IBX5A47BA52847EF BERAGAMA ISLAM DGN DALIL BUKAN LOGIKA

BERAGAMA ISLAM DGN DALIL BUKAN LOGIKA

Saudaraku, Islam adalah agama Dalil, agama Hujjah....

Untuk memahami Islam bukan dgn menggunakan pemahaman logika, mengikuti perasaan maupun akal pikiran seseorang, terlebih-lebih kalau memahami Islam mengikuti hawa nafsu, mimpi, ambisi ataupun syahwat kaum tertentu.

Untuk taat pada Allah dan Rasul-Nya jangan sekali-kali meminta ijin pada akal, artinya akal mau menyetujui atau tidak, akal bisa nalar atau tidak, logis atau tidak, rasional atau tidak, ada relevansi atau tidak......

Tidak usah peduli, tetap taati Allah dan Rasul-Nya. Akal bisa salah, akal bisa berbohong dan akal bisa keliru dalam menarik kesimpulan.

Tetapi Al Quran dan Sunnah Rasulullah yg shohih adalah haq, selalu benar dan tidak pernah salah, dalam situasi apapun, kapanpun dan dimanapun.

Mana contoh?

Apakah perintah Allah pada nabi Ibrahim utk menyembelih anaknya perintah yg bisa diterima akal manusia? Tentu tidak, malah akal manusia akan menganggapnya sebagai'perintah gila'.

Walaupun begitu, Nabi Ibrahim tetap menjalankan perintahNya dgn mengesampingkan akal dan logikanya.

BERAGAMA ISLAM DGN DALIL BUKAN LOGIKA

Contoh lain? Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:“Seandainya agama dengan logika, maka tentu bagian bawah khuf (sepatu) lebih pantas untuk diusap daripada atasnya. Sungguh aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap bagian atas khufnya (sepatunya).” (HR. Abu Daud no. 162.

Ibnu Hajar mengatakan sanad hadits ini hasan, Syaikh Al Albani menshahihkan hadits ini).

Agama Islam mengajak manusia untuk mengikuti ajarannya berdasarkan dalil atau hujjah yang nyata, yaitu mengikuti apa yang difirmankan oleh Allah (Al Quran), mengikutiapa yang disabdakan Rasulullah (Hadits Shahih) dan dgn mengikuti pemahaman sahabat.

Qolallah, wa qola rasulullah 'ala fahmi sahabah.

Seperti firman Allah Subhanawata'ala: "Katakanlah : Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah, dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik". (QS. Yusuf : 108).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam juga bersabda: “Wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham.” (HR. Tirmidzi no. 2676).

Imam Syafi’i pernah mengatakan:“Setiap perkataanku yg ternyata bertentangan/menyelisihi hadits yg shahih, maka ambil hadits itu dan tinggalkan perkataanku”.

Oleh karena itu...Jika terkait beragama, bukan waktunya lagi untuk mengikuti perkataan-perkataan profesor fulan atau pemikiran filsuf fulan jika tanpa didasari hujjah yg nyata.

Jika pendapat profesor, pemikir filsuf maupun pendapat kyai/ulama fulan tsb berdasarkan firman Allah atau perkataan Rasulullah, maka ikutilah. Apabila pendapat tersebut menyelisihinya, maka tinggalkanlah.

Saudaraku....Teruslah istiqomah untuk selalu diberikan ilmu yg lurus oleh Allah untuk selalu berpegang teguh pada Al Quran dan Sunnah dgn pemahaman sahabat, jgn menyelisihnya walau tidak sesuai logika kita, agar kita tidak termasuk orang-orang musyrik.

Wallohu A'lam bi showab

(Sumber : Catatan dr Kajian Ilmu "Bahaya Beragama tanpa Dalil" oleh Ustadz Muhtarom حفظه الله تعالى )
♻ Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini, semoga bermanfaat. Jazakumullahu khoiron
Disclaimer: jika ada kesalahan dari sisi penulisan, ukuran font, link rusak, sumber referensi dll harap konfirmasi via whatsapp ke 0895629036221 untuk diperbaiki