IBX5A47BA52847EF KISAH NYATA KEKEJAMAN PKI 1926 - 1968

KISAH NYATA KEKEJAMAN PKI 1926 - 1968

Tubuh Ayah Saya Hanya Bisa Dipunguti dan Dimasukkan Kaleng

“Ayah saya diseret ke sawah sambil dipukuli beramai-ramai. Setelah saya cari ke mana-mana tidak ketemu ternyata jasadnya terbuang di sawah. Tubuh bapak saya tidak berbentuk lagi, hancur habis terbakar dan dimakan anjing. Potongan tubuhnya hanya bisa dipungut satu persatu dan dimasukkan kaleng.” (Isra’, Surabaya, saksi dan anak korban peristiwa 1965)
--------------------------------------

Saya Selamat tapi Empat Sahabat Saya Disiksa hingga Tewas

"Tetangga yang sering saya bantu itu, ternyata suaminya pimpinan PKI. Saya mau disembelih jam satu malam. Alhamdulillah selamat. Tapi anak perempuan pertama saya meninggal setelah malam itu saya menyelematkan diri melewati sungai. Empat sahabat saya sesama aktifis dakwah disiksa dengan dipotong kemaluan dan telinga mereka hingga meninggal". (Moch Amir, SH, Surakarta, korban peristiwa 1965)
--------------------------

Kakak Saya Dipotong Telinganya Lalu Dibuang ke Sumur
"Para tokoh Islam dari Masyumi di Ponorogo diciduk dan dinaikkan truk. Kakak saya dipotong telinganya. Lalu dibuang di sumur tua". (Mughni, Ponorogo, saksi korban peristiwa 1948)
--------------------------

Kapolres Ismiadi Diseret dengan Jeep Wilis Sejauh 3 Km Hingga Tewas
"Sebelum meletus peristiwa Madiun Affair, orang-orang PKI merampok dan membakar rumah-rumah para pedagang di Kauman, Magetan. Dilanjutkan pembunuhan terhadap para aparat. Kapolres Ismiadi diseret dengan Jeep Willis sejauh tiga kilo meter hingga tewas. Setelah tentara habis, gantian polisi dihabisi. Setelah itu pejabat dan ulama serta para santri". (Kusman, sesepuh Magetan, nara sumber peristiwa 1948)
---------------------------------------

Kakak Tertua saya Hilang Dibawa PKI

"Setelah menggeledah rumah orang tua saya, kakak tertua saya dibawa PKI. Lalu tidak jelas kabarnya. Lima orang saudara sampai sekarang hilang tidak ditemukan" (Mastur, saksi korban peristiwa Ponorogo 1948)
---------------------------

Sebanyak 200 orang Disekap di Lumbung Padi

“Ayah saya seorang veteran pejuag 1945. Bersama lebih 200 orang lainnya, terdiri dari para kiyai dan tokoh masyarakat digiring dan dimasukkan ke dalam lumbung padi tua tinggalan jaman Belanda di Desa Kaliwungu, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi. Mereka disekap dua hari dua malam tidak diberi makan. Semua aktifitas seperti tidur dan buang air jadi satu di dalam gudang yang penuh sesak. Jerigen-jerigen bensin sudah disiapkan untuk membakar lumbung itu. Alhamdulillah ayah saya bisa lolos dan berlari sejauh 20 kilo meter untuk mencari bantuan pasukan Siliwangi. Mereka selamat”. (Fuadi, anak korban peristiwa Ngawi 1948)
---------------------

Buya Hamka Disiksa Setiap Hari

“Buya Hamka, Ketua MUI pertama dan para ulama lainnya dipenjara di jaman Presiden Soekarno. Mereka dipenjara atas tuduhan tidak jelas. Hamka dipaksa mengakui perbuatan yang tidak dia lakukan yaitu berencana membunuh Presiden Soekarno dan Menteri Agama. Hamka dan para ulama difitnah oleh kalangan PKI yang saat itu sangat dekat dengan Presden Soekarno. Setiap hari Buya Hamka disiksa dan diancam akan disetrum kemaluannya”. (Kyai Cholil Ridwan, murid Buya Hamka, saksi peristiwa 1964-1966)
----------------------------------------------

Saya Dituduh Kontra Revolusi

“Setelah saya ikut menandatangani Manifest Kebudayaan yang melawan LEKRA, lembaga kebudayaan yang berhaluan komunis, saya dituduh kontra revolusi. Tuduhan ini jika digambarkan jaman sekarang, jauh lebih menakutkan dibanding tuduhan teroris. Akibatnya, saya tidak jadi kuliah di Amerika karena visa tidak keluar. Gaji saya sebagai dosen langsung distop. LEKRA juga merancang pementasan seni Ludruk yang sangat menghina Islam seperti:”Matine Gusti Allah (Matinya Tuhan Allah)”, “Sunate Malaikat Jibril (Disunatnya Malaikat Jibril)”. (Taufiq Ismail, Sastrawan dan budayawan senior. Korban dan saksi peristiwa 1963-1965)
--------------------------------------------

Ayah Saya Dibacoki, Dipukuli, Lalu Dimasukkan Sumur

"Ayah saya dan adik ayah saya bersama lima orang lainnya para kyai dimasukkan loji lalu dibakar. Mereka berhasil keluar. Setelah keluar bapak saya dibacoki. Bapak saya dipukuli. Bapak saya dimasukkan ke dalam sumur. (Suradi, anak Sastro Glombroh, korban peristiwa Ngawi 1948)
-------------------------------------------------

Mencoba Melarikan Diri Enam orang Langsung Dibantai

Peristiwa pembantaian beberapa orang di Dusun Gebung, Katikan, Ngawi, sebetulnya ada enam orang yang berhasil keluar lewat jendela bangunan yang saat itu dibakar PKI. Namun, setelah di luar mereka dibantai dengan pedang dan jasadnya bertumpukan di dekat sumur. (Jumairi, saksi peristiwa Ngawi 1948)
------------------------

Kyai Dimyathi Disembelih dan Rumahnya Dibakar

Saya sudah umur 16 tahun saat kejadian yang menimpa Kyai Dimyathi pada tahun 1948. Saat mengungsi Kyai ditipu oleh yang masih ada hubungan kerabat. Katanya, desa tempat tinggal kami sudah aman. Ternyata dia orang PKI dan membawa Kyai Dimyathi ke Ngrambe dan disembelih bersama seorang guru bernama Suwandi. Rumah Kyai Dimyathi dibakar. (Siti Asiyah, anak asuh Kyai Dimyathi, peristiwa Ngawi 1948)
------------------------------------------------

Ternyata Saya Akan Dibunuh oleh Tetangga dan Teman Baik Saya

Setelah peristiwa 1965 mereda, saya diberitahu ternyata nama saya masuk daftar calon korban yang akan dibunuh PKI. Saya sudah kuliah dan aktif di PII saat itu. Tetangga persis di sebelah rumah saya dan teman yang saya kenal baik itu, ternyata PKI. Saat digeledah di rumahnya ternama nama-nama orang-orang yang rencananya akan dibunuh PKI. Zainudin, Kediri, saksi peristiwa 1960-1965.

Genangan Darah Setinggi Mata Kaki

“Genangan darah ratusan korban pembantaian PKI di sebuah loji (gedung) di Pabrik Gula Rejosari Gorang Gareng, Magetan, pada September 1948, setinggi mata kaki. Mereka diberondong senapan mesin oleh tentara merah PKI”.

Kyai Zakariya, saksi peristiwa Gorang Gareng 1948.

30 Orang Dibakar Hidup-hidup dalam Loji
“Sebanyak 30 orang tokoh dan para kyai dimasukkan kedalam loji, diberi makanan beracun lalu dibakar hidup-hidup. Ketika berhasil membobol pintu berantai setelah berdoa dan berteriak Allaahu Akbar, mereka dibacok dengan pedang”. Siti Maisaroh, anak korban selamat peristiwa Ngawi 1948.

Ayah saya Dikubur Hidup-hidup di Sumur

“Kyai Soelaiman Zuhdi Afandi, dikubur hidup-hidup bersama 200 orang kyai, santri dan masyarakat di sumur tua di Desa Soco”. Kyai Ahyul Umam, putera Kyai Soelaiman, korban peristiwa Soco 1948.

Diseret ke Hutan Lalu Dijatuhkan ke Jurang
“Bapak saya beserta enam orang pemuka agama yang jadi sahabatnya diseret dan dibawa ke hutan. Lalu dibunuh dengan cara dilempar ke jurang dan dihujani batu”. Sartono, anak Carik Ismail, peristiwa Ponorogo 1948.

buku Ayat-Ayat yang di Sembelih

Sebuah buku yang berjudul Ayat Ayat Yang Disembelih

Mengungkap Aksi Keji PKI Begitu Nyata!
Lebih dari 35 Saksi Angkat Bicara

Sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI) penuh darah kekejaman di mana-mana. Mereka menyiksa, membakar, menyembelih, serta mengubur hidup-hidup para kiyai dan santri, menghasut para petani untuk berontak serta merampas harta-harta semua golongan yang tidak sepaham komunis.

Semua tindakan PKI hanya untuk satu tujuan: Mengganti NKRI menjadi negara komunis. Negara anti Tuhan dan anti insan ber Tuhan yang berlambang palu arit.
Mengapa Buku ini Penting?
Sebuah buku yang mengangkat fakta sejarah kekejaman PKI dalam rentang waktu sangat panjang, 1926 - 1968. Membentang dari ujung Pulau Sumatera hingga Pulau Bali. Disajikan dengan gaya bercerita (story telling) sehingga tidak membosankan.
Kekuatan buku ini terletak pada penggambaran situasi detil secara naratif pada masa kejadian yang tidak hanya bersumber dari referensi teks. Tetapi juga disertai wawancara penulis dengan 30 saksi-saksi hidup yang terdiri dari korban, kerabat dan keluarga korban keganasan PKI di Jakarta, Solo, Ngawi, Madiun, Magetan, Ponorogo, Kediri, Blitar dan Surabaya.
Buku ini penting dibaca oleh siapapun. Untuk menyadarkan kembali kepada kita akan bahaya laten komunis bagi masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan generasi yang akan datang.
Dengarkan Cerita Para Saksi dan Korban
Ingatan mereka akan sejarah kekejaman PKI tak ‘kan terhapuskan. Trauma demi trauma yang siapapun tak ingin mengalaminya. Mereka hanya ingin berbicara kepada kita. Maka dari itu, dengarkanlah…

Daftar Isi Buku :

1. Prolog : Merah Putih itu Nyaris Diganti Palu Arit
2. Amini Anjuran Alimin, Lalu Darah Tumpah
3. Kutil : Penyembelihan ini adalah Gugatanku kepada Tuhan
4. Jasad Oto Dilarung Ke laut Setelah Kepalanya Dipenggal
5. Pembunuhan Bupati Lebak Oleh Ce' Mamat dan Perampokan Tak Berkesudahaan
6. Dua Hati Mengikat Janji, Kepala Kekasih Tersembelih
7. Aksi Pemanasan di Magetan, Kampung Kauman pun Dibumi Hanguskan
8. Kyai Soelaiman Tetap Berdzikir Meski Dikubur Hidup-Hidup dan Dihujani Batu Kapur
9. Musso, Kau Buang Kemana Kyai Kami
10. Banjir Darah di Loji Rojosari Setinggi Mata Kaki
11. Wangi Pucuk Kenanga itu tak kan Hapuskan Bau Anyir Darah Para Kyai Kami
12. Jamban Adalah Kuburan Kalian
13. Legenda Sandiryo dan Penyembelihan Ulama di Kresek
14. Gubenur Soerjo Ditelanjangi, Diseret Lebih Dari 10 Kilometer, Lalu Disembelih
15. Pembantaian KH Hamid Dimyathi di Tirtomoyo
Untuk Siapa Buku Ini ?

Buku "Ayat-Ayat yang di Sembelih" ini dibuat untuk untuk :

1. Generasi Muda sebagai penerus Bangsa, agar tidak mudah terhasut paham komunis (PKI), agar keutuhan NKRI tetap terjaga.
2. Khalayak Umum, bahwa paham komunis (PKI) dalam melaksanakan aksinya dengan perbuatan biadab dan tidak manusiawi.
3. Para Kyai, yang telah mengorbankan nyawanya untuk menolak paham komunis (PKI).
4. Bangsa Indonesia, bahwa paham komunis (PKI) tidak cocok untuk keutuhan NKRI yang terdiri dari berbagai budaya, adat dan istiadat.
♻ Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini, semoga bermanfaat. Jazakumullahu khoiron
broadcast whatsapp 1hari 1ilmu
Disclaimer: jika ada kesalahan dari sisi penulisan, ukuran font, link rusak, sumber referensi dll harap konfirmasi via whatsapp ke 0895629036221 untuk diperbaiki