-->

Apakah Ibu Hamil terinfeksi corona dapat menular ke janin ?

Apakah Ibu Hamil terinfeksi corona dapat menular ke janin ?

Dilansir dari The Huffington Post, dua dokter kandungan menyarankan kita untuk mempertimbangkan empat hal ini sebelum memutuskan hamil selama pandemi Covid-19: 

1. Banyak hal tidak kita ketahui

Sudah berbulan-bulan sejak kasus pertama virus corona terdeteksi di Cina, tetapi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menjelaskan, belum banyak penelitian ilmiah yang menunjukkan kaitan Covid-19 dan kehamilan pada saat ini. Pakar kesehatan tidak mengetahui apakah wanita hamil lebih mungkin terkena virus daripada orang lain.

Mereka juga BELUM tahu apakah wanita hamil lebih mungkin memiliki gejala parah jika terinfeksi, atau jika sakit karena Covid-19 selama kehamilan dapat melukai bayi dengan cara apa pun. "Kita tidak tahu banyak," kata Dr. Mary Jane Minkin, profesor klinis kebidanan dan kandungan di Yale University kepada HuffPost. "Kita sepertinya tidak melihat penularan ke janin," kata Minkin.

Itu artinya, jika seseorang yang hamil mendapatkan Covid-19, bukti yang dimiliki sejauh ini menunjukkan tidak adanya penularan virus corona ke bayi selama kehamilan atau persalinan. Demikian juga, tidak ada bukti virus memasuki ASI, meskipun Dr. Daniel Roshan, spesialis obgyn ibu dan janin di New York City, mengatakan, ada saat di mana menyusui tidak selalu merupakan ide terbaik.

"Jika seorang wanita telah didiagnosis dengan virus corona, disarankan agar ia mengeluarkan ASI dan memberi makan bayi secara tidak langsung, sehingga dia tidak bernapas di dekat bayi yang baru lahir," katanya kepada HuffPost.

Kehamilan dapat menyebabkan beberapa perubahan sistem kekebalan tubuh yang cukup besar, yang menempatkan kita pada risiko lebih tinggi jika kita terserang virus pernapasan lainnya, seperti flu. Karena terdapat perubahan kekebalan tubuh pada wanita hamil, American College of Obstetricians dan Gynecologists mengatakan, wanita hamil harus dianggap sebagai populasi yang berisiko terkena Covid-19.

2. Buat janji temu virtual dengan bidan atau dokter kandungan

Jika kita mempertimbangkan untuk hamil, kita harus membuat janji temu virtual dengan dokter kandungan atau bidan, kata Minkin, bahkan jika kita tidak yakin dengan siapa kita ingin melahirkan. Dokter kandungan atau bidan dapat memandu kita melalui apa yang dikatakan penelitian tentang kehamilan dan Covid-19, karena hal itu berubah setiap saat. Sedangkan perawat dapat melihat riwayat kesehatan kita, dan mempertimbangkan apakah kita memiliki masalah kesehatan mendasar yang mungkin terkait. 

Mereka juga dapat memandu kita melalui beberapa dasar prakonsepsi yang sangat penting. Seperti mengambil setidaknya 400 mikrogram asam folat setiap hari selama sebulan atau lebih sebelum kita merencanakan kehamilan untuk melindungi dari kerusakan tabung saraf. 

Mereka juga akan memandu kita melalui beberapa praktik terbaik, agar tetap sehat jika kita memutuskan untuk hamil, seperti mencuci tangan dan menjaga jarak sosial. "Saya mendengar dari pasien sepanjang waktu, dan apa yang saya katakan kepada mereka adalah jangan panik," kata Roshan. "Banyak orang akan mendapatkan virus, dan kebanyakan dari mereka akan pulih."

3. Beberapa kelompok orang disarankan tidak hamil 

American Society for Reproductive Medicine telah menyerukan penangguhan sebagian besar perawatan, termasuk meminta dokter mempertimbangkan untuk membatalkan semua transfer embrio. Menurut Minkin, wanita yang memiliki riwayat masalah jantung dan paru-paru tidak disarankan untuk hamil saat ini, meskipun dia menekankan ini adalah percakapan antara satu individu dengan penyedia kesehatan mereka. "Jika kita memang memiliki kondisi kesehatan yang mendasarinya, kita sebaiknya memikirkan kembali niat untuk hamil," katanya. 

4. Pertimbangkan kesehatan mental kita 

Sejumlah rumah sakit di New York, AS, pusat pandemi Covid-19, memberi tahu wanita hamil bahwa mereka tidak dapat bersama pasangannya selama persalinan. Tidak jelas apakah praktik itu akan diluncurkan ke lebih banyak rumah sakit. Bahkan ahli epidemiologi terbaik, spesialis penyakit menular dan pakar lainnya tidak dapat memprediksi apa yang akan terjadi di dunia terkait Covid-19 dalam waktu sembilan bulan. 

Kehamilan, persalinan, dan periode postpartum semuanya bisa menjadi pengalaman luar biasa, tetapi mereka juga dapat membebani fisik dan emosional. "Kita semua berharap vaksin akan tersedia," kata Minkin. "Tapi itu mungkin tidak dalam sembilan bulan. Semoga kita memiliknya dalam jangka waktu satu hingga dua tahun." kompas.com
Baca Juga
    ______________________________
    support channel youtube Mufid Jiddan dengan klik subcribe dibawah ini, syukon sobat
    ______________________________
    Info Penting:
    yuk share artikel dakwahpost.com, jika ada kesalahan atau saran membangun, japri via whatsapp ke 0895629036221. syukron atas perhatiannya

    No comments: