Selamatkan Anak Dari Pengaruh Buruk Tetangga

Selamatkan Anak Dari Pengaruh Buruk Tetangga

dinamakan tetangga mencakup muslim dan non-muslim, ahli ibadah dan orang fasik, teman maupun musuh, orang asing atau pribumi, orang yang bisa memberi manfaat juga orang yang memberi madharat.

Tetangga mempunyai beberapa tingkatan. Sebagiannya lebih tinggi daripada yang lain. Yang paling tinggi adalah yang terkumpul padanya seluruh sifat yang pertama (seorang muslim, ahli ibadah, teman dan seterusnya). Kemudian yang terbanyak dan seterusnya, sampai yang hanya mempunyai satu sifat di atas.

Dan kebalikannya (yang paling rendah), adalah yang terkumpul padanya sifat-sifat yang kedua (kafir, fasik, musuh). Maka masing-masing diberi haknya menurut keadaannya masing-masing. Terkadang bertentangan antara dua sifat atau lebih, maka diunggulkan salah satunya, atau disamakan. (Fathul Bari: 10/442)

Jangan sampai anak kita mengganggu anak tetangga

Kita dilarang mengganggu tetangga, demikian juga anak kita, hendaknya tidak mengganggu anak tetangga. Karena tetangga adalah orang yang dekat dengan kita, penjaga rumah, sekaligus keluarga kita pada saat kita bepergian, dan yang suka membantu kita. Demikianlah lazimnya tetangga yang mengerti hak-hak pertetanggaan. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam pernah bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ باللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِى جَارَهُ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari pembalasan, hendaknya tidak mengganggu tetangganya.” (HR. Bukhari: 5185)

Jika misalnya anak kita memiliki sifat atau berwatak keras, suka memukul, melempar, dan suka mengejek temannya naudzubillahi min dzalik-, maka orang tua hendaknya mengawasi dan memperhatikan anaknya agar tidak membiarkan anaknya berteman dengan anak tetangganya, kecuali ditemani oleh orang tuanya. Itu bertujuan agar anak tetangga tidak terganggu dengan tingkah anak kita.

Apabila anak kita punya sifat bakhil naudzubillahi min dzalik-, hendaknya anak kita tidak dibawakan makanan, apalagi makanan itu tidak kita dapati di pasaran umum dan jumlahnya tidak banyak. Karena hal ini akan membuat sakit anak tetangga. Boleh jadi anak itu menangis dan membuat sedih orang tuanya karena menginginkan makanan anak kita tadi. Demikian juga bila anak kita punya mainan dan tidak suka meminjami temannya, atau sebaliknya, anak kita bila keluar ke tetangga selalu membuat anak tetangga menangis karena suka merebut mainan anak tetangga, hendaknya kita waspadai, kapan dia boleh keluar bergaul dengan anak tetangga dan kapan saatnya dia dilarang.

Jika anak kita suka berjoget, menyanyi, panjang tangan, atau pacaran dengan anak tetangga dan mengganggu anak tetangga, hendaknya orang tua atau keluarga melarangnya. Karena tentu kita tidak ingin anak tetangga ikut menjadi jelek sebab ulah anak kita, dan kita tentu juga tidak ingin hubungan dengan tetangga terputus hanya karena ulah anak kita yang buruk akhlaknya. Allah Ta’ala berfirman:

وَٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡـٔٗاۖ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنٗا وَبِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱلۡجَارِ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡجَارِ ٱلۡجُنُبِ وَٱلصَّاحِبِ بِٱلۡجَنۢبِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُكُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخۡتَالٗا فَخُورًا
Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya-mu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. (QS. an-Nisā’: 36)

Imam al-Qurthubi berkata, “Adapun tetangga, maka Allah Subhanahu wata’ala telah memerintahkan untuk memeliharanya, menunaikan haknya, dan berpesan untuk memelihara tanggungannya di dalam kitab-Nya serta melalui lisan Rasul-Nya. Bukankah kamu melihat, Allah menguatkan penyebutan tetangga setelah dua orang ibu bapak dan karib kerabat ?” (Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an: 5/183)

Jagalah anak dari pengaruh tetangga buruk

Tatkala kita dan anak kita dilarang mengganggu tetangga, sebaliknya, jangan sampai diri kita dan anak kita diganggu oleh tetangga dan terpengaruh dengan kejahatannya. Karena tidak semua tetangga yang dekat atau jauh (walaupun mereka muslim), memiliki akhlak dan akidah yang baik. Bahkan boleh jadi mereka adalah penyeru kesyirikan, bid’ah, dan kemaksiatan. Apalagi kita hidup pada zaman sekarang yang diliputi dengan sekian banyak fitnah, syubhat dan syahwat, maka kita harus waspada.

Walaupun tetangga itu keluarga dan kerabat kita. Lalu, bagaimana jika tetangga itu bukan seorang muslim, bahkan memusuhi sunnah dan membenci Islam? Maka kita perlu membentengi keluarga kita.

Waspadalah ketika tetangga kita punya TV yang bukan sunnah, memutar video yang menampilkan adegan pembangkit nafsu, merusak akidah dan akhlak, ketika tetangga buruk bicaranya, pemarah, pemukul, berjudi, pemabuk, atau anaknya “nakal”, karena hal ini bisa jadi akan mempengaruhi jiwa anak kita, akidahnya, ibadah, dan akhlaknya.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengingatkan kita agar berlindung dari tetangga yang buruk akidah, ibadah, dan akhlaknya, karena memelihara akidah dan ibadah sangat sulit, sedangkan merusaknya amatlah mudah. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

تَعَوَّذُوا باللهِ مِنْ جَارِ السَّوْءِ فِي دَارِ الْمُقَامِ فَإِنَّ جَارَ الْبَادِيَةِ يَتَحَوَّلُ عَنْكَ
“Mohonlah perlindungan kepada Allah dari tetangga yang jahat di tempat tinggal (permanen), karena tetangga badui (nomaden/berpindah-pindah), ia akan berpaling darimu.” (HR. an-Nasa’i: 5502 ash-Shahihah: 443)

Jika kita mampu menasihati tetangga dan anaknya yang “nakal”, maka nasihatilah dengan kata-kata yang lembut, tanpa mengeluarkan umpatan atau tindakan yang keji dan merusak. Karena kemungkinan anak yang nakal sebab dia tidak tahu, atau karena pengaruh temannya, sehingga dengan nasihat ini anak tetangga menjadi sadar, bahkan menjadi baik sebab nasihat kita.

Demikian juga kita hendaknya menasihati anak kita yang masih kecil dan sudah sampai umur, ketika diperlakukan jelek oleh anak tetangga, hendaknya bersabar, dan tidak perlu membalas. Karena itu akan mengakibatkan masalah yang lebih parah. Nasihatilah anak kita agar menjauh dan pulang ke rumah.

Bersabar atas gangguan tetangga

Bagaimana kita menyikapi gangguan tetangga? Jadilah orang yang berbuat baik kepada tetangga yang menyakiti diri kita atau anak kita dengan menasihatinya jika memungkinkan. Hendaknya kita berusaha menjauhi kejahatannya dan kejahatan anaknya. Jika tidak bisa maka kita harus bersabar atas gangguannya dan gangguan anaknya yang mengganggu anak kita. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

ثَلاَثَةٌ يُحِبُّهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ … وَرَجُلٌ لَهُ جَارٌ يُؤْذِيهِ فَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُ وَيَحْتَسِبُهُ حَتَّى يَكْفِيَهُ اللهُ إِيَّاهُ بِمَوْتٍ أَوْ حَيَاةٍ
“Ada tiga golongan yang dicintai oleh Allah… Diantaranya adalah seorang laki-laki yang mempunyai tetangga. Tetangga tersebut menyakitinya, maka dia sabar atas gangguannya dan mencari pahala, hingga kematian atau kepergian (kepindahan) memisahkan keduanya.” (HR. Ahmad: 5/151 dengan sanad yang shahih)

Dari Hasan bin Isa an-Naisaburi berkata, Saya bertanya kepada Abdullah bin al-Mubarak, ‘Seseorang datang kepadaku dan mengadukan anak saya, bahwa dia membuat masalah terhadap orang itu. Tetapi anak saya mengingkarinya. Sehingga saya tidak mau memukulnya, karena barangkali dia terlepas diri dari perbuatan tersebut. Dan saya juga tidak mau membiarkannya, sehingga tetanggaku marah kepadaku. Lalu apa yang harus saya perbuat?’

Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya anakmu barangkali membuat suatu masalah yang mengharuskan dia mendapat pelajaran. Maka perhatikan hal tersebut. Sehingga jika tetanggamu mengadukannya, maka berilah dia pelajaran karena kejadian tersebut. Dengan demikian, engkau telah membuat ridha tetanggamu dan telah memberi pelajaran kepada anak karena pebuatannya.”

Demikian juga ketika orang tua dilapori oleh anaknya, bahwa dia diganggu oleh anak tetangganya, dia dipukul, dilempari batu, atau dia luka dan berdarah umpamanya. Agar kita tidak berbuat salah kepada tetangga, sebaiknya kita tabayyun (mencari kejelasan). Karena umumnya anak suka membela dirinya, bahkan terkadang dengan berbohong dan menyalahkan temannya.

Maka sebaliknya, agar anak tidak putus asa dan tidak patah hati ketika melapor, orang tua bersiasat dengan menasihatinya, semoga Allah Azza wajalla menolong orang yang benar dan jujur bicaranya. Ingatkan dia, bahwa jika benar temannya yang salah, semoga Allah memberinya petunjuk, dan memberi pahala kepada kamu, anakku, karena kamu tidak membalas kejahatannya, dan bersabar atas gangguan temanmu.

Terkadang orang tua melihat anaknya pulang menangis dan badannya berdarah, tanpa pikir panjang, dia menyalahkan tetangga dengan menghukumi bahwa anak tetangga yang salah. Dengan itu, sehingga terjadi permusuhan sengit antara dua pihak orang tua. Padahal masalahnya ringan, yaitu; kesalahan anak-anak yang sama-sama kurang akalnya, atau mungkin sama usilnya.

Maka sebaiknya untuk menjaga kerukunan bertetangga, masing-masing orang tua mengevaluasi anaknya sendiri, dan berbesar hati untuk meminta maaf atas kesalahannya. Inilah solusi yang paling tepat dan menyejukkan hati, karena orang yang merasa dirinya salah akan merendahkan emosi dan kemarahan kepada tetangga.

Semoga Allah Subhanahu wata’ala mengaruniai kita anak yang shalih, yang dapat beribadah kepada Allah, berbuat baik kepada orang tua, kepada keluarga, serta tetangga. Aamiin…

Oleh: Ust. Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc

Diterbitkan oleh: Lajnah Dakwah Yayasan Maribaraja
artikel maribaraja.com

Tidak ada komentar: