergambar dari ucapan Rasulullah Saw, “Ya Allah, jika pasukan ini hancur pada hari ini, tentu Engkau tidak akan disembah lagi, ya Allah. Kecuali jika Engkau menghendaki untuk disembah untuk selamanya setelah hari ini.” Tercatat 14 muslim, 6 dari kaum Muhajirin dan 8 dari kaum Anshar menjemput ke-syahid-annya. Sementara dari pihak kaum kafir Quraisy, tercatat 70 orang tewas dan 70 lainnya ditawan. Peperangan ini berakhir dengan kemenangan gilang-gemilang pasukan Islam yang terjadi pada tanggal 17 Ramadhan 2 H.

Fathu Mekah, 10 Ramadhan 8 H. Rasulullah dan pasukan Islam bergegas menuju Mekah. Penyebabnya adalah pelanggaran terhadap perjanjian Hudaibiyah yang memperbolehkan pihak manapun untuk bergabung dengan umat Islam atau dengan orang Quraisy Mekah. Saat itu, Bani Bakr yang bergabung dengan Quraisy Mekah meminta bantuan untuk menyerang Khuza’ah, kabilah yang memilih bergabung dengan Rasulullah Saw. Permintaan ini disanggupi orang-orang Quraisy hingga terjadilah pelanggaran terhadap perjanjian Hudaibiyah. Rasulullah Saw. kemudian memimpin langsung pasukan yang berjumlah 10000 orang itu memasuki kota Mekah. Kedatangan Rasulullah Saw. bersama umat Islam dalam jumlah besar ini mendatangkan rasa takut yang luar biasa pada penduduk Mekah, hingga Abu Sufyan berkata, “celakalah kalian jika mengikuti hawa nafsu. Muhammad datang membawa pasukan yang tak mungkin kalian tandingi! Barangsiapa yang memasuki rumah Abu Sufyan, maka ia selamat.” Rasulullah pun memasuki kota Mekah dan langsung menuju Kakbah untuk menghancurkan 360 berhala yang mengotori kesuciannya. Penghancuran ini menandai jatuhnya kota Mekah ke tangan umat Islam. Dari sinilah, Rasulullah Saw. kemudian mengirim pasukan menuju wilayah jazirah Arab yang lain supaya tunduk dan beriman kepada Allah SWT.

Selat Gibraltar, Ramadhan 92 H. Thariq bin Ziyad melakukan hal yang tidak masuk akal dengan membakar hampir semua kapal yang membawa ia dan pasukannya menuju Andalusia. Tindakan yang kemudian melecut semangat pasukan Islam untuk menaklukkan Andalusia dan mendirikan pemerintahan Islam yang tegak hingga 7 abad lamanya.

Palestina, Ramadhan 584 H. Shalahuddin al-Ayubi memperoleh kemenangan besar-besaran atas pasukan Salib Eropa. Tentara Islam menguasai daerah-daerah yang sebelumnya diduduki orang-orang Kristen. Setelah sebelumnya memporak-porandakan kekuatan pasukan Salib di bawah komando Raja Richard III dari Inggris. Raja Richard ini terkenal ganas dan buas, itu sebabnya ia sering dijuluki Richard The Lion Heart—Richard yang berhati Singa. Namun, nyatanya ia bertekuk lutut di hadapan Shalahuddin al-Ayubi yang gagah. Kemenangan itu mengakhiri cengkeraman kekuasaan pasukan Salib atas bumi Palestina. Sejak saat itu, Palestina kembali ke pangkuan Islam.

Ain Jalut, 24 Ramadhan 658 H. Islam sedang mencapai titik nadir akibat serangan bangsa Tartar yang begitu dahsyat. Hampir-hampir tidak ada tanda-tanda kemenangan akan menghampiri pasukan Islam hingga kemudian Muzaffar Quthz memimpin pasukan Islam mengalahkan pasukan Tartar. Muzaffar Quthz berhasil membangkitkan semangat kaum Muslim dengan syair-syair yang menggambarkan kejayaan Islam dan mengatakan bahwa perjuangan ini bukan hanya semata urusan wilayah, melainkan lebih daripada itu, yakni perjuangan agama. Syair-syair yang dikumandangkan Muzaffar Quthz membawa hasil dengan dikalahkan pasukan Tartar yang terkenal tangguh dan ganas.

Kontantinopel, Ramadhan 874 H. Sultan Muhammad Al Fatih memimpin pertempuran penaklukkan benteng Konstantinopel. Setelah 52 hari belum berhasil menaklukkan benteng Konstantinopel sepanjang 33 km, Sultan Muhammad Al Fatih memerintah pasukan yang ada di selat Bosphorus menaikkan 37 perahu perangnya melintasi bukit sepanjang 5 km guna menghindari rantai raksasa yang dipasang melintang oleh pasukan raja Constantine untuk menghalangi kapal perang lawan melintasi selat Bosphorus. Tepat saat memasuki waktu sholat Subuh seluruh kapal perang tersebut berhasil melintasi bukit tersebut. Usai sholat Subuh, pasukan kapal perang inipun menggempur benteng Konstantinopel dari arah belakang. Dengan ijin Allah SWT, bersamaan dengan itu pasukan darat yang dipimpin langsung oleh Sultan Muhammad Al Fatih mampu menerobos gerbang utama benteng Konstantinopel dan diikuti oleh pasukan darat lain yang menggempur benteng Konstantinopel tersebut dari sisi kanan gerbang utama.Tepat pada hari ke 53 takluklah benteng Konstantinopel dan kemudian gereja Haia Sofia diubah menjadi masjid dengan Muhammad Al Fatih, Sang Panglima menjadi imam sholat karena yang paling dawam sholat berjamaahnya & paling dawam shoumsunnahnya.

Jakarta, 8 Ramadhan 1362H. Bangsa Indonesia berhasil meraih kemerdekaan yang telah lama diimpikannya, ketika Soekarno membacakan teks pidato singkat yang berisi pernyataan kemerdekaan bangsa Indonesia. Sebuah kemerdekaan yang ditebus dengan harga mahal dengan pengorbanan para pahlawan Indonesia. Untuk merdeka, tak terhitung berapa banyak perjuangan para ulama dalam menolak upaya penjajahan bangsa asing dari Indonesia hingga kemudian perjuangan itu Allah bayar tunai dengan kemerdekaan Indonesia.

Dan masih banyak lagi Peristiwa kemenangan bersejarah yang diperoleh Umat islam yang terjadi pada Bulan Ramadhan..

Kisah-kisah di atas sudah sepantasnya membuat kita berpikir kembali akan hakikat Ramadhan sebagai bulan kemenangan. Kemenangan Islam begitu banyak diraih di bulan Ramadhan. Oleh karena itu, mari kita renungkan bahwa kemenangan tersebut tidak diraih dengan mudah. Ada pengorbanan yang harus dibayar untuk mencapai itu semua. Pengorbanan yang hanya dapat diberikan oleh mereka yang memiliki kekuatan iman yang besar kepada Allah. Dalam Q.S. Al-Hujuraat (49) ayat 15, Allah SWT berfirman,
 
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”

Ramadhan pun terlalu sayang untuk hanya dijadikan sebagai bulan yang membuat kita tidak bersemangat dalam melakukan aktivitas kebaikan. Rasulullah, para sahabat, dan orang-orang yang telah mendahului kita memberikan contoh yang sempurna akan Ramadhan terbaik. Ramadhan terlalu indah hanya untuk diisi dengan kegiatan yang sia-sia. Tidur tidaklah dilarang di bulan Ramadhan. Namun, alangkah sayangnya jika hari-hari di bulan Ramadhan hanya diisi dengan kegiatan tidur. Padahal, Ramadhan adalah bulannya Alquran sehingga begitu sayang jika selama Ramadhan kita hanya membuat target yang rendah dalam membaca Alquran.

Ramadhan juga adalah bulan mujahadah, bulannya orang yang bersungguh-sungguh. Islam tidak akan mencapai kemuliaan jika orang-orang terdahulu memaknai Ramadhan sebagai bulan istirahat. Bayangkan jika Rasulullah Saw. dan para sahabatnya mengeluh karena di puasa pertama mereka—sejak disyariatkan pada tahun 2 Hijriyah—mereka harus menahan panasnya terik matahari dan harus berperang melawan pasukan yang lebih besar dalam keadaan berpuasa. Hanya kekuatan iman yang dapat mengalahkan kemalasan yang muncul.

Ramadhan adalah bulan mulia. Allah SWT menurunkan malam yang lebih baik daripada beribadah selama seribu bulan di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Begitu mulia dan istimewanya malam itu, hingga Rasulullah melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Sungguh beruntung orang yang berhasil mendapatkanLailatul Qadar. Sebuah karunia yang begitu nikmat. Semoga kita berhasil mendapatkan Lailatul Qadar.

Dengan demikian, jadikanlah momentum Ramadhan ini sebagai awal dari perubahan besar di hidup kita. Kita harus keluar sebagai pemenang selepas Ramadhan ini.

Wallahu A’lam bish Showab.

Sumber : Wawasan Islam
Baca selengkapnya »
Apakah Harus Berhutang Beli Baju Lebaran ?

Apakah Harus Berhutang Beli Baju Lebaran ?

Apakah ada anjuran memakai baju baru ketika hari raya? Jika tidak punya uang, apakah harus berhutang?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Terdapat beberapa dalil yang menganjurkan untuk memakai pakaian terbaik ketika hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha.

Diantara dalilnya, hadis dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Umar pernah mengambil jubah dari sutera tebal yang dijual di pasar, lalu dia bawa kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا رَسُولَ اللَّهِ ابْتَعْ هَذِهِ تَجَمَّلْ بِهَا لِلْعِيدِ وَالْوُفُودِ
Ya Rasulullah, belilah jubah ini, anda bisa gunakan untuk berdandan ketika id (hari raya) dan ketika menyambut tamu.

Baju Lebaran Hasil Utangan

Namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallammenolaknya, karena baju itu berbahan sutera,

إِنَّمَا هَذِهِ لِبَاسُ مَنْ لَا خَلَاقَ لَهُ
“Ini adalah pakaian orang kafir yang tidak memiliki jatah di akhirat.” (HR. Bukhari 948, Muslim 2068 dan yang lainnya).

As-Sindi dalam catatan di sunan an-Nasai menyatakan, Dari sini diketahui bahwa *berdandan ketika id adalah tradisi yang sudah menjadi kebiasaan mereka, dan itu tidak diingkari oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam*. Sehingga disimpulkan bahwa tradisi itu tetap berlaku. (Hasyiyah as-Sindi, 3/181).

Apakah kebiasaan ini bisa disebut sunah?

Al-Hafidz Ibnu Hajar menyebutkan,Ibnu Abid Dunya dan al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanad yang shahih sampai Ibnu Umar, bahwa beliau menggunakan pakaian terbaik ketika hari raya. (Fathul Bari 2/439)

Ini menunjukkan bahwa berhias ketika hari raya termasuk sunah orang soleh di masa silam.
Imam Ibnu Utsaimin mengatakan, Dianjurkan bagi lelaki untuk berhias ketika id, dan memakai pakaian yang terbaik. (Majmu’ Fatawa Ibn Utsaimin, 13/2461)

Apakah harus berhutang jika tidak memiliki uang untuk beli baju baru?


Bedakan antara berhias dengan memakai pakaian baru. Kesimpulan dari keterangan di atas adalah berhias ketika lebaran. Dengan menggunakan pakaian yang paling bagus. Tanpa ada keterangan, apakah harus berpakaian baru atau pakaian lama. Meskipun dengan pakaian yang baru, umumnya lebih bagus.

Sehingga, jika anda tidak memiliki uang untuk membeli pakaian baru, tidak perlu dipaksakan untuk utang. Selama anda memiliki pakaian yang bagus, silahkan dirawat dengan baik, dan jadikan itu sebagai pakaian anda ketika lebaran.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits
Baca selengkapnya »
Perbanyaklah Membaca al-Qur’an di Bulan Ramadhan

Perbanyaklah Membaca al-Qur’an di Bulan Ramadhan

Ibnu Rajab bekata: Dalam hadits Fathimah-semoga Allah meridhinya- dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau mengabarkan kepadanya:

أَنَّ جِبْرِيْلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ يُعَارِضُهُ الْقُرْآنَ كُلَّ عَامٍ مَرَّةً وَأَنَّهُ عَارَضَهُ فِي عَامِ وَفَاتِهِ مَرَّتَيْنِ
Sesungguhnya Jibril ‘alaihissalam menyimak Al-Qur’an yang dibacakan Nabi sekali pada setiap tahunnya, dan pada tahun wafatnya Nabi, Jibril menyimaknya dua kali. (Muttafaq ‘Alaihi)

Perbanyaklah Membaca al-Qur’an di Bulan Ramadhan

Dan dalam hadits Ibnu Abbas :

أَنَّ الْمُدَارَسَةَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ جِبْرِيْلَ كَانَتْ لَيْلاً
Bahwasanya pengkajian terhadap Al-Qur’an antara beliau dengan Jibril terjadi pada malam bulan Ramadhan. (Muttafaqun ‘Alaihi).

Hadits ini menunjukkan disunnahkannya memperbanyak membaca Al-Quran pada malam bulan Ramadhan, karena waktu malam terputus segala kesibukan, terkumpul pada malam itu berbagai harapan, hati dan lisan pada malam hari bisa berpadu untuk bertaddabur, sebagaimana Allah ta’ala berfirman

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْءاً وَأَقْوَمُ قِيلاً
Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. (Al-Muzammil: 6)

(Latha-if Ma’arif, 355) (Ali bin Na-yif asy-Syahuud, Ramadhan Syahr al-Huda Wa al-Furqan, 1/241)

WhatsApp@DakwahAlSofwa +62 81 3336333 82
situs www.alsofwa.com
Baca selengkapnya »
Beranda
-->