IBX5A47BA52847EF Seringlah lakukan silahturahmi karna keutamaannya besar

Seringlah lakukan silahturahmi karna keutamaannya besar

Ibnu Hajar dalam Al-Fath menjelaskan, “ Silaturahim dimaksudkan untuk kerabat, yaitu yang punya hubungan nasab, baik saling mewarisi ataukah tidak, begitu pula masih ada hubungan mahrom ataukah tidak.”

➡Dari Abu Ayyub Al-Anshari, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang amalan yang dapat memasukkan ke dalam surga, lantas Rasul menjawab,

ﺗَﻌْﺒُﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻻَ ﺗُﺸْﺮِﻙُ ﺑِﻪِ ﺷَﻴْﺌًﺎ ، ﻭَﺗُﻘِﻴﻢُ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓَ ، ﻭَﺗُﺆْﺗِﻰ ﺍﻟﺰَّﻛَﺎﺓَ ، ﻭَﺗَﺼِﻞُ ﺍﻟﺮَّﺣِﻢَ
“ Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik kepada-Nya, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahim (dengan orang tua dan kerabat). ” (HR. Bukhari, no. 5983)

keutamaan silahturahmi

➡Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu , Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﺫَﻧْﺐٍ ﺃَﺟْﺪَﺭُ ﺃَﻥْ ﻳُﻌَﺠِّﻞَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻟِﺼَﺎﺣِﺒِﻪِ ﺍﻟْﻌُﻘُﻮﺑَﺔَ ﻓِﻰ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ – ﻣَﻊَ ﻣَﺎ ﻳَﺪَّﺧِﺮُ ﻟَﻪُ ﻓِﻰ ﺍﻵﺧِﺮَﺓِ – ﻣِﺜْﻞُ ﺍﻟْﺒَﻐْﻰِ ﻭَﻗَﻄِﻴﻌَﺔِ ﺍﻟﺮَّﺣِﻢِ
“ Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya bagi para pelakunya [di dunia ini] -berikut dosa yang disimpan untuknya [di akhirat]- daripada perbuatan melampaui batas (kezhaliman) dan memutus silaturahim (dengan orang tua dan kerabat) .” (HR. Abu Daud, no. 4902; Tirmidzi, no. 2511; dan Ibnu Majah, no. 4211, shahih)

➡Abdullah bin ’Amr bin Al-‘Ash

radhiyallahu ‘anhuma berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻟَﻴْﺲَ ﺍﻟْﻮَﺍﺻِﻞُ ﺑِﺎﻟْﻤُﻜَﺎﻓِﺊِ ، ﻭَﻟَﻜِﻦِ ﺍﻟْﻮَﺍﺻِﻞُ ﺍﻟَّﺬِﻯ ﺇِﺫَﺍ ﻗَﻄَﻌَﺖْ ﺭَﺣِﻤُﻪُ ﻭَﺻَﻠَﻬَﺎ
“ Seorang yang menyambung silahturahmi bukanlah seorang yang membalas kebaikan seorang dengan kebaikan semisal. Akan tetapi seorang yang menyambung silahturahmi adalah orang yang berusaha kembali menyambung silaturahim setelah sebelumnya diputuskan oleh pihak lain.” (HR. Bukhari, no. 5991)

➡Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seorang pria mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamdan berkata, “Wahai Rasulullah, saya punya keluarga yang jika saya berusaha menyambung silaturahim dengan mereka, mereka berusaha memutuskannya, dan jika saya berbuat baik kepada mereka, mereka balik berbuat jelek kepadaku, dan mereka bersikap acuh tak acuh padahal saya bermurah hati kepada mereka”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “ Kalau memang halnya seperti yang engkau katakan, (maka) seolah- olah engkau memberi mereka makan dengan bara api dan pertolongan Allah akan senantiasa mengiringimu selama keadaanmu seperti itu .” (HR. Muslim, no. 2558)

➡Abdurrahman bin ‘Auf berkata bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ : ﺃَﻧﺎ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤﻦُ، ﻭَﺃَﻧﺎ ﺧَﻠَﻘْﺖُ ﺍﻟﺮَّﺣِﻢَ، ﻭَﺍﺷْﺘَﻘَﻘْﺖُ ﻟَﻬَﺎ ﻣِﻦِ ﺍﺳْﻤِﻲ، ﻓَﻤَﻦْ ﻭَﺻَﻠَﻬَﺎ ﻭَﺻَﻠْﺘُﻪُ، ﻭَﻣَﻦْ ﻗَﻄَﻌَﻬَﺎ ﺑﺘَﺘُّﻪُ
“Allah ’azza wa jallaberfirman: Aku adalah Ar Rahman. Aku menciptakan rahim dan Aku mengambilnya dari nama-Ku. Siapa yang menyambungnya, niscaya Aku akan menjaga haknya. Dan siapa yang memutusnya, niscaya Aku akan memutus dirinya.” (HR. Ahmad, 1:194, shahih lighoirihi ).

➡Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻣَﻦْ ﺳَﺮَّﻩُ ﺃَﻥْ ﻳُﺒْﺴَﻂَ ﻟَﻪُ ﻓِﻰ ﺭِﺯْﻗِﻪِ ، ﻭَﺃَﻥْ ﻳُﻨْﺴَﺄَ ﻟَﻪُ ﻓِﻰ ﺃَﺛَﺮِﻩِ ، ﻓَﻠْﻴَﺼِﻞْ ﺭَﺣِﻤَﻪُ
“ Siapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturahim .” (HR. Bukhari, no. 5985 dan Muslim, no. 2557)

➡Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,

ﻣَﻦِ ﺍﺗَّﻘَﻰ ﺭَﺑَّﻪُ، ﻭَﻭَﺻَﻞَ ﺭَﺣِﻤَﻪُ، ﻧُﺴّﻰﺀَ ﻓِﻲ ﺃَﺟَﻠِﻪ ﻭَﺛَﺮَﻯ ﻣَﺎﻟَﻪُ، ﻭَﺃَﺣَﺒَّﻪُ ﺃَﻫْﻠُﻪُ
“Siapa yang bertakwa kepada Rabb-nya dan menyambung silaturahim niscaya umurnya akan diperpanjang dan hartanya akan diperbanyak serta keluarganya akan mencintainya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 58, hasan )

Wallahu waliyyut taufiq. Moga Allah memberi taufik dan hidayah untuk berakhlak yang luhur.

Referensi:

1. Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj . Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm;

2. Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram . Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 10:21-24.
♻ Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini, semoga bermanfaat. Jazakumullahu khoiron
Disclaimer: jika ada kesalahan dari sisi penulisan, ukuran font, link rusak, sumber referensi dll harap konfirmasi via whatsapp ke 0895629036221 untuk diperbaiki