pernahkah kamu heran dan terkejut melihat hubungan antara kedua mata mu? terpejam, bergerak, menangis mengeluarkan air mata, melihat dan ti...
Jangan Berhenti Belajar setelah menyandang gelar

Jangan Berhenti Belajar setelah menyandang gelar

Tipuan gelar

Belajar adalah kebutuhan setiap manusia yang inginkan kemuliaan, menuntut ilmu dimulai dari buaian hingga liang lahad sebagaimana yang diungkapkan Imam Ahmad.

Namun kenyataan yang kita lihat banyak dari para penuntut ilmu malas belajar, mereka mulai jemu memberikan perlakuan sepentasnya pada buku-buku pengetahuan, mereka lebih senang menyibukkan diri dari selainnya.
Jangan Berhenti Belajar

Sekalangan orang menganggap diri mereka telah meraih tingkatan keilmuan yang membuat mereka tidak lagi memerlukan tambahan bacaan dan penelaahan. Mereka sudah cukup merasa puas dengan gelar, ijazah dan kedudukan yang diperoleh.

Hanya beberapa waktu setelah mendapatkan gelar, ia mulai enggan untuk kembali belajar.

Seandainya gelar itu diperoleh berdasarkan kemampuan dan kapabilitas, tentu masalahnya menjadi ringan dan tak perlu dibicarakan. Akan tetapi kenyataannya berbeda, kadang kala gelar dapat diperjual belikan, dan terkadang ia diberikan hanya dengan menulis skripsi yang sangat tipis atau hanya tinggal menukil dari tulisan orang lain. begitulah rentetan ilmu yang tak berdaya ini terjadi, lantas apakah ijazah dan gelar menjadi barang yang dapat dipercaya? (Ali ibn Muhammad / Motivasi dan panduan menuntut ilmu : 4)

Seperti itulah gambaran sebagian orang zaman ini, mereka merasa puas dengan gelar yang diperoleh padahal mereka yakin gelar itu jika diminta pertanggungjawabannya mereka sadar belum mampu menyandang gelar itu.

Dengan bangga mereka memajang sertifikat gelar atau titel sarjana atau masternya pada tempat yang mudah dilihat orang, "wahai manusia lihatlah, aku telah meraih gelar kehormatan" kira-kira seperti itulah ia berkata dalam hati. Bahkan ia tak ingin titel itu lepas dari namanya saat ditulis atau disebut orang.

Sungguh ironis, apakah ijazah adalah bukti keberhasilan menuntut ilmu? Ataukah dunia menjadi tujuan utama, karna gelar itu menjadi jembatan untuk meraih jabatan tertentu?

(Rail / Nilai sebuah impian : ...)
Baca selengkapnya »
Nasehat Khusus untuk para jomblo "segera Ikat Cintamu"

Nasehat Khusus untuk para jomblo "segera Ikat Cintamu"

Ikat cintamu dengan ikatan yang tak pernah putus, bahkan kan terikat hingga hari kedua dalam kehidupan yang abadi.

Tali pernikahan yang dipersaksikan adalah sebaik-baik pengikat untuk menjaga cintamu agar tak lepas dari genggaman.

Jangan bermain dengan ombak asmara karna kau akan tenggelam dalam lamunanya, jangan bermain api cinta karna jiwamu akan terbakar, tidaklah hubungan yang terjalin antara dua insan tanpa janji yang dipersaksikan kecuali syahwatlah pengikat hubungan itu.

Menikah dengan keberadaan syahwat jauh lebih baik dari pada memasuki jendela-jendela ibadah sunnah karna banyaknya kandungan kebaikan didalam pernikahan. ( Syaikh Al Utsaimin / Az Zawaj : 13)
muzammil nikah

Menikah adalah petunjuk Nabi Shalallahu a'laihi wasallam " wahai para pemuda, siapa saja yang mampu menikah maka menikahlah, karna pernikahan menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan" (Hr. Bukhari dan Muslim)

Dengan menjalin hubungan tanpa ikatan halal seseorang telah terjerumus kedalam zina, karna "zina hati berangan-angan, zina mata melihat, zina lisan berucap, zina tangan menyentuh, zina kaki melangkah dan kemudian disalurkan oleh kemaluan" (Hr. Muslim)

Bicaramu dengan lawan jenis itu haram karna ia zina, semua anggota badan bahkan hati yang menghayalkannya akan dihisab pada hari kiamat karna semua itu termasuk zina.

Jika pintu zina terbuka, tiada ada yang mampu menjamin dirinya, bahkan para sahabat terjatuh kedalam lembah syahwat tersebut sebagaimana dalam riwayat Bukhari, Muslim dan lainnya. Apakah kita sebagai manusia biasa atau bahkan pemuda yang berteman sepi, dittiup angin syahwat mampu menjamin diri dari zina?

Menikahlah segera, agar canda rayumu yang dulunya dosa berubah menjadi pahala, bahkan "meletakkankan syahwat pada tempatnya akan diberi pahala" (Hr. Muslim)

Tali itu adalah satu-satunya tali pengikat terkuat dan paling mujarab dalam menjaga hati dan cinta, segeralah ikat cintamu denganya!

(Rail / Butir cinta : ...)
Baca selengkapnya »
Mereka Pendahulu kita SUKA DIINGATKAN

Mereka Pendahulu kita SUKA DIINGATKAN

Imam Ibnu qudamah rahimahullah berkata..
Kaum salaf terdahulu..
Merasa senang bila ada yang mengingatkan kesalahan mereka..

Sedangkan kita di zaman ini..
Yang paling kita benci adalah orang yang mengingatkan kesalahan kita..

Ini adalah tanda lemahnya iman..
(Mukhtashar Minhajul Qashidin hal. 147)..
Mereka Pendahulu kita SUKA DIINGATKAN

Itulah fenomena zaman..

Kritikan yang membangun dianggap mencari cari kesalahan..
Bahkan dianggap pemecah belah..
Seakan orang bebas melakukan apa yang ia pandang baik..
Padahal kebaikan adalah yang dipandang oleh syariat..

Seorang yang ikhlas..
Lebih mementingkan kebenaran dari harga diri..

Karena kebenaran adalah barang cariannya..
Seorang yang berjiwa taslim..
Segera rujuk dari kesalahannya..
Ia menerima kritikan dengan jiwa yang lapang..
Dadanya tidak merasa panas menerimanya..
Bahkan medo’akan orang yang mengingatkan kesalahannya..

Semoga Allah merahmati orang yang mengingatkan kesalahanku..

Namun itu berat..
Kecuali untuk yang berjiwa besar..

📝 Oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى
🔊 [ 📖 ] BBG Al-Ilmu
Baca selengkapnya »
BOLEH SHOLAT MENGHADAP KUBURAN ?

BOLEH SHOLAT MENGHADAP KUBURAN ?

(Kritikan terhadap al-Ustadz Abdussomad -hafizohullah- tentang pemahaman beliau terhadap hadits “Janganlah sholat mengarah ke kuburan”)

Tentu saling mengingatkan demi kebaikan adalah kebiasaan para ulama, nasihat dan masukan jika tujuannya baik dengan uslub yang baik tentu lebih bermanfaat. Sebelumnya saya pernah mengkritik beliau di link berikut (“Imam Syafi’i menyatakan pahala bacaan al-Qur’an sampai kepada mayat?”)

Permasalahan pengagungan terhadap kuburan mendapat perhatian khusus oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, karena pengagungan terhadap kuburan yang berlebihan bisa mengantarkan kepada kesyirikan. Karenanya semua perkara yang mengantarkan terhadap pengagungan terhadap kuburan dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Karenanya :

– Nabi melarang menulis di kuburan serta melarang menyemen kuburan
– Nabi melarang memasang lampu di kuburan
– Nabi melarang meninggikan kuburan
– Nabi melarang sholat ke arah kuburan
– Bahkan Nabi pernah melarang menziarahi kuburan karena kawatir akan kesyirikan, namun setelah itu Nabi menganjurkan karena ada maslahat yang besar, yaitu untuk mengingat kematian.

Al-Muhallab berkata :

ومعنى النهى عن زيارة القبور، إنما كان فى أول الإسلام عند قربهم بعبادة الأوثان، واتخاذ القبور مساجد، والله أعلم، فلما استحكم الإسلام، وقوى فى قلوب الناس، وأمنت عبادة القبور والصلاة إليها، نسخ النهى عن زيارتها، لأنها تذكر الآخرة وتزهد فى الدنيا
“Dan makna dari larangan menziarahi kuburan yaitu hanyalah dilarang tatkala di permulaan Islam, tatkala mereka baru saja (*terlepas) dari menyembah berhala dan menjadikan kuburan sebagai masjid –wallahu A’lam-. Maka tatkala Islam sudah kokoh dan kuat di hati-hati manusia dan aman dari (*timbulnya) peribadatan kuburan dan sholat ke arah kuburan maka dinaskh (*dihapuslah) larangan menziarahi kuburan, karena dengan berziarah kuburan akan mengingatkan akhirat dan menjadikan zuhud dalam dunia” (Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Battool dalam Syarh shahih Al-Bukhari, tahqiq Abu Tamiim Yasir bin Ibrahim, Maktabah Ar-Rusyd 3/271)

Al-Munaawi berkata ;

(كنت نهيتكم عن زيارة القبور) لحدثان عهدكم بالكفر وأما الآن حيث انمحت آثار الجاهلية واستحكم الإسلام وصرتم أهل يقين وتقوى (فزوروا القبور) أي بشرط أن لا يقترن بذلك تمسح بالقبر أو تقبيل أو سجود عليه أو نحو ذلك فإنه كما قال السبكي بدعة منكرة إنما يفعلها الجهال
“(sabda Nabi) “Aku pernah melarang kalian dari ziaroh kuburan” karena kalian baru saja meninggalkan kekufuran. Adapun sekarang tatkala telah hilang sisa-sisa jahiliyah dan telah kokoh Islam dan jadilah kalian orang-orang yang yakin dan takwa ((Maka ziarahilah kuburan)) yaitu dengan syarat tidak disertai dengan mengusap kuburan atau mencium kuburan atau sujud di atasnya atau yang semisalnya, karena hal itu -sebagaimana perkataan As-Subkiy- adalah bid’ah yang mungkar, hanyalah orang-orang jahil (bodoh) yang melakukannya” (Faidhul Qodiir 5/55, lihat juga At-Taisiir bi syarh Al-Jaami’ As-Shoghiir 2/439)
BOLEH SHOLAT MENGHADAP KUBURAN ?

Diantara larangan-larangan Nabi adalah sholat ke arah kuburan. Dari Abu Martsad Al-Gonawi ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لَا تُصَلُّوا إِلَى الْقُبُورِ
“Janganlah kalian sholat mengarah ke kuburan” (HR Muslim No. 972)

Larangan tersebut tidak lain adalah bentuk pencegahan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam agar kita tidak sholat mengarah ke kuburan agar jangan sampai akhirnya kuburan diagungkan dan akhirnya disembah !!. Jadi larangan tersebut berkaitan dengan orang yang sholat menyembah Allah akan tetapi pelaksanaan sholatnya menghadap ke kuburan.

Maka dari sini jelas bahwa pelarangan tersebut berkaitan dengan pelarangan “sarana” bukan pelarangan tujuan yang dikawatirkan. Karena kalau maksud dari larangan tersebut adalah larangan menyembah kuburan tentu para sahabat sudah memahaminya bahwa hal tersebut merupakan kesyirikan dan kekufuran, dan tidak perlu Nabi mengingatkan secara khusus, karena para sahabat semuanya mengerti bahwa menyembah kepada selain Allah adalah kesyirikan. Tapi yang ingin diingatkan oleh Nabi adalah mencegah sarana yang bisa mengantarkan kepada tujuan kesyirikan.

Namun al-Ustadz memahami makna hadits ini adalah “Larangan menyembah penghuni kubur”, sehingga sholat menghadap kuburan itu boleh selama yang disembah adalah Allah dan bukan penghuni kuburan.

Berikut transkrip pertanyaan yang ditujukan kepada sang ustadz beserta jawaban sang ustadz.

[Pertanyan] : Saya ingin bertanya tentang sholat, sekarang nampaknya sudah ada pendapat tumpang tindih ada yang tidak mau sholat di masjid yang di sebelahnya ada kuburan, apakah memang ada dalilnya atau bagaimana pak ustadz?, mohon penjelasan agar pendapat ini tidak menjadi buah pikiran bagi kami.

(Jawaban sang ustadz diantaranya) : “Kalau orang tidak mau sholat karena di dekat masjid tidak mau ada kubur, berarti selama di masjid nabawi dia tak sholat di masjid nabawi karena di dekat masjid nabawi ada kubur. Kalau dia berdalih di dalam masjid nabawi kan kubur nabi Muhammad, Yang nabi kan Muhammad nabi tak papa yang di samping ada makam abu bakar ada makam umar.

Lalu Apa makna tak boleh sujud ke kubur ? Laa tasjuduu janganlah kamu sujud ke kubur, sujud dia menyembah kubur.

Hadits ini bercerita tentang apa ?, hadits ini menyindir orang bani Israil yang menyembah makam pendeta2 mereka. Sekarang yang ada di vatikan di roma yang mereka sembah itu makam namanya santo Thomas, santo artinya orang suci orang suci tidak berdosa dibangunlah makamnya sujudnya kesitu. Saya mau menengok mana orang Kampar kiri hilir yang menyembah kubur, tak ada….”

Al-Ustadz juga berkata, “Dan kita tidak ada satupun kalau dia (kuburan-pent) buat samping ada dinding kiri kanan maka tak satupun sujud ke kubur karena meminta ke kubur.

Kalau nanti dia berdalil setiap tanah ada kubur maka tidak boleh sholat di tempat itu, orang yang mengatakan demikian itu dia tidak akan sholat di masjid manapun, kenapa?

Karena setiap tanah kalau diurut pasti ada kubur. Oke sebelah sini tak ada kubur kalau terus ke depan sana?. Bumi bulat apakah jamin tak ada kubur? Tetap jamin ada kubur, satu meter ke depan ada kubur, oleh karena itu makna hadits dipahami tak boleh sujud ke kubur karena meminta kepada yang di kubur dan kronolginya menyindir bani isroil yang menyembah makam nabi dan orang sholeh diantara mereka”

Komentar :

Pertama : Pendapat al-Ustadz ini menyelisihi pemahaman para ulama tentang hadits ini -terutama para ulama syafi’iyyah-.

Perhatikan pernyataan al-Imam An-Nawawi rahimahullah :

وَاتَّفَقَتْ نُصُوصُ الشَّافِعِيِّ وَالْأَصْحَابِ عَلَى كَرَاهَةِ بِنَاءِ مَسْجِدٍ عَلَى الْقَبْرِ سَوَاءٌ كَانَ الْمَيِّتُ مَشْهُورًا بِالصَّلَاحِ أَوْ غَيْرِهِ لِعُمُومِ الْأَحَادِيثِ قَالَ الشَّافِعِيُّ وَالْأَصْحَابُ وَتُكْرَهُ الصَّلَاةُ إلَى الْقُبُورِ سَوَاءٌ كَانَ الْمَيِّتُ صَالِحًا أَوْ غَيْرَهُ قَالَ الْحَافِظُ أَبُو مُوسَى قَالَ الْإِمَامُ أَبُو الْحَسَنِ الزعفراني رحمه الله ولا يصلي إلي قبر وَلَا عِنْدَهُ تَبَرُّكًا بِهِ وَإِعْظَامًا لَهُ لِلْأَحَادِيثِ والله أعلم
“Dan telah sepakat pernyataan al-Imam Asy-Syafi’i dan para ulama syafi’iyyah akan dibencinya membangun masjid di atas kuburan. Sama saja apakah mayatnya terkenal akan kesholihannya atau tidak, karena keumuman hadits-hadits. Al-Imam Asy-Syafi’i dan para ulama besar syafi’iyah berkata ; “Dan makruh sholat mengarah ke kuburan, sama saja apakah mayatnya sholih atau tidak”. Berkata al-Hafiz Abu Musa : “Berkata Al-Imam Abul Hasan Az-Za’farooni rahimahullah : “Tidak boleh sholat mengarah ke kuburan, dan tidak boleh sholat di sisi kuburan dalam rangka mencari berkah dan mengagungkannya karena hadits-hadits” (Al-Majmuu’ 5/316-317)

Ibnu Hajar berkata :

قَوْلُهُ وَمَا يُكْرَهُ مِنَ الصَّلَاةِ فِي الْقُبُورِ يَتَنَاوَلُ مَا إِذَا وَقَعَتِ الصَّلَاةُ عَلَى الْقَبْرِ أَوْ إِلَى الْقَبْرِ أَوْ بَيْنَ الْقَبْرَيْنِ وَفِي ذَلِكَ حَدِيثٌ رَوَاهُ مُسْلِمٌ مِنْ طَرِيقِ أَبِي مِرْثَدٍ الْغَنَوِيِّ مَرْفُوعًا لَا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلَا تُصَلُّوا إِلَيْهَا أَوْ عَلَيْهَا
“Perkataan Imam Al-Bukhari ((Dan dibencinya sholat di kuburan)), maka mencakup jika sholat dilakukan (*1) di atas kubur atau (*2) ke arah kubur atau (*3) di antara dua kubur. Dan tentang hal ini ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari jalan Abi Martsad Al-Ghonawi secara marfuu’ “Janganlah kalian duduk di atas kuburan, dan janganlah kalian sholat ke (arah) kuburan atau di atas kuburan“” (Fathul Baari 1/524).

Kedua : Karenanya para ulama syafi’iyyah berbeda pendapat tentang hukum sholat ke arah kuburan apakah hukumnya makruh atau haram. Dan al-Imam An-Nawawi rahimahullah lebih condong kepada pendapat haramnya sholat ke arah kuburan. Beliau berkata :

وَيُكْرَهُ أَنْ يُصَلِّيَ إلَى الْقَبْرِ هَكَذَا قَالُوا يُكْرَهُ وَلَوْ قِيلَ يَحْرُمُ لِحَدِيثِ أَبِي مَرْثَدٍ وَغَيْرِهِ مِمَّا سَبَقَ لَمْ يَبْعُدْ
“Dan makruh sholat ke arah kuburan” -demikianlah perkataan mereka (para ulama syafi’iyyah)-, kalau seandainya dikatakan “Dan haram” karena hadits Abu Martsad dan hadits yang lainnya maka tidak jauh pendapat ini (dari kebenaran)” (Al-Majmuu’ 3/158)

Jika makna hadits Abu Mirtsad “Jangan sholat ke arah kuburan” adalah “Janganlah sholat menyembah penghuni kubur” maka tentu tidak ada khilaf di kalangan para ulama akan haramnya, bahkan tidak ada khilaf bahwasanya ini adalah kekufuran dan kesyirikan !.

Ketiga : Sebagian ulama syafi’iyah semakin mempertegas larangan sholat menghadap kuburan jika kuburan tersebut adalah kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Zakariya Al-Anshoori berkata “

(وَ) يُكْرَهُ (اسْتِقْبَالُ الْقَبْرِ فِيهَا) أَيْ فِي الصَّلَاةِ لِخَبَرِ مُسْلِمٍ «لَا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلَا تُصَلُّوا إلَيْهَا» وَيُسْتَثْنَى قَبْرُهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَيَحْرُمُ اسْتِقْبَالُهُ فِيهَا
“Dan dibenci sholat menghadap kuburan karena hadits dalam shahih Muslim “Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan janganlah kalian sholat menghadap kuburan”. Dan dikecualikan kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka haram (bukan sekedar makruh-=pent) sholat menghadap kuburannya” (Asna al-Mathoolib 1/174)

Keempat : Sebagian ulama syafi’iyah dengan tegas menyatakan bahwa sholat ke arah kuburan -terutama kuburan para nabi- dilarang karena bisa mengantarkan kepada kesyirikan.

Ibnu Hajar al-Haitami tatkala menjelaskan tentang haramnya sholat menghadap kuburan para nabi beliau berkata :

لِأَنَّهُ يُؤَدِّي إلَى الشِّرْكِ
“Karena hal itu mengantarkan kepada kesyirikan” (Tuhfatul Muhtaaj 2/168)

An-Nawawi berkata :

قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (لَا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلَا تُصَلُّوا إِليْهَا) فيه تصريح بالنهى عن الصلاة إلى القبر قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَأَكْرَهُ أَنْ يُعَظَّمَ مَخْلُوقٌ حَتَّى يُجْعَلَ قَبْرُهُ مَسْجِدًا مَخَافَةَ الْفِتْنَةِ عَلَيْهِ وَعَلَى مَنْ بَعْدَهُ مِنَ النَّاسِ
“Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (….dan janganlah kalian sholat ke arah kuburan) di sini ada penegasan tentang larangan sholat menghadap kuburan. Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata : Dan aku benci makhluk diagungkan hingga kuburannya dijadikan mesjid, kawatir fitnah atas nya dan atas orang-orang yang setelahnya” (Al-Minhaaj Syarah Shahih Muslim 7/38)

Kelima : Sebagian ulama syafi’iyyah menjadikan sholat ke arah kuburan termasuk dosa besar. Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata :

الْكَبِيرَةُ الثَّالِثَةُ وَالرَّابِعَةُ وَالْخَامِسَةُ وَالسَّادِسَةُ وَالسَّابِعَةُ وَالثَّامِنَةُ وَالتِّسْعُونَ: اتِّخَاذُ الْقُبُورِ مَسَاجِدَ، وَإِيقَادُ السُّرُجِ عَلَيْهَا، وَاِتِّخَاذُهَا أَوْثَانًا، وَالطَّوَافُ بِهَا، وَاسْتِلَامُهَا، وَالصَّلَاةُ إلَيْهَا
“Dosa besar yang ke 93, 94, 95, 96, 97, dan 98 adalah menjadikan kuburan sebagai masjid, menyalakan api (penerangan) di atas kuburan, menjadikan kuburan sebagai berhala, thowaf di kuburan, mengusap kuburan (*dengan maksud ibadah-pen), dan sholat ke arah kuburan” (Az-Zawaajir ‘an iqtiroof Al-Kabaair juz 1 hal 154)

Perhatikanlah, al-Imam Adz-Dzahabi membedakan 2 dosa, antara dosa sholat ke arah kuburan, dan dosa menyembah kuburan(dengan menjadikannya sebagai berhala). Oleh karenanya ini semakin mempertegas bahwa makna hadits Nabi “Janganlah sholat ke arah kuburan” bukanlah sebagaimana yang dipahami oleh al-Ustadz Abdussomad -hafizohullah- yaitu “Janganlah kalian menyembah kuburan” !

Ibnu Hajar al-Haitami tatkala mensyarah perkataan al-Imam Adz-Dzahabi di atas beliau berkata :

وَاِتِّخَاذُ الْقَبْرِ مَسْجِدًا مَعْنَاهُ الصَّلَاةُ عَلَيْهِ أَوْ إلَيْهِ
“Dan (larangan Nabi -pent) menjadikan kuburan sebagai masjid maknanya adalah sholat di atasnya atau sholat ke arah kuburan”

Beliau juga berkata :

نَعَمْ قَالَ بَعْضُ الْحَنَابِلَةِ: قَصْدُ الرَّجُلِ الصَّلَاةَ عِنْدَ الْقَبْرِ مُتَبَرِّكًا بِهَا عَيْنُ الْمُحَادَّةِ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ، وَإِبْدَاعُ دِينٍ لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ لِلنَّهْيِ عَنْهَا ثُمَّ إجْمَاعًا، فَإِنَّ أَعْظَمَ الْمُحَرَّمَاتِ وَأَسْبَابِ الشِّرْكِ الصَّلَاةُ عِنْدَهَا وَاِتِّخَاذُهَا مَسَاجِدَ أَوْ بِنَاؤُهَا عَلَيْهَا. وَالْقَوْلُ بِالْكَرَاهَةِ مَحْمُولٌ عَلَى غَيْرِ ذَلِكَ إذْ لَا يُظَنُّ بِالْعُلَمَاءِ تَجْوِيزُ فِعْلٍ تَوَاتَرَ عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَعْنُ فَاعِلِهِ، وَتَجِبُ الْمُبَادَرَةُ لِهَدْمِهَا وَهَدْمِ الْقِبَابِ الَّتِي عَلَى الْقُبُورِ إذْ هِيَ أَضَرُّ مِنْ مَسْجِدِ الضِّرَارِ لِأَنَّهَا أُسِّسَتْ عَلَى مَعْصِيَةِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لِأَنَّهُ نَهَى عَنْ ذَلِكَ وَأَمَرَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِهَدْمِ الْقُبُورِ الْمُشْرِفَةِ، وَتَجِبُ إزَالَةُ كُلِّ قِنْدِيلٍ أَوْ سِرَاجٍ عَلَى قَبْرٍ وَلَا يَصِحُّ وَقْفُهُ وَنَذْرُهُ
Benar, bahwasanya sebagian ulama madzhab hambali menyatakan : Seseorang yang mengerjakan sholat di kuburan dalam rangka mencari keberkahan merupakan bentuk penentangan terhadap Allah dan RasulNya, dan merupakan bid’ah dalam agama yang tidak diizinkan oleh Allah karena ada larangan akan hal ini, kemudian adanya ijmak (*para ulama yang melarang hal ini), karena sesungguhnya keharaman yang sangat besar dan sebab yang sangat besar menuju kesyirikan adalah sholat di kuburan dan menjadikan kuburan sebagai masjid dan membangun masjid di atas.

Dan pendapat yang menyatakan makruh di bawakan kepada selain hal itu, karena tidaklah dipersangkakan kepada para ulama untuk membolehkan suatu perbuatan yang telah mutawatir (*sangat masyhur) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya pelakunya terlaknat. Dan wajib bersegera untuk menghancurkan bangunan di atas kuburan dan menghancurkan kubah-kubah yang berada di atas kuburan karena kubah-kubah itu lebih berbahaya daripada masjid dhiroor, karena kubah-kubah tersebut di bangun di atas kemaksiatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Nabi melarang hal itu dan memerintahkan untuk menghancurkan kuburan-kuburan yang tinggi. Dan wajib untuk meniadakan seluruh lampu dan penerangan di atas kuburan, dan tidak sah wakaf dan nadzar untuk menyalakan lampu dikuburan” 

(Az-Zawaajir ‘an iqtiroof al-Kabaair juz 1 hal 155)

Keenam : Kalau kita baca seluruh pembahasan ulama -dari madzhab manapun- tatkala menjelaskan hadits ini (janganlah kalian sholat ke arah kuburan) maka mereka semuanya sedang membahas hukum orang yang sholat menyembah Allah akan tetapi sholatnya ke arah kuburan. Sama sekali tidak ada yang membahas tentang sholatnya orang yang menyembah penghuni kubur, karena hal ini tentu sudah jelas kekufuran.

Mataram, Lombok 24 syawwal 1438/18 juli 2107

Ustadz Firanda Andirja
Baca selengkapnya »
17 alasan ulama Islam mengkafirkan kaum Syi’ah

17 alasan ulama Islam mengkafirkan kaum Syi’ah

kitab Usuhulu Kaafi

17 DOKTRIN SYI'AH YANG SELALU MEREKA SEMBUNYIKAN DARI KAUM MUSLIMIN SEBAGAI BAGIAN DARI PENGAMALAN DOKTRIN TAQIYAH (MENYEMBUNYIKAN SYI'AHNYA). KETUJUH BELAS DOKTRIN INI TERDAPAT DALAM KITAB SUCI SYI'AH “USUHULU KAAFI “

1. Dunia dengan seluruh isinya adalah milik para imam Syi'ah. Mereka akan memberikan dunia ini kepada siapa yang dikehendaki dan mencabutnya dari siapa yang dikehendaki (Ushulul Kaafi, hal.259, Al-Kulaini, cet. India).

Jelas Doktrin semacam ini bertentangan dengan firman Allah Subhanahu wa ta'ala QS: Al-A'raf 7: 128, "Sesungguhnya bumi adalah milik Allah, Dia dikaruniakan kepada siapa yang Dia kehendaki". Kepercayaan Syi'ah diatas menunjukkan penyetaraan kekuasaan para imam Syi'ah dengan Allah dan doktrin ini merupakan aqidah syirik.

2. Ali bin Abi Thalib yang diklaim sebagai imam Syi'ah yang pertama dinyatakan sebagai dzat yang pertama dan terakhir, yang dhahir dan yang bathin sebagaimana termaktub dalam surat Al-Hadid, 57: 3 (Rijalul Kashi hal. 138).

Doktrin semacam ini jelas merupakan kekafiran Syi'ah yang berdusta atas nama Khalifah Ali bin Abi Thalib. Dengan doktrin semacam ini Syi'ah menempatkan Ali sebagai Tuhan. Dan hal ini sudah pasti merupakan tipu daya Syi'ah terhadap kaum muslimin dan kesucian aqidahnya.
17 alasan ulama Islam mengkafirkan kaum Syi’ah

3. Para imam Syi'ah merupakan wajah Allah, mata Allah dan tangan-tangan Allah yang membawa rahmat bagi para hamba Allah (Ushulul Kaafi, hal. 83).

4. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib oleh Syi'ah dikatakan menjadi wakil Allah dalam menentukan surga dan neraka, memperoleh sesuatu yang tidak diperoleh oleh manusia sebelumnya, mengetahui yang baik dan yang buruk, mengetahui segala sesuatu secara rinci yang pernah terjadi dahulu maupun yang ghaib (Ushulul Kaafi, hal. 84).

5. Keinginan para imam Syi'ah adalah keinginan Allah juga (Ushulul Kaafi, hal. 278).

6. Para imam Syi'ah mengetahui kapan datang ajalnya dan mereka sendiri yang menentukan saat kematiannya karena bila imam tidak mengetahui hal-hal semacam itu maka ia tidak berhak menjadi imam (Ushulul Kaafi, hal. 158).

7. Para imam Syi'ah mengetahui apapun yang tersembunyi dan dapat mengetahui dan menjawab apa saja bila kita bertanya kepada mereka karena mereka mengetahui hal ghaib sebagaimana yang Allah ketahui (Ushulul Kaafi, hal. 193).

8. Allah itu bersifat bada' yaitu baru mengetahui sesuatu bila sudah terjadi. Akan tetapi para imam Syi'ah telah mengetahui lebih dahulu hal yang belum terjadi (Ushulul Kaafi, hal. 40).

Menurut Al-Kulaini (ulama besar ahli hadits Syi'ah), Bahwa Allah tidak mengetahui bahwa Husein bin Ali akan mati terbunuh. Menurut mereka Tuhan pada mulanya tidak tahu karena itu Tuhan membuat ketetapan baru sesuai dengan kondisi yang ada. Akan tetapi imam Syi'ah telah mengetahui apa yang akan terjadi. Oleh sebab itu menurut doktrin Syi'ah Allah bersifat bada' (Ushulul Kaafi, hal. 232).

9. Para imam Syi'ah merupakan gudang ilmu Allah dan juga penerjemah ilmu Allah. Para imam Syi'ah bersifat Ma'sum (Bersih dari kesalahan dan tidak pernah lupa apalagi berbuat Dosa). Allah menyuruh manusia untuk mentaati imam Syi'ah, tidak boleh mengingkarinya dan mereka menjadi hujjah (Argumentasi Kebenaran) Allah atas langit dan bumi (Ushulul Kaafi, hal. 165).

10. Para imam Syi'ah sama dengan Rasulullah Shallallahu alahi wa salam (Ibid).

11. Yang dimaksud para imam Syi'ah adalah Ali bin Abi Thalib, Husein bin Ali, Ali bin Husein, Hassan bin Ali dan Muhammad bin Ali (Ushulul Kaafi, hal. 109)

12. Al-Qur'an yang ada sekarang telah berubah, dikurangi dan ditambah (Ushulul Kaafi, hal. 670). Salah satu contoh ayat Al-Qur'an yang dikurangi dari aslinya yaitu ayat Al-Qur'an An-Nisa': 47, menurut versi Syi'ah berbunyi: "Ya ayyuhalladziina uutul kitaaba aaminuu bimaa nazzalnaa fie ‘Aliyyin nuuran mubiinan". (Fashlul Khitab, hal. 180).

13. Menurut Syi'ah, Al-Qur'an yang dibawa Jibril kepada Nabi Muhammad ada 17 ribu ayat, namun yang tersisa sekarang hanya 6660 ayat (Ushulul Kaafi, hal. 671).

14. Menyatakan bahwa Abu Bakar, Umar, Utsman bin Affan, Muawiyah, Aisyah, Hafshah, Hindun, dan Ummul Hakam adalah makhluk yang paling jelek di muka bumi, mereka ini adalah musuh-musuh Allah. Siapa yang tidak memusuhi mereka, maka tidaklah sempurna imannya kepada Allah, Rasul-Nya dan imam-imam Syi'ah (Haqqul Yaqin, hal. 519 oleh Muhammad Baqir Al-Majlisi).

15. Menghalalkan nikah Mut'ah, bahkan menurut doktrin Syi'ah orang yang melakukan kawin mut'ah 4 kali derajatnya lebih tinggi dari Nabi Muhammad Shallallahu alahi wa salam. (Tafsir Minhajush Shadiqin, hal. 356, oleh Mullah Fathullah Kassani).

16. Menghalalkan saling tukar-menukar budak perempuan untuk disetubuhi kepada sesama temannya. Kata mereka, imam Ja'far berkata kepada temannya: "Wahai Muhammad, kumpulilah budakku ini sesuka hatimu. Jika engkau sudah tidak suka kembalikan lagi kepadaku." (Al-Istibshar III, hal. 136, oleh Abu Ja'far Muhammad Hasan At-Thusi).

17. Rasulullah dan para sahabat akan dibangkitkan sebelum hari kiamat. Imam Mahdi sebelum hari kiamat akan datang dan dia membongkar kuburan Abu Bakar dan Umar yang ada didekat kuburan Rasulullah. Setelah dihidupkan maka kedua orang ini akan disalib (Haqqul Yaqin, hal. 360, oleh Mullah Muhammad Baqir al-Majlisi).

Ketujuh belas doktrin Syi'ah di atas, apakah bisa dianggap sebagai aqidah Islam sebagaimana dibawa oleh Rasulullah Shallalalhu alahi wa salam dan dipegang teguh oleh para Sahabat serta kaum Muslimin yang hidup sejak zaman Tabi'in hingga sekarang? Adakah orang masih percaya bahwa Syi'ah itu bagian dari umat Islam?
Menurut Imam Malik dan Imam Ahmad, “BARANGSIAPA YANG TIDAK MENGKAFIRKAN AQIDAH SYI'AH INI, MAKA DIA TERMASUK KAFIR”.
Semua kitab tersebut diatas adalah kitab-kitab induk atau rujukan pokok kaum Syi'ah yang posisinya seperti halnya kitab-kitab hadits Imam Bukhari, Muslim, Ahmad bin Hambal, Nasa'i, Tirmidzi, Abu Daud, dan Ibnu Majah bagi kaum Muslimin. Oleh karena itu, upaya-upaya Syi'ah untuk menanamkan kesan bahwa Syi'ah adalah bagian dari kaum Muslimin, hanya berbeda dalam beberapa hal yang tidak prinsip, adalah dusta dan harus ditolak tegas !!!.

Sumber: Risalah Mujahidin, edisi 9, th 1 Jumadil Ula 1428 / Juni 2007

Raih Amal Shalih, dan Sebarkan Informasi Ini...
Baca selengkapnya »
Yahudi Buta Disuapi Rasulullah di Pasar Madinah, shahihkah kisahnya ?

Yahudi Buta Disuapi Rasulullah di Pasar Madinah, shahihkah kisahnya ?

Hadits PALSU tentang Seorang YAHUDI BUTA Disuapi RASULULLAH di pasar Madinah

Banyak beredar postingan vedio di sosmed tentang kisah seorang Yahudi miskin lagi buta yang suka mencaci maki dan menghujat Rasulullah, namun beliau tiap pagi dengan penuh kesabaran dan kesantunan menyuapinya.

Adapun kisah lengkapnya sebagai berikut:

Di pasar madinah ada seorang Yahudi miskin lagi buta, dia selalu memeringatkan kepada siapapun yang melewatinya akan keburukan Rasulullah. Dia berkata, Muhammad adalah pendusta, dan tukang sihir, sambil mencaci maki dan menghujatnya.

Meskipun begitu Rasulullah menemuinya tiap pagi untuk menyuapinya tanpa mengajak bicara dan memberitahu siapakah sebetulnya dia. Beliau terus-menerus menyuapinya hingga wafat, akhirnya makanan terputus darinya.
beranda mesjid nabawi

Pada suatu hari, Abu Bakar menanyakan ‏kepada Aisyah, apakah masih ada sunnah-sunnah Rasul yang belum dia kerjakan. Maka beliau menjawab, Sesungguhnya semua sunnah Rasul telah Engkau kerjakan kecuali satu. Dan beliau mengabarkan bahwa Rasulullah setiap pagi menyuapi Yahudi buta. Maka Abu Bakar pergi dengan membawa makanan untuk menyuapinya, namun si Yahudi tahu bahwa orang yang menyuapinya sekarang berbeda dengan orang sebelumnya.

Akhirnya si Yahudi bertanya tentang dia dan dikabarkan bahwa orang yang menyuapinya selama ini adalah Rasulullah. Maka si Yahudi menangis dan menyesal selama ini berlaku buruk kepada Rasulullah, padahal selama ini beliau yang menyuapinya. Abu Bakar pun menangis kemudian Yahudi pun masuk Islam

Jawab:

Sesungguhnya kisah diatas dusta dan sanadnya batil sehingga haram bagi seorang Muslim mempercayainya dan menyebarkannya dengan beberapa alasan sebagai berikut:

Pertama,
kalau kisah tersebut diatas terjadi di Mekah masih memungkinkan untuk ditolelir karena kaum Muslimin dalam kondisi lemah. Sedangkan di Madinah, kaum Muslimin dalam posisi kuat, maka kaum Muslimin membiarkan penghinaan seperti itu jelas tidak mungkin, apalagi Yahudi ketika itu dalam kondisi lemah dan hina dina.

Kedua,
bagaimana ada seorang Yahudi dibiarkan menghujat Rasulullah, sementara ada Yahudi yang melecehkan wanita muslimah saja di sebuah pasar Madinah, dengan segera Rasulullah mengirim pasukan dan menghukum Yahudi yang melakukan pelecehan kepada wanita tersebut. Maka suatu perkara yang janggal, justru Abu Bakar malah datang kepada Yahudi yang mencaci maki Rasulullah untuk menyantuninya.

Kalau shahabat marah hanya karena suatu kata-kata yang tidak senonoh yang ditujukan kepada Nabi bagaimana mungkin membiarkan Yahudi mencaci maki dan menghujat Nabi?

Dalam shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah berkata, Ketika ada seorang Yahudi yang menawarkan barang dagangan lalu ditawar dengan harga yang dia tidak disukainya maka dia berkata, Tidak, demi dzat yang telah memilih Nabi Musa diatas seluruh manusia!

Maka ketika ada seorang Anshar yang mendengarnya maka langsung menampar wajah Yahudi tersebut. Dan orang Anshar itu berkata kepadanya, Lancang sekali kamu berkata, demi dzat yang telah memilih Musa diatas seluruh manusia, sedangkan Rasulullah masih hidup di  tengah kita.

Ketiga,
seandainya peristiwa itu betul-betul terjadi berarti Yahudi tersebut termasuk kafir dzimmi yang melanggar perjanjian, sementara siapapun dari orang-orang kafir dzimmi atau muahad yang mencaci maki Rasulullah berarti dia telah melanggar perjanjian maka boleh dibunuh.

Bahkan penghujat Nabi meskipun Muslim wajib dibunuh berdasarkan ijma seperti penuturan Ibnu Mundzir, alQadhi Iyadh, alQurthuby, Ibnu Taimiyah dan Ibnu Hajar, BAGAIMANA KALAU YANG MENGHUJAT YAHUDI!!!

Keempat,
sebetulnya menjelang wafatnya Rasulullah sudah tidak ada lagi seorang pun dari Yahudi yang tinggal di Madinah, bahkan di antara mereka ada yang dibunuh seperti Bani Quraidhah dan yang lainnya dibunuh karena melanggar perjanjian dan khianat. Dan tidak ada yang dibiarkan hidup kecuali kaum wanita dan anak-anak.

Bahkan di antara mereka diusir dan dideportasi dari Madinah seperti Bani Qainuqa' dan Bani Nadzir yang telah berencana membunuh Nabi sallallahu alaihi wasallam. Bahkan mereka diusir hingga perbatasan Syam.

Semua Yahudi terusir dan dibunuh hingga tidak tersisa seorang Yahudi pun di Madinah sebelum wafatnya Rasulullah.

Imam Ibnu Qayyim berkata, Kaum Yahudi diadili (pada zaman Rasul) dalam beberapa kasus; ketika Rasulullah datang di Madinah mereka diajak berdamai oleh Rasulullah, kemudian Bani Qainuqa' memeranginya namun beliau sanggup mematahkan serangan mereka.

Ternyata Bani Quraidhah juga melakukan hal sama, namun beliau sanggup mengalahkan akhirnya mereka dibunuh.

Dan kemudian penduduk Khaibar juga memeranginya namun beliau sanggup mematahkan mereka tetapi beliau membiarkan tinggal di Khaibar kecuali yang telah dibunuh oleh Rasulullah. Setelah Saad bin Muadz memberi putusan hukum pada Bani Quraidhah, para pasukan perang dipenggal lehernya, sementara anak-anak dan kaum wanita mereka ditawan serta harta mereka dijadikan rampasan perang.

Maka Rasulullah mengabarkan bahwa putusan hukum tersebut sesuai dengan putusan Allah dari atas langit yang tujuh. Maka bisa disimpulkan bahwa siapa pun yang melanggar perjanjian maka akan berdampak pada dibolehkan menawan kaum wanita dan anak-anak mereka. Dan bila mereka melanggarnya dalam posisi perang maka akan juga berdampak pada pasukan perang. Dan demikian itu hukum Allah yang berlaku pada mereka.

Masih banyak cerita dusta seperti ini yang beredar di tengah masyarakat yang dipasarkan para juru dakwah kompromistis dan toleran kepada kaum kuffar namun sebetulnya bunuh diri di hadapan ahli kitab.

Zainal Abidin Syamsuddin
fb one heart zainal abidin IHBS

sumber lain yg admin ambil: https://al-ershaad.net/vb4/showthread.php?t=13369
Baca selengkapnya »
Apa Standar Tolak Ukur bagus tidaknya Ceramah Ustadz ?

Apa Standar Tolak Ukur bagus tidaknya Ceramah Ustadz ?

Tolak ukur bagus atau tidaknya ceramah seorang Ustadz bukan dilihat dari siapa yang paling pintar menghibur jamaahnya dan membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal, seorang Ustadz bukan pelawak karena Nabi shallallah 'alaihi wa salam justru melarang umatnya agar jangan banyak tertawa, kata beliau,

لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ
“Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati.” (HR. At-Tirmizi no. 2227 dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih Al Jami’ no. 7435)
Ceramah Ustadz

Majelis Rasulullah dahulu bukanlah majelis yang dipenuhi dengan gelak tawa, majelis Rasulullah adalah majelis yang membuat kita semakin takut kepada Allah dan mengingatkan kita akan Surga dan Neraka, dari sahabat Hanzhalah al Usayyidi radhiyallaahu anhu, ia berkata,

لَقِيَنِي أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ كَيْفَ أَنْتَ يَا حَنْظَلَةُ قَالَ قُلْتُ نَافَقَ حَنْظَلَةُ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ مَا تَقُولُ قَالَ قُلْتُ نَكُونُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حَتَّى كَأَنَّا رَأْيُ عَيْنٍ فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَافَسْنَا الْأَزْوَاجَ وَالْأَوْلَادَ وَالضَّيْعَاتِ فَنَسِينَا كَثِيرًا ........
"Suatu ketika Abu Bakar pernah menemuiku dan berkata, “Bagaimana keadaanmu wahai Hanzhalah?”. (Hanzhalah berkata) Maka aku katakan, “Hanzhalah telah menjadi munafik.” Abu Bakar mengatakan, “Subhanallah! Apa yang kamu ucapkan?”. (Hanzhalah berkata) aku katakan,

"Ketika kami berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengingatkan kami kepada neraka dan surga sampai-sampai seolah-olah kami benar-benar bisa melihatnya secara langsung dengan mata kepala kami saat itu. Namun, ketika kami sudah meninggalkan majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka kami pun sibuk bersenang-senang dengan istri-istri dan anak-anak serta sibuk dengan pekerjaan kami sehingga kami pun banyak lupa...".
(HR. Muslim)

Tolak ukur bagus atau tidaknya ceramah seorang Ustadz juga bukan dilihat dari siapa yang paling bisa berkata-kata indah dalam ceramahnya dan enak didengar, karena kalau cuma sekedar kata-kata indah lagi enak didengar maka syetan pun bisa berkata-kata indah dan perkataannya bisa menipu manusia, Allah Ta'ala berfirman:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا
"Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syetan-syetan (dari kalangan) manusia dan jin, yang mereka satu sama lain saling membisikkan perkataan-perkataan yang indah untuk menipu (manusia)". (QS. al An’am :112)

Tolak ukur bagus atau tidaknya ceramah seorang Ustadz adalah apa yang didalamnya disebutkan Firman Allah dan Hadits-hadits Nabi shallallah 'alaihi wa salam, dan memahami keduanya (Al-Qur:an dan Hadits) sesuai dengan pemahaman para sahabat radhiyallaahu 'anhum ajma'iin, ceramah yang mengingatkan kita akan surga dan neraka, halal dan haram, juga mengenalkan kita akan kebaikan dan keburukan, apa itu syirik, apa itu bid'ah, bagaimana itu bentuk-bentuk penyimpangan dan kesesatan yang ada dalam agama ini, sebagaimana hal ini pernah dikatakan oleh sahabat Hudzaifah ibnil Yaman radhiyallaahu 'anhu,

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَ كُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي
"Dahulu manusia bertanya kepada Rasulullah tentang hal-hal yang baik tapi aku bertanya kepada beliau tentang hal-hal yang buruk, karena aku khawatir jika suatu saat hal-hal yang buruk itu menimpaku.." (HR. Bukhari)

Alangkah indah perkataan seorang penyair:

Aku mengenal keburukan bukan untuk aku kerjakan, tapi agar aku bisa menghindarinya.
Barang siapa yang hanya mengenal kebaikan tapi tidak mengenal keburukan maka dia akan terjatuh dalam keburukan tersebut.

Sumber: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=663789390676491&id=100011363095983
Baca selengkapnya »
Beranda
-->