Tak tahan tinggal di pesantren ? belajarlah dari adaptasi bunglon

Tak tahan tinggal di pesantren ?

Harus disadari bahwa kita tidak hidup di dunia mimpi, atau negeri hayalan dan angan-angan yang semua berjalan dengan keinginan. Kita hidup di alam nyata, di kehidupan dunia yang telah ditakdirkan. Disini ada banyak hal yang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Dan terkadang hal itu adalah sesuatu yang kita benci.

Namun apa boleh buat, pena takdir telah diangkat, kertasnya telah mengering sejak sekian lama, jauh sebelum diciptakannya langit dan bumi. Mau tidak mau, suka atau tidak semua harus kita jalani. Tidak ada yang bisa kita lakukan selain mengatakan pada jiwa yang merasa berat ini, “nikmati saja ini semua, karena bisa jadi inilah yang terbaik untuk kita.”

Allah ﷻ berfirman :

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 216)

Tinggal di lingkungan pondok pesantren, tentu ada banyak hal yang tidak kita harapkan dan bahkan jauh dari apa yang kita bayangkan sebelum kita datang. Kekurangan disana sini sering kita jumpai. Jika memang keadaan itu membuat kita lemah dan patah semangat maka patut rasanya kita belajar dari seekor bunglon dalam menjalani kehidupan.

Allah ﷻ memberikan suatu kemampuan luar biasa kepada bunglon. Dimana hewan yang satu ini mampu merubah warna tubuhnya sesuai dengan warna tempat ia berada. Dengan begitu ia mampu melindungi diri dari musuh atau hewan lain yang menjadi pemangsanya.

Inilah yang harus kita tiru. Kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Dimanapun kita berada, bagaimanapun keadaannya, kita bisa menempatkan serta menyesuaikan diri dengan keadaan tersebut.

Tanamkan dalam pikiran, lingkungan atau kehidupan itu tidak akan mau, atau jarang yang sesuai dengan keinginan kita. Oleh karena itulah, kita yang harus menyesuaikan diri dengan kehidupan dan lingkungan kita tinggal agar kita bisa hidup bahagia.

Sebagai seorang penuntut ilmu, hal ini harus kita miliki. Jika kita tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat kita menuntut ilmu yang terkadang banyak kekurangannya niscaya kita tidak akan mendapatkan ilmu. Karena apabila setiap kali kita menjumpai kekurangan lantas kita pindah ke tempat lain maka dimana kita akan memperoleh ilmu, sebab di tempat lain itupun tentu ada pula kekurangannya. Segalanya telah kita habiskan; umur, biaya dan seterusnya hanya untuk safari ma’had sedangkan ilmu tidak kita dapatkan.

Berhentilah berkeluh kesah. Dari pada mencela gelap lebih baik menyalakan lilin. Jangan mengeluh dengan kekurangan-kekurangan yang ada. Kamar mandi yang terbatas, airnya yang sering habis, udara yang panas, makanan yang kurang enak dan lain-lain, semua itu bukanlah hambatan dalam menuntut ilmu apabila kita bisa menjadi seperti bunglon.

Sesuaikan diri dengan kekurangan-kekurangan tersebut. Pandai-pandailah mensiasati diri, cerdas dalam mengatur waktu dan membaca keadaan. Bersabarlah, ingat bahwa kesulitan para ulama’ dalam mencari ilmu di zaman dahulu jauh lebih luar biasa. Kekurangan serta kesulitan yang ada pada kita hari ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kesulitan mereka.

Semoga bermanfaat.

Ditulis oleh: Zahir al-Minangkabawi
artikel maribaraja.com
Baca Juga
    ______________________________
    support channel youtube Mufid Jiddan dengan klik subcribe dibawah ini, syukon sobat
    ______________________________
    Info Penting:
    yuk share artikel dakwahpost.com, jika ada kesalahan atau saran membangun, japri via whatsapp ke 0895629036221. syukron atas perhatiannya

    No comments: