sifat muslim itu "Optimis dan husnuzon kepada Allah tabaraka wata'ala."

Bismillah walhamdulillah washshalatu wassalamu alaa Rasulillah ﷺ

Banyak diantara kita saat melakukan sesuatu direncanakan terlebih dahulu sebelumnya dengan perhitungan yang matang.

Hitung sana sini, segala kemungkinan dihitung apakah menguntungkan atau menjadikan kerugian.

Setelah semua elemen dan faktor-faktor lainnya, terjadilah perhitungan bahwa langkah-langkah tersebut akan menguntungkan, mulailah untuk action.

Saat semuanya lancar dan indah sesuai perhitungan, qadarullah tiba-tiba terjadi sesuatu yang menyebabkan beberapa kerugian.
mendaki gunung nan tinggi

Di saat inilah kita diuji oleh Allah tabaraka wata'ala dengan ujian yang nyata.

Sebelum memulai sesuatu kita optimis secara perhitungan semua akan indah, dan memang kenyataannya indah,

ditengah jalan ada rintangan yang membuat keindahan tersebut berkurang, berkurang dan berkurang.

Saudaraku, lihatlah perkataan Allah tabaraka wata'ala :

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah berfirman: 'Aku selalu tergantung prasangka hamba-Ku terhadap-Ku." (HR. Bukhari 6951)

Dari Abu Hurairah dia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Allah 'azza wajalla berfirman; 'Bagi hamba-Ku adalah sebagaimana perasangkanya kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya selama ia berdoa kepada-Ku.

Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku,

jika ia mengingat-Ku dalam sekumpulan orang maka Aku akan mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dan lebih bagus darinya.

Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepada-Nya satu hasta,

jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan

jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari."

(HR Muslim 4851)

Pada saat kita merencanakan sesuatu, kita berharap kepada Allah ta'ala akan menjadi baik, inilah yang disebut prasangka. Allah ta'ala menepati janjinya terhadap peasangka hambaNya.

Dan Allah ta'ala menunjukkan cintaNya kepada hambaNya tersebut dengan ujian-ujian, sebagaimana ujian yang ditempuh oleh kaum terdahulu.

Dari hadist tersebut diatas, kita bisa mengambil ibrah bahwa prasangka kita terhadap Allah ta'ala akan menjadi kenyataan, jika kita berprasanga baik (husnuzon) maka semuanya akan berakhir baik, tetapi jika kita berprasangka buruk (su'uzon) maka semuanya juga akan manjadi buruk.

Kemudian Allah ta'ala mengatakan :

Aku akan bersamanya selama ia berdoa kepada-Ku.

Makna kebersamaan Allah dengan makhluk-Nya adalah kebersamaan yang sesuai dengan kemahatinggian-Nya, yang mengandung arti bahwa Allah meliputi semua makhluk-Nya dengan pengetahuan-Nya, penglihatan-Nya, pengawasan-Nya, pendengaran-Nya, kekuasaan-Nya dan sifat-sifat maha sempurna Allah lainnya yang merupakan makna Rububiyah-Nya. [Syarh al-Aqidah al-Wasithiyyah, hal 401, Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin]

Makna tersebut adalah makna yang dijelaskan oleh para Imam ahli tafsir dari kalangan ahlus sunnah wal jama’ah, ketika menafsirkan firman Allah,

‎هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ، يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الأرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا، وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia beristiwaa’ (tinggi berada) di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang ke luar darinya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Hadid: 4)

Diantara yang menafsirkan adalah Imam Ibnu Katsir rahimahullah:

“Dia maha mengawasi kalian lagi menyaksikan perbuatan-perbuatan kalian, kapan dan di manapun kalian berada, di darat maupun di laut, di waktu malam maupun siang, di dalam rumah atau di tempat yang sunyi. Pengetahuan-Nya meliputi semua mahluk-Nya secara menyeluruh, semua dalam pengawasan dan pendengaran-Nya. Dia mendengar (semua) ucapan serta meyaksikan (semua) keadaan kalian. Dan Dia mengetahui apa yang kalian tampakkan dan rahasiakan.” [Tafsir Ibnu Katsir]

Ketahuilah saudaraku, do'a yang dipanjatkan hanya kepada Allah ta'ala adalah bagian dari Tauhid Uluhiyyah, yang sangat ditentang oleh kaum kafir dan pemuja benda-benda keramat.

Allah ta'ala berjanji, dan janjiNya pasti ditepati, bahwa Dia akan selalu bersama orang-orang yang berdo'a kepadaNya.

Apapun yang kita lakukan, dimanapun kita berada, Zat yang Maha memelihara segalanya selalu bersama kita, itulah satu nikmat bagi yang selalu berdo'a hanya kepada Allah ta'ala.

Kemudian Allah tabaraka wata'ala berfirman :

Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku,

Cinta kita kepada istri akan mengingatkan kita kepadanya,
Cinta kepada anak akan mengingatkan kita kepada anak,
Cinta kepada seseorang akan mengingatkan kita kepada orang tersebut, dan seterusnya.

Tapi belum tentu orang atau sesuatu yang kita cintai akan mencintai kita.

Cinta kita kepada Allah ta'ala dengan terus menerus mengingatNya, menjadikan Allah azza wajalla selalu mengingat hambaNya tersebut. Jika Allah ta'ala selalu mengingat hambaNya, maka apapun juga yang diinginkan oleh hamba tersebut akan diberikan olehNya.

Kemudian Allah tabaraka wa'ala berfirman :

jika ia mengingat-Ku dalam sekumpulan orang maka Aku akan mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dan lebih bagus darinya.

Siapakah yang dimaksud sekumpulan yang lebih baik dari para hambaNya tersebut ?

Mereka adalah penduduk langit, para malaikat.
Mereka tidak pernah berhenti berzikir kepada Allah ta'ala,
Makhluk yang diciptakan dari cahaya,
Selalu melaksanakan perintahNya tanpa lalai sedikitpun.

Jika ada hamba Allah yang diingat oleh Allah ta'ala diantara sekumpulan para malaikat, dialah hamba Allah yang selalu mengingatNya dalam sekumpulan orang.

Yaitu saat mereka hadir di Majelis Ilmu dengan mengingat Allah ta'ala, Berzikir saat masuk kedalam pasar, Dan seterusnya.

Kemudian Allah ta'ala berfirman :

Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepada-Nya satu hasta,
jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan
jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.

Makna kedekatan Allah dengan hamba-Nya adalah Allah Subhanahu Maha dekat dengan orang-orang yang berdo’a dan yang bermunajat kepada-Nya, Maha Mendengar do’a dan bisik-bisik hamba-Nya, dan Allah akan mengabulkan do’a para hamba-Nya kapan saja dan dengan cara apa saja yang Dia kehendaki, maka Allah Maha dekat dengan ilmu-Nya dan pengawasan-Nya. [al-Aqidah al-Wasithiyyah, Ahmad bin Taimiyah]

Sebagaimana terdapat dalam firman Allah Ta’ala dalam kitab-Nya yang mulia,

‎وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي ‎وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.“ (QS. al-Baqarah: 186)

Ini adalah balasan Allah tabaraka wata'ala yang selalu ingin lebih dekat kepada hambaNya yang berusaha mendekat kepada Rabbnya.

Kenikmatan dan keindahan saat berdekat-dekatan kepada Allah tabaraka wata'ala adalah kenikmatan puncak dari manusia.

Demikian yang bisa kami sampaikan. Dan tetaplah selalu berprasangka yang baik kepada Rabb kita. Semoga bermanfaat bagi kami dan yang membacanya.

Abu Aurel Reza

(sumber : Ust Muhammad Abduh Tuadikal, Ust Ahmad Zainudin, Ust Ammi Nur Baits, Ummu Uwais Bondan, dan kajian sunnah yang pernah kami ikuti)
Powered by Blogger.