Kisah Ibu Mas X yang berhaji pakai visa ziarah

Mas X udah ragu pas ibunya bilang daftar haji tanpa antri. Makin ragu pas tau visanya adalah visa ziarah. Tapi sang ibu meyakinkan: "Gak apa-apa. Pak ustad sudah mencari biro yang bisa memberikan tasreh perorangan."

Ya gimana ya. Visa ziarah memang bukan visa resmi untuk berhaji. Tapi selama punya tasreh resmi, berarti bisa berhaji/masuk ke Arafah. Jadi kalo udah punya tasreh kan harusnya aman, gitu pikir mas X. Maka akhirnya mas X menguatkan hati, meniatkan keberangkatannya adalah untuk menemani sang ibu.

Sebelum berangkat, pak ustad sudah memberikan gambaran mengenai perjalanan haji ini. "Karena kita tidak pakai visa haji, jadi nanti kita akan menyamar. Kalau misal ditanya petugas, jangan bilang mau haji. Bilang aja mau ke Thaif."

Rombongan inipun dibekali berbagai 'aksesoris' seperti kain seragam haji warna ungu (mirip dg seragam haji reguler), gelang haji, dan tasreh haji. Tau kaan belinya dimanaaa. Yes. Toko yang itu tuuh.

Perjalanan mereka awal Mei dari Indonesia-Kuala Lumpur-Riyadh-Medinah lancar aman sentosa. Delapan hari rombongan ini puas-puasin sholat di masjid Nabawi (program arbain). Dan tibalah hari mereka menuju Mekah. Proses 'menyamar' pun dimulai.

Mula-mula bis yg mereka tumpangi berhenti di dekat masjid Bir Ali. Ceritanya mau ambil miqot untuk umroh. Tapi tdk seperti lazimnya orang ambil miqot, disini jamaah gak turun, mereka tetap di bis.

Pak ustad meyakinkan bahwa ambil miqot tidak harus turun ke masjid. Ibarat sedang naik pesawat, yg penting posisi kita segaris dengan tempat miqot. Jadi ambil miqot di bis juga gak apa-apa.

Oke lah ya. Selama bisa niat dan pake ihrom kan beres, sama kayak dipesawat gitulah. Masalahnya, mereka kan sedang 'menyamar', jadi ya gak bisa dong pakai ihrom. Masa iya mau ke Thaif pake ihrom ๐Ÿ˜…
Solusi bayar dam fidyah dipilih untuk memuluskan penyamaran ๐Ÿ˜Ž

"Kosongkan bangku depan, semua duduk ke belakang. Tutup tirainya. Biar kalau papasan dengan petugas tuh seolah bis nya kosong," perintah pihak travel. Jamaah nurut.

Bis langsung menuju hotel dekat Mina tanpa ada kendala. Jamaah turun ke hotel, lalu bersiap ke masjidil haram untuk umroh.

"Loh. Yang pada dimasukin bagasi itu kapan?"

Gini ya ges ya, tiap rombongan ilegal tuh ada skenario masing-masing dalam upaya mengelabui petugas. Yang rombongan ini gak pake masuk bagasi. Tapi ntar malah lebih "serem" lagi. Sabar ya.

Prosesi umroh dijalani mas X dan ibunya dengan aman. Mas X jadi percaya diri karena hotelnya punya tasreh (ada stiker tasreh gede di depan gedung). Sebetulnya saat itu ia sudah mendengar soal penggerebekan oleh polisi di hotel-hotel sebelahnya. Tapi karena hotelnya ada tasreh, trus kabarnya si pemilik hotel ini juga mantan polisi, maka mas X dan semua rombongan yg stay disitu ya wholes.

"Ternyata hotel kami sudah diintai oleh intel, Bu. Malam itu hotel kami digerebek. Semua penghuni disuruh keluar lalu dibawa ke kantor polisi. Setelah mereka cek visa kami, lalu kami dibuang keluar Mekah," kata mas X.

Dibuang tuh maksudnya rombongan dibawa keluar dari Mekah oleh polisi trus diturunin di deket mall, atau di taman, atau dipinggir jalan gede, dll, trus ditinggal. Dadah.

Karena rombongan ini sudah dibriefing sebelumnya, maka ketika mereka 'dibuang' gak terlalu panik. Mereka nelpon pihak travel, lalu pihak travel mengirimkan mobil2 kecil untuk menjemput rombongan ini.

Disini bagian tegangnya dimulai.

Mas X dan ibunya terpisah. Mereka masuk dalam mobil berbeda.

Mobilnya mas X melaju dalam kondisi gelap gulita. Lampu utama, lampu kota, lampu apapun di mobil tsb dimatikan. Pokoknya kondisi mobil gak ada cahaya. Sopir buka jendela dan menjulurkan kepalanya keluar untuk bisa melihat jalanan dengan jelas. Udah kayak di film-film gitu deh. Ntar kalo ada sorot lampu dari arah berlawanan, mobil bakal banting setir menjauh. Khawatir itu mobil patroli. Pokoknya begitu terus sampai akhirnya bisa sampai ke hotel.

Nah. Mobil ibunya mas X yang apes. Percobaan balik pertama kena cegat petugas. Mereka puter balik, cari jalan lain. Inipun gak sukses sampai ke hotel karena lagi-lagi mobilnya kena cegat. Dan untuk ketiga kalinya mereka kena cegat lagi. Tapi kali ini mereka gak disuruh puter balik karena sopirnya yg diciduk polisi ๐Ÿ™ˆ Rombongan ibunya mas X beserta mobilnya ditinggal gitu aja dipinggir jalan antah berantah.

Bingung, capek, stres, gak ada orang yang dimintai tolong karena jalanannya juga sepiiii banget. Akhirnya orang tua-tua ini memutuskan jalan kaki. Pokoknya jalaaan aja ke arah Mekah.

Lha kok ya papasan sama anjing gurun. Anjingnya gede. Mereka takut. "Duh. Gimana ini? Kalo lari ntar dikejar. Apa kita jongkok aja?" usul salah satunya.

"Jangan dong. Kalo jongkok ntar dimakan," timpal yg lain.

"Ya udah kita lemparin batu aja biar anjingnya pergi. Hush! Hush!"

Alhamdulillah anjingnya pergi. Mereka jalan lagi.

"Stop! Stop! Itu kayaknya ada polisi!" Salah seorang dari mereka merasa ngeliat petugas berseragam.

Setelah dilihat lebih seksama...

"Oh. Itu bukan polisi. Itu satpam." Lega deh mereka. Akhirnya pada jalan lagi nglewatin pak satpam.

Eee...rupanya pak satpam yg ngliat rombongan ini malah lapor polisi ๐Ÿ˜…

Ibunya mas X dkk panik. Dalam kondisi lelah fisik dan mental, mereka berupaya nyegat taksi. Qadarallah dapet. Tapi sopirnya minta 500real. "Pak, tolong dong dinego taksinya," slh satu dari mereka nelpon ke pihak travel biar ongkos 500realnya bisa turun.

"Boleh, Bu. Sy coba ngomong sama sopirnya," jawab orang travel. "Siapa nama sopirnya, Bu?"

Pas udah dijawab nama supirnya, pihak travelnya lemes. Ternyata marga pak supir ini adalah marga yg umumnya berprofesi sbg polisi.

Dengan memelas, pihak travel ngomong jujur ke pak supir. Bilang kalo ibu2 ini sudah 3x kena cekal. Minta belas kasihan pak supir untuk mengantar mereka ke hotel. Alhamdulillah sopirnya mau. Bahkan berjanji untuk mengantar mereka ke hotel dg cara apapun.

Ntah jadi nego harga atau enggak, yang jelas rombongan inipun berhasil sampai di hotel.

Paska penangkapan, penghuni hotel jadi takut. Mengalami sendiri proses diciduk, dibuang, serta gimana beratnya perjuangan mencari jalan pulang membuat mereka shock.

Lampu kamar dimatikan, aktifitas di hotel dilakukan dengan perlahan, bahkan mau batuk aja gak boleh keras-keras... Kabar bahwa gedung sebelah digerebek 3x membuat tingkat kewaspadaan penghuni di hotel ini meningkat sekian kali lipat. Yang tadinya merasa tenang karena hotel punya tasreh, kini mas X dan jamaah lain sampai memilih tidur di atap hotel saking khawatirnya.

"Latihan mabit di Musdalifah ya mas? Tidur beratap langit," gurau saya.

"Hahaha. Iya bu. Tapi tetap saja kami deg-degan. Kalau pas ada helikopter lewat, jantung rasanya dag dig dug. Takut patroli polisi. Padahal banyak tuh helikopter bersliweran nganter tamu VVIP," kata mas X.

Hari-hari selanjutnya dilewatkan dengan anteng ngedekem di hotel sambil berdoa semoga tidak ada razia. Mau sholat jamaah di atap aja musti hati-hati. Kadang pihak travel melarang dan mengarahkan agar sholatnya di kamar masing-masing aja krn khawatir ada razia.

"Kan katanya dapet tasreh perorangan, Mas?" tanya saya.

"Bohong, Bu. Kita emang dikasih tasreh perorangan tapi dg desain tasreh tahun lalu. Jelas palsu itu," jawabnya.

"Yang lucu itu pas mau ke Arafah. Kami di info agar tidak membuka pintu jika ada yang ngetok-ngetok. Ya udah, kami patuh. Dan benar saja, gak lama ada yg ngetok-ngetok. Kami biarin lah. Sampai lamaa banget Lah ternyata yang ngetok pintu adalah muthowif kami ๐Ÿคฃ Mendadak kami disuruh siap-siap untuk naik bis saat itu juga," lanjutnya.

Rupanya pihak travel mengupayakan bis bertasreh untuk sarana mereka memasuki Arafah.

Sukseskah mereka?

Yup, bisa dibilang begitu. Bis berhasil masuk Arafah. Mereka turun dari bis dan mencari spot mendirikan tenda terpal. Pas ke muzdalifah juga naik bis. Pas di Mina juga bisa lempar jumroh. Mereka gak dapet tenda Mina, tapi bisa balik ke hotel atau nginep di masjid dekat jamarot.

Rangkaian hajinya dijalani dengan baik.

"Sekarang udah sampe tanah air udah lega dong, Mas?"

"Sebetulnya pas udah bisa masuk Arafah itu udah lega saya, Bu. Makin lega pas proses hajinya kelar."

"Trus menurut Mas, bironya nakal gak?"

"Ya gimana ya, Bu. Mungkin bironya nakal. Tapi kami kan udah tau kalo itu ilegal. Jadi ya, mau dibilang bironya nakal wong kami juga mau. Berarti kan kami juga nakal." ๐Ÿ˜

"Trus, pak ustadnya gimana? Ngerasa bersalah gak tuh?"

"Pak ustad ini korban jg sih, Bu. Sebelumnya kan sudah mau deal sama biro A. Tapi biro A bilangnya gak bisa bikin tasreh perorangan. Bisanya tasreh bis. Nah yang biro B ini katanya sanggup bikinin tasreh perorangan. Makanya pak Ustad pilih biro B."

"Nggg... klo Mas pribadi ngerasa hajinya sah gak?"

"Enggak tau, Bu. Tapi kurang mantap aja. Yg jelas saya pengen haji lagi."

"Pake visa ziarah lagi?"

"Wah. Ya enggak, Bu! Kapok saya. Ibadah kok isinya deg-degan gini. Saya mau yang resmi aja," pungkasnya.

"Waduuuh... ni kalo udah denger kisahnya begini, kan jadi gak tega kita makan oleh-oleh hajinya," canda seorang kawan, yang disambut dengan gelak tawa si Mas serta beberapa orang yang sedari tadi khusyuk menyimak kisah 'Haji Perjuangan'.

Tidak ada komentar: