IBX5A47BA52847EF DakwahPost
Penulis Kitab Minhajul Muslim Telah Wafat

Penulis Kitab Minhajul Muslim Telah Wafat

Inna Lillahi Wa Inna ilaihi rajiun, Wafatnya ulama adalah musibah yg besar..

Setelah berkhidmat cukup lama untuk islam dan kaum muslimin, pagi ini Rabu 15/08/2018 - 04/12/1439 H beliau pergi menghadap Rabbnya.

Penulis Kitab Minhajul Muslim Telah Wafat

Dialah Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Aljazaairy, Ulama senior kota Madinah dan guru dari para guru.

Sebenarnya beliau berasal dari Al-Jazair. Abu Bakar muda meninggalkan tanah kelahirannya pada masa pendudukan Perancis.

Setelah hijrah ke KSA seluruh hidupnya di dedikasikan untuk ilmu.

Kitab Minhajul Muslim

Beliau didapuk menjadi dosen universitas islam Madinah sejak Universitas itu dibuka pada tahun 1380 H. Beliau cukup produktif dalam menghasilkan karya tulis ilmiah dengan bahasa yang mudah dipahami oleh semua kalangan. Diantara karyanya yang paling fenomenal adalah kitab Minhajul Muslim.

Selain menyampaikan kuliah di UIM, Syaikh Abu Bakar juga mengampuh majelis Ilamu di masjid Nabawi. Untuk tugas ini beliau menghabiskan lebih dari 60 tahun usianya, beliau baru benar-benar berhenti mengajar dari Masjid Nabawi pada saat menjalani perawatan serius hingga wafatnya.

Orang terdekatnya pernah berkisah, "Beliau pernah tidak mendatangi masjid nabawi untuk beberapa waktu, lalu beliau bermimpi bertemu Rasulullah, di dalam mimpi itu Rasulullah seperti mencelanya, maka sejak saat itu beliau tidak pernah lagi meninggalkan masjid Nabawi baik untuk sholat berjamaah maupun mengajarkan ilmu, kecuali bila ada udzur yang sangat mendesak.

Kesederhanaan hidup dan bahasanya yang lembut membuat Syaikh Abu Bakar mendapatkan tempat tersendiri di hati masayarakat Madinah dan seluruh KSA. Majelisnya dihadiri oleh berbagai kalangan. Mulai dari anak kecil hingga orang tua, dari rakyat biasa hingga pejabat negara.

Sejuk hati ini setiap kali melihat majelis beliau.

رحمه الله رحمة واسعة

Catatan: "Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga ketika tidak tersisa lagi seorang ulama, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin, lalu mereka ditanya, kemudian mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat lagi menyesatkan orang lain".⠀(HR. Bukhori)

sumber ig @act_elgharantaly
Read more »
Nasehat merupakan pilar ajaran Islam

Nasehat merupakan pilar ajaran Islam

Nasehat merupakan pilar ajaran Islam. Di antara bentuk nasehat yang wajib dilakukan oleh setiap muslim adalah memberikan nasehat kepada saudaranya sesama muslim. Namun, nasehat ini tidak sempit sebagaimana yang diduga oleh sebagian orang. Karena hakekat dari nasehat adalah menghendaki kebaikan bagi saudaranya. Lawan dari nasehat adalah melakukan penipuan. Sementara menipu merupakan dosa besar yang merusak keimanan seorang hamba. Maka sudah semestinya setiap muslim bersemangat untuk menunaikan nasehat kepada sesama saudaranya demi terjaganya iman di dalam dirinya dan demi kebaikan saudaranya.

عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى إِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ
Dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu’anhu, dia berkata: “Aku berbai’at kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk senantiasa mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan nasehat (menghendaki kebaikan) bagi setiap muslim.” (HR. Bukhari dan Muslim)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Kewajiban seorang muslim atas muslim yang lain ada enam.” Lalu ada yang bertanya,“Apa itu ya Rasulullah.” Maka beliau menjawab, “Apabila kamu bertemu dengannya maka ucapkanlah salam kepadanya, apabila dia mengundangmu maka penuhilah undangannya, apabila dia meminta nasehat kepadamu maka berilah nasehat kepadanya, apabila dia bersin lalu memuji Allah maka doakanlah dia -dengan bacaan yarhamukallah-, apabila dia sakit maka jenguklah dia, dan apabila dia meninggal maka iringilah jenazahnya.” (HR. Muslim)

Nasehat merupakan pilar ajaran Islam

an-Nawawi rahimahullah berkata:

فَمَعْنَاهُ طَلَبَ مِنْك النَّصِيحَة ، فَعَلَيْك أَنْ تَنْصَحهُ ، وَلَا تُدَاهِنهُ ، وَلَا تَغُشّهُ ، وَلَا تُمْسِك عَنْ بَيَان النَّصِيحَة
“Maknanya: -apabila- dia meminta nasehat darimu, maka wajib bagimu untuk menasehatinya, jangan hanya mencari muka di hadapannya, jangan pula menipunya, dan janganlah kamu menahan diri untuk menerangkan nasehat –kepadanya-.” (Syarh Muslim [7/295] asy-Syamilah)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْمُؤْمِنِ عَلَى الْمُؤْمِنِ سِتُّ خِصَالٍ يَعُودُهُ إِذَا مَرِضَ وَيَشْهَدُهُ إِذَا مَاتَ وَيُجِيبُهُ إِذَا دَعَاهُ وَيُسَلِّمُ عَلَيْهِ إِذَا لَقِيَهُ وَيُشَمِّتُهُ إِذَا عَطَسَ وَيَنْصَحُ لَهُ إِذَا غَابَ أَوْ شَهِدَ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Ada enam kewajiban seorang muslim kepada mukmin yang lain. Apabila saudaranya sakit hendaknya dia jenguk. Apabila dia akan meninggal hendaknya dia ikut menyaksikannya. Apabila bertemu maka hendaknya dia ucapkan salam kepadanya. Apabila dia bersin hendaknya mendoakannya. Dan apabila dia pergi/tidak ada atau sedang hadir -ada di hadapannya- maka hendaknya dia bersikap nasehat kepadanya.” (HR. Tirmidzi, beliau berkata hadits hasan sahih)

al-Mubarakfuri rahimahullah berkata:

وَحَاصِلُهُ أَنَّهُ يُرِيدُ خَيْرَهُ فِي حُضُورِهِ وَغَيْبَتِهِ ، فَلَا يَتَمَلَّقُ فِي حُضُورِهِ وَيَغْتَابُ فِي غَيْبَتِهِ فَإِنَّ هَذَا صِفَةُ الْمُنَافِقِينَ
“Kesimpulannya adalah hendaknya seorang muslim senantiasa menginginkan kebaikan bagi saudaranya, baik ketika dia ada ataupun tidak ada, dan janganlah dia hanya senang mencari muka ketika berada di hadapannya dan menggunjingnya apabila saudaranya itu tidak ada di hadapannya, karena sesungguhnyahal ini termasuk ciri orang-orang munafik.” (Tuhfat al-Ahwadzi [7/44] asy-Syamilah)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلًا فَقَالَ مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ قَالَ أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَفَلَا جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَيْ يَرَاهُ النَّاسُ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu ketika melalui setumpuk makanan -yang dijual- kemudian beliau memasukkan tangannya ke dalamnya lalu jari beliau menemukan basah-basah di dalamnya. Maka beliau berkata,“Wahai pemilik/penjual makanan, kenapa ini?”. Dia menjawab, “Terkena air hujan ya Rasulullah.” Maka Nabi berkata, “Mengapa kamu tidak meletakkannya di atas tumpukan makanan itu supaya orang-orang bisa melihatnya. Barangsiapa yang menipu maka dia bukan termasuk golongan kami.” (HR. Muslim)

ash-Shan’ani rahimahullah berkata:

وَالْحَدِيثُ دَلِيلٌ عَلَى تَحْرِيمِ الْغِشِّ وَهُوَ مُجْمَعٌ عَلَى تَحْرِيمِهِ شَرْعًا مَذْمُومٌ فَاعِلُهُ عَقْلًا
“Hadits ini merupakan dalil yang menunjukkan diharamkannya penipuan, dan hal itu adalah perkara yang telah disepakati keharamannya berdasarkan syari’at dan dicela pelakunya menurut logika.” (as-Subul as-Salam [4/134] asy-Syamilah)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:

ومن حقوق المسلم على المسلم أن تنصحه إذا استنصحك ، فتشير عليه بما تحبه لنفسك ، فإن من غش فليس منا ، فإذا شاورك في معاملة شخص أو في تزويجه أو غيره ، فإن كنت تعلم منه خيرا فأرشده إليه ، وإن كنت تعلم منه شرا ، فحذره ، وإن كنت لا تدري عنه ، فقل له : لا أدري عنه ، وإن طلب أن تبين له شيئا من الأمور التي تقتضي البعد عنه ، فبينه له
“Di antara kewajiban seorang muslim atas muslim yang lain adalah kamu harus menasehatinya jika dia meminta nasehat kepadamu, sehingga kamu akan menunjukkan kepadanya apa yang kamu senangi untuk dirimu sendiri, karena orang yang menipu bukan termasuk golongan kita. Apabila dia bermusyawarah kepadamu -meminta saran- ketika berhubungan dengan seseorang atau dalam urusan pernikahannya atau urusan yang lain, maka apabila kamu mengetahui kebaikan darinya maka arahkanlah ia kepadanya. 

Apabila kamu mengetahui keburukan darinya maka peringatkanlah dia darinya. Apabila kamu tidak mengetahui tentangnya maka katakanlah kepadanya; aku tidak tahu tentangnya. Apabila dia meminta kamu untuk menerangkan sesuatu perkara yang semestinya dia menjauh darinya maka terangkanlah hal itu kepadanya.” (adh-Dhiya’ al-Lami’ min al-Khuthab al-Jawami’ [1/233] asy-Syamilah)

Syaikh Abdullah bin Jarullah berkata:

وإذا استنصحك فانصح له أي إذا استشارك في عمل من الأعمال هل يعمله أم لا ؟ فانصح له بما تحب لنفسك فإن كان العمل نافعا من كل وجه فحثه على فعله وإن كان مضرا فحذره منه وإن احتوى على نفع وضر فاشرح له ذلك ووازن بين المنافع والمضار والمصالح والمفاسد وكذلك إذا شاورك في معاملة أحد من الناس أو التزوج منه أو تزويجه فأظهر له محض نصحك واعمل له من الرأي ما تعمله لنفسك وإياك أن تغشه في شيء من ذلك فمن غش المسلمين فليس منهم وقد ترك واجب النصيحة ، وهذه النصيحة واجبة على كل حال ولكنها تتأكد إذا استنصحك وطلب منك الرأي النافع
“Apabila dia meminta nasehat kepadamu maka berilah nasehat kepadanya, artinya apabila dia meminta masukan kepadamu mengenai suatu pekerjaan apakah dia sebaiknya melakukannya atau tidak? Maka nasehatilah dia dengan sesuatu yang kamu sukai bagi dirimu. Apabila pekerjaan itu bermanfaat dari berbagai sisi maka doronglah dia untuk melakukannya. 

Apabila hal itu berbahaya maka peringatkanlah dia darinya. Apabila hal itu mengandung manfaat dan madharat maka jelaskanlah kepadanya hal itu, dan bandingkanlah untuknya antara manfaat dan madharat, atau maslahat dan mafsadat yang ada. 

Demikian juga apabila dia meminta saran kepadamu dalam urusan muamalah dengan seseorang atau hendak menikah dengannya maka tunjukkanlah kepadanya sikap tulusmu dalam memberikan nasehat. Gunakanlah pendapat dalam menasehatinya dengan pendapat yang kamu sukai bagi dirimu. Janganlah kamu menipunya dalam perkara itu. Karena barangsiapa yang menipu kaum muslimin maka dia bukan termasuk golongan mereka dan dia telah meninggalkan kewajiban nasehat. 

Nasehat ini hukumnya wajib -secara mutlak- dalam kondisi apapun, akan tetapi kewajiban ini semakin ditekankan tatkala dia meminta nasehat kepadamu dan meminta saran yang bermanfaat kepadamu.” (Kamal ad-Din al-Islami wa Haqiqatuhu wa Mazayahu, hal 77. lihat juga Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal 114 asy-Syamilah)

عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ قَيْسٍ أَنَّ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ وَأَبَا جَهْمٍ خَطَبَانِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَّا أَبُو جَهْمٍ فَلَا يَضَعُ عَصَاهُ عَنْ عَاتِقِهِ وَأَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوكٌ لَا مَالَ لَهُ انْكِحِي أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ فَكَرِهْتُهُ ثُمَّ قَالَ انْكِحِي أُسَامَةَ فَنَكَحْتُهُ فَجَعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا
Dari Fathimah binti Qais radhiyallahu’anha, dia menuturkan bahwa suatu ketika Mu’waiyah bin Abi Sufyan dan Abu Jahm ingin melamarku, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun Abu Jahm, dia itu tidak pernah meletakkan tongkatnya dari bahunya. Adapun Mu’awiyah adalah orang yang miskin, tak berharta. Menikahlah dengan Usamah bin Zaid.” Namun aku tidak menyukainya. Lalu beliau bersabda, “Menikahlah dengan Usamah.” Maka akupun menikah dengannya sehingga Allah menjadikan kebaikan padanya (HR. Muslim)

an-Nawawi rahimahullah berkata:

وَفِيهِ دَلِيل عَلَى جَوَاز ذِكْر الْإِنْسَان بِمَا فِيهِ عِنْد الْمُشَاوَرَة وَطَلَب النَّصِيحَة وَلَا يَكُون هَذَا مِنْ الْغِيبَة الْمُحَرَّمَة بَلْ مِنْ النَّصِيحَة الْوَاجِبَة . وَقَدْ قَالَ الْعُلَمَاء إِنَّ الْغِيبَة تُبَاح فِي سِتَّة مَوَاضِع أَحَدهَا الِاسْتِنْصَاح
“Di dalam hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan bolehnya menyebutkan apa-apa yang terdapat pada diri seseorang ketika bermusyawarah dan meminta nasehat, dan hal ini tidak termasuk dalam perbuatan ghibah/menggunjing yang diharamkan, bahkan hal ini adalah nasehat yang wajib. Para ulama mengatakan bahwa ghibah diperbolehkan pada enam keadaan, salah satunya adalah ketika dimintai nasehat -pendapat tentang orang lain yang hendak dinikahi atau menjadi rekan bisnis dan semacamnya, pent-.” (Syarh Muslim [5/240] asy-Syamilah)

وقد سمع أبو تراب النخشبي أحمد بن حنبل وهو يتكلم في بعض الرواة فقال له: أتغتاب العلماء؟! فقال له: ويحك! هذا نصيحة، ليس هذا غيبة.
Abu Turab an-Nakhasyabi pernah mendengar Ahmad bin Hanbal ketika dia sedang membicarakan/mengkritik sebagian periwayat. Maka dia berkata kepadanya, “Apakah kamu menggunjing para ulama?!”. Maka beliau berkata kepadanya, “Celaka kamu! Ini adalah nasehat, ini bukan ghibah.” (disebutkan dalam al-Ba’its al-Hatsits, hal. 36 asy-Syamilah)

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang bisa menunaikan kewajiban yang agung ini dan menjadikan kita sebagai orang-orang yang saling memberikan nasehat dengan ikhlas karena-Nya. Wallahul muwaffiq. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel Muslim.Or.Id
Read more »
Ulama dan Dahsyatnya fitnah dunia

Ulama dan Dahsyatnya fitnah dunia

Abdillah bin Sulaiman menuturkan:

Umar bin al-Khaththab ra. pernah bertanya, “Siapakah manusia yang paling utama?”

Orang-orang menjawab, “Mereka yang biasa melakukan shalat.”

Umar berkata, “Sungguh mereka ada yang baik dan ada yang buruk.”

Mereka berkata lagi, “Para mujahid fi sabilillah.”

Umar berkata, “Mereka pun ada yang baik dan ada yang biasa berbuat dosa.”

Mereka berkata lagi, “Mereka yang biasa berpuasa.”

Umar berkata, “Mereka juga ada yang baik dan ada pula yang bermaksiat. Akan tetapi, sungguh yang paling mulia itu adalah orang yang wara dalam beragama, yang menyempurnakan ketaatannya kepada Allah Subhanahu wa ta'ala" (Ibn Abi ad-Dunya, Al-Wara, I/19)

Ulama dan Dahsyatnya fitnah dunia

Tentang wara pula, seorang ulama pernah berkata, “Wara mengantarkan hamba pada sikap zuhud. Zuhud mengantarkan hamba pada cinta kepada Allah Subhanahu wa ta'ala (Ibn Abi ad-Dunya, Az-Zuhd, I/288).

Para salafush-shalih sepanjang hidupnya biasa menghiasi diri dengan sikap wara ini. Karena sikap wara mereka, mereka selalu berupaya menjauhi fitnah dunia. Baik terkait harta, tahta, atau yang lainnya.

Mereka, misalnya, tak banyak yang tertarik dengan jabatan atau kekuasaan duniawi. Contohnya Imam Syafii. Ketika ditawari suatu jabatan, beliau menolak.

Demikian pula Imam Ahmad. Saat beliau ditawari untuk menjadi hakim pada zaman Bani Umayah yang terakhir, beliau pun enggan. Pada masa pemerintahan Abu Ja'far al-Manshur, saat beliau diminta kembali untuk menjadi hakim, beliau tetap menolak.

Semua itu mereka lakukan bukan karena jabatan dan kekuasaan itu haram, tetapi semata-mata karena mereka khawatir akan Hari Pertanggungjawaban. Sikap demikian tentu karena sikap wara mereka.

Sikap yang sama ditunjukkan oleh Ibnu Khairan, seorang ulama mazhab Syafii. Ia pernah menolak keras saat diminta untuk menjadi qadhi (hakim) karena sadar bahwa tanggung jawabnya sangat berat untuk dipikul.

Keputusan Ibnu Khairan menolak jabatan hakim menyebabkan Abu Hasan Ali bin Isa, salah satu pejabat era Khalifah al-Muqtadir, memutuskan untuk menghadiahkan rumahnya kepada Ibnu Khairan. Namun, Ibnu Khairan tetap enggan.

Ada yang lalu bertanya kepada sang pejabat mengenai keputusan itu. Sang pejabat itu pun menjawab, ”Tujuanku menyerahkan rumah itu hanya agar kelak ada yang menyampaikan bahwa pada zaman kita ini ada orang yang menghadiahkan rumahnya kepada Ibnu Khairan agar ia mau menerima jabatan hakim, namun ia menolak.”

Karena itulah para shalafush-shalih bukanlah tipikal orang-orang yang senang jika punya hubungan dekat dengan kekuasaan. Mereka bahkan selalu menjaga jarak dengan kekuasaan. Padahal sebagian dari para penguasa saat itu—yakni para khalifah—adalah orang-orang shalih. Mereka adalah para penguasa yang senantiasa menerapkan syariah Islam secara kaffah di tengah-tengah masyarakat.

Mengapa para salafush-shalih selalu menjaga jarak dengan kekuasaan?

Tentu karena mereka amat memahami apa yang pernah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu alahi wa salam., “Siapa saja yang mendatangi pintu-pintu penguasa akan terkena fitnah. Tidaklah seseorang semakin dekat dengan penguasa kecuali ia akan bertambah jauh dari Allah.” (HR Ahmad dan al-Baihaqi).

Mereka pun selalu mengingat sabda Rasulullah shallallahu alahi wa salam., “Sungguh qurra (para pengemban al-Quran) yang paling dibenci oleh Allah ialah yang mendatangi penguasa.” (HR Ibnu Majah).

Berbeda dengan zaman kini. Ada ulama yang bukan hanya bangga saat dekat dengan pusat kekuasaan. Di antara mereka bahkan ada yang ingin selalu berdekatan dengan penguasa. Dengan berbagai cara. Meski harus dengan menjual agama mereka. Mengapa ini bisa terjadi?

Barangkali zaman kini adalah zaman yang pernah diisyaratkan oleh Rasulullah shallallahu alahi wa salam, “Akan ada pada akhir zaman ulama yang menyeru manusia untuk mencintai akhirat, sedangkan ia sendiri tidak mencintai akhirat. Ia menyeru manusia agar zuhud di dunia, tetap ia sendiri tidak berlaku zuhud terhadap dunia.” (HR ad-Dailami).

Jauh-jauh hari Rasulullah shallallahu alahi wa salam pernah mengingatkan, “Sungguh Alah mencintai penguasa yang berinteraksi dengan ulama, tetapi membenci ulama yang mendekati penguasa. Sebabnya, ulama, ketika dekat dengan penguasa, yang diinginkan adalah dunia. Sebaliknya, penguasa, saat mendekati ulama, yang diinginkan adalah akhirat.” (HR ad-Dailami).

Sayang, hari ini ada di antara ulama dan penguasa yang perilakunya sama saja. Mereka saling mendekat. Sama-sama demi kepentingan duniawi. Ada ulama yang selalu mendekat kepada penguasa demi harta dan jabatan. Penguasa pun mendekati ulama demi meraih dukungan mereka. Demi meraih dan mempertahankan kekuasaan.

***
Mayoritas ulama salaf berpendapat bahwa hadis-hadis dan atsar di atas—yang mencela para ulama yang mendatangi para penguasa—berlaku secara muthlaq. Baik mereka diundang untuk mendatangi penguasa atau tidak. Baik merema diundang untuk kemaslahatan dunia atau selain itu. Dalam hal ini Sufyan ats-Tsauri berkata, “Jika penguasa mengundang kamu untuk mengajari mereka Qul Quwa AlLahu Ahad maka jangan kamu datangi dia.”

Inilah juga sikap yang ditunjukkan oleh Imam al-Bukhari. Sebagaimana dituturkan oleh Ibnu Munir:

Penguasa Bukhara pernah mengutus seseorang untuk mendatangi Imam al-Bukhari seraya membawa pesan, “(Katakan kepada Imam al-Bukhari), tolong bawakan kepadaku kitab Al-Jami (Shahih al-Bukhari) dan kitab At-Tarikh agar aku dapat mendengar langsung dari beliau.”

Imam al-Bukhari menyampaikan jawaban, “Katakan kepada dia, aku tidak akan menghinakan ilmu. Aku tidak akan mendatangi pintu-pintu penguasa. Jika dia butuh sesuatu dari kitab tersebut, suruh dia mendatangi masjidku atau rumahku.”

Begitulah Imam al-Bukhari. Karena sikap wara-nya, ia enggan mendatangi penguasa meski untuk mengajarkan ilmu. Apalagi untuk kepentingan duniawi dan pribadinya.

Sikap yang sama juga ditunjukkan oleh Muhammad bin Maslamah. Bahkan ia pernah berkata, “Lalat di atas kotoran lebih baik dari ulama yang berada di pintu penguasa.”

Kisah-kisah di atas antara lain disebutkan oleh Ibnu al-Jauzi dalam Shifat ash-Shafwah, Imam adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala, dll.

Demikianlah sikap salafush-shalih terhadap jabatan dan kekuasaan. Semua itu karena sikap wara mereka.

Bagaimana dengan saat ini?

Sayang, saat ini tak sedikit ulama yang seolah sangat bernafsu terhadap jabatan dan kekuasan duniawi. Ironisnya, untuk meraih “sekerat tulang” dunia itu, ada di antara mereka yang menghalalkan segara cara. Di antaranya dengan jualan agama.

Begitulah dahsyatnya fitnah dunia. Hanya ulama bertakwa yang bisa terhindar dari panah beracunnya.

Wa ma tawfiqi illa bilLah. []

Oleh: Arief B. Iskandar
Read more »
Rahasia Syukur, Sabar, dan Istighfar

Rahasia Syukur, Sabar, dan Istighfar

Dalam mukaddimah kitab Al Waabilush Shayyib, Imam Ibnul Qayyim mengulas tiga hal di atas dengan sangat mengagumkan. Beliau mengatakan bahwa kehidupan manusia berputar pada tiga poros: Syukur, Sabar, dan Istighfar. Seseorang takkan lepas dari salah satu dari tiga keadaan:

1- Ia mendapat curahan nikmat yang tak terhingga dari Allah, dan inilah mengharuskannya untuk bersyukur. Syukur memiliki tiga rukun, yang bila ketiganya diamalkan, berarti seorang hamba dianggap telah mewujudkan hakikat syukur tersebut, meski kuantitasnya masih jauh dari ‘cukup’. Ketiga rukun tersebut adalah:

Mengakui dalam hati bahwa nikmat tersebut dari Allah.Mengucapkannya dengan lisan.Menggunakan kenikmatan tersebut untuk menggapai ridha Allah, karena Dia-lah yang memberikannya.

Inilah rukun-rukun syukur yang mesti dipenuhi

2- Atau, boleh jadi Allah mengujinya dengan berbagai ujian, dan kewajiban hamba saat itu ialah bersabar. Definisi sabar itu sendiri meliputi tiga hal:

Menahan hati dari perasaan marah, kesal, dan dongkol terhadap ketentuan Allah.Menahan lisan dari berkeluh kesah dan menggerutu akan takdir Allah.Menahan anggota badan dari bermaksiat seperti menampar wajah, menyobek pakaian, (atau membanting pintu, piring) dan perbuatan lain yang menunjukkan sikap ‘tidak terima’ terhadap keputusan Allah.

Perlu kita pahami bahwa Allah menguji hamba-Nya bukan karena Dia ingin membinasakan si hamba, namun untuk mengetes sejauh mana penghambaan kita terhadap-Nya. Kalaulah Allah mewajibkan sejumlah peribadatan (yaitu hal-hal yang menjadikan kita sebagai abdi/budak-nya Allah) saat kita dalam kondisi lapang; maka Allah juga mewajibkan sejumlah peribadatan kala kita dalam kondisi sempit.

Banyak orang yang ringan untuk melakukan peribadatan tipe pertama, karena biasanya hal tersebut selaras dengan keinginannya. Akan tetapi yang lebih penting dan utama adalah peribadatan tipe kedua, yang sering kali tidak selaras dengan keinginan yang bersangkutan.

Ibnul Qayyim lantas mencontohkan bahwa berwudhu di musim panas menggunakan air dingin; mempergauli isteri cantik yang dicintai, memberi nafkah kepada anak-isteri saat banyak duit; adalah ibadah. Demikian pula berwudhu dengan sempurna dengan air dingin di musim dingin dan menafkahi anak-isteri saat kondisi ekonomi terjepit, juga termasuk ibadah; tapi nilainya begitu jauh antara ibadah tipe pertama dengan ibadah tipe kedua. Yang kedua jauh lebih bernilai dibandingkan yang pertama, karena itulah ibadah yang sesungguhnya, yang membuktikan penghambaan seorang hamba kepada Khaliqnya.

Oleh sebab itu, Allah berjanji akan mencukupi hamba-hamba-Nya, sebagaimana firman Allah,

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ
“Bukankah Allah-lah yang mencukupi (segala kebutuhan) hamba-Nya?” (QS. Az Zumar: 36).

Tingkat kecukupan tersebut tentulah berbanding lurus dengan tingkat penghambaan masing-masing hamba. Makin tinggi ia memperbudak dirinya demi kesenangan Allah yang konsekuensinya harus mengorbankan kesenangan pribadinya, maka makin tinggi pula kadar pencukupan yang Allah berikan kepadanya. Akibatnya, sang hamba akan senantiasa dicukupi oleh Allah dan termasuk dalam golongan yang Allah sebutkan dalam firman-Nya:

إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ وَكَفَى بِرَبِّكَ وَكِيلًا
“(Sesungguhnya, engkau (Iblis) tidak memiliki kekuasaan atas hamba-hamba-Ku, dan cukuplah Rabb-mu (Hai Muhammad) sebagai wakil (penolong)” (QS. Al Isra’: 65).

Hamba-hamba yang dimaksud dalam ayat ini adalah hamba yang mendapatkan pencukupan dari Allah dalam ayat sebelumnya, yaitu mereka yang benar-benar menghambakan dirinya kepada Allah, baik dalam kondisi menyenangkan maupun menyusahkan. Inilah hamba-hamba yang terjaga dari gangguan syaithan, alias syaithan tidak bisa menguasai mereka dan menyeret mereka kepada makarnya, kecuali saat hamba tersebut lengah saja.

Rahasia Syukur, Sabar, dan Istighfar

Sebab bagaimana pun juga, setiap manusia tidak akan bebas 100% dari gangguan syaithan selama dia adalah manusia. Ia pasti akan termakan bisikan syaithan suatu ketika. Namun bedanya, orang yang benar-benar merealisasikan ‘ubudiyyah (peribadatan) kepada Allah hanya akan terganggu oleh syaithan di saat dirinya lengah saja, yakni saat dirinya tidak bisa menolak gangguan tersebut… saat itulah dia termakan hasutan syaithan dan melakukan pelanggaran.

dengan demikian, ia akan beralih ke kondisi berikutnya:

3- Yaitu begitu ia melakukan dosa, segera lah ia memohon ampun (beristighfar) kepada Allah. Ini merupakan solusi luar biasa saat seorang hamba terjerumus dalam dosa. Bila ia hamba yang bertakwa, ia akan selalu terbayang oleh dosanya, hingga dosa yang dilakukan tadi justeru berdampak positif terhadapnya di kemudian hari.

Ibnul Qayyim lantas menukil ucapan Syaikhul Islam Abu Isma’il Al Harawi yang mengatakan bahwa konon para salaf mengatakan: “Seseorang mungkin melakukan suatu dosa, yang karenanya ia masuk Jannah; dan ia mungkin melakukan ketaatan, yang karenanya ia masuk Neraka”.Bagaimana kok begitu? Bila Allah menghendaki kebaikan atas seseorang, Allah akan menjadikannya terjerumus dalam suatu dosa (padahal sebelumnya ia seorang yang shalih dan gemar beramal shalih). 

Dosa tersebut akan selalu terbayang di depan matanya, mengusik jiwanya, mengganggu tidurnya dan membuatnya selalu gelisah. Ia takut bahwa semua keshalihannya tadi akan sia-sia karena dosa tersebut, hingga dengan demikian ia menjadi takluk di hadapan Allah, takut kepada-Nya, mengharap rahmat dan maghfirah-Nya, serta bertaubat kepada-Nya. Nah, akibat dosa yang satu tadi, ia terhindar dari penyakit ‘ujub (kagum) terhadap keshalihannya selama ini, yang boleh jadi akan membinasakan dirinya, dan tersebab itulah ia akan masuk Jannah.

Namun sebaliknya orang yang melakukan suatu amalan besar, ia bisa jadi akan celaka akibat amalnya tersebut. Yakni bila ia merasa kagum dengan dirinya yang bisa beramal ‘shalih’ seperti itu. Nah, kekaguman ini akan membatalkan amalnya dan menjadikannya ‘lupa diri’. Maka bila Allah tidak mengujinya dengan suatu dosa yang mendorongnya untuk taubat, niscaya orang ini akan celaka dan masuk Neraka.

Demikian kurang lebih penuturan beliau dalam mukaddimah kitab tadi, semoga kita terinspirasi dengan tulisan yang bersahaja ini.

Penulis: Ustadz Sufyan Basweidan, MA
Artikel Muslim.Or.Id
Read more »
Solusi Keluar dari Jeratan Riba

Solusi Keluar dari Jeratan Riba

Mungkin sebagian dari kita pernah terlilit utang. Ada yang bisa melunasinya bahkan ada pula yang belum mampu melunasinya.

Jika terlilit utang biasa bukan utang riba, artinya tidak ada bunga dan jatuh tempo, itu sedikit tidak memberatkan si pemilik utang.

Namun, bagaimana jika utang tersebut disertai bunga dan jangka waktu bayar atau disebut utang riba?

Tentu hal seperti ini akan lebih membebankan bukan?

Sebenarnya, entah itu utang biasa atau utang riba sama saja namanya utang harus segera dikembalikan kepada pemiliknya.

Lantas apa yang harus dilakukan si pemilik utang untuk menyelesaikan utang riba tersebut?

1. Bertaubat dari Riba

Seseorang harus bersungguh-sungguh tidak ingin meminjam uang dengan cara riba lagi.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk melakukan taubat yang tulus,

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁَﻣَﻨُﻮﺍ ﺗُﻮﺑُﻮﺍ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺗَﻮْﺑَﺔً ﻧَﺼُﻮﺣًﺎ
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8).

2. Perbanyak istighfar

Terdapat sebuah atsar dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah yang menunjukkan bagaimana faedah istighfar yang luar biasa.

“Sesungguhnya seseorang pernah mengadukan kepada A-Hasan tentang musim paceklik yang terjadi.
Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”.

Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kemiskinannya.
Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”.

Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kekeringan pada lahan (kebunnya).
Lalu Al-Hasan menasihatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”.

Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau karena sampai waktu itu belum memiliki anak.
Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”.

Kemudian setelah itu Al-Hasan Al-Bashri membacakan surat Nuh:
“Maka aku katakan kepada mereka:

‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai,”
(QS. Nuh: 10-12). (Riwayat ini disebutkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari, 11: 98).

Solusi Keluar dari Jeratan Riba

Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan pertolongan kepada orang-orang yang giat bekerja.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi ﷺ bersabda,
“Ketika hamba berada di setiap pagi, ada dua malaikat yang turun dan berdoa,
“Ya Allah berikanlah ganti pada yang gemar berinfak (rajin memberi nafkah pada keluarga).”
Malaikat yang lain berdoa,
“Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah (memberi nafkah),”
(HR. Bukhari, no. 1442 dan Muslim, no. 1010).

4. Bersikap lebih amanat

Ketika seseorang berhutang, orang tersebut harus amanat dalam utangnya.

Maksudnya, amanat ini adalah amanat untuk mengembalikannya. Sehingga membuat orang lain mempercayai kita.

Nabi ﷺ bersabda,

”Tunaikanlah amanat kepada orang yang menitipkan amanat padamu,” (HR. Abu Daud no. 3535 dan At Tirmidzi no. 1624, hasan shahih).

5. Bersikap hidup lebih sederhana dan qana’ah 

Ketika terlilit utang, hidup sederhana menjadi salah satu solusi.

Hal ini akan mengurangi pengeluaran dan lebih memprioritaskan pada pelunasan utang.

Sedangkan qana’ah sikap merasa cukup dan bersyukur atas apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada kita.

Rasulullah ﷺ bersabda,

“Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rizki yang cukup, dan qana’ah (merasa cukup) dengan rezeki tersebut.” (HR. Ibnu Majah, no. 4138. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

6. Jual aset untuk melunasi utang

Menjual aset yang kita miliki untuk melunasi utang tentu bukanlah sesuatu yang merugikan.

Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti akan memberikan pertolongan bagi orang yang sungguh-sungguh ingin melunasi utangnya.

Dari ‘Abdullah bin Ja’far, Rasulullah ﷺ bersabda,

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻣَﻊَ ﺍﻟﺪَّﺍﺋِﻦِ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻘْﻀِﻰَ ﺩَﻳْﻨَﻪُ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻓِﻴﻤَﺎ ﻳَﻜْﺮَﻩُ ﺍﻟﻠَّﻪُ
“Allah akan bersama (memberi pertolongan pada) orang yang berutang (yang ingin melunasi utangnya) sampai dia melunasi utang tersebut selama utang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah,” (HR. Ibnu Majah, no. 2400. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Sumber: Rumaysho.com
Read more »
Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَعَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ جَمِيعًا عَنْ إِسْمَعِيلَ قَالَ ابْنُ أَيُّوبَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ أَخْبَرَنِي سَعْدُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ قَيْسٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ ثَابِتِ بْنِ الْحَارِثِ الْخَزْرَجِيِّ عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ حَدَّثَهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِرواه مسلم
Dari Abu Ayyub Al Anshari radliallahu 'anhu, bahwa ia telah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: *"Siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian mengiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa satu tahun" H.R. Muslim (w. 261 H)

Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

Istifadah:

Menurut mazhab Syafi'i, Ahmad dan Daud, puasa enam hari di bulan Syawal hukumnya sunnah karena berdasarkan hadis ini.

Makna dari "mengiringi" di sini, ialah tidak mesti berpuasa 6 hari berturut-turut setelah Ramadhan. Meski seseorang berpuasa dengan hari yang terpisah-pisah, atau berpuasa di akhir bulan Syawal, ia tetap mendapatkan fadhilah puasa Syawal. Akan tetapi, lebih afdal baginya untuk berpuasa 6 hari berturut-turut setelah 'Idul Fitri.

Adapun makna "seperti berpuasa satu tahun", adalah karena setiap satu amal kebaikan dibalasi (minimal) dengan 10 kali lipat. 

Jadi, seseorang yang telah melakukan puasa Ramadhan sebulan penuh, seolah-olah ia berpuasa 300 hari/10 bulan (30 hari Ramadhan dikali 10 kebaikan=300 hari). 

Kemudian bila mengiringinya dengan puasa 6 hari di bulan Syawal, seolah-olah ia berpuasa 60 hari/2 bulan (6 hari Syawal dikali 10 kebaikan=60 hari).
Sehingga totalnya 360 hari=1 tahun.

[Lembaga Kajian & Riset Rasionalika Darus-sunnah]
Read more »
Sepenggal Kain Penutup Wajah (Cadar)

Sepenggal Kain Penutup Wajah (Cadar)

(Maaf sebelumnya) Celana dalam, adalah sepotong kain yang mengalami perkembangan produksi.

Dahulu, sebelum Masehi orang-orang tidak merasa nyaman ketika datang haid atau terbuka begitu saja tanpa ada sesuatu yang menempel.

Maka ide menutup pun mulai muncul di zaman Fir'aun, dan konon yang hanya bisa menggunakan celana dalam adalah hanya para bangsawan.

Lelaki pun demikian, mungkin terasa sedikit merepotkan berlari kalau tidak menggunakan celana dalam.

Lagi-lagi celana dalam saat itu hanya bisa dipakai oleh orang-orang khusus yang memiliki kedudukan.

Sepenggal Kain Penutup Wajah (Cadar)

Saat ini, celana dalam sudah menjadi konsumsi masyarakat umum karena kebutuhan, yang membedakan hanya kualitas dan harga.

Celana dalam tak lebih berharga dari penutup wajah (cadar). Karena terkadang cadar harganya lebih mahal dari celana dalam, yang murah hanya masker biasa.

Cadar bagi wanita dahulu, adalah sesuatu yang berharga, dan tidak ada yang menggunakannya kecuali para bangsawan dan para istri dan anak orang terhormat.

Walau itu hanya sepotong kain, tapi kain itu akan melindungi kehormatan sebuah keluarga dahulu kala.

Bagi orang bijak, membicarakan kecantikan istri dan anak orang adalah sesuatu yang tidak sopan, bahkan bisa mengundang cemburu.

Bagaimana bisa, seorang lelaki asing tiba-tiba mengatakan istrimu cantik, anak gadismu mempesona di hadapan suami dan orang tuanya, dan kecantikan biasanya dilihat dari wajah.

Saya tulis ini, tidak untuk berdebat antara bercadar dan tidak, saya tulis ini hanya ingin mengatakan kalau cadar itu hanya sepotong kain; tidak seramkan?

Jangan hanya menilai seseorang dari tampilan, karena buah kedondong terlihat licin tapi di dalam ada biji yang tajam.

Jika celana dalam menjadi konsumsi umum baik yang jahat atau orang baik, maka mungkin cadar juga demikian, dahulu orang terhormat yang pakai, maka sekarang mungkin pelacur pun pakai.

Namun cadar bagi wanita baik-baik adalah simbol kehormatan dan cara menjaga kecantikan untuk suami tercinta.

Adapun wanita yang kurang baik, maka cadar hanyalah kamuflase belaka; karena teroris pun ada yang pura-pura pakai cadar begitu juga koruptor.

Tidak usah bingung kenapa orang jahat juga pakai cadar, karena ada yang lebih mengherankan lagi, orang jahat juga kadang pakai al-Qur'an untuk mengalabui manusia.

Oleh: Irsun Anwar Badrun
repost from whatsapp group
Read more »
Beranda
-->