Disaat Jari-Jemarimu Berkhianat Kepadamu

Disaat Jari-Jemarimu Berkhianat Kepadamu

Disaat Jari-Jemarimu Berkhianat Kepadamu

Sahabat, saat ini anda bebas menggerakkan jari jemarimu untuk melakukan apa saja yang anda suka. Menulis, menunjuk, menggeser, menyibak dan lainnya.

Apapun yang anda lakukan dengan jari jemarimu tentu saja untuk menyenangkan dan memenuhi keinginanmu.

Namun tahukah anda bahwa suatu saat jari jemarimu tidak lagi "setia" kepada anda, tidak menuruti semua yang anda inginkan, suatu saat nanti jari-jemari itu tak akan lagi membantu anda.

Ya, hal itu akan terjadi disaat anda menghadap kepada Rabbul 'Alamin, Allah Penguasa semesta alam, yaitu pada hari qiyamat. Tatkala Allah menghisab anda, maka kulitmu, jari jemarimu dan kedua kakimu akan bersaksi menceritakan semua yang anda lakukan selama hidup di dunia.

Kepandaian anda berdalih, bersilat lidah tiada lagi gunanya, karena anda akan dibungkam dan anggota tubuh andalah yang akan berbicara menceritakan semua ulah dan perilaku anda.

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ 
Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. (Yasin : 65)

Saudaraku ! Masihkah anda merasa aman dan bebas menulis, melangkah, menggenggam atau mencopas apa saja yang anda suka ? Haruskah anda menunggu saat kaki, tangan, kulit anda bersaksi dan mulut anda dibumkam untuk bisa bersikap bijak ?

Sadarlah saudaraku, sebelum anda menyesal esok hari tatkala semua telah berakhir dan yang tersisa hanya pertanggung jawaban atas amalan anda.

Ya Allah, bukakan pintu hati kami untuk bertaubat dan teguhkan hati kami untuk istiqamah di atas agama-Mu. Amiin.

repost from facebook Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri -hafizhahullah-
Read more »
Apa hakikat dan buah pahit kesombongan ?

Apa hakikat dan buah pahit kesombongan ?

Apa hakikat kesombongan ?

Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan kepada kita mengenai hal itu

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim no. 91)


Apa hakikat dan buah pahit kesombongan

Dari hadits diatas kita tahu bahwa hakekat kesombongan adalah menolak kebenaran (al-Haq) dan meremehkan orang lain

Lantas apa buah dari Kesombongan?

Diantaranya tidak akan masuk surga sebagaimana hadits diatas, kemudian perhatikanlah hadits berikut ini:

Dari Ikrimah bin Ammar, Iyas bin salamah bin al-Akwa’ telah bercerita kepadaku, bahwa ayahnya (Salamah) pernah bercerita, ada seorang laki-laki yang sedang makan di sisi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dengan menggunakan tangan kirinya. Lalu beliau bersabda:

كل بيمينك
“Makanlah dengan tangan kananmu.” Orang itu menjawab: ”Tidak bisa.”

Beliau bersabda:

لا استطعت، ما منعه إلا الكبر
“Engkau benar-benar tidak akan bisa, tidak ada yang mencegahnya (untuk makan dengan tangan kanan) melainkan kesombongan. Salamah melanjutkan, “Ternyata orang itu tidak bisa lagi mengangkat tangannya kemulut.” (HR.Muslim, no.2021)

Sungguh sangat pahit buah dari kesombongan itu. Semoga Allah menyelamatkan kita dari sifat tersebut. Aamiin

Oleh : Ustadz Fuad Hamzah Baraba’, حفظه الله تعالى
Read more »
“Semakin Diasah, Semakin Berkilau” | Buya Gusrizal Gazahar

“Semakin Diasah, Semakin Berkilau” | Buya Gusrizal Gazahar

Semakin Diasah, Semakin Berkilau


Wahai masyarakat Minangkabau baik di ranah maupun di rantau !
Berbagai tuduhan dan ancaman tertuju kepada umat di Ranah Minang.

Mulai dari “tak pandai bersyukur”, “termakan hoaks” sampai “boikot rumah makan Padang”.

Semua itu adalah percikan air liur sumpah serapah karena masyarakat Minangkabau tetap berjalan dalam garis Syara’ Mangato Adaik Mamakai”.

Kepada umat di Ranah dan di Rantau, kami berpesan:
Tak perlu cemas dengan ancaman dan tak usah rendah karena hinaan !
Minangkabau tetaplah intan berlian yang tak ternilai, semakin diasah akan semakin kemilau.
Kita terlatih untuk hidup dalam perjuangan.

Kita adalah masyarakat perantau ibarat air yang menelusuri liku demi liku aliran walaupun melewati tempat yang keruh tapi sampai di lautan, dia tetap suci menyucikan.
Air tergenanglah yang mudah busuk dan berbau karena kotoran.

Tak usah takut dengan rezki yang akan datang karena kita punya keimanan bahwa Allah swt tak pernah keliru menyalurkan rezki seperti “keliru menginput data” yang sama-sama kita saksikan !

Kemudian ambillah i’tibar dari ayat 28 surat al-Taubah !
Ternyata Allah swt tak membiarkan penduduk Makkah kelaparan karena jalur ekonomi mereka yang terhambat.

Ada pesan yang harus digenggam teguh, TEGAKLAH BERSAMA KEBENARAN DAN JADIKAN RIDHA ALLAH SWT SEBAGAI TUJUAN KEHIDUPAN !!!

Do’a kami untuk kita semua.
يا مقلب القلوب ثبّت قلوبنا على دينك
source facebook Buya Gusrizal Gazahar
Read more »
Sabar Mendakwahkan Tauhid meski tinggal seorang diri

Sabar Mendakwahkan Tauhid meski tinggal seorang diri

Cermin Kesabaran Ulama Ahlussunnah Dalam Berdakwah: Bukanlah Perkaranya Manusia Mengenalmu Akan Tetapi Perkaranya Engkau Mengenal Allah

Syaikh Sulaiman Ar Ruhaili hafizhahullah wa nafa'ana bi'ilmihi berkata:

"Orang mukmin yang mengetahui hak Allah Ta'ala, maka dia akan bersabar di atas dakwah kepada tauhid meskipun dia tinggal seorang diri. Sekiranya dia tinggal seorang diri dalam sebuah kampung dalam kondisi ditinggalkankan orang-orang dan mereka menjauhinya dikarenakan dia menyeru manusia kepada tauhid, maka dia akan tetap menyeru kepada tauhid dan merealisasikan tauhid.

Apabila diajarkan tauhid, maka yang datang sepuluh orang, namun apabila diajarkan kisah-kisah yang datang lima puluh ribu orang. Seorang mukmin mengajarkan tauhid meskipun ada seorang di sisinya dan dia akan bersabar serta bergembira terhadap pengajaran tauhidnya.

Demi Allah wahai saudara-saudara! Kami mendapati guru-guru kami ini, guru kami Syaikh Abdul Aziz Asy Syibl semoga Allah merahmatinya dengan rahmat yang luas adalah seorang yang bertakwa kepada Allah Ta'ala lagi pilihan dan kami tidaklah merekomendasi seorang pun di atas Allah, namun kami mengenal Beliau dengan agama, ibadahnya, dan lembutnya hati.

Sabar Mendakwahkan Tauhid

Asy Syaikh pernah mengajariku di ma'had ats atsanawi. Jika disebutkan para sahabat Nabi, maka Beliaupun menangis --semoga Allah Ta'ala merahmatinya dengan rahmat yang luas---, seorang yang bertauhid, seorang yang tauhidnya menakjubkan, hafizh (hafal) Al Quran. Dulu Syaikh Ibnu Shalih rahimahullah berkata: saya tidak tenang dalam shalatku kecuali bila ada Syaikh Asy Syibl dibelakangku maksudnya Syaikh orang yang hafizh.

Syaikh rahimahullah meninggal di masjid ini. Beliau mengajar disana setelah meriwayatkan, demi Allah saya melihat dengan kedua mataku wahai saudara-saudara, Beliau mengajar dan tidak ada muridnya! Beliau duduk di atas kursi dan disana tidak ada seorangpun yang duduk, namun Syaikh mengajar tauhid hingga selesai lalu shalat Isya berjamaah dan pulang. Semoga Allah merahmatinya dengan rahmat yang luas. Demikianlah kami melihat sebagian guru kami.

Sebagian murid Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah menyebutkan kepadaku bahwa Syaikh di awal kegiatan Beliau mengajar tidaklah seorangpun datang, sehingga muadzin masjid disuruh bermajelis bersama Beliau lalu Syaikh mengajar sebab Beliau mengajar karena Allah Ta'ala bukan karena publik. Jika seseorang itu melakukan sesuatu yang wajib atasnya di sisi Allah karena Allah, maka padanya ada hikmah.

Sebagian orang---wal'iyadzubillah---tertawa setan atasnya dengan mengatakan kepadanya: engkau bila mengajar tauhid maka tidak seorangpun yang akan datang kepadamu, namun bila engkau mengajar fikih terutama matan madzhab Malik ketika engkau ada di kalangan pengikut madzhab Malik atau matan madzhab Hanafi ketika berada di kalangan pengikut madzhab Hanafi atau madzhab Syafi'i ketika engkau ada di kalangan pengikut madzhab Syafi'i atau matan Hanbali ketika engkau ada di kalangan pengikut madzhab Hanbali, niscaya akan hadir banyak orang di sisimu!

Seluruhnya ilmu, mengajar fikih tidak diragukan lagi bahwasannya fikih kebaikan dan ilmu namun seseorang jangan meninggalkan pengajaran tauhid dikarenakan sedikitnya orang yang hadir di sisinya dan inilah buah pengetahuan kita tentang pentingnya tauhid.

Dari sini kalian mengetahui kepahaman Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam membuat bab kitab ini dan membuat urutan kitab ini, dimana Beliau mengawalinya dengan pembukaan yang menjadikan seorang mukmin terikat dengan tauhid dan merealisasikan perkara yang telah kita menyebutkannya.

Wahai saudara-saudara; bukanlah perkaranya orang-orang mengenalmu akan tetapi perkaranya engkau mengenal Allah.

Betapa banyak ulama dan syaikh yang kita mengenal dan mendapati mereka tidak dikenal mayoritas orang, namun mereka termasuk hamba Allah pilihan secara ilmu dan pengajaran seperti orang yang sudah saya sebutkan yaitu guru kami Syaikh Abdul Aziz Asy Syibl rahimahullah yang mungkin mayoritas kalian tidak mengenalnya, akan tetapi Beliau termasuk ulama dan hamba yang taat.

Guru kami Syaikh Abdurrahman bin Abdul Aziz Asy Syibl--- rahimahullah rahmatan wasi'ah--- guru dan ustadz saya meninggal ketika muda rahimahullah. Seorang da'i tauhid, ulama tauhid, dan termasuk orang yang giat beribadah, tidaklah saya mengetahui Beliau meninggalkan shalat Dhuha. Beliau dulu menyelinap di antara pohon di Fakultas Syariah dan shalat Dhuha-- rahimahullah rahmatan wasi'ah--.

Betapa banyak ulama yang taat tidak kalian kenal, namun Allah mengenal dengan pengetahuan mereka sehingga perkaranya-- wahai saudara-saudara--bukanlah orang-orang mengenalmu. Bukanlah perkaranya keberadaanmu di depan publik, bukanlah perkaranya engkau populer.

Demi Allah! Sesungguhnya popularitas seringkali menjadi bencana atas seseorang. Akan tetapi seseorang hendaknya mengenal Allah dan menjadi hamba Allah yang shalih, orang yang memperbaiki, orang yang bersungguh-sungguh dalam mencurahkan apa yang dia mampu untuk mendekatkan manusia kepada Allah Ta'ala.

Wahai para penuntut ilmu janganlah sekali-kali popularitas menjadi cita-cita kalian. Janganlah kalian mengalihkan perhatian untuk dikenal orang akan tetapi antusiaslah untuk engkau mengenal Allah. Perbaikilah hubungan yang ada antara kalian dan Allah Ta'ala. Adapun apa yang lebih dari itu, maka urusannya kembali kepada Allah karena Allah Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Sungguh engkau lebih baik meninggal dan tidak dikenal, namun kedudukanmu tinggi di surga disebabkan engkau mati dalam kondisi tidak dikenal. Namun mengenalnya manusia kepadamu seringkali sebagai sebab bencana atasmu.

Oleh karena itu antusiaslah terhadap apa yang bermanfaat kepadamu. Antusiaslah terhadap perkara yang mengangkat derajatmu yaitu engkau mengenal Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan melakukan perkara yang diridhai Allah Ta'ala. Apabila engkau mengetahui bahwa ini diridhai Allah, engkaupun antusias terhadapnya disertai kelembutan terhadap manusia dan beradab terhadap manusia.

Adapun manusia ridha terhadapmu, maka ini perkaranya sesuai kehendak Allah dan Allah Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Pelajaran Ketiga/Syarh Kitabut Tauhid

https://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=162203#entry740031

Dikutip dari http://telegram.me/ukhwh
Read more »
Foto Angku Saliah di rumah makan pariaman (piaman)

Foto Angku Saliah di rumah makan pariaman (piaman)

Foto Angku Saliah di rumah makan pariaman

Jika Anda berkunjung ke rumah makan Padang atau tempat-tempat tertentu yang milik hubunganya dengan Padang. Mungkin saja Anda sering melihat foto seorang kakek-kakek yang memakai kopiah haji atau peci warna hitam yang terpajang didinding. Kakek tersebut adalah Ungku Saliah sepupu dari Pakiah Saleh dimana beliau dekat sekali dengan Buya Hamka . Ungku Saliah adalah seorang yang taat beragama semasa hidupnya dan beliau bermazhab syafi’i, beliau tinggal di daerah Piaman Laweh, atau tepatnya di daerah Sungai Sariak, Pariaman.

Setelah wafat, makam dan foto beliau dikeramatkan oleh murid-murid Hamzah al-Fansuri, para pengagum dan orang-orang yang mengetahui cerita serta seluk beluk beliau. Fotonya pun sering dijadikan jimat pelaris dagangan. Termasuk di kedai-kedai nasi, rumah makan ataupun restoran Padang yang mungkin pernah Anda jumpai.

Jika ada foto kakek berkopiah itu terpajang di dinding rumah makan Padang, Anda bisa langsung menyimpulkan bahwa kedai, toko atau rumah makan Padang tersebut adalah milik orang Pariaman yaitu Ungku Saliah atau masakannya merupakan khas Pariaman. Demikian juga Pakiah Saleh sama nasibnya dengan Ungku Saliah, dimana foto dan gambarnya terpajang di Rumah Makan Padang. Ini membuat keluarga beliau berang sekali.

Hal ini terjadi di Kota Pekanbaru Riau ketika keluarga beliau yang sedang makan di Rumah Makan tersebut memaksa pemilik Rumah Makan tersebut untuk menurunkan foto Pakiah Saleh. Ditambah pada tahun lalu ketika keluarga berniat membersihkan kuburan Pakiah Saleh tidak diduga ternyata Sesaji dan Cangkang Kerang besar yang di isi air hujan di letakkan di sekeliling kuburan, ternyata kuburan ini telah dikeramatkan oleh murid-murid Hamzah al-Fansuri. Maka dengan terpaksa keluarga almarhum Pakiah Saleh membersihkan sesaji dan sampah-sampah tersebut dimana mereka menilai itu adalah syirik.

Read more »
Kondisi Ketika Manusia Di Giring Ke Padang Mahsyar

Kondisi Ketika Manusia Di Giring Ke Padang Mahsyar

Ketika manusia digiring ke padang mahsyar, mereka dihimpun di bumi yang baru berwarna putih kemerah-merahan, bagaikan tepung roti yang dibakar.

Rasulullah ﷺ bersabda : “Manusia dikumpulkan pada hari kiamat di atas tanah putih kemerah-merahan seperti tepung roti yang bersih”, Sahl atau yang lainnya berkata, “Tidak ada tanda (bangunan atau gedung) milik siapa pun.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kemudian, mereka tidak mengenakan penutup kaki maupun pakaian dan dalam keadaan belum dikhitan, sebagaimana mereka dahulu diciptakan.

Kondisi Ketika Manusia Di Giring Ke Padang Mahsyar

Allah ﷻ berfirman :

كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ
"Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kami-lah yang akan melaksanakannya." (QS. Al-Anbiya`/21:104)

Rasulullah ﷺ bersabda : “Sungguh kalian akan dibangkitkan dalam keadaan tidak mengenakan sandal (pelindung kaki), telanjang dan masih berkulup (belum dikhitan),” kemudian beliau ﷺ membaca firman Allah QS. Al Anbiya`/21 ayat 104). (HR. Al Bukhari)

Dalam shahihain, terdapat hadits ‘Aisyah yang menggambarkan peristiwa ini. Yaitu beliau ﷺ bersabda :

يُحْشَرُ النَّاسُ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ جَمِيْعًا يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ فَقَالَ الْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يُهِمَّهُمْ ذَاكِ
“Manusia digiring (di Padang Mahsyar) dalam keadaan tidak mengenakan sandal (pelindung kaki), telanjang dan masih berkulup (belum dikhitan)”. Lalu ‘Aisyah berkata: Aku bertanya, ”Laki-laki dan perempuan semuanya ? Sebagian mereka melihat sebagian lainnya ?” Maka beliau ﷺ menjawab : “Keadaannya lebih mengerikan dari membuat mereka berpikir demikian”. (Muttafaqun ‘alaih)

Mereka di giring ada yang berjalan kaki, naik kendaraan dan berjalan dengan wajahnya yang di seret.

Rasulullah ﷺ bersabda :

إِنَّكُمْ تُحْشَرُوْنَ رِجَالًا وَرُكْبَانًا وَتُجَرُّونَ عَلَى وُجُوهِكُمْ رواه الترمذي وقال حديث حسن
"Sesungguhnya kalian akan digiring (di Padang Mahsyar) dalam keadaan berjalan dan berkendaraan, serta diseret di atas wajah-wajah kalian." (HR at Tirmidzi, dan beliau berkata: “Hadits hasan”. Hasan dalam Shahih at Targhib wat-Tarhib no. 3582)

Dari Anas bin Malik beliau berkata, Bahwasanya seseorang berkata kepada Rasulullah ﷺ :
_“Wahai, Rasulullah! Allah berfirman, ‘Orang-orang yang dihimpunkan ke neraka Jahannam dengan diseret atas muka-muka mereka’ (Al Furqan/25 ayat 34) apakah orang kafir digiring di atas wajahnya ?” Rasulullah ﷺ berkata, ”Bukankah Dzat yang membuat seseorang berjalan di atas kedua kakinya di dunia mampu untuk membuatnya berjalan di atas wajahnya ?” Qatadah berkata ketika hadits ini sampai kepadanya : “Benar, demi kemuliaan Allah.” (HR Al Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat yang lain dari Abu Hurairah : "... mereka yang berjalan dengan wajah akan hati-hati ketika melewati tempat yang menonjol atau tempat yang berduri.” (HR. Ahmad 2/354. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lainnya –hasan lighoirihi-)

Saudaraku, bertaubatlah jangan pernah meremehkan perkara dalam agama.

Semoga bermanfaat, إِنْ شَاءَ اللّٰهُ

#UstAbuAsmaKholidSyamhudiLc
Read more »
Tradisi Yang Keliru Di Bulan Sya’ban

Tradisi Yang Keliru Di Bulan Sya’ban

Agama islam itu mulia, indah, mudah dan sempurna, sehingga tidak butuh penambahan atau pengurangan dalam seluruh aspeknya, baik yang berhubungan dengan masalah aqidah ataupun masalah ibadah.

Hal ini berdasarkan Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS Al Maidah : 3)

Tentang ayat ini Imam Malik rahimahullah berkata:

مَنِ ابْتَدَعَ فِيْ الْإِسْلَامِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً فَقَدْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَداً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَانَ الرِّسَالَةِ، لِأَنَّ اللَّهَ يَقُوْلُ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِيْناً فَلَا يَكُوْنُ الْيَوْمَ دِيْناً
“Barang siapa yang melakukan bid’ah (mengada ada) didalam islam dengan suatu bid’ah dan memandangnya sebagai suatu kebaikan maka sungguh ia telah menyangka bahwa Muhammad shalallahu alaihi wasallam mengkhianati risalah (tidak menyampaikan agama ini seluruhnya), karena Allah telah berfirman Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, maka perkara yang pada saat itu bukan bagian dari agama, pada hari inipun bukan bagian dari agama” (Al I’thishom, Imam Syathibi 1/49)

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memperingatkan keras agar umatnya tidak beramal tanpa tuntunan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ingin sekali umatnya mengikuti ajaran beliau dalam beramal sholeh.

Beliau shalallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” [HR. Bukhari : 20 dan Muslim : 1718]

Diantara perkara yang menunjukan kesempurnaan islam adalah bahwasanya islam mengatur tatacara ibadah dan bagaimana cara menghidupkan bulan sya’ban.

Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu anhu berkata, “Aku bertanya, wahai Rasulullah , aku tidak pernah melihat engkau berpuasa pada suatu bulan sebagaimana engkau berpuasa pada bulan sya’ban.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menjawab :

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
"Sya’ban adalah bulan yang terlupakan oleh manusia, terletak antara bulan rajab dan ramadhan. Ia adalah bulan yang didalamnya amal perbuatan akan diangkat (dilaporkan) ke sisi Rabb semesta Alam, maka aku lebih suka kalau amalanku dilaporkan sementara akau sedang berpuasa”. [HR Ahmad : 21753, di shahihkan oleh syaikh Al Albani didalam As Shohihah 4/1898]

Dari hadits diatas menunjukan bahwa menghidupkan bulan sya’ban itu adalah dengan memperbanyak ibadah puasa.

'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:

فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ
"Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” [HR. Bukhari : 1969 dan Muslim : 1156]._
Ibadah puasa yang dimaksud adalah ibadah puasa mutlak tiap hari dibulan sya'ban, atau berpuasa dengan puasa yang disyari’atkan seperti puasa senin kamis, puasa dawud, puasa tiga hari dalam setiap bulan. Dan puasa yang paling utama adalah puasa dawud.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

أَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ، كَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا
"Puasa yang paling di cintai Allah adalah puasa dawud, yaitu puasa sehari dan berbuka sehari”. [HR Bukhari : 3420, Muslim : 186].

Sangat di sayangkan bagi sebagian kaum muslimin khususnya di negeri kita dibulan sya’ban ini, yang seharusnya meneladani Nabi shalallahu alaihi wasallam dalam menghidupkannya, akan tetapi malah memeriahkannya dengan mengadopsi berbagai praktek ritual ibadah yang berasal dari adat istiadat bahkan sebagiannya dari ajaran hindu yang bertentangan dengan syari’at islam.

Kalaupun ada yang berasal dari sesuatu yang berbau agama seperti puasa atau shalat, akan tetapi tidak lepas dari penyimpangan karena tidak adanya dalil yang menjadi dasar dan pegangan pengkhususan* ibadah di bulan sya’ban.

Diantara ritual ritual tersebut adalah :

1. Ruwahan

Ruwahan berasal dari kata “Ruwah” merupakan bulan urutan ke tujuh, dalam kalender jawa. dan berbarengan dengan bulan Sya’ban tahun Hijriyyah sehingga bulan sya’ban pun dikenal juga oleh sebagian masyarakat khususnya di daerah sunda dan jawa dengan bulan ruwah. Kata “ruwah” sendiri memiliki akar kata “arwah”, atau roh para leluhur dan nenek moyang.

Ruwahan sendiri bukan dari ajaran islam akan tetapi berasal dari hindu. Lalu ritual ruwahan tersebut di adopsi kedalam agama islam berupa kebiasaan kirim do’a kepada kerabat yang sudah meninggal dunia dengan mengadakan tahlilan atau yasinan dan mengundang tetangga kanan kiri yang pulangnya mereka diberi ”berkat” sebagai simbul rasa terima kasih.

2. Nyadran

Nyadran adalah ziarah kubur untuk mengingatkan manusia kepada asal-usulnya yaitu para leluhur. Nyadran di awali dengan membersihkah makam dan sekitarnya dari rerumputan liar dan sampah lalu membacakan tahlil dan yasin.

Nyadran sendiri berasal dari kata “sradha”, yang konon merupakan tradisi yang diawali oleh Ratu Tribuana Tunggadewi, raja ketiga Majapahit.

Pada zaman itu Kanjeng Ratu ingin melakukan doa kepada sang ibunda Ratu Gayatri, dan roh nenek moyangnya yang telah diperabukan di Candi Jabo.

Untuk keperluan itu dipersiapkanlah aneka rupa sajian untuk didermakan kepada para dewa. Sepeninggal Ratu Tribuana Tunggadewi, tradisi ini dilanjutkan juga oleh Prabu Hayam Wuruk. Lalu sampai akhirnya di bumbui diramu dan di campurkan dengan ajaran islam dan di lestarikan sampai sekarang.

Ziarah kubur adalah ibadah yang sangat di syari’atkan akan tetapi menetapkan lebih utama di bulan sya’ban butuh kepada dalil khusus, sementara dalilnya dalam masalah ini tidak ada.

3. Mengkhususkan shalat dan puasa pada malam nisfu Sya’ban. Sebagian orang beralasan dengan hadits palsu :

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَقُومُوا لَيْلَهَا، وَصُومُوا نَهَارَهَا
"Apabila berada pada malam nisfu sya’ban maka shalatlah malam harinya dan puasalah siang harinya." [HR Ibnu Majah : 1388]

Hadits ini palsu sebagaimana penjelasan Al Bushiri bahwa didalam sanadnya ada Ibnu Abi Sabrah yang nama aslinya Abu Bakar bin ‘Abdullah bin Abi Sabrah.

Imam Ahmad dan Imam Ibnu Ma’in menyatakan: “ia telah membuat hadits palsu”. (Zawaaid Ibnu Majah 2/10, lihat Bida’ Wa Akhtho’ Tata’alaqu Bil Ayyam Was Syuhur, hal. 352)

Maka dalam hal ini bukan masalah shalatnya atau puasanya yang tercela tapi penetapan keutamaannya yang dilakukan pada malam nisfu sya’ban yang butuh kepada dalil khusus, sementara dalil-dalil dalam pengkhususan malam nisfu sya’ban untuk beribadah tertentu tidak ada yang shahih. Seperti misalnya malam jum’at itu waktu yang utama akan tetapi Rasulullah shalallahu alaihi wasallam melarang mengkhususkannya untuk beribadah tertentu.

Beliau shalallahu alaihi wasallam bersabda :

لاَ تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِى وَلاَ تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الأَيَّامِ
“Janganlah mengkhususkan malam Jum’at dari malam lainnya untuk shalat. Dan janganlah mengkhususkan hari Jum’at dari hari lainnya untuk berpuasa.” [HR. Muslim : 1144] 

Didalam kaedah tentang bid’ah disebutkan :

كُلُّ عِبَادَةٍ مُطْلَقَةٍ ثَبَتَتْ فِيْ الشَّرْعِ بِدَلِيْلٍ عَامٍ؛ فَإِنَّ تَقْيِيْدَ إِطْلَاقِ هَذِهِ الْعِبَادَةِ بِزَمَانٍ أَوْ مَكَانٍ مُعَيَّنٍ أَوْ نَحْوِهِمَا بِحَيْثُ يُوْهِمُ هَذَا التَّقْيِيْدَ أَنَّهُ مَقْصُوْدٌ شَرْعًا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَدُلَّ الدَّلِيْلُ الْعَامُ عَلَى هَذَا التَّقْيِيْدِ فَهُوَ بِدْعَةٌ
“Setiap ibadah mutlak yang disyari’atkan berdasarkan dalil umum, maka pengkhususan yang umum tadi dengan waktu atau tempat yang khusus atau pengkhususan lainnya, dianggap bahwa pengkhususan tadi ada dalam syari’at namun sebenarnya tidak ditunjukkan dalam dalil yang umum, maka pengkhususan tersebut adalah bid’ah.” (Qawa’id Ma’rifatil Bida’, hal. 116)

Adapun Hadits Abu Musa Al Asy’ari, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِى لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
“Sesungguhnya Allah akan menampakkan (turun) di malam Nishfu Sya'ban kemudian mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan dengan saudaranya.” [HR. Ibnu Majah : 1390, dishahihkan oleh syaikh Al Albani rahimahullah, lihat As Silsilah As Shahihah : 1144, Shahihul Jaami’ : 1819]

Hadits ini menunjukan bahwa diantara sebab meraih keutamaan malam nishfu sya’ban yaitu ampunan Allah Ta’ala, dengan menjauhi permusuhan, kedengkian, hasad, bersihkan hati, cintailah saudaranya dari kaum muslimin.

Hadits ini tidak bisa dijadikan dalil bolehnya mengkhususkan ibadah tertentu di malam nisfu sya’ban.

Dalam masalah ini Ibnu Hajar Al Haitami As Syafi’I rahimahullah berkata:

وأما الصَّلَاةِ الْمَخْصُوصَةِ لَيْلَتهَا ليلة النصف وَقَدْ عَلِمْت أَنَّهَا بِدْعَةٌ قَبِيحَةٌ مَذْمُومَةٌ يُمْنَعُ مِنْهَا فَاعِلُهَا، وَإِنْ جَاءَ أَنَّ التَّابِعِينَ مِنْ أَهْلِ الشَّامِ كَمَكْحُولٍ وَخَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ وَلُقْمَانَ وَغَيْرِهِمْ يُعَظِّمُونَهَا وَيَجْتَهِدُونَ فِيهَا بِالْعِبَادَةِ، وَعَنْهُمْ أَخَذَ النَّاسُ مَا ابْتَدَعُوهُ فِيهَا وَلَمْ يَسْتَنِدُوا فِي ذَلِكَ لِدَلِيلٍ صَحِيحٍ وَمِنْ ثَمَّ قِيلَ أَنَّهُمْ إنَّمَا اسْتَنَدُوا بِآثَارٍ إسْرَائِيلِيَّةٍ وَمِنْ ثَمَّ أَنْكَرَ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ أَكْثَرُ عُلَمَاء الْحِجَازِ كَعَطَاءٍ وَابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ وَفُقَهَاء الْمَدِينَة وَهُوَ قَوْلُ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ وَمَالِكٍ وَغَيْرِهِمْ قَالُوا: وَذَلِكَ كُلُّهُ بِدْعَةٌ؛ إذْ لَمْ يَثْبُت فِيهَا شَيْءٌ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا عَنْ أَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِهِ
“Adapun mengkhususkan shalat tertentu pada malam nishfu sya’ban sebagaimana telah diketahui bahwasanya ia adalah bid’ah yang buruk lagi tercela, dilarang untuk melakukannya, walaupun ada diantara para tabi’in dari negeri syam seperti Makhul, Khalid bin Ma’dan, dan Luqman dll mengagungkan malam nisfu sya’ban dan bersungguh-sungguh beribadah padanya, dari merekalah manusia mengambil alasan mereka untuk melakukan bid’ah mereka pada malam tersebut, sementara tidak ada dalil Dari sanalah dikatakan kalau sandaran mereka berasal dari riwayat israiliyat (cerita dari ahlil kitab), sehingga karena itupula lah para ulama hijaz seperti ‘atho, ibnu mulaikah, dan para ulama ahli fikih Madinah, demikian juga perkataan para pengikut madzhab syafi’I, malik dan yang selain mereka mengingkarinya, mereka mengatakan bahwa semua itu adalah bid’ah karena tidak ada dalil yang shahih datang dari Nabi shalallahu alaihi wasallam atau seorang pun dari para sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam”. (Al Fatawa Al Fiqhiyyah Al Kubra 2/80)

4. Melakukan shalat Alfiyah atau shalat Baroah, yaitu shalat 100 roka’at di malam nisfu sya’ban disetiap raka’atnya membaca Qul Huwallahu Ahad 10 kali, maka dinamakanlah shalat alfiyah (seribu) karena bacaan Qulhunya sebanyak seribu kali dalam seratus raka’at.

Cukuplah penjelasan Imam An Nawawi rahimahullah , seorang ulama besar dari kalangan ulama yg bermadzhab Syafi’I tentang apa hukum melakukan shalat Al Fiyah ini. Beliau rahimahullah berkata:

الصَّلَاةُ الْمَعْرُوفَةُ بصلاة الرغائب وهي ثنتى عَشْرَةَ رَكْعَةً تُصَلَّى بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ لَيْلَةَ أَوَّلِ جُمُعَةٍ فِي رَجَبٍ وَصَلَاةُ لَيْلَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ مِائَةُ رَكْعَةٍ وَهَاتَانِ الصَّلَاتَانِ بِدْعَتَانِ وَمُنْكَرَانِ قَبِيحَتَانِ وَلَا يُغْتَرُّ بِذَكَرِهِمَا فِي كِتَابِ قُوتِ الْقُلُوبِ وَإِحْيَاءِ عُلُومِ الدِّينِ وَلَا بِالْحَدِيثِ الْمَذْكُورِ فِيهِمَا فَإِنَّ كُلَّ ذَلِكَ بَاطِلٌ
“Shalat yang dikenal dengan shalat Raghaaib yaitu shalat 12 raka’at dilakukan antara maghrib dan isya dimalam jum’at pertama dibulan rajab, dan juga shalat dimalam nisfu sya’ban sebanyak 100 raka’at (shalat Alfiyyah), maka kedua shalat ini adalah bid’ah yang munkar lagi buruk, jangan tertipu dengan disebutkannya kedua shalat ini di kitab Qutul Qulub dan kitab Ihya Ulumuddin, jangan pula tertipu kalau kedua shalat ini ada haditsnya karena semua hadits hadits tersebut adalah batil” (Al Majmu’ Syarah Al Muhadzab, An Nawawi 3/506, lihat juga Al Baa’its, Ibnu Syaamah, hal. 124-138)

5. Mengkhususkan sedekah dan membuat makanan di bulan sya’ban, khususnya di malam nisfu sya’ban. Sampai sampai di sebagian daerah di jawa mengharuskan makanan yang khusus yang dikaitkan dengan symbol symbol tertentu dalam rangka untuk lebih memaknai suatu ibadahnya. Mereka saling kirim makanan dengan tiga sajian makanan yakni ketan, kolak, dan apem.

Makna dari ketiga makanan itu adalah : ketan yang lengket merupakan simbol mengeratkan tali silaturahmi, kolak yang manis bersantan mengajak persaudaraan bisa lebih ‘dewasa’ dan barokah penuh kemanisan, dan apem berarti jika ada yang salah maka sekiranya bisa saling memaafkan.

Syaikh Bakar Abu Zaid rahimahullah berkata:

لاَ يُعْرَفُ فِيْ السُّنَّةِ إِثْبَاتُ فَضْلٍ لِشَهْرِ شَعْبَانَ إِلَّا مَا ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِكْثَارِ الصِّيَامِ فِيْهِ وَأَمَا حَدِيْثُ : فَضْلُ شَعْبَانَ عَلَى سَائِرِ الشُّهُوْرِ كِفَضْلِيْ عَلَى سَائِرِ الْأَنْبِيَاءِ فَهُوَ مَوْضُوْعٌ .
"Tidak dikenal didalam sunnah penetapan keutamaan bulan sya’ban kecuali apa yang telah shahih datang dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau memperbanyak melakukan puasa sunnah di bulan tersebut, Adapun hadits yang berbunyi, “Keutamaan bulan sya’ban dibandingkan dengan bulan lainnya seperti keutamaan aku dibandingkan dengan seluruh para Nabi” adalah hadits yang palsu”. (Mu’jamul Manahil Lafdziyyah, Syaikh Bakar Abu Zaid, hal. 316).

Tradisi Yang Keliru Di Bulan Sya’ban

AKHIRNYA :

Marilah kita memperbanyak ibadah puasa sunnah di bulan sya’ban ini, termasuk bagi mereka yang masih memiliki utang puasa ramadhan di waktu-waktu lalu khususnya kaum hawa, hendaklah mengqadhanya di bulan ini sebelum datangnya bulan Ramadhan. Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَهُ إِلَّا فِي شَعْبَانَ، الشُّغْلُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَوْ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ»
“Aku dahulu punya kewajiban puasa. Aku tidaklah bisa membayar utang puasa tersebut kecuali pada bulan Sya’ban karena kesibukan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [HR Muslim : 151].

Hadits ini menunjukan boleh seseorang untuk melakukan qadha puasa ramadhan walaupun di bulan sya’ban, akan tetapi yang utama untuk bersegera didalam urusan membayar utang apalagi ini menyangkut utang terhadap Allah.

Adapun ada hadits yang melarang berpuasa kalau sudah lewat pertengahan sya’ban, seperti hadits:

إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلا تَصُومُوا
“Jika sudah masuk pertengahan Sya’ban, janganlah berpuasa.” [HR. Abu Daud : 3237, At-Turmudzi : 738, dan Ibnu Majah : 1651; dinilai sahih oleh Al-Albani]

Maksud hadits ini adalah larangan berpuasa mutlak setelah datang pertengahan sya’ban. Sebagi dijelaskan oleh Al Munawi rahimahullah:

أَيْ يُحْرَمُ عَلَيْكُمْ اِبْتِدَاءُ الصَّوْمِ بِلَا سَبَبٍ حَتَّى يَكُوْنَ رَمَضَانَ
“Maksud hadis, terlarang bagi kalian untuk memulai puasa tanpa sebab (maksudnya puasa mutlak), sampai masuk bulan Ramadhan”. (Faidhul Qadir, Al Munawi 1:304 : 494)

Sementara bagi yang sudah terbiasa melakukan puasa sunnah atau puasa qadha ramadhan maka di bolehkan untuk berpuasa walaupun lewat pertengahan sya’ban. Sebagaimana Nabi _shalallahu alaihi wasallam telah bersabda:

لا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلا يَوْمَيْنِ إِلا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ
"Janganlah kalian mendahului ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari kecuali puasa yang sudah biasa dia lakukan”. [HR Bukhari : 1914, Muslim : 1082].

Imam An Nawawi rahimahullah berkata:

قَالَ أَصْحَابُنَا لا يَصِحُّ صَوْمُ يَوْمِ الشَّكِّ عَنْ رَمَضَانَ بِلا خِلافٍ . . . فَإِنْ صَامَهُ عَنْ قَضَاءٍ أَوْ نَذْرٍ أَوْ كَفَّارَةٍ أَجْزَأَهُ ، لأَنَّهُ إذَا جَازَ أَنْ يَصُومَ فِيهِ تَطَوُّعًا لَهُ سَبَبٌ فَالْفَرْضُ أَوْلَى . .
"Para ulama kami (syafi’iyyah) berkata tidak sah puasa pada hari ragu (yakni ramadhan sudah masuk atau belum) tanpa ada perbedaan pendapat para ulama, Adapun kalau puasa qadha, atau nadzar, atau kafarat maka boleh berpuasa (setelah lewat tengah sya’ban) karena kalau puasa yang sunnah saja di bolehkan (apabila sudah terbiasa) maka puasa yang sebabnya adalah wajib (seperti qadha, nadzar, dan kafarat) lebih utama lagi untuk bolehnya”. (AL Al Majmu’ Syarah Al Muhadzab 6/399)

Dan maksud larangan berpuasa ketika sudah masuk pertengahan sya’ban maksudnya kalau setelah pertengahan sya’ban baru mau memulai puasa, adapan kalau sudah berpuasa sebelum pertengahan sya’ban lalu nyambung berpuasa sampai melewati pertengahan sya’ban maka hal ini boleh. Sebagaimana riwayat dari ‘Aisyah radhiyallahu anha, ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ ، يَصُومُ شَعْبَانَ إِلا قَلِيلا
“Adalah Nabi shalallahu alaihi wasallam terkadang puasa sya’ban seluruhnya (banyak berpuasa), terkadang beliau tidak berpuasa di bulan sya’ban kecuali sedikit” [HR Bukhari : 1970, Muslim : 1156]

Oleh Ustadz Abu Ghozie As Sundawie Hafizhahullah

Barakallahu fiikum
Read more »
Beranda