Keraguan setelah melakukan ibadah itu tidak dianggap.

KAIDAH FIKIH

Keraguan biasanya terjadi di dua tempat:
1. Ketika ibadah sedang berlangsung.
2. Setelah selesai melakukan ibadah.
Keraguan setelah melakukan ibadah itu tidak dianggap.

Adapun ketika ibadah berlangsung, maka ini pun ada dua macam:
1. Keraguan karena lupa.
2. keraguan karena was was.

Bila karena lupa, maka ambillah yang yakin. Contohnya bila ia ragu apakah dua atau tiga rakaat, maka ambil dua dan tambah lagi satu rokaat dan sujud sahwi sebelum salam.

Bila karena was was, maka tidak dianggap. Seperti ragu apakah keluar dari duburnya sesuatu atau tidak. Maka ia tidak boleh membatalkan sholatnya hanya karena was was tersebut.

Sedangkan bila keraguan itu setelah melakukan perbuatan, maka inipun tidak dianggap.

Contohnya bila telah selesai wudlu, ia ragu apakah sudah mencuci tangan atau belum.
Setelah selesai sholat ia ragu, apakah sudah dua rokaat atau tiga rokaat.
Setelah selesai puasa, ia ragu apakah ia berpuasa qodlo atau bukan. Dan sebagainya.

Sumber copas: TG Al Fawaid.
dibutuhkan donasi perpanjang sewa domain, salurkan ke 3343-01-023572-53-6 (rek bri simpedes) atas nama Atri Yuanda. konfirmasi via whatsapp ke 085362377198. donasi masuk masih nol. semoga menjadi amal jariah

1 orang mendapat hidayah lebih baik dari pada dunia dan isinya, yuk share
kunjungan anda kembali = penyemangat untuk update artikel selalu

Keraguan setelah melakukan ibadah itu tidak dianggap.

-->