Ahlan wa Sahlan di situs dakwahpost.com | kajian islam dan informasi
Akibat Ibadah Tanpa Ikhlas Dan Ittiba

Akibat Ibadah Tanpa Ikhlas Dan Ittiba

ada hakikatnya di dunia ini kita adalah seorang musafir yang sedang berjalan menuju Allah. Ibadah adalah bekal yang kita siapkan. Namun jika ibadah tersebut tidak benar maka keadaan kita persis seperti permisalan yang disebutkan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Beliau pernah mengatakan:

العَمَلُ بِغَيْرِ إِخْلَاصٍ وَلَا اِقْتِدَاءٍ كَالمُسَافِرِ يَمْلَأُ جِرَابَهُ رَمْلاً يُثْقِلُهُ وَلَا يَنْفَعُهُ
“Beramal tanpa ikhlas dan iqtida’ seperti seorang musafir yang memenuhi tasnya dengan pasir, memberatkannya dan tidak memberikan manfaat kepadanya.” (al-Fawa’id: 66)

Demikianlah, perumpamaan seorang yang beribadah tanpa keikhlasan dan iqtida’ (mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam), amalannya justru menjadi mudharat bagi dirinya. Karena syarat diterimanya sebuah amal ibadah ada dua; Pertama adalah ikhlas, Allah berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus. (QS. Al-Bayyinah: 5)

Kemudian syarat yang kedua adalah iqtida’ atau mutaba’ah yaitu mengikuti tuntunan atau tata cara ibadah yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau pernah bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa mengamalkan suatu perkara yang tidak kami perintahkan, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim: 1718)

Jika amalan tidak memenuhi dua syarat ini maka ia tidak akan diterima Allah, ia tak ubahnya pasir kerikil yang dimasukkan ke dalam tas musafir. Justru memberatkan dan memudharatkan dirinya sendiri. Oleh sebab itu, ketika beramal ibadah hendaknya kita memperhatikan dua syarat ini. Jangan pernah mau mengisi tas perbekalan kita dengan pasir kerikil.

Semoga bermanfaat.


Ditulis oleh: Zahir al-Minangkabawi
artikel maribaraja.com
Read more »
ANDA GALAU ? HINDARI DAN JAUHI DUA HAL INI…

ANDA GALAU ? HINDARI DAN JAUHI DUA HAL INI…

ANDA GALAU ? HINDARI DAN JAUHI DUA HAL INI…

Imam Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan: “Kekhawatiran, kegalauan, dan kesedihan itu datangnya dari dua arah:

– Salah satunya: dari cinta dunia dan terlalu berhasrat kepadanya.
– Yang kedua: dari kurangnya amal kebaikan dan ketaatan”.

[Kitab: Uddatus Shabirin, hal: 317]
——

Oleh karenanya, kebahagian itu sebenarnya bukan karena harta atau nikmat dunia.. betapa banyak orang yang bergelimang harta dan nikmat dunia, tapi hatinya kering dan tidak merasakan kebahagiaan dan ketenangan.

Itulah diantara sebab mengapa dunia dikatakan menipu, seakan dia yang membahagiakan, padahal kenyataannya tidak demikian.

Allah Ta’ala berfirman:

“Jangan sampai kehidupan DUNIA itu menipu kalian!”. [QS. Luqman: 33]

“Sungguh Allah hanyalah ingin mengazab mereka (kaum munafikin) dengan harta dan anak-anak itu di kehidupan dunianya”. [QS. Attaubah:55]

Kebahagiaan itu karena HATI kita sudah tidak lagi bergantung kepada apapun selain kepada Allah.. ketika HATI merasa begitu dekat dengan Allah yang paling dicinta.

Kebahagiaan itu ketika HATI kita bersih dan ‘kenyang’ dengan asupan yang tepat untukk kebahagiannya.. yaitu dzikir dan amal ketaan kepada Allah Ta’ala.

Sebagaimana dalam firman-Nya:

“Ingatlah, bahwa dengan BERDZIKIR hati-hati itu akan tenang (bahagia)”. [QS. Arra’d: 28]

“Siapapun yang BERAMAL SALEH dalam keadaan beriman, baik pria maupun wanita, maka Kami benar-benar akan jadikan baginya kehidupan yang baik”. [QS. Annahl: 97].

Silahkan dishare.. Semoga bermanfaat ...
Read more »
Antara anak hasil zina dan bid’ah qunut subuh

Antara anak hasil zina dan bid’ah qunut subuh

Antara anak hasil zina dan bid’ah qunut subuh

Zina itu haram, namun kalau dari zina terlahir anak, maka jangan dibuang apalagi dibunuh anak tersebut.

Saat ini banyak dari kajian kita berhenti pada penjelasan bahwa zina haram.

Adapun fakta banyaknya anak yang terlahir dari zina, tidak dikaji secara mendalam apalagi disampaikan secara gamblang kepada masyarakat.

Pada saatnya nanti anak hasil zina itu juga akan menikah, punya harta, atau kerabatnya mati, atau perlu teman/mahram safar dll, bagaimana hukumnya? Hal hal seperti ini juga perlu dikaji.

Dan kalau buku buku karya guru anda yang selalu anda kaji berulang ulang belum sampai bab itu, ya cari guru lain atau kitab lain, bukan ngegas puoool tanpa tahu diri.

Masalah qunut subuh saat ini sering kali dikaji hanya sampai pada level qunut bid’ah atau tidak, dalilnya shahih atau dhaif.

Namun konsekwensi hukum dari bid’ahmya qunut atau sunnahnya qunut kurang dikaji dengan mendalam.

Dampaknya terjadi “perang urat leher” seakan semua masalah selesai pada level bid’ah atau sunnah saja.

Kalau mau disebut dengan sedikit lebih keren, kajian kita hanya sebatas hukum hukum taklifi, saja.

Adapun hukum hukum wadh’i, sebab akibat, sah atau batal, maani’ (penghalang) syarat dan lainnya kurang disampaikan.

Dampaknya ya seperti yang terjadi pada banyak komentar prematur dari kawan kawan follower halaman saya .

Diajak berenang pada lautan ilmu Ibnu Taimiyyah dan menyelami kedalaman jiwa beliau, eeeeeh banyak yang mogok atau sinyalnya lelet pada level: lo kan qunut subuh terus menerus dalilnya lemah, bahkan banyak yang menegaskan bid’ah, malah ada yang berusaha mencing debat tentang hukum qunut.

Saudaraku! Semangat itu bagus,namun tahu diri sehingga tidak memalu malukan diri apalagi berkata dalam hal agama tanpa ilmu adalah kewajiban.

Kalau ilmu saudara belum cukup untuk mencerna apalagi mendiskusi, mbok yo biasakan berkata ALLAHU A’ALAM BISSHAWAB, atau aku tidak tahu. Gini baru salafy tulen, bukan yang asal ngegas kenceng tanpa nyadar bahwa pedal gasnya copot.

Eeh, mungkinkah ada dari komentator yang akan berkata: salafy kok toleransi dengan zina dan bid’ah,....kalau ada ya sudah lah, terpaksa saya berkata : sing waras ngalah.

Semoga menyadarkan.
=====

Komentar mereka :

Qunut tu Bid'ah. Pelakunya adalah Ahlul Bid'ah
Karena lebih baik mengasingkan diri di hutan bertetangga dengan monyet daripada tinggal bersama Ahlul Bid'ah
Maka apalagi sholat di belakangnya?!

Jadi sholat di belakang orang yang qunut ga sah auto batal
Dan kalo semua masjid di kampung subuhnya pake qunut, Maka lebih baik sholat sendirian di rumah

Semen Tiga Roda
Kokoh !


الله أعلم
Oleh Ustadz DR Muhammad Arifin Badri (Dosen STDI Imam Syafi’i Jember)
Read more »
Cara Menyimpan daging kurban agar tetap berkualitas

Cara Menyimpan daging kurban agar tetap berkualitas


Cara penyimpanan daging kurban Agar tetap terjaga kualitasnya bisa ikuti tips berikut ini ya

1. Sebelum disimpan, daging qurban jangan dicuci. Jika dicuci pakai air kran, kuman2 bisa masuk dan tinggal di dalam pori2 daging. Itu bisa merusak kualitas daging. Nyucinya besok saja kalo pas mau masak daging.

2. Jika dapat daging banyak, jangan menyimpan daging utuh 2-4 kg di dalam freezer. Cara yg benar, potong2 daging berukuran lebih kecil, lalu simpan di dalam plastik-plastik berukuran 1/2 kg atau 1 kg. Jika mau masak, ambil satu kantong kecil, biarkan yg lain tetap beku di dalam freezer. InsyaAllah daging dalam keadaan beku dapat disimpan >1 thn.

3. Sebelum disimpan di-freezer, simpan daging (mampir dulu) di dalam kulkas yg sejuk selama 4-5 jam. Setelah dingin, baru dimasukkan ke dalam lemari es (freezer).

4. Jika mau masak daging beku, jangan mencairkan es daging atau daging beku menggunakan air panas. Cara yg benar adalah letakkan daging beku tsb di bawah air kran suhu normal (dalam keadaan daging masih terbungkus rapat dalam plastik). Setelah daging kembali empuk, buka plastik, cuci daging hingga bersih, tiriskan, lalu siap dimasak.

5. Tips tambahan :
Jangan memakai kresek warna hitam karena tas kresek hitam itu adalah hasil daur ulang Tas kresek daur ulang warna hitam mengandung karsinogen yang dapat memicu sel kanker. Pakailah kresek putih atau plastik bening....

Baarakallah
Semoga bermanfaat

reshare from : rumah-bumbu
Read more »
Qurban Bergiliran dalam 1 keluarga

Qurban Bergiliran dalam 1 keluarga

Qurban Bergiliran dalam 1 keluarga

Kebiasaan qurban bergilir ini marak di masyarakat kita. Yaitu misalnya satu keluarga terdiri dari suami, istri dan 2 anak. Maka tahun ini yang berqurban suami, tahun depan istri, tahun setelahnya anak pertama, tahun setelahnya lagi anak ke-2, dan seterusnya.

Ini menjadi hal yang unik, karena kami belum mendapatkan hal seperti ini di kitab-kitab fikih.

Dan Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam selalu berqurban setiap tahun. Namun tidak dinukil riwayat bahwasanya beliau mempergilirkan qurban, kepada istri-istrinya dan anak-anaknya. Bahkan beliau menganggap qurban beliau sudah mencukupi seluruh keluarganya. Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, beliau berkata:

ضحَّى رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ بكبشَيْنِ أقرنيْنِ أملحيْنِ أحدِهما عنهُ وعن أهلِ بيتِه والآخرِ عنهُ وعمَّن لم يُضَحِّ من أمَّتِه
"Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berqurban dengan dua domba gemuk yang bertanduk salah satunya untuk diri beliau dan keluarganya dan yang lain untuk orang-orang yang tidak berqurban dari umatnya" (HR. Ibnu Majah no.3122, dihasankan oleh Al Albani dalam Irwaul Ghalil [4/353]).

Demikian juga para sahabat Nabi, yang berkurban di antara mereka adalah para kepala keluarga, dan mereka juga tidak mempergilirkan qurban pada anak dan istri mereka. Dari Abu Ayyub Al Anshari radhiallahu'anhu, ia berkata:

كانَ الرَّجلُ في عَهدِ النَّبيِّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ يُضحِّي بالشَّاةِ عنهُ وعن أَهلِ بيتِهِ فيأْكلونَ ويَطعَمونَ ثمَّ تباهى النَّاسُ فصارَ كما ترى
"Dahulu di masa Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam, SEORANG LELAKI berqurban dengan satu kambing yang disembelih untuk dirinya dan keluarganya. Mereka makan dan sembelihan tersebut dan memberi makan orang lain. Kemudian setelah itu orang-orang mulai berbangga-bangga (dengan banyaknya hewan qurban) sebagaimana engkau lihat" (HR. Tirmidzi no.1505, Ibnu Majah no. 3147, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah).

Syaikh Ibnu Al Utsamin ditanya: "apakah setiap anggota keluarga dituntut untuk berqurban atas diri mereka masing-masing?". Beliau menjawab:

لا.السنة أن يضحي رب البيت عمن في البيت، لا أن كل واحد من أهل البيت يضحي، ودليل ذلك أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ضحى بشاة واحدة عنه وعن أهل بيته، وقال أبو أيوب الأنصاري رضي الله عنه: ( كان الرجل على عهد النبي صلى الله عليه وسلم يضحي بالشاة عنه وعن أهل بيته ) ولو كان مشروعاً لكل واحد من أهل البيت أن يضحي لكان ذلك ثابتاً في السنة، ومعلوم أن زوجات الرسول عليه الصلاة والسلام لم تقم واحدة منهن تضحي اكتفاء بأضحية النبي صلى الله عليه وسلم.
"Tidak. Yang sesuai sunnah, kepala rumah tangga lah yang berkurban. Bukan setiap anggota keluarga. Dalilnya, Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam berqurban dengan satu kambing untuk dirinya dan keluarganya. Dan Abu Ayyub Al Anshari berkata: "Dahulu di masa Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam, SEORANG LELAKI berqurban dengan satu kambing yang disembelih untuk dirinya dan keluarganya". Andaikan disyariatkan setiap anggota keluarga untuk berkurban atas dirinya masing-masing tentu sudah ada dalilnya dari sunnah Nabi. Dan kita ketahui bersama, bahwa para istri Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam tidak ada yang berqurban, karena sudah mecukupkan diri dengan qurban Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam".

Beliau juga mengatakan:

فإن قال قائل: لعل ذلك لفقرهم؟ فالجواب: إن هذا احتمال وارد لكنه غير متعين، بل إنه جاءت الآثار بأن من أزواج الرسول عليه الصلاة والسلام من كانت غنية.
"Jika ada orang yang berkata: mungkin itu karena Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sangat miskin? Maka kita jawab: memang kemungkinan tersebut ada, namun tidak bisa kita pastikan. Bahkan terdapat banyak atsar yang menunjukkan bahwa para istri-istri Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam adalah orang-orang kaya“ (Durus Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, 8/5).

Dan perlu diperhatikan bahwa ibadah qurban ini wajib ikhlas hanya untuk meraih wajah Allah Ta’ala. Hendaknya jauhkan perasaan ingin dilihat, ingin dikenal pernah berqurban, ingin nampak namanya atau semisalnya yang merupakan riya dan bisa menghanguskan pahala amalan. Karena terkadang alasan orang berqurban atas nama istrinya atau anaknya karena anak dan istrinya belum pernah nampak namanya dalam list shahibul qurban. Allahul musta’an. Oleh karena itulah dalam hadits Abu Ayyub di atas disebutkan:

ثمَّ تباهى النَّاسُ فصارَ كما ترى
“Kemudian setelah itu orang-orang mulai berbangga-bangga sebagaimana engkau lihat”

Yaitu menjadikan ibadah qurban sebagai ajang berbangga di hadapan orang banyak.

Di sisi lain, ulama Malikiyah dan sebagian ulama Syafi'iyyah mensyaratkan yang berqurban haruslah yang memberikan nafkah, barulah mencukupi untuk satu keluarga. Dalam kitab Al Muntaqa karya Al Baji disebutkan:

والأصل في ذلك حديث أبي أيوب كنا نضحي بالشاة الواحدة يذبحها الرجل عنه وعن أهل بيته زاد ابن المواز عن مالك وولديه الفقيرين قال ابن حبيب: وله أن يدخل في أضحيته من بلغ من ولده وإن كان غنيا إذا كان في نفقته وبيته
"Landasan dari hal ini adalah hadits Abu Ayyub: 'dahulu kami biasa berqurban dengan satu kambing yang disembelih SEORANG LELAKI untuk dirinya dan keluarganya'. Dalam riwayat Ibnu Mawaz dari Malik adal tambahan: 'dan orang tuanya dan orang fakir yang ia santuni'. Ibnu Habib mengatakan: 'Maka boleh meniatkan qurban untuk orang lain yang bukan keluarganya, dan ia orang yang kaya, jika memang orang lain tersebut biasa ia nafkahi dan tinggal di rumahnya'"

Sehingga dengan pendapat ini, jika yang berqurban adalah istri atau anak, maka qurban tidak mencukupi seluruh keluarga.

Walhasil, kami bertanya kepada beberapa ulama dalam masalah ini, dengan teks pertanyaan, “wahai Syaikh, terkait qurban. Diantara kebiasaan di negeri kami, seorang lelaki misalnya tahun ini berqurban, namun tahun depan dia tidak berqurban melainkan istrinya yang berqurban. Tahun depannya lagi anak pertamanya, dan terus demikian secara bergiliran. Apakah ini baik?”.

Syaikh Walid Saifun Nashr menjawab:

لا أعلم له أصلا
“Saya tidak mengetahui ada landasan dari perbuatan ini”

Syaikh Dr. Aziz Farhan Al Anazi menjawab:

الأصل أن على ان أهل كل بيت أضحية والذي يتولى ذلك الوالد لانه هو المكلف بالإنفاق على زوجته واولاده
“Asalnya tuntutan untuk berqurban itu pada setiap keluarga, dan yang bertanggung-jawab untuk menunaikannya adalah suami karena dia yang wajib memberikan nafkah kepada istri-istri dan anak-anaknya.”

Kesimpulannya, yang lebih mendekati sunnah Nabi dan para sahabat, yang berqurban cukuplah suami saja sebagai kepala keluarga. Tidak perlu dipergilirkan kepada anggota keluarga yang lain. Dan tidak ada keutamaan khusus dengan mempergilirkan demikian. Namun jika anggota keluarga yang lain berqurban atas nama dirinya, itu pun boleh saja dan sah. Hanya saja kurang sesuai dengan sunnah Nabi dan para sahabat sebagaimana telah dijelaskan.

Wallahu a’lam.

✍Ustadz Yulian Purnama fawaid_kangaswad
Read more »
Cara Puasa Sepuluh Hari Awal Bulan Dzulhijjah

Cara Puasa Sepuluh Hari Awal Bulan Dzulhijjah

Cara Puasa Sepuluh Hari Awal Bulan Dzulhijjah
SOAL :

Bismillah, Ustadz mau bertanya, menjelang memasuki 10 hari awal Dzulhijjah kita disarankan untuk memperbanyak amal shalih, salah satu diantaranya adalah ibadah shaum sunnah, dari penjelasan penjelasan yang ada hanya menyebutkan berpuasa dari tanggal 1-9 Dzulhijjah, maksudnya apakah di Sembilan hari tersebut kita puasa dawud atau puasa senin kamis ? Dari Umu Shadri di Jakarta.

JAWAB :

Barokallahu fikum Umu Shadri semoga istiqamah, benar bahwa sepuluh hari pertama memiliki keistimewaan, dimana amalan sekecil apapun lebih utama daripada berperang di jalan Allah, maka dianjurkan untuk memperbanyak amalan terutama, shalat, puasa, dzikir, membaca al Quran, sedekah dll.

Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhuma ia berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :

مَا مِنْ أَيَّامٍ العَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ العَشْرِ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَلَا الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَلَا الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ
“Tidaklah ada hari hari yang amal shalaih pada hari hari tersebut lebih dicintai oleh Allah daripada sepuluh hari pertama dibulan dzulhijjah. Maka para sahabat bertanya, “wahai Rasulullah apakah (amal shalih tersebut) lebih Allah cintai dari pada jihad fi sabilillah ?”. beliau menjawab, “iya walupun dengan jihad fi sabilillah, kecuali sesorang yang keluar (berjihad) dengan diri dan hartanya lalu tidak kembali setelah itu selamanya (syahid)” (HR Bukhari : 926, Abu Dawud : 2438, Ahmad : 1968)

Dalam lafadz yang lain :

مَا مِنْ عَمَلٍ أَزْكَى عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلَا أَعْظَمَ أَجْرًا مِنْ خَيْرٍ يَعْمَلُهُ فِي عَشْرِ الْأَضْحَى
“tidak ada amalan yang paling utama disisi Allah ‘Azza wajalla, tidak juga lebih agung pahalanya daripada amalan yang dilakukan pada sepuluh hari (pertama) bulan dzulhijjah” (HR Ad-Darimi, Irwaul Ghalil 3/398)

Dalam riwayat Imam Ahmad ada tambahan :

فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ
“Maka perbanyaklah padanya tahlil (mengucapkan laa ilaaha illallah), Takbir (mengucapkan Allahu Akbar), dan tahmid (mengucapkan Al Hamdulillah)” (HR Ahmad : 6154).

Diantara amalan yang dianjurkan pada hari hari yang mulia ini adalah puasa, karena ibadah puasa adalah ibadah yang agung yang tiada bandingannya.

Dari Abu umamah Al Bahili radhiyallahu anhu ia berkata :

أَتَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ مُرْنِي بِأَمْرٍ آخُذُهُ عَنْكَ، قَالَ: «عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَا مِثْلَ لَهُ»
“Aku mendatangi Rasulullah shalallahu alaihi wasallam lalu aku mengatakan, “wahai Rasulullah tunjukan kepadaku perkara yang aku ambil (pegang teguh) darimu”. Lalu Beliau shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Berpuasalah karena (puasa) itu tidak ada bandingannya”. (HR An-Nasa’i : 2220, As-Shahihah : 1973).

Dalam lafadz lain Abu umamah berkata kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam :

فَمُرْنِي بِعَمَلٍ أَدْخُلُ بِهِ الْجنَّة قَالَ: "عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَا مِثْلَ لَهُ" قَالَ فَكَانَ أَبُو أُمَامَةَ لَا يُرَى فِي بَيْتِهِ الدُّخَانُ نَهَارًا إِلا إِذَا نَزَلَ بِهِمْ ضَيْفٌ.
Wahai Rasulullah tunjukanlah kepadaku amalan yang dengannya aku masuk surga”. Maka Beliau bersabda, ”berpuasalah engkau karena puasa itu (ibadah) yang tidak ada bandingannya”. Ia (Raja’ bin Haiwah , perowi hadits) mengatkan : “Bahwasanya Abu Umamah tidak nampak pada siang hari adanya asap di (dapur) rumahnya, kecuali kalau kedatangan tamu. Apabila mereka melihat ada asap pada siang hari pertanda dirumahnya sedang ada tamu”. (HR Ibnu Hibban : 2425, Thabrani : 4763. Dishahihkan oleh syaikh al-Albani, Shahih at-Targhib wat Tarhib 1/580).

Terjadi perbedaan pendapat para ulama dalam menetapkan cara puasa sepuluh hari pertama dibulan Dzulhijjah :

[1] Pendapat Pertama :

Puasa yang dimaksud adalah puasa mutlak dari tanggal 1-9 Dzulhijjah , adapun pada tanggal 10 (idul adha) atau hari hari Tasyriq (11 -13 dzulhijjah) dilarang untuk berpuasa karena ia adalah hari raya, hari yang dianjurkan bergembira, sebagai hari makan dan minum .

Pendapat pertama ini didasarkan pada riwayat dari Hunaidah bin Kholid, dari beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ، وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ»
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya, awal bulan di hari Senin dan Kamis.” (HR. Abu Daud : 2437 dan An-Nasa’i : 2374)

Yang dimaksud 9 (tis’ah) dalam hadits diatas adalah 9 hari bukan Taasi’ (hari ke-9), sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama di Lajnah Daaimah (majlis fatwa Saudi Arabia) ketika ditanya dalam masalah ini, mereka menukil perkataan Imam As Syaukani rahimahullah di kitab Nailul Authar :

وَقَدْ تَقَدَّمَ فِيْ كِتَابِ الْعِيْدَيْنِ أَحَادِيْثُ تَدُلُّ عَلَى فَضِيْلَةِ الْعَمَلِ فِيْ عَشْرِ ذِيْ الْحِجَّةِ عَلَى الْعُمُوْمِ، وَالصَّوْمُ مُنْدَرِجُ تَحْتَهَا، وَقَوْلُ بَعْضِهِمْ: إن المراد بتسع ذي الحجة اليوم التاسع: تأويل مردود، وخطأ ظاهر للفرق بين التسع والتاسع.
Telah berlalu didalam kitab (pembahsan masalah) dua hari raya hadits hadits yang menunjukan keutamaan beramal ibadah di sepuluh awal bulan dzulhijjah sementara ibadah puasa adalah bagian dari ibadah yang mulia, adapun sebagian (ulama) mengatakan bahwa yang dimaksud Sembilan dzulhijjah itu adalah tanggal Sembilan, maka ini adalah penafsiran yang batil lagi tertolak, dan Nampak sekali kesalahannya karena beda antara Sembilan hari (tis’ah) dengan hari ke Sembilan (at Taasi’)” (lihat Fatwa Lajnah Ad Daaimah 9/308 no Fatwa : 20247).

Di antara sahabat yang mempraktekkan puasa selama sembilan hari awal Dzulhijah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 459).

Dari mantan budak Ibnu Azhar ia berkata, Aku pernah menghadiri shalat ied bersama Umar bin Al Khattab radhiyallahu anhu, lalu beliau berkata :

هَذَانِ يَوْمَانِ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صِيَامِهِمَا: يَوْمُ فِطْرِكُمْ مِنْ صِيَامِكُمْ، وَاليَوْمُ الآخَرُ تَأْكُلُونَ فِيهِ مِنْ نُسُكِكُمْ
“Dua hari ini adalah hari raya yang Rasulullah shalallahu alaihi wasallam melarang untuk berpuasa didalamnya, hari dimana kalian berbuka dari puasa kalian (Idul Fitri), begitu pula beliau melarang puasa pada hari lainnya yaitu idul adha dimana kalian memakan sesembeliahan kalian (kurban)” (HR Bukhari : 1990, Muslim : 1137).

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

«أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ، يَوْمِ الْفِطْرِ، وَيَوْمِ النَّحْرِ»
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berpuasa pada dua hari yaitu Idul Fithri dan Idul Adha.” (HR. Muslim : 1138)

Dari Nubaisyah Al Hudzali radhiyallahu anhu ia berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :

«أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ»
“Hari hari Tasyriq (tanggal 11,12 dan 13) adalah hari makan dan minum” (HR Muslim : 1141)

[2] Pendapat Kedua :

Puasa yang dimaksud adalah puasa yang disyari’atkan dari puasa puasa sunnah seperti senin kamis, puasa dawud atau puasa arafah yang dilakukan pada sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah. Mereka beralasan tidak ada dalil khususnya kecuali hanya keutamaan amalan ibadah secara umum pada sepuluh hari awal dzulhijjah. Bahkan ada dalil yang melarangnya sebagaimana yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu anha ia berkata :

«مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَائِمًا فِي الْعَشْرِ قَطُّ»
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada sepuluh hari (awal) bulan Dzulhijah sama sekali.” (HR. Muslim : 1176).

Pendapat yang kuat :

pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah bahwa puasa di sepuluh awal dzulhijjah yang dimaksud adalah berpuas dari mulai tanggal satu sampai hari arafah (tanggal 9 dzulhijjah). Sedangkan hadits Aisyah radhiyallahu anha tidak lah menafikan berpuasa pada hari hari sepuluh di awal bulan dzulhijjah, karena bisa jadi Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tidak melakukan itu karena sebab seperti sakit, atau karena memberatkan kepada umatnya karena khawatir di wajibkan.

Imam As Syaukani rahimahullah berkata :

وَأَمَّا مَا أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَائِمًا فِي الْعَشْرِ قَطُّ " وَفِي رِوَايَةٍ: " لَمْ يَصُمْ الْعَشْرَ قَطُّ " فَقَالَ الْعُلَمَاءُ: الْمُرَادُ أَنَّهُ لَمْ يَصُمْهَا لِعَارِضِ مَرَضٍ أَوْ سَفَرٍ أَوْ غَيْرِهِمَا، أَوْ أَنَّ عَدَمَ رُؤْيَتِهَا لَهُ صَائِمًا لَا يَسْتَلْزِمُ الْعَدَمَ، عَلَى أَنَّهُ قَدْ ثَبَتَ مِنْ قَوْلِهِ مَا يَدُلُّ عَلَى مَشْرُوعِيَّةِ صَوْمِهَا كَمَا فِي حَدِيثِ الْبَابِ فَلَا يَقْدَحُ فِي ذَلِكَ عَدَمُ الْفِعْلُ.
Adapun yang diriwayatkan oleh Muslim dari Aisyah radhiyallahu anha bahwasanya ia berkata, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada sepuluh hari (awal) bulan Dzulhijah sama sekali.”. Dalam riwayat lain, Tidak pernah beliau berpuasa pada hari yang sepuluh (awal dzulhijjah). Para Ulama rahimahumullah berkata, yang dimaksud adalah beliau tidak berpuasa karena ada halangan sakit atau safar atau yang lainnya, atau tidak kelihatannya beliau berpuasa pada sepuluh hari awal dzulhijjah bukan berarti tidak boleh berpuasa karena telah tetap adanya pensyari’atan puasa pada hari hari tersebut sebagaimana didalam pembahasan hadits kita, maka tidak tercela pula bagi orang yang tidak melakukannya” (Nailul Authar 4/283). 

Demikian semoga bermanfaat, Wallahu waliyyut Taufiq

✍ Ust Abu Ghozie As Sundawie
Read more »
Bolehkah Orang Tua Bawa Anaknya ke Masjid ? boleh jika......

Bolehkah Orang Tua Bawa Anaknya ke Masjid ? boleh jika......

Bolehkah Orang Tua Bawa Anaknya ke Masjid
pertanyaan:

Ustadz ana menemukan fatwa syaikh utsaimin yang menganjurkan untuk tidak membawa anak2 ke masjid. Padahal di zaman Nabi kan ada kisah hasan husain ke masjid. itu bagaimana ya ustd?

Jawab:

Bila memang anak anak itu menganggu dengan berlari lari, atau berteriak teriak, maka lebih baik tidak dibawa ke masjid. Hendaknya mereka diajarkan adab adab dalam masjid agar mereka memahami.

Tetapi bila mereka tidak menganggu atau orang tuanya menjaganya agar tidak menganggu, maka tidak apapa. Oleh karena itu Nabi sholat sambil menggendong Umamah.

Al Hafidz ibnu Abdil Barr berkata dalam kitab Attamhiid:

Dan telah diriwayatkan bahwa Umar bin Khathab apabila ia melihat anak kecil di dalam shaff, beliau mengeluarkannya.

Diriwayatkan juga dari Zirr bin Hubaisy dan Abu Wail, mereka melakukan itu.
Ahmad bin Hanbal tidak menyukai itu.

Al Atsram berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal tidak suka yang berdiri sholat di masjid kecuali orang telah baligh, atau telah tumbuh bulu kemaluannya atau telah berumur 15 tahun.
Lalu aku menyebutkan kepadanya hadits Anas dan anak yatim. beliau menjawab: Itu di sholat sunnah.

selesai perkataan ibnu Abdil Barr.

Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang suara gaduh di masjid. sabdanya:
ليلني منكم أولو الأحلام والنهى ثم الذين يلونهم ثلاثا وإياكم وهيشات الأسواق
Hendaklah yang berada di belakangku orang orang yang baligh dan berilmu, kemudian setelahnya kemudian setelahnya. Dan jauhilah suara gaduh seperti di pasar. (HR Muslim).

Hadits ini menunjukkan larangan gaduh di masjid. Maka jika kehadiran anak anak tersebut menyebabkan kegaduhan, maka hendaknya mereka tidak diajak ke masjid.

wallahu a'lam

ustadz Badrusalam
Read more »
Beranda