Nabi Menegur dan Mengoreksi kekeliruan sahabatnya

Nabi Menegur dan Mengoreksi kekeliruan sahabatnya

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajari sahabat Al Barra bin ‘Azib radhiallahu ‘anhu do’a tidur dengan lafadz berikut,

اَللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِى إِلَيْكَ ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِى إِلَيْكَ ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِى إِلَيْكَ ، رَهْبَةً وَرَغْبَةً إِلَيْكَ ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِى أَنْزَلْتَ ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِى أَرْسَلْتَ
“Ya Allah, aku menyerahkan diriku kepada-Mu,menghadapkan wajahku kepada-Mu, menyerahkan semua urusanku kepada-Mu, menyandarkan punggungku kepada-Mu, karena mengharap dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari ancaman-Mu kecuali kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab yang Engkau turunkan dan kepada nabi yang Engkau utus.”
Nabi Menegur dan Mengoreksi kekeliruan sahabatnya

Ketika Al Barra mencoba menghafal do’a di atas, beliau keliru dan mengganti lafadz [نَبِيِّكَ] dengan [رَسُولِكَ], nabi pun menegur dan mengoreksinya. padahal arti dari kedua lafadz tersebut sama [HR. MUSLiM 2710] Hal ini menunjukkan perhatian nabi terhadap penggunaan do’a yang sesuai dengan tuntunan beliau, tanpa disertai tambahan dan pengurangan.

Imam Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah mengatakan,

وأولى ما قيل في الحكمة في رده صلى الله عليه وسلم على من قال الرسول بدل النبي ان ألفاظ الأذكار توقيفية ولها خصائص وأسرار لا يدخلها القياس فتجب المحافظة على اللفظ الذي وردت به
“Hikmah yang paling utama dari tindakan penolakan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat yang mengucapkan lafadz rasul sebagai ganti lafadz nabi bahwasanya lafadz-lafadz dzikir adalah tauqifiyah (harus mengikuti dalil, ed) dan memiliki berbagai kekhususan dan rahasia yang tidak bisa diketahui oleh akal, sehingga wajib menggunakan berbagai lafadz do’a yang disyari’atkan (baca: terdapat dalam Al Quran dan sunnah).

Fathul Baari: 11/112.
buku induk koreksi doa dan dzikir
Baca selengkapnya »
Sangat menginspirasi, Belajar ketawadhuan Syeikh Utsaimin

Sangat menginspirasi, Belajar ketawadhuan Syeikh Utsaimin

Beliau tidak mengatakan : " Saya Ibnu 'Utsaimin "

Salah seorang yang mengenal beliau bercerita :

Dulu, kira-kira diantara tahun 96 - 98, saya menunggu shalat subuh di shaf pertama di Masjid Al-Haram, waktu itu ada seorang petugas keamanan disamping kanan saya yang menjaga agar tempat dibelakang Imam tidak terlalu sesak dan agar ada tempat yang lowong untuk para Alim Ulama ..

Dan di depan Maqam, ada 4 petugas lagi yang menjaga agar orang-orang tidak menuju ke shaf pertama, dan tiba-tiba muncul seorang laki-laki tua, ia memiliki jenggot putih yang lebat, dan memakai pakaian yang tidak disetrika..
Belajar ketawadhuan Syeikh Utsaimin

Lelaki tua ini ingin melewati para petugas yang berada didepan Maqam agar dia bisa sampai di shaf pertama namun petugas disana menghalanginya. Dia kemudian mencari jalan lain disekitar Ka'bah dan berusaha meloloskan dirinya dari halangan petugas namun lagi-lagi petugas menahannya. Dia terus mencari jalan agar dia bisa sampai ke shaf pertama ( dan saya terus memperhatikannya ) sampai akhirnya dia berhasil melewati petugas keamanan disamping saya yang waktu itu sedang berbicara dengan orang yang ada dibelakangnya.

Saat Dia sudah berhasil berdiri di shaf pertama, Dia langsung bertakbir shalat sunnah, Petugas kemanan itu lantas marah, dia berdiri tepat di depan lelaki tua ini, sampai ketika sang lelaki tua ini selesai dari shalatnya, petugas itu langsung mengangkat dan menarik bahunya seraya berkata :

" berdiri !! "

Lelaki tua itu menjawab ( dengan dialek Qasim ) : " ada apa denganmu ? "

Petugas itu berkata : " tempat ini dikhususkan untuk para Masyaekh dan Ulama... Mundurlah !!! "

Lelaki tua itu menjawab : " apa yang saya lakukan kalau para Ulama dan Masyaekh telat datang ? "

Petugas itu pun marah dan saya terus memperhatikan kejadian itu sambil tersenyum, dan sebelum petugas tersebut melakukan tindakan yang berlebihan, saya lalu memegang tangannya, memberi isyarat agar ia mendekat dan ia pun mendekat, saya kemudian membisikkan di telinganya kalau lelaki tua itu adalah Al-'Allamah Al-Faqih Muhammad bin Utsaimin, petugas itu bersegera mendatangi Beliau, mencium kepala Beliau dan meminta maaf.

Beliau memandangiku dengan pandangan mata protes karena telah mengabari petugas tadi siapa Beliau sebenarnya, saya hanya tersenyum dengan senyuman permintaan maaf, iqamat pun dikumandangkan, Syekh Sa'ud bin Ibrahim Asy-Syuraim datang untuk mengimami shalat dan disaat Ia melihat Beliau di shaf pertama, Ia meminta Beliau menjadi Imam tapi Beliau menolak, akhirnya Syekh Asy-Syuraim yang mengimami shalat kami.
Ketenaran adalah sebuah fitnah bagi orang Alim
Syetan membuat mereka gila dihormati
Banyak yang terjerat
Kecuali yang dirahmati Allah...
Rahimahullah As-Syekh
Beliau cermin keteledanan untuk kita semua..
-----

Naskah Asli Ceritanya :
لم يقل " أنا ابن عثيمين"
يقول أحدهم:كنت مابين عام ١٩٩٦م١٩٩٨م تقريباً أنتظر لصلاة الفجر في الصف الأول في الحرم المكي ،وكان على يميني رجل شرطة يمنع ازدياد المصلين خلف الإمام ليكون هناك مكانٌ للعلماء والعدول من الناس وأمام المقام أربعة من الشرطة يأمرون الناس بعدم التوجه إلى الصف الأول وفجأةً جاء رجلٌ مسن له لحيةٌ بيضاء طويلة يرتدي ملابس غير مكوية فأراد أن يجتاز العسكر عند المقام ليذهب إلى الصف الأول فمنعوه فأخذ شوطا ًحول الكعبة وعاد إليهم محاولا الإفلات منهم فمنعوه فأخذ شوطاً آخرحول الكعبة وأنا أراقب إصرار ذلك الرجل المسن وفي هذه اللحظة إستطاع أن يتجاوزهم على حين غفلة ووصل إلينا في الصف الأول والشرطي الذي بجانبي كان يجادل رجلاً خلفه فلم ينتبه لذلك المسن وما إن وصل إلى الصف الأول كبر يصلي سنة الفجر فاستشاط الشرطي غيظاً من المسن وظل واقفاً على رأسه حتى أتم ركعتيه فنغزه في كتفه أن قم فقال الرجل المسن وراك(باللهجة القصيمية أي مابك) 

فقال الشرطي؛هذاالمكان مخصص للعلماء والمشائخ إرجع إلى الخلف فقال الرجل المسن:ومالي وللعلماء والمشائخ إن لم يأتوا مبكرين! وأنا أراقب وأتبسم بهدوء فغضب الشرطي وقبل أن يتصرف تصرفاً غليظاً تدخلت وأمسكت بيد الشرطي ،وأشرت إليه أن أدنُ مني ،فدنا مني، فهمست في أذنه إن ذلك الرجل المسن هو العلامة الفقيه محمد بن عثيمين ،فما كان من الشرطي إلاأن انكب على رأس الشيخ يقبله ويعتذر منه، فرمقني الشيخ بنظرة لم أخبرته فتبسمت للشيخ تبسم اعتذار وأقيمت الصلاة فجاء الشيخ سعود بن إبراهيم الشريم فل

ما رأى الشيخ في الصف الأول تقدم إليه وطلب منه أن يصلي بالناس فأبى فصلى بنا الشيخ الشريم.
Baca selengkapnya »
MENGKRITISI KEABSAHAN HADITS-HADITS KITAB IHYA ULUMIDDIN

MENGKRITISI KEABSAHAN HADITS-HADITS KITAB IHYA ULUMIDDIN

Kiranya tidak berlebihan kalau kita mengatakan bahwa kitab Ihyâ’ Ulûmiddîn adalah termasuk kitab berbahasa Arab yang paling populer di kalangan kaum Muslimin di Indonesia, bahkan mungkin di seluruh dunia.

Kitab ini dianggap sebagai rujukan utama, sehingga seorang yang telah menamatkan pelajaran kitab ini dianggap telah mencapai kedudukan yang tinggi dalam pemahaman agama Islam. Padahal kiranya juga tidak berlebihan kalau kita katakan bahwa kitab ini termasuk kitab yang paling keras diperingatkan oleh para ulama untuk dijauhi, bahkan di antara mereka ada yang merekomendasikan agar kitab ini dimusnahkan![1]
kitab ihya ulumiddin

Betapa tidak, kitab ini berisi banyak penyimpangan dan kesesatan besar, sehingga orang yang membacanya apalagi mendalaminya tidak akan aman dari kemungkinan terpengaruh dengan kesesatan tersebut, terlebih lagi kesesatan-kesesatan tersebut dibungkus dengan label agama.

Di antara kesesatan besar yang dikandung buku ini adalah pembenaran ideologi (keyakinan) wihdatul wujûd (bersatunya wujud Allâh Subhanahu wa Ta’ala dengan wujud makhluk), yaitu keyakinan bahwa semua yang ada pada hakikatnya adalah satu dan segala sesuatu yang kita lihat di alam semesta ini tidak lain merupakan perwujudan/penampakan Dzat Ilahi (Allah Subhanahu wa Ta’ala) – maha suci Allâh Subhanahu wa Ta’ala dari segala keyakinan rusak ini –.

Keyakinan sangat menyimpang bahkan kufur ini dibenarkan secara terang-terangan oleh penulis kitab ini di beberapa tempat dalam kitab ini, misalnya pada jilid ke 4 halaman 86 dan halaman 245-246 (cet. Darul Ma’rifah, Beirut).

Cukuplah pernyataan Syikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berikut ini menggambarkan besarnya penyimpangan dan kesesatan yang terdapat dalam kitab ini, “Kitab ini berisi pembahasan-pembahasan yang tercela, (yaitu) pembahasan yang rusak (menyimpang dari Islam) dari para ahli filsafat yang berkaitan dengan tauhid (pengesaaan Allâh Subhanahu wa Ta’ala ), kenabian dan hari Kebangkitan. Maka, ketika penulisnya menyebutkan pemahaman orang-orang ahli tasawwuf (yang sesat), ini seperti seseorang yang mengundang seorang musuh bagi kaum Muslimin tetapi (disamarkan dengan) memakaikan padanya pakaian kaum Muslimin (untuk merusak agama mereka secara terselubung). Sungguh para imam (Ulama besar) Islam telah mengingkari (kesesatan dan penyimpangan) yang ditulis oleh Abu Hâmid al-Ghazali dalam kitab-kitabnya”[2] .

Oleh karena itu, Imam adz-Dzahabi rahimahullah menukil ucapan Imam Muhammad bin al-Walid ath-Thurthûsyi rahimahullah yang mengatakan bahwa kitab Ihyâ’ Ulûmiddîn (yang artinya menghidupkan ilmu-ilmu agama) lebih tepat jika dinamakan Imâtatu Ulûmiddîn (mematikan/merusak ilmu-ilmu agama).

Di samping itu, kitab ini juga memuat banyak hadits lemah bahkan palsu, yang tentu saja tidak boleh dinisbatkan kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahkan banyak di antaranya yang sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar agama Islam.

Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas semua kesesatan tersebut, tetapi saya akan membahas dan menilai keabsahan hadits-hadits yang dimuat dalam kitab ini, berdasarkan keterangan para Ulama Ahlus Sunnah yang terlebih dahulu meneliti dan mengkritisi kitab ini.

KRITIKAN PARA ULAMA AHLUS SUNNAH TERHADAP HADITS-HADITS DALAM KITAB INI
1. Imam Abul Faraj Ibnul Jauzi rahimahullah berkata[3] : “Ketahuilah bahwa kitab Ihyâ’ Ulûmiddîn memuat banyak kerusakan (penyimpangan) yang tidak diketahui kecuali oleh para ulama. Penyimpangannya yang paling ringan (dibandingkan penyimpangan-penyimpangan besar lainnya) adalah adanya hadits-hadits palsu dan batil (yang termaktub di dalamnya), juga hadits-hadits mauquf (ucapan Sahabat atau Tabi’in) yang dijadikan sebagai hadits marfû’ (ucapan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ).

Semua itu dinukil oleh penulisnya dari referensinya, meskipun bukan dia yang memalsukannya. Dan (sama sekali) tidak dibenarkan mendekatkan diri (kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala ) dengan hadits yang palsu, serta tidak boleh tertipu dengan ucapan yang didustakan (atas nama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam )”.

2. Imam Abu Bakr Muhammad bin al-Walid ath-Thurthûsyi rahimahullah berkata [4] : “…Kemudian al-Ghazali memenuhi kitab ini dengan kedustaan atas (nama) Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan aku tidak mengetahui sebuah kitab di atas permukaan bumi ini yang lebih banyak (berisi) kedustaan atas (nama) Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi kitab ini”[5]

3. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Dalam kitab ini terdapat hadits-hadits dan riwayat-riwayat yang lemah, bahkan (juga mengandung) banyak hadits yang palsu, serta berisi banyak kebatilan dan kebohongan orang-orang ahli tasawwuf”[6] .

4. Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Adapun kitab Ihyâ’ Ulûmiddîn, di dalamnya terdapat sejumlah (besar) hadits-hadist yang batil (palsu)”[7] .

5. Imam Ibnu Katsîr rahimahullah berkata, “…Akan tetapi, dalam kitab ini (Ihyâ’ Ulûmiddîn ) banyak terdapat hadits-hadits yang asing, mungkar dan palsu”[8] .

6. Syaikh Muhammad Nâshiruddîn al-Albâni rahimahullah berkata: “Betapa banyak kitab Ihyâ’ Ulûmiddîn memuat hadits-hadits (palsu) yang oleh penulisnya dipastikan penisbatannya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , padahal Imam al-‘Irâqi dan para ulama lainnya menegaskan bahwa hadits-hadist tersebut tidak ada asalnya (hadist palsu)” [9].

7. Bahkan Imam as-Subki mengumpulkan hadits-hadist dalam kitab Ihyâ’ Ulûmiddîn yang tidak ada asalnya (palsu), dan setelah dihitung semuanya berjumlah 923 hadits [10] .

KITAB-KITAB YANG LEBIH PANTAS DIPELAJARI DAN DITEKUNI

Dengan uraian ringkas tentang kitab Ihyâ’ Ulûmiddîn di atas, jelaslah bagi kita kandungan buruk dan penyimpangan yang terdapat di dalamnya. Maka, seorang Muslim yang menginginkan kebaikan dan keselamatan dalam agama dan imannya, hendaknya menjauhkan diri dari membaca buku-buku yang mengajarkan kesesatan seperti ini. Alhamdulillâh, kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah yang bersih dan selamat dari penyimpangan sangat banyak dan mencukupi untuk diambil manfaatnya.

Apakah kita tidak khawatir akan ditimpa kerusakan dalam pemahaman agama kita dengan membaca kitab seperti ini, padahal kerusakan dan kerancuan dalam memahami agama ini merupakan malapetaka terbesar yang akan berakibat kebinasaan dunia dan akhirat? Bukankah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dari kerusakan agama dan iman, sebagaimana dalam doa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
((ولا تَجْعَلْ مُصيبَتَنَا في دِيْنِنا))
(Ya Allâh) janganlah Engkau jadikan malapetaka (kerusakan) yang menimpa kami dalam agama (keyakinan) kami [11]

Ketahuilah, bahwa ilmu yang bermanfaat untuk memperbaiki keimanan dan meyempurnakan ketakwaan kita kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala hanyalah ilmu yang bersumber dari al-Qur’ân dan hadits-hadits shahîh dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dipahami dengan pemahaman yang benar, yaitu dengan merujuk pemahaman para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti petunjuk mereka.

Imam Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah berkata: “Ilmu yang bermanfaat dari semua ilmu adalah mempelajari dengan seksama dalil-dalil dari al-Qur`ân dan Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , serta (berusaha) memahami kandungan maknanya, dengan pemahaman yang bertumpu pada penjelasan para Sahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , para Tâbi’în (orang-orang yang mengikuti petunjuk para sahabat), dan orang-orang yang mengikuti (petunjuk) mereka dalam memahami kandungan al-Qur`ân dan Hadits (dengan baik). (Begitu pula) dalam (memahami penjelasan) mereka dalam masalah halal dan haram, pengertian zuhud, amalan hati (pensucian jiwa), pengenalan (tentang nama-nama dan sifat-sifat Allâh Subhanahu wa Ta’ala ) dan pembahasan-pembahasan ilmu lainnya, dengan terlebih dahulu berusaha untuk memisahkan dan memilih (riwayat-riwayat) yang shahîh (benar) dan (meninggalkan riwayat-riwayat) yang tidak benar, kemudian berupaya untuk memahami dan menghayati kandungan maknanya. Semua ini sudah sangat memadai (untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat) bagi orang yang berakal dan merupakan kesibukan (yang bermanfaat) bagi orang yang memberi perhatian dan berkeinginan besar (untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat)”[12] .

PENUTUP

Sebagai penutup, renungkanlah nasehat emas dari Imam adz-Dzahabi rahimahullah ketika beliau mengkritik kitab Ihyâ’ Ulûmiddîn dan kitab-kitab lain semisalnya yang memuat kesesatan dan penyimpangan karena mengabaikan petunjuk al-Qur`ân dan hadits-hadits shahîh dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pemahaman yang benar.

Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata: “Dalam kitab Ihyâ’ Ulûmiddîn terdapat sejumlah (besar) hadits-hadits yang batil (palsu) dan banyak kebaikannya kalau saja kitab itu tidak memuat adab, ritual dan kezuhudan (model) orang-orang (yang mengaku) ahli hikmah dan ahli Tasawwuf yang menyimpang, kita memohon kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala (dianugerahkan) ilmu yang bermanfaat. Tahukah kamu apakah ilmu yang bermanfaat itu? Yaitu ilmu bersumber dari al-Qur’an dan dijabarkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam ucapan dan perbuatan (beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam), serta tidak ada larangan dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentangnya. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang tidak menyukai sunnah/petunjukku maka dia bukan termasuk golonganku” [13] .

Maka, wajib bagimu wahai saudaraku untuk mentadabburi (mempelajari dan merenungkan) al-Qur`ân serta membaca dengan seksama (hadits-hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) dalam ash-Shahîhain (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim), Sunan an-Nasâ’i, Riyâdhus Shâlihin dan al-Adzkâr tulisan Imam an-Nawawi rahimahullah. (Maka dengan itu) engkau akan beruntung dan sukses (meraih ilmu yang bermanfaat). Dan jauhilah pemikiran orang-orang tasawwuf dan filsafat, ritual-ritual ahli riyâdhah (ibadah-ibadah khusus ahli tasawwuf), dan kelaparan (yang dipaksakan) oleh para pendeta, serta igauan tokoh-tokoh ahli kholwat (menyepi/bersemedi yang mereka anggap sebagai ibadah). (Ingatlah), semua kebaikan hanyalah (diraih) dengan mengikuti agama (Islam) yang hanîf (lurus) dan mudah (agama yang dibawa dan dicontohkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ). Hanya kepada Allâh-lah kita memohon pertolongan. Yâ Allâh, tunjukkanlah kepada kami jalan-Mu yang lurus”[14] . Wallâhu a’lam.

Oleh Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XV/1432H/2011. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote

[1]. Lihat Siyaru A’lâmin Nubalâ 19/327 dan 19/495-496
[2]. Majmû’ al-Fatâwâ 10/551-552
[3]. Dalam kitab beliau Minhâjul Qâshidîn . Nukilan dari al-Bayân edisi 48 hlm. 81
[4]. Beliau adalah seorang imam panutan, ulama besar dan ahli zuhud. Wafat 520 H. Biografi beliau dalam Siyaru A’lâmin Nubalâ 19/490
[5]. Dinukil oleh Imam adz-Dzahabi t dalam Siyaru A’lâmin Nubalâ 19/495
[6]. Majmû’ al-Fatâwa 10/552
[7]. Siyaru A’lâmin Nubalâ19/339
[8]. Al-Bidâyah wan Nihâyah 12/214
[9]. Silsilatul Ahâdîtsidh Dha’îfah wal Maudhû’ah 1/60
[10]. Thabaqâtusy Syâfi’iyyatil Kubra 6/287
[11]. HR at-Tirmidzi (no. 3502), dan dinyatakan hasan oleh Imam at-Tirmidzi dan Syaikh al-Albâni
[12]. Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘alâ ‘Ilmil Khalaf hlm. 6
[13]. HR. al-Bukhâri no. 5063 dan Muslim 1401
[14]. Siyaru A’lâmin Nubalâ 19/339-340

Sumber: https://almanhaj.or.id/3662-mengkritisi-keabsahan-hadits-hadits-kitab-ihya-ulumiddin.html
Baca selengkapnya »
Anda kasihan bangunkan anak sholat subuh ?

Anda kasihan bangunkan anak sholat subuh ?

Ada seorang wanita bertanya kepada ustadz:
"Bagaimana caranya membangunkan anak-anak saya yg mulai baligh, yang sedang tertidur nyenyak untuk shalat Shubuh?" .

Ustadznya balik bertanya kepada wanita tersebut :
"Apa yang akan kamu lakukan jika rumahmu terbakar dan pada saat itu anak-anakmu sedang tidur nyenyak?" .

Wanita tersebut berkata :
"Saya pasti akan membangunkan mereka dari tidurnya." .

Ustadz menjawab :
"Bagaimana jika mereka sedang tertidur nyenyak sekali?" .

Wanita itu kemudian menjawab: "Demi ALLAH! Saya akan membangunkan mereka sampai benar-benar bangun, jika mereka tidak bangun juga, saya akan menarik menyeret mereka sampai keluar dari rumah."

Ustadz kemudian menjawab :
"Jika itu yang kamu akan lakukan untuk menyelamatkan anak-anakmu dari api dunia, maka lakukanlah hal yang sama untuk menyelamatkan mereka dari api neraka di akhirat kelak."
Baca selengkapnya »
Rutinkan membaca doa Sapu Jagad ini

Rutinkan membaca doa Sapu Jagad ini

Allah Ta’ala berfirman,

فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ, وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. 

Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. 

Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” [Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka].” 

(QS. Al Baqarah: 200-201)
doa Sapu Jagad

Dari ayat ini kebanyakan ulama salaf menganjurkan membaca do’a “Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” di hari-hari tasyriq. Sebagaimana hal ini dikatakan oleh ‘Ikrimah dan ‘Atho’.

Do’a sapu jagad ini terkumpul di dalamnya seluruh kebaikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam paling sering membaca do’a sapu jagad ini. Anas bin Malik mengatakan,

كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – 
“Do’a yang paling banyak dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 

« اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ »
“Allahumma Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar”

[Wahai Allah, Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka].” (HR. Bukhari no. 2389 dan Muslim no. 2690)

Di dalam do’a telah terkumpul kebaikan di dunia dan akhirat.

Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Kebaikan di dunia adalah ilmu dan ibadah. Kebaikan di akhirat adalah surga.” Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Kebaikan di dunia adalah ilmu dan rizki yang thoyib. Sedangkan kebaikan di akhirat adalah surga.”
Baca selengkapnya »
Keutamaan Membebaskan Hutang Orang yang Susah

Keutamaan Membebaskan Hutang Orang yang Susah

💸Membebaskan Hutang Orang yang Susah, Maka Allah pun Membebaskannya💸

Sahabat Muslim, kalau kita mau instrospeksi diri mungkin akan kita temukan banyak dosa yang sudah kita lakukan. Dan kita akan ngeri jika tahu bahwasanya siksa Allah ta'ala sangat pedih.

Seandainya kita mendapatkan pembebasan dari Allah ta'ala, maka sungguh itu adalah keberuntungan yang besar.
Membebaskan Hutang

Tahukah Sahabat bahwa salah satu jalan yang bisa membebaskan kita dari siksaNya adalah membebaskan hutang orang yang susah.

Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

كَانَ رَجُلٌ يُدَايِنُ النَّاسَ فَكَانَ يَقُولُ لِفَتَاهُ إِذَا أَتَيْتَ مُعْسِرًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ لَعَلَّ اللَّهَ يَتَجَاوَزُ عَنَّا قال: فَلَقِيَ اللَّهَ فَتَجَاوَزَ عَنْهُ
"Ada seorang laki-laki yang (suka) memberi hutang kepada orang lain. Dia berkata kepada pelayannya, 'Jika engkau mendatangi orang yang kesusahan, maka bebaskanlah (hutangnya). Mudah-mudahan Allah membebaskan kita (dari siksaNya)'.

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Maka orang itu menjumpai Allah dan Allah membebaskannya (dari siksa)'." (Muttafaq Alaih; Al-Bukhari, 6/379 dalam Al-Anbiya’ dan Muslim, 1562)
🌾🌾🌾

Dari Ibnu Mas'ud ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اْلمَلاَئِكَةَ لَتَلَقَّتْ رُوْحَ رَجُلٍ كَانَ قَبْلَكُمْ ، فَقَالُوْا لَهُ: هَلْ عَمِلْتَ خَيْرًا قَطْ؟ قَالَ لاَ: قَالُوْا: تَذَكَّرْ، قَالَ:لاَ، إِلاَّ أَنَّيْ كُنْتُ أُدَايِنُ النَّاسُ، فَكُنْتُ آمُرُ فِتْيَانِيْ أَنْ يَنْظُرُوْا اْلمُوْسِرَ، وَيَتَجَاوَزُوْا عَنْ اْلمُعْسِرِ. قَالَ الله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: تَجَاوَزُوْا عَنْهُ (متفق عليه)
“Sesungguhnya para malaikat mengambil ruh seorang laki-laki sebelum (zaman) kalian, lalu mereka bertanya kepadanya, ‘Apakah engkau pernah, melakukan kebaikan meski sekali?’ Ia menjawab, ‘Tidak pernah’. Mereka berkata, ‘Ingat-ingatlah!’

Ia menjawab, ‘Tidak pernah, kecuali dahulu aku suka memberi utang kepada orang lain, dan aku perintahkan kepada para pelayanku agar mereka melihat (menagih) orang yang berkecukupan dan membebaskan (utang) orang yang miskin’.

Maka Allah berfirman, ‘Bebaskanlah dia (dari siksa)’.” (HR. Bukhari, 4/261, Muslim 1560)
🌷🌷🌷

Yuk jadi orang yang pemurah dengan membebaskan hutang orang-orang yang susah. Semoga Allah membebaskanmu. Aamiin

Ingin mendapatkan nasehat bermanfaat setiap hari ?

Yuk ikuti kami di : http://t.me/mengenalislamyuk
Baca selengkapnya »
KATA-KATA MUTIARA IMAM SYAFI'I YG DAHSYAT

KATA-KATA MUTIARA IMAM SYAFI'I YG DAHSYAT

"Bila kamu tak tahan penatnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan." - (Imam Syafi'i)

"Jangan cintai orang yang tidak mencintai Allah. Kalau Allah saja ia tinggalkan, apalagi kamu" - (Imam Syafi'i)

"Barangsiapa yang menginginkan Husnul Khatimah, hendaklah ia selalu bersangka baik dengan manusia". - (Imam Syafi'i)
IMAM SYAFI'I

"Doa di saat tahajud adalah umpama panah yang tepat mengenai sasaran." - (Imam Syafi'i)

"Ilmu itu bukan yang dihafal tetapi yang memberi manfaat.” - (Imam Syafi'i)

"Siapa yang menasihatimu secara sembunyi-sembunyi maka ia benar-benar menasihatimu. Siapa yang menasihatimu di khalayak ramai, dia sebenarnya menghinamu'' - (Imam Syafi'i)

"Berapa banyak manusia yang masih hidup dalam kelalaian, sedangkan kain kafannya sedang ditenun". - (Imam Syafi'i)

Semoga bermanfaat..
Baca selengkapnya »
Beranda
-->