-->

Syarah 40 Hadits Pilihan Tentang Prinsip Manhaj Dalam Beragama

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Safari Tabliq Akbar

  • Kamis 16 Dzulqa'dah 1440 H - 18 Juli 2019 M
  • waktu ba'da Maghrib- selesai.
  • bersama Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat hafidzahullah di
  • Masjid Umar bin Khattab-Pekanbaru.

Thema : Syarah 40 Hadits Pilihan tentang PRINSIP MANHAJ DALAM BERAGAMA (karya ilmiah Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat)

Hadist Arba'in (Abu Unaisah) ini berisikan risalah tentang 40 Hadits yang menjelaskan tentang manhaj Islam (sikap dan cara atau metode yang beragama seorang) dan aqidah seorang Muslim/ah yang baik dan benar. Dan kepulan hadits ini merupakan pelengkap dan zawa'id (tambahan) dari kitab kumpulan hadits-hadits arba'in karangan Imam an-Nawawi rahimahullah.

Syarah 40 Hadits Pilihan

Saat ini sudah banyak orang beragama serampangan. Dan tidak ada atau tidak banyak orang yang mengarah kaum muslimin tadi kepada cara beragama yang baik dan benar. Sebab awal mula datangnya Islam itu adalah ghariiban (asing) dan suatu saat nanti Islam tadi akan kembali ghariiban. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab pada halaman 100 yakni hadist ke 38 tentang Islam akan Kembali Menjadi Asing. HR. Imam Muslim No. 145. Ibnu Majah No. 3986.

Semua Nabi dan Rasul diutus ke muka bumi ini adalah menyampakam dan mengajarkan tentang Agama Islam. Kedatangan Islam tentu bertujuan untuk meluruskan aqidah manusia dari kesyirikan kepada Allah Ta'ala. Demikian pula ajaran dan tugas Nabi shalallaahu 'alaihi wa sallam ketika diperintahkan untuk mengajarkan Islam di tanah Arab agar meluruskan Tauhid kaum kafir qurays. Hal itu dapat kita lihat senagaimana dijelaska. Allah Ta'ala dalam Qur'an

As-Saffat ayat : 35-37

إِنَّهُمْ كَانُوٓا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَآ إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ
"Sungguh, dahulu apabila dikatakan kepada mereka, La ilaha illallah (Tidak ada tuhan selain Allah), mereka menyombongkan diri," (QS. As-Saffat 37: Ayat 35)

وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوٓا ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجْنُونٍ
"dan mereka berkata, Apakah kami harus meninggalkan sesembahan kami karena seorang penyair gila?" (QS. As-Saffat 37: Ayat 36)

بَلْ جَآءَ بِالْحَقِّ وَصَدَّقَ الْمُرْسَلِينَ
"Padahal dia (Muhammad) datang dengan membawa kebenaran dan membenarkan rasul-rasul (sebelumnya)." (QS. As-Saffat 37: Ayat 37)

Pada ayat di atas menjelaskan bagaimana dan menunjukan bagaimana cara orang-orang kafir qurays beragama tanpa didasari oleh ilmu melainkan taqlit buta saja sebagaimana agama dan kebiasaan agak nenekmoyang mereka atau agama bapak-bapak mereka.

Dan ketika Rasulullaah shalallaahu 'alaihi wa sallamwngajak kepada cara beragama yang baik dan benar sebagai mana tuntunan Allah Ta'ala maka mereka bukannya tidak tahu dan paham apa yang disampaikan akan tetapi mereka paham hingga mereka menolak ajaran Tauhid tersebut dimana mereka diminta untuk meninggalkan tuhan-tuhan mereka yang banyak dan menyembah hanya satu Tuhan saja. Mereka para kafir qurays merasa itu aneh bahkan mereka menganggap Nabi shalallaahu 'alaihi wa salla memgecap Nabi shalallaahu 'alaihi wa sallam sebagai penipu, pembohong bahkan gila.

Bahkan hal demikan di atas Allah Ta'ala jelaskan dan abadikan dalam Qur'an Surat Shad ayat 1-7

صٓ ۚ وَالْقُرْءَانِ ذِى الذِّكْرِ
"Shad, demi Al-Qur'an yang mengandung peringatan." (QS. Sad 38: Ayat 1)

بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا فِى عِزَّةٍ وَشِقَاقٍ
"Tetapi orang-orang yang kafir (berada) dalam kesombongan dan permusuhan." (QS. Sad 38: Ayat 2)

كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِّنْ قَرْنٍ فَنَادَوا وَّلَاتَ حِينَ مَنَاصٍ
"Betapa banyak umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, lalu mereka meminta tolong padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri." (QS. Sad 38: Ayat 3)

وَعَجِبُوٓا أَنْ جَآءَهُمْ مُّنْذِرٌ مِّنْهُمْ ۖ وَقَالَ الْكٰفِرُونَ هٰذَا سٰحِرٌ كَذَّابٌ
"Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata, Orang ini adalah pesihir yang banyak berdusta." (QS. Sad 38: Ayat 4)

أَجَعَلَ الْأَالِهَةَ إِلٰهًا وٰحِدًا ۖ إِنَّ هٰذَا لَشَىْءٌ عُجَابٌ
"Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sungguh, ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan." (QS. Sad 38: Ayat 5)

وَانْطَلَقَ الْمَلَأُ مِنْهُمْ أَنِ امْشُوا وَاصْبِرُوا عَلٰىٓ ءَالِهَتِكُمْ ۖ إِنَّ هٰذَا لَشَىْءٌ يُرَادُ
"Lalu pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata), Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki." ( QS. Sad 38: Ayat 6)

مَا سَمِعْنَا بِهٰذَا فِى الْمِلَّةِ الْأَاخِرَةِ إِنْ هٰذَآ إِلَّا اخْتِلٰقٌ
"Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini (mengesakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan," ( QS. Sad 38: Ayat 7)

Meski kondisinya demikian dan begitu kuat dan gigihnya kaum kafir qurays penentangan terhadap ajaran tauhid yang dibawa oleh Rasulullah shalallaahu 'alaihi wa sallam namun kesabaran dan keistiqomahaan Rasulullah dalam menyebarkan ajaran tauhid jauuh lebih besar dari upaya orang kafir tadi. Hingga sampai datangnya kemenangan dan terus membesar dan banyaknya pengikut dan masuknya orang ke dalam Islam dan meninggalkan ajaran nenek moyang mereka.

Bahkan penyebaran Agama Tauhid itu terus berkembang dan kian luas hingga sampai ke luar Makkah. Lalu ajaran da'wa yang agung dan mulia ini terus dikembangkan hingga Nabi shalallaahu 'alaihi wa sallam mengutus sahabat yang alim dan shaleh yakni Mu'az bin Jabal radiyallahu'anhu hingga berda'wa Tauhid keluar untuk pertama kalinya.

Hal ini dapat dilihat pada hadits ke 32 halaman 84 dan jalan 87. Hadits riwayat Imam Bukhari. Perintahnya pertama adalah mengajarkan kepada Ketauhidan kepada Allah Ta'ala dengan mendatangi para ahli-ahli kitab mereka dan jelaskan tentang perintah tuk bertauhid kepada Allah Ta'ala. Menjelaskan tentang keagungan Al-Qur'an kepada para ahli kitab tersebut. Sebagaimana dijelaskan dalam Qur'an pada akhir Surat Yusuf.

لَقَدْ كَانَ فِى قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُولِى الْأَلْبٰبِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرٰى وَلٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِى بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَىْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
"Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Qur'an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." (📚 QS. Yusuf 12: Ayat 111)

Kemuliaan dan keagungan ajaran Islam tersebut terus berkembang dan semakin besar hingga wafatnya Rasulullah shalallaahu 'alaihi wa sallam. Lalu kebesaran ajaran itu diteruskan oleh penerus terbaik yakni para sahabat mulai dari Abu Bakar Siddiq sebagai khalifah, kebesaran dan kemuliaan Islam terus membesar dan berkembang di zaman Khalifah Umar bin Khattab lalu lanjut sampai kepada Ustman bin Affan hingga Ali bin Abi Thalib radiyallahu'anhuma. Lalu mengapa zaman sekarang ini Islam dan ajaran tauhid kepada Allah Ta'ala mulai dianggap asing atau terasing.??

Diantara penyebab keasingan Islam itu adalah sebagaimana dijelaskan

Pada hadits ke 39 halaman 102 tentang : "Sebagaimana umat ini akan mengikuti Sunnah orang-orang sebelum mereka dari Yahudi dan nashara serta selan mereka dari kaum kuffar dan kaum musyrikin". Dan dalam lafaz lain juga dijelaskan dalam Hadits yang Shahih HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Lalu mengapa di zaman para sahabat begitu mulia dan sempurnanya cara beragama mereka. Lalu timbul peetanyaan bagaimana cara para sahabat dahulu itu beragama.? Ada 4 metode atau cara para sahabat beragama yang patut kita pahami dan ikuti yaitu :

1. Mereka mengambil agama atau beragama dari apa yang termaktub dalam Al-Qur'an dan Sunnah (Hadits-hadits dari Nabi shalallaahu 'alaihi wa sallam).

2. Kemudian mereka bergama sesuai dengan fitrah (Al Islam yang hanif) mereka yang senantiasa mengarah kepada Ketauhidan.

Sebagaimana dijelaskan Allah Ta'ala dalam Qur'an Surat Ar-Rum ayat : 30

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِى فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui," (QS. Ar-Rum 30: Ayat 30)

3. Para sahabat beragama dengan akal-akal mereka yang sehat, bersih.

4. Para sahabat beragama sesuai dengan lughatul arab. Sebab mereka sangat paham akan arti dan makna dari bahasa Arab sebab Al-Qur'an diturunkan dalam bahas Arab.

Salain itu penyebab keterasingan Islam di tengah-tengah umat Islam itu sendiri adalah sebagaimana dijelaskan dalam hadits ke 40 halaman 106 yakni hadits yang menjelaskan tentang : "Tersebarnya Bid'ah dan Firqah-firqah Sesat Serta Tampilnya Para Da"i yang Berada di Pintu-pintu Neraka Jahanam."

Hadist yang diriwayatkan oleh Hudzaifah bin al-Yaman dimana hadist ini menjelaskan bahwa banyak bertanya kepada Rasulullaah shalallaahu 'alaihi wa sallam tentang kebaikan-kebaikan sedangkan diri ku (Abu Hudzaifah) tentang keburukan-keburukan atau kejahatan-kejahatan karena takut akan kejahatan itu menjumpai dirinya dan seterusnya.

Lalu ini peringatan kepada para penyeru dan da'i-da'i yang menyeru kepada Sunnah kepada kaum Muslimin akan tetapi mereka sebenarnya tengah berada di pintu-pintu neraka jahanam karena menyampaikan sesuatu berdusta atas nama Rasulullaah shalallaahu 'alaihi wa sallam maka mereka sangat diancam dengan berat dan dilarang keras dan berdosa besar sebagaimana dijelaskan pada hadits 1 (pertama) halaman 3 yang menjelaskan tentang ancam Berdusta atas Nama Rasulullaah shalallaahu 'alaihibwa sallam dengan membuat hadits palsu.

Sebab barang siapa berdusta atas Nama Rasulullah shalallaahu 'alaihi wa sallam akan menjadi syari'at baru dan akan diikuti sepanjang zaman. Demikian ancam besar terhadap mereka yang suka dan gemar menyampaikan hadits Maudhu' atau hadits palsu dan dusta. Sebagaimana dijelaskan pada hadits ke 2 pada halaman 5.

Demikian pula ancaman keras dan termasuk dosa besar terhadap mereka yang mendustakan Hadits Rasulullaah shalallaahu 'alaihi wa sallam yang nyata shahihnya. Sebagaimana dijelskan dalam hadits no 25 halaman 62 dan halaman 63. Kenapa diancam besar dan termasuk dosa besar terhadap hadits shahih yang disampaika Nabi shallaalu 'alaihi wa sallam bahwa tidak ada satupun yang keluar dari mulutku (Nabi shalallaahu 'alaihi wa sallam) bukanlah berdasarkan hawa nafsu melainkan apa yang telah Allah Ta'ala wahyukan. 

Makanya as-Sunnah atau hadits yang diturunkan kepada Beliau shalallaahu 'alaihi wa sallam bersama turunnya al-Qur'an. Hal ini menunjukkan bahwa as-Sunnah adalah Wahyu kedua setelah al-Qur'an sebagai Wahyu pertama dari Allah Ta'ala. Dan ini menunjukan bahwa antara al-Qur'an dan Sunnah/hadits selalu berjalan berama selama-lamanya.

Alhamdulillah kajian selesai. Semoga bermanfaat dan berfaedah
Baca Juga
    ______________________________
    support channel youtube Mufid Jiddan dengan klik subcribe dibawah ini, syukon sobat
    ______________________________
    Info Penting:
    yuk share artikel dakwahpost.com, jika ada kesalahan atau saran membangun, japri via whatsapp ke 0895629036221. syukron atas perhatiannya

    Tidak ada komentar: