intopeksi diri: ayah tega bakar keluarganya, ternyata inilah penyebabnya

Seorang ayah tega membakar keluarganya. Inilah sebuah kisah yang menggetarkan hati dan mengalirkan air mata...

Kisah sebuah keluarga yang semua keinginannya dipenuhi oleh sang ayah...

Akan tetapi, sungguh menyedihkan, ayahnya telah tega membakar mereka...!!!

Kenapa, apakah ia tidak mencintai mereka?

Bukankah ia telah memberikan semua keinginan keluarganya?

Kalau begitu, mengapa ia membakar mereka, padahal ia mencintai mereka dengan kecintaan yang begitu besar...?
ayah tega bakar keluarganya, ternyata inilah penyebabnya

Benar, ia telah membakar keluarganya tatkala ia lengah dan lalai dari firman Allah Ta'ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya Malaikat-Malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan" (QS. At-Tahrim [66]: 6)

Bukankah ia yang bersemangat keras untuk memberikan semuanya kepada keluarganya, kecuali hal-hal yang dapat mendekatkan mereka kepada Allah dan menjauhkan mereka dari Neraka?

Lalu apa yang ia inginkan untuk nasib keluarganya pada hari kiamat nanti, setelah semua ini jika keluarganya tidak bertaubat?

Apakah ia membayangkan tidak akan ditanya tentang dirinya dan keluarganya pada hari kiamat?

Bukankah Allah Ta'ala berfirman :

وَقِفُوهُمْ ۖ إِنَّهُمْ مَسْئُولُونَ
"Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya" (QS. Ash-Shaffat : 24)

Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata :

"Salah seorang ulama berkata : "Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla pada hari kiamat nanti akan meminta pertanggung jawaban dari orang tua tentang anaknya sebelum meminta pertanggung jawaban dari anak tentang orang tuanya.

Karena sebagaimana orang tua mempunyai hak (yang harus dipenuhi) anaknya, (demikian pula) anak mempunyai hak (yang harus dipenuhi) orang tuanya.

Mayoritas anak menjadi rusak dengan sebab yang bersumber dari orang tua, dan tidak adanya perhatian mereka terhadap si anak, tidak adanya pendidikan tentang berbagai kewajiban agama dan sunnah-sunnahnya.

Orang tua telah menyia-nyiakan anak-anak selagi mereka masih kecil, sehngga anak tidak bisa memberi manfaat untuk dirinya sendiri dan orang tuanya ketika sudah lanjut usia.

Hal itu sebagaimana yang terjadi, ketika sebagian orang tua mencela anak karena kedurhakaannya, maka si anak pun menjawab :

"Wahai ayahku, sesungguhnya engkau dahulu telah berbuat durhaka kepadaku (tidak mendidikku) saat aku kecil, maka aku sekarang mendurhakaimu ketika engkau telah lanjut usia.

Engkau dahulu telah menyia-nyiakanku sebagai anak, maka sekarang aku menyia-nyiakanmu ketika engkau telah berusia lanjut" (Kitab Tuhfatul Maudud hal 337).

Al-Ustâdz Najmi Umar Bakkar

Telegram Channel : Cahaya Sunnah
Join: @najmiumar

Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan menjadi pembuka amal² kebaikan bagi anda yang telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.
Powered by Blogger.