-->
Ahlan wa Sahlan di situs dakwahpost.com | menebar ilmu dan menyaring berita yang layak dikonsumsi dll
DI SUNNAHKAN KHATAM AL QUR'AN DALAM RAMADHAN

DI SUNNAHKAN KHATAM AL QUR'AN DALAM RAMADHAN

Bismillah...

Disunahkan bagi seorang muslim untuk memperbanyak membaca Al-Quran di bulan Ramadan dan bersungguh-sungguh untuk dapat mengkhatamkannya. Akan tetapi, perkara itu tidak diwajibkan atasnya. Maksudnya, jika dia tidak mengkhatamkan Al-Quran, maka dirinya tidak berdosa, akan tetapi dia telah kehilangan kesempatan meraih pahala yang banyak.

Dalil dari hal tersebut adalah apa yang diriwayatkan oleh Bukhari, no. 4614, dari Abu Hurairah radhiallahu anhu,

( أن جبريل كان يعْرضُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ كُلَّ عَامٍ مَرَّةً ، فَعرضَ عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ فِي الْعَامِ الَّذِي قُبِضَ فيه

"Sesungguhnya Jibril mengulang kembali Al-Quran kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam sekali dalam setahun. Pada tahun wafatnya beliau, Dia mengulangnya dua kali."

Ibnu Atsir berkata dalam Al-Jami Fi Gharibil Hadits, 4/64, maksudnya adalah bahwa dia mengulang kembali seluruh Al-Quran yang pernah diturunkan.

Termasuk petunjuk di kalangan salaf ridhwanullahi alaihim adalah bersungguh-sungguh untuk mengkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadan untuk meneladani Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Dari Ibrahim An-Nakhai dia berkata, "Al-Aswad mengkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadan setiap dua malam sekali." (As-Siyar, 4/51)

Qatadah biasanya mengkhatamkan Al-Quran dalam tujuh hari. Jika telah datang bulan Ramadan, beliau mengkhatamkannya dalam tiga hari. Jika telah masuk sepuluh hari terakhir, beliau mengkhatamkannya dalam sehari." (As-Siyar, 5/276)

Sedangkan Mujahid menghkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadan setiap malam (At-Tibyan, An-Nawawi, hal. 74. Dia berkata, "Sanadnya shahih."

Mujahid berkata, "Ali Al-Azdi biasanya mengkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadan setiap malam." (Tahzibul Kamal, 2/983)

Rabi' bin Sulaiman berkata, "Asy-Syafii biasanya mengkhatamkan Al-Quran dalam bulan Ramadan sebanyak 60 kali." (Siyar A'lam Nubala, 10/36)

Al-Qasim bin Hafiz bin Asakir berkata, "Dahulu bapakku selalu shalat berjamaah dan membaca Al-Quran. Beliau mengkhatamkannya setiap Jumat. Sedangkan pada bulan Ramadan, beliau mengkhatamkannya setiap hari." (Siyar A'lam An-Nubala, 20/562)

Imam Nawawi memberi komentar tentang mengkhatamkan Al-Quran, "Pendapat yang dipilih adalah bahwa masalah ini berbeda sesuai perbedaan antara individu. Siapa yang lebih condong untuk mendalami kandungannya, pelajaran dan hikmahnya, maka hendaknya dia membatasi amalnya sesuai kemampuannya untuk memahami apa yang dia baca. Demikian pula yang sibuk untuk menyebarkan ilmu, atau tugas lainnya dalam agama dan kemaslahatan kaum muslimin serta masyarakat umum. Hendaknya dia dapat berkonsentrasi secara proporsional dengan ukuran tidak menyebabkannya menjadi lalai pada bidang khususnya. Jika seseorang tidak memiliki tugas khusus, maka hendaklah dia memperbanyak membaca Al-Quran, asal jangan sampai keluar batas, hingga bosan atau stres."
(At-Tibyan, 76)

Walaupun anjuran dan kesunahan mengkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadan, sedemikian kuat, namun tetapi saja ruang lingkupnya adalah perbuatan sunah, bukan merupakan kewajiban yang harus, sehingga seorang muslim dianggap berdosa apabila meninggalkannya.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, "Apakah diwajibkan bagi orang yang berpuasa untuk mengkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadan?"

Beliau menjawab, "Mengkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadan bukan perkara wajib. Akan tetapi, selayaknya seseorang memperbanyak membaca Al-Quran di bulan Ramadan, sebagaimana hal terebut merupakan sunah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dahulu beliau mengulang kembali bacaan Al-Qurannya bersama malaikat Jibril di bulan Ramadan."

(Majmu Fatawa Ibnu Utsaimin, 20/516)

Distributed by: HIJRAH SALAF

Sunnah dijaga dengan kebenaran, kejujuran, dan keadilan bukan dengan kedustaan dan kedhaliman."
(Ibnu Taimiyyah rahimahullahu)
Baca selengkapnya »
Ustadz Khalid Basalamah : Salah Paham Tentang Penisbatan Wahabi

Ustadz Khalid Basalamah : Salah Paham Tentang Penisbatan Wahabi


Diringkas dari dialog antara Syaikh Muhammad bin Sa‘ad Asay Syuwai‘ir dengan dosen-dosen universitas Islam di Maroko

Salah seorang Dosen berkata: “Sungguh hati kami sangat mencintai Keraja’an Saudi Arabia, demikian pula dengan jiwa-jiwa dan hati-hati kaum muslimin sangat condong kepadanya. Namun sayang, kalian berada diatas suatu Madzhab, yang kalau kalian tinggalkan tentu akan lebih baik, yaitu Madzhab Wahabi.”

Asy-Syaikh dengan tenangnya menjawab: “Sungguh banyak pengetahuan keliru yang melekat, yang mana pengetahuan itu bukan diambil dari sumber-sumber yang terpercaya. Agar pemahaman kita bersatu, maka kita berdiskusi dengan membawa sumber-sumber yang ilmiyyah, dan menjauhkan diri dari sifat fanatisme."

Dosen itu berkata: "Saya setuju, biarkanlah para dosen-dosen yang lain menjadi saksi di antara kita. Kita ambil satu contoh, ada sebuah fatwa yang menyatakan bahwa firqoh wahabi adalah sesat. Disebutkan dalam kitab Al-Mi’yar yang ditulis oleh Al-Imam al-Wansyarisi, beliau menyebutkan bahwa Al-Imam al-Lakhmi pernah ditanya tentang suatu negeri Wahabi yang dibangun sebuah masjid, 'Bolehkan kita shalat di masjid itu?' Maka Imam Al-Lakhmi pun menjawab: 'Firqoh Wahabiyyah adalah firqah yang sesat, yang masjidnya wajib untuk dihancurkan, karena mereka menyelisihi mu‘minin dan berbuat bid‘ah, dan wajib untuk diusir dari negeri muslimin.' Saya rasa kita sudah sepakat akan hal ini." (Wajib kita ketahui bahwa Imam Al-Wansyarisi dan Imam Al-Lakhmi adalah ulama ahlusunnah)

Kemudian Asy-Syaikh menjawab: ”Tunggu dulu kita belum sepakat. Tolong anda sebutkan terlebih dahulu kitab yang menjadi rujukan kalian itu!”

Dosen itu berkata: ”Anda ingin saya membacakannya dari fatwanya saja, atau saya mulai dari sampulnya?”

Asy-Syaikh menjawab: ”Dari sampul luarnya saja.”

Dosen itu kemudian mengambil kitabnya dan membacakannya: ”Namanya adalah Kitab Al-Mi’yar, yang dikarang oleh Ahmad bin Muhammad Al-Wansyarisi. Wafat pada tahun 914 H di kota Fas, di Maroko.”

Asy-Syaikh berkata: "Imam Al-Wansyarisi wafat pada tahun 914 H. Kemudian bisakah Anda menghadirkan biografi Imam Al-Lakhmi?”

Lalu dosen itu mengambil kitab biografi Ali bin Muhammad al-Lakhmi. Kemudian ditanya kapan wafatnya beliau.

Yang membaca kitab menjawab: "Tahun 478 H."

Lalu dengan tegasnya Asy-Syaikh berkata:
“Wahai para Masyaikh! Apakah mungkin ada ulama yang memfatwakan tentang kesesatan suatu kelompok yang belum datang (lahir)?”

Mereka semua menjawab: “Tentu tidak mungkin, tolong perjelas lagi maksud anda!"

Asy-syaikh berkata lagi: “Bukankah Wahabi yang kalian anggap sesat itu adalah dakwahnya yang dibawa oleh Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab? Coba tolong perhatikan! Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab lahir pada tahun 1115 H dan wafat pada tahun 1206 H. Ketika Al-Imam Al-Lakhmi berfatwa seperi itu, jauh RATUSAN TAHUN lamanya sebelum Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab lahir."

(Mereka pun terdiam beberapa saat ...) Mereka berkata: "Lalu siapakah yang dimaksud dengan Wahabi oleh Imam al-Lakhmi?"
 
Asy-Syaikh menjawab dengan tenang: "Apakah anda memiliki kitab Al-Firaq Fii Syimal Afriqiya? Coba tolong dibuka huruf Wau”

Maka dibukalah huruf tersebut dan munculah sebuah judul yang tertulis “Wahabiyyah“. Kemudian Asy-Syaikh menyuruh kepada dosen itu untuk membacakan tentang biografi firqah Wahabiyyah itu.

Dosen itu pun membacakannya: ”Wahabi atau Wahabiyyah adalah sebuah sekte KHAWARIJ ABADHIYYAH yang dicetuskan oleh Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum Al-Khariji Al-Abadhi. Orang ini telah banyak menghapus syari’at Islam, dia menghapus kewajiban menunaikan ibadah haji dan telah terjadi peperangan antara dia dengan beberapa orang yang menentangnya. Dia wafat pada tahun 197 H di kota Thorat di Afrika Utara. Penulis mengatakan bahwa firqoh ini dinamai dengan nama pendirinya, mereka sangat membenci Ahlussunnah.”

Setelah Dosen itu membacakan kitabnya Asy-Syaikh berkata: “Inilah Wahabi yang dimaksud oleh imam Al-Lakhmi, inilah wahabi yang telah memecah belah kaum muslimin dan merekalah yang difatwakan oleh para ulama Andalusia dan Afrika Utara sebagaimana yang telah kalian dapati sendiri dari kitab-kitab yang kalian miliki. Adapun dakwah yang dibawa oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab” yang didukung oleh Al-Imam Muhammad bin Su’ud Rahimuhumallah, maka dia bertentangan dengan amalan dakwah Khawarij, karena dakwah beliau ini tegak di atas kitabullah dan sunnah Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih, dan beliau menjauhkan semua yang bertentangan dengan keduanya, mereka mendakwahkah tauhid, melarang berbuat syirik, mengajak umat kepada Sunnah dan menjauhinya kepada bid’ah, dan ini merupakan Manhaj Dakwahnya para Nabi dan Rasul.”
(Lihat kitab Al Kamil oleh Ibnu Atsir)

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=306849844129398&id=100044131551605
Baca selengkapnya »
KAJIAN SALAFI DI MASJID NURUL IMAN BLOK M SQUARE

KAJIAN SALAFI DI MASJID NURUL IMAN BLOK M SQUARE

Koordinator Dakwah Masjid Nurul Iman, Fauzar kepada CNNIndonesia.com. mengatakan, "Dulu di sini semua aliran masuk, ada Jamaah Tabligh, sekte Syiah, Tassawuf sampe kejawen semuanya masuk sini lah. Tapi sekarang semuanya Salafi, yang lama saya bredel semua karena bertentangan".

Fauzar juga mengatakan, pengurus masjid telah mengundang ustaz-ustaz Salafi untuk mengisi kajian rutin di masjid Nurul Iman sejak 10 tahun silam.

Ustaz Khalid Basalamah tak menyangka dakwah salafi dan penggunaan medsos di balik kajiannya bisa menginspirasi hijrah anak-anak muda di Indonesia.

Masjid Nurul Iman yang berada di kompleks Mal Blok M Square, Jakarta Selatan penuh sesak dijejali muda-mudi. Rabu malam akhir Januari itu, ustaz salafi yang dakwahnya sedang digandrungi anak-anak muda untuk berhijrah, Khalid Basalamah, mengisi kajian.

"Alhamdulillah penuh, banyak yang mau tobat nih," canda Khalid sesaat sebelum memberikan kajian yang disambut gelak tawa.

Khalid lantas berceramah dengan tema "Dosa-dosa Besar ke-117". Isi ceramah pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan tersebut tidaklah semenakutkan seperti tema yang ditentukan. Khalid justru mengemas kajian tersebut dengan cara yang santai dan mudah dicerna anak muda yang mendengarnya.

Khalid tak menampik dirinya kerap menyajikan kemasan baru salafi lewat materi yang dekat dengan keseharian anak muda. Tema ringan seperti nikah muda atau meninggalkan budaya pacaran diakui Khalid menjadi favorit pendengarnya.

"Saya hanya menjadikan setiap jemaah yang ada di depan saya semuanya, mau muda mau tua, begitu mereka bubar dari pengajian dia berbekas dan dia berubah", kata Khalid saat berbincang kepada CNNIndonesia.com Januari lalu.

Jejaring ustaz-ustaz salafi yang ada di Indonesia, kata Khalid, telah bersepakat untuk menyebarkan dakwah sunnah kepada masyarakat. Nama-nama lain seperti ustaz Syafiq Riza Basalamah, Ustaz Badrussalam hingga Ustaz Subhan Bawazier menjadi jajaran ustaz Salafi tersohor yang kerap berdakwah sunnah di Indonesia.

Dakwah sunnah sendiri merujuk bagi para ustaz Salafi yang mengajak masyarakat untuk berpegang pada Alquran dan hadis. Khalid menyebut dakwah sunnah merupakan proses dakwah ajaran Islam murni.

"Untuk itu kami sudah sepakat dakwahnya adalah dakwah salaf atau sunnah. Dakwah yang murni Islamnya. Maka itu yang akhirnya membuat ketemu di satu titik dan Alhamdulillah diterima oleh anak muda", kata dia.

Khalid mengakui ada penilaian miring dari masyarakat yang menganggap dakwah salafi di Indonesia cenderung bersifat radikal dan dianggap tidak cocok dengan kultur Islam Nahdlatul Ulama (NU). Namun dia menampik bahwa dakwahnya mendapatkan sponsor dari negara lain seperti Arab Saudi.

Khalid menganggap dakwah salafi cocok untuk diterapkan di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Agama Islam, kata Khalid, seharusnya dijadikan sebagai tradisi dan budaya di Indonesia, bukan justru sebaliknya.

"Menurut saya bukannya dakwah salafi tidak cocok dengan Indonesia, namun kita semua harus sadar, budaya kita memang harus budaya Islam. Dan jangan budaya di-islamkan, tidak akan ketemu", kata dia.

Selama 12 tahun berdakwah di Indonesia, tak sedikit kalangan yang menolak kajian Khalid. Ia memaklumi hal tersebut. Ia mengibaratkan Nabi Muhammad juga sempat ditolak selama 13 tahun di Mekkah sebelum kemudian diakui kebenaran ajarannya.

"Jangankan Nabi Muhammad, video Imam Masjid Haram saja ada yang dislike kalau di Youtube. Jadi wajar saja, tapi itu tak menggoyahkan saya untuk berdakwah," kata Khalid.

Lulusan Universitas Madinah, Arab Saudi itu mengaku tak menyangka dakwah yang mengadopsi konsep materi perkuliahan ke dalam pengajian makin banyak diterima dan malah menginspirasi anak muda untuk berhijrah. 

Khalid sendiri pernah tercatat sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Indonesia. Dia mengadopsikan tehnik pengajaran di kampus dengan kajiannya di mimbar ceramah karena tak merasa puas apabila materi dan pengetahuan yang dimilikinya hanya 'dinikmati' oleh mahasiswanya sendiri kala itu.

"Jadi kan kalau di kuliah cuma 50 sampai 100 orang mahasiswa. Tapi kalau materi kuliah saya pindahkan ke pengajian dan dibagikan lewat media sosial bisa pengaruhi 200 juta umat islam di Indonesia," kata Khalid. 

Khalid menyatakan fenomena anak muda yang memilih berhijrah saat ini dipengaruhi beberapa faktor pendorong. Khalid berusaha mengisi celah di kalangan anak muda dengan cara menanamkan pemahaman ajaran Islam sesuai ketentuan yang menyeluruh.

"Jadi mereka menganggap 'ya saya yang penting muslim, tapi lifestyle-nya, pakaian, cara mereka ngobrol, ekonomi dan semuanya jauh dari agama'. Jadi istilah yang ada sekarang sekuler sebenarnya. Memisahkan negara dengan agama, memisahkan agama dengan kehidupan sehari-hari", kata dia.

Khalid mengakui dakwah lewat media sosial lebih efektif ketimbang melalui saluran televisi konvensional. Dulu dua kerap kali dipanggil oleh pelbagai stasiun televisi untuk berceramah. Belakangan aktivitas tampil di layar kaca itu ditinggalkan karena pemanfaatan TV perlahan terabaikan.

Khalid mulai aktif di media sosial, terutama Youtube, sejak 10 tahun silam. Kala itu terbilang jarang ditemukan konten khusus di Youtube yang berisikan tentang ceramah agama Islam.

Melihat kondisi itu, Khalid lantas menginisiasi kanal Youtube pribadinya 'Khalid Basalamah Official'. Kanal itu memuat dokumentasi ceramahnya di pelbagai tempat. Sejauh ini, pelanggan kanal Youtube milik Khalid sudah menembus angka 867.572 subscriber dan videonya sudah ditonton lebih dari 50 juta kali.

Khalid mengenang ada seorang pemuda yang menangis dan tiba-tiba memeluknya. Pemuda itu berterima kasih lantaran telah berhasil memberanikan diri untuk berhijrah usai mengikuti kajian-kajian Khalid di lewat media sosial. Pemuda itu juga bercerita soal kondisinya yang sempat dicap gila oleh keluarganya karena belajar agama hanya dari medsos.

"Saya bersyukur, dakwah saya lewat medsos ada efeknya," kata Khalid.

Khalid memiliki tim khusus untuk menggarap konten di akun Youtube, Facebook dan Instagram. Salah satu pengelolanya bernama Badr TV.

Dimas, salah seorang staf Badr TV, mengatakan timnya punya target mengunggah satu sampai dua konten video ceramah Khalid per harinya ke Youtube. Sedangkan untuk konten instagram dan Facebook sendiri diunggah sebanyak 3-4 kali dalam sehari. Konten itu meliputi video pendek, agenda harian hingga foto-foto dokumentasi.

Dimas mengaku dirinya bersama staf lain hanya digaji dari kocek pribadi Khalid yang juga memilih usaha sampingan kuliner dan travel haji umroh itu.

Penyebaran Salafi di Indonesia terjadi seiring dengan kepulangan mahasiswa Indonesia yang telah menempuh studi di Arab Saudi, terutama pada dekade 1980-1990an. Banyak dari mereka melakukan itu atas kesadaran bahwa ajaran Salafi sudah sepatutnya disebarkan.

Dampak kehadiran para ustaz Salafi di Masjid Nurul Iman pun disambut positif oleh jamaah. Fauzar mencatat terdapat lonjakan jamaah yang sangat tinggi di masjid 4.000 meter persegi itu, khususnya anak muda yang mau hijrah.

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190521133253-20-396867/salafi-ala-basalamah-dan-hijrah-kaum-muda-takut-dosa
Baca selengkapnya »
Pintu Masuk Teroris adalah Melakukan Bid’ah Dalam Agama

Pintu Masuk Teroris adalah Melakukan Bid’ah Dalam Agama


Salah satu pintu masuk teroris untuk mencari pengikut adalah orang yang senang dengan bid’ah dalam agama, ini berdasarkan fakta sejarah sebagaimana yang diriwatakan oleh Imam Ad Daarimy dalam mukaddimah kitab beliau As Sunan: 1/286, no (210) :
Imam Ad Darimy meriwayatkan dari Amru bin Salamah, ia berkata: “Kami duduk menunggu di depan pintu Abdullah bin Mas’ud sebelum sholat subuh, jika ia keluar maka kami berangkat bersama menuju masjid. Lalu datang Abu Musa Al Asy’ary makai a bertanya: apakah Abu Abdirrahman sudah keluar? Maka jawab: belum. Maka ia ikut duduk menunggu Bersama kami sampai Abdullah bin Mas’ud keluar. Saaat ia keluar, kami semua berdiri kepadanya. 
Lalau Abu Musa Al Asy’ary berkata kepadanya: wahai Abu Abdirrahman, barusan aku melihat di masjid sebuah perbuatan yang aku sebuah kemungkaran, dan apa yang aku lihat tidak lain -Alhamdulillah- melainkan sebuah hal yang baik. Ibnu Mas’ud bertanya: Apa itu? Jawab Abu Musa: Jika engkau masih hidup niscaya engkau akan melihatnya. Abu Musa berkata: aku melihat di masjid sekelompok orang duduk berhalaqoh-halaqoh sebelum sholat, pada setiap halaqoh ada seorang yang memandu dan ditangan mereka ada batu-batu kecil, maka ia berkata: ayo bertakbir seratus kali, maka mereka bertakbir seratus kali. Lalau ia berkata: ayo bertahlil seratus kali, maka mereka mengucapkan tahlil seratus kali. Lalau ia perintahkan: ayo bertasbih seratus kali, maka mereka pun bertasbih seratus kali.
Ibnu Mas’ud berkata: apa yang engkau katakan kepada mereka? Kata Abu Musa: aku belum mengatakan apapun kepada mereka, aku menunggu pendapat dan perintahmu. 
Kata Ibnu Mas’ud: kenapa engkau tidak menyuruh mereka untuk menghitung dosa-dosa mereka! Dan engkau menjamin bagi mereka bahwa kebaikan mereka tidak akan sia-sia sedikitpun.
Lalu ia berangkat, dan kami pun berangkat bersamanya, sehingga ia mendatangi salah satu halaqoh diantara halaqoh-halaqoh tersebu lalu berdiri dihapan mereka, seraya berkata: Apa yang sedang kalian lakukan? Jawab mereka: wahai Abu Abdirrahman hanya batu yang kami gunakan untuk menghitung Takbir, Tahlil dan tasbih. 
Kata Ibnu Mas’ud: Hitunglah dosa-dosa kalian dan aku menjamin bagi kalian kebaikan kalian tidak akan ada yang sia-sia sedikitpun, wahai Umat Muhammad betapa cepatnya kebinasaam kalian, para sahabat nabi kalian masih banyak ditengah-tengah kalian, pakaiannya (nabi) belum lusuh dan bejananya belum pecah. Demi zat yang jiwaku berada ditangan-Nya, apakah kalian berada di atas agama yang lebih baik dari agama Muhmmad Shalallahu ‘alaihi wasaalm? atau kalain telah membuka pintu kesesatan?
Jawab mereka: wahai Abu Abdirrahman! Kami tidak menginginkan kecuali kebaikan. Kata Ibnu Mas’ud: betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan namun ia tidak mendapatkannya, sesungguhnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasaalm telah menceritakan kepada kami tentang sekelompok kaum yang membaca Al Qur’an namun tidak melewati tenggorokan mereka, demi Allah jangan-jangan kebanyakan mereka adalah dari kalian. Kemudian Ibnu Mas’ud meninggalkan mereka.
Berkata Amru bin Salamah: Kami melihat sebagian besar dari mereka yang ada dalam halaqoh-halaqoh tersebut adalah orang-orang yang menombak kami saat perang Nahrawan bersama orang-orang Khawarij. (hadist ini dishohihkan oleh syeikh Al Albaany dalam silsilah shohihah: 5/11 no. (2005).
Perang Nahrawan adalah perperangan yang terjadi antara para sahabat dibawah pimpinan Khalifa Ali bin Abi Tholib melawan Khawarij yang terjadi di salah satu daerah Kufah yang bernama Nahrawan.

Dari kisah ini ada beberapa kesimpulan:
1. Ketegasan sahabat Ibnu Mas’ud terhadap pelaku Bid’ah, kenapa demikian karena sebuah bidáh diawal kemunculannya terlihat kecil dan spele, namun lama kelamaan dengan berjalannya waktu akan menjadi semakin besar dan terjadi modifikasi dan bervariasi. Ini akan terlihat nyata dalam perbuatan berbagai bid’ah.

2. Setiap pelaku bid’ah akan memandang apa yang mereka lakukan sesuatu yang baik, akan tetapi untuk hal ibahdah dan keyakinan dalam agama tidak cukup sekedar niat yang baik, akan tetapi harus sesuai dengan ajaran Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasaalm dan pemahaman para shabat, sebagaimana yang jelaskan Ibnu Mas’ud dalam Riwayat di atas dan juga dalam beberapa perkataan beliau yang lain.

3. Pelaku bid’ah amat mudah untuk diarahkan kedalam berbagai penyimpangan dalam agama, seperti kisah di atas mereka akhirnya bergabung menjadi kelompok teroris (Khawarij).

4. Jangan pernah meremehkan sebuah bid’ah dalam agama, dalam kisah di atas bid’ah yang mereka lakukan terlihat sangat sederhana yaitu sekedar dzikir jama’i (dzikir berjamaah), yakni bid’ah amaliyah (perbuatan), namun akhirnya mereka terjerumus kedalam bid’ah yang lebih besar dan fatal, bidáh I’tiqodiyah (keyakinan). 

5. Setiap pelaku bid’ah bila mereka mayoritas akan berbuat brutal dan radikal, seperti khawarij di zaman Khilafa Ali bin Tholib, Mu’tazilah di zaman Khalifah Makmun, Syi’ah dimasa kekuasan Bani Fathimiyah, terlebih lagi syiah Rafidhoh dalam sepanjang secara telah banyak membantai umat Islam. 

Sebetulnya begitu banyak data yang bisa kita paparkan akan tetapi keterbatasan waktu dan ruang untuk membahas kita cukup sebutkan sekilas saja.

Baca selengkapnya »
Catatan Sejarah : "Wahabi" membahayakan NKRI???

Catatan Sejarah : "Wahabi" membahayakan NKRI???

Bismillah....

Sejarah mencatat:

1. Imam Bonjol (Pahlawan Nasional pengusir penjajah dari tanah Minang) dituduh "wahabi"
2. H Agus Salim (pendiri bangsa, tokoh dan pahlawan nasional) dituduh "wahabi" 
3. KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah dan pahlawan nasional) dituduh "wahabi"
4. Syekh A. Hassan (pendiri Persis dan pahlawan nasional) dituduh "wahabi"
5. Syekh Ahmad Syurkati (pendiri al-irsyad dan pahlawan nasional) dituduh "wahabi"
6. Buya Hamka (ulama karismatik nusantara), dituduh "wahabi"
7. Buya Natsir (pendiri Masyumi-tokoh dan pahlawan nasional-pernah menjabat perdana menteri indonesia) dituduh "wahabi"

Merekalah para tokoh pendiri bangsa, pemberi kontribusi dan perjuangan demi tegaknya Indonesia.... 

Nggak usah takut dituduh wahhabi di negeri ini, karena para pahlawan nasional yang jelas² pembelaannya terhadap NKRI mereka pun tak selamat dari tuduhan Wahabi.

Oleh: Fadlan Famansyah
Baca selengkapnya »
Perjalanan hidayah mengenal manhaj salaf yang dituduh pintu masuk terorisme

Perjalanan hidayah mengenal manhaj salaf yang dituduh pintu masuk terorisme

Bismillaah... 

Kalau ndak kenal dakwah ini, ndak taulah saya akan jadi se-radikal apa.

Saya terlahir di keluarga besar yang keras dan omongannya kasar. Di keluarga besar saya, birrul walidain itu seperti barang yang langka. Waktu saya kecil sering saya lihat saudara saya non-kandung (bibi, uwa, sepupu) bersikap buruk kepada orang tuanya. Mulai dari ucapan sampai perbuatan.

Karena contoh seperti itu yg saya lihat dari kecil, sehingga sedikit atau banyak saya jadi terpengaruh. Sampai agak dewasa, saya tumbuh jadi anak yang gak tau adab dan etika ke orang lain, serta gak tau bakti ke orang tua.

Saya ingat pernah dipukul bapak saya pakai sapu sampai sapunya patah karena saya lecehkan bapak saya dgn memanggil namanya. Semoga bapak memaafkan saya, dan semoga Allah mengampuni saya.

Waktu kuliah jadi bergajulan. Saya pernah juga ikutan nimbrung majelis pergerakan Islam gitu. Disana diajarkan untuk demonstrasi, menghina pemerintah, intinya ngelawan pemerintah gitu deh.

Sampai akhirnya saya kenal dakwah Salafi. Awal-awalnya dulu saya denger rekaman video cermah ust. Yazid Jawwas dan Ust. Abdul Hakim Abdat hafidzahumullah. Puluhan tahun yg lalu tuh. Sampai hari ini saya terus mendengar ceramah-ceramah dari du'at (para da'i) Salafi lainnya, yang katanya mau dihabisi dakwahnya sama Komisaris PT. KAI.

Saya heran sama pak Komisaris dgn hasrat buruknya itu. Pasalnya sudah puluhan tahun saya mendengar ceramah du'at Salafi, gak pernah sekalipun saya mendengar ajakan untuk mencela pemerintah. Yang ada disuruh ta'at. Sama pemerintah aja disuruh ta'at, gimana caranya kemudian jadi teroris?

Semenjak kenal dakwah Salafi ini, sikap saya ke orang tua pun jadi berubah drastis. Dari yang sangat kurang ajar menjadi sangat care. Saya sangat memperhatikan cara bicara, nada bicara, dan diksi saya berbicara kepada orang tua. 

Bakti dan kasih sayang saya kepada orang tua jadi semakin besar karena mengenal dakwah ini. Insya Allah, saya yakin orang tua saya merasakan perubahan drastis sikap anaknya ini. Ke orang tua, saya diajarkan untuk bersikap baik, lantas bagaimana ceritanya dakwah ini dituduh jadi pintu terorisme?

Memang betul kami diajarkan mana yang Sunnah dan mana yang Bid'ah, mana yang Tauhid mana yang Syirik. Namun, gak seperti yang dibilang pak Komisaris yang katanya semua dibid'ah-bid'ahin, semua dikafir-kafirin. Semua bid'ah tapi "masih naik mobil gak naik onta", gitu katanya. 

Oh ya ndak sengawur itu dong pak Komisaris.

Pak Komisaris kan dulunya belajar di Saudi Arabia, negeri 'Salafi', sampe dapat gelar Doktor pan tuh. Sampe sekarang masih aman sentosa toh? Dulu gak dikafir-kafirin toh? gak dibom? Pernah lihat gak di negeri Salafi tempat pak Komisaris kuliah dulu ada tradisi menyakiti orang lain atau diri sendiri? 

Pak Komisaris ini bukti hidup bahwa dakwah Salafi gak seperti yang dia tuduhkan sendiri.

Eh justru di negeri Syi'4h, Iran, disana ada tradisi 'radikal' dengan cara melukai diri sendiri sampai berdarah. Bahkan anak yang masih sangat kecil juga sengaja dilukai tuh ampe darahnya ngucur di kepalanya. Miris liatnya. Ekstrim radikalnya tuh 

Yang begitu-begitu dilakukan secara nyata dan terang-terangan di Iran tuh. Di negeri Syi'4h yang selalu dibela pak Komisaris. Perilaku radikal seperti dilakukan orang Syi'4h di Iran baru deh tuh bs jadi pintu masuk terorisme.

Pak Komisaris kok malah aneh, yang radikal siapa, yang dituduh pintu masuk teroris siapa. Selalunya kalo ada aksi radikalisme dan terorisme yang dituduh Salafi-Wahabi. Lha, Syi'4h yang terang-terangan radikalnya kok didiemin?

Jika ada pelaku terorisme yang kemudian punya ciri seperti ciri orang-orang 'Salafi' ya mbok jangan terus digeneralisir. Main percaya begitu aja. Pak Komisaris pan pendidikannya tinggi, harusnya ya punya kemampuan untuk membandingkan antara kelakuan oknum dan bagaimana konten dakwah Salafi secara umum. Jangan main pukul rata.

Kata orang bijak, kalo ingin mengetahui kebenaran pelajari langsung dari ajarannya bukan dari segelintir oknumnya.

Saya ini by default punya DNA keras dari keluarga besar saya. Itu karakter yang susah hilang. Terbentuk dah dari kecil. Namun, karena dakwah Salafi, karakter keras ini bs dikontrol sehingga tidak sampai pada perilaku radikal. 

Istri saya saja sering bilang selama sepuluhan tahun menikah belum pernah saya berbuat kasar kepadanya. Kalo marah ke istri pun saya diam. Dia bandingkan dengan suami orang lain yang suka bicara kasar ke istrinya bahkan sampai KDRT.

Dakwah salafi mengajarkan saya untuk bersikap baik kepada orang tua dan istri serta keluarga. Gimana ceritanya dakwah ini dituduh jadi pintu masuk terorisme? 

Dakwah Salafi ini bukan dakwah yang mengajarkan teror, melainkan dakwah lemah lembut. Dakwah yang memperlihatkan sisi Islam yang penuh rahmah seperti diajarkan dan dipraktikkan para Salaf (pendahulu) yang sholih.

Semoga Allah menjaga dan memberkahi dakwah mulia ini di negeri kita tercinta.

Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1347570668955130&id=100011066292516
Baca selengkapnya »
MUI: Bom Bunuh Diri bukan syahid dan haram dilakukan pada Daerah Damai

MUI: Bom Bunuh Diri bukan syahid dan haram dilakukan pada Daerah Damai

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan bahwa aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar dan penyerangan Mabes Polri oleh para teroris hukumnya haram dilakukan di daerah yang damai seperti Indonesia.
Selain itu, pelaku aksi teror di Gereja Katedral Makassar dan penyerangan Mabes Polri juga tidak bisa disebut mati syahid.

"Bom bunuh diri di daerah damai (dar al-shulh/dar al-salam/dar al-da'wah) hukumnya haram dan bukan merupakan tindakan mencari kesyahidan ('Amaliyah al-Istisyhad)," kata Ketua Umum MUI, Miftachul Akhyar dalam keterangan resminya, Kamis (1/4).

Miftachul menilai aksi-aksi teror yang melanda Indonesia belakangan ini merupakan salah satu bentuk tindakan putus asa dan mencelakakan diri sendiri.

Ia pun menilai peledakan bom yang menyebabkan kerusakan dan hilangnya nyawa merupakan tindakan teror dan tidak sesuai ajaran agama.

"Itu tidak sejalan dengan nilai-nilai Pancasila dan ajaran agama," kata dia.

Miftachul lantas mengimbau kepada masyarakat untuk tetap tenang menanggapi aksi teror beberapa waktu belakangan. masyarakat mempercayakan penyelesaian masalah ini kepada aparat yang berwenang.

"Mengajak semua pihak untuk meningkatkan kewaspadaan dalam rangka pencegahan terkait dengan aksi-aksi kekerasan yang mengatasnamakan ideologi dan agama tertentu," kata dia.

Lihat juga: Ketum PBNU: Konon 6.000 Terduga Teroris Belum Tertangkap
Selain itu, Miftachul juga mengajak masyarakat dan ulama untuk berperan aktif untuk menyebarkan ajaran Wasathiyatul Islam. Sebuah pemahaman agama Islam yang berpegang pada metodologi penetapan hukum (manhajiy), dinamis dan mengedepankan paham.

"Sehingga menjaga diri dari sikap ekstrem, baik dalam bentuk berlebih-lebihan menjalankan agama (ifrath) maupun meremehkan perkara agama (tafrith)," kata dia.

(rzr/bmw)

Baca selengkapnya »
Beranda

BERLANGGANAN ARTIKEL KAMI