IBX5A47BA52847EF Maulid Yesus (Isa Al Masih) adakah anjurannya dalam injil ? ini jawabannya

Maulid Yesus (Isa Al Masih) adakah anjurannya dalam injil ? ini jawabannya

Bismillah, Assalamu'alaikum
Alhamdulillah washshalatu wassalamu alaa rasulillah, amma ba'du

Seperti kita ketahui, perayaan maulid Isa Al Masih beberapa hari lagi akan diperingati oleh kaum nasrani. Kita sebagai umat Islam, wajib mengimani bahwa Nabi Isa Alaihis salam benar adanya, dan diutus oleh Allah ta'ala. Oleh kaum agama Nasrani, Nabi Isa inilah yg dijadikan sesembahan oleh mereka. Dan kita wajib mengingkari/menafikan keyakinan akan hal ini.

Agama yang dibawa oleh Nabi Isa adalah agama Tauhid, yaitu (1)meniadakan segala sesembahan (illah) atau mengingkari tuhan-tuhan yang diibadahi/disembah, (2)menetapkan segala bentuk ibadah hanya kepada Allah ta'ala.

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS Al Maidah 72)
kitab injil

Demikianlah yang telah ditetapkan oleh Allah ta'ala, seperti pada surat Al Maidah 72 diatas, dan masih banyak ayat-ayat lainnya.

Dari manakah peringatan Maulid Isa Al Masih ini pertama kali diadakan ?

Sebenarnya, ratusan tahun setelah Nabi Isa diangkat oleh Allah ta'ala ke langit, tidak ada satupun perayaan maulid tersebut.

Memang kaum yang suka sekali merayakan sesuatu dengan perayaan-perayaan adalah kaum Yahudi.

Lihatlah apa yang akan dilakukan oleh orang Yahudi saat mengetahui Al Maidah ayat 3 yang berbunyi :

Allah Ta’ala berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al Ma’idah: 3)

Dari Thariq bin Syihab, orang-orang Yahudi berkata kepada Umar radhiallahu anhu : Sesungguhnya kalian membaca suatu ayat yang seandainya diturunkan pada kami pasti kami jadikan hari itu sebagai hari raya (perayaan). "Sesungguhnya aku tahu saat ayat itu turun, pada hari apa ayat itu turun dan dimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam saat ayat itu turun. Ayat itu turun di Arafah saat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam wuquf di Arafah. (Muttafaqun alaih)

Jelas bahwa sejak jaman dahulu, kaum Yahudi suka sekali mengadakan perayaan-perayaan, dan ini juga diikuti oleh turunannya, yaitu kaum agama syiah.

Banyak sekali perayaan dalam agama syiah, hari lahir Khadijah, Fatimah, Ali, Hasan, Husen, dan nama-nama lainnya.

Kita lihat sejarah mulainya Maulid Isa Al Masih.

Peringatan Natal baru tercetus antara tahun 325-354 oleh Paus Liberius, yang ditetapkan tanggal 25 Desember, sekaligus menjadi momentum penyembahan Dewa Matahari, yang kadang juga diperingati pada tanggal 6 Januari, 18 Oktober, 28 April atau 18 Mei. Oleh Kaisar Konstantin, tanggal 25 Desember tersebut akhirnya disahkan sebagai kelahiran Yesus (Natal).

Perintah untuk menyelenggarakan peringatan Natal tidak ada dalam Bibel dan Yesus tidak pernah memberikan contoh ataupun memerintahkan pada muridnya untuk menyelenggarakan peringatan kelahirannya.

Perayaan Natal baru masuk dalam ajaran Kristen katolik pada abad ke-4 M. Dan peringatan inipun berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala. Dimana kita ketahui bahwa abad ke-1 sampai abad ke-4 M dunia masih dikuasai oleh imperium Romawi yang paganis politheisme.

Ketika Konstantin dan rakyat Romawi menjadi penganut agama Katolik, mereka tidak mampu meninggalkan adat/budaya pangannya, apalagi terhadap pesta rakyat untuk memperingati hari Sunday (sun=matahari: day=hari) yaitu kelahiran Dewa Matahari tanggal 25 Desember.
(Ukhty Irene Handono)

Tampaknya tidak pernah ada ibadah khusus untuk kelahiran Kristus sampai perayaan itu diadakan di Gereja Timur (atau Gereja Kristen Yunani) pada tahun 220 TM. Gereja Barat (atau Latin) mulai merayakannya sekitar satu abad kemudian. Keduanya mengambil tanggal yang sama sekitar tahun 380 TM. Akan tetapi ada beberapa penulis yang menegaskan bahwa kelahiran Kristus ini sungguh-sungguh dirayakan di antara orang-orang Kristen mula-mula pada abad kedua. 

Para ahli kronologi tidak sependapat dengan tahun yang pasti dari kelahiran Kristus, tetapi sebagian besar pihak percaya jatuhnya tepat pada tahun 5 SM. Perayaan pertama dilaksanakan pada tanggal 6 Januari, tetapi menjelang akhir abad keempat berubah menjadi 25 Desember. Konon pohon Natal pertama-tama dipasang di Eropa pada abad kedelapan atau kesembilan, dan "ini diperkenalkan oleh seorang puteri dari Jerman atau Hongaria.

(alkitab.sabda.org)

Catatan pertama peringatan hari Natal adalah tahun 336 Sesudah Masehi pada kalender Romawi kuno, yaitu pada tanggal 25 Desember. Perayaan ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh perayaan orang kafir (bukan Kristen) pada saat itu. Sebagai bagian dari perayaan tersebut, masyarakatmenyiapkan makanan khusus, menghiasi rumah mereka dengan daun-daunan hijau, menyanyi bersama dan tukar-menukar hadiah. Kebiasaan-kebiasaan itu lama-kelamaan menjadi bagian dari perayaan Natal. Pada akhir tahun 300-an Masehi agama Kristen menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi.

(wikipedia)

Pada saat kekaisaran Romawi, tanggal 25 Desember adalah hari perayaan dewa matahari. Setiap tanggal tersebut diadakan festival meriah untuk merayakan dewa tersebut.

Saat itu sudah banyak orang Romawi yang menjadi pemeluk agama Kristen. Namun banyak pula umat Kristen pada masa itu yang ikut merayakan hari lahirnya dewa matahari.

Para Bapa Gereja melihat bahwa budaya tersebut tidak benar. Umat Kristen tentu saja tidak boleh merayakan hari lahirnya dewa matahari.

Untuk mencegah umat Kristen datang ke festival matahari tersebut, Bapa Gereja pada saat itu membuat perayaan sendiri. Tanggal 25 Desember ditetapkan sebagai hari kelahiran Yesus Kristus.

(seputarNatal.com)

Jelas, bahwa perayaan Maulid Isa Al Masih tidak pernah diajarkan oleh Isa Al Masih ataupun oleh sahabat-sahabatnya.

Mengapa perayaan Maulid Isa Al Masih tersebut diadakan ?

Mengapa umat Kristen merayakan Natal, padahal dulu para rasul tidak merayakan natal?

Para rasul tidak membuat sekolah Minggu; apakah sekolah Minggu terus dihilangkan?

Para rasul tidak menggunakan musik ketika beribadat; apakah musik dalam ibadat sebaiknya dihilangkan saja?

Para rasul tidak beribadat di gereja; apakah gereja terus dihancurkan?

Para rasul memang tidak merayakan perayaan Natal. Natal baru mulai dirayakan sekitar abad ke-4 M.

Namun para Bapa Gereja berpendapat Natal adalah perayaan penting untuk memuliakan Tuhan, dan baik adanya. Oleh karena itu perayaan Natal tetap dipertahankan sampai sekarang.

(seputarnatal.com)

Begitulah, Bahwa perayaan maulid Isa Al Masih, gereja, musik adalah BID'AH yang tidak pernah dicontohkan ataupun diajarkan oleh Isa Al Masih.

Dari uraian diatas, bahwa kaum Nasrani adalah kaum yang suka membuat ibadah baru, mereka menganggap ibadah yg baru tersebut adalah kebaikan.
Sangat berbeda dengan agama Islam, Hukum asal ibadah adalah terlarang sampai ada perintah/dalil.
Agama bukan dengan logika, agama mesti dibangun di atas dalil. Dalam meyakini suatu akidah dalam Islam mesti dengan dalil. Dalam menetapkan suatu amalan dan hukum pun dengan dalil.

Dari Ali radhiallahu anhu berkata :

Seandainya agama dengan logika, maka tentu bagian bawah khuf (sepatu) lebih pantas untuk diusap daripada atasnya. Sungguh aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap bagian atas khufnya (sepatunya).” (HR. Abu Daud no. 162. Ibnu Hajar mengatakan dalam Bulughul Marom bahwa sanad hadits ini hasan. Syaikh Al Albani menshahihkan hadits ini).

Kata Ash Shon’ani rahimahullah, “Tentu saja secara logika yang lebih pantas diusap adalah bagian bawah sepatu daripada atasnya karena bagian bawahlah yang langsung bersentuhan dengan tanah.” Namun kenyataan yang dipraktekkan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah demikian. Lihat Subulus Salam, 1: 239.

Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat dan dan menjadi pelajaran untuk kita khususnya kami. Wabillahi taufiq, Wassalamu'alaikum,

Al Fakir M Reza Lisni

(sumber : Al Qur'an, Kitab Hadits Kutubusittah, Ust M Abduh Tuasikal, Ukhty Irene Handono, alkitab.sabda.or, kajian Sunnah lainnya)
♻ Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini, semoga bermanfaat. Jazakumullahu khoiron
broadcast whatsapp 1hari 1ilmu
Disclaimer: jika ada kesalahan dari sisi penulisan, link rusak, sumber referensi dll harap konfirmasi via whatsapp ke 0895629036221 untuk diperbaiki

-->