IBX5A47BA52847EF DakwahPost
Assalamualaikum, Ahlan wa Sahlan di web dakwahpost.com | Motto: Berusaha sedekat mungkin kepada Manhaj Salaf
Dukung Petisi "hentikan iklan blackpink shopee"

Dukung Petisi "hentikan iklan blackpink shopee"

hentikan iklan blackpink shopee

Sekelompok perempuan dengan baju pas-pasan. Nilai bawah sadar seperti apa yang hendak ditanamkan pada anak-anak dengan iklan yang seronok dan mengumbar aurat ini? Baju yang dikenakan bahkan tidak menutupi paha. Gerakan dan ekspresi pun provokatif. Sungguh jauh dari cerminan nilai Pancasila yang beradab.

Iklan Shopee yang menggunakan grup Korea Selatan, Blackpink ini, sering diputar pada program anak-anak. Satu film anak-anak bahkan memuat iklan ini setiap beberapa menit seperti Film Tayo do RTV, Jumat (7/12). Apa pesan yang hendak dijajalkan pada jiwa-jiwa yang masih putih itu? Bahwa mengangkat baju tinggi-tinggi dengan lirikan menggoda akan membawa mereka mendunia? Bahwa objektifikasi tubuh perempuan sah saja?

Di mana letak perlindungan KPI pada generasi penerus bangsa? Kami paham bahwa konsep watershed sulit diaplikasikan dalam jam siar di Indonesia sehingga tidak ada pembatasan kapan jam acara khusus anak, kapan acara khusus dewasa. Namun, setidaknya KPI bisa mengatur jenis iklan yang ditayangkan pada program anak-anak.

Kami menuntut KPI untuk melarang penayangan iklan Shopee dan iklan seronok lainnya di televisi Indonesia, baik pada stasiun TV yang berbayar atau tidak. Kami menuntut Shopee untuk menghentikan iklan seronok mereka pada kanal-kanal media sosial.

Kami mengimbau orangtua-orangtua Indonesia untuk melakukan hal berikut:

1. Memberikan tekanan pada KPI melalui lembar pengaduan;

2. Memboikot Shopee –sepanjang Shopee masih menggunakan iklan seronok- demi masa depan generasi selanjutnya.



klik link ini untuk turut andil petisi change.org
Read more »
Ekspresi Cinta Ku syarat kesempurnaan iman

Ekspresi Cinta Ku syarat kesempurnaan iman

Bismillah...

Saudara muslimku yg baik...

Surat cinta ini aku tujukan untukmu, siapaupun dirimu dan dimanapun engkau berada, melalui surat sederhana ini kuingin menautkan cintaku dan cintamu dalam simpul cinta kepada kekasih kita Rasulullah -shallallahu 'alaihiwasallam- , maka berkenanlah sejenak tuk bersabar membacanya semoga bunga-bunga cintamu dan cintaku merekah indah karenanya.

Saudara muslimku yg baik...

Sesungguhnya kecintaan kepada Rasulullah -shallallahu 'alaihiwasallam - adalah kewajiban setiap kita yg tak boleh diabaikan sama sekali, bahkan wajib bagi kita mengangkat cinta itu setinggi mungkin kepada beliau, melebihi cinta kita kepada apapun dan siapapun di dunia ini,tak terkecuali jiwa kita sendiri, sebab itu adalah syarat kesempurnaan iman.

Ekspresi Cinta Ku syarat kesempurnaan iman

Dengarkanlah sejenak wasiat Nabi kita berikut ini yang menegaskan hal diatas :

عن أنس قال قال النبي صلى الله عليه وسلم لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده والناس أجمعين ( رواه البخاري)
Dari Anas bahwasanya Rasulullah bersabda: " tidaklah sempurna iman salah seorang kalian sampai diriku lebih ia cintai daripada ayahnya,anaknya bahkan manusia seluruhnya. (HR. Imam Bukhari).

Yah... kesempurnaan dan keutuhan iman hanya akan dapat diperoleh seseorang, manakala cintanya kepada Rasulullah-membuncah meluap-luap, menguasai jiwa dan raganya, mempengaruhi akal dan selera rasanya, mengalahkan logika dan nafsunya, sehingga cinta kepada selainnya menjadi kerdil,mengecil lalu menguap tak tersisa manakala berbenturan dengan cinta kepada Rasulullah sang kekasih hati yg agung itu, meskipun ia adalah ayah dan anak kandungnya sendiri.

Saudara muslimku yg baik ...Melebihkan cinta kita kepada ayah dan anak kandung kita sendiri daripada diri Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam - adalah dosa yg sangat dimurkai oleh Allah Àzza wa Jalla,demikianlah yg ditegaskan olehNYA dalam Al Quraan kitab suci kita, renungkanlah ayat berikut ini perlahan-lahan,resapi maknanya dalam hatimu, agar engkau dapat merasakan getaran dahsyat ancaman yg tersirat kokoh di dalamnya:

(قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ) [سورة التوبة : 24]
Katakanlah: "jika bapak-bapak, anak-anak,saudara-saudara,istri-istri,kaum kerabatmu, harta kekayaan yg kamu usahakan, perniagaan yg kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah tempat tinggal yg kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya serta berjihad di jalanNYA, maka tunggulah hingga Allah mendatangkan keputusannya, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang -orang fasik."

Imam Al Hasan al Bashri menyatakan bahwa makna firman Allah ( حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ) "sehingga Allah mendatangkan keputusannya " adalah: hukuman yg disegerakan atau ditunda.

Barakallahfiikum

repost from whatsapp group
Read more »
Dimanakah Dia...?

Dimanakah Dia...?

Dimanakah dia...

Yang katanya ingin bertaubat ketika telah 40 tahun, namun hingga usia menyentuh kepala 5, ia semakin tenggelam dengan dunia.

Dimanakah dia...

Yang katanya ingin berhijab menjadi muslimah sejati, namun sekarang anak sudah 2, mengapa semakin lama semakin menor.

Dimanakah Dia...?

Dimanakah dia...

Yang katanya ingin berubah, mulai sholat berjamaah, hari pun berlalu, namun masih jarang terlihat batang hidungnya.

Dimanakah dia...

Yang katanya ingin memperdalam agama, belajar bahasa arab, bertahun-tahun telah lewat namun kualitas beragama tak kunjung meningkat.

Dimanakah dia...

Yang katanya ingin mulai menghafal Al Qur'an, waktu pun lama berlalu namun tak ada juga penambahan.

Dimanakah dia...

Yang ingin berhenti bermaksiat, namun entah mengapa semakin hari kemaksiatannya malah semakin dahsyat.

Ketahuilah, Niat baik yang pernah terbetik di dalam hati, bila tak segera ditindaklanjuti, kelak 'kan sirna dan mungkin tak 'kan pernah kembali.

Menyesallah ia karena telah tertutup pintu kebaikan, diri pun terbelenggu jerat nafsu dan kemaksiatan.

Dimanakah dia...

Oh, ternyata disitulah dia, terbaring di kuburnya, ia telah kembali, menyesal dan berkata,

رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ
"Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shaleh terhadap yang telah aku tinggalkan." [Al-Mu'minun : 99 - 100]

source http://t.me/boristanesia
Read more »
Waspada Namimah Di Zaman Medsos!!

Waspada Namimah Di Zaman Medsos!!

Namimah atau adu domba di zaman medsos ini sungguh sangat mudah sekali. Dalam hitungan detik seseorang dengan mudahnya melakukan namimah.

Apa itu namimah? Adz Dzahabi mengatakan:

والنمام هو الذي ينقل الحديث بين الناس وبين اثنين بما يؤذي أحدهما أو يوحش قلبه على صاحبه أو صديقه بأن يقول له قال عنك فلان كذا وكذا
"Nammam (pelaku namimah) adalah orang yang menukil perkataan dari satu orang ke orang lain atau antara dua orang untuk menimbulkan gangguan pada salah satunya, atau memprovokasi salah satu dari mereka terhadap yang lain atau terhadap temannya. Yaitu dengan mengatakan: 'si Fulan mengatakan tentang kamu demikian dan demikian'" (Al Kabair, 217).


Waspada Namimah Di Zaman Medsos!!

Contohnya, si A berkomunikasi dengan B via whatsapp, lalu B menyebutkan sesuatu yang kurang bagus tentang C. A lalu screenshot chat dari B tersebut kemudian di kirim kepada C, ini namimah!! Allahul musta'an.

Dan namimah ini merupakan DOSA BESAR. Allah Ta'ala berfirman:

وَلَا تُطِع كل حلاف مهين هماز مشاء بنميم
"Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina,yang banyak mencela, yang kian ke mari menebar namimah" (QS. Al Qalam: 10-11).

Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda:

لا يَدْخُلُ الجَنَّةَ نَمَّامٌ
"Tidak masuk surga pelaku namimah" (HR. Muslim no. 105).

Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam pernah mendengar rintihan orang yang disiksa dalam kuburnya, beliau bersabda:

فقال يعذبان وما يعذبان في كبير وإنه لكبير كان أحدهما لا يستتر من البول وكان الآخر يمشي بالنميمة
"Dua orang ini sedang diadzab dalam kubur. Dan mereka tidak diadzab karena sesuatu yang mereka anggap besar, namun besar (di sisi Allah). Yang pertama di adzab karena tidak menutupi auratnya ketika buang air kecil, yang kedua diadzab karena melakukan namimah" (HR. Bukhari no. 216, Muslim no. 292).

Beliau juga bersabda:

إنَّ شرارَ عبادِ اللهِ من هذه الأُمَّةِ المشَّاؤونَ بالنميمةِ ، المُفرِّقون بين الأحبَّةِ الباغونَ للبُرآءِ العنتَ
"Seburuk-buruk hamba Allah adalah orang yang suka melakukan namimah. Ia memisahkan orang-orang yang saling mencintai, pengkhianat terhadap orang-orang yang baik" (HR. Ahmad, dihasankan Al Albani dalam Silsilah Shahihah no. 2849).

Ahlul hikmah mengatakan:

النَّمَّامُ شُؤْمٌ لَا تَنْزِلُ الرَّحمة على قوم هو فيهم
"Tukang namimah (ado domba) adalah racun yang membuat suatu kaum tidak mendapat rahmat Allah selama masih ada mereka"

Maka hendaknya kita bertakwa kepada Allah, jangan sampai kemudahan komunikasi di zaman medsos ini menjerumuskan kita berbuat namimah.

Rekatkan dan dekatkan sesama Muslim, jangan jauhkan. Semoga Allah memberi taufiq.

Fawaid Kang Aswad
Repost by : TEGAR DI ATAS SUNNAH
Read more »
Kiat Bertahan Hidup Di Masa Sulit

Kiat Bertahan Hidup Di Masa Sulit

Dunia adalah negeri ujian. Allah Azza wa Jalla menghendaki keadaan manusia berbeda-beda sebagai ujian. Ada orang Mukmin dan kafir, orang sehat dan sakit, orang kaya dan miskin, dan seterusnya. Makna semua ini, bahwa seseorang itu diuji dengan orang yang tidak seperti dia. Seorang yang kaya contohnya, dia diuji dengan keberadaan orang miskin.

Sepantasnya orang kaya tersebut membantunya dan tidak menghinanya. Sebaliknya si miskin juga diuji dengan keberadaan si kaya. Sepantasnya dia tidak hasad terhadap si kaya dan tidak mengambil hartanya dengan tanpa hak. Dan masing-masing berkewajiban meniti jalan kebenaran.

Maka jika kita diuji oleh Allah Azza wa Jalla dengan kemiskinan dan kesulitan hidup, hendaklah kita menyikapinya dengan cara-cara yang telah ditunjukkan oleh Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Di antara kiat-kiat menghadapi keadaan sulit tersebut adalah:

WAJIB BERHUSNU-ZHAN KEPADA ALLAH AZZA WA JALLA

Yang pertama dan utama hendaklah setiap hamba berhusnu-zhan (berprasangka baik) kepada Allah Azza wa Jalla atas musibah dan kesusahan yang menimpanya. Karena sesungguhnya keimanan dan tauhid seseorang tidak akan sempurna kecuali dengan husnu-zhan kepada Allah Azza wa Jalla . Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn rahimahullah berkata: “Engkau wajib husnu-zhan kepada Allah Azza wa Jalla terhadap perbuatan-Nya di alam ini. Engkau wajib mengetahui bahwa apa yang Allah Azza wa Jalla lakukan itu merupakan hikmah yang sempurna, terkadang akal manusia memahaminya atau terkadang tidak.

Kiat Bertahan Hidup Di Masa Sulit

Dengan inilah keagungan Allah Azza wa Jalla dan hikmah-Nya di dalam takdir-Nya diketahui. Maka janganlah engkau menyangka bahwa jika Allah Azza wa Jalla melakukan sesuatu di alam ini, adalah karena kehendak-Nya yang buruk. Termasuk kejadian-kejadian dan musibah-musibah yang ada, Allah Azza wa Jalla tidak mengadakannya karena kehendak buruk yang berkaitan dengan perbuatan-Nya. Adapun yang berkaitan dengan makhluk, bahwa Allah Azza wa Jalla menetapkan apa yang Dia kehendaki, itu terkadang menyusahkannya, maka ini seperti firman Allah Azza wa Jalla :

قُلْ مَنْ ذَا الَّذِي يَعْصِمُكُمْ مِنَ اللَّهِ إِنْ أَرَادَ بِكُمْ سُوءًا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ رَحْمَةً
Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah, jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” [al-Ahzâb/33:17][1]

BERSABAR

Kemudian senjata hamba di dalam menghadapi kesusahan dalah kesabaran. Sabar adalah sifat yang agung. Sabar menghadapi kesusahan adalah menahan jiwa dari berkeluh-kesah, menahan lisan dari mengadu kepada manusia, dan menahan anggota badan dari perkara yang menyelisihi syari’at. Bagi seorang Mukmin sabar merupakan senjatanya untuk menghadapi kesusahan. Dan hal itu akan membuahkan kebaikan baginya.

Jika kita melihat keadaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarganya, maka kita akan takjub dengan kesabaran mereka menghadapi kesusahan hidup di dunia ini. Memang mereka layak dijadikan panutan. Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhuma berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبِيتُ اللَّيَالِيْ الْمُتَتَابِعَةَ طَاوِيًا وَأَهْلُهُ لاَ يَجِدُونَ عَشَاءً وَكَانَ أَكْثَرُ خُبْزِهِمْ خُبْزَ الشَّعِيرِ
Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati beberapa malam berturut-turut dengan keadaan perutnya kosong, demikian juga keluarganya, mereka tidak mendapati makan malam. Dan sesungguhnya kebanyakan rotinya mereka adalah roti gandum. [2]

BERSIKAP QANA’AH

Selain kesabaran, maka sikap yang tidak kalah penting adalah qanâ’ah. Yang dimaksud dengan qanâ’ah adalah ridha terhadap pembagian Allah Azza wa Jalla . Karena sesungguhnya hakekat kaya itu adalah kaya hati, bukan kaya harta. Dan qanâ’ah merupakan jalan kebahagiaan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ
Sesungguhnya telah beruntung orang yang telah masuk agama Islam, diberi kecukupan rizqi, dan Allah menjadikannya qanâ’ah terhadap apa-apa yang telah Dia berikan kepadanya.

Yaitu benar-benar sukses orang yang tunduk kepada Rabbnya, dan dia diberi rizqi halal yang mencukupi keperluan dan kebutuhan pokoknya; dan Allah Azza wa Jalla menjadikannya qanâ’ah terhadap semua yang telah Dia berikan kepadanya.[4]

Imam Ibnu Qudâmah al-Maqdisi rahimahullah berkata: “Ketahuilah bahwa kemiskinan itu terpuji. Namun, sepantasnya orang yang miskin itu bersifat qanâ’ah, tidak berharap kepada makhluk, tidak menginginkan barang yang berada di tangan orang, dan tidak rakus mencari harta dengan segala cara, namun itu semua tidak mungkin dilakukan, kecuali dia qanâ’ah dengan ukuran minimal terhadap makanan dan pakaian”. [5]

Barangsiapa bersikap qanâ’ah, maka hal itu akan memunculkan sifat ‘affâf (menjaga kehormatan diri) dengan tidak mengharapkan barang milik orang lain, apalagi meminta-minta.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنْ الْمَسْأَلَةَ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلاَّ أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لاَ بُدَّ مِنْهُ
Sesungguhnya meminta-minta itu merupakan cakaran seseorang pada wajahnya. Kecuali seseorang yang meminta kepada pemerintah atau dalam perkara yang tidak ada pilihan baginya.[6]

Dan sifat ‘affâf ini memiliki keutamaan yang sangat besar. Marilah kita perhatikan tawaran yang agung dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat benar perkataannya, yaitu sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ يَكْفُلُ لِيْ أَنْ لاَ يَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا وَأَتَكَفَّلُ لَهُ بِالْجَنَّةِ فَقَالَ ثَوْبَانُ أَنَا فَكَانَ لاَ يَسْأَلُ أَحَدًا شَيْئًا
Siapakah yang menjamin bagiku, bahwa dia tidak akan meminta apapun kepada manusia, maka aku akan menjamin surga baginya? Sahabat Tsaubân berkata: “Saya!”. Maka dia tidak pernah meminta apapun kepada seorangpun.[7]

Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan kepada sebagian Sahabat beliau untuk tetap tidak meminta kepada makhluk, walaupun tertimpa kelaparan sampai tidak mampu berjalan! Abu Dzar al-Ghifâri Radhiyalahu anhu bercerita:

رَكِبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِمَارًا وَ أَرْدَفَنِيْ خَلْفَهُ ثُمَّ قَالَ: ((أَبَا ذَرٍّ, أَرَيْتَ لَوْ أَصَابَ النَّاسَ جُوْعٌ شَدِيْدٌ حَتَّى لاَ تَسْتَطِيْعَ أَنْ تَقُوَمَ مِنْ فِرَاشِكَ إِلَى مَسْجِدِكَ؟)) قُلْتُ: اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: تَعَفَّفْ!
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunggang keledai dan memboncengkanku di belakangnya, kemudian berkata: “Abu Dzarr, bagaimana pendapatmu jika kelaparan yang dahsyat menimpa manusia sampai engkau tidak mampu bangun dari tempat tidurmu menuju masjidmu?” aku menjawab: “Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Beliau bersabda: “Ta’affuf-lah (Janganlah engkau minta-minta)”.[8]

BERHEMAT

Kemudian di antara kiat terpenting dalam menghadapi kesulitan adalah bersikap hemat di dalam pengeluaran. Jangan sampai lebih besar pasak daripada tiang. Yaitu jangan sampai pengeluaran lebih banyak daripada pemasukan. Karena hal ini tentu akan berakibat fatal. Sebagian orang akhirnya terperosok ke dalam lubang hutang yang tidak ada kesudahannya. Oleh karena Allah Azza wa Jalla memuji hamba-hamba-Nya yang bersikap tengah ketika mengeluarkan harta mereka, tidak pelit dan tidak boros. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. [al-Furqân/25:67]

Bahkan sikap hemat itu merupakan salah satu dari tiga penyelamat! Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلاَثٌ مُنْجِيَاتٌ: خَشْيَةُ اللهِ تَعَالَى فِي السِِّرِّ وَالْعَلاَنِيَةِ وَالْقَصْدُ فِي الْغِنَى وَالْفَقْرِ وَالْعَدْلُ فِي الرِّضَى وَالْغَضَبِ
Tiga perkara yang menyelamatkan: takut kepada Allah Azza wa Jalla pada waktu sendirian dan bersama orang banyak; bersikap hemat pada waktu kaya dan miskin; dan bersikap adil pada waktu ridha dan marah.[9]

BUNUH DIRI BUKAN SOLUSI

Selain itu bahwa orang beriman yang meyakini kepada takdir Allah Azza wa Jalla, tidak boleh berputus asa di dalam menghadapi ujian-ujian di dalam kehidupan dunia ini. Apalagi sampai mengakhiri hidupnya secara paksa, atau bunuh diri. Hanya karena kesulitan ekonomi, atau ujian penyakit yang tiada henti, atau cita-cita yang tidak terjadi, atau sakit hati yang tak terobati, sebagian orang rela menjemput mati dengan bunuh diri. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan ancaman keras terhadap pelaku bunuh diri dengan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى فِيهِ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَسُمُّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَجَأُ بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا
Barangsiapa menjatuhkan dirinya dari sebuah gunung, kemudian membunuh dirinya, maka dia di dalam neraka Jahannam menjatuhkan dirinya dari sebuah gunung, dia tinggal lama dan dijadikan tinggal lama selamanya di dalam neraka Jahannam selama-lamanya. Dan barangsiapa meminum racun kemudian membunuh dirinya, maka racunnya akan berada di tangannya, dia akan meminumnya di dalam neraka Jahannam dia tinggal lama dan dijadikan tinggal lama selamanya di dalam neraka Jahannam selama-lamanya.Dan barangsiapa membunuh dirinya dengan besi, maka besinya akan berada di tangannya, dia akan menikam perutnya di dalam neraka Jahannam, dia tinggal lama dan dijadikan tinggal lama selamanya di dalam neraka Jahannam selama-lamanya”. [HR. Bukhâri, no. 5778; Muslim, no. 109; dari Abu Hurairah; lafazh bagi al-Bukhâri]

Sebagai penutup, bahwa kita sebagai orang yang beriman harus meyakini bahwa apapun yang menimpa kita, jika kita menyikapinya dengan benar maka hal itu merupakan kebaikan bagi kita. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan keadaan orang Mukmin yang menakjubkan, yaitu karena semua urusannya baik baginya, di dalam sebuah hadits di bawah ini:

عَنْ صُهَيْبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَبًا ِلأَ مْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Dari Shuhaib, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Urusan seorang Mukmin itu mengherankan. Karena sesungguhnya semua urusannya itu baik, dan itu hanya dimiliki oleh orang Mukmin. Jika kesenangan mengenainya, dia bersyukur, maka syukur itu baik baginya. Dan jika kesusahan mengenainya, dia bersabar, maka sabar itu baik baginya. [10]

Inilah sedikit tulisan mengenai kiat-kiat menghadapi kesusahan,semoga bermanfaat.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XIII/1430/2011M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Al-Qaulul Mufîd ‘ala Kitab At-Tauhîd, juz: 3, hlm: 144.
[2]. HR. Tirmidzi, no. 2360; Ibnu Mâjah, no. 3347; dan lainnya; dihasankan oleh Syaikh Salîm al-Hilâli di dalam Bahjatun Nâzhirin, no. 514.
[3]. HR. Muslim, no: 1054; Tirmidzi, no. 2348; Ibnu Mâjah, no. 4138
[4]. Lihat Tuhfatul Ahwadzi syarah hadits no. 2348.
[5]. Mukhtashar Minhâjul Qâshidin, hlm. 256; dengan komentar dan takhrîj hadits Syaikh Ali al-Halabi; Penerbit Dâr ‘Ammâr, ‘ Ammân, Yordania.
[6]. HR. Tirmidzi, no. 681; dishahîhkan oleh Syaikh Salîm al-Hilâli di dalam Bahjatun Nâzhirîn, no. 533.
[7]. HR. Abu Dâwud, no. 1643;dan lainnya; dishahîhkan oleh Syaikh Salîm al-Hilâli di dalam Bahjatun Nâzhirîn, no. 535.
[8]. HR. Ibnu Hibbân (Mawâriduzh Zham-ân, no. 1862); Ahmad 5/149; Abu Dâwud, no. 4261; dan lainnya; dishahîhkan oleh Syaikh Musthafa al-Adawi di dalam Ash-Shahîhul Musnad min Ahâditsul Fitan walMalâhim, hlm. 269-270.
[9]. HR. al-Bazzâr; Al-‘Uqaili; Abu Nu’aim; dan lainnya; dihasankan oleh Syaikh al-Albâni di dalam Silsilah ash-Shahîhah, no. 1802.
[10]. HR. Muslim, no: 2999

artikel almanhaj.or.id
Read more »
Keutamaan Jujur Dan Tercelanya Dusta

Keutamaan Jujur Dan Tercelanya Dusta

Keutamaan Jujur Dan Tercelanya Dusta

Berkata Al-Imam Ibnul Qayyim - رَحِمَهُ اللَّـهُ تَعَالَى - :

« Orang yang jujur akan Allah karuniakan kewibawaan dan kemuliaan sehingga siapapun yang melihatnya maka dia akan segan kepadanya dan mencintainya, sedangkan orang yang dusta maka Allah berikan baginya kehinaan dan kemurkaan sehingga siapapun yang melihatnya akan membencinya dan merendahkannya. » I'lam Al-Muwaqqi'in (2/131).
-----------

ﻗﺎﻝ الإمام ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻘﻴﻢ رحمه الله: ﺍﻟﺼﺎﺩﻕُ ﻳﺮﺯﻗﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻬﺎﺑﺔ ﻭﺟﻼﻟﺔ ﻓﻤﻦ ﺭﺁﻩ ﻫﺎﺑﻪ ﻭﺃﺣﺒﻪ ، ﻭﺍﻟﻜﺎﺫﺏ ﻳﺮﺯﻗﻪ ﺇﻫﺎﻧﺔ ﻭﻣﻘﺘﺎ ﻓﻤﻦ ﺭﺁﻩ ﻣﻘﺘﻪ ﻭﺍﺣﺘﻘﺮﻩ. [ ﺇﻋﻼﻡ ﺍﻟﻤﻮﻗﻌﻴﻦ : ( ٢ / ١٣١ ) ]
Read more »
Sunnah Mandi Bersama Istri

Sunnah Mandi Bersama Istri

حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ مِنْ قَدَحٍ يُقَالُ لَهُ الْفَرَقُ (رواه البخاري)
dari 'Aisyah radhiallahu 'anha (w.58 H) berkata, "Aku pernah mandi bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dari satu ember terbuat dari tembikar yang disebut Al Faraq." H.R. al-Bukhari (w. 256 H).

Sunnah Mandi Bersama Istri
Istifadah:

Hadits di atas menjelaskan kepada kita, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seorang hamba pilihan Allah, Rasul terakhir, teladan kita, tidak segan-segan untuk mandi bersama dengan istri beliau, dalam hadits di atas, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mandi bersama dengan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam satu kamar mandi dengan bak yang sama.

Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa mandi bersama istri bukanlah suatu hal yang berdosa atau tercela.

Mandi bersama istri ini adalah cara Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menjalin kemesraan dengan istrinya, meskipun beliau sebagai seorang yang super sibuk mengurus ummat, namun beliau tidak lupa untuk menjalin kemesraan dengan istri-istri beliau.

Maka dari hadist ini bisa disimpulkan bahwa sebagai seorang muslim, kita hendaknya melaksanakan kewajiban kita kepada Allah dan tidak lupa menjaga keharmonisan keluarga. Karena keharmonisan keluarga menjadi salah satu esensi kebahagian dunia yang mendukung ketenangan ibadah kepada Allah Ta'ala untuk tercapainya kebahagiaan akhirat.

[Lembaga Kajian & Riset Rasionalika Darus-Sunnah]
Read more »
Beranda