Stop Beri Tempat Ahlul Bid'ah Menyebarkan Bid'ahnya

Stop Beri Tempat Ahlul Bid'ah Menyebarkan Bid'ahnya

... pertama-tama lewat tulisan ini saya ucapkan: ﺍِﻧّﺎ ﻟِﻠّﻪِ ﻭَﺍِﻧّﺎ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺭَﺍﺟِﻌُﻮْﻥ

Musibah yang memprihatinkan dimana sebahagian besar kaum muslimin di negri ini masih loyal terhadap kebid'ahan dan penyimpangan syar'i hingga tak heran mereka masih mendengarkan bahkan menjadi pengikut setia Da'i BID'AH.

ﻻَ ﺣَﻮْﻝَ ﻭَﻻَ ﻗُﻮَّﺓَ ﺍِﻻَّ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ

ada Da'i yang menyatakan jenggot semacam tusuk sate mereka idolakan sampai ke taraf yang memprihatinkan oleh sebab itulah da'i Syubhat ini semakin menunjukan taringnya untuk menyebarkan faham BID'AH nya di negri ini.

adapula Da'i yang mengaku dan di akui sebagai ahli hadits tapi hadits tentang musik ia preteli agar mencocoki Syahwat dan Hawanafsu, Da'i inipun tak luput dari perhatian simpatisanya, hingga sang Da'i pun lebih Pe-de menyebarkan Syubhat dan kesesatanya.

Demikianlah keadaan ahli BID'AH di negri ini mereka amat mendapatkan tempat di hati kebanyakan manusia di negri ini, kesesatan merekapun beraneka ragam mulai dari Da'i yang mengaku walaupun membuang sampah di tong sampah di ikuti oleh Rasullullah Sallallahu'alaihi wa sallam, adapula yang mengaku kuburan Nabi bergetar kala ia ziarah di makam Nabi Sallallahu'alaihi wa sallam, adapula da'i yg menyatakan semakin panjang jenggot semakin goblok, ada juga da'i yang berkata Nabi Sallallahu'alaihi wa sallam belum tentu masuk surga, adalagi Da'i yang lari dari negri ini tanpa rasa malu untuk menghindari jeratan hukum yang melilitnya, adalagi da'i yang sambil merokok memperagakan ilmu kebal, ada juga yang menhalalkan Rokok, dan masih banyak lagi Da'i-Da'i penyeruh ke Jahannam yang bebas berkreasi dan mengapresikan kebid'ahan dan kesesatanya karna banyaknya simpatisan dan penggemarnya yang akan membelanya, Na'udzubillah min dzalik. 

... Yaa Akhi/ukhti sadarlah Ahli BID'AH itu harusnya di Tahdzir (boikot-pent) agar ia sadar kembali kepada Sunnah dan agar manusia terhindar dari kesesatan mereka, bukan malah di idolakan dan di jadikan panutan. 

lihatlah pemahaman para ulama yang lurus dalam masalah ini,, sbb:

عَنْ عَبْدِ الله بْنِ مُغَفَّلٍ : نَهَى النَّبِيُّ عَنِ الْخَذْفِ وَقَال((إِنَّهَا لاَتَصْطَادُ صَيْدًا وَلاَ تَنْكَأُ عَدُوًا وَلَكِنَّهَا تَفْقَأُ الْعَيْنَ وَتَكْسِرُ السِّنَّ)) فَقَالَ رَجُلٌ : وَمَا بَأْسُ هَذَا؟ فَقَالَ : إِنِّي أُحَدِّثُكَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ وَتَقُوْلَ هَذَا؟ وَاللهِ لاَأُكَلِّمُكَ أَبَدًا
Dari Abdullah bin Mugoffal bahwasanya Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam melarang khadzf (mengutik dengan kerikil tatkala berburu untuk melukai hewan buruan-pen) dan Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya khadzf (kutikan) itu tidaklah menghasilkan hewan buruan, juga tidak mematikan musuh, namun hanya membutakan mata dan mematahkan gigi”. Orang itupun berkata kepada Abdullah, “Memangnya kenapa dengan khadzf?”, maka Abdullah berkata, “Saya menyampaikan kepada engkau hadits Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam lalu engkau berkata demikian?, demi Allah saya tidak akan berbicara denganmu selamanya!”.[HR Al-Bukhari no 5479 dan Muslim 1954, Ad-Darimi no 454 (1/407) dan lafal ini adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Battoh dalam Al-Ibanah hal 96 (lihat ta’dzimus sunnah hal 24)]

berkata Ulama Ahli ilmu tatkala menerangkan hadits di atas Imam An Nawawi berkata, “Hadits ini menunjukan pemboikotan terhadap ahlul bid’ah dan pelaku kefasikan dan penentang sunnah setelah dijelaskan kepadanya, dan boleh memboikotnya secara terus menerus. Adapun larangan dari memboikot seorang muslim lebih dari tiga hari hanyalah berlaku pada orang yang bersalah karena kepentingan pribadi atau karena persoalan kehidupan dunia. Adapun para ahlul bid’ah dan semisal mereka maka pemboikotan terhadap mereka dilakukan secara terus menerus. [Al-Minhaj syarh shahih Muslim 13/106]

... Berkata Ibnu Hajar, “Hadits ini menunjukan akan bolehnya memboikot orang yang menyelisihi sunnah meninggalkan berbicara dengannya, dan hal ini tidak termasuk dalam larangan dari memboikot (saudara sesama muslim) lebih dari tiga hari, karena larangan tersebut hanyalah jika berkaitan dengan pemboikotan karena perkara pribadi [Fathul Bari 9/753]

lihatlah pemahaman 2 ulama ahli hadits di atas, adakah pemahaman mereka sudah mencocoki pemahaman kalian??? 

... lihatlah pula pernyataan para Salaf dalam menyikapi Ahli BID'AH di antara mereka adalah: 1-Sahabat Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma berkata:

ﻻَ ﺗُﺠَﺎﻟِﺲْ ﺃَﻫْﻞَ ﺍْﻷَﻫْﻮَﺍﺀِ ﻓَﺈِﻥَّ ﻣُﺠَﺎﻟَﺴَﺘَﻬُﻢْ ﻣُﻤْﺮِﺿَﺔٌ ﻟِﻠْﻘُﻠُﻮْﺏِ .
“Janganlah engkau duduk bersama pengikut hawa nafsu, karena akan menyebabkan hatimu sakit.” [Lihat al-Ibaanah libni Baththah al-‘Ukbary (II/438 no. 371, 373).]

2-Fudhail bin ‘Iyadh (wafat th. 187 H) rahimahullah berkata:

ﻣَﻦْ ﺟَﻠَﺲَ ﻣَﻊَ ﺻَﺎﺣِﺐِ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﻓَﺎﺣْﺬَﺭْﻩُ، ﻭَﻣَﻦْ ﺟَﻠَﺲَ ﻣَﻊَ ﺻَﺎﺣِﺐِ ﺍﻟْﺒِﺪْﻋَﺔِ ﻟَﻢْ ﻳُﻌْﻂَ ﺍﻟْﺤِﻜْﻤَﺔَ، ﻭَﺃُﺣِﺐُّ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮْﻥَ ﺑَﻴْﻨِﻲْ ﻭَﺑَﻴْﻦَ ﺻَﺎﺣِﺐِ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺣِﺼْﻦٌ ﻣِﻦْ ﺣَﺪِﻳْﺪٍ .
“Hindarilah duduk bersama ahli bid’ah dan barangsiapa yang duduk bersama ahli bid’ah, maka ia tidak akan diberi hikmah. Aku suka jika di antara aku dan pelaku bid’ah ada benteng dari besi.” [Lihat al-Ibaanah (no. 470) oleh Ibnu Baththah al-‘Ukbari, Syarhus Sunnah (no. 170) oleh Imam al-Barbahari dan Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (no. 1149) oleh al-Lalika-i.]

... Beliau rahimahullah juga berkata:

ﺃَﺩْﺭَﻛْﺖُ ﺧِﻴَﺎﺭَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻛُﻠُّﻬُﻢْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏُ ﺳُﻨَّﺔٍ ﻭَﻳَﻨْﻬَﻮْﻥَ ﻋَﻦْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺍﻟْﺒِﺪَﻉِ .
“Aku mendapati orang-orang terbaik, semuanya adalah penjaga-penjaga Sunnah dan mereka melarang bersahabat dengan orang-orang yang melakukan bid’ah.” [Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (I/156, no. 267).]

3-Hasan al-Bashri (wafat th. 110 H) rahimahullah berkata:

ﻻَ ﺗُﺠَﺎﻟِﺴُﻮْﺍ ﺃَﻫْﻞَ ﺍْﻷَﻫْﻮَﺍﺀِ ﻭَﻻَ ﺗُﺠَﺎﺩِﻟُﻮْﻫُﻢْ ﻭَﻻَ ﺗَﺴْﻤَﻌُﻮْﺍ ﻣِﻨْﻬُﻢْ .
“Janganlah kalian duduk dengan pengikut hawa nafsu, janganlah berdebat dengan mereka dan janganlah mendengar per-kataan mereka.[Diriwayatkan oleh ad-Darimi dalam Sunannya (I/110), Ibnu Baththah al-‘Ukbari dalam al-Ibaanah (no. 395, 458), dan lihat Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (no. 240).]

4-Yahya bin Abi Katsir (wafat th. 132 H) rahimahullah berkata:

ﺇِﺫَﺍ ﻟَﻘِﻴْﺖَ ﺻَﺎﺣِﺐَ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﻓِﻲْ ﻃَﺮِﻳْﻖٍ، ﻓَﺨُﺬْ ﻓِﻲْ ﻏَﻴْﺮِﻩِ .
“Jika engkau bertemu dengan pelaku bid’ah di jalan, maka ambillah jalan lain.[Al-Bida’ wan Nahyu ‘anhaa (I/99, no. 125) oleh Ibnu Wadhdhah, as-Sunnah (I/ 137, no. 99) oleh ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, asy-Syarii’ah (I/435, no. 114) oleh al-Ajurri, al-Ibaanah (II/437, no. 369) oleh Ibnu Baththah al-‘Ukbari, al-I’tiqaad (hal. 136) oleh Imam al-Baihaqi, Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (I/151, no. 244).]

5-Ketika datang dua orang (pengikut hawa nafsu) kepada Muhammad bin Sirin (wafat th. 110 H) rahimahullah, keduanya berkata: “Aku akan menyampaikan kepadamu suatu hadits.” Beliau berkata: “Tidak.” Keduanya berkata lagi: “Kami akan membacakan kepadamu suatu ayat dari Kitabullah.” Beliau menjawab: “Tidak, kalian pergi dariku atau aku yang pergi dari kalian.”[Diriwayatkan oleh ad-Darimi (I/109), lihat al-Ibaanah (II/445, no. 398) oleh Ibnu Baththah dan Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (I/151, no. 242).]

... Beliau rahimahullah juga mengatakan: “Jika engkau melihat seseorang duduk-duduk bersama ahli bid’ah, berikanlah peringatan keras dan jelaskanlah kepadanya tentang kepribadiannya. Apabila ia tetap duduk-duduk bersama ahli bid’ah setelah ia mengetahuinya maka jauhilah ia karena ia termasuk pengikut hawa nafsu (ahli bid’ah).”[Syarhus Sunnah (no. 144) oleh Imam al-Barbahari.]

6-Imam al-Barbahari (wafat th. 329 H) rahimahullah juga mengatakan: “Jika engkau melihat suatu kebid’ahan pada seseorang, jauhilah ia sebab yang ia sembunyikan darimu lebih banyak dari apa yang ia perlihatkan kepadamu.” [Ibid, no. 148.]

7-Imam al-Baghawi rahimahullah berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan tentang akan terjadinya perpecahan pada ummat Islam ini, timbulnya pengekor hawa nafsu dan bid’ah di antara mereka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah menjelaskan jalan menuju keselamatan bagi orang-orang yang mengikuti Sunnah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Sunnah para Sahabat Radhiyallahu anhum. Oleh karena itu wajib bagi seorang Muslim apabila melihat seseorang yang melakukan sesuatu berdasarkan hawa nafsu dan perbuatan bid’ah yang diyakininya, maka janganlah memberi salam kepadanya dan apabila ia mengucapkan salam janganlah dijawab sampai akhirnya ia mau meninggalkan perbuatan bid’ahnya dan kembali kepada kebenaran. [Syarhus Sunnah (I/224) oleh Imam al-Baghawi.]

... maka Akhi/ukhti saya nasihatkan pada diri pribadi dan kalian semua mari bersatu padu memerangi kebid'ahan dengan cara tidak duduk di majelis mereka, tidak mendengarkan ceramah mereka, apalagi mengambil ilmu agama dari mereka!! semoga perlakuan kita terhadap mereka dapat menyelamatkan mereka dari kebid'ahan yang lainya sebagai bukti cinta kita kepada sesama Muslim dan agar manusia tidak lagi tertipu dengan Syubhat dan pemikiran mereka yang menyimpang!!

ﺁﻣِــــــــــﻴْﻦَ ﻳَﺎ ﺭَﺏَّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِــــــــــﻴْﻦَ
ﻭَﺍﻟﻠّﻪُ ﺃﻋﻠَﻢ ﺑِﺎﻟﺼَّﻮَﺍﺏ
Penulis: Ilham Al-Kendari
Rekomendasi dari Ustadz Abul Faruq Hafizhahullah
artikel jambibertauhid.com

Tidak ada komentar: