tidak sedikit orang yang begitu susah dalam bertahan hidup

tidak sedikit orang yang begitu susah

Saya pernah merasakan pekerjaan dan pengalaman terberat dalam hidup saya. Kejadian ini terjadi di Paris Van Java sekitar tahun 2007. Suatu ketika saya kehabisan uang. Jangankan untuk bayar sewa rumah, untuk membeli segenggam nasi pun sudah tidak ada uang sepeser pun.

Badan lemah lunglai karena 3 hari hanya minum dari air keran mushalla. Hari ke 3 ini, saya lihat ada bungkusan plastik di kolong becak. Setelah lelah berpeluh mengayuh sepeda mencari pekerjaan, lihat bungkusan plastik ini saya memuji Allah. Saya pikir, ini adalah rezeki, luqathah(berang tercecer) yang boleh dimanfaatkan, bisa jadi ada orang yang membeli teh manis kemudian terjatuh di kolong becak.

Setelah celingkan kanan dan kiri, saya ambillah bungkusan plastik tersebut dan mulai mengayuh sepeda dan menepi di trotoar Jl. M. Toha. Dengan girangnya saya gigit ujung plastik untuk meminum "teh" temuan tersebut. Ternyata begitu saya gigit, sebagian "air teh"nya muncrat di wajah dan bibir saya.

Subhanallah.... kok pesing sekali. Rupanya ada orang buang najisnya di kantong plastik yang saya kira teh manis. Wuasem tenan. Sedih sekali kalau ingat hari itu. Tapi saya yakin merupakan suratan taqdir yang harus saya imani dan hadapi dgn kesabaran.

Saya langsung mencari mushalla terdekat untuk membersihkan mulut dan wajah yang terkena air seni. Kemudian saya berwudhu dan shalat sunnah di mushalla tersebut. Mushalla kecil di dekat prapatan Cigereleng. Setelah shalat, saya ngobrol dgn pedagang pasar yang menginap di mushalla tsb. Namanya A Wowo. Alhamdulillah saya di ajak makan sama beliau sampai kenyang di warteg. Beliau heran, kok saya makannya lahap sekali, saya bilangnya kebetulan lagi lapar. Mau bilang 3 hari belum makan rasanya kok gengsi. Hehe

Keesokan harinya, saya mendapati gudang sembako. Hilir musik kuli panggul sedang bongkar dan muat barang. Saya pun masuk dan menanyakan apakah saya bisa ikut bekerja disana. Alhamdulillah ternyata hari itu banyak sekali pekerjaan bongkar muat sehingga saya bisa langsung bekerja tanpa memasukkan CV maupun wawancara. Tinggal menyerahkan KTP dan ditukar dengan rupiah di sore hari.

Dan ternyata.... mak.....

Kuli panggul itu sungguh berat. Dilan aja nggak akan kuat. Bisa anda bayangkan... Kuli senior mampu memanggul tepung terigu kemasan 25 kg hingga 8 sak diatas punggungnya!

Kalau saya? Awalnya 3 sak atau 75 kg. Itupun badan rasanya sudah goyang2 ga balance. Tapi setelah sekian jam, saya paksakan juga manggul 4 sak karena diledek kuli2 senior. Meskipun sebenarnya sangat berbahaya. Karena saya harus meniti sebilah papan kayu yang menjembatani truk kontainer dengan tumpukan tepung terigu di dalam gudang. Selain itu, honor manggul dihitung berdasarkan jumlah barang yang saya angkut. Ada karyawati yang bertugas mencatat setiap kuli.

Singkat cerita, hari itu saya dapat uang cash Rp 22.000,- alhamdulillah. Nyunnah banget bosnya, gaji karyawan dibayarkan sebelum keringat mengering. Kuli yg sudah senior bisa dapat sekitar Rp 50.000,-

Keesokan harinya, saya mau berangkat nguli lagi kok badan rasanya remuk semua. Otot terasa sakit dan puegel di sekujur badan. Akhirnya saya teringat A Wowo dan mampir ke kios beliau, alhamdulillah beliau nawarin saya untuk bantu beliau jual buah di Pasar Cigereleng. Jazahullahu khairan A Wowo. Anta bathaluna.

Dari sini hendaknya kita bisa mengambil ibrah bahwa tidak sedikit orang yang begitu susah dalam bertahan hidup.

Para ulama dahulu, mereka menahan diri dari meminta-minta dan mereka bekerja dengan tangan mereka. Kesibukan dalam belajar dan mengajar tidak menafikan kewajiban mereka dalam mencari nafkah. Ada yang berdagang, mencari kayu bakar hingga kuli bangunan pun diriwayatkan dari mereka rahimahumullah.

Ada kutipan menarik yang perlu kita renungkan :

Terkadang istri marah-marah kepada suami karena sang suami tak bisa memenuhi keinginan sang istri.

Sering jugga lihat seorang anak bicara kasar pada ayahnya karena sang ayah tidak bisa membelikan apa yg sang anak mau.

Tak seorang pun kepala keluarga yg tidak ingin melihat keluarganya bahagia.

Sebelum engkau marah kepadanya, lihatlah dan renungkan lah apa yg telah dilakukan oleh seorang suami.

Betapa suamimu sudah kerja keras banting tulang demi memenuhi kebutuhan keluarga nya.

Taukah dirimu kalau suamimu mungkin sering dicaci maki bosnya.?

Taukah dirimu kalau suamimu mungkin sering mendapat hinaan di luar sana.?

Taukah dirimu mungkin suamimu bahkan baru saja mempertaruhkan nyawanya demi dirimu dan anak" mu.

Taukah dirimu kalau suamimu mungkin sering menahan lapar demi bisa pulang membawa uang.

Sebelum engkau cemberut padanya,,,

Hitung lah dulu telah berapa juta tetes keringat engkau peras dari tubuhnya.

Sebelum engkau marah padanya,,,

Tataplah lekat-lekat matanya, mungkin tanpa kamu sadari mata itu telah banyak mengeluarkan air mata demi melihat dirimu tersenyum

Ketahuilah, Bila sampai hari ini dia belum bisa memenuhi segala keinginanmu, itu hanya karena faktor keadaan.

Untuk para ayah di mana pun berada. Smoga lelah mu menjadi berkah, Amiin ya Allah

(copas dr akh Abu Razin Taufiq)
______________________________
support channel youtube Mufid Jiddan dengan klik subcribe dibawah ini, syukon sobat
______________________________
Info Penting:
yuk share artikel dakwahpost.com, jika ada kesalahan atau saran membangun, koment aja di kotak komentar yang tersedia di bawah teman-teman. syukron atas perhatiannya

No comments: