IBX5A47BA52847EF DakwahPost
Teruslah Berikhtiar

Teruslah Berikhtiar

Teruslah Berikhtiar

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar Ra’du [13] : 11)

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ
“Semangatlah dalam hal yang bermanfaat untukmu, minta tolonglah pada Allah, dan jangan malas (patah semangat).” (HR. Muslim no. 2664).
Read more »
Janganlah Berbuat zholim di Bulan-Bulan Haram

Janganlah Berbuat zholim di Bulan-Bulan Haram

عن أبي بكره رضي الله عنه قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
Dari Abu Bakrah radliallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya zaman berputar sebagaimana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram (suci), tiga bulan berurutan: Dzul Qo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab suku Mudhar, antara Jumadi Tsani dan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari & Muslim).

Janganlah Berbuat Dholim di Bulan-Bulan Harram

Pelajaran yang terdapat di dalam hadist:

1. Dalam hadits ini, telah diterangkan bulan-bulan dalam syariat Islam yang berjumlah dua belas bulan, empat diantaranya adalah bulan haram.

2. Kita dilarang berbuat zolim terhadap diri kita di bulan-bulan haram itu, dikarenakan dosa perbuatan itu di bulan-bulan tersebut lebih besar berlipat ganda dan akan menghantarkan kepada berbagai bentuk kezoliman yang lainnya, bukan berarti bahwa kezoliman di bulan-bulan lainnya itu dibolehkan.

3. Diantara bentuk-bentuk kemaksiatan yang dilakukan di bulan-bulan tersebut khususnya Muharram, yang itu merupakan bentuk kezoliman terhadap diri sendiri adalah perbuatan syirik terhadap Allah Ta’ala yang merupakan sebesar-besar kezoliman.

4. Sebagian atau kebanyakan manusia menyangka bahwa yang dimaksud dengan kesyirikan itu hanyalah penyembahan terhadap berhala atau patung-patung. Ini adalah pemahaman yang keliru.

5. Kesyirikan itu mencakup seluruh bentuk peribadatan baik berupa amalan hati, ucapan ataupun perbuatan yang ditujukan dan dipalingkan kepada selain Allah Ta’ala.

6. Hal ini mencakup seluruh aspek peribadatan, seperti tawakkal kepada selain Allah, berdo'a kepada selain Allah, menyembelih kepada selain Allah, beristighotsah kepada selain Allah pada perkara-perkara yang tidak mampu mengabulkannya kecuali Allah semata dan lain sebagainya dari macam-macam peribadatan. Semuanya itu termasuk dalam kesyirikan yang terlarang.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Qur'an:

1. Allah telah menerangkan bulan-bulan dalam Syariat Islam yang berjumlah dua belas bulan, empat diantaranya adalah bulan haram.

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya jumlah bulan dalam hukum Allah dan yang telah termaktub dalam _lauhul mahfudz_ itu adalah sebanyak dua belas bulan, pada hari diciptakannya langit dan bumi. Diantaranya adalah empat bulan haram (bulan suci). Allah telah mengharamkan di dalamnya peperangan (yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharrom dan Rojab). Itulah agama yang lurus, maka janganlah kalian berbuat zolim terhadap diri-diri kalian di bulan-bulan itu, lantaran keharoman perbuatan zolim di dalamnya lebih besar dan dosanya lebih besar daripada di bulan-bulan lainnya.” (lihat Tafsir Muyassar QS. At-Taubah: 36)

2. Syirik terhadap Allah Ta’ala yang merupakan sebesar-besar kezoliman, sebagaimana wasiat Luqman al-Hakim terhadap anaknya.

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Ingatlah -wahai Rosul- nasehat Luqman kepada anaknya ketika itu: “Wahai anakku, janganlah engkau berbuat syirik kepada Allah, sehingga engkau menzolimi dirimu sendiri. Sungguh, kesyirikan itu adalah sebesar-besar dan seburuk-buruk dosa.” (Tafsir Muyassar QS. Luqman : 13)

3. Bahaya Syirik. Siapa yang berbuat kesyirikan, sungguh ia telah menzolimi dirinya sendiri.

ومن يشرك بالله فقد ضل ضلالا بعيدا
“Siapa yang menjadikan sekutu bagi Allah Ta’ala yang Al-Wahid Al-Ahad (Maha Esa) dari makhluk-Nya, sungguh ia telah sangat jauh dari kebenaran.” (Tafsir Muyassar QS. An-Nisaa': 116)

ومن يشرك بالله فقد افترى إثما عظيما
“Siapa yang berbuat syirik, menyekutukan Allah dengan selain-Nya, maka ia telah membuat dosa yang sangat besar.” (Tafsir QS. An-Nisaa’: 48)

إنه من يشرك بالله فقد حرم الله عليه الجنة ومأواه النار وما للظالمين من أنصار
“Sesungguhnya siapa yang menyekutukan Allah dengan selain-Nya dalam peribadatan, sungguh telah Allah haramkan atasnya jannah dan menjadikan neraka sebagai tempat tinggalnya serta tidaklah ada penolong yang menyelamatkannya dari neraka itu.” (Tafsir QS. Al-Maidah : 72)
Read more »
Adab ketika Adzan Berkumandang

Adab ketika Adzan Berkumandang

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dia mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ، ثُمَّ صَلُّوْا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّـى عَلَيَّ صَلَّى اللهُ بِهَا عَلَيْهِ عَشْرًا، ثُمَّ سَلُوْا اللهَ لِيَ الْوَسِيْلَةَ، فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُوْنَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ اللهَ لِيَ الْوَسِيْلَةَ حَلَّتْ عَلَيْهِ الشَّفَاعَةِ.
“Jika kalian mendengar mu-adzin, maka ucapkanlah sebagaimana yang ia ucapkan. Kemudian bershalawatlah untukku. Karena barangsiapa yang bershalawat untukku sekali, maka dengannya Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Kemudian mintalah al-wasilah kepada Allah untukku. Ia adalah sebuah tempat di Surga yang tak diraih kecuali oleh seorang hamba di antara hamba-hamba Allah. Dan aku berharap ia adalah aku. Barangsiapa memintakan untukku wasilah kepada Allah, maka dia layak mendapat syafa’atku.” Shahiih Muslim (I/288 no. 384), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/225 no. 519),

Adab ketika Adzan Berkumandang

Dari Jabir, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَالَ عِنْدَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: “اَللّهُمَّ رَبَّ هذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاَةِ الْقَـائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا اَلْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِيْ وَعَدْتَهُ،” حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
“Barangsiapa yang ketika mendengar adzan mengucapkan, ‘Ya Allah, Rabb seruan yang sempurna ini serta shalat yang didirikan hammad wasilah dan keutamaan. Tempatkanlah ia pada kedudukan yang mulia sebagaimana Kau janjikan.’ Maka dia layak mendapat syafa’atku pada hari Kiamat.” Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/94 no. 614), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/231 no. 525), dan Sunan at-Tirmidzi (I/136 no. 211)

Kandungan hadits

1. Disunnahkan diam tidak berkata-kata apapun dengan alasan apapun ketika mendengar seruan adzan

2. Ketika adzan dilantunkan, simak dan ikuti apa yang di ucapkan muadzin

3. Berdoa setelah adzan selesai seperti yang disampaikan dari Jabir.

4. Bila no 1,2, dan 3 dilakukan maka berhak untuk orang tersebut mendapat kan syafaat dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Disunnahkan bagi seorang muslim agar memperbanyak do’a antara adzan dan iqamat. Karena do’a pada waktu itu dikabulkan.

Dari Anas Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلدُّعَاءُ لاَيُرَدُّ بَيْنَ اْلأَذَانِ وَاْلإِقَامَةِ.
“Do’a antara adzan dan iqamat tidak ditolak.” Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 489) dan Sunan at-Tirmidzi (I/137 no. 212)
Read more »
Pendapat Imam Syafi’i Mengenai Orang yang Meninggalkan Shalat

Pendapat Imam Syafi’i Mengenai Orang yang Meninggalkan Shalat

Apakah orang yang meninggalkan shalat masih muslim ataukah bukan, alias “ kafir ”.

Kalau mengingkari kewajiban shalat, tidak diragukan lagi kafirnya.

Namun yang dibahas adalah jika ia tidak memiliki amalan shalat, padahal mengaku muslim (di KTP), artinya ia meninggalkan shalat takaasulan (malas-malasan).

Sebagian orang memahami bahwa Imam Asy Syafi’i rahimahullah tidak mengkafirkan orang yang meninggalkan shalat.

Namun yang tepat dalam hal ini, Imam Syafi’i adalah di antara ulama yang menyatakan kafirnya.

Sedangkan kesimpulan bahwa beliau tidak mengkafirkan, itu tidak secara nash dari beliau.

Dan sebenarnya hanya kesimpulan dari para ulama madzhab Syafi’i karena melihat indikasi dari perkataan beliau, bukan dari perkataan Imam Syafi’i secara tegas.

(Lihat perkataan Syaikh Amru bin ‘Abdul Mun’im Salim dalam kitab Al Manhaj As Salafi ‘inda Asy Syaikh Nashiruddin Al Albani )

Meninggalkan Shalat

Imam Ath Thohawi rahimahullah telah menyandarkan perkataan bahwa Imam Asy Syafi’i menyatakan meninggalkan shalat itu kafir. Ath Thohawi berkata dalam Musykilul Atsar (4: 228),

ﻭ ﻗﺪ ﺍﺧﺘﻠﻒ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻓﻲ ﺗﺎﺭﻙ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻛﻤﺎ ﺫﻛﺮﻧﺎ , ﻓﺠﻌﻠﻪ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺑﺬﻟﻚ ﻣﺮﺗﺪﺍ ﻋﻦ ﺍﻹﺳﻼﻡ , ﻭ ﺟﻌﻞ ﺣﻜﻤﻪ ﺣﻜﻢ ﻣﺎ ﻳﺴﺘﺘﺎﺏ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ , ﻓﺈﻥ ﺗﺎﺏ ﻭﺇﻻ ﻗﺘﻞ , ﻣﻨﻬﻢ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻲ ﻋﻠﻴﻪ
“Para ulama telah berselisih pendapat dalam masalah hukum meninggalkan shalat sebagaimana yang pernah kami sebutkan. Sebagian ulama ada yang menyatakan orang yang meninggalkan shalat berarti murtad dari Islam dan ia pun harus dimintai taubat. Jika tidak bertaubat, ia dibunuh. Di antara ulama yang berpendapat seperti ini adalah Imam Asy Syafi’i rahimahullah.”

Setelah kami rujuk dan mendapat pelajaran dari saudara kami Abul Jauzaa’ akhirnya kami kurang setuju dengan pernytaaan Syaikh Amru di atas. Karena ternyata Ath Thohawi keliru dalam hal ini.
Yang benar mengenai pendapat Imam Asy Syafi’i, beliau tidak mengkafirkan orang yang meninggalkan shalat karena malas-malasan sebagaimana dinukilkan dalam Al Umm dan kami copy dari tulisan saudara kami Abul Jauzaa’.

Asy-Syaafi’iy rahimahullah berkata,

ﻣَﻦْ ﺗَﺮَﻙَ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓَ ﺍﻟْﻤَﻜْﺘُﻮﺑَﺔَ ﻣِﻤَّﻦْ ﺩَﺧَﻞَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﻗِﻴﻞَ ﻟَﻪُ : ﻟِﻢَ ﻟَﺎ ﺗُﺼَﻠِّﻲ؟ ﻓَﺈِﻥْ ﺫَﻛَﺮَ ﻧِﺴْﻴَﺎﻧًﺎ، ﻗُﻠْﻨَﺎ : ﻓَﺼَﻞِّ ﺇِﺫَﺍ ﺫَﻛَﺮْﺕَ، ﻭَﺇِﻥْ ﺫَﻛَﺮَ ﻣَﺮَﺿًﺎ، ﻗُﻠْﻨَﺎ : ﻓَﺼَﻞِّ ﻛَﻴْﻒَ ﺃَﻃَﻘْﺖَ ؛ ﻗَﺎﺋِﻤًﺎ، ﺃَﻭْ ﻗَﺎﻋِﺪًﺍ، ﺃَﻭْ ﻣُﻀْﻄَﺠِﻌًﺎ، ﺃَﻭْ ﻣُﻮﻣِﻴًﺎ، ﻓَﺈِﻥْ ﻗَﺎﻝَ : ﺃَﻧَﺎ ﺃُﻃِﻴﻖُ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓَ ﻭَﺃُﺣْﺴِﻨُﻬَﺎ، ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﻟَﺎ ﺃُﺻَﻠِّﻲ، ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻋَﻠَﻲَّ ﻓَﺮْﺿًﺎ ﻗِﻴﻞَ ﻟَﻪُ : ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓُ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺷَﻲْﺀٌ ﻟَﺎ ﻳَﻌْﻤَﻠُﻪُ ﻋَﻨْﻚَ ﻏَﻴْﺮُﻙَ، ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻜُﻮﻥُ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﻌَﻤَﻠِﻚَ، ﻓَﺈِﻥْ ﺻَﻠَّﻴْﺖَ، ﻭَﺇِﻟَّﺎ ﺍﺳْﺘَﺘَﺒْﻨَﺎﻙَ، ﻓَﺈِﻥْ ﺗُﺒْﺖ ﻭَﺇِﻟَّﺎ ﻗَﺘَﻠْﻨَﺎﻙَ، ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓَ ﺃَﻋْﻈَﻢُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺰَّﻛَﺎﺓِ
“Barangsiapa yang meninggalkan shalat wajib bagi orang yang telah masuk Islam (muslim), dikatakan kepadanya : ‘Mengapa engkau tidak shalat ?’. Jika ia mengatakan : ‘Kami lupa’, maka kita katakan : ‘Shalatlah jika engkau mengingatnya’. Jika ia beralasan sakit, kita katakan kepadanya : ‘Shalatlah semampumu. Apakah berdiri, duduk, berbaring, atau sekedar isyarat saja’.

Apabila ia berkata : ‘Aku mampu mengerjakan shalat dan membaguskannya, akan tetapi aku tidak shalat meskipun aku mengakui kewajibannya’. Maka dikatakan kepadanya : ‘Shalat adalah kewajiban bagimu yang tidak dapat dikerjakan orang lain untuk dirimu. Ia mesti dikerjakan oleh dirimu sendiri. Jika tidak, kami minta engkau untuk bertaubat. Jika engkau bertaubat (dan kemudian mengerjakan shalat, maka diterima). Jika tidak, engkau akan kami bunuh. Karena shalat itu lebih agung daripada zakat” [Al-Umm, 1/281. 

Disebutkan juga oleh Al-Baihaqiy dalam Ma’rifatus-Sunan wal-Aatsaar, 3/117].

ﺣُﻀُﻮﺭُ ﺍﻟْﺠُﻤُﻌَﺔِ ﻓَﺮْﺽٌ، ﻓَﻤَﻦْ ﺗَﺮَﻙَ ﺍﻟْﻔَﺮْﺽَ ﺗَﻬَﺎﻭُﻧًﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻗَﺪْ ﺗَﻌَﺮَّﺽَ ﺷَﺮًّﺍ، ﺇِﻟَّﺎ ﺃَﻥْ ﻳَﻌْﻔُﻮَ ﺍﻟﻠَّﻪُ، ﻛَﻤَﺎ ﻟَﻮْ ﺃَﻥَّ ﺭَﺟُﻠًﺎ ﺗَﺮَﻙَ ﺻَﻠَﺎﺓً ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻤْﻀِﻲَ ﻭَﻗْﺘَﻬَﺎ، ﻛَﺎﻥَ ﻗَﺪْ ﺗَﻌَﺮَّﺽَ ﺷَﺮًّﺍ، ﺇِﻟَّﺎ ﺃَﻥْ ﻳَﻌْﻔُﻮَ ﺍﻟﻠَّﻪُ .
“Menghadiri shalat Jum’at adalah wajib. Barangsiapa yang meninggalkan kewajiban karena meremehkannya, maka ia akan mendapatkan akibat buruk, kecuali Allah memaafkannya. Sebagaimana jika seseorang meninggalkan shalat hingga lewat dari waktunya, maka ia pun akan mendapatkan akibat yang buruk, kecuali jika Allah memaafkannya” [Al-Umm, 1/228. Disebutkan juga oleh Al-Baihaqiy dalam Ma’rifatus-Sunan wal-Aatsaar, 2/528].

Kalam terakhir dari Imam Syafi’i terlihat jelas bahwa beliau tidak mengkafirkan orang yang meninggalkan shalat karena malas-malasan.

Demikian pula pendapat ulama madzhab Syafi’i. Silakan pembaca merujuk pembahasan Abul Jauzaa’ di sini . Semoga Allah membalas amalan beliau dengan pahala melimpah yang telah berusaha untuk meluruskan saudaranya yang keliru.

Namun sekali lagi, kami kurang setuju dengan pendapat terakhir dari Imam Syafi’i yang kami nukil terakhir karena pendapat ini menyelisihi berbagai dalil dari Al Qur’an, hadits dan ijma’ (kesepakatan) para sahabat.

Allah Ta’ala berfirman,

ﻓَﺨَﻠَﻒَ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِﻫِﻢْ ﺧَﻠْﻒٌ ﺃَﺿَﺎﻋُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓَ ﻭَﺍﺗَّﺒَﻌُﻮﺍ ﺍﻟﺸَّﻬَﻮَﺍﺕِ ﻓَﺴَﻮْﻑَ ﻳَﻠْﻘَﻮْﻥَ ﻏَﻴًّﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﻦْ ﺗَﺎﺏَ ﻭَﺁَﻣَﻦَ ﻭَﻋَﻤِﻞَ ﺻَﺎﻟِﺤًﺎ
“ Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui al ghoyya, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh .” (QS. Maryam : 59-60)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma mengatakan bahwa ‘ghoyya’ dalam ayat tersebut adalah sungai di Jahannam yang makanannya sangat menjijikkan, yang tempatnya sangat dalam (Ash Sholah, hal. 31)

Dalam ayat ini, Allah menjadikan tempat ini –yaitu sungai di Jahannam- sebagai tempat bagi orang yang menyiakan shalat dan mengikuti syahwat (hawa nafsu).

Seandainya orang yang meninggalkan shalat adalah orang yang hanya bermaksiat biasa, tentu dia akan berada di neraka paling atas, sebagaimana tempat orang muslim yang berdosa.
Tempat ini (ghoyya) yang merupakan bagian neraka paling bawah, bukanlah tempat orang muslim, namun tempat orang-orang kafir.

Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞِ ﻭَﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﺸِّﺮْﻙِ ﻭَﺍﻟْﻜُﻔْﺮِ ﺗَﺮْﻙُ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ
“ (Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat .” (HR. Muslim no. 257).

Umar bin Khottob mengatakan,

ﻻَ ﺇِﺳْﻼَﻡَ ﻟِﻤَﻦْ ﺗَﺮَﻙَ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓَ
“ Tidaklah disebut muslim bagi orang yang meninggalkan shalat .”

Saat Umar mengatakan perkataan di atas tatkala menjelang sakratul maut, tidak ada satu orang sahabat pun yang mengingkarinya.

Oleh karena itu, hukum bahwa meninggalkan shalat adalah kafir termasuk ijma’ (kesepakatan) sahabat.

Mayoritas sahabat Nabi menganggap bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah kafir sebagaimana dikatakan oleh seorang tabi’in, Abdullah bin Syaqiq. Beliau mengatakan,

ﻛَﺎﻥَ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻻَ ﻳَﺮَﻭْﻥَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻷَﻋْﻤَﺎﻝِ ﺗَﺮْﻛُﻪُ ﻛُﻔْﺮٌ ﻏَﻴْﺮَ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ
“ Dulu para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menganggap suatu amal yang apabila ditinggalkan menyebabkan kafir kecuali shalat.”

Perkataan ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari Abdullah bin Syaqiq Al ‘Aqliy seorang tabi’in dan Hakim mengatakan bahwa hadits ini bersambung dengan menyebut Abu Hurairah di dalamnya. Dan sanad (periwayat) hadits ini adalah shohih. (Lihat Ats Tsamar Al Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, hal. 52)

Ibnul Qayyim mengatakan, ” Tidakkah seseorang itu malu dengan mengingkari pendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir, padahal hal ini telah dipersaksikan oleh Al Kitab (Al Qur’an), As Sunnah dan kesepakatan sahabat. Wallahul Muwaffiq (Hanya Allah-lah yang memberi taufik) .” (Ash Sholah, hal. 56)

Adapun orang yang kadang shalat, kadang tidak, ini dihukumi telah melakukan dosa besar bahkan satu shalat saja yang ditinggalkan itu lebih besar dari dosa zina, dosa membunuh, dosa meminum minuman keras dan dosa besar lainnya.

Rincian akan hal ini telah dibahas di rumaysho.com dalam tulisan: Dosa Meninggalkan Shalat Limat Waktu Lebih Besar dari Dosa Berzina

Jika sudah tahu besarnya dosa meninggalkan shalat, kenapa masih enggan melaksanakannya dan seringnya bolong –kadang shalat dan kadang tidak-?

Moga Allah beri hidayah demi hidayah untuk terus beramal sholeh dan melakukan yang wajib.
Read more »
Datangi Masjid Dengan Pakaian Terbaikmu

Datangi Masjid Dengan Pakaian Terbaikmu

Allāh berfirman dalam surat Al-A'rāf [7] ayat 31:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.

Jika ke kantor, ke mall, ke pesta, sahabat mengenakan pakaian terbaik dengan harapan mendapatkan pemuliaan dari manusia, apakah sahabat tidak menghendaki pemuliaan dari yang menguasai dan memiliki seluruh yang fana (tidak abadi) tersebut?

Keindahan adalah bagian dari makmurnya masjid, mari hiasi masjid berawal dari menghiasi diri, batin dan kemudian zhahir

Datangi Masjid Dengan Pakaian Terbaikmu

Jika dahulu banyak yang beribadah dengan telanjang, maka Islam hadir dengan semangat lebih tinggi lagi, bukan saja tidak telanjang, namun tertutup auratnya secara rapih dan sempurna

Jika di masjid saja tertutup rapih dan indah, maka demikian seharusnya di luar masjid: tertutup rapih dan indah

Semua warna indah, ciptaan Allāh, namun jika ada putih, iya akan lebih mengingatkan kita pada kematian, melembutkan dan menundukkan.

Nabi Muhammad ﷺ pernah berpesan:

عَلَيْكُمْ بِالثِّيَابِ الْبَيَاضِ فَالْبَسُوهَا؛ فَإِنَّهَا أَطْهَرُ وَأَطْيَبُ، وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ"
Berpakaian putihlah kalian, kenakanlah ia selalu, karena sesungguhnya pakaian putih itu lebih cerah dan lebih baik: dan kafankanlah dengannya orang-orang mati kalian. 

Wido Supraha (@supraha)
Read more »
Keutamaan puasa Asyura di bulan Muharram

Keutamaan puasa Asyura di bulan Muharram

عَنْ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ ( يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ! إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ (: فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ، إِنْ شَاءَ اللَّهُ، صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ. قَالَ: فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ، حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ
Abdullah bin Abbas radliallahu 'anhuma berkata saat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa pada hari 'Asyura`dan juga memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa; Para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, itu adalah hari yang sangat diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nashrani." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Pada tahun depan insya Allah, kita akan berpuasa pada hari ke sembilan (Muharram)." Tahun depan itu pun tak kunjung tiba, hingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam wafat. (HR. Muslim 1916)

Keutamaan puasa Asyura di bulan Muharram

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ ( يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إَِلا هَذَا الْيَوْمَ، يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَهَذَا الشَّهْرَ، يَعْنِي: شَهْرَ رَمَضَانَ. ] صحيح البخاري،
Dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma berkata: "Tidak pernah aku melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sengaja berpuasa pada suatu hari yang Beliau istimewakan dibanding hari-hari lainnya kecuali hari 'Asyura' dan bulan ini, yaitu bulan Ramadhan". HR. Al-Bukhari 1867

وعَنْ أَبِي قَتَادَةَ (، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ (: صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ. 
Dari Abu Qatadah Rasulullah bersabda :”Puasa sepuluh Muharram, aku berharap Allah akan menghapus dosa setahun sebelumnya." (Shahih: Muslim)

Sebagai bentuk kehati-hatian dianjurkan berpuasa dua hari, yaitu hari ke sembilan dan hari ke sepuluh.

Puasa pada hari kesembilan adalah dimaksudkan untuk menyelisihi orang-orang Yahudi yang juga berpuasa hari kesepuluh.

Puasa yang utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram, yaitu dengan memperbanyak puasa di bulan Muharram.

Puasa hari 'Asyura dalam kehidupan Rasulullah melewati empat fase, yaitu:

1. Rasulullah berada di Makkah Shallallahu alahi wa salam, beliau berpuasa pada hari tersebut bersama kaum jahiliah.

2. Ketika beliau Shallallahu alahi wa salam hijrah menuju Madinah, dan mendapati kaum yahudi berpuasa pada hari Asyura. Maka beliau pun berpuasa dan memerintahkan para sahabatnya agar berpuasa pada hari tersebut. Pada fase ini puasa Asyura menjadi puasa yang diwajibkan.

3. Setelah turunnya kewajiban untuk berpuasa di bulan Ramadhan, hukum berpuasa di hari 'Asyura menjadi sunah tidak lagi wajib.

4. Diakhir hayatnya, Rasulullah Shallallahu alahi wa salam berniat untuk berpuasa pada hari kesembilan guna menyelisihi kaum Yahudi yang hanya mengkhususkan puasa mereka pada hari kesepuluh ('Asyura).
Read more »
7 GOLONGAN YANG MENDAPAT PERLINDUNGAN

7 GOLONGAN YANG MENDAPAT PERLINDUNGAN

وَ عَنْ أبِي هُرَ يْرَةَ رَ ضِيَي االلهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ الله فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ِظلَّ ِإلاَّ ِظلَّهُ : ِإمَامٌُ عَا ِدلٌ، وَشَا بٌّ نَشَأ ِفي عِبَا دَةِ اللهِ تعلى، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي المَسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللهِ، اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ، وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ اِمْرَأةٌ ذَاتُ مَنْصَبٍ وَ جَمَالٍ، فَقَاَلَ: إِنِّي َأخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَهٍ، فَأخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
Dari Abu Hurairah rRadhiyalahu Anhum dari Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam beliau bersabda: “ Ada tujuh kelompok yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya yaitu: 

Pemimpin yang adil, remaja yang senantiasa beribadah kepada Allah ta’alaa, seseorang yang senantiasa hatinya dipertautkan dengan masjid, dua orang yang saling cinta mencintai karena Allah dimana keduanya berkumpul dan berpisah karena-Nya, seorang laki-laki yang ketika dirayu oleh wanita bangsawan lagi rupawan, lalu menjawab: 

“sesungguhnya saya takut kepada Allah”, seseorang yang mengeluarkan shadakah kemudian ia merahasiakannya sampai-sampai tangan kiri tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang berdzikir kepada Allah di tempat yang sunyi kemudian kedua matanya meneteskan air mata”. 

(HR.Bukhari dan Muslim).

7 GOLONGAN YANG MENDAPAT PERLINDUNGAN

Pelajaran yang terdapat di dalam hadist:

1- Pemimpin yang adil. Pemimpin di sini bisa saja presiden, gubernur, bupati, camat, lurah atau kepala rumah tangga (suami). Karena setiap kita adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai Allah Azza Wa Jaala pertanggungjawabannya kelak.

Keadilan seorang imam yaitu diukur dengan menegakkan kalimat Tauhid di muka bumi dan menyingkirkan segala perbuatan syirik, dan melaksanakan hukum-hukum Allâh Azza wa Jalla, sebab kezhaliman yang paling zhalim adalah perbuatan menyekutukan Allâh padahal Allâh-lah yang menciptakannya.

2- Pemuda yang tumbuh dalam ketaatan (ibadah). Masa muda adalah masa di mana syahwat sedang memuncak sehingga tidak jarang banyak pemuda terjerumus dalam kemaksiatan. Pemuda yang mampu mengisi hari-harinya dengan ibadah adalah yang terselamatkan di hari kiamat. 

3- Seorang yang hatinya terikat dengan masjid. Orang yang tidak akan melewatkan setiap kesempatan untuk memakmurkan masjid dengan ibadah dan amal-amal sholeh, terutama sholat fardhu berjama’ah.

4- Dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul dan berpisah karena Allah. Tingkatan hubungan keimanan tertinggi adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.

5- Seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang perempuan kaya dan cantik tetapi ia menolak dan berkata “Aku takut pada Allah”. Sebagaimana kisah nabi Yusuf Allaihi Salam. yang digoda oleh Zulaikha, keduanya saling cenderung sehingga jika bukan karena tanda dari Allah maka keduanya akan bermaksiat sehingga Yusuf berkata: “Ya Allah, lebih baik hamba dipenjara daripada harus bermaksiat kepadamu”. Sesuatu yang saat ini mungkin sangat jarang ditemui.

6- Seseorang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kiri tidak tau apa yang diberikan oleh tangan kanan. Amal yang disertai dengan keikhlasan adalah salah satu syarat diterimanya amal oleh Allah subhanahu wa ta'ala.

7- Seseorang yang berdzikir kepada Allah dalam kesunyian sehingga meneteskan air mata. Dzikir bagi orang beriman ibarat nafas bagi makhluk hidup, ketika seseorang tidak lepas dari dzikir baik di siang maupun di malam hari maka seolah makhluk hidup yang selalu bisa bernafas bebas. Mengingat Allah hingga meneteskan air mata adalah sesuatu yang sulit, kecuali bagi orang yang hatinya telah lunak oleh hidayah Allah.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran:

1- Nanti pada hari Kiamat, manusia sangat membutuhkan perlindungan Allâh Azza wa Jalla

وَيَوْمَ نَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا
Dan (ingatlah), di hari yang di waktu itu Kami menghimpun mereka semuanya. (Al-An'am: 22)

2- Keadilan seorang imam yaitu dengan menegakkan kalimat Tauhid di muka bumi dan menyingkirkan segala perbuatan syirik, dan melaksanakan hukum-hukum Allâh Azza wa Jalla, sebab kezhaliman yang paling zhalim adalah perbuatan menyekutukan Allah

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“… Sesungguhnya syirik (menyekutukan Allâh) adalah benar-benar kezhaliman yang paling besar.” [Luqmân/31:13]

3- Keimanan yang kokoh mengalahkan keinginannya lalu Allah palingkan dari perbuatan keji

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ ۖ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَىٰ بُرْهَانَ رَبِّهِ ۚ كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ ۚ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ
Dan sebenarnya perempuan itu telah berkeinginan sangat kepadanya, dan Yusuf pula (mungkin timbul) keinginannya kepada perempuan itu kalaulah ia tidak menyedari kenyataan Tuhannya (tentang kejinya perbuatan zina itu). Demikianlah (takdir Kami) untuk menjauhkan dari Yusuf perkara-perkara yang tidak baik dan perbuatan-perbuatan yang keji, kerana sesungguhnya ia dari hamba-hamba Kami yang dibersihkan dari segala dosa. [Surat Yusuf:24]

4- Allah Azza wa Jalla sangat menganjurkan para hamba-Nya untuk bershadaqah.

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Allâh akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allâh Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” [Al-Baqarah/2:271]
Read more »
Beranda
-->