Jenny Martinus pasien positif corona sumbar sembuh, ini kisahnya

Jenny Martinus pasien positif corona sumbar sembuh

Jenny Martinus begitu tegar menghadapi cobaan yang kini menimpanya. Perempuan 29 tahun ini merupakan pasien positif corona (covid-19) pertama yang diumumkan dari klaster Pegambiran di Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar).

Klaster Pegambiran merupakan salah satu wilayah transmisi lokal penyebaran virus corona terbanyak, setelah Pasar Raya Padang. Jenny merupakan satu dari empat tenaga kesehatan di Puskesmas Pegambiran yang terpapar virus pandemi di belahan negara itu.

Siang itu, Sabtu (25/4/2020), Jenny dengan senang hati meluangkan waktunya untuk bercerita banyak bersama Langgam.id melalui sambungan telepon seluler. Dari balik ruang isolasi Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) M Djamil, volunteer Puskesmas Pegambiran itu tidak mempermasalahkan identitas dirinya ditulis.

Baginya, penyakit yang dideritanya bukanlah sebuah aib yang mesti disembunyikan. Meski begitu banyak masyarakat yang menganggap dirinya pelaku penyebar virus di wilayah Pegambiran. Padahal, semua itu tidak benar, Jenny hanya korban dari ketidak jujuran orang yang diduga terpapar virus corona.

Jenny satu dari sekian petugas sebagai Penanggungjawab (PJ) covid-19 di Puskesmas Pegambiran. Dia menjalankan tugas berkoordinasi dengan unsur RT/RW, kelurahan hingga kecamatan untuk memantau orang yang berstatus pelaku perjalanan dari area terjangkit (PTT).

Tak jarang, Jenny juga kontak langsung dengan masyarakat berstatus orang dalam pemantauan (ODP) corona. Di sinilah, awal dugaan ia tertular virus corona. Tak hanya dirinya, tapi juga menular ke suami yang juga merupakan karyawan di Puskesmas Pegambiran.

Kini, Jenny harus berpisah ruang dengan suami yang ikut diisolasi di Semen Padang Hospital (SPH). Hanya melalui sambungan video call, untuk pelepas rindu dengan orang tercinta yang sama-sama berjuang melawan covid-19.

Kondisi Jenny saat ini dalam kondisi membaik, hanya saja masih mengalami batuk ringan, ia pun telah melewati fase terberat. Begitupun untuk suaminya, yang selalu bersama-sama memberikan dukungan untuk melawan penyakit itu.

“Sudah lebih baik, hanya batuk lagi. Sesak nafas tidak ada, fase berat sudah lewat, sekarang tinggal gejala hanya batuk. Demam enggak pernah selama di sini,” katanya mengawali perbincangan.

Jenny dirujuk ke RSUP M Djamil Padang pada tanggal 15 April 2020. Ia telah melewati 11 hari di ruangan isolasi khusus covid-19. Tak banyak yang bisa ia lakukan di ruang itu, sendiri tanpa ada yang menemani.

Pintu kaca keluar masuk paramedis, menjadikan pengobat bosan yang ia istilahkan sebagai televisi. Sebab, dari pandangan ke arah pintu itu, ia melihat begitu jelas paramedis lalu lalang lengkap dengan memakai alat pelindung diri (APD).

“Semangat kak Jen, semangat,” begitu paramedis menyapanya sembari melambaikan tangan di luar pintu kaca, ceritanya.

Ketika penyakit itu mulai menyerang, Jenny memilih melangkahkan kaki untuk beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Ia bergegas mengambil wudhu dan kemudian melangsungkan salat.

Salat dan salat disertai doa, itulah sebagai obat untuk penenang diri serta upaya meningkatkan imun tubuhnya. Dengan salat, Jenny mampu melawan penyakit yang tanpa melihat waktu menyerang tubuhnya itu.

“Tenangkan hati, bayangkan yang indah dan berpikir apabila saya sembuh, saya bisa berkumpul kembali. Saya ingin bekerja lagi, walaupun nanti saya sembuh, saya ingin berjuang kembali untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona,” katanya.

“Walau saya terjangkit, lalu kemudian sembuh, saya tetap akan terjun ke lapangan. Saya tidak akan mundur, karena saya sudah disumpah profesi untuk melayani masyarakat, meskipun nyawa taruhannya. Ini pegangan saya, dan saya kangen bekerja kembali,” sambungannya dengan terisak tangis.

Difitnah Menyebar Covid-19


Jenny terkonfirmasi positif pertama di klaster Pegambiran, karena ialah yang mengajukan diri untuk tes swab tenggorokan dan hidung (spesimen) selaku garda terdepan. Pemeriksaan itu dilakukan pada Sabtu (11/4/2020) lalu.

Hanya saja, hasil pemeriksaan tes swab keluar positif justru lebih dulu diketahui masyarakat di sekitar kediamannya. Padahal, dirinya belum sama sekali mendapatkan informasi itu. Dia mengaku dapat dari rekan seprofesinya yang juga ikut dalam pemeriksaan swab.

“Saya dikasih tahu sama teman yang satu tes swab, dia bilang positif. Jenny hasil tes swab kita keluar, tapi ada yang satu positif,” ujarnya meniru percakapan dengan rekannya.

Rekannya masih mencoba menahan kabar buruk satu orang positif itu adalah Jenny. Ia pun penasaran dan mendesak rekannya untuk memberitahu siapa orang yang hasil swab dinyatakan positif covid-19.

“Saya desak akhirnya dikasih tahu, dan hasil positif itu adalah saya. Saya masih tidak percaya, sempat drop beberapa hari terakhir,” katanya.

Kabar Jenny positif covid-19 pun tersebar lebih dulu di kalangan masyarakat. Dirinya mulai banyak dihubungi orang melalui telepon, WhatsApp hingga pesan. Ia pun sangat menyayangkan, padahal walaupun dirinya tenaga medis tapi tetap berstatus pasien yang mesti harus dijaga identitasnya.

“Biasanya adik-adik di sini (kediamannya) panggil saya tante. Mereka tanya, tante Jen ada yang positif di Pegambiran, iya tante itu? Sampai orang dari kawasan Jati juga WhatsApp, ada yang positif di Pegambiran, karena menangani pasien positif,” katanya.

Padahal, dirinya sangat shock akan kabar buruk tersebut. Jenny pun tidak tahu tertular dari mana. Akhirnya, setelah ditelusuri, dirinya tertular dari seseorang yang sebelumnya tidak jujur dengannya. Orang itu sempat kontak langsung dengan Jenny.

“Saya sedih. Saya dibilang penyebar, padahal saya hanya ditularkan dari orang itu, yang tidak mau menerima sanksi sosial masyarakat, akhirnya jadi tumbal saya,” sesalnya.

Malah, orang yang pertama kali menularkan virus itu mengaku tertular dari Jenny. “Dari pihak sana belum terbuka, dia membela dirinya, saya yang dituduh sebagai penyebar virus. Padahal dia sendiri bilang ada anggota keluarganya pulang dari area terjangkit,” katanya.

Akibat dari ketidakjujuran itu, Jenny serta tenaga kesehatan di Pegambiran dinyatakan positif covid-19. Begitupun untuk orang yang pertama sekali diduga terpapar, setelah pemeriksaan swab, ternyata ia dinyatakan positif dan sama-sama dirawat berikut keluarganya.

“Kalau saya sebagai penular, saya kontak erat dengan mama dan adik saya, jadi waktu itu saya minta disuapin sama mama. Harusnya mama juga positif tapi mama negatif, adik juga negatif padahal saya minum nutrisi punya adik saya,” tuturnya.

Jenny hanya pasrah mendengar fitnah yang datang kepadanya. Ia yakin, Allah SWT selalu tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia pun bertekad, apabila dirinya dinyatakan sembuh akan pulang ke rumah orang tuanya.

Sebab, Jenny belum siap dan masih trauma akan sanksi sosial dari masyarakat di kediamannya. Ketika diumumkan positif, dirinya telah dijauhi tetangga. Padahal, tenaga kesehatan telah gencar melakukan sosialisasi tentang bahaya covid-19.

Jenny tak habis pikir, balasan dari kalangan yang mengucilkannya. Padahal, jasanya begitu besar. Sebagai volunteer di Puskesmas Pegambiran, ia telah mengabdi selama enam tahun.

Khusus tergabung dalam tim covid-19, Jenny pun tidak mengharap uang. Hanya mengabdi, supaya masyarakat tidak terpapar virus, hanya itu niatnya. “Kita bekerja dulu, tidak memikirkan uang. Walaupun akhirnya saya yang kena,” ujarnya.

Kini Jenny terus berjuang untuk melawan virus. Meskipun hasil pemeriksaan swab untuk ketiga kalinya dirinya masih dinyatakan positif. Namun ia selalu berdoa agar pemeriksaan swab dua terkahir bisa dinyatakan negatif, sehingga baru dikatakan sembuh.

Patuhi Aturan Pemerintah

Jenny menitipkan pesan kepada seluruh masyarakat Indonesia, khususnya di Padang dan Sumbar umumnya. Ia meminta warga agar mematuhi seluruh aturan pemerintah, jika tidak ingin seperti dirinya.

Begitupun, bagi masyarakat apabila ada sanak saudara yang pulang dari area terjangkit, bersikaplah jujur. Sehingga petugas kesehatan dapat melakukan pemeriksaan dan memberikan arahan protokol isolasi mandiri.

Menurutnya, penyebaran virus corona yang terus menjadi-jadi akibat ketidakjujuran. Padahal, penyakit ini bukan aib yang harus disembunyikan, melainkan arus dilawan bersama-sama.

“Sekali lagi, saya minta bagi masyarakat, tidak ada gunanya berkeliaran di luar apabila tidak ingin menjadi korban. Percayalah, kalau sudah sakit, apa yang kita cari selama ini, jabatan selama ini tidak ada artinya,” pesannya.

Untuk para pasien yang terpapar, Jenny meminta untuk tidak meratapi penyakit. Cobalah tetap semangat dan mendekati diri kepada Yang Maha Kuasa.

“Lakukanlah ibadah terbaikmu, akan membangun imun tubuh kita, bangun semangat kita, kalau ibadah kita kuat insyaallah kita akan bahagia,” katanya.

source langgam.id
Baca Juga
    ______________________________
    support channel youtube Mufid Jiddan dengan klik subcribe dibawah ini, syukon sobat
    ______________________________
    Info Penting:
    yuk share artikel dakwahpost.com, jika ada kesalahan atau saran membangun, japri via whatsapp ke 0895629036221. syukron atas perhatiannya

    No comments: