Pemerintah saja membolehkan demo, kenapa Anda melarang ?

Pemerintah saja membolehkan demo

Pemerintah saja membolehkan demo, kenapa Anda melarang?
(by: Mantan simpatisan kajian haraki '04-'05)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah pernah berkata,

"عليك بإتباع السلف. إن كان هذا موجودًا عند السلف فهو خير، وإن لم يكن موجوداً فهو شر. ولا شك أن المظاهرات شر لأنها تؤدي إلى الفوضى من المتظاهرين ومن الآخرين. وربما يحصل فيها اعتداء إما على الأعراض وإما على الأموال وإما على الأبدان لأن الناس في خضم هذه الفوضوية قد يكون الإنسان كالسكران لا يدري ما يقول ولا ما يفعل. فالمظاهرات كلها شر سواء أذن فيها الحاكم أو لم يأذن. وإذن بعض الحكام بها ما هي إلا دعاية، وإلا لو رجعت إلى ما في قلبه لكان يكرهها أشد كراهة. لكن يتظاهر بأنه كما يقول: ديمقراطي وأنه قد فتح باب الحرية للناس. وهذا ليس من طريقة السلف."
“Harusnya kalian mengikuti para ulama salaf. Kalau memang demonstrasi ada dalam ajaran salaf, berarti baik. Jika tidak berarti jelek. Dan tidak diragukan lagi bahwa demonstrasi itu jelek, karena menimbulkan kekacauan, baik dari pihak demonstran maupun dari pihak lain. Demonstrasi kerap menimbulkan pelanggaran terhadap kehormatan, harta benda, dan jiwa orang lain karena di tengah kekacauan demo, manusia seperti orang mabuk yang tidak sadar apa yang diucapkan dan dilakukannya. Jadi, demonstrasi itu jelek, baik diizinkan penguasa maupun tidak. Lagipula izin penguasa untuk mengadakan aksi demonstrasi umumnya hanyalah izin basa-basi. Jika ditanya tentang perasaan hatinya, pasti para penguasa sebenarnya sangat membencinya. Mereka hanya ingin menunjukkan sikap demokratis dan memberi rakyat kebebasan (berpendapat). Dan ini semua bukan jalan para salaf.” (Lihat Liqa` Al-Bâb Al-Maftuh no. 179)

Catatan:

1.
Demo di sini maksudnya yang sama-sama dipahami: Rusuh, teriak-teriak, berisi caci maki dan fitnah, serta dimotori mereka yang aqidahnya ada penyimpangan. Jangan ikuti nafsu dengan menta'wilkan maknanya ke demo masak atau lainnya, karena ta'wil Anda tidak bermanfaat. Ilmu dan mengikuti jejak para ulama salaf yang akan bermanfaat untuk dunia akhirat.

2. Jangan pula bertanya, "Bagaimana kalau tidak rusuh, tidak teriak-teriak, tidak berisi caci maki, tidak fitnah dan tidak dimotori mereka yang aqidahnya ada penyimpangan?", karena Anda tak akan bisa memberikan contohnya.

Tidak ada komentar: