IBX5A47BA52847EF Hikmah Saat Sakit (disertai kisah nyata menginspirasi)

Hikmah Saat Sakit (disertai kisah nyata menginspirasi)

Seorang teman mengeluh karena saat ia sakit dan dirawat di rumah sakit tidak ada seorangpun yang menjenguknya. Kalaupun ada sahabat yang menjenguknya, itupun setelah ditegur dan diminta olehnya agar datang menjenguk ke rumah sakit.

Teman tersebut menghibur dirinya bahwa kemungkinan besar ia tidak ditengok karena ia memiliki sifat yang kurang baik sehingga teman atau kenalannya tidak merasa nyaman darinya. Ia berusaha untuk bersangka baik kepada sahabat dan kenalannya hanya saja setan berusaha mempengaruhinya untuk bersangka buruk kepada saudara-saudaranya.

Yang membuat sedihnya bertambah, ketika marbot masjid sakit maka banyak jamaah masjid yang menengok padahal dia sendiri menjadi imam rawatib di masjid yang sama.

Dia pun diingatkan agar tetap selalu bersangka baik kepada sahabat dan teman. Bisa jadi dia kurang bergaul dengan masyarakat sehingga masyarakat segan dan mengambil jarak dengannya. Bisa jadi mereka tidak mendengar kalau ia sakit dan masuk rumah sakit. Mungkin mereka sudah berniat untuk menjenguk ke rumah sakit, tapi karena letak rumah sakit yang jauh, atau karena kesibukan yang luar biasa sehingga mereka belum sempat menjenguk sahabatnya yang sakit. 

Hikmah Saat Sakit

Mungkin juga sebagian dari teman-teman merasa malu jika menjenguk sahabatnya tidak membawa oleh-oleh atau uang untuk meringankan bebannya karena mereka tidak memiliki uang lebih. Untuk uang transport saja mungkin mereka tidak memilikinya. Dua kemungkinan terakhir ini dibenarkan olehnya berdasarkan pengakuan sebagian sahabatnya.

Saya dan teman saya tadi perlu merenung firman Allah :
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebaikan serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.” [Al A’raaf/7 :199]

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan pendapat yang paling masyhur tentang pengertian خُذِ الْعَفْوَ “ khudzil afwa" adalah : "Ambillah oleh apa yang mudah dari akhlak manusia”.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkata : “Yang dimaksud dengan “Khudzil Al Afwa” dalam ayat ini yaitu ambillah apa yang mudah dari sikap manusia. Barangsiapa yang ingin agar orang lain memperlakukannya menurut apa yang ia sukai secara sempurna maka ia akan kecewa. Sikap mereka yang baik maka terimalah, adapun hak dirinya yang disia-siakan mereka maka jangan ambil pusing dan biarkanlah berlalu, kecuali jika perbuatan mereka telah menodai agama Allah yang terhormat. Dengan demikian, andalah pemilik keutamaan.” [Syarah Riyadhus Shalihin]

Teman saya menyampaikan bahwa banyak hikmah dapat dipetik dari sakit yang dideritanya : "Ia akan selalu mengevaluasi diri dan memperbaiki kekurangan dan dosanya baik yang berhubungan dengan Allah atau yang berhubungan dengan muamalah kepada sesama manusia. 

Ia semakin mantap untuk selalu bersangka baik kepada sahabat dan temannya. Ia juga menjadi sadar bahwa menjenguk orang sakit sangat dibutuhkan oleh orang yang sedang sakit. Orang yang sakit membutuhkan hiburan, doa, motivasi dan lainnya. Ia bertekad akan menjadi orang yang rajin menjenguk sahabat dan temannya yang sakit.

Hikmah lainnya : "Jika orang yang sakit itu sabar dan ridha dengan takdirNya maka Allah akan menghapuskan dosa-dosanya, meninggikan derajatnya di sisiNya dan memberinya pahala tanpa batas".

Syaikh Mahmud Al Mishri mengisahkan : “Qais bin Saad bin Ubadah radhiallahu anhuma sakit sedangkan sahabat-sahabatnya belum menjenguknya. Ia merasa heran dan sedih dengan sikap teman-temannya yang terlambat menjenguknya. Dari informasi yang sampai kepadanya, “Mereka malu dengan hutang-hutang mereka kepadamu!” Qais pun berkomentar, “Celakalah harta yang dapat menghalangi seseorang untuk menjenguk saudaranya.” Qais memerintahkan agar disampaikan kepada teman-temannya, “Barangsiapa yang memiliki hutang kepadanya, maka ia telah mengikhlaskan dan hutang mereka menjadi lunas.” Sore hari, teman-teman Qais berbondong-bondong menjenguknya sampai pintu gerbang rumah Qais patah karena sesak manusia yang memasuki rumahnya.” [Al Hayaatu Hulwatun, 139-140]

Cirebon, 10 Muharram 1440 H, 20 September 2018 M
Oleh: Fariq Gasim Anuz
♻ Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini, semoga bermanfaat. Jazakumullahu khoiron
broadcast whatsapp 1hari 1ilmu
Disclaimer: jika ada kesalahan dari sisi penulisan, ukuran font, link rusak, sumber referensi dll harap konfirmasi via whatsapp ke 0895629036221 untuk diperbaiki